hai – hai buat siapa saja yang sudah mau mampir di blogku aku ucapkan terimakasih..
aku sangat berharap ada orang yang mau mampir diblogku dan membaca postingan – postinganku.
disini aku ingin berbagai tulisan tentang khayalanku. aku senang sekali menulis cerita.
walaupun mungkin postinganku ini tidak terlalu bagus, tapi aku berharap ada yang menyukainya
aku suka banget dengan couple diatas… apa ada yang kenal dengan mereka??? kurasa semua sudah kenal dengan mereka.. mereka adalah pasangan faforitku, dan aku sangat suka dengan muka imut mereka BUMSSO COUPLE.
ada lagi pasangan yang aku suka selain kim bum dan kim soeun yaitu seokyu couple. aku suka banget sama grup mereka.
nah.. buat siapapun yang mengunjungi blogku, semoga suka dengan hasil karyaku yang aku post di blog ini yaa…
dan buat para reader yang mau berteman denganku atau pengen mengenalku, kalian bisa add facebook atau follow twitterku.
ini alamat FB ku : http://www.facebook.com/lila.tyas1
ini twitter ku : lila_ayu99
terimakasih…
-
-
-
Preview part 1
“dia suamiku.. kenapa aku harus lelah. Bukankah tadi sudah kubilang jika ki bum adalah suamiku jadi ini sudah menjadi kewajibanku. Nanti malam aku tidak pulang, karena aku akan menginap di rumah sakit. Jadi tidak perlu menungguku.” Ucap so eun sambil meninggalkan kim bum.
Kim bum hanya bisa melihat so eun yang mulai pergi menjauh. Apa benar jika so eun tidak lelah dengan ini semua. Apa so eun benar – benar kuat dengan semua cobaan ini. lalu bagaimana dengan so eun yang di cafe waktu itu. So eun yang tampak kesal dengan cobaan yang di berikan pada tuhan untuk seorang manusia yang ada di dalam novel yang di bawa kim bum.
Ini semua hanya kepura – puraan. Kim bum yakin jika sekarang kakak iparnya itu pasti sudah lelah dan teramat lelah. Mungkin juga kakak iparnya itu sudah putus asa dengan kondisi hyungnya yang tidak ada perkembangan.
-
-
-
Part 2
~~~
So eun sudah sampai di rumah sakit tempat ki bum dirawat, so eun segera melangkahkan kakinya menuju kamar suaminya. Langkahnya sedikit tergesa – gesa, dia tidak mau jika ki bum menunggunya. So eun tidak mau jika ki bum menuggu so eun terlalu lama, so eun takut jika ki bum akan kesepian.
“apa kau sudah lama menunggu?” tanya so eun pada suaminya yang kini masih terbaring lemah diatas tempat tidurnya.
So eun menghampiri tubuh ki bum yang saat ini terlelap dengan tenangnya. So eun membuka laci meja yang berada disamping tempat tidurnya. so eun mengambil buku yang ada didalam laci itu dan mengeluarkannya.
So eun berbaring di samping tempat tidur ki bum dengan penuh perhatian dia usap rambut ki bum yang nampak menutupi wajah tampan sang suami. So eun membuka buku yang tadi diambilnya, dia bacakan isi cerita yang ada di buku itu.
STORY IN THE BOOK
Seorang wanita dengan lincahnya berjalan dengan sedikit tergesa – gesa. Wanita itu nampak sangat senang, terlihat jelas di gurat wajahnya yang sedari tadi terus memamerkan senyumnya. Wanita itu sepertinya sedang ingin bertemu seseorang.
Saking senangnya wanita itu, hingga tidak menyadari jika sedari tadi suaminya tengah mengikutinya, suami dari wanita itu heran, sangat heran melihat tingkah istrinya. Apa yang akan dilakukan wanitanya, kenapa sepertinya istrinya sangat senang sekali. Mau kemana istrinya? Apa yang akan dilakukannya? Dan ingin bertemu siapa dia? Berbagai pertanyaan terlintas dipikiran pria itu manakala dirinya tengah mengikuti istrinya.
Pria itu kehilangan jejak sang istri ketika dia melewati perempatan jalan, sial dia kehilangan jejak istrinya. Kemana perginya sang istri.
Dan wanita tadi akhirnya sampai di tempat tujuannya, disebuah taman nampak seorang pria tengah melemparkan sebuah senyuman yang sangat manis padanya. pria itu melambaikan tangannya pada sang wanita. Dan akhirnya wanita itu pun menghampiri sang pria.
Langkah wanita itu terhenti ketika mendengar suara tawa yang sangat khas, dari arah belakang. Wanita itu heran kenapa dia seperti mendengar suara tawa suaminya dari belakang. Bukankah suaminya saat ini sedang berada di depannya dan satu lagi yang membuatnya heran. Saat ini yang dia lihat hanyalah senyum dari sang suami dan bukannya suara tawa, lalu siapa yang tertawa?
Wanita itu heran dan nampak bingung, akhirnya dia putar tubuhnya menghadap kebelakang dan betapa kagetnya dia melihat suaminya ada dibelakangnya, tertawa dengan begitu renyahnya.
Apa ini? ada apa ini? apa maksudnya dari semua ini? kenapa ada dua? Kenapa sama persis, lalu yang mana suaminya? Pikir wanita itu.
END OF STORY IN THE BOOK
So eun beranjak dari tempatnya berbaring di lemparkannya buku cerita atau lebih tepatnya novel yang dibacakannya untuk sang suami. So eun merasa apa yang dilakukannya selama ini percuma saja. ini tidak ada gunanya, semua yang dilakukan so eun saat ini tidak ada gunanya untuk ki bum, semua tetap tidak ada perubahan untuk sang suami.
“oppa… bangunlah. Aku lelah, benar – benar lelah dengan semua ini. oppa.”
“oppa… bangun, ayo bangun oppa.” Teriak so eun sambil mengguncang – ngguncangkan tubuh ki bum.
“oppa, apa kau tidak kasihan padaku. Apa kau akan terus seperti ini oppa? Oppa ayo bangun… bangun.” Teriak so eun lagi, dan kali ini air matanya pun kembali menetes. Ternyata benar bahwa so eun sudah tidak kuat lagi dengan semua ini. dia bahkan benar – benar sangat lelah dengan keadaan ki bum. akankah ki bum kembali seperti dulu lagi, dan menemani so eun kembali.
So eun kembali mengguncang – ngguncangkan tubuh ki bum dan sambil terus menangis. Mungkin dengan seperti ini ki bum akan sadar menurut so eun, tapi tentu saja tidak semudah itu. Hingga saking kerasnya dia mengguncang tubuh ki bum sampai tangannya mengenai gelas yang ada di meja kecll sebelah tempat tidur hingga gelas itu terjatuh kelantai.
Pranggg…
So eun nampak kaget dengan apa yang barusan dia lakukan, kenapa so eun seperti ini. kenapa so eun sampai hilang kendali. Bukankah apa yang dilakukannya barusan malah akan memperburuk keadaan suaminya.
So eun turun dari tempat tidur ki bum dan membereskan pecahan gelas yang saat ini berserakan dilantai. Sambil menghapus air matanya yang makin deras mengalir, so eun dengan teliti mebersihkan pecahan – pecahan gelas tersebut.
“oppa.. cepatlah bangun. Aku benar – benar merindukanmu. Jika nanti kau sudah bangun aku ingin kita pergi berkencan, nonton film berdua makan jajanan di pinggir jalan. Semuanya ingin kulakukan dan itu hanya denganmu oppa, jadi cepatlah bangun.” Gumam so eun dengan nada suara serak dan kembali meneteskan air matanya.
-
-
-
Hari ini so eun mendatangi tempat penerbit yang menerbitkan cerita yang dibuatnya. So eun mengambil honornya dan setelah itu so eun kembali menuju ke rumah sakit. Seperti biasa hari – hari so eun hanya dia lakukan di rumah sakit untuk menunggui ki bum jika memang tidak ada urusan yang menurutnya penting.
~~~
Seorang wanita cantik, dengan postur tubuh yang tinggi dan berkulit putih tengah berlenggang menyusuri koridor rumah sakit. Wanita itu menuju bagian recepsionist untuk menanyakan ruang rawat sesorang. Dan ketika wanita itu telah mengetahuinya, dengan langkah yang santai wanita itu menuju ruang yang dicarinya.
Nafasnya memburu, jantungnya berdetak lebih cepat, dia takut. Apakah harus seperti ini, mengunjungi seseorang tanpa ijin terlebih dahulu. kenapa wanita itu merasa bahwa apa yang dilakukannya ini salah.
Namun wanita itu memantapkan kembali hatinya, hanya sebentar. Dirinya hanya ingin melihat kondisi orang yang spesial dihatinya walaupun wanita itu tau bahwa ini salah.
Wanita itu memberanikan diri membuka ruangan tempat orang yang selama ini dikaguminya tengah dirawat. Dan akhirnya kakinya pun mencoba melangkah kedalam ruangan itu. Tidak ada siapapun diruangan itu yang ada hanyalah sorang pria yang tengah terbaring lemah diatas sebuah tempat tidur.
“bagaimana kabar anda pak kim?” tanya wanita itu ketika dia sudah berada di dekat pasien yang ada dirumah sakit tersebut.
Wanita itu membelai rambut pasien yang sudah bisa kita tau bahwa pasien itu adalah lelaki. Di belainya wajah pria yang saat ini terbaring di ranjang itu. Tubuhnya nampak kurus, wajahnya pun kini nampak pucat benar – benar berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya ketika wanita ini bertemu dengannya.
“selamat atas pernikahanmu pak kim, aku tidak menyangka jika akhirnya kau akan menikah dengan wanita itu. Kau tau betapa patah hatinya aku ketika kau menolakku dan lebih memilih wanita itu menjadi istrimu.” Kata – kata yang keluar dari mulut wanita itupun terhenti, ini salah apa yang dilakukannya ini sangat lah salah. Pikir wanita itu.
“maafkan aku… tapi sampai kapanpun mungkin aku akan tetap mencintaimu pak kim. Walaupun rasa cintamu itu hanya kau tujukan pada istrimu.” Ucap wanita itu lagi.
Wanita itu kembali memandang wajah pria yang dipanggilnya pak kim. Hati wanita itu benar – benar sakit melihat kenyataan yang ada dihadapannya sekarang. Dengan memberanikan dirnya akhirnya dia dekatkan wajahnya pada pria itu dan dikecupnya bibir itu dengan lembut.
~~~
So eun sudah sampai dirumah sakit, dengan langkah santai dia melangkahkan kakinya menuju kamar suaminya. So eun memegang gagang pintu ruang rawat suaminya dan dibukanya kamar sang suami.
Seketika mata so eun melebar ketika dirinya menyaksikan pemandangan yang ada didepan matanya saat ini. hatinya benar – benar sakit melihat adegan itu.
Seorang wanita tengah mencium bibir suaminya, apa – apaan ini siapa wanita itu berani sekali dia melakukan hal menjijikan itu dan kenapa harus so eun yang mengalami kenyataan pahit ini. baru saja so eun ingin melangkahkan kakinya untuk memasuki ruangan itu dan berniat menyeret wanita tadi untuk menjauhi suaminya, tapi dengan sengaja dia urungkan niatnya itu ketika menyadari ada sesuatu yang beda dari suaminya.
Kaki ki bum berkedut.. ya, kaki ki bum bergerak bersamaan dengan gerakan perlahan wanita tadi yang melepaskan tautan bibirnya dengan ki bum.
“apa benar yang aku lihat tadi. Mataku tidak salahkan. Ki bum merespon apa yang dilakukan gadis itu padanya.” batin so eun.
So eun bersembunyi dibaling dinding, ketika melihat wanita tadi telah keluar dari ruangan suaminya. Dan ketika wanita itu sudah pergi barulah so eun masuk keruangan suaminya.
So eun mendekati tubuh suaminya, so eun masih belum sepenuhnya yakin dengan apa yang dilihatnya tadi. Ki bum menggerakkan kakinya ketika wanita tadi mencium ki bum. apa so eun harus melakukan hal yang sama.
So eun nampak berfikir, hingga akhirnya dia mencoba untuk mencium ki bum.
Dengan lembut so eun mencium bibir ki bum, sambil memastikan apakah kaki ki bum akan bergerak kembali. Tapi harapan so eun nampaknya sia – sia jangankan menggerakkan kakinya merespon saja tidak.
“yaa.. kenapa tidak bergerak. Kenapa.” Ucap so eun, kesal.
Kali ini so eun mencoba naik ketempat tidur, dibukanya kemeja yang dikenakan oleh ki bum, diciuminya dada bidang ki bum. tapi tetap saja hasilnya nihil. Berkali – kali so eun mencoba untuk menempelkan tangan ki bum kebagian dadanya, tapi hasilnya sama saja. tidak ada hasilnya, ki bum sama sekali tidak bergerak.
Hingga akhirnya so eun pun lelah, dan menyerah kemudian meletakkan kepalanya diatas dada bidang milik ki bum sambil kembali menangis.
“apa tadi hanya halusinasiku saja, apa ini semua karena aku yang benar – benar ingin melihatmu bergerak dan bangun oppa?” gumam so eun sambil menangis dan masih tetap meletakkan kepalanya pada dada ki bum dan berbaring disamping suaminya itu.
Saking lelahnya so eun pun tertidur di samping tubuh suaminya. Dan sedari tadi ternyata ada sepasang mata yang tengah memperhatikan apa yang so eun lakukan.
Kim bum. pria itu melihatnya, hatinya benar – benar sakit ketika melihat kakak iparnya seperti itu. Kim bum merasa bahwa so eun benar – benar rapuh sekarang. kim bum yakin kalau kakak iparnya membutuhkan sosok orang yang bisa menghibur hatinya.
“aku berjanji akan membuatmu tersenyum kembali. Aku janji akan membuatmu seperti dulu lagi.” gumam kim bum sambil menutup pintu ruang rawat kakaknya, dan melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sakit.
-
-
-
Hari ini tidak seperti biasanya so eun hanya berdiam diri dirumah, biasanya so eun tidak sekalipun absen datang kerumah sakit untuk menemani ki bum. tapi berbeda dengan hari ini, so eun lebih suka menghabiskan waktunya untuk berdiam diri dirumah.
So eun kembali memutar DVD pernikahanya dengan ki bum, dia memutar cepat kaset itu dan menekan tombol play di remotenya ketika sebuah adegan yang dia cari telah terputar.
Dia perhatikan adegan itu dengan seksama.
“tuan kim selamat atas pernikanmu. Aku tidak menyangka akhirnya kau telah menikah, selama ini aku sangat mengagumimu tapi sayang perasaanku hanyalah perasaan sepihak saja. aku turut mendoakan kebahagianmu tuan kim, semoga dia bisa memberikanmu kebahagiaan.” Tutur seorang wanita yang ada didalam DVD yang saat ini sedang diputar oleh so eun.
So eun mematikan DVD playernya, sekarang dia tau jika wanita yang tempo hari datang kerumah sakit dan dengan beraninya mencium bibir suaminya itu ternyata mempunyai perasaan pada suaminya.
So eun benar – benar kesal, sedih dan marah. Tapi apa yang bisa dilakukannya. Sepertinya keadaan yang dirasakan oleh wanita tadi seolah – olah menggambarkan bahwa so eun telah mengambil ki bum darinya.
~~~
Kim bum baru saja pergi belanja, dia melihat keadaan rumah yang nampak sepi. Sepertinya kakak iparnya sudah berangkat kerumah sakit kembali. Pikir kim bum
Tapi kenapa rasanya ada yang aneh, kenapa seperti ada perasaan lain yang menyuruh kim bum untuk memastikan keberadaan sang kakak ipar.
“so eun-si…so eun-si, apa kau masih dirumah?” teriak kim bum. namun tidak ada sahutan dari dalam rumah.
Kim bum berjalan perlahan menuju kamar so eun, dan dengan pelan dia coba membuka pintu kamar so eun.
“so eun-si…. so eun-si.” Panggil kim bum lagi, tapi masih sama seperti sebelumnya tidak ada sahutan dari orang yng dipanggil kim bum.
Kim bum masuk kedalam kamar so eun, diperhatikannya kamar sang kakak nampak sunyi dan seperti tidak berpenghuni. Dan samar – samar kim bum mendengar suara gemericik air yang berasal dari kamar mandi yang ada di kamar itu.
“apa dia sedang mandi.” Batin kim bum.
Mungkin saja kakak iparnya itu memang sedang mandi, makanya dari tadi dia tidak menjawab panggilan dari kim bum. kim bum berniat melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Tapi ada yang aneh, sepertinya kim bum harus memastikan bahwa kakak iparnya itu sedang dalam keadaan baik.
Kim bum melangkahkan kakinya menuju pintu kamar mandi, dengan ragu – ragu kim bum putar kenop pintu kamar mandi tersebut.
“kenapa tidak dikunci.. aneh.” Gumam kim bum, sambil sedikit mengintip keadaan di dalam kamar mandi tersebut.
Dan kim bum lebih terkejut lagi ketika mengetahui apa yang telah dilakukan kakak iparnya saat ini. so eun bukannya mandi, melainkan so eun sengaja mendudukkan dirinya dibawah guyuran air kran yang berada didalam kamar mandinya dengan menggunakan pakaian yang masih lengkap. Apa yang dilakukan wanita ini. pikir kim bum
“so eun-si…so eun-si.” Panggil kim bum, sambil menepuk – nepuk pipi so eun. namun yang dipanggil tak sekalipun menyahut.
Kim bum panik, benar – benar panik. Dia takut jika terjadi sesuatu dengan so eun. kim bum mematikan kran air yang mengguyur tubuh so eun, dan segera kim bum angkat tubuh so eun yang basah kuyup kemudian dia baringkan tubuh lemah wanita itu diatas tempat tidurnya.
“yaa.. apa yang kau lakukan? Kenapa menyakiti dirimu sendiri.” Tanya kim bum pada so eun, yang sudah tentu tidak akan dijawab oleh so eun. mengingat wanita itu tengah pingsan saat ini.
Kim bum berniat membuka kancing baju so eun, untuk mengganti pakaian so eun yang basah. Tapi diurungkan kembali niatnya. Ketika hati kecilnya menyadari bahwa apa yang akan dia lakukan itu salah. Bagaimana jika nanti tiba – tiba saja so eun bangun, pasti dia akan berpikiran buruk tentangnya.
“apa yang kau lakukan kim bum.. siapa kau hingga berani menyentuhnya, ingat dia itu kakak iparmu.” Batin kim bum.
Kim bum pun mengambil air hangat di dapur, kemudian dia kembali lagi kekamar so eun dan meletakkan sebuah ember yang berisikan air hangat dan handuk kecil. Dimasukkannya handuk kecil tadi kedalam ember yang berisi air, kemudian di perasnya anduk tersebut dan ditempelkannya ke dahi so eun.
“jangan , menyakiti dirimu sendiri seperti ini. aku benar – benar tidak tega melihatmu seperti ini.” gumam kim bum sambil terus membelai pipi so eun dengan tangannya.
Kim bum yang sedari tadi berada di samping tempat tidur so eun, seperti menyadari sesuatu ketika melihat sebuah kaset DVD yang terletak dimeja samping tempat so eun tidur. Selama ini bukannya kim bum belum tau bagaimana dulu upacara pernikahan sang kakak. Diambilnya kaset yang ada diatas meja tadi, dilihatnya cover kaset itu bergambarkan ki bum dan so eun.
Kim bum mencoba menyalakan DVD player yang berada di kamar so eun, kemudian dia masukkan kaset tadi kedalamnya hingga muncul semua adegan – adegan upacara pernikahan sang kakak dan so eun.
“kenapa bisa seperti itu.” Bingung kim bum ketika dia melihat sebuah adegan yang ada didalam kaset yang diputarnya tadi.
“kenapa bisa tidak masuk. Apa mereka tidak mencobanya sebelumnya.” Heran kim bum melihat cincin pernikahannya yang sang kakak yang tidak muat dijari ki bum.
Kim bum mematikan DVD player tersebut dan mencari dimana so eun menyimapan cincin pernikahannya. Karena yang kim bum tau so eun tidak memakainya saat ini begitu pula ki bum. walaupun terkesan lancang tapi kim bum memberanikan dirinya mencari dimana so eun menyimpan cincin tersebut.
Kim bum membuka lemari pakaian so eun dan melihat laci kecil yang ada di dalam lemari pakaian tersebut. Dibukanya laci itu dan terdapat kotak kecil didalam laci dan kim bum pun sudah bisa menebak jika cincin itu pasti berada didalamnya.
Kim bum mengambil kotak kecil tersebut dan membukanya dan ternyata benar saja bahwa didalamnya memang ada sepasang cincin yang kim bum yakini sebagia cincin pernikahan sang kakak.
Kim bum mendudukkan tubuhnya di kursi yang tidak jauh dari tempat tidur so eun. diambilnya cincin milik ki bum yang ada di kotak kecil tadi dan kim bum pun mencoba memakainya.
“apa maksudnya ini?” tanya kim bum dalam hati.
Bagaimana kim bum tidak heran jika sekali coba saja cincin itu langsung lolos masuk kedalam jarinya dengan begitu mudahnya. Jika di jari kim bum saja muat kenapa dijari ki bum tidak muat bukankah bentuk tubuh mereka sama.
~~~
So eun sedikit membuka matanya, dia merasakan kepalanya yang sedikit berat. Dilihatnya cahaya lampu yang tampak samar – samar menerangi ruangannya. Dia juga bisa melihat bahwa saat ini kim bum sedang duduk di kursi yang tak jauh dari tempatnya berbaring. Apa yang dilakukan pria itu? Pikir so eun.
Ingatan so eun berputar – putar, sebuah bayangan masa lalu kembali muncul di ingatanya. So eun kembali teringat akan kejadian dimana saat itu dirinya tengah pingsan di sebuah jembatan. Karena takut akan ketinggian. Bayangan dirinya yang berada di punggung seorang pria. Ki bum.
So eun melihat kearah kim bum sesaat kemudian memejamkan matanya kembali, so eun tidak mengetahui apa yang saat ini dilakukan kim bum dikamarnya tapi so eun yakin bahwa yang telah memindahkan tubuh so eun ke tempat tidur tadi adalah kim bum. siapa lagi kalau bukan adik iparnya itu, mengingat di rumah ini tidak ada siapa pun kecuali kim bum dan so eun.
“ki bum oppa.” Gumam so eun, ketika melihat bayangan kim bum yang saat ini tengah duduk jauh darinya.
Kim bum mendengar gumaman so eun barusan hingga kim bum pun beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri tubuh so eun yang saat ini tengah berbaring.
“tidurlah.” Ucap kim bum sambil menyelimuti tubuh so eun dan mengusap pelan kepala so eun. dan hanya bisa dibalas senyuman oleh so eun.
Hingga akhirnya mata so eun terlelap, kim bum pun beranjak pergi meninggalkan kamar so eun dan terlebih dahulu menyimpan cincin pernikahan sang kakak.
~~~
Saat ini kim bum tengah berbaring di atas tempat tidur di dalam kamarnya. Hatinya gelisah, sudah hampir larut malam dan matanya masih saja enggan untuk terpejam. Kim bum masih bingung dengan perasaannya. Kenapa perasaan ini masih saja ada setelah sekian lama berlalu, sudah hampir lima tahun tapi kenapa perasaan ini masih saja ada. Apa tidak ada cara lain untuk menghilangkannya. Pikir kim bum.
“apa yang harus aku lakukan tuhan. Kenapa kau menyiksanya dengan cara seperti ini, dan kenapa kau masih saja membiarkan perasaan ini menghantuiku.” Gumam kim bum.
~~~TBC~~~
NB: ini ff memang terinspirasi dari sebuah movie korea yang judulnya pun juga sama dengan judul dari ff ini. disini terserah para reader ingin menggambar wajah ki bum itu sebagai kim bum atau tidak, tapi intinya disini wajah kim bum dan ki bum itu kemabar identik yaa. dan untuk cerita ini akan ada perubahan dari cerita aslinya. dan kemungkinan untuk part selanjutnya akan aku pasword karena ada unsur NC’nya. untuk komentnya sangat di tunggu. terimakasih.
Will The Dream Come True (Part 9)

Cast: Kim Sang Bum, Kim So Eun, Moon Joo Won, Lee Yeon Hee
Genre: Romantic, Sad, Drama
Type: Sequel
~
~
~
Aku benar – benar tidak tau apakah aku bisa mendapatkannya atau tidak, tapi aku benar – benar berharap aku bisa memiliki dia sepenuhnya dan sampai akhir hayatku. Aku yakin, aku belum terlambat untuk memilikinya, aku yakin dia memang ditakdirkan untukku. (KIM BUM)
Dengan langkah gontai kim bum berjalan menuju apartementnya, dia benar – benar tidak menyangka jika so eun lebih memilih joo won daripada dirinya. Kenapa so eun harus membohongi dirinya sendiri, kenapa so eun tidak mau mempartahankan cintanya pada kim bum dan malah menyetujui perjodohan konyol yang dilakukan oleh orang tua so eun dan orang tua joo won.
Rasanya malam ini kim bum akan sulit untuk memejamkan matanya, jika dia mengingat bagaiamana tadi so eun mengatakan padanya agar kim bum melupakan gadis itu. Mana mungkin kim bum bisa dengan mudahnya melupakan so eun, menngingat bagaimana upaya kim bum mendapatkan so eun selama ini.
“bisa kita bicara sebentar.” Ucap seseorang, yang tengah bersandar di depan pintu apartement kim bum.
Kim bum melihat kearah suara itu, kim bum hafal betul suara siapa yang tengah berbicara padanya saat ini. kim bum sedikit kaget melihat orang itu, ternyata sahabatnya ini masih mau datang menemuinya, setelah kejadian itu. Kim bum kira joo won sudah tidak akan pernah mau lagi menemui kim bum.
“apa dari tadi kau menungguku? Kenapa berdiam diri diluar, kenapa tidak menungguku di dalam.” Jawab kim bum sambil melemparkan senyumanya pada sang sahabat.
Kim bum berjalan mendekati joo won, kim bum yakin bahwa saat ini pasti joo won akan berbicara hal yang penting dengan kim bum, melihat joo won sudah menurunkan egonya untuk menemui kim bum.
“ini bukan apartementku, mana bisa aku masuk dengan mudahnya seperti yang kau ucapkan. Tentu saja aku tidak mau jika orang – orang menganggapku sebagai “pencuri”.” Tutur joo won sambil menekankanpada kata pencuri, dan sambil menatap tajam pada kim bum.
Kim bum menundukkan kepalanya, dia tidak sanggup melihat mata joo won ataupun menjawab apa yang barusan diucapkan oleh joo won.
“aku kesini untuk memberi taumu bahwa pernikahanku dengan so eun akan dipercepat. Aku kesini hanya untuk memperingatkanmu saja,bahwa mulai detik ini aku melarangmu menemui calon istriku, sampai dengan upacara pernikahanku nanti dilaksanakan.” Joo won berjalan beranjak dari tempatnya berdiri dan menghampiri kim bum yang masih diam mematung di tempatnya.
“aku harap kau bisa mengerti.. aku tidak ingin kau mengambil apa yang telah menjadi milikku. Apalagi jika kau mencurinya dariku, aku ingin kau bersikap seperti layaknya pria dewasa.” Tutur joo won sambil menepuk pundak kim bum dan pergi meninggalkan kim bum.
Seketika tubuh kim bum menjadi lemas setelah kepergian joo won, kenapa semuanya harus berakhir seperti ini. apa sudah tidak ada bantuankah untuk kim bum agar bisa mempertahankan cintanya. Apakah tidak ada cara yang bisa membantunya untuk menmbawa so eun padanya.
“ini belum berakhir… aku akan berusaha sebisaku, aku yakin so eun itu takidrku.” Gumam kim bum meyakinkan dirinya.
~
~
~
Jika disuruh memilih, mungkin lebih baik aku tidak bertemu lagi denganmu jika pada akhirnya aku akan mencintaimu dan tidak bisa memilikimu. Tapi aku yakin jika ini semua sudah takdir, aku yakin akan ada hal yang indah untuk kita berdua. (so eun)
Saat ini so eun tengah berbaring di tempat tidurnya, rasanya matanya benar – benar enggan untuk dipejamkan padahal sang raga benar –benar lelah, dan ingin sekali terlelap. Tapi hatinya masih betah memikirkan kenangan – kenanganya bersama dengan kim bum.
“maafkan aku kim bum… maafkan aku.” Gumam so eun.
Saat ini so eun benar – benar membuat otaknya berfikir keras, apakah pilihannya ini sudah benar. Apakah dia benar – benar sudah bisa untuk melepaskan kim bum dan memilih untuk memenuhi permintaan kedua orang tuanya.
“apa yang aku ucapkan benar – benar berbeda dengan apa yang ada didalam hati dan pikiranku. Aku berharap tuhan masih memberikanku petunjuk untuk semua yang menimpaku beberapa bulan terakhir ini.” pinta so eun dalam hatinya, so eun berharap tuhan bisa menentukan jalan yang terbaik untuknya dan kim bum.
So eun melirik jam kecil yang ada di meja sebelah tempat tidurnya. jarum jam sudah menunjuk ke angka 11, itu berarti sudah waktunya so eun untuk tidur. Dan ketika so eun ingin memejamkan matanya, dering ponsel so eun pun menggagalkan niat so eun untuk memejamkan matanya.
“kau sudah tidur?” tanya suara diseberang sana ketika so eun mengangkat panggilan yang masuk kedalam ponselnya.
“aku baru saja ingin memejamkan mataku.” Jawab so eun lembut.
“kau pasti sedang memikirkan sesuatu, hingan malam sudah hampir larut dan kau masih akan memejamkan matamu.” Terka orang yang menghubungi so eun.
“apa ada sesuatu yang penting, hingga kau menghubungiku malam – malam begini?” tanya so eun.
“aku hanya ingin memastikan saja, bahwa calon istriku sedang baik – baik saja dan tidak sedang memikirkan pria lain kecuali aku.” Ucap suara diseberang sana, namun suaranya terdengar sendu.
So eun diam tidak menanggapi apa yang baru saja di ucapakan oleh joo won. Joo won benar, harusnya so eun tidak memikirkan kim bum sekarang, harusnya so eun sudah yakin bahwa joo won lah masa depannya.
Hening… tidak ada suara yang keluar dari mulut so eun ataupun dari joo won sang penelpon.
“kau masih disana so eun?”
“hemzz… aku masih disini joo won.”
“aku tidak bermaksud untuk memaksamu memikirkanku.hanya saja aku berharap kau memikirkanku, walaupun aku tau bahwa saat ini ada pria lain yang sudah memenuhi pikiranmu.” Joo won menghentikan kalimatnya. Dan ada hembusan nafas dari seberang sana yang bisa so eun dengarkan saat ini.
“aku ingin kita besok bertemu di cafe biasa. Aku ingin berbicara denganmu. Sebenarnya hanya itu saja yang ingin aku katakan. Baiklah lebih baik kau tidur, karena aku tidak mau jika kau jatuh sakit hanya karena kurang tidur. Selamat malam so eun.” sambung joo won dan langsung memutuskan sambungan teleponnya tanpa mendapat jawaban dari so eun.
“sekali lagi aku menyakitimu joo won. Tapi terimakasih sudah masuk dalam kehidupanku.” Gumam so eun dan mulai memejamkan matanya.
~
~
~
Pagi ini benar – benar sangat cerah, harusnya di pagi yang sangat cerah seperti ini bisa membuat semua perasaan orang – orang yang sedang dilanda keresahan bisa lebih sedikit bersemangat. Tapi tidak untuk dengan perasaan kim bum saat ini.
Dari semalam kim bum tak juga bisa memejamkan matanya, pikirannya masih dipenuhi dengan bayang – bayang pernikahan so eun dan joo won. Tinggal menghitung hari saja untuk menuju ke hari pernikahan mereka,dan kim bum masih tidak bisa berbuat apa – apa.
“kau benar – benar pecundang kim bum, bahkan untuk mempertahankan wanita yang kau cintai saja kau tidak bisa. Kau benar – benar menyedihkan.” Batin kim bum, menyalahkan dirinya sendiri.
Kim bum benar – benar tidak tau dengan apa yang harus dia lakukan, saat ini dia hanya bisa berdiam diri di dalam apartementnya tanpa melakukan suatu apapun. Apalagi yang harus dilakukannya saat ini. menemui so eun, bagaimana caranya? Joo won pasti akan membunuh kim bum jika mengetahui kim bum secara diam – diam menemui so eun.
—
“maaf tidak menjemputmu, ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan hingga membiarkanmu datang kesini sendirian.” Ucap joo won, ketika so eun sudah berada di tempat yang joo won janjikan.
“yaa, kau kira aku anak kecil yang harus selalu diantar kemanapun aku akan pergi.” Goda so eun, sambil duduk di berhadapan dengan joo won.
“kau benar – benar mempesona so eun, disaat seperti inipun kau masih bisa untuk tersenyum. Aku benar – benar kagum denganmu.” Batin joo won sambil menatap lekat wajah so eun.
So eun heran melihat, joo won terus memperhatikannya.
“apa ada yang aneh dengan wajahku? Kenapa melihatku seperti itu?” tanya so eun yang mulai bingung dengan joo won.
“aneh… iya, ini benar – benar aneh.” Jawab joo won sambil tersenyum dan menundukkan wajahnya.
So eun semakin heran dengan joo won, apa maksud dan tujuan joo won menyuruh so eun untuk bertemu di tempat ini. sebenarnya apa yang akan di bicarakan joo won dengan so eun.
“apa yang mau kau katakan padaku?” selidik so eun. so eun berusaha hati – hati untuk bertanya pada joo won agar joo won tidak merasa terbebani dengan pertanyaan so eun.
Joo won menghela nafas berkali – kali, rasanya benar – benar sangat berat untuk joo won menyampaikan ini namun joo won harus bisa mengatakannya. Dia juga tidak mau semuannya jadi berantakan hanya karena ke egoisannya. Dia benar – benar ingin tau langsung bagaimana perasaan so eun padanya sebelum semuannya terlambat, dan membuat joo won menyesal seumur hidupnya.
“jika saat itu akulah yang bertemu denganmu lebih dahulu dan bukannya kim bum, apakah perasaanmu pada kim bum masih tetap ada, so eun?” tanya joo won dengan suara berat dan tertahan.
So eun membelalakkan matanya, so eun kaget dengan pertanyaan yang diajukan oleh joo won barusan. kemana arah tujuan pembicaraan ini sebenarnya.
“apa kau akan langsung menerima kim bum menjadi kekasihmu jika saat itu kim bum tidak mempunyai kekasih?” tanya joo won lagi, sebelum mendapat jawaban dari so eun untuk pertanyaan pertamanya.
“ap.. apa maksud dari pembicaraan ini, joo won. Aku bahkan tidak suka kau mengungkit masalah itu lagi. sebentar lagi kita akan menikah, kenapa harus membahas hal – hal yang tidak penting seperti ini.” jawab so eun sedikit kesal.
“aku hanya ingin mengetahui kejelasan atas persaanmu terhadapku, benarkah hatimu menerimaku dan bukannya karena terpaksa.” Sindir joo won, sambil menatap tajam kedua bola mata so eun, mencoba mencari kejujuran di dalam mata so eun atas jawaban yang diberikan oleh wanita yang sedang duduk dihadapan joo won saat ini.
“aku benar – benar tidak mengerti denganmu joo won, sebenarnya apa yang kau inginkan lagi. bukankah aku sudah menyetujui pernikahan kita. Kenapa kau masih tidak percaya padaku.”
“aku benar – benar berharap apa yang kau ucapkan ini benar – benar murni dari hatimu so eun. tapi sayangnya aku tidak melihat kejujuran itu dari kedua matamu. Aku tidak memaksamu untuk berbicara jujur tentang perasaanmu padaku, hanya saja aku ingin tau bagaimana persaanmu ketika kau lebih dulu bertemu denganku dan bukannya kim bum, apakah kau akan menyukaiku?” tanya joo won lagi dan kali ini dengan nada suara yang serius.
So eun benar – benar bingung harus menjawab apa, dia bungung bukan karena dia takut pada joo won, hanya saja dia tidak ingin menyakiti hati joo won. Joo won adalah pria yang baik, selama ini joo won selalu membantu so eun bahkan selalu ada disaat so eun butuh. Tapi sayang hati so eun sudah untuk kim bum dan tidak ada lagi sisa di hatinya.
“jika aku disuruh memilih, aku bahkan berharap tidak pernah bertemu lagi dengan kalian berdua. Kau tahu kehidupanku bahkan semakin rumit dengan kedatangan kalian. Aku bahkan tidak pernah berfikir jika kalian para pria terpopuler disekolah bisa masuk kembali kedalam hidupku setelah sekian lama.” Jawab so eun dengan nada tegas.
Semuanya keluar, memang selama ini kehidupan so eun baik – baik saja bahkan berjalan normal layaknya manusia biasa sebelum bertemu kembali dengan kim bum dan joo won yang merupakan dua manusia dari masa lalunya.
“jika aku disuruh memilih bahkan aku tidak ingin bertemu dengan satupun diantara kalian, namun sayang takdir berbicara lain, tuhan mempertemukanku kembali dengan kim bum dan kau. Hingga saat ini aku berada disini bersamamu.” Sambung so eun, dan menghentikan kalimatnya sambil menatap tajam joo won.
“AKU SUDAH BERBICARA DENGAN ORANG TUAMU, KAU HANYA PERLU MEMANTAPKAN HATIMU KEMBALI.” Ucap joo won, kemudian pergi meninggalkan so eun, yang masih terlihat bingung dengan ucapannya barusan.
Aku tetap mengagumimu, walaupun aku tau bahwa sudah ada orang lain yang memiliki hatimu. Aku berharap dikehidupan mendatang kau bisa mengetahui bahwa aku benar – benar sangat mengagumimu. ( joo won)
So eun benar – benar dibuat bingung dengan sikap joo won hari ini, apa yang sudah dibicarakan joo won dengan orang tuanya. apa yang dimaksud joo won dengan memantapkan hati. kenapa joo won seperti ini, apa joo won tidak puas dengan beban pikiran so eun saat ini. kenapa joo won harus membebani pikiran so eun lagi.
Nada dering dari ponsel so eun membuyarkan so eun dari pertanyaan – pertanyaan yang kini tengah berputar – putar di otaknya. So eun melihat ponselnya dan melihat siapa yang saat ini tengah menghubunginya, dan ternyata ibunya yang saat ini telah menghubunginya.
“iya ibu..”
“………..”
Bisu mendadak , semuanya menjadi hening. Hingga so eun sendiri tidak menyangka bagaimana bisa orang itu melakukan hal – hal yang makin membuat so eun bingung.
“jadi, kenapa mendadak seperti ini. apa ini tidak salah, kenapa joo won tidak membicarakannya dulu denganku.” Jawab so eun yang nampak kaget dengan apa yang dibicarakan oleh ibunya saat ini.
“…………”
So eun tidak percaya dengan apa yang ibunya barusan katakan, joo won melakukannya benar dia melakukannya. Lalu apa maksudnya dengan pertemuannya tadi jika semua ini sudah diputuskan oleh pria itu, kenapa tidak dari tadi saja joo won mengatakannya pada so eun.
So eun menghela nafasnya, so eun yakin dan benar – benar yakin bahwa joo won melakukan ini juga untuk kebaikan semua. So eun beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan cafe tersebut. Dan hari ini ada satu orang yang benar – benar harus so eun temui.
~~~
Kembali ke kehidupan kim bum, dan masih sama sepeti sebelumnya pria ini masih betah berdiam diri didalam apartementnya. Dia masih terus berfikir haruskah dia menemui so eun saat ini untuk menyampaikan ucapan selamat dan perpisahan pada gadis itu atau dia lupakan saja kenangan – kenangannya bersama gadis bernama so eun itu.
Kim bum beranjak dari tempatnya dan menyambar jaket dan kunci motornya, serta tidak lupa dia mengetikkan beberapa kalimat pada ponselnya dan mengirimkannya kepada seseorang, setuju atau tidak orang itu suka atau tidak suka joo won pada kim bum, tapi inilah yang ingin kim bum lakukan sekarang yaitu menemui so eun.
Kim bum keluar dari apartementnya dan melihat ponselnya yang sedang bergetar, menandakan ada pesan yang masuk kedalam ponselnya.
Kim bum membuka ponselnya dan mendapati dua pesan yang masuk kedalam ponselnya.
From: joo won
“Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku berharap kau bisa menerima semuanya.”
Apapun maksud dan tujuanmu aku bahkan tidak peduli joo won, aku bahkan sudah tidak bisa berbuat apa – apa sekarang. Pikir kim bum ketika membaca pesan dari joo won.
From: so eun
“Datanglah ke taman, tempat kita biasa bertemu. Akku menunggumu disana.”
Kim bum tersenyum membaca pesan kedua yang masuk dalam ponselnya, kim bum tau bahwa saat ini so eun pasti sedang membutuhkannya. Walaupun ini adalah masa – masa tersulit buat kim bum, tapi so eun lebih merasa sulit dari pada dirinya.
Kim bum segera melajukan motornya, menuju ketempat yang telah ditentukan oleh so eun. senyum manis terus mengembang di bibirnya. Namun sayang hatinya masih saja dipenuhi dengan rasa takut dan penasaran.
Kim bum bingung, kenapa joo won tidak melarangnya ketika kim bum mengatakan ingin menemui so eun. dan yang lebih membuatnya bingung adalah kenapa tiba – tiba saja so eun ingin mengajaknya bertemu. Bukankah tempo hari so eun yang mengatakan sendiri bahwa seharusnya mereka tidak usah bertemu lagi. semuanya semakin membuat kim bum semakin bingung,
Kini kim bum begitu melajukan motornya dengan keceppatan yang benar – benar tinggi, dia bahkan tidak peduli pada keselamatannya, yang penting saat ini dia bisa bertemu dengan so eun itu saja.
~~~
Kim bum sudah sampai di tempat yang dijanjikan oleh so eun, tapi sayangnya kim bum bahkan tidak menemukan so eun ditempat ini.
“dimana so eun, apa dia masih belum sampai. “ batin kim bum, sambil mengedarkan pandangannya keseluruh tempat yang ada di taman ini.
“sekarang aku yang harus menunggumu. Kenapa kau terlambat?” tanya sebuah suara yang ada dibelakang kim bum. dan kim bum pun pasti tau kalau suara itu milik so eun.
“kau sudah datang? Aku bahkan tidak terlambat, aku berusaha tepat waktu sampai sini.” Ucap kim bum heran, melihat so eun sudah sampai lebih dulu dari pada dirinya. Apa jangan – jangan so eun sudah berada disini ketika kim bum menerima pesa dari so eun tadi. Pikir kim bum
“aku memang sudah sudah dari tadi sampai disini, bahkan sebelum aku mengirimu pesan.” Ucap so eun, seakan tau dengan apa yang dipikirkan kim bum.
“kau pasti bingung, kenapa aku bisa memintamu bertemu disini. Apalagi keadaan sekarang seperti menjadi kebalikan dengan hari – hari sebelumnya ketika kita bertemu ditempat ini. sebenarnya aku tidak ingin berbicara panjang lebar sekarang. Aku hanya ingin bilang bahwa pernikahanku dengan joo won….” so eun menggantungkan kalimatnya, rasanya dia tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
“aku tau apa yang akan kau katakan so eun.” potong kim bum, dan sukses mendapat tatapan tajam dari so eun. kim bum tau, bagaimana bisa.
“kau bingung kenapa aku bisa tau? Joo won yang mengatakannya padaku, dan bukankah ini juga yang kau inginkan, bukankah kau mengatakan padaku kalau…” kini giliran kim bum yang menghentikan kalimatnya, dia bingung harus melanjutkan kata – kata ini atau tidak.
Kim bum benar – benar tidak sanggup kalau harus mengatakan bahwa pernikahan joo won dan so eun dipercepat, dan mungkin tinggal dua hari lagi mereka akan menikah.
“aku tidak menyangka jika joo won mengatakannya padamu, joo won bahkan tidak mengatakan padaku sebelumnya. Jadi bagaimana menurutmu?” tanya so eun dengan nada bicara seserius mungkin.
So eun tidak menyangka jika joo won sudah mengatakannya pada kim bum. lalu kenapa joo won tidak mengatakannya langsung pada so eun. tapi ini semua tidak penting, yang terpenting saat ini adalah pendapat kim bum tentah hal ini.
“aku bahagia, jika kau bahagia mungkin inilah takdir kita. Semoga kau berbahagia dengan joo won aku yakin joo won adalah orang yang tepat untukmu.”ucap kim bum sambil menundukkan kepalanya, dia tidak bisa memandang wajah so eun saat ini. kim bum yakin bahwa saat ini so eun pasti sedih mendengar perkataan kim bum yang tidak bertanggung jawab seperti ini.
“kim bum apa maksudmu?” heran so eun, dengan jawaban yang baru saja keluar dari mulut kim bum.
“semoga kau berbahagia dengan joo won so eun.” ucap kim bum lagi sambil berlalu meninggalkan so eun. dia benar – benar tak kuasa menerima semua kenyataan ini. namun harus bagaimana lagi, bukankah ini yang di inginkan so eun waktu itu, lagipula joo won lebih baik dari pada kim bum.
Kim bum berjalan pergi meninggalkan so eun yang masih berdiri mematung ditempatnya, kenapa kim bum berbicara sepeti tadi apa mungin kim bum sudah tidak menginginkan kembali hubungan mereka bersatu. So eun menghela nafasnya, yaa mungkin inilah jalan yang terbaik untuk kim bum dan so eun sekarang.
—TBC—
Terimakasih buat para readers yang mau menunggu kelanjutan ff ku ini, dan selamat datang juga buat para readers – readers baru. Maaf jika kelanjutan dari ff ini sedikit lama mengingat kesibukanku yang benar – benar tidak bisa diajak kompromi. Namun aku pasti akan melanjutkan part – part selanjutnya dari semua ff yang udah aku post di sini. Dan masih berharap komen – komen dari semua reader disini yaa.. terimakasih
My First Love (Part 2)

Cast : kyuhyun, seohyun, changmin
Support cast : sehun, sooyoung, Luna
Genre : sad, romance, friendship
~
~
~
sampai kapan kyuhyun akan menganggap seohyun sebagai musuhnya. Apa kyuhyun benar – benar sangat membenci seohyun. Apa seohyun sudah tidak artinya lagi dalam hidup kyuhyun selain sebagai musuh. Bagaimana dengan masa lalu mereka dulu. Bukankah dulu mereka saling mencintai.
Seohyun nampak berpikir di dalam kamarnya. Pasti kyuhyun akan semakin marah pada dirinya atas kejadian tempo hari. Seharusnya sehun tidak gegabah dan melakukan hal – hal yang seharusnya tidak dilakukannya. Sejenak seohyun menemukan sebuah ide. Seohyun segera keluar dari kamarnya dan menuju kamar sehun. Dan tepat sekali ternyata sehun pun ada di kamarnya. Tanpa basa – basi lagi seohyun menarik tangan sehun dan mengajaknya pergi.
“hei… kau ini apa yang kau lakukan?” bingung sehun dengan sikap seohyun yang menariknya tiba – tiba.
Seohyun tidak menanggapi pertanyaan sehun. Jika seohyun mengatakannya sekarang pasti sehun akan berontak dan tidak mau mengikutinya.
Sepertinya sehun menyadari akan dibawa kemana dirinya oleh seohyun. Ketika sekarang sehun dan seohyun sudah berada di tempat yang sudah tidak asing lagi bagi keduanya.
-
-
-
“kenapa kita kesini. kenapa kau membawaku ketempat ini. apa yang mau kau lakukan?” teriak sehun, sambil mencoba melepaskan cengkraman erat tangannya dari tangan seohyun.
“kau harus minta maaf padanya. Bagaimana bisa kau memukul orang lalu dengan seenaknya meninggalkan orang tersebut.”
“aku tidak mau minta maaf padanya. Dia pantas mendapatkan pukulan dariku, bahkan jika perlu aku akan membunuhnya.”
“berhenti bicara yang tidak – tidak, mau tidak mau kau harus minta maaf padanya.” Paksa seohyun.
“`
Sehun dan seohyun sudah sampai di depan pintu sebuah rumah. Rumah ini, sungguh jauh berbeda dari yang dulu. Rumah ini terkesan kumuh dan seperti tak berpenghuni. Apa pemilik rumah ini tidak pernah membersihkannya. Seohyun menarik nafasnya dalam, dan memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu rumah tersebut. Semoga dia di dalam.
“sudahlah lebih baik kita pulang saja.” Gerutu sehun.
“diam kau.” Bentak seohyun
Bunyi suara kunci diputar dari dalam, itu tandanya si penghuni rumah ada. Jantung seohyun berdegup kencang, seohyun takut jika dia akan semakin marah melihat kedatangan seohyun dan sehun disini. Berbeda dengan sang kakak yang kelihatan sekali tampak gugup, sehun malah terkesan acuh.
Pintu pun terbuka dan seohyun dengan sangat jelas melihat kyuhyun berdiri di depannya. Wajah dingin kyuhyun terpancar lagi, sepertinya kyuhyun memang tidak suka melihat seohyun dan sehun disini sekarang. Kyuhyun, membukakan pintu untuk seohyun dan sehun. Tapi kyuhyun tidak menyuruh mereka berdua masuk, malahan kyuhyun masuk lagi ke dalam.
Seohyun menarik tangan sehun, dan kali ini sehun menurut saja. Seohyun dan sehun mengikuti langkah kyuhyun masuk ke dalam rumah kyuhyun. Seohyun ingin menyelesaikan masalah ini, setidaknya membuat masalahnya dengan kyuhyun tidak bertambah panjang.
“sehun…. ingin minta maaf padamu, kuharap kau mau memaafkannya.” Mohon seohyun, memulai pembicaraannya.
“aku tau kesalahanku terhadapmu sangatlah besar, tapi cukup aku dan dirimu saja dan jangan pedulikan sehun atau siapapun itu. Aku ingin kita seperti dulu lagi, saling berteman.” Lanjut seohyun lagi.
Kyuhyun tak menghiraukan perkataan seohyun. Yang di lakukan kyuhyun saat ini adalah berdiri membelakangi seohyun dan sehun sambil menghadap sebuah foto berukuran cukup besar. Air mata kyuhyun menetes, ketika mengingat kenangan – kenangannya bersama orang tuanya. Ketika kyuhyun mengingat orang tuanya seperti ini, pasti kemarahannya pada seohyun akan muncul lagi. Kyuhyun melemparkan botol minuman yang sedari tadi dipegannya kearah foto yang ada di depannya.
“kyuhyun….” gumam seohyun, yang kaget dengan apa yang dilakukan kyuhyun saat ini.
“aish, dasar bocah setan. Sudah aku bilang sebelumnya, bahwa dia sudah tidak peduli lagi padamu kenapa kau masih memikirkannya.” Bentak sehun pada seohyun, yang sangat kesal dengan sikap kyuhyun yang seperti ini.
seohyun tetap tidak mau beranjak dari tempatnya, dia tidak ingin pergi meninggalkan kyuhyun dengan keadaan seperti ini. ini semua salah seohyun, seohyun memang pantas mendapat perlakuan seperti ini dari kyuhyun.
“apa kau gila, untuk apa kau masih diam disini. Ayo pergi.” Paksa sehun dengan menarik tangan seohyun. Dan disaat yang bersamaan datanglah changmin.
“apa kalian saling kenal?” ucap changmin yang merasa heran karena ada seohyun dan sehun di rumah kyuhyun.
“aku bisa jelaskan semuanya.” Jawab seohyun sambil menyentuh tangan changmin. Tapi dengan kasar changmin menghindarinya.
“ada apa sebenarnya. Kau.. jelaskan semuanya padaku?” geram changmin sambil menunjuk kearah kyuhyun. Changmin kesal karena merasa dibohongi oleh kyuhyun dan seohyun. Bukankah selama ini kyuhyun sudah seperti saudara baginya, tapi kenapa kyuhyun menyembunyikan sesuatu pada dirinya.
“kumohon jangan marah pada kyuhyun, aku yang akan menjelaskan semuanya.” Ucap seohyun, yang tidak mau melihat changmin marah pada kyuhyun
“kenapa kau membohongiku.” Bentak changmin pada seohyun.
“kenapa kau diam saja, cepat ceritakan semuanya. Apa kau mau aku yang menceritakannya.” Teriak sehun pada seohyun, yang benar – benar sudah tidak tahan dengan keadaan yang seperti sekarang ini.
“kyuhyun itu sahabat kakakku. Kyuhyun adalah cinta pertama kakakku. Tapi dua tahun terakhir kyuhyun menjauhi kakakku, bahkan dia menyuruh teman – temannya untuk mencelakai kakakku. Dia adalah pria setan yang selalu membuat kakakku menangis.” Jelas sehun, dan langsung pergi meninggalkan orang – orang yang ada di rumah kyuhyun saat ini.
Seohyun, menjatuhkan dirinya ke lantai. Semua sudah terungkap di depan changmin dan semua ini gara – gara sehun. Kyuhyun pasti akan tambah marah pada dirinya.
Changmin sangat kaget mendengar penjelasan dari sehun barusan, jadi kyuhyun dan seohyun pernah menjalin sebuah hubungan. Apa benar kalau kyuhyun adalah cinta pertama seohyun, lalu kenapa kyuhyun bisa begitu tega menyuruh teman – temannya untuk menyakiti seohyun. Sebenarnya ada masalah apa lagi yang disembunyikan oleh dua orang ini.
Changmin melihat kerah kyuhyun, yang masih tetap tidak bergeming dari tempatnya semula. Changmin kagum pada kyuhyun, bagaimana bisa sikap dinginnya ini mampu menutupi semua masalah yang terjadi pada dirinya.
Seohyun, gadis ini pasti sangat sedih sekarang. Changmin harus membawa seohyuh pergi dari tempat kyuhyun. Changmin harus menenangkan seohyun sekarang.
-
-
-
Changmin mengajak seohyun pergi ke pantai. Saat ini keduanya sedang duduk di sebuah bangku panjang dan melihat laut. Changmin ingin tau yang sebenarnya, changmin ingin tau apa yang sebenarnya terjadi antara kyuhyun dan seohyun. Tidak mungkin kyuhyun setega itu menyakiti seorang gadis tanpa ada alasan yang jelas, apalagi seohyun adalah mantan kekasihnya. Ralat, seohyun cinta pertama kyuhyun begitu pula sebaliknya.
“ jadi hanya kyuhyun yang bisa membuatmu menangis?” tanya changmin, melepas kesunyian yang sedari tadi mencekam keadaan.
“ maafkan aku changmin.”
“untuk apa kau minta maaf, kau tidak memukulku. Kenapa harus minta maaf.” Ucap changmin, mencoba menghibur seohyun.
Sepertinya sekarang changmin harus melindungi gadis ini. changmin tau kalau seohyun mungkin masih menyukai kyuhyun, tapi changmin tidak mau jika seohyun terus – terusan terluka dengan sikap kyuhyun. Sebenarnya changmin juga tidak mau merebut seohyun dari kyuhyun, tapi apa boleh buat changmin sudah terlanjur jatuh cinta pada gadis ini dan kyuhyun sudah menyia – nyiakan gadis sebaik seohyun. Jadi tidak ada salahnya jika changmin mengungkapkan isi hatinya pada seohyun, walaupun menurut changmin waktunya tidak pas.
“biarkan aku melindungimu seohyun, biarkan aku menjagamu agar kyuhyun tidak menyakitimu lagi. Aku akan selalu berada di dekatmu, karena aku menyukaimu seohyun.”
Seohyun kaget dengan ucapan changmin barusan. apa yang dikatakan oleh changmin ini. mana mungkin changmin bisa berkata seperti itu. Ini pasti salah.
“ biarkan aku menjadi kekasihmu dan melindungimu seohyun.” Mohon changmin.
Apa yang harus dijawab oleh seohyun sekarang. Kenapa changmin tiba – tiba mengungkapkan hatinya. Apa yang harus dilakukan oleh seohyun sekarang, menerima changmin atau menolaknya.
“aku…” seohyun menggantungkan kalimatnya, rasanya lidahnya kelu untuk mengeluarkan suara yang ada di dalam dirinya.
“kau masih mencintai kyuhyun dan kau tidak mau membuatnya marah lagi. itukan yang mau kau ucapkan.” Changmin bahkan mampu menebak isi hati seohyun sekarang.
“apapun yang terjadi aku akan melindungimu dan aku tidak akan membiarkan kyuhyun membuatmu menangis. Kau tau itu.” Ucap changmin kepada seohyun dan langsung pergi meninggalkan seohyun yang masih tidak bisa mencerna kata – kata changmin.
“changmin tunggu.” Sentak seohyun dan sukses membuat changmin menghentikan langkahnya dan memutar badannya menghadap seohyun.
Seohyun pun beranjak dari tempat duduknya tadi dan berjalan menghampiri changmin. Seohyun menatap wajah changmin, dan seohyun bisa melihat ada ketulusan dari pancaran mata changmin.
“ini semua memang salahku. Aku telah membuat kyuhyun menderita. Aku telah membuat ayah kyuhyun di penjara. Dan mengakibatkan ibunya masuk rumah sakit.” Seohyun memulai ceritanya.
“dia benar – benar terpukul saat itu, dan dia benar – benar sangat sedih. Aku tau pasti saat ini dia lelah sekali. Aku ingin kau tetap menjadi sahabatnya, jangan pernah marah padanya. Dan mulai sekarang aku tidak akan mengganggu persahabatan kalian. Jaga kyuhyun untukku changmin. Terimakasih.” Sambung seohyun dan langsung pergi meninggalkan changmin.
-
-
-
kyuhyun duduk bersandar di tembok, dia matikan seluruh lampu yang ada di ruangannya. Dia kembali mengingat kenangannya bersama dengan orang tuanya dan juga seohyun.
Air matanya kembali keluar, selama ini kyuhyun memang benar – benar telah berbuat jahat pada seohyun. Tapi apa yang dikatakan sehun tadi tentang dirinya itu tidak benar. Selama ini kyuhyun tidak pernah menyuruh teman – temannya menyakiti seohyun. Tapi teman – teman kyuhyun sendiri yang melakukannya. Padahal sudah berulang kali kyuhyun juga memperingatkan pada mereka agar tidak mencampuri urusannya dengan seohyun.
“maafkan aku… maafkan aku.” Gumam kyuhyun.
Kyuhyun benar – benar menyesal telah melukai hati seohyun selama ini, padahal jika dipikir – pikir ini semua memang bukan salah seohyun. Kenapa kyuhyun harus membuat seohyun menderita selama ini.
“tok…tok…tok…”
suara ketukan pintu terdengar jelas dari luar, kyuhyun menutup telinganya agar tidak mendengar suara itu. Tapi sepertinya tamu yang ada diluar menuntut kyuhyun untuk membuka pintunya. Karena suara ketukan itu tidak berhenti – henti dan malah semakin keras.
“`
Changmin benar – benar tidak sabar menunggu kyuhyun membukakan pintu untuknya. dia benar – benar ingin menyadarkan hati sahabatnya itu bahwa selama ini apa yang telah dilakukan oleh kyuhyun pada seohyun itu salah.
Berulang kali changmin mengetuk pintu rumah kyuhyun, namun sedari tadi kyuhyun tidak membukakan pintu untuknya. walau cukup lama changmin menunggu, akhirnya kyuhyun pun membuka pintu rumahnya.
“apa lagi yang akan kau lakukan disini?” tanya kyuhyun dingin.
“kenapa kau jadi seperti ini? kenapa sifatmu sekarang berbeda dengan dirimu yang biasanya. Kenapa kau bisa setega ini?” tanya changmin balik, seakan – akan menuntut perubahan sikap kyuhyun.
“apa yang kau tau? Kau bahkan tidak tau apapun dan kenapa sekarang kau menghakimiku?” tanya kyuhyun lagi dengan nada suara tinggi.
“kyuhyun.. ada apa denganmu. Aku hanya ingin membantumu.”
“apa yang bisa kau bantu, kau bahkan tidak tau apa – apa. lebih baik kau pergi karena aku tidak mau melihatmu lagi.” bentak kyuhyun pada changmin.
Changmin benar – benar tidak menyangka jika kyuhyun akan seperti ini. selama ini, selama changmin mengenal kyuhyun tidak sekalipun kyuhyun membentak changmin tapi sekarang kyuhyun benar – benar berbeda.
“yaa.. aku bicara baik – baik padamu, tapi kenapa kau membentakku. Aku kesini untuk membantumu menyelesaikan semuanya. Tapi sepertinya kau memang keras kepala.” Changmin berbalik dan hendak melangkahkan kakinya. Namun langkahnya terhenti.
Changmin kembali mengarahkan pandangannya ke kyuhyun yang masih berdiri di depan pintu rumahnya. Dan tanpa aba – aba, tiba – tiba saja changmin mengarahkan pukulannya kearah kyuhyun dan membuat kyuhyun sedikit terhuyung.
“apa yang kau lakukan?” heran kyuhyun yang tidak terima mendapat pukulan tiba – tiba dari sahabatnya itu.
“itu untuk seohyun.” Jawab changmin dan melangkah pergi meninggalkan kyuhyun.
Kyuhyun pun kaget dengan jawaban changmin barusan. untuk seohyun.. apa benar dugaan kyuhyun beberapa hari ini, apa benar jika changmin menyukai seohyun. Apa benar semua itu.
Kyuhyunpun berjalan mengejar changmin.
“apa maksudmu?” tanya kyuhyun dan sukses membuat changmin berhenti kembali.
Changmin kembali menatap kyuhyun dan kali ini changmin memukul kyuhyun lagi bahkan sampai membuat kyuhyun terjungkal ke tanah. Kyuhyun yang tidak terima atas pukulan dari changmin pun segera bangkit dan membalas pukulan changmin dan kali ini changmin yang terjatuh.
Kini keduanya terlibat pertikaian yang sangat sengit, keduanya bahkan tidak memberi kesemapatan untuk sang lawan selamat dari pukulan yang diberikan dari masing – masing pihak.
Kyuhyun tak henti – hentinya memukul changmin, begitupula changmin yang tidak ada ampunnya dan terus memukuli kyuhyun. Akhirnya kedua orang inipun tergeletak di tanah karena kelelahan dengan sekujur tubuh yang nampak lebam dan luka – luka di berbagai wajahnya. Nampak darah segar yang keluar dari hidung kyuhyun dan dari mulut changmin. Keduanya benar – benar nampak lelah sekarang.
“selama ini aku, benar – benar kagum padamu. Selama ini aku benar – benar berharap bisa menjadi seperti dirimu.” gumam changmin di sela – sela erangan kesakitan atas luka – lukanya.
“jangan lagi kau sakiti dia, dia juga tidak bermaksud membuatmu seperti ini. ini semua takdir. Biarkan aku melindunginya, biarkan dia menjadi milikku.” Mohon changmin.
Kyuhyun terdiam sesaat dan sepertinya saat ini dia sedang menelaah apa yang dimaksud oleh changmin barusan, dan tentu saja kyuhyun semakin yakin bahwa “dia” yang dimaksud changmin tadi adalah seohyun.
“aku akan memperbaiki semuanya. Dan aku memulainya dari awal.” Gumam kyuhyun dan langsung mendapat tatapan tajam dari changmin.
Changmin nampak heran dengan kalimat yang barusan keluar dari mulut kyuhyun. Apa maksudnya ini.
“biarkan aku minta maaf padanya. Dan biarkan dia sendiri yang menentukannya. Akupun juga lelah jika seperti ini terus aku bahkan tidak mampu lagi untuk membohongi diriku sendiri sekarang.” Sambung kyuhyun lagi.
“`
Seohyun melangkahkan kakinya dengan gontai, dia benar – benar sudah lelah. Mungkin memang ini saatnya untuk seohyun melupkan semuanya tentang kyuhyun dan mulai menjauh dari kehidupan kyuhyun.
Seohyun juga tidak ingin melihat kyuhyun terluka lagi, seohyun tau pasti saat ini kyuhyun benar – benar sangat membencinya.
Ucapan changmin yang mengatakan ingin melindungi dan menjadikan seohyun sebagai kekasih kembali lagi terngiang – ngiang di memori otaknya. Beberapa hari ini changmin mampu membuat seohyun kembali tertawa walaupun pertemuan pertama keduanya membuat seohyun sedikit kesal pada changmin. Tapi changmin ternyata adalah orang yang baik.
“aku kira saat ini kau ada didalam rumah”
Seohyun mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk sambil berjalan. Seohyun tau suara itu milik changmin tapi yang seohyun tidak tau kenapa changmin duduk di depan pagar rumah seohyun malam – malam begini.
“astaga… ada apa dengan wajahmu?” khawatir seohyun sambil mendekati changmin.
“bisa kau bantu aku, aku sedikit kesulitan untuk berdiri!” ucap changmin sambil mengulurkan tangannya pada seohyun. Dan seohyun pun menyambut uluran tangan changmin dan membantu changmin untuk berdiri.
“ada apa.. kenapa wajahmu bisa seperti ini?” tanya seohyun lagi.
Seohyun benar – benar khawatir melihat wajah changmin yang penuh dengan luka. Belum juga kekhawatiran seohyun terjawab tiba – tiba saja changmin memeluk tubuh seohyun.
“aku sudah bicara pada kyuhyun dan dia bilang ingin bertemu denganmu untuk minta maaf.” Ucap changmin sambil tetap memeluk seohyun.
“selama ini aku bermain gitar dan bernyanyi bersama kyuhyun. Walaupun pada suatu saat nanti akhirnya aku tidak akan bernyanyi dan bermain gitar bersamanya lagi tapi aku pasti tetap bisa bermain gitar. Karena sebelum bertemu dengan kyuhyun pun aku sudah bermain gitar.” Ucap changmin lagi, dan kali ini dia lepaskan pelukannya dari seohyun.
“tapi aku tidak yakin apa aku bisa bermain gitar dan bernyanyi lagi jika tanpamu. Bahkan aku juga tidak yakin apa aku masih bisa bertahan hidup jika kau pergi dari kehidupanku.”
“jadi apapun yang akan terjadi besok, di saat kau bertemu kyuhyun aku mohon jangan pernah pergi dari kehidupanku seohyun. Aku tidak pernah jatuh cinta pada seorang wanita sebelumnya dan kaulah yang pertama untukku.” Sambung changmin lagi, dan mengakhiri pembicaraannya dengan seohyun malam ini.
Dan sekarang changmin pergi meninggalkan seohyun yang masih mematung di depan rumahnya melihat kepergian changmin. Jadi bagaimana lagi ini. apa benar apa yang baru saja dikatakan oleh changmin bahwa kyuhyun ingin bertemu bahkan minta maaf padanya, apa seohyun tidak salah dengar atau jangan – jangan changmin yang salah bicara.
“apa yang harus kulakukan?” tanya seohyun dalam hati.
_____TBC_____
-
-
-
Cast : Kim Sang Bum, Kim So Eun, Kim Ki Bum
Support Cast : Im Yoona
Genre : Romance, sad, drama
-
-
-
JANUARI 2008
Seorang pria tampan berusia sekitar 20 tahunan tengah berada di dalam sebuah cafe yang terletak tak jauh dari rumahnya. Saat ini dia sedang berada di depan kasir sambil memperhatikan daftar menu yang terpampang jelas di atas kepala seorang kasir.
“sepertinya anda sering sekali kesini?” tanya sang kasir pada pemuda yang saat ini ada dihadapannya.
“rumahku tidak jauh dari sini, jadi aku senang datang kesini.” jawab pemuda itu sambil tersenyum ramah.
Setelah pemuda itu memesan apa yang dia inginkan, pemuda itu pun mencari tempat duduk yang nyaman untuknya sambil menunggu pesanannya datang.
Pemuda itu memilih tempat duduk yang dekat dengan kaca agar dia bisa melihat keadaan luar. Ketika tengah asyik memperhatikan pemandangan di luar, pemuda itu kaget kala ada seorang gadis tengah berdiri memandangnya.dan sepertinya gadis itu sedang bicara pada si pemuda.
“yaa.. oppa, kenapa kau ada disitu?” tanya sang gadis pada si pemuda yang ada di dalam cafe. Sembil menampilkan wajahnya yang lucu
“oppa.. aku mencintaimu.. aku menyukaimu..” ucap gadis itu lagi pada si pemuda. Gadis itu mengatakannya. Mengatakan isi hatinya, walaupun saat ini pasti dia sangat malu karena seorang pelayan yang mengantarkan pesanan pemuda yang dipanggilnya oppa tadi tengah memperhatikannya.
Harusnya gadis itu tau, kalau si pemuda tidak akan bisa mendengar suaranya. Mengingat keadaan mereka yang saat ini tengah terhalang oleh sebuah tembok kaca.
“oppa tunggu aku, aku akan menghampirimu.” Ucap gadis itu lagi.
Si pemuda itu hanya bisa tersenyum melihat tingkah gadis yang ada di depannya tadi. Dia benar – benar tidak tau apa yang telah diucapkan oleh gadis itu. Tapi pemuda itu tampaknya sangat senang bisa melihat gadis tadi.
Dia benar – benar cantik. Aku sangat mengaguminya. Betapa cantiknya dia saat itu, andai saja aku tidak pergi. mungkin dia bisa menjadi milikku. Aku tidak menyangka, setelah aku kembali mereka sudah menikah. (si pemuda)
gadis itu sudah memasuki cafe dan berniat menghampiri pemuda tadi. Namun ketika dia sudah sampai tempat duduk pemuda tadi, dia tidak menemukannya, tidak ada pemuda itu. Kemana dia? pikir gadis itu.
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke semua penjuru dan tidak menemukan pemuda tadi. Kemana dia pergi.
Gadis tadi mendengar Sebuah suara ketukan dari balik kaca. Dan gadis itu pun menoleh ke sumber suara. Dia sedikit terkejut ketika melihat pemuda tadi sudah berada di luar. Kapan pemuda itu keluar, kenapa gadis itu tidak melihatnya.
“yaa.. apa yang kau lakukan disitu. Aku mencintaimu..” ucap pemuda itu sambil berlutut dari balik kaca. Sambil membawa seikat bunga. Dan tersenyum kepadanya.
Si gadis benar – benar tampak terkejut. Kenapa terasa aneh, kenapa seperti berbeda. Kapan pemuda itu mengganti bajunya kenapa cepat sekali. Beribu pertanyaan yang ada didalam kepala gadis itu namun akhirnya dia tersenyum senang.
-
-
-
JANUARI 2013
Seorang wanita tampak duduk bersandar di kursinya dan tengah memperhatikan sebuah video yang saat ini di putarnya. Dia mempercepat adegan di dalam video itu hingga menampilkan sebuah adegan yang menarik perhatiannya.
###
“yaa… semuanya. hari ini aku sangat senang sekali. Semua bergembiralah.” Ucap seorang pria yang ada didalam video tersebut. Pria yang tampan dan mengenakan tuxedo hitam.
Adegan di dalam video itu pun berlanjut pada seorang wanita yang nampak cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih. Dan sekarang wanita itu nampak berjalan menghampiri calon pengantin prianya.
Pengantin pria dan wanita itu sekarang sudah berdiri bersampingan. Mereka menghadap ke pendeta dan mempelai pria pun mengucapkan ikhrarnya.
“aku kim ki bum.. saat ini, berdiri disini akan berjanji menjaga, melindungi dan mengasihi kim so eun dalam suka dan duka. Dan dalam keadaan sehat maupun sakit.”
“dan aku kim so eun akan dengan senang hati menerimanya.” Jawab wanita bernama so eun itu.
Mempelai pria bernama kim ki bum itu pun mengembangkan senyumannya ketika mendengar jawaban dari mempelai wanitanya. Kini dia memasangkan sebuah cincin di jari wanitanya itu.
“kalian lihat, tangannya begitu indah” puji ki bum dihadapan semua tamu undangan.
Kini giliran mempelai wanita bernama kim so eun itu yang memasangkan sebuah cincin di tangan mempelai prianya. Namun ada sedikit kekecewaan dihati so eun. cincin yang dipasangkannya tidak bisa masuk sepenuhnya ke jari ki bum.
“sepertinya ini sedikit kecil.” Ucap ki bum mencoba mencairkan suasana yang sedikit tegang dengan kejadian ini. bagaimana bisa sebuah cincin pernikahan tidak muat di jari salah satu mempelai.
Sepertinya so eun pun sedikit bingung. Kenapa bisa tidak muat. Ada apa ini.
“sepertinya aku bertambah sedikit gemuk. Yang pentingkan bisa masuk walaupun hanya setengah.” Ucap ki bum mencoba menenangkan hati wanitanya.
Sebenarnya ki bum sendiri sedikit sedih dengan kenyataan ini, bagaimana ini bisa terjadi. Kenapa bisa tidak muat. bukankah sebelumnya tidak ada masalah.
Acara pernikahan pun selesai. Mempelai pria bernama ki bum itu keluar gedung dan berbicara di depan kamera.
“tuhan.. terimakasih telah mempertemukanku dengannya. Saat ini aku sangat senang sekali, akhirnya aku bisa menikahi wanita yang aku cintai, KIM SO EUN. aku sangat mencintainya, dan berjanji akan selalu membuatnya bahagia. Walaupun kebahagiaanku ini terasa kurang tanpa kehadiran……….”
###
Kalimat yang di ucapkan pengantin pria yang berada di dalam video itu terhenti ketika jari lentik seorang wanita yang tengah duduk bersandar dikursi itu menekan tombol on/of yang ada di remotnya.
“kau bodoh.. kenapa kau membohongiku.” Isak wanita yang yang sedari tadi bersandar dikursi. Wanita itu adalah Kim so eun. mempelai wanita yang tadi ada di dalam video, yang barusan di tontonnya.
So eun menghapus air matanya. Mengingat semua setiap adegan yang sedari tadi telah dia tonton. Sepertinya air matanya akan terus mengalir, hingga dia tidak sadar jika lampu yang menjadi penerangan di dalam kamarnya telah redup.video pernikahannya, pernikahannya dengan ki bum, akankah so eun bisa mearasakan kebahagiaan seperti itu lagi.
*
*
*
pagi ini so eun sudah berada di rumah sakit. Sekarang dia sudah berada di ruang rawat seorang pasien. So eun membersihkan badan pasien itu, menggantikan bajunya. Membersihkan mukanya hingga menyisir rambutnya. Semuanya so eun lakukan dengan teliti dan hati –hati.
so eun benar – benar tidak keberatan melakukan itu semua, karena itu memang adalah tugasnya sebagai istri. Memangnya siapa lagi yang akan merawat ki bum kalau bukan istrinya yang tak lain adalah so eun. ketika so eun sedang sibuk membersihkan badan suaminya dia harus diganggu oleh suara ponselnya.
“iya. Hallo”
“…..”
“baiklah, aku akan segera menyelesaikan tulisanku.”
“…..”
Sambungan telepon pun terputus ketika suara diseberang sana sudah menyelesaikan urusannya dengan so eun. kini so eun pun kembali asyik dengan kegiatannya merapikan tubuh ki bum, suaminya.
~~~
Kini so eun sudah berada di dalam mobilnya, hari ini ibunya menyuruh dia untuk menjemput adik iparnya di bandara. Yaa.. adik iparnya, adik dari ki bum. hari ini so eun benar – benar terlihat lelah, sepertinya setiap hari so eun selalu disibukkan dengan berbagai kegiatan. Ponsel so eun kembali berdering, dan panggilan itu dari ibunya.
“so eun.. apa kau sudah berangkat?” tanya sang ibu dari seberang.
“aku sedang dalam perjalanan ibu.”
“apa kau akan mengenalinya, bukankah kau belum pernah bertemu dengannya. Bagaimana kau akan menemukannya?” khawatir ibu.
“aku tidak akan susah mengenalinya, mereka kan saudara pasti dia akan memiliki kemiripan dengan ki bum.”
“benar juga.. kalau gitu berhati – hatilah.” Tutup ibu so eun.
Sesegera mungkin so eun melajukan mobilnya. Bagaimanapun, benar juga apa yang di bilang oleh ibu so eun. sepertinya so eun akan sedikit kesulitan menemukan adik ki bum nanti ketika dibandara mengingat so eun belum sekalipun melihat wajah adik iparnya itu.
Ki bum benar – benar keterlaluan kenapa selama ini dia tidak pernah bilang kalau dia punya adik. Dan kenapa ki bum juga tidak pernah mempertemukan so eun dengan adiknya itu.
~~~
Akhirnya so eun telah sampai di bandara, dia melihat jadwal kkedatangan pesawat dari kanada. Dan ternyata, Kedatangan pesawat dari kanada sudah dari 5 menit yang lalu tiba. Berarti so eun hanya terlambat 5 menit. Lalu sekarang apa yang akan dilakukan oleh so eun, bagaimana caranya dia mengenali adik iparnya itu.
So eun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Matanya menangkap sesosok bayangan manusia. So eun sedikit mempertajam penglihatannya, dan jelas sekali so eun bisa melihat kalau sosok itu kini tengah berjalan menghampirinya.
“kim so eun-si” panggil seorang pria yang saat ini tengah berdiri di depan so eun.
So eun sedikit pusing dengan apa yang saat ini di lihatnya. Apakah mata so eun benar – benar bermasalah sekarang. Apa benar yang ada dihadapan so eun sekarang ini. apa so eun sekarang sedang tidak bermimpi.
“yaa… so eun-si.” Panggil pria itu lagi, ketika panggilan pertamanya tidak di jawab oleh so eun.
So eun semakin bingung, dia semakin heran. Ini nyata, sekarang ini so eun tidak sedang bermimpi. Buktinya orang yang ada di hadapan so eun ini sekarang sedang memanggilnya. Tubuh so eun semakin limbung, rasanya saat ini juga dia ingin pingsan.
~~~
Saat ini so eun sudah berada di dalam mobil bersama dengan pemuda yang tadi di temuinya di bandara. Tentu saja pemuda itu adik iparnya yang tidak lain adalah adik ki bum suami so eun.
“terima kasih sudah mau menjemputku di bandara.” Ucap pemuda tadi.
“ah.. iyaa.” Jawab so eun sekenanya. Saat ini otak so eun masih dilanda kebingungan. Beberapa pertanyaan tengah berputar – putar diotaknya, rasanya saat ini juga so eun harus mengetahui jawabannya. Tapi siapa yang akan memberi tahu so eun akan kebingungannya ini. ki bum kah? Jelas itu tidak mungkin. Pemuda yang ada disampingnya ini? apa mungkin! Mungkin saja, kenapa tidak.
“foto ini, anda yang meletakkannya disini?” tanya adik ki bum pada so eun, sambil memegang sebuah foto berliontin kan sebuah foto seorang pria kecil yang sedang memiringkan kepalanya ke kanan.
So eun hanya melemparkan sebuah senyuman kakunya pada adik ki bum sebagai jawaban atas pertanyaan yang telah dilontarkan pemuda itu.
Suasana di dalam mobil itu sangat canggung, dan so eun membenci situasi seperti ini. so eun ingin menyalakan mini dvd yang ada di dalam mobilnya untuk melepas dia dalam kecanggungan ini. namun sialnya tangannya malah berbenturan dengan tangan adik ki bum yang ternyata juga ingin menyalakannya.
“maafkan aku kim bum-si” ucap so eun reflek sambil melihat kearah adik iparnya itu.
Yang di lihat pun hanya bisa tersenyum. Melihat tingkah sang kakak iparnya (kim bum-si). Sepertinya ini akan sangat sulit buat mereka berdua. Tidak. bukan berdua, tapi bertiga.
~~~
Setelah dari bandara, so eun langsung membawa kim bum ke rumah sakit tempat dimana ki bum di rawat. So eun ingin memberitahu kim bum bahwa saat ini keadaan ki bum tidak ada perkembangan. Dan sepertinya akan sulit untuk ki bum kembali seperti dulu.
Kim bum dan so eun memasuki ruangan tempat ki bum di rawat. Kim bum berjalan menghampiri tubuh ki bum yang saat ini tengah berbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Kim bum mendudukan tubuhnya di samping ranjang ki bum, mata kim bum mulai berkaca – kaca melihat keadaan kakaknya yang sangat menyedihkan ini.
“hyung.. maafkan aku.” Gumam kim bum, sambil menahan tangisnya.
“harusnya aku tidak boleh, meninggalkanmu. Maafkan aku hyung.” Ucap kim bum lagi, sambi memegang tangan ki bum.
So eun hanya mampu melihat adegan ini dengan rasa pilu. Ini benar – benar menyedihkan. Rasanya ini seperti sebuah drama. So eun benar – benar sedih melihat keadaan ki bum saat ini. harusnya saat ini ki bum bisa tersenyum senang karena bisa melihat adiknya. Tapi nyatanya untuk bergerak pun ki bum tidak bisa.
Saat ini ki bum memang tengah koma. Ki bum koma akibat kecelakaan mobil yang menimpanya beberapa tahun yang lalu. Dan kejadian itu terjadi satu hari setelah acara pernikahannya dengan so eun.
~~~
Kini so eun pun mengajak kim bum kerumahnya. Lebih tepatnya lagi rumah ki bum. memang sudah seharusnya so eun mengajak kim bum ke rumah kakaknya. Jika tidak kim bum akan tidur dimana.
“yaa… pohon itu sudah besar. Aku dan hyung yang menanamnya saat itu.” Teriak kim bum sambil berlari ke halaman samping rumah so eun dan menghampiri pohon yang tertanam di samping rumah itu.
So eun memperhatikan tingkah kim bum, namun So eun tidak menanggapi teriakan kim bum barusan, dan dia pun ingin berjalan menuju kamarnya.
“maafkan aku.. harusnya aku mengatakannya dari awal. Maaf membuatmu tidak nyaman. Selama ini hyung memang tidak ingin siapapun tau kalau kita ini adalah anak kembar.” Jelas kim bum, dan membuat so eun menolehkan badannya ke arah kim bum.
Kenapa? Kenapa ki bum tidak bicara pada so eun mengenai hal ini.kalaupun ki bum tidak ingin orang lain tau, setidaknya ki bum harus mengatakannya pada so eun kan, bukannya so eun ini istri ki bum.
Ini semua begitu rumit menurut so eun, so eun pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan meninggalkan kim bum yang masih terdiam di tempatnya.
*
*
*
Hari ini so eun dan kim bum tengah berada di sebuah cafe. Kim bum ingin sekali pergi jalan – jalan kota seoul mengingat dia sudah lama sekali meninggalkan kota kelahirannya ini. dan dia pun mengajak so eun. dan saat ini keduannya tengah duduk didalam sebuah cafe yang nampak rame di datangi oleh pengunjung.
“aku lihat kau sering sekali melamun. Apa ini karena hyungku?” tanya kim bum memecah kesunyian diantara keduanya.
So eun tidak menjawab pertanyaan kim bum barusan. ini semua memang karena ki bum. so eun jadi pendiam seperti ini memang karena memikirkan ki bum.
“aku mempunyai sebuah novel, ceritanya sangat menarik.” Ucap kim bum lagi sambil menyodorkan sebuah novel dihadapan so eun. namun ketika so eun ingin mengambilnya, kim bum menarik kembali novel tersebut dan membuat so eun jadi kesal.
“yaa, ada apa denganmu.. hah, novel itu tidak menarik ceritanya benar – benar menyedihkan. Mana ada manusia yang akan tetap sabar walaupun mendapat cobaan yang berat.” Ucap so eun, menjelaskan panilaiannya pada novel yang dibawa kim bum itu.
“tentu saja ada. Memangnya manusia harus selalu bersedih.” Jawab kim bum sambil tersenyum pada so eun.
“kau pikir, semua orang bisa seperti itu. Kau lihat orang – orang yang ada disini, semuanya tertawa tapi mungkin nanti mereka juga akan menangis jika mendapat cobaan sama sepertiku.” Sentak so eun.
“yaa.. baiklah, kau benar.” Jawab kim bum dan membuang novel yang dipegangnya tadi ke tempat sampah yang ada di samping meja makannya dan so eun.
“lalu apa yang akan kau lakukan jika suatu saat nanti hyungku sudah sadar?” tanya kim bum serius, sambil memandang so eun.
“uhuk..uhuk..” so eun terbatuk.
So eun sedikit terkejut dengan pertanyaan yang barusan kim bum lontarkan. Keget.. kenapa?
Kenapa so eun harus kaget mendapat pertanyaan seperti itu dari kim bum. apa so eun belum siap jika suatu waktu ki bum sadar kembali. Bukankah selama ini so eun menginginkan kesadaran ki bum.
“kau tidak apa – apa?” tanya kim bum khawatir. Sambil menyodorkan selembar tisu pada so eun.
Namun so eun tidak menghiraukan perhatian kim bum tadi, so eun pun beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan kim bum.
Sesegera mungkin kim bum pun mencoba mengikuti so eun. namun tidak lupa kim bum kembali memungut novel yang tadi telah dibuangnya ketempat sampah dan memasukannya ke dalam tas.
*
*
*
Kim bum mencoba memperbaiki lampu yang ada di ruang keluarga. Sejak pertama kim bum datang ke rumah so eun, ruang keluarga ini tampak gelap. Dan ternyata lampu di ruangan ini memang putus. Akhirnya kim bum pun menggantinya.
So eun yang kebetulan sedang keluar dari kamarnya melihat kim bum yang tengah mengganti lampu. So eun tersenyum melihatnya. Mungkin jika tidak ada kim bum lampu di ruang keluarga itu selamanya tidak akan pernah ada yang mengganti.
Kini kim bum berjalan keluar dan menuju sebuah pohon besar yang berada disamping rumah so eun itu. Kim bum kembali mengingat kenangan nya berasama sang kakak kala mereka masih sama – sama kecil.
Kim bum menggantungkan sebuah kanton infus, lengkap dengan seutas selang kecil yang dia sambungkan di pohon itu. Kemudian kim bum menancapkan jarum yang ada diujung selang tadi pada pohon itu.
“sekarang.. pohon ini juga akan merasakan. Apa yang saat ini kau rasakan hyung.” Batin kim bum.
So eun masih saja memperhatikan gerak – gerik kim bum. so eun berpikir bahwa kim bum ini orang yang aneh. Namun menyenangkan.
Kini kim bum dan so eun sama – sama berjalan ke dapur. kim bum mencoba membuka kulkas dan melihat apa yang ada didalam kulkas saat ini, karena sekarang perutnya sedang lapar. Dan betapa kagetnya kim bum ketika tidak mendapati sesuatu apapun di dalam kulkas itu.
“yaa.. kecoa pun bisa mati jika seperti ini terus.” Gurau kim bum sambil menutup kembali pintu kulkas tersebut.
So eun yang tadi juga melihat keadaan kulkas yang kosong pun hanya terdiam. Selama ini so eun memang tidak menyimpan bahan makanan di kulkas. Mengingat so eun jarang sekali makan. So eun akan makan jika perutnya akan benar – benar terasa lapar. Dan jika so eun ingin makan pasti itu dia lakukan di rumah sakit saat sedang menjaga ki bum.
“bagaimana jika kita pergi makan diluar?” usul kim bum. dan so eun pun hanya bisa mengangguk karena saat ini perutnya juga sedang dilanda kelaparan.
~~~
Kini so eun dan kim bum tengah berada di sebuah restoran kecil yang berada tak jauh dari rumahnya. So eun dan kim bum tengah asyik memperhatikan daftar menu yang ada didepannya.
“kenapa tidak pesan nasi?” tanya kim bum heran karena mendengar so eun hanya memesan sepotong roti pada penjaga toko.
“bukankah di luar negri roti itu adalah makanan utama. Kenapa kau tidak memanggilku kakak ipar?” tanya so eun sambil memandang ke arah kim bum.
“harusnya kau yang terlebih dahulu memanggilku adik ipar.” Jawab so eun sambil melemparkan senyumnya ke arah so eun.
Dan senyuman itu mampu membuat so eun salah tingkah. Dan memalingkan wajahnya dari kim bum.
“tuan.. berapa banyak uang yang kau punya untuk membuka toko roti ini?” tanya so eun pada pemilik toko, untuk mengalihkan pembicaraannya tadi dengan kim bum. dan hal itu sukses membuat kim bum tertawa.
Kim bum dan so eun sudah selesai memakan makanan yang tadi telah mereka pesan. Kim bum dan so eun pun pergi meninggalkan toko tersebut dan berjalan pulang. Karena sekarang sudah saatnya untuk so eun kembali ke rumah sakit untuk menunggu ki bum.
“selama ini kau pasti lelah sudah merawat hyungku.” Ucap kim bum
“itu sudah menjadi tugasku. Itu adalah kewajibanku menjadi seorang istri.”
“apa kau lelah, dengan kondisi hyungku yang seperti ini?”
“dia suamiku.. kenapa aku harus lelah. Bukankah tadi sudah kubilang jika ki bum adalah suamiku jadi ini sudah menjadi kewajibanku. Nanti malam aku tidak pulang, karena aku akan menginap di rumah sakit. Jadi tidak perlu menungguku.” Ucap so eun sambil meninggalkan kim bum.
Kim bum hanya bisa melihat so eun yang mulai pergi menjauh. Apa benar jika so eun tidak lelah dengan ini semua. Apa so eun benar – benar kuat dengan semua cobaan ini. lalu bagaimana dengan so eun yang di cafe waktu itu. So eun yang tampak kesal dengan cobaan yang di berikan pada tuhan untuk seorang manusia yang ada di dalam novel yang di bawa kim bum.
Ini semua hanya kepura – puraan. Kim bum yakin jika sekarang kakak iparnya itu pasti sudah lelah dan teramat lelah. Mungkin juga kakak iparnya itu sudah putus asa dengan kondisi hyungnya yang tidak ada perkembangan.
—TBC—
NB: MAAF YAA READER JIKA CERITANYA SUSAH DIMENGERTI. JADI DISINI KIM BUM DAN KI BUM ITU SAUDARA KEMBAR. DAN KI BUM SAAT INI SEDANG KOMA. AWALNYA SO EUN TIDAK TAU KALAU KI BUM ITU PUNYA SAUDARA. APALAGI SAUDARA KEMBAR. DISINI KI BUM DAN KIM BUM ITU KEMBAR IDENTIK YAA.
JANGAN LUPA COMENT YAA!!!!
-
-
-
Part 3
***
so eun masih tetap memandangi foto yang sedari tadi dipeganginya. Ini benar – benar mengharukan, bagaimana semua ini bisa terjadi. Bagaimana kejadian ini bisa dialami oleh so eun. apa tidak ada pilihan untuk so eun keluar dari semua masalah ini. tanya so eun dalam hatinya.
So eun teringat akan kejadian tadi, dimana ayahnya memukul kim bum. pasti saat ini kim bum semakin membenci dirinya. Pasti kim bum akan semakin menjauh dari so eun.
So eun meletakkan kembali foto yang sedari tadi di pegangnya, rasa bersalahnya pada kim bum kembali muncul. So eun harus melihat keadaan kakaknya sekarang. So eun yakin kim bum sudah tidur, jadi so eun tidak perlu takut kalau kim bum akan marah padanya.
So eun sudah sampai didepan kamar kakaknya, seperti biasa jantung so eun selalu berpacu lebih kencang jika selalu berurusan dengan kim bum.
Malam sudah larut namun mata kim bum masih saja tidak bisa terpejam, dia pandangi pecahan kaca yang berserakan di lantai kamarnya. Selembar foto yang masih menempel di bingkai figura itu juga masih tetap tergeletak di lantai, tidak ada sedikit pun niat kim bum untuk membereskan benda – benda tersebut.
Kim bum memegangi, ujung bibirnya yang terasa berdenyut. Tentu saja sakit. Tamparan yang dia dapatkan dari sang ayah tadi lumayan keras, pasti sekarang bekasnya membiru. Ayahnya memang benar – benar keterlaluan, sebegitu marahnya kah ayahnya itu pada kim bum sehingga menampar anaknya sendiri.
Kim bum mencoba untuk memejamkan matanya, walaupun susah tapi tentu saja kim bum harus tidur. Untuk apa kim bum memikirkan hal – hal yang tidak dia ketahui pasti jawabannya.
So eun memutar kenop pintu kamar kakaknya itu, tidak dikunci. Kenapa selalu kebetulan sekali, setiap so eun berniat masuk ke kamar kim bum pasti pintunya selalu tidak dikunci.
Pelan – pelan so eun memasuki kamar kakaknya, so eun tidak mau sampai kakaknya itu marah gara – gara so eun masuk ke kamarnya secara diam – diam. So eun melihat kim bum tengah tertidur di tempat tidurnya. perlahan – lahan so eun menghampiri tempat tidur kim bum dan duduk di sebelah sang kakak.
“maafkan aku kak, aku tau kau membenciku. Tapi ijinkan aku tetap berada disampingmu.” Gumam so eun
“sekalipun kau membenciku, tapi itu semua tidak merubah keadaan kalau aku adalah bagian dari hidupmu, kecuali kau ….” so eun menghentikan gumamannya, dia tidak bisa meneruskan kata – katanya lebih tepatnya tidak mau.
So eun memandangi setiap inci wajah kim bum, dilihatnya ujung bibir kim bum yang membiru. So eun yakin kalau itu bekas luka dari tamparan ayahnya tadi.
“pasti sakit.” Ucap so eun sambil menyentuh luka kim bum.
Kini pandangan so eun beralih ke pecahan kaca yang berserakan di lantai kamar kim bum. diambilnya selembar kertas foto yang juga tergeletak dilantai dan diletakkannya foto tersebut di atas meja. So eun pun dengan telaten membersihkan pecahan – pecahan kaca tersebut, namun aktifitasnya tehenti ketika tanpa diduga sebuah pecahan kaca mengenai salah satu jarinya.
“aaauuuwwww…” ringis so eun, sambil memegangi jarinya yang mulai mengeluarkan darah.
“apa yang kau lakukan?” tanya sebuah suara berat dari belakang so eun.
So eun kaget mendengar suara itu, bahkan sekarang untuk menoleh saja dia tidak berani. Apa benar. Apa so eun tidak salah dengar. Jangan bilang suara berat ini milik kim bum. ya tuhan… bagaimana so eun ini, kenapa tidak mengenali suara kakaknya sendiri, memangnya siapa lagi yang ada dikamar kim bum kalau bukan kim bum dan dirinya sekarang.
Kim bum mendengar suara decitan pintu terbuka, walaupun suaranya pelan tapi tetap saja kim bum mendengarnya. Kim bum sedikit membuka matanya dan melihat siapa yang begitu berani masuk ke kamarnya malam – malam begini, ibunya kah. Pikir kim bum
Kim bum sedikit terkejut ketika melihat so eun mengendap – endap memasuki kamarnya. Kim bum masih pura – pura tertidur untuk mengetahui sebenarnya apa yang mau dilakukan gadis itu dikamarnya.
Kim bum mendengarkan setiap kata – kata yang keluar dari mulut so eun, kim bum juga masih tak bergeming ketika so eun memegang ujung bibirnya.
“seharusnya bukan kau yang minta maaf so eun, tapi aku.” Batin kim bum.
Kim bum membuka matanya ketika mendengar teriakan kecil dari so eun. dan tanpa sadar kim bum pun bertanya pada gadis itu.
“apa yang kau lakukan?” kim bum sempat menyesali pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Untuk pertama kalinya kim bum bertanya pada so eun setelah sekian lama kim bum berusaha menghindari adiknya itu.
Kim bum melihat so eun tengah membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai, namun penglihatan kim bum menangkap setetes darah yang mengalir di jari so eun.
Gadis itu terluka, astaga kenapa so eun tidak cepat – cepat menhentikan darah yang keluar dari jarinya. Bagaimana kalau so eun kehabisan darah. Pikir kim bum
Kim bum segera turun dari tempat tidurnya dan menghampiri so eun yang masih diam di posisinya, kim bum tidak menghiraukan kekagetan adiknya itu, akan tingkahnya. Yang dilakukan kim bum sekarang ialah meraih jari so eun dan dihisapnya darah gadis itu agar berhenti keluar.
“kenapa bisa sampai terluka? Kenapa harus membersihkannya? Apa kau tidak takut kalau kau kehabisan darah hanya gara – gara membersihkan pecahan kaca – kaca ini?” pertanyaan bertubi – tubi dari kim bum tidak mendapatkan respon apapun dari so eun.
So eun benar – benar kaget dengan apa yang dilakukan kim bum barusan. apa so eun sedang bermimpi. Jadi benar kim bum berbicara pada so eun, dan apa ini, kim bum khawatir terhadap so eun.
“kakak….” gumam so eun pelan
“apa….. kau berniat mau melukai dirimu. apa kau bodoh hah” bentak kim bum, dengan nada khawatir.
“kakak… apa yang kau lakukan?” tanya so eun bingung
Ingatan kim bum seakan kembali, dia lepaskan tangan so eun yang sedari tadi dipegangnya. Kim bum memandang so eun sejenak dan memundurkan tubuhnya agar menjauh dari so eun. ini gila pikir kim bum, mana mungkin kim bum bisa melakukan hal seperti tadi, apa sekarang kim bum sudah mulai menerima so eun.
“jadi harus seperti ini. jadi harus terluka dulu baru kau bisa melihatku. Apa aku harus melukai diriku supaya kakak bisa menerimaku. Atau kakak mau aku mati dihadapan kakak, agar kakak tau kalau selama ini aku begitu tersiksa mendapat perlakuan dingin darimu.” Bentak so eun pada kim bum yang masih tampak bingung dengan apa yang dilakukannya barusan.
“bu… bukan begitu maksudku?” jawab kim bum terbata – bata. Kim bum benar – benar tidak bisa menjawab pertanyaan so eun dengan jelas.
Selama ini kim bum tidak membenci so eun,hanya saja kim bum membenci keadaan yang menimpa dirinya dan juga so eun. walaupun kim bum bersikap dingin terhadap so eun, tapi kim bum tetap peduli pada adiknya itu dan ketika kim bum melihat adiknya terluka tentu saja dia tidak bisa tinggal diam.
“kau benar – benar keterlaluan.” Bentak so eun, kemudia menampar pipi kim bum.
So eun benar – benar marah, gadis itu benar – benar marah. Dan anehnya lagi kim bum bahkan tidak bisa membela dirinya sendiri kali ini. bukankah biasanya kim bum bisa bersikap tegas jika sudah menyangkut gadis yang ada didepannya ini. tapi kenapa sekarang kim bum diam saja.
“pergi dari kamarku.” Gumam kim bum lirih. Hanya tiga kata itu yang keluar dari mulut kim bum. mungkin kejadian hari ini adalah peringatan untuk kim bum supaya dia bisa berfikir lebih jernih lagi tentang hubungannya dengan so eun.
So eun pun berlari meninggalkan kamar kim bum. air matanya kembali menerobos keluar. Hari ini untuk pertama kalinya setelah pernikahan itu kim bum mengeluarkan suaranya untuk so eun.
Harusnya so eun senang, karena kakaknya itu ternyata peduli padanya. Lalu kenapa tadi so eun harus menampar kim bum, apa so eun tidak senang ketika tau kalau ternyata kim bum peduli padanya.
-
-
-
Pagi ini cuaca kota Soeul sangat cerah, hari ini keluarga Kim nam gil berkumpul di ruang makan. Tidak ada suara apapun yang terdengar di ruangan itu. Semua manusia yang ada di ruangan itu diam seribu bahasa, semuanya bergelut dengan pikiran masing – masing.
Kejadian tempo hari benar – benar sedikit merubah keadaan. Walaupun kim bum masih tetap dingin pada so eun tapi setidaknya sikap kim bum sudah jauh lebih baik dari biasanya.
“aku sudah selesai. Aku tunggu di depan.” Ucap kim bum, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan orang tua dan juga adiknya.
Nam gil dan tae hee saling pandang, mereka saling lirik melihat tingkah kim bum. walaupun kim bum tidak menyebut nama so eun tapi mereka tau kalau perkataan kim bum barusan ditujukan pada so eun.
“sso, cepat kau susul kakakmu sebelum dia berubah pikiran” perintah tae hee pada anak perempuannya itu.
So eun mengangguk dan mengikuti perintah ibunya. Selain itu tentu saja so eun tidak mau membuat kim bum marah karena terlalu lama menunggunya.
“sepertinya kim bum sudah membuka hatinya untuk so eun.” ucap tae hee pada suaminya.
“aku juga merasa seperti itu, anak itu kenapa harus butuh waktu yang lama untuk menyadarkannya.” Jawab nam gil
“kenapa bicara seperti itu, seharusnya kau senang menlihat perubahan kim bum. setidaknya dia sudah mulai mau bicara dengan so eun.” protes tae hee, dengan jawaban suaminya.
“sepertinya kita harus memberikan mereka waktu untuk berdua, biar kim bum bisa menyesuaikan dirinya.” Usul tae hee.
Nam gil, mulai memikirkan sesuatu dan menganggukkan kepalanya tanda dia setuju dengan usul istrinya.
Kini so eun dan kim bum sudah berada dimobil dan bersiap menuju tempat kuliah mereka. Seperti biasa so eun tidak berani mengeluarkan kata – katapun jika sudah berada di dalam mobil bersama kim bum.
“kau membenciku?” tanya kim bum tiba – tiba.
So eun langsung mengarahkan pandangannya pada kim bum, apa yang kakaknya tanyakan barusan. untuk apa so eun membenci kim bum.
“aku tau kau pasti kecewa dengan sikapku selama ini.” ucap kim bum lagi.
So eun semakin heran dengan perkataan – perkataan kim bum yang barusan dilontarkannya. Sebenarnya ada apa dengan kim bum ini.
“kau tidak perlu menjawab apapun, karena aku sudah tau jawabannya. Hari ini aku ingin pergi kesuatu tempat, dan aku ingin kau ikut denganku.”
“bagaimana dengan kuliah kita?” tanya so eun pelan
“aku tidak peduli, dengan itu.” Jawab kim bum dingin.
Sekarang so eun hanya bisa menurut apa keinginan kim bum, tidak masalah jika dia harus bolos kuliah yang terpenting saat ini adalah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh kakaknya itu. Dan mau kemana kim bum mengajak so eun pergi.
“kita sudah sampai.” Ucap kim bum sambil keluar dari mobilnya
So eun pun turun dari mobil kakaknya, so eun terpukau melihat sebuah gedung yang berada tepat dihadapannya sekarang. So eun terpukau bukan karena keindahan gedung itu tapi so eun heran kenapa kim bum membawa so eun ketempat ini.
“kenapa… kenapa kakak membawaku ketempat ini?” tanya so eun
“bukannya kau sudah lelah dengan sandiwara ini. bukannya kau memintaku untuk menepati janjiku. Apa kau lupa dengan semua keinginanmu itu?”
“apa maksud kakak?” So eun semakin heran dengan kim bum, apa yang sebenarnya ada didalam pikiran kim bum sekarang.
Kim bum berjalan memasuki gedung itu dengan santai, dan so eun pun mengikuti langkah sang kakak dari belakang.
Sepertinya kim bum sudah siap untuk menerima semua kenyataan ini. karena bagaimanapun juga so eun adalah bagian dari hidupnya dan kim bum tidak bisa menghindar dari kenyataan itu.
“kau masih mengingat tempat ini?” tanya kim bum
“tentu saja, bagaimana aku bisa lupa.” Jawab so eun.
“jadi bagaimana perasaanmu saat itu.” Tanya kim bum
So eun menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan dari kakannya. Jadi ini alasan kim bum membawanya ketempat ini. apa kim bum benar – benar ingin kembali ke masa itu.
So eun mendudukan dirinya di salah satu bangku panjang yang ada didalam gedung itu, so eun pandangi setiap sudut ruangan itu, tidak ada yang berubah masih sama seperti dulu. Masih sama seperti beberapa tahun yang lalu ketika seorang pria muda berusia 19 tahun mengucapkan janji suci pernikahan dihadapan seorang pendeta, orang tuanya dan para tamu undangan.
“kau mengingat kejadian itu?” tanya kim bum dan mendudukan dirinya disebelah so eun. kim bum bisa melihat wajah sedih so eun sekarang. Pasti gadis ini kembali mengingat kejadian itu.
“aku tidak mau mengingatnya” ucap so eun tiba – tiba.
Kim bum tersenyum mendengarnya, tentu saja semua wanita akan senang mengingat kejadian dimana mereka melakukan acara pernikahan untuk dirinya. Tidak seorang wanitapun yang akan bisa melupakan masa – masa pernikahan seperti itu. Tapi tentu saja berbeda dengan so eun.
-
-
-
FLASHBACK
Seorang gadis kecil berusia 10 tahun tengah meringkuk di pangkuan seorang wanita paruh baya. Badannya menggigil. Sepertinya gadis itu ketakutan badannya gemetaran dan keringat membasahi tubuhnya.
“tenanglah sayang, tidak akan terjadi apa – apa dengan ayah dan ibumu.” Ucap tae hee mencoba menenangkan keponakannya itu.
“apa ayah dan ibu akan baik – baik saja bi?” tanya gadis kecil itu gemetaran.
“tentu saja, ayah dan ibumu akan baik – baik saja”
Dokter keluar dari ruang pemeriksaan dengan menampakkan muka datar. Sepertinya pertanda buruk. Nam gil segera menghampiri dokter tersebut dan menanyakan keadaan adik perempuannya beserta suaminya.
“bagaimana dok, mereka baik – baik saja kan?” tanya nam gil cemas.
Dokter menggelengkan kepalanya, dan itu berarti memang hal buruk lah yang terjadi.
“mereka meninggal, maafkan kami.” Ucap dokter.
Nam gil benar – benar shock dengan jawaban dokter tersebut. Adik perempuan yang dia sayangi telah meninggal. Dan itu semua gara – gara salahnya. Andai saja nam gil tidak menyuruh adik dan keluarganya untuk datang ke pesta ulang tahun anaknya dengan buru – buru pasti kecelakaan itu tidak akan terjadi.
Untung keponakannya selamat, tapi ini lebih menyedihkan untuk anak itu. Dia telah menjadi yatim piatu sekarang. Diusia yang sangat muda dia harus kehilangan orang tuanya.
Nam gil menghela nafasnya dan melihat istrinya yang tengah duduk di kursi tunggu rumah sakit. Nam gil melihat keponakannya itu tengah tertidur dipangkuan sang istri. Rasanya benar – benar menyedihkan.
“kita bawa so eun pulang.” Ucap nam gil pada istrinya.
END OF FLASHBACK
-
-
-
“ayah… ibu, aku merindukan kalian.” Gumam so eun sambil menangis.
Kim bum mengetahui apa yang saat ini dipikirkan oleh adiknya itu, pasti memori masa lalunya kembali lagi. kim bum yakin, kalau so eun pasti merindukan orang tuanya. Orang tua kandung adik sepupunya.
Kim bum membimbing so eun kedalam pelukannya, ini semua salah kim bum. kenapa kim bum begitu bodoh selama ini, kenapa kim bum menyia –nyiakan adiknya ini. bukankah ketika so eun datang waktu itu, kim bum begitu menyambutnya dengan bahagia.
“kau mau memaafkanku?” tanya kim bum sambil membelai rambut so eun, untuk mencoba menenangkan adiknya yang sedang dilanda kesedihan.
“jangan membenciku kak.” jawab so eun didalam isak tangisnya.
“tidak lagi.” ucap kim bum lembut
So eun masih terisak didalam pelukan kim bum, rasanya ini suatu keajaiban. So eun bisa merasakan pelukan kim bum lagi setelah pernikahan itu. So eun membayangkan bagaimana kim bum merentangkan tangannya untuk menyambut kedatangan so eun. saat itu kim bum benar – benar sangat baik pada so eun.
-
-
-
FLASHBACK
so eun kecil mengikuti langkah paman dan bibinya memasuki rumah mereka. Untuk pertama kalinya so eun menginjak rumah itu tanpa kedua orang tuanya. biasanya so eun akan sangat senang jika orang tuanya mengajaknya berkunjung ke tempat ini. tapi tidak untuk hari ini.
Nam gil dan tae hee menggandeng tangan so eun beriringan dan diajaknya keponakannya itu untuk masuk kedalam rumah mereka.
“kau sudah datang so eun” teriak seorang pria kecil berusia dua tahun lebih tua dari so eun dan langsung memeluk so eun untuk menyambut kedatangan gadis itu.
“mulai sekarang kau akan tinggal disini. Kau tau aku akan selalu menjagamu.”ucap kim bum.
So eun merekahkan senyumannya walaupun sedikit berat, banyak orang – orang yang akan menyayanginya termasuk kakak sepupunya ini. walaupun so eun merasa berat akan kejadian yang menimpa keluarganya tapi masih ada paman dan bibinya yang akan selalu menjaganya dan juga kim bum.
“terima kasih kakak.” Jawab so eun sambil membalas pelukan dari kim bum kecil.
Tae hee dan nam gil melebarkan senyumnya. Mereka yakin bahwa anaknya itu akan menerima kehadiran so eun. karena memang mereka sudah akrab sebelumnya.
-
-
-
Tujuh tahun telah berlalu semenjak kejadian dimana orang tua so eun meninggal. Kim bum begitu menyayangi so eun seperti adik kandungnya sendiri, walaupun kenyataannya so eun hanyalah adik sepupunya.
Hari itu semua keluarga kim bum berkumpul di ruang tamu. Hari ini nam gil begitu bahagia karena anak laki – lakinya telah dinyatakan lulus dari bangku sekolah menengah atas. Dan hari ini juga bertepatan dengah hari kelahiran kim bum.
“ayah bangga padamu kim bum, kau lulus dengan nilai terbaik.” Ucap Nam gil pada anak laki – lakinya itu.
“Ibu juga bangga padamu sayang.”
“aku juga bangga pada kakak.”
Kim bum tersenyum mendengar semua anggota keluarganya memuji hasil kerja kerasnya selama ini. kim bum memang anak yang rajin, tentu saja dia akan mendapat nilai yang baik.
“ini semua karena dukungan dari ayah, ibu dan juga adik kecilku.” Jawab kim bum gembira.
“ayah aku ingin menyampaikan sebuah permintaan padamu.” Lanjut kim bum hati – hati.
“katakan saja sayang, karena ayah juga akan menyampaikan sebuah berita penting untukmu dan juga so eun.” jawab nam gil
“aku ingin melanjutkan kuliahku ke jepang ayah. Aku ingin ayah dan ibu menyetujui keinginanku ini.” ucap kim bum penuh semangat.
Nam gil sedikit tersentak, dia seperti ingat sesuatu. Kim bum memang selalu meminta padanya jika sudah besar nanti kim bum ingin pergi ke jepang.
“kenapa harus kuliah disana. Memangnya kau tidak suka jika kuliah disini saja?” tanya tae hee.
“bukankah ayah dan ibu sudah tau kalau dari dulu aku ingin kuliah disana. Bukankah dulu ayah dan ibu menyetujuinya.”
“tidak, kau tidak boleh pergi kesana.” Tegas nam gil.
“ayah, kenapa kau berubah pikiran. Kuliah di jepang adalah salah satu mimpiku, apa ayah tidak senang jika nanti aku bisa sukses di sana.”
“kau harus tetap di korea, lusa kau dan so eun akan menikah.” Tegas nam gil lagi dan pergi meninggalkan istri dan juga anak – anaknya.
Shock… tentu saja kim bum sangat shock. Ayahnya melarangnya untuk mengejar cita – citanya. Dan sekarang ayahnya bilang kalau lusa kim bum dan so eun akan menikah. Apa maksudnya, siapa yang akan menikah dengan so eun dan siapa yang akan menikah dengan kim bum.
“ayah apa maksudmu?” teriak kim bum menuntut kepastian dari ayahnya.
“kakak…” gumam so eun, sambil memegang tangan kim bum.
“maafkan kami karena tidak pernah membicarakan dengan kalian sebelumnya. Ayah dan ibu sudah memutuskan bahwa lusa kalian berdua akan menikah. Maka dari itu ayahmu tidak menyetujui keinginanmu untuk pergi ke jepang kim bum.” jelas tae hee.
Kenapa… kenapa orang tua kim bum keterlaluan sekali. Harusnya mereka membicarakan rencana ini pada kim bum dan so eun terlebih dahulu. bukankah mereka juga harus mendapatkan persetujuan dari kedua orang yang bersangkutan, kenapa mereka memutuskan hal ini sendirian. Bukankah ini menyangkut masa depan kim bum dan juga so eun.
END OF FLASHBACK
-
-
-
“apa kakak masih membenciku karena pernikahan ini.” tanya so eun takut – takut.
Kim bum melepaskan pelukannya dari tubuh so eun. kim bum pandangi mata so eun yang berair. Kim bum mengusap air mata yang membasahi pipi adiknya itu.
“menurutmu?” tanya kim bum pada sang adik. Kim bum ingin tau bagaimana reaksi so eun setelah ini.
“aku tidak tau.” Jawab so eun dengan muka datar. Tentu saja so eun tidak tau dengan isi hati kim bum.
“apa kau tidak mau menagih janjiku ketika aku berdiri disini, saat aku mengucapkan janji suci pernikahan kita di depan pendeta. Saat aku mengatakan YA.. AKU BERSEDIA MENERIMA KIM SO EUN DALAM KEADAAN SUKA MAUPUN DUKA. DALAM KEADAAN SEHAT MAUPUN SAKIT MENJADI ISTRIKU. Walaupun kau tau saat itu aku terpaksa mengucapkannya.” Tegas kim bum. sambil berdiri ditengah – tengah gedung gereja tempat dimana dirinya mengucapkan janji suci pernikahannya dengan so eun lima tahun yang lalu.
Menurut kim bum ini memang sudah saatnya untuk dirinya memperbaiki kesalahannya pada so eun. toh, selama ini so eun memang sudah banyak berkorban untuknya. berkorban waktu, pikiran dan juga hatinya.
“kakak…” so eun terharu dengan apa yang baru saja diucapkan kim bum. jadi kim bum benar – benar sudah menerima dirinya kembali sebagai adik dari kim bum. oh… bukan adik, melainkan istri.
“jadi Kim so eun maukah kau menerima kembali Kim sang bum menjadi suamimu, dalam keadaan sehat maupun sakit dan dalam keadaan suka maupun duka?” tanya kim bum pada so eun dengan menirukan gaya seorang pendeta.
So eun benar – benar terharu dengan dengan perlakuan kim bum yang seperti ini. kim bum benar – benar membuat hati so eun bahagia kembali setelah beberapa tahun dia kehilangan senyum cerianya bahkan kehilangan semangat hidupnya.
So eun berlari menghampiri kim bum yang berdiri di tengah – tengah gedung. Dan menghambur kedalam pelukan kim bum. air matanya pun tumpah lagi. kini air mata kebahagiaan lah yang keluar dari mata so eun.
“tentu saja aku menerimanya.” Jawab so eun.
“kau mau memulainya kembali dari awal?” tanya kim bum lagi memastikan.
“menurut kakak?” tanya so eun menirukan gaya kim bum seperti sebelumnya.
“baiklah kalau kau tidak mau, aku juga tidak memaksa.” Jawab kim bum sambil melepaskan tangan so eun yang sedari tadi memeluknya dan pergi meninggalkan gadis itu untuk menggodanya.
“kakak… mau kemana?” panggil so eun.
Dan kim bum pun tetap saja melangkahkan kakinya menjauh dari so eun dan menuju pintu keluar gereja itu. So eun semakin kebingungan melihat kakaknya yang tidak menghiraukan panggilannya.
“yaa… kakak berhenti…” teriak so eun.
Masih sama seperti tadi, kim bum tetap saja melenggang menjauhi so eun. sebenarnya kim bum mendengar panggilan so eun, tapi kim bum sengaja ingin menggoda so eun. dan kim bum berharap so eun mau mengejarnya dan memeluknya dari belakang.
Dan ternyata harapan kim bum benar – benar terwujud, so eun berlari mengejarnya dan memeluk kim bum dari belakang sebelum kaki kim bum benar – benar melangkah keluar dari gereja tersebut.
“aku mencintai kakak. Bukan cinta sebagai adik dan kakak. Melainkan cinta dari seorang wanita pada pria. Kau adalah suamiku, bukan kakakku.” Tegas so eun sambil mengeratkan pelukannya pada kim bum. dan itu membuat kim bum tersenyum senang.
“siapa kau berani memelukku?” goda kim bum sambil membalikkan badannya agar bisa melihat wajah so eun.
“tentu saja aku Kim so eun, adik dari kim sang bum sekaligus istri yang telah ditelantarkannya.” Jawab so eun sambil menggembungkan pipinya.
Kim bum tersenyum geli melihat wajah so eun. gadis ini sangat lucu, dia masih sama seperti beberapa tahun lalu, ketika so eun datang ke rumah kim bum bersama dengan orang tua kim bum. walaupun saat itu, dia sudah kehilangan orang tuanya tapi so eun masih tetap tegar.
mungkin kim bum memang harus membuka hatinya sekarang, gadis ini sudah terlalu banyak mengeluarkan air matanya dan kim bum tidak ingin melihat so eun menderita, sudah cukup perlakuan dingin kim bum selama ini. so eun mencintai kim bum, dan itu lebih dari cukup sebagai alasan untuk kim bum melindungi adik sekaligus istrinya ini.
=======THE END=======
bagaimana reader apakah kalian puas dengan ending part ini??? mungkin para reader berfikir bahwa endingnya terlalu biasa tapi memang seperti inilah endingnya.
mungkin jika ada waktu saya akan buat part specialnya untuk fanfic ini, namun saya juga tidak bisa pastikan kapan akan mempostnya. karena memang rutinitas saya sehari – hari benar memporsir waktu dan fikiran saya. biasa derita anak kuliah sambil kerja.
baiklah, untuk koment benar – benar saya harapkan disini. dan terimakasih chingu.
-
-
-
-
-
-
Part 8
***
“maafkan aku, karena telah menghianatimu. Aku tidak mencintaimu joo won.” Gumam so eun, dan hampir tak terdengar oleh siapapun.
Joo won memandang wajah so eun. joo won heran dengan apa yang ada difikiran so eun saat ini. apa so eun serius dengan ucapannya barusan.
“baiklah, kau tidak mencintaikku itu terserah padamu. Lalu apa yang kau lihat dari kim bum sehingga kau mencintainya?” tanya joo won, sambil menunjuk kim bum yang masih terkulai lemas di lantai.
“apa harus ada alasan khusus untuk seorang wanita, menyukai seorang pria?” tanya balik so eun pada joo won
“aarrrrgggghhhhh…. kau benar – benar menghancurkan hatiku so eun.” teriak joo won.
“bagaimana bisa kau mencintai seseorang yang telah berkali – kali membuatmu menangis hah… bagaimana bisa kau mencintai laki – laki brengsek seperti kim bum, yang jelas – jelas telah meninggalkanmu sendirian, ditempat yang kau tidak tau arah, dan dalam cuaca hujan… apa yang kau lihat dari lelaki brengsek sepertinya so eun.” teriak joo won lagi.
Kali ini semua amarah joo won keluar , sudah cukup joo won bersabar. So eun dan kim bum pasti bingung kenapa joo won tau akan semua hal itu. Tentu saja joo won tau, joo won tidak buta. Selama ini joo won melihat kalung milik kim bum yang dipakai so eun. dan joo won juga tidak pikun, kalau kim bum pernah mengaku pada joo won kalau so eun itu adalah kekasihnya walaupun saat itu joo won tidak terlalu mempedulikannya. Joo won sudah lama kenal dengan kim bum dan joo won sudah hafal betul bagaimana karakter kim bum.
“maafkan aku joo won. Maafkan aku.” Gumam so eun sambil memeluk joo won, mencoba untuk menenangkan pria yang selama ini telah baik padanya.
Kim bum berusaha bangkit dan mencoba untuk bangun, dia merasa bersalah. Bukan hanya pada so eun tapi juga joo won. Ini semua memang salahnya. Tapi ini semua juga diluar kendali kim bum. kim bum juga tidak menyangka jika semua ini akan terjadi.
“kau menghancurkan hatiku so eun.” gumam joo won pelan.
So eun makin mengeratkan pelukannya pada joo won. Matanya sembab, pipinya basah karena air mata yang tak henti – hentinya keluar. so eun mencoba menenangkan joo won. Bagaimanapun ini semua juga salah so eun. jika so eun tidak hadir dalam kehidupan kim bum dan joo won lagi mungkin dua pria yang saling bersahabat ini tidak akan bertengkar seperti sekarang.
“aku mengerti… kau pasti marah padaku.” Jawab so eun.
“tidak bisakah kau merubah perasaanmu so eun, tidak bisakah kau mencintaiku?” tanya joo won sambil melepaskan pelukan so eun.
So eun tidak bisa menjawab pertanyaan joo won, tentu saja so eun tidak bisa hatinya sudah dipenuhi oleh rasa cintanya pada kim bum. mana mungkin so eun bisa merubah perasaannya itu.
“kau tidak bisa memaksanya.” Ucap kim bum pelan.
“diam kau brengsek.” Kesal joo won, dan kembali memukul kim bum.
Namun kali ini kim bum bisa menangkis pukulan joo won. Dan kim bum pun juga berhasil memukul joo won tepat diwajahnya.
“kau tidak bisa memaksakan perasaan orang lain, untuk mencintaimu.” Teriak kim bum dan memukul joo won lagi, hingga sekarang joo won yang jatuh tersungkur di lantai.
joo won terkulai lemas di lantai karena pukulan dari kim bum, dia tidak membalas pukulan kim barusan sama seperti sikap kim bum sebelumnya yang tidak membalas pukulannya.
Kim bum menjatuhkan dirinya tepat disamping joo won, dia merasa menyesal telah memukul joo won. Seharusnya dia tidak memukul sahabatnya itu. Kalau joo won yang memukul kim bum memang sudah seharusnya karena kim bum telah merebut kekasih sahabatnya itu. Tapi kalau kim bum yang memukul joo won,… atas dasar apa kim bum melakukannya.
So eun hanya bisa diam memandangi kim bum dan joo won, dia tidak bisa berbuat apa – apa lagi sekarang. Menghentikan mereka pun percuma. Menyuruh mereka pergi dari apartementnya pun juga tidak mungkin. So eun pun hanya bisa mendudukan dirinya disudut ruangan apartementnya. Berusaha sedikit menjauh dari tubuh kim bum dan joo won.
“kau sungguh beruntung sekali kim bum.” ucap joo won tiba – tiba.
Kim bum memandang sahabatnya yang tergeletak dilantai. Kim bum ingin tau apa lagi yang akan dikatakan joo won sekarang. Kim bum ingin tau apa yang akan dilakukan joo won setelah ini.
“apalagi yang akan kau katakan?” tanya kim bum
“bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi padaku. Bagaimana mungkin tuhan selalu bersikap tidak adil padaku.” Gumam joo won.
Kim bum semakin bingung dengan joo won, sebenarnya apa maksud dari ucapan bocah ini. kenapa berbicara berbelit – belit seperti ini.
“sebenarnya apa yang akan kau katakan. Apa kau akan bilang kalau tuhan tidak adil karena membiarkan kekasihmu telah direbut oleh sahabatmu seperti itu? Atau kau akan bilang kalau seharusnya so eun lebih baik memilihmu dari pada memilihku, begitu?” teriak kim bum.
Kim bum benar – benar tidak bisa menahan kata – katanya, harusnya kim bum bisa lebih sabar lagi kalau berbicara. Kenapa harus memancing emosi lagi.
“aku muak denganmu kim bum… aku sudah tidak bisa mengalah lagi sekarang.” Ucap joo won. Sambil mendudukan dirinya.
Kim bum yang semula juga berbaring disamping joo won pun mencoba untuk bangun. Walaupun dia lelah dia juga harus sigap jika nanti joo won kembali memukulnya. Tentu saja kim bum tidak ingin wajahnya dibuat babak belur oleh joo won.
“terserah siapa yang dicintai so eun sekarang, yang pasti saat ini so eun masih tetap menjadi kekasihku. Dan sebentar lagi dia akan menjadi istriku.” Ucap joo won sambil tersenyum memandang kim bum yang ada disebelahnya.
“apa kau masih belum mengerti kalau so eun lebih memilihku. Kenapa kau masih tidak bisa melepasnya?” tanya kim bum kesal dengan senyuman joo won. Tentu saja kim bum kesal, bukan hanya kesal kim bum juga takut kalau joo won masih tidak bisa melepas so eun untuknya.
Karena kenyataannya, sebentar lagi joo won dan so eun akan segera menikah kan. Orang tua mereka pasti juga akan menyetujui hubungan mereka. Itu berarti kim bum bakalan kehilangan so eun.
“apa kau kira, aku akan dengan begitu mudahnya menyerahkan so eun padamu. Kau kira aku ini malaikat yang akan selalu mengalah padamu. Kau kira hanya karena so eun mencintaimu jadi kau bisa memilikinya?” ucap joo won dengan santainya.
“ Lalu bagaimana denganku, apa aku harus merelakan orang yang aku cintai kembali menjadi milikmu? Kemarin yeon hee sekarang so eun lalu besok siapa lagi?” sambung joo won lagi.
“joo won…. ap..apa maksudmu? Jadi selama ini…” kim bum menggantungkan kalimatnya.
“yaa… dulu aku mencintai yeon hee. bukankah dari dulu aku pernah mengatakan padamu kalau aku mengaggumi yeon hee. tapi karena kau juga tertarik padanya aku memutuskan untuk mundur, karena aku tau kalau yeon hee juga lebih tertarik padamu dari pada aku.” Jelas joo won.
“jadi untuk yang sekarang, aku tidak akan mundur lagi darimu. Kau tidak pantas untuk so eun. kau terlalu sering menyakitinya, kau terlalu sering membuatnya menangis.” Ucap joo won menegaskan perkataannya pada kim bum
Joo won berjalan menghampiri so eun, yang juga tampak bingung dengan apa yang barusan gadis itu dengar. Jadi selama ini joo won menyukai yeon hee.
“maafkan aku so eun, tapi aku tidak akan melepasmu. Aku akan selalu melindungimu.” Ucap joo won sambil mengusap rambut so eun dan pergi meninggalkan kim bum dan so eun.
Joo won berjalan keluar dari apartement so eun, hatinya benar – benar hancur. Kenapa harus seperti ini, kenapa joo won berubah jadi egois seperti ini. kenapa joo won harus menyakiti hati gadis yang dicintainya. Kenapa joo won harus membuat sahabatnya susah akan sikapnya barusan. joo won benar – benar frustasi sekarang. Harusnya dia juga tidak membuka luka lamanya.
“apa benar yang kau ucapkan tadi?” tanya sebuah suara dibelakang joo won.
Joo won kenal suara itu, kenapa gadis itu bisa ada disini. Apa gadis itu mengetahui semuanya. Apa sedari tadi gadis itu berada di tempat ini. lalu kenapa gadis itu tidak ikutan protes dengan sikap kim bum yang joo won rasa sudah sangat keterlaluan.
“apa benar kalau dulu kau menyukaiku?” tanya yeon hee memastikan bahwa yang didengarnya tadi bukan hanya imajinasinya saja.
“itu hanya masa lalu, jadi jangan kau fikirkan.” Jawab joo won tanpa sedikit pun menoleh kebelakang.
“kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” tanya yeon hee lagi.
“itu hanya masa lalu, sudah tidak penting lagi. yang terpenting sekarang kau akan segera mendapatkan kim bum lagi, karena aku akan mempercepat pernikahanku dengan so eun.” tegas joo won, sambil melangkahkan kakinya meninggalkan yeon hee tanpa sedikitpun memandang gadis yang pernah dia cintai itu.
-
-
-
Waktu terus berputar, masa lalu tidak akan bisa diulang kembali. Dan penyesalan pun pada akhirnya akan datang terlambat. Semuanya sudah terjadi untuk apa disesali. Yang terpenting saat ini adalah menyelesaikan semua masalah yang telah diperbuat bukan malah menyesalinya.
Saat ini kim bum berada di dalam kamar apartementnya. Dia pandangi setiap sudut kamarnya. Sepi itulah yang saat ini dirasakan oleh kim bum. sudah tidak ada lagi celotehan – celotehan joo won. Sudah tidak ada lagi pertengkaran – pertengkaran kecil antara joo won dan dirinya.
Bahkan sudah tidak ada satu barang joo won pun yang tertinggal di dalam apartement itu. Yang ada hanya kenangan, yang ada hanya kesedihan dan penyesalan.
“maafkan aku joo won, seharusnya dari dulu aku mengerti kalau kau juga menyukai yeon hee.” batin kim bum.
Semenjak kejadian diapartement so eun waktu itu, joo won memutuskan untuk menempati apartementnya sendiri. Karena memang sebenarnya joo won tinggal bersama kim bum atas keinginan dari kim bum.
Kim bum menghampiri meja belajarnya, dibuka laci mejanya itu dikeluarkannya kalung miliknya yang pernah diberikan kim bum pada so eun. Kim bum pandangi lagi, kalung itu.
“apa sudah tidak ada kesempatan lagi untukku memperbaiki semuanya.” Batin kim bum
“kau pasti marah padaku?” tanya yeon hee pada so eun.
Saat ini so eun dan yeon hee sedang berada disalah satu restoran yang ada di soeul. Keduanya tampak tidak tertarik menyantap hidangan yang dari tadi telah terhidang dihadapan mereka.
“hahaha.. kau ini lucu yeon hee.” jawab so eun sambil tersenyum renyah.
Yeon hee tau kalau saat ini tawa yang diberikan so eun itu adalah sebuah tawa paksaan. Yeon hee tau kalau saat ini so eun pasti dilanda kebingungan.
“kau tidak akan benar – benar meninggalkan kim bum kan?”
“pertanyaan bodoh apa itu, kau lupa kalau aku akan segera menikah dengan joo won. Lagi pula aku juga tidak mau merusak hubunganmu dengan kim bum.” jawab so eun
“kau tidak mencintai joo won jadi untuk apa kau melanjutkan hubungan ini. apa kau berniat menyakiti hati semua orang. Kau akan menyakiti dirimu sendiri, kau juga akan menyakiti kim bum dan juga joo won.” Jelas yeon hee, mencoba memberi peringatan pada so eun.
“akan lebih banyak hati orang – orang lagi yang akan tersakiti jika aku tidak menikah dengan joo won. Kau tidak pikirkan keluargaku, kau tidak pikirkan keluarga joo won yang sudah mempersiapkan semuanya.”
“setidaknya pikirkan lagi semuanya so eun.” paksa yeon hee
“maaf yeon hee aku harus pergi.” So eun pun meninggalkan yeon hee.
Yeon hee tau kalau sebenarnya so eun masih tetap mencintai kim bum, apapun dan bagaimanapun yang terjadi, dihati so eun hanya ada kim bum dan bukannya joo won. Lalu bagaimana ini, joo won sudah tidak bisa memaafkan kim bum dan so eun pun lebih mengikuti kata – kata orang tuanya.
Apa yang harus dilakukan yeon hee sekarang. Dirinya juga ikut andil dalam masalah ini. dirinya juga bisa merasakan bagaimana perasaan so eun sekarang. Dia juga merasa bersalah atas semua yang menimpa kim bum, so eun dan terutama joo won.
So eun yakin apa yang sudah menjadi keputusannya itu adalah jalan yang terbaik untuk dirinya dan semuanya. Ini semua sudah takdir tuhan untuk apa disesali.
So eun terus berjalan dia tidak tau harus pergi kemana, pulang ke apartementnya malas. Pergi menemui joo won enggan. Mengikuti hatinya untuk mengunjugi kim bum takut. So eun pun hanya bisa mengikuti kakinya mellangkah.
So eun melihat sekitar, dia pandangi setiap orang – orang yang sedang berlalu lalang di depannya. Kenapa semua orang yang dilihatnya tampak bahagia tidak seperti so eun.
Tanpa di sadari so eun, ternyata so eun telah sampai di taman. Taman tempat dimana dulu kim bum mengajaknya untuk berkencan. Tempat dimana kim bum mengajak so eun menjalin sebuah hubungan. Tempat dimana kim bum mengungkapkan perasaannya pada so eun.
“andai saat itu, aku tidak menemuimu. Andai saat itu aku tidak menghampirimu pasti hidupku tidak akan kacau seperti ini. dan mungkin jika kau tidak hadir kembali dalam hidupku pasti semuanya tidak berantakan seperti saat ini.” ucap so eun sambil mendudukan dirinya dibangku panjang, tempat dimana dulu kim bum menyatakan perasaanya pada so eun.
“jadi kau menyesali semuanya?”
So eun menoleh kebelakang dan ternyata kim bum sudah ada dibelakangnya. Sejak kapan pria itu ada disana. Kenapa so eun tidak tau, kenapa so eun tidak menyadari itu.
“kenapa lama sekali, aku sudah menunggumu satu jam disini.” Ucap kim bum sambil mendudukan dirinya disamping so eun.
Kenapa seperti ini, kenapa kejadian itu terulang lagi. kenapa harus seperti ini lagi. pikir so eun.
Apa kim bum sengaja melakukan ini. lalu apa maksud kim bum sudah menunggunya selama satu jam disini, jadi kim bum sudah berada di tempat ini sebelum so eun sampai.
Ini tidak boleh terjadi lagi, so eun harus pergi. So eun tidak boleh membuat keyakinannya runtuh lagi setelah melihat kim bum. so eun beranjak dari temppat duduknya dan niatnya itu harus terhenti karena tangan kim bum menahannya.
“biarkan aku berbicara dulu, lalu kau boleh pergi.” Mohon kim bum. dan mau tidak mau so eun pun harus menuruti kata – kata kim bum.
“kau tau betapa bingungnya hatiku saat aku memintamu menjadi kekasihku. Kau tau betapa senangnya aku saat kau bilang kau menyukaiku. Kau tau bagaimana bahagianya aku malam itu ketika kau benar – benar menjadi milikku. Tapi kenapa semua itu begitu cepat berubah hanya dalam sekejap mata.” Terang kim bum
“lalu sekarang apa yang harus aku lakukan? Merelakanmu, sama seperti joo won yang merelakan yeon hee untukku?” tanya kim bum lagi mencoba meminta saran pada gadis yang saat ini ada disebelahnya.
“kau sudah tau jawabannya, kenapa harus bertanya lagi padaku.” Jawab so eun dingin
Kim bum tau akan seperti ini, so eun kembali dingin seperti dulu. Harusnya kim bum memang tidak perlu bertanya lagi, karena kim bum pun pasti sudah tau kalau so eun pasti akan tetap pada pendiriannya.
“dan dari awal aku sudah memperingatkanmu bahwa seharusnya kau tidak usah menemuiku waktu itu. Aku lelah, biarkan aku kembali ke kehidupanku yang dulu tanpa dirimu.” lanjut so eun.
Setelah itu so eun pun beranjak pergi meninggalkan kim bum yang masih duduk di tempatnya. Sama seperti dulu saat so eun meminta ijin pada kim bum untuk pulang duluan. Jika saat itu, so eun pergi tanpa membawa luka, tapi hari ini so eun pergi membawa luka yang benar – benar membuatnya tidak kuat lagi untuk hidup.
So eun membiarkan air matanya yang terus mengalir, gadis itu ingin menoleh kebelakang memastikan apakah kim bum akan baik – baik saja setelah kepergiannya ini, atau kim bum juga akan rapuh sama seperti batin so eun sekarang. tapi so eun tidak boleh rapuh, so eun harus kuat begitu pula dengan kim bum. so eun berharap pria itu baik – baik saja.
Baru beberapa langkah so eun berjalan, tibaa – tiba sebuah tangan melingkar dilehernya. Deru nafas yang memburu dibelakang so eun.
“biarkan aku memelukmu sekali lagi.”
Ya tuhan.. kenapa kim bum seperti ini, ini benar – benar membuat so eun semakin berat untuk melepaskan pria itu.
“kau milikku dan selamanya akan menjadi milikku. Aku yakin kita akan bersama karena takdir akan mempersatukan kita, seperti saat ini, yang membawamu ketempat ini lagi dan tanpa sengaja mempertemukan kita.” Tegas kim bum masih tetap yakin pada perasaannya.
So eun benar – benar tidak habis pikir dengan kim bum, kenapa pria ini bisa begitu kuat. Kenapa so eun tidak bisa sekuat kim bum. apa yang diucapkan kim bum iitu benar – benar serius, apa masih mungkin so eun dan kim bum bersama lagi.
“jangan berbual kim bum, kau telah mempersulit keadaan jika seperti ini. biarkan aku bersama dengan joo won dan kau tetap bersama yeon hee, itu akan jauh lebih baik.”
So eun pun melepas pelukan kim bum, sudah cukup untuk semuanya. Kim bum adalah pembuat masalah dan kim bum harus menyelesaikannya sekarang juga. Dan mungkin perpisahan ini memang jalan yang terbaik. So eun pun pergi meninggalkan kim bum.
“aarrrrggggghhhhhhh…..” teriak kim bum selepas kepergian so eun, ini gila kehidupan ini benar – benar gila, pikir kim bum.
Apa benar ini semua salah kim bum, memangnya kim bum sengaja melakukan ini semua. Apa kim bum salah jika jatuh cinta pada so eun waktu itu, memangnya cinta bisa diduga. Orang yang sudah menikah saja, masih bisa menemukan sebuah cinta baru. Lalu apa salahnya dengan kim bum waktu itu, lagi pula dulu kim bum dan yeon hee masih pacaran dan belum menikah.
Lalu kalau masalah joo won, itu bukan salah kim bum sepenuhnya kan.. itu salah joo won kenapa dia tidak berterus terang pada yeon hee, dan kenapa juga joo won harus mengalah dari kim bum. memangnya kim bum menyuruh joo won melakukannya. Tidak kan.
Biarlah orang menganggapnya salah, tapi kenapa so eun juga harus ikut – ikutan memojokannya. Apa so eun belum puas membuat kim bum merasa tersiksa dengan keputusannya yang lebih memilih joo won dari pada dirinya. Yaa.. tuhan berikan kim bum kekuatan untuk mempertahankan cintanya.
“kau milikku… dan selamanya akan menjadi milikku.” Teriak kim bum lagi, dia tidak menghiraukan pandangan orang – orang yang terlihat heran akan tingkahnya. Persetan dengan orang – orang itu.
-
-
-
Saat ini joo won duduk termenung di taman tempat biasa dia dan kim bum biasa menghilangkan penat. Tempat yang sangat indah menurut joo won, dia melihat air terjun yang sangat indah didepannya. Tempat ini benar – benar nyaman untuk joo won, bukan hanya joo won saja yang berpikir seperti itu karena biasanya kim bum juga akan berada disana jika sedang penat.
Joo won mencoba menjernihkan pikirannya, rasa bersalahnya pada kim bum kembali muncul. Kenapa hanya karena masalah wanita persahabatannya dengan kim bum bisa hancur seperti ini, pikir joo won.
“apa yang sedang kau pikirkan?” tanya yeon hee yang tiba – tiba sudah mendekati joo won.
“kenapa kau ada disini?” tanya joo won, yang sedikit heran dengan kedatangan yeon hee secara tiba – tiba.
“entahlah… yang aku tau, hatiku yang menyuruhku untuk datang kesini.” jawab yeon hee sekenanya.
Yeon hee tau kalau joo won pasti ada di tempat ini. setidaknya keinginan yeon hee untuk ketempat ini tadi tidak salah. Biasanya jika bukan kim bum pasti joo won lah yang sering berkunjung ke tempat ini jika salah satu diantara mereka sedang mengalami masalah.
“kau tidak mau menjelaskan apapun padaku?” tanya yeon hee, mencoba mengetahui bagaimana perasaan joo won terhadapnya sekarang. Walaupun sudah terlambat untuk yeon hee menyadari perasaan joo won padanya dulu.
“penjelasan apa..? tidak ada yang perlu dijelaskan lagi.” jawab joo won santai.
“kenapa kau berubah menjadi egois seperti ini, kau bukan seperti joo won yang aku kenal biasanya. Kau terlihat menyedihkan sekarang.” Jelas yeon hee, mendiskripsikan perubahan pada diri joo won.
“joo won yang dulu sudah tidak ada lagi, joo won yang dulu terlalu sering mengalah. Dia terlalu bodoh.” Perasaan joo won saat ini sedang tidak menentu tapi setidaknya perasaan joo won hari ini lebih baik dari pada kemarin.
“kau sudah menemui kim bum?” tanya yeon hati – hati, setidaknya agar joo won tidak terpancing emosinya.
Joo won diam sejenak, dirinya memang belum bertemu lagi dengan kim bum setelah kejadian di apartement so eun waktu itu. Egonya masih belum bisa menerima sikap kim bum yang telah berani merebut so eun darinya, walaupun kenyataannya memang kim bum lah yang ada dihati so eun.
“untuk apa, aku tidak mau bertemu dengan penghianat seperti dia.” Jawab joo won ketus.
“apa kau benar – benar mencintai so eun? apa perasaanmu itu benar – benar cinta dan bukannya kasihan?” sepertinya pertanyaan yeon hee ini terlalu buru – buru, apa dia harus menanyakan hal seperti itu sekarang.
“apa maksudmu? Tentu saja aku mencintai so eun, aku tidak mau so eun menderita hanya gara – gara dia mencintai pria brengsek seperti kim bum.”
“lalu bagaimana denganku? Bagaimana rasa kagummu padaku dulu?” gumam yeon hee
Kali ini yeon hee benar – benar memberanikan dirinya untuk mempertanyakan hal ini pada joo won. Mungkin ini juga salah yeon hee juga karena dulu dia terlalu mengabaikan perasaan joo won padanya. Dan ternyata joo won lebih cocok untuknya dari pada kim bum.
“tentang perasaanmu padaku yang kau maksud dulu, itu bukan kesalahanku sepenuhnya. Itu semua karena salahmu.” Sambung yeon hee lagi kali ini lebih pelan, yeon hee mengucapkannya.
“maksudmu?” heran joo won dengan perkataan yeon hee, yang terdengar memojokkan joo won.
“jika saat itu kau langsung mengutarakan perasaanmu padaku, mungkin akan ada pertimbangan khusus. Dan mungkin sekarang kita sudah pacaran dan bukannya seperti sekarang, bahkan kau dan kim bum juga tidak akan saling membenci seperti ini.
“aku bilang itu hanya masa lalu, kenapa harus mengungkitnya, perasaanku padamu itu sudah lama hilang dan sekarang perasaan itu sudah tidak ada lagi untukmu.” Geram joo won, untuk apa yeon hee mengorek luka lama joo won lagi, bahkan joo won sudah lupa akan hal itu.
“biarkan aku menebus kesalahanku padamu, biarkan aku yang memiliki hatimu. Ijinkan aku berada disisimu joo won. Aku tau perasaanmu pada so eun itu hanya sebatas obsesi belaka, aku tau bahwa perasaanmu padaku itu masih ada.” Yeon hee benar – benar berharap kalau joo won masih menyukainya.
“Kau gila yeon hee. apa kim bum yang menyuruhmu untuk mengatakan hal ini padaku. Sampai kapanpun perasaanku ini hanya untuk so eun. dan perasaanku padamu itu hanya masa lalu.” Kesal joo won.
Joo won benar – benar kesal dengan yeon hee, gadis ini membuat joo won semakin bingung. Untuk apa yeon hee bicara seperti tadi, lalu apa maksudnya yeon hee bilang kalau joo won tidak benar – benar mencintai so eun.
Joo won lebih memilih pergi dari pada harus terus – terusan mendengar celothan – celotehan yeon hee yang menurutnya tidak masuk akal. Joo won mencintai so eun, dan sekali lagi joo won tegaskan pada hatinya bahwa perasaanya pada yeon hee sudah lama hilang setelah yeon hee menjalin kasih dengan kim bum. dan sekarang hanya ada satu gadis yang ada di pikiran joo won yaitu so eun.
======TBC======
maaf jika part ini kurang memuaskan untuk semua reader, sepertinya pikiran saya sedang buntu dikarenakan banyak pekerjaan yang menuntut untuk cepat diselesaikan jadi pembuatan fanfic jadi terbengkalai.
di part ini sengaja saya berikan gambar agar para reader bisa lebih memahami semua karakter yang ada. dan untuk eonni atty, saranmu sudah saya jalankan. hehehe, untuk komentnya saya tunggu dengan senang hati…


















