Library

Posted: 17 November 2013 in Uncategorized

library Baca entri selengkapnya »

*Author/Pasword*

Posted: 20 Desember 2012 in Uncategorized

14760_1130885206781_1666793409_315095_7130379_n

hai – hai buat siapa saja yang sudah mau mampir di blogku aku ucapkan terimakasih..

aku sangat berharap ada orang yang mau mampir diblogku dan membaca postingan – postinganku.

disini aku ingin berbagai tulisan tentang khayalanku. aku senang sekali menulis cerita.

walaupun mungkin postinganku ini tidak terlalu bagus, tapi aku berharap ada yang menyukainya :)

bumsso 1

aku suka banget dengan couple diatas… apa ada yang kenal dengan mereka??? kurasa semua sudah kenal dengan mereka.. mereka adalah pasangan faforitku, dan aku sangat suka dengan muka imut mereka BUMSSO COUPLE.

seokyu 1

ada lagi pasangan yang aku suka selain kim bum dan kim soeun yaitu seokyu couple. aku suka banget sama grup mereka.

nah.. buat siapapun yang mengunjungi blogku, semoga suka dengan hasil karyaku yang aku post di blog ini yaa…

dan buat para reader yang mau berteman denganku atau pengen mengenalku, DAN JUGA YANG INGIN MINTA PASSWORD UNTUK POSTINGAN YANG AKU PROTECT,  kalian bisa add facebook atau follow twitterku.

ini alamat FB ku : http://www.facebook.com/lila.tyas1
ini twitter ku : lila_ayu99

terimakasih… :) :) :)

Secret Love (Part 6)

Posted: 16 Februari 2014 in FF BUMSSO
Tag:

cats

 

Preview part 5

 

So eun dan kim bum masih melakukan hal itu, tapi keduanya seperti merasakan suara. Suara yang aneh, tidak… keduanya saling pandang. Ada orang di depan pintu, kim bum dan so eun merasakan itu, sebentar lagi ada yang akan membuka pintu kamar tersebut.

 

“apa yang harus kita lakukan jika ki bum oppa megetahuinya.” Takut so eun, bagaimana so eun tidak takut jika suaminya akan mengetahui kelakuannya selama ini, selingkuh dengan adik iparnya sendiri.

 

“tenanglah, ki bum hyung tidak akan tau.” Ucap ki bum sambil berusaha secepat mungkin melepaskan tubuhnya dari tubuh so eun dan merapikan bajunya dan juga baju so eun.

Tapi tentu saja apa yang dilakukan kim bum barusan itu bertepatan dengan suara decit pintu yang terbuka. Pintu kamar itu terbuka dan so eun pun sedikit gugup dengan siapa yang sedang berdiri di depan pintu saat ini, begitu pula dengan kim bum tentunya.

 

-

-

-

 

Part 6

 

~~~

 

Dengan langkah yang tertatih – tatih ki bum mencoba untuk berjalan dengan menggunakan kakinya sendiri, walaupun rasa nyeri masih sangat terasa pada persendiannya tapi ki bum masih gigih untuk berusaha. Tangannya sudah hampir sampai pada gagang pintu dan tentu saja hendak memutarnya, jika saja sebuah panggilan dari seorang perawat tidak menggagalkan niatnya sudah pasti pintu yang ada didepannya itu akan terbuka saat ini juga.

 

“ki bum-ssi…”

 

Ki bum menolehkan kepalanya, dan mendapati seorang perawat tengah memperhatikan dirinya. Sepertinya perawat itu sedikit terkejut melihat perkembangan kondisi ki bum.

 

“ki bum-ssi, kau hendak menuju kekamarmu? Dimana so eun-ssi? Rasa heran perawat itu benar – benar tidak terkontrol dan terlalu berani dengan kalimat yang sudah dia lontarkan pada ki bum barusan. Mungkin perawat ini hanya khawatir saja pada ki bum mengingat kondisi pria ini belum sembuh benar dan tanpa pengawasan siapapun pria ini nekad berjalan sendiri untuk menuju kamarnya.

 

“aku hanya ingin memberi kejutan pada istriku, kau tidak perlu khawatir.”

 

Perawat itu menghela nafas lega ketika ki bum menjawab pertanyaannya. Yaa.. semua pria yang bernasip seperti ki bum pun pasti akan mencoba membuat wanitanya bahagia, ketika menyadari bagaimana pengorbanan istrinya selama ini ketika suaminya sedang terbaring di rumah sakit.

 

“anda salah kamar, kamar anda di sebelah sini. Sepertinya so eun-ssi sedang tidak ada didalam…..” ucap sang perawat sambil membuka pintu kamar ki bum yang tepat berada di dirinya saat ini.

 

Derit suara pintu kamar rawat ki bum pun berbunyi kala sang perawat itu membuka pintu tersebut. Dan ada sedikit kekagetan di raut wajah sang perawat ketika mendapati dua orang yang berada di dalamnya. Kim bum dan so eun sedang berada di kamar rawat milik ki bum berdua, sedang berdiri saling berhadapan – apa yang sedang mereka lakukan, kenapa mereka ada di ruangan ini berdua. sedangkan ki bum sedang susah payah berjalan meunuju kesini dengan langkah tertatih – tatih sendirian. Mencurigakan memang. Tapi tentu saja perawat itu tidak akan ambil pusing, toh itu semua bukan urusannya.

 

“ah.. maafkan saya. Saya pikir tidak ada orang di kamar ini.”

 

“tak apa… aku sedang merapikan tempat tidur suamiku, sebentar lagi aku akan membawanya kesini. mungkin terapi yang dilakukannya sudah selesai?” dengan sopan so eun berkata pada sang perawat yang sepertinya merasa tidak enak pada so eun, dengan kelancangannya yang dengan seenaknya dan tanpa permisi membuka pintu ruangan milik ki bum.

 

“sebenarnya.. ki bum-ssi…” perawat itu menghentikan kalimatnya ketika ki bum sudah terlebih dulu masuk kedalam kamar tersebut dan membuat so eun dan juga kim bum kaget.

Tentu saja kedua orang ini ketakutan walaupun tidak terlihat jelas, tapi dalam hati mereka berdua benar – benar merasakan ketakutan yang luar biasa. Apakah mungkin ki bum mengetahui apa yang telah dilakukan keduanyan bagaimana jika memang benar bisa mati mereka. Alasan apa yang akan mereka berdua buat untuk meyakinkan ki bum bahwa semua ini tidak seperti yang dia bayangkan. Walaupun kim bum dan so eun sendiri juga tidak tau, apakah mereka melakukan semua ini dengan hati atau karena kesempatan yang ada.

 

“aku ingin memberimu kejutan… aku tidak ingin selalu menyusahkanmu, jadi aku berusaha untuk berjalan sendiri kesini.”

 

So eun masih terdiam, wanita ini masih terlalu kaget untuk merespon apapun yang telah dilakukan oleh suaminya. Mungkinkah ini saatnya, saatnya untuk melupakan perasaan yang beberapa hari ini muncul didalam hati so eun. Perasaan yang tidak seharusnya so eun rasakan.

 

Yaa.. so eun harus segera sadar. Dia adalah seorang istri dan mana mungkin so eun bisa melakukan affair dengan seorang pria lain. yang terlebih pria itu adalah adik iparnya yang tak lain saudara kandung suaminya. Ini semua harus di hentikan tentu saja.

 

“bagaimana bisa kau melakukan ini oppa? Kau membuatku khawatir.” Gerutu so eun pelan, dan langsung menghambur ke pelukan suaminya. Tentu saja ini semua dilakukan so eun agar ki bum tidak merasa curiga dengan kehadiran kim bum dikamar rawatnya.

 

“kupikir aku akan membuatmu senang, ternyata kau malah khawatir. Maafkan aku sayang, tentu saja aku tidak akan membuatmu khawatir lagi.” Tegas ki bum, sambil membalas pelukan so eun dengan erat. Seakan – akan pria ini menyadari jika sedikit saja ki bum merenggangkan pelukannya maka so eun akan terlepas dan tidak akan kembali lagi padanya.

 

Perawat yang tadi mengantar ki bum menuju ke kamarnya segera pergi meninggalkan sang pasien, sepertinya tugasnya sudah selesai. Ki bum sudah aman sekarang dan perawat itu tentu saja harus melakukan tugasnya yang lain. Lagi pula tentu saja perawat itu tidak ingin mengganggu kenyamanan ki bum dan so eun saat ini.

Tapi jika perawat itu saja mengetahui situasinya saat ini, kenapa kim bum tidak berpikir seperti perawat tadi. Bukankah kim bum harus menyadari keberadaannya sekarang. Apa pria ini harus terus termanggu ditempatnya dan melihat pemandangan yang akan menusuk – nusuk hatinya hingga hancur. Pria ini tidak sadar posisinya atau apa sih, harusnya kim bum segera pergi meninggalkan ruangan ini sekarang.

 

“kau melupakanku hyung..” gumam kim  bum, terdengar memilukan bagi setiap orang yang mendengarnya terlebih bagi kim bum sendiri.

 

“ahhh… adikku, kau ada disini juga rupanya.” Jawab ki bum sedetik kemudian ki bum pun melepaskan pelukannya dari tubuh so eun. Ki bum menatap adiknya sebentar dan kembali menatap ke arah so eun sambil tersenyum dengan lembutnya.

 

“maaf sudah terlalu banyak merepotkanmu kim bum, terlebih aku sedikit mengabaikanmu. Rasanya aku tidak pernah bisa merasakan keadaan sekitar jika disampingku sudah ada istriku tercinta.” Sambung ki bum lagi, tentu saja tanpa mengalihkan pandanganya dari tubuh sang istri yang ada disampingnya.

 

Bagaikan menusuk relung hatinya, kim bum benar – benar tidak kuasa untuk kalimat – kalimat yang akan keluar dari mulut ki bum lagi, sudah cukup. Apa maksud dari ucapan kakaknya ini, bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti ini kepada adiknya sendiri. Apa ki bum tidak tau jika kim bum juga merasakan hal yang sama seperti ki bum.

Tidak… tentu saja tidak tau, jika ki bum tau tentu saja pria itu tidak akan membiarkan kim bum masih berdiri ditempat ini dengan keadaan baik – baik saja. harusnya kim bum sadar akan hal itu.

 

“yaa, aku tau apa yang kau rasakan sekarang hyung. Baiklah kali ini aku tidak akan mengganggumu.” Ucap kim bum, sambil melenggangkan kakinya berjalan menuju pintu kamar rawat kakaknya tersebut.

 

“kim bum-ah…” panggil ki bum, dan sukses menghentikan langkah kaki sang adik yang hampir saja menjangkau pintu kamar yang ada dibelakang tubuh ki bum dan so eun saat ini.

 

Kim bum menghentikan langkahnya, dan membalikkan tubuhnya. Ada sedikit rasa heran di hati kim bum  pada panggilan yang di lontarkan oleh sang kakak. Apa lagi yang akan di lakukan ki bum sekarang, tanya kim bum dalam hatinya.

 

“bisakah kau membawa istriku pulang.” Pinta ki bum sambil tersenyum pada adiknya tersebut.

 

“oppa… apa maksudmu, hari ini aku ingin menemanimu disini. Kenapa kau menyuruhku pulang?” heran so eun, tentu saja wanita itu tidak ingin meninggalkan suaminya. Terlebih jika hari ini so eun pulang ke rumah dengan kim bum, tentu saja itu akan membuat so eun kembali mengingat kebersamaannya dengan pria itu.

 

“biarkan aku menemanimu disini oppa, apa kau..” so eun menghentikan kalimatnya yang bernada rengekkan kala ki bum sudah memberikan sebuah isyarat padanya untuk berhenti berkata, hanya dengan tatapan matanya.

 

“kau lelah sayang, kau butuh istirahat sekarang. Bukankah besok kita bisa bertemu lagi. Kau lupa kalau besok aku sudah bisa keluar dari rumah sakit.”

 

So eun membungkam mulutnya, sepertinya so eun memang benar – benar tidak bisa melawan keinginan ki bum sekarang. Bukankah keinginan ki bum memang tidak pernah bisa so eun tolak selama ini. Dan sekarang tentu saja so eun hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda dia paham dengan perintah suaminya ini.

 

“istirahatlah, jangn menyibukkan diri lagi. Bukankah selama ini kau sudah sangat lelah menungguku.”

 

So eun menatap lembut mata ki bum, memang benar apa yang dikatakan ki bum saat ini. So eun memang sudah teramat lelah dengan penantiannya terhadap kesembuhan ki bum hingga akhirnya suaminya itu bisa kembali bangun dari tidur panjangnya.

 

“baiklah aku pulang.. oppa juga harus istirahat.” Pamit so eun sebelum menyambar tasnya dan melambaikan tangannya pada suaminya. Dan langsung pergi meninggalkan kim bum dan ki bum yang masih berada di kamar rawat. Ki bum memang menyuruh so eun untuk meninggalkan suaminya itu berbicara sebentar dengan adiknya tanpa ada so eun diantaranya, dan tentu saja so eun pun menghargai permintaan suaminya tersebut.

 

~~~

 

So eun menghempaskan tubuhnya di sofa panjang yang sangat nyaman, wanita itu sudah berada dirumahnya dengan selamat, tentu saja wanita itu pulang bersama kim bum. Hari masih siang dan so eun benar – benar merasa bosan sekarang, suaminya sudah sadar dan besok ki bum sudah bisa pulang. So eun sedikit berfikir, kenapa ki bum menyuruhnya pulang dan menolak untuk ditemaninya. Terlebih apa yang tadi dibicarakan oleh ki bum dan juga ki bum, sehingga so eun tidak boleh mendengarnya.

 

“kenapa kau tidak istirahat so eun-ssi?”

 

So eun mendongakkan kepalanya dan mendapati kim bum berdiri dibelakangnya dengan sebuah senyuman yang menghiasi wajah tampannya. Rasa gugup menyelimuti hati so eun saat ini, kala dirinya mengingat kembali kejadian beberapa waktu yang lalu. Terlebih saat ini pria itu terlihat akan menghampiri so eun.

 

“pasti sangat senang sekali.” Ucap kim bum ketika pria itu sudah berhasil mendudukkan dirinya disamping so eun saat ini. Entahlah kenapa sekarang kim bum semakin berani saja, bukankah sebelum ini kim bum tidak seberani sekarang. Lalu apa penyebab kim bum bisa seberani ini mendekati so eun. Sepertinya kim bum masih belum sadar juga akan posisinya sekarang.

 

“aku harus istirahat.” Ucap so eun, sambil beranjak dari tempat duduknya sebelum kim bum menghalangi niatnya. Tapi tentu saja, usaha so eun untuk melarikan diri dari kim bum tidak akan berhasil mengingat betapa gigihnya usaha kim bum sampai sejauh ini. Buktinya saat ini pria itu bisa menahan gerak tubuh so eun hanya dengan genggaman ringan dari kim bum sekarang.

 

“kau mau menghindariku?… atau kau ingin aku yang pergi dari kehidupanmu?” dua pertanyaan yang dilontarkan kim bum tanpa sedikitpun menghadapkan wajahnya pada so eun benar – benar mampu membekukan langkah so eun saat ini.

Astaga.. apa yang harus dijawab oleh so eun sekarang. Selama ini so eun bahkan tidak pernah membayangkan pertanyaan seperti itu dibenaknya, apalagi jika harus memilih ataupun menjawab salah satu dari pertanyaan tersebut, tentu saja so eun tidak bisa. Bukan tidak bisa melainkan so eun masih bingung harus memilih jawaban apa sekarang.

 

“yaa.. so eun-ssi, apa yang sedang kau pikirkan sekarang? Bukankah akan lebih baik jika kita mendekorasi ulang tempat ini supaya saat ki bum hyung besok datang, dia akan merasakan suasana yang baru.” Kim bum pun melangkahkan kakinya menuju tempat penyimpanan sapu lantai ataupun alat – alat kebersihan yang lain. Kim bum merasa dengan dia merubah situasi, itu akan membuat so eun  terlihat bersemangat lagi. Karena kim bum yakin so eun tidak akan baik – baik saja setelah mendengar pertanyaan yang sebelumnya kim bum ajukan beberapa saat yang lalu. Sebenarnya kim bum lebih takut lagi ketika pria itu harus mendengar jawaban dari so eun tentang pertanyaan yang diajukannya tadi. Karena menurut kim bum dua pertanyaan yang diajukannya tadi tidak akan menguntungkan untuk kim bum jika so eun menjawab salah satu atau bahkan keduanya, jadi sudah tentu lebih baik jika kim bum pun tidak mendengar jawabannya.

 

“kau benar – benar ingin membiarkanku melakukannya sendirian, tidakkah kau merasa kasihan padaku jika berpikir seperti itu..” goda kim bum sambil tersenyum manis pada so eun yang masih membatu di tempatnya semula sebelum kim bum meninggalkannya hingga pria itu sudah kembali lagi menghampirinya dengan dua buah sapu lantai yang ada di kedua genggaman tangannya.

 

Entahlah apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh so eun, kim bum juga tidak tau. Tapi sudah tentu pasti, apa yang dipikirkan oleh so eun saat ini menyangkut pertanyaan yang diajukan oleh kim bum tadi.

 

“so eun-ssi… so eun-ssi.” Kim bum berusaha memanggil so eun yang masih terdiam sambil menatap kim bum dengan pandangan yang sulit diartikan. Astaga kenapa wanita ini bisa terlihat mengagumkan seperti ini, bahkan ketika wanita itu hanya sedang berdiri dan menatap kim bum. Setidaknya itulah yang saat ini ada di pikiran kim bum, ketika melihat so eun yang masih membatu di tempatnya.

 

 

“tentu saja aku akan membantumu kim bum-ssi.” Jawab so eun sambil membalas senyuman kim bum, dan mengambil satu sapu lantai yang ada di salah satu genggaman tangan kim bum. Kim bum pun tersenyum memandang setiap gerakan tubuh so eun yang mulai menyapu lantai.

 

“yaa… kenpa sekarang kau tidak melakukan apapun. Cepat selesaikan semuanya agar kita bisa cepat istirahat.” Sentak so eun, dan berhasil membuat kim bum semakin merekahkan senyumannya di iringi dengan pergerakan tubuhnya yang mulai membantu so eun membersihkan dan merapikan rumah tersebut.

 

Keduanya pun semakin terhanyut dalam kesibukan yang diciptakan oleh kim bum dan dikerjakan oleh keduanya. Dari menyapu lantai, mengepel lantai sampai memindahkan lemari, guci – guci dan sofa – sofa. Tidak semua di pindahkan hanya mengganti tata letaknya agar terlihat lebih segar.

Seperti dua sofa panjang yang saling berhadapan saat ini, sofa yang sebelumnya jarang diduduki oleh si pemilik rumah itu akhirnya seperti kembali berfungsi kala kim bum dan so eun sedang memakainya untuk berbaring. Mungkin karena terlalu lelah, jadinya mereka berdua memutuskan untuk beristirahat sejenak di sofa panjang yang menurut keduanya cukup nyaman untuk digunakan berbaring atau sekedar merebahkan tubuh sejenak.

 

Mata ini  terasa sangat lelah hanya untuk sekedar terjaga, bukan hanya mata melainkan hati dan ragaku. Rasanya terlelap memang hal yang sangat indah ketika raga memang sudah teramat lelah, ditemani dengan cahaya senja yang menyilaukan hingga menembus pintu kaca, semilir angin yang masuk melalui jendela yang terbuka lebar ditambah lagi keindahan dan kesempurnaan wajahmu yang ada di hadapanku. Kuharap keindahan wajahmu akan selalu bisa aku nikmati, walau hanya dengan memandangmu seperti ini, tapi aku selalu berharap keajaiban akan segera datang menghampiri kita dan memberitaukan yang sebenarnya. Memaparkan setiap RAHASIA yang telah lama tersembunyi.

 

-

-

-

 

So eun segera merapikan tempat tidur yang selama beberapa tahun ini sudah menemani ki bum terlelap dalam tidur panjangnya. Hari ini suaminya itu sudah di ijinkan meninggalkan rumah sakit oleh dokter. Walaupun segurat kelelahan masih terpasang jelas di raut wajah cantiknya, tapi tetap saja melakukan semuanya sendiri tanpa mau ada yang membantunya termasuk perawat yang seharusnya melakukan kegiatan yang saat ini dikerjakan oleh so eun. Dan ketika semuanya dirasa sudah selesai, so eun pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sakit dan segera menuju ke mobil yang didalamnya sudah ada kim bum dan juga ki bum yang sepertinya sudah lama menunggu kedatangannya.

 

“kenapa kau lama sekali sayang… kau benar – benar membuatku lama menunggu.” Sapa ki bum ketika so eun sudah masuk kedalam mobil dan duduk disamping ki bum.

 

“bukankah sekarang aku sudah berada disini, aku sudah berada disampingmu sekarang.” Jawab so eun sambil tersenyum pada sang suami yang juga tengah tersenyum memandang ke arahnya.

 

Di balik kesenangan yang dirasakan ki bum sekarang yang sudah bisa meninggalkan rumah sakit dan akan menikmati indahnya kebersamaan dengan sang istri, tentu saja akan ada hati yang tersakiti dan sudah bisa kita tau siapa pemilik hati yang tersakiti itu jika bukan adik kandung ki bum sendiri. Tentu saja itu adalah kim bum. Dari balik sorot matanya yang sedari tadi tidak pernah lepas dari sebuah kaca yang ada didepannya itu benar – benar terlihat jelas sorot mata kesedihan, walaupun tidak terlihat jelas tapi sang pemilik mata benar – benar merasakan kesedihan yang benar – benar membuat hatinya terasa tersayat – sayat.

 

Bagaimana tidak akan sedih, jika sedari tadi fokus perhatian pria itu adalah dua  bayangan manusia yang terpantul dari kaca berukuran standar yang ada didepannya. Tentu saja dua bayangan tersebut adalah kakak laki – laki dan juga istrinya yang saat ini sedang duduk dengan santai sambil berpegangan tangan dengan erat di bangku belakang mobil yang tengah dikemudikannya. Jika saat ini kim bum tidak bisa mengendalikan pikirannya dan tidak benar – benar berkonsentrasi dengan menyetirnya sudah tentu kecelakaan akan menimpanya. Jangan salahkan kim bum jika semua itu tiba – tiba saja terjadi, salahkan saja hatinya yang terlalu setia menjaga perasaan terlarang yang dimilikinya ini untuk seorang wanita yang sudah jelas – jelas tidak akan pernah memilihnya.

 

“jika aku bisa membalik keadaan, rasanya aku ingin berganti posisi dengan ki bum hyung sekarang, seperti yang pernah kita lakukan sebelumnya. Setidaknya aku juga ingin merasakan betapa hangatnya sentuhan lembut tangan wanita yang aku cintai.” Batin kim bum dengan perasaan kelu ketika dia harus menghadapi kenyataan yang ada didepannya saat ini.

 

Selain kim bum, ternyata dilema pun dirasakan juga oleh so eun. Gadis itu tidak henti – hentinya menghembuskan nafas berat. Entah sadar atau tidak, sedari tadi so eun selalu mengacuhkan tatapan mata ki bum yang seperti mengawasinya.

Bukannya bermaksud mengacuhkan sang suami, so eun hanya merasa bersalah pada kim bum jika sekarang so eun membalas kemesraan yang diberikan oleh sang suami dengan sentuhan tangannya. Tanpa sengaja so eun mengetahui kegiatan kim bum yang sedari tadi mengawasi setiap pergerakan apapun yang akan dilakukan ki bum dan so eun termasuk ketika saat ini saat ki bum menggenggam erat tangan so eun seakan tidak ingin melepaskannya. So eun tau, kim bum tidak menyukai hal ini. Maka dari itu so eun memilih tidak merespon sang suami, setidaknya untuk sedikit menghargai keadaan kim bum saat ini.

 

“kuharap aku tidak melukai siapapun.. aku tida bisa mengartikan perasaanku akan kehadiranmu dalam hidupku. Dan terlebih aku tidak bisa menghapuskan kehadirannya dalam hidupku, karena kenyataannya dia lah yang saat ini berada disampingku dan bukannya dirimu.” Gumam so eun, sambil menatap deretan bangunan tinggi yang menjulang ke langit dari balik kaca pintu mobilnya.

 

Ki bum masih memperhatikan istrinya yang sedari tadi tidak mengeluarkan suara dan bahkan tidak menatapnya sama sekali. Sepertinya so eun sedang memikirkan sesuatu sehingga sedari tadi wanita itu tidak memperhatikan ki bum. Setidaknya beberapa pertanyaan berputar – putar di pikiran ki bum saat ini mengingat bukan hanya so eun saja yang mengalami keanehan. Ki bum pun segera memperhatikan kim bum yang sedari tadi bahkan tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada adik dan juga istrinya saat ini, kenapa kedua orang ini seakan – akan mengacuhkan ki bum. Tidakkah ki bum sangat berarti untuk sekedar diacuhkan, hei…pria ini baru sadar dari tidur panjangnya kenapa tidak ada yang memberikan penjelasan apapun padanya.

 

“kuharap tidak ada masalah besar sekarang, aku tidak ingin sesuatu terjadi. Adakah sesuatu yang benar – benar tidak aku ketahui saat aku terlelap dalam tidur panjangku? Aku harus segera mencari tau semuanya, aku tidak ingin terlihat seperti orang bodoh sekarang.” Gumam ki bum.

 

~~~

 

Ki bum melangkahkan kakinya menuju pekarangan rumahnya, dan sampailah pria itu di dalam rumahnya yang sudah beberapa tahun dia tinggalkan. Di bantu so eun dan kim bum yang memapah tubuhnya disisi kiri dan kanan akhirnya ki bum pun berhasil berdiri di dalam rumah ini sekarang.

Ki bum mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, semuanya berubah. Ada banyak perubahan yang terjadi pada rumahnya sekarang. Rumah yang pernah ditinggalinya dengan so eun sebelum dia koma. Rumah yang pernah ditinggalinya dengan kim bum dan juga kedua orang tuanya sebelum orang tua ki bum meninggal dan kim bum memilih pergi ke luar negri.

 

Ki bum berjalan menuju dua sofa yang terpasang saling berhadapan, kenapa rasanya aneh ketika melihat benda mati tersebut. Seperti ada sesuatu yang pernah terjadi dengan sofa itu.

 

“aku yang meletakkannya disana. Kau tidak menyukainya?” tanya kim bum, ketika menyadari ki bum menatap kedua sofa yang terletak saling berhadapan tersebut.

 

Ki bum segera mengalihkan pandangannya dan menatap tajam pada si pembuat suara, ada rasa kesal ketika ki bum melemparkan pandangannya pada si obyek pembuat suara. Ada rasa tidak senang ketika ki bum mengetahui bahwa perubahan ini dilakukan oleh kim bum sang adik kandungnya.

 

“aku ingin istirahat… kurasa kau tidak perlu melakukan ini semua, seharunya kau tau bahwa aku tidak pernah menyukai perubahan.” Ki bum segera berjalan meninggalkan kim bum dan so eun yang masih mematung ditempatnya. Nada dingin yang terlontar dari mulut ki bum seperti sebuah pertanda bahwa kehadiran kim bum sekarang sudah benar – benar terancam. Kim bum melupakan sesuatu, bukankah memang sedari dulu ki bum tidak menyukai perubahan. Kim bum ingat akan kata kakaknya kala sebuah perubahan itu akan membuat kenangan indah terkubur selamanya. Apa mungkin kim bum malah sengaja melakukan perubahan ini agar ki bum tidak bisa mengingat kenangan indahnya dengan so eun.

 

So eun mengalihkan pandanganya yang sedari tadi tertuju pada ki bum, menjadi mengarah pada kim bum yang ada disampingnya. So eun sedikit khawatir dengan perasaan kim bum saat ini, pasti rasanya sakit sekali ketika kita mencoba memberi hadiah pada orang terdekat kita dan orang itu malah menolaknya secara mentah – mentah.

 

“aku tidak apa – apa, tidak perlu mencemaskanku. Kenapa kau tidak segera menyusul ki bum hyung, mungkin sekarang dia sedang menunggumu.” Kim bum segera meninggalkan so eun yang terlihat memandanginya dari belakang. Kim bum tau pasti saat ini so eun mengkhawatirkannya, bukanya bermaksud untuk terlalu percaya diri tapi kim bum memang bisa merasakan kekhawatiran wanita itu dari sorot matanya yang memandang kim bum.

 

Mau berbohong seperti apapun kim bum sudah pasti terluka dengan sikap yang ditunjukkan sang kakak barusan, tentu saja kakaknya tidak akan suka dengan ide kim bum yang merubah dekorasi rumah. Kenapa kim bum tidak mengingatnya dari awal bahwa sang kakak memang tidak pernah suka dengan perubahan sejak dari dulu. Betapa bodohnya kim bum ini.

 

Kim bum memasuki kamarnya, rasa hatinya benar – benar sakit selain sakit karena perilaku sang kakak tentu saja rasa sakit ini semakin bertambah ketika kim bum memikirkan apa yang saat ini tengah dilakukan oleh sang kakak dan juga istrinya didalam kamarnya. Gambaran – gambarang hal – hal yang pernah dilakukannya pada so eun seperti kembali menyeruak ke dalam ingatanya. Tentu saja kim bum tidak akan pernah melupakan setiap sentuhannya pada tubuh so eun.

 

“bagaimana bisa aku melupakannya, jika dengan mengingat betapa indah dan cantiknya bayangannya selalu membuatku buta akan keadaan disekitar” gumam kim bum. Pria itu meneteskan air mata, rasanya sakit sekali ketika membayangkan orang yang dicintainya akan bercinta dengan orang lain selain dirinya walaupun itu adalah kakak kandung kim bum sendiri yang ternyata adalah suami sah so eun. Rasanya kim bum benar – benar bisa gila saat ini juga.

 

~~~

 

Malam sudah larut sebuah lampu temaram menghiasi sebuah kamar yang lumayan besar. Kamar yang beberapa tahun ini hanya dihuni oleh satu orang kini nampak ada dua kehidupan yang menempati kamar tersebut. Tempat tidur yang biasanya terasa sangat luas untuk so eun mendadak menjadi sempit menurut so eun.

 

Malam sudah hampir larut tidak membuat mata so eun begitu mudahnya terpejam padahal tubuhnya sudah berbaring di tempat tidurnya yang bisa dibilang sangat nyaman. Jika biasanya so eun tidak bisa tidur karena tidak ada sosok ki bum disampingnya kali ini rasanya so eun tidak akan bisa tidur karena ada sang suami disampingnya. Terdengar aneh memang ketika dibayangkan, tapi itulah kenyataannya sekarang. Tentu saja sulit untuk dipercaya.

 

Entah kenapa hal ini bisa terjadi, sejak kedatangan ki bum kembali ke rumah itu membuat so eun merasakan ketidaknyamanan. Padahal kesembuhan ki bum adalah hal yang sangat dinantinya, sebelum munculnya kim bum dalam kehidupannya. Akan tetapi kenapa sekarang so eun tidak lagi merindukan dekapan hangat dari suaminya seperti yang sebelumnya dia inginkan.

 

Bahkan sekarang posisi tidur so eun membelakangi sang suami seperti tidak ingin melihat wajah sang suami. Dan saat ini ketika so eun bisa merasakan sentuhan lembut dari tangan besar milik ki bum so eun seperti ingin menghindarinya. “kumohon jangan sekarang.” Batin so eun, sambil memejamkan kedua matanya dengan sangat rapat. Seperti menahan setiap penolakan yang mungkin bisa secara tiba – tiba dilakukannya.

 

Ki bum semakin merapatkan tubuh besarnya pada tubuh ramping milik so eun, pria itu masih setia membelai lengan mulus milik so eun yang telanjang karena sang pemilik hanya mengenakan gaun tidur tanpa lengan. Ki bum bisa merasakan betapa wangi dan segarnya aroma tubuh so eun yang benar – benar sangat dirindukannya. Ki bum menghembuskan nafasnya pada perpotongan leher so eun, dan tangan pria itu semakin merambat ke area – area sensitif so eun. Ki bum mencium daun telinga so eun sedikit menjilatnya sekedar ingin mencoba merangsang so eun, dan ingin mengetahui bagaimana respon sang istri. Tapi masih tidak ada respon positif dari sang istri sehingga membuat ki bum sedikit merasa kesal.

 

Hingga telapak tengan ki bum segera menyusup kedalam selimut yang digunakan so eun sekarang, dan mencoba meraba dua bukit kembar yang menempel didada sang istri. Ukuran yang lumayan besar dan kenyal membuat ki bum semakin tidak sabar untuk meremasnya. Namun harapan ki bum itu mejadi sia – sia kala sang istri segera bangun dari tidurnya dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya. “ak-aku… a-aku ti-tidur di-dikamar lain saja.” ucap so eun sambil terbata – bata, dan segera beranjak dari tempat tidurnya yang meninggalkan ki bum dengan wajah bingung. Ada apa dengan so eun, kenapa wanita itu menolak sentuhan ki bum. Apa so eun tidak merindukan sentuhan ki bum, yang selama ini tidak pernah sekalipun wanita itu dapat dari ki bum maupun pria lain.. atau mungkinkah so eun pernah melakukan hal itu dengan pria lain – pikir ki bum.

 

~~~

 

So eun menyandarkan kepalanya di senderan tempat tidur yang berbeda kamar dengan kamar ki bum, sebelumnya kamar ini memang tidak pernah di tempati. Dan hari ini so eun memakai kamar itu untuk menghindari ki bum. Bagaimana bisa so eun menghindari suaminya dan menolak setiap sentuhan yang di berikan oleh sang suami, bukankah ini aneh. Tidak seharusnya so eun menolak sentuhan ki bum.

 

“maafkan aku..hiks.. maafkan aku.. hiks…hiks…” suara sesegukan yang diciptakan so eun saat ini benar – benar membuat hatinya sendiri terluka. Berkali – kali so eun membungkam mulutnya agar suara tangisnya tidak pecah dan tidak mengundang siapapun untuk menghampirinya.

 

Kebimbangan melanda hati so eun saat ini, wanita itu benar – benar tidak bisa mengontrol emosinya. Sebenarnya apa yang di inginkan oleh hatinya sendiri, so eun pun tidak tau. Kesembuhan ki bum yang selama ini di tunggu – tunggunya ternyata tidak membawa keceriaan seperti yang wanita itu idam – idamkan selama ini. Kim bum, pria itu yang menyebabkan so eun seperti ini sekarang. Jika saat itu kim bum tidak kembali kesini dan mengganggu kehidupan so eun dan ki bum sudah pasti semuanya tidak akan serumit ini.

 

Astaga… bagaimana bisa so eun menyalahkan kim bum sekarang. “tidak… ini semua salahku.. salahku.” Gumam so eun sambil memukul – mukul kepalanya. Yaa.. memang tidak seharusnya so eun menyalahkan kim bum atau ki bum sekalipun. Karena semua kesalahan ini semua ada pada diri so eun sendiri, jika saja so eun bisa menjaga dan mengendalikan dirinya dengan kehadiran kim bum tentu semuanya tidak akan serumit ini.

 

-

-

-

 

Hari ini kim bum diminta menemani sang kakak untuk pergi jalan – jalan, entah kenapa rasanya enggan sekali bagi kim bum untuk mengikuti perintah sang kakak. Tapi mau bagaimanapun juga tetap saja kim bum tidak pernah bisa menolak perintah sang kakak, kim bum terlalu menghormati ki bum. Jadi setiap perintah sang kakak tentu saja akan dia lakukan. Misalnya seperti saat ini, pria itu tengah menunggu sang kakak yang sedang berada di salon, untuk merapikan rambutnya. Kim bum memang tidak berniat menemani ki bum masuk ke dalam, jadi pria itu hanya bisa menunggu kakaknya didalam mobil saja sambil mendengarkan musik yang sejak tadi menemaninya dalam kebosanan

 

“bagaimana penampilan baruku? Apa ini cocok dengan gayaku?” tanya ki bum yang kini sudah masuk kedalam mobil.

 

Kim bum memperhatikan penampilan baru kakaknya dan ada sedikit rasa heran yang terselip di balik senyum manisnya. Ada yang aneh, pikir kim bum. Kim bum masih setia menatap penampilan baru sang kakak. Ingin rasanya kim bum bertanya pada ki bum kenapa pria ini mengikuti model rambut dan juga style kim bum. Bukankah selama ini ki bum tidak ingin jika mereka menggunakan style yang sama, baik itu dari segi penampilan rambut maupun pakaian. Tapi kenapa sekarang kakaknya, mengikuti gayanya?

 

“gaya yang seperti ini, yang sedang populer sekarang kan kim bum-ah?” tanya ki bum sambil memasangkan sabuk pengaman pada tubuhnya.

 

“sudah terlalu lama aku tertidur sampai tidak mempedulikan penampilanku lagi, kupikir dengan gaya seperti ini so eun akan semakin mencintaiku.” Ki bum seperti meyakinkan dirinya dalam setiap perkataan yang baru saja dilontarkan. Dan tentu saja pernyataan ki bum tersebut mampu membuat kim bum sedikit merespon perkataan ki bum.

 

“tanpa merubah penampilanmu, so eun-ssi akan tetap mencintaimu hyung.. jadi kau tidak perlu repot – repot untuk merubah penampilanmu, sehingga itu akan membuatmu menjadi seperti orang lain.” Dengan tatapan mata masih lurus kedepan, bisa ditebak bahwa saat ini pasti hati kim bum sangat sakit sekali dengan setiap pernyataan sang kakak. Haruskah kim bum melanjutkan keinginannya untuk mempertahankan cintanya, atau kim bum memang harus mengalah lagi demi kebahagiaan sang kakak. Tidakkah itu menyakitkan untuk kim bum.

 

“seharusnya aku memang tidak perlu repot – repot merubah penampilanku. Tapi kurasa ada sesuatu yang membuatku terpaksa melakukannya, ada sesuatu yang ingin kubuktikan. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh kim so eun dan aku ingin mengetahuinya.” Jelas ki bum sambil melemparkan senyum penuh artinya pada sang adik yang masih konsentrasi pada kemudinya.

Walau tidak merespon dengan suara, ki bum tetap yakin bahwa sang adik selalu merespon setiap detail kata demi kata yang baru saja ki bum lontarkan. Terbukti dari raut muka kim bum yang bisa di lihat oleh ki bum saat ini. Kim bum terlihat begitu khawatir, walau tidak terlalu terlihat tapi ki bum tetap saja menyadarinya. Tidak ingatkah bahwa mereka itu kembar, jadi setiap perubahan pada yang lain. Tentu saja akan terlihat oleh yang satunya.

 

“hari ini aku ingin menunjukkan suatu tempat untukmu, kuharap kau menyukainya.”

 

Kali ini kim bum memalingkan wajahnya pada sang kakak, sesaat kemudian kim bum fokus pada kemudi mobilnya. “kita mau kemana?” rasa penasaran merasuki hati kim bum saat ini. Ada perasaan khawatir menyelinap kedalam hatinya. Rasanya setiap pernyataan yang ki bum lontarkan mampu membuat kim bum ingin segera menutup mata dan telinganya. Tidak ingin mendengar setiap pernyataan yang keluar dari mulut sang kakak, ataupun melihat senyum ki bum sekalian. Kim bum terlalu takut melakukan itu semua.

 

“sebentar lagi kau juga akan tau.” Jawab ki bum santai, sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobil yang terasa nyaman untuk pria itu.

 

~~~

 

Tidak butuh waktu lama untuk kim bum dan ki bum sampai ketempat tujuan mereka. dan saat ini kedua pria tampan yang terlihat serupa itu sedang berdiri disebuah pintu bercat putih. Ki bum sedikit kesusahan ketika pria itu harus sedikit berjongkok ketika dirinya hendak membuka pintu tersebut.

 

“aku menggunakan tanggal lahir kita, kuharap kau menyukainya.” Kata ki bum pada kim bum yang masih setia berdiri ditempatnya. Kim bum masih bingung dengan apa yang dilakukan oleh ki bum saat ini, untuk apa kakaknya itu membawanya kesini – pikir kim bum.

 

“yaa.. kau tidak ingin masuk dan melihat – lihat keadaan didalam?” tanya ki bum, sambil melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang terlihat seperti apartement itu. Kim bum pun segera mengikuti langkah kaki sang kakak dari belakang, tidak berniat bertanya apapun cukup dengan menunggu penjelasan dari sang kakak saja.

 

Ki bum mengedarkan pandangannya ke sekitar, begitu juga kim bum rasanya tempat ini sudah lama tidak dihuni dilihat dari barang – barangnya yang tertutup oleh kain putih, memang sudah lama sekali apartemant ini tidak di kunjungi oleh sang pemilik.

 

“ini adalah apartemant so eun.. keadaannya masih sangat baik dari terakhir kali aku melihatnya. Sepertinya istriku benar – benar tidak pernah mengunjunginya lagi. Mungkin dia terlalu sibuk mengurusiku dirumah sakit, sehingga apartemant ini sedikit terabaikan.” Tutur ki bum sambil menghentikan aktifitasnya untuk membuka setiap kain yang menutupi semua perabotan yang ada diapartemant itu.

 

Kim bum masih setia menyimak setiap penjelasan dari sang kakak, masih belum tertarik dengan topik pembicaraan yang diberikan sang kakak. Yaa.. mungkin saat ini ki bum ingin mengenang kembali masa lalunya dengan so eun, atau mungkin pria itu ingin pamer pada kim bum tentang kesetiaan sang istri. Ahh.. kim bum tidak ingin memikirkan hal seperti itu sekarang.

 

“yaa.. kim bum-ah. Tidakkah kau ingat pada wanita itu?” tanya ki bum tiba – tiba, ada rasa penasarang dihati kim bum. Wanita? Wanita yang mana, yang saat ini dimaksud oleh ki bum. Seingat kim bum selama ini baik dirinya ataupun sang kakak tidak pernah ada yang dekat dengan wanita lain selain so eun. Apa mungkin maksud ki bum sekarang adalah so eun?

 

Melihat ekspresi bingung kim bum saat ini, ki bum pun sedikit melebarkan senyumannya. “sepertinya kau benar – benar tidak mengingatnya. Wanita yang kau tolong ketika di gunung itu, bukankah kau pernah menceritakannya padaku.” Jelas ki bum sambil merangkul bahu kim bum.

 

Deggg… jantung kim bum seperti tertusuk – tusuk oleh ribuan jarum. Wanita yang ditolong kim bum, apa – apaan maksud ki bum saat ini. Wanita yang diceritakan kim bum pada sang kakak itu adalah wanita yang tidak seharusnya disinggung oleh ki bum saat ini. Apa yang sebenarnya dikatakan oleh ki bum sekarang. Apa ki bum sudah mengetahui bahwa wanita itu adalah istri ki bum – so eun.

 

“ada apa dengan wajahmu, kenapa kau terlihat panik seperti itu… yaa, tenang saja. aku tidak akan pernah mengambil wanita yang kau sukai itu.”

 

Apa lagi ini, bahkan kim bum benar – benar dibuat membisu akan semua kalimat yang keluar dari mulut sang kakak. Apa maksudnya dengan tidak merebut sedangkan saat ini wanita itu sudah menjadi istri sah dari ki bum. Ki bum ini gila atau apa – pikir kim bum.

 

“namanya Im yoona, wanita itu menjadi sekertaris dikantorku. Wanita itu bilang dia menyukaiku karena terkesan dengan kebaikanku yang menolongnya ketika dia tergelincir di gunung. Dia juga terkesan ketika aku membantu mengikatkan tali sepatunya.” Jelas ki bum memulai ceritanya dengan semangat.

 

Ada sedikit kerutan di dahi kim bum kala saat ini dirinya tengah menerka – nerka apa yang dimaksud dari kalimat sang kakak. Tergelincir di gunung, mengikat tali sepatu. Ki bum ke gunung menolong wanita. Sebenarnya siapa yang ditolong ki bum – im yoona, siapa lagi wanita itu. Kenapa ki bum begitu antusias sekali menceritakan ini semua pada kim bum. Apa sebegitu pentingnya bagi ki bum menceritakan ini semua pada kim bum.

 

“ahhh… aku melupakan sesuatu. Seharusnya aku meralatnya, bukankah yang menolong wanita itu kau kim bum dan bukan aku. Kau benar – benar tidak ingat? seharusnya memang dari ceritamu kisah ini terdengar berbeda. Tapi dari penuturan yang diberikan oleh wanita itu padaku memang begitulah yang aku dengar, hingga wanita itu menyatakan perasaannya padaku. Sepertinya wanita itu benar – benar terpikat padamu sejak pertama kali melihatmu.”

 

Astaga… kim bum semakin tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh ki bum sekarang. “yaa.. berhentilah berbicara yang bukan – bukan.” Kesal kim bum

 

“dari cerita yang pernah kau beritaukan padaku, bukankah kau menolong cinta pertamamu ketika wanita itu pingsan di jembatan yang ada digunung. Dan bukankah wanita itu tidak sempat melihat wajahmu. Lalu bagaimana bisa dia mengenalmu dan mendatangiku?” heran ki bum, sambil menatap tajam kim bum mencoba mencari kepastian akan cerita kim bum yang pernah diceritakan kim bum pada ki bum dulu, mengenai cinta pertama kim bum.

 

Kini, kim bum menyadari satu hal. Kim bum ingat siapa wanita yang diceritakan oleh ki bum saat ini. Yaa, im yoona adalah wanita yang ditanyakan oleh so eun tempo hari di rumah sakit. Wanita yang dicurigai so eun sebagai mantan kekasih suaminya. Pantas saja saat itu kim bum merasa tidak asing dengan wanita tersebut, jadi wanita itu adalah wanita yang ditolong kim bum ketika kim bum menggantikan ki bum yang harus pergi ke gunung.

 

Jadi wanita yang dimaksud ki bum sedari tadi adalah wanita yang ditolong kim bum ketika wanita itu tergelincir di gunung beberapa tahun lalu, ketika kim bum harus menggantikan ki bum untuk mendaki ke gunung bersama rombongan teman – teman kampusnya. Rasa takut yang menjalar di hati kim bum sedari tadi luntur seketika. Kim bum benar – benar takut jika sang kakak tau bahwa wanita yang diceritakan oleh kim bum dulu adalah so eun dan bukannya si wanita yang menyatakan perasaannya pada sang kakak. Memang kejadiannya terjadi dihari dan tempat yang sama, tapi wanita yang dimaksud ki bum sekarang berbeda dengan ceritakan kim bum pada ki bum.

 

“aku bahkan sudah melupakan hal itu.” Jawab kim bum, dengan malas. Dari kalimat tersebut juga terdengar ada nada kelegaan yang menyelimuti kim bum saat ini.

 

“seharusnya kita tidak melakukan permainan itu dulu… bukankah permainan itu adalah permainan kita semasa kita masih kecil. Seharusnya aku tidak menyuruhmu menggantikan posisiku kala itu. Dengan begitu kau pun tidak akan pernah melupakan cinta pertamamu.” Ada rasa penyesalan di hati ki bum kala mengatakan kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya tersebut.

 

“kau melepaskan tali sepatumu.” Ucap kim bum, sambil berjongkok dan membenarkan tali sepatu sang kakak. Rasa sedih kembali melanda hatinya kala mendengar kalimat yang diberikan sang kakak. Kim bum tidak pernah menyesal telah menggantikan sang kakak dulu, karena dengan seperti itu kim bum bisa bertemu dengan cinta pertamanya. Tapi ada sesuatu yang benar – benar membuat kim bum kesal, kenapa kim bum begitu bodohnya tidak mengakui perasaanya pada wanita itu dulu. Dan tetap membiarkan sang wanita yang dicintainya menjadi milik sang kakak.

 

Dengan kejadian seperti yang dialami im yoona, bukankah berarti bisa saja so eun juga melakukan kesalahan dalam mengenali orang yang menolongnya. Bukankah seharusnya kenyataan ini kim bum juga sudah mengetahuinya. Lalu kenapa waktu itu kim bum diam saja, dan tidak memberitaukannya pada so eun siapa dirinya dan bagaimana kondisinya.

 

“berhenti membahasnya hyung-ah.. bukankah kejadian itu lama sekali. Sebaiknya kita pulang saja, bukankah kau harus banyak istirahat agar kondisimu kembali pulih.”  Bentak kim bum sambil berdiri dari posisinya karena mulai kesal dengan arah pembicaraan sang kakak. Selain itu kim bum juga sudah tidak kuasa jika harus mengenang kenangannya dengan so eun. Itu terlalu menyakitkan untuk kim bum.

 

“aku tidak ingin kau kembali kerumah itu…” tegas ki bum, sambil menatap tajam kim bum

 

“apa maksudmu?” heran kim bum

 

“aku tidak ingin kehadiranmu dirumah itu menggangguku dengan so eun. Maafkan aku adikku, kuharap kau bisa memahami keadaanku sekarang. Untuk saat ini aku benar – benar hanya ingin berdua saja dengan istriku. Dengan kehadiranmu di rumah itu kau akan membuat so eun tidak merasa nyaman.” Jelas ki bum dengan ketegasan.

 

Bagaikan dihantam ribuan batu, kim bum pun rasanya tak kuasa lagi untuk berpijak di bumi. Jadi  niat sang kakak membawanya ketempat ini untuk mengusirnya. Untuk memisahkan diri dengannya. Terlebih ingin membuat kim bum tidak lagi berada disekitar sang kakak atau so eun. Hanya karena alasan ketidaknyamanan ki bum tega mengusir sang adik dan menyuruh kim bum tinggal di apartemant milik so eun. Benar – benar menyedihkan sekali kim bum ini.

 

“kuharap kau bisa mengerti.” Putus ki bum, dan pria itu dengan segera melangkahkan kakinya meninggalkan apertemant tersebut dan juga kim bum yang masih diam membeku.

 

“kau benar – benar melakukan semuanya semaumu… bukankah rumah itu juga rumahku, bagaimana bisa kau mengusirku?” nada dingin keluar dari mulut kim bum, kala sebentar lagi pijakan kaki ki bum akan sampai di ambang pintu apartemant ini.

 

Ki bum membalikkan badannya, tersungging sebuah senyuman tipis yang tidak bisa diartikan apa maksudnya. “aku tidak akan lagi mempercayaimu…” kata ki bum, sambil melangkahkan kakinya mantap keluar apartemant. Tidak mempedulikan bagaimana keadaan sang adik yang ditinggalkannya. Hanya dengan cara seperti ini ki bum bisa bahagia, rasa egois kembali menguasai hatinya. Walaupun ini menyakitkan bagi hatinya karena sudah dengan teganya menyakiti hati sang adik tapi tetap saja, ki bum tidak akan membiarkan siapapun mengambil sesuatu yang berharga darinya. Walaupun itu adalah kandungnya sendiri.

 

~~~

 

Sepeninggalnya ki bum, tubuh kim bum pun seakan – akan tidak bertulang hingga pria dengan tubuh tinggi tegap itu seketika ambruk terduduk kelantai. Perasaan takut dan khawatir menggelayuti hati dan pikirannya. Apa sebenarnya rencana yang ingin dilakukan sang kakak. Lalu apa benar jika ki bum mengetahui apa yang selama ini disembunyikan oleh kim bum.

 

“aarrrrgggghhhhh…….” sekuat tenaga kim bum berteriak. Rasanya, dadanya sudah hampir ingin meledak hanya karena memikirkan semua ini. Kenapa terasa rumit sekali untuk kim bum menggapai cintanya. Apa dengan seperti ini, harapan untuk kim bum menggapai so eun sudah benar – benar tidak ada lagi.

 

“tidak bisakah aku mendapatkan kebahagiaanku…. hanya satu yang aku inginkan, tidak bisakah kau mengabulkannya tuhan….” teriak kim bum lagi, suaranya terdengar parau di selingi isak tangisnya. Kim bum menangis… kembali.

 

Kim bum hanya ingin mempertahankan cintanya.. rahasia cintanya yang selama ini terpendam. Walaupun cinta tulus yang dimilikinya ini adalah cinta terlarang. Tapi kim bum benar – benar ingin mempertahankannya sampai pria itu tidak sanggup lagi, untuk mempertahankannya lagi.

Kim bum juga ingin merasakan indahnya memiliki rasa cinta, bukankah selama ini kim bum tidak pernah merasakannya. Baik itu dari kedua orang tuanya dulu maupun wanita yang dicintainya sekarang. Dan semua itu terjadi karena adanya saudara kembar kim bum yang selalu menyita perhatian orang – orang hanya untuk dirinya sendiri, dan membuat kim bum terabaikan.

 

“kau brengsek ki bum… kau brengsseekkkkk…” teriak kim bum, rasanya hatinya benar – benar ingin membenci ki bum untuk saat ini. Bagaimanapun juga, penderitaan kim bum ini tidak akan pernah terjadi  jika ki bum dan kim bum tidak kembar. Kim bum akan mendapatkan kasih sayang semua orang jika ki bum tidak menjadi saudara kembar kim bum. Tapi bagaimanapun usahanya, kim bum memang akan selalu kalah dari ki bum. Itu sudah menjadi hukum alam sejak mereka masih kecil, tentu saja semuanya masih berlaku sampai sekarang. Buktinya hari ini, kim bum di usir dari rumah orang tuanya dan kim bum tidak bisa melawannya.

 

Mungkin ini semua akan menjadi takdir hidup kim bum, selalu menjadi yang nomor dua. Menjadi yang terabaikan dan tidak terlihat, tidak pernah ada sedikitpun kebahagiaan yang bisa menghampirinya. Tidak pernah… mungkin tidak akan pernah terjadi walau hanya dalam mimpipun mungkin kim bum tidak akan merasakannya.

 

~~~TBC~~~

 

Untuk para reader yang masih setia menunggu kelanjutanya cerita fanfic ini aku ucapkan terimakasih. Kuharap para reader tidak akan pernah bosan dengan semua tulisanku walaupun aku selalu terlambat untuk memposting setiap kelanjutan cerita dari semua fanfic yang ada disini. Biasa kesibukan yang memaksaku mengabaikan semua fanfic ini. Sebenarnya tidak bermaksud untuk mengabaikan, hanya saja tidak ada waktu untuk mempostingnya.

 

Sekali lagi aku jelaskan pada semua reader yang sudah setia membaca fanfic ini. Fanfic ini memang aku buat karena terinspirasi dari film korea yang judul dan juga sebagian isi ceritanya sama dengan fanfic ini. Tapi akan ada perubahan di pertengahan dan ending cerita. Bukannya ingin menjiplak hanya saja aku memang menyukai cerita dari film tersebut. Jadi buat yang tidak suka dengan fanficku ini lebih baik jangan membacanya karena mungkin itu akan lebih baik dari pada harus memberikan komentar – komentar yang tidak menyenangkan, mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dengan kalimat – kalimat saya. Tidak bermaksud menyinggung hanya ingin mengeluarkan keluhan saja.

 

Dan untuk reader yang minta password untuk fanfic yang diprotect, kalian bisa minta langsung saja melalui akun facebook atau twitter dan e-mailku bukankah di WP ini sudah dicantuman dengan jelas. Dan setiap judul fanfic yang diprotect pasti aku sertakan nama akun FB aku. Saya selalu mengusahakan memberikan password itu pada semua reader. Baik itu GOOD reader ataupun BAD reader. Sekian untuk curahan hatiku mohon jangan tersinggung dengan setiap kalimat yang aku tulis, karena aku hanya ingin dihargai saja dari setiap tulisan yang aku posting disini. TERIMAKASIH.

Hate Or Love (Part 3)

Posted: 16 Februari 2014 in FF BUMSSO
Tag:

cats

Part 3

-

-

-

Derap langkah seorang pria muda yang terlihat tergesa – gesa memasuki sebuah gedung yang sangat besar. Kaca mata hitam yang bertengger di matanya benar – benar menambah kharismanya apalagi dengan setelan celana hitam dan kemeja putih yang menempel pada tubuhnya. Ditambah lagi dengan jas yang di pegangnya di tangan.

Pria ini benar – benar mampu membius semua mata yang saat ini melihatnya, bagaimana bisa tidak terpana jika kita melihat seorang pria tampan sedang berjalan di hadapan kita dan orang itu adalah anak dari seorang pemilik beberapa perusahaan besar di Seoul ini.

Yah… kim bum benar – benar mampu menghipnotis semua karyawannya yang ada di dalam gedung itu. Sejak pria itu masih berada di arena luar gedung ini sampai sekarang masuk kedalamnya. Semua karyawan menyapanya, hingga bibirnya benar  – benar kering gara – gara terus tersenyum.

“kemana saja kau? Kenapa baru sekarang datang ke kantor?”

Kim bum mengurungkan niatnya untuk membuka pintu ruangan kerjanya, ditatapnya seseorang yang dengan beraninya menyapa seorang kim bum dengan tidak sopan seperti saat ini. mau cari mati dia. Tapi tentu saja kim bum tidak akan berani melakukan apapun pada orang itu. Walau kim bum sedikit kesal dengan ketidak sopanan yang ditunjukkan oleh sekertarisnya ini.

“hotel ini tidak akan jatuh bangkrut gara – gara aku tidak ada kan! apa kau lupa masih ada orang yang jauh lebih baik selain aku.” Jawab kim bum sambil mengedipkan sebelah matanya pada orang yang tadi menghentikan apa yang akan dilakukannya.

“yah.. kau benar. Dan orang itu sudah datang, tapi tunggu dulu bukankah itu….” kalimat menggantung yang dilontarkan oleh orang yang sedang berbicara dengan kim bum tadi juga membuat kim bum heran. Apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang orang itu lihat. Yang saat ini datang kim woo bin kan, kakak kim bum. lalu kenapa sekertarisnya ini terkejut.

Kim bum membalikkan tubuhnya, dan pria itu kini tau apa yang membuat sekertarisnya ini sampai seterkejut itu. Ternyata perempuan itu yang datang. Tunggu dulu untuk apa dia datang kesini, untuk menunjukkan pada semua orang bahwa perempuan itu adalah bagian dari keluarga kim… tidak mungkin, sampai sejauh itu kah keberaniannya sekarang – pikir kim bum.

“sekertaris park, bisa kau ikut ke ruanganku. Ada sesuatu yang ingin aku beritahukan padamu.”

-

-

-

Woo bin sudah siap di dalam mobilnya, pria itu sedang menunggu so eun untuk berangkat ke hotel bersama. Yaa… hari ini woo bin akan membawa so eun ke kantor. Ada sedikit kebimbangan di hati woo bin saat ini kala dirinya memandang ponsel yang tengah di genggamannya. Terlihat jelas oleh matanya daftar kontak siapa yang saat ini tengah dipandanginya. Tentu saja itu kontak kim bum, woo bin tidak yakin akan memberitahu kim bum akan hal ini. dan sebelum woo bin sempat menekan tombol panggil, sudah terlebih dulu so eun mengetuk kaca mobilnya.

“masuklah.” Perintah woo bin, dan so eun pun langsung menurutinya. Gadis itu langsung duduk di kursi sebelah woo bin.

“kita berangkat sekarang.” Ucap woo bin lagi, dan langsung di balas anggukan oleh so eun. woo bin memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. Sepertinya memang lebih baik woo bin tidak memberitahukannya pada kim bum. sampai adiknya itu tau sendiri, dari mulut ayahnya atau mata kim bum sendiri yang akan melihatnya.

Lagi pula sudah beberapa hari ini juga kim bum tidak datang ke kantor, mungkin saja adiknya itu tidak akan datang lagi hari ini.

Woo bin menoleh kesamping, melihat adik tirinya yang terlihat tengah gugup. Pasti so eun benar – benar takut. Bukan takut karena suasana  dikantor nanti, tapi pasti pikirannya tertuju pada kim bum. woo bin yakin itu. Dan kembali fokus pada jalanan.

“kurasa hari ini dia tidak datang.”

So eun menolehkan kepalanya, melihat woo bin yang masih berkonsentrasi dengan menyetirnya. Apa benar yang barusan dikatakan woo bin, bahwa kim bum tidak akan datang. Akan jauh lebih mudah jika itu memang benar.

So eun menghela nafasnya dalam, melihat keluar. Jalanan yang sangat ramai. Rasanya so eun benar – benar ingin lompat dari dalam mobil ini dan lari sejauh – jauhnya, entah kemana saja yang penting pergi dari kehidupan yang saat ini dijalaninya. So eun benar – benar tertekan dengan keadaan seperti ini. so eun ingin bebas seperti dulu, ingin melanjutkan kuliahnya seperti semestinya. Hanya ingin belajar saja, tidak ingin bergabung dengan perusahaan yang memang tidak sepantasnya so eun bergabung di dalamnya.

“jangan berpikir macam – macam. aku dan kim bum juga pernah berada dalam posisi seperti dirimu.”

So eun tidak menghiraukan kalimat yang keluar dari mulut woo bin barusan, entah dari mana kekuatan yang woo bin dapat hingga pria itu seakan – akan mengetahui semua pikiran so eun saat ini. tapi pantas saja, kim bum dan woo bin menjadi pria berhati dingin seperti sekarang. Tentu saja semua itu karena tekanan dari ayahnya. lebih menyedihkan memang di banding dengan nasip so eun.

~~~

“sudah sampai..” ucap woo bin, kala pria itu sudah memberhentikan mobilnya di depan sebuah hotel yang sangat besar. Woo bin membuka mobilnya begitu juga dengan so eun. seorang petugas hotel langsung membungkuk hormat pada woo bin, dan pria itu langsung mengambil kunci mobil  woo bin yang sebelumnya sudah di sodorkan oleh kakak tirinya itu. Pria itu langsung membawa pergi mobil woo bin, mungkin untuk diparkirkan di tempat semestinya dan, Sepertinya pria itu memang sudah biasa melakukan hal itu.

“ayo kita masuk.” Ajak woo bin, dan berjalan mendahului so eun untuk memasuki gedung hotel tersebut.

So eun hanya bisa mengekori langkah woo bin dari belakang, tidak mau berjalan sejajar dengan woo bin karena so eun takut jika orang beranggapan yang tidak – tidak tentang so eun. bukankah semua pegawai di tempat ini belum tau siapa so eun sebenarnya.

Semua orang membungkuk hormat pada woo bin, pasti semua karyawan takut pada woo bin pikir so eun. memang sudah wajar jika para karyawan bersikap hormat pada atasannya. So eun semakin kagum dengan kebesaran perusahaan ayah tirinya ini. kantor cabangnya saja sebesar ini apalagi kantor pusatnya.

So eun benar – benar canggung, takut juga sebenarnya. Takut jika tiba – tiba ada kim bum. so eun masih belum siap jika harus bertemu dengan pria itu, setidaknya tunggu sampai jae wook sendiri yang mengatakannya. Tapi doa dan harapan  so eun ternyata tidak di kabulkan oleh tuhan, pria yang sedang sangat dihindarinya itu tengah berdiri didepannya, walaupun memunggunginya tapi so eun tau jika pria itu adalah kim bum – tidak salah lagi.

Kini woo bin dan so eun pun sudah berhadapan dengan kim bum dan juga sekertaris Park. Woo bin sempat melihat ke arah adiknya, yang terlihat sedikit terkejut dengan kehadirannya yang membawa serta so eun bersamanya. Tapi woo bin tidak ingin ambil pusing dengan hal itu. Jika kim bum penasaran, nanti juga adiknya itu akan bertanya padanya, jadi woo bin tidak akan mengatakan apapun sekarang.

“sekertaris park, bisa kau ikut ke ruanganku. Ada sesuatu yang ingin aku beritahukan padamu.” Perintah woo bin, dan langsung pergi meninggalkan kim bum yang masih terheran – heran dengan apa yang sedang terjadi sekarang. so eun juga mengikuti woo bin dari belakang.

Kim bum heran dengan sikap kakaknya saat ini, kenapa kakaknya itu tidak mengatakan apa – apa padanya dan malah mengacuhkan kim bum begitu saja, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa kakaknya itu harus membawa so eun kesini, siapa yang menyuruh kakaknya itu melakukannya. Akankah ayahnya yang menyuruh ini semua, tapi jika dilihat – lihat dari situasi memang hanya jae wook lah yang punya keberanian untuk menyuruh woo bin membawa so eun ke kantor.

“kak se young…” panggil kim bum ketika melihat sekertarisnya itu hendak pergi meninggalkanya, untuk mengikuti kakaknya ke ruang kerja woo bin tentunya.

“aku tau.. kendalikan emosimu, aku akan segera menemuimu nanti.” Sekertaris park tau jika kim bum ingin mendapatkan informasi selengkap – lengkapnya tentang pertanyaan – pertanyaan yang tentu  sedang memenuhi pikiran direkturnya itu.

Park se young adalah sekertaris kim bum dan juga woo bin, wanita itu sangat dekat dengan keduanya, mereka bertiga juga sudah berteman sejak dulu karena kedekatan orang tua mereka juga tentunya. Park se young seumuran dengan woo bin, maka dari itu kim bum memanggilnya kakak. Dan sepertinya kim bum pun sangat menghormati sekertarisnya itu.

“aku menunggumu di ruanganku.” Ucap kim bum dan dibalas lambaian tangan oleh se young. Wanita muda itu melenggang menuju kantor wakil presedir. Tentu saja se young harus cepat – cepat menemui woo bin, karena se young tidak mau jika pria itu menunggu terlalu lama dan membuatnya marah.

~~~

Woo bin duduk di tempat duduknya, pria itu langsung menyusun berkas – berkas laporan yang harus ditanda tanganinya hari ini. sedangkan so eun masih setia menunggu perintah selanjutnya dari woo bin. Tentu saja wanita itu tidak ingin melakukan apapun sebelum ada perintah dari kakak tirinya ini.

“duduklah dulu, biarkan aku memikirkan cara untuk memberikan pengertian pada bocah itu.” Suruh woo bin, dan sepertinya wanita itu sedari tadi hanya bisa menganggukan kepala jika woo bin memberikan perintah padanya.

Ketukan pintu ruangan woo bin terdengar jelas, dan woo bin tau bahwa itu pasti adalah park se young yang tak lain adalah sekertarisnya. Sedikit lama memang menunggu wanita itu untuk mengikuti woo bin menuju ruangannya. Padahal jarak ruangan woo bin dan kim bum tidak terlalu jauh. Dan tentu saja woo bin mengetahui kenapa wanita itu sampai begitu lama untuk mendatangi ruangannya.

“masuklah.” Perintah woo bin mempersilahkan se young untuk masuk.

Park se young memasuki ruangan kerja woo bin, dan melihat bahwa pria itu sedang asyik menandatangani berkas – berkas yang sedari tadi telah di siapkan oleh se young sebelum wakil presedirnya ini datang. Sedangkan wanita yang dikenal se young sebagai adik tiri woo bin itu duduk berseberangan dengan woo bin.

“tidak ada meeting untuk anda hari ini. hanya saja wakil presedir harus bertemu dengan klien jam 3 sore nanti.” Ucap se young sambil menyodorkan agenda kerja yang harus dilakukan oleh woo bin.

“aku sudah tau.” Jawab woo bin dingin, pria ini masih kaku saja seperti biasanya. Pikir se young.

“jika anda sudah tau, untuk apa lagi anda memanggil saya. Bukankah biasanya anda selalu tidak ingin diganggu jika sedang bekerja.” Ketus se young, wanita ini sebenarnya sudah teramat lelah dengan kelakuan woo bin dan juga kim bum. mereka selalu saja bersikap dingin dan ketus jika memerintahkan sesuatu. Hanya saja kim bum lebih bisa sedikit bersikap hangat pada se young berbeda dengan woo bin.

“mulai saat ini, kau hanya berfokus padaku. Kau tidak perlu lagi membantu kim bum mengerjakan tugasnya.”

“apa maksud anda wakil presedir, bagaimana kau bisa membiarkan direktur melakukan pekerjaannya sendirian. Bukankah biasanya saya ataupun anda yang akan membantunya.”

“mulai hari ini, kim so eun yang akan menggantikanmu menjadi sekertaris kim bum. dan kau hanya akan menjadi sekertarisku.”

“jadi…”

Sebelum se young melanjutkan kalimatnya, woo bin segera mendahuluinya. “antarkan so eun ke ruangan kim bum dan beri tahu dia bahwa mulai saat ini kau pindah ke ruanganku.”

“baiklah saya akan melakukannya, mari so eun ikut aku.” Ucap se young dengan lembut. Dan wanita itu membungkukkan badannya pada woo bin dan langsung keluar dari ruangan woo bin begitu pula dengan so eun. Tidak mungkin lagi se young membantah perintah woo bin, karena se young paham betul dengan karakter woo bin yang tidak ingin perintahnya itu di bantah oleh siapapun. Termasuk se young yang tak lain adalah temannya sendiri.

~~~

“aku park se young, sekertaris woo bin dan juga mantan sekertaris kim bum.” ucap se young ramah, sambil mengulurkan tangannya pada so eun. dan dibalas jabatan oleh so eun.

“aku kim so eun, senang bertemu dengan anda.” Jawab so eun

“tidak perlu seformal itu padaku, panggil saja namaku. Atau kau bisa memanggilku kakak. ku harap kau bisa sabar dengan apa yang akan terjadi nanti. Sepertinya kim bum tidak akan semudah itu menerimamu.”

“terimakasih… sepertinya ucapan kakak benar. Jadi apa yang harus kulakukan nanti?”

“aku tau kau bisa menghadapinya, kulihat kau wanita yang kuat. Tenang saja, kim bum tidak akan berbuat hal buruk padamu. Sebenarnya dia pria yang baik, hanya saja memang keadaan yang membuatnya seperti itu.”

So eun menghela nafas berat sambil menganggukan kepalanya, tanpa diberi taupun so eun juga sudah tau akan hal itu. Tapi tidak mungkin kim bum tidak melakukan hal buruk padanya, waktu itu saja kim bum hampir memperkosanya hanya karena so eun menegurnya. lalu bagaimana dengan sekarang.

Se young memasuki ruangan kerja kim bum tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, wanita itu sudah terbiasa melakukan hal itu jika memasuki ruangan kim bum karena memang mereka berdua memiliki satu ruangan yang hanya dibatasi oleh tembok kaca sebagai pembatas.

Kim bum pun juga tidak pernah keberatan jika se young yang melakukannya, karena memang kim bum paham bahwa wanita itu akan lebih repot jika harus mengetuk pintu dan meminta ijin pada kim bum dulu jika ingin memasuki ruangan mengingat betapa sulitnya dia mengurusi kegiatan woo bin dan juga kim bum sendiri. Belum lagi jika kim bum sedang tidak pergi ke kantor maka secara otomatis tugas kim bum, se young lah yang mengerjakannya.

“kak se young, jadi apa yang seb….” kim bum begitu antusias meluncurkan pertanyaannya kala dia mendengar sebuah pintu ruangannya terbuka, karena kim bum tau bahwa se young lah yang masuk ke dalam ruangannya. Tapi kim bum segera menghentikan niatnya kala matanya menatap sosok so eun yang juga masuk ke dalam ruangan ini.

“jangan berteriak atau marah terlebih dahulu, sebelum aku selesai mengatakannya.” Ucap se young yang kini berjalan mendekati meja kerja kim bum. Sedangkan kim bum hanya bisa diam sambil menatap tajam pada wanita yang benar – benar di bencinya itu – so eun.

“mulai hari ini, aku bukan lagi sekertarismu. Dan mulai saat ini juga kim so eun lah yang akan menjadi sekertarismu. Jadi kau harus benar – benar menyelesaikan semua pekerjaanmu sendiri tanpa melimpahkannya padaku.” Terang se young, dan berjalan meninggalkan kim bum untuk menuju ke meja kerjanya. Membereskan semua barang – barangnya tentunya. Se young melihat tatapan tajam yang diarahkan kim bum pada so eun saat ini. se young yakin kim bum benar – benar semakin membenci so eun sekarang.

Tentu saja se young tidak ingin membuat so eun semakin ketakutan dengan apa yang dilakukan kim bum ini.

“kim so eun, kemarilah. Sekarang meja ini milikmu dan bekerja lah dengat baik. Jika ada yang tidak kau ketahui kau bisa tanyakan padaku. Kau sudah tau kan tempatku dimana.”

“terimakasih kakak.” ucap so eun dan langsung berjalan menuju meja yang sebelumnya di tempati oleh se young itu. So eun tidak mempedulikan tatapan tajam kim bum yang benar – benar tidak lepas darinya. So eun benar – benar enggan untuk berdebat ataupun bertengkar dengan kim bum. lagi pula ini bukan kemauan so eun, jika kim bum ingin marah, silahkan saja marah pada ayahnya kenapa harus pada so eun.

“biar aku yang bicara pada woo bin, ku harap kau bisa sedikit bersabar.” Ucap se young yang sudah berada di samping kim bum. wanita ini benar – benar sudah sangat baik terhadap kim bum. selain sebagai sekertaris, se young juga sudah seperti kakak bagi kim bum.

Kim bum tidak mendengarkan apapun yang dikatakan se young saat ini. Dirinya hanya butuh sebuah penjelasan bukan pernyataan yang berbelit – belit. Bagaimana bisa kim so eun masuk kedalam perusahaan. Apa ayahnya sudah gila, bukankah dengan adanya woo bin dan kim bum saja sudah cukup. Kenapa harus ada wanita itu. Pikir kim bum.

Kim bum memperhatikan se young yang sedang berjalan keluar dari ruangannya. Haruskah kim bum menunggu informasi dari sekertarisnya itu, atau dia harus bertanya langsung pada kakaknya. Karena memang tidak mungkin jika kim bum bertanya langsung pada ayahnya, mengingat bahwa beberapa hari ini kim bum tidak pernah pulang ke rumah. Bisa di kubur hidup – hidup oleh sang ayah, kim bum nantinya.

~~~

“apa yang terjadi sebenarnya?”

Tidak terlihat tegar seperti biasanya, ternyata hari ini woo bin pun juga tampak resah. Sepeninggalnya so eun dan juga se young, woo bin.. pria yang biasanya terlalu acuh dengan masalah keluarganya, kini pria itu pun benar – benar di buat seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Sampai pria itu tidak menyadari bahwa se young sudah kembali ke ruangannya dan juga tengah menyapanya.

“tidak seharusnya kau menyimpan masalahmu sendiri seperti ini, kau anggap apa aku selama ini?” bentak sekertaris woo bin, yang merasa diacuhkan oleh atasannya itu.

“yaa… kim woo bin, apa kau tidak bisa mendengar kalau saat ini aku tengah berbicara padamu.” Teriak se young lagi, wanita itu benar – benar sudah hilang kesabaran dengan sikap dingin dan keacuhan dari kim woo bin.

Helaan nafas panjang dan teramat berat keluar dari mulut woo bin. Sepertinya pria itu memang benar – benar tidak tau harus berbuat apa sekarang. “apa yang harus aku lakukan sekarang?” setelah lama terdiam, akhirnya pria muda itu pun mengeluarkan suaranya juga.

“apa aku harus menjelaskan padanya, atau aku harus menyuruhnya mencari tau sendiri?”

Se young mendekati wakil presedirnya itu, se young tau bahwa saat ini woo bin pun juga sama kesalnya seperti kim bum. Pasti pria ini juga tidak mau jika ayahnya memberikan kekayaannya pada ibu dan juga adiknya tirinya. Karena selain ayahnya, woo bin dan kim bum pun juga sudah banyak membantu perkembangan bisnis perusahaan ayahnya ini.

“apa yang harus kulakukan sekarang se young-ah?” tanya woo bin dengan suara lirihnya.

Se young pun segera memeluk tubuh woo bin dari samping untuk sedikit menenangkan hati sahabat, bos sekaligus orang yang dicintainya itu.

“kau bisa bersandar padaku woo bin-ah, kau tidak sendirian. Masih ada aku dan bibi yi hyun dan juga kim bum.”

Se young benar – benar berharap, jika woo bin bisa menatapnya walau hanya sebentar saja. Setidaknya pria itu harus tau ketulusan hatinya yang sudah terlalu lama dipendamnya untuk sang sahabat. Apa woo bin tidak mengetahuinya. Apa woo bin benar – benar tidak menyadari persaan se young selama ini.

~~~

Di dalam ruangan kantornya, kim bum pun tidak bisa tenang. Pikiranya masih terus bertanya – tanya tentang kenapa bisa so eun masuk kedalam perusahaan. Apa ayahnya benar – benar ingin menguji kesabaran anak – anaknya.

Kim bum menatap wanita yang duduk tak jauh dari tempatnya. Walaupun terhalang oleh tembok kaca, tapi kim bum masih tetap bisa dengan jelas melihat apa yang sedang dilakukan oleh wanita tersebut.

“kau terlalu jauh bertindak kim so eun.” Batin kim bum, sambil terus menatap tajam ke arah so eun, yang terlihat serius melakukan pekerjaannya.

So eun memang gadis yang cerdas. Kim bum sendiri sudah tau jika so eun pasti akan benar – benar bertanggung jawab dalam melakukan pekerjaanya. Itu sebabnya kim bum benar – benar kesal dengan keadaan seperti ini.

“sepertinya kau benar – benar menyukainya, ternyata apa yang kupikirkan selama ini tentangmu benar adanya.”

So eun menatap seseorang yang saat ini tengah berbicara padanya. Sudah bisa so eun ketahui jika orang itu adalah kim bum. Untuk saat ini, so eun masih enggan untuk menanggapi apapun yang akan keluar dari mulut saudara tirinya itu. Terlalu menyakitkan jika harus menanggapinya.

“kau dan ibumu benar – benar melakukannya dengan baik, kalian tidak tanggung – tanggung untuk menjalankan rencana busuk kalian ini. Aku benar – benar mengaggumi kelicikanmu ini nona kim..” cerca kim bum lagi, yang saat ini tengah berdiri didepan meja kerja so eun.

“tidak bisakah anda menjaga setiap ucapan yang keluar dari mulutmu itu direktur. Apa seperti ini cara kerja anda selama ini. Tidak seharusnya kau memperlakukan bawahan anda dengan kasar seperti sekarang.”

Kim bum tersenyum mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh so eun saat ini. “kau terlalu lancang untuk berbicara seperti ini sekarang. Apa kau tidak tau sekarang kau sedang berbicara dengan siapa?” kim bum mengeraskan suaranya, setidaknya pria ini ingin melihat sampai sejauh mana so eun bisa berani menghadapinya. Apa so eun lupa dengan kekuatan yang dimiliki kim bum untuk menghancurkannya.

“saya terlalu sibuk untuk mendengarkan perkataan anda yang tidak jelas ini tuan direktur. Jika anda tidak keberatan bisakah anda meninggalkan saya sekarang. Masih banyak pekerjaan yang harus saya pelajari saat ini.” Jawab so eun dengan suara yang tidak kalah lantangnya, walaupun sampai dengan saat ini so eun masih tetap tidak memandang mata kim bum.

“yaa… kim so eun…” teriak kim bum, sambil menarik lengan wanita yang ada didepannya itu dan membuat so eun beranjak dari tempat duduknya. So eun pun benar – benar dibuat tegang dengan sikap kasar kim bum yang keluar lagi. Seharusnya so eun mengingat betapa kim bum terlalu mudah terpancing emosinya seperti sekarang.

“jangan kau kira dengan kau berada disini kau bisa melawanku dengan kata – katamu yang kau nilai cukup bijak itu. Kau kira aku akan dengan mudahnya menerimamu disini, seharusnya kau masih ingat bahwa aku masih menyimpan dendam padamu. Aku benar – benar akan membuatmu hancur kim so eun…..” ancam kim bum, sambil menekan cengkramannya pada tangan so eun.

“lakukan saja… apapun yang kau inginkan lakukan saja, aku tidak akan pernah takut dengan ancamanmu itu. Aku tau kau hanya bisa berbicara saja.”

“kau benar – benar tidak takut… baiklah, aku semakin semangat melakukannya. Kau harus benar – benar mempersiapkan diri dan juga mentalmu untuk menghadapiku mulai sekarang.”

“kim so eun…”

Kim bum dan juga so eun pun segera mengalihkan pandangannya ke sumber suara yang berhasil membuat ketegangan diantara keduanya sedikit terganggu. Kim bum yang menyadari jika kakaknya lah yang saat ini tengah berdiri di depan pintu ruangan kerjannya dan yang pastinya telah memanggil so eun barusan, segera melepaskan cengkraman tangannya dari tangan so eun.

Woo bin segera menghampiri dua orang yang masih terlihat kaget akan kedatangannya itu. Woo bin segera memegang tangan so eun yang nampak memerah akibat ulah kim bum barusan. “sepertinya ini terasa sakit, segera berkemaslah kau ikut aku menemui klien sekarang.” Perintah woo bin, tanpa mempedulikan tatapan kesal dari kim bum yang ditujukan untuknya.

So eun pun menganggukan kepalanya, dan segera mengambil tasnya. Sesaat so eun pun memberanikan diri untuk menatap kim bum dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya.

“kau harus menjelaskan semuanya padaku.” Teriak kim bum, ketika woo bin hendak berjalan melewatinya.

“jika kau ingin tau, pulanglah kerumah dan hadapi ayah.  Tidak seharusnya kau melarikan diri seperti ini. Apa kau lupa bahwa sekarang aku bukan tamengmu lagi, kita berjalan dengan kaki kita masing – masing.” Jawab woo bin, sambil melangkahkan kakinya dengan santai melewati kim bum.

“dan ada sesuatu yang ingin kuberitahukan padamu adikku. Jika kau benar – benar ingin menghancurkan hidup so eun bukan seperti ini caranya. Karena caramu ini akan membuatmu terluka nantinya. Kau harus ingat, bahwa sekarang aku akan melangkah maju untuknya. Apa kau tidak takut jika nantinya dia akan datang padaku.”

“bagaimana bisa kau menghianati adikmu sendiri seperti ini. Bukankah kau juga bertekad untuk menghancurkan hidup orang yang telah merampas kebahagiaan kita. Apa kau benar – benar sudah melupakan semua itu dengan mudahnya.”

“aku bahkan tidak pernah melupakan tekadku yang sudah kubangun selama ini. Hanya saja aku ingin merubah tekadku itu agar bisa berjalan dengan baik tanpa perlu adanya kekerasan sepertimu. Aku ingin bermain dengan tenang kim bum, seharusnya kau melakukan hal yang sama sepertiku.”

“argggghhhhh….”

-

-

-

so eun terduduk didalam rungan yang cukup besar, sambil menundukkan kepalanya. Telinganya masih bisa mendengar dengan jelas apa yang saat ini tengah dikatakan oleh ayah tirinya itu. Di sini didalam ruangan kerja ayah tirinya itu, so eun berada. Untung saat ini woo bin maupun kim bum tidak ada dirumah, jadi so eun tidak perlu takut akan kecurigaan mereka yang tentunya akan semakin menyudutkan so eun dan juga ibunya.

Ayah tirinya itu benar – benar memberikan tantangan untuknya, sebenarnya apa yang direncanakan oleh orang ini pikirnya.

“kuharap, kau tidak salah paham dengan maksud dan tujuanku yang memasukkan dirimu kedalam perusahaan.” Ada jedah di dalam kalimat pria itu, di susul dengan helaan nafas yang berat, “aku hanya ingin bersikap adil pada semuanya, dan juga aku berharap bahwa kim bum dan juga woo bin bisa menerima kau dan juga ibumu didalam keluarga ini.”

So eun terdiam, masih setia mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh ayahnya tirinya itu.

“aku melakukan ini semua, karena aku ingin membayar hutang – hutangku pada seseorang. Aku benar – benar merasa bersalah padanya.”

So eun masih tidak mengerti dengan kalimat yang keluar dari mulut pria paruh baya yang ada didepannya ini. Sebenarnya apa yang ingin orang ini sampaikan pada so eun.

“tidak bisakah paman, tidak melibatkanku dalam urusan yang tidak ada sangkut pautnya denganku. Seperti perusahaan contohnya. Kenapa paman harus memasukkanku kedalam perusahaan.”

“kau terlalu berani saat mengeluarkan kalimat tadi, kenapa sikap ini sama sepertinya. Kau benar  – benar membuatku semakin merasa bersalah dengan kalimatmu barusan.”

Apa lagi ini, dialog apa yang sebenarnya dilontarkan oleh orang ini. Terlalu bertele – tele, kenapa tidak langsung pada topik pembicaraan, kenapa harus berputar – putar. So eun tidak suka situasi seperti ini, bukannya so eun tidak menghormati orang yang lebih tua, tapi so eun memang tidak suka hal – hal seperti ini. Terlalu rumit menurut so eun.

“baiklah.. kurasa, saat ini masih belum tepat untukku mengatakan semuanya. Kuharap kau bisa membantu woo bin dan juga kim bum di perusahaan nanti.”

“paman… apa anda benar – benar tidak peduli lagi pada keadaan bibi yi hyun?” pertanyaan so eun ini benar – benar diluar batas, harusnya so eun tau jika pertanyaannya tidak seharusnya dikeluarkan, mau cari mati gadis ini.

“hemzz… pergilah” hanya kata itu yang bisa so eun dengar dari mulut jae wook, sepertinya pria ini tidak ingin memberi penjelasan pada so eun. Terbukti bukan jawaban yang keluar dari mulut jae wook melainkan perintah, yang menyuruh so eun untuk pergi dari ruangannya.

So eun harus menurutinya, sebelum jae wook berubah pikiran dan melakukan hal – hal yang tidak di inginkan. So eun pun juga tidak ingin bertindak lebih jauh lagi kan, tentu saja itu akan menimbulkan resiko.

-

-

-

Sebelum berangkat ke kantor So eun mematutkan dirinya di depan cermin, sudah hampir seminggu so eun bekerja di kantor. Dan seperti pagi ini sepertinya so eun pun sudah mulai terbiasa dengan rutinitas yang akan dia jalani selama seharian.

Saat ini so eun mengenakan baju terusan selutut tanpa lengan dengan warna putih tulang, polos tanpa motif. Dan tidak ketinggalan juga blazer warna coklat muda berlengan panjang yang menambah kesan cantik pada dirinya. So eun juga memakai riasan wajah yang tidak terlalu tebal, yang penting mukanya tetap terlihat cerah saja.

“kuharap kau bisa bertahan sayang..”

So eun enggan memalingkan wajahnya dari pandangannya terhadap pantulan bayangan dirinya dari kaca yang saat ini berada didepannya. Suara merdu seseorang yang memasuki kamarnya, tidak membuat so eun merespon suara tersebut.

“apapun yang terjadi kau harus mengambil apa yang menjadi milikmu sayang, ibu yakin kau bisa bertahan dan bisa mempertahankan apa yang telah pergi dari kita… sayang….” belaian lembut dari sang ibu, benar – benar membuat so eun semakin tidak habis pikir dengan jalan pikiran ibunya. Dengan seperti ini so eun benar – benar akan makin membenci ibunya.

So eun tidak menjawab kalimat yang baru saja tae hee lontarkan padanya, gadis ini terlalu enggan dengan apa yang menjadi ambisi ibunya. Sampai kapan ibunya akan seperti ini, apa ibunya ini salah paham dengan apa yang dilakukan oleh so eun. Tentu saja so eun tidak ingin mengikuti ambisi ibunya. Itu bukan keahlian so eun.

“aku harus berangkat bu… tidak bisakah ibu, tidak berkata seperti itu. Aku melakukan ini semua karena….”

“jangan melakukan hal – hal bodoh sayang… kesempatan tidak datang dua kali, apa kau tidak bisa memanfaatkan keadaan yang sangat menguntungkan seperti ini. Lebih baik kau cepat berangkat karena pak jung sudah menunggumu dari tadi.”

Tentu saja so eun tidak membantah apa yang dikatakan oleh ibunya barusan, memang lebih baik so eun segera berangkat dari pada mendengarkan perkataan ibunya yang benar – benar dianggapnya tidak penting.

~~~

Woo bin benar – benar disibukkan dengan beberapa proposal yang telah ditolak oleh beberapa kliennya, otaknya benar – benar dipaksa berputar lebih cepat dari pada sebelumnya, pria ini selalu melaksanakan tugasnya, dan menyusun semua proposalnya dengan baik, walaupun dia adalah seorang wakil direktur tapi tidak mengharuskan dirinya berpangku tangan.

Berkali – kali pria itu membolak – balikan lembar demi lembar file – file yang ada di depan mejanya. Hembusan nafas panjang berkali – kali keluar dari hidungnya, hingga sedari tadi pikirannya di buat kacau dengan file – file tersebut, dimana letak kesalahannya?

“harusnya kau meminta kim bum untuk membantumu, sampai kapan kau akan seperti ini. Tidak seharusnya kalian melangkah sendiri – sendiri seperti ini. Bukankah tujuan kalian sama, kenapa harus seperti ini.”

Woo bin menghempaskan tubuhnya disenderan kursinya, pria itu sedikit melonggarkan dasinya dan melepaskan kancing atas bajunya. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, hanya helaan nafas saja yang keluar dari mulut pria itu sebagai respon dari kalimat yang telah di lontarkan oleh sekertarisnya.

“maafkan aku… bukan maksudku untuk bersikap lancang padamu. Tapi aku benar – benar tidak ingin melihatmu seperti ini. Tidak bisakah kau mengikuti saranku, sampai kapan kau akan bermusuhan dengan adikmu sendiri, bukankah kalian saling menyayangi…”

Se young benar – benar tidak tau harus bersikap bagaimana lagi untuk membuat kedua teman kecilnya ini bersatu lagi, bagaimana seorang kakak beradik bisa bertengkar dan jelas – jelas penyebab itu semua hanyalah seorang wanita, wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah saudari tirinya, sangat menyedihkan.

“apa yang harus kulakukan, aku benar – benar tidak bisa melepaskannya?” woo bin pun membuka suaranya, akhirnya pria ini angkat suara juga.

“tidak bisakah kau memandangku walau hanya sedikit saja, apa artinya kehadiranku selama ini woo bin-ah?” pertanyaan se young ini, mampu membuat hati woo bin sedikit tergerak. Setidaknya woo bin harus mengasihani se young kan, bukankah wanita ini selalu ada disisi woo bin dan juga kim bum selama ini.

Woo bin menarik lengan se young untuk mendekat padanya, pria itu menatap mata wanita yang saat ini berdiri disampingnya. Haruskah woo bin melepaskan semuanya dan mengalah lagi pada kim bum. Apakah takdir woo bin memang selalu seperti ini, hidup dalam bayang – bayang adiknya – kim bum.

Woo bin bangkit dari tempat duduknya, dan mendekatkan dirinya pada tubuh se young. Ditatapnya mata indah milik wanita yang ada didepannya ini. Se young adalah wanita cantik, kecantikannya pun tidak kalah dari so eun. Tapi tetap saja menurut woo bin so eun lah yang paling cantik.

Se young melebarkan matanya kala bibir tebal woo bin menyentuh bibirnya dengan lembut, apa maksudnya ini. Bagaimana bisa woo bin melakukan ini padanya, apa ini berarti woo bin mulai menerimanya. Apa secepat itukah, tidakah woo bin hanya menjadikan se young sebagai pelampiasan saja – pikir se young.

~~~

Dan tanpa di duga sepasanga mata cantik milik seorang wanita tanpa sengaja melihat apa yang baru saja dilakukan oleh woo bin dan juga se young.

Ini benar – benar diluar kendali wanita itu, bagaimana bisa wanita ini melihat apa yang seharusnya tidak boleh dia lihat. Pria yang disukainya mencium wanita lain, didepan kedua matanya. Walaupun sebenarnya itu semua memang tidak ditujukan untuk diperlihatkan pada dirinya. Ya… tuhan, harusnya wanita itu sadar bahwa tidak seharusnya dia berharap pria itu bisa menyukainya juga. itu benar – benar mustahil.

“dasar.. wanita murahan.”

Wanita itu segera melepaskan tangannya dari gagang pintu yang sedari tadi dipegangnya, kakinya reflek mundur kebelakang. Badannya kelu, seperti tidak bisa bergerak. Ditambah lagi suara yang baru saja di dengarnya. Wanita itu tau betul siapa pemilik suara tersebut.

“kau benar – benar tampak seperti wanita murahan dan menyedihkan.”

~~~TBC~~~

Memories Of The Past

Posted: 16 Februari 2014 in FF BUMSSO
Tag:

cats

 

Cast: Kim sang bum, Kim so eun, Lee jong suk

 

Support cast: Kim jiwon, Kim woo bin

 

Genre: Fantasy, Romantic, Friendship,

 

Type: Oneshoot

-

-

-

1 Desember 2013 (19.00 – Korea Selatan)

~~~

Suara gemericik air, yang jatuh di atas atap sebuah rumah membuat suasana malam yang sunyi ini benar – benar semakin sunyi. Tetes air hujan turun membasahi bumi. ini, tidak seperti malam – malam biasanya. Malam ini bintang – bintang tidak menunjukkan sinarnya, begitu pula dengan sang rembulan. Sang penyinar langit malam yang senantiasa tak pernah lelah menyinari bumi ini dengan sinarnya itu, sepertinya tidak akan menjalankan tugasnya untuk malam ini.

Seorang wanita muda berusia 25 tahun, yang saat ini tengah berada di dalam sebuah kamar dengan penerangan yang tampak redup. Berdiam diri di meja belajarnya sambil menatap turunnya hujan dari balik jendela kaca kamarnya.

Berkali – kali wanita itu menghembuskan nafasnya. Sangat bosan dan menyebalkan. wanita itu benar – benar bosan dengan rutinitas yang dijalaninya selama ini. biasa – biasa saja, tidak ada yang menarik dan tidak ada yang patut dibanggakan. Menyebalkan, Pikirnya. Rutinitasnya hanyalah bekerja pulang ke rumah dan esok hari kerja lagi. selalu seperti itu tidak ada yang menarik. Kesendiriannya saat ini benar – benar membuat hidupnya seperti dipenuhi dengan warna abu – abu. Tidak ada warna lain selain itu. Menyedihkan, padahal usianya sudah dibilang memasuki tahap kematangan.

Di tatapnya semua benda – benda yang ada di atas meja kerjanya, dan apa yang dilihat oleh matanya benar – benar tidak ada yang bisa membuatnya tertarik. wanita itu nampak berfikir sejenak sebelum dia akhirnya memutuskan untuk beranjak dari kursinya dan menuju ke tempat rak buku miliknya. wanita itu terlihat meneliti setiap buku yang tersusun di dalam rak itu. Jari – jemarinya tak henti – hentinya dia gunakan untuk menyingkap buku – buku yang bisa di bilang cukup banyak.

hingga akhirnya wanita itu menemukan buku yang dicarinya, diambilnya buku bersampul biru muda itu dan di bawanya ke meja kerjanya. wanita itu mendudukkan badannya kembali dan meniup – niup buku yang baru saja di temukannya, terlihat usang dan berdebu memang. jika mengingat betapa lama wanita itu menyimpan buku tersebut di rak bukunya.

wanita itu membaca tulisan yang yang terdapat di sampul buku tersebut, senyumnya sedikit merekah kala pikirannya melayang ke dua belas tahun silam. “BUKU TAHUNAN

Shinwha junior high school, Tahun 1998” kenapa harus masa SMP, kenapa tidak masa SMA atau kuliah. Tapi entahlah, yang ada di pikiran wanita itu sekarang adalah masa SMP.

 

“saatnya kembali ke masa lalu.” Gumam wanita itu, sambil membuka lembar demi lembar buku tersebut dan menampilkan kumpulan wajah – wajah alumni murid Shinwa junior high school. Dan bisa kita lihat sekarang jemari cantik wanita itu terhenti ketika matanya tertuju  pada tiga buah foto yang terpasang sejajar di dalamnya.

Selanjutnya wanita itu memejamkan matanya. kemudian, merasakan dinginnya malam yang seperti menusuk sampai ketulangnya. Mendengarkan suara gemericik air hujan yang sampai dengan saat ini masih belum mereda. Di biarkannya buku yang tadi sempat lama dipandanginya itu tetap terbuka.

Hingga perlahan – lahan suara gemericik air itu tidak dapat lagi dia rasakan, tapi ada sesuatu yang aneh dengan pendengarannya. Kenapa terdengar bising sekali. Bukankah di dalam kamarnya tadi hanya ada dirinya sendiri, tapi kenapa sekarang wanita itu merasakan ada orang lain di dalam kamarnya. Dan sepertinya ada banyak orang di dalam kamarnya dan kegaduhan ini semakin terdengar jelas di telinga wanita itu.

“kim so eun…”

-

-

-

Juli 1998 (Flashback)

~~~

“kim so eun… kim so eun…kim so eun.” panggilan itu, terdengar berkali – kali. Hingga si pemanggil benar – benar di buat jenuh dengan panggilan itu. Karena tidak ada satupun dari sekian banyaknya orang yang ada di ruangan itu yang menyahuti panggilannya.

“apa tidak ada yang bernama kim so eun di ruangan ini?”

Sedangkan si pemilik nama yang sedari tadi dipanggil ternyata tengah asyik tertidur di deretan bangku paling belakang. Sebenarnya gadis itu mendengar suara orang yang memanggil namanya. Tapi ada perasaan yang aneh menyelimuti hati gadis itu, siapa yang memanggil namanya kenapa gadis ini seperti asing dengan suara si pemanggil. Suara itu seperti suara wanita, tapi bukan seperti suara ibu ataupun adik perempuannya, lalu siapa yang memanggilnya saat ini.

“yaa… kim so eun, cepat bangun.” Tunggu dulu, suara ini. so eun mengenalinya, suara terakhir yang terdengar dekat di telinganya. Tidak… kenapa pria menjengkelkan ini ada di kamarnya, so eun harus membuka matanya sekarang dan memberi pelajaran pada pria menjengkelkan ini agar tidak sembarangan masuk ke rumah orang kemudian masuk kekamar orang lain tanpa ijin.

“ya.. apa yang kau lakukan di sini?” tanya so eun sedikit berteriak, sambil membuka matanya. dan bisa so eun lihat siapa yang saat ini tengah berada di depannya.

Dan tunggu dulu… ada sesuatu yang aneh ketika so eun membuka matanya, bukan karena kebenaran tebakan so eun akan siapa yang tadi memanggilnya. Tapi keanehan yang saat ini terjadi padanya. ada dimana so eun sekarang?

“kau ini bicara apa, tentu saja aku sedang bersekolah kau pikir apa lagi yang aku lakukan di tempat seperti ini jika bukan untuk bersekolah dan belajar.” Tutur pria yang saat ini berada tepat di depan wajah so eun.

Berkali – kali so eun mengerjapkan matanya, untuk sedikit mengumpulkan kesadarannya. Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa dirinya berada di tempat ini dan bukannya dikamarnya. Bukankah tadi so eun berada di dalam kamarnya. Kenapa sekarang so eun berada di…. tunggu dulu, bukankah tempat ini tempat so eun pernah bersekolah dulu. Ini adalah sekolah menengah pertama tempat so eun pernah menuntut ilmu kan. Kenapa so eun bisa kembali kesini, bukankah so eun sekarang sudah lulus dan juga sudah bekerja lalu kenapa so eun kemabli lagi ketempat ini dan apa – apaan ini kenapa pula so eun memakai seragam ini lagi.

“yaa.. kim so eun, namamu sudah sedari tadi dipanggil oleh guru. Apa kau tidak mau maju, guru sedang melakukan pembagian tempat duduk, apa kau tidak mau segera mengetahui siapa teman sebangkumu.”

“yaa… kim woo bin, kenapa hari ini kita berada disini. Bukankah hari ini kita harus bekerja?”

“kau ini bicara apa, kita ini masih baru masuk SMP bagaimana bisa kita bekerja. Dasar bocah gila.” Ucap pria bernama kim woo bin, yang tak lain adalah sepupu dari kim so eun.

So eun benar – benar di buat bingung dengan apa yang saat ini dialaminya. Bagaimana ini bisa terjadi, kenapa so eun kembali bersekolah dan kenapa woo bin menganggapnya gila. Apa saat ini so eun sedang bermimpi, jika memang benar bisakah saat ini juga so eun terbangun. so eun tidak ingin kembali bersekolah, karena itu akan membuatnya pusing. Dan lagi, tidak ada yang menarik saat masa – masa so eun berada di sekolah ini. tidak menyenangkan sama sekali yang ada malah menyebalkan.

“apa benar – benar tidak ada yang bernama kim so eun di kelas ini, jika tidak. aku akan melewati nama ini dan memanggil murid berikutnya.”

So eun segera mengangkat tangannya, dan berdiri dari tempatnya menuju kedepan kelas. Sekarang so eun mengenali suara siapa yang telah berkali – kali memanggilnya. Ternyata suara itu adalah suara guru Goo hye sun, guru tercantik dan terbaik yang sangat so eun kagumi semasa dia bersekolah dulu.

“kenapa kau lama sekali, apa kau tidak mendengarkan panggilanku?” tanya guru Goo pada so eun ketika gadis itu sudah berada di sebelahnya.

“maafkan aku.” Jawab so eun pelan, kebinguangannya akan hal gila ini masih belum hilang dan terjawab. So eun masih bertanya – tanya kenapa dirinya kembali kemasa ini dan bukannya masa yang lain.

“berikutnya.. Lee jong suk.” Ucap guru goo, terdengar lantang dan dalam hitungan detik so eun langsung menolehkan wajanya ke samping kiri tubuhnya, dan bisa so eun lihat siapa yang saat ini tengah berdiri bersampingan dengannya. Ya.. pria itu – Kim sang bum.

“Kim sang bum, Kim so eun dan Lee jong suk mulai hari ini kalian duduk bersama. Kalian duduk dibangku nomor dua dari depan urutan barisan paling kanan.” Jelas guru goo kala jong suk sudah berdiri di depan bersama so eun dan bersama dengan pria satu lagi yang bernama lengkap kim sang bum yang biasa di panggil kim bum.

So eun sedikit sadar, akhirnya so eun benar – benar menyadari bahwa saat ini dirinya benar – benar kembali ke masa lalu. Dan ini semua terjadi karena buku tahunan itu, dua pria yang ada di samping so eun saat ini adalah pria yang ada didalam foto buku tahunan so eun. yang terakhir kali so eun lihat bersama dengan foto dirinya juga. sebelum akhirnya so eun kembali ke masa ini. masa lalu. Memori masa yang lalu, yang kembali terulang lagi.

~~~

“baiklah, karena hari ini adalah hari pertama kalian masuk ke sekolah ini. jadi tidak ada pelajaran untuk hari ini. kalian semua bisa saling berkenalan dengan teman – teman baru kalian.” Ucap guru goo sambil melenggang keluar dari ruangan kelas yang saat ini menjadi ruangan kelas kim so eun juga.

Sepeninggalnya guru goo semua murid kelas VII ini benar – benar membuat kegaduhan yang luar biasa. Tentu saja mereka semua bergembira karena akhirnya mereka bisa bertemu dengan teman – teman baru sekaligus akan mendapatkan pengalaman dan yang terpenting ilmu baru.

Tapi kesenanangan itu tidak berlaku untuk kim so eun, gadis itu benar – benar terlihat sangat kesal. Bagaimana tidak akan kesal jika seharusnya hari ini dirinya bekerja dan bukannya kembali kesekolah. So eun benar – benar ingin tahu bagaimana bisa buku tahunan itu membawanya ke masa ini.

“lee jong suk… apa yang ingin kau lakukan hari ini?”

Suara barusan terdengar sangat dekat di telinga so eun, suara ini milik teman sebangkunya tentu saja. so eun bisa merasakan kembali suasana seperti ini. tunggu dulu jika so eun mengingat – ingat kembali, kejadian ini sudah pasti sama persis dengan kejadian masa itu.

“bagaimana kalau kita bermain saja.”

Sekarang suara yang berikutnya ini juga terdengar jelas di telinga so eun. walaupun tidak sedekat suara tadi. Tapi so eun bisa mendengar jelas suara tersebut karena so eun tau bahwa suara – suara tadi memang berasal dari dua teman sebangkunya saat ini.

Jika memang benar kejadian ini sama dengan sebelumnya, maka so eun bisa menebak bahwa saat ini wajah so eun dan kim bum saling berhadapan. Dengan posisi yang sama – sama menaruh kepala di atas meja. Walaupun so eun menutup matanya tapi so eun juga tau bahwa saat ini jong suk juga melakukan hal yang sama seperti dirinya dan kim bum. akan tetapi posisi so eun membelakangi wajah jong suk.

Perlahan demi perlahan so eun membuka matanya yang sedari tadi terpejam. Entahlah kenapa so eun suka sekali memejamkan matanya. baik di masa lalu maupun sekarang. masih sama saja. pikir gadis itu.

“benarkan.. semuanya berjalan dengan sewajarnya, lalu kenapa aku harus kembali lagi kemasa ini jika semuanya normal – normal saja.” batin so eun dan hendak beranjak dari tempat duduknya. Tapi so eun tau bahwa pasti sebentar lagi dua pria di sampingnya ini akan menarik kedua tangannya.

Dan ternyata benar saja, baru saja so eun hendak beranjak. Kim bum dan jong suk sudah terlebih dahulu menahan kedua tangannya. So eun akan semakin pusing jika seperti ini. apa so eun harus kembali menangis seperti dulu karena takut.  Oh…tidak lagi, kenapa harus takut, mereka berdua ini hanya seorang preman kecil. Dulu so eun boleh takut, tapi sekarang dia tentu saja tidak takut.

“menyebalkan sekali.. sampai kapan mereka berdua akan memegangi tanganku seperti ini.” batin so eun lagi, sambil menatap dua pria yang saat ini masih dalam posisi yang sama seperti sebelumnya.

“kembalilah pada posisimu seperti tadi.” Perintah jong suk pada so eun. tentu saja so eun sedikit terkejut, ternyata temannya ini bisa juga bicara sopan padanya. bukankah dulu dialog ini diucapkan oleh jong suk dengan suara yang cukup keras dan terkesan memaksa.

“cepat.. turuti saja perintahnya.” Dan ini apa lagi, kim bum pun juga melakukan hal yang sama. Tidak ada paksaan dari nada bicaranya walaupun, nada bicaranya masih terdengar dingin seperti dulu. So eun semakin heran, mungkin akan lebih menarik jika so eun menuruti apa yang mereka berdua inginkan. Dan apakah kejadiannya nanti akan sama juga seperti sebelumnya.

So eun kembali meletakkan kepalanya dan masih dengan posisi yang sama seperti sebelumnya. Wajah kim bum berhadapan dengan so eun, dan dengan posisi kepala yang membelakangi wajah jong suk. so eun tidak sabar untuk menunggu keanehan berikutnya. Hingga sampai saat so eun merasakan betapa eratnya pegangan dua tangan pria yang saat ini tengah memegangi tangannya. Dan lagi… tunggu dulu apa ini akan terjadi lagi, apakah jong suk akan menjambak rambutnya sama seperti dulu. Karena saat ini so eun bisa merasakan tangan jong suk yang satunya tengah menyentuh rambut panjang so eun.

Sedikit merasa takut jika membayangkan hal itu, tapi dugaan so eun ternyata salah. Jong suk tidak menjambak rambutnya melainkan membelainya dengan pelan. Ada perasaan lega dihati so eun saat ini. dan samar – samar so eun bisa mendengarkan suara jong suk walaupun terdengar lirih karena posisi so eun yang membelakangi jong suk saat ini.

“maukah kau berteman dengaku, kim so eun?” terdengar lirih dan lembut, tidak bisa di dengar siapapun kecuali so eun dan jong suk sendiri tentunya. Dan so eun pun yakin bahwa saat ini kim bum pun tidak mendengarnya.

Dan Baru saja so eun di buat tertegun dengan apa yang dilakukan oleh jong suk barusan, saat ini giliran kim bum yang membuat so eun kebingungan. Pria yang ada didepannya ini menatapnya dengan tajam dan dingin walaupun tidak terlihat menakutkan seperti dulu. so eun juga menatap mata pria itu, menunggu apa yang akan dilakukan oleh temannya itu karena seingat so eun saat itu kim bum hanya mencubit pipinya. Apakah kali ini ada perbedaan juga – piikir so eun.

Kim bum mengarahkan tangannya pada wajah so eun, pria itu menyentuh dahi so eun hingga hidung so eun dan terakhir membelai pipi so eun dengan lembut. Benar – benar pelan dan lembut, tidak ada sakit yang so eun rasakan kala kim bum menyentuh pipinya berbeda juga dengan dulu. dan kali ini so eun juga bisa mendengar gumaman kecil kim bum yang sama seperti apa yang dilakukan oleh jong suk tadi.

“jadilah temanku kim so eun.” perintah, ini adalah sebuah perintah berbeda dengan jong suk. kalimat yang keluar dari mulut kim bum adalah perintah yang mengharuskan so eun untuk menurutinya. Sedangkan kalimat yang dilontarkan jong suk adalah permintaan yang menuntut so eun untuk melakukannya.

Jadi so eun sedikit bisa memahami kenapa dirinya bisa kembali ke masa ini. ada beberapa kesalahan yang ada di masa lalu ini. seharusnya so eun memang seperti ini dulu, agar so eun bisa tau bahwa sepertinya dua teman pria sebangkunya ini memang tidak punya niat jahat apapun pada dirinya. Buktinya saat ini kim bum dan jong suk sama sekali tidak menyakiti dirinya. Apa karena dulu so eun terlalu penakut dan selalu menolak permintaan kim bum dan jong suk sehingga mereka berdua selalu marah pada so eun.

So eun benar – benar merasa lelah, rasanya matanya sangat berat untuk dibuka. Sepertinya gadis itu akan tertidur sekarang. so eun berfikir sejenak, bukankah hari ini masih belum ada pelajaran jadi tidak ada salahnya kan jika so eun terlelap sebentar. Setidaknya belaian lembut dari kedua pria yang ada disampingnya saat ini benar – benar bisa mengantarkannya ke alam mimpi.

-

-

-

Oktober 1999 (Flashback)

~~~

Suara berisik kembali mengganggu kenyamanan tidur so eun, kali ini memaksa so eun untuk segera bangun dari tidur lelapnya. Di bukanya kembali mata cantiknya itu secara perlahan dan melihat ke samping kiri dan kanannya. Tidak ada orang, kemana perginya dua pria itu. Bukankah tadi mereka masih duduk bertiga lalu kenapa sekarang so eun duduk sendiri.

“yaa,,, kim so eun, kenapa kau selalu tidur di kelas. Apa kau tidak pernah punya waktu untuk tidur di rumah. Sekolah ini tempat untuk belajar bukannya untuk tidur, dasar anak aneh.”

So eun sedikit melebarkan matanya dan memastikan siapa anak perempuan yang sedang marah – marah padanya saat ini. benarkah dia Kim jiwon, anak perempuan yang dimasa depan akan menjadi sahabatnya sekaligus kekasih dari sepupunya – kim woo bin.

“gadis centil ini.. kenapa hobimu selalu marah – marah, tidak bisakah kau berhenti memarahi semua murid yang ada dikelas ini. kau pikir kau ini siapa?” bentakan itu terdengar dari mulut woo bin, yang saat ini tengah menghampiri bangku tempat so eun duduk.

“aku ini ketua kelas… jadi kau juga harus mendengarkan semua aturanku.”

“hah… aturan. Sudah.. aku malas jika selalu berdebat denganmu.” Ucap woo bin, dan langsung duduk di bangku so eun.

“Yaa.. kim so eun apakah kau membawa tugas yang sudah kita kerjakan semalam. Hari ini aku lupa membawanya biarkan aku menyalin tugasmu.” Pinta woo bin, pada sepupunya itu. Yang diminta bukannya segera menyahut malah terheran – heran.  Sedangkan jiwon gadis itu langsung pergi meninggalkan woo bin dan juga so eun yang masih merasa aneh. dan yang tentunya menyindir woo bin terlebih dahulu sebelum gadis itu akhirnya pergi.

So eun masih tidak mengerti dengan apa yang saat ini terjadi lagi, bukankah hari ini so eun dan teman – temannya baru masuk kelas bahkan baru melakukan pembagian bangku. Guru juga bilang bahwa hari ini tidak ada pelajaran. Lalu kenapa sepupunya ini ingin meminjam tugas padanya, kapan mereka mengerjakan tugas bersama – sama. Dan lagi kenapa jiwon yang menjadi ketua kelas, bukankah seharusnya jong suk lah yang menjadi ketua kelas jika saat ini mereka berada di kelas VII.

“yaa… apa kau juga lupa membawanya so eun, bagaimana ini… bisa mati kita hari ini jika kita tidak mengumpulkannya. Sia – sia saja semalam kita mengerjakan bersama – sama. Apa masih ada waktu untuk kita mengambilnya di rumah.”

“yaa,,, kim woo bin, memangnya kapan kita mengerjakannya. Bukankah kita baru hari pertama memasuki sekolah ini kenapa bisa kau mengatakan sudah ada tugas.” Bantah so eun yang benar – benar merasa gila dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini, semakin rumit dan membingungkan – pikir so eun.

So eun menghentikan kalimatnya,kala dia melihat seorang anak laki – laki memasuki kelas so eun dan duduk di deretan bangku paling belakang. Tunggu dulu, bukankah itu lee jong suk. kenapa pria itu duduk disana, bukankah seharusnya mereka duduk bertiga. Dan lagi, kenapa dia seperti baru datang. Yang lebih aneh lagi, kenapa pria itu mengacuhkan so eun kala so eun sedang menatapnya.

So eun menggeleng – gelengkan kepalanya yang sudah dirasa benar – benar pusing. Ya… tuhan apa yang sebenarnya terjadi pada so eun saat ini. apa so eun sudah benar – benar gila.

“woo bin… kim woo bin.” Panggil so eun dengan suara yang sangat pelan pada sepupunya yang sekarang entah pergi kemana, pandangan mata so eun masih terarah pada lee jong suk yang saat ini menidurkan kepalanya diatas meja.

“dia sudah pergi.”

Kim bum… suara itu, suara kim bum kan? So eun segera melihat pria yang saat ini duduk disampingnya dan menjawab panggilannya. Pria ini sudah duduk disampingnya sekarang. tapi kapan pria ini datang, kenapa so eun tidak melihat kedatangannya. Lalu kemana perginya kim woo bin.

Tunggu dulu, tapi kenapa semua adegan – adegan ini menjadi seperti potongan – potongan puzzle yang berceceran. Sepertinya tuhan sengaja membuat puzzle – puzzle itu berantakan agar so eun bisa menyusunnya. Dan sekarang harusnya so eun sudah mulai bisa menyusunnya.

So eun mulai berfikir, jika tadi saat pertama kali so eun membuka mata dia bertemu dengan jiwon dan gadis itu mengatakan bahwa jiwon adalah ketua kelas, bukankah itu berarti saat ini so eun sudah berada dikelas delapan. Pantas saja so eun sudah tidak duduk sebangku dengan jong suk, tapi so eun masih duduk sebangku dengan kim bum.

“kenapa kita tidak duduk bertiga lagi?” tanya so eun pada dirinya sendiri, so eun berusaha mengingat alasan mengapa so eun tidak duduk dengan jong suk lagi padahal dia masih duduk dengan kim bum.

“itu karena kau yang tidak mau duduk dengannya.”

So eun menolehkan kepalanya, kala kim bum menjawab pertanyaannya. So eun tidak menginginkan jong suk duduk dengannya. Lalu kenapa so eun masih ingin duduk dengan kim bum. ah… so eun ingat, waktu itu saat mereka semua sudah naik ke kelas delapan. So eun memang sempat bertengkar dengan jong suk gara – gara pria itu selalu berbuat nakal padanya. seharusnya dulu so eun tidak bersikap kekanak – kanakan seperti itu.

“aku harus minta maaf padanya.” gumam so eun sambil beranjak dari tempat duduknya, so eun ingin menghampiri jong suk dan minta maaf pada pria itu. Pantas saja waktu itu jong suk tidak pernah menegurnya lagi, itu pasti karena jong suk marah pada so eun.

Tapi ketika hendak melangkahkan kakinya, kim bum sudah menahan tangan so eun terlebih dahulu. “untuk apa minta maaf padanya, bukankah masih ada aku yang duduk denganmu. Kenapa kau mempedulikannya.” Ucapan ini terdengar lirih tapi masih bisa di dengar oleh so eun. pria ini seperti tidak rela jika so eun minta maaf pada jong suk. bukankah mereka dulu berteman. Ah.. tidak lagi, setelah naik ke kelas delapan mereka sudah tidak berteman, entah apa sebabnya yang pasti kedua temannya ini tidak pernah saling bertegur sapa.

So eun menghempaskan tangannya yang saat ini masih dipegang oleh kim bum. “apa maksudmu, kenapa aku tidak boleh minta maaf padanya?” tanya so eun tanpa meminta jawaban dari kim bum atas pertanyaannya. Dan langsung berjalan menuju meja jong suk.

Dan apa yang terjadi selanjutnya, kim bum menghalangi langkahnya dengan menjulurkan kakinya. Dan tentu saja itu akan membuat tubuh so eun terjatuh, jika tangan kim bum tidak langsung menahannya. “yaa… apa yang kau lakukan?” teriak so eun pada kim bum, dan teriakan so eun barusan mampu membuat seisi ruangan kelas langsung menatap mereka berdua. Termasuk jong suk tentunya.

“kubilang jangan minta maaf padanya, aku tidak suka kau melakukan hal itu.” Kim bum terlihat sangat marah pada so eun. mata kim bum menatap tajam so eun dan benar – benar terlihat menakutkan. Tangan pria itu juga masih belum melepaskan cengkraman tangannya.

“aku… aku..” so eun tidak berani menatap mata kim bum, pria kecil dihadapannya ini benar – benar menakutkan. Bahkan sekarang tubuh so eun di buat bergetar dengan bentakan kim bum tadi. Ini benar – benar aneh, bukankah biasanya so eun selalu bersikap berani pada orang – orang dikantor yang selalu membuatnya kesal. Tapi kenapa sekarang so eun tidak berani pada kim bum, apa so eun akan kembali seperti dulu yang selalu merasa takut pada kim bum dan juga…..

“lepaskan dia…” jong suk, pria itu membentak kim bum untuk membelanya. Kenapa situasinya terbalik. Bukankah seharusnya kim bum yang menolongnya dan jong suk yang membuat so eun terjatuh.

“kenapa aku harus melepaskannya? Bagaimana jika aku tidak mau melepaskannya? Apa yang akan kau lakukan?” tantang kim bum, dan semakin mempererat pegangan tangannya pada so eun. dan itu benar – benar membuat jong suk semakin tidak suka. So eun pun semakin takut dengan situasi seperti ini.

“aku tidak mau bertengkar denganmu, jadi lepaskan dia.” Pinta jong suk lagi, kali ini pria itu lebih sabar menghadapi kim bum. tentu saja jong suk tidak ingin bertengkar dengan kim bum yang pernah menjadi sahabatnya sejak mereka bersekolah di sekolah dasar.

“aku tau kau tidak bisa berbuat apa – apa.” ejek kim bum, sambil tersenyum meremehkan ke arah jong suk.

So eun semakin tegang, dengan situasi seperti ini. tidak mungkin kan kim bum dan jong suk bertengkar. Karena yang so eun ingat, tidak ada keributan waktu itu. Tapi apa yang membuat mereka berhenti bersitegang saat ini.

Seseorang menarik tangan so eun yang bebas dari genggaman kim bum dan membuat tubuh so eun terlepas dari cengkraman kim bum hingga membuat semuanya terkejut. Termasuk so eun, kim bum dan juga jong suk. lalu siapa yang melepaskan so eun dari tangan kim bum. karena sedari tadi jong suk, hanya diam menatap tajam kim bum tanpa melakukan apapun.

Seseorang mendorong tubuh jong suk, “kau terlalu lama.. lee jong suk.” dan langsung mengajak so eun pergi. Tapi langkah kaki orang itu terhenti dan pria itu berbalik menghampiri kim bum dan langsung memberikan satu hantaman pada wajah kim bum.

“jangan pernah ganggu saudaraku… kim sang bum.” kesal woo bin dan kembali menarik tangan so eun untuk meninggalkan kim bum dan juga jong suk, yang masih saling bertatapan.

~~~

“kenapa kau diam saja, apa kau selalu sepenakut ini. kita sudah besar, sampai kapan kau selalu terima ditindas oleh orang lain.” Bentak woo bin, ketika saat ini woo bin mengantarkan so eun ke ruang kesehatan sekolah. Setidaknya dengan membawa so eun pergi, dari ruang kelas so eun akan jauh lebih tenang. Woo bin, membawa so eun ke ruangan itu agar saudaranya itu bisa menghindari kim bum ataupun jong suk untuk sementara waktu.

“kau yang selalu menindasku, apa kau tidak sadar. Kenapa hari ini kau baik padaku.” Gerutu so eun.

“hah.. bocah ini, kau mau mati yaa. Aku ini kakak yang baik, bukankah aku melindungimu hari ini. harusnya kau berterima kasih padaku.”

“untuk apa.. aku tidak mau berterimakasih padamu. Tapi hari ini kau benar – benar keren sekali.” Ucap so eun sambil memberikan dua jempolnya pada woo bin dan tersenyum senang pada kakak sepupunya itu.

“aku memang selalu keren…” puji woo bin pada dirinya sendiri sambil mengacak – acak pelan rambut so eun. dan mereka pun tertawa bersama.

Seorang anak perempuan membuka pintu ruang kesehatan tempat so eun dan woo bin berada saat ini. ada sedikit kekesalan di hati anak perempuan itu saat melihat kebersamaan so eun dan woo bin.

“yaa.. kim woo bin, apa kau akan terus disini. Bukankah so eun sudah baik – baik saja. setidaknya kau harus kembali ke kelas.”

“ahhh.. ketua kelas, ternyata kau.” Ucap woo bin kala melihat siapa yang saat ini memasuki ruangan itu. “baiklah, aku kembali ke kelas lagi. Kau tetaplah disini dan nanti kita akan pulang bersama.” Pamit woo bin pada so eun dan berlalu keluar dari ruangan kesehatan tanpa menghiraukan jiwon yang telah dilewatinya.

“kalian seperti sepasang kekasih.. bukankah kita masih terlalu kecil untuk berpacaran. Dasar gadis aneh.” Ucap jiwon ketus sambil berlalu meninggalkan so eun yang nampak heran dengan gerutuan jiwon. Apa gadis itu mengira woo bin dan so eun berpacaran. Yahh… sangat lucu – batin so eun.

Mata so eun terasa berat lagi, matanya mulai mengantuk. Sejenak so eun mulai berfikir apakah ini saatnya so eun kembali kemasanya. So eun tidak ingin mengulang masa  – masa ini. terlalu melelahkan untuk dikenang. Bukan karena tidak menyenangkan tapi karena terlalu rumit untuk dikenang.

“kuharap ketika aku membuka mata.. aku sudah berada di kamarku, dan tidur di tempat tidurku yang sangat nyaman dan hangat.” Pinta so eun dalam hatinya.

-

-

-

Juli 2001 (Flashback)

 

~~~

so eun merasakan angin berhembus sangat kencang dan benar – benar menerpa tubuhnya. Sekarang berada dimana lagi so eun – pikir gadis itu. rasanya so eun benar – benar lelah, so eun ingin kembali ke masanya. Sudah cukup so eun berjalan – jalan  ke masa lalu. Masa depan lebih indah dari pada masa lalu.

“kau selalu tertidur dimana saja…. apa tidurmu nyenyak.”

Suara ini… yaa, so eun harus cepat – cepat membuka matanya agar dia bisa tau kejadian apalagi yang akan terjadi pada so eun. so eun membuka matanya dan sedikit meneliti keadaan disekitar. Memastikan bahwa saat ini matanya tidak salah mengenali tempat. Ini atap sekolah… benar dan saat ini tubuh so eun terbaring diatas sebuah bangku panjang. Tunggu dulu, so eun tadi mendengar suara seseorang yang menyapanya. Lalu pergi kemana orang itu. So eun segera bangun dan memandang lurus kedepan, tidak ada siapaun ditempat ini, kecuali dirinya sendiri. Lalu suara siapa tadi?

“kau mencariku?”

So eun segera menolehkan kepalanya, dan membalikkan badannya kala suara itu terdengar dari belakang tubuhnya. Benarkan dugaan so eun bahwa suara tadi adalah suara pria itu. So eun tidak akan lupa suara itu.

“sepertinya kau benar – benar sangat suka tidur, kelas sudah masuk dari tadi. Sebentar lagi waktunya kita untuk berfoto. Apa kau tidak ingin fotomu terpasang di buku tahunan.”

Ah… sekarang loncat sudah loncat ke tahun yang lain, mengingat ucapan pria tersebut. itu berati so eun sudah berada dikelas IX. Akan segera berakhir. Pikir so eun. jika sekarang so eun berada dikelas IX, dan kalau tidak salah dengar pria yang ada dihadapan so eun saat ini mengatakan bahwa hampir tiba giliran mereka untuk berfoto untuk buku tahunan, maka so eun sudah akan lulus sekarang.

“terima kasih sudah mau datang ke acara ulang tahunku tempo hari. Ku kira kau tidak akan datang. Apa woo bin mengatakan sesuatu padamu?”

So eun memandang lekat mata pria itu, mencari sesuatu jawaban pada mata itu. Apa yang barusan dikatakan pria ini, apa yang harus disampaikan woo bin padanya. kenapa so eun tidak bisa mengingatnya. Apa ada hal penting yang so eun tidak ketahui di masa ini.

Pria itu menghela nafasnya, sedikit ada perasaan sedih dari sorot matanya karena sedari tadi so eun tidak menjawab apapun yang dikatakannya. “aku tau kau masih marah padaku, buktinya sampai sekarang kau selalu mengacuhkanku. Kuharap setelah kau mendengar penjelasan dari woo bin, kau bisa memaafkanku.”

So eun benar – benar dibuat bingung dengan kata – kata yang sama sekali tidak dimengertinya itu. Apa yang dibicarakan oleh pria ini dengan woo bin. Kenapa so eun tidak mengingatnya. Tapi memang seingatnya, woo bin tidak pernah mengatakan apapun pada so eun tentang pria ini. “bisakah kau menjelaskan padaku, aku benar – benar……”

“aku tidak memaksamu…. tapi, bolehkah aku memelukmu?” pria itu meminta persetujuan so eun untuk memeluknya. Tentu saja so eun tidak jadi meneruskan kalimatnya yang tadi terpotong dengan permohonan pria yang saat ini ada depannya. Yang so eun lakukan sekarang adalah menganggukan kepalanya, dan membiarkan pria itu memeluk tubuh so eun.

“terimakasih.. terimakasih, sudah mau memaafkanku.” Ujar pria itu sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh so eun, seakan – akan tidak mau melepaskan ataupun menyerahkan so eun pada orang lain. So eun pun membalas pelukan pria tersebut sambil tersenyum lega, karena akhirnya permusuhannya dengan pria ini bisa berakhir – setidaknya itulah yang dirasakan so eun saat ini. tapi tidakkah so eun memperhatikan pria yang berdiri tidak jauh dari tempatnya saat ini.

Senyum yang tadi terukir jelas diwajah so eun kini menjadi raut wajah kesedihan kala melihat pria yang saat ini tengah menatap tajam ke arahnya yang sedang berpelukan dengan pria lain. Tidak bisa ditebak apa yang ada dipikiran pria itu saat ini, tapi sepertinya pria itu kesal dengan apa yang dilakuakan oleh so eun sekarang.

“kenapa kau ada disini, guru goo sedang mencarimu. Sudah tiba giliranmu untuk berfoto sekarang.” tegur kim jiwon pada pria yang masih menatap so eun, yang tengah berpelukan dengan seorang pria.

Pria yang ditegur jiwon itu tidak menjawab teguran gadis tersebut. Pandangannya masih tertuju pada so eun dan pria yang memeluknya. Dan berapa menit kemudian pria itu membalikkan badannya untuk turun dari atap gedung meninggalkan jiwon dan juga so eun yang masih diam ditempatnya.

“kalian berdua… sampai kapan kalian ada disini. Sebentar lagi giliran kalian berfoto. Apa kalian akan tetap bermesraan disini.” Teriak jiwon pada so eun dan juga pria yang tadi memeluk so eun.

“kukira sahabatmu itu tidak akan pernah berhenti berteriak.” Gurau pria yang tadi memeluk so eun, sambil melepaskan pelukannya pada tubuh so eun dan menggandeng tangan so eun untuk menuruni atap sekolah ,dan pergi ke ruangan tempat mereka akan berfoto untuk buku tahunan. So eun sedikit tersenyum kala mendengar gurauan pria yang ada disampingnya ini. Ternyata pria ini bisa bercanda juga rupanya.

~~~

Semua sudah berkumpul di ruangan foto dan benar – benar tampak berisik sekali. Mata so eun tengah mencari seseorang. Matanya benar – benar melihat kesana kemari, tapi yang dicari tidak juga terlihat oleh matanya. dimana bocah itu pikir so eun. hingga guru goo memanggil nama so eun, karena sudah tiba giliran so eun untuk berfoto.

Dan saat so eun sudah siap untuk berfoto, orang yang tengah di carinya sedang berdiri di depannya dan memandang ke arah so eun. dua pria itu tengah berdiri bersampingan sambil menatap tajam padanya. seperti ada sesuatu yang benar – benar ingin mereka sampaikan pada so eun setelah ini.

Dan sebuah suara jepretan kamera, di iringi dengan kilatan cahaya dari kamera yang ada di depan so eun saat ini, mengantarkan so eun kembali kemasa sekarang. ada sedikit perubahan pada masa lalu so eun itu. Dan masih ada sesuatu yang belum terungkap, apa yang sebenarnya terjadi pada dua orang pria yang pernah menjadi teman so eun itu.

-

-

-

4  desember 2013 (17.00 Korea Selatan)

~~~

Sebuah pancaran sinar yang dirasa sangat menyilaukan membuat seorang wanita yang entah sudah berapa lama dia terlelap dalam tidurnya itu mampu membuka matanya kembali. Wanita itu sedikit menyesuaikan dirinya dengan cahaya yang menyilaukan matanya. pancaran matahari terbenam mampu membuatnya terbangun dari tidurnya yang bisa dibilang cukup lama.

“apa lagi sekarang?” tanya so eun pada dirinya sendiri, ketika dia sudah membuka matanya. wanita itu masih belum menyadari kalau dirinya sudah kembali ke dunianya.

“gadis aneh… sampai kapan kau akan tertidur. Bagaimana bisa kau tertidur dengan posisi seperti itu dan lupa dengan semua pekerjaanmu. Kau kira aku ini asistenmu yang bisa menggantikanmu mengerjakan semua tugas – tugasmu.”

So eun mengenal suara itu. Berisik sekali suara itu dan sudah dipastikan bahwa suara itu adalah milik kim jiwon, sahabatnya sekaligus kekasih dari kakak sepupunya.

So eun bisa merasakan seseorang menepuk bahunya, wanita itu masih enggan untuk beranjak dari meja kerjanya. Kepalanya pun masih menempel di meja kerjanya. Masih bingung dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“sepertinya dia tidak ingin kita mengganggunya, lebih baik kita biarkan saja dia istirahat. Lagipula sudah tiga hari kita berada disini untuk menemaninya. Mungkin dia ingin sendiri.”

Suara itu… so eun yakin bahwa suara itu milik kakak sepupunya. Kenapa mereka berdua bersama – sama. Dan tunggu dulu, tiga hari apa maksudnya.

“aku ada dimana?” pertanyaan bodoh itu terlontar dari bibir kecil so eun, dan tentu saja pertanyaan itu membuat jiwon dan juga woo bin heran. Ada apa dengan so eun, wanita itu sudah tidur kurang lebih selama 3 hari. Dan sekarang wanita itu bertanya ada dimana. Apa so eun sedang mengerjai kakak sepupu dan juga sahabatnya itu.

“yahh… kau berhutang penjelasan padaku kim woo bin.” Racau so eun sambil menaikkan kepalanya dan memandang woo bin dengan tatapan penuh tanda tanya. Sedangkan yang ditatap pun juga terlihat bingung dengan tingkah adik sepupunya itu.

“kau sakit so eun.. sudah 3 hari kau tertidur, bahkan tidak masuk kerja. Kami berdua menemanimu disini, karena woo bin bilang orang tuamu sedang pergi ke luar kota. Sebenarnya apa yang terjadi padamu.”

 

Tiga hari so eun tertidur, astaga.. bagaimana ini bisa terjadi. Jadi apa yang dialami so eun beberapa hari ini adalah mimpi, tapi kenapa ini seperti nyata. Yaa … tuhan. So eun benar – benar tidak bisa terlalu jauh berfikir sekarang. dan lebih tidak mungkin lagi jika so eun menceritakan apa yang dialaminya ini pada woo bin ataupun jiwon. Bisa ditertawakan nanti, jika so eun menceritakan semuanya pada mereka.

So eun menatap meja kerjanya, dan mendapati buku tahunannya masih terbuka di hadapannya. Dan sudah bisa ditebak oleh so eun bahwa sekarang yang ada di ingatan so eun adalah dua orang pria yang ada di foto itu. Apa yang terjadi pada keduanya sekarang, dan bagaimana keadaan mereka sekarang. apakah mereka juga merasakan memori masa lalu itu.

“kau merindukan mereka, atau salah satunya?”  tanya jiwon sambil mengambil buku tahunan yang sedari tadi dipandangi oleh so eun.

“lee jong suk?” tanya jiwon lagi pada so eun yang terlihat keheranan. Karena jiwon mempertanyakan hal yang tidak dimengerti sama sekali olehnya.

“kim sang bum?” woo bin pun juga ikut bertanya.

Akhirnya so eun menghembuskan nafasnya dengan panjang dan mengeluarkan dengan perlahan. Kedua orang terdekatnya saat ini ternyata sudah tau bahwa saat ini so eun tengah memikirkan dua orang dari masa lalunya. “keduanya.” Jawab so eun pelan.

Tentu saja, bukan hanya salah satu saja yang ada dipikirang so eun saat ini, melainkan keduanya.  Tidak bisa dipungkiri lagi jika memang saat ini so eun tengah merindukan dua pria itu.

“bisakah kau menjelaskan sesuatu padaku kim woo bin?” pinta so eun sambil menatap kedua bola mata woo bin. Ada sedikit permohonan dari tatapan mata so eun yang terarah pada woo bin sekarang.

Woo bin, mendudukkan tubuhnya di tempat tidur so eun, dan sepertinya pria itu sedikit memutar otaknya untuk mengembalikan memori ingatan yang sudah lama sekali dia pendam. Mungkin memang saat inilah waktu yang tepat untuk woo bin mengatakan semuanya pada so eun.

“mereka menyukaimu….” woo bin menggantungkan kalimatnya, sepertinya woo bin sedikit ragu untuk menceritakan semuanya pada so eun. “ini saatnya kau menceritakan semuanya sayang….” sahut jiwon yang sedari tadi berdiri disamping so eun.

“kau juga mengetahuinya?” heran so eun sambil menatap tajam jiwon, so eun benar – benar tidak menyangka jika sahabat dan kakak sepupunya ini menyimpan rahasia yang sangat besar tentangnya. Apa alasan keduanya menutupi ini semua dari so eun.

-

-

-

Ke esokan harinya setelah pulang dari kantor so eun berniat mengunjungi SMP tempat dimana dirinya pernah menimba ilmu disana. So eun ingin kembali mengenang masa – masa yang sempat dia lalui dengan sia – sia itu. Penjelasan yang telah diberikan oleh woo bin dan juga jiwon benar – benar membuat so eun semakin bersalah kepada kim bum ataupun lee jong suk, seharusnya mereka bertiga masih bisa menjadi teman jika so eun tidak salah paham pada keduanya.

~~~

Tidak butuh waktu yang lama untuk so eun sampai ke tempat tujuannya. Hanya dengan menaiki bus umum dan duduk didalamnya kurang lebih dua puluh menit, bus itu pun mampu membawa so eun ke tempat ini. Tempat dimana saat ini so eun tengah memijakkan kakinya.

Sudah hampir delapan tahun so eun tidak berkunjung ke tempat ini dan ternyata tempat ini sudah banyak perubahan. Sudah tidak banyak lagi murid – murid yang berkeliaran yang ada hanya sekelompok murid pria yang sedang berlatih basket dilapangan.

So eun menyusuri lorong demi lorong sekolahan itu, benar – benar nampak sunyi mengingat hari sudah sore. So eun menghentikan langkahnya kala dia melihat sebuah tangga yang bisa membawa so eun sampai ke atap sekolah. Dipandanginya tangga itu, dan sebuah bayangan pria yang sedang berdiri membelakanginya terlihat jelas di hadapan so eun.

“kim sang bum” gumam so eun, dan bayangan pria yang ada di depannya tadi pun memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah so eun.

Pria kecil itu pun tersenyum kala melihat so eun dan seperti menyuruhnya untuk segera menaiki tangga itu. Dan setelah itu bayangan laki – laki kecil tadi pun menghilang. Dan tanpa pikir panjang lagi, so eun pun segera melangkahkan kakinya untuk menaiki tangga tersebut dan sampailah so eun di atap sekolah. Tidak banyak berubah – pikir so eun. So eun menjelajahi semua penjuru dengan matanya, masih menenenangkan seperti dulu. Dan kali ini mata so eun menatap sesosok pria dewasa yang tengah berdiri tegap membelakanginya. Bisa so eun ketahui kala pria itu tengah menikmati sejuknya angin yang berhembus saat ini.

So eun penasaran dengan orang yang ada didepannya saat ini. Apakah yang sekarang ini nyata atau hanya ilusi seperti yang sebelumnya. So eun sudah dekat dengan pria tersebut, dan tangan so eun pun sudah tinggal sedikit lagi untuk menyentuh bahu pria itu, tapi so eun langsung menahan tangannya di udara kala pria tadi memutar tubuhnya dan bisa so eun lihat siapa yang saat ini tengah berdiri di depannya.

Pria itu menatap tajam ke arah so eun, keduanya saling bertatapan lama seperti saling mengenali satu sama lain dan menepiskan rasa ketidak percayaan pada diri masing – masing, – benarkah yang ada dihadapan keduanya ini adalah orang yang sangat di tunggu – tunggu untuk kedatangannya.

“kim so eun.” Pria itu mengeluarkan kata pertamannya, untuk memecah keheningan. “senang bisa bertemu lagi.” Sambung pria tersebut.

“aku juga senang bisa bertemu denganmu – kim sang bum.” Jawab so eun singkat.

“ku kira kita tidak akan pernah bertemu denganmu lagi.”

“aku pun juga berpikir demikian.”

So eun tersenyum kala melihat kim bum tersenyum padanya. Akhirnya setelah sekian lama so eun berfikir apakah kim bum tidak pernah tersenyum, dan kali ini wanita ini bisa melihat betapa tampannya senyuman yang dimiliki oleh pria yang saat ini berdiri dihadapannya sekarang.

“apa yang membawamu kembali kesini?” tanya kim bum masih dengan keadaan seperti sebelumnya menatap wanita yang ada didepannya. Tidak ada pergerakan yang mereka lakukan.

“ada sesuatu yang masih belum terungkap dari masa laluku, dan hari ini aku ingin mengungkapnya.”

“benarkah…. apa itu mengenai diriku?”

So eun sedikit terkejut dengan pertanyaan terakhir yang diajukan oleh kim bum saat ini. Bagaimana bisa pria ini dengan percaya diri mengatakan hal itu. Walaupun itu benar, namun tidak seharusnya kan kim bum menanyakan secara langsung. Setidaknya pria itu harus menunggu sampai so eun mengatakannya.

“kukira itu tentang diriku.”

So eun langsung menoleh kebelakang kala mendengar suara seseorang dari belakang tubuhnya. Dan saat ini so eun di buat terkejut lagi seperti sebelumnya. “lee jong suk” gumam so eun kala menyadari siapa yang tengah berjalan mendekatinya.

“sepertinya kau selalu datang disaat yang tidak tepat, lee jong suk.” Ucap kim bum dengan nada kesal.

“seharusnya aku datang lebih cepat, agar aku bisa membawanya pergi dan tidak bisa bertemu denganmu.”

“lupakan saja. Nyatanya akulah yang datang lebih awal dari pada kau.”

So eun bingung dengan perdebatan yang dilakukan oleh dua pria yang ada di sampingnya ini. Bagaimana ini bisa terjadi, apa tuhan benar – benar sengaja melakukan ini pada so eun. Sepertinya begitu jika melihat bagaimana keadaan saat ini.

“setidaknya aku sudah pernah memeluknya, bukankah kau kalah satu langkah dariku – kim sang bum.” Ujar jong suk sambil tersenyum meremehkan.

“tidakkah kau berrfikir bahwa dia menyukaiku dan bukannya dirimu lee jong suk.” Balas kim bum dan kali ini pria itu langsung menarik lengan so eun dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Kim bum pun tersenyum puas kala melihat ekspresi muka jong suk yang juga tersenyum kepadanya.

“apa yang kau lakukan?” tanya so eun yang benar – benar dibuat terkejut dengan sikap yang diberikan kim bum secara tiba – tiba padanya.

“biarkan aku melakukannya, dan biarkan aku mengungkapkannya padamu kim so eun. Bukankah kau ingin mengungkap sesuatu yang belum kau ketahui selama ini.” Ucap kim bum sambil mengeratkan pelukannya pada so eun.

“aku mencintaimu – kim so eun.” Sambung kim bum, sambil menatap tajam jong suk yang masih berada dihadapannya. Menunggu bagaimana reaksi sahabatnya itu ketika melihat apa yang telah kim bum ucapkan pada so eun.

“setidaknya, aku masih tetap berdiri di tempatku dan bukannya malah pergi seperti dirimu waktu itu kim sang bum. Karena aku juga mencintai kim so eun.” Balas jong suk masih tetap tersenyum dan tentu saja kim bum pun juga membalas senyuman jong suk.

So eun yang masih berada didalam pelukan kim bum pun ikut tersenyum, akhirnya so eun mendengar sendiri dari mulut keduanya bahwa mereka berdua mencintai so eun. Walaupun saat ini tidak mungkin untuk so eun memilih satu diantaranya. Tapi so eun bersyukur karena dua pria keren ini pernah bersaing untuk merebutkan hatinya.

~~~THE END~~~

Maaf jika ceritanya susah dipahami, proses pembuatan fanfic ini juga kilat jadi mungkin ceritanya tidak terlalu menarik. Tapi semoga banyak yang menyukainya. Memang setiap cerita tidak aku jabarkan secara detail, karena di buat mendetail akan terlalu panjang dan jadinya malah bukan fanfic type OS nantinya. Endingnya pun aku buat menggantung, karena aku hanya ingin membuatnya sesuai dengan judulnya. Hanya untuk mengungkapkan masa lalu yang belum terungkap dan tidak ingin mengetahui bagaimana kelanjutan hubungan ketiganya. Terimakasih untuk yang sudah mau membaca dan di tunggu kritik dan sarannya.

In My Heart

Posted: 16 Februari 2014 in FF BUMSSO
Tag:

In my heart

Cast: Kim sang Bum, Kim so eun, Kim ki bum

 

Genre: Hurt, romance, Friendship

 

Type: Twoshoot

-

-

-

Aku tidak pernah menyangka, jika rasa itu juga menghampiriku. Aku benar – benar tidak menyangka jika engkau mempertemukanku pada sesosok ciptaanmu yang menurutku benar – benar bisa membuatku kembali bersemangat dalam menjalani hari – hariku, yang sebelumnya sudah kuanggap tidak penting lagi. Terimakasih tuhan… sudah mempertemukanku dengannya, seseorang yang benar – benar sangat berarti dalam sisa hidupku ini. Sekalipun aku harus pergi, aku benar – benar tidak akan menyesal. Hanya satu lagi pintaku padamu tuhan… jangan pernah biarkan senyum itu memudar dari wajahnya, walau hanya sebentar…

 

~~~

So eun POV

 

Hari ini, hari dimana aku bisa memulai kembali aktifitas yang sudah beberapa bulan belakangan ini aku tinggalkan. Dengan suasana yang baru, wajah baru dan tempat yang baru. Kuharap semua perubahan ini mampu membuatku kembali bersemangat, walaupun sepertinya, rasanya akan sama saja. tapi paling tidak harus ada sedikit perubahan dari tempat sebelumnya walaupun itu hanya sedikit.

Kulangkahkan kaki kecilku menyusuri lorong demi lorong area tempatku berpijak, sudah terlihat sepi. Tidak ada kegaduhan ataupun keributan di sekitar area ini. mengingat sudah waktunya untuk para penghuni tempat ini melakukan rutinitas mereka. Kupercepat langkah kakiku agar aku segera sampai  ketempat tujuanku. Tapi tanpa sengaja, sebuah hantaman keras sukses membuat tubuhku hilang keseimbangan dan membuatku hampir terjatuh jika saja sebuah tangan kekar seseorang tidak dengan sigap menahan pergelangan tanganku.

Keterkejutanku akan ketiba – tibaan ini membuatku seketika melupakan sejenak apa yang seharusnya dilakukan oleh otak kecilku, sehingga sebuah deheman kecil dari pria yang saat ini ada didepanku sekarang sukses mengembalikanku pada alam kesadaran. “hmm…”

“ma-maaf”. Sesalku menyadari kebodohan yang dilakukan oleh pikiranku.

pria itupun segera melepaskan genggaman erat tanganku hingga membuatku kembali tersadar dan memposisikan tubuhku berdiri sempurna. Tanpa mengatakan sepatah katapun pria itu segera berlari meninggalkan tubuhku yang masih terasa beku dan sulit bergerak. Aliran nafasku terasa tercekat dan hanya sampai ditenggorokkan. Hanya dengan berada di dekat pria tadi – mustahil.

aku masih terpana memperhatikan punggung pria yang baru beberapa waktu lalu berdiri didepanku, memegang tanganku dan saat ini pria itu pun sudah berlalu menghilang dari pandanganku. “dia… terlambat.” Gumamku pelan.

“kim so eun.” Panggil suara dari belakang tubuhku, dan saat ini bisa kulihat seorang wanita berusia kurang lebih 28 tahun itu kini tengah mendekatkan tubuhnya padaku.

“kau benar kim so eun kan.. murid baru pindahan dari jepang itu” perkataan wanita itu terlontar jelas tanpa ada keraguan. Hingga akupun langsung menganggukan kepalaku tanda pernyataan yang baru saja dilontarkannya itu adalah suatu kebenaran.

“aku Kim Ha neul… guru sekaligus yang akan menjadi wali kelasmu nanti, ayo.. kita segera menuju kelas.” Ajak wanita yang mengaku sebagai wali kelasku tersebut. Dan aku pun hanya bisa mengekori langkahnya dari belakang.

Awal pertemuan yang mengejutkan, dan tidak ada satu kalimat pun yang keluar dari bibirmu. (hanya sebuah gumaman, yang tidak menyenangkan) Apakah kau benar – benar sedingin ini? Dan hal itulah yang membuatku semakin bertanya… benarkah aku selalu ada didalam hatimu???

 

So eun POV End

 

~~~

 

Kegugupan kembali menyerang so eun, saat ini so eun benar – benar sangat gugup kala saat ini dirinya sedang berdiri di depan kelas, kelas XI-2 didepan murid – murid yang lain. Semua mata tertuju padanya, dan so eun pun hanya bisa menundukkan kepalanya. Gadis ini terlalu malu untuk berhadapan dengan orang – orang baru. So eun memang tipe orang yang sulit beradaptasi dengan lingkungan baru.

“kau bisa memperkenalkan dirimu sekarang.” Perintah guru kim. Kepadaku dengan nada bicaranya yang benar – benar anggun. Menggambarkan sikap dan kepribadiannya – menurutku.

“na-namaku Kim so eun… ka-kalian bisa memanggilku So eun. A-aku pindahan dari jepang… senang bertemu kalian semua.” Terang so eun dengan terbata – bata, sepertinya kebiasaannya ini masih belum hilang. dan terakhir gadis itupun membungkukkan badannya kepada semua teman – teman yang akan berada sekelas dengannya.

“nah.. karena kau sudah memperkenalkan namamu, bagaimana kalau sekarang kita memulai pelajaran pertama kita… dan….” ada jeda pada kalimat yang terlontar dari bibir guru kim, dengan pandangan mata menatap keseluruh kelas seperti meneliti, hingga akhirnya dia kembali berkata

“so eun, kau bisa duduk dengan…” cukup lama kalimat itu terselesaikan hingga akhirnya kalimat itu terselesaikan dengan penyebutan sebuah nama “kim bum”.

So eun pun segera meneliti setiap penjuru kelas, untuk memastikan dimana tempat yang kosong untuknya duduk. Dan hanya ada satu bangku yang saat ini benar – benar tidak berpenghuni yaitu di bangku deretan paling belakang di pojok kanan. Di samping pria itu…pria yang tadi menabrak tubuh so eun. Dan guru kim menyebutnya dengan nama “kim bum” gumam so eun, sambil melangkahkan kakinya menuju bangku yang akan menjadi miliknya selama dia belajar disini nanti.

Seketika tubuh so eun benar  – benar seperti tidak bisa digerakkan. Ini benar – benar kali pertama bagi so eun berdekatan dengan lawan jenisnya kecuali ayahnya. Bahkan di sekolah terdahulu so eun pun tidak pernah duduk bersebelahan dengan teman pria. Apalagi sampai bersentuhan seperti tadi. Dan pria inilah yang melakukan hal pertama itu. Bahkan dengan orang yang disayangi so eun selain ayahnya pun so eun tidak pernah sedekat ini.

So eun memberanikan diri untuk sedikit menatap pria yang saat ini duduk di sampingnya.  Tentu saja so eun sedikit mempunyai keberanian, karena saat ini fokus pandangan kim bum tertuju pada entahlah apa itu.. yang pasti sesuatu yang ada dilangit biru. Pemandangan yang membuat pria itu begitu serius dan seperti tidak ingin mengalihkan pandangan matanya keluar jendela.

“berhenti menatapku… aku tidak ingin kau terpesona dengan wajah tampanku.”

Seketika semburat merahpun keluar dari kedua pipi putih milik so eun, hingga membuat gadis itu hanya mampu menundukkan kepalanya. Jantungnya benar – benar berdetak lebih cepat dari biasanya. So eun kira kim bum tidak akan menyadari apa yang tadi gadis itu lakukan, tapi ternyata dugaan itu salah besar.

Kim bum menyadari kelancangan so eun tersebut, hingga kini so eun bisa melihat dari sudut matanya ketika kim bum tengah mentapnya dengan pandangan yang tidak terdefinisikan.

“ma-maaf… ma-maafkan aku..” bisik so eun, dengan suara yang benar – benar pelan. Bahkan so eun sendiri pun tidak yakin jika kim bum mendengarnya. Sepertinya gadis ini benar – benar terlalu malu dengan apa yang baru saja dia lakukan tadi.

Kim bum segera mengalihkan pandangan matanya pada so eun yang masih terlihat menundukkan kepalanya, dan kembali memandangi langit biru dari balik jendela. Tanpa siapapun sadari ada seulas senyuman tersungging dari bibir tipis milik pria dingin itu. Walaupun hanya sekilas dan tidak terlihat oleh siapapun tapi itu benar – benar senyum yang sangat menawan.

-

-

-

Sudah hampir satu bulan so eun belajar di sekolah barunya, masih belum ada perubahan yang mengejutkan. Perubahan apapun, dari sebuah pertemanan sampai dengan percintaan. Sepertinya ini akan menjadi hal yang membosankan juga seperti sebelumnya. Apa tidak ada yang menyenangkan untuk so eun saat ini. Gadis itu sudah mati – matian merengek pada ayahnya agar memasukkan kembali dirinya ke sekolah, setidaknya belajar disekolah lebih menyenangkan dari pada harus selalu menjadi anak rumahan dengan harus mengikuti home schooling yang di jalaninya lebih dari dua tahun ini.

Bug… bug… bug…

So eun mengalihkan pandangannya pada sebuah buku yang sedari tadi menemaninya di tempatnya saat ini berada. Gadis itu sedang membaca sebuah novel romance sambil mendudukkan dirinya di bawah pohon besar yang sangat rindang. Sebuah suara aneh yang sepertinya terdengar tak jauh dari tempatnya saat ini.. yaa saat ini so eun sedang berada di halaman belakang sekolah, menyendiri.. tentu saja tidak, gadis ini hanya berusaha menikmati kesenderiannya saja. tidak bermaksud untuk menjaga jarak pada siapapun.

Bug… bug… braaakkkk… suara kali ini benar – benar lebih keras dari sebelumnya, hingga membuat so eun benar – benar terusik. Walaupun so eun sedikit takut, tapi gadis itu benar – benar melangkahkan kakinya untuk mencari dimana sumber suara itu berasal. Setidaknya so eun harus benar – benar meyakinkan hatinya bahwa suara itu bukanlah suara perkelahian atau apapun yang membahayakan.

“benarkah suaranya berasal dari sini?” tanya so eun pada dirinya sendiri. So eun mengehentikan  langkahnya, sedikit takut dan tidak yakin dengan apa yang harus dia lakukan. Benarkah so eun harus memastikan suara apa yang baru saja didengarnya tadi.

Hingga so eun baru sadari kini dirinya sudah berada di depan mulut pintu sebuah ruangan kosong yang cukup lebar tanpa pintu. Dan bisa so eun lihat dengan kedua matanya langsung apa yang sedang terjadi di dalam ruangan tersebut.

“a-appa.. yang, kaa-lian la-lakukan di..sini?” tanya so eun dengan terbata – bata dengan volume suara yang bisa di bilang lumayan cukup jelas di dengar oleh beberapa siswa yang ada di dalam ruangan tersebut. Dan suara so eun tadi pun sukses membuat semua mata siswa yang ada di dalam ruangan tersebut mengarahkan tatapan tajamnya pada so eun, karena sepertinya so eun sudah mengganggu aktifitas mereka.

Bodoh… so eun benar – benar bodoh, seharusnya so eun tidak perlu menimbulkan suara dan pergi saja dari tempat ini. Dengan seperti ini pasti so eun dalam masalah besar, apalagi kala saat ini so eun tengah bertemu pandang dengan sosok itu, sesosok pria yang sangat dingin dan terkesan menyeramkan.

So eun benar – benar merutuki kebodohannya dan harus segera berlari meninggalkan tempat tersebut sehingga dia tidak harus bermasalah dengan pria itu. Setidaknya so eun pasti akan tutup mulut dengan apa yang baru saja dilihatnya, karena yang pasti so eun benar – benar tidak ingin ambil resiko apapun untuk hal semacam itu.

So eun berlari meninggalkan tempat tersebut, pikirannya masih terbayang – bayang dengan kejadian yang baru saja dilihatnya. Seperti mimpi, pria itu benar – benar seperti sesosok monster yang sangat menyeramkan. So eun benar – benar tidak menyangka dengan apa yang baru saja di lihatnya. Benarkah pria itu melakukannya. Apa masalahnya sehingga pria itu sebegitu teganya memukuli siswa tadi. Tiga lawan satu benar – benar tidak masuk akal – pikir so eun, sambil mempercepat langkah kakinya.

“yaa… berhenti.” Deg… degup jantung so eun seakan berhenti berdetak saat ini juga. Pria itu mengejarnya. Mengejar so eun – ah, tentu saja bagaimana tidak. Bagaimana bisa so eun berfikir pria itu akan membiarkan so eun lolos begitu saja. mati kau so eun…

~~~

Kim bum yang terlihat benar – benar emosi langsung menumpahkan semua kemarahannya pada pria yang saat ini berada di depannya. Kim bum kembali mencengkram kerah kemeja pria tersebut dan kembali melemparkan pukulannya tepat diwajah pria tersebut dan dengan dorongan kuat dari kim bum. pria itu pun juga langsung terbentur ke dinding yang ada di belakang tubuhnya saat ini.

Belum merasa puas dengan apa yang telah dilakukannya, kim bum pun hendak melangkahkan kakinya mendekati siswa yang nampaknya sudah tidak berdaya itu. Tapi niatnya tersebut harus terhenti ketika dia mendengar sebuah seruan sialan yang benar – benar harus menghentikan aksinya saat ini “a-appa.. yang, kaa-lian la-lakukan di..sini?”.

Brengsekk.. maki kim bum dalam hati, siapa yang dengan berani menghentikan aksinya ini..apa orang itu ingin cari masalah dengan kim bum, apa orang itu tidak tau bahwa saat ini kim bum sedang menikmati permainannya. Dengan geram kim bum pun mengalihkan pandangan matanya kepada orang yang dengan beraninya mengusik kesenangannya. Dengan tatapan tajam dan sorot mata penuh ketidak sukaan, kim bum pun bisa melihat seorang gadis tengah bediri di depan mulut pintu ruangan tempat dirinya berada saat ini. Bisa kim bum lihat saat ini, bahwa tubuh gadis itu terlihat gemetar dan ketakutan.

“menyusahkan…” gumam kim bum ketika menyadari pergerakan dari gadis tersebut, sepertinya gadis itu ingin melarikan diri dari tempat ini.

“biarkan saja.. gadis itu tidak mungkin melaporkan hal ini pada siapapun.” Ucap min hoo, pada kim bum yang nampak terganggu dengan kehadiran gadis yang baru saja memergoki aksi bodohnya tersebut.

Sepertinya pernyataan yang diberikan lee min hoo pada kim bum itu tidak membuat kim bum mengalihkan pandangan matanya pada tempat dimana tadi gadis itu berdiri. Ada apa dengan kim bum, bukankah gadis itu sudah pergi, lalu apa yang dilihatnya sekarang.

Jung il woo yang menyadari perubahan pada diri sahabatnya itu, segera menyadari apa yang saat ini harus dilakukannya. Il woo tersenyum sebelum dia benar – benar mengeluarkan kalimatnya untuk sang sahabat “kau selalu memberikan kita berdua sisa… kim bum-ah.”

Tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya ini, kim bum pun segera mengarahkan pandangannya pada sang sahabat, pandangan bertanya – bertanya akan maksud dari ucapan sang sahabat.

“berhenti menatapku seperti itu dan pergilah sebelum gadis itu semakin jauh berlari…. biar kita berdua yang membereskan tikus kecil ini.” Perintah il woo, sambil mengedipkan sebelah matanya pada kim bum.

Min hoo yang baru saja menyadari akan maksud dari ucapan il woo pun segera mendorong tubuh kim bum agar sahabat yang sudah dianggapnya seperti adik kandungnya itu segera pergi meninggalkan tempatnya saat ini “sepertinya.. gadis itu benar – benar akan melaporkanmu pada kakakmu.”

Dan tanpa pikir panjang lagi, kim bum pun segera berlari untuk menyusul gadis yang dimaksud oleh kedua sahabatnya tadi. Sepertinya kim bum benar – benar tidak ingin kehilangan jejak gadis tersebut mengingat betapa cepatnya dia berlari untuk mengejar gadis yang sudah mengacaukan aksinya barusan.

Kim bum sedikit mengatur deruan nafasnya yang terdengar tidak beraturan akibat dia yang terlalu kencang berlari. Ada sedikit kelegaan dihatinya kala apa yang sedang dicarinya kini tengah berada didepannya. Ada sedikit senyum yang mengembang di wajah dinginnya kala melihat sesuatu itu benar – benar sudah berada didekatnya. Bukan sesuatu sebenarnya lebih tepatnya seseorang… dan hanya dengan dua kata “yaa… berhenti.” Sukses membuat orang tersebut menghentikan langkahnya.

Kim bum mendekati tubuh gadis yang saat ini berdiri tak jauh dari dirinya tersebut, dan ketika gadis tersebut sudah berada dekat dengan jangkauannya kim bum pun segera menarik lengan gadis tersebut dari belakang. “kau pikir aku bisa melepaskanmu begitu saja….” ada jeda pada kalimat yang terlontar dari mulut kim bum barusan, … “tentu saja aku tidak akan melepaskanmu dengan mudahnya.” Sambung kim bum sambil mengeratkan pegangannya pada lengan gadis tersebut.

Dengan tubuh gemetar, dan keringat yang mulai mengaliri dahinya gadis yang saat ini ada didepan kim bum yang tak lain adalah so eun tersebut pun akhirnya hanya mampu mengucapkan permohonan maaf, seperti yang biasa gadis itu lakukan jika gadis itu melakukan kesalahan. “ma-maafkan aku.” Tentu saja masih dengan kegugupan yang menderanya.

“apa kau ingin aku melakukan hal yang sama juga padamu.”

Deg… detak jantung so eun pun terasa seperti berhenti berdetak saat ini juga, bagaimana tidak.. bagaimana so eun akan bersikap biasa saja jika telinganya baru saja mendengar sebuah ancaman dari pria yang saat ini berdiri di belakangnya tersebut. Pria berhati dingin yang beberapa hari ini menjadi teman sebangkunya, yang tidak pernah sedikitpun berbicara padanya bahkan menganggap so eun tidak pernah ada. Dan kini pria itu dengan mudahnya mengucapkan kalimat ancaman pada so eun. Apa kim bum sebegitu teganya melakukan hal semacam itu pada seorang wanita – menyedihkan.

“ap..app.. appa, kau akan memukulku?” sebuah pertanyaan yang terasa berat di ucapkan oleh so eun, akhirnya harus dipaksakan juga keluar walau gadis itu begitu bergetar ketika mengatakannya.

Masih belum ada jawaban dari kim bum, pria itu masih menatap tajam punggung so eun yang sedikit bergetar. Kim bum kembali mendekatkan tubuhnya pada tubuh so eun. “kau pikir aku tidak berani melakukannya..”  ada nada meremehkan pada kalimat yang baru saja dikeluarkan kim bum tersebut.

Dan pernyataan itu tentu saja sukses membuat so eun membalikkan tubuhnya, sehingga kini so eun pun bisa melihat jelas wajah kim bum yang terlihat sangat marah. Pria itu menatap tajam so eun sehingga so eun harus kembali menundukkan kepalanya. So eun terlalu takut untuk sekedar menatap kembali sorot mata tajam yang ditujukan kim bum padanya.

“m-maafkan aku, aku benar – benar tt-tidak sengaja melihatnya. Ku-kumohon jangan pukul aku, aku janji tidak akan mengatakan pada siapapun tentang apa yang aku lihat. Aku tidak akan mencampuri apapun tentangmu dan jika kau mau aku juga akan mencari bangku lain untuk duduk agar kita tidak duduk berdua, setidaknya kau…”

So eun menghentikan kalimat panjangnya, entah sebelumnya darimana so eun bisa mempelajari kalimat panjang lebar yang sebelumnya jarang dia ucapkan pada siapapun itu. Namun kalimat itu pun terhenti kala sebuah sentuhan lembut yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya mendarat pada bibir kecilnya, sentuhan yang bahkan tidak pernah dia rasakan hingga usianya mencapai 17 tahun dan sekarang sentuhan itu benar – benar membuatnya semakin gugup.

Keringat dingin mengaliri tubuhnya, pipinya sedikit merona dan cairan bening dari kelopak matanya seraya ikut mengalir dengan indahnya. Ini ciuman pertamanya dan so eun mendapatkannya dari pria dingin bernama kim bum. Ciuman yang sangat hangat dan lembut namun terkesan menuntut, bahkan so eun pun di buat membeku dalam sekejap dengan ciuman tersebut. Tidak ada penolakan namun tidak ada balasan juga dari so eun. Akal sehat so eun seperti mati saat ini juga.

Beberapa saat kemudian so eun seperti tersadar dari kebekuan otaknya, dengan sekuat tenaga so eun pun mendorong tubuh kim bum hingga pria itu mundur beberapa langkah dari tubuh so eun akibat dorongan tubuh so eun yang terlalu kuat. “kau… kau keterlaluan, kau melakukannya..”

Air mata so eun semakin besar menerobos pertahanan kelopak mata indahnya, tidak menyangka pria yang ada didepannya ini begitu lancang melakukannya, kim bum pikir siapa dirinya yang sebegitu gampangnya mencium so eun, apa kim bum pikir so eun ini cewek gampangan.

“apa yang kalian lakukan disini?.. kalian berdua tidak mendengar bel sudah berbunyi sedari tadi.”

Baik so eun dan kim bum tau siapa yang saat ini tengah menegur mereka, dua anak ini hafal betul dengan suara tersebut mengingat mereka selalu mendengar suaranya. Suara siapa lagi jika bukan wali kelas mereka. dengan sigap so eun menghapus air matanya dan menghadap kearah suara tersebut.

Gadis itu segera membungkukkan badannya pada sang wali kelas dan langsung melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kim bum dan juga sang wali kelas, gadis itu bahkan tidak mempedulikan tatapan heran dari sang wali kelas. Sepertinya so eun tidak peduli jika wali kelasnya itu akan berfikir jika so eun adalah murid yang tidak sopan. Karena yang terpenting untuk so eun saat ini adalah pergi meninggalkan kim bum, setidakya so eun benar – benar harus menghindar dari kim bum mulai sekarang.

“yaa.. bocah, apa yang baru saja kau lakukan padanya?” tanya kim ha neul pada pria yang berdiri tidak jauh dari dirinya. dengan  nada suara tinggi, dan tatapan menyelidik. Sepertinya ha neul menyadari ada yang tidak beres diantara kim bum dan so eun, sebelum dirinya datang.

“aku tidak melakukan apapun…” jawab kim bum  santai, sambil melenggang melewati ha neul.

“jika kau berbuat ulah lagi, aku tidak akan segan – segan untuk menghukummu kim sang bum.” Teriak ha neul penuh emosi. Sepertinya ha neul sudah mulai bosan dengan tingkah murid sekaligus adik kandungnya ini. Sampai kapan bocah itu akan membuat masalah terus.

“aku tidak peduli.”

Untuk pertama kalinya kita melakukannya, benar – benar tidak bisa terbayangkan sebelumnya. Siapa sangka jika kejadian itu membuatku semakin terjerat dalam hatimu. Dan saat itulah aku semakin menyadari bahwa kau selalu ada didalam hatiku.

 

-

-

-

Seminggu sudah kejadian itu berlalu, kejadian dimana kim bum mencium so eun dan saat itu pula so eun benar – benar membuktikan ucapannya. Gadis itu tidak lagi duduk sebangku dengan kim bum. So eun juga terkesan menghindari kim bum, so eun selalu menghindar bertatap muka dengan kim bum. Setidaknya dengan seperti itu so eun bisa melupakan kejadian dimana kim bum sudah mencium so eun. Walaupun sebenarnya so eun selalu ingin bertegur sapa dengan kim bum, tapi rasa takut menyerang dirinya. So eun takut jika kim bum memang hanya ingin mempermainkannya saja waktu itu terbukti dengan perkataan teman – temannya yang mengatakan bahwa kim bum memang seorang pria yang suka mempermainkan hati wanita – mungkin so eun salah satunya.

“kau mau pulang bersama so eun-ah?” tanya shin hye teman sebangku so eun sekarang.

“ahh… kau pulang saja duluan shin hye-ya, aku harus menunggu ayahku. Ayahku bilang hari ini akan menjemputku.”

“hemzz… aku duluan yaa so eun-ah”

“hati – hati shin hye-ya.” Tutur so eun sambil melambaikan tangannya pada sang teman yang sudah melenggang santai meninggalkan ruangan kelas. So eun mengedarkan pandangannya, hampir seluruh teman sekelasnya sudah meninggalkan kelasnya. Hanya ada beberapa orang saja disana termasuk so eun dan juga pria itu.

So eun segera mengalihkan pandangannya ketika tidak sengaja dirinya bertemu pandang dengan pria tersebut. Segera di ambilnya ponsel pintarnya yang ada didalam tas. Sekedar untuk menghilangkan kegugupannya ketika tanpa sengaja matanya bertatapan kembali dengan mata tajam milik kim bum setelah hampir seminggu so eun tidak melakukannya.

~~~

Sedari tadi kim bum hanya meletakkan kepalanya di meja, pelajaran yang disampaikan oleh sang guru benar – benar tidak ada satupun yang di dengarnya, beruntung bangkunya ada dideretan yang paling belakang sehingga sang guru tidak akan melihat aksinya tersebut. Sehingga bel tanda pelajaran usai pun kim bum masih bersikap sama.

“sepertinya hari ini si brengsek itu akan menunggu kita di tempat biasa.” Bisik min hoo pada sang sahabat yang terlihat tidak bersemangat. Tidak seperti biasanya memang, hari ini kim bum terlihat berbeda min hoo dan il woo yang sudah menjadi sahabatnya sejak lama pun tentu saja menyadari perubahan yang dialami kim bum ini.

“ada apa denganmu, kau sakit? Kenapa tidak bersemangat seperti ini?”  min hoo yang sifatnya tidak jauh dengan kim bum, terlihat tidak sabaran dan keras sangat kesal ketika sang sahabat mengacuhkannya.

Il woo pun segera menghadapkan kebelakang ketika menyadari min hoo sudah tidak tahan lagi dengan sikap sang sahabatnya itu. Il woo segera memutar kursinya agar lebih mudah melihat kondisi kim bum, mengingat tempat duduknya memang ada didepan meja kim bum jadi il woo pun harus melakukan hal tersebut.

“ada apa denganmu? Ayahmu memukulmu lagi, atau kakakmu menceramahimu semalaman lagi?”

Tidak ada satupun dari pertanyaan sahabatnya itu yang dijawab oleh kim bum, sedari tadi pria itu masih belum mengangkat kepalanya dari atas meja. Sebenarnya sedari tadi yang dilakukan kim bum adalah memandangi seorang gadis yang duduk dua bangku dari samping bangkunya. Fokus matanya masih tertuju pada gadis tersebut, sampai tanpa sengaja tatapan kim bum pun bertemu pandang dengan si gadis yang sedari menjadi obyek pandangannya. Tentu saja kim bum tidak ingin mengalihkan pandangannya ketika si obyek juga memandangnya walaupun hanya sebentar.

“yaa.. si brengsek ini benar – benar menguji kesabaranku.” Geram min hoo sambil memukul pelan kepala kim bum saking gemasnya. Bukan kesal lebih tepatnya min hoo terlalu khawatir melihat sahabat dekatnya ini menjadi sedikit aneh.

Il woo yang selalu lebih peka dengan kondisi sahabat – sahabatnya itu sedari tadi mengamati apa yang dilakukan oleh kim bum dan tentu saja il woo melihat kemana arah pandang kim bum tadi. Sepertinya benar dugaan il woo selama ini jika kim bum mulai tertarik pada gadis itu.

“apa seseorang sedang memukul hatimu?” tanya il woo mencoba memancing reaksi sahabat yang sudah dianggapnya sebagai adik kecilnya itu.

Rangsangan yang tepat, sang korban pun akhirnya memakan umpan yang dikeluarkan oleh si pemancing dan tentu saja dalam kasus ini korbannya adalah kim bum.

Pria itu langsung menatap tajam pada il woo yang terlihat tersenyum penuh kemenangan, seperti ada ungkapan yang tersirat dari senyuman itu. Yaa, kena sekarang kau kim bum.

“apa maksudmu?” tanya kim bum yang tidak mengerti dengan pertanyaan yang baru saja di lontarkan oleh il woo barusan. Memukul hati kim bum, siapa? Heii.. jika yang kau tanyakan itu tentang pukulan tentu saja itu tidak pernah, satu kalipun kim bum belum pernah kalah dalam perkelahian.

“aku hanya asal bicara, kenapa wajahmu langsung berubah seperti itu. jangan – jangan kau….” il woo benar – benar menggoda kim bum rupanya. Setidaknya ingatan kim bum memang harus lebih peka tentang sahabatnya yang satu ini. Il woo terlalu pintar untuk dikelabuhi berbeda dengan kim bum maupun min hoo yang terlalu mengutamakan kekuatan fisik dari pada otaknya.

“sudahlah, kita harus segera menemui si brengsek itu.” Gusar kim bum mendapati godaan dari il woo, dengan kasar di raihnya tas yang ada di kursinya dan meninggalkan tempat duduknya. Tentu saja min hoo dan il woo pun langsung mengikuti kim bum dari belakang.

Dan sebelum kaki kim bum hampir keluar dari kelas, pandangan matanya kembali diarahkan kepada seseorang yang sedari tadi menjadi pusat perhatiannya. Dan tentu saja gara – gara gadis tersebut kim bum mendapat godaan dari il woo.

Sepertinya fokus gadis tersebut masih pada ponselnya, mengingat gadis itu tidak menyadari jika saat ini kim bum memperhatikannya dengan tatapan yang tidak terdefinisikan. Hingga akhirnya pria itu benar – benar meninggalkan kelas. Il woo pun memperhatikan gadis tersebut dan langsung tersenyum bahwa bukti itu sudah akurat untuk il woo menyimpulkan perasaan kim bum sekarang. Kim bum tertarik pada so eun.

Aku mulai menghawatirkannya, perubahan sikapnya. Tingkah dinginnya dan tatapan tajam dari sorot matanya. Aku takut mengatakannya tapi ini benar – benar yang aku rasakan. Ku harap aku bisa berbicara lagi dengannya, sekedar untuk mengucapkan kata maaf padanya.

~~~

Darah muda memang sangat mudah tersulut emosinya, jangankan dengan pukulan, bahkan hanya dengan lontaran kalimat yang tidak mengenakan saja pasti akan berujung dengan baku hantam dan saling dendam. Memangnya dengan seperti itu akan terlihat keren apa, bukannya keren yang ada malah merugikan.

Tapi aturan seperti itu tentu saja tidak ada didalam kamus kim bum dan kawan – kawannya. Menjadi pemenang tentu saja akan menjadi yang terkeren dan tentu saja yang kalah akan jadi pecundang, aturan seperti itu tentu saja masih berlaku untuknya. Buktinya saat ini kim bum sudah berada ditempatnya dimana dia akan memulai pertarungannya dengan musuh bebuyutannya tentunya. Kim bum sendiri juga heran, kenapa orang ini masih tidak jera juga menantang kim bum berkelahi. Padahal selama ini dirinya tidak pernah menang melawan kim bum.

“kupikir kau takut dengan tantanganku dan tidak akan datang, ternyata nyalimu besar juga.”

Kim bum yang baru saja datang, segera melemparkan senyuman terindahnya. Menurut para teman – teman wanitanya disekolah senyum kim bum itu memang indah dan menawan, tapi bagi lawan – lawan kim bum tentu saja senyum itu senyuman merendahkan.

Kim bum mematikan motornya dan segera melepas helm yang sedari tadi dikenakannya. Begitu pula min hoo dan il woo. Kim bum bisa melihat beberapa siswa yang mengenakan seragam tak sama dengannya tengah menghadang jalannya. Sebenarnya bukan menghadang, lebih tepatnya kumpulan siswa didepan kim bum ini sengaja menunggu kedatangan kim bum.

Sorot mata tajam kim bum fokus pada pria yang berdiri tepat di hadapannya sekarang. Jika dilihat dari penampilan dan mendengar gaya bicaranya tentu saja pria yang ada dihadapan kim bum ini adalah ketua dari kumpulan para siswa yang sedang menghadang kim bum dan teman – temannya.

“mau sampai kapan kau akan terus berada diatas motormu itu, kau takut berhadapan denganku.” Nada bicara yang terdengar dingin dan menantang kembali keluar dari mulut sang ketua. Sepertinya pria ini benar – benar memiliki dendam yang besar pada kim bum.

“yaa.. ki bum-ah, sebaiknya kau pergi saja dan bawa kembali teman – temanmu itu. Akui saja bahwa kau dan teman – temanmu itu pasti selalu kalah menghadapi kami. Apalagi yang akan kau lakukan sekarang.” Teriak il woo, setidaknya ki bum memang harus berpikir dua kali untuk selalu menantang kim bum berkelahi. buktinya dari perkelahian – perkelahian sebelumnya kim bum selalu menjadi pemenang tanpa ada noda pukulan pun yang hinggap di wajahnya, sebaliknya ki bum pasti akan mendapat luka – luka memar yang memprihatinkan.

“aku muak dengan ocehanmu, lebih baik kita mulai saja sekarang.” Tantang ki bum yang semakin kesal dengan ocehan il woo yang dinilainya semakin merendahkan harga dirinya sebagai seorang pria.

“kau benar – benar mau cari mati yaa?” tanya min hoo tidak kalah antusiasnya. Sedangkan kim bum, pria itu segera turun dari motornya. Dipandangnya ki bum yang terihat emosi. Jika dilihat dari segi jumlah tentu saja kelompok kim bum akan kalah bayangkan saja 3 banding 13 bagaimana bisa akan menang. Terlebih semua teman – teman ki bum membawa tongkat bisbol sedangkan kim bum, min hoo dan il woo hanya bermodalkan tangan kosong. Tapi, tentu saja kim bum tidak takut biasanya juga lebih banyak – pikirnya.

“sepertinya kali ini wajahmu itu akan semakin memburuk.” Cibir kim bum ketika mendekati ki bum. Dan ucapan kim bum pun tentu saja dihadiahi sebuah pukulan oleh ki bum. Tapi untungnya kim bum bisa segera menghindar, jangan sebut nama kim bum jika pria seperti ki bum yang setiap hari dikalahkannya berhasil menyentuh wajahnya.

Baku hantam diantara dua kubu pun kini semakin tak terelakkan, ki bum benar – benar tidak menyerah walau berkali – kali dirinya mendapatkan pukulan dari kim bum, sedangkan kim bum masih tetap bisa menghindari setiap pukulan dari ki bum dan teman – temannya. Walaupun terlihat kewalahan tapi tetap saja kim bum masih bisa mengatasinya.

Beda lagi dengan il woo dan min hoo, dua temannya itu nampaknya sudah benar – benar kelelahan melihat beberapa luka nampak menghiasi wajah tampan keduanya. Sepertinya benar dugaan kim bum diawal, bahwa jumlah mereka tidak sebanding, jika begini terus bisa – bisa kim bum pun akan kalah.

Kim bum yang melihat ki bum sudah mulai kewalahan, segera berlari membantu il woo yang mulai diserang habis – habisan oleh teman – teman ki bum, tanpa ampun kim bum pun segera menghajar tiga orang yang menghajar il woo. Dan tentu saja dalam sekejap kim bum pun bisa melumpuhkan ketiganya. Dan ketika hendak menolong il woo untuk bangun, tak sengaja mata kim bum pun terfokus pada tubuh seseorang yang berjalan mendekat kearahnya.

Astaga bagaimana bisa gadis itu melalui jalan ini, bukankah ini jalanan yang sepi dan jarang sekali orang yang melalui jalanan ini. Tapi kenapa gadis itu bisa melalui jalan ini – pikir kim bum

~~~

Hampir dua puluh menit so eun memandangi ponselnya dan menunggu kabar dari sang ayah, tapi ketika mendapat kabar dari sang ayah, so eun harus terpaksa menahan rasa kecewanya karena sang ayah tidak bisa menjemputnya. Seharusnya jika memang ayahnya tidak bisa menjemput kenapa tidak mengatakan dari awal, setidaknya so eun bisa pulang bersama denagan shin hye.

“baiklah, sepertinya naik bus akan lebih menyenangkan.” Gumam so eun sambil beranjak dari tempat duduknya.

Tidak butuh waktu lama untuk so eun sampai di halte bus, hanya butuh waktu lima menit dan bus pun sudah datang. Setelah duduk di bangku paling belakang ingatan so eun pun kembali pada kejadian dimana kim bum dengan tiba – tiba menciumnya.

So eun menghela nafasnya, rasanya kepalanya terasa pusing jika harus memikirkan hal itu. Kenapa kejadian itu tidak bisa hilang dari pikiran so eun saat ini dan kenapa nama kim bum selalu muncul di benaknya. Harusnya so eun membenci kim bum yang dengan seenaknya mencium bibirnya.

“kenapa aku memikirkannya.. yaa,, kim so eun kau harus sadar, jangan memikirkan pria itu lagi.” Rutuk so eun dalam hati pada kebodohannya.

Bus pun berhenti dan so eun segera turun, so eun harus berjalan sebentar untuk sampai di rumahnya. Komplek perumahan tempat tinggal so eun memang tidak bisa dilewati kendaraan umum seperti subway, maka dari itu dia harus sedikit berjalan kaki untuk sampai ke rumahnya. Sebenarnya sang ayah sudah menyuruh so eun untuk menghubungi sopir, tapi karena so eun menolak akhirnya sang ayahpun mengijinkan so eun untuk naik kendaraan umum.

Baru beberapa menit so eun berjalan, rasanya seluruh badannya sudah lemas. Astaga, pantas saja ayahnya selalu mati – matian melarangnya untuk berjalan kaki ataupun melakukan hal yang berat tentu saja alasannya karena ini.

Peluh membanjiri tubuh so eun, nafas gadis itu mulai tersengal – sengal akibat kelelahan padahal baru sebentar so eun berjalan.

“ya tuhan, bagaimana bisa tubuhku selemah ini.” Batin so eun sambil menyeka peluh yang mengaliri dahinya. Terik matahari yang menyengat semakin menambah pening di kepala so eun, rasanya gadis itu benar – benar tidak sanggup lagi untuk berjalan. Tubuhnya benar – benar sudah lemas, saking lemasnya gadis itu pun tidak menyadari jika dihadapannya sekarang sedang terjadi baku hantam antar siswa.

So eun bahkan seperti tidak mempedulikan hal itu dan masih terus saja berjalan, hingga so eun sedikit tersentak kala mendapati seseorang tengah menarik lengannya dan mengajaknya berlari. Astaga.. kenapa orang ini membawa so eun berlari, apa pria ini tidak tau jika lelah sedikit saja so eun bisa pingsan.

“be-berhenti, ku-kumohon berhenti.” Racau so eun sambil memegangi dadanya yang mulai sesak dengan tangan kirinya yang bebas dari pegangan orang yang mengajaknya berlari.

“kita harus cepat pergi dari tempat ini jika tidak kita bisa mati.” Teriak orang yang menarik lengan so eun. So eun yang merasa kenal dengan suara orang tersebut segera mendongakkan kepalanya dan mencoba meyakinkan dirinya bahawa orang itu adalah kim bum.

“kim…bum, ap-appa…”

“kita harus cepat pergi dari sini, sebelum mereka mengejar kita.” Paksa kim bum, sambil menarik lengan so eun  dan mulai berlari kembali. Setidaknya dengan menghindar seperti ini so eun tidak akan di serang oleh ki bum dan teman – temannya – pikir kim bum.

“aku bisa mati, jika terus berlari.” Ucap so eun sambil melepaskan pegangan tangannya dari tangan kim bum.

“apa maksud…” kim bum menghentikan kalimatnya, kala mendapati tubuh lemas so eun hampir saja jatuh ke aspal jika saja kim bum tidak sigap untuk menahannya. Gadis ini pingsan, bagaimana bisa – pikir kim bum.

Kim bum segera mengangkat tubuh so eun, dan berusaha membawa tubuh so eun untuk di baringkan. Kim bum begitu khawatir  ketika mendapati tubuh so eun yang terkulai lemas tak sadarkan diri ketika saat ini kim bum membaringkan tubuh gadis itu di sebuah bangku panjang yang terletak di bawah pohon sebuah taman.

Ada apa dengan gadis ini, kenapa tiba – tiba saja pingsan. Apa gadis ini sakit atau gadis ini kelelahan, bukankah so eun dan kim bum baru saja berlari bagiamana bisa hanya dengan berlari sebentar saja so eun bisa pingsan – pikir kim bum yang nampak bingung dengan kondisi so eun saat ini.

“apa yang harus kulakukan… ya tuhan, kenapa gadis ini bisa pingsan.” Gumam kim bum dengan frustasi. Pria itu benar – benar nampak bingung sekarang, setidaknya dia harus membawa gadis ini kerumahnya. Karena jika tidak, pasti orang tua so eun akan khawatir nanti. Tapi dimana rumah so eun, kim bum bahkan tidak tau tempat tinggal so eun. Lebih baik kim bum menunggu so eun sadar saja, berdua dengan gadis ini tentu akan menyenangkan walaupun kondisinya tidak tepat tapi setidaknya kim bum hanya sebentar saja menunggu gadis ini sadar, jika memang dalam waktu yang panjang so eun tidak sadar mungkin lain lagi ceritanya nanti. Tapi untuk saat ini biarkan kim bum bersikap sedikit egois.

Kim bum mendudukkan dirinya disamping kepala so eun, dipandanginya wajah gadis yang terlelap disampingnya ini. Dengan pelan dan hati – hati, kim bum mengangkat kepala so eun dan menidurkannya dipangkuannya. Bisa kim bum rasakan saat ini betapa dinginnya tubuh so eun dan betapa pucatnya wajah so eun sekarang. Sepertinya so eun memang sedang sakit.

Entah mendapat keberanian dari mana kim bum saat ini, sehingga jemari tangannya dengan lincahnya membelai pipi halus so eun dan tentu saja ini sangat menguntungkan bagi kim bum mengingat so eun yang tidak akan menolak ataupun menghindar dengan aktivitas yang kim bum lakukan saat ini. Sedikit garis senyuman mengembang dibibir tipis milik kim bum, sepertinya benar kata il woo bahwa seseorang tengah memukul hatinya dan tentu saja seseorang itu adalah so eun.

Kim bum sendiri tidak mengerti bagaimana bisa dirinya langsung terpesona pada gadis seperti so eun hanya dengan sekali menatapnya. “bayanganmu selalu menghantui hatiku.” Gumam kim bum sambil terus mengulas senyum manisnya. Rasa damai menghinggapi hati kim bum saat ini tidak seperti hari – hari kim bum biasanya yang selalu dipenuhi dengan kedinginan dan juga rasa penat.

Hembusan angin taman yang menerpa wajahnya dan juga dengan adanya so eun dipangkuannya begitu membuat kim bum terlena akan indahnya dunia. Jika dengan kehadiran so eun kim bum bisa tersenyum dan sedamai ini kenapa tuhan tidak mempertemukan keduanya dari dulu – pikir kim bum.

Senja hampir menunjukkan sinarnya dan kedua anak manusia ini masih berdiam diri ditempatnya. Tidak ada sesuatu pun yang bisa dilakukan keduanya terlebih sang gadis yang masih asyik dengan tidur lelapnya. “sampai kapan kau akan terus pingsan dan menahanku disini.” Gumam kim bum sambil terus memandangi wajah tenang so eun yang masih terlelap.

Sudah hampir dua jam kim bum berada di taman ini hanya untuk menunggu so eun sadar, sudah bisa ditebak oleh kim bum jika dirinya pulang nanti pasti kakaknya akan menceramahi dirinya panjang lebar karena pulang terlambat. Belum lagi ocehan kedua temannya yang dia tinggal lari hanya untuk membawa so eun pergi agar tidak terlibat dalam perkelahiannya tadi. Kim bum bahkan tidak mempedulikan keadaan sahabat dan motor kesayangannya hanya untuk mengurusi so eun. Dan jangan pernah lupakan ki bum, pria itu pasti akan mencemooh kim bum karena menganggap kim bum takut padanya hanya dengan kim bum berlari meninggalkan perkelahian tadi.

“eomma,,,” rintihan dari seorang gadis yang sedang terbaring dipangkuan kim bum itu pun membuat kim bum sedikit terkejut dari lamuanannya. Gadis ini sudah sadar rupanya, kenapa lama sekali.

Walau berat tapi so eun tetap berniat membuka matanya, pusing dikepalanya benar – benar masih terasa. Tubuhnya terasa sakit dan dingin sepertinya menusuk ke tulang – tulangnya. Rasanya lelah sekali dan gadis ini ingin sekali beranjak dari tempat sekarang.

“kau sudah bangun?”

So eun segera melebarkan matanya kala mendengar suara tidak asing bertanya padanya. Kenapa suara pria ini lagi – pikir so eun. So eun segera membuka matanya lebar – lebar kala mendapati dirinya tengah berada di taman yang tak jauh dari rumahnya. Kenapa so eun bisa berada disini, dan apa – apaan ini. Kenapa so eun bisa tertidur dipangkuan pria dingin ini apa yang terjadi pada so eun sebenarnya – heran so eun.

“k-kenapa.. ak-aku bisa disini?” tanya so eun terbata – bata, sambil berusaha bangun dari tidurnya.

“kau pingsan.”

So eun menghembuskan nafasnya berat, sepertinya dia sudah ingat apa yang terjadi padanya sehingga dia bisa berada ditempat ini bersama dengan pria dingin ini. “lagi – lagi aku menyusahkan orang lain.” Gumam so eun dengan nada pelan sambil menundukkan kepalanya, sepertinya gadis ini tidak ingin kim bum mendengar suaranya. Walaupun kenyataanya kim bum bisa mendengar suaranya tersebut.

So eun segera bangkit dari tempatnya dan menghadap kim bum yang terlihat masih bingung dengan kalimat yang tadi terlontar dari bibir so eun. “terimakasih sudah menjagaku ketika aku pingsan, dan maaf sudah merepotkanmu.” Ucap so eun sambil membungkukkan badannya sebelum akhirnya gadis itu melangkahkan kakinya meninggalkan kim bum yang masih terdiam di tempatnya sambil memandang punggung so eun yang semakin lama mulai menjauh dari pandangannya.

Ada apa dengan gadis itu, kenapa setelah bangun dari pingsannya gadis itu berubah menjadi aneh. Apa karena kim bum menolongnya dan gadis itu tidak suka. Tidak mungkin, jika memang tidak suka tentu saja so eun tidak mengucapkan terimakasih pada kim bum. Lalu kenapa? Kenapa so eun berubah menjadi aneh dan terlihat sedih.

Rasa ini semakin bertambah ketika kau menolongku disaat senja itu. Rasanya aku benar – benar takut jika kau akan meninggalkanku, ketika kau mengetahui apa yang terjadi padaku. Aku berharap kau tetap akan menyimpan namaku didalam hatimu walaupun nanti aku tidak akan pernah memilikimu.

 

-

-

-

Kim bum POV

Ini sudah minggu ketiga saat aku terakhir kali bertemu dengan so eun ditaman itu, menunggu gadis itu dari sadarnya, dari pingsannya. Hari ini gadis itu tidak berangkat ke sekolah, sejak kejadian ditaman sore itu so eun tidak pernah lagi menampakkan wajahnya disekolah, kakak bilang so eun tidak akan pernah lagi datang kesekolah dan ketika aku tanyakan alasannya kenapa kakakku hanya menjawab bahwa itu bukanlah urusanku.

Entah kenapa hari – hari tanpa so eun rasanya tidak menyenangkan lagi bagiku. Candaan min hoo dan il woo rasanya tidak mampu membuatku terhibur seperti biasanya. Memukuli siswa lain yang lemah pun rasanya sudah tidak menyenangkan lagi bagiku. Padahal jika sedang kesal seperti ini aku lebih suka menindas teman – temanku yang terlihat lemah. Tapi hari ini rasanya enggan sekali untuk melakukan apapun. Alhasail saat jam istirahat pun aku hanya bisa menghabiskan waktu diatap sekolah ditemani dengan dua sahabat setiaku ini.

“ada apa lagi denganmu? beberapa minggu ini kau terlihat tidak bersemangat.”

Aku memandang il woo yang terlihat mengkhawatirkanku, seperti biasa sahabatku yang satu ini selalu saja mampu membaca perubahan yang ada didiriku walau sekecil apapun.

“kau sakit?” tanya min hoo yang sepertinya juga terlihat khawatir terhadap kondisiku. Sedangkan aku hanya bisa menggelengkan kepala atas pertanyaan – pertanyaan yang dilontarkan oleh kedua sahabatku ini.

“lebih baik kau datangi saja rumahnya dan kau tanyakan alasanya kenapa dia tidak lagi bersekolah.”

Kutolehkan kepalaku pada il woo yang baru saja melontarkan pernyataan yang sukses membuatku tersentak dengan kalimatnya barusan. Lagi – lagi, il woo bisa tau apa yang saat ini sedang aku pikirkan. Aku sempat berfikir bahwa il woo ini sepertinya punya kelebihan membaca pikiran orang.

“jadi sedari tadi kau sedang memikirkan gadis itu?” tanya min hoo dengan polosnya. Dan aku pun hanya bisa menanggapi pertanyaan min hoo tersebut dengan anggukan. Berbeda dengan il woo yang selalu terlihat tau min hoo jauh berbanding terbalik.

“sebaiknya kau memang harus segera menemuinya jika kau ingin kembali normal seperti dulu.” Saran il woo.

Aku kembali merenungkan saran il woo, mungkin ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh sahabat jeniusku ini. Mungkin akan lebih baik jika aku mendatangi rumahnya dan menanyakan apa alasan so eun tidak kembali lagi ke sekolah. Tapi bagaimana bisa aku mendatangi rumahnya jika aku sendiri tidak tau alamat rumahnya.

Aku mengacak kasar rambut kelamku yang saat ini tidak beraturan, nafas berat kuhembuskan sebagai pelampiasan kegundahan hatiku. Sepertinya aku dan so eun memang tidak akan ditakdirkan bersama.

“jangan pernah menganggapku bodoh lagi sekarang.. karena mulai hari ini sudah terbukti bahwa akulah yang terpintar diantara kita bertiga.” Sombong min hoo sambil menyodorkan selembar kertas putih berbentuk persegi kearahku.

Kuarahkan pandanganku pada selembar kertas yang saat ini sudah berada ditanganku ini, dan ternyata di dalam lembar kertas tersebut terdapat sebuah rangkaian huruf – huruf. Dan bisa kim bum simpulkan bahwa itu adalah sebuah alamat. Segera kualihkan pandanganku pada kertas tersebut dan menatap min hoo bergantian. Dengan senyum khasnya pria itu berkata bahwa dirinya menanyakannya langsung pada kak ha neul.

“bagaimana bisa.” Gumamku tak percaya

Min hoo segera menepuk pelan pundakku dan tersenyum ke arahku. “jangan kau pikirkan bagaimana bisa aku mendapatkannya. Yang terpenting sekarang.. cepat temui gadis itu.”

Aku segera mengangguk semangat ke arah min hoo, dan tak lupa memberikan sebuah senyuman manis juga pada il woo sebelum beranjak dari tempat dudukku dan berlari pergi meninggalkan kedua sahabatku yang sepertinya terus memperhatikanku dari tempatnya. Dan tentu saja aku pun tak lupa mengucapkan terimakasih kepada keduanya dengan sebuah teriakan keras sebelum akhirnya aku benar – benar pergi meninggalkan mereka.

~~~

Segera kulajukan motorku dengan kecepatan yang bisa dibilang sangat cepat, aku bahkan tidak peduli jika sesuatu yang berbahaya bisa saja terjadi padaku. Entahlah, yang ada dipikiranku saat ini adalah aku ingin segera bertemu dengan gadis itu, gadis yang sudah mampu melumpuhkan hatiku dan mencairkan kedinginanku. Apapun yang terjadi dan bagaimanapun keadaannya aku akan langsung menyatakan perasaanku padanya.

Aku segera memasuki jalanan komplek perumahan tempat so eun tinggal, dan jalanan yang kulalui mengingatkanku akan kejadian tiga minggu yang lalu. Sekarang aku mengerti kenapa saat itu so eun berada ditempat ini, tentu saja.. karena jalanan ini adalah jalan menuju rumahnya, kenapa hal seperti ini bahkan tidak terfikir lagi olehku. Kemana otakku yang biasanya bisa berfikir lebih cepat dari yang lainnya.

Motor yang tadinya melaju dengan kencang kini harus kuturunkan kecepatannya kala mataku melihat tempat dimana dulu aku menunggu so eun tersadar dari pingsannya. Taman itu, tempat dimana selama dua jam aku menunggu so eun terbangun dari lelapnya. Tapi bukan tempat itu yang menjadi pusat perhatianku sekarang melainkan dua orang yang berada disana. Dua orang yang saling  berjauhan. Seorang gadis dan seorang pria dan kim bum sangat mengenal kedua orang tersebut. “apa yang mereka lakukan ditempat ini?” gumam kim bum dalam hatinya, sambil menghentikan motornya tak jauh dari taman tersebut.

Aku memarkirkan motorku tak jauh dari tempat tersebut, masih ingin mengamati apa yang dilakukan oleh keduanya mungkin dengan begini aku bisa mengetahui ada hubungan apa diantara keduanya. Baru beberapa menit aku menunggu, sesuatu yang tidak kupahami pun terjadi. Seorang gadis yang kuyakini adalah so eun tengah berlari menjauhi taman tersebut dalam keadaan menangis meninggalkan seorang pria yang tadi berdiri tak jauh darinya. Kenapa? Apa yang terjadi? Apa mereka bertengkar?.

Kim bum POV End

 

-

-

-

 

Senja sore itu mengingatkan so eun akan kejadian tiga minggu yang lalu, ketika dirinya terbangun dari pingsannya dan menyadari bahwa selama dirinya pingsan gadis itu tengah tertidur dipangkuan seorang pria bernama kim bum. Pria yang berhati dingin dan dengan beraninya mencuri ciuman pertamanya.

Entah kenpa hari ini rasanya so eun ingin kembali menikmati senja sore itu ditaman yang tak jauh dari rumahnya. Mungkin untuk sekedar mengingat kebersamaannya dengan kim bum. Jangan tanyakan alasannya mengapa so eun ingin kembali mengingat kebersamaannya dengan kim bum karena so eun sendiri pun tidak tau jawabannya.

Sudah hampir tiga minggu so eun tidak pergi kesekolah, sejak kejadian dimana dirinya pingsan tubuh so eun menjadi sangat lemah dan dengan terpaksa so eun harus menerima perintah ayahnya yang tidak mengijinkan lagi dirinya untuk ke sekolah. Dan selama tiga minggu itu juga so eun harus puas dengan berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun.

“kau bertingkah lagi sekarang?”

So eun yang sedari tadi menutup matanya untuk merasakan desiran angin yang menerpa wajahnya dan menikmati keindahan sinar senja, mau tidak mau harus membuka matanya kala dia mendengar sebuah suara angkuh yang sangat tidak ingin didengarnya.

“apa lagi yang kau lakukan sekarang? Kenapa kau tidak pernah menuruti perkataanku?”

“kumohon tinggalkan aku, aku tidak ingin bertengkar lagi denganmu.” nada memohon terdengar dari jawaban so eun pada seseorang pria yang berdiri dibelakangnya. Tanpa menoleh sedikitpun so eun sudah tau siapa yang ada dibelakangnya saat ini.

“jika aku bisa, tentu saja aku akan pergi dan tidak akan mempedulikanmu sekarang. Tapi bukankah kau tau sendiri bahwa aku tidak bisa melakukannya.” Ucap pria itu dengan nada tinggi, pria itu menghela nafasnya panjang sebelum melanjutkan kalimatnya “bukankah selama ini kau sudah tau bahwa aku pun tidak bisa lepas dari bayang – bayangmu, karena dirimu aku tidak punya kebebasan. Karena dirimu aku tidak bisa melakukan apapun. Semuanya karena dirimu dan sekarang kau memintaku untuk pergi meninggalkanmu… kau ingin melihat aku mati yaa..?” teriak pria itu lagi, kali ini nada bicaranya terdengar meninggi. Sepertinya pria itu sudah lelah dengan tingkah so eun yang seperti ini.

Sedari tadi so eun mendengar semua teriakan pria yang ada dibelakangnya, tapi tidak ada satu kalimatpun yang terlontar dari bibir mungilnya hanya untuk sekedar memberi respon pada si pria. Bahu so eun naik turun, kala so eun menahan tangisnya. Bagaimana bisa tidak menangis jika saat ini orang yang paling disayanginya tengah melontarkan kalimat yang benar – benar menusuk hatinya. Jadi selama ini so eun benar – benar menyusahkan semua orang dengan keadaannya yang seperti ini.

“mau sampai kapan kau akan menyiksaku? Aku lelah sekarang… mendapatkan pukulan yang bertubi – tubi di badanku bahkan tidak terasa sakitnya, tapi rasa sakit dihatiku ini benar – benar tidak bisa terobati lagi.”

Tangis so eun pecah seketika, air mata itu tidak bisa terbendung lagi. Tidak terdengar lagi suara pria yang ada dibelakangnya saat ini, so eun yakin pria tersebut masih ada dibelakangnya. Rasanya so eun ingin menghambur kedalam pelukan pria tersebut dan mengatakan beberapa kalimat yang selama ini ingin sekali gadis itu lontarkan. Tapi tentu saja so eun tidak bisa melakukannya sekarang mengingat betapa emosinya pria itu saat ini. Tentu saja ini akan menambah sakit hati pria tersebut.

“maafkan aku… aku menyayangimu.” Gumam so eun hampir tidak terdengar oleh siapapun dan dengan cepat kakinya berlari meninggalkan taman tersebut dan tidak mempedulikan bagaimana respon dari pria yang disayanginya itu. sambil, berkali – kali menghapus air matanya yang terus terjun dari mata indahnya.

So eun juga tidak mempedulikan tatapan tajam pria yang sedari tadi memperhatikannya dari kejauhan. Hingga pria itu segera melepas helmnya dan menuruni  motornya. Pria yang tidak lain adalah kim bum tersebut segera berlari menuju taman tempat dimana seorang pria masih berdiri di tempatnya.

Kim bum harus segera menghampiri pria tersebut dan menayakan apa hubungan yang terjalin diantara pria itu dengan so eun, sehingga dengan beraninya pria itu membuat so eun menangis. Apa pria itu ingin mendapatkan pukulan telak dari kim bum lagi. Lagi? Memangnya kim bum pernah memukul pria tersebut? Kapan? Dimana? Dan bagaimana bisa?

“bagaimana bisa seorang pria bisa membuat seorang gadis lemah menangis.” Ketus kim bum kala dirinya sudah berada didekat pria yang menurut kim bum telah membuat so eun menangis.

Si pria yang disapa kim bum tadi pun segera membalikkan tubuhnya untuk menghadap kim bum, dan tentu saja kim bum sudah tidak terkejut ataupun merasa asing lagi dengan sosok yang saat ini berdiri dihadapannya mengingat sudah berkali – kali kim bum bertemu dengan pria tersebut. Hanya saja yang masih menjadi pertanyaan di benak kim bum saat ini adalah, ada hubungan apa diantara pria ini dengan so eun. Sehingga pria ini dengan teganya membuat so eun menangis. Kekasih so eun kah?

Pria itu tidak menanggapi kalimat kim bum, dan hendak berlalu meninggalkan kim bum jika saja kim bum tidak menahan lengan pria tersebut. Walaupun kim bum bisa melihat wajah kaget pria tersebut, tapi kim bum tidak tentu saja tidak akan mempermasalahkan hal tersebut.

“katakan apa hubunganmu dengan so eun, sehingga dengan beraninya kau membuatnya menangis?” tanya kim bum dengan nada tinggi, sepertinya kim bum benar – benar sudah disulut emosi sekarang. Sedangkan pria yang ditanya bukanya menjawab malah tersenyum meremehkan.

“yaa.. cepat katakan brengsek.. atau kau ingin aku memukulmu lagi, dan membuat wajahmu itu benar – benar hancur.” Ancam kim bum sambil mencengkram kerah baju pria tersebut. Dan hendak melayangkan tinjunya ke wajah si pria. Namun kim bum segera menahan tinjunya itu diudara kala mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh pria aneh didepannya ini.

“jangan hanya menghancurkan wajahku, lebih baik kau bunuh saja aku. Mungkin itu lebih baik untukku.” Jawab pria itu dengan entengnya, dan tentu saja jawaban dari pria tersebut mampu membuat kim bum semakin kebingungan dan tanpa sadar melepaskan cengkraman dari si pria yang ada didepannya ini.

Bagaimana bisa pria ini berkata seperti itu, bukankah biasanya pria tersebut tidak akan pernah mengalah dari kim bum walau kim bum memukulinya habis – habisan. Tapi kenapa sekarang pria ini jadi lemah seperti ini.

“yaa.. kim ki bum apa maksudmu? Baiklah, Aku tidak mau tau apa masalahmu sekarang. Yang aku inginkan sekarang adalah penjelasan akan hubunganmu dengan so eun. Aku hanya ingin tau itu saja. dan jika kau ingin mati, aku akan dengan senang hati membunuhmu jika kau membuat so eun menangis lagi,,,, jadi cepat katakan apa hubunganmu dengan so eun.” Teriak kim bum dengan kesalnya. Kalimat panjang lebar dari kim bum benar – benar dikeluarkannya untuk pria yang sudah menjadi musuh bebuyutannya selama ini – kim ki bum.

Ki bum tidak menanggapi pertanyaan panjang lebar dari kim bum, pria itu lebih memilih pergi meninggalkan kim bum. Namun baru beberapa langkah pria itu berjalan, ki bum kembali menghentikan langkahnya  dan berkata “so eun adalah orang yang paling kusayangi di dunia ini.” Sebuah hembusan nafas yang terdengar berat menjadi jeda dari kalimat yang ki bum keluarkan barusan “dan kau tidak perlu ikut campur dengan masalah kami, karena aku tidak akan membiarkanmu mendekati so eun.” Sambung ki bum dengan dinginnya, kemudian berlalu meninggalkan kim bum yang nampak terpaku ditempatnya.

Tentu saja kim bum shock dengan apa yang baru saja didengarnya, so eun adalah gadis yang disayangi ki bum. itu berarti so eun adalah kekasih ki bum, bagaimana bisa ini terjadi. Astaga, bagaimana bisa kim bum menjadi sebodoh ini. Bagaimana bisa dia menyukai gadis yang ternyata adalah kekasih dari rivalnya. Ini benar – benar diluar dugaan, jika saja kim bum mengetahuinya tentu saja kim bum akan segera membuang jauh – jauh perasaannya ini.

~~~TBC~~~

Real Love

Posted: 13 November 2013 in FF BUMSSO
Tag:

real love

Cast: Kim sang bum, Kim so eun
Support cast: Moon geun young, Go ahra

Genre: Sad, Romantic

Type: OS

Ini benar – benar cinta, bukan hanya sekedar kekaguman atau perasaan sesaat atau apalah itu namanya. Sampai kapan kau akan menutup matamu. Apa masih belum cukup semua yang aku lakukan ini, apa kau masih tidak percaya bahwa aku ini benar – benar menyukaimu. Harus bagaimana lagi aku membuktikannya padamu, agar kau tau bahwa perasaanku ini benar adanya.

-
-
-

Air mata itu seakan – akan tidak mau berhenti mengalir dari kedua mata indah milik seorang gadis cantik yang saat ini tengah terbaring di tempat tidur nyamanya. Hatinya sakit, sangat sakit. Pasti memang sakit sekali. Bagaimana tidak akan sakit jika pria yang selama ini dia sukai ternyata telah mendeklarasikan status hubungannya pada semua orang.

“ini hanya mimpi kan? Ini semua tidak nyata kan?” gumaman yang diselingi dengan isak tangis itu terdengar sangat menyedihkan untuk setiap orang yang mendengarnya.
Untung saja hari ini ayah, ibu dan adiknya tidak berada di rumah, jadi gadis itu bisa dengan puas menumpahkan semua kesedihannya, tanpa ada satu orangpun yang akan bertanya tentang penyebab gadis itu menangis hingga terlihat menyedihkan seperti sekarang.

~~~

“ini sudah larut malam dan kau masih belum istirahat, apa ada sesuatu yang kau pikirkan sekarang?”

Seorang pria yang saat ini tengah berdiri termenung di dalam sebuah kamar hotel sambil menikmati indahnya malam dari balik jendela kaca kamar hotelnya itu menolehkan kepalanya ketika seseorang tengah menegurnya. Pria itu tau siapa pemilik suara yang mengganggu lamunannya.
Dialihkannya pandangannya yang tadi setia memandangi langit malam yang nampak suram walaupun sebenarnya terlihat cerah karena di tambahi dengan sorotan lampu – lampu gedung yang sangat terang. Pria itu tersenyum ketika menatap seseorang yang saat ini sudah berada di sampingnya.

“kau sedang memikirkan sesuatu?” tanya suara itu lagi, suara itu adalah suara gadis yang saat ini sudah menemani pria itu hampir satu bulan. Menemaninya untuk berlibur ke eropa.
Belum mendapatkan jawaban dari sang pria, gadis tersebut pun memasang wajah kecewa. Melihat sang gadis terlihat kecewa, sang pria pun menarik tangan sang gadis itu dan memeluk tubuh sang gadis dengan menghadapkan gadis itu ke depan agar sang gadis juga bisa melihat apa yang sebelumnya pria tadi lihat.

“pemandangan disini indah kan noona.” Ucap pria tersebut sambil mengeratkan pelukannya pada sang wanita yang saat ini ada didepannya. Senyum pria itu masih terpasang jelas di wajahnya.

“iya.. indah. sangat indah. aku senang bisa pergi kesini bersamamu.” Jawab sang wanita, di ikuti senyum bahagia dari bibir manisnya.

“kenapa kau memilihku noona? Bukankah masih banyak pria lain yang lebih baik dari pada aku. Kenapa noona memilihkku?”

Sang gadis terdiam sejenak, senyuman yang tadi terpancar dari wajahnya kini sedikit memudar. Kenapa pria yang ada di belakangnya ini menanyakan hal yang tidak masuk akal seperti itu. Tidak ingin melepaskan pelukan dari sang pria, tapi sang wanita ingin melihat bagaimana raut wajah pria itu ketika mengatakan pertanyaan yang baru saja di keluarkannya.

“aku hanya ingin tau saja, tidak masalah jika noona tidak mau menjawabnya. Lagipula ini semua tidak penting kan, yang terpenting sekarang, saat ini kita sedang bersama.”

tidak tahan dengan sikap pria yang selama sebulan ini tengah menjadi kekasihnya ini, akhirnya gadis itu pun melepas pelukan kekasihnya dan menatap mata kekasihnya tersebut. Mencoba mencari tau apa maksud dari semua kalimat – kalimat yang baru saja keluar dari mulut sang kekasih.

“jagiya, sebenarnya ada apa? apa ada masalah, kenapa nada bicaramu terdengar aneh?” terdengar penasaran dari nada bicaranya, gadis itu sangat penasaran dengan sikap kekasihnya.

“hubungan kita yang bermasalah.” Batin pria itu, tapi anehnya pria tersebut tidak bisa mengatakannya secara langsung. Entahlah, apa alasan pria itu hingga tidak bisa mengeluarkan kalimat tersebut. Tentu saja salah satunya untuk menjaga perasaan kekasihnya. Tapi tidak taukah bahwa ada lagi seseorang yang jauh lebih sakit hati sekarang. Dan apakah pria itu tau bahwa keadaan orang itu sangat memprihatinkan bahkan sangat menyedihkan.

-
-
-

Hujan mengalir dengan derasnya, tidak biasanya hujan turun sangat lebat seperti ini tapi hari ini seoul benar – benar diguyur hujan dengan lebat.
Beruntung saat ini ahra sudah berada di rumah so eun, jika terlambat sedikit saja gadis itu sampai di rumah sahabatnya ini, mungkin saja saat ini ahra sudah terjebak hujan.

“kau benar – benar sangat menyusahkan, apa kau tidak tau bahwa aku ini sangat sibuk. Sebenarnya ada apa, kenapa pagi – pagi sekali kau menghubungiku dan menyuruhku datang ke rumahmu. Dan kemana orang tua dan adikmu. Dan lihatlah betapa menyedihkan dirimu saat ini. sebenarnya ada masalah apa?” rentetatan kalimat panjang dari mulut ahra, benar – benar semakin membuat so eun semakin terlihat menyedihkan.

Bagaimana tidak, selama ini so eun tidak pernah menyulitkan siapapun, apalagi pada sahabatnya ini. tapi hari ini so eun benar – benar sangat keterlaluan pagi – pagi sekali, so eun sudah menghubungi ahra yang pasti masih tertidur lelap hanya untuk datang ke rumahnya dengan alasan yang tidak masuk akal.

“yaa… kim so eun, tidak mungkin kau takut berada di rumah sendirian kan. Memangnya kau ini anak kecil yang harus membutuhkan teman jika keluargamu sedang pergi dan kau berada di rumah sendirian. Kau ini ben….” kalimat panjang ahra langsung terhenti ketika melihat sahabatnya itu kini tengah terisak.

“hiks… hiks… hiks… ahra-ya. Hiks…” isakan tangis itu benar – benar keluar dari mulut so eun, sahabat ahra yang selalu terbiasa tersenyum ceria itu sekarang menangis. Itu berarti saat ini so eun benar – benar mempunyai masalah yang sangat besar.

Selama ini so eun terlihat sebagai seorang sahabat dan juga aktris yang terkenal memiliki sikap periang, tapi kenapa sekarang so eun nampak murung dan apa ini bahkan gadis itu menangis.

“so eun-ah, sebenarnya ada apa? astaga… bahkan matamu sembab dan merah. Apa semalaman kau menangis dan tidak tidur?” ahra benar – benar kaget ketika melihat kondisi so eun dengan jelas, sahabatnya ini sangat rapuh sekarang.

Bukannya, ahra tidak perhatian dengan sahabatnya ini. tapi ahra memang benar – benar tidak tau apa penyebab sahabatnya menjadi seperti sekarang. Saat ini ahra memang tengah di sibukkan dengan drama barunya jadi sudah lama ahra dan so eun tidak pernah bertemu dan hari ini akhirnya ahra bisa menyempatkan dirinya menemui so eun setelah sebelumnya so eun memohon minta di temani ahra.

“ayo ceritakan apa yang terjadi padamu, hingga kau seperti ini?” pinta ahra pada so eun, sambil memeluk tubuh so eun untuk sedikit menenangkan perasaan sahabatnya itu.

“hikss..hiksss. ini menyakitkan, ini benar sangat melukaiku. Apa aku bisa bertahan setelah ini, apa aku masih bisa tersenyum setelah semua ini terjadi. Apa yang harus aku lakukan ahra-ya?”

Ahra tidak mengerti dengan perkataan so eun barusan, sebenarnya apa yang sedang dikatakan oleh sahabatnya itu. Ini benar – benar membingungkan untuk ahra. Demi apapun ahra tidak suka dengan teka – teki jadi kenapa so eun tidak langsung saja pada pokok permasalahan.

“ayolah so eun, jangan membuatku penasaran hingga hampir gila seperti ini. aku sudah cukup takut dengan kondisimu sekarang, jangan membuatku terlihat seperti orang bodoh seperti ini.” Kesal ahra

“dia, tidak menyukaiku. Dia benar – benar tidak menyukaiku, lalu apa maksudnya perlakuan dia selama ini padaku. Apa dia benar – benar tidak tau bahwa aku menyukainya.” Jawaban so eun ini sudah lebih dari cukup untuk menggerakan otak ahra sekarang. Tentu saja ahra tau siapa dia yang dimaksud oleh so eun. tapi ini masih belum sepenuhnya jelas.

Sebelum ahra melemparkan pertanyaan selanjutnya, kim so eun sudah terlebih dahulu memberikan ponselnya pada sahabatnya itu.

“kenapa kau memberikan ponselmu, aku butuh penjelasan bukan pon…” kalimat ahra terhenti matanya melebar, kepalanya menggeleng. Itu menandakan bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres dengan ponsel so eun. lebih tepatnya apa yang telah ditampilkan ponsel so eun sekarang.

“mereka menjalin hubungan, dia tidak mencintaiku ahra-ya.” Gumaman lirih itu benar – benar terdengar menyedihkan untuk didengar oleh ahra, apalagi jika yang mengatakan adalah sahabatnya, so eun. benar – benar terdengar memilukan.

-
-
-

“gedung itu sangat bagus kan, tempat ini benar – benar sangat indah. Aku bahkan tidak ingin meninggalkan tempat ini.”

“aku juga menyukainya.” Kim bum berjalan beriringan dengan wanita yang saat ini telah menjadi kekasihnya itu. di genggamnya tangan kekasihnya itu. Terlihat sangat menyenangkan sepertinya, hingga kim bum dan kekasihnya tidak tau bahwa ternyata banyak sekali paparazi yang mengambil gambarnya secara diam – diam.

Mungkin kim bum masih tidak menyadari bahwa dirinya dan juga kekasihnya itu adalah seorang aktor dan aktris yang namanya cukup melambung tinggi di negaranya bahkan di luar negri sekalipun. Jadi walaupun saat ini kim bum dan kekasihnya tengah berlibur di eropa tetap saja banyak sekali paparazi yang mengikutinya dan selalu memantau apapun yang dilakukan olehnya.

Tentu saja perkembangan hubungan kim bum dan kekasihnya sangat menarik untuk dijadikan konsumsi publik mengingat beberapa saat lalu hubungan kim bum dan kekasihnya ini telah beredar di dunia maya. Jadi tentu saja ini sangat menguntungkan bagi para pencari berita.

“aku sangat menyukai senyumanmu itu jagiya… selalu tersenyumlah untukku, jagiyaa.”

Kim bum menganggukan kepalanya sambil mengusap pelan rambut kekasihnya itu, kim bum bahkan tidak menyadari bahwa kemesraannya dengan kekasihnya tersebut terus di intai oleh para pencari berita. Entah kim bum yang tidak menyadarinya, atau memang kim bum yang masa bodoh dengan hal itu. Tapi ini tidak seperti sikap kim bum yang seperti biasanya yang selalu tertutup dengan masalah pribadinya. Benar – benar sangat aneh, ada apa dengan kim bum.

“aku harap lain waktu kita bisa kembali kesini bersama lagi jagiya..”

“nde… aku senang jika noona senang.” Jawab kim bum, hanya respon seperti itu yang selalu dilontarkan kim bum setiap pernyataan dari mulut kekasihnya keluar. Benar – benar terkesan di paksakan.
Kim bum memang berbeda, sangat berbeda. Berbeda dari beberapa tahun yang lalu dengan kim bum yang sekarang.

“maafkan aku, aku benar – benar tidak tau kenapa ini semua bisa terjadi. Ternyata perasaan ini hanya sesaat. Berbeda dengan perasaanku padanya.” Batin kim bum, dan kembali mengeratkan genggamannya pada tangan kekasihnya yang sebelumnya telah terlepas. Untuk sedikit meyakinkan hatinya bahwa saat ini dirinya telah menjadi kekasih seseorang.

-
-
-

Hari ini ahra terpaksa meminta cuti pada manager dan juga agensinya, tentu saja tidak mudah untuk ahra meminta cuti mengingat jadwal syuting ahra yang padat. Tapi tetap saja ahra bisa memaksa mangernya untuk memberikan cuti padanya.
Ahra ingin menemani so eun saat ini, karena mungkin memang hanya ahra yang bisa menemani so eun saat ini. karena memang selama ini hanya ahra lah sahabat terdekat so eun. tidak. bukan hanya ahra, tapi masih ada satu orang lagi yaitu DIA. Tapi tentu saja ahra tidak mungkin menghubungi orang itu untuk mengatakan keadaan so eun sekarang, karena penyebab so eun menjadi seperti ini adalah DIA.

“kau tidak seharusnya mempercayai berita itu kan. Kau bahkan masih belum mendengar sendiri dari mulutnya jadi untuk apa kau memikirkan hal ini. bisa saja ini semua rekayasa.”
Perkataan ahra tadi mungkin bisa memberi sedikit kekuatan untuk so eun, agar tidak terlalu percaya dengan berita yang saat ini telah menjadi berita heboh di dunia maya.

“memangnya siapa aku, yang harus mendapatkan penjelasan darinya. Aku bukanlah siapa – siapa untuknya. baginya aku hanyalah teman dan bukan orang yang perlu di beri penjelasan.” Jawab so eun, meyakinkan hatinya bahwa so eun benar – benar harus melupakan orang yang selama ini telah disukainya itu.

“ayolah so eun, kim bum masih belum memberikan komentar apapun untuk hubungannya itu. Lagi pula bisa saja mereka hanya berteman karena mereka sering menghabiskan waktu bersama di lokasi syuting.”

“jangan membelanya, hanya untuk maksud menghiburku ahra-ya. Aku bukanlah anak kecil, tidak mungkin agensi eonni geun young membenarkan hubungan mereka jika mereka memang tidak ada hubungan. Dan jika mereka tidak ada hubungan apapun harusnya agensi kim bum membantahnya atau bahkan kim bum sendiri yang melakukannya, seperti dia dan aku ketika terlibat dalam….” so eun membungkam bibirnya, dirinya tidak bisa kembali ke masa itu. Masa itu dan sekarang berbeda, dan hasilnya pun sudah jelas berbeda. Kim bum mengakuinya dan tidak membantahnya itu berarti kim bum memang menyukai wanita itu.

“tidak bisakah kau menguatkan dirimu so eun… kemana so eun yang ceria. Lebih baik kau tanyakan saja pada kim bum bukankah kalian masih sering berkomunikasi dan bertemu.” Ucap ahra sambil mengambil ponsel so eun dan menyerahkan ponsel tersebut pada so eun.

“untuk apa aku menghubunginya ahra-ya, aku tidak mau mengganggu acara liburannya dengan kekasihnya. Aku tidak ingin menghubunginya lagi, aku membencinya ahra-ya.” So eun benar – benar tidak bisa menahannya lagi, semua kekesalannya benar – benar dia tumpahkan pada ahra, karena memang hanya pada ahra so eun bisa berbicara semuanya.

“so eun apa lagi maksud dari ucapanmu ini.. ya tuhan,, kenapa aku bisa ketinggalan banyak berita seperti ini.” gerutu ahra sambil mengambil ponselnya dan membuka situs resmi untuk melihat perkembangan berita para artis korea dan melihat salah satu dari berita tersebut yang mengatakan bahwa saat ini kim bum sahabatnya tengah menjalin hubungan dengan lawan mainnya di drama terbarunya bahkan saat ini keduanya tengah berlibur di eropa selama beberapa bulan.

“kim bum bahkan tidak pernah menghubungiku semenjak drama itu, dia bahkan tidak pernah hanya sekedar menanyakan bagaimana kabarku saat ini seperti biasanya. Hingga muncul kabar itu, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang ahra-ya.”

Ahra bingung harus memberikan jawaban apa pada sahabatnya itu, tidak mungkin menyuruh so eun melupakan perasaannya pada kim bum yang selama ini telah ada selama hampir dua tahun itu. Tapi lebih tidak mungkin lagi memakasa kim bum untuk membalas perasaan so eun, apalagi jika kenyataanya kim bum tidak menyukai so eun. kisah cinta sahabatnya ini benar – benar rumit. Bahkan jauh lebih rumit dibandingkan dengan soal hitung – hitungan matematika ataupun semacamnya.

“tenangkan dirimu, tunggu saja berita selanjutnya dan siapa tau saat ini kim bum masih belum sempat menjelaskannya padamu. Tidak mungkin kim bum seperti ini, ini bukan sikap kim bum.”

So eun kembali meringkuk di tempat tidurnya, air matanya kembali mengalir ketika ingatanya kembali ke masa – masa dimana dirinya dan kim bum tengah bermain dalam drama yang sama dan menjadi sebuah pasangan. Itu benar – benar sangat menyenangkan, walaupun saat itu mereka masih terlihat malu – malu.

“hiks…hiks,,,, aku harus melupakannya kah ahra-ya?” pertanyaan bimbang dari mulut so eun yang diajukannya pada ahra seperti menjadi bomerang untuk dirinya sendiri. Apakah benar jika ahra menjawab IYA dan so eun akan dengan mudah melupakannya.

“aku akan menghubunginya dan meminta penjelasan darinya.”

-
-
-

Kim bum sudah berada di kamar hotelnya, liburannya sudah selesai dan dia harus kembali lagi ke negara asalnya. Sudah banyak yang menunggu kedatangannya, ya tentu saja keluarga dan juga fansnya. Kim bum ini aktor terkenal kan. Aktingnya juga sangat bagus. dan kali ini harusnya dia mendapatkan daesang untuk akting yang dia perankan sekarang. Kim bum telah menipu semua orang termasuk fansnya.

“kau sudah bersiap – siap kim bum-ah?” tanya sebuah suara dari balik pintu kamar hotel tempat kim bum menginap. Pria itu menatap malas ke arah pintu. Sepertinya kim bum benar – benar enggan untuk hanya sekedar menjawab. Hingga matanya dialihkannya pada sosok managernya yang saat ini juga tengah membantu kim bum membereskan pakaiannya.

“kau tidak ingin menemuinya?” tanya manager kim bum, ketika melihat wajah kim bum yang terlihat lelah.

“sebenarnya ada apa, bukankah kau sendiri yang bilang ingin pergi berlibur. Harusnya kau senang tapi kenapa kau malah terlihat sebaliknya.” Pertanyaan dari manager kim bum itu, memang benar. Ini semua pilihan kim bum kan, kenapa kim bum terlihat menyesal.

“bum-ah, apa kau sudah tertidur. Tidak bisakah kau membuka pintunya sebentar.” Suara dari luar itu benar – benar mengganggu kim bum. tidak bisakah kekasihnya itu membiarkannya istirahat. Bukankah hari ini mereka berdua sudah seharian pergi jalan – jalan, saat ini kim bum benar – benar lelah. Kim bum ingin hanya sekedar menenangkan otaknya yang terlalu melampaui batas hanya untuk memikirkan satu orang sangat jauh disana.

“geun young… kim bum sudah terlelap dari tadi, apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan dengannya? Apa kau mau aku membangunkannya?” manager kim bum membukakan pintu untuk kekasih kim bum itu. Tentu saja itu atas permintaan dari kim bum yang menyuruh managernya untuk berbohong agara kekasihnya bisa meninggalkan kamarnya.

“maafkan aku, ini memang sudah malam seharusnya aku membiarkannya istirahat. Sebenarnya aku hanya khawatir saja padanya karena aku lihat seharian ini dia bersikap aneh. Baiklah selamat malam.” Ujar geun young sambil meninggalkan kamar kim bum dan juga manager kim bum itu untuk kembali ke kamarnya.

Gadis itu sedikit penasaran dengan sikap kim bum, kenapa kim bum bersikap aneh beberapa hari ini. kim bum terlihat tidak seperti sebelumnya, biasanya kekasihnya itu terlihat ceria dan penuh semangat. apa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh kim bum yang geun young tidak ketahui. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan…….?

-
-
-

“yaa.. aku sudah baik – baik saja, hari ini aku sedang berjalan – jelan ke pusat perbelanjaan. Jika kau sudah selesai syuting bisakah kau menyusulku?” pinta so eun pada sahabatnya itu, ada sedikit permohonan pada permintaannya itu.

“nde… aku akan mengusahakannya, berhati – hatilah so eun-ah.” Kalimat itu mengakhiri obrolan singkat keduanya melalui ponsel.

So eun berjalan – jelan di tengah keramaian pusat perbelanjaan itu, kaca mata hitam yang dia kenakan saat ini setidaknya bisa menutupi matanya yang masih sedikit membengkak akibat kegiatan menangisnya semalaman. Tapi hari ini mungkin dia bisa sedikit lupa dengan masalahnya.

So eun melihat – lihat, ke sekeliling tempat itu. dirinya rindu ketika biasanya dirinya megunjungi tempat ini dengan kim bum, tapi mungkin tidak dengan sekarang. So eun dan kim bum sudah tidak mungkin pergi bersama lagi mengingat status hubungan kim bum yang saat ini tengah menjadi kekasih orang.

“ingat so eun, kau kesini untuk menghilangkan semuanya tentang dia dan bukannya malah mengingatnya lagi.” ucap so eun meyakinkan dirinya sendiri.

So eun melangkahkan kakinya menuju tempat perhiasan, diliriknya cincin yang saat ini tengah dijadikan liontin kalungnya. So eun teringat kembali dengan kenanangannya di masa lalu kala kim bum memberikannya sebagai hadiah ulang tahunnya. Dan kim bum juga memiliki satu lagi, apakah kim bum juga masih memakainya pikir so eun.

Ketika sedang asyik pada lamunannya, so eun mendengar suara pria yang sudah sangat dikenalnya. Suara itu, benarkah itu miliknya. Tunggu dulu bukankah saat ini dia dan kekasihnya sedang berlibur ke eropa, mungkinkah itu hanya halusinasi so eun saja.

~~~

“jagiyaa, coba lihat tempat itu. sepertinya disana lebih banyak yang bagus.” ucap geun young sambil menggandeng tangan kim bum dan membawa kekasihnya itu ke tempat penjual perhiasan.

“bisakah aku melihat cincin itu?” pinta geun young pada pelayan toko sambil menunjuk cincin couple yang terpasang di dalam lemari kaca toko tersebut.
Si pelayan toko pun mengambilkan cincin yang di pinta oleh geun young dan menyodorkannya pada geun young dan kim bum.

“cincin itu cocok untuk kalian, bukankah kalian ini pasangan selebriti yang menjadi tren topik di internet. Selamat atas hubungan kalian. Aku salah satu penganggumu kim bum-ssi.” Ucap pelayan wanita toko tersebut yang mengetahui kim bum.
Kim bum pun hanya tersenyum mendengar pujian dari pelayan tersebut.

“cincin ini indah bukan, apakah terlihat indah ketika aku memakainya bum-ah?” tanya geun young pada kekasihnya itu, mencoba mencari tau penilaian kim bum akan pilihannya.

“kau terlihat cantik saat mengenakannya noona.” Jawab kim bum, sambil mengusap pelan rambut geun young. Dan tanpa di duga mata kim bum menatap pada seorang wanita yang saat ini tengah berdiri menatap kearahnya.

Astaga… kenapa ini bisa terjadi, kenapa kim bum harus melihat wanita itu disini. Setidaknya kenapa harus dalam kondisi dirinya bersama geun young. Hari ini adalah hari kedua kim bum sampai di seoul setelah perjalanannya dari eropa. Dan satu orang yang untuk saat ini tidak ingin di temuinya adalah wanita yang saat ini tengah berdiri tak jauh darinya dan tengah menatapnya.

~~~

“kau terlihat cantik saat mengenakannya noona.”

So eun memutar tubuhnya mencoba mencari suara yang sangat di kenalnya, tentu saja memastikan pada dirinya bahwa itu bukanlah halusinasi saja, melainkan kenyataan. Dan ternyata benar bahwa suara itu milik kim bum, dan ternyata pria itu sedang berada tidak jauh dari so eun.

“apa kau bahagia sekarang?” tanya so eun dalam hati, pada kim bum ketika tanpa disadari kim bum pun juga tengah menatap kearahnya. So eun tau saat ini kim bum tidak bisa mendengarnya tapi memang hanya ini yang bisa dilakukan so eun sekarang.

“bagaimana kabarmu, apa kau baik – baik saja sekarang?” tanya kim bum dalam hati, ketika dia sudah meyakinkan matanya bahwa yang dilihatnya itu benar – benar kim so eun. wanita yang benar – benar ingin dihindarinya, untuk beberapa saat ini.

Kim bum ingin sekali bertanya langsung pada wanita itu bagaimana keadaanya dan apakah wanita itu sakit ketika melihat apa yang saat ini terjadi pada kim bum. tapi tentu saja kim bum tidak mempunyai keberanian, kim bum tidak mungkin secara terang – terangan menghampiri so eun karena saat ini dirinya sedang bersama dengan kekasihnya.

“kau terlihat sangat bahagia, mungkin dengan melihat sendiri seperti ini aku bisa dengan cepat melupakanmu kim bum-ah” batin so eun, sambil membungkukkan badannya pada kim bum dan langsung pergi meninggalkan kim bum yang terlihat bahagia di mata so eun.

Untung saja saat ini so eun tengah mengenakan kaca mata hitam, jadi kim bum tidak bisa melahat bahwa saat ini matanya tengah memerah karena menahan hantaman air mata yang siap membanjiri wajahnya. Dan pilihannya sangat tepat untuk meninggalkan tempat itu sebelum air matanya benar – benar mengalir keluar.

“maafkan aku kim so eun, untuk kesekian kalinya aku membuatmu terluka kembali dengan sikapku.” Batin kim bum ketika melihat kepergian so eun, kim bum tau bahwa saat ini so eun pasti sangat terluka sekali. Ingin rasanya kim bum mengejar wanita itu menariknya dalam pelukannya hanya sekedar untuk mengucapkan kata maaf dan juga terimakasih atas semua yang pernah terjadi pada dirinya dan juga so eun.

“bum-ah ayo kita pulang, aku sudah lelah.” Ajak geun young, yang sedari tadi tidak menyadari apa yang telah di rasakan oleh kim bum. tapi itu sedikit anugerah untuk kim bum karena kim bum tidak perlu menjelaskan apapun pada geun young jika wanita itu bertanya – tanya tentang so eun. kim bum terlalu lelah untuk memberikan penjelasan untuk geun young jika wanita itu bertanya. Tujuannya saat ini hanya satu yaitu penjelasannya pada so eun, wanita itu pasti sudah menunggu terlalu lama. Mungkin ini adalah waktunya untuk kim bum bertemu dengan so eun.

-
-
-

Ahra memakirkan mobilnya di depan rumah so eun, matanya melihat sebuah mobil yang juga terparkir di depannya. Sebelum ahra keluar dari mobilnya, ahra nampak berfikir bukankah saat ini kim bum tengah liburan di eropa kenapa mobilnya bisa terpakir di depan rumah so eun. tidak… atau jangan – jangan saat ini sahabatnya itu sudah kembali ke seoul, lalu kenapa kim bum tidak pernah membalas pesan darinya dan juga menjawab panggilannya. Mungkinkah kim bum juga berniat menghindari ahra.

“kalian berdua benar – benar membuatku terlihat bodoh sekarang.. haaahhhh.” Teriak ahra sambil keluar dari mobilnya dan mengacak rambutnya dengan frustasi, melihat keadaan kedua sahabatnya itu.

Ahra melangkahkan kakinya menuju halaman rumah so eun, dan melihat kim bum tengah berdiri mematung di depan pintu rumah so eun. kenapa kim bum hanya berdiri di luar dan tidak masuk saja pikir ahra, bukankah selama ini kim bum dan ahra sudah biasa keluar masuk rumah so eun mengingat kedekatan mereka dengan keluarga so eun.

“yaa.. bodoh, kemana saja kau. Beberapa hari ini aku terus menghubungimu kenapa kau selalu mengabaikan panggilanku.” Teriak ahra ketika melihat kim bum berdiri seperti orang linglung di depan pintu rumah so eun.

“bagaimana kabarmu ahra-ya? Sepertinya kau semakin sibuk saja sekarang, lama tidak bertemu.” Ucap kim bum sambil melambaikan tangannya untuk menyapa sahabatnya yang sudah lama tidak dijumpainya.

“berhenti berbasa – basi bum-ah, kau masih harus menjelaskan semua kekacauan ini padaku. Ahhh… tidak lupakan saja pejelasanmu padaku, karena so eun lebih membutuhkan penjelasanmu sekarang dari pada aku.”

“itu sebabnya aku datang kemari ahra-ya… aku ingin memberikan pengertian pada so eun sekarang. Tapi aku benar – benar tidak punya keberanian untuk bertemu dengannya, jangankan untuk bertemu menatap wajahnya saja aku tidak berani.” Ucap kim bum, dan terhenti dengan helaan nafas yang sangat panjang dan terlihat berat.

“aku tidak bisa melihatnya setelah apa yang aku lakukan hari ini.” sambung kim bum melanjutkan kalimatnya.

“apa maksudmu, memangnya apa yang kau lakukan hari ini?” tanya ahra penasaran dengan maksud ucapan kim bum baru saja.

“so eun melihatku berdua dengan geun young noona, dia melihatku ahra-ya.” Sesal kim bum pada kejadian siang tadi. Pria itu menundukkan kepalanya, kim bum juga tidak sanggup menatap ahra.

“astaga… kim bum, kau bisa melukai hatinya lagi sekarang. Kenapa ini bisa sampai terjadi pada kalian berdua.” Ahra benar – benar sangat frustasi sekarang, tidak… ini bukan saatnya ahra mengeluh. Ahra harus memastikan bahwa saat ini kondisi so eun benar – benar baik.

Bodohnya ahra, kenapa tadi dirinya tidak menemani so eun pergi ke pusat perbelanjaan itu dan membiarkan sahabatnya itu pergi sendiri.

“yaa.. aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk menimpa pada so eun, dia sudah terlihat menyedihkan ketika membaca berita tentangmu di internet dan sekarang dia melihatnya secara langsung.” Ucap ahra panik sambil setengah berteriak pada kim bum.
Ahra benar – benar takut sekarang.

“yaa… tidak bisakah kau tidak berpikiran yang macam – macam, lebih baik bunyikan bel’nya dan kita lihat bahwa so eun tidak apa – apa.” ucap kim bum mencoba menenangkan ahra, sebenarnya kim bum berusaha menenangkan dirinya juga.

Ahra membunyikan bel rumah so eun, berharap so eun cepat – cepa membukanya. Tapi ahra dan kim bum harus menunggu lama untuk mendapatkan sambutan dari so eun, karena sedari tadi so eun tidak juga membuka pintunya.

“kemana anak itu, yaa… tuhan jangan biarkan anak itu berpikiran melakukan hal – hal yang bodoh atau sampai hal buruk terjadi padanya.” mohon ahra, sambil menunggu so eun membukakan pintu untuknya.

“kenapa sedari tadi kau berpikir yang aneh – aneh tentang so eun. tidak mungkin so eun melakukan hal bodoh seperti yang kau pikirkan. Bukankah ada orang tuanya mana mungkin mereka membiarkan hal itu terjadi pada so eun.” kesal kim bum dengan pemikiran ahra yang dinilainya terlalu kekanak –kanakan.

“semua keluarganya sedang pergi ke luar kota, jadi so eun saat ini hanya dirumah sendirian. Jika terjadi pada so eun, aku benar – benar akan marah padamu kim bum. aku benar – benar tidak akan menganggapmu sebagai sahabat lagi.” teriak ahra di depan kim bum, wanita itu benar – benar kesal dengan ulah kim bum yang menyebabkan so eun menjadi sangat menyedihkan.

Kim bum lebih tidak percaya lagi dengan apa yang diucapkan ahra barusan, jika memang benar sebelumnya so eun terlihat tidak baik, bagaimana sekarang gadis itu akan baik – baik saja setelah melihat langsung apa yang dilakukan kim bum tadi. Ditambah lagi saat ini so eun benar – benar sendirian. Yaa,,, tuhan kim bum benar – benar patut disalahkan jika memang terjadi sesuatu pada so eun.

“kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi ahra-ya.” Teriak kim bum, dengan kesalnya.

Kim bum menggedor pintu rumah so eun tapi tetap saja tidak ada sahutan dari dalam, ini sudah malam mungkinkah so eun sudah tidur tapi kenapa sepertinya sangat aneh, tidak ini benar – benar tidak bisa di diamkan. Kim bum tidak mungkin tinggal diam.

Di dobraknya pintu rumah so eun, persetan jika orang – orang di sekitar meneriakinya pencuri atau apalah yang terpenting saat ini adalah keadaan so eun. kim bum harus memastikan keadaan wanita itu.

“so eun-ah… kim so eun, dimana kau?” teriak ahra begitu panik kala mendapati rumah so eun nampak gelap tanpa penerangan. Cepat – cepat ahra menyalakan lampu rumah so eun dan melihat kesekeliling. Sepi dan lengang dimana so eun pikir ahra.

“apa yang terjadi, kenapa tidak ada so eun disini. Jangan – jangan…” kalimat kim bum terhenti dan langkahnya diarahkannya ke kamar so eun yang ada dilantai dua rumah itu. Kim bum yakin sekarang so eun ada dikamarnya.

Kim bum mempercepat langkahnya ketika sudah berada dilantai dua, begitu juga ahra yang mengikuti langkah kaki kim bum. ketika keduanya sudah berada tepat didepan kamar so eun. kim bum, pria itu menghela nafasnya sebelum membuka pintu kamar tersebut.
Tidak dikunci, kim bum hendak melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Tapi diurungkannya niatnya itu. Dan menyuruh ahra masuk lebih dulu.

“masuklah, pastikan dulu bahwa tidak terjadi apa – apa padanya.” perintah kim bum dan di balas anggukan oleh ahra.

Baru beberapa langkah ahra memasuki kamar so eun, ahra sudah berteriak memanggil kim bum yang masih ada diluar kamar.

“bum-ah, cepat masuklah. So eun pingsan.” Teriak ahra dari dalam kamar so eun.

Dan tanpa pikir panjang kim bum yang mendengar teriakan sahabatnya itu langsung bergegas memasuki kamar so eun dan mendapati tubuh so eun tergeletak di lantai dengan kondisi yang bisa dibilang tidak baik.
Dengan cepat kim bum menghampiri tubuh so eun, mengangkatnya dan membaringkan tubuh wanita tersebut diatas tempat tidurnya. kim bum menyentuh dahi so eun dan dapat dirasakan oleh kim bum bahwa saat ini tubuh so eun benar – benar panas. Sepertinya sedang demam.

“ahra cepat ambilkan air hangat untuk mengompresnya dan untuk membasuh badannya.” Perintah kim bum dan ahra pun segera melakukan apa yang telah diperintahkan sahabatnya itu.

-
-
-

Matahari pagi sudah menampakkan sinarnya, pantulan sinarnya pun mampu menembus kaca kamar so eun yang masih tertutup rapat oleh tirai yang sedikit tebal.
So eun mengerjapkan matanya, kepalanya terasa pusing dan berat. Matanya terkesan susah untuk di bukanya. Tunggu dulu kenapa so eun merasa ada yang sedang memegangi tangannya dan juga kenapa sepertinya tempat tidurnya terasa sedikit sempit seperti ada seseorang yang sedang tidur di sebelahnya.

“kau sudah bangun?” ucap sebuah suara yang sangat so eun kenal, dan sebenarnya so eun sangat enggan untuk mendengar suara itu.

“kenapa kau bisa ada disini, dan apa yang kau lakukan di tempat tidurku?” tanya so eun penasaran dengan adanya kim bum dirumahnya, seingatnya kemarin sepulang dari dia berjalan – jalan dia langsung pulang kerumah tanpa di ikuti kim bum. lalu kenapa pria ini sekarang ada dirumahnya, bahkan berada di tempat tidurnya.

“apa kau sudah baikkan? Kau mau sesuatu yang bisa aku ambilkan?” tanya kim bum masih dengan posisi tidurnya menghadap ke so eun, dan tanpa sedikitpun membuka matanya hanya untuk sekedar melihat bagaimana wajah terkejut so eun saat ini. menurut kim bum ini akan terasa lebih baik, sebelum nanti akhirnya so eun akan mengusirnya.

“pergilah… aku sudah tidak apa – apa. lagipula kau tidak seharusnya datang kesini. aku bisa memanggil ahra, untuk menemaniku, aku tidak membutuhkanmu. Jadi pergilah.” Ucapan ketus yang ditujukan so eun pada kim bum benar – benar sudah ditebak kim bum sebelumnya. Pasti jadinya akan seperti ini memang.
Akan terlalu mudah untuk kim bum jika so eun masih mengijinkan dirinya menemani wanita itu.

“untuk beberapa hari ini ahra tidak bisa menemanimu, apa kau lupa bahwa saat ini ahra sedang ada drama baru dan bukankah kau sudah menyita waktunya beberapa hari ini. jadi kenapa kau tidak membiarkan dia untuk menyelesaikan pekerjaanya terlebih dahulu.” ucap kim bum dengan nada bicara sesantai mungkin, ini adalah salah satu cara agar kim bum bisa berbicara dengan wanita yang ada disampingnya ini.

“pergilah.. aku mohon pergilah dari rumahku. Akan lebih baik jika kau juga pergi dari kehidupanku.” Mohon so eun sambil mencoba melepas genggaman tangan kim bum dari tangannya, dan berusaha untuk bangun dari tempat tidurnya.

“benarkah kau menginginku pergi, dan tidak ingin mendengar penjelasanku. Benarkah apa yang kau katakan barusan tadi ?.” Tanya kim bum lagi, mencoba meyakinkan so eun akan perasaan yang ada dihatinya untuk kim bum.

So eun diam sejenak, sebenarnya dalam hatinya so eun benar- benar ingin memeluk kim bum dan menangis di dada kim bum. so eun tidak peduli kim bum memberikan penjelasan padanya atau tidak asalkan saat ini kim bum sudah berada disampingnya itu adalah penjelasan yang cukup untuk so eun. tapi tetap saja so eun tidak boleh egois, kim bum bukan lagi seperti dulu yang masih bebas bisa dimiliki siapapun. Saat ini kim bum sudah memiliki kekasih dan itu adalah pilihan kim bum, jadi tidak ada harapan lagi untuk so eun.

“maafkan aku sudah membuatmu menangis lagi, aku tidak tau kenapa aku mengambil keputusan untuk memilihnya. Aku benar – benar menyesal telah membuatmu menjadi seperti ini. maafkan aku.” Ucap kim bum sambil bangun dari tidurnya dan memeluk tubuh so eun dari belakang. Ini benar – benar yang di inginkan so eun kan.

“hiks… hiks..hiks, apa ini semua benar – benar yang kau inginkan. Apa ini semua membuatmu bahagia?” tanya so eun pada kim bum dengan nada suara bergetar.

“setiap aku mengambil peran dalam drama terbaruku, disaat itu juga aku pasti selalu membuatmu menangis. Dan aku berharap ini adalah terakhir kalinya aku membuatmu menangis so eun-ah.” Ucap kim bum masih dalam posisi memeluk so eun.

“aku ingin menjalani wajib militer secepatnya, dan aku tidak ingin terus – terusan menyakitimu. Untuk saat ini jangan tanyakan apapun tentang hubunganku dengan geun young noona, yang aku inginkan sekarang hanyalah kau masih selalu ada disampingku dan tetaplah ada untukku.” Pinta kim bum. terkesan memaksa memang tapi itulah yang saat ini di inginkan oleh hati kecil kim bum.

So eun tidak kuasa mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut kim bum ini, apa maksud dari ucapan kim bum sekarang. So eun benar – benar tidak tau harus berbuat apa.

“mungkin aku yang tidak pernah peka dengan perasaanmu selama ini, aku masih menganggapmu tidak menyukaiku dan selalu berfikir bahwa kau hanya menganggapku sebagai sahabat. Tapi ternyata aku salah…” kim bum menghentikan kalimatnya dan makin mengeratkan pelukannya pada so eun. kim bum benar – benar merasakan getaran tubuh so eun. kim bum tau bahwa saat ini so eun sedang menahan tangisnya agar tidak pecah.

“masih kurangkah apa yang aku lakukan selama ini, aku bahkan bilang pada media bahwa aku masih sering berkomunikasi denganmu, selalu menghadiri undangan pada semua premier filmmu. Lalu apa yang kau lakukan, kau bahkan memberikan hadiah menyakitkan untukku dengan mengumumkan hubunganmu dengan kekasihmu.”

“terimakasih untuk semua ini so eun, aku senang karena kau masih setia dengan perasaanmu padaku selama kurang lebih 3 tahun ini. aku juga memiliki perasaan yang sama terhadapmu. jangan menganggapku sebagai orang jahat so eun-ah.”

So eun memutar tubuhnya dan langsung memeluk tubuh kim bum dengan erat, air matanya tumpah seketika. Dia tidak peduli jika baju kim bum akan basah dengan air matanya, yang terpenting hanyalah merasakan kehangatan dari pelukan orang yang dicintainya itu.

“bisakah kita selalu bersama, bisakah suatu saat nanti kita menjadi sepasang kekasih bum-ah. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku tidak peduli dengan pemberitaan itu dan aku juga tidak peduli apa penjelasanmu tentang hubunganmu dengan kekasihmu. Aku hanya ingin mendengar sendiri dari mulutmu bagaimana perasaanmu padaku saat ini kim bum.”

Kim bum membalas pelukan so eun, air matanya juga mengalir sama derasnya dengan milik so eun. tentu saja so eun tau apa jawaban yang akan diberikan kim bum atas pertanyaannya. Karena memang selama ini perasaan kim bum memang tidak akan berubah untuk so eun.

“tetaplah seperti ini so eun, jangan membenciku apapun yang terjadi. Perasaanku padamu masih tetap seperti dulu. Apapun yang terjadi dan bagaimanapun kondisinya.” Jelas kim bum sambil mengecup lembut bibir so eun.

So eun pun hanya bisa menikmati ciuman dari kim bum tanpa membalasnya, air matanya masih ingin terus membanjiri pipinya. Ya, itulah keputusan yang kim bum ambil dan so eun pasti bisa menerimanya sekarang. Karena so eun dan kim bum sendiri yakin bahwa suatu saat hubungan mereka ini akan menjadi lebih besar. So eun milik kim bum kan, begitu juga sebaliknya kan. Tentu saja dari dulu sampai sekarang seperti itu. Tidak ada yang bisa merubahnya kan.
Hubungan mereka nyata dan bukan hanya khayalan atau impian sematakan. Tentu saja.

~~~~~~~~~~~~~ THE END ~~~~~~~~~~~~~~~~