Archive for the ‘FF BUMSSO’ Category

Secret Love (part end)

Posted: 26 Juli 2014 in FF BUMSSO
Tag:

cats

Part 8

-

-

-

 

“Ini yang terakhir kalinya, setelah ini aku tidak akan pernah mengganggu hubungan kalian. Aku hanya ingin menyelesaikan sebuah potongan kisah kasihku yang masih terombang – ambing.”

 

Kalimat itu kembali memenuhi kepala So eun saat ini. Wanita itu bahkan tidan bisa fokus dengan pekerjaannya. Dipejamkannya kedua matanya dengan erat, berusaha untuk mengenyahkan semua yang berhubungan dengan Kim bum di kepalanya. Tidak akan ada lagi nama Kim bum dalam hatinya yang ada hanyalah Ki bum – suaminya. Tidak akan pernah ada lagi yang lain. Setidaknya itulah tekad So eun beberapa hari yang lalu, ketika Kim bum mengatakan pada So eun bahwa pria itu akan pergi meninggalkan Seoul.

 

So eun masih berusaha mengenyahkan bayang – bayang Kim bum dari otaknya, walaupun sulit dan enggan tapi So eun tetap berusaha mengenyahkan perasaan terlarangnya pada sang ipar. Jika beberapa hari yang lalu So eun sudah memantapkan hatinya dan berjanji untuk melupakan semua kejadian yang berhubungan dengan pria itu, untuk hari ini So eun seperti mengingkari janjinya sendiri. Wanita itu bahkan tidak bisa menghapus nama Kim bum dari memori ingatannya. Bahkan nama Kim bum seperti tercetak jelas di dalam kepala So eun saat ini.

 

“Bahkan setiap kali mata ini berkedip, hanya ada senyummu di dalam benakku. Kau membuatku gila untuk.” Batin So eun. Wanita itu menyandarkan tubuh lunglainya pada sandaran kursi.

Kepala itu bisa pecah dalam sekejap jika isi di dalamnya hanya dipenuhi dengan satu nama manusia yang benar – benar membuatnya tidak bisa terlelap dengan nyaman. Diraihnya ponsel berwarna hitam yang tergeletak di meja yang ada di depannya saat ini. di cari daftar kontak yang akan dihubunginya. Sayangnya So eun tidak seberani kelihatannya, wanita itu bahkan hanya bisa memandangi daftar kontak itu tanpa berani menghubungi daftar kontak tersebut.

 

“Apa yang sedang kau lakukan?” Suara itu menyadarkan So eun dari kekalutan hatinya. Lagi – lagi So eun mengabaikan pria yang jelas – jelas ada di dekatnya dan lebih memikirkan pria yang bahkan membuatnya hampir gila. Dengan cepat So eun meletakkan ponselnya dan mengadahkan wajahnya kepada sang suami yang saat ini berdiri disamping tempatnya duduk.

 

“Kau terlihat tidak sehat. Istirahatlah!” Sambung Ki bum. Sambil mematikan laptop So eun yang sedari tadi masih menyala tapi tidak dihiraukan oleh sang istri.

 

“Apa hari ini kau membutuhkan bantuanku oppa?”

 

“Hm?” Ki bum bingung dengan pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut So eun. Aneh rasanya jika mendengar sang istri bertanya hal yang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab wanita tersebut setiap hari. bukankah memang sudah sewajarnya So eun membantunya setiap hari jika sang suami memerlukannya.

 

“Maaf oppa! Hari ini aku ingin pergi sebentar. Ada sesuatu yang ingin aku selesaikan.”

 

Kening Ki bum berkerut, lagi – lagi istrinya ini bersikap aneh. “Kau mau kutemani?” ada perasaan takut dalam hati Ki bum setiap kata – kata yang keluar dari mulut So eun. Ki bum tidak bodoh, pria itu sadar apa yang saat ini sedang difikirkan oleh istrinya.

 

“Aku bisa pergi sendiri oppa. Jangan menungguku jika aku pulang terlambat oppa!” So eun segera beranjak dari tempatnya dan melangkahkan kakinya perlahan menjauh dari sang suami. Niat ini memang salah, karena So eun sudah berani membohongi suaminya. Tapi bagaimanapun semua ini harus diselesaikannya tanpa meninggalkan luka. Tentu saja So eun tidak ingin membohongi Ki bum lebih lama lagi. Jika memang Kim bum akan pergi meninggalkannya setidaknya So eun harus mengucapkan selamat tinggal pada pria itu karena selama ini tanpa Kim bum mungkin So eun tidak akan mampu bertahan.

 

“Aku pergi oppa!” Ujar So eun, tepat saat gadis itu menutup pintu rumahnya dan meninggalkan Ki bum yang hanya bisa mematung. Pria itu seperti kehilangan kesadarannya untuk beberapa saat.

 

“Inikah saatnya untukku melepaskanmu Kim so eun.” Gumam Ki bum. Diusapnya wajah bersih tersebut dengan kedua tangannya untuk menghilangkan keresahannya.

Dengan tubuh lunglai Ki bum mendudukkan tubuhnya dikursi tempat tadi So eun berada. Wajahnya mengamati setiap benda yang ada di atas meja yang saat ini berada di hadapannya. Ki bum mendapati sebuah ponsel berwarna hitam yang tergeletak diatas meja. Ki bum sudah tau jika itu ponsel milik sang istri, jadi pria itu segera mengambil benda berwarna hitam tersebut dan dinyalakannya benda itu. Ketika lampu layar ponsel itu menyala, mata Ki bum langsung menajam. Walaupun pria itu tidak terlalu kaget dengan apa yang dilihatnya tetap saja, rasa kecewa itu menyelimuti hatinya.

 

“Aku tidak yakin dengan semua ini.” Batin Ki bum.

 

***

 

Kim bum sudah selesai memesan tiket pesawat untuk kepergiannya kembali ke Jepang lusa. Mungkin memang sekarang lah waktu yang tepat untuk melepaskan semuanya. Kim bum bukan lagi pria muda yang berusia belasan tahun, yang masih akan menggebu dalam urusan percintaan. Usianya sudah 28 tahun, sudah tidak pantas lagi Kim bum menangisi hal – hal yang dianggapnya hanya pantas dilakukan oleh anak – anak SMA. Jika memang takdir tidak membiarkan dirinya mendapat cinta dari kakak iparnya, Kim bum rela asalkan So eun tetap bahagia bersama dengan sang kakak. Mungkin memang hanya kakaknya lah yang pantas untuk So eun.

 

“Aku merindukanmu.” Batin Kim bum.

Pria itu mengeluarkan ponselnya yang sejak tadi berada disaku celananya. Niatan untuk kembali menghubungi So eun kembali mengganggu fikirannya. Akal sehatnya benar – benar sudah tidak bisa diajak bekerja sama. Kim bum bahkan masih berharap takdir akan membuatnya bersatu dengan So eun, padahal sudah jelas bahwa itu akan sangat sulit terjadi.

 

Kim bum mengurungkan niatnya. Tidak lagi. Sudah cukup untuk Kim bum mengganggu hubungan rumah tangga sang kakak, masih kurang puaskah Kim bum menghancurkan kebahagiaan sang kakak hanya untuk kepentingannya sendiri. Bukankah terdengar egois jika Kim bum masih berniat menghubungi kakak iparnya.

Seulas senyum mengembang di wajah tampan Kim bum. Pria itu memasukkan kembali ponsel miliknya kedalam saku. Di enyahkannya niatan untuk menghubungi So eun. Akan lebih menyakitkan jika nanti Kim bum mendengar suara So eun. Pasti Kim bum akan semakin sulit melupakan bayang – bayang So eun. Kim bum memandang lekat tiket pesawat yang saat ini sudah berada dalam genggamannya. Senyum getir itu mengembang di sudut bibirnya. Akan lebih baik jika Kim bum menyiapkan semuanya hari ini. Pria itu segera melangkahkan kakinya untuk kembali ke apartemennya. Setidaknya hari ini Kim bum akan benar – benar menyiapkan badannya untuk jadwal penerbangannya ke Jepang dua hari lagi.

 

***

Kegugupan melanda So eun. Wanita itu masih berdiri di depan pintu apartemen lamanya. Sudah sangat lama sekali So eun tidak mengunjungi tempat ini, dan hari ini karena adik iparnya itu, So eun harus kembali menginjakkan tempat yang dulu pernah ditinggalinya. Tangan itu mengambang di udara, berusaha untuk membunyikan bel apartemen tersebut. Tapi niatnya itu masih belum bisa dilakukannya mengingat dirinya masih belum bisa meyakinkan hatinya akan apa yang akan dikatakannya pada Kim bum, jika nantinya pria itu membukakan pintu untuknya.

 

“Apa yang kau lakukan di sini So eun-ssi?” Pertanyaan itu menghentikan tangan So eun yang sudah bersiap untuk menekan tombol yang tertempel di dinding, segera menghentikan niatnya dan mengarahkan pandangannya pada orang yang sedang menyapanya. So eun yakin jika suara itu adalah suara pria yang saat ini ingin ditemuinya.

 

“Kau membuatku terkejut So eun-ssi.” Kim bum melangkahkan kakinya mendekati So eun yang saat ini berdiri di depan pintu apartemennya. Kim bum mengeluarkan kunci apartemennya dan hendak membuka pintunya, ketika sebuah pelukan menggagalkan niatnya.

 

“Maafkan aku… Maafku aku Kim bum-ssi!” So eun mengeratkan pelukannya pada pinggang Kim bum. So eun bahkan tidak peduli dengan degup jantung Kim bum yang saat ini berdetak tidak karuan akan aksinya. So eun hanya ingin melepas semua kegundahan yang dia rasakan beberapa hari ini.

 

“Bisakah aku melepasmu mulai saat ini! So eun mengendurkan pelukannya pada pinggang Kim bum. Tapi detik berikutnya pria itu menahan tautan jemari So eun, agar tetap berada pada posisinya saat ini.

 

“Bisakah aku meminta agar kau tidak melepaskanku So eun-ssi?” Suara itu lirih, bahkan hampir tidak terdengar. Tapi tentu saja telinga So eun masih bisa mendengarnya. Dan So eun menyukai pertanyaan itu.

 

“Bisakah kau memberikanku alasan agar aku tidak melepasmu Kim bum-ssi. Aku hanya ingin tau apa alasanmu melarangku untuk melepaskanmu!.”

Kim bum membalikkan tubuhnya dan merengkuh So eun kedalam dekapan erat lengannya. Pria itu mengeratkan pelukannya pada tubuh So eun. Kim bum menitikkan air matanya ketika dirinya menyadari bahwa inilah saat terakhirnya bersama dengan So eun. Mungkin dengan seperti ini Kim bum benar – benar bisa melepas So eun.

 

“Aku mencintaimu So eun-ssi.” Gumam Kim bum, pria itu tidak berharap So eun mendengarnya. Tapi tetap saja Kim bum mengatakannya. “Aku menyukaimu sebelum kakakku bertemu denganmu.” batin Kim bum.

 

“Terimakasih untuk perasaanmu itu Kim bum-ssi.” Jawab So eun. So eun benar – benar merasa nyaman berada didalam pelukan Kim bum saat ini. Rasa hangat benar – benar menyelimuti tubuhnya. Bagaimanapun So eun tidak akan pernah lupa akan setiap sentuhan yang sudah diberikan Kim bum padanya. Sampai kapanpun So eun tidak akan pernah bisa melupakan hal tersebut.

 

Kim bum melepaskan pelukannya pada So eun. Senyum tidak lepas dari bibirnya, walaupun air matanya sudah tidak bisa lagi dibendungnya.So eun pun juga tersenyum ketika melihat senyum tulus Kim bum. Harus bagaimana lagi, hari ini So eun sudah berjanji pada diriya sendiri untuk menyelesaikan masalahnya dengan Kim bum. So eun tidak ingin egois, wanita ini tidak bisa memiliki keduanya walaupun sebenarnya ingin. So eun tidak ingin menyakiti salah satunya walaupun pada akhirnya memang akan ada hati yang tersakiti nantinya.

 

“Kita masuk kedalam!”

 

So eun menganggukkan kepalanya, dan mengikuti langkah kaki Kim bum yang sudah membukakan pintu untuknya. Apartemen ini masih sama, tidak ada yang berubah. Sepertinya Kim bum tidak merubah susunan benda yang ada di dalamnya. So eun bahkah tidak mempedulikan hal itu lagi.

 

Kim bum mendekati meja yang digunakannya untuk menyimpan buku – bukunya. Diambilnya salah satu foto berbingkai yang terletak di atas meja tersebut. tentu saja itu foto dirinya dan juga So eun ketika keduanya sedang berlibur ke desa bersama. Betapa saat – saat itu adalah, moment yang sangat membahagiakan dan tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Kim bum.

 

“Kau masih menyimpannya?”

 

“Hm.” Kim bum meletakkan kembali bingkai foto tersebut. Ingin rasanya Kim bum mengulang masa – masa itu. Dimana hanya ada dirinya dan juga So eun. Hanya melihat senyum So eun dan tidak ada lagi yang dibutuhkannya selain wanita ini. Jadi bagaimana bisa Kim bum akan bertahan hidup jika So eun tidak ada bersamanya.

 

“Aku ingin menyelesaikan semuanya. Semoga kau bisa menjalani hari – harimu dengan baik disana. Tidak perlu mengkhawatirkanku lagi, karena disini aku akan senantiasa menjaga Ki bum oppa. Jangan khawatir aku akan menangis lagi, karena kupastikan kau tidak akan pernah melihat satu tetes air matapun jatuh dari mataku, walaupun sebenarnya aku ingin mengeluarkannya.”

 

Kim bum memutar tubuhnya, dibimbingnya So eun kedalam pelukannya. Seberapa besarpun keinginan Kim bum untuk menahannya tetap saja semua itu tidak akan berhasil. Bahkan jika diijinkan saat ini juga Kim bum pasti akan membawa pergi So eun bersamanya. Tidak peduli dimanapun asalkan hanya ada mereka berdua itu sudah lebih dari cukup.

 

“Bisakah aku membawamu pergi bersamaku? Tidakkah kau juga menginginkan hal ini, kau tidak bisa membohongi perasaanmu. Aku tau kau memiliki perasaan yang sama padaku!” lagi dan lagi Kim bum berubah menjadi pria yang cengeng, pria itu menitikkan air mata, entah sudah keberapa kalinya pria itu menangis, tapi tentu saja Kim bum tidak akan mempedulikanya.

 

“Apa aku bisa melakukannya? Aku bahkan terlalu takut hanya untuk sekedar memikirkannya. Jadi bagaimana bisa aku melakukannya? Apa yang harus kulakukan sekarang?”

 

“Aku akan menjelaskan semuanya pada Ki bum hyung, aku akan mengatakannya. Aku akan meminta ijinnya agar bisa membawamu pergi bersamaku.” Kim bum menghentikan kalimatnya, pria itu memejamkan matanya tentu saja tidak yakin dengan apa yang baru saja dikatakannya. Apa benar Kim bum bisa bersikap egois seperti itu. Apakah Kim bum bisa menyakiti hati sang kakak, dengan cara mengambil istrinya. Apa ini yang diharapkan Kim bum selama ini, mencoba mengalahkan kakaknya dengan mengambil orang yang dicintai sang kakak.

 

“Aku tidak mau lagi, kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku. Tidak ingin lagi. Aku tidak bisa melepaskanmu. Pergilah bersamaku So eun-ssi. Aku mohon!”

 

“Aku datang kesini bukan untuk pergi bersamamu Kim bum-ssi. Aku datang menemuimu karena aku ingin menyelesaikan semua perasaanku padamu. Perasaan ini tidak seharusanya ada.” So eun mengeluarkan tubuhnya dari dekapan Kim bum. Wanita itu memundurkan tubuhnya, sedikit menjauhi Kim bum.

 

“Terimakasih sudah menemaniku selama ini. aku tidak akan pernah melupakanmu Kim bum-ssi.” So eun tersenyum, seraya membungkukkan badanya. Ini yang terakhir kalinya. So eun bisa melihat Kim bum.

So eun melangkahkan kakinya menjauhi Kim bum. Sudah cukup untuk hari ini, wanita itu tidak boleh lama – lama tinggal ditempat ini. bisa saja pilihan yang sudah difikirkan matang – matang ini akan berubah lagi jika wanita itu tidak sesegera mungkin meninggalkan apartemen tersebut.

 

“Tidak bisakah kau tetap tinggal bahkan aku sanggup berulang kali memintanya padamu? Apa kau benar – benar tidak ingin mempertahankan ini semua?” Teriak Kim bum, tepat disaat So eun ingin meninggalkan apartemennya.

 

“Kau benar – benar akan membunuhku jika kau melangkahkan kakimu lagi. Kau tidak boleh pergi dari tempat ini So eun-ssi. TIDAK BOLEH!” Teriak Kim bum.

 

So eun tidak mempedulikan Kim bum, wanita itu tetap pada pendiriannya untuk melepaskan Kim bum dari hidupnya. ini sudah menjadi keputusannya.

 

“Kau membuatku marah. Kenapa kau tidak pernah melihat keberadaanku So eun-ssi? Aku yang ada dihatimu saat ini, aku yang kau cintai saat ini dan akulah yang seharusnya menjadi suamimu saat ini. Tidakkah selama ini kau menyadarinya? Apakah hatimu benar – benar tidak bisa melihatnya, atau kau memang sengaja menghindarinya?”

Kim bum menarik kembali lengan So eun, agar wanita itu bisa direngkuhnya. So eun berontak, wanita itu tidak ingin menerima pelukan dari Kim bum dan tentu saja itu membuat Kim bum marah. Bagaimanapun juga Kim bum sudah terlalu lama bersabar, jadi jika hari ini kesabarannya itu sudah tidak bisa dikendalikan lagi, jangan pernah salahkan Kim bum. So eun yang membuatnya buta, dan wanita itu juga seolah – olah membutakan hatinya dari perasaan yang sesungguhnya.

 

“Aku harus pergi Kim bum-ssi.” Teriak So eun, mencoba melepaskan tubuhnya dari cengkraman Kim bum.

 

“Untuk apa kau datang kemari jika sekarang kau ingin pergi So eun-ssi? Apa kau pikir, kau bisa datang dan pergi sesuka hatimu!” Kim bum masih mencengkram kuat tubuh So eun agar wanita itu tidak bisa pergi.

 

“Aku kemari karena ingin menyelesaikan semuanya. Tidak bisakah kau melepaskanku? Aku sudah lelah dengan semuanya.”

 

“Tidakkah kau mengerti aku, apa kau kira aku tidak lelah dengan semua ini. aku bahkan jauh lebih lelah dari pada dirimu. Ini semua memang salahku, aku juga tidak menginginkan hal ini terjadi. Bukan aku yang memulainya… bukan aku.”

 

“Biarkan aku pergi.. kumohon lepaskan aku.” Teriak So eun histeris, gadis itu menghempaskan lengan Kim bum yang sejak tadi mencengkram bahunya. Tangan itu terlepas, Kim bum bahkan hanya bisa terkesima ketika mendengar permohonan dari So eun.

 

“Apa kau benar – benar ingin pergi jika aku mengatakan semuanya. Siapa aku dan apa yang telah kulakukan padamu dimasa lalu, benarkah kau masih tetap memohon padaku untuk melepaskanmu.” Batin Kim bum. Lidah itu kelu tidak mampu digerakkan. Kalimat itu akan tetap tersimpan, sampai kapanpun Kim bum tidak akan punya keberanian untuk mengungkapkannya.

Pria itu menarik tubuh So eun lagi, dikecupnya bibir wanita tersebut. Jika So eun akan berontak, Kim bum tetap akan melakukannya. Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Kim bum untuk menikmati setiap momentnya bersama dengan So eun.

 

So eun tidak menolak ciuman dari Kim bum, tapi wanita itu juga tidak membalasnya. So eun hanya ingin membiarkan Kim bum melakukan apapun pada dirinya. Sesungguhnya hal ini juga membuat hati So eun sakit.

 

“Aku akan selalu mencintaimu, apapun yang terjadi.” Kalimat itu terucap ketika Kim bum melepaskan pagutan bibirnya pada bibir So eun. Kim bum memandang lurus mata So eun, masih berharap wanita yang ada didepannya ini menghentikan niatnya untuk pergi walau itu tidak mungkin.

 

Direngkuhnya tubuh So eun yang saat ini bergetar hebat. So eun memang tidak mengeluarkan air mata karena wanita itu sekuat tenaga menahan air matanya.

So eun membenturkan kepalanya pada dada bidang milik Kim bum. Kim bum memeluk tubuh So eun dengan erat. Kedua hati itu sudah sama – sama memantapkan hatinya, memilih jalannya masing – masing.

 

Pintu apartemen terbuka, menampilkan sosok pria tinggi dengan bentuk fisik yang sama seperti Kim bum. Pria itu Ki bum, pria itu berdiri mematung ditempatnya menyaksikan apa yang saat ini tengah dilakukan oleh Kim bum dan juga So eun.

 

“Oppa..” Seruan itu keluar dari So eun yang ditujukan untuk suaminya yang akan memutar tubuh dan melangkahkan kakinya menjauh dari apartemen tersebut.

So eun melepaskan pelukan Kim bum dan segera berlari menyusul langkah panjang suaminya. Inilah saatnya, So eun harus memutuskan siapa yang akan dipilihnya. So eun harus menyelesaikan semua masalah hatinya dengan dua kembar yang sudah mengacaukan hidupnya..

Kim bum tidak menghalangi niat So eun untuk pergi, wanita itu memang harus menentukan pilihannya. Kim bum akan berusaha siap jika memang kenyataannya nanti dirinya bukanlah pria yang dipilih oleh So eun. Asalkan pria itu adalah kakaknya, mungkin Kim bum akan rela walau terpaksa.

 

“Oppa… “ akhirnya So eun bisa menyusul langkah Ki bum. Wanita itu bahkan sudah menggenggam lengan kekar suaminya.

 

“Kau menipuku..” desisi Ki bum. Pria itu menghentikan langkahnya dan menatap tajam sang istri.

 

“Maafkan aku oppa.. kurasa ini memang jalan yang terbaik untuk kita. Kumohon biarkan aku pergi.” Pinta So eun. Gadis itu menitikkan air matanya ketika memohon pada Ki bum. Air mata yang tidak bisa dikeluarkannya jika berada dihadapan Kim bum, kini tumpah ruah ketika wanita itu bersitatap dengan suaminya. So eun berusaha tegar di hadapan Kim bum, sedangkan wanita ini terlihat tidak berdaya di hadapan Ki bum.

 

“Kau ingin pergi bersama si brengsek itu? Kau meninggalkanku karena pria itu?” Ki bum marah. Pria itu tidak menyangka jika ketakutannya selama beberapa bulan ini memang akan benar – benar terbukti. Dan hari inilah bukti itu terwujud. So eun meminta Ki bum untuk melepaskannya.

 

So eun menggelengkan kepalanya. “Aku tidak akan pergi dengan siapapun. Tidak denganmu ataupun Kim bum-ssi..” So eun menundukkan kepalanya, tidak ingin menatap mata tajam Ki bum terlalu lama, karena sorot mata itu menyakitkan untuk So eun.

 

“Biarkan aku menjalani hidupku sendiri. Aku ingin lepas dari bayang – bayang kalian berdua. Aku tidak ingin menyakiti siapapun.” So eun melepaskan genggaman tangannya pada lengan Ki bum. Diberikannya pelukan singkat untuk Ki bum sebelum akhirnya So eun melangkahkan kakinya meninggalkan Ki bum yang masih diam mematung.

 

***

 

So eun berdiam diri di dalam kamarnya. Sudah lama So eun meninggalkan tempat nyaman ini. Dulu sebelum So eun bertemu dengan Ki bum dan menjalin kasih dengan pria itu, kamar inilah yang selalu membuatnya nyaman. So eun memeluk kedua lututnya, wanita itu menangis dalam diam. Berkali – kali ibunya mengetuk pintu kamarnya, So eun tetap tidak bergeming dari posisinya.

 

“Apa yang harus kulakukan sekarang Tuhan…?” Tanya So eun dalam hati. Nafasnya tercekat, paru – parunya seperti mengecil, rasanya detik ini jiwa So eun seperti tidak berada dalam raganya.

 

“Tidak bisakah kau membuka pintunya sebentar sayang.. jangan membuat ibu khawatir So eun-ah.” So yeon tidak henti – hentinya membujuk sang putri yang sudah dua hari mengurung dirinya di dalam kamar. So yeon tau apa yang saat ini difikirkan oleh So eun. So eun sudah menceritakan semua masalahnya pada sang ibu.

 

“Mau sampai kapan kau akan menyiksa dirimu sendiri So eun-ah? Bukankah ini keputusan yang sudah kau pilih, tidakkah kau mempertanggung jawabkan pilihanmu?”

Tetap tidak ada suara dari dalam kamar, selain isak pilu yang terdengar menyakitkan.

 

“Bukalah pintunya sayang. Bukankah masih ada ibu yang selalu disampingmu. Kau tidak sendiri.” Lagi – lagi So yeon membujuk sang putri, walaupun sudah jelas – jelas usahanya itu tidak akan pernah berhasil.

 

***

 

Kim bum duduk di lantai, pria itu tidak kalah kacau dengan kondisi So eun. Hari ini adalah hari terakhirnya berada di Korea sebelum dirinya berangkat ke Jepang besok pagi. Kim bum tau So eun tidak memilihnya tapi pria itu masih berharap akan ada suatu keajaiban yang menghampiri dirinya.

 

Ponsel yang tergeletak disampingnya bergetar, walaupun enggan Kim bum tetap harus menjawab panggilan yang saat ini masuk ke dalam ponselnya. Mungkin jika orang lain yang saat ini menghubungi Kim bum, pria itu tidak akan pernah mau menerimanya mengingat saat ini dirinya tidak dalam kondisi yang baik. Tapi tentu saja Kim bum tidak bisa mengabaikan panggilan tersebut ketika mengetahui bahwa orang yang sedang menghubunginya saat ini adalah kakaknya.

 

“Tidakkah kau ingin mengunjungi mereka?” pertanyaan itu langsung bisa didengar oleh Kim bum ketika pria itu mendekatkan ponselnya ke telinga.

 

“Bisakah kau pergi bersamaku hari ini. Sudah lama sekali aku tidak mengunjungi mereka.” Ki bum memang tidak suka berbasa – basi, dan Kim bum paham akan hal itu.

 

“Hm.” Hanya itu yang bisa diberikan Kim bum sebagai jawaban dari pertanyaan sang kakak. Kim bum mematikan ponselnya, ketika pria itu merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan lagi dengan Ki bum.

 

Kim bum dan Ki bum sudah berada didalam mobil, keduanya akan melakukan perjalanan ke Busan. Dua kembar ini akan mengunjungi makam kedua orang tuanya atas usul Ki bum. Hening, tidak ada seorangpun yang berniat memecah kesunyian yang melanda. Kim bum tetap fokus pada kemudinya, sedangkan Ki bum lebih memilih untuk memejamkan matanya walaupun pria itu tidak tertidur.

 

Rasa bersalah menghantui keduanya. Bukan hanya Kim bum ataupun Ki bum saja yang merasa bersalah pada satu sama lain, melainkan keduanya. Baik Kim bum dan Ki bum sama – sama ingin mengucapkan kata maaf, tapi seperti tidak punya keberanian.

Masih belum ada yang ingin mengeluarkan suara terlebih dahulu, hingga mobil berhenti disebuah pemakaman umum yang terletak didaerah tak padat penduduk.

 

Dua pria itu keluar dari dalam mobilnya. Keduanya menghampiri makam kedua orang tuanya. Saling memanjatkan doa untuk orang tua mereka. sama – sama bersujud di depan makam kedua orang tua mereka. Bagi Kim bum ini akan menjadi kali terakhirnya untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya.

 

“Aku sangat merindukan tempat ini.” Ki bum melangkahkan kakinya dengan langkah penuh semangat layaknya anak kecil. Kota kelahirannya ini sudah banyak berubah, apalagi bukit yang saat ini tengah didakinya.

 

“Apa yang mau kau lakukan hyung?” Kim bum heran kenapa Kakaknya mengajak ketempat ini. Untuk apa Ki bum mengajaknya kebukit ini. Kim bum benar – benar malas jika harus pergi ketempat ini lagi, tempat ini akan membuat kenangan – kenangan menyakitkan yang selama ini sudah dipendam Kim bum menjadi muncul lagi.

 

“Kau takut datang ketempat ini?” Ki bum masih asyik melangkahkan kakinya, pandangannya lurus kedepan. Tidak sedikitpun Ki bum menoleh pada adiknya yang berjalan dibelakangnya.

 

“Kita pulang hyung.. kondisimu masih belum sepenuhnya pulih!” ucap Kim bum. Pria itu masih setia mengekori langkah kakai Ki bum.

 

Kini keduanya sampai di atas sebuah jembatan gantung yang cukup panjang. Ki bum menghentikan langkahnya, begitu juga Kim bum. Rintik – rintik air hujan mulai turun dari langit. Kabut tebal menyelimuti jurang yang membentang dibawah jembatan gantung tersebut,

 

“Ayo kita pergi Hyung.. sebentar lagi hujan akan turun.” Pinta Kim bum. Kim bum tidak ingin terjadi apa – apa pada kakaknya, Ki bum baru saja sadar dari komanya. Dan Kim bum tidak ingin melihat Ki bum sakit lagi.

 

Ki bum masih berdiri membelakangi sang adik. Tidak disahutinya permintaan Kim bum. Pria itu seperti bergelut dengan sisi lain dalam dirinya. “Siapa wanita yang kau selamatkan Kim bum?” Suara itu bernada dingin.

 

Kim bum mematung, tidak bisa menjawab pertanyaan yang telah diajukan oleh kakaknya. Bukan tidak bisa, pria itu terlalu takut untuk menjawabnya. Kim bum lebih memilih diam dan tidak berkata apapun, Kim bum yakin tanpa dirinya menjawabpun kakaknya sudah tau apa jawabannya. Mungkinkah Ki bum hanya memastikan kebenaran akan ceritanya dulu.

 

Ki bum membalikkan badannya, mata itu memandang sosok pria yang ada di depannya dengan tatapan membunuh. “Bagaimana bisa kau menghianatiku?” desis Ki bum.

 

Kim bum melangkahkan kakinya, berniat mendekati sang kakak. Kepala itu masih tertunduk, belum berani membalas tatapan sang kakak. “Hyung…” panggilnya. Lirih.

 

“Kau mengambilnya dariku.. kau membuat wanitaku berpaling. Kenapa harus dia yang kau sukai Kim bum-ah!” Ki bum berteriak. Pria itu mendorong tubuh Kim bum yang hendak mendekatinya. Tidak ingin Kim bum mendekatinya, Ki bum pun memundurkan tubuhnya kebelakang.

 

“Dia mencintaiku, kau tidak punya hak sama sekali untuk merebutnya. Dia tidak benar – benar menyukaimu, dia hanya mencintaiku. Apa kau tidak sadar jika dia itu hanya milikku.” Teriakan Ki bum semakin lantang. Suara itu benar – benar membuat Kim bum merah padam.

 

“Kau yang menciptakan semua kekacauan ini. Tidakkah kau sadar jika semua ini terjadi atas ulahmu?” Kini mata itu menatap lekat ke iris tajam milik sang kakak. Kim bum sudah tidak takut lagi pada Ki bum. Jika Ki bum sudah berani menyalahkan kesalahan yang pria itu ciptakan pada Kim bum, untuk apalagi Kim bum harus menghormati sang kakak, sedangkan sang kakak bahkan tidak sedikitpun menghargai dirinya.

 

“Jangan membentakku… Jangan pernah menyalahkanku, ini semua tidak akan pernah terjadi jika kau tidak pernah menyetujui usulku. Bukankah kau bisa menolak permintaanku waktu itu.”

 

“Jika aku menolak permintaanmu waktu itu, apakah aku tetap tidak akan bertemu dengannya. Tanpa aku menjadi dirimupun, kami akan tetap dipertumakan oleh takdir.”

 

“Berhenti bicara omong kosong. Takdirmu bersama dengan Im yoona, bukan Kim so eun. Wanita itu yang kau tolong, bukan So eun. Selamanya kau tidak akan pernah mendapatkannya.”

 

“Kau masih tidak bisa membuka matamu hyung… apa kau masih tidak sadar sudah berapa kali So eun menyerukan namaku walau aku tidak sedang bersamanya. So eun tetap memanggil namaku walaupun dia mengira aku adalah dirimu. Kau benar – benar tidak tau, atau sengaja tidak ingin tau?” Kim bum mengeluarkan semua yang selama ini ingin dia sampaikan pada sang kakak. Pria itu bahkan menyerang kakaknya dengan kalimat menyakitkan secara bertubi – tubi. Kim bum sudah hilang kendali.

 

“Aku tidak percaya dengan semua ini.” lirih Ki bum. Pria itu seperti kehilangan tenaganya.

 

Kim bum mengeluarkan sebuah kalung yang sedari tadi berada disaku jaketnya. Diulurkannya kalung itu kedepan, dan langsung menampilkan foto dirinya semasa kecil.

“Kau masih tidak sadar, bahwa So eun memang mencintaiku dan bukannya dirimu. Kau masih berpura – pura tidak melihatnya padahal jelas – jelas kau mengetahuinya. So eun bahkan menyimpan dan memandangi fotoku sampai saat ini. tidakkah kau menyadari hal itu.”

 

Ki bum berjalan mendekati tubuh Kim bum. dicengkramnya kerah baju sang adik. “Dasar brengsek.” Maki Ki bum. Tidak terima dengan kalimat – kalimat yang dilontarkan sang adik, Ki bum pun hendak memukul wajah sang adik jika saja Kim bum tidak lebih dulu menahan tangannya.

Kedua pria itu saling menahan pukulan yang akan mendarat ketubuh satu sama lain, bahkan keduanya tidak peduli jika saat ini hujan tengah mengguyur tubuh mereka. Dua kembar itu ingin melampiaskan kekesalan hati masing – masing. Walaupun hujan turun dan suara petir menggelegar tetap saja tidak menghalangi niat mereka untuk melampiaskan hasrat saling melukai tersebut.

 

Hujan yang turun semakin deras, bahkan kabut tebal seakan menutupi apapun disekitar jembatan. Jembatan yang kini dipijak oleh dua kembar bergoyang hebat karena aksi keduanya yang saat ini tengah saling dorong.

 

Ki bum mendorong tubuh Kim bum hingga tubuh sang adik limbung dan membentur rajutan tali pembatas jembatan, bahkaan kini kepala Kim bum sudah limbung kebelakang, lalai sedikit saja, Kim bum bisa langsung terjatuh dari jembatan gantung tersebut.

 

“Apa yang kau lakukan hyung.. kau mau membunuhku?” Teriak Kim bum, berusaha mendorong tubuh Ki bum yang saat ini mencengkram erat lehernya.

 

“Memangnya apa lagi yang harus kulakukan selain membunuhmu.” Ki bum pun membalas teriakan Kim bum dengan tidak kalah lantangnya.

 

Kim bum melihat wajah sang kakak yang saat ini benar – benar sedang marah. Wajah itu terlihat menyeramkan untuk Kim bum. Selama ini Kim bum selalu menghormati Ki bum, karena memang hanya Ki bum lah satu – satunya keluarga yang dimiliki oleh Kim bum saat ini. Mungkin, memang inilah balasan yang akan Kim bum dapatkan karena telah melukai hati sang kakak. mungkin dengan Ki bum membunuh Kim bum, perasaan kesal Ki bum akan hilang.

Mungkin inilah saatnya untuk Kim bum, menebus kesalahanya pada sang kakak. mati di tangan kakaknya mungkin akan lebih menyenangkan dari pada dia harus hidup, namun tidak pernah mendapatkan apapun yang dia inginkan.

 

“Lakukan apapun yang kau mau hyung..” Pasrah Kim bum. Kini Kim bum tidak lagi melawan apapun yang telah dilakukan Ki bum padanya. Bahkan kini, kedua tangan yang sedari tadi mencengkram kedua lengan Kakaknya itu terkulai lemas di kedua sisi badannya. Kim bum pasrah akan apapun yang dilakukan Ki bum pada dirinya.

 

Ki bum melepaskan cengkraman erat tangannya pada leher Kim bum. Tentu saja Ki bum tidak serius dengan ucapannya. Seberapa besarnya rasa benci dan marah Ki bum pada Kim bum, tetap saja Ki bum menyayangi adiknya. Selamanya.

Kim bum memundurkan tubuhnya kebelakang. Pria itu menangis. “Bahkan dari semenjak masih anak – anak. Kita selalu menyukai hal yang sama.” Gumam Ki bum.

 

“Maafkan aku hyung…” sesal Kim bum.

 

“Aku selalu menyusahkanmu Kim bum-ah…” lagi – lagi Ki bum menghindar ketika Kim bum mendekatinya. Setiap satu langkah Kim bum berjalan kedepan, disaat itu pula Ki bum melangkahkan kakinya kebelakang. Ki bum benar – benar tidak ingin Kim bum mendekatinya.

 

“Kita pulang hyung… aku janji, besok aku akan meninggalkan semuanya. Aku tidak akan mengambil apapun yang sudah menjadi milikmu.. aku akan pergi dari hidupmu.. Selamanya!”

 

“Cukup.. Aku tidak percaya dengan apapun yang kau katakan sekarang… aku tidak akan pernah percaya padamu lagi.”

 

“Maafkan aku hyung.. maafkan aku.”

 

Hujan masih setia turun dari langit, membasahi kedua anak manusia yang saat ini tengah bergelut dengan fikiran mereka. Sang kakak masih tidak ingin membuka sedikit hatinya untuk memaafkan kesalahan sang adik yang dinilainya sangat fatal. Sedangkan sang adik masih belum menyerah untuk mendapatkan maaf dari sang kakak.

Ki bum kembali memundurkan badannya, tubuhnya sudah basah kuyup akibat guyuran hujan yang sangat deras, ditatapnya tubuh sang adik yang tidak kalah berantakannya dengan dirinya. Ki bum sudah memaafkan Kim bum, jauh sebelum adik tercintanya itu memintanya saat ini. Hati dan mulut memang sering tidak sejalan, dan itulah yang saat ini telah dirasakan oleh Ki bum.

Waktu berikutnya, kaki Ki bum melangkah kembali kebelakang dan karena licinnya tempat yang saat ini menjadi pijakannya akibat guyuran hujan tubuh pria itupun limbung dan terperosok terjun dari jemabatan.

 

Kim bum yang melihat hal tersebut, segera meneriakkan nama sang kakak dan secepat mungkin untuk menggapai tangan Ki bum agar pria itu tidak terjatuh kebawah. “Ki bum Hyung…” tangan itu bisa diraih oleh Kim bum. Terlambat sedikit saja, sudah dipastikan bahwa saat ini tubuh Ki bum akan menghantam bebatuan yang ada di bawah jembatan tersebut.

 

“Bertahanlah.. Kumohon bertahanlah hyung..” sekuat tenaga Kim bum menarik tubuh sang kakak. Postur tubuh yang sama besarnya, ditambah guyuran hujan yang membasahi tubuhnya membuat Kim bum mengalami kesulitan untuk menarik tubuh sang kakak.

 

“Kau bisa melepaskanku Kim bum-ah.. biarkan aku menebus semua kesalahan yang telah kuperbuat padamu.. biarkan aku mati Kim bum-ah..”

 

“Apa yang kau katakan… aku tidak akan pernah melepaskanmu.. aku akan berusaha menarikmu hyung..”

 

“Kumohon kabulkan satu permintaanku Kim bum.. tolong jaga So eun untukku, aku tau dia juga mencintaimu.. selama ini memang akulah yang salah.. aku merelakannya untukmu.” Ki bum tersenyum. Maut sudah menjemputnya, dan Ki bum tidak ingin menyesal seumur hidupnya. Setidaknya dengan bersama Kim bum, So eun akan jauh lebih baik dibanding hidup bersama dengan kebohongan yang diciptakan oleh Ki bum selama ini.

 

“Terimakasih, sudah membuatnya tersenyum kembali.. adikku..” Ki bum sudah meneyerah, percuma saja Kim bum mencengkram erat tangannya, karena tidak mungkin Kim bum bisa menarik tubuhnya kembali keatas. Menit berikutnya tangan Ki bum terlepas dari cengkraman Kim bum, bersamaan dengan jatuhnya tubuh Ki bum kebawah..

 

“Hyung…” teriak Kim bum.. seakan tidak rela melihat sang kakak yang jatuh ke dasar jurang. Kim bum pun segera lompat dari atas jembatan. Pria itu tidak peduli jika nanti nyawanya hilang sekalipun. Mungkin dengan loncat bersama dan mati bersama sang kakak akan jauh lebih menyenangkan. Bukankah selama ini mereka selalu bersama, lahir bersama matipun juga bersama.

Tubuh dua pria itu melayang di udara, keduanya sudah siap menjemput ajalnya. Mungkin inilah jalan yang tepat untuk kedunya, mati bersama dan tidak mendapatkan cinta dari wanita yang mereka puja. Sama – sama tidak memiliki sang wanita, mungkin akan lebih adil bagi keduanya jika seperti ini.

 

***

“Maaf sudah mengganggu waktumu.. Yoona-ssi.”

 

Yoona, tersenyum simpul. Walaupun tidak mengalihkan pandangannya dari minuman yang sedari tadi dihadapannya, Yoona tetap mendengarkan kalimat yang dilontarkan oleh So eun, wanita yang sudah mengajaknya bertemu dan akhirnya keduanya memilih untuk duduk saling berhadapan di cafe ini.

 

“Aku sudah terlalu lama menunggumu So eun-ssi.”

 

So eun nampak terkejut dengan perkataan wanita yang saat ini tengah duduk berhadapan dengannya. apa maksud dari perkataan wanita ini. kenapa wanita ini menunggunya?

 

“Apa yang ingin kau tanyakan padaku?” Yonna bertanya pada So eun dengan nada suara yang sangat lembut. Wanita itu apa maksud dan tujuan So eun datang menemuinya. Tanpa Yoona bertanya pada So eun pun, wanita itu tau bahwa So eun akan membahas hubungannya dengan Ki bum.

 

“Aku membenci diriku sendiri Yoona-ssi. Bisakah kau jelaskan semua yang kau tau padaku! Aku yakin kau mengetahui semua yang tidak aku ketahui.”

Yoona tersenyum simpul, ditatapnya lekat wajah So eun yang saat ini juga menatapnya. Apa yang harus Yoona jelaskan. Bukankah semuanya sudah jelas, kenapa So eun masih belum memahaminya juga. Kenapa gadis ini meminta Yoona menceritakan semuanya padahal sudah jelas – jelas So eun sendiri mengetahui kisahnya.

 

“Aku masih belum yakin dengan perasaanku sendiri Yoona-ssi. Aku tidak percaya bahwa aku bisa menghianati suamiku sendiri.”

 

“Kau tidak menghianatinya… Apa yang kau lakukan ini memang salah, tapi ini semua adalah takdir. Apakah kau masih belum bisa menyadari siapa yang sebenarnya ada di hatimu So eun-ssi?”

 

“Apa kau masih mencintai Yoona-ssi?”

 

Yoona terkekeh. Pertanyaan So eun ini menyudutkan dirinya, tapi Yoona masih tetap bisa menyikapinya. Sama seperti pertanyaan Ki bum tempo hari dan sudah pasti jawaban yang akan diberikan Yoona pun akan sama dengan saat itu. “Ya… Aku masih mencintainya, dan kuharap kau tidak keberatan.” Jawab Yoona santai.

 

So eun menghela nafasnya. Tubuh itu lemas. Bukan sedih karena suaminya dicintai oleh wanita lain tapi So eun sedih pada dirinya sendiri karena tidak bisa sekuat Yoona yang tetap bisa mempertahankan perasaannya pada orang yang dicintainya, sedangkan So eun sendiri lebih memilih menyerah.

 

“Apa kau masih tidak menyadarinya? Selama ini dia sudah memberitaumu walaupun tidak secara langsung!”

 

“Aku mencoba mengabaikannya.” So eun menyesali perbuatannya.

 

“Kau bodoh So eun-ssi. Bagaimana bisa kau mengabaikannya, padahal selama ini dia selalu mencoba meyakinkanmu. Kau harus bersikap tegas pada dirimu sendiri.”

 

“Bagaimana bisa aku mengembangkan perasaan terlarangku ini Yoona-ssi. Aku ini wanita yang sudah bersuami. Haruskah aku berselingku dengan adik dari suamiku dan menghianati suamiku!”

 

Kali ini Yoona lah yang menghela nafasnya. Keadaannya memang tidak semudah yang dia bayangkan. So eun memang berada dalam posisi yang sangat menyudutkan. Wanita di hadannya ini sudah pasti tidak bisa memilih salah satu di antara keduanya. Kedua pria itu sudah memberi peran penting pada hidup So eun. Mana bisa Yoona menyalahkan semuanya pada So eun.

 

“Sampai saat ini aku masih mencintai suamimu So eun-ssi. Aku memang tidak pantas mengatakan semua ini padamu. Aku bahkan siap jika nantinya kau akan membunuhku karena telah lancang menyukai suamimu. Tapi ijinkan aku untuk mempertahankan suamimu.” Lanjut Yoona. Yoona sudah mengeluarkan semua keberaniannya untuk mengatakan hal ini. ini bukan hanya untuk So eun, tapi juga untuk diri Yoona sendiri. Yoona sudah lama menyukai Ki bum walaupun pria itu sudah beristri. Yoona tau perasaannya ini salah, tapi keadaan saat ini juga menguntungkan untuk dirinya.

Yoona bukan wanita jahat yang hobi merusak rumah tangga orang, ini masalah hati dan semuanya memang harus kembali ke jalannya.

 

“Apa kau akan terus berdiam diri disini..?” Lagi – lagi Yoona menginterupsi So eun, agar wanita itu segera mengambil keputusan.

 

“Ya.. kau bisa mempertahankan perasaanmu, dan aku akan memperjuangkan perasaanku. Terimakasih Yoona-ssi”

So eun segera berlari meninggalkan Yoona yang hanya bisa tersenyum di tempatnya. So eun memang harus memperjuangkan perasaannya sebelum semuanya terlambat.

 

So eun mengemudikan mobilnya. Tujuannya saat ini adalah tempat itu, tempat dimana pertama kalinya So eun bertemu dengan pria yang menyelamatkan hidupnya. Entah kenapa hati So eun mengatakan bahwa ujung dari permasalahannya ada disana.

 

Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk So eun bisa sampai ditempat yang menjadi tujuannya ini. Dengan langkah – langkah panjang So eun menaiki bukit itu, walaupun keadaan tanah yang dipijaknya itu lumayan licin So eun tetap melangkah maju. Melihat dari keadaan pohon – pohon yang basah sudah bisa dipastikan bahwa beberapa saat yang lalu hujan telah mengguyur tempat ini.

 

Walaupun dengan susah payah dan waktu yang cukup lama untuk sampai di tempat ini akhirnya So eun pun bisa sampai di jembatan tempat dulu dirinya tengah pingsan dan seseorang menyelamatkan hidupnya.

So eun melangkahkan kakinya untuk menyusuri jembatan gantung itu. Kali ini tidak ada lagi perasaan takut yang mendera dirinya, tapi ada yang aneh. Kali ini rasa takut itu berubah menjadi rasa kehilangan. Ada sesuatu yang janggal dengan tempat ini, dan So eun bisa merasakannya. Perasaan apa ini, kenapa hati So eun tiba – tiba menjadi sakit.

 

“Kim bum-ssi.” Teriak So eun.

 

“Kim bum-ssi!” lagi – lagi So eun menyerukan nama pria itu. Entah kenapa So eun merasa bahwa saat ini Kim bum sedang berada tidak jauh darinya. Apa benar saat ini Kim bum berada di dekatnya, kenapa So eun tidak bisa menemukannya. Apakah ini hanya halusinasi So eun semata.

 

So eun melangkahkan kakinya, mengedarkan pandangannya keseluru penjuru, tapi tentu saja yang bisa dilihatnya hanyalah pohong – pohon yang menjulang. Tidak ada Kim bum atau siapapun ditempat ini. So eum melangkahkan kakinya kembali hingga ujung sepatunya menginjak sebuah benda yang membuat So eun ingin melihat benda tersebut. So eun menajamkan matanya ketika menyadari bahwa benda yang tadi diinjaknya adalah kalungnya. Kalung yang berisikan foto Kim bum. Diambilnya kalung tersebut, dan So eun pun segera melongokkan kepalanya ke bawah.

 

“Kim bum-ssi… Kim sang bum..” Teriak So eun. Air matapun meleleh dari mata indahnya. Ada perasaan takut pada diri So eun saat ini. Apa terjadi sesuatu pada pria yang dicintainya itu.

 

“Ki bum oppa… Ki bum oppa… Kim bum-ssi… Kim bum-ssi.. Oppa.” Teriakan So eun semakin lantang dan menggema diseleruh penjuru, tapi tidak ada sahutan dari sang pemilik nama. Hanya ada hembusan angin yang menjadi jawaban akan panggilan So eun.

Tubuh itu merosot kebawah hingga terduduk, So eun hanya bisa menangis. Mungkinkah terjadi sesuatu yang buruk pada suami dan pria yang dicintainya. Jika memang benar tentu saja So eun tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.

-

-

-

Satu tahun kemudian

“Apa pekerjaanmu hari ini sudah selesai?”

 

So eun menolehkan kepalanya, ketika dia mendengar suara sahabatnya. “Aku sudah lama menunggumu Yoona-ya.”

 

“Aku mendapatkan benda ini dari seorang pria ketika aku hendak masuk ke dalam tokomu.” Yoona menyodorkan amplop coklat berukuran sedang pada So eun.

 

So eun pun segera mengambil amplop itu dari tangan Yoona. Membuka amplop itu dengan perlahan dan mengeluarkan isinya. So eun terkejut ketika mendapati isi yang ada didalam amplop tersebut. Satu lembar foto. Dan foto itu berisikan pria yang sangat dirindukannya.

 

“Dimana pria yang memberimu amplop ini Yoona-ya?” Teriak So eun. So eun segera berlari keluar dari toko kuenya meninggalkan Yoona yang terlihat bingung dengan apa yang dilakukan So eun.

Yoona segera mengambil kertas yang dijatuhkan So eun tadi. Yoona sangat kaget ketika membalik kertas tersebut. kertas itu adalah foto Kim bum dan Ki bum yang tengah berpelukan dan sedang tersenyum.

 

Yoona segera menyusul So eun. Dan kini dua wanita itu tengah berhadapan langsung dengan dua pria yang sudah amat sangat dirindukannya. Kim bum dan Ki bum tengah berdiri tegap dihadapan keduanya. Kedua pria itu tengah melemparkan senyuman cerah mereka pada kedua wanita yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

 

“Kita kembali untuk kalian.” Ucap Kim bum dan Ki bum bersamaan dengan kedua tangan yang merentang bersiap menyambut wanita – wanita yang dirindukannya.

So eun segera menghambur ke pelukan Kim bum, sedangkan Yoona dengan ragu mendekati Ki bum dan secepat mungkin Ki bum pun meraih wanita yang mencintainya itu kedalam pelukannya.

 

“Kita merindukan kalian.” Ucap So eun dan Yoona bersamaan.

 

***

Januari 2008

 

Seorang pria tampan berusia sekitar 20 tahunan tengah berada di dalam sebuah cafe yang terletak tak jauh dari rumahnya. Saat ini dia sedang berada di depan kasir sambil memperhatikan daftar menu yang terpampang jelas di atas kepala seorang kasir.

 

“sepertinya anda sering sekali kesini?” tanya sang kasir pada pemuda yang saat ini ada dihadapannya.

 

“rumahku tidak jauh dari sini, jadi aku senang datang kesini.” jawab pemuda itu sambil tersenyum ramah.

 

Setelah pemuda itu memesan apa yang dia inginkan, pemuda itu pun mencari tempat duduk yang nyaman untuknya sambil menunggu pesanannya datang.

Pemuda itu memilih tempat duduk yang dekat dengan kaca agar dia bisa melihat keadaan luar. Ketika tengah asyik memperhatikan pemandangan di luar, pemuda itu kaget kala ada seorang gadis tengah berdiri memandangnya.dan sepertinya gadis itu sedang bicara pada si pemuda.

 

“yaa.. oppa, kenapa kau ada disitu?” tanya sang gadis pada si pemuda yang ada di dalam cafe. Sembil menampilkan wajahnya yang lucu

 

“oppa.. aku mencintaimu.. aku menyukaimu..” ucap gadis itu lagi pada si pemuda. Gadis itu mengatakannya. Mengatakan isi hatinya, walaupun saat ini pasti dia sangat malu karena seorang pelayan yang mengantarkan pesanan pemuda yang dipanggilnya oppa tadi tengah memperhatikannya.

 

Harusnya gadis itu tau, kalau si pemuda tidak akan bisa mendengar suaranya. Mengingat keadaan mereka yang saat ini tengah terhalang oleh sebuah tembok kaca.

 

“oppa tunggu aku, aku akan menghampirimu.” Ucap gadis itu lagi.

 

Si pemuda itu hanya bisa tersenyum melihat tingkah gadis yang ada di depannya tadi. Dia benar – benar tidak tau apa yang telah diucapkan oleh gadis itu. Tapi pemuda itu tampaknya sangat senang bisa melihat gadis tadi.

Dia benar – benar cantik. Aku sangat mengaguminya. Betapa cantiknya dia saat itu, andai saja aku tidak pergi. mungkin dia bisa menjadi milikku. Aku tidak menyangka, setelah aku kembali mereka sudah menikah. (si pemuda)

 

gadis itu sudah memasuki cafe dan berniat menghampiri pemuda tadi. Namun ketika dia sudah sampai tempat duduk pemuda tadi, dia tidak menemukannya, tidak ada pemuda itu. Kemana dia? pikir gadis itu.

Gadis itu mengedarkan pandangannya ke semua penjuru dan tidak menemukan pemuda tadi. Kemana dia pergi.

 

Gadis tadi mendengar Sebuah suara ketukan dari balik kaca. Dan gadis itu pun menoleh ke sumber suara. Dia sedikit terkejut ketika melihat pemuda tadi sudah berada di luar. Kapan pemuda itu keluar, kenapa gadis itu tidak melihatnya.

 

“yaa.. apa yang kau lakukan disitu. Aku mencintaimu..” ucap pemuda itu sambil berlutut dari balik kaca. Sambil membawa seikat bunga. Dan tersenyum kepadanya.

 

Si gadis benar – benar tampak terkejut. Kenapa terasa aneh, kenapa seperti berbeda. Kapan pemuda itu mengganti bajunya kenapa cepat sekali. Beribu pertanyaan yang ada didalam kepala gadis itu namun akhirnya dia tersenyum senang.

Si pria memeluk tubuh wanitanya. Dan sang wanita pun membalas pelukan pria tersebut.

 

“Maukah kau menikah denganku So eun-ah?” So eun menganggukkan kepalanya, ketika pria yang dulu telah menyelamatkan nyawanya itu melamarnya.

 

Tidak jauh dari tempat So eun, Kim bum hanya bisa memperhatikan apa yang dilakukan kakaknya itu. Jika saja pelayan wanita tadi tidak menumpahkan kopi ke bajunya sudah pasti Kim bum akan mengatakan pada So eun bahwa dirinya lah yang telah menyelamatkan So eun tempo hari.

 

“Apa kau tidak ingin mengatakan padanya? Ini masih belum terlambat!” Pelayan wanita yang menumpahkan kopi pada baju Kim bum itu mencoba memperingatkan Kim bum, bahwa pria itu masih memiliki kesempatan untuk mengejar cintanya. Tapi Kim bum tidak ingin merusak kebahagiaan kakaknya, jadi Kim bum memutuskan untuk mengubur perasaannya dan memilih pergi dari cafe itu.

 

“Kau adalah pria bodoh.” Gumam pelayan tersebut, ketika melihat tubuh Kim bum yang keluar dari pintu samping cafe. Dan mata pelayan itu kini tertuju pada So eun yang masih berpelukan dengan pria yang berwajah mirip dengan Kim bum. pria itu adalah saudara kembar Kim bum. Ki bum.

 

“Yoona-ssi, cepat antarkan pesanan ini!” sebuah suara menginterupsi pelayan tersebut untuk segera kembali pada pekerjaanya.

 

Akhirnya rahasia cinta itu terungkap. Cinta itu kembali pada tempatnya masing – masing. Tidak ada lagi hati yang melukai dan dilukai.

 

~~~THE END~~~

Hate Or Love (part 5)

Posted: 26 Juli 2014 in FF BUMSSO
Tag:

cats

Part 5
-
-
-

Kim bum mengguyur tubuh polosnya. Mata itu terpejam, teriakan serta rontaan So eun semalam menjadi tamparan keras untuknya. Penyesalan itu menyelimuti sisi redup dalam tubuhnya. Ini salah – fikirnya. Tapi Kim bum, berusaha mengabaikan perasaan bersalah itu. Tidak akan ada penyelasan, Kim bum tidak akan membiarkan dirinya menyesal dengan apa yang baru saja dilakukannya– tidak akan pernah.

Kim bum keluar dari kamar mandi. Menampilkan badan telanjangnya yang masih basah karena aktivitas yang baru saja dilakukannya, ditambah dengan celana santai dibawah lutut yang menutupi kaki jenjangnya. Kim bum mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang tadi tergantung dilehernya. Mata itu menatap tubuh ringkih yang masih tergolek di atas tempat tidurnya. Masih sama seperti beberapa saat yang lalu saat Kim bum meninggalkan gadis itu untuk melakukan aktifitasnya mengguyur diri.

Kim bum melemparkan handuk kecil yang digunakannya untuk mengeringkan rambut basahnya kesandaran kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Tatapan mata itu bertemu dengan mata milik gadis yang masih belum bergeming dari tempatnya semula. Tatapan terluka dari gadis itu membuat Kim bum harus rela menahan tubuhnya yang seperti ingin menembus benteng yang sudah bertahun – tahun dibuatnya untuk menghilangkan rasa yang sejak dulu dimilikinya untuk gadis itu.

Langkah kaki Kim bum mendekati tubuh So eun, tidak melepas pandangan matanya dari mata So eun. Sorot mata melukai diarahkan Kim bum pada So eun. Tentu saja Kim bum masih tetap mengikuti hasrat untuk membenci gadis itu, tidak ada hasrat lain selain membenci gadis itu.
Tangan ringkih itu menepis telapak tangan Kim bum yang hendak menyentuh tubuhnya tersebut. Sepertinya gadis itu tetap menekadkan niatnya dan membuktikan ucapannya untuk membenci Kim bum. Jika sebelumnya So eun tidak sepenuhnya membenci Kim bum, tentu saja kali ini gadis itu akan membenci Kim bum dengan sepenuh hatinya. Apalagi yang akan dipertahankan dari seorang Kim bum, pria itu bahkan sudah tidak punya perasaan sekarang. Hati Kim bum bahkan seperti hilang dari tempatnya dan hanya diisi dengan dendam.

Kim bum tersenyum ketika mendapati perlakuan dari So eun. Pria itu menurunkan tangannya sambil menegakkan badannya. Mengamati tubuh So eun yang bergerak, melihat So eun yang beranjak dari tempat tidur yang sedari tadi digunakan gadis itu untuk meletakkan tubuhnya. So eun menutupi tubuhnya yang hanya terbalut pakaian dalam dengan selimut. Tidak ada pakaian lain yang melekat ditubuhnya, selain pakaian dalamnya.

Keheningan mencekam keduanya. Kim bum diam dengan posisinya saat ini, hanya matanya saja yang sedari tadi mengawasi setiap pergerakan yang dilakukan oleh So eun. Gadis itu mengambil pakaiannya yang tergelatak dilantai. Hembusan nafas kesal dikeluarkan oleh So eun, tentu saja So eun tidak akan mungkin bisa mengenakan pakaian itu lagi, mengingat kondisi pakaian itu sudah benar – benar koyak dimana – mana. Benar – benar seperti hati So eun saat ini, yang sudah berlubang dimana – mana sehingga tidak benar – benar bisa difungsikan dengan baik.

Tentu saja Kim bum tau apa yang saat ini ada fikiran So eun. Maka dari itu sekarang Kim bum mengambil sebuah tas yang terletak di atas sebuah meja kaca, mengambil isinya yang ternyata adalah sebuah blous terusan yang tadi sudah dipesannya dari sebelum Kim bum membersihkan tubuhnya.
Didekatinya tubuh So eun yang berdiri disampingnya, gadis itu menundukkan kepalanya. Tidak ingin menatap pria yang saat ini berada dihadapannya. So eun mengeratkan selimut besar yang melilit tubuhnya, berusaha menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam dari penglihatan Kim bum.

“Apa lagi yang mau kau sembunyikan dari mataku?” Pertanyaan yang terlontar datar dari mulut Kim bum, tanpa melihat si lawan bicara tentu saja membuat So eun si lawan bicara semakin kesal dibuatnya.
Pasalnya dari pertanyaan yang terlontar dari mulut Kim bum barusan, membuat otak So eun bekerja dan tersadar bahwa memang apa yang dilakukan So eun saat ini, dengan menutupi tubuhnya dengan selimut tidak akan membuat kenyataan bahwa Kim bum sudah melihat tubuh polosnya itu lenyap.

“Jangan karena aku tak melakukannya semalam, kau jadi berani melawanku.” Bentakkan itu keluar dari mulut Kim bum, ketika lagi – lagi So eun menepis tangan Kim bum yang hendak menyentuhnya.

“Kau kira aku tidak bisa melakukannya? Kau kira aku selemah itu sehingga tidak berani melakukannya semalam? Jangan karena semalam aku tidak melakukannya maka kau bisa dengan bebas melawan apa yang akan aku lakukan padamu.” Nada bicara Kim bum terdengar lebih lembut dari pada sebelumnya ketika mengucapkan serangkaian kalimat panjang barusan.
Satu tangan kokoh itu menarik pergelangan tangan So eun agar tubuh gadis itu bisa lebih dekan dengan Kim bum. ditariknya selimut yang sedari tadi dicengkram kuat oleh So eun sehingga selimut itu jatuh terjuntai ke lantai.

“Kusuruh kau untuk mandipun, kau pasti akan menolakkan! Maka dari itu aku tidak ingin memaksamu untuk mandi, dan aku juga tidak punya keinginan untuk memandikanmu.” Kim bum menghela nafas sebentar untuk mengambil jeda untuk kalimat yang akan terlontar selanjutnya.

“Terserah kau mau membersihkan dirimu atau tidak. Aku tidak peduli. Aku akan mengantarmu ke rumah itu setelah kau merapikan dirimu.” Sambung Kim bum. Pria itu memindahkan pakaian yang sedari tadi ada digenggaman tanganya pada tangan So eun.

Kim bum tersenyum miris, bukan pada So eun yang masih setia menunduk tapi pada dirinya sendiri yang benar – benar terlihat lemah sekarang. Kemana kekuatan Kim bum yang selama ini sudah dipupuknya. Kemana Kim bum yang selalu berapi – api menyerukan kata dendam dalam hatinya untuk gadis di depannya. Dan kemana sumpah Kim bum yang akan membuat gadis di depannya ini selalu meneteskan air mata. Benarkah Kim bum sudah kalah – Mustahil.

So eun memutar tubuhnya. Gadis itu membelakangi tubuh Kim bum. gadis itu sudah tidak punya niatan untuk mengenakan pakaiannya dikamar mandi. Percuma, menutupi semuanya dari Kim bum juga percuma. Membersihkan sentuhan Kim bum dari tubuhnya juga percuma. Pria itu tidak menyentuhnya sama sekali. Kecuali sebuah lumatan kasar dan juga tamparan di pipinya. Kim bum tidak melakukan apapun padanya setelah pria itu melucuti tubuh So eun dan hanya meninggalkan pakaian dalam itu tetap melekat pada tubuh sang pemilik. Selain pelukan posessive yang dilakukan Kim bum setelahnya.

Flash back

Kilatan tajam dari sorot bola mata berwarna hitam pekat itu membuat So eun semakin ketakutan. Tubuh gadis itu menegang ketika Kim bum mencengkram kedua bahunya. Ya… kali ini So eun sudah tidak bisa lepas dari jeratan Kim bum. Seberapa besarpun rontaan yang akan dilakukan So eun, pria itu tetap saja tidak akan bisa melepaskan dirinya.

Air mata itu kembali jatuh dari pelupuk mata indah milik So eun, ketika Kim bum benar – benar sudah menanggalkan seluruh pakaiannya dan hanya menyisakan pakain dalamnya. Sedetik kemudian So eun berfikir bahwa inilah waktunya dia harus merelakan apa yang harus dijaganya sebagai seorang wanita. Kehormatannya akan terenggut paksa oleh pria yang dulu selalu bersikap hangat padanya. Kekalutan itu ternyata tidak terbukti dan hal buruk yang ada memenuhi otak So eun saat ini tidak sepenuhnya terjadi ketika tubuh kokoh yang tadi menguasainya jatuh kesamping tubuhnya.

“Aku akan selalu membuatmu menangis…”

So eun menolehkan wajahnya kesamping. Melihat tubuh pria yang saat ini terlentang disampingnya. Tidak mengerti sepenuhnya dengan apa yang sedang ada di kepala Kim bum selama ini. tapi rasa syukur itu tidak akan pernah So eun lupakan. Gadis itu tetap mengucap syukur berulang kali pada sang pencipta walau hanya dalam hati. Bukan hanya karena dirinya yang masih bisa menjaga kehormatannya tapi juga karena Tuhan masih mau membukakan celah terang didalam hati Kim bum sehingga pria itu tidak melakukan hal yang memang tidak boleh pria itu lakukan.

“Jika kau lelah bukankah sebaiknya kau beristirahat….sampai kapan kau akan terus berlari?” So eun memiringkan tubuhnya, menatap tubuh Kim bum yang masih berbaring disampingnya. Walau saat ini So eun hanya bisa melihat wajah Kim bum dari samping tapi gadis itu bisa melihat dengan jelas cairan bening yang keluar dari sudut mata Kim bum. Pria itu mengeluarkan air matanya – Menangis.

“Aku bukan pria lemah.” Suara itu bergetar. Kim bum menggerakkan tubuhnya mengubah posisinya yang semula terlentang menjadi memunggungi So eun yang sedari tadi memperhatikannya. Gadis itu melihatnya mengeluarkan air mata – lagi. kenapa selalu So eun yang melihat kelemahan Kim bum, padahal jelas – jelas Kim bum ingin membuktikan pada gadis itu bahwa Kim bum ini adalah pria yang kuat.

“Sampai kapan kau akan membenciku?”

Hening… tidak ada jawaban dari Kim bum. walau pria itu membelakangi So eun, tapi gadis itu tau bahwa saat ini Kim bum belum terlelap. Terbukti dari tubuh Kim bum yang bergetar saat ini, pria itu pasti sedang menangis walau tidak bersuara. Pria itu pasti mati – matian menahan tangisnya agar tidak pecah. So eun tau kebiasaan Kim bum. Dan ini bukan kali pertama So eun melihat Kim bum menangis. Lalu kenapa pria ini tidak ingin So eun melihatnya, apa karena kondisi sekarang berbeda dengan dulu.

“Aku bukan pria lemah..” lagi – lagi kalimat itu yang keluar dari mulut Kim bum.Walau pelan So eun masih bisa mendengarnya.
So eun memberanikan dirinya membelai lembut rambut hitam Kim bum. ini yang selalu membuat Kim bum nyaman. Belaian lembut dari So eun seperti inilah yang beberapa tahun yang lalu selalu membuat Kim bum melupakan semua masalahnya ataupun kekakangan dari sang ayah.

Greep..

So eun kaget, ketika Kim bum memutar badannya secara tiba – tiba dan detik berikutnya pria itu sudah merengkuh tubuh So eun kedalam pelukannya. Kali ini pelukan itu terasa hangat seperti beberapa tahun yang lalu ketika Kim bum dan So eun masih menjalin hubungan baik.
Pelukan yang pernah dirasakan So eun, ketika So eun harus mendengar berita kematian sang ayah. Dan pelukan ketika So eun berada dalam masa – masa sulit ketika kebangkrutan melanda perusahaan sang ayah setelah kepergian beliau. Pelukan hangat, bukan pelukan menyakitkan.

“Bencilah aku Kim so eun… Bencilah aku, yang tidak bisa menghilangkan perasaan ini. kumohon bencilah aku, yang selalu memaksamu….” gumam Kim bum. “kumohon bencilah aku yang masih mengharapmu.” Lanjut Kim bum dalam hati.
Tidak ada jawaban dari So eun, gadis itu tidak ingin menjawab kalimat yang dikeluarkan oleh Kim bum. tidak ingin sama sekali. Setidaknya bukan sekarang. So eun hanya ingin membiarkan Kim bum sedikit melepaskan belenggu gelap yang ada didalam tubuhnya. Walau hanya sedikit setidaknya belenggu hitam itu mulai berkurang dari dalam diri Kim bum.

End of Flash back

Kim bum memeluk tubuh So eun dari belakang. “Jangan pernah mengganggapku lemah, hanya karena kau melihatku menangis semalam.. niatku untuk mnghancurkan hidupmu dan juga ibumu masih selalu ada didalam benakku.” Seringaian tipis tersungging jelas disudut bibir Kim bum.

“Dan jangan pernah mengannggapku, akan takut padamu…” Balas So eun. Gadis itu tidak benar – benar serius dengan ucapannya. Sejujurnya perasaan bersalah So eun saat ini masih membuat gadis itu takut pada Kim bum. Tentu saja bukan hanya karena kesalahan yang dilakukan oleh ibunya yang membuat orang tua Kim bum berpisah, tapi juga karena perasaan yang dimiliki So eun sampai saat ini.
So eun masih bisa merasakan kengerian ketika gadis itu bisa merasakan hembusan nafas Kim bum yang mengenai tengkuknya. Mencoba menghindari Kim bum pun percuma, maka dari itu So eun hanya bisa diam ketika Kim bum dengan santainya membantu So eun untuk menaikkan resleting baju terusan yang tadi diberikan Kim bum untuk So eun.

“Kau benar – benar ingin melepaskan tawananmu, dengan mengantarku pulang?”

Kim bum tersenyum.. pertanyaan So eun benar, mana ada seorang tawanan diantar pulang oleh si penawan. Sejak jaman dulu, tidak ada istilah seperti itu. Kim bum menarik tubuh So eun yang masih membelakanginya hingga membentur dada bidang Kim bum yang tidak tertutup oleh pakaian. Kembali dipeluknya pinggang sang gadis, hingga lagi – lagi gadis itu tidak bisa bergerak.

“Kau pikir itu rumahmu… apa maksudnya dengan pulang?”

“Lalu apalagi yang mau kau lakukan padaku?” Tantang So eun. Tidak ada sirat ketakutan dari pertanyaan yang terlontar dari mulutnya.

“Kau tidak takut padaku?”

“Kau yang menyuruhku untuk membencimu… jika kau ingin aku membencimu, tentu saja aku tidak boleh takut padamu.”

“Padahal akan jauh lebih menarik jika kau masih takut padaku… tubuhmu akan bergetar hebat jika mendapatkan sentuhanku seperti ini.” Kim bum semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh So eun.

“Lalu apa yang kau inginkan dariku?” pertanyaan itu terdengar pelan, tapi terkesan menuntut jawaban. Mungkin karena So eun sudah sangat lelah mengikuti alur cerita yang dibuat oleh Kim bum sehingga gadis itu bahkan bingung dengan apa yang akan dilakukan setelah ini.

“Memangnya apa yang kau inginkan?”

So eun jengkel… gadis itu melepaskan pelukan Kim bum. ditatapnya lekat mata Kim bum, mencoba mencari suatu kebenaran yang tersembunyi dari bola mata hitam kelam itu. Berharap masih ada celah untuk So eun, untuk menjelajahi dunia Kim bum yang sudah sangat lama tidak terjamah oleh siapapun.

“Aku tidak lelah.. aku bahkan tidak butuh istirahat.. aku ingin menyelesaikan semuanya secepatnya.” Jawaban itu terkesan dingin. Kim bum berusaha mati – matian agar tidak terlihat lemah dihadapan So eun. Lengah sedikit saja, sudah pasti So eun akan tau bahwa sebenarnya Kim bum benar – benar sudah kalah. Bahkan kekalahan ini sangat telak untuk Kim bum. terlebih tidak ada penopang dibelakangnya. Sang kakak bahkan bersedia menjadi rivalnya hanya karena gadis yang ada dihadapannya ini. walaupun sama – sama satu tujuan tapi misi dan cara yang digunakan Kim bum dan Woo bin berbeda, bagaimana jika nanti sang kakaklah yang keluar menjadi pemenang. Walau sebenarnya Kim bum tau bahwa memang pada kenayataannya saat ini sang kakaklah yang sudah menang. Tapi Kim bum percaya ini semua masih belum berakhir dan masih ada jalan untuk dirinya memenangkan semua pertandingan yang telah dijalaninya saat ini.

-
-
-

Seperti biasa rumah yang terlihat besar dan mewah itu selalu nampak hening, tidak ada aura kehangatan dari sekelompok keluarga yang mendiami rumah tersebut. semua penghuninya sibuk dengan kegiatan masing – masing. Tidak pernah memperhatikan keadaan satu sama lain. Jikapun ada pasti hanya sebuah tegur sapa yang berakhir dengan keributan atau pernyataan yang tidak ada penjelasan.

So eun.. gadis itu membuka pintu rumah yang saat ini ditinggalinya bersama keluarga barunya. Rumah yang terlihat seperti istana, namun seperti kosong tak berpenghuni. So eun tidak akan pernah peduli, dan lebih baik bersikap masa bodoh saja dengan keadaan yang seperti ini. lagi pula So eun tidak membutuhkan siapapun disini, So eun juga tidak peduli pada semua orang yang ada di rumah ini kecuali So hyun.

Astaga, So eun sampai lupa jika beberapa hari ini dirinya tidak pernah menemani So hyun bermain ataupun membantu adiknya itu untuk belajar. Ya.. walaupun ayah So hyun dan So eun bukan pria yang sama, tapi mereka berdua tetap dilahirkan dari rahim wanita yang sama jadi sudah pasti So eun akan menyayangi So hyun.
So eun berjalan menuju kamar So hyun, hari ini hari libur sudah pasti adik perempuannya itu tidak pergi ke sekolah. Mungkin akan lebih baik jika So eun menyempatkan diri melihat keadaan sang adik sebelum dia menuju kamarnya untuk beristirahat.

“So hyun-ah.” Panggil So eun, ketika gadis itu sudah membuka pintu kamar sang adik.

“Kakak..”

“Ahh… maafkan kakak sudah mengganggumu So hyun-ah.” So eun membalikkan badannya. Gadis itu tidak menyangka Woo bin bisa berada di kamar So hyun dan membantu gadis kecil itu untuk belajar. Sejak kapan Woo bin menyukai So hyun, bukankah selama ini kakak tirinya itu juga tidak terlalu peduli pada sang adik sama seperti Kim bum.

“Kakak.. dari mana saja, kenapa semalaman tidak pulang? Kakak tidur dimana? Apa terjadi sesuatu padamu?” rentetan pertanyaan dari So hyun tidak mendapat jawaban dari So eun.
So eun tetap saja melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kamar So hyun. Satu – satunya tempat yang menjadi tujuannya saat ini yaitu adalah kamarnya. So eun ingin segera merebahkan tubuhnya, dan mengistirahatkan tubuhnya.

“Ada apa dengan kak So eun, tidak biasanya kak So eun bersikap seperti itu.” Gumam So hyun. Gadis kecil itu mengentikan aktifitasnya sambil terus memandangi tempat dimana tadi So eun berdiri.

“Apa kau sedih, karena kakakmu bersikap seperti itu?” Tanya Woo bin.

So hyun menganggukkan kepalanya. “Selama ini hanya kak So eun yang peduli padaku. Hanya dia yang selalu menemaniku bermain ataupun belajar. Tidak ada yang lain. Baik itu ibu, ayah, ataupun kak Woo bin dan juga kak Kim bum.” tutur So hyun dengan perasaan sedih.

Woo bin tersenyum mendengar penjelasan So hyun. Gadis kecil ini juga kesepian ternyata, sama seperti dirinya. Pria itu berfikir, ternyata bukan hanya dirinya, Kim bum dan So eun yang menjadi korban dari rusaknya keluarganya ini melainkan So hyun pun juga. “Bukankah sekarang aku sudah menemanimu belajar.” Ucap Woo bin sambil menepuk pelan kepala So hyun.

“Kenapa sekarang kakak mau berbicara padaku?” Tanya So hyun, dengan polosnya.

“Memangnya tidak boleh jika aku berbicara padamu.” Woo bin balik bertanya pada sang adik.

“Bukan seperti itu. Aku menyukaimu, menyukai kak Kim bum dan juga kak So eun. Tapi selama ini hanya kak So eun saja yang mau menganggapku sebagai adik, sedangkan kalian berdua tidak pernah memperhatikanku walau hanya sebentar.” Jelas So hyun.

“Kak Kim bum, malah selalu membentakku. Apa kalian tidak suka padaku dan juga kak So eun. Bukankah aku ini adik kandung kalian?” sambung So hyun.

Lagi – lagi Woo bin tersenyum mendengar kalimat – kalimat yang keluar dari mulut sang adik. Gadis kecil ini sudah pintar berbicara rupanya, hingga Woo bin saja susah untuk menjawab pertanyaan yang telah diajukan kepadanya. Rasa bersalah itu menyelimuti hatinya hingga membekukan lidahnya. Tidak bisa menjawab pertanyaan sang adik, yang memang tidak seharusnya mendapat perlakuan yang buruk dari kakak – kakaknya.

“Kami semua menyayangimu.. baik itu ibumu, ayahku, So eun, aku dan juga Kim bum. hanya saja ada beberapa hal yang kau masih belum bisa memahaminya.” Jelas Woo bin.

“Lanjutkan belajarmu. Aku ingin berbicara sebentar dengan So eun.” Ujar Woo bin, sambil beranjak dari tempatnya.

So hyun mencengkram baju Woo bin, menahan sang kakak untuk beranjak. “Jangan membuat Kak So eun menangis. Aku tidak mau dia bersedih.” Pinta So hyun.
Woo bin menganggukkan kepalanya. Pria itu tersenyum walau hanya senyuman tipis. Dan pergi meninggalkan So hyun.

Kini tubuh jangkung itu berdiri tepat dihadapan pintu kamar So eun. Woo bin memantapkan hatinya untuk sekedar mengetuk pintu itu dan menyambut sang pemilik kamar. Perasaan bersalah menyelimuti hatinya. Semuanya sudah berjalan, dan tidak mungkin untuk diputar ulang. Jika memang terjadi sesuatu pada So eun, itu pasti semua karena Kim bum. Woo bin tidak berhak mencampuri urusan sang adik, karena memang Woo bin tidak memiliki wewenang untuk itu.

“Bolehkah aku masuk kedalam?” Woo bin bertanya pada sang pemilik kamar. Pria itu masih tidak ingin mengetuk pintu atau masuk kedalam kamar tersebut. Masih menunggu sang pemilik kamar menyambutnya atau sekedar memberikan jawaban yang membolehkan dirinya memasuki kamar So eun.

Hening… tidak ada jawaban dari dalam, danWoo bin tau apa yang sedang dilakukan oleh adik tirinya itu. Bukan karena Woo bin mempunyai ikatan batin dengan So eun, tapi insting Woo bin sangat kuat jika itu menyangkut adik kandung dan juga adik tirinya ini.

“Aku akan masuk kedalam.” Woo bin, memutar handle pintu kamar tersebut sehingga pintu itu terbuka. Dan contohnya seperti ini, Woo bin bahkan tau jika saat ini So eun tidak mengunci pintunya.
Mata kelam itu langsung memfokuskan pandangannya pada tubuh gadis yang saat ini tengah duduk di samping tempat tidurnya dengan memeluk kedua lututnya.

“Apa Kim bum melakukannya?” pertanyaan itu langsung pada titik sasaran. Woo bin bukan tipe pria yang suka berbasa – basi. Jadi pria itu akan langsung pada pointnya jika menanyakan suatu masalah.

So eun tidak menjawab peertanyaan sang kakak. Gadis itu masih setia dengan posisinya. Fikirannya masih dipenuhi dengan kata kenapa dan kenapa… kenapa Kim bum begitu membencinya? Kenapa Woo bin mengacuhkannya? Kenapa ibunya tidak memperhatikannya? Dan kenapa ayahnya pergi meninggalkannya?

“Aku yakin Kim bum tidak setega itu melakukannya. Aku mengenalnya. Bisakah kau beritaukan padaku dimana Kim bum sekarang?”

“Apakah kau hanya mempedulikan keadaannya? Apakah kau tidak ingin tau bagaimana keadaanku?” Akhirnya So eun mengeluarkan kalimatnya. Gadis itu lelah, ketika Woo bin selalu mengacuhkannya. Walaupun So eun tau apa alasan Woo bin melakukannya.

“Aku tidak perlu menanyakan keadaanmu karena mataku sudah melihatmu sekarang. Kau lebih kuat darinya. Dan itu yang membuatku takut.” Woo bin tidak mendekati tubuh So eun, tubuh tinggi itu masih tetap berdiri tegap di ambang pintu. Terbesit sebuah keinginan untuk Woo bin memeluk So eun. Membawa tubuh kecil itu untuk masuk kedalam peluknya, tapi Woo bin tidak bisa melakukannya.

“Aku tidak sekuat yang kau fikirkan, dan dia tidak selemah yang kau tau. Tidak bisakah kau juga melihatku, memperhatikanku seperti kau memperhatikannya!” So eun berteriak.. sudah tidak bisa lagi menahan semuanya. Hanya pada pria ini So eun berani mengungkapkan semuanya, walaupun itu semua tidak ada gunanya.

“Dia adikku… dan kau musuhku.”

“Ya… DIA ADIKMU.” Teriak So eun…

“Kau terlihat menyedihkan So eun-ah”

“Ya.. dan itu semua karena kau dan juga adikmu itu. Pergilah dari sini karena aku tidak akan pernah mau memberitaukan dimana dia sekarang.”

Woo bin tersenyum mendengar ucapan So eun. Woo bin bukan pria bodoh, bahkan pria itu terlalu pintar untuk mengetaui keberadaan sang adik. Woo bin, hanya ingin memastikan bahwa So eun masih mau mempercayainya walaupun itu tidak mungkin. Woo bin tau bahwa perasaan itu masih ada walau hanya sedikit dan itu tentu tidak mungkin terealisasikan.

Woo bin melangkahkan kakinya untuk mendekati tubuh kecil So eun. Tentu saja Woo bin akan semakin lemah jika berhadapan dengan So eun. Sama seperti sang adik. “Bencilah aku So eun-ah. Sampai kapanpun aku akan berusaha untuk tidak melihatmu. Jangan penah menganggapku berada di sisimu hanya karena aku selalu menolongmu dari Kim bum. Aku tidak lebih baik dari adikku.”

Woo bin merendahkan tubuhnya, ditariknya So eun agar gadis itu berdiri. Dan ketika keduanya sudah berdiri sejajar Woo bin langsung menarik tubuh So eun ke dalam pelukannya. “Bencilah aku So eun-ah. dan hilangkan rasa takutmu pada Kim bum.”

So eun terdiam ketika Woo bin memeluknya, jika sekarang Kim bum yang melakukannya sudah pasti gadis itu akan meronta. Tapi ini adalah Woo bin, pria yang dulu pernah menjadi harapannya. Walaupun So eun tidak membalas pelukan pria itu, tapi tentu saja So eun menikmatinya. “Kalian berdua sama.” Gumam So eun.

“Karena kita saudara.” Jawab Woo bin. Masih dengan posisinya.

“Aku juga saudaramu.” Bela So eun.

“Kita berbeda..” Yakin Woo bin. Pria itu melepaskan pelukannya pada tubuh So eun. Tidak ada senyuman. Wajah itu datar tapi menenangkan.

“Kau tidak perlu memberitaukan padaku dimana keberadaan saudaraku. Karena hatiku akan selalu menuntuku untuk menemukan keberadaannya.” Woo bin memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar So eun.

“Aku membenci kalian berdua.. selamanya.. aku membenci kalian.” Lirih So eun. Dan tubuh itu langsung merosot ke lantai. So eun benar – benar tidak akan bisa menyentuh hati Woo bin sampai kapanpun. Dan So eun tidak akan pernah bisa membuat Kim bum kembali seperti dulu. Bisakah Tuhan membawa So eun pergi bersama dengan ayahnya saja, bukankah semua yang ada di dunia ini tidak ada gunanya untuk So eun sekarang.

***

“Lama tidak bertemu Tae hee-ya.”

Dua orang wanita berusia senja itu saling duduk berhadapan di sebuah restoran. Aura menegangkan itu menyelimuti keuduanya. Dua sahabat yang sekarang sudah saling menjauhkan diri dari masing – masing.

“Aku tidak menyangka kau masih mau menemuiku yi hyun-ah!” Tae hee tersenyum mengejek ketika mendapati mantan sahabatnya itu tengah duduk di hadapannya.

“Kau fikir aku sengaja ingin bertemu denganmu.. sampai matipun aku tetap tidak akan melupakan perbuatanmu padaku dan juga keluargaku.”

Tae hee terkekeh mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut yi hyun. Wanita ini masih membencinya. Tae hee tau bahwa Yi hyun memang tidak akan pernah bisa dengan mudah memaafkan kesalahannya. Mungkin selamanya mantan sahabatnya ini akan selalu membencinya tapi itu tidak akan membuat Tae hee melepaskan semuanya.

“Lalu apa maksudmu, mengajakku bertemu?”

“Sampai kapan kau akan membuat kekacauan ini? Apa kau tidak tau bagaimana perasaan anak – anak kita sekarang!”

Tae hee kembali terkekeh mendengar kalimat yang keluar dari mulut Yi hyun. Kenapa wanita ini bersikap sok baik dengan menunjukkan perhatiaannya pada anak – anak. Oh… Tae hee melupakan sesuatu, wanita ini hanya memikirkan putra – putranya sendiri dan bukannya kedua putrinya. “Kau lucu Yi hyun-ah”

“Hentikan semuanya… biarkan mereka bisa hidup layaknya anak – anak yang lain.”

“Aku tidak peduli pada putra – putramu.. aku hanya peduli pada kedua putriku, aku ingin mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milik mereka.”

“Sampai kapan kau akan menutup matamu.. jika yang kau inginkan hanyalah harta Jae wook ambilah semua. Bukankah dulu suamiku sudah memberikan semuanya padamu.. kau yang menolaknya.”

“Dia suamiku.. bukan suamimu lagi.”

“Kau yang menjebaknya sehingga dia harus menikahimu…”

“Mantan suamimu membunuh suamiku… Jae wook merebut semuanya dari Nam gil. Kenapa kau masih membela mantan suamimu yang jelas – jelas sudah menelantarkan hidupmu.”

“Kau benar – benar sudah gila, itu semua takdir.. Bukan Jae wook yang membunuh Nam gil, itu kecelakaan. Bukankah kau dan aku juga ada disana menyaksikan kejadiannya.”

“Persetan dengan semuanya.. Kau tidak berhak mengguruiku. Aku tidak peduli dengan siapapun. Aku hanya ingin semuanya kembali padaku. Anak – anakku harus hidup layak. Aku tidak mau membuat mereka menderita lagi.” Teriak Tae hee. Wanita itu segera menyambar tasnya dan segera beranjak dari tempatnya.
Tae hee tidak ingin terlibat dalam pembicaraan yang dianggapnya tidak masuk akal ini. Yi hyun terlalu lemah untuk semuanya, atau wanita itu memang sengaja ingin terlihat lemah di hadapan Tae hee. Yi hyun tidak pernah merasakan betapa hancurnya Tae hee ketika dirinya mendapatkan suaminya meninggal di depan kedua matanya. Tae hee harus mengurus So eun sendirian ketika perusahaan suaminya mengalami kebangkruatan. Tae hee sudah melangkah sejauh ini, tidak mungkin dirinya bisa berhenti. “Maafkan aku Yi hyun-ah.” gumam Tae hee pelan, ketika tubuh wanita itu sudah menjauh dari Yi hyun.

“Caramu ini salah Tae hee-ya” lirih Yi hyun.
Yi hyun menundukkan kepalanya. Percuma Yi hyun menurunkan harga dirinya untuk menemui Tae hee, akhirnya Yi hyun tetap saja gagal membuat Tae hee menghentikan semuanya. Yi hyun sudah merelakan suaminya untuk Sahabatnya sendiri walaupun hatinya terluka, tapi Tae hee tetap pada pendiriannya.

“Maafkkan ibu anakku.” Lirih Yi hyun.

***

Woo bin tampak gelisah. Berkali – kali pria itu melirik ke arah jam berwarna hitam yang melingkari pergelangan tangannya. Sudah hampir dua jam Woo bin berdiam diri menunggu sang ibu, tapi wanita yang telah melahirkannya itu tak kunjung juga datang. Kemana perginya sang ibu, kenapa hingga malam telah larut wanita itu belum juga pulang.

Woo bin hendak beranjak dari sofa panjang yang saat ini tenga didudukinya untuk kembali ke rumah ayahnya. Mungkin malam ini ibunya bermalam di butik sehingga wanita itu tidak pulang.

“Woo bin-ah sejak kapan kau ada di sini?” Yi hyun kaget ketika mendapati sang putra sulung sudah berada di rumahnya tepat di saat wanita itu menginjakkan kakinya ke dalam rumah.

“Kenapa ibu baru pulang? Apa yang ibu lakukan seharian?” Woo bin menghampiri sang ibu, dan membimbingnya untuk duduk di sofa yang tadi didudukinya sebelum sang ibu datang.

Yi hyun membelai rambut putranya. Yi hyun berharap semua kekacauan yang ada akan segera berakhir. Wanita itu sangat ingin berkumpul dengan kedua putranya. Yi hyun sudah tidak bisa mengharapkan kehadiran Jae wook lagi, karena mantan suaminya itu sudah memiliki wanita lain di sampingnya.

“Ibu ingin menyelesaikan semuanya sayang…”

“Aku juga ingin menyelesaikannya bu… menyelesaikan semua perasaan ini.” Jawab Woo bin.

“Ibu akan selalu mendukungmu dan juga mendoakanmu… Ibu percaya bahwa anak – anak ibu sudah besar. Kalian tau apa yang harus kalian berdua lakukan.”

“Aku tidak ingin menyakitinya bu… Aku menyayangi Kim bum.”

“Ibu tau sayang..”
Woo bin menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu.. Pria itu ingin merasakan kehangatan sang ibu. Hanya ini yang dibutuhkannya sekarang, selama ini Woo bin terlalu gengsi untuk bermanja – manja pada sang ibu. Woo bin terlalu sulit mengungkapkan perasaannya pada sang ibu atau sang ayah. Woo bin sangat berbeda dengan Kim bum yang dengan begitu mudahnya mengeluarkan semua perasaannya pada orang lain.

Kim bum menyandarkan tubuhnya di balik dinding… Kim bum mendengarkan percakapan antara kakak dan ibunya. Kim bum menyeka air mata yang entah sejak kapan keluarnya. Kim bum merutuki kebodohannya. Kim bum ini laki – laki dewasa, tapi kenapa dirinya masih bisa mengeluarkan air mata. Dimana kekuatannya. Kenapa semakin hari, Kim bum menjadi pria yang lemah. Kenapa Kim bum tidak bisa menjadi Woo bin yang selalu bisa tegar.

“Kemarilah sayang… ibu tau kau ada disana!” seruan sang ibu membuat langkah Kim bum yang tadinya ingin pergi meninggalkan rumah sang ibu menjadi urung dilakukannya. Kim bum membatu, pria itu masih belum siap untuk bertemu dengan sang kakak. Ada perasaan takut yang menyelimutinya. Kim bum akan lebih takut pada sang kakak dari pada sang ayah. Selama ini hanya kakaknya lah yang selalu membela dirinya dalam keadaan apapun terlepas dari pengawasan sang ibu.

“Kakakmu sudah tidur.. kemarilah sayang.” Yi hyun kembali menyuruh Kim bum untuk mendekatinya.

Kim bum melangkahkan kakinya mendekati tempat dimana ibu dan kakaknya berada. Benar apa yang dikatakan sang ibu. Woo bin sudah tertidur, pria itu tertidur di pangkuan sang ibu.

“Aku hanya ingin memastikan kondisi ibu..” Ucap Kim bum.

Yi hyun menganggukkan kepalanya.. “Ibu baik – baik saja sayang… kenapa belakangan ini kau tidak pernah mengunjungi ibu. Apa terjadi sesuatu padamu?”
Kim bum menggeleng. Dia tidak ingin menceritakan apapun pada sang ibu. Tidak ingin sama sekali. Kim bum bahkan malu pada dirinya sendiri karena melakukan perbuatan yang tidak seharusnya dia lakukan.

“Kau ingin bermalam di sini?” Tanya Yi hyun lembut..

Kim bum ingin mengiyakan jawaban sang ibu, jika saja matanya tidak melihat pergerakan sang kakak. Woo bin menggerakkan tubuhnya, dan beberapa detik berikutnya mata kelam sang kakak terbuka. Kim bum membalikkan tubuhnya. Tidak ingin bersapa dengan sang kakak. ini belum waktunya – fikir Kim bum.

“Tinggalah.. Aku akan pergi.” Ucap Woo bin. Menginterupsi Kim bum agar pria itu tidak meninggalkan rumah ibu mereka.
Kim bum tidak menjawab. Tapi pria itu tidak melangkahkan kakinya. Membelakangi kakak dan juga ibunya.

“Jangan pulang larut malam lagi.. Besok aku akan menemuimu lagi..” Woo bin mengecup dahi sang ibu dan beranjak dari tempatnya. Woo bin tau bahwa adanya dirinya di rumah sang ibu akan membuat Kim bum tidak nyaman. Woo bin akan lebih memilih pergi, dari pada membiarkan sang adik yang pergi.

Woo bin beranjak dari tempatnya ketika mendapat anggukan dari sang ibu. Pria itu melangkahkan kakinya melewati sang adik tanpa menghiraukan keberadaan sang adik yang saat ini di depannya. Keluar dari rumah sang ibu, dengan perasaan terluka.

“Aku ingin menyusulnya bu..” Pamit Kim bum. ketika dia menyadari bahwa Kim bum harus meminta maaf pada sang kakak.

Kim bum berlari keluar dari rumah sang ibu, mengedarkan pandangannya mencari – cari sosok sang kakak. mata itu menangkap mobil sang kakak masih belum beranjak, itu berarti Woo bin masih belum pergi.

Kim bum berlari menghampiri sang kakak yang pasti sudah berada di dalam mobilnya. “Aku ingin bicara denganmu.. keluarlah!” Pinta Kim bum sambil mengetuk kaca mobil sang kakak.

Woo bin menyunggingkan senyumnya. Akhirnya sang adik mau melihatnya kembali. Pria itu menuruti permintaan sang adik. Woo bin keluar dari mobilnya. Kini kedua kakak beradik itu berdiri saling berhadapan.
Woo bin tidak ingin buka suara, pria itu akan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Kim bum.

“Kau tidak ingin tau apa yang kulakukan padanya? Bukankah kau ingin melindunginya!”

Woo bin tersenyum, sesaat kemudiam pria itu melayangkan kepalan tangannya pada wajah sang adik. “Hanya itu yang ingin aku berikan padamu hari ini.” Jawab Woo bin. Pria itu kembali memasuki mobilnya, memacu mobilnya menjauhi tubuh Kim bum.

“Kau masih menginginkannya.. kakak” gumam Kim bum. masih menatap kepergian sang kakak.

***

Cahaya lampu di dalam kamar itu tampak temaram.. Sang pemilik kamar sedang terlelap menuju alam mimpi. Entah sudah berapa kali gadis yang saat ini sedang terbaring di tempat tidurnya itu menyeka air mata yang terus bergulir membasahi wajah cantiknya, hingga gadis itu akhirnya bisa terlelap ke alam mimpi hingga tidak menyadari seseorang tengah memasuki kamarnya.

Tae hee memasuki kamar putri sulungnya, di dekatinya tubuh yang kini tengah terbaring dengan lelapnya. Wanita itu membelai lembut rambut hitam panjang milik sang putri. Sudah sangat lama sekali Tae hee tidak melakukannya. Wanita itu sudah sangat lama mengabaikan putrinya bahkan terkesan tidak peduli pada keadaaan apapun yang menimpa sang putri.

“Kau pasti sangat lelah So eun-ah… jangan pernah memaafkan ibu sayang.. gara – gara ibu kau jadi menderita.” Tae hee mengecup kening sang putri.. di usapnya air mata yang merembes dari kelopak mata yang saat ini tengah terpejam itu. Bahkan di dalam lelapnya, So eun masih mengeluarkan air matanya. Putrinya sudah mengorbankan semuanya hanya karena ambisi Tae hee.

So eun harus kehilangan sahabatnya.. harus kehilangan sosok yang sangat di kaguminya dan itu semua karena sang ibu. “Jika semuanya sudah selesai, ibu berjanji akan memberikan perhatian padamu sayang..”

“Aku membencimu… Kim bum-ah.” Tae hee mengerjap.. putrinya mengigaukan nama anak tirinya. Sudah separah inikah dampak perbuatannya pada sang anak. Kenapa So eun harus membenci Kim bum? fikir Tae hee..

“Aku membencimu… Ibu..” Tae hee tak kuasa menahan sesak di dadanya ketika kalimat yang paling di takutinya keluar dari mulut sang putri. So eun membenci dirinya. Apakah sekarang waktunya untuk menyerah.. merelakan apa yang telah hilang, dan meninggalkan semuanya. Bagaimana dengan kehidupannya nanti. Haruskah Tae hee menjalani hidup susah hanya bersama dengan So eun. Apakah putrinya akan mau menerima dirinya walau kehidupan mereka tidak seperti dulu…. wanita itu tersedu, membayangkan bagaimana masa depan anak – anaknya nanti.

“Jangan menangis… bukankah ibu wanita yang kuat!”

Tae hee tertegun.. suara itu membuatnya merasa kuat. Tae hee menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Wanita itu makin terisak ketika mendengar suara putrinya.

So eun yang tiba – tiba terbangun dan mendapati sang ibu, berada di sampingnya segera merengkuh tubuh sang ibu ketika mendapati ibunya sedang menangis. “Kita pergi saja bu… bukankah kita memang tidak seharusnya berada di sini. Ini bukan tempat kita!”

“Apakah kau siap hidup susah sayang…?”

Pertanyaan sang ibu membuat So eun mendelik.. apa karena ini ibunya mampu membuak keluarga Kim bum berantakan. Apakah karena ibunya terlalu memikirkannya sehingga ibunya ini nekad merebut suami sahabatnya sendiri. Jika memang karena itu, tentu saja semua ini karena salah So eun.

“Aku tidak apa – apa.. yang terpenting aku bisa bersama dengan ibu.. kita pergi dari sini, aku bisa bekerja.. aku bisa melakukan apapun asalkan bersama dengan ibu.”

Tae hee tidak kuasa mendengar penuturan So eun. Putrinya ini bahkan jauh lebih kuat dari pada dirinya. So eun sudah mengorbankan semuanya untuk ambisi Tae hee. Sepertinya wanita itu harus menentukan pilihannya. Tae hee beranjak dari tempatnya, wanita itu berjalan keluar dari kamar So eun. Tidak ingin lebih lama lagi mendengar penuturan sang putri. Kalimat So eun membuat hatinya hancur, dan seakan – akan menggagalkan semua usahanya selama ini.

-
-
-
Hari ini So eun kembali bekerja ke kantor.. hari kemarin membuatnya lelah, bahkan sampai tadi pagi So eun tidak bisa menemui sang ibu. Ibunya sudah pergi pagi – pagi sekali. Ayah tirinya tidak tau kemana pergi sedangkan Woo bin, pria itu juga tidak di lihatnya sejak terakhir kali perbincangannya kemarin. Dan tadi pagi So eun pun hanya sarapan berdua saja dengan So hyun.

So eun mengumpulkan keberaniannya ketika dirinya hendak memasuki ruangannya. Lagi – lagi ada perasaan takut mendera dirinya. Kim bum.. satu nama itu mampu membuat nyalinya menyusut.

“So eun-ah..” panggilan itu menghentikan niat So eun yang tadi akan membuka pintu ruang kerjanya.

“Kak Se young…”

“Hm… Kau baru datang… apa kau ingin pergi bersamaku.. seseorang menyuruhku untuk membelikannya makanan untuknya sarapan!”

“Maaf… ada sesuatu yang harus kuselesaikan, jadi aku tidak bisa menemani kakak… maafkan aku.”

“Baiklah.. tidak apa – apa.. segeralah selesaikan pekerjaanmu.. aku pergi dulu So eun-ah.”

Dan saat Se young sudah pergi, So eun pun bergegas membuka pintu ruang kerjanya dan segera masuk kedalam ruangan tersebut. Ada perasaan iri pada diri So eun, ketika dia fikirannya meyakini sesuatu.. sudah pasti orang yang menyuruh Se young membelikan makanan itu adalah Woo bin.. karena tidak ada satu karyawan pun yang berani memberi perintah pada Se young kecuali Woo bin dan juga Kim bum. Dan untuk Kim bum, pria itu terlalu menghormati Se young hingga menyuruh wanita itu membelikannya makanan. Andaikan saja, Woo bin mau merepotkan dirinya sudah pasti So eun akan meluangkan waktunya.

So eun menghela nafasnya, lagi – lagi So eun mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin… So eun hendak menuju tempat duduknya jika saja dia tidak melihat sebuah tubuh yang saat ini tengah terbaring di sofa panjang yang berukuran cukup besar di sudut ruangan besar ini.

“Apa yang dilakukannya sepagi ini..” lirih So eun… dengan perasaan takut, So eun pun mendekati orang tersebut. Hanya untuk memastikan bahwa pria itu adalah Kim bum.

So eun berjalan mendekati tubuh pria itu, menatapnya dengan intens.. So eun merindukan Kim bum yang dulu.. bukan Kim bum yang pendendam.. bukan Kim bum yang sangat membencinya dan ingin sekali menghancurkan So eun seperti sekarang.
So eun hendak menyentuh wajah So eun, namun dengan sigap sebuah tangan kekar menahannya sehingga membuat So eun terlonjak.

“Apa kau masih mengharapkannya?”

So eun ternganga.. apa maksudnya pertanyaan yang tiba – tiba di ajukan oleh Kim bum ini. Kenapa pria in tiba – tiba menanyakan hal yang membuatnya bingung.

“Kau masih menginginkannya atau tidak?” Bentak Kim bum, tidak sabar.. pria itu kembali pada sikap palsunya.

“A-apa.. m-mak-sudmu?” So eun tergagap.. mendapat perlakuan dari Kim bum yang tiba – tiba membentaknya. Kenapa Kim bum sangat suka membuatnya takut.

Grepp….

Kim bum tidak menjawab pertanyaan dari So eun, pria itu menarik tubuh So eun sehingga wanita itu jatuh tepat di badan Kim bum yang masih terbaring. So eun meronta.. tidak ingin membuat Kim bum bersikap seenaknya pada dirinya. Terlebih akan sangat memalukan jika ada yang melihatnya dalam posisi seperti ini bersama dengan Kim bum.

“Jangan mengharapkannya lagi… jangan menunggunya, dia tidak akan pernah melihatmu!” Pinta Kim bum. Pria itu menikmati posisinya seperti ini. Kim bum menikmati aroma tubuh So eun pagi ini. Aroma yang selalu membuatnya tenang.

“Berhenti bicara tidak masuk akal seperti ini.. lepaskan aku!” Ronta So eun. Gadis itu mencoba melepaskan tubuhnya dari kurungan lengan kekar Kim bum.

Seseorang memasuki ruangan Kim bum dan So eun.. penampilannya hari ini sama berantakannya dengan Kim bum yang hanya mengenakan pakaian casual tanpa kemeja, jas dan dasi yang selalu membuatnya berwibawa setiap hari. “Aku ingin berbicara denganmu… dan ini….” kalimat itu menggantung ketika orang itu membuka ruangan orang yang akan ditemuinya.

“Sepertinya aku harus mengatakannya lain kali..” lanjut orang tersebut, dan segera kembali keluar dari ruangan sang adik.

“Kak Woo bin..” Panggil So eun, mencegah kakak tirinya untuk pergi. So eun tidak ingin Woo bin salah paham akan dirinya. So eun berhasil bangun dari posisinya semual, tapi Kim bum berhasil mencegahnya untuk mengejar Woo bin.

“Kau mau kemana?”

“Aku ingin menjelaskan padanya, bahwa apa yang dilihatnya hanyalah…”

“Hanya apa?” Potong Kim bum, dengan nada suara meninggi

“Bukan kau yang akan menjelaskan padanya, tapi aku.. dia tidak peduli padamu, jadi jangan berfikir jika dia akan peduli dengan apa yang dilihatnya tadi. Kau tidak ada artinya untuknya… harusnya sejak awal kau paham akan itu.”

So eun bungkam, tidak bisa menanggapi kalimat panjang yang diberikan oleh Kim bum. kalimat itu sedikit menyadarkannya. Yaa…So eun memang tidak ada artinya untuk Woo bin.. ya So eun sadar diri akan hal itu.

“Tetaplah disini.. tetaplah diam disini!” perintah Kim bum.. pria itu pun segera meninggalkan ruangannya dan juga So eun yang langsung duduk lemas di sofa panjang yang ada dibelakangnya.. Kim bum menyadarkan So eun, bahwa memang dirinya tidak bisa mengharapkan apapun dari orang yang selalu dikaguminya itu.

Ingatan itu kembali lagi.. berputar – putar di benak So eun. Kepala itu benar – benar sakit.. kenapa dirinya masih bisa menyimpan memori – memori itu. Jika di beri kesempatan So eun sudah pasti tidak akan mengatakannya dan membuat seseorang terluka hingga orang itu mampu melukai So eun sampai separah ini..

“Aku menyukaimu…” Ungkapnya..

~~~ TBC ~~~

 

Secret Love (part 7)

Posted: 27 April 2014 in FF BUMSSO
Tag:

cats

Part 7

 

-

-

-

 

Bahu kokoh itu semakin berguncang hebat, kekesalan melanda dirinya. Bukan hanya kekesalan tapi juga kekecewaan dan keputus asaan dan juga jangan lupakan kesedihan. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu seolah mampu memecahkan kepalanya saat ini juga. Rasa sakit di dalam hatinya semakin menjadi – jadi. Perasaan tidak terima dan marah masih menghantui dirinya sejak kepergian sang kakak beberapa waktu yang lalu, tubuh itu bahkan terasa enggan hanya untuk sekedar beranjak dari tempat duduknya. Benarkah ini takdirnya.

 

“Aku mencintainya, benar – benar mencintainya.” Teriak Kim bum di dalam hatinya. Cairan bening kembali menerobos kelopak matanya. Jika ada orang yang melihat kondisi Kim bum saat ini, pasti orang itu akan mengira bahwa Kim bum hanyalah seorang manusia yang sangat rapuh dan terlalu mendramatisir keadaan. Bagaimana bisa seorang pria sejati seperti dirinya menangis hanya karena seorang wanita yang sudah jelas tidak bisa diraihnya.

 

~~~

 

So eun baru saja kembali dari berbelanja, bahan – bahan belanjaan yang sedari tadi memberatkan kedua tangan kecil itu segera diturunkannya di meja dapur. Rumah tampak sepi, seperti tidak ada hawa kehidupan di dalamnya, kemana perginya dua orang pria yang menghuni rumah ini ketika So eun pergi berbelanja.

 

So eun melangkahkan kakinya mencari dua sosok pria yang memiliki ciri – ciri fisik yang serupa itu, ya..Tentu saja dua orang pria itu adalah suami dan juga adik iparnya. Entah setan dari mana yang membawa langkah kaki So eun untuk menuju kesebuah kamar yang seharusnya tidak dia datangi. Tidak ada larangan sebenarnya untuk mengunjungi kamar tersebut, mengingat rumah ini juga sudah menjadi rumah So eun. Tapi tidak baik saja jika So eun lebih memilih melihat adik iparnya terlebih dahulu dibandingkan suaminya, bukankah ini aneh.

 

So eun menyentuh gagang pintu dan memutarnya, tidak ada perasaan canggung sama sekali ketika So eun mendapati pintu kamar itu tidak terkunci. Didorongnya pintu kamar tersebut setelah sebelumnya So eun berhasil memutar gagang pintunya.

 

“Kupikir kau sedang tidak ada dirumah Kim bum-ssi.” Ucap So eun ketika berhasil membuka pintu kamar yang ternyata milik adik iparnya itu, dan mendapati sesosok pria yang tengah berdiri membelakangi tubuhnya.

 

“Dia memang tidak ada di sini.” Jawab pria tersebut, dan membalikkan badannya untuk menghadap So eun.

Gadis itu reflek memundurkan tubuhnya, ketika menyadari kesalahan yang dia lakukan.

 

“Oppa… a-apa yang kau lakukan?” Suara So eun tidak keluar dengan lancar, tapi tentu saja masih bisa didengar oleh sang suami.

So eun mengira pria yang saat ini ada di depannya itu adalah adik iparnya, tapi ternyata dugaannya itu salah besar ketika mendapati bahwa suaminya lah yang saat ini sedang berdiri menghadap dirinya sambil tersenyum kearahnya. So eun masih belum bisa membedakan antara Kim bum dan juga Ki bum. Seharusnya So eun sudah bisa lebih peka dengan perasaannya sekarang, walaupun mereka kembar bukankah mereka tetap memiliki perbedaan.

 

“Aku tidak suka melihat oppa memakai baju dan minyak wangi itu.” Kesal So eun, dan membalikkan tubuhnya berniat meninggalkan suaminya yang masih setia berdiri ditempatnya semula dengan senyuman yang membuat So eun sedikit takut.

 

“Apa karena ini milik adikku?” pertanyaan dari Kim bum mampu membuat So eun menghentikan langkahnya. Gadis itu berbalik menatap suaminya kembali. Dan senyuman itu masih ada di wajah tampan milik suaminya. So eun benar – benar tidak suka melihat senyum itu.

 

“Aku tidak suka oppa, tidak peduli itu milik siapa. Aku tidak suka melihat oppa menggunakan apapun yang bukan milikmu.”

 

Ki bum tersenyum mendapati reaksi berlebihan dari istrinya. Ki bum mendekati So eun dengan perlahan. Dilepaskannya kemeja milik sang adik yang sedari tadi melekat di tubuhnya, dan hanya menyisakan sebuah kaos dalaman berwarna hitam tanpa lengan.

 

“Aku merindukanmu sayang..” Ucap Ki bum, sambil melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping milik So eun, sangat erat hingga So eun tidak bisa bergerak. Pelukan posesive.

 

“Kau semakin cantik jika sedang marah…” Sambung Ki bum sambil mengecup pucuk kepala So eun.

 

“Kita makan bersama oppa, aku akan memasakan makanan yang enak hari ini. Tunggu di ruang makan, aku akan segera menyusulmu nanti.” Perintah So eun, sambil berusaha melepas pelukan Ki bum. Dan Ki bum pun hanya bisa mengangguk sambil melangkahkan kakinya menuju ruang makan.

 

“Oppa..” Panggil So eun, ada jeda ketika gadis itu ingin bertanya pada sang suami. “Kemana…” dan ketika So eun akan melanjutkan kembali kalimatnya, suara sang suaminya sudah menginterupsinya untuk berhenti, dengan kalimat yang keluar dari mulut Ki bum.

 

“Kim bum sudah tidak tinggal di sini lagi.” seketika saat itu juga tubuh So eun seperti kaku. Kenapa Kim bum pergi, terlebih tidak memberitahukan hal ini pada So eun. Ah, kenapa ada perasaan kehilangan dihati So eun ketika suaminya itu memberitahukan bahwa adik iparnya sudah tidak tinggal serumah dengannya lagi.

 

 

“Ada apa? Kau sedih Kim bum pergi?” Degup jantung So eun seperti berhenti berdetak saat ini juga. Kakinya pun rasanya sudah sangat lemah untuk hanya sekedar berpijak di tempatnya. Pertanyaan Ki bum mampu menghentikan nafasnya dalam beberapa detik.

 

“Apa maksudmu oppa? Kau aneh!” Bukan jawaban yang diberikan So eun atas pertanyaan suaminya. Wanita itu tidak tau apa yang harus dijawabnya sehingga lebih memilih untuk bertanya balik pada sang suami.

 

Ki bum tersenyum tipis, ada perasaan terluka dibalik sorot mata kelamnya yang tentu saja tidak diketahui oleh sang istri. “Cepatlah siapkan makanan untukku sayang. Aku sudah sangat lapar.” Perintah Ki bum, dan berlalu meninggalkan sang istri yang tampak lega ketika ditinggal sang suami. So eun seperti terbebas dari suatu jerat kesalahan ketika berada di dekat Ki bum.

 

~~~

 

Hari ini sudah hampir satu minggu sejak kepergian Kim bum dari rumah. Rasa kehilangan benar – benar menyelimuti hati So eun. Tapi perasaan sedikit lega juga menyelimuti hatinya. Dengan kepergian Kim bum dari rumah dan tanpa memberitahukannya pada So eun tentu saja itu akan membuat So eun lebih mudah melupakan semua kejadian yang sudah dilaluinya bersama dengan adik iparnya tersebut

 

So eun menghela nafas panjang, disekanya keringat yang membasahi keningnya. hari sudah siang dan sang suami masih betah berada di dalam kamarnya. Apa yang sedang dilakukan Ki bum sekarang, fikir So eun. Sejak sepulangnya So eun dari berbelanja wanita itu masih belum mendapati sosok sang suami menyapa dirinya.

Kim bum melangkahkan kakinya menuju tempat penyimpanan alat – alat yang akan digunakannya untuk membersihkan rumah. Entah kenapa wanita itu lebih memilih membersihkan rumah terlebih daulu dibandingkan dengan memastikan keadaan sang suami.

 

Tidak butuh waktu lama untuk So eun membersihkan rumah, dihempaskannya tubuh lelah itu diatas sofa panjang yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Semilir angin yang masuk melalui jendela mampu membuat So eun merasakan kesejukan yang luar biasa nyamannya. Perasaan yang seharusnya dihindari oleh So eun kembali lagi ketika bayangan Kim bum menghantui fikirannya.

So eun merindukan Kim bum, entah kenapa rasa rindu itu terlalu besar sehingga So eun tidak mampu mengenyahkannya. Bahkan perasaan rindu ini mampu membuat So eun mengabaikan sang suami yang sejak tadi masih belum dilihatnya.

 

“Tidak bisakah kau pergi dari fikiranku.” Batin So eun, sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak. So eun harus segera mengenyahkan semua fikiran yang berisi tentang Kim bum. So eun tidak boleh memikirkan pria itu lagi.

So eun bangkit dari tempat duduknya, perasaan bersalah menghantui sisi lainnya. Bukankah seharusnya So eun menghampiri suaminya, jangan – jangan saat ini suaminya itu sedang membutuhkan bantuannya. Sudah seharusnya So eun ada disisi Ki bum untuk saat ini dan bukannya malah memikirkan pria lain, terlebih pria itu adalah adik iparnya.

 

So eun segera beranjak dari tempatnya, wanita itu segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Tentu saja memastikan apa yang saat ini tengah dilakukan oleh sang suami. Sejak bangun dari tidurnya pagi ini So eun sudah mengabaikan suaminya, bagaimana jika nanti Ki bum mulai curiga padanya. Tentu saja So eun tidak mau itu terjadi.

 

“Oppa… Kau sudah bangun?” So eun membuka pintu kamarnya dan melihat kearah tempat tidur yang saat ini sudah rapi. Tidak ada sang suami, yang ada hanya susunan bantal, guling dan juga selimut yang benar – benar sudah tidak tersentuh. Suaminya sudah bangun, sejak kapan? Lalu kemana Ki bum sekarang?

 

“Oppa…!” Seru So eun lagi, berharap suaminya itu masih berada di kamar ini.

Suara gemericik air dari dalam kamar mandi membuat So eun menghembuskan senyum lega dan jangan lupakan juga sebuah senyuman tipis yang mengembang dikedua sudut bibirnya. Sudah pasti saat ini suaminya itu sedang berada di dalam kamar mandi.

 

“Oppa… Kau di dalam kan?” Panggil So eun, ketika saat ini dirinya sudah berdiri di depan pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar tidurnya. Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi, So eun jadi cemas akan apa yang saat ini Ki bum lakukan di dalam kamar mandi. Jika suaminya itu memang hanya mandi kenapa tidak menjawab seruan So eun.

 

“Oppa.. Apa yang sedang kau lakukan?” Ulang wanita itu lagi, semakin penasaran dengan apa yang dilakukan oleh sang suami saat ini. Rasa penasaran yang sangat luar biasa tengah menggelayuti fikiran So eun. Apa terjadi sesuatu dengan Ki bum di dalam sana, kenapa tidak ada jawaban. Jangan – jangan Ki bum jatuh kelantai dan pingsan.

 

“Oppa kau tidak apa – apa kan?” Teriak So eun, sambil mendorong pintu kamar mandi yang kebetulan tidak terkunci. Dan ketika pintu itu terbuka, So eun bisa melihat dengan jelas apa yang saat ini suaminya lakukan. Tidak terjadi apa – apa dengan Ki bum. Pria itu hanya berendam di bak mandi.

 

“Ada apa?” Tanya Ki bum, terdengar santai di telinga So eun. Wanita itu menghela nafas, ada perasaan kesal di hatinya ketika mendengar respon sang suami yang terlihat biasa saja. Apa saat ini Ki bum tidak bisa melihat raut muka So eun yang benar – benar terlihat cemas. Keterlaluan sekali suaminya ini.

 

“Bisakah aku minta tolong padamu Kim so eun?”

 

“Oppa ingin aku melakukan apa?”

 

“Bisa aku memintamu menggosokkan punggungku, aku kesulitan melakukannya.” Pinta Ki bum. Entah kenapa So eun merasa ada yang aneh dengan suaminya saat ini. Tapi So eun segera menepis perasaan itu, tentu saja wanita ini tidak ingin membuat sang suami menunggunya terlalu lama atau mengira So eun tidak mau memenuhi permintaan sang suami.

 

“Biasanya kau tidak pernah mau merepotkanku, oppa? Hari ini kau terlihat manja sekali.” Ucap So eun, sambil mendudukkan tubuhnya di atas bak mandi dan mulai menggosok punggung Ki bum dengan penggosok badan.

 

“Aku merindukanmu, benar – benar sangat merindukanmu.” Balas Ki bum, pria itu benar – benar menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh sang istri.

 

“Aku juga sangat merindukanmu oppa.”

 

“Siapa yang kau rindukan? Apa kau benar – benar merindukanku? Jadi kau benar – benar merindukanku!”

 

So eun menghentikan aktifitasnya, suaminya ini benar – benar sangat lucu. Tentu saja So eun merindukan suaminya, mengingat betapa lamanya So eun menunggu Ki bum dari tidur panjangnya. Tidak ada lagi rasa rindu di hati So eun saat ini kecuali Ki bum suaminya. Tapi tunggu dulu, bukankah beberapa saat yang lalu isi di kepala So eun itu hanya ada nama Kim bum, bahkan So eun sempat mengabaikan suaminya itu hanya gara – gara memikirkan adik iparnya. Astaga tentu saja rasa bersalah yang teramat besar kembali menyelimuti hati So eun. Kenapa suaminya ini seolah – olah tidak sengaja mengorek kesalahannya. Apa suaminya ini tau apa yang pernah So eun lakukan dengan Kim bum. Bagaimana jika memang Ki bum mengetahuinya, apa yang harus So eun lakukan saat ini. Tentu saja tidak akan mungkin untuk So eun mengatakan semuanya pada Ki bum.

 

“Apa yang sedang kau pikirkan, kau tidak benar – benar merindukanku?” Pertanyaan dari Ki bum ini kembali menusuk jantung So eun. Benar – benar seperti ditikam pisau dari belakang. Rasanya benar – benar sakit, bahkan So eun benar – benar tidak bisa mengeluarkan satu katapun untuk menjawab pertanyaan Ki bum saat ini.

 

Gadis itu hendak beranjak dari tempatnya, tentu saja ingin menghindari pertanyaan suaminya yang terasa mematikan saraf So eun saat ini. Mungkin menghindar adalah satu – satunya hal yang tepat untuk menghindari sang suami. So eun masih belum punya kekuatan untuk mengakui semua kesalahan yang telah diperbuatnya pada Ki bum.

 

“Jangan pergi.. Kumohon.” Lirih Ki bum, ketika menyadari sang istri hendak meninggalkannya. Secepat mungkin Ki bum menghentikan pergerakan sang istri dengan memeluk pinggang ramping wanita itu.

 

“Aku mencintaimu… Benar – benar mencintaimu.” Suara serak dari Ki bum membuat So eun semakin merasa bersalah. Tapi perasaan ini berbeda. So eun benar – benar merindukan pelukan ini. Bukan seperti pelukan suaminya, ini terasa lebih hangat dan bisa langsung menyentuh hatinya.

 

“Maafkan aku oppa… Maafkan aku.” Ucap So eun, mencoba menenangkan gejolak jiwanya yang entah sejak kapan mulai membuatnya merasakan sakit yang benar – benar luar biasa.

“Maafkan aku oppa, karena aku merindukan pria lain.” Imbuh So eun dalam batinnya.

 

Ki bum membalikkan tubuh sang istri, ditelitinya wajah cantik So eun saat ini. Benar – benar cantik, dulu hingga sekarang So eun memang wanita yang benar – benar cantik di mata Ki bum. Tentu saja akan sangat menyesal bagi semua pria yang menjadi pendampingnya dan tidak bisa mempertahankan gadis ini untuk selalu berada disisinya.

 

Ki bum menarik tubuh sang istri untuk memasuki bak mandi yang sama dengannya. Bak mandi itu cukup besar untuk menampung hingga 4 orang di dalamnya, jadi Ki bum tidak akan khawatir akan membuat istrinya merasa tidak nyaman di dalam bak mandi itu bersama dengannya.

 

Dielusnya pipi putih sang istri, Ki bum benar – benar sangat berterima kasih pada sang pencipta karena sudah menciptakan sosok yang cantik seperti So eun. Terlebih wanita ini benar – benar nyata dan saat ini tengah berada di depannya dalam rengkuhannya. Dipandanginya setiap inci dan detail wajah So eun, benar – benar terlihat menggoda di mata Ki bum.

 

Jari jemari Ki bum masih sibuk meneiti setiap inci wajah So eun, sedangkan wanita itu hanya bisa menerima setiap perlakuan dari sang suami. So eun bahkan tidak menolak ketika jemari kokoh itu mulai meraba bibir ranumnya. Begitu pula ketika dengan tiba – tiba sebuah benda basah menyentuh permukaan kulit bibirnya. So eun benar – benar tidak bisa menghindar dari ciuman hangat yang diberikan oleh suaminya saat ini. Lagi – lagi So eun merasakan keanehan, bukan pada sang suami melainkan pada dirinya sendiri. Jika sebelumnya So eun menolak sentuhan dari sang suami kali ini So eun benar – benar menikmatinya. Bahkan sentuhan yang diberikan oleh Ki bum mengingatkan So eun akan sentuhan yang pernah diberikan oleh Kim bum. Oh.. tidak lagi, kenapa disaat seperti ini nama Kim bum kembali muncul di dalam kepala So eun. Lagi.

 

“Op-pa..” panggil So eun, ketika tanpa diduga oleh akal sehatnya Kim bum menyentuh daerah sensitifnya. Suaminya itu meletakkan telapak tangan kanannya pada payudara sebelah kiri milik So eun, sedangkan tangan kiri Ki bum merengkuh tubuh sang istri.

 

“Jangan menolakku Kim so eun, aku benar – benar sangat merindukan sentuhanmu.” Pinta Ki bum, pria itu bahkan semakin lincah memainkan telapak tangannya di payudara yang berukuran besar itu. Ki bum benar – benar menikmati aktifitasnya, sedangkan So eun sudah pasti wanita itu tidak bisa menolaknya. Tidak ada yang salah dengan sikap Ki bum, bukankah mereka ini sepasang suami istri jadi sudah pasti tidak ada yang salah akan hal ini.

 

Ki bum semakin menikmati aktifitasnya, tangan pria itu semakin lincah memainkan kedua payudara sang istri. Dengan kedua tangan yang masih asyik dengan aksinya di kedua payudara milik So eun, Ki bum pun juga tidak ingin melewatkan bibir merona milik sang istri. Dikecupnya bibir itu berkali – kali, tentu saja dengan tempo yang cepat. Pria itu bahkan tidak mempedulikan setiap erangan yang berkali – kali telah keluar dari mulut sang istri atas perlakuannya.

“Maafkan aku… Kumohon jangan membenciku.” Batin Ki bum, disela – sela aktifitas yang membuat tubuhnya membara. Entah kenapa Ki bum bisa menggumamkan kata maaf ketika menyentuh tubuh sang istri, sedangkan hal itu sudah seharusnya dilakukan oleh pasangan yang sudah terikat dalam pernikahan.

 

Pergulatan panjang antara Ki bum dan So eun pun sudah selesai, ketika sebuah interupsi dari Ki bum yang menyuruh So eun untuk segera mengganti segera pakaian wanita itu yang benar – benar sudah basah akibat ulah Ki bum. So eun segera menuruti permintaan sang suami. Wanita itu segera beranjak dari dalam bak mandi dan segera melepaskan semua pakaiannya untuk menggantinya dengan baju handuk yang akan membalut tubuhnya.

 

“Cepatlah keluar dari tempat itu, jika kau tidak ingin masuk angin Kim bum-ssi!” Perintah So eun, pada pria yang sekarang masih betah berendam didalam bak mandi itu.

 

“Kupikir kau tidak akan menyadarinya So eun-ssi!”

 

Deg.. So eun menyadari kesalahannya. Lagi. gadis itu merutuki dirinya yang dengan gampangnya menyebutkan nama Kim bum dan bukannya Ki bum. Dan terlebih sambutan dari pria yang sedari tadi tengah membuai dirinya. Panggilan itu, suara itu. Jangan lupakan juga sentuhan yang baru saja didapatkan So eun dari laki – laki yang entah sejak kapan sudah berada dibelakangnya dan saat ini sedang melingkarkan kedua tangannya pada pinggang So eun.

 

“Kau…”

 

“Hm.. Kupikir kau tidak akan menyadarinya.”

 

Seluruh sendi di dalam tubuh So eun seperti tidak berfungsi dengan baik ketika wanita itu menyadari siapa pria yang saat ini tengah memeluk tubuhnya dan memberikan sentuhan – sentuhan lembut padanya beberapa saat yang lalu. So eun bisa memastikan bahwa saat ini tubuhnya akan langsung merosot kelantai jika saja pria yang ada di belakangnya itu tidak sigap menahannya.

 

“Bagaimana bisa kau langsung mengenaliku So eun-ssi, apa karena ini kau mengenaliku?” pria yang saat ini masih setia memeluk tubuh So eun itu mengulurkan tangan kirinya dan mengacungkan telapak tangannya dihadapan mata So eun. Dan saat itu juga So eun benar – benar melebarkan pandangannya pada telapak tangan pria tersebut. Lebih tepatnya jari pria tersebut, di jari itu tersemat sebuah cincin berwarna silver yang entah bagaimana bisa melingkar manis di jemari kokoh itu.

 

“Dia tidak akan bisa memakainya, jadi aku yang menggantikannya memakai benda ini. Bagaimana menurutmu, bukankah benda ini sangat pas dijariku?”

 

So eun segera mendongakkan kepalanya, mencoba meneliti apakah benar pria yang saat ini berada di dekatnya ini adalah orang yang saat ini dirindukannya dan bukannya suaminya. Jika benar terkutuk sekali So eun karena lagi – lagi, gadis ini menghianati suaminya. Terlebih dengan santainya So eun menikmati setiap perlakuan yang sudah diberikan pria ini padanya. Jangan lupakan juga bagaimana dengan mudahnya So eun menggumamkan nama pria itu ketika dirinya masih menyangka bahwa pria yang saat ini didekatnya itu adalah suaminya. Keterlaluan sekali So eun. Apakah wanita ini benar – benar tidak bisa membedakannya sejak pertama kali, dan lagi siapa yang sebenarnya ada di hatinya saat ini.

 

Bahkan tanpa melihat cincin yang tersemat di jari pria itu pun, So eun sudah merasakan bahwa pria yang telah menyentuhnya itu adalah Kim bum dan bukannya Ki bum. Terlebih ketika cincin itu dengan asyiknya mendiami jari pria itu, bagaimana bisa dan sejak kapan cincin itu berada di jari yang tidak semestinya.

 

“Aku kemari hanya untuk mengembalikan benda ini, aku tidak bermaksud untuk mengambilnya. Adapun sesuatu yang ingin kuambil sekarang itu adalah kau, So eun-ssi.”

 

“Ba-bagaimana b-bisa kau a-ada disini?”

 

“Kau tidak merindukanku? Kupikir ketika tadi kau mengatakan merindukanku itu benar – benar untukku… oh, aku hampir lupa kau mengira aku ini suamimu. Seharusnya memang akulah yang berhak menjadi suamimu So eun-ssi.”

 

Saat ini juga, So eun benar – benar tidak mampu berucap. Kelancangan Kim bum yang dengan tiba – tiba memasuki rumahnya kembali setelah kepergiannya selama hampir satu minggu. Ditambah lagi kalimatnya yang terdengar seperti orang tak waras yang hendak menghancurkan rumah tangga kakak kandungnya sendiri. Apa pria ini sedang mabuk, jika memang benar bagaimana bisa. Sejenak So eun berfikir, sekarang bukan saatnya untuk So eun memikirkan hal – hal yang tidak terlalu penting. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya untuk membuat Kim bum pergi dari rumah ini, sebelum Ki bum datang dan mengetahui apa yang telah dilakukan oleh adik dan juga istrinya sekarang.

 

“Kau ingin aku pergi?” So eun mengangguk lemah ketika mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Kim bum saat ini. Pria itu seperti bisa membaca semua jalan fikiran So eun.

 

Kim bum yang masih setia memeluk So eun dari belakang, hanya bisa menyunggingkan senyum tipisnya. Kim bum makin mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping milik So eun. Tidak mempedulikan betapa gemetarnya tubuh So eun yang saat ini berada dalam rengkuhannya. Pria itu mengecup pucuk kepala So eun, seperti tidak rela melepas wanita yang benar – benar diraihnya ini.

 

“Kau tidak perlu khawatir akan kedatangan kakakku, akan kupastikan sebelum dia datang aku pasti akan meninggalkan tempat ini. Kau tidak perlu khawatir.” Kalimat itu berusaha menenangkan hati So eun, tapi tetap saja ketakutan gadis itu masih kentara jelas di wajahnya.

 

“Bagaimana bisa kau ada disini Kim bum-ssi?” Lirih So eun, benar – benar hampir tidak terdengar oleh indera pendengar Kim bum.

 

“Akhirnya kau menyebut namaku lagi, kupikir telingaku tidak akan bisa mendengar suaramu lagi untuk menyerukan namaku.”

 

“Kumohon Kim bum-ssi, jangan seperti ini!”

 

Kim bum menghembuskan nafasnya dengan berat, sangat berat dan terasa dipaksakan. Hingga So eun pun dibuat bergidik ketika hembusan nafas itu mampu menyentuh lehernya. Kim bum seperti sedang menahan sebuah batu yang sangat besar dipunggungnya. Dari deruman nafas lelah itu, bisa So eun pastikan bahwa kondisi Kim bum saat ini tidak dalam keadaan baik.

 

“Ini yang terakhir kalinya, setelah ini aku tidak akan pernah mengganggu hubungan kalian. Aku hanya ingin menyelesaikan sebuah potongan kisah kasihku yang masih terombang – ambing.” Jelas Kim bum.

 

“Maaf jika kau merasa terganggu dengan kehadiranku, mungkin semua ini tidak akan terjadi jika aku tidak kembali lagi kesini.” Sambung Kim bum. Pria itu menguarkan pagutan tangannya yang sedari tadi masih setia melingkari pinggang So eun.

 

“Aku akan kembali ke Jepang. Kuharap dengan menjauh dari dunia kalian aku akan bisa melupakan sesuatu yang selama ini benar – benar ingin sekali kugapai.” Sekarang Kim bum benar – benar melepaskan tubuh So eun dari rengkuhannya. Pria itu sibuk mengenakan kembali pakaiannya dan masih memandangi So eun yang tetap tak bergeming dari posisi yang membelakangi tubuh pria tersebut.

 

“Kau akan pergi.”

 

“Hm.” Kim bum berjalan melewati tubuh So eun, pria itu benar – benar akan mencapai pintu kamar mandi, bahkan tangan kanannya sudah menyentuh gagang pintu. Hanya butuh beberapa detik lagi untuk Kim bum keluar dari tempat itu. Tapi langkah itu harus tertahan oleh kalimat So eun.

 

“Kenapa kau melakukan semua ini? kenapa kau membuatku menjadi seperti ini?” Suara itu bergetar, benar – benar terdengar memilukan ketika ditangkap oleh telinga Kim bum. Ingin rasanya pria itu membalikkan badannya dan kembali membawa wanitanya kedalam rengkuhan hangatnya. Tapi tentu saja Kim bum tidak akan bisa melakukan hal itu lagi, akan terlalu lancang bagi Kim bum jika harus kembali memeluk So eun. Sudah cukup untuk semuanya, bukankah Kim bum sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa mulai detik ini dirinya tidak akan menyulitkan orang yang dikasihinya.

 

“Kenapa kau sangat kejam padaku, tidakkah selama ini kau mengerti bagaimana rasanya jadi aku Kim bum-ssi!” tangis itu pecah, karena sang pemilik air mata tidak bisa mengendalikan cairan bening yang saat ini benar – benar meleleh keluar dari kelopak matanya. Wanita itu butuh penjelasan, hanya sebuah alasan sehingga adik iparnya ini mampu memporak – porandakan seluruh jiwanya hingga benar – benar berantakan. So eun ingin tau, apa alasan Kim bum hingga pria itu bisa menyentuh titik sensitif dalam batinnya. Bahkan yang tidak pernah bisa dilakukan oleh suaminya sendiri.

 

“Aku akan menjelaskan semuanya padamu, jika suatu saat nanti Tuhan masih merestui kita untuk bertemu. Terimakasih sudah mengijinkanku menyelami dalamnya hatimu.” Beberapa tetes kristal bening terjun bebas dari mata kelam milik Kim bum, pria ini juga menangis sama seperti So eun. Akhirnya dia akan melepaskan semua cintanya pada So eun. Apapun yang terjadi pria ini, memang akan selalu menjadi yang kalah. Sampai kapanpun dan akhirnya dia harus bisa untuk merelakan semuanya. Termasuk kebahagiaan dan juga wanita yang dicintainya.

 

“Aku mencintaimu Kim So eun.” Batin Kim bum, dan pria itu dengan mantapnya melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut. Tentu saja meninggalkan So eun yang semakin menggila dengan tangisnya. Entahlah, kenapa So eun benar – benar histeris ketika melihat Kim bum meninggalkannya. Ada perasaan tidak rela pada hati wanita itu. Jadi sebenarnya bagaimana perasaan So eun saat ini. Ah, salah. Yang benar untuk siapa hatinya tertambat saat ini.

 

Raungan tangis dari So eun benar – benar terasa mencekam hati Kim bum yang ternyata masih berada diluar kamar kakaknya tersebut. Disini, ditempat ini Kim bum harus merelakan semuanya. Tubuh itu limbung, dan dengan sigap Kim bum menyandarkan tubuhnya pada dinding sebelum tubuhnya jatuh kelantai. Dipandanginya jari tangannya. Tidak ada sesuatu dijari itu karena cincin yang beberapa saat lalu tengah melingkar di jarinya sudah pria itu kembalikan ke tempat asalnya.

 

“Maafkan aku..” Gumam Kim bum, dengan langkah sempoyongan pria itu akhirnya meninggalkan So eun dan juga rumah yang sudah memberikan banyak kenangan untuknya. Terlebih pria itu juga harus pergi meninggalkan lagi Ki bum – sang kembaran.

 

~~~

 

“Kau masih mencintaiku?” Suara berat itu kembali mengudara, ada semburat ketidak pahaman dari raut wajah tampan itu. Bagaimana bisa wanita yang ada dihadapannya ini masih mengaku mencintainya, setelah apa yang sudah dijelaskan oleh pria yang saat ini tengah duduk disebuah cafetaria yang tidak terlalu ramai pengunjung. Tentu saja bersama wanita yang tadi mengatakan masih mencintai pria ini. Sepertinya wanita itu sudah gila, benar – benar tidak waras mungkin.

 

“Aku bukan pria yang menolongmu, dan kau masih mencintaiku?” pertanyaan itu kembali keluar dari mulut si pria. Ada perasaan kesal ketika pria itu mengatakannya.

 

“Saya bukan gadis belia yang masih belum paham apa makna cinta sesungguhnya. Saya ini wanita yang sudah matang, dan tau mana cinta yang benar dan mana cinta yang salah.” Jelas wanita itu dengan nada bicara yang sangat anggun.

 

“Saya tidak pernah berniat menghancurkan hubungan anda dengan istri anda. Anda fikir selama ini saya salah menujukan perasaan saya pada orang. Mungkin awalnya memang benar, tapi saya sudah mengetahui semuanya jauh sebelum anda mengatakan semuanya saat ini.”

 

“Jika kau sudah mengetahuinya, lalu kenapa kau masih bisa mengatakan bahwa kau mencintaiku. Bukankah sejak awal pria yang kau sukai itu adalah pria lain.”

 

Wanita itu tersenyum mendengar kalimat yang terlontar dari mulut pria yang ada dihadapannya saat ini. Aneh memang, tapi bagaimana bisa pria ini memaksa si wanita untuk menyukai pria lain sedangkan orang yang jelas – jelas disukainya itu adalah pria yang saat ini berada dihadapannya.

Walaupun terdengar gila dan aneh, tetap saja perasaan tidak bisa berubah. Tidak akan ada yang bisa merubah keinginan orang lain kecuali orang itu sendiri. Wanita itu sadar akan perasaan terlarang yang dimilikinya untuk pria itu. Mencintai suami orang tentu saja itu hal yang sangat – sangat tidak diperbolehkan. Tapi apa salahnya, toh selama ini dia tidak pernah merusak rumah tangga orang yang disukainya, wanita itu hanya mencintai pria yang ada dihadapinya dengan cara yang sehat. Memendam perasaannya sendiri dalam hatinya. Meskipun hal itu melukai wanita itu sendiri.

 

“Anda seperti orang yang sedang ketakutan, jika dia mencintai anda kenapa anda harus takut. Bukankah kasusnya juga sama seperti yang menimpa saya. Dan bukankah jawabannya masih sama. Saya mencintai anda karena saya merasa cinta saya tertuju pada orang yang benar.”

 

Pria itu mencerna kata – demi kata yang keluar dari mulut wanita yang mengaku masih mencintainya itu. Ya, kenapa pria ini harus takut bukankah kasusnya sama dan jawabannya sama. Wanita ini benar seharusnya pria ini tidak perlu takut jika dirinya merasa yakin bahwa sesuatu yang menjadi miliknya tentu saja akan selalu menjadi miliknya jika semua itu benar – benar tertuju pada orang yang tepat.

 

“Anda tidak bisa memaksakan kehendak dan juga keinginan anda pada orang lain. Tentu saja orang itu tidak akan melakukan semua keinginan anda jika itu bertentangan dengan hatinya. Dalam kasus istri anda, sepertinya anda benar – benar takut jika jawabannya berbeda.”

 

Pria itu semakin terlempar kuat kedalam ilusi yang diciptakannya sendiri. Semua kalimat yang terlontar dari mulut wanita itu masih belum bisa dibalasnya. Ada perasaan takut yang sangat besar tengah mendera hatinya. Bagaimana jika yang diucapkan wanita ini benar, bagaimana jika kasus serupa ini memiliki penyelesaian berbeda. Haruskah pria ini merelakan istrinya pergi dari sisinya. Sial, tentu saja itu tidak diinginkan oleh hatinya. Lalu apa harus mengorbankan orang – orang yang dikasihinya.

 

“Sepertinya anda juga harus mengungkapkan semua ini padanya, sebelum orang lain yang mendahului anda.”

 

Kalimat itu bagaikan pukulan telak yang mampu menghujam ulu hati pria itu. Ya, seharusnya sejak awal pria itu memberitahukan semuanya pada sang istri dan bukannya malah menyembunyikan kebenarannya. Terlebih membuang adiknya kandungnya. Betapa keterlaluannya pria itu. Bagaimana jika nanti sang adik mengatakan semua kebenaranya pada istrinya dan semua ketakutan yang melanda hatinya akan terbukti, apa pria ini masih bisa mengatur nafasnya kembali dengan normal. Tanpa istri dan juga adiknya, hanya sendiri dan kembali merasakan kehampaan.

 

“Anda tidak akan sendiri, karena saya masih akan tetap ada disamping anda jika sesuatu yang buruk itu terjadi.”

 

“Apa maksudmu Yoona-ssi?” Pertanyaan Retorik, haruskah pria ini mengajukan pertanyaan seperti itu pada wanita yang saat ini ada dihadapannya. Bukankah pria itu sudah tau apa jawaban dari pertanyaan yang saat ini tengah diajukannya.

 

“Anda tidak perlu khawatir, semuanya akan baik – baik saja. Semua jawaban ada di tangan anda. Ingin lari, mendapatkan hasil menyenangkan tapi tidak bertahan lama atau melangkah maju walaupun berat tapi melegakan. Semuanya tergantung pada diri anda.” Wanita bernama Yoona itu betul – betul menyudutkan pria yang ada di hadapannya.

 

“Jadi aku harus melakukan salah satunya!”

 

“Sepertinya saya harus meninggalkan anda, agar anda bisa berfikir dengan matang. Maaf jika saya sudah terlalu banyak bicara Ki bum-ssi.” Yoona bangkit dari tempat duduknya dan membungkukkan badannya pada pria yang tak lain adalah Ki bum. Dengan senyum tulus yang mengambang di wajah cantiknya wanita itu melenggangkan kakinya meninggalkan Ki bum yang masih dalam kekalutan.

 

Ya, bagaimanapun semua kekacauan ini harus diselesaikan jika tidak ingin ada yang terluka. Sudah ada satu korban dan tentu saja Ki bum tidak ingin ada korban lagi. jika sebelumnya dengan kejamnya Ki bum mengorbankan adiknya apakah sekarang Ki bum juga akan mengorbankan istrinya. Pria itu masih bimbang akan keputusan yang harus dipilihnya. Maju kehilangan, mundur juga kehilangan bukankah serba salah jika sudah seperti ini.

 

“Brengsek..” Rutuknya dalam hati, Ki bum menggenggam erat gelas yang terletak didepannya. Jika saja ini bukan di tempat umum sudah pasti Ki bum akan mengeluarkan semua kemarahannya ini.

 

Harus ada yang kalah, bukan mengalah. Seharusnya sejak awal dua kembar ini mengetahui aturan sebuah peperangan. Tidak ada istilah seri. Jika kalah ya mati, menang berarti hidup. Pertarungan ini masih belum selesai, masih ada waktu untuk mengetahui siapa pemenangnya. Terlepas dari kata mengalah.

 

NB: buat para readers yang sudah setia menunggu kelanjutan fanfic ini, aku benar – benar ucapkan terimakasih. Sekali lagi mau kasih tau buat para readers yang sudah baca fanfic ini, cerita ini memang terinspirasi dari sebuah film korea dengan judul yang sama. Tapi dalam cerita di fanfic ini aku sengaja merubah ceritanya sesuai dengan imajinasiku, tapi tidak bermaksud merusak cerita aslinya. Untuk para readers yang kurang berkenan dengan ceritanya aku mohon maaf.

Hate Or love (Part 4)

Posted: 27 April 2014 in FF BUMSSO
Tag:

cats

Part 4

 

-

-

-

 

So eun bergegas keluar dari kamarnya, tidak menghiraukan kalimat – kalimat yang telah dilontarkan oleh mulut sang ibu. So eun benar – benar tidak ingin terlibat dalam urusan ataupun rencana yang telah disusun oleh ibunya, itu mungkin akan semakin memperburuk keadaan – fikir So eun.

 

So eun segera masuk kedalam mobil yang akan mengantarkannya ke kantor, hari ini So eun tidak berangkat bersama Woo bin, entahlah apa penyebab kakak tirinya itu harus berangkat terlebih dahulu dan tidak menunggu So eun seperti biasa, karena yang So eun tau, saat ini dirinya akan di antarkan oleh sopir pribadi keluarga untuk sampai ke kantor.

 

Sedari tadi senyum cantik So eun benar – benar tidak bisa lepas dari wajahnya, pipinya benar – benar merona. Tidak tau apa alasannya sehingga saat ini So eun benar – benar merasa bahagia. Tapi tentu saja, ini semua ada hubungannya dengan kakak tirinya. So eun merasa hubungannya dengan Woo bin sudah sedikit membaik, walaupun terkadang pria itu masih sedikit bersikap dingin padanya, tapi setidaknya Woo bin sudah mulai memperhatikan dirinya. Dan yang terpenting beberapa kali Woo bin selalu membela dirinya dari ancaman Kim bum. Akan kah hubungan mereka akan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

 

Hanya butuh beberapa menit untuk So eun sampai di kantornya, setelah turun dari mobil dan mengucapkan terimakasih pada sang sopir So eun pun segera memasuki gedung bertingkat itu dengan senyum yang masih terukir jelas di ujung bibirnya.

 

~~~

 

So eun melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya, bukan hanya ruang kerjanya saja sebenarnya, melainkan ruang kerja Kim bum juga. Tidak seperti hari – hari sebelumnya, sekarang So eun sedikit memiliki keberanian untuk menghadapi Kim bum. Walaupun hanya sedikit, tapi setidaknya tubuh So eun tidak akan gemetaran lagi jika Kim bum secara tiba – tiba muncul dihadapannya. Dan ketika So eun sudah membuka ruangan kerjanya, wanita itu bisa sedikit bernafas lebih lega karena Kim bum belum datang.

 

“Kak Woo bin..” pikir So eun, entah dapat kekuatan dari mana wanita itu sehingga sampai terlintas di dalam pikirannya sebuah nama. Nama kakak tirinya, sepertinya So eun sudah gila, untuk apa So eun memikirkan pria itu. Mau cari masalah lagi wanita ini.

 

So eun segera bergegas menuju ruangan Woo bin, masih belum terpikirkan oleh So eun jawaban apa yang akan dikeluarkannya jika nanti Woo bin akan bertanya perihal maksud dari kedatangannya ke ruangan Woo bin. Yang pasti saat ini So eun benar – benar ingin menemui Woo bin, sekedar untuk mengucapkan selamat pagi mungkin atau apalah itu.

 

“Terbuka… kenapa tidak tertutup, apa tidak ada….” kalimat pelan So eun menggantung, ketika tangannya menyentuh gagang pintu ruangan milik Woo bin, pintu yang sedari tadi sedikit terbuka itu bisa memberikan kesempatan untuk So eun melihat dengan jelas apa yang saat ini tengah dilakukan oleh kedua orang yang ada didalamnya.

 

“Ada apa ini… kenapa aku harus melihatnya.” Gumam So eun sambil menutup pintu yang sedari tadi sedikit terbuka. Tangan wanita itu seperti tidak bisa lepas dari gagang pintu tersebut, bibirnya bergetar hebat, dan tanpa disadarinya air matanya terjun bebas dari mata indahnya. Apa – apaan ini kenapa harus keluar sekarang.

 

“Dasar.. wanita murahan.”

 

Wanita itu segera melepaskan tangannya dari gagang pintu yang sedari tadi dipegangnya, kakinya reflek mundur kebelakang. Badannya kelu, seperti tidak bisa bergerak. Ditambah lagi suara yang baru saja didengarnya menambah kelumpuhan saraf – sarafnya secacara tiba – tiba. Wanita itu tau betul siapa pemilik suara tersebut.

 

“Kau benar – benar tampak seperti wanita murahan dan menyedihkan.”

 

Kim bum.. saat ini tengah berdiri di belakang So eun, pria itu menyandarkan tubuhnya pada tembok dan melipat kedua tangannya di depan dada. Untung saat ini tidak ada para karyawannya yang mondar – mandir. Kalau saja ada, benar – benar keterlaluan sekali Kim bum sampai mengeluarkan kata – kata kasar seperti itu pada wanita yang sekarang telah sah menjadi saudari tirinya.

 

“Bagaimana bisa seorang wanita terhormat sepertimu tengah tertangkap basah mengintip kesenangan orang lain, benar – benar keahlian yang luar biasa. Ini sangat menarik.”

 

So eun masih tidak bergeming, jangankan untuk menyahuti kalimat – kalimat tersebut. Memandang ke arah orang yang mengucapkannya saja rasanya tidak punya keberanian. Kenapa So eun harus dalam posisi seperti ini, ini benar – benar memalukan. Pasti Kim bum akan semakin mencerca dan memojokannya jika seperti ini.

 

“Sepertinya kau tidak menyukai pertunjukan di dalam… bukankah seharusnya kau senang, karena ternyata saudara tirimu bisa memiliki kekasih yang baik. Setidaknya kak Se young jauh lebih terhormat dari pada kau.”

 

Kim bum benar – benar semakin memojokan So eun dengan kalimat – kalimatnya barusan. Sebenarnya apa yang di inginkan oleh pria ini. Apa Kim bum benar – benar sangat senang jika melihat So eun terluka seperti ini. Seharusnya Kim bum memberikan belas kasihan pada So eun walau hanya sedikit, bukankah dari awal kim bum mengetahui bagaimana perasaan So eun pada Woo bin. Kim bum ini benar – benar mengerikan menurut So eun.

 

So eun bahkan sudah tidak kuasa lagi mendengar semua cercaan dari Kim bum, sepertinya jalan satu – satunya untuk menghentikan ocehan Kim bum sekarang hanya satu yaitu meninggalkan pria itu dan menenangkan dirinya. Jika memang So eun pintar seharusnya So eun harus cepat – cepat melakukannya.

 

“Kenapa terburu – buru… bukankah kau belum selesai melihatnya. Apa kau tidak ingin melihat apa yang akan mereka lakukan selanjutnya… sepertinya ini akan menjadi tontonan yang menarik, aku juga penasaran dengan permainan kakakku. Apakah dia bisa lebih lembut jika bermain dengan kak Se young..” goda Kim bum sambi menarik lengan So eun, sebelum wanita itu ingin pergi meninggalkannya.

 

“Lepaskan tanganku…” pinta So eun, wanita itu masih bersikap santai menghadapi Kim bum mengingat saat ini keduanya sedang berada di area kantor. Jika terlihat oleh karyawan yang lain, saat ini mereka sedang adu mulut bisa jadi bahan gosip seluruh kantor kejadian ini. Tentu saja So eun tidak mau itu terjadi.

 

“Bukankah kau mau melihatnya, ayo aku temani kau masuk ke dalam. Atau mungkin kau juga ingin bergabung dengan mereka.. sepertinya kakakku benar – benar akan kewalahan menghadapi dua wanita sekaligus,,”

 

“Cukupp… tidak bisakah kau berhenti menghinaku. Sampai kapan kau akan membenciku, selama ini aku selalu mencoba bersikap baik padamu. Kenapa kau seperti ini.”

 

Kim bum menyeringai mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh saudara tirinya ini. Bagaimanapun usaha So eun untuk bersikap baik pada Kim bum, tentu saja semua itu masih kalah dengan perasaan benci di diri Kim bum akan diri So eun dan juga ibunya.

 

“Biarkan aku pergi… lepaskan aku, aku ingin pergi dari sini.”

 

Kim bum masih tersenyum penuh arti ketika mendengar So eun memohon pada dirinya. Rasanya Kim bum merasa sedikit terhibur dengan keadaan seperti ini. Sepertinya Kim bum mulai memikirkan sesuatu. Terlintas sedikit permainan kotor yang ingin dilakukan Kim bum dengan saudari tirinya ini. Kira – kira apa ya yang menarik – fikir Kim bum.

 

Kim bum segera menarik lengan So eun dengan paksa dan membawa wanita itu keluar dari kantornya. Kim bum bahkan tidak peduli dengan pandangan karyawan – karyawannya yang menatap keduanya dengan sorot mata keheranan. Itu tidak akan membuat Kim bum menghentikan niatnya untuk membawa so eun pergi, lagi pula saat ini dirinya tidak ada kesibukan apapun. jadi dia bisa bebas pergi kemanapun yang dia inginkan. Dan lagi masalah So eun, bukankah sekarang wanita ini adalah sekertarisnya jadi tentu saja Kim bum bisa bebas membawanya kemana saja ketika masih jam kerja.

 

“Yaa… apa yang akan kau lakukan, aku tidak mau ikut denganmu.” Teriak So eun ketika Kim bum dengan paksa memasukan So eun kedalam mobil pria itu dan juga memasangkan sabuk pengaman untuk So eun.

Kim bum tidak mempedulikan teriakan So eun, yang dia lakukan sekarang adalah memutari mobilnya dan langsung masuk kedalam mobil tersebut untuk melajukannya ketempat yang dia inginkan. Bersama So eun tentunya.

 

~~~

 

So eun dan Kim bum sudah sampai di depan pintu sebuah apartemant, sedari tadi So eun terus berontak ketika Kim bum masih setia memegangi lengannya. Sepertinya Kim bum benar – benar tidak ingin melepaskan saudara tirinya ini barang sedetik pun. Apa yang sebenarnya diinginkan Kim bum dari So eun sekarang.

 

“Masuklah.” Perintah Kim bum dengan nada membentak, ketika pintu aparteman tersebut sudah sukses terbuka. Bersamaan dengan lepasnya pegangan tangannya yang sedari tadi mencengkram lengan So eun.

Tidak ada respon dari orang yang disuruhnya, sepertinya So eun ingin menguji kesabarannya sekarang. Apa So eun masih belum hafal juga dengan karakter Kim bum. Bukankah So eun tau bahwa Kim bum tidak suka penolakan.

 

“Aku bilang masuk sekarang.. kau tuli yaa..” teriak Kim bum, dan sukses membuat So eun masuk ke dalam apartemant yang So eun rasa itu pasti milik Kim bum.

Dengan langkah kaki gemetaran so eun pun melangkahkan kakinya memasuki apartemant tersebut diikuti dengan derap langkah kaki Kim bum yang mengikutinya dari belakang dan langsung mengunci pintu apartemantnya itu ketika keduanya sudah masuk kedalamnya.

 

“Gadis murahan sepertimu, pastinya tidak asing kan dengan kondisi seperti ini.” Ucap Kim bum sambil berjalan mendahului So eun untuk lebih masuk ke dalam apartemannya. Dan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa yang sepertinya sangat nyaman ketika melihat Kim bum duduk disana.

 

“Kau benar – benar gila.” Ucap so eun, sambil memutar tubuhnya menuju kearah pintu dan mencoba memutar handle pintu tersebut. Tapi usaha So eun ini benar – benar sia – sia, karena pintu apartement Kim bum ini dilengkapi dengan passkey, jadi jika So eun ingin keluar pastinya So eun harus tau kata sandi yang sudah dipasang Kim bum untuk bisa membuka pintu tersebut.

 

“Kau mau kemana?…. apa kau tidak mau mencoba apa yang tadi kakakku lakukan bersama dengan wanitanya. Kau tidak ingin mencobanya bersamaku… hari ini aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya bermain dengan gadis murahan yang mengaku menjadi wanita baik – baik seperti dirimu.”

 

“Sebenarnya apa yang kau inginkan sekarang, aku ingin pergi. Cepat buka pintunya atau aku akan teriak sekarang juga…” ancam So eun, sepertinya usahanya ini benar – benar dianggap lelucon oleh Kim bum mengingat pria di depannya ini tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya duduk, dan malah menampakkan senyuman mengerikan.

 

“Bagaimana kalau kita mulai sekarang saja, atau kau ingin bermain – main dulu sebelum melakukan permainan inti kita.” Goda Kim bum sambil tersenyum penuh arti pada So eun.

Astaga apa pikiran Kim bum selalu seperti ini jika menyangkut dengan So eun, apa Kim bum benar – benar menganggap So eun seperti wanita – wanita yang sering diajaknya bermain. Jika memang iya, keterlaluan sekali Kim bum ini.

 

So eun semakin memundurkan tubuhnya kala melihat Kim bum beranjak dari tempat duduknya dan melepaskan kemeja yang sedari tadi membalut badannya. Dan tidak lupa pria itu juga menanggalkan kaos dalam yang melapisi tubuhnya. Dan saat ini So eun pun bisa melihat tubuh atas Kim bum yang polos tanpa ditutupi oleh pakaian lagi.

 

So eun memalingkan pandangannya dari tubuh kim bum dan semakin memundurkan tubuhnya hingga membentur dinding aparteman kim bum. Tentu saja ini tidak akan menjadi hal yang baik mengingat kondisinya sudah sampai sejauh ini. Kim bum pasti akan melakukan hal – hal yang tidak akan menyenangkan. Jika saja saat ini So eun bisa keluar, itu pasti akan membantunya untuk lepas dan menghindari Kim bum. Tapi bagaimana caranya untuk So eun keluar sedangkan So eun sendiri tidak mengetahui kata sandi yang terpasang pada pintu apartement ini. Habislah So eun sekarang, setidaknya itulah yang ada dipikiran So eun saat ini.

 

So eun menutup kedua matanya ketika menyadari tubuh Kim bum sudah berada di depannya dan memenjerakan dirinya dengan kedua tangan pria tersebut yang bertumpu di dinding. Hembusan nafas berat dengan aroma tubuh maskulin yang menyeruak membuat So eun begitu gugup dan gemetaran, jangankan untuk bergerak, bernafas saja rasanya susah. Hingga sampai saat ini pun gadis itu bahkan masih belum berani membuka matanya.

 

“Kau menyedihkan… Kim so eun.” Gumam Kim bum, sambil membelai wajah So eun dengan jemari – jemarinya yang nampak berisi. Kim bum bahkan tidak mengalihkan pandangannya pada sesosok gadis yang saat ini mungkin sangat membenci dirinya. Atau mungkin lebih tepatnya gadis itu takut pada Kim bum.

 

Degup jantung So eun benar – benar bergemuruh kala mendapati sebuah sentuhan lembut di wajahnya. Tentu saja So eun masih belum berani bergerak, gadis itu masih ingin menunggu apa lagi yang akan dialaminya setelah ini. So eun masih harus bertahan dalam kediamannya jika memang Kim bum masih bersikap normal, kecuali jika Kim bum melakukan hal – hal yang membuat So eun terancam baru gadis itu akan melawan sebisanya.

 

Sebuah sapuan lembut dan basah terasa menggetarkan dibibir lembut milik So eun saat ini, sehingga mau tidak mau gadis itu harus membuka matanya. Astaga… kim bum melakukan hal ini lagi, walaupun kali ini lebih lembut tetap saja ciuman yang diberikan oleh Kim bum ini terkesan memaksa dan menuntut. Bahkan kim bum tidak membiarkan So eun bernafas atau hanya sekedar menggeser posisinya. Kim bum begitu kuat mencengkram tubuh So eun sehingga membuat gadis itu benar – benar dilanda ketakutan yang luar biasa.

 

Kim bum sedikit mengendurkan pegangannya dari tubuh so eun, dan tanpa pria itu sangka sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulusnya. Akibat dari tamparan keras dari tangan kecil yang saat ini gemetaran itu membuat wajah Kim bum sedikit berpaling. Rasa panas menjalar diseluruh wajahnya terlebih pada titik pusat sasaran tamparan, dan tanpa Kim bum duga sebuah darah kental mengalir di sudut bibirnya.

 

“Kau, beraninya menamparku…” desis Kim bum sambil menatap tajam kearah wanita yang saat ini berada didepannya. Tatapan tajam penuh amarah itu benar – benar sangat menakutkan. Kim bum masih tidak habis pikir bagaimana bisa So eun dengan beraninya menampar pria tersebut.

 

“A-aku.. ti-tidak b-ber-maksud me-melakukan-nya.” Jawab So eun dengan suara bergetar. Rasa takut menyelimuti hatinya, karena sudah pasti apa yang terjadi selanjutnya benar – benar akan membuatnya terancam. Tentu saja Kim bum tidak akan memaafkan So eun begitu saja.

 

“Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Sampai kapan kau akan menyakiti perasaanku? Bukankah kau sendiri sudah tau apa alasan aku melakukan ini semua kepadamu. Lalu kenapa kau selalu menghantui pikiranku… katakan apa yang harus kulakukan padamu sekarang…” sebuah ungkapan kekesalan dari Kim bum dan juga pertanyaan yang selama ini dipendamnya keluar begitu saja dari mulut Kim bum, tanpa bergeming sedikitpun.

 

So eun tak kuasa menahan isak tangisnya, walaupun selama ini dirinya sudah tau apa penyebab sikap dingin dan angkuh Kim bum terhadapanya tetap saja So eun tidak pernah begitu yakin hingga akhirnya dia bisa mendengar pengakuan dari mulut Kim bum sendiri.

 

“Aku… tidak bisa, benar – benar tidak bisa.” Jawab So eun dengan masih terisak

 

Mendengar jawaban yang keluar dari mulut So eun tentu saja membuat Kim bum semakin kesal. Bagaimanapun Kim bum memang harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa saat ini kim bum memang membenci So eun terlebih ibu dari wanita tersebut, jadi bagaimanapun caranya Kim bum memang harus menghancurkan So eun. Itulah tujuan utama Kim bum selama ini.

 

“Sampai kapan kau akan menguji kesabaranku? Baiklah, aku benar – benar akan menunjukkan betapa bencinya aku padamu.” Teriak Kim bum, dan kali ini pria itu benar – benar seperti ingin menelan So eun hidup – hidup dan saat itu juga.

 

Dengan sangat kasar Kim bum segera menarik tangan So eun agar wanita itu bisa mendekat pada Kim bum. Dan dengan sekali tarikan dari kedua tangannya, pria itu bisa melepaskan blazer yang saat ini dikenakan So eun dan melemparnya entah kemana. “Apa yang mau kau lakukan?” teriak So eun yang semakin ketakutan dengan apa yang akan dilakukan Kim bum. Jika kemarin Woo bin bisa menyelamatkannya sudah pasti saat ini tidak akan ada satu orang pun yang akan bisa menyelamatkan So eun. Mengingat tempat ini adalah daerah kekuasaan Kim bum, jika sudah seperti ini apa yang akan terjadi pada diri wanita malang itu.

 

Kim bum kembali menarik tubuh So eun, dan melemparkan wanita tersebut ke atas tempat tidur yang ada dikamarnya setelah sebelumnya pria tersebut menyeret tubuh So eun dengan kasar ke kamarnya.

 

“Kau terlalu berisik.. aku muak mendengar suaramu.” Cerca kim bum sambil mendekati tubuh So eun yang masih terbaring di tempat tidur milik Kim bum. Sebuah seringaian terpampang jelas diwajah Kim bum kala mendapati raut muka ketakutan wanita itu ketika melihat Kim bum.

 

“Berhenti.. aku bilang berhenti.” Jerit So eun ketika, melihat pergerakan Kim bum yang tentu saja akan membahaykan dirinya.

 

Bukannya berhenti, Kim bum bahkan semakin mendekatkan dirinya pada wanita yang benar – benar dibencinya itu. Kim bum menaikkan tubuhnya di atas tempat tidurnya tempat dimana saat ini tubuh So eun benar – benar sangat gemetar karena menahan rasa takut dan juga tangisnya. So eun berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya, jika saat ini So eun menangis sudah pasti mulut Kim bum akan terus menerus mencercanya dengan makian dan juga hinaan.

 

“Kyaaaa,,,” Jerit histeris dari mulut So eun kembali terdengar ketika dengan paksa Kim bum menarik baju sebelah kirinya hingga terkoyak besar dan tentu saja itu membuat bahu putih So eun terbuka. Secepat mungkin So eun menutupi bahunya dan secepat mungkin wanita itu menghindari perlakukan Kim bum yang juga hendak melakukan hal yang sama pada baju sebelah kanannya.

Wanita itu dengan sigap, menuruni ranjang itu ketika Kim bum hendak melakukan hal yang lebih mengerikan selanjutnya. Sedangkan Kim bum terlihat kesal ketika lagi – lagi So eun menghindarinya.

 

“Berhenti di tempatmu.. Aku bilang berhenti.” So eun berusaha sekuat apa yang dia bisa, wanita itu benar – benar tidak ingin Kim bum memonopoli tubuhnya. Apapun akan So eun lakukan agar bisa terhindar dari Kim bum saat ini.

 

“Berhenti katamu, kau kira siapa yang membuatku harus melakukan ini semua? Kau kira aku menyukai hal ini, kau terlalu berlebihan.” Kim bum kembali berusaha untuk mendekatkan tubuhnya pada So eun. Seperti tidak peduli akan keberontakan So eun seperti yang sebelum – sebelumnya. Pria ini seperti belum puas jika belum melepaskan kekekesalannya pada So eun.

 

“Seharusnya kau saja yang menyerah, kenapa selalu menghindar bukankah selama ini kau sudah terbiasa melakukannya. Jangan munafik Kim so eun, kau bahkan tidak lebih baik dari pada aku.” Sekali tangkap pria itu bahkan bisa langsung menggenggam erat lengan kiri So eun. Seberapa keraspun usaha wanita itu untuk menghindari Kim bum tentu saja itu tidak akan dengan mudahnya terjadi mengingat saat ini Kim bum lah yang sedang memegang kendali.

 

“Lepaskan tanganmu, atau aku akan menusukmu.” Ancam So eun, sambil mengacungkan sebuah pisau yang entah sejak kapan gadis itu bawa. Dan dari mana pula So eun mendapatkannya. Ah, salahkan saja Kim bum yang selalu lupa meletakkan barang – barang yang sudah selesai digunakan pada tempatnya semula.

Kim bum melebarkan matanya, sorot matanya yang tadinya penuh amarah yang benar – benar meluap kini terlihat nanar ketika melihat So eun tengah mengacungkan sebuah pisau kearahnya. Sebegitu menakutkannnya Kim bum sampai – sampai So eun benar – benar tidak ingin tersentuh oleh Kim bum.

 

Bukannya melepaskan cengkramannya dari lengan So eun, Kim bum malah semakin menarik tubuh wanita itu agar segera mendekat padanya. Kim bum benar – benar ingin merengkuh tubuh So eun dan membawa wanita itu kedalam pelukannya.

 

“Aku tidak main – main dengan ucapanku breenggseekkkk… cepat lepaskan tangamu, kau benar – benar bajingan Kim bum. Bukan hanya kau saja yang membenciku, aku juga membencimu bahkan lebih dari pada rasa bencimu padaku.” Teriak So eun, gadis itu benar – benar sudah muak dengan perlakukan Kim bum selama ini. Sudah cukup untuk So eun bersabar menghadapi kelakuan Kim bum. Dan jika ada ungkapan bahwa sabar itu ada batasnya, nah saat inilah batas kesabaran So eun akan perlakuan – perlakuan yang tidak menyenangkan dari Kim bum selama ini.

 

“Kau mau menusukkan pisau itu padaku. Lakukan, lakukan sesukamu. Aku bahkan tidak peduli jika pisau itu benar – benar mampu menembus jantungku. Ayo.. lakukan, aku tidak akan menghindar.” Tantang Kim bum, semakin memojokkan So eun dengan kalimatnya. Kini Kim bum juga mencengkram tangan So eun yang tengah mengarahkan pisau itu pada dirinya.

 

“Ayo cepat hujamkan pisau itu pada dadaku.. bukankah itu yang kau mau, mungkin kau akan senang jika aku mati. Jika itu yang kau mau, lakukanlah.” Kalimat itu terdengar memilukan ketika Kim bum mengeluarkannya. Pria itu seperti putus asa ketika melihat So eun benar – benar menganggapnya bajingan. Kalau sudah seperti ini bukankah sudah terbukti, Kim bum memang kalah.

“Sebelum kau berniat menembuskan pisau itu pada tubuhku, aku juga sudah mati. Tapi mungkin akan jauh lebih menyenangkan jika seorang Kim bum akan mati ditangan wanita yang sangat dibencinya.” Desis Kim bum pria itu benar – benar sudah kalah, bahkan sebelum Kim bum memulai semua rencananya. Benar apa yang kakaknya bilang, bahwa perasaan itu memang masih ada dalam hati Kim bum. Mungkin Kim bum memang berusaha menyangkalnya mati – matian, tapi sekarang juga, sudah terbukti bahwa pria itu benar – benar sudah tidak memiliki taring lagi dihadapan So eun.

 

Tubuh itu lemas, benar – benar seperti tidak bernyawa ketika mendengar setiap kalimat pengakuan secara tidak langsung dari Kim bum. Bagaimanapun juga So eun bukan orang yang bodoh dan tidak peka akan keadaan Kim bum. Jauh sebelum So eun masuk kedalam rumah megah itu, So eun sudah mengetahui bagaimana tabiat pria ini. Hanya saja selama ini So eun memang tidak pernah mau mempedulikan perasaan pria itu. Karena menurut So eun itu akan menyakiti hati Kim bum sendiri. Ditambah dengan kenyataan yang ternyata menyebabkan Kim bum semakin membenci So eun. Tangan lemas itu merenggang bersamaan dengan terjatuhnya pisau yang sedari tadi digenggamnya. Tentu saja So eun tidak akan benar – benar ingin mencelakai Kim bum seperti apa yang telah diucapkan. So eun hanya ingin melindungi dirinya dengan sedikit ancaman pada Kim bum. Dan ternyata hasilnya adalah sia – sia.

 

“hiks.. hiks.. a-pa la-lagi s-se-karang.” Bisik So eun, wanita itu seperti benar – benar tidak mempunyai tenaga lagi. Kim bum yang melihat So eun sudah mulai kelelahan segera memeluk tubuh wanita itu dengan tiba – tiba dan kembali memaksa So eun untuk menerima ciumannya. Dan tentu saja So eun kembali meronta. Ternyata Kim bum tidak benar – benar melepaskan So eun. Memangnya semudah itu Kim bum akan mengalah, tentu saja tidak akan mudah untuk mengalahkan kerasnya hati Kim bum.

 

“Hemppptttt…. lep… ppasss.” Ronta So eun, ketika Kim bum benar – benar mulai kasar menciumi bibirnya. Kim bum bahkan tidak segan – segan untuk menggigit bibir So eun agar wanita itu mau membuka bibirnya. Setetes darah segar mengalir keluar dari sudut bibir So eun ketika Kim bum menggigit bibir itu dan dengan paksa memaksa lidah pria itu memasuki bibir kecil milik So eun.

Kim bum seperti tidak mempedulikan rasa amis bercampur asin yang mulai memasuki indera perasanya. Rasa amis bercampur asin yang ditimbulkan dari darah dan juga air mata So eun.

 

Mata itu mengkilat tajam, sorot mata yang tidak bisa ditafsir oleh sipenglihat. Sorot mata yang hanya Kim bum sendiri yang mengetahui maknanya. Tangan kokoh itu langsung menarik pakaian yang saat ini melekat ditubuh So eun. Saat ini iblis benar – benar tengah bersemayam di dalam hatinya sehingga Kim bum benar – benar mempunyai kekuatan untuk melakukan hal yang sudah lama dihindarinya. Sedangkan So eun, wanita itu hanya bisa menghela nafas pasrah ketika saat ini tubuhnya hanya terbalut pakaian yang benar – benar sudah koyak. Mungkin So eun memang sudah tidak bisa lagi keluar dari jerat kegilaan yang diberikan Kim bum padanya. Jika memang hari ini So eun bisa memohon pada tuhan, wanita itu benar – benar ingin jika tuhan bersedia mengambil nyawanya saat ini juga daripada harus menerima perlakuan keji seperti ini dari Kim bum orang yang dulu sekali pernah memberikan kehangatan padanya.

 

-

-

-

 

Kim bum menggerakkan tubuhnya, ketika seberkas cahanya menyilaukan indera penglihatnya. Digerakkannya secara perlahan tubuhnya. Sedetik kemudian pria itu memiringkan tubuhnya mendapati seorang wanita tengah memejamkan matanya dan tergolek di sampingnya.

Kim bum menyangga kepalanya dengan satu tangannya, dan menggunakan tangan lainnya untuk menyentuh sudut bibir wanita itu. Warna biru kehitaman nampak disudut bibir itu. Tentu saja luka itu juga sama sakitnya seperti sudut bibirnya. Satu sama fikir Kim bum. Diamatinya wajah itu dalam diam, Kim bum seperti tidak ingin mengedipkan matanya walau hanya satu detik saja. fokus matanya saat ini seperti ingin dia gunakan hanya untuk melihat wajah letih dihadapannya.

 

Segaris cairan bening dengan tiba – tiba merembes dari kedua mata terpejam itu. Benar – benar seperti tersayat – sayat sebuah belati dada Kim bum ketika pria itu melihat wanita yang ada di hadapannya ini tengah menangis dalam tidurnya. Sebegitu keterlaluannyakah Kim bum hingga benar – benar membuat seorang wanita menangis ketika matanya tengah terpejam. Pria itu merengkuh tubuh lemah itu kedalam pelukannya. Didekapnya erat wanita yang entah kenapa sangat dibencinya.

 

“Kau benar – benar membuatku kehilangan duniaku. Kim So eun.” Gumam Kim bum yang semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh So eun. Membenamkan wajah So eun kedalam dada bidangnya. Seperti tidak ingin siapapun melihat air mata yang saat ini tengah terjun bebas dari kedua mata terpejam milik wanita itu.

 

Dan sekarang Kim bum bahkan bisa merasakan getaran hebat dari tubuh So eun, wanita yang saat ini didekapnya itu kembali terisak tanpa suara. Kim bum tau bahwa sejak tadi So eun sudah bangun dari lelapnya. Dan Kim bum tidak mau So eun menghindarinya maka dari itu, sebelum wanita itu mengeluarkan serangan – serangan penolakan lagi seperti sebelumnya. Kim bum tidak mau mengambil resiko. Jika wanita ini berontak, wanita ini bisa saja melakukan sesuatu yang akan membahayakan nyawa Kim bum dan juga nyawa So eun sendiri.

 

“Aku membencimu, sangat membencimu.” Lirih Kim bum, lagi – lagi kata – kata benci yang keluar dari mulut Kim bum saat ini. Kim bum seperti meyakinkan dirinya sendiri bahwa saat ini pria itu memang benar – benar membenci wanita yang telah dipeluknya itu.

 

“Akupun juga sangat membencimu.” Kim bum menyunggingkan senyumnya, tapi pria itu tidak ingin wanita yang ada dipelukannya itu tau sehingga Kim bum masih dengan erat merengkuh tubuh So eun. Apa yang baru saja keluar dari mulut So eun tadi, benar – benar menandakan bahwa wanita ini memang sudah benar – benar terbangun dari lelapnya.

 

“Itu akan jauh lebih baik, dari pada hanya aku yang membencimu.” Ucap Kim bum lagi, kali ini pria itu mengecup pucuk kepala So eun.

 

~~~

 

Diwaktu yang sama namun di tempat lain, Woo bin benar – benar terlihat tidak tenang. Semua berkas yang seharusnya sudah diselesaikannya masih tak tersentuh oleh jemari tangannya. Pria itu benar – benar gelisah. Bagiamana tidak akan gelisah jika dua orang yang saat ini tengah mengganggu fikirannya sama – sama mematikan ponselnya dan tidak memberikan kabar apapun padanya.

 

“Apa yang sedang kalian lakuakan saat ini?” tanya Woo bin pada dirinya sendiri, pria itu menggenggam erat ponselnya sebagai pelampiasan atas kekesalan. Woo bin benar – benar sudah bisa menebak jika saat ini kedua orang yang sedang ada difikirannya itu berada di tempat yang sama. Sayangnya hari ini Woo bin tidak secerdik biasanya. Pria itu seperti tidak bisa melacak keberadaan adiknya, bagaimana bisa ini terjadi. Sedangkan biasanya dimanapun Kim bum berada, Woo bin akan sangat mudah untuk menemukannya.

 

“Sial, bocah itu pasti sudah melakukannya. Seharusnya sejak awal aku sudah bisa memperkirakan semua ini.” Woo bin menghempaskan tubuhnya dengan kasar pada sandaran kursi yang didudukinya saat ini. Pria itu mengusap dahinya menandakan bahwa ada benyak fikiran yang membebani otaknya saat ini.

 

“Jika saat ini kau sedang memikirkan So eun, pasti dia akan baik – baik saja. tidak seharusnya kau mencurigai Kim bum.”

 

Woo bin menghembuskan nafasnya, terdengar kasar. Memangnya sekertarisnya ini tau apa tentang masalahnya. Apa karena selama ini Kim bum selalu dekat dengannya sehingga wanita ini berfikir bahwa saat ini Kim bum dalam kondisi yang baik. Se young bahkan tidak tau jika saat ini Kim bum bahkan berada dititik terlemahnya sehingga bocah itu bisa melakukan apapun yang tentu saja bisa membahayakan seseorang dan tentu saja itu adalah saudari tirinya.

 

“Kau tidak tau apa – apa tentang masalahku.”

 

“Karena memang kau tidak pernah menceritakannya padaku, hanya Kim bum yang menceritakannya padaku. Dan tentu saja menurutku versi Kim bum lah yang paling benar sehingga aku akan selalu mendukungnya. Hanya ada satu versi yang aku dengar, dan tidak ada pemberitahuan apapun darimu.”

 

“Pergilah. Aku tidak membutuhkanmu hari ini.”

 

“Tanpa kau suruhpun aku juga akan pergi.” Decak Se young penuh dengan kekesalan. Gadis itu meletakkan beberapa berkas penting yang sudah terselesaikan di atas meja Woo bin dengan kasar. Bagaimana bisa Woo bin mengusir Se young sedangkan pria itulah yang sebelumnya menyuruh Se young untuk satu ruangan dengannya. wanita itu segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Woo bin, dengan menghentakkan pintu ruangan itu dengan keras sebelum benar – benar pergi. Woo bin hanya tersenyum getir melihat tingkah laku sekertaris sekaligus sahabatnya itu.

 

Sepeninggalnya Se young, Woo bin memeriksa laporan – laporan yang tadi telah dibawa oleh sekertarisnya itu. Diperiksanya semua berkas itu dan ternyata semuanya sudah terselesaikan Woo bin hanya tinggal menandatanganinya dan memberikannya pada sang ayah. Lagi – lagi Se young membantu pekerjaannya dan juga Kim bum.

 

“Dasar bodoh.”

 

~~~

 

Yi hyun berjalan menyusuri salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Seoul, hari ini wanita dewasa itu baru saja bertemu dengan kliennya disalah satu restoran yang terletak di pusat perbelanjaan yang saat ini didatanginya. Karena merasa masih ada waktu sedikit sebelum kembali ke butiknya wanita itu memutuskan untuk berkeliling di pusat perbelanjaan itu. Seharusnya Yi hyun menghubungi Kim bum atau Woo bin saja untuk menemaninya berkeliling, sudah lama sekali wanita itu merindukan kedua anaknya yang sudah lama tidak mengunjunginya.

 

“Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?”

 

Yi hyun mengalihkan pandangannya pada ponselnya. Dan segera mencari pemilik suara yang sangat dikenalnya. Yi hyun sedikit terkejut ketika mendapati mantan suaminya itu tengah berdiri di hadapannya. Rasa canggung menyelimuti wajah wanita yang berusia hampir setengah abad itu.

 

“Bisa kita bicara sebentar!” lagi – lagi seperti ini ternyata sifat pemaksa mantan suaminya itu masih belum hilang. Bagaimana bisa sebuah kalimat permintaan menjadi pernyataan yang menyerupai pemerintah.

Jae wook melangkahkan kakinya mendahului langkah kecil Yi hyun. Wanita itu masih bingung dengan pertemuan yang tidak disengaja ini dan membuat Yi hyun harus terjebak dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman. Duduk berhadapan dengan mantan suaminya, mantan orang yang sudah memberikan dua orang putra dan jangan lupa orang yang selama ini masih dicintainya itu.

 

“Sepertinya kau baik – baik saja.” Ucap Jae wook memecah keheningan diantara mantan pasangan suami istri itu.

 

“Tidak seperti kelihatannya. Bagaimana bisa aku bahagia, sedangkan aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang saat ini telah dilakukan oleh kedua putraku.”

 

“Bahkan aku yang selau bersamanyapun juga tidak bisa melihat apa yang saat ini telah dilakukan oleh keduanya.” Jawab Jae wook dengan sedikit sunggingan senyum yang bahkan tidak bisa dilihat oleh siapapun.

 

“Itu karena kau tidak pernah peduli pada mereka, kau hanya peduli pada keluarga barumu.” Sindir Yi hyun, bagaimanapun sudah pasti wanita ini akan kembali naik pitam jika mengingat akan apa yang menimpa rumah tangganya beberapa tahun silam.

 

“Sedikitpun aku juga tidak mempedulikannya. Hanya ada satu hal yang aku pedulikan dan seharusnya kau tau apa maksudku.”

 

Yi hyun, menatap tajam pria yang ada dihadapannya ini. Seperti biasa pria itu benar – benar bisa menutupi semua masalah yang ada didalam benaknya dengan menunjukkan wajah angkuh dan terkesan dingin. Itu yang sangat tidak disukai ole Yi hyun pada diri mantan suaminya itu. Dan yang lebih parah kebiasaan yang paling tidak disukai Yi hyun pada mantan suaminya itu menurun pada kedua putranya. Terlebih Kim bum, putra bungsunya itu benar – benar bisa menyembunyikan perasaannya terlebih pada orang – orang yang dirasanya dekat, tidak terkecuali Yi hyun yang adalah ibu kandungnya sendiri.

 

“Jadi apa kau sudah memberitahukan semua ini padanya?”

 

Jae wook belum menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh yi hyun. Tapi sesaat kemudian pria itu menggelengkan kepalanya yang menandakan bahwa memang belum ada yang tau akan penyebab semua konflik keluarga ini. Kecuali 3 orang yang sudah berkorban terlebih dahulu.

 

“Maaf sudah membuatmu berpisah dengan putra – putramu.”

 

“Mereka masih sering mengunjungiku, walaupun harus merasa ketakutan setelahnya karena takut kau akan marah padanya.”

 

“Itu karena mereka membohongiku, tempo hari aku bahkan memukul mereka berdua.”

 

“Kenapa harus sampai memukul mereka, tidak bisakah kau mengurangi sifat tempramentalmu. Bagaimana jika mereka jadi membencimu karena kelakukanmu ini. Hanya karena ingin menemui ibu mereka, membuat mereka harus mendapatkan pukulan.” Ada perasaan tidak terima ketika telinga Yi hyun mendengar penuturan Jae wook.

 

“Itu karena Kim bum hendak memperkosa So eun.” Jelas Jae wook, dan membuat Yi hyun seketika terlonjak dari tempat duduknya.

 

Bagaimana bisa putra bungsunya itu melakukan hal sekeji itu. Astaga, nampaknya Yi hyun menyadari sesuatu. Sekarang bukan hanya orang tua saja yang menjadi korban melainkan juga putra putri mereka. Yi hyun mendudukkan tubuhnya. Bagaimanapun semua ini harus diselesaikan. Yi hyun harus memberi pengertian sekaligus meminta penjelasan pada putra bungsunya itu, karena jika tidak maka Kim bum sendirilah yang akan terluka. Dan terlebih tentu saja So eun akan paling menderita. Yi hyun juga tidak bisa mengabaikan putra sulungnya – Woo bin.

 

“Harusnya dari awal kita memberitahukan semua ini pada anak – anak.” Lirih Yi hyun.

 

~~~TBC~~~