Arsip untuk Januari, 2013

will the dream come true (part 4)

Cast : kim sang bum, Kim so eun, Moon joo won, Lee yeon hee
Genre : Romantic

Terimakasih buat reader yang udah baca part – part sebelumnya, apalagi yang udah mau berbesar hati dan menyempatkan untuk coment. coment – coment dari chingu semua membuatku semangat untuk melanjutkan ke part ini. masukan – masukan dari kalian semua juga sudah aku pahami. semoga part ini tidak mengecewakan.

***

Didalam apartement so eun. so eun masih melepaskan kerinduannya pada pria yang telah lama tak ditemuinya tersebut.

“kau terlihat semakin tampan saja seung hoo” ucap so eun

“tentu saja, aku ini sudah besar kakak” ucap pria yang bernama seung hoo tersebut, yang ternyata adalah adik kandung so eun dari busan.
So eun benar – benar kagum melihat perubahan penampilan adiknya yang sekarang. Hampir satu tahun so eun dan seung hoo tidak bertemu rasanya so eun benar – benar rindu pada adik laki – lakinya itu.

***

“kenapa kau harus pulang secepat ini sih, baru kemarin kau datang kemari dan sekarang kau harus pergi lagi meninggalkan kakakmu ini” ucap so eun pada seung hoo yang tengah asyik makan nasi goreng buatan so eun.

“kenapa kakak ini masih saja cerewet, kapan kakak bisa menjadi orang yang lebih pendiam”

“aku masih merindukanmu, apa kamu tidak tau kalau kakakmu ini benar – benar kesepian disini”

“kakak ini benar – benar lucu, kakak sendiri yang menginginkan untuk kuliah di seoul”

“itu karena saat itu ayah dan ibu di seoul juga”

“apa kakak tidak memikirkanku, bagaimana denganku kalau ayah dan ibu terus di seoul. Apa aku harus menjadi yatim piatu karena tak pernah mendapatkan kasih sayang dari mereka” ucap seung hoo yang membuat so eun ingin menangis

“maafkan aku telah menyusahkanmu seung hoo” ucap so eun dengan nada yang bergetar karena menahan tangisnya.

“kakak, apa kakak sudah mempertimbangkan semuanya? Apa kakak benar – benar ingin menerima perjodohan ini” tanya seung hoo.

Perjodohan, perjodohan apa yang dimaksud seung hoo. Perjodohan siapa, kenapa so eun harus memikirkannya.

“aku tau kakak tidak pernah menolak semua perintah ayah dan ibu, kakak selalu berusaha memenuhi keinginan mereka walaupun yang kakak lakukan tidak sesuai dengan keinginan hatimu. Tapi tidak bisakah untuk saat ini kau memberitau mereka apa yang kau inginkan” nasehat seung hoo pada kakaknya itu.

So eun tidak menjawab ataupun membantah perkataan seung hoo, so eun hanya bisa menangis mendengar nasehat dari sang adik.
Seung hoo benar – benar tumbuh dewasa sekarang, bahkan pemikirannya kini lebih dewasa dibandingkan dengan so eun. so eun benar – benar tak bisa menahan tangisnya saat ini.

“carilah orang yang benar – benar bisa membuatmu bahagia, dan bisa membebaskanmu dari kekangan orang tua kita. Apa kau mau menjadi seperti ini terus, kau harus bisa melepas bayang – bayang ayah dan ibu jika kau ingin lepas dari mereka. Aku tidak ingin melihatmu bersedih kak”

“aku tidak bersedih, aku senang dengan ini semua. Jika memang ayah dan ibu menjodohkanku dengan pria pilihan mereka itu berarti memang itu yang terbaik untukku”

“berhenti membohongi dirimu sendiri kak, aku tau kau tidak menginginkan hal ini”

“seung hoo berhenti menggurui kakakmu, kau bahkan tidak cukup besar untuk menasehatiku”

“aku memang tidak lebih besar dari kakak, tapi aku lebih mengerti apa yang ada dalam hatimu dibanding dirimu sendiri”

So eun benar – benar kagum dengan sikap dewasa yang adiknya miliki, sekarang seung hoo memang mulai tumbuh menjadi pria dewasa. Perbedaan usia 5 tahun dibawah so eun, tak membuat seung hoo terlihat seperti adik bagi so eun. melainkan sahabat untuk so eun berbagi.

“maafkan aku kak, aku tak berniat membuatmu semakin sedih. Aku hanya ingin membuat kakak sadar akan kelemahan kakak, itu saja”

“kakak mengerti, terimakasih karena telah peduli pada kakakmu ini seung hoo”

Seung hoo beranjak dari tempat duduknya dan bersiap – siap untuk kembali ke busan.

“carilah orang yang benar – benar tulus mencintai dan menyayangimu, jangan seperti jang woo hyuk. Aku tidak suka lelaki brengsek seperti dia menjadi pilihanmu”

So eun menganggukan kepalanya, berdiri dari tempat duduknya dan memeluk seung hoo sambil menangis. Seung hoo pun membalas pelukan sang kakak.

“temui orang itu, dan lihat dulu bagaimana sifatnya. Dan jika dia cocok dengan hatimu maka terimalah perjodohan ini, tapi jika tidak kau harus menolaknya. Aku akan membantu semua keputusan yang terbaik darimu” ucap seung hoo sambil melepaskan pelukannya dari so eun.

“terimakasih seung hoo, kau memang yang terbaik. Maaf tidak bisa mengantarmu ke stasiun, karena hari ini aku harus mengurus beberapa urusan tentang skripsiku dikampus. Sesal so eun

“kakak tak lihat jika adikmu ini sudah dewasa, aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku akan berkunjung lagi kesini jika ujian nasionalku sudah selesai. Aku kan juga ingin kuliah di seoul sepertimu” goda seung hoo pada so eun.

***

So eun sudah sampai dikampus dan menyelesaikan semua urusannya, tak perlu banyak waktu memang.

Kini so eun sedang berjalan menuju halte bus. So eun duduk dihalte bus untuk menunggu bus yang membawanya pulang.
So eun kembali mengingat akan nasehat – nasehat yang diberikan adiknya pagi tadi. Apakah so eun punya kekuatan untuk menolak perjodohan yang dilakukan orang tuanya ini.

So eun menghela nafasnya panjang, rasanya berat sekali untuk beranjak dari tempat duduknya sekarang. Bahkan sudah berapa banyak bus yang lewat dan so eun tak menghiraukannya. Hari sudah mulai sore dan sepi apalagi sepertinya hujan akan turun, mengingat memang sekarang sedang musim hujan.

Hujan benar – benar turun sekarang dan menyadarkan so eun akan kebodohannya saat ini, bagaimana bisa dia melamun hingga lupa waktu seperti ini. Pasti akan jarang bus lewat, apalagi saat ini dihalte tempat so eun berada sedang sepi.

So eun menundukkan kepalanya, dan memainkan ponselnya berharap ada seseorang yang menghubunginya dan mengusir kesepiannya saat ini.

Seseorang meletakkan motornya didepan halte tempat so eun berteduh dan ikut berteduh bersama so eun.

“maaf nona, apa aku boleh duduk disebelahmu” ucap orang itu pada so eun sopan. So eun menganggukkan kepalanya tanpa melihat orang disebelahnya dan masih sibuk dengan ponselnya.

Kenapa hujan tak kunjung reda, dan kenapa bus juga tak kunjung lewat. hari ini benar – benar membuat suasana hati so eun jadi tambah buruk. Andai saja saat ini kim bum ada disamping so eun dan menenangkan hatinya seperti tempo hari saat so eun sedang sakit pasti akan lebih baik. Pikir so eun

“kenapa aku memikirkannya, aish benar – benar membuatku semakin pusing saja” gumam so eun. sambil mengangkat wajahnya dan memandang seseorang yang saat ini sedang berada disampingnya.

Tuhan inikah anugrah yang kau berikan padaku, baru saja aku memikirkannya dan menginginkan dia untuk ada disisiku saat ini. Dan secepat itukah kau mengirim dia untukku. Pikir so eun

Sadar diperhatikan oleh gadis disebelahnya, kim bum pun memperhatikan gadis tersebut. Betapa terkejutnya kim bum melihat so eun lah gadis yang berada disebelahnya dari tadi.

“so eun, apa yang kau lakukan ditempat ini?” Tanya kim bum

“tentu saja berteduh, kampusku kan dekat dari sini apa kau lupa?”

Benar juga, bukankah halte bus ini dekat dengan kampus so eun. kenapa kim bum tak menyadarinya sejak tadi.
Betapa senangnya kim bum saat ini, terjebak hujan dengan so eun dan hanya berdua saja.
Kim bum memandang kearah so eun yang terlihat sibuk dengan ponselnya.

“apa kau menunggu telepon dari pacarmu?”

So eun tak menjawab pertanyaan kim bum, dan kembali menundukkan kepalanya lalu menghentikan aktivitas dari ponselnya tersebut.

Kim bum. taukah kamu jika saat ini, hanya dirimulah yang ada dihati dan pikiranku. Tidak ada yang lain, tapi akankah aku mengatakannya padamu. Mengatakan perasaanku yang benar – benar terpenuhi olehmu. Pikir so eun, Tak terasa butir – butir bening dari mata so eun mengaliri pipinya.

“apa ada yang salah dengan ucapanku, so eun?” tanya kim bum yang melihat so eun menangis.

Bukannya menjawab pertanyaan kim bum, so eun malah memeluk kim bum dan kembali menangis.

Kim bum membalas pelukan so eun, bahkan mengeratkan pelukannya. Benarkah ini, untuk pertama kalinya so eun memeluk kim bum terlebih dahulu. Ada apa dengan so eun, kenapa so eun seperti orang yang sedang menanggung beban yang sangat berat.

“ada apa, apa yang terjadi? Ceritakanlah padaku” ucap kim bum, yang merasa ada yang aneh dengan sikap so eun.

“aku takut jika aku benar – benar mencintainya” ucap so eun yang masih betah berada dipelukan kim bum.

Tak ada harapankah untukku. Siapa orang yang kau maksud saat ini, apakah kau sangat mencintainya. Apa orang yang kau maksud itu, adalah orang yang aku lihat di apartementmu. Pikir kim bum

“apa kau mau berbagi cerita padaku, aku siap mendengarkannya”
So eun mengangguk dan melepaskan pelukannya pada kim bum.

“kau tau saat aku pulang duluan ketika sedang ditaman, saat itu adikku datang dari busan. Aku sangat senang ketika dia datang, bahkan sangat senang” ucap so eun memulai ceritanya.

Adik, jadi laki – laki yang dicium so eun itu adalah adik so eun. berarti ada kesalah pahaman yang terjadi pada kim bum.
Kim bum tampak mengembangkan senyumnya, ketika mengetahui kalau laki – laki yang dilihatnya itu adalah adik so eun.

“lalu apa masalahnya?”

“adikku datang untuk mengingatkanku”

“mengingatkanmu, untuk apa” heran kim bum

“orang tuaku menyuruhku untuk menemui anak temannya yang juga sedang kuliah diseoul. Tapi sampai saat ini aku tidak juga menemui orang itu, hingga orang tuaku menyuruh adikku datang kesini dan mengingatkanku untuk melakukan hal tersebut” kim bum semakin bingung dengan kalimat – kalimat yang diucapkan oleh so eun. kim bum benar – benar tak mengerti apa maksud cerita so eun saat ini.

“aku tidak mengerti maksudmu so eun, memangnya kenapa kau tak menemuinya?”

“aku tidak ingin dijodohkan dengan orang yang tidak aku kenal” ucap so eun dan kembali menangis.

Astaga, jadi ini alasan so eun. so eun dijodohkan dengan anak dari teman orang tua so eun. kenapa harus seperti ini, bagaimana kim bum bisa menolong so eun. kim bum benar – benar tak bisa berfikir jernih sekarang

“kenapa kau tak menolaknya, apa kau harus menerima keinginan mereka, jika kau memang tak menyukainya”

“tidak semudah itu kim bum, aku tidak mungkin bisa menolak keinginan mereka. Sebenarnya aku ingin meminta kepastian pada seseorang yang membuatku tersiksa akhir – akhir ini. Ucap so eun sambil menghela nafasnya dan kembali melanjutkan perkataanya.

“aku mulai menyadari kalau saat ini aku menyukainya, walaupun aku tak tau apa hebatnya aku, sehingga aku berniat untuk menjadi kekasihnya. Aku selalu membuang pikiran itu jauh – jauh, ketika aku menyadari bahwa, aku tak mungkin menjadi kekasihnya. Dia sudah memiliki kekasih dan tak mungkin aku memisahkan mereka”

Kim bum mulai berpikir siapa yang so eun maksud saat ini. Jang woo hyuk kah mantan kekasih so eun, tapi kim bum rasa bukan karena yang kim bum tau woo hyuk tidak memiliki kekasih dan woo hyuk berniat kembali pada so eun. pikir kim bum

Moon joo won, ya kim bum rasa orang yang begitu dekat dangan so eun akhir – akhir ini adalah joo won. Pasti so eun menyukai joo won. Tapi joo won tidak memiliki kekasih saat ini, dan pria yang diceritakan so eun berstatus kekasih orang. Pikir kim bum lagi.

“aku menyukainya, aku menyukai KIM SANG BUM bahkan sangat menyukainya” ucap so eun tiba – tiba dan langsung memeluk kim bum lagi.

Betapa kagetnya kim bum ketika tau siapa orang yang dimaksud so eun saat ini. Dirinyalah orang yang disukai so eun, ternyata so eun menyukainya. Kim bum benar – benar senang ketika tau kalau so eun menyukainya, walaupun kim bum juga tau kalau saat ini so eun mengalami konflik yang sangat besar dengan hati dan pikirannya.

Akhirnya perasaan telah terungkap, tinggal mengetahui bagaimana kebenaran yang harus dihadapi. Mempertahankannya atau melepaskannya.

Seulas senyuman terukuir jelas diwajah kim bum sekarang. So eun mengatakan isi hatinya, jadi selama ini so eun menyukai kim bum.

“berhentilah menangis so eun, dan tatap mataku sekarang” perintah kim bum pada so eun, sambil melepaskan pelukannya dari gadis itu.

So eun memperhatikan mata kim bum dengan lekat, so eun benar – benar merasakan keteduhan ketika memandang mata itu.

“aku senang ketika, kau mengakui perasaanmu. Ini benar – benar diluar dugaanku so eun” ucap kim bum sambil melepas kalung yang selalu dipakainya, dan langsung memakaikannya pada so eun.

“aku ingin kau memakainya selalu, kalung ini pemberian kakakku. Kata kakak kalung ini milik ayah, ayah menitipkan kalung ini pada kakak sebelum beliau meninggal. Ayah berpesan pada kakak, kalau aku sudah besar aku harus memberikan kalung ini pada seorang wanita. wanita yang harus aku jaga selama hidupku selain ibu dan kakakku” ucap kim bum pada so eun setelah selesai memakaikan kalung itu pada so eun.

so eun memperhatikan kalung yang sekarang tergantung dilehernya. Sebuah kalung sederhana dengan liontin berbentuk perempuan didalam lingkaran. Setau so eun, kim bum memang selalu memakai kalung ini. Tapi kenapa sekarang kim bum memberikan kalung itu pada dirinya. Pikir so eun.

“kenapa kau memberikan kalung ini padaku, dan bukannya yeon hee?” tanya so eun, memang seharusnya kim bum memberikan kalung itu pada kekasihnya kan. Mengingat amanat ayah kim bum tentang kalung tersebut.

Kim bum tak menjawab pertanyaan so eun tersebut, dan membiarkan so eun tetap dalam kebingungannya. Kim bum tersenyum sesaat dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah so eun.

Semakin dekat, sampai tak ada jarak lagi diantara mereka. Hingga akhirnya kim bum menempelkan bibirnya pada bibir so eun, mengecupnya dengan lembut dan penuh kasih.

So eun tersentak mendapatkan perlakuan seperti ini dari kim bum, tapi so eun juga tak menolak ciuman dari kim bum. so eun memejamkan matanya dan mencoba merasakan ciuman yang diberikan oleh kim bum saat ini. So eun benar – benar merasakan ketulusan dari ciuman kim bum sekarang.

Keduanya tersenyum, ketika melepas kontak bibir mereka. Malu dan senang mungkin itulah yang mereka rasakan saat ini. Bahkan so eun pun seperti tak mengingat masalah yang menimpanya. Begitu pula dengan kim bum, dia bahkan tak ingat jika saat ini secara tidak langsung dia telah menghianati lee yeon hee, kekasihnya.

“ayo kita pulang, sepertinyaa hujan sudah reda” ucap kim bum dan dibalas anggukan oleh so eun.

***

Kim bum sudah sampai diapartementnya, dan langsung merebahkan dirinya diatas kasur. Dan kembali mengingat kejadian dimana dirinya telah mencium so eun. senyumpun terus tersungging diwajah tampannya.

“kim bum, apa yang terjadi padamu. Apa kau sudah gila, datang – datang senyum – senyum tak jelas” ucap joo won pada kim bum. sambil ikut berbaring bersama kim bum.

“aku sedang senang sekarang”

“pasti kau baru saja dapat hadiah dari yeon hee” tebak joo won.

“kau benar – benar pintar joo won, bagaimana kau bisa tau kalau aku baru saja mendapat hadiah? Tapi kau salah orang, yang memberiku hadiah tadi bukan yeon hee, melainkan orang lain” jawab kim bum

“memangnya siapa lagi selain yeon hee, yang sering memberimu hadiah?”

“kau tak perlu tau” goda kim bum pada sahabatnya itu, dan langsung memejamkan matanya untuk tidur. Walaupun rasanya sulit untuk tidur, jika mengingat kejadian tadi.

“aish, dasar bodoh” ucap joo won yang kesal melihat tingkah sahabatnya saat ini.

“Kenapa aku tak seberuntung kim bum yang bisa bebas memilih wanita yang disukainya. Begitu enaknya jadi kim bum, memiliki keluarga yang tidak terlalu mengatur kehidupannya. Apalagi kim bum memiliki yeon hee, gadis yang benar – benar mencintai kim bum apa adanya.” pikir joo won

Kenapa disaat joo won mulai suka pada seseorang, orang tuanya malah menyuruhnya untuk menerima perjodohan yang diatur oleh orang tuanya tersebut. joo won mengacak – acak rambutnya dan menyusul kim bum kealam mimpi.

***

Dilain tempat so eun benar – benar tak bisa memejamkan matanya saat ini. So eun terus membayangkan kejadian yang dialaminya dengan kim bum ketika dihalte bus tadi.
So eun terus mengembangkan senyumnya, rasanya didalam hati so eun benar – benar dipenuhi oleh nama kim bum dan kim bum.

***

Pagi – pagi sekali kim bum sudah bangun dan berpakaian dengan rapi.

“bukankah hari ini kau tidak kuliah, kenapa rapi sekali. Mau pergi kemana?” Tanya joo won yang baru bangun dari tidurnya dan melihat kim bum sudah rapi.

“yeon hee memintaku menjemputnya, dia ingin main kesini” jawab kim bum santai, dan masih asyik didepan kaca untuk merapikan penampilannya.

“cih, manja sekali dia. Bukankah biasanya dia kesini sendiri tanpa kau jemput”

“entahlah”

“kurasa dia memanfaatkanmu saat ini”

“kau ini bicara apa, sudahlah cepat mandi. Sekalian aku juga ingin belanja untuk kebutuhan makan kita. Kau tidak lihat kulkas kosong”

“kemarin aku lupa membelinya, yasudah minta saja yeon hee menemanimu belanja. Bukankah itu gunanya punya pacar”

“dasar aneh, makanya cepat cari pacar. Kulihat semenjak putus dari pacarmu dulu kau tidak pernah dekat lagi dengan gadis lain”

“sebenarnya aku punya masalah sekarang”

Kim bum menghentikan aktifitasnya dan berjalan mendekati sahabatnya itu.

“ada apa ceritakan padaku”

“ibuku ingin menjodohkanku dengan wanita pilihannya, padahal saat ini aku sedang menyukai seseorang” jelas joo won

“hahahahaha, kau ingin dijodohkan. Kurasa ibumu benar – benar baik sehingga dia memilihkan wanita yang cocok untukmu?” Goda kim bum sambil terus tertawa.

“berhenti mentertawakanku” bentak joo won yang kesal dengan tingkah sahabatnya itu.

“baiklah, lalu siapa gadis yang saat ini kau sukai?” Tanya kim bum masih asyik tertawa

“gadis yang aku sukai saat ini adalah KIM SO EUN, teman SMA kita” ucap joo won

Jawaban joo won saat ini, benar – benar bisa membuat kim bum menghentikan tawanya. Bahkan saat ini dadanya pun terasa sulit untuk bernafas. Joo won menyukai so eun, sejak kapan?

“aku menyukainya, bahkan sangat menyukainya kim bum. apa yang harus kulakukan saat ini? Apalagi ibuku bilang gadis yang akan dijodohkan denganku nanti akan datang kemari”

“aku tidak tau” ucap kim bum sambil berjalan pergi meninggalkan joo won.

“kim bum cepatlah kembali dengan yeon hee, aku tidak mau berdua saja dengan gadis itu nanti” teriak joo won pada kim bum yang sudah keluar dari kamar bahkan sudah keluar dari apartementnya.

Satu lagi sebuah perasaan akan terungkap. Perasaan yang tulus dan tidak ada penghalang. Kurasa perasaan itu akan berakir dengan tulus juga. Tapi kita tidak tau, tulus yang bagaimana. Karena semua itu hanya takdir yang akan menentukan.

***

So eun sudah rapi dan bersiap untuk berangkat. Berkali – kali so eun menghela nafasnya, dan meyakinkan hatinya untuk pergi menemui orang itu sekarang. So eun tidak yakin jika dia akan menyukai orang tersebut, tapi so eun harus menemuinya mau tidak mau so eun harus menemuinya saat ini juga.

So eun menaiki bus dan pergi ke alamat yang telah diberikan adiknya tempo hari. Hari ini so eun harus bisa menentukan hidupnya dimasa depan.

Kim bum dan seung hoo sudah memberinya kekuatan, dan mereka pasti akan membantu so eun jika so eun mengalami kesulitan. Walaupun so eun tau, bahwa tidak mungkin dia mendapatkan cinta dari kim bum. tapi yang pasti, kim bum sudah tau perasaannya saat ini, tidak penting jika kim bum mempunyai kekasih sekarang. Pikir so eun.

So eun menghela nafasnya ketika dirinya sudah berada didepan pintu apartement milik orang yang akan dijodohkan dengannya. So eun meyakinkan hatinya, dengan ragu – ragu membunyikan bel apartement tersebut. So eun menundukkan kepalanya dan dengan cemas menunggu sang pemilik membukakan pintu untuknya.

Pintu pun sudah terbuka, dan keluarlah seorang pria seumuran dengan so eun yang mengenakan pakaian santai. So eun menundukkan kepalanya, tak berani melihat orang yang ada dihadapannya sekarang.

“so eun” ucap orang tersebut, dan mau tidak mau so eun harus melihat orang yang ada dihadapannya kini.

“so eun, benarkah ini kau?” Ucap orang itu lagi dan membuat so eun terkejut ketika menyadari siapa orang itu.

“moon joo won, sedang apa kau disini?” Tanya so eun penasaran

“tidak sopan sekali kau, aku ini pemilik apartement ini. Seharusnya aku yang bertanya padamu. Sedang apa kau disini?”

Kini keduanya sama – sama saling pandang dan tampak sedang berfikir. Hingga salah satu dari mereka menyadari sesuatu.

“apa kau putra dari bibi moon geun yeong? Tanya so eun yang mulai menyadari sesuatu.

“astaga, jadi kau putri bibi kim tae hee” ucap joo won

Keduanya sama – sama tertawa ketika mengetahui kenyataan yang benar – benar tak terpikirkan oleh otak mereka.
Jadi orang yang akan dijodohkan dengan so eun itu adalah joo woon. Sahabatnya dari SMA dan orang yang selalu menolangnya.

“aku tak menyangka kalau kau adalah putri dari bibi kim tae hee” ucap joo won pada so eun ketika so eun sudah masuk kedalam apartementnya dan duduk disofa ruang tamu.

“aku lebih tidak menyangka kalau ibumu dan ibuku bersahabat” balas so eun

“aku pikir kau bukanlah anak kandung dari bibi tae hee, so eun?

“kenapa kau berpikiran begitu? Tentu saja aku ini anak kandungnya”

“tapi kau tak mirip, bahkan kau sangat jelek jika dibandingkan dengan ibumu” goda joo won, dan langsung menerima pukulan ringan dari so eun.

“hei, berhenti memukulku so eun, tenagamu itu seperti lelaki saja”

“kenapa kau selalu menggodaku joo won, tidak bisakah kau serius jika berbicara denganku” ucap so eun dan pura – pura marah pada joo won.
Joo won memandang so eun yang saat ini sedang duduk disebelahnya dengan tatapan penuh arti. So eun ingin joo won bicara serius jika berhadapan dengannya, bagaimana joo won bisa melakukannya kalau setiap bertemu dengan so eun pasti joo won akan merasa gugup.

Candaan yang diberikan joo won pada so eun itu merupakan penghilanng rasa gugup joo won pada so eun.

“joo won… moon joo won” panggil so eun pada joo won yang terlihat melamun sambil memandangi dirinya.

“ahh iya, biar aku ambilkan minum. Kau mau minum apa so eun?” tanya joo won dan langsung pergi meninggalkan so eun kedapur.

“terserah kau saja” jawab so eun.

Ada apa dengan joo won, kenapa dia tadi seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu. Apa joo won memikirkan tentang perjodohanku dengannya. Astaga apa joo won merasa keberatan atas perjodohan ini. Kurasa joo won memang keberatan jika harus dijodohkan denganku, bagaimana seorang joo won mau dijodohkan dengan gadis seperti so eun. pikir so eun

“hai jelek, apa yang sedang kau pikirkan ini minum” goda joo won sambil menyerahkan sebotol minuman kaleng pada so eun.

“berhenti menggodaku moon joo won” kesal so eun. sambil menerima minuman dari joo won.

“baik – baik, aku tidak akan menggodamu lagi”

“joo won” panggil so eun, dengan nada ragu

“apa?”

“apa kau…. so eun menggantungkan pertanyaannya dan menghela nafas panjang, sampai akhirnya dia melanjutkan kalimatnya.

“apa kau berniat menerima perjodohan ini joo won?”

Uhuk…uhuk….uhuk, joo won yang sedang menikmati minumannya langsung tersedak ketika mendengar pertanyaan so eun.

“joo won, kenapa kau tidak hati – hati minumnya. Apa kau tidak apa – apa?” tanya so eun khawatir dan menepuk – nepuk dada joo won.

Joo won mennggenggam tangan so eun yang saat ini berada didadanya, dan memandang so eun tepat dikedua mata gadis itu.

“apa kau tidak suka dengan perjodohan kita so eun?” tanya joo won serius.

“bu… bukan begitu maksudku tapi…” so eun benar gugup saat ini, kenapa joo won tiba – tiba jadi seserius ini. So eun mencoba melepas tangannya dari genggaman joo won, tapi tangan joo won terlalu kuat menahannya.

“apa kau tidak ingin menikah denganku so eun?”
So eun benar – benar tidak bisa berbicara apapun saat ini. Kenapa tiba – tiba joo won seperti ini, perlakuan joo won yang seperti ini benar – benar membuat so eun jadi takut. Joo won yang biasanya sering bercanda tiba – tiba menjadi seserius ini.

“kenapa kau diam saja so eun?” ucap joo won sambil mendekatkan wajahnya kewajah so eun. saat ini joo won benar – benar ingin mengungkapkan persaannya pada so eun.

Jarak antara wajah joo won dan so eun kini semakin dekat dan dekat, joo won hendak mencium so eun. tapi niatnya terhenti ketika tangan so eun yang tidak digenggamnya mendorong tubuhnya.

“apa yang mau kau lakukan joo won?” Tanya so eun dengan nada sedikit bergetar.

Astaga, apa yang dilakukan joo won barusan. Apa joo won berniat mencium so eun. kenapa harus secepat ini, tidak taukah joo won perbuatannya itu membuat so eun takut dan bisa saja so eun membenci joo won, gara – gara sikap lancangnya ini. Pikir joo won.

“maafkan aku so eun, aku tak bermaksud membuatmu tidak nyaman ataupun takut. Tadi itu benar – benar diluar kendaliku” sesal joo won yang menyadari kesalahannya.

Soeun menganggukkan kepalanya tanda dia tidak mempermaslahkan hal yang dilakukan joo won barusan.

“taukah so eun bahwa saat ini aku sedang menyukai seseorang” ucap joo won.

Tentu saja so eun kaget mendengar ucapan joo won barusan, itu berarti so eun menjadi penghalang terbesar buat joo won dan gadis yang disukai joo won tersebut. Pikir so eun

“kau tau, entah sejak kapan aku menyukai gadis itu. Aku benar – benar tak menyangka kenapa aku bisa menyukainya. Aku berniat mengungkapkan perasaaku padanya, hingga ibuku menelponku dan memberitauku kalau beliau dan ayah sudah memilihkan seorang gadis untuk dijodohkan denganku”

So eun masih tak memberikan komentar apapun, so eun masih ingin mendengar kelanjutan cerita dari joo won saat ini, walaupun hatinya benar – benar dipenuhi rasa bersalah.

“kau tau, saat itu pikiranku benar – benar kacau. Aku bingung apa yang harus kulakukan, haruskah kuterima permintaan orang tuaku atau kupertahankan gadis itu. Tapi kurasa aku tidak bisa mempertahankan gadis itu karena…

“maafkan aku joo won, gara – gara perjdohan ini kau tidak bisa bersama dengan gadis pilihanmu. Aku akan mengatakan pada orang tuaku agar membatalkan perjodohan kita” potong so eun cepat.
joo won tersenyum ketika so eun memotong ucapannya dengan tiba – tiba.

“bolehkah aku memelukmu so eun?” pinta joo won
So eun menganggukan kepalanya. Dan joo won langsung memeluknya, so eun pun membalas pelukan joo won.

“maafkan aku joo won, aku benar – benar merasa bersalah padamu sekarang”

“berhentilah menyalahkan dirimu so eun, karena aku tidak menyesal dengan perjodohan ini. Aku menerima perjodohan ini bahkan aku sangat berharap perjodohan ini berlangsung”

So eun heran dengan ucapan joo won barusan, bahkan so eun tak mengerti apa joo won sadar dengan apa yang diucapkannya saat ini. So eun benar – benar bingung.

“aku menyukaimu, bahkan aku sangat mencintaimu kim so eun. kaulah gadis yang saat ini sedang aku sukai”

So eun benar – benar kaget mendengar pengakuan joo won saat ini. Jadi gadis yang dimaksud joo won tersebut adalah dirinya. Astaga kenapa ini bisa terjadi dan bagaimana joo won bisa menyukai dirinya. Apa yang dilihat joo won dari diri so eun, so eun adalah gadis biasa yang tak memiliki kelebihan apapun. Pikir so eun.

Dan saat ini bukan hanya so eun yang kaget mendengar pengakuan joo won, tapi juga kim bum, yang saat ini sudah ada didalam apartement. Kim bum sudah mengetahui semuanya, kim bum bahkan mengetahui kalau pria yang akan dijodohkan dengan so eun itu adalah joo won sahabatnya yang juga menyukai so eun.

Kim bum benar – benar lemah sekarang, rasanya untuk berdiripun dia tak sanggup ketika mengetahui kenyataan ini. Bagaimana bisa gadis yang disukainya itu akan dijodohkan dengan sahabatnya. Hingga tak sengaja kim bum menjatuhkan dua buah kantong plastik yang berisi makanan yang dari tadi dibawanya.

So eun dan joo won melepaskan pelukan mereka ketika menyadari ada suara yang masuk kependengaran mereka.

“kim bum sejak kapan kau datang?” Tanya joo won ketika menyadari sahabatnya itu telah berada dibelakangnya.

So eun menundukkan kepalanya ketika mengetahui bahwa saat ini kim bum tengah memperhatikannya. So eun benar – benar takut dengan tatapan kim bum itu.

“hei kenapa kau diam saja disitu cepat duduk, aku akan memberitaumu kabar baik” ucap joo won sambil berdiri dari duduknya dan mengambil belanjaan kim bum kemudian membawanya kedapur.

Kim bum masih berdiri ditempatnya semula, rasanya seluruh badannya kaku dan tidak bisa digerakkan saat ini. Pandangan matanya masih tertuju pada gadis yang saat ini dihadapannya.

“sayang apa kau sudah membereskan belanjaanya?” tanya yeon hee yang tiba – tiba muncul.

“so eun, kau ada disini juga rupanya. Apa joo won yang mengundangmu?” Tanya yeon hee lagi dan ikut duduk disebelah so eun.

“aku datang kesini, karena kemauanku sendiri” jawab so eun seadanya

“dimana joo won?” Tanya yeon hee lagi, yang tak melihat keberadaan joo won.

“aku disini yeon hee, kenapa setiap kau datang. apartement ini selalu berisik” jawab joo won yang tiba – tiba muncul dari dapur.

“bukankah kau yang biasanya berisik joo won”

“aish, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu saat ini. Kim bum kenapa kau masih berdiri disitu ayo duduklah, apa kau tidak ingin
mendengar ceritaku?”

“bagaimana kalau kita ngobrolnya sambil makan saja” usul yeon hee yang sudah lebih dulu melangkahkan kakinya kedapur.

“ide yang bagus, aku sudah menyiapkan semuanya dimeja. Untung saja kau beli makanan cepat saji juga, yeon hee” ucap joo won.

“kurasa aku harus pulang sekarang joo won” ucap so eun tiba – tiba

“makanlah dulu, baru nanti kuantar kau pulang” bujuk joo won.

Kim bum berjalan meyusul yeon hee kedapur, rasanya dia tidak tahan kalau harus melihat so eun dan joo won berdua seperti tadi.

“joo won, so eun cepat kemari. Nanti makanannya keburu dingin”teriak yeon hee dari dapur.

Mau tidak mau so eun pun ikut makan bersama dengan joo won, yeon hee dan juga kim bum. walaupun saat ini so eun benar – benar canggung dengan adanya kim bum. mereka semua pun makan bersama.

***

“kim bum, ternyata ucapanmu tadi ada benarnya juga, ibuku memang baik sudah menjodohkanku dengan gadis pilihannya”ucap joo won membuka pembicaraan.

Kim bum tidak merespon apa yang dikatakan oleh joo won saat ini, yang dia lakukan hanyalah menundukkan kepala dan diam.

“kau tau gadis yang dijodohkan denganku itu adalah so eun, dan sekarang kami resmi pacaran” ucap joo won dengan semangat.

Kim bum langsung memandang kearah joo won begitu pula dengan so eun dan yeon hee. mereka semua kaget memangnya sejak kapan mereka pacaran, bahkan so eun pun belum mengatakan kalau dirinya menerima joo won menjadi pacarnya.

“hei, kenapa kalian semua menatapku seperti itu”

“benarkah kalian pacaran, sejak kapan?” tanya yeon hee

“sejak hari ini” jawab so eun tiba – tiba. Yang langsung mendapat tatapan tajam dari kim bum, bagaimana bisa so eun mengatakan hal tersebut. Apakah so eun sudah lupa kalau semalam dirinya sudah menyatakan perasaannya pada kim bum.

Mata kim bum benar – benar tak lepas dari so eun yang saat ini ada dihadapannya.

Joo won benar – benar senang mendengar ucapan so eun barusan. Itu berarti so eun juga menyukai dirinya dan sekarang so eun resmi menjadi pacarnya. Pikir joo won.

“benarkah, kalau begitu ini bagus. Jadi kau tidak akan iri lagi melihat kemesraanku dengan kim bum”ucap yeon hee sambil memeluk kim bum yang ada disampingnya.

“kim bum dimana kalungmu, kenapa kau tak memakainya? Heran yeon hee melihat kim bum tak memakai kalung kesayangannya.

“iya, dimana kalung yang biasanya mencekik lehermu itu kim bum. biasanya kau tak pernah melepasnya” goda joo won

Kim bum dan so eun kaget ketika tiba – tiba yeon hee membicarakan soal kalung. So eun buru – buru meraba lehernya, dan dia bisa bernafas lega saat ini karena kalung itu tertutupi oleh bajunya.

“aku memberikan kalung itu pada kakakku” dusta kim bum masih memperhatikan so eun yang terlihat ketakutan atas pertanyaan yeon hee barusan.

Bagaimana so eun tak takut. Bagaimana kalau yeon hae tau bahwa kalung itu saat ini sedang berada dileher so eun. apa yang akan dilakukan yeon hee padanya jika mengetahui kalau kim bum memberikan kalung itu pada dirinya. Belum lagi dengan joo won.

^^^ TBC ^^^

mungkin part ini tidak begitu panjang. tapi aku sudah berusaha untuk membuat ceritanya lebih panjang dari part – part sebelumnya. terimakasih buat yang sudah baca. jangan lupa tinggalkan coment kalian.

will the dream come true (part 4)

🙂 Buat semua yang udah baca ff’ku aku ucapkan banyak terimakasih. coment – coment dari kalian semua benar – benar membuatku semangat untuk melanjutkan part ini. dan mohon maaf jika ceritanya susah dipahami ataupun ada kata – kata yang penulisannya salah. and HAPPY READING. 🙂

***

Hari ini so eun berniat pergi ketaman bersama dengan ji hyun mengingat so eun dan ji hyun sudah lama tidak pergi bersama. Tapi ji hyun mendadak membatalkan rencana tersebut, dikarenakan ji hyun ada urusan yang tidak bisa di tinggalkan.

“aish, padahal aku ingin sekali pergi kesana. Kenapa ji hyun harus tidak bisa pergi. Menyebalkan sekali. Apalagi jiyeon juga tidak bisa. Mereka berdua benar – benar menyebalkan” gerutu so eun sambil berjalan keluar apartementnya.

“hei, kenapa kau menggerutu seperti itu”

“joo won, sedang apa kau disini?” Tanya so eun melihat joo won yang tiba – tiba ada didepannya.

“aku ingin menemuimu saja, apa kau ingin pergi?”

Hubungan so eun dan joo won saat ini bisa dibilang cukup dekat, sejak kejadian beberapa hari yang lalu ketika joo won menolong so eun dan menjenguk so eun ketika sakit.

“sebenarnya aku ingin pergi ketaman dekat SMA kita dulu dengan ji hyun. Tapi ji hyun tidak bisa pergi karena ada urusan. Jadi terpaksa aku pergi sendiri”

“mau aku temani”

“apa tidak apa – apa, kalau kamu pergi menemaniku?

“tentu saja tidak, memangnya ada larangan kalau aku tidak boleh menemanimu pergi. Atau kamu memang tidak mau pergi denganku?

“bukan begitu, tapi aku tidak mau merepotkanmu”

“sudahlah, ayo pergi” ajak joo won sambil menggandeng tangan so eun.

🙂 Ketika banyak hal besar akan masuk dalam kehidupanmu. Maka kau harus mempersiapkan segalanya 🙂

***
“tempat ini benar – benar tidak berubah” kata so eun ketika sudah sampai ditempat tujuan dan turun dari motor joo won.

Joo won hanya tersenyum melihat so eun, yang tampak kagum dengan tempat yang sering dikunjungi joo won dan teman – temannya ini.

“tentu saja tak akan berubah, memangnya kau ingin tempat ini berubah seperti apa?” tanya joo won.

So eun tidak menjawab pertanyaan joo won dan terus melangkahkan kakinya untuk melihat – lihat keadaan sekitar. Rasanya rindu sekali dengan tempat ini mengingat dia sudah lama sekali tak ketempat ini.

“apa kau sedah lama tak kesini?” Tanya joo won lagi sambil mensejajarkan langkahnya dengan so eun.

Lagi – lagi so eun tak menjawab pertanyaan joo won. Sekarang pikiran so eun kembali lagi ke beberapa minggu yang lalu disaat dirinya bertemu dengan kim bum ditempat ini. Ketika kim bum meminta so eun untuk menjadi kekasihnya.

“so eun, hei so eun?” Panggilan joo won menyadarkan so eun dari lamunannya.

“iya, aku sudah lama tidak datang ketempat ini. Makanya aku merasa kangen sekali dengan tempat ini”

“apa kau mau tau tempat biasa dimana aku berkumpul dengan teman – temanku jika aku berada di tempat ini?”

“apa tidak apa – apa jika aku mengetahui tempat itu?”

“tentu saja tidak, memangnya siapa yang akan melarang. Tempat ini, terbuka untuk siapa saja”

“mungkin saja itu tempat dimana kau menghabiskan waktu bersama kekasihmu”

“benar juga ya, sepertinya tempat itu memang tak cocok untuk gadis jelek sepertimu” goda joo won sambil mengambil topi yang dipakai so eun dan berlari meninggalkan so eun.

“kejar aku gadis jelek” goda joo won lagi sambil terus berlari menaiki bukit yang tidak begitu tinggi.

“hei, kemarikan topiku joo won” teriak so eun sambil berlari mengejar joo won.

Joo won memperlambat larinya karena dia hampir sampai ditempat yang dimaksud tadi. So eun langsung memukul kepala joo won dan mengambil topinya ketika so eun sudah berada tepat dibelakang joo won.

“hei, sakit”

“itu balasan untukmu karena telah membuatku capek akibat mengejarmu” ucap so eun sambil mengatur nafasnya yang memburu akibat aksi kejar – kejarannya bersama dengan joo won barusan.

Joo won tersenyum melihat so eun yang kelelahan, rasanya akhir – akhir ini joo won selalu senang jika berada di dekat so eun. joo won merasa kalau dirinya harus melindungi so eun, dan tak boleh membiarkan so eun menangis.

Entahlah kenapa joo won sampai memikirkan hal seperti itu, akan tetapi joo won merasa kalau so eun akan membutuhkan dirinya. Bahkan sangat memerlukan dirinya.

“ayo, kita hampir sampai” ucap joo won sambil menarik tangan so eun dan mengajaknya menuruni bukit dengan berlarian kecil.

“pelan – pelan joo won, kita bisa terjatuh”

Joo won begitu semangat menuruni bukit, sambil terus menarik tangan so eun. hingga beberapa saat so eun menghentikan langkahnya dan melepaskan tangannya dari pegangan joo won.

🙂 Suatu hal yang tidak pernah kita bayangkan terlihat jelas didepan mata kita. Sosok orang yang beberapa hari ini membuat kita senang dan susah disaat yang bersamaan, kembali membuat kita berfikir apakah benar jika kelembutannya pada kita saat itu nyata, dan bukanlah mimpi 🙂

Mata so eun menangkap dua orang manusia tengah berciuman mesra dibawah bukit. So eun tak mempermasalahkan jika so eun tak mengenali orang tersebut, karena itu adalah hak mereka. Tapi bagaimana jika salah satu diantara mereka adalah orang yang menginginkan so eun menjadi kekasihnya.

“kenapa kau berhenti, sebentar lagi kita akan sampai” ucap joo won dan kembali menggandeng tangan so eun, yang tadi terlepas.

“akhirnya sampai juga” gumam joo won ketika sudah sampai di tempat tujuan.

“bukankah tempat ini bagus so eun?” tanya joo won pada so eun, yang ingin mengetahui pendapat so eun tentang tempat faforitnya ini.
So eun tak menjawab pertanyaan joo won, kini matanya hanya tertuju pada dua pasang anak manusia yang masih saling memadu kasih di balik batu besar dekat air terjun didepannya tersebut. Rasanya so eun ingin menghampiri mereka, dan memarahi mereka karena telah membuat so eun ingin menangis sekarang.

Tapi siapa so eun? bahkan so eun tak punya hak untuk melakukan itu, mereka kekasih dan itu keinginan mereka untuk melakukannya. Lagian tempat ini tidak terlalu banyak orang dan agak tersembunyi, jadi terserah mereka mau melakukannya atau tidak. Apa urusannya dengan so eun.

“kenapa kau diam saja so eun? apa kau kagum dengan tempat faforitku ini”

“yaa aku kagum dengan tempat ini joo won”

Aku mengaggumi tempat ini, sangat mengagguminya karena aku tak menyangka tempat seindah ini begitu terlihat menyeramkan ketika aku melihat hal – hal yang seharusnya tak aku lihat disini. Kau menunjukkan tempat ini disaat yang tidak tepat moon joo won. Batin so eun.

“astaga, bukankah itu kim bum dan yeon hee. ternyata mereka ada disini juga. Bagaimanan kalau kita temui mereka so eun” ajak joo won ketika baru saja mengetahui bahwa ada kim bum dan yeon hee di tempat itu dan melangkahkan kakinya untuk menghampiri sahabat dekatnya itu.

“kalian berdua selalu membuatku iri dimanapun tempatnya” ucap joo won ketika sudah berada didekat kim bum dan yeon hee.

“joo won kenapa kau ada disini?” Tanya yeon hee yang kaget akan kedatangan joo won.

“hei, aku sudah menemukan tempat ini sebelum kau berpacaran dengan kim bum. jadi tempat ini milikku”

“tapi kim bum lah orang yang pertama menemukan tempat ini sebelum dirimu”

“kenapa kalian selalu bertengkar jika bertemu. ngomong – ngomong dengan siapa kau kesini joo won? jangan bilang kau kesini dengan shi yoon” goda kim bum pada joo won, yang tak ingin mendengarkan perdebatan antara sahabat dan kekasihnya itu.

“astaga, aku melupakan seseorang. Aish dimana anak itu” batin joo won. Sambil mencari – cari keberadaan so eun, dan untungnya so eun masih betah berdiri ditempatnya tadi.

“so eun, kemarilah” teriak joo won

Astaga, kenapa joo won berteriak kencang sekali. Kenapa joo won senang sekali berteriak apa dia tidak tau kalau kebiasaannya itu mengganggu orang lain.

“so eun”, astaga apa kim bum tak salah dengar. Nama siapa yang tadi dipanggil oleh joo won? Benarkah so eun, so eun ada disini sekarang. Ditempat ini.
Kim bum menoleh kebelakang, diikuti dengan yeon hee.

Apa yang dilakukan so eun disini. Kenapa so eun masih diam membisu ditempat ini. Kenapa so eun tidak pergi saja. Akan terasa canggung jika so eun berada di tengah – tengah mereka dan bergabung bersama kim bum dan yeon hee.

“cepat kemari so eun, kenapa kau bengong disitu” perintah joo won.

So eun bodoh, kenapa kau melangkahkan kakimu kesana. Seharusnya kau berbalik dan pulang saja. Apa kau berniat mengganggu kesenangan mereka.

“maaf mengganggu kalian, tidak seharusnya aku disini” ucap so eun. hanya kalimat itulah yang saat ini tergambar dibenak so eun.

“apa kau kekasih joo won, tunggu dulu bukankah kau salah satu murid di tempat aku latihan dence yang baru. Ucap yeon hee

Kekasih. so eun kekasih joo won, Tentu saja bukan. Tetapi kata – kata tersebut benar – benar membuat tiga orang selain yeon hee tersentak kaget.

Kim bum langsung memandang kearah so eun, seakan – akan bertanya benarkah jika saat ini so eun dan joo won pacaran. Kenapa bisa!!!

“kami hanya teman, itu saja. Joo won hanya ingin menunjukkan tempat faforitnya padaku” bantah so eun, yang sadar diperhatikan kim bum terus. Dan memutuskan untuk berdiri disamping joo won agar dirinya bisa tertutupi oleh tubuh joo won sehingga kim bum tak begitu leluasa melihatnya.

“hei, sepertinya asyik juga kalau kita menjadi sepasang kekasih so eun. supaya aku tidak terus – terusan dibuat iri oleh mereka berdua” ucap joo won, yang kembali membuat kim bum kaget.

So eun hanya tersenyum mendengar candaan joo won, so eun tau kalau joo won hanya bercanda makanya so eun tak begitu menanggapi perkataan joo won tersebut.
Mereka berempat duduk bersama sambil menikmati suara air terjun yang ada dihadapan mereka saat ini. Diam dalam pikiran masing – masing.

🙂
Kenapa kau ada disini dengan keadaan seperti ini so eun. dan kenapa kau bersama dengan joo won, seberapa dekatkah hubunganmu dengan joo won. Tak tau kah kau begitu tidak sukanya aku melihat kau dekat dengan joo won. Pikir kim bum

🙂
Kenapa harus canggung seperti ini, kenapa harus terjebak situasi yang seperti ini. Haruskah so eun berada diantara kisah cinta kim bum dan yeon hee, dan berada di kisah persahabatan kim bum dan joo won. Kenapa semuanya harus berhubungan dengan kim bum. pikir so eun

🙂
Kekasih, kenapa joo won begitu senang ketika yeon hee mengatakan kalau so eun adalah kekasihnya. Apakah joo won menyukai so eun. entahlah, tapi so eun tidak terlalu buruk untuk dijadikan kekasih. Pikir joo won

“hei, kenapa semuanya diam. Ini akan terlihat aneh jika seperti ini” kata yeon hee memecah keheningan.

“benar juga yang dikatakan yeon hee. ngomong – ngomong aku haus sekali, sayang disini tak ada orang yang berjualan” sambung joo won.

“apa kau haus, ini aku membawa minuman. Ambilah. Ucap so eun sambil menyerahkan satu kaleng minuman besoda pada joo won.

“ach, ini pasti segar sekali” ucap joo won sambil mengambil minuman kaleng yang ada ditangan so eun dan membukanya.
Baru saja joo won ingin meminumnya, tapi dengan cepat kim bum merebutnya dan malah meminumnya.

“hei, itu untukku. Kenapa kau meminumnya” teriak joo won pada kim bum

“kau kira hanya kau yang haus, aku juga haus. Tidak adil jika kau saja yang meminumnya. Lagian kau ini pelit sekali, ini aku kembalikan” jawab kim bum sambil melempar kaleng minuman yang sudah tidak ada isinya pada joo won.

“kau gila, kau menghabiskan minumanku” teriak joo won lagi.

“joo won sudahlah, aku masih punya lagi” ucap so eun dan kembali mengambil minuman didalam tasnya, kali ini so eun mengambil 2 kaleng terakhir.

“ini untukmu, dan untuk yeon hee” ucap so eun sambil menyerahkan kaleng minuman itu pada joo won dan yeon hee.

“terimakasih so eun, kau baik sekali” ucap yeon hee, sambil meminum minuman pemberian so eun. begitu juga joo won.

“kau baik sekali so eun, ngomong – ngomong kenapa kau membawa banyak minuman?”

“aku selalu membawa tiga buah kaleng minuman jika aku akan pergi bersama ji hyun dan jiyeon. Kau lupa kalau tadi aku berniat pergi dengan mereka” ucap so eun menjelaskan.

“benar juga ya, ngomong – ngomong kau tidak haus. Ini minumlah, kita berbagi saja ya” ucap joo won sambil menyerahkan minuman yang telah diminumnya tadi pada so eun.

So eun pun menerima minuman itu dan hendak meminumnya namun sebuah tangan menampiknya sehingga membuat minuman itu lepas dari tangan so eun dan terjatuh ketanah.

So eun, joo won dan yeon hee sangat kaget akan sikap kim bum tersebut. Sikap kim bum benar – benar kasar dan diluar dugaan mereka bertiga.

“hei, apa yang kau lakukan? Kau membuatnya kaget bodoh” bentak joo won pada kim bum yang tak menyukai sikap kasar kim bum pada so eun.

“kenapa, aku tidak sengaja melakukannya. Maaf jika itu membuat kekasihmu kaget” kata kim bum dan memberikan penekanan di setiap kata – katanya.

Ada apa dengan kim bum, kenapa kim bum seperti ini. Kasar dan pemarah ini kah sikap asli yang dimiliki kim bum. tapi kim bum yang ini benar – benar berbeda dengan kim bum yang tempo hari berada dirumah so eun. menjenguk so eun dan menjaga so eun. pikir so eun.

“kau tidak apa – apa so eun?” tanya joo won dan yeon hee hampir bersamaan, ketika melihat ekspresi so eun yang seperti orang ketakutan setelah perbuatan yang dilakukan kim bum.

Ponsel so eun benar – benar berbunyi disaat yang tepat. So eun buru – buru mengambil ponselnya dan menerima panggilan yang masuk.

“hallo”

“…..”

“benarkah, kau sudah ada diapartement”

“….”

“maaf, aku sedang pergi dengan temanku. Baiklah aku akan segera pulang, tunggulah aku”

“…”

“iya aku tidak akan lama”

So eun menutup sambungan ponselnya dan memasukkan kembali kedalam tasnya.

“aku harus pulang, maaf harus meninggalkan kalian ada seseorang yang menungguku dirumah” pamit so eun pada joo won, yeon hee dan kim bum dan beranjak pergi dari tempatnya.

“biar aku mengantarmu so eun” ucap joo won, sambil berlari mengejar so eun.

Maafkan aku so eun, aku tak bermaksud kasar padamu hanya saja aku tidak ingin melihatmu berbagi minuman dengan joo won, karena tidak sengaja kontak bibir tidak langsung akan terjadi jika kau melakukan itu. Dan aku benar – benar tidak menyukai hal itu. Pikir kim bum.

Kim bum tidak ingin hal yang dipikirkannya menimpa so eun. tapi dia sendiri melakukan hal tersebut juga dengan yeon hee, malahan secara langsung. Apa kim bum tak memikirkan perasaan so eun juga.

***

“maaf tidak bisa mengajakmu mampir joo won, karena ada seseorang disana” ucap so eun dan membukukkan badannya pada joo won.
Joo won menganggukkan kepalanya dan turun dari motornya.

“sekali lagi aku minta maaf karena tidak bisa menyuruhmu mampir sekarang. Tapi terimakasih sudah mengantarku pulang” ucap so eun dan berniat pergi meninggalkan joo won.

“apa orang yang sedang menunggumu itu pria, dan orang itu sangat spesial untukmu so eun?” tanya joo won penasaran
Pertanyaan joo won sukses membuat so eun membalikkan badan untuk menatap joo won.

“kau benar, dia pria dan sangat berarti dalam hidupku” jawab so eun sambil menunjukkan senyum terbaiknya. Dan dengan cepat berlari menuju apartementnya dan meninggalkan joo won yang sepertinya sedang kecewa.

So eun begitu semangat berjalan menuju apartemntnya dan dengan buru – buru dia membuka pintu apartementnya.

***

Senyum mengembang diwajah so eun ketika melihat seorang pria tengah duduk santai sambil menonton televisi. So eun menuju pria itu dan langsung memeluknya.

“aku rindu sekali padamu” ucap so eun sambil menangis didalam pelukan pria tersebut.

“berhenti menangis, aku tidak suka melihatmu menangis”

“tak tau kah kau,kalau aku sangat rindu padamu. Betapa bodohnya dirimu karena tak pernah membalas pesan dariku”

“aku menyayangimu, sangat menyayangimu” ucap pria itu sambil melepas pelukannya dari tubuh so eun.

“aku juga menyayangimu” ucap so eun sambil mencium pipi pria itu.

Dan ternyata telah ada sepasang mata yang tengah memperhatikan so eun dan pria tersebut dari balik pintu apartement so eun yang terbuka.

Mungkin karena terlalu senang so eun tak menyadari kalau pintu apartementnya terbuka dan ada seseorang diluar sana yang terlihat tak suka melihat adegan so eun dan pria tersebut.

Orang itu pergi meninggalkan apartement so eun, dengan perasaan yang benar – benar tak bisa digambarkan. Marah, kecewa dan sedih mungkin itulah yang saat ini ada dipikiran orang itu.

Flashback

Kim bum benar – benar merasa bersalah pada so eun akan sikapnya barusan. Melihat kepergian so eun dan joo won benar – benar membuat perasaan kim bum semakin kacau. Kim bum memutuskan untuk mengajak yeon hee pulang.

“yeon hee, lebih baik kita pulang saja. Aku merasa tak nyaman ditempat ini sekarang”

“kenapa pulang, aku masih betah disini kim bum”

“aku ingat, kalau hari ini aku ada janji dengan jung il woo. Aku harus pergi kerumahnya sekarang. Ada hal penting yang harus aku bahas dengannya”

“benarkah, kenapa kau tidak bilang dari tadi. Kalau begitu segeralah kesana. Aku tidak mau jika il woo marah padamu karena membatalkan janjinya hanya gara – gara aku” ucap yeon hee.

“bagaimana denganmu, kau pulang dengan siapa nanti?”

“aku bisa menghubungi ji eun nanti, sudahlah pergi sana. Aku masih betah ditempat ini” ucap yeon hee meyakinkan.

Setelah mendapat persetujuan dari yeon hee, kim bum cepat – cepat mengambil motornya dan buru – buru mengikuti so eun dan joo won. Kim bum tak memikirkan kenapa yeon hee dengan mudahnya mengijinkan kim bum pergi dengan alasan sesepele itu. Yang penting saat ini, menemui so eun dan meminta maaf padanya.

***

Kim bum sudah sampai didepan apartement so eun. begitu juga dengan so eun dan joo won. Tapi kim bum menghentikan motornya ditempat yang agak tersembunyi supaya tidak diketahui oleh so eun dan joo won. Kim bum diam ditempat itu sambil mendengarkan percakapan so eun dan joo won.
Hingga salah satu ucapan so eun membuat kim bum menajamkan pendengarannya.

“apa orang yang sedang menunggumu itu pria, dan orang itu sangat spesial untukmu so eun?”

“kau benar, dia pria dan sangat berarti dalam hidupku”

Siapa pria yang dimaksud so eun, kekasihnya kah atau jangan – jangan jang woo hyuk mantan kekasih so eun. apalagi saat so eun mengatakan hal itu pada joo won, so eun terlihat begitu ceria. Pikir kim bum.

End of flashback

Saking penasarannya kim bum mengikuti so eun, ketika melihat joo won sudah pergi. Kim bum mengikuti so eun dan sampai akhirnya melihat so eun tengah melepas rindu dengan seorang pria.
Kim bum benar – benar tak bisa melihat kejadian tersebut lebih lama lagi. Mungkin pria itu kekasih so eun yang baru, setelah putus dari woo hyuk, karena kim bum tak mengenali pria tersebut. So eun sudah memiliki kekasih itu berarti kim bum benar – benar tak punya kesempatan untuk dekat dengan so eun. pikir kim bum sambil berjalan meninggalkan apartement so eun.

* to be continued *

🙂 jangan lupa comentnya yaa chingu 🙂

SOEULMATES

Posted: 9 Januari 2013 in FF BUMSSO
Tag:

SoEulmate__Kim_Bum__Kim_So_Eun_by_Pure_Essence

Cast : kim so eun, Kim sang bum, Park jiyeon
Genre : romantic, sad, friendship
type : OS

***

Kenapa penyesalan harus datang diakhir cerita??? Jawabanya karena sebelum berakhir dan terlambat tentu saja kita tidak akan sadar dan mengetahui apa arti dari sebuah cerita itu.
Apapun yang kau lakukan saat ini, tidak akan merubah kenyataan yang terjadi, dia telah meninggalkanmu. Terus bagaimana caranya kamu mau mengucapkan permintaan maaf atas perasaannya dimasa lalu.

***

Seorang pria berjalan dengan langkah sempoyongan dibawah guyuran hujan yang lumayan deras. Dia tidak peduli walaupun derah segar terus menetes dari kepalanya. Rasa sakit untuk luka ataupun rasa dingin akibat hujan tidak dirasakannya. Yang dia rasakan saat ini adalah betapa kehilangannya dia saat mengetahui sahabat terbaiknya telah meninggalkannya.

“aaahhhhhh…. kenapa kau harus mengambilnya tuhan” teriak pria itu.

Air matanya benar – benar tidak bisa bisa ditahan lagi. Dia benar – benar menyesal dengan ketidak pekaanya pada perasaan sang sahabat sehingga membuat sang sahabat harus pergi meninggalkannya. Kenangan – kenangan masa lalunya bersama sang sahabat menyeruak kedalam pikirannya.

***

Flashback

Dua orang siswa dari sebuah SMA ternama di seoul korea selatan sedang berlari menghindari kejaran dari sekelompok siswa dari SMA lain. Dua orang itu benar – benar meningkatkan kecepatan larinya agar mereka berdua bisa terhindar dari kejaran sang musuh. Ketika mereka melewati sebuah bangunan tua yang tidak berpenghuni dua orang itu masuk ke dalam untuk bersembunyi.

“mereka benar – benar tidak akan melepaskan kita, jika mereka menemukan kita” ucap salah satu dari dua orang yang sedang bersembunyi itu.

“ini semua gara – gara dirimu, kalau saja kau tidak cari gara – gara dengan mereka tentu saja kita tidak akan mendapatkan masalah seperti ini” ucap orang yang satunya sambil memukul kepala sahabatnya.

“auuwwww,,,, kenapa kau memukulku so eun?” ucap pria bernama kim bum pada sahabat wanitanya yang bernama so eun itu.

“itu karena kau telah menyeretku kedalam masalah ini, gara – gara kelakuan bodohmu tadi.” ucap gadis bernama so eun.

Kim bum dan so eun adalah sahabat karib, mereka berdua selalu bersama dari saat mereka kecil, dimana ada kim bum disitu pasti ada so eun. kim bum dan so eun senang sekali berkelahi. Walaupun so eun seorang wanita tapi sedikit bisa so eun menguasai ilmu bela diri. Berbeda dengan kim bum yang benar – benar menguasai ilmu bela diri. Hingga itu menyebabkan dia mempunyai banyak musuh.

“aku tidak mencari gara – gara dengan mereka. Bukankah kau juga tau kalau tadi aku bermaksud menolong teman kita yang sedang dihajar oleh mereka. Apa itu adalah salahku”

“sudah – sudah, aku tidak mau membahas masalah ini lagi. Lama – lama aku jadi takut bersahabat denganmu, setiap hari selalu saja ada masalah yang kau buat.”

“hahahah…. benarkah kau takut bersahabat denganku? Kalau begitu kenapa kau tak cari sahabat lain saja?”goda kim bum pada sahabat karibnya itu.

“memangnya kau bisa jika jauh denganku? Bukankah kau selalu bergantung padaku” ucap kim bum lagi.

“iya… iyaa.. terserah apa katamu saja. Aku memang tidak pernah menang berdebat denganmu” ucap so eun.

“itu baru benar. Anak pintar” ucap kim bum sambil mengacak – acak rambut so eun.

“berhenti melakukan ini padaku, kau membuatku tidak cantik lagi kan.
Bagaimana jika nanti tidak ada pria yang menyukaiku”

“kau ini lucu sekali, sejak kapan kau itu cantik. Lagi pula aku tidak mau jika ada pria yang menyukaimu” ucap kim bum sambil tersenyum pada so eun. so eun hanya tersenyum mendengar perkataan kim bum.

Kim bum melihat keadaan sekitar, dan sepertinya orang – orang yang tadi mengejarnya sudah tidak ada. Kim bum dan so eun sudah aman untuk kembali kerumah masing – masing sekarang.

🙂 Pasti akan senang sekali jika orang yang kau suka dan cintai mengatakan padamu bahwa dia tidak ingin ada pria lain yang menyukaimu. Tapi apakah arti dari ucapan itu, kalau yang mengatakannya adalah sahabatmu 🙂

***

Hari ini kim bum dan so eun berada di atap sebuah gedung sambil melihat kebawah. Dibawah gedung itu ada sekelompok murid yang tempo hari mengejar kim bum dan so eun. rupanya orang – orang itu masih tidak mau melepaskan kim bum dan so eun lebih tepatnya kim bum.

“kurasa mereka benar – benar, akan menghabisi kita kim bum. bagaimana ini”

“kenapa kau jadi penakut seperti ini, kalau memang terpaksa kita harus menghadapi mereka yasudah apa boleh buat. Aku tidak takut” ucap kim bum dengan sombongnya.

“kalau mereka menemukan kita dalam keadaan kita sedang bersama itu tidak masalah. Tapi kalau mereka hanya menemukanku, bagaimana?” ucap so eun ada sedikit ketakutan dalam nada bicaranya.

“hei, kita selalu bersamakan. Memangnya kapan kita tidak bersama? Jadi kau tidak perlu takut karena aku akan selalu melindungimu.”

🙂 Sadarkah kau jika di dalam setiap perkataanmu selalu membuatku bergantung padamu. Bagaimana kau tidak menyadari perasaan ini. Apa aku harus mengatakannya, tapi ada rasa takut yang menyelimuti hatiku saat aku ingin menyampaikan perasaanku ini padamu 🙂

Ketika kim bum dan so eun sedang asyik melihat keadaan di bawah, tidak sengaja so eun melihat seorang gadis sedang berdiri di ujung atap gedung yang tidak jauh dari tempat so eun dan kim bum berada sekarang.

“astaga… kim bum coba lihat itu.” Ucap so eun sambil menunjuk ke arah seorang gadis yang dirasa so eun ingin mencoba bunuh diri. Kim bum melihat ke arah yang ditunjuk oleh so eun. dan mereka berdua pun segera menghampiri gadis itu.

Kim bum dan so eun sudah berada di belakang gadis itu, dan sepertinya gadis itu masih tidak menyadari keberadaan mereka berdua. So eun sedikit ngeri melihat gadis itu, bagaimana jika gadis itu benar – benar nekad untuk loncat dari atap gedung ini.

So eun melirik pada kim bum, berharap kim bum melakukan sesuatu agar gadis itu tidak melakukan hal bodoh yang bisa membahayakan dirinya sendiri. Kim bum yang mengerti akan arti dari lirikan so eun itu pun mencoba untuk menyentuh pundak gadis tersebut.

“ehm… apa yang akan kau lakukan?” tanya kim bum pada gadis itu dengan hati – hati, agar tidak mengagetkannya. Gadis itu pun menoleh ke belakang dan sedikit terkejut melihat dua orang yang saat ini berdiri dibelakangnya.

“ayo kemarikan tanganmu, kurasa apa yang tadi ada di pikiranmu itu adalah sesuatu hal yang bodoh yang sebaiknya tidak kau lakukan” ucap kim bum sambil mengulurkan tanganya berharap gadis itu menghentikan niatnya yang akan membahayakan nyawa gadis itu sendiri.

So eun pun ikut berdoa di dalam hati agar wanita itu mau menerima uluran tangan kim bum. dengan cemas kim bum dan so eun pun menunggu gadis itu menyambut uluran tangan kim bum. sepertinya gadis itu sedikit berfikir hingga akhirnya dia pun menerima uluran tangan kim bum.

So eun bisa bernafas lega sekarang, begitu pula dengan kim bum. akhirnya gadis itu tidak jadi melakukan hal gila seperti yang ada dipikiran kim bum dan so eun saat ini.

“apa kau sedang ada masalah, sehingga kau nekad untuk bunuh diri?” tanya kim bum pada gadis itu. Dan gadis itu hanya diam dan tidak memberi jawaban atas pertanyaan kim bum.

“siapa namamu? Aku so eun dan ini sahabatku kim bum, kau bisa menceritakan masalahmu pada kita jika memang kau mau. Kita pasti bisa membantumu.” Ucap so eun memperkenalkan dirinya dan kim bum pada gadis itu dengan hati – hati agar gadis itu tidak merasa terganggu dengan kehadiran kim bum dan so eun sekarang.

“namaku jiyeon. Park jiyeon.” Jawab gadis itu dengan lembut.

“ternyata suaramu bagus juga ya, kenapa bisa gadis dengan suara yang merdu sepertimu bisa punya niat untuk bunuh diri. Apa kau baru saja diputuskan kekasihmu? Makanya jika kau mau mencari pacar carilah pria sepertiku, karena aku….” belum sempat kim bum menyelesaikan
kalimatnya, so eun sudah mendaratkan sebuah pukulan dikepalanya sehingga membuat kim bum menghentikan kalimatnya.

“jiyeon jangan dengarkan apa yang dikatakan bocah bodoh ini.” Jelas so eun pada jiyeon, dan jiyeon pun hanya tertawa melihat kim bum yang sedang meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya yakibat pukulan dari so eun.

“kalian berdua lucu sekali, terimakasih sudah membuatku tersenyum hari ini” ucap jiyeon sambil melemparkan senyumnya pada kim bum dan so eun.dan membuat seorang kim bum yang biasanya cuek dengan wanita selain so eun terpesona kepadanya hanya dengan sebuah senyuman.

“bolehkah aku berteman dengan kalian, selama ini tidak ada yang mau berteman ataupun peduli padakku. Dan hari ini kalian lah orang pertama yang peduli padaku walaupun kita baru bertemu.” Ucap jiyeon lagi.

“dengan senang hati kami mau menjadi temanmu jiyeon” ucap so eun dan diikuti anggukan dari kim bum.

Mungkinkah jarak diantara hati kita akan semakin jauh dan tidak akan pernah menyatu. Kenapa rasanya aku memang tidak akan pernah mendapatkan hatimu walaupun selama ini kita selalu bersama. Atau kita memang akan ditakdirkan sebagai seorang sahabat dan tidak lebih dari itu.

***

So eun dan kim bum pulang dari sekolah sambil bergandengan tangan, dan terpasang jelas senyum pada wajah keduanya. Kim bum melihat sebuah mini market dan segera menarik tangan so eun untuk mengikuti langkahnya menuju tempat itu.

“kim bum, kenapa menarikku?” tanya so eun yang kaget ketika dengan tiba – tiba kim bum menarik tangannya.

“aku haus, aku ingin membeli es krim. Bukankah kau juga suka es krim.” Jawab kim bum.

Kim bum dan so eun sudah masuk ke dalam mini market dan mengambil dua buah es krim rasa coklat kesukaan so eun. mereka berniat membayar ke kasir dan meletakkan es krim itu di meja kasir. Tapi seseorang juga meletakkan sebuah es krim dengan rasa yang sama dengan milik kim bum dan so eun. kim bum dan so eun pun melihat ke arah orang tersebut dan melihat bahwa jiyeon lah orang yang meletakkan es krim tadi.

“apa aku boleh mengikuti selera kalian?” tanya jiyeon

“hahahaha… tentu saja, kenapa tidak. Apa kau juga baru pulang sekolah?” tanya kim bum pada jiyeon, mengingat jiyeon juga masih mengenakan seragam sekolahnya.

Jiyeon menganggukkan kepalanya. So eun hanya tersenyum melihat tingkah kim bum yang sedari tadi memperhatikan jiyeon. seprtinya kim bum tertarik pada jiyeon.

“bagaimana kalau kita pulang bersama?” ajak kim bum

“usul yang bagus” jawab jiyeon

“baiklah” sambung so eun.

Mereka bertiga pun pulang bersama. Sambil berjalan mereka bertiga saling melemparkan candaan – candaan yang membuat ketiganya tidak bisa menahan tawa.

***

Kim bum sudah sampai di rumahnya, dan langsung menuju ke kamarnya. Dia membaringkan tubuhnya ditempat tidur dan kembali teringat dengan jiyeon. Sepertinya kim bum mulai menyukai gadis yang bernama jiyeon itu, gadis yang tempo hari telah di temuinya akan mencoba bunuh diri, dan sekarang gadis itu menjadi temannya.

“jiyeon benar – benar cantik” gumam kim bum. kim bum mengambil ponselnya dan berniat menghubungi jiyeon.

“hallo jiyeon” ucap kim bum ketika sambungan ponselnya sudah terhubung pada ponsel milik jiyeon.

“kim bum ada apa?”

“apa malam ini kau sibuk?”

“kurasa tidak”

“baguslah, kalau begitu bagaimana kalau kita pergi jalan – jalan?”

“baiklah.”

Kim bum menutup sambungan teleponnya ketika sudah mendengar persetejujuan dari jiyeon. Kim bum benar – benar senang karena jiyeon mau pergi bersamanya. Kim bum langsung teringat so eun. kim bum bergegas mengganti baju seragamnya dan buru – buru pergi kerumah so eun yang rumahnya berada di sebelah rumah kim bum.

***

Ketika kim bum sudah sampai di depan rumah so eun, kim bum langsung melihat so eun yang sedang duduk di teras rumahnya sambil bermain dengan kucing kesayangan gadis itu. Kim bum berlari menghampiri so eun dan langsung memeluk tubuh sahabatnya itu.

“kim bum ada apa, sepertinya kau senang sekali?” tanya so eun ketika kim bum dengan tiba – tiba datang kerumahnya dan memeluknya.

“so eun, nanti malam aku akan jalan – jalan dengan jiyeon. Dan aku akan mengatakan padanya kalau aku menyukainya” ucap kim bum. dan ucapan kim bum itu sukses membuat so eun membelalakan matanya. Ternyata benar kim bum tertarik pada jiyeon.

“apa maksudmu kim bum?” tanya so eun, yang mencoba memperjelas maksud dari ucapan kim bum.

“aku akan menjadikan jiyeon sebagai kekasihku so eun, apa kau setuju dengan rencanaku ini?”

“yaa…. aku….senang dengan apa yang menurutmu baik kim bum” ucap so eun sambil melepaskan pelukan kim bum dari tubuhya.

“semoga jiyeon menerimamu” ucap so eun lagi, sambil memberikan senyuman terbaiknya pada kim bum walaupun senyuman itu adalah senyuman paksaan dari hati so eun. so eun melihat rona bahagia pada raut wajah kim bum. kim bum benar – benar senang dan terlihat bahagia sekarang.

“kau memang sahabat terbaikku so eun. aku beruntung memiliki sahabat sepertimu” ucap kim bum dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya.

“Kau tau kim bum, melihatmu tersenyum itu adalah hal yang bisa membuatku bahagia karena selama ini kau adalah orang yang sangat berarti di dalam hidupku setelah orang tuaku. Aku akan selalu mendukung apapun yang kau suka, walaupun aku harus terluka. Andai saja aku ini pria pasti aku dengan mudahnya mengungkapkan perasaanku pada orang yang aku suka, tapi sayangnya aku terlalu takut untuk mengatakannya padamu.” Batin so eun.

***

Malam yang ditunggu – tunggu oleh kim bum pun tiba, dan sekarang kim bum telah berada di depan rumah jiyeon untuk menunggu jiyeon keluar dan menghampirinya. Tidak berapa lama kim bum menunggu, jiyeon pun muncul dari dalam rumahnya.

“maaf membuatmu menunggu.” Ucap jiyeon. Kim bum sedikit terkejut melihat penampilan jiyeon saat ini. Ternyata jiyeon memang sangat cantik, apalagi saat ini ketika jiyeon mengenakan baju terusan selutut dan dilapisi dengan switer putih berlengan panjang.

“kau benar – benar beda, dengan jiyeon yang aku lihat di atap gedung waktu itu.” Ucap kim bum. ucapan kim bum benar – benar membuat jiyeon menjadi malu dan menampakkan semburat merah di pipi putihnya. Kim bum menyalakan motornya dan bersiap pergi dengan jiyeon.

***

So eun melangkahkan kakinya tanpa tujuan, dia tidak tau harus kemana yang pasti dia tidak mau jika harus berdiam diri di rumah. Akan terasa sakit jika so eun hanya berdiam diri di rumah dan teringat dengan ucapan kim bum tadi siang.

“hari ini kau pasti bahagia, kim bum” gumam so eun. so eun benar – benar tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau kim bum benar – benar pacaran dengan jiyeon dan melupakan dirinya. Apakah bisa so eun hidup tanpa kim bum, padahal selama ini so eun selalu bersama dan bergantung pada kim bum. seharusnya so eun tidak boleh mempunyai perasaan ini pada kim bum mengingat bahwa kim bum hanya menyukainya sebagai sahabat saja.

So eun terus berjalan sambil menundukkan kepalanya, hingga dia tidak menyadari kalau sekarang dia berada di kawasan berbahaya. Tempat yang saat ini dilalui oleh so eun adalah tempat dimana berkumpulnya orang – orang yang tempo hari mengejar dirinya dan kim bum ketika pulang sekolah.

“sepertinya hari ini adalah hari keberuntungan kita teman.” ucap salah satu pria yang saat ini tengah asyik bermain kartu bersama dengan temannya di depan sebuah emperan toko.

“hahahahaha, sepertinya begitu. Apalagi saat ini dia sedang sendiri” sambung pria lainnya.

So eun mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah dari sumber – sumber suara yang dirasa so eun sedang membicarakan dirinya. So eun benar – benar kaget ketika melihat dua orang pria yang sangat dikenalnya pria itu adalah lee min hoo dan juga jung il woo musuh dari kim bum dan so eun.

“kenapa hari ini kau sendiri so eun, dimana kim bum?” apa dia tidak tau jika mungkin nyawa sahabatnya ini akan melayang di tangan kita.” Ucap min hoo sambil mendekatkan dirinya pada so eun. tubuh so eun benar – benar gemetar sekarang, bagaimana bisa so eun berada di tempat ini tadi. Betapa bodohnya so eun, ketika dia tidak menyadarinya dari awal.

“kurasa ucapanmu membuatnya takut min hoo. Kenapa kau harus membuat gadis secantik dia ketakutan.” Sambung il woo yang saat ini juga berada disamping so eun.

So eun mencoba untuk berpikir, bagaimana caranya dia harus menghindari kedua pria yang saat ini ada didepannya. Karena tidak mungkin so eun menghadapi mereka mengingat ilmu bela diri so eun yang tidak begitu ahli di bandingkan dengan mereka apalagi so eun seorang wanita dan sendiri. So eun memundurkan langkahnya ketika min hoo dan il woo mulai mendekati dirinya lagi. Ketika il woo hendak menyentuh so eun dengan sigap so eun berlari menghindari min hoo dan il woo.

“hei, mau kemana kau so eun?” teriak il woo yang melihat so eun sudah berlari. Il woo dan min hoo pun mengejar so eun.
Walaupun so eun berlari dengan sangat kencang, tetap saja il woo dan min hoo bisa menyusulnya karena mereka berdua adalah pria. So eun harus menemukan tempat untuk dirinya bersembunyi jika tidak mau tertangkap oleh mereka. So eun menoleh ke belakang di sela – sela larinya, berharap orang yang mengejarnya tertinggal jauh darinya. So eun melihat sebuah gang yang cukup sempit dan hanya muat di lewati oleh satu orang, dengan keadaan yang gelap. dengan cepat so eun bersembunyi di dalam gang itu.

“semoga saja mereka tidak menemukanku” gumam so eun, sambil mengatur nafasnya. So eun benar – benar takut jika sampai min ho dan il woo menemukannya. So eun mencoba menghubungi ponsel kim bum, berharap sahabatnya itu bisa datang dan menyelamatkannya sekarang. Tapi berkali – kali so eun mencoba tidak ada jawaban dari kim bum. so eun pun mengirim sebuah pesan dan berharap kim bum segera datang untuk menolongnya.

“so eun dimana kau, aku tau kau bersembunyi disekitar sini cepat keluar sebelum kita kehilangan kesabaran” teriak min hoo.

***

Di sebuah taman, kim bum dan jiyeon sedang ngobrol dengan asyiknya. Kim bum memberanikan dirinya untuk mengungkapkan perasaannya pada jiyeon.

“jiyeon, aku….” kim bum menggantukan kalimatnya dan membuat jiyeon mengarahkan pandangannya pada kim bum, serta menunggu kim bum melanjutkan kalimatnya.

“aku…. aku menyukaimu jiyeon, maukah kau menjadi kekasihku?” tanya kim bum yang dengan segenap keberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya pada jiyeon.

“hahahaha…. kau lucu sekali kim bum.” jiyeon pun tertawa mendengar pernyataan cinta dari kim bum.

“kenapa kau mentertawakanku, apa kau tidak mau menjadi kekasihku?”
Jiyeon terdiam sejenak mendengar pengakuan dari kim bum, sebenarnya jiyeon pun juga menyukai kim bum. jiyeon sudah menyukai kim bum pada saat mereka bertemu untuk yang pertama kalinya. Tapi jiyeon selalu mengira kalau kim bum dan so eun adalah sepasang kekasih. Jadi jiyeon pun tidak ingin merusak hubungan mereka.

“bagaimana dengan so eun, bukankah dia kekasihmu?”

Kim bum tertawa mendengar pertanyaan jiyeon mengenai so eun. jadi selama ini jiyeon menyangka kalau kim bum dan so eun itu berpacaran.

“aku dan so eun itu hanyalah sahabat. Kita berdua memang sudah dekat dari sejak kecil mana mungkin kita pacaran. Lagi pula kenapa kau bisa berpikir bahwa aku dan so eun itu pasangan kekasih” heran kim bum dengan jiyeon.

***

So eun benar – benar takut, mendengar teriakan – teriakan min hoo dan il woo. Bagaimana ini, sepertinya mereka berdua tidak akan melepaskan so eun dengan mudah sekarang. So eun benar – benar akan mati jika mereka menemukannya. So eun berharap kim bum bisa datang kesini sekarang tapi sahabatnya itu tidak mengangkat telepon darinya. Pasti saat ini kim bum sedang bersenang – senang dengan jiyeon.

“so eun, kau tidak boleh mengganggu kim bum, sampai kapan kau akan menggantungkan hidupmu pada kim bum. mulai hari ini kau harus bisa hidup sendiri tanpa kim bum” gumam so eun.

So eun mengintip dari balik tembok dan melihat il woo dan min hoo masih berusaha mencari keberadaannya. Sepertinya so eun memang harus melawan mereka jika so eun mau pulang kerumah. So eun melihat sebuah balok kayu di samping dia berdiri, so eun mengambil kayu itu dan keluar dari tempat persembunyiannya.

“aku disini, jadi apa yang kalian inginkan dariku?” teriak so eun ketika sudah keluar dari tempat persembunyiannya.
“kau benar – benar membuat kita marah. Kau sama saja seperti kim bum”. ucap min hoo dan hendak melayangkan sebuah pukulan pada so eun dan dengan sigap so eun pun mampu memukul min hoo dengan kayu yang sedari tadi dipegangnya dan mampu membuat min hoo jatuh tersungkur ke tanah.

“gadis gila… kau sudah membuat kesabaranku habis.” Teriak min hoo dan ingin bangkit, tapi so eun memukulnya lagi hingga membuat min hoo benar – benar mengerang kesakitan.

Tapi so eun tidak sadar bahwa saat ini il woo sudah berada di belakangnya dan juga bersiap memukulnya. Karena so eun lebih fokus pada min hoo, so eun pun tidak bisa menghindari pukulan dari il woo pada bahunya. Kini so eun pun tersungkur ke tanah. Dan merasakan sakit yang luar biasa pada bahunya akibat pukulan dari il woo tadi.

“terima itu so eun, itu balasan karena kau telah memukul temanku”
So eun hendak berdiri, tapi dengan cepat il woo menendang perutnya sehingga membuat so eun mengerang kesakitan apalagi min hoo juga ikut menendangnya dan memukulinya sekarang.

***

“jadi maukah kau menjadi kekasihku jiyeon?” tanya kim bum lagi. Jiyeon menganggukan kepalanya tanda dia menerima kim bum.

“apa itu tandanya, kau menerimaku jiyeon?”

“iya, aku menerimamu menjadi kekasihku kim bum”

Kim bum benar – benar senang mendengar jawaban dari jiyeon. Ternyata jiyeon mau menjadi kekasihnya, ini adalah hal yang membuat kim bum senang. Kim bum jadi teringat dengan so eun, dan ingin menghubungi so eun sekarang. So eun juga harus tau kalau saat ini kim bum dan jiyeon sudah resmi menjadi kekasih. Kim bum mengambil ponselnya dan melihat beberapa panggilan dari so eun. so eun juga mengiriminya pesan yang memberitahukan bahwa saat ini so eun sedang dalam bahaya.

“astaga… so eun, apa yang terjadi padanya” gumam kim bum yang tampak cemas ketika melihat pesan dari so eun tersebut.

“ada apa kim bum? apa yang terjadi pada so eun?” tanya jiyeon yang heran melihat perubahan raut muka kim bum.

“kurasa aku harus menyusul so eun, dia dalam bahaya sekarang.” Jawab kim bum dan beranjak dari tempatnya sekarang.

“aku ikut, kim bum.”

Kim bum melajukan motornya dengan sangat kencang, kim bum yakin pasti saat ini so eun benar – benar butuh pertolongannya. Kim bum segera menuju tempat dimana so eun sekarang berada, karena tadi so eun sudah memberitaukan dimana so eun berada melalui pesan yang dikirimkan gadis itu pada kim bum. bukan hanya kim bum saja yang panik saat ini, jiyeon pun juga.

***

Saat ini so eun benar – benar sudah lemas, so eun sudah tidak bisa melawan min hoo dan il woo, walaupun sebelum – sebelumnya so eun selalu bisa melawan mereka tapi tidak dengan hari ini. So eun benar – benar pasrah jika harus mati sekarang.

So eun masih berharap semoga kim bum datang dan menyelamatkannya, walaupun kemungkinan itu sangatlah kecil.

“sekarang kami benar – benar puas, sudah membuatmu seperti ini. Jika kau mau marah, marahlah pada sahabatmu itu yang selalu mengalahkan kita. Lagi pula tidak seharusnya gadis sepertimu bersama dengan kim bum” ucap min hoo.

“so eun… kau masih tetap cantik walaupun wajahmu di penuhi dengan luka. Coba saja tadi kau tidak melawan pasti kau tidak akan mengalami luka – luka seperti ini.” Ucap il woo sambil menyentuh luka yang ada di pipi so eun.

“jangan menyentuhku” ucap so eun sambil menepis tangan il woo. Sebenarnya il woo tidak tega melihat so eun terkulai lemas seperti itu. Ada sedikit penyesalan dihatinya, kenapa il woo sampai setega ini pada so eun, padahal tujuan kemarahannya itu ada pada kim bum.

“il woo apa yang kau lakukan, lebih baik kita tinggalkan saja dia.” Ucap min hoo, tapi il woo tidak menghiraukan ucapan temannya itu. Il woo berniat mengangkat tubuh so eun, dan mengobati luka gadis itu. Tapi sebuah teriakan menghentikan niat il woo.

“jangan sentuh dia” teriak kim bum dan langsung mendorong tubuh il woo yang saat ini hendak mengangkat tubuh so eun.

“kim bum” gumam so eun, yang melihat kedatangan kim bum secara tiba – tiba.

Kim bum melihat so eun yang sudah terluka parah akibat pukulan – pukulan dari il woo dan min hoo. Kim bum benar – benar tidak bisa terima melihat so eun seperti ini sekarang. Pandangan kim bum langsung teralih pada il woo yang saat ini berada di belakangnya.

Kim bum mendekati il woo, dan menarik kerah baju il woo. Kim bum memukuli il woo berkali – kali seperti orang yang kesetanan. Dia tidak peduli jika dia harus di penjara karena membunuh orang, yang terpenting saat ini, kim bum harus membalas perbuatan il woo yang telah berani membuat sahabatnya babak belur.

“kau harus mati. Berani – beraninya kau melukai sahabatku” teriak kim bum sambil terus memukuli il woo. Dan tak memberikan il woo kesempatan untuk bisa melawan.

Min hoo yang melihat temannya hampir mati di pukuli oleh kim bum pun
berniat untuk membantu il woo. Min hoo mengeluarkan sebuah pisau lipat dan mengarahkan pisaunya pada so eun yang sudah tidak berdaya untuk mengancam kim bum.

“kim bum.. cepat hentikan pukulanmu pada temanku atau kalau tidak kau akan kehilangan sahabatmu ini” teriak min hoo sambil mengarahkan pisaunya ke perut so eun sambil menarik paksa tangan so eun agar bisa berdiri.

Kim bum melihat kearah so eun dan min hoo, mau tidak mau kim bum pun menghentikan pukulannya pada il woo dan sedikit merenggangkan cengkraman tangannya pada kerah baju il woo.

“so eun” gumam kim bum, kim bum melepaskan il woo dan menjatuhkannya. Kim bum hendak menghampiri so eun yang saat ini sedang berada di tangan min hoo.

“kumohon jangan sakiti dia, min hoo. Masalahmu ada padaku bukan dia”

“jangan mendekat kim bum atau kau benar – benar akan melihat so eun mati” teriak min hoo.

Il woo yang melihat sebuah kayu balok milik so eun tadi tergeletak di sampingnya segera mengambilnya dan kembali berdiri. Il woo segera melayangkan balok itu kearah kepala kim bum. dan sukses mengenai kepala kim bum.

“min hoo cepat pergi” teriak il woo sambil berlari menjauhi kim bum. min hoo pun juga berniat pergi, tapi karena rasa bencinya pada kim bum terlalu besar min hoo pun menusukkan pisaunya ke perut so eun. dan ikut berlari mmenyusul il woo.

“so eun…” teriak kim bum ketika melihat tubuh so eun sudah tersungkur di tanah dengan darah segar yang mengucur diperutnya. Kim bum segera menghampiri tubuh so eun dan memeluk tubuh sahabatnya itu.

“so eun bertahanlah, aku mohon bertahanlah. Aku akan membawamu kerumah sakit” ucap kim bum yang mencoba memberi semangat pada so eun. kim bum tidak peduli walaupun dirinya sendiri terluka akibat pukulan dari il woo di kepalanya tadi.

“kim bum, rasanya sakit sekali… aku.. sudah tidak… kuat” rintih so eun

“so eun kumohon tetaplah bertahan, demi aku”

“kim bum, cepat bawa so eun kerumah sakit sebelum terlambat” teriak jiyeon yang sedari tadi hanya bisa berdiam diri dan tidak mampu berbuat apa – apa, menyaksikan perkelahian antara kim bum dengan musuh – musuhnya.

Kim bum segera mengangkat tubuh so eun, dan membawa sahabatnya itu ke rumah sakit terdekat. Saat ini kim bum benar – benar takut akan kehilangan so eun. bagaimana jika kim bum harus kehilangan so eun, kim bum tidak ingin kehilangan so eun. kim bum tidak bisa hidup tanpa so eun, karena selama ini semangat kim bum ada pada so eun.

***

Kim bum berhasil membawa so eun ke rumah sakit terdekat. Saat ini kim bum hanya bisa menununggu dokter yang menangani keadaan so eun. kim bum benar – benar tidak bisa tenang. Bagaimana jika so eun tidak bisa diselamatkan. Kim bum benar – benar marah pada dirinya sendiri, karena kim bum telah gagal untuk melindungi so eun. bukankah kim bum sendiri yang bilang kalau kim bum ingin melindungi so eun, tapi bagaimana bisa kim bum menjerumuskan so eun ke dalam masalah yang seharusnya ditanggung oleh kim bum.

“kim bum, bagaimana keadaan so eun?” tanya ibu so eun pada kim bum. kim bum yang menghubungi ibu so eun dan menyuruh beliau datang kerumah sakit. Kim bum juga sudah memberitaukan semua yang terjadi pada so eun dan mengakibatkan so eun masuk rumah sakit.

“kim bum, sebenarnya ada apa. kenapa bisa sampai seperti ini?” tanya ibu so eun lagi.

“maafkan aku bibi, maafkan aku karena tidak bisa menjaga so eun” ucap kim bum pada ibu so eun dan memeluk ibu so eun.

“sudahlah jangan menyalahkan dirimu kim bum. ini semua bukan salahmu.” Ucap ibu so eun.

“jika saja aku bisa lebih cepat datang dan menyelamatkannya. Mungkin ini semua tidak akan terjadi. Aku memang pantas untuk disalahkan bibi, aku bukanlah sahabat yang baik untuk so eun.” ucap kim bum penuh penyesalan.

“kau salah kim bum. kau adalah sahabat yang terbaik untuk so eun. apa kau tidak tau bahwa selama ini so eun sangat senang berteman denganmu. So eun selalu membanggakan dirimu dan menyanjungmu. Bahkan so eun berniat menyatakan perasaannya padamu, tapi so eun terlalu takut untuk mengatakannya.” Jelas ibu so eun.

Kim bum sedikit heran dengan perkataan ibu so eun. kim bum bingung mengartikan penjelasan ibu so eun tadi. Ibu so eun bilang, so eun ingin menyatakan perasaannya pada kim bum. perasaan apa.

“perasaan apa bi?”

“kau tidak mengetahuinya kim bum. apa so eun belum bilang padamu?” tanya ibu so eun bingung. Kim bum pun hanya menggelengkan kepalanya tanda dia tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh ibu so eun.

“anak itu kenapa masih tidak mengatakannya juga” gumam ibu so eun.

“sebenarnya apa yang akan dikatakan oleh so eun bi, cepat katakan padaku.” Paksa kim bum

“so eun menyukaimu kim bum. dia mencintaimu. Selama ini so eun selalu mencoba menunjukkan perasaannya padamu. Dia tidak berani mengatakannya padamu karena dia tidak mau merusak hubungan persahabatan kalian. So eun selalu menceritakan semua kejadian – kejadian yang menyenangkan bersamamu kepada bibi. Entahlah kenapa sampai saat ini, dia tidak mengatakannya, padahal bibi sudah menyarankan agar dia mengatakan langsung padamu. Dia terlalu melindungi persahabatan kalian.” Jelas ibu so eun

Rasanya kim bum benar – benar seperti tersengat listrik setelah mendengar cerita dari ibu so eun. bagaimana bisa kim bum tidak menyadari perasaan so eun. selama ini so eun sudah terlalu sering menunjukkan perasaannya pada kim bum, bahkan saat ini so eun menaruhkan nyawanya untuk kim bum. karena kesalahan kim bum, so eun sampai masuk rumah sakit.

Kim bum mengacak – acak rambutnya, dia benar – benar merasa menjadi manusia yang bodoh. Kim bum tidak pernah memikirkan perasaan so eun, saat dia mengatakan pada sahabatnya itu untuk menjadikan jiyeon sebagai kekasihnya. Pasti so eun sedih sekali saat mendengarnya.

Dokter yang memeriksa keadaan so eun pun keluar dari ruangan pemeriksaan. Semua yang sudah menunggu pun segera menghampiri dokter untuk mengetahui keadaan so eun sekarang.

“bagaimana keadaan anak saya dokter?” tanya ibu so eun dengan cemas.

“maafkan saya, saya sudah mencoba untuk menolongnya tapi anak ibu terlalu banyak kehilangan darah dan luka tusukan itu sangat dalam, sehingga kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya” ucap dokter dan berlalu meninggalkan semuannya.

Kim bum segera berlari memasuki ruangan tempat so eun dirawat tadi. Kim bum melihat para perawat sudah membersihkan luka – luka di tubuh kaku so eun. kim bum hanya bisa menangis melihat tubuh so eun yang terbaring di tempat tidur. Sudah terlambat untuk kim bum menyadari perasaan so eun.

“so eun bangun lah, kumohon jangan tinggalkan aku sekarang. Bagaimana bisa kau meninggalkanku sebelum kau mengatakan perasaanmu padaku.” Teriak kim bum sambil memeluk tubuh so eun dan menangis.

“kim bum, kau harus sabar. Kau tidak boleh seperti ini” ucap jiyeon mencoba menenangkan kim bum.

“aku tidak mau kehilangannya, aku hanya ingin so eun kembali. Aku tidak butuh yang lain” teriak kim bum sambil berlari keluar dari ruangan itu.

End of flashback

Kim bum benar – benar tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, ini semua salahnya. Seharusnya kim bum bisa melindungi so eun tapi kenyataannya tidak.

“aaarrrrgggggghhhhh…..” teriak kim bum, sambil tetap berjalan dibawah guyuran hujan.

“maafkan aku so eun, karena tidak bisa lebih cepat menyadari akan perasaanmu. Aku benar – benar menyesal” gumam kim bum.

Tanpa disadari oleh kim bum sebuah pengendara motor melajukan motornya kearah kim bum dengan sangat kencang. Karena malam itu cuaca juga sedang hujan sang pengendara motor tidak mengetahui bahwa di depannya ada orang yang sedang berjalan, sehingga pengendara motor itu menabrak tubuh kim bum. tubuh kim bum pun terpental dan jatuh ke aspal. Kim bum hanya bisa tersenyum dan menutup matanya. Mungkin inilah hukuman untuknya karena telah membuat so eun sedih selama ini. Mungkin dengan cara inilah kim bum bisa mengucapkan permintaan maafnya pada so eun.

🙂 the end 🙂

maaf ya reader jika ceritanya kurang bagus…!!! jangan lupa comentnya, supaya saya bisa tambah semangat membuat ff yang lebih bagus lagi.

WILL THE DREAM COME TRUE (part 3)

Posted: 2 Januari 2013 in FF BUMSSO

part 3

Akhirnya bisa juga buat melanjutkan ke part 3. awalnya aku gak mau ngelanjutinnya soalnya gak ada pengunjung yang datang ke blog ini, tapi kemarin ada pengunjung yang baca dan coment ff’ku yang biasa ini jadi semangat banget ngelanjutinnya. ya udah gak mau banyak ngomong lagi ini dia…

So eun memperhatikan orang yang menyapanya, tapi so eun tak bisa mengenali orang tersebut. Karena orang tersebut memakai helm.

“kenapa kau disini sendirian?” Tanya pemuda itu lagi sambil melepaskan helmnya dan turun dari motornya.

“kau moon joo won” tanya so eun meyakinkan, kalau memang itu adalah moon joo won temannya ketika dibangku SMA sekaligus sahabat terdekat kim bum.

“iya, ini aku. sedang apa kau disini dengan keadaan basah kuyup seperti ini” tanya joo won lagi, sambil membantu so eun berdiri.

“aku tidak tau jalan pulang, dan aku bingung harus naik apa untuk pulang” jelas so eun sambil memeluk tubuhnya yang sudah benar – benar menggigil.

Joo won yang melihat so eun sedang kedinginan langsung melepas jaketnya dan memberikannya pada so eun.

“pakailah” kata joo won sambil menyerahkan jaketnya pada so eun.

“bagaimana denganmu?”

“aku ini lelaki, jadi tidak perlu mencemaskanku. Lagi pula kau lebih membutuhkannya dari pada aku” ucap joo won sambil kembali menaiki motornya.

So eun diam mematung atas perlakuan joo won, kenapa joo won begitu baik padanya.

“kenapa kau tak memakainya, apa kau tidak mau pulang”

“maksudmu”

“cepat pakailah jaket itu, dan naiklah kemotorku aku akan mengantarkanmu pulang, sebelum hujan kembali deras lagi”

So eun hanya mengangguk, dan memakai jaket joo won yang sedari tadi dipegangnya kemudian naik kemotor joo won.
Joo won langsung melajukan motornya dengan sangat kencang, karena takut jatuh so eun memegangi baju joo won.

“hei, apa kau punya nyawa ganda. Kenapa tidak pegangan padaku” perintah joo won.

So eun mengikuti perintah joo won dan melingkarkan tangannya diperut joo won.

Seorang penolong datang menyelamatkan hatinya. Bukan menyelamatkan hatinya, tapi tubuhnya. Secara kebetulan ketika seseorang meninggalkannya, muncul seseorang lain yang melindunginya.

***

So eun dan joo won sudah sampai di apartament so eun. so eun turun dari motor joo won.

“mampirlah dulu, biar aku buatkan minuman untuk menghangatkan tubuhmu” ajak so eun yang merasa tidak enak pada joo won.

“tidak usah”

“kumohon jangan menolakku”

Akhirnya joo won pun mengikuti kemauan so eun. so eun membuka pintu apartementnya dan mempersilahkan joo won untuk masuk.

“masuklah, biar aku buatkan minuman hangat untukmu”

Joo won mengangguk dan masuk kedalam apartement so eun.
Dimana orang tua so eun, kenapa tempat ini sepi sekali. Apa orang tua so eun sudah tidur atau mereka tidak ada dirumah. Pikir joo won
Tak berapa lama so eun kembali dan membawa 2 cangkir teh hangat.

“minumlah, aku mau mengganti pakaianku dulu. Kau tunggulah disini” ucap so eun dan pergi menuju kamarnya.

“dimana orang tuamu? Tanya joo won ketika mendengar suara pintu kamar so eun terbuka.

“mereka ada di busan, aku tinggal disini sendiri” jawab so eun sambil duduk disebelah joo won.

Joo won memperhatikan so eun yang tengah asyik mengeringkan rambutnya. Joo won tertegun memperhatikan penampilan so eun yang hanya mengenakan celana pendek selutut dan t – shirt. Tampak sederhana dan apa adanya.

“ini keringkan badanmu dan ganti pakaianmu juga” perintah so eun sambil menyerahkan sebuah kaos dan handuk pada joo won.

“tidak perlu, bajuku tidak terlalu basah” tolak joo won.
“nanti kau bisa masuk angin, kenapa kau selalu menolak. Aku tau kau suka terhadapku, karena aku ini gadis yang tidak menarik kan”

“bukan begitu, maksudku”

“terserah kau sajalah” ucap so eun kesal dan meminum tehnya.

Kenapa tadi dia menolongku kalau sebenarnya dia ini tidak menyukaiku. Menyukai dalam arti teman itu saja yang diinginkan so eun. walaupun selama ini so eun dan joo won tidak dekat, tapi setidaknya so eun ingin berterimakasih atas pertolongan yang telah dilakukan joo won padanya tadi.

“hei, apa itu bekas luka yang aku perbuat ?” tanya joo won sambil menunjuk bekas luka dilutut kiri so eun.

Flashback

saat itu so eun dan ji hyun baru pulang dari sekolah. Saat itu mereka masih duduk dibangku sekolah menengah pertama.

So eun yang sedang asyik mengendarai sepedanya tiba – tiba disrempet oleh seorang temannya dari sekolah lain. Bukannya minta maaf dan membantu anak itu malah mengejek so eun.

“so eun kau tidak apa – apa? tanya ji hyun pada sahabatnya yang terjatuh ketanah.

“kakiku”

“astaga lututmu berdarah so eun, apa kau masih kuat berdiri. Biar aku memboncengmu dengan sepedahku dan sepedahmu biar kakekmu saja yang mengambilnya nanti”

So eun menangis, karena kakinya benar – benar sakit saat itu. Moon joo won teman kanak – kanak so eun dan ji hyun dulu. Kenapa dia tega sekali melakukan ini pada so eun. memangnya so eun salah apa padanya.

End of flashback

So eun memperhatikan lutunya, dan tersenyum ketika mengingat hal yang menyebabkan luka tersebut ada dilututnya sekarang.

“kau tau, aku tidak bisa bejalan selama satu bulan penuh hanya gara – gara luka ini”

“benarkah, apakah sampai separah itu”

“tentu saja, orang itu benar – benar tak bertanggung jawab karena tak menolongku saat aku terjatuh”

“maafkan aku, sebenarnya saat itu aku tak sengaja” ucap joo won dengan penuh penyesalan. So eun yang melihat ekspresi joo won langsung tersenyum.

“hei, tak apa – apa itu sudah lama berlalu”

“waktu itu, kakekmu memarahiku dan memukulku”

“benarkah, aku tidak tahu itu” tanya so eun

“iya, dia mencariku kesekolah dan memukulku didepan teman – temanku” jelas joo won

“maafkan kakekku, padahal aku tak mengadukanmu padanya” sesal so eun. sekarang giliran joo won yang terkekeh melihat ekspresi muka so eun.

“hei, kenapa kau sedih. Sudah sepantasnya aku menerima pukulan itu. Itu semua memang salahku” ucap joo won sambil nyengir tak jelas. So eun tersenyum melihat joo won. Mereka berdua pun tertawa ketika mengenang masa lalu mereka.

Dulu so eun dan joo won sama – sama tinggal di busan, akan tetapi so eun pindah ke seoul setelah lulus dari SMA. So eun ikut dengan kedua orang tuanya di seoul.

“oh iya, ngomong – ngomong sedang apa kau sendirian dijalan tadi?” Tanya joo won.

So eun terdiam, kini ekspresinya terlihat sedih ketika mendengar pertanyaan joo won. So eun tak menjawab pertanyaan joo won, dan malah menundukkan kepalanya.

“hei, aku bertanya padamu kenapa kau tak menjawab” tanya joo won, sambil mengangkat wajah so eun untuk menatapnya.

Astaga, so eun menangis, gadis ini menangis. Apa yang menyebabkannya menangis. Ucapan joo won kah, atau kejadian yang meninmpanya hari ini.

“kau menangis so eun?” tanya joo won ketika melihat pipi so eun basah dengan air mata. So eun buru – buru membersihkan wajahnya dengan telapak tangannya.

“tidak, aku tidak apa – apa”

“apa kau mau bercerita padaku”

Bercerita, bercerita tentang apa. tentang kim bum, tentang kim bum yang mengajaknya berkencan dan meminta so eun menjadi kekasihnya. Atau bercerita bagaimana kim bum bisa meninggalkannya di taman hiburan sendirian. Itukah yang harus diceritakan so eun pada joo won.
So eun menggelengkan kepalanya, itu berarti so eun tak ingin berbagi kisahnya pada joo won.

“kalau begitu, istirahatlah kau pasti lelah hari ini. Aku harus pulang karena hari sudah hampir larut” ucap joo won sambil beranjak dari duduknya dan berjalan kearah pintu rumah so eun.

“terimakasih sudah mengantarku pulang dan maaf sudah merepotkanmu joo won” ucap so eun

“sama – sama, kita kan teman, sudah sewajarnya aku menolong temanku yang sedang kesusahan kan! istirahatlah. Aku pulang dulu so eun” pamit joo won.

Joo won sudah pergi, kini so eun kembali menangis. Bagaimana tidak menangis jika mengingat kejadian yang menyakitkan seperti tadi. Bagaimana kim bum bisa mempermainkan hatinya seperti ini. Kim bum benar – benar kejam, bahkan kim bum lebih kejam dari jang wo hyuk.

***

Joo won sudah sampai di apartement tempat tinggalnya bersama kim bum. joo won masuk kedalam dan melihat kim bum sedang melamun di meja belajarnya.

“kau belum tidur kim bum?” sambil berjalan kedalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.

“kau dari mana saja, jam segini baru pulang?” tanya kim bum yang melihat sahabatnya itu baru pulang.

“aku dari tempat so eun” jawab joo won yang baru saja keluar dari kamar mandi dan sekarang merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.

“dari mana kau bilang tadi?” kaget kim bum mendengar jawaban joo won.

“tadi setelah pulang dari kampus, tidak sengaja aku bertemu dengan so eun di jalan dekat taman hiburan. tempat kita biasa kesana. Dia kehujanan dan basah kuyup, dia juga tak tau jalan pulang. Jadi aku mengantarnya pulang” jelas joo won.

Astaga, so eun kehujanan dan tak tau jalan pulang. Apa so eun menunggu kim bum disana. Tunggu dulu, joo won bilang so eun tidak tau jalan pulang. Itu berati kim bum membiarkan so eun disana sendirian tanpa mengetahui bagaimana keadaan so eun. kim bum bahkan tak mencoba menghubungi so eun. lelaki macam apa kim bum ini. Pikir kim bum.

Bersalah, apa itu yang dirasakan kim bum sekarang. Atau menyesal karena membuat orang lain susah atas sikap plin plannya ini. Jahat itulah yang ada dipikiran kim bum. pasti so eun sekarang berfikir kalau kim bum ini orang yang jahat.

Semalaman kim bum tak bisa tidur karena terus memikirkan so eun.
Tidak mungkin kim bum menghubungi so eun saat ini, pasti so eun sudah tidur sekarang. Kim bum memperhatikan joo won yang sudah tidur dengan nyenyak.

Seharusnya bukan joo won yang mengantarkan so eun pulang tapi kim bum. kenapa harus joo won, kenapa bukan dirinya. Pikir kim bum, sambil mengacak – acak rambutnya.

Memang menangis tak bisa menyelesaikan masalah, tapi bagi sebagian orang menangis merupakan hal yang sedikit, bisa meringankan masalah yang dihadapinya.

***

Tok … tok…

Terdengar suara ketukan pintu dari luar apartement so eun, gadis itu terbangun sambil memegangi kepalanya.
Pasti hari ini dia akan sakit karena kehujanan kemaren, apalagi ternyata semalaman so eun hanya tertidur dilantai depan televisi dan bukan di kamar. Dan yang paling parah so eun tidur hanya menggunkan selembar jaket milik joo won sebagai alasnya.
Suara ketukan pintu itu tak kunjung berhenti, rasanya so eun ingin memarahi orang yang melakukannya. Tidak tahukah dia kalau badan so eun hari ini sedang tidak dalam kondisi baik.

“ji hyun, jiyeon untuk apa kalian menggangguku sepagi ini” omel so eun ketika sudah membuka pintu apartementnya.

Betapa terkejutnya so eun melihat siapa yang saat ini berdiri dihadapannya.

Kenapa so eun terkejut, bukankah menurut so eun yang datang itu ji hyun atau jiyeon sahabatnya. Kenapa harus terkejut dengan kedatangan sahabatnya. Atau jangan – jangan yang datang bukan ji hyun atau jiyeon.

So eun hendak menutup pintunya, namun tenaganya tak cukup kuat untuk melakukan itu. Karena orang yang berdiri didepannya itu menahan pintunya. Akhirnya so eun pun membiarkan pintunya terbuka dan memilih masuk kedalam rumah.
“apa aku mengganggumu” tanya orang itu sambil masuk kedalam apartement so eun.

Yang ditanya bukannya menjawab malah kembali tidur ditempatnya semula.

“apa kau sedang tak sehat” tanya orang itu lagi sambil menutup pintu dan setelah itu duduk disebelah so eun.

“untuk apa kau datang kesini?” tanya so eun yang masih tak membuka matanya. Sebenarnya so eun tak niat untuk tidur lagi, tapi so eun tidak ingin melihat wajah orang yang telah membuatnya sakit seperti ini.

“maafkan aku so eun, aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu di taman. Hanya saja ada sesuatu hal yang membuatku harus pergi” jelas kim bum penuh penyesalan.

“meninggalkanku dan tanpa memberi tauku”

Kim bum tak bisa menjawab kata – kata so eun, rasanya dia tak bisa kalau harus berdebat dengan so eun. mengingat bahwa memang dirinyalah yang salah.

“apa kau sengaja melakukan ini, Apa kau ingin mengerjaiku”.

“bukan begitu so eun”

“kalau begitu untuk apa kau melakukan ini semua. Kenapa kau harus membuatku menjadi orang yang bodoh hanya dengan beberapa hari”

“aku juga tidak ingin melakukannya, tapi keadaan yang membuatku seperti ini”

“keadaan yang bagaimana maksudmu. Keadaanku baik – baik saja sebelum kau muncul dalam hidupku, bahkan jauh lebih baik” ucap so eun sambil duduk dan menatap kim bum.

“maafkan aku so eun, kumohon jangan membenciku” ucap kim bum sambil memeluk so eun.

Hangat, nyaman dan tenang itulah yang dirasakan so eun saat ini ketika berada dalam pelukan kim bum. rasanya tidak ada lagi kemarahan so eun pada kim bum saat ini. Semuanya lenyap begitu saja hanya karena pelukan dari kim bum, ini benar – benar gila. Pikir so eun.

Kim bum mengeratkan pelukannya pada so eun, dengan seperti ini rasanya kim bum seperti memberi penjelasan pada so eun. bahwa dirinya tidak sengaja melakukan hal gila yang membuat so eun marah pada dirinya.

“kumohon jangan siksa aku seperti ini lagi” ucap so eun sambil menangis didalam pelukan kim bum.

“aku janji tidak akan melakukannya lagi, dan aku mohon jangan menangis” ucap kim bum sambil melepaskan pelukannya dari tubuh so eun.

“aku wanita kim bum, jadi fisik dan hatiku ini rapuh”

“aku tau, maka dari itu aku datang kemari untuk menebus rasa bersalahku”

So eun tersenyum pada kim bum, senyum yang benar – benar mempesona untuk kim bum. kenapa selama ini kim bum tidak menyadari kalau so eun memiliki senyum yang benar – benar indah.

So eun memang tidak secantik yeon hee, tapi so eun punya daya tarik tersendiri di mata kim bum khusunya untuk belakangan hari ini.

“kau mau aku melakukan apa untukmu? Tanya kim bum
So eun menggelengkan kepalanya, dan mencoba berdiri tetapi kepalanya terasa berat sekali sehingga dia mengurungkan keinginannya.

“kau mau kemana? Tanya kim bum yang melihat so eun ingin beranjak dari tempat duduknya.

“membuatkanmu minum” jawab so eun.

“tidak usah, lebih baik kau beritahu aku dimana kau menyimpan kasur dan selimutmu”

“memangnya untuk apa, aku menyimpannya dikamarku”
Tanpa menjawab pertanyaan so eun, kim bum berjalan menuju kamar so eun dan mencari dimana so eun menyimpan kasur dan selimutnya.

Setelah ketemu kim bum meletakkan kasur itu dilantai dan mendudukan dirinya di kasur itu.

“apa yang kau lakukan? Tanya so eun heran melihat apa yang dilakukan kim bum.

“kemarilah, dan tidurlah disini” perintah kim bum pada so eun sambil menunjuk kedua pahanya.

So eun tetap diam ditempatnya semula, hingga akhirnya kim bum menarik tangan so eun dan menidurkan so eun dipangkuannya dan juga menyelimuti tubuh so eun.

“apa yang kau lakukan, kau tidak perlu melakukan ini” tolak so eun

“aku tidak mau mendengar penolakan, lagian apa enaknya tidur dengan alas jaket seperti itu”

So eun melihat jaket joo won yang tergeletak dilantai, ternyata jaket joo won lah yang jadi alas tidur so eun semalam. Kenapa so eun tak menyadarinya.

“jaket itu, milik seorang malaikat penolongku”

“malaikat penolong apa, dia tak pantas jadi malaikat penolongmu”

“memangnya kenapa?”

“sudahlah aku tak mau mendengar pujianmu pada joo won”

“bagaimana kau bisa tau kalau yang ku maksud itu joo won?” heran so eun

“tentu saja aku tahu. Kemarin joo won menceritakannya padaku. Aku dan joo won kan tinggal bersama”

“benarkah, kalau begitu sampaikan terimakasihku padanya. Dan bilang padanya kalau aku pasti akan membalas kebaikannya”

“tidak mau, kau bilang saja sendiri padanya” ucap kim bum dengan cueknya.

“kau benar – benar jahat”

“memangnya kenapa kalau jahat, sudahlah aku tidak mau kau membicarakan joo won lagi. Lebih baik kau tidur saja” perintah kim bum.

So eun pun menuruti perintah kim bum dan mencoba memejamkan matanya.
So eun berharap semua ini bukan mimpi, dan kalaupun ini mimpi so eun ingin jika mimpi ini tidak berakhir dengan cepat. So eun membuka matanya lagi, dan melihat wajah kim bum. sadar diperhatikan terus, kim bum pun bertanya pada so eun.

“ada apa, kenapa kau memandangiku seperti itu. Kau terpesona padaku”
Terpesona. Tentu saja so eun terpesona dengan ketampanan kim bum. bahkan bukan hari ini saja so eun terpesona melainkan sejak dulu. Hingga tak pernah terbayangkan di benak so eun, kalau saat ini so eun sedang tidur dipangkuan kim bum. rasanya so eun ingin melambatkan waktu atau kalau bisa menghentikan waktu agar dia bisa terus bersama kim bum.

“apa sich yang kau lihat, hingga bola matamu seakan ingin terjatuh” canda kim bum.

“bukan apa – apa” jawab so eun, sambil kembali menutup matanya.
Kenapa ini harus terjadi pada so eun, harus bersyukur kah so eun akan kejadian hari ini atau harus menghindarinya. Bagaimanapun kim bum sudah mempunyai kekasih dan tak mungkin so eun merebut kim bum dari kekasihnya.

Merebut, so eun tak merebut kim bum. kim bum sendiri yang menemuinya duluan. Itu berarti bukan salah so eun, untuk saat ini so eun tak mau memikirkan hal – hal lain. Yang terpenting saat ini kim bum ada bersamanya dan itu nyata. Walaupun itu terkesan egois.

Tak peduli apa yang terjadi kemarin ataupun besok yang terpenting saat ini adalah bagaimana kita melakukan hal yang terbaik dan tidak menyia – nyiakan kesempatan yang ada.

Kim bum memperhatikan wajah so eun yang tertidur. Kim bum merapikan rambut so eun yang menutupi sebagian wajahnya. So eun benar – benar apa adanya saat ini.

Rasanya baru beberapa menit kim bum dan so eun bersama, sudah ada saja yang mengganggu seperti saat ini, ketika ponsel kim bum berbunyi.
Sebenarnya kim bum tak ingin menerimanya, tapi sepertinya ponsel kim bum tak akan berhenti jika kim bum tak menerimanya. Kim bum mengambil ponselnya yang berada disaku jaketnya. Melihat siapa yang saat ini menghubunginya.

“yeon hee” gumam kim bum

Kenapa selalu seperti ini, kenapa harus memilih lagi. Kenapa yeon hee selalu mengganggu disaat yang tidak tepat. Tidak mungkin kim bum menerima panggilan dari yeon hee sekarang, tapi tidak mungkin lagi jika kim bum menolak panggilan itu. Bagaimana jika kekasihnya itu marah lagi padanya.

“terimalah” ucap so eun sambil bangun dari pangkuan kim bum.

Kim bum mengangguk, dan menerima panggilan dari yeon hee tanpa menjauh dari so eun.

“ada apa yeon hee?”

“kamu dimana kim bum? aku sudah berada di apartementmu sekarang. Kenapa kamu tidak ada, bahkan joo won pun tak tau kamu dimana”

“aku sedang mengunjungi seorang teman”

“cepatlah pulang, aku akan menunggumu disini. Jangan lama – lama sayang”

“iya sayang” ucap kim bum ragu sambil melihat kearah so eun dan memasukkan ponselnya kembali.

Senyum itu lagi, kenapa so eun selalu tersenyum seperti itu. Rasanya kim bum tak bisa jika harus melihat senyum so eun ketika kim bum harus membuat so eun kecewa lagi.

“pergilah, aku sudah baikan. Pasti yeon hee menunggumu sekarang”

“apa tidak apa – apa jika aku meninggalkanmu sekarang?

“kau lupa yaa, tidak akan terjadi apa – apa padaku walaupun tanpa dirimu”

Kim bum terdiam mendengar jawaban terakhir dari so eun, kenapa so eun harus mengatakan itu sekarang. Tidak tahukah so eun kalau saat ini kim bum mencoba untuk selalu berada di sisi so eun.

Benarkah kim bum akan berada disisi so eun, kenapa harus seperti itu. Memangnya bagaimana perasaan kim bum sebenarnya pada so eun.

“kenapa masih disini, cepat pergilah. Masih ada yang jauh membutuhkan kehadiranmu dibandingkan aku. Cepat pergi” perintah so eun.

“kau tidak marah? Tanya kim bum memastikan.

“tidak, sudah pergi”

Kini kim bum sudah pergi, dan hanya tinggal so eun sendiri disini. Sepi dan hampa yang saat ini dirasakan oleh so eun ketika kim bum sudah tidak ada. Kenapa harus terjadi lagi, kenapa rasa ini selalu muncul disaat kim bum meninggalkannya. Padahal bertahun – tahun yang lalu so eun tidak seperti ini ada apa dengan so eun.

Ketika beberapa orang dari masa lalu datang, dan mereka merubah kehidupanmu sekarang benar – benar membuat pikiran bingung. Apa lagi jika mereka membawa pengaruh yang besar pada kehidupan kita dimasa depan.

***

“dari mana saja kamu, kenapa pagi – pagi sekali sudah pergi? Tanya yeon hee ketika melihat kim bum baru saja memasuki apartementnya.

“maafkan aku sayang, temanku memintaku datang ketempatnya karena ada beberapa hal yang ingin ditanyakan” dusta kim bum sambil berjalan menghampiri yeon hee yang tengah duduk disofa apartement kim bum.

“kau tidak tau kalau aku sangat merindukanmu”

“benarkah, apa buktinya kalau kau merindukanku” goda kim bum pada kekasihnya itu

“jangan menggodaku kim bum”

“memangnya kenapa, tidak ada yang tau ini. Kenapa harus malu, kamu kan kekasihku. Ayo berikan aku ciuman selamat pagi”

“kim bum, kubilang jangan menggodaku”

“yasudah kalau begitu aku akan pergi lagi” goda kim bum sambil beranjak dari tempat duduknya. Namun buru – buru yeon hee menahan lengannya dan mencium pipi kim bum.

“kau puas” ucap yeon hee

“sebenarnya belum puas, seharusnya kau melakukannya disini” ucap kim bum sambil menunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya.

“kau ini.”

“hei, berhenti pamer kemesraan. Tidak ingatkah kalian bahwa disini tidak hanya ada kalian berdua” oceh joo won yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“makanya kau harus cepat – cepat cari pasangan, agar kau tidak iri lagi jika melihat kami moon joo won” goda yeon hee pada sahabat kekasihnya itu.

“kenapa kau tidak mencarikannya untukku, atau kau kenalkan beberapa temanmu padaku”

“selera teman – temanku itu sangat tinggi, mana mungkin dia tertarik padamu” goda yeon hee lagi.

“hei berhenti menghinaku, aku ini calon dokter tentu saja banyak gadis yang akan tergila – gila padaku”

“benarkah itu, kurasa tidak”

“tentu saja, aishh kau ini sama saja dengan kekasihmu itu yeon hee” ucap joo won sambil menunjuk kearah kim bum.

“hei, kenapa kau membawa – bawaku” ucap kim bum yang tidak terima pada perkataan joo won barusan.

“sudah – sudah, teruskan saja kemesraan kalian. Aku akan pergi, aku bisa gila jika terus – terusan melihat kalian berdua”

“kau mau kemana? Tanya kim bum

“aku ingin kerumah shi yoon, kemudian aku ingin pergi melihat keadaan teman lamaku”

Teman, teman yang mana yang dimaksud joo won. Kenapa ketika joo won mengatakan ingin melihat keadaan teman lamanya, pikiran kim bum langsung tertuju pada so eun. benarkah yang ada dipikiran kim bum, kalau memang so eun lah yang akan ditemui joo won.

“teman lama yang mana, apa aku mengenalnya? Tanya kim bum penasaran

“tentu saja kau mengenalnya, sudahlah aku harus pergi. Aku takut shi yoon menungguku terlalu lama”

“joo won, katakan siapa yang akan kau temui setelah bertemu dengan shi yoon? Teriak kim bum pada joo won yang hampir akan berjalan keluar.

“kenapa kau berteriak seperti itu, aku ini tidak tuli kim bum. aku ingin ketempat so eun, aku ingin melihat keadaannya. Kurasa dia akan sakit hari ini” jawab joo won sambil melangkah pergi meninggalkan kim bum dan yeon hee.

“siapa so eun? tanya yeon hee

“so eun adalah temanku dan teman joo won ketika di SMA” jelas kim bum

“benarkah, berarti dia kakak kelasku. Kenapa aku tidak pernah
mendengar namanya”

“dia tidak populer, bahkan aku pun juga tidak dekat dengannya. Aku saja heran kenapa joo won berniat menemuinya, sebelumnya joo won tak pernah peduli pada so eun” jelas kim bum

Joo won memang tidak pernah peduli pada so eun dulu, sama seperti kim bum. tapi tidak untuk saat ini. Karena mulai hari kemarin, dimana joo won menolong so eun itu adalah hari dimana joo won akan mulai masuk dalam kehidupan so eun. seperti kim bum yang secara tiba – tiba hadir dalam hidup so eun.

*** TBC ***