Arsip untuk Februari, 2013

will the dream come true (part 4)

anyeong…
hanya sedikit peringatan untuk reader aktif di WP’ku yang masih berusia 18 thun kebawah, aku mau minta maaf kalau part ini ada unsur NC. jadi aku berharap coment yang masuk tidak ada kata – kata kasar atau mencela.

part 7

“maafkan aku…. aku sudah tidak bisa melanjutkan hubungan kita.” Akhirnya kalimat itu sukses meluncur dari mulut kim bum.

***

Kaget… tentu saja yeon hee sangat kaget dengan apa yang diucapkan oleh kim bum barusan. bagaimana bisa kim bum memutuskan hubungan mereka seperti ini, apa alasannya.

“kurasa hubungan kita sudah tidak bisa dilanjutkan lagi yeon hee, jadi lebih baik kita akhiri saja.” Sambung kim bum lagi.

“so eun… ini semua karena so eun kan?” bagaimana yeon hee bisa tau, pasti itu yang ada dipikiran kim bum sekarang. Yeon hee benar – benar tidak bisa terima dengan semua ini.

“kau sudah tau?” tanya kim bum heran.

“aku tidak mau mengakhiri hubungan kita. Aku tidak mau, bagaimanapun juga kau tetap milikku dan aku tidak akan membiarkan so eun merebutmu dari sisiku.”

“maafkan aku yeon hee, tapi mulai saat ini dan seterusnya aku hanya menyukai so eun. maafkan aku karena aku telah melukaimu.” Kim bum pun pergi meninggalkan yeon hee. selesai… hubungan kim bum dan yeon hee selesai, semudah itukah.

Kim bum pergi meninggalkan yeon hee yang masih berada di tempat itu. Rasanya tidak ada lagi yang mengganjal dihati kim bum. walaupun dia telah melukai hati yeon hee, tapi itu jauh lebih baik dari pada kim bum harus terus – terusan membohongi yeon hee.

Hubungannya dengan yeon hee sudah berakhir dan ini semua karena dihati kim bum hanya ada so eun. gadis yang selalu muncul dalam mimpinya setiap malam. Kim bum harus menemui so eun, dan mengatakan pada gadis itu kalau hubungan kim bum dan yeon hee sudah berakhir. Jadi tidak ada masalah lagi, untuk kim bum mendekati so eun.

***

Yeon hee, masih berada di tempat itu. Bagaimana sekarang, apa yang harus dilakukannya. Kim bum, pria yang selama dua tahun lebih menjadi kekasihnya itu begitu mudahnya memutuskan hubungan mereka. Lalu apa yang bisa dilakukan yeon hee setelah ini.

“kenapa kau tega sekali melakukan ini padaku kim bum.” gumam yeon hee.

Sebuah pikiran terlintas dibenak yeon hee sekarang. Hanya ada satu orang yang bisa membuat kim bum kembali pada yeon hee. dan yeon hee yakin orang itu bisa membantunya. Tapi apa orang itu bisa bekerja sama dengan yeon hee.

***

Hari ini joo won dan so eun baru saja pergi jalan – jalan. Joo won mengantarkan so eun pulang ke apartementnya. Ketika so eun mau melangkah masuk ke apartementnya joo won menarik lengan so eun, dan membuat so eun membalikkan badannya.

“ada apa joo won?”

“ehmm…” joo won bingung, mau bicara apa dengan so eun. joo won hanya menggaruk rambutnya yang tidak gatal, sambil tersenyum pada so eun.

“kau ini kenapa, kenapa bersikap aneh seperti ini?” tanya so eun bingung, melihat tingkah aneh tunangannya itu.
Joo won turun dari motornya dan mendekati tubuh so eun sambil memegang pundak gadis itu.

“bukankah kita sudah menjadi sepasang kekasih, jadi bolehkah aku….” lagi – lagi joo won menggantungkan kalimatnya. So eun yang tau akan maksud joo won pun hanya tersenyum memandang wajah polos tunangannya itu.

So eun pun mendekatkan wajahnya pada wajah joo won dan mencium pipi pria itu sambil tersenyum.

Joo won terkejut dengan ciuman yang diberikan oleh so eun tadi. Joo won pun mengembangkan senyumnya. Karena so eun sudah mencium pipinya berarti so eun tidak keberatan jika joo won membalasnya kan, setidaknya itulah yang dipikirkan joo won saat ini.

Karena so eun merasa joo won puas dengan ciumannya tadi so eun pun membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan joo won. Tapi tidak seperti pikiran so eun, joo won mengikutinya dan menarik kembali tangannya sehingga membuat tubuh so eun dan joo won berhadapan.

Dengan cepat, joo won mendaratkan sebuah ciuman lembut ke bibir kecil so eun. so eun membelalakkan matanya ketika mendapat ciuman secara tiba – tiba itu dari joo won. Bibir mereka masih saling menempel, dan hal itu membuat so eun teringat akan ciuman pertamanya dengan kim bum. dengan cepat so eun mendorong tubuh joo won dan membuat ciuman mereka berdua terlepas.

“maafkan aku joo won, aku lelah dan ingin cepat – cepat tidur, lagi pula ini sudah malam, bukankah kau juga harus istirahat” ucap so eun buru – buru, agar tidak membuat joo won curiga atau bertanya tantang hal – hal yang tidak ingin so eun jawab.

Joo won pun mengerti, dan menuruti kata – kata so eun. joo won menyalakan motornya dan pergi meninggalkan so eun. setelah melihat kepergian joo won, so eun pun masuk kedalam apartementnya.

Dan tanpa so eun sadari, sedari tadi kim bum telah berada didekat apartement so eun dan melihat kemesraan joo won dengan so eun. kim bum benar – benar seperti orang yang tidak memiliki tenaga sekarang, badannya lemas seketika melihat joo won dan so eun berciuman.

Rasanya kim bum ingin menghampiri mereka, dan memukul wajah joo won karena sudah berani merebut so eun dari dirinya, bahkan joo won dengan berani mencium so eun didepan mata kim bum. tapi kenyataannya kim bum, tak bisa melakukan hal tersebut.

***

So eun membayangkan kembali kejadian dimana joo won menciumnya tadi. Dan seketika itu pikirannya melayang pada sosok kim bum yang sudah beberapa hari ini so eun hindari. Berkali – kali kim bum menghubunginya, tapi so eun selalu mengabaikannya. So eun memejamkan matanya dan mencoba untuk tidak memikirkan kim bum lagi.

“bukankah, beberapa hari ini aku bisa melupakannya. Lalu kenapa aku mengingatnya lagi. Sadarlah so eun, kau sudah menjalin kasih dengan joo won” gumam so eun.

So eun mengganti pakainnya dengan sebuah gaun tidur warna merah hati. dan sekarang dia membaringkan tubuhnya ketempat tidur dan mematikan lampu kamarnya. Tapi sebuah ketukan pintu dari depan membuat so eun menunda tidurnya untuk melihat siapa yang datang.

“tok…tok..tok”

“siapa sih, yang malam – malam begini bertamu. Apa dia tidak tau kalau aku ini sangat lelah” ucap so eun sambil mencari kemeja untuk menutupi tubuhnya, karena memang gaun yang dipakainya sangat tipis dan tak berlengan.

“tok…tok..tok” suara ketukan pintu semakin keras dan sepertinya sang tamu sangat tidak sabar untuk menunggu si penghuni membukakan pintu untuknya.

So eun pun buru – buru membuka pintu dan melihat siapa yang malam – malam mengganggu dirinya. So eun kaget ketika melihat kim bum lah yang datang. So eun ingin menutup kembali pintu apartementnya, tapi tangannya malah ditahan oleh kim bum sehingga mau tidak mau, so eun pun mengurungkan niatnya dan membiarkan kim bum masuk kerumahnya.

“kenapa kau menghindariku so eun? apa kau benar – benar ingin melupakanku” tanya kim bum sambil menatap mata so eun dengan tajam, seakan – akan ingin menerkam so eun.

“kim bum, seharusnya kau tidak kesini. Bukankah ini sudah malam, lebih baik kau pulang saja” ucap so eun yang takut melihat tatapan tajam dari kim bum yang tidak seperti biasanya.

“apa kau benar – benar ingin melupakanku dan menikah dengan joo won?” tanya kim bum lagi sambil melangkahkan kakinya masuk keapartement so eun, dan tangannya menutup pintu apartement so eun.

So eun mencoba untuk tenang dan tak membalas tatapan mata kim bum, kini so eun hanya bisa duduk dilantai dan membiarkan kim bum berbicara sesukanya. Kim bum pun juga mendudukan dirinya di lantai sebelah so eun.

“secepat itukah kau melupakan kata – katamu sendiri so eun. bukankah waktu itu kau bilang kau menyukaiku dan tak ingin menerima perjodohan dari orang tuamu. Lalu kenapa kau bisa sampai menjalin kasih dengan joo won, bahkan kau sengaja menghindariku” ucap kim bum sambil menggenggam tangan so eun.

So eun tak bisa menjawab perkataan kim bum, dia hanya bisa menahan tangisnya. Apalagi yang bisa diucapkan so eun, untuk membuat kim bum meninggalkannya. so eun rasa kim bum tidak akan mudah pergi dari rumah so eun saat ini, walau so eun memohon pun.

“kumohon, jangan siksa aku so eun. aku tidak bisa jika melihatmu berada disisi pria lain kecuali aku, walaupun orang itu, adalah sahabatku sendiri. Ku mohon so eun” sambil mempererat genggaman tangannya pada so eun.

Akhirnya air mata so eun pun jatuh juga, seberapa kuat usaha so eun untuk menahannya tetap saja air matanya menerobos keluar. So eun menyeka air matanya dengan tangannya. Kim bum yang melihat so eun menangis langsung memeluk gadis itu dari samping.

Awalnya kim bum hanya memeluk tubuh so eun, tapi secara perlahan. kim bum, menghembuskan nafasnya ke leher jenjang milik so eun bahkan menciumi leher putih milik gadis itu. Seakan – akan sadar dengan sikap kim bum so eun pun mencoba untuk melepaskan pelukan pria yang dicintainya itu.

Tapi bukannya menghentikan aksinya kim bum malah mencengkram rahang bawah so eun dan mencium bibir kecil gadis itu dengan lembut dan lama. Awalnya so eun tidak menolak ciuman dari kim bum, tapi kim bum menjadi liar dan malah memperdalam ciumannya hingga membuat so eun semakin kesulitan untuk bernafas. So eun pun berontak dengan mendorong tubuh kim bum, dan ciuman mereka pun terlepas.

Sesaat so eun bisa menghirup oksigen untuk dia bernafas, tetapi dengan cepat kim bum mendorong tubuh so eun hingga terbaring di lantai. Dan menindih tubuh gadis itu, awalnya so eun bisa mendorng tubuh kim bum dan hendak bangun namun lagi – lagi kim bum, sangat sigap memainkan tubuhnya dan membuat tubuh so eun kembali terbaring di lantai.

“kim bum, apa yang kau lakukan. Cepat hentikan atau aku akan teriak”

Bukannya menghentikan aksinya, kim bum malah menyumpal bibir so eun dengan bibirnya. Setiap tangan so eun ingin mendorong tubuh kim bum, secepat itu pula kim bum berhasil memegang tangan so eun, dan membuat so eun tidak bisa melawan.

Ciuman kim bum kini turun, keleher so eun dan tangan kiri pria itu mencoba untuk membuka kancing kemeja yang dipakai so eun, dan tangan kanannya masih kim bum gunakan untuk mengunci tangan so eun yang terus – terusan berontak.

“kim bum kumohon jangan lakukan apapun” mohon so eun, pada pria itu. So eun tidak menyangka dengan perlakuan kim bum ini. Bagaiamana bisa seorang kim bum yang terlihat dingin, berubah menjadi buas seperti sekarang.

Kim bum pun berhasil mebuka semua kancing kemeja so eun, dan kini dada atas so eun dengan sangat jelas terlihat oleh kim bum. bahkan bra tak bertali so eun pun sangat jelas terlihat oleh kim bum. kim bum menyeringai melihat tubuh wanita yang dicintainya itu sangat menggoda matanya.

“kau benar – benar cantik so eun, pantas saja joo won menerima perjodohan itu. Betapa bodohnya aku karena tak menyadarinya sejak dulu” gumam kim bum sambil menatap tubuh atas so eun dengan intens. So eun yang mendengar ucapan kim bum itu pun benar – benar merasa takut, takut jika kim bum benar – benar melakukan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan.

Kim bum menciumi leher dan bahu so eun, bahkan kim bum mulai menciumi bagian dada so eun yang sedikit terbuka. Tangan kim bum pun tak tinggal diam. Kim bum menyingkap gaun so eun, sehingga paha putih milik so eun pun juga terekpos. Sekarang ciuman kim bum pun beralih pada paha gadis itu. Air mata so eun seakan – akan tumpah ketika menerima perlakuan kim bum yang dinilainya sangat kasar dan buas.

“kim bum, apa yang terjadi padamu. Kenapa kau bisa seperti ini” batin so eun.

Ketika kim bum masih asyik menciumi paha milik so eun. so eun pun, menggunakan kesempatan itu untuk mendorong tubuh kim bum dan melepaskan diri dari pria yang dicintainya itu. So eun pun berhasil membuat tubuhnya lepas dari kim bum.

So eun segera bangun dan berlari menuju kamarnya dan hendak menutup pintu kamarnya tapi sekali lagi usahanya kalah cepat dengan kim bum. dengan kasar kim bum memegang tangan so eun dan malah menarik kemeja yang digunakan gadis itu, dan membuangnya entah kemana.

“kim bum, kumohon jangan sakiti aku” mohon so eun sambil mencoba melepaskan cengkraman tangan kim bum. tangan so eun sangat sakit akibat cengkraman kim bum.

“aku tidak menyakitimu so eun, aku malah ingin membuatmu senang malam ini. Kenapa kau ketakutan seperti itu” jawab kim bum sambil menarik so eun dan menjatuhkan tubuh so eun, ketempat tidur yang berukuran cukup besar.

“kim bum, kumohon sadarlah. Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan yeon hee. apa kau mau melukai hatinya”

“aku tidak peduli, yang terpenting malam ini. Kau harus menjadi milikku.”

Kim bum benar – benar semakin buas sekarang. Bahkan sekarang kim bum berhasil merobek gaun tipis milik so eun. Kim bum kembali melumat bibir mungil gadis itu.

So eun benar – benar tidak bisa melawan perlakuan kim bum yang seperti ini, yang bisa dilakukan so eun saat ini hanyalah menangis dan berharap kim bum sadar.

“so eun, kenapa kau sangat menggodaku” ucap kim bum, dan kini kim bum mulai intens menciumi bagian – bagian sensitif milik so eun.

Kim bum berpikir sejenak dan menghembuskan nafasnya, dia benar – benar yakin akan melakukan hal ini. Karena hanya dengan cara inilah kim bum bisa memiliki gadis yang dicintainya. Sejenak kim bum melihat so eun yang benar – benar kelelahan dan memejamkan matanya, dengan nafas yang tersengal – sengal. Kim bum membelai pipi so eun dan mengecup lembut bibir gadis itu.

Akhirnya malam itu kim bum dan so eun melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh mereka. Karena memang mereka, belum menikah dan status so eun sekarang adalah kekasih joo won.

“kim bum, kenapa harus seperti ini”

“tenanglah so eun, hanya dengan cara inilah kita bisa bersama”

Awalnya so eun memang menolak, tapi karena rasa cintanya pada kim bum akhirnya so eun pun mengikuti keinginan kim bum. walaupun pada akhirnya dia telah menghianati joo won. Betapa jahatnya so eun kali ini.

Dengan nafas yang tersengal – sengal, kim bum memiringkan tubuhnya dan so eun tanpa melepas kontak tubuh dari keduannya. Kim bum mencium bibir so eun dengan lembut. Dan membelai gadis itu.

“kumohon jangan membenciku karena hal ini so eun. karena aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku ini.” Ucap kim bum ketika melepaskan ciumannya sambil memeluk tubuh mungil so eun

“lalu, bagaimana dengan yeon hee ataupun joo won?”

“biar aku yang mengurus itu semua, yang terpenting saat ini adalah kau dan aku saling mencintai. Dan hanya akulah orang yang seharusnya menjadi suamimu” ucap kim bum sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua dan memeluk so eun kedalam pelukannya.

Kim bum dan so eun memang saling mencintai, tapi bagaimanapun juga hal ini seharusnya tidak boleh dilakukan. Bagaimana kalau joo won sampai tau.

Mimpi itu benar – benar akan menjadi nyata, tapi apakah benar mimpi itu akan menjadi nyata. Sepertinya mimpi itu akan membuat orang lain menderita jika mimpi itu berubah jadi nyata.

***

Tok… tok… tok…

Joo won terbangun dari tidurnya, ketika mendengar suara pintu apartementnya diketuk. Ketika membuka matanya joo won masih tidak melihat kim bum disampingnya, itu berarti semalaman kim bum tidak pulang. Lalu kemana anak itu pergi, kenapa kim bum tidak mengabari joo won.

“dari mana saja kau kim bum?” ucap joo won ketika membuka pintu, dan mengira bahwa yang mengetuk pintu itu adalah kim bum.

“kemana kim bum?” yeon hee datang ke apartement kim bum, untuk menemui joo won dan ternyata joo won sedang berada di rumah. Dan sepertinya kim bum tidak ada dirumah.

“entahlah. Kenapa pagi – pagi sekali sudah kemari?”

“aku ada urusan denganmu. Apa semalam kim bum tidak pulang?” tanya yeon hee memastikan bahwa saat ini kim bum benar – benar tidak ada.

“dari kemarin aku tidak melihatnya, dan semalam dia juga tidak pulang. Dia juga tidak memberi kabar padaku. Apa kalian bertengkar?”

“kau harus membantuku, agar kim bum bisa kembali padaku lagi.” Ucap yeon hee langsung. Rasanya hanya joo won yang bisa membantu yeon hee, bersama lagi dengan kim bum.

Joo won tidak menanggapi perkataan yeon hee. joo won juga tidak kaget ketika mendengar apa yang barusan di ucapkan oleh yeon hee. joo won hanya memandang yeon hee dan tampak berfikir. Apa benar kim bum dan yeon hee sudah putus sehingga yeon hee meminta joo won untuk membantunya mengembalikan kim bum pada yeon hee.

“joo won, hanya kau lah yang bisa membantuku. Aku tidak mau kehilngan kim bum. gadis itu tidak pantas untuk kim bum.”

Joo won sedikit tersentak mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh yeon hee barusan apa maksudnya dengan tidak pantas. Memangnya hanya yeon hee yang pantas untuk kim bum. lagi pula kim bum juga tidak pantas untuk gadis sebaik “dia”.

“gadis itu sudah membuat kim bum memutuskanku. Aku harus memberi pelajaran padanya, jadi kau harus membantuku.” Ucap yeon hee lagi.

“pergi dari sini sekarang yeon hee” bentak joo won tiba – tiba. Joo won sudah tidak kuat mendengar kalimat – kalimat yang keluar dari mulut yeon hee.

“joo won, kau harus tau siapa gadis yang kumaksud itu. Gadis itu juga tidak pantas untuk….”

“kubilang pergi dari sini” bentak joo won lagi. Dan membuat yeon hee tidak bisa meneruskan kalimatnya.

mau tidak mau yeon hee pergi dari apartement joo won. Yeon hee benar – benar tidak habis pikir kenapa joo won bisa semarah itu padanya, padahal yeon hee ingin memberitahukan hal yang sangat penting. Lalu bagaimana ini, siapa lagi yang akan membantu yeon hee, apa yeon hee harus melakukan ini semua sendiri.

***

“kim bum… kau benar – benar keterlaluan” gumam joo won.

Sepertinya kekhawatiran joo won selama ini benar – benar akan terjadi. Bukankah, dari awal joo won sudah memperingatkan kim bum. tapi kenapa kim bum bisa bertindak sampai sejauh ini. bahkan kim bum, juga tidak menceritakan apapun pada joo won.

Joo won bergegas membersihkan dirinya dan bersiap pergi. Ini semua harus diselesaikan bagaimanapun cararanya. Kim bum sudah bertindak sangat jauh itu berarti joo won juga tidak boleh tinggal diam.

Joo won melajukan motornya secepat mungkin, yang ada dipikirannya saat ini hanyalah so eun. hanya so eun lah kunci dari semua permasalahan ini.

***

Kim bum terbangun dari tidurnya karena pancaran sinar matahari yang sedikit menerpa wajahnya dari balik jendela. Pelan – pelan kim bum membuka matanya, dan melihat kesebelah tubuhnya. Tidak ada so eun dimana gadis itu, pikir kim bum.

Kim bum beranjak dari tempat tidurnya dan kembali memakai pakaiannya yang terletak di kursi kamar so eun. kim bum keluar dari kamar so eun dan menemukan so eun tengah asyik menata makanan di meja. Kim bum tersenyum memandangi setiap gerak tubuh so eun. rasanya mata kim bum tak akan bosan jika melihat so eun, karena so eun memang gadis yang sangat menarik untuk diperhatikan.

“aku tidak akan pernah melepasmu. Tidak akan.” Ucap kim bum sambil memeluk tubuh so eun dari belakang.

“kau sudah bangun?”

“kenapa kau meninggalkanku, kenapa tidak menemaniku tidur sampai aku terbangun.” Ucap kim bum manja sambil tetap memeluk tubuh so eun.

“kenapa kau manja sekali, sudah jangan seperti ini. lebih baik kau mandi dan cepat sarapan.” Ucap so eun sambil melepas tubuhnya dari pelukan kim bum.

“kau perhatian sekali. Kau memang calon istri yang baik, aku tidak akan menyesal memilihmu.”

“memangnya siapa yang mau jadi istrimu, kau ini jelek jadi aku tidak mau jadi istrimu. Sudah cepat mandi sana.” goda so eun.

“baiklah, aku akan mandi. Tapi kau harus janji mau menikah denganku.” Ucap kim bum dan ingin beranjak ke kamar mandi. Namun langkah kim bum terhenti ketika mendngar suara seruan memanggil nama so eun.

“so eun… apa kau didalam”

Kim bum dan so eun tampak saling pandang. Bingung, takut dan gugup itulah yang saat ini dirasakan keduannya. Mereka berdua mengenali suara itu. Mereka berdua mengenali suara siapa yang saat ini memanggil nama so eun dari luar apartement so eun.

“so eun, cepat buka pintunya”

So eun tampak gemetar, kakinya seakan – akan tidak mau untuk digerakkan. So eun takut untuk menemui orang itu. So eun belum bisa menjelaskan apa – apa padanya.

“biar aku yang membukanya.” Ucap kim bum sambil menggerakkan badannya menuju pintu apartement so eun.

So eun memandang wajah kim bum sambil memegang tangan pria yang dicintainya itu. So eun memandang bola mata kim bum dan seakan bertanya pada pemiliknya, apa kim bum benar – benar yakin dengan apa yang akan dilakukannya itu. Apa kim bum benar – benar sudah siap menerima semua konsekuensi dari perbuatannya semalam.

“tenanglah, kau tidak usah tegang seperti itu.” Ucap kim bum mencoba menenangkan so eun. kim bum berusaha kuat padahal dirinya sendiri juga dilanda kebingungan.

Kim bum meyakinkan dirinya, dan menuju pintu lalu tangannya membuka pintu apartement so eun dan meyakinkan apakah benar orang yang datang itu adalah joo won, sahabat kim bum yang sekarang sudah menjadi kekasih so eun.

Joo woon mendengar suara kenop pintu diputar, joo won tidak sabar ingin menanyakan kejelasan semuanya pada so eun. dengan sabar joo won menunggu so eun membukakan pintu untuknya, tapi apa yang dia lihat benar – benar membuatnya tidak bisa mengontrol emosi lagi.

Joo won melihat kim bum membukakan pintu untuknya, jadi dari semalam kim bum di apartement so eun. apa yang dilakukan kim bum di apartement kekasihnya itu. Apa kim bum berniat melakukan hal – hal yang tidak seharusnya dilakukan. Joo won benar – benar sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Sudah cukup untuk joo won bersabar, ini sudah diluar kendali joo won.

Joo won segera melayangkan pukulannya kewajah kim bum dan membuat kim bum jatuh tersungkur ke lantai.

“apa yang kau lakukan disini, bodoh” teriak joo won, sambil mengepal tangannya. Rahang joo won mengeras. Hatinya benar – benar dibakar api cemburu bagaimana bisa sahabatnya itu bisa bermalam di apartement kekasihya.

joo won memandang so eun yang berdiri di belakang kim bum dan sepertinya gadis itu ingin menolong kim bum untuk bangun. Belum sampai so eun menyentuh tubuh kim bum, joo won sudah terlebih dahulu memegang lengan so eun.

“tidak perlu membantunya, dia pantas untuk dipukul.” Ucap joo won.

“joo won, ini semua salahkku. Aku bisa menjelaskan semuanya.” So eun sangat takut jika joo won akan memukul kim bum lagi.

“kenapa kau minta maaf padaku, memangnya apa yang kau lakukan.”

Pertanyaan joo won membuat jantung so eun berdebar – debar. Apa yang harus dijawabnya. Bagaimana so eun menjelaskan ini semua pada joo won.

“so eun tidak menyukaimu, dia terpaksa menjadi kekasihmu jadi lepaskan dia. Karena so eun mencintaiku.” Ucap kim bum yakin.

Joo won memandang kearah kim bum, dia begitu geram mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh kim bum. berani sekali kim bum bicara seperti itu, memangnya siapa kim bum. memangnya jika so eun mencintainya joo won bisa melepeskan so eun begitu saja.

“enak sekali kau bicara, dasar brengsek.” Bentak joo won.

Joo won memukuli kim bum berkali – kali, joo won benar – benar tidak memberikan kesempatan sekalipun untuk kim bum membalas pukulannya. Joo won benar – benar seperti orang yang kesetanan.

“joo won, sudah hentikan…” lerai so eun, so eun benar – benar tidak kuasa melihat joo won memukuli kim bum, apalagi sekarang hidung dan bibir kim bum sudah mengeluarkan darah segar.

“jo won cukup… kumohon berhenti.” Teriak so eun.

So eun mendengar teriakan so eun dan langsung melepaskan pegangan tangannya dari kerah baju kim bum. joo won memandang so eun yang saat ini sedang menangis. Joo won menghampiri so eun kemudia memeluknya, joo won tidak menghiraukan kim bum yang saat ini masih terbaring di lantai dan tidak berdaya.

Sesaat so eun membiarkan joo won memeluknya, lalu kemudia so eun mendorong tubuh joo won pelan. So eun memandang wajah joo won takut – takut.

“maafkan aku, karena telah menghianatimu. Aku tidak mencintaimu joo won.” Gumam so eun, dan hampir tak terdengar oleh siapapun.

Tapi tentu saja joo won mendengarnya, karena saat ini posisi joo won ada didepan so eun. bagaimana kata – kata itu bisa keluar dari mulut so eun.

Jadi benar yang dikatakan kim bum barusan bahwa so eun terpaksa menjadi kekasihnya, jadi benar kekhawatiran joo won selama ini kalau kim bum dan so eun benar – benar menjalin sebuah hubungan. Pikir joo won.

____ TBC _____

maaf reader jika part ini ceritanya berantakan, soalnya akhir – akhir ini lagi banyak tugas yang belum diselesaikan. dan inspirasi juga sedang buruk. tapi aku berharap masih banyak para reader yang mau menyempatkan diri untuk coment. terimakasih 🙂

Theatrical Love ( Part 2 )

Posted: 18 Februari 2013 in FF BUMSSO
Tag:

Cover

Terimakasih buat para reader yang sudah mau berkunjung di WP ini dan memberikan coment disetiap postinganku. kali ini aku bawa kelanjutan dari fanfic THEATRICAL LOVE. karena lebih banyak coment yang masuk di postingan fanfic ini sebelumnya, jadi aku putuskan buat memposting kelanjutannya…. sooo happy reading.

Cast : Kim sang bum, Kim so eun
Suppoart cast : Kim nam gil, Kim tae hee, Lee min hoo, Park jiyeon, Jung eunji.

Part 2

Kim bum pergi meninggalkan min hoo dan eun ji, dia benar – benar kesal, kenapa semua orang membuatnya kesal hari ini. pertama ayahnya, kemudian min hoo dan sekarang eun ji belum lagi gadis itu.

Kata – kata min hoo masih terngiang – ngiang di ingatan kim bum, rasanya kim bum memang teralalu berlebihan dengan so eun. kenapa kim bum membenci so eun, bukankah so eun adik kim bum. tidak seharusnya kim bum berbuat ini pada so eun.

***

“apa kau juga akan pulang bersama dengannya lagi so eun?” tanya jiyeon, pada so eun yang membereskan buku – bukunya setelah pelajaran yang mereka ikuti telah berakhir.

So eun menaikkan bahunya tanda dia tidak tahu pasti dengan jawaban atas pertanyaan dari jiyeon barusan.

“kau ini, bagaimana kalau kau pulang denganku saja.” Tawar jiyeon. So eun tampak berfikir, ada baiknya juga kalau dia pulang dengan jiyeon, dari pada harus menunggu kim bum yang belum pasti mau mengajaknya pulang bersama. Tapi bagaimana kalau nanti kim bum menunggunya.

“tidak usah jiyeon, kau pulang duluan saja.” Tolak so eun.

“kakakmu masih ada kelas, apa kau mau menunggunya. lagi pula belum tentu dia mengajakmu pulang bersama.”

“tidak apa – apa kau pulang duluan saja, kalau memang terpaksa pulang sendiri aku bisa naik angkutan umum kan.. sudah cepat pulang.”

“baiklah, aku pulang duluan so eun. hati – hati yaa.”

So eun melemparkan senyumnya pada jiyeon sambil melambaikan tangannya kearah jiyeon ketika jiyeon sudah keluar dari pintu kelasnya. sekarang apa yang akan dilakukan so eun, menunggu kim bum atau pulang duluan.

Oh jangan lagi, haruskah so eun menghampiri kim bum di kelasnya, dan bertanya apakah so eun harus menunggu kakaknya pulang untuk pulang bersama atau apa? so eun terlalu takut untuk melakukan hal semudah itu. Dia masih betah duduk di tempatnya dan berfikir apa yang harus dilakukannya sekarang. Hingga dia tak menyadari bahwa keadaan di dalam kelasnya sudah sepi.

“apa yang dilakukannya, apa dia tidak tau kalau sedari tadi aku menunggunya.” Gumam kim bum, dari luar ruang kelas so eun dan mengamati apa yang dilakukan gadis itu.

Astaga, jadi dari tadi kim bum sudah menunggu so eun, kenapa bisa. Ini bukan sikap asli kim bum, kemana kim bum yang biasanya dingin dan terkesan cuek pada sang adik. Biasanya kim bum tidak peduli pada so eun.

So eun melangkahkan kakinya keluar kelas, ketika menyadari bahwa teman – temannya sudah pulang semua sedari tadi.

“kakak, kau ada disini. Baru saja aku mau menghampirimu.” Sapa so eun pada kim bum yang sudah berada di depan kelasnya.

Kim bum sedikit kaget ketika so eun sudah berada di dekatnya apalagi menyapanya. Kapan bocah ini berjalan, bukankah tadi dia masih di dalam kelas. Kim bum, sebenarnya apa yang kau pikirkan, hingga kau tidak sadar seperti ini.

Seperti biasa kim bum tidak menjawab pertanyaan so eun, yang dia lakukan sekarang adalah berjalan ke tempat parkir mobilnya dan ingin segera pulang untuk menenangkan pikirannya.
So eun pun hanya memandang heran akan sikap sang kakak, yang sedikit berbeda ini. tapi so eun tidak begitu menghiraukannya dan memilih mengikuti langkah sang kakak dari belakang.

***

Ketika keduanya sudah sampai rumah, kim bum segera menuju kamarnya. Dia tidak menghiraukan teriakan sang ibu yang memintanya untuk makan bersama. Yang dia pikirkan sekarang ialah ingin cepat – cepat tidur dan melupakan apa yang dikatakan oleh min hoo tadi pagi.

“ada apa dengan kakakmu so eun? apa kalian bertengkar?” tanya tae hee pada anak perempuanya yang baru saja duduk di sebelahnya.

“aku tidak tau bu?”

“kenapa kau bertanya pada so eun, bukankah kim bum sudah biasa berperilaku seperti itu. Seperti baru pertama melihatnya saja.” Jawab nam gil, menanggapi pertanyaan istrinya.

Tae hee tidak yakin kalau kim bum sedang baik – baik saja, memang sikap kim bum yang seperti ini sudah sering di lihatnya, tapi tidak ada salahnya dia menanyakan pada kim bum, apa yang membuatnya selalu bersikap seperti ini. kalau tentang so eun lagi, tae hee tidak ingin masalah ini berlarut – larut. Kim bum dan so eun tidak boleh seperti ini. tidak boleh.

“kenapa tidak makan anakku, apa kau sedang sakit?” tanya tae hee setelah memasuki kamar putra pertamanya itu.

“ibu…” kim bum segera bangun dari tempat tidurnya ketika melhat sang ibu, masuk kedalam kamarnya.

“apa kau benar – benar marah pada kami, apa kau benar – benar tidak bisa menerimanya. Hingga kau membuat dirimu sendiri terluka seperti ini.”

Apa maksud tae hee, kenapa bicara seolah – olah kim bum terluka. Siapa yang terluka, jika yang ibunya maksud terbebani itu benar. Tapi kalau terluka…

“kim bum, ibu tau, kau benci dengan ayah dan ibu. Tapi ibu mohon jangan kau benci so eun, adikmu itu tidak bersalah. Coba kau pikir bagaimana dia bersikap baik padamu selama ini. apa kau masih tega bersikap, seolah – olah dia tidak ada. Dia sudah melakukan banyak hal terhadapmu.” Tutur tae hee pada anak laki – lakinya.

“ibu, apa aku benar – benar keterlaluan padanya. Sampai – sampai harus ibu sendiri yang menegurku?”

“keterlaluan atau tidak, hanya dirimu sendiri yang bisa merasakannya. Atau kalau kau mau tau lebih jelasnya lagi, coba saja tanyakan pada orang yang bersangkutan.”

“ibu boleh menyuruhku melakukan apapun sekarang. Tapi jangan suruh aku bicara padanya. Sudah cukup ibu dan ayah melakukan ini terhadapku. Sekarang ibu mau menyuruhku menanyakan hal – hal seperti ini padanya. Aku tidak mau.” Kesal kim bum. kenapa ibunya bisa menyuruh kim bum bertanya pada so eun, apa ibunya tidak tau kalau selama ini kim bum berusaha mati – matian untuk menjauhi gadis itu.

“sampai kapan kau mau begini nak. Kau tidak lihat bagaimana pengorbanan so eun selama ini. dia sudah berusaha menerima sikap dinginmu terhadapnya. Bahkan dia rela menyembunyikan status hubungannya denganmu. Dia selalu melakukan apapun yang menurutnya membuatmu senang. Jika kau berada di posisinya apa kau bisa melakukan ini semua.” Jelas tae hee.

sudah cukup sampai sini saja kim bum memperlakukan so eun seperti ini. ini semua harus di akhiri. Mau sampai kapan dua anak ini akan menjaga jarak. Kim bum harus merubah sikapnya. Kim bum harus mulai menerima so eun sekarang. Mau sampai kapan lagi, kim bum menganggap so eun tidak ada.

“cukup bu, aku tidak mau dengar apapun tentang dirinya. Aku tidak mau. Gara – gara dia masa mudaku jadi kacau dan berantakan.” teriak kim bum, yang mulai kesal dengan penjelasan sang ibu.

“kau sendiri yang membuat masa mudamu berantakan kim bum, bukan so eun.”

Tae hee, masih tetap tidak bisa melawan sikap keras dan sikap dingin kim bum. tae hee, masih tidak bisa menyuruh kim bum untuk menerima so eun. mungkin ini butuh waktu. Tapi mau sampai kapan. tae hee harus melakukan sesuatu agar kim bum menyadari kalau so eun adalah gadis yang baik dan tidak pantas untuk diperlakukan seperti ini oleh kim bum. kakaknya sendiri, bukan hanya kakak tapi lebih dari itu.

***

aku tidak mau melihatmu terluka, apa lagi sampai membuatmu merasa terbebani akan diriku. Jika memang dirimu tidak menginginkan kehadiranku kenapa dari dulu tidak bicara dan menolaknya. Kenapa hanya diam saja. ( so eun )

“kakak….” panggi so eun, ketika melihat kim bum tengah duduk termenung di teras rumahnya.

Pagi ini hari libur jadi kim bum dan so eun tidak pergi kuliah. Kim bum tengah duduk santai di teras rumahnya, entah kenapa hari ini kim bum tidak pergi. Biasanya dia tidak betah berdiam diri di rumah, mengingat ada so eun di rumah ini.

Kim bum, mendengar seruan gadis itu. Tapi seperti biasanya rasa malas menyerangnya untuk menanggapi apapun yang dilakukan oleh so eun.

“apa aku boleh duduk disini bersama denganmu?” tanya so eun, dan langsung duduk di sebelah kim bum tanpa mendapat persetujuan dari kim bum.

kim bum, tidak merespon apapun yang dilakukan oleh so eun, yang dilakukannya saat ini hanyalah berdiam diri seperti semula dan menatap lurus ke depan. Entahlah apa yang saat ini sedang ada dipikirannya.

“maafkan aku… maafkan aku…” gumam so eun.

“maafkan aku, gara – gara aku kakak jadi seperti ini. gara – gara aku, kau tidak bisa merasakan kesenangan seperti yang dialami oleh anak – anak remaja yang lainnya. Aku sungguh minta maaf, atas semua ini. kumohon jangan mendiamiku terus seperti ini.” so eun sudah tidak bisa menahannya lagi, so eun sudah tidak tahan mendapat perlakuan seperti ini dari kim bum. maka dari itu so eun memberanikan diri menyampaikan keluhannya pada kim bum.

So eun, sudah cukup sabar selama ini. apapun yang tidak diinginkan oleh kim bum, apalagi yang bersangkutan dengan so eun, sudah so eun coba untuk hindari. termasuk menyembunyikan status hubungan mereka kepada teman – temannya dan memilih melakukan sandiwara ini. walaupun tidak semua orang tau akan sandiwara mereka.

“kenapa kakak, tidak mengatakannya dari dulu. Jika kakak mengatakannya pasti aku akan menolaknya dan menyuruh mereka tidak melakukan semua ini. bagaimanapun aku tidak mau menjalani sandiwara ini lagi. aku sudah tidak sanggup menerima sikap dinginmu terhadapku. Lebih baik kita akhiri saja semua ini.” lanjut so eun, dengan air mata yang sudah membanjiri matanya.

Entah saat ini kim bum mendengar keluhan so eun ini apa tidak, yang pasti so eun sudah mengungkapkan semua yang mengganjal dalam hatinya. Jika kim bum masih punya hati pasti kim bum akan memberikan respon terhadap apa yang diucapkan so eun barusan.

Pandangan kim bum tetap lurus kedepan, tidak sekalipun dia menoleh kearah so eun. apa yang bisa dilakukan kim bum sekarang dengan keluhan yang telah diucapkan so eun. jangankan untuk memberikan jawaban pada so eun, memberikan jawaban untuk dirinya sendiri saja dia masih bingung.

Pendengaran kim bum menangkap suara tangis so eun, yang saat ini sedang duduk disebelahnya. Oh, tidak.. jangan lagi. Jangan seperti ini, jangan membuat kim bum menjadi orang yang jahat lagi. Sebenarnya kim bum tidak tega mendengar so eun menangis seperti sekarang tapi hati kim bum masih berat untuk menerima so eun.

“jangan begini… kumohon” ucap so eun disela – sela tangisnya sambil menahan tangan kim bum yang hendak beranjak dari tempat duduknya sekarang.

Kim bum melihat tangan so eun yang menggenggam pergelangan tangannya. Kemudian pandangannya beralih kearah mata so eun yang saat ini merah dan berair. Kim bum semakin tidak tega saja dengan keadaan yang seperti ini. kenapa bisa begini, bukankah biasanya so eun tidak seperti ini. kemana so eun yang ceria ketika dihadapan orang lain. Walaupun kim bum sendiri tau bahwa apa yang dilihatkan oleh so eun selama ini adalah sandiwara belaka.

“kakak, bicaralah… kumohon, bicara padaku” mohon so eun, sambil mencengkram erat tangan kim bum lebih kuat lagi, seakan – akan so eun tidak mau kim bum meninggalkannya.

Kim bum menghela nafasnya panjang, dia pandangi lagi wajah sedih so eun. hatinya belum bisa diajak untuk berkompromi. Mau berapa kali so eun memohon pun rasanya tetap sulit untuk kim bum melakukan apa yang diminta so eun. walaupun hanya sekedar mengeluarkan suaranya. Kim bum melepaskan cengkraman so eun dari tangannya dengan pelan. Sambil menggeleng. Dan pergi meninggalkan so eun.

“kakak… kenapa?” gumam so eun.

So eun tidak menyangka sikap kim bum tetap sedingin ini terhadapnya, padahal so eun sudah memohon padanya. Harus bagaimana lagi so eun berbicara dengan kim bum agar kim bum mau menerima so eun. apa kim bum benar – benar tidak akan bisa menerima so eun selamanya. Lalu bagaimana dengan janji itu. Bagaimana dengan janji yang diucapkan kim bum pada so eun. walaupun so eun tau, bahwa kim bum terpaksa mengucapkan janji itu. Tapi tidak seharusnya kim bum mengingkari janji tersebut kan.

“aaarrrrrgggghhhhhhhh…..” teriak kim bum di dalam kamarnya.

Kenapa bisa seperti ini, kenapa semuanya jadi rumit seperti ini. ini semua gara – gara so eun. andai saja so eun tidak masuk dalam kehidudan kim bum, mungkin kim bum tidak akan seperti ini. dan menjadi orang yang jahat.

Kim bum membuka laci meja, yang ada disamping tempat tidurnya dan mengambil sebuah bingkai foto yang ada di laci tersebut dan langsung membantingnya kelantai hingga membuat kacanya pecah dan berserakan dimana –mana.

“aku benci semua ini. aku benci…” teriak kim bum.

“kim bum apa yang kau lakukan?” tanya sang ayah yang saat ini sudah berada di dalam kamar kim bum dan kaget ketika melihat pecahan kaca berserakan dimana – mana. Tae hee pun juga kaget sama seperti suaminya ketika melihat keadaan kamar kim bum.

“kim bum, ada apa lagi ini?” tanya tae hee, yang benar – benar bingung dengan apa yang dilakukan oleh kim bum.

“aku benci kalian semua, aku membenci semua orang yang ada dirumah ini.” teriak kim bum. kali ini kim bum benar – benar marah. Amarah yang selama ini ditahannya akhirnya keluar juga.

“apa yang kau bicarakan. Apa maksudmu membenci kami hah?” tanya nam gil, yang mulai geram dengan sikap kim bum yang dirasanya sudah sangat keterlaluan seperti ini.

“ini semua gara – gara ayah. jika ayah tidak melakukannya, aku tidak akan tersiksa seperti ini.” jawab kim bum, dengan kerasnya.

“bocah gila, apa aku pernah mengajarimu bicara tidak sopan seperti ini. apa yang kau bicarakan hah…” bentak nam gil.

“ini semua gara – gara kalian” teriak kim bum lagi.

“berhenti berteriak pada orang tuamu kim bum.” teriak nam gil dan langsung menampar wajah kim bum. nam gil sudah tidak bisa mengendalikan emosinya. Kim bum sudah keterlaluan. Tidak seharusnya kim bum berbicara keras pada orang tuanya seperti ini.

Tae hee yang kaget melihat suaminya menampar kim bum, langsung mendekati suaminya dan mengajak nam gil pergi dari kamar kim bum agar bisa menenangkan suaminya itu. Tidak seharusnya ayah dan anak bertengkar seperti ini.

So eun yang melihat kejadian tadi dari balik pintu, hanya bisa menangis. Ini semua gara – gara so eun, tidak seharusnya so eun memaksa kim bum untuk menerimanya. Pasti kim bum tidak suka, hingga kim bum marah seperti tadi.

So eun melihat kim bum yang masih menunduk sambil memegangi pipinya, pasti sakit. Karena menurut so eun tamparan yang diterima kim bum tadi lumayan keras. So eun ingin melangkahkan kakinya mendekati kim bum. tapi so eun takut kim bum tidak menyukai hal itu. Jadi so eun putuskan untuk pergi kekamarnya.

“tidak seharusnya kau bersikap kasar seperti itu pada kim bum.” ucap tae hee, berusaha menenangkan suaminya.

“anak itu pantas untuk dipukul, dia sudah keterlaluan.”

“kim bum memang keterlaluan, tapi kau juga tidak boleh memukulnya seperti tadi.”

“lalu aku harus bagaimana? Kim bum sudah tidak bisa dinasehati dengan cara baik – baik. Anak itu sudah benar – benar keterlaluan.”

“aku yakin kim bum tidak membenci kita. Aku rasa kim bum juga tidak membenci so eun. hanya saja dia butuh waktu untuk menerima semua ini.”

“sampai kapan dia bisa menerimanya. So eun saja, bisa sabar menerima sikap dingin dari kim bum. kenapa kim bum tidak bisa.”

Yaa, seharusnya kim bum bisa menerima so eun. bukankah selama ini so eun juga bisa menerima kim bum. memangnya hanya kim bum saja yang tesiksa dengan semua ini, so eun pun juga.

Sekarang so eun berada dikamarnya. Duduk di tempat tidurnya dan memandangi dua bingkai foto yang berada disamping tempat tidurnya. Dan salah satu foto yang dipandangi so eun saat ini sama dengan foto yang dihancurkan kim bum tadi.

“aku juga tidak menginginkannya, sama sepertimu. Tapi keadaan yang memaksaku untuk menerimanya.” Gumam so eun. sambil memegangi kedua foto yang dipandanginya itu.

“jika sebelumnya kau tidak menerimanya pasti aku juga akan menolak. Aku tidak tau jika kau sangat membenciku.” Gumam so eun lagi.

Saat ini kim bum tengah berbaring ditempat tidurnya. otaknya benar – benar berpikir keras. jika saja dia tidak datang, dan jika saja janji itu tidak diucapkan pasti semua ini tidak akan jadi seperti ini. dan kim bum pun pasti tidak akan membenci so eun. so eun juga tidak perlu susah – susah untuk bersandiwara seperti sekarang. Hubungan macam apa itu adik kakak, bagaimana seorang kakak bisa selau menghindari adiknya. Benar – benar sandiwara yang sangat bodoh.

“maafkan aku so eun, harusnya aku memang tidak melakukan ini terhadapmu.” Gumam kim bum

perkataan dari min hoo kembali lagi muncul ke dalam otaknya. Rasanya memang benar, kim bum belum tentu bisa menerima sikapnya yang dingin seperti ini jika kim bum berada di posisi so eun.

Harusnya kim bum memang, harus lebih mengerti, kalau semua ini bukan salah so eun. bukan so eun yang membuat hidup kim bum berantakan tapi kim bum sendiri. Bukankah ibunya sudah mengatakan kalau so eun itu gadis yang baik. Bahkan kim bum sendiri juga sudah melihatnya kan. Lalu sekarang kim bum harus bagaimana.

Mungkin pergi dari kehidupanmu adalah jalan yang terbaik untuk kita berdua. Tapi bagaimana dengan janji itu. Apa kita harus memutuskan ikatan janji itu. ( so eun )

….. tbc…..

maaf jika part ini ceritanya tidak terlalu panjang, karena aku memang sengaja ingin membuat inti cerita di part 3. jadi aku berharap banyak coment di part ini agar aku tambah semangat melanjutkan part 3’nya. jika coment yang muncul di part ini kurang dari 10, kemungkinan untuk melanjutkannya juga agak lama. jadi mohon comentnya yaa chingu…

My First Love

Posted: 1 Februari 2013 in FF SEOKYU
Tag:

Cover

karena ujian kuliah udah kelar dan belum ada kerjaan lain apalagi ditambah inspirasi yang datang secara berlebihan jadinya bikin fanfic baru. maaf jika fanfic yang ini cast’nya bukan BUMSSO, melainkan SEOKYU. karena selain shiper dari BUMSSO COUPLE aku juga shiper dari SEOKYU COUPLE. tapi tetap saja Couple utamaku adalah BUMSSO. Jadi buat yang tidak suka dengan SEOKYU COUPLE, NO BASH yaa… mohon pengertiannya untuk semua reader. fanfic ini juga terinspirasi dari movie korea, tapi ada banyak perubahan di dalam ceritanya. sekali lagi NO BASH Terimakasih. 🙂

Cast : kyuhyun, seohyun, changmin
Support cast : sehun, sooyoung, Luna
Genre : sad, romance, friendship

Seorang gadis berseragam SMA tengah berjalan santai sendirian, sambil memegangi tali dari tas bahunya. Tapi tiba – tiba ada sekelompok pria dari belakang yang tengah berlari, menuju arah gadis itu. Dan salah satu dari mereka menabrak bahu gadis itu hingga sang gadis jatuh tersungkur.

Bukannya membantu, sekelompok pria itu malah mentertawakannya, dan meninggalkan sang gadis. Gadis itu segera berlari dan mengejar pria yang telah menabraknya tadi.

“hei, apa kau tidak punya sopan santun?” teriak gadis itu, sambil mendorong tubuh pria yang menabraknya tadi. Dan teman – teman pria itu hanya mentertawakan.

“lain kali, bersikap sopanlah pada wanita. Dasar bocah bodoh” umpat gadis itu lagi, sambil berjalan pergi meninggalkan sekelompok pria tadi.

***

Seohyun menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, dia sangat kesal pada kelakuan pria – pria tadi. Kenapa seohyun harus bertemu dengan orang – orang yang menyebalkan seperti mereka.

“kakak, kenapa tidak makan. Ibu sudah menunggumu dari tadi” ucap sehun, adik laki – laki dari seohyun yang tiba – tiba masuk ke kamar sang kakak.

“baiklah, aku akan makan” seohyun pun mengikuti adiknya keluar dari kamar dan makan bersama dengan adik dan ibunya.

“ibu, bolehkah aku minta uang lagi? Uang yang kau berikan tempo hari telah habis” rengek sehun pada ibunya. Ibu sehun tidak mendengarkan permintaannya dan malah asyik melanjutkan makan.

“ibu, ayolah.”

“kenapa kau selalu minta uang, memangnya uang itu jatuh dari langit. Apa kau tidak bisa berhemat seperti kakakmu”

“kenapa ibu selalu membandingkanku dengan kakak. Ibu sungguh tidak adil”kesal sehun, sambil berlari menuju ke atap rumahnya. Ibu hanya menghela nafas ketika melihat tingkah putra keduannya itu.

“biar aku yang bicara pada sehun bu, ibu tidak usah mencemaskannya.” Ucap seohyun, dan menyusul adiknya.

***

Seohyun telah sampai di atap rumahnya, dan melihat sehun sedang asyik merokok. Dengan sigap seohyun menampik tangan sehun yang sedang memegang batang rokok, dan rokok itu pun terjatuh.

“kakak apa yang kau lakukan?”

“harusnya aku yang bertanya seperti itu, kau itu masih kelas 1 SMA kenapa sudah merokok” bentak seohyun pada adiknya, sambil memukul kepala sang adik.

“kakak, kenapa memukulku?”

“kau memang pantas untuk dipukul” ucap seohyun dan masih terus memukuli sehun. Tanpa disadari oleh keduannya, ada beberapa orang yang telah melihat pertengkaran mereka berdua. Dari atap rumah sebelah.

“oh, maaf sudah membuat anda terganggu” ucap seohyun ketika melihat seorang wanita yang berusia sama seperti ibunya tengah tersenyum melihat tingkah seohyun dan sehun tadi.

Wanita itu hanya tersenyum, sambil menganggukan kepalanya. Tanda dia tidak terganggu dengan apa yang dilakukan oleh seohyun dan sehun.

“kurasa aku baru melihat anda?”

“iya, aku dan anak – anakku baru pindah kemari dua hari yang lalu” ucap wanita itu sambil menoleh kearah anaknya – anaknya. Satu wanita dan satu pria.

Seohyun mengikuti arah pandang wanita itu dan melihat pria yang ada di belakangnya. Dan betapa kesalnya seohyun ketika mengetahui bahwa salah satu anak wanita itu adalah pria yang telah menabraknya tadi, setelah pulang sekolah.

Berbeda dengan seohyun, sehun malah terpana ketika melihat anak gadis dari bibi itu, hingga membuat sehun senyum – senyum tak jelas. Seohyun yang melihat tingkah sang adik langsung menarik sang adik untuk pergi, sebelumnya seohyun membungkukkan badannya pada bibi sebelah rumahnya itu.

***

Seohyun melihat jam di dindingnya telah menunjukkan angka 6 sore, itu berarti dia harus cepat – cepat keluar dari rumah dan pergi ke toko untuk kerja. Dengan mengendap – endap seohyun berjalan menuju atap rumahnya dan hendak menuruni tangga untuk turun. seohyun memang tak keluar dari pintu depan, karena jika orang tuannya tau seohyun kerja part time, maka ayahnya pasti akan menghajarnya.

ketika seohyun hendak menuruni tangga untuk turun, seseorang malah berteriak dan itu membuat seohyun terpaksa menghentikan aksinya dan melihat siapa orang tersebut.

“paman… paman…paman..”

“hei, kenapa kau berteriak? Kau bisa membuat ayahku kemari” ucap seohyun kesal bercampur takut.

Orang yang berteriak itu adalah tetangga baru seohyun, pria yang telah menabrak seohyun tadi siang. pria itu tersenyum ketika melihat seohyun yang kesal padanya. Seohyun kembali melangkahkan kakinya untuk menuruni tangga, tapi lagi – lagi pria itu berteriak.

“paman…” dengan cepat seohyun memotong teriakan orang itu dan menghentikan aksinya lagi

“sebenarnya apa yang kau inginkan?”

“aku tidak ingin apa – apa, aku hanya ingin memberi tau ayahmu jika anaknya mencoba untuk kabur dari rumah” ucap pria itu sambil tersenyum menggoda seohyun

“tadi siang kau menabraku, sekarang kau mengganggu urusanku. Apa kau senang mengganggu hidup orang lain” bentak seohyun

“kenapa kau berteriak, kau tidak takut jika ayahmu keluar dan mengetahui apa yang akan kau lakukan” ucap pria itu menggoda seohyun.

Seohyun benar – benar dibuat kesal oleh pria itu. Rasanya seohyun ingin memukul pria itu dengan jurus karatenya hingga membuat pria itu diam dan tak mengganggu seohyun lagi. Seohyun melihat jam tangannya, jika seohyun terus bertengkar dengan pria ini, seohyun bisa terlambat bekerja.

“baiklah, apa yang kau inginkan sekarang? Cepat katakan agar aku bisa cepat – cepat pergi, aku sudah hampir terlambat”

“harusnya kau ucapkan pertanyaan itu dari tadi. Kalau begitu besok tunggu aku di tempat tadi siang kita bertemu, dan kau harus melakukan apa yang aku perintahkan” ucap pria itu tersenyum penuh arti dan masuk kerumahnya meninggalkan seohyun yang masih kesal dengannya.

***

Seohyun berdiri di tempat yang telah ditentukan oleh pria kemarin. Sebenarnya seohyun tidak ingin datang, tapi seohyun takut jika pria itu mengadu pada orang tuanya tentang kejadian semalam. Tidak terlalu lama seohyun menunggu pria itu pun datang juga.

“aku kira kau tidak akan datang”

“aku datang, karena aku ini tidak pernah ingkar janji. Dasar pria bodoh”

“hei, aku punya nama. Namaku changmin, bukan pria bodoh. Dasar gadis aneh”

“seohyun, namaku seohyun bukan gadis aneh. Aish lebih baik aku pergi saja” ucap seohyun sambil berjalan meninggalkan changmin.

“hei, kau harus mengikuti semua perintahku” ucap changmin sambil menarik tangan seohyun dan memberikan gitarnya pada gadis itu.

“bawa gitarku, dan ikut aku ke tempat latihanku. Kau harus mengikuti semua perintahku, atau aku akan melaporkanmu pada orang tuamu. Mengerti” ucap changmin lagi sambil berjalan mendahului seohyun. Seohyun pun mendengus kesal dengan tingkah changmin dan mengikuti langkah changmin dari belakang.

***

Changmin dan seohyun sudah sampai di depan tempat latihan changmin. Seohyun dan changmin menghentikan langkahnya.

“sini, biar aku saja yang bawa” ucap changmin mengambil gitarnya yang telah dibawa oleh seohyun tadi. Changmin menarik tangan seohyun untuk mengikutinya masuk kedalam tempat latihannya.

“hei semua, aku datang” teriak changmin ketika membuka pintu dan masuk ke dalam tempat latihannya.

Seohyun menarik tangannya dari pegangan changmin dan membungkukkan badanya pada dua orang wanita yang ada di ruangan itu. Tak lupa seohyun melemparkan senyumnya pada teman – teman changmin.

“siapa dia?” tanya kedua wanita teman changmin itu bersamaan.

“owh, dia teman baruku. Namanya seohyun. Seohyun kenalkan mereka teman – temanku. Yang berdiri di belakang piano itu namanya sooyoung, sedangkan yang duduk di belakang drum itu namanya yuri” ucap changmin memperkenalkan seohyun pada teman – temannya.

“senang bertemu denganmu seohyun” ucap yuri, dan di balas senyuman oleh seohyun.”

“hei kau, kenapa diam di situ. Ayo kita mulai latihannya” ucap changmin pada seorang pria yang sedari tadi tengah duduk di sudut ruangan itu. Seohyun pun mengikuti arah pandang changmin dan melihat orang yang diajak bicara changmin kini.

Seohyun tidak bisa melihat wajah teman changmin, karena pria itu membelakanginya. Pria itu berdiri dan menghadap kearah seohyun dan juga changmin sekarang.

Seohyun membelalakan matanya ketika melihat pria tersebut. Seohyun segera berlari keluar, meninggalkan tempat latihan changmin tanpa berpamitan pada changmin atau teman – temannya.

“kenapa dengan bocah itu” ucap changmin yang bingung melihat seohyun pergi

“entahlah, ayo kita mulai saja latihannya” ucap teman pria changmin itu dingin, sambil berjalan menuju tempat yuri dan sooyoung. Dan mereka berempat pun memulai latihannya.

***

seohyun baru saja sampai di rumah dan selesai mengganti seragamnya dengan baju santainya, setibanya dia dari sekolah. Hari ini seohyun ingin istirahat, supaya nanti badannya bisa segar ketika bekerja.

“seo, bisa kau tolong ibu untuk mengantarkan piring ini pada tetangga baru kita.” Ucap ibu seohyun, yang dengan tiba – tiba masuk ke dalam kamar seohyun.

“ibu kenapa harus aku, kenapa bukan sehun saja”

“seo, sehun sedang pergi. lagi pula apa salahnya jika kau yang mengantarnya. Sudah sana cepat antarkan” ucap ibu seohyun dan langsung pergi meninggalkan seohyun.

Dengan langkah yang malas dan dipaksakan seohyun pun menuruti perintah sang ibu untuk mengantarkan piring itu ke rumah tetangga barunya, yaitu keluarga changmin.

Seohyun mengetuk pintu rumah changmin berkali – kali, tapi tidak ada seorang pun yang membukakan pintu untuknya. seohyun mencoba untuk membuka pintu rumah itu, dan ternyata pintunya tidak terkunci. Seohyun pun masuk kedalam rumah keluarga changmin.

“permisi. Bibi aku ingin mengembalikan piring” ucap seohyun, namun tidak ada sahutan dari sang pemilik rumah. Seohyun meletakkan piring itu di meja, dan berniat untuk pulang.

“sepertinya tidak ada orang” langkah seohyun pun terhenti ketika dia mendengar bunyi petikan gitar, dari lantai dua rumah itu. Karena penasaran seohyun pun menaiki tangga dan mencari sumber suara itu.

Seohyun melihat sebuah pintu kamar yang terbuka, dan mencoba untuk mendekati pintu itu dan melihat siapa yang sedang memainkan gitar. Dan ternyata changmin lah yang sedang bermain gitar, seohyun melihat changmin begitu asyik bermain dengan gitarnya.

“apa yang kau lakukan di rumahku?” ucap changmin, ketika menyadari bahwa sedari tadi seohyun telah memperhatikannya.

“aku hanya mengembalikan piring. Lagi pula permainan gitarmu itu benar – benar tidak bagus” ucap seohyun sambil beranjak dari tempatnya berdiri.

“kenapa kemarin kau pergi begitu saja, apa ada masalah?”

“owh yang kemarin itu… aku.. aku… ada urusan, maaf sudah pergi tanpa pamit padamu” ucap seohyun dengan gugupnya,

“jadi begitu, kemarilah” perintah changmin. Seohyun pun masuk ke dalam kamar changmin, dan melihat – lihat isi kamar changmin. Di dalam kamar changmin banyak sekali kumpulan kaset – kaset lagu.

“apa ini semua milikmu?”

“tentu saja, gadis – gadis di sekolahku yang membelikannya”

“kau pasti sangat populer”

“tentu saja” ketika keduanya tengah asyik ngobrol, ponsel seohyun pun berbunyi. Seohyun melihat ponselnya dan membaca sebuah pesan singkat yang masuk dalam ponselnya.

“changmin, aku harus pergi ada seseorang yang ingin bertemu denganku” ucap seohyun sambil berjalan meninggalkan changmin.

“besok kau harus ikut aku ke tempat latihan lagi” teriak changmin pada seohyun yang sudah keluar dari kamarnya. Changmin tersenyum memandang kepergian seohyun.

***

Seohyun telah sampai di suatu warung pinggir jalan, yang terkesan kumuh. Seohyun masuk ke dalam warung itu dan melihat seorang pria tengah duduk di salah satu bangku di dalam warung itu. Seohyun mendekati pria, yang sedang duduk di depannya.

“kenapa kau menyuruhku datang ke tempat ini?” tanya seohyun pada pria yang saat ini sedang duduk dengan angkuhnya

“jangan pedulikan changmin dan jauhi dia. Aku tidak mau kau menghancurkannya” ucap pria itu dengan nada bicaranya yang dingin

“memangnya apa yang akan kulakukan padanya? Kenapa pikiranmu picik sekali kyuhyun” bentak seohyun pada pria yang dipanggilnya kyuhyun.

“kau tau, dia adalah sahabatku. Sahabat yang selalu ada disaat aku terpuruk menghadapi masalah yang menimpaku beberapa tahun yang lalu. Masalah yang membuatku hampir gila.”

Seohyun hanya diam mendengar perkataan kyuhyun itu.
“kuperingatkan sekali lagi, jauhi changmin atau aku tidak akan membuat hidupmu bahagia” ucap kyuhyun lagi sambil beranjak dari tempat duduknya.

Kyuhyun melangkahkan kakinya untuk pergi dan menabrak bahu seohyun. Seohyun hanya bisa diam dengan sifat dingin kyuhyun. Ternyata kyuhyun masih sangat membenci seohyun. Entah sampai kapan kyuhyun akan membenci gadis ini, padahal kyuhyun adalah cinta pertama seohyun, dan sampai saat ini seohyun masih menganggap kyuhyun sebagai sahabatnya.

***

Hari ini seohyun kembali mengikuti changmin ke tempat latihannya. Sebenarnya seohyun enggan untuk ikut, tapi changmin tetap memaksanya, jadi seohyun terpaksa mengikuti keinginan pria itu. Apalagi changmin selalu mengancam seohyun, dengan melaporkan pada orang tua seohyun kalau putrinya selalu keluar di malam hari tanpa sepengetahuan mereka.

Seohyun dan changmin sudah sampai di tempat latihan band. Dan disaat yang bersamaan datanglah kyuhyun yang merupakan sahabat dekat changmin dan cinta pertama seohyun yang sekarang menganggap seohyun musuh.

“kyuhyun, kau baru datang juga?” tanya changmin yang melihat kyuhyun juga baru datang. Kyuhyun hanya menganggukan kepalanya, dan tersenyum pada changmin.

“bocah ini masih saja dingin seperti dulu” batin seohyun yang melihat kyuhyun.

“kyuhyun kenalkan ini seohyun, bukankah kemarin kalian tidak sempat berkenalan”

“sudahlah changmin aku pulang saja, ini gitarmu” ketus seohyun memberikan gitar changmin pada pemiliknya dan ingin pergi tapi seohyun mengurungkan niatnya ketika mendengar suara kyuhyun.

“senang bertemu denganmu seohyun. Changmin aku masuk dulu ya” ucap kyuhyun sambil masuk ke ruangan latihan.

“lain kali jangan mengancamku dan menyuruhku untuk mengikuti semua perintahmu. Aku tidak suka denganmu, pria bodoh” teriak seohyun dan pergi meninggalkan changmin.

“dasar gadis aneh” gumam changmin, dan hendak masuk ke ruang latihannya.

“kau mau kemana kyuhyun” ucap changmin yang melihat kyuhyun keluar dari ruang latihan.

“aku ada urusan sebentar, mulailah dulu aku akan segera kembali.”

“mau kutemani?”

“tidak perlu”

Kyuhyun berlari untuk mengejar seohyun, namun dirinya telah kehilangan jejak seohyun karena kyuhyun sudah tidak melihat seohyun lagi. Kyuhyun pun kembali ketempat latihannya dengan kesal karena tidak berhasil mengejar gadis itu.

***

Di lain tempat ketika seohyun berjalan pulang menuju rumahnya, tiba – tiba saja ada sekelompok pria yang usianya sebaya dengannya tengah menghadang seohyun. Seohyun tidak merasa takut dengan sekelompok pria itu dan masih tetap berjalan melewati mereka.

Ketika seohyun sedang berjalan, salah seorang dari pria itu menjegal kaki seohyun hingga seohyun terjatuh dan membuat bibir seohyun berdarah.

“rasakan itu. Itu balasan karena kau telah membuat teman kita marah” ucap salah satu diantara mereka. Dan di ikuti tawa teman – temannya.

Seohyun pun bangkit dan kembali berjalan sambil menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Seohyun tidak marah atau pun membalas perbuatan mereka karena seohyun tau siapa yang menyuruh mereka melakukan hal itu padanya.

***

Seohyun sampai di rumahnya, seperti biasa dia langsung menuju kamarnya dan dengan segera mengobati luka yang ada di sudut bibirnya akibat perbuatan orang – orang tadi.

“sampai kapan kau akan diam dengan perbuatan bocah itu?” ucap sehun yang tiba – tiba masuk ke dalam kamar seohyun.

Seohyun hanya diam saja, mendengar perkataan sang adik. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Seohyun tidak ingin jika sehun ikut campur dengan urusannya, apalagi urusan yang menyangkut masa lalunya dengan cinta pertamanya.

“kak, apa kau mau terus – terusan disiksa oleh bocah setan itu? Dia sudah keterlaluan. Bisa – bisa kau mati di siksa olehnya. Apa kau mau aku yang membunuhnya, agar dia berhenti menyiksamu”

“cukup sehun. Kau tidak usah mengurusi masalahku, ini semua tidak ada hubungannya dengan bocah itu”

“terserah saja, yang pasti aku tidak akan tinggal diam melihat bocah setan itu membuatmu hampir mati lagi” bentak sehun pada sang kakak, dan berjalan keluar dari kamar seohyun dengan menahan amarahnya.

Seohyun hanya bisa menangis dengan perkataan sehun barusan. Memang benar apa yang dikatakan sehun. Perlakuan teman – teman kyuhyun pada diri seohyun memang sudah sangat keterlaluan. Sebegitu bencinya kah kyuhyun pada seohyun sehingga pria itu tega menyakitinya.

“apa kau tidak bisa memaafkannku kyuhyun?” tanya seohyun pada dirinya sendiri.

Seohyun menghapus airmata yang sedikit mengembang di pelupuk matanya. Seohyun berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang tv tempat dimana sang adik biasa santai sepulang sekolah. Seohyun harus minta maaf pada sehun. Tidak seharusnya seohyun marah pada sehun.
Seohyun melihat ruang tv itu kosong, tidak ada siapapun disitu.
Seohyun menuju kamar sehun dan ternyata kosong juga, di atap rumah pun seohyun juga tidak menemui sang adik. Seohyun berpikir apa sehun benar – benar marah padanya sehingga sehun menghindarinya.
Seohyun menuju dapur dan menemui sang ibu yang sedang asyik memasak.

“ibu, dimana sehun? Kenapa aku tidak melihatnya.”

“tadi dia keluar, katanya ingin menyelesaikan masalahmu. Memangnya kamu ada masalah apa seo?” tanya ibu seohyun penasaran.

“ibu aku harus menyusul sehun” ucap seohyun sambil berlari keluar rumah dan menyusul sehun. Seohyun tidak mempedulikan teriakan ibunya yang meminta penjelasan atas masalahnya.

Yang terpenting saat ini adalah, seohyun harus segera menyusul sehun dan mencegah sehun melakukan perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan. Seohyun berpikir, pasti sehun akan menghajar kyuhyun karena perbuatan teman – teman kyuhyun yang telah melukai seohyun.

Seharusnya seohyun tidak usah khawatir pada sehun, karena sehun jago berkelahi. Tapi kali ini sehun berniat menghajar kyuhyun. Sehun bisa mati dihajar kyuhyun, jika sehun membuat kyuhyun marah karena keahlian bela diri kyuhyun jauh diatas sehun.

***

Seohyun telah sampai di atap gedung tempat dimana dulu seohyun dan kyuhyun sering menghabiskan waktu untuk bermain bersama. Entahlah kenapa seohyun berpikir bahwa sehun dan kyuhyun ada disana, tapi seohyun yakin kalau mereka berdua pasti ada disitu.

Dan ternyata benar, sehun dan kyuhyun ada disitu sekarang. Tapi apa yang dipikirkan seohyun ternyata salah. Yang dilihat seohyun saat ini ternyata berbeda dengan apa yang dipikirkannya. Bukan sehun yang babak belur, melainkan kyuhyun. Sehun tidak henti – hentinya memukuli kyuhyun.

Wajah kyuhyun dipenuhi dengan luka – luka atas pukulan dari sehun, darah segar mengalir dari hidung dan mulut pria itu. Sehun mencengkram kerah baju kyuhyun dan hendak memukul kyuhyun yang sudah tidak berdaya itu.

“sehun, hentikan” teriak seohyun yang melihat sehun hendak memukul kyuhyun lagi.

Sehun dan kyuhyun menoleh kearah seohyun, yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat sehun dan kyuhyun berkelahi.

“kenapa kau masih membelanya, pria setan ini pantas untuk dihajar” bentak sehun, dan kembali melayangkan sebuah pukulan kewajah
kyuhyun, dan menyebabkan kyuhyun jatuh tersungkur. Kyuhyun benar – benar tidak membalas perlakuan sehun padanya.

“sehun hentikan, aku bilang hentikan” teriak seohyun sambil mendorong tubuh sang adik, agar berhenti memukul kyuhyun.

“biarkan aku menghajarnya sampai mati, dia pantas mendapatkan pukulan itu. Bukankah dia sudah melukaimu, jadi untuk apa kau membelanya.” Teriak sehun

“cukup, aku bilang cukup sehun. Kau tidak perlu menghajarnya, aku yang menghajar pria ini karena memang masalah dia ada padaku. Kau tidak berhak ikut campur”

“kau benar – benar bodoh, karena selalu membiarkan pria setan ini melukaimu” teriak sehun lagi sambil menendang perut kyuhyun dan pergi meninggalkan seohyun dan kyuhyun.

Seohyun benar – benar tidak tega melihat keadaan kyuhyun yang tengah terkapar tak berdaya. Kenapa kyuhyun tidak membalas perlakuan sehun, kenapa kyuhyun hanya diam saja menerima pukulan – pukulan sehun tadi. Apa kekuatan bela diri kyuhyun sudah hilang, atau kyuhyun sengaja mengalah pada sehun.

Seohyun melihat kyuhyun kesulitan untuk mencoba berdiri. Dengan cepat – cepat seohyun membantu kyuhyun untuk berdiri, tapi tangan seohyun di tepis oleh kyuhyun.

“tidak perlu bersikap baik padaku. Ini semua gara – gara dirimu” ucap kyuhyun sambil berusaha berdiri walaupun dengan susah payah.

“kenapa kau masih membenciku kyuhyun. Tidak bisakah kau melupakan semuanya.” Mohon seohyun sambil menangis di belakang kyuhyun

“bagaimana aku bisa melupakannya. Bagaimana aku bisa melupakan kejadian itu, kau telah membuat ayahku masuk penjara dan menyebabkan ibuku masuk rumah sakit gara – gara memikirkan ayahku. Bagaimana bisa kau menyuruhku melupakannya. Apa kau tidak tau bagaimana menderitanya aku?” teriak kyuhyun dengan geramnya. Kyuhyun benar – benar marah sekarang.

“menabrak orang lalu kabur. Jika kau jadi aku apa kau akan tinggal diam melihat kejadian seperti itu. Lagi pula aku benar – benar tidak tau jika orang itu adalah ayahmu.” Teriak seohyun tak kalah kerasnya.

“menyangkal lagi. Sampai kapan kau akan terus menyangkal kesalahanmu. Aku benar – benar membencimu. Dan aku peringatkan sekali lagi jauhi changmin dan jangan pernah mengganggu kehidupanku.” Ucap kyuhyun dan meninggalkan seohyun yang saat ini benar – benar sedih atas ucapannya.

Kyuhyun sendiri pasti tau jika saat ini seohyun benar – benar sedih atas ucapanya, kyuhyun sendiri sebenarnya tidak tega jika harus menyakiti seohyun terus – menerus. Tapi rasa sakit hati kyuhyun pada seohyun lebih besar saat ini.

Seohyun hanya bisa memandangi punggung kyuhyun yang mulai menjauh dari pandangan matanya. Ternyata kyuhyun benar – benar membencinya dan rasanya sangat sulit untuk pria itu memaafkannya.

Bayangan – bayangan kejadian masa lalu yang menyebabkan kyuhyun membenci dirinya kembali berputar – putar di otak seohyun.

Flashback

Saat itu seohyun sedang jalan – jalan bersama dengan teman – temannya. Ketika seohyun dan teman – teman hendak menunggu bus untuk pulang, seohyun melihat sebuah mobil menabrak seorang anak kecil yang sedang menyebrang jalan.
Seohyun buru – buru menghentikan mobil orang itu dan berhasil. Seohyun buru – buru melaporkan orang itu ke kantor polisi terdekat.
Seohyun dimintai keterangan oleh polisi itu dan menjadi saksi atas kecelakaan tersebut. Dan betapa terkejutnya seohyun ketika mengetahui bahwa orang yang menabrak tadi adalah ayah dari kyuhyun.
Kyuhyun adalah sahabat seohyun di SMP. Bahkan kyuhyun adalah cinta pertamanya. Saat itu seohyun benar – benar tidak mengetahui kalau orang yang menabrak tersebut adalah ayah kyuhyun.
Seohyun melihat ibu kyuhyun menangis dipelukan kyuhyun ketika mengetahui kalau ayah kyuhyun akan dimasukkan ke dalam penjara. Dan saat itulah kyuhyun mulai membenci seohyun.

End of flashback.

“maafkan aku kyuhyun” gumam seohyun.

Dengan langkah semoyongan kyuhyun menuruni tangga atap gedung itu. Dan dari arah depan teman – teman kyuhyun menghampirinya dan menanyakan keadaan kyuhyun.

“astaga apa kita sudah terlambat. Kenapa kau tidak segera menghubungi kita?” tanya salah seorang teman kyuhyun sambil membantu kyuhyun untuk berjalan.

“apa kau tidak membalas perbuatan bocah itu? Apa kau mau kita memberi pelajaran pada gadis itu lagi?” tanya teman kyuhyun yang satunya lagi.

“berhenti mengganggu gadis itu atau kalian yang akan kubunuh. Bukankah aku tidak pernah menyuruh kalian melakukan itu padanya” bentak kyuhyun pada teman – temanya itu.

“tapi kita ingin membalaskan dendammu kyu”

“aku bisa menyelesaikannya sendiri. Jadi berhenti mengganggunya jika kalian tidak ingin kubunuh satu persatu.” Ucap kyuhyun dan pergi meninggalkan teman – temannya yang mulai bingung dengan sikap kyuhyun.

Kenapa kyuhyun jadi peduli pada seohyun. Bukankah sebelumnya kyuhyun tidak peduli jika teman- temannya melukai seohyun. Sebenarnya ada apa dengan kyuhyun saat ini.

***

Dengan langkah gontai seohyun berjalan menuju rumahnya, hari ini hatinya benar – benar sakit. Orang yang selama ini dicintainya benar – benar membencinya dan menganggap seohyun sebagai musuh. Tubuh seohyun terguyur air hujan, walaupun saat ini badan seohyun basah kuyup, tapi rasa dingin itu masih kalah dengan rasa sakit hatinya.
Seohyun melihat seseorang menghadang jalannya sambil membawa payung. Seohyun tidak bisa melihat wajah orang itu karena tertutup oleh payung.

Seohyun menyingkirkan payung yang dipegang oleh orang itu dan melihat changmin tengah tersenyum pada seohyun.

“kenapa hujan – hujanan apa tidak takut sakit?” tanya changmin

“aku tidak akan sakit, karena aku adalah gadis yang kuat. Kau tau saat aku sakit pun aku tidak pernah menangis.”

“benarkah?” tanya changmin tidak percaya pada ucapan seohyun.

“tentu saja, karena dia selalu menghiburku disaat aku sedih ataupun sakit” jawab seohyun dengan bangganya.

“siapa dia?” tanya changmin penasaran dengan cerita seohyun.
Seohyun tidak bisa menjawab pertanyaan changmin. Seohyun tidak bisa mengatakan pada changmin dia yang dimaksud seohyun itu adalah kyuhyun sahabat changmin sekaligus cinta pertama seohyun yang sekarang sangat membenci seohyun.

“bagaimana kalau aku bisa membuatmu menangis?”tanya changmin lagi, karena melihat seohyun bengong dan tidak menjawab pertanyaanya.

“kau tidak akan bisa membuatku menangis”

“tentu saja aku bisa. Hanya membuat seorang gadis aneh sepertimu menangis apa susahnya. Ini pakailah” ucap changmin sambil menyerahkan payungnya pada seohyun dan berjalan pergi meninggalkan seohyun. Changmin berlari dan hampir saja dia terpleset, tapi untungnya tidak jadi. Seohyun hanya bisa tertawa melihat tingkah konyol changmin.

“dasar pria bodoh, kenapa kau selalu bisa membuatku tertawa akhir – akhir ini” gumam seohyun sambil berjalan menuju rumahnya.

*** TBC ***

Theatrical Love

Posted: 1 Februari 2013 in FF BUMSSO
Tag:

Cover

aku bawa fanfic dengan judul baru chingu, karena fanfic pertamaku sudah mau berakhir jadi aku buat fanfic baru lagi. fanfic ini terilhami dari kisah nyata chingu. jadi kalau misalnya ceritanya tidak sesuai dengan keinginan para reader aku mohon maaf. jika banyak yang suka dengan fanfic baruku ini aku bakalan lanjutkan ceritanya, tapi jika tidak ya terpaksa aku hentikan. happy reading.. 🙂

Cast : Kim Sang Bum, Kim So Eun
Support Cast : Kim Nam Gil, Kim Tae Hee, Lee Min Hoo, Park Jiyeon, Jung Eun Ji

Sebenarnya aku tak ingin membencinya. tapi karena dia aku tidak bisa mendapatkan kebebasan seperti halnya anak – anak yang lain. Apa aku harus selalu menjaganya? Itu janji mereka bukan janjiku, kenapa harus aku yang menanggung semuanya. ( Kim Bum )

***

Sepasang suami istri sedang duduk berdua di teras rumahnya sambil melihat tanaman – tanaman hias yang di tanam di samping rumahnya. Matahari sudah hampir tenggelam, mengisyaratkan bahwa sebentar lagi langit akan berubah gelap. Sang suami meraih cangkir kopi yang ada di atas meja disebelahnya kemudian meneguk kopi itu. Sesekali sang istri menghela nafas panjang.

“dia sudah beranjak menjadi gadis dewasa sekarang” gumam sang istri, melepas kesunyian yang sedari tadi mencekam keduanya. Sang suami pun hanya bisa menghela nafas panjang seperti yang dilakukan sang istri sebelumnya.

Seorang gadis membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalam. Dia sudah hafal betul bila orang tuanya itu pasti tidak akan pernah mengunci pintu jika dia dan kakaknya belum pulang.

“ibu dan ayah disini” ucap gadis itu, ketika melihat ayah dan ibunya sedang bersantai di teras rumahnya. Kedua orang tua itu pun menoleh ketika mendengar suara sang putri.

“kau sudah pulang sayang, kau mau makan apa biar ibu buatkan?”

“apapun yang ibu buatkan untukku, aku akan memakanya dengan senang hati” ucap gadis itu sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang menambah kecantikan di wajahnya. Sang ibu hanya bisa membelai lembut rambut putrinya sambil berjalan meninggalkan suami dan anaknya.

“apa kau pulang sendiri lagi?” tanya kim nam gil pada anak perempuannya itu. Yang di tanya bukannya menjawab malah menundukkan kepalanya.

“anak itu benar – benar keterlaluan, kenapa selalu membiarkanmu pulang sendiri.”

***

Di sebuah club seorang pria tengah meneguk segelas minuman beralkohol, sambil menikmati alunan musik yang berdentum keras di penjuru ruangan. Hari ini dia ingin menyenangkan hatinya terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah yang dianggapnya lebih mirip seperti penjara.

“kau tidak pulang kim bum?” tanya seorang pria pada sahabatnya bernama kim bum itu.

Kim bum kembali menegak minumannya lagi, entah sudah gelas keberapa dia meminumnya tapi tetap saja minuman itu tidak membuatnya senang. Pertanyaan min hoo sahabatnya pun rasanya enggan untuk dijawabnya.

“hei, aku bertanya padamu. Kenapa tidak menjawabnya” kesal min hoo karena tidak dihiraukan oleh sahabatnya itu.

“apa kau lupa kalau aku sangat malas untuk pulang ke rumah itu” ucap kim bum dan lagi – lagi meneguk minumannya, tapi kali ini langsung dari botolnya.

Min hoo merebut botol minuman dari tangan kim bum, sehingga sebagian minuman itu tumpah ke baju kim bum.

“berhenti meminum minuman ini” bentak min hoo, yang mulai kesal pada tingkah kim bum.

“kenapa kau melarangku meminumnya, aku tidak akan mabuk. Tenang saja aku pasti membayar semuanya” ucap kim bum dengan santainya.

Min hoo menggelengkan kepalanya, tanda bahwa dia tidak bisa melarang kim bum melakukan kesenangannya. Min hoo memang tau kalau kim bum tidak akan mabuk, mengingat kim bum adalah peminum berat. Yang min hoo tidak tau masalah apa yang membuat kim bum sampai seperti ini.

Saat ini suasana hati kim bum benar – benar kacau, sebenarnya tidak hari ini saja kim bum seperti ini. Kemarin – kemarin pun pikiran kim bum selalu kacau, haruskah kim bum selalu berbuat seperti ini. Walaupun rasanya enggan beranjak dari tempat itu tapi kim bum harus tetap pulang kan.

“anak itu, benar – benar membingungkan” gumam min hoo ketika melihat sahabatnya meninggalkan dirinya tanpa berpamitan padanya.

***

Kim bum menghentikan mobilnya ketika sudah sampai rumahnya, dia turun dari mobilnya dan perlahan menuju pintu rumahnya. Dia mencoba membuka pintu rumahnya, tapi ternyata pintunya terkunci. Kim bum heran, tidak biasanya ibunya mengunci pintu kalau dirinya belum pulang.

Kim bum menekan bel rumahnya, dan tidak butuh waktu lama pintu pun terbuka. Kim bum melihat seorang gadis yang saat ini membukakan pintu untuknya dan berdiri tepat dihadapanya sekarang.
Gadis ini lagi, rasanya kim bum enggan untuk melihat wajahnya. Jangankan melihat wajahnya, memikirkannya saja rasanya membuat kim bum pusing.

“kakak dari mana? Ayah dan ibu sudah menunggumu dari tadi.” Gadis itu benar – benar memberanikan dirinya untuk bertanya pada kim bum.

Kim bum tidak menjawab pertanyaan gadis itu, dia melangkahkan kakinya untuk menuju kamarnya. Kim bum tidak ingin menemui orang tuanya, karena dia yakin pasti orang tuanya itu akan menceramahinya panjang lebar. karena kim bum sudah membiarkan anak emas orang tuanya pulang kuliah sendiri.

“selalu saja seperti ini, kenapa dia selalu dingin padaku” gumam gadis itu, sambil kembali menutup pintu.

Ketika kim bum hendak menuju kamarnya, ayahnya sudah terlebih dahulu mencegahnya.

“dari mana saja kau ini?, kenapa membiarkan adikmu pulang sendirian. Bagaimana kalau terjadi apa – apa padanya”

Sebenarnya kim bum malas untuk menjawab ataupun menanggapi perkataan sang ayah, tapi kim bum hafal betul dengan karakter sang ayah. Ayah kim bum tidak akan membiarkannya pergi sebelum kim bum menjawab pertanyaan yang diajukan oleh ayahnya tadi.

“dia sudah dewasa ayah, jadi untuk apa aku selalu menjaganya” jawab kim bum, seharusnya kim bum tau kalau jawabanya itu tidak akan membuat ayahnya senang.

“kau ini, walaupun dia sudah dewasa tapi so eun adalah tanggung jawabmu” bentak nam gil, kali ini lebih keras.

“dia bukan tanggung jawabku, tapi tanggung jawab ayah dan ibu” ucap kim bum dengan santainya, dan berjalan kembali menuju kamarnya.
Kim bum tidak ingin membalas amarah ayahnya dengan amarah juga, lebih baik dia bersikap santai saja dan segera menjauh dari ayahnya. itu akan jauh lebih baik untuk kim bum, dari pada harus berdebat terus dengan ayahnya. kim bum bahkan sudah capek jika harus bertengkar setiap hari dengan sang ayah hanya gara – gara masalah itu lagi.

“kau selalu saja membuatku marah dengan kelakuanmu itu kim bum.” nam gil benar – benar tidak habis pikir dengan kim bum, kenapa kim bum selalu bersikap dingin dan terkesan tidak peduli pada so eun.

“suamiku, tenangkan dirimu. Jangan terlalu keras pada kim bum, apa kau lupa dengan sifat kim bum. anak itu tidak akan pernah mendengar perkataanmu kalau kau terlalu kasar padanya” ucap tae hee mencoba meredam kemarahan suaminya pada kim bum.

“tapi anak itu benar – benar sudah keterlaluan, tidak seharusnya dia bersikap dingin terus menerus pada so eun.”

So eun yang sedari tadi melihat dan mendengar perdebatan antara ayah dan kakaknya pun hanya bisa diam. Harus bagaimana lagi, harus berbuat apa dirinya kalau sudah begini. Kenapa dirinya selalu membuat masalah. Kenapa so eun harus selalu membuat kim bum dan ayahnya bertengkar.

So eun memasuki kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur miliknya. Rasanya sedih sekali jika selalu melihat pertengkaran seperti tadi. Apalagi jika harus melihat sikap dingin kim bum pada dirinya. Selalu.

***

Aku tidak pernah membencimu, hanya saja aku belum siap dengan semua ini. Semua ini terlalu berat untukku. Kau terlalu membebani hidupku, andai saja kau tidak pernah hadir dalam hidupku mungkin hidupku tidak akan sekacau ini. ( kim bum )

Kim bum keluar dari kamarnya, tenggorakannya terasa kering sekali saat ini jadi dia memutuskan untuk mengambil air di dapur. baru saja kim bum melangkahkan kakinya keluar dari kamar, telinganya sudah menangkap suara yang aneh. Suara itu berasal dari ruangan yang berada di sebelah kamarnya.

Suara tangis. Tangisan gadis itu, tangisan gadis yang membuat hidup kim bum berantakan. Kim bum mencoba untuk tidak mempedulikannya, tapi hati kecilnya menyuruhnya untuk mengetahui apa yang membuat gadis itu menangis.

“kenapa…. kenapa harus aku yang mengalami semua ini. kenapa kau membuat hidupku seperti benalu, yang selalu menyusahkan orang lain. Mereka sudah baik padaku, tapi kenapa aku membuat keluarga ini hancur.” Suara ini berasal dari kamar so eun. kim bum yakin suara itu milik so eun, siapa lagi yang menangis malam – malam begini kalau bukan gadis itu.

Kim bum yang sengaja berdiri di depan pintu so eun, dengan jelas mendengar ucapan so eun barusan. Gadis itu pasti sedih, pikir kim bum.

***

Pagi – pagi sekali tae hee sudah menyiapkan makanan untuk sarapan suami dan anak – anaknya.

“ibu, kenapa melakukan semua ini sendirian. Kenapa tidak menyuruhku untuk membantu.” Kesal so eun ketika melihat ibunya menyiapkan makanan sendiri.

“ibu tidak mau kau kecapekan gara – gara membantu ibu sayang, tugasmu itu hanya untuk belajar, bukan untuk melakukan hal – hal seperti ini.”

“ibu, aku kan juga ingin membantu ibu.”

Tae hee tersenyum melihat muka masam so eun, gadis ini benar – benar sangat baik. Tidak pernah mengeluh, dan tidak pernah marah. Tae hee merasa kasihan pada so eun, walaupun dari luar so eun terlihat ceria tapi pasti hatinya sangat sedih. Tae hee yakin itu.

“sayang, bantu ibu bangunkan kakakmu ya.” Pinta tae hee.

“baik ibu.” So eun langsung menuruti perintah ibunya.

So eun tidak pernah menolak apapun yang diperintahkan oleh orang tuanya, walaupun perintah itu rasanya berat untuk dilakukan. Harusnya so eun menolak jika memang dia tidak mau melakukan hal – hal yang menurut dia berat untuk dilakukan, tapi sudah pasti so eun tidak bisa menolak.

“aku tau kau pasti sedih dengan sikap kim bum selama ini. aku tau kau pasti takut dengannya, tapi aku ingin kau sendiri yang membuat kim bum mengerti bahwa dirimu itu ada sehingga kim bum tidak mengacuhkanmu terus seperti ini.” batin tae hee ketika melihat so eun melangkah menjauh darinya.

So eun sudah sampai di depan pintu kamar kim bum, jantungnya berdegup kencang sekali. Keringat dingin mulai mengucur dari dahinya. Astaga. Hanya masuk ke kamar kakaknya, kenapa harus setakut ini. so eun memegang gagang pintu kamar kim bum dan mencoba membukanya, tidak terkunci.

So eun sudah berhasil membuka pintu kamar kim bum, so eun bisa melihat jelas tubuh kim bum yang saat ini berbaring di tempat tidurnya. So eun melangkahkan kakinya untuk mendekati tempat tidur kim bum. so eun menghela nafas panjang, dia bisa dan pasti bisa. Hanya membangunkan kim bum saja memangnya apa susahnya, kenapa harus setegang ini.

“kakak… bangun.” Bagaimana kim bum bisa bangun kalau cara membangunkannya seperti orang berbisik.

“kakak ayo bangun.” Kali ini so eun mengeraskan suaranya sambil mengguncang tubuh kim bum pelan.

Kim bum menggerakkan tubuhnya, dan mulai membuka matanya. Kim bum kaget ketika melihat so eun berada di kamarnya. Gadis ini membangunkannya, dapat keberanian dari mana dia sehingga bisa memasuki kamarnya.

“ayah dan ibu sudah menunggu kakak di ruang makan.” Ucap so eun hati – hati.

Kim bum beranjak dari tempat tidurnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurnya. Sekali lagi dia mengacuhkan so eun. kim bum benar – benar menganggap so eun tidak ada, apapun yang dilakukan dan bagaimanapun bentuknya kim bum tidak pernah melihat so eun.

So eun hanya bisa tersenyum melihat sikap kim bum yang seperti itu, sudah biasa untuknya diacuhkan oleh kakaknya.

“dia tidak membencimu so eun. kalau dia membencimu pasti dia sudah membentakmu.” gumam so eun.

Bagaimana bisa membentak, kalau untuk mengeluarkan suara saja rasanya enggan. Kim bum bahkan tidak pernah mengeluarkan suaranya untuk so eun. sekalipun tidak pernah.

So eun membereskan tempat tidur kim bum yang berantakan, sudah sewajarnya kan seorang adik membantu kakaknya.

Kim bum keluar dari kamar mandi, dan melihat so eun masih berada di kamarnya bahkan membereskan tempat tidurnya yang berantakan. gadis ini benar – benar tangguh, dia bahkan masih bertahan walaupun kim bum sudah mengacuhkannya.

“kakak sudah selesai mandinya. Maaf, tempat tidurnya berantakan jadi aku bereskan.” Ucap so eun ketika melihat kim bum sudah keluar dari kamar mandi.

Kim bum melihat so eun sebentar kemudian menunjuk pintu kamarnya dengan dagunya. So eun pasti tau maksud dari gerakan tubuh kim bum itu.

“baiklah.” So eun tau kalau kim bum tidak suka kalau dirinya terlalu lama di kamar kim bum. maka dari itu so eun cepat – cepat keluar dari kamar kim bum. walaupun di dalam sudah tidak kuat, tapi jangan sampai terlihat jelas dari luar.

***

Kim bum dan so eun kuliah di tempat yang sama. sebenarnya so eun menolak ketika ayahnya menyuruh dia kuliah di tempat yang sama dengan kim bum tapi ayahnya tetap memaksa. Bermacam alasan yang dituturkan so eun pada sang ayah agar dia bisa beda fakultas dengan kim bum tapi hasilnya tetap saja nihil.

Seperti halnya saat ini, ayahnya memaksa so eun untuk berangkat bersama dengan kim bum. walaupun so eun menolak tapi tetap saja ayahnya terlalu kuat untuk di lawan.

Harusnya so eun lebih pandai lagi merayu sang ayah untuk mengijinkannya naik kendaraan umum. Dari pada seperti ini diam – diaman di dalam mobil bersama kim bum. anehnya hari ini kim bum tidak membantah perkataan sang ayah seperti biasanya.

Kim bum dan so eun sudah sampai di kampus, sesegera mungkin so eun keluar dari mobil kim bum. dan tidak lupa dia mengucapkan terimakasih pada kakaknya itu. Walaupun so eun tau kalau kim bum tidak akan pernah merespon apapun yang akan dilakukan oleh so eun tapi tetap saja dirinya harus mengucapkan terimakasih pada kim bum.

***

Kim bum melangkahkan kakinya menuju kelas, di dalam kelasnya sudah ada min hoo yang dari tadi menunggunya.

“tumben sekali kau berangkat dengan adikmu, biasanya kalian berangkat sendiri – sendiri. Apa ayahmu memaksamu lagi?” ucap min hoo yang merasa heran ketika melihat kim bum berangkat ke kampus bersama dengan so eun.

“aku tidak mau membahas apapun tentangnya, jadi lebih baik kau diam saja.” Jawab kim bum ketus.

“tidak seharusnya kau bersikap seperti ini padanya, apa kau tidak kasihan padanya. Jika kau berada di posisinya apa kau bisa kuat sepertinya. Lebih baik terimalah dia, toh selama ini dia juga tidak menyusahkanmu.”

Kim bum terdiam mendengar nasehat dari min hoo, mungkin memang keterlaluan sekali. Tapi inilah cara kim bum melampiaskan kekesalan pada orang tuanya. Yaitu melalui so eun. menurut pandangan orang, so eun memang tidak menyusahkan kim bum. karena pada dasarnya memang tidak. Tapi lain halnya untuk kim bum.

“lalu aku harus bagaimana, menanggung semuanya. Menanggung semua janji yang tidak pernah aku ucapkan. Aku belum siap.. belum siap min hoo.” Ucap kim bum lemas.

“apa maksudmu, menanggung apa janji siapa? Kau ini aneh sekali aku hanya menyuruhmu bersikap baik pada adikmu, adik kandungmu. Kenapa rasanya susah sekali. Mana ada seorang kakak yang bersikap dingin pada adiknya.” Min hoo heran dengan kim bum, benar – benar heran.

“kau tidak mengerti dan tidak akan pernah mengerti dengan kehidupanku. Jadi lebih baik kau diam saja.”

“baiklah… baiklah, aku tidak akan mencampuri urusanmu.” Kesal min hoo.

Kalau dipikir – pikir aneh memang jika melihat kim bum dan so eun. sebenarnya hubungan mereka itu bagaimana. Mana ada seorang kakak yang bersikap dingin pada adiknya. Mana ada seorang kakak yang berusaha mati – matian menjauh dari adiknya. Mana ada seorang kakak yang selalu menganggap adiknya tidak ada.

***

“kau berangkat dengan kakakmu?” tanya park jiyeon sahabat so eun. so eun menganggukan kepalanya untuk jawaban dari pertanyaan jiyeon barusan.

“berarti kau dan kakakmu sudah akrab?” tanya jiyeon lagi. Dan kali ini so eun menggelangkan kepalanya, tanda dia tidak menyetujui dengan anggapan jiyeon.

“kalau begitu kenapa dia mau berangkat bersamamu?” sambung jiyeon lagi penasaran.

“ayah yang memaksanya.” Jawab so eun lemas.

Tidak semua orang mengetahuinya, tidak semuanya. Hanya jiyeon dan min hoo yang mengetahui kalau kim bum dan so eun adalah saudara. Tidak ada yang lain selain mereka berdua.

“ada hubungan apa kau dengan kim bum?” tanya seorang gadis yang saat ini sudah berdiri di samping so eun dan jiyeon duduk.

So eun melihat kearah gadis yang dirasa so eun pasti bertanya padanya. Kesan pertama yang dilihat so eun pada gadis itu adalah cantik dan angkuh. Jung eun ji senior so eun. so eun tau apa yang membuat gadis ini menghampirinya.

“aku bertanya padamu, kenapa kau diam saja?” gadis ini nampaknya benar – benar kesal, karena so eun tidak menjawab pertanyaanya.

“kenapa datang – datang membuat keributan. Ini bukan kelasmu, jika kau mau bertanya. Bertanyalah yang sopan jangan berteriak – teriak seperti ini.” jawab jiyeon yang kesal dengan eun ji.

“diam kau, aku tidak punya urusan denganmu. Urusanku dengan dia.” Ucap eun ji sambil menunjuk kearah so eun.

“kalau kau ingin tau, lebih baik kau tanya saja pada kim bum. kenapa kau bertanya padanya. Sudah pergi sana.” Bentak jiyeon sambil mendorong tubuh eun ji keluar dari ruang kelasnya.

Jiyeon berhasil mengusir eun ji dari ruang kelasnya. jiyeon berbalik dan mendapati so eun tetap tenang duduk di tempatnya. Jiyeon kagum pada so eun, sahabatnya itu selalu bersikap tenang jika berhadapan dengan orang.

So eun memang tampak tenang jika di hadapan orang lain, tapi tidak jika dia sedang sendirian. So eun hanya pura – pura, semua yang dilakukannya ini adalah ke pura – puraan yang so eun sendiri tidak tau kapan dia bisa jujur pada dirinya sendiri dan orang lain.

“kau tidak apa – apa? gadis itu sudah pergi.”

“jiyeon, haruskah aku berkata yang sebenarnya. Aku sudah tidak kuat dengan ini semua. Sampai kapan aku harus memendam ini semua.” Batin so eun. sambil memeluk jiyeon yang sudah berdiri di hadapannya.

***

Eun ji benar – benar kesal dengan gadis itu, gadis yang tadi pagi telah dilihatnya satu mobil dengan kim bum. siapa gadis itu dan ada hubungan apa gadis itu dengan kim bum. kenapa gadis itu bisa satu mobil dengan kim bum.

Setau eun ji, kim bum tidak akan semudah itu dekat dengan orang yang tidak memiliki hubungan apa – apa dengan dirinya. Di kampus saja hanya min hoo lah orang yang paling dekat kim bum, lalu siapa gadis itu?

“kalian berdua sepertinya serius sekali?” tanya eun ji pada min hoo dan kim bum. ketika dirinya telah sampai di kelasnya.

Kim bum menatap enggan kearah eun ji, gadis ini lagi. Tidak bisakah eun ji tidak membuatnya bertambah kesal. Kim bum sudah terlalu pusing, dengan masalahnya di rumah. Kenapa harus ditambah lagi.

“lebih baik kau pergi saja, kim bum tidak mau bicara dengan siapapun?” jawab min hoo.

“memangnya kau kenapa kim bum, apa kau sakit?” ucap eun ji, sambil menempelkan tangannya ke dahi kim bum. tapi dengan cepat kim bum menepisnya. Dan pergi meninggalkan eun ji dan min hoo.

“aish, ada apa dengannya?” gerutu eun ji.

“bukannya aku sudah bilang, dia tidak mau bicara dengan siapa pun.”

“min hoo, apa kau tau siapa gadis yang tadi pagi berangkat bersama kim bum?” tanya eun ji penasaran. Seharusnya eun ji bertanya pada orang yang tepat, karena bertanya pada min ho yang statusnya adalah sahabat baik kim bum. pasti kim bum selalu menceritakan apa pun pada min hoo.

“kenapa kau tidak tanya sendiri pada kim bum. kenapa bertanya padaku.” Jawab min hoo sekenanya.

“Kenapa semuanya jadi menyebalkan. Tadi teman gadis itu dan sekarang min hoo.” Batin eun ji. Apa semua orang harus bersikap seperti ini pada eun ji. Eun ji benar – benar penasaran sekarang. Lalu apa hubungan kim bum dengan gadis itu apa tidak ada satupun orang yang akan memberitahunya.

*** TBC ***