Theatrical Love

Posted: 1 Februari 2013 in FF BUMSSO
Tag:

Cover

aku bawa fanfic dengan judul baru chingu, karena fanfic pertamaku sudah mau berakhir jadi aku buat fanfic baru lagi. fanfic ini terilhami dari kisah nyata chingu. jadi kalau misalnya ceritanya tidak sesuai dengan keinginan para reader aku mohon maaf. jika banyak yang suka dengan fanfic baruku ini aku bakalan lanjutkan ceritanya, tapi jika tidak ya terpaksa aku hentikan. happy reading.. 🙂

Cast : Kim Sang Bum, Kim So Eun
Support Cast : Kim Nam Gil, Kim Tae Hee, Lee Min Hoo, Park Jiyeon, Jung Eun Ji

Sebenarnya aku tak ingin membencinya. tapi karena dia aku tidak bisa mendapatkan kebebasan seperti halnya anak – anak yang lain. Apa aku harus selalu menjaganya? Itu janji mereka bukan janjiku, kenapa harus aku yang menanggung semuanya. ( Kim Bum )

***

Sepasang suami istri sedang duduk berdua di teras rumahnya sambil melihat tanaman – tanaman hias yang di tanam di samping rumahnya. Matahari sudah hampir tenggelam, mengisyaratkan bahwa sebentar lagi langit akan berubah gelap. Sang suami meraih cangkir kopi yang ada di atas meja disebelahnya kemudian meneguk kopi itu. Sesekali sang istri menghela nafas panjang.

“dia sudah beranjak menjadi gadis dewasa sekarang” gumam sang istri, melepas kesunyian yang sedari tadi mencekam keduanya. Sang suami pun hanya bisa menghela nafas panjang seperti yang dilakukan sang istri sebelumnya.

Seorang gadis membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalam. Dia sudah hafal betul bila orang tuanya itu pasti tidak akan pernah mengunci pintu jika dia dan kakaknya belum pulang.

“ibu dan ayah disini” ucap gadis itu, ketika melihat ayah dan ibunya sedang bersantai di teras rumahnya. Kedua orang tua itu pun menoleh ketika mendengar suara sang putri.

“kau sudah pulang sayang, kau mau makan apa biar ibu buatkan?”

“apapun yang ibu buatkan untukku, aku akan memakanya dengan senang hati” ucap gadis itu sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang menambah kecantikan di wajahnya. Sang ibu hanya bisa membelai lembut rambut putrinya sambil berjalan meninggalkan suami dan anaknya.

“apa kau pulang sendiri lagi?” tanya kim nam gil pada anak perempuannya itu. Yang di tanya bukannya menjawab malah menundukkan kepalanya.

“anak itu benar – benar keterlaluan, kenapa selalu membiarkanmu pulang sendiri.”

***

Di sebuah club seorang pria tengah meneguk segelas minuman beralkohol, sambil menikmati alunan musik yang berdentum keras di penjuru ruangan. Hari ini dia ingin menyenangkan hatinya terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah yang dianggapnya lebih mirip seperti penjara.

“kau tidak pulang kim bum?” tanya seorang pria pada sahabatnya bernama kim bum itu.

Kim bum kembali menegak minumannya lagi, entah sudah gelas keberapa dia meminumnya tapi tetap saja minuman itu tidak membuatnya senang. Pertanyaan min hoo sahabatnya pun rasanya enggan untuk dijawabnya.

“hei, aku bertanya padamu. Kenapa tidak menjawabnya” kesal min hoo karena tidak dihiraukan oleh sahabatnya itu.

“apa kau lupa kalau aku sangat malas untuk pulang ke rumah itu” ucap kim bum dan lagi – lagi meneguk minumannya, tapi kali ini langsung dari botolnya.

Min hoo merebut botol minuman dari tangan kim bum, sehingga sebagian minuman itu tumpah ke baju kim bum.

“berhenti meminum minuman ini” bentak min hoo, yang mulai kesal pada tingkah kim bum.

“kenapa kau melarangku meminumnya, aku tidak akan mabuk. Tenang saja aku pasti membayar semuanya” ucap kim bum dengan santainya.

Min hoo menggelengkan kepalanya, tanda bahwa dia tidak bisa melarang kim bum melakukan kesenangannya. Min hoo memang tau kalau kim bum tidak akan mabuk, mengingat kim bum adalah peminum berat. Yang min hoo tidak tau masalah apa yang membuat kim bum sampai seperti ini.

Saat ini suasana hati kim bum benar – benar kacau, sebenarnya tidak hari ini saja kim bum seperti ini. Kemarin – kemarin pun pikiran kim bum selalu kacau, haruskah kim bum selalu berbuat seperti ini. Walaupun rasanya enggan beranjak dari tempat itu tapi kim bum harus tetap pulang kan.

“anak itu, benar – benar membingungkan” gumam min hoo ketika melihat sahabatnya meninggalkan dirinya tanpa berpamitan padanya.

***

Kim bum menghentikan mobilnya ketika sudah sampai rumahnya, dia turun dari mobilnya dan perlahan menuju pintu rumahnya. Dia mencoba membuka pintu rumahnya, tapi ternyata pintunya terkunci. Kim bum heran, tidak biasanya ibunya mengunci pintu kalau dirinya belum pulang.

Kim bum menekan bel rumahnya, dan tidak butuh waktu lama pintu pun terbuka. Kim bum melihat seorang gadis yang saat ini membukakan pintu untuknya dan berdiri tepat dihadapanya sekarang.
Gadis ini lagi, rasanya kim bum enggan untuk melihat wajahnya. Jangankan melihat wajahnya, memikirkannya saja rasanya membuat kim bum pusing.

“kakak dari mana? Ayah dan ibu sudah menunggumu dari tadi.” Gadis itu benar – benar memberanikan dirinya untuk bertanya pada kim bum.

Kim bum tidak menjawab pertanyaan gadis itu, dia melangkahkan kakinya untuk menuju kamarnya. Kim bum tidak ingin menemui orang tuanya, karena dia yakin pasti orang tuanya itu akan menceramahinya panjang lebar. karena kim bum sudah membiarkan anak emas orang tuanya pulang kuliah sendiri.

“selalu saja seperti ini, kenapa dia selalu dingin padaku” gumam gadis itu, sambil kembali menutup pintu.

Ketika kim bum hendak menuju kamarnya, ayahnya sudah terlebih dahulu mencegahnya.

“dari mana saja kau ini?, kenapa membiarkan adikmu pulang sendirian. Bagaimana kalau terjadi apa – apa padanya”

Sebenarnya kim bum malas untuk menjawab ataupun menanggapi perkataan sang ayah, tapi kim bum hafal betul dengan karakter sang ayah. Ayah kim bum tidak akan membiarkannya pergi sebelum kim bum menjawab pertanyaan yang diajukan oleh ayahnya tadi.

“dia sudah dewasa ayah, jadi untuk apa aku selalu menjaganya” jawab kim bum, seharusnya kim bum tau kalau jawabanya itu tidak akan membuat ayahnya senang.

“kau ini, walaupun dia sudah dewasa tapi so eun adalah tanggung jawabmu” bentak nam gil, kali ini lebih keras.

“dia bukan tanggung jawabku, tapi tanggung jawab ayah dan ibu” ucap kim bum dengan santainya, dan berjalan kembali menuju kamarnya.
Kim bum tidak ingin membalas amarah ayahnya dengan amarah juga, lebih baik dia bersikap santai saja dan segera menjauh dari ayahnya. itu akan jauh lebih baik untuk kim bum, dari pada harus berdebat terus dengan ayahnya. kim bum bahkan sudah capek jika harus bertengkar setiap hari dengan sang ayah hanya gara – gara masalah itu lagi.

“kau selalu saja membuatku marah dengan kelakuanmu itu kim bum.” nam gil benar – benar tidak habis pikir dengan kim bum, kenapa kim bum selalu bersikap dingin dan terkesan tidak peduli pada so eun.

“suamiku, tenangkan dirimu. Jangan terlalu keras pada kim bum, apa kau lupa dengan sifat kim bum. anak itu tidak akan pernah mendengar perkataanmu kalau kau terlalu kasar padanya” ucap tae hee mencoba meredam kemarahan suaminya pada kim bum.

“tapi anak itu benar – benar sudah keterlaluan, tidak seharusnya dia bersikap dingin terus menerus pada so eun.”

So eun yang sedari tadi melihat dan mendengar perdebatan antara ayah dan kakaknya pun hanya bisa diam. Harus bagaimana lagi, harus berbuat apa dirinya kalau sudah begini. Kenapa dirinya selalu membuat masalah. Kenapa so eun harus selalu membuat kim bum dan ayahnya bertengkar.

So eun memasuki kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur miliknya. Rasanya sedih sekali jika selalu melihat pertengkaran seperti tadi. Apalagi jika harus melihat sikap dingin kim bum pada dirinya. Selalu.

***

Aku tidak pernah membencimu, hanya saja aku belum siap dengan semua ini. Semua ini terlalu berat untukku. Kau terlalu membebani hidupku, andai saja kau tidak pernah hadir dalam hidupku mungkin hidupku tidak akan sekacau ini. ( kim bum )

Kim bum keluar dari kamarnya, tenggorakannya terasa kering sekali saat ini jadi dia memutuskan untuk mengambil air di dapur. baru saja kim bum melangkahkan kakinya keluar dari kamar, telinganya sudah menangkap suara yang aneh. Suara itu berasal dari ruangan yang berada di sebelah kamarnya.

Suara tangis. Tangisan gadis itu, tangisan gadis yang membuat hidup kim bum berantakan. Kim bum mencoba untuk tidak mempedulikannya, tapi hati kecilnya menyuruhnya untuk mengetahui apa yang membuat gadis itu menangis.

“kenapa…. kenapa harus aku yang mengalami semua ini. kenapa kau membuat hidupku seperti benalu, yang selalu menyusahkan orang lain. Mereka sudah baik padaku, tapi kenapa aku membuat keluarga ini hancur.” Suara ini berasal dari kamar so eun. kim bum yakin suara itu milik so eun, siapa lagi yang menangis malam – malam begini kalau bukan gadis itu.

Kim bum yang sengaja berdiri di depan pintu so eun, dengan jelas mendengar ucapan so eun barusan. Gadis itu pasti sedih, pikir kim bum.

***

Pagi – pagi sekali tae hee sudah menyiapkan makanan untuk sarapan suami dan anak – anaknya.

“ibu, kenapa melakukan semua ini sendirian. Kenapa tidak menyuruhku untuk membantu.” Kesal so eun ketika melihat ibunya menyiapkan makanan sendiri.

“ibu tidak mau kau kecapekan gara – gara membantu ibu sayang, tugasmu itu hanya untuk belajar, bukan untuk melakukan hal – hal seperti ini.”

“ibu, aku kan juga ingin membantu ibu.”

Tae hee tersenyum melihat muka masam so eun, gadis ini benar – benar sangat baik. Tidak pernah mengeluh, dan tidak pernah marah. Tae hee merasa kasihan pada so eun, walaupun dari luar so eun terlihat ceria tapi pasti hatinya sangat sedih. Tae hee yakin itu.

“sayang, bantu ibu bangunkan kakakmu ya.” Pinta tae hee.

“baik ibu.” So eun langsung menuruti perintah ibunya.

So eun tidak pernah menolak apapun yang diperintahkan oleh orang tuanya, walaupun perintah itu rasanya berat untuk dilakukan. Harusnya so eun menolak jika memang dia tidak mau melakukan hal – hal yang menurut dia berat untuk dilakukan, tapi sudah pasti so eun tidak bisa menolak.

“aku tau kau pasti sedih dengan sikap kim bum selama ini. aku tau kau pasti takut dengannya, tapi aku ingin kau sendiri yang membuat kim bum mengerti bahwa dirimu itu ada sehingga kim bum tidak mengacuhkanmu terus seperti ini.” batin tae hee ketika melihat so eun melangkah menjauh darinya.

So eun sudah sampai di depan pintu kamar kim bum, jantungnya berdegup kencang sekali. Keringat dingin mulai mengucur dari dahinya. Astaga. Hanya masuk ke kamar kakaknya, kenapa harus setakut ini. so eun memegang gagang pintu kamar kim bum dan mencoba membukanya, tidak terkunci.

So eun sudah berhasil membuka pintu kamar kim bum, so eun bisa melihat jelas tubuh kim bum yang saat ini berbaring di tempat tidurnya. So eun melangkahkan kakinya untuk mendekati tempat tidur kim bum. so eun menghela nafas panjang, dia bisa dan pasti bisa. Hanya membangunkan kim bum saja memangnya apa susahnya, kenapa harus setegang ini.

“kakak… bangun.” Bagaimana kim bum bisa bangun kalau cara membangunkannya seperti orang berbisik.

“kakak ayo bangun.” Kali ini so eun mengeraskan suaranya sambil mengguncang tubuh kim bum pelan.

Kim bum menggerakkan tubuhnya, dan mulai membuka matanya. Kim bum kaget ketika melihat so eun berada di kamarnya. Gadis ini membangunkannya, dapat keberanian dari mana dia sehingga bisa memasuki kamarnya.

“ayah dan ibu sudah menunggu kakak di ruang makan.” Ucap so eun hati – hati.

Kim bum beranjak dari tempat tidurnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurnya. Sekali lagi dia mengacuhkan so eun. kim bum benar – benar menganggap so eun tidak ada, apapun yang dilakukan dan bagaimanapun bentuknya kim bum tidak pernah melihat so eun.

So eun hanya bisa tersenyum melihat sikap kim bum yang seperti itu, sudah biasa untuknya diacuhkan oleh kakaknya.

“dia tidak membencimu so eun. kalau dia membencimu pasti dia sudah membentakmu.” gumam so eun.

Bagaimana bisa membentak, kalau untuk mengeluarkan suara saja rasanya enggan. Kim bum bahkan tidak pernah mengeluarkan suaranya untuk so eun. sekalipun tidak pernah.

So eun membereskan tempat tidur kim bum yang berantakan, sudah sewajarnya kan seorang adik membantu kakaknya.

Kim bum keluar dari kamar mandi, dan melihat so eun masih berada di kamarnya bahkan membereskan tempat tidurnya yang berantakan. gadis ini benar – benar tangguh, dia bahkan masih bertahan walaupun kim bum sudah mengacuhkannya.

“kakak sudah selesai mandinya. Maaf, tempat tidurnya berantakan jadi aku bereskan.” Ucap so eun ketika melihat kim bum sudah keluar dari kamar mandi.

Kim bum melihat so eun sebentar kemudian menunjuk pintu kamarnya dengan dagunya. So eun pasti tau maksud dari gerakan tubuh kim bum itu.

“baiklah.” So eun tau kalau kim bum tidak suka kalau dirinya terlalu lama di kamar kim bum. maka dari itu so eun cepat – cepat keluar dari kamar kim bum. walaupun di dalam sudah tidak kuat, tapi jangan sampai terlihat jelas dari luar.

***

Kim bum dan so eun kuliah di tempat yang sama. sebenarnya so eun menolak ketika ayahnya menyuruh dia kuliah di tempat yang sama dengan kim bum tapi ayahnya tetap memaksa. Bermacam alasan yang dituturkan so eun pada sang ayah agar dia bisa beda fakultas dengan kim bum tapi hasilnya tetap saja nihil.

Seperti halnya saat ini, ayahnya memaksa so eun untuk berangkat bersama dengan kim bum. walaupun so eun menolak tapi tetap saja ayahnya terlalu kuat untuk di lawan.

Harusnya so eun lebih pandai lagi merayu sang ayah untuk mengijinkannya naik kendaraan umum. Dari pada seperti ini diam – diaman di dalam mobil bersama kim bum. anehnya hari ini kim bum tidak membantah perkataan sang ayah seperti biasanya.

Kim bum dan so eun sudah sampai di kampus, sesegera mungkin so eun keluar dari mobil kim bum. dan tidak lupa dia mengucapkan terimakasih pada kakaknya itu. Walaupun so eun tau kalau kim bum tidak akan pernah merespon apapun yang akan dilakukan oleh so eun tapi tetap saja dirinya harus mengucapkan terimakasih pada kim bum.

***

Kim bum melangkahkan kakinya menuju kelas, di dalam kelasnya sudah ada min hoo yang dari tadi menunggunya.

“tumben sekali kau berangkat dengan adikmu, biasanya kalian berangkat sendiri – sendiri. Apa ayahmu memaksamu lagi?” ucap min hoo yang merasa heran ketika melihat kim bum berangkat ke kampus bersama dengan so eun.

“aku tidak mau membahas apapun tentangnya, jadi lebih baik kau diam saja.” Jawab kim bum ketus.

“tidak seharusnya kau bersikap seperti ini padanya, apa kau tidak kasihan padanya. Jika kau berada di posisinya apa kau bisa kuat sepertinya. Lebih baik terimalah dia, toh selama ini dia juga tidak menyusahkanmu.”

Kim bum terdiam mendengar nasehat dari min hoo, mungkin memang keterlaluan sekali. Tapi inilah cara kim bum melampiaskan kekesalan pada orang tuanya. Yaitu melalui so eun. menurut pandangan orang, so eun memang tidak menyusahkan kim bum. karena pada dasarnya memang tidak. Tapi lain halnya untuk kim bum.

“lalu aku harus bagaimana, menanggung semuanya. Menanggung semua janji yang tidak pernah aku ucapkan. Aku belum siap.. belum siap min hoo.” Ucap kim bum lemas.

“apa maksudmu, menanggung apa janji siapa? Kau ini aneh sekali aku hanya menyuruhmu bersikap baik pada adikmu, adik kandungmu. Kenapa rasanya susah sekali. Mana ada seorang kakak yang bersikap dingin pada adiknya.” Min hoo heran dengan kim bum, benar – benar heran.

“kau tidak mengerti dan tidak akan pernah mengerti dengan kehidupanku. Jadi lebih baik kau diam saja.”

“baiklah… baiklah, aku tidak akan mencampuri urusanmu.” Kesal min hoo.

Kalau dipikir – pikir aneh memang jika melihat kim bum dan so eun. sebenarnya hubungan mereka itu bagaimana. Mana ada seorang kakak yang bersikap dingin pada adiknya. Mana ada seorang kakak yang berusaha mati – matian menjauh dari adiknya. Mana ada seorang kakak yang selalu menganggap adiknya tidak ada.

***

“kau berangkat dengan kakakmu?” tanya park jiyeon sahabat so eun. so eun menganggukan kepalanya untuk jawaban dari pertanyaan jiyeon barusan.

“berarti kau dan kakakmu sudah akrab?” tanya jiyeon lagi. Dan kali ini so eun menggelangkan kepalanya, tanda dia tidak menyetujui dengan anggapan jiyeon.

“kalau begitu kenapa dia mau berangkat bersamamu?” sambung jiyeon lagi penasaran.

“ayah yang memaksanya.” Jawab so eun lemas.

Tidak semua orang mengetahuinya, tidak semuanya. Hanya jiyeon dan min hoo yang mengetahui kalau kim bum dan so eun adalah saudara. Tidak ada yang lain selain mereka berdua.

“ada hubungan apa kau dengan kim bum?” tanya seorang gadis yang saat ini sudah berdiri di samping so eun dan jiyeon duduk.

So eun melihat kearah gadis yang dirasa so eun pasti bertanya padanya. Kesan pertama yang dilihat so eun pada gadis itu adalah cantik dan angkuh. Jung eun ji senior so eun. so eun tau apa yang membuat gadis ini menghampirinya.

“aku bertanya padamu, kenapa kau diam saja?” gadis ini nampaknya benar – benar kesal, karena so eun tidak menjawab pertanyaanya.

“kenapa datang – datang membuat keributan. Ini bukan kelasmu, jika kau mau bertanya. Bertanyalah yang sopan jangan berteriak – teriak seperti ini.” jawab jiyeon yang kesal dengan eun ji.

“diam kau, aku tidak punya urusan denganmu. Urusanku dengan dia.” Ucap eun ji sambil menunjuk kearah so eun.

“kalau kau ingin tau, lebih baik kau tanya saja pada kim bum. kenapa kau bertanya padanya. Sudah pergi sana.” Bentak jiyeon sambil mendorong tubuh eun ji keluar dari ruang kelasnya.

Jiyeon berhasil mengusir eun ji dari ruang kelasnya. jiyeon berbalik dan mendapati so eun tetap tenang duduk di tempatnya. Jiyeon kagum pada so eun, sahabatnya itu selalu bersikap tenang jika berhadapan dengan orang.

So eun memang tampak tenang jika di hadapan orang lain, tapi tidak jika dia sedang sendirian. So eun hanya pura – pura, semua yang dilakukannya ini adalah ke pura – puraan yang so eun sendiri tidak tau kapan dia bisa jujur pada dirinya sendiri dan orang lain.

“kau tidak apa – apa? gadis itu sudah pergi.”

“jiyeon, haruskah aku berkata yang sebenarnya. Aku sudah tidak kuat dengan ini semua. Sampai kapan aku harus memendam ini semua.” Batin so eun. sambil memeluk jiyeon yang sudah berdiri di hadapannya.

***

Eun ji benar – benar kesal dengan gadis itu, gadis yang tadi pagi telah dilihatnya satu mobil dengan kim bum. siapa gadis itu dan ada hubungan apa gadis itu dengan kim bum. kenapa gadis itu bisa satu mobil dengan kim bum.

Setau eun ji, kim bum tidak akan semudah itu dekat dengan orang yang tidak memiliki hubungan apa – apa dengan dirinya. Di kampus saja hanya min hoo lah orang yang paling dekat kim bum, lalu siapa gadis itu?

“kalian berdua sepertinya serius sekali?” tanya eun ji pada min hoo dan kim bum. ketika dirinya telah sampai di kelasnya.

Kim bum menatap enggan kearah eun ji, gadis ini lagi. Tidak bisakah eun ji tidak membuatnya bertambah kesal. Kim bum sudah terlalu pusing, dengan masalahnya di rumah. Kenapa harus ditambah lagi.

“lebih baik kau pergi saja, kim bum tidak mau bicara dengan siapapun?” jawab min hoo.

“memangnya kau kenapa kim bum, apa kau sakit?” ucap eun ji, sambil menempelkan tangannya ke dahi kim bum. tapi dengan cepat kim bum menepisnya. Dan pergi meninggalkan eun ji dan min hoo.

“aish, ada apa dengannya?” gerutu eun ji.

“bukannya aku sudah bilang, dia tidak mau bicara dengan siapa pun.”

“min hoo, apa kau tau siapa gadis yang tadi pagi berangkat bersama kim bum?” tanya eun ji penasaran. Seharusnya eun ji bertanya pada orang yang tepat, karena bertanya pada min ho yang statusnya adalah sahabat baik kim bum. pasti kim bum selalu menceritakan apa pun pada min hoo.

“kenapa kau tidak tanya sendiri pada kim bum. kenapa bertanya padaku.” Jawab min hoo sekenanya.

“Kenapa semuanya jadi menyebalkan. Tadi teman gadis itu dan sekarang min hoo.” Batin eun ji. Apa semua orang harus bersikap seperti ini pada eun ji. Eun ji benar – benar penasaran sekarang. Lalu apa hubungan kim bum dengan gadis itu apa tidak ada satupun orang yang akan memberitahunya.

*** TBC ***

Iklan
Komentar
  1. rania Lovely berkata:

    rada Bingung Juga Sih cerita.a..
    knapa sifat Kimbum Kyk Gtu Ke souen..
    rasa.a kimbum gak Rela souen jadi Adik Kandung.a…
    part Selanjut.a deh.. Faighting…

  2. shefty rhieya kyuna bumsso berkata:

    bumppa sma sso eon saudara kandungkah?? tp kalai saudara kandung kok bumppa kayak gk bisa terima sso eon.. bingung jg next aja deh..

  3. Kim Lia berkata:

    Kim bum sensi banget sh sama So eun.. Jadi penasaran juga status kim bum so eun pasti bukan saudara kandung.. Baru baca ff ini nh ternyata ekekk.. Ffnya bagus seru juga..

  4. marwati berkata:

    Ada apa sebenarnya knp kimbum begitudingin terhadap soeun ,apa yg membuat kimbum sedemikian tdk sukanya pd soeun?

  5. selvy berkata:

    ahhhh ga rela, ko mreka kkak adik sihhh ;(
    trus knpa skap bumppa gitu bgt sihhh, ehhh mksud bumppa janji, janji apa yaaa
    next

  6. Adik n kkk,,, apa mereka saudra kandung. Q htap sih egak. Hehehee
    Next part

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s