Theatrical Love ( Part 2 )

Posted: 18 Februari 2013 in FF BUMSSO
Tag:

Cover

Terimakasih buat para reader yang sudah mau berkunjung di WP ini dan memberikan coment disetiap postinganku. kali ini aku bawa kelanjutan dari fanfic THEATRICAL LOVE. karena lebih banyak coment yang masuk di postingan fanfic ini sebelumnya, jadi aku putuskan buat memposting kelanjutannya…. sooo happy reading.

Cast : Kim sang bum, Kim so eun
Suppoart cast : Kim nam gil, Kim tae hee, Lee min hoo, Park jiyeon, Jung eunji.

Part 2

Kim bum pergi meninggalkan min hoo dan eun ji, dia benar – benar kesal, kenapa semua orang membuatnya kesal hari ini. pertama ayahnya, kemudian min hoo dan sekarang eun ji belum lagi gadis itu.

Kata – kata min hoo masih terngiang – ngiang di ingatan kim bum, rasanya kim bum memang teralalu berlebihan dengan so eun. kenapa kim bum membenci so eun, bukankah so eun adik kim bum. tidak seharusnya kim bum berbuat ini pada so eun.

***

“apa kau juga akan pulang bersama dengannya lagi so eun?” tanya jiyeon, pada so eun yang membereskan buku – bukunya setelah pelajaran yang mereka ikuti telah berakhir.

So eun menaikkan bahunya tanda dia tidak tahu pasti dengan jawaban atas pertanyaan dari jiyeon barusan.

“kau ini, bagaimana kalau kau pulang denganku saja.” Tawar jiyeon. So eun tampak berfikir, ada baiknya juga kalau dia pulang dengan jiyeon, dari pada harus menunggu kim bum yang belum pasti mau mengajaknya pulang bersama. Tapi bagaimana kalau nanti kim bum menunggunya.

“tidak usah jiyeon, kau pulang duluan saja.” Tolak so eun.

“kakakmu masih ada kelas, apa kau mau menunggunya. lagi pula belum tentu dia mengajakmu pulang bersama.”

“tidak apa – apa kau pulang duluan saja, kalau memang terpaksa pulang sendiri aku bisa naik angkutan umum kan.. sudah cepat pulang.”

“baiklah, aku pulang duluan so eun. hati – hati yaa.”

So eun melemparkan senyumnya pada jiyeon sambil melambaikan tangannya kearah jiyeon ketika jiyeon sudah keluar dari pintu kelasnya. sekarang apa yang akan dilakukan so eun, menunggu kim bum atau pulang duluan.

Oh jangan lagi, haruskah so eun menghampiri kim bum di kelasnya, dan bertanya apakah so eun harus menunggu kakaknya pulang untuk pulang bersama atau apa? so eun terlalu takut untuk melakukan hal semudah itu. Dia masih betah duduk di tempatnya dan berfikir apa yang harus dilakukannya sekarang. Hingga dia tak menyadari bahwa keadaan di dalam kelasnya sudah sepi.

“apa yang dilakukannya, apa dia tidak tau kalau sedari tadi aku menunggunya.” Gumam kim bum, dari luar ruang kelas so eun dan mengamati apa yang dilakukan gadis itu.

Astaga, jadi dari tadi kim bum sudah menunggu so eun, kenapa bisa. Ini bukan sikap asli kim bum, kemana kim bum yang biasanya dingin dan terkesan cuek pada sang adik. Biasanya kim bum tidak peduli pada so eun.

So eun melangkahkan kakinya keluar kelas, ketika menyadari bahwa teman – temannya sudah pulang semua sedari tadi.

“kakak, kau ada disini. Baru saja aku mau menghampirimu.” Sapa so eun pada kim bum yang sudah berada di depan kelasnya.

Kim bum sedikit kaget ketika so eun sudah berada di dekatnya apalagi menyapanya. Kapan bocah ini berjalan, bukankah tadi dia masih di dalam kelas. Kim bum, sebenarnya apa yang kau pikirkan, hingga kau tidak sadar seperti ini.

Seperti biasa kim bum tidak menjawab pertanyaan so eun, yang dia lakukan sekarang adalah berjalan ke tempat parkir mobilnya dan ingin segera pulang untuk menenangkan pikirannya.
So eun pun hanya memandang heran akan sikap sang kakak, yang sedikit berbeda ini. tapi so eun tidak begitu menghiraukannya dan memilih mengikuti langkah sang kakak dari belakang.

***

Ketika keduanya sudah sampai rumah, kim bum segera menuju kamarnya. Dia tidak menghiraukan teriakan sang ibu yang memintanya untuk makan bersama. Yang dia pikirkan sekarang ialah ingin cepat – cepat tidur dan melupakan apa yang dikatakan oleh min hoo tadi pagi.

“ada apa dengan kakakmu so eun? apa kalian bertengkar?” tanya tae hee pada anak perempuanya yang baru saja duduk di sebelahnya.

“aku tidak tau bu?”

“kenapa kau bertanya pada so eun, bukankah kim bum sudah biasa berperilaku seperti itu. Seperti baru pertama melihatnya saja.” Jawab nam gil, menanggapi pertanyaan istrinya.

Tae hee tidak yakin kalau kim bum sedang baik – baik saja, memang sikap kim bum yang seperti ini sudah sering di lihatnya, tapi tidak ada salahnya dia menanyakan pada kim bum, apa yang membuatnya selalu bersikap seperti ini. kalau tentang so eun lagi, tae hee tidak ingin masalah ini berlarut – larut. Kim bum dan so eun tidak boleh seperti ini. tidak boleh.

“kenapa tidak makan anakku, apa kau sedang sakit?” tanya tae hee setelah memasuki kamar putra pertamanya itu.

“ibu…” kim bum segera bangun dari tempat tidurnya ketika melhat sang ibu, masuk kedalam kamarnya.

“apa kau benar – benar marah pada kami, apa kau benar – benar tidak bisa menerimanya. Hingga kau membuat dirimu sendiri terluka seperti ini.”

Apa maksud tae hee, kenapa bicara seolah – olah kim bum terluka. Siapa yang terluka, jika yang ibunya maksud terbebani itu benar. Tapi kalau terluka…

“kim bum, ibu tau, kau benci dengan ayah dan ibu. Tapi ibu mohon jangan kau benci so eun, adikmu itu tidak bersalah. Coba kau pikir bagaimana dia bersikap baik padamu selama ini. apa kau masih tega bersikap, seolah – olah dia tidak ada. Dia sudah melakukan banyak hal terhadapmu.” Tutur tae hee pada anak laki – lakinya.

“ibu, apa aku benar – benar keterlaluan padanya. Sampai – sampai harus ibu sendiri yang menegurku?”

“keterlaluan atau tidak, hanya dirimu sendiri yang bisa merasakannya. Atau kalau kau mau tau lebih jelasnya lagi, coba saja tanyakan pada orang yang bersangkutan.”

“ibu boleh menyuruhku melakukan apapun sekarang. Tapi jangan suruh aku bicara padanya. Sudah cukup ibu dan ayah melakukan ini terhadapku. Sekarang ibu mau menyuruhku menanyakan hal – hal seperti ini padanya. Aku tidak mau.” Kesal kim bum. kenapa ibunya bisa menyuruh kim bum bertanya pada so eun, apa ibunya tidak tau kalau selama ini kim bum berusaha mati – matian untuk menjauhi gadis itu.

“sampai kapan kau mau begini nak. Kau tidak lihat bagaimana pengorbanan so eun selama ini. dia sudah berusaha menerima sikap dinginmu terhadapnya. Bahkan dia rela menyembunyikan status hubungannya denganmu. Dia selalu melakukan apapun yang menurutnya membuatmu senang. Jika kau berada di posisinya apa kau bisa melakukan ini semua.” Jelas tae hee.

sudah cukup sampai sini saja kim bum memperlakukan so eun seperti ini. ini semua harus di akhiri. Mau sampai kapan dua anak ini akan menjaga jarak. Kim bum harus merubah sikapnya. Kim bum harus mulai menerima so eun sekarang. Mau sampai kapan lagi, kim bum menganggap so eun tidak ada.

“cukup bu, aku tidak mau dengar apapun tentang dirinya. Aku tidak mau. Gara – gara dia masa mudaku jadi kacau dan berantakan.” teriak kim bum, yang mulai kesal dengan penjelasan sang ibu.

“kau sendiri yang membuat masa mudamu berantakan kim bum, bukan so eun.”

Tae hee, masih tetap tidak bisa melawan sikap keras dan sikap dingin kim bum. tae hee, masih tidak bisa menyuruh kim bum untuk menerima so eun. mungkin ini butuh waktu. Tapi mau sampai kapan. tae hee harus melakukan sesuatu agar kim bum menyadari kalau so eun adalah gadis yang baik dan tidak pantas untuk diperlakukan seperti ini oleh kim bum. kakaknya sendiri, bukan hanya kakak tapi lebih dari itu.

***

aku tidak mau melihatmu terluka, apa lagi sampai membuatmu merasa terbebani akan diriku. Jika memang dirimu tidak menginginkan kehadiranku kenapa dari dulu tidak bicara dan menolaknya. Kenapa hanya diam saja. ( so eun )

“kakak….” panggi so eun, ketika melihat kim bum tengah duduk termenung di teras rumahnya.

Pagi ini hari libur jadi kim bum dan so eun tidak pergi kuliah. Kim bum tengah duduk santai di teras rumahnya, entah kenapa hari ini kim bum tidak pergi. Biasanya dia tidak betah berdiam diri di rumah, mengingat ada so eun di rumah ini.

Kim bum, mendengar seruan gadis itu. Tapi seperti biasanya rasa malas menyerangnya untuk menanggapi apapun yang dilakukan oleh so eun.

“apa aku boleh duduk disini bersama denganmu?” tanya so eun, dan langsung duduk di sebelah kim bum tanpa mendapat persetujuan dari kim bum.

kim bum, tidak merespon apapun yang dilakukan oleh so eun, yang dilakukannya saat ini hanyalah berdiam diri seperti semula dan menatap lurus ke depan. Entahlah apa yang saat ini sedang ada dipikirannya.

“maafkan aku… maafkan aku…” gumam so eun.

“maafkan aku, gara – gara aku kakak jadi seperti ini. gara – gara aku, kau tidak bisa merasakan kesenangan seperti yang dialami oleh anak – anak remaja yang lainnya. Aku sungguh minta maaf, atas semua ini. kumohon jangan mendiamiku terus seperti ini.” so eun sudah tidak bisa menahannya lagi, so eun sudah tidak tahan mendapat perlakuan seperti ini dari kim bum. maka dari itu so eun memberanikan diri menyampaikan keluhannya pada kim bum.

So eun, sudah cukup sabar selama ini. apapun yang tidak diinginkan oleh kim bum, apalagi yang bersangkutan dengan so eun, sudah so eun coba untuk hindari. termasuk menyembunyikan status hubungan mereka kepada teman – temannya dan memilih melakukan sandiwara ini. walaupun tidak semua orang tau akan sandiwara mereka.

“kenapa kakak, tidak mengatakannya dari dulu. Jika kakak mengatakannya pasti aku akan menolaknya dan menyuruh mereka tidak melakukan semua ini. bagaimanapun aku tidak mau menjalani sandiwara ini lagi. aku sudah tidak sanggup menerima sikap dinginmu terhadapku. Lebih baik kita akhiri saja semua ini.” lanjut so eun, dengan air mata yang sudah membanjiri matanya.

Entah saat ini kim bum mendengar keluhan so eun ini apa tidak, yang pasti so eun sudah mengungkapkan semua yang mengganjal dalam hatinya. Jika kim bum masih punya hati pasti kim bum akan memberikan respon terhadap apa yang diucapkan so eun barusan.

Pandangan kim bum tetap lurus kedepan, tidak sekalipun dia menoleh kearah so eun. apa yang bisa dilakukan kim bum sekarang dengan keluhan yang telah diucapkan so eun. jangankan untuk memberikan jawaban pada so eun, memberikan jawaban untuk dirinya sendiri saja dia masih bingung.

Pendengaran kim bum menangkap suara tangis so eun, yang saat ini sedang duduk disebelahnya. Oh, tidak.. jangan lagi. Jangan seperti ini, jangan membuat kim bum menjadi orang yang jahat lagi. Sebenarnya kim bum tidak tega mendengar so eun menangis seperti sekarang tapi hati kim bum masih berat untuk menerima so eun.

“jangan begini… kumohon” ucap so eun disela – sela tangisnya sambil menahan tangan kim bum yang hendak beranjak dari tempat duduknya sekarang.

Kim bum melihat tangan so eun yang menggenggam pergelangan tangannya. Kemudian pandangannya beralih kearah mata so eun yang saat ini merah dan berair. Kim bum semakin tidak tega saja dengan keadaan yang seperti ini. kenapa bisa begini, bukankah biasanya so eun tidak seperti ini. kemana so eun yang ceria ketika dihadapan orang lain. Walaupun kim bum sendiri tau bahwa apa yang dilihatkan oleh so eun selama ini adalah sandiwara belaka.

“kakak, bicaralah… kumohon, bicara padaku” mohon so eun, sambil mencengkram erat tangan kim bum lebih kuat lagi, seakan – akan so eun tidak mau kim bum meninggalkannya.

Kim bum menghela nafasnya panjang, dia pandangi lagi wajah sedih so eun. hatinya belum bisa diajak untuk berkompromi. Mau berapa kali so eun memohon pun rasanya tetap sulit untuk kim bum melakukan apa yang diminta so eun. walaupun hanya sekedar mengeluarkan suaranya. Kim bum melepaskan cengkraman so eun dari tangannya dengan pelan. Sambil menggeleng. Dan pergi meninggalkan so eun.

“kakak… kenapa?” gumam so eun.

So eun tidak menyangka sikap kim bum tetap sedingin ini terhadapnya, padahal so eun sudah memohon padanya. Harus bagaimana lagi so eun berbicara dengan kim bum agar kim bum mau menerima so eun. apa kim bum benar – benar tidak akan bisa menerima so eun selamanya. Lalu bagaimana dengan janji itu. Bagaimana dengan janji yang diucapkan kim bum pada so eun. walaupun so eun tau, bahwa kim bum terpaksa mengucapkan janji itu. Tapi tidak seharusnya kim bum mengingkari janji tersebut kan.

“aaarrrrrgggghhhhhhhh…..” teriak kim bum di dalam kamarnya.

Kenapa bisa seperti ini, kenapa semuanya jadi rumit seperti ini. ini semua gara – gara so eun. andai saja so eun tidak masuk dalam kehidudan kim bum, mungkin kim bum tidak akan seperti ini. dan menjadi orang yang jahat.

Kim bum membuka laci meja, yang ada disamping tempat tidurnya dan mengambil sebuah bingkai foto yang ada di laci tersebut dan langsung membantingnya kelantai hingga membuat kacanya pecah dan berserakan dimana –mana.

“aku benci semua ini. aku benci…” teriak kim bum.

“kim bum apa yang kau lakukan?” tanya sang ayah yang saat ini sudah berada di dalam kamar kim bum dan kaget ketika melihat pecahan kaca berserakan dimana – mana. Tae hee pun juga kaget sama seperti suaminya ketika melihat keadaan kamar kim bum.

“kim bum, ada apa lagi ini?” tanya tae hee, yang benar – benar bingung dengan apa yang dilakukan oleh kim bum.

“aku benci kalian semua, aku membenci semua orang yang ada dirumah ini.” teriak kim bum. kali ini kim bum benar – benar marah. Amarah yang selama ini ditahannya akhirnya keluar juga.

“apa yang kau bicarakan. Apa maksudmu membenci kami hah?” tanya nam gil, yang mulai geram dengan sikap kim bum yang dirasanya sudah sangat keterlaluan seperti ini.

“ini semua gara – gara ayah. jika ayah tidak melakukannya, aku tidak akan tersiksa seperti ini.” jawab kim bum, dengan kerasnya.

“bocah gila, apa aku pernah mengajarimu bicara tidak sopan seperti ini. apa yang kau bicarakan hah…” bentak nam gil.

“ini semua gara – gara kalian” teriak kim bum lagi.

“berhenti berteriak pada orang tuamu kim bum.” teriak nam gil dan langsung menampar wajah kim bum. nam gil sudah tidak bisa mengendalikan emosinya. Kim bum sudah keterlaluan. Tidak seharusnya kim bum berbicara keras pada orang tuanya seperti ini.

Tae hee yang kaget melihat suaminya menampar kim bum, langsung mendekati suaminya dan mengajak nam gil pergi dari kamar kim bum agar bisa menenangkan suaminya itu. Tidak seharusnya ayah dan anak bertengkar seperti ini.

So eun yang melihat kejadian tadi dari balik pintu, hanya bisa menangis. Ini semua gara – gara so eun, tidak seharusnya so eun memaksa kim bum untuk menerimanya. Pasti kim bum tidak suka, hingga kim bum marah seperti tadi.

So eun melihat kim bum yang masih menunduk sambil memegangi pipinya, pasti sakit. Karena menurut so eun tamparan yang diterima kim bum tadi lumayan keras. So eun ingin melangkahkan kakinya mendekati kim bum. tapi so eun takut kim bum tidak menyukai hal itu. Jadi so eun putuskan untuk pergi kekamarnya.

“tidak seharusnya kau bersikap kasar seperti itu pada kim bum.” ucap tae hee, berusaha menenangkan suaminya.

“anak itu pantas untuk dipukul, dia sudah keterlaluan.”

“kim bum memang keterlaluan, tapi kau juga tidak boleh memukulnya seperti tadi.”

“lalu aku harus bagaimana? Kim bum sudah tidak bisa dinasehati dengan cara baik – baik. Anak itu sudah benar – benar keterlaluan.”

“aku yakin kim bum tidak membenci kita. Aku rasa kim bum juga tidak membenci so eun. hanya saja dia butuh waktu untuk menerima semua ini.”

“sampai kapan dia bisa menerimanya. So eun saja, bisa sabar menerima sikap dingin dari kim bum. kenapa kim bum tidak bisa.”

Yaa, seharusnya kim bum bisa menerima so eun. bukankah selama ini so eun juga bisa menerima kim bum. memangnya hanya kim bum saja yang tesiksa dengan semua ini, so eun pun juga.

Sekarang so eun berada dikamarnya. Duduk di tempat tidurnya dan memandangi dua bingkai foto yang berada disamping tempat tidurnya. Dan salah satu foto yang dipandangi so eun saat ini sama dengan foto yang dihancurkan kim bum tadi.

“aku juga tidak menginginkannya, sama sepertimu. Tapi keadaan yang memaksaku untuk menerimanya.” Gumam so eun. sambil memegangi kedua foto yang dipandanginya itu.

“jika sebelumnya kau tidak menerimanya pasti aku juga akan menolak. Aku tidak tau jika kau sangat membenciku.” Gumam so eun lagi.

Saat ini kim bum tengah berbaring ditempat tidurnya. otaknya benar – benar berpikir keras. jika saja dia tidak datang, dan jika saja janji itu tidak diucapkan pasti semua ini tidak akan jadi seperti ini. dan kim bum pun pasti tidak akan membenci so eun. so eun juga tidak perlu susah – susah untuk bersandiwara seperti sekarang. Hubungan macam apa itu adik kakak, bagaimana seorang kakak bisa selau menghindari adiknya. Benar – benar sandiwara yang sangat bodoh.

“maafkan aku so eun, harusnya aku memang tidak melakukan ini terhadapmu.” Gumam kim bum

perkataan dari min hoo kembali lagi muncul ke dalam otaknya. Rasanya memang benar, kim bum belum tentu bisa menerima sikapnya yang dingin seperti ini jika kim bum berada di posisi so eun.

Harusnya kim bum memang, harus lebih mengerti, kalau semua ini bukan salah so eun. bukan so eun yang membuat hidup kim bum berantakan tapi kim bum sendiri. Bukankah ibunya sudah mengatakan kalau so eun itu gadis yang baik. Bahkan kim bum sendiri juga sudah melihatnya kan. Lalu sekarang kim bum harus bagaimana.

Mungkin pergi dari kehidupanmu adalah jalan yang terbaik untuk kita berdua. Tapi bagaimana dengan janji itu. Apa kita harus memutuskan ikatan janji itu. ( so eun )

….. tbc…..

maaf jika part ini ceritanya tidak terlalu panjang, karena aku memang sengaja ingin membuat inti cerita di part 3. jadi aku berharap banyak coment di part ini agar aku tambah semangat melanjutkan part 3’nya. jika coment yang muncul di part ini kurang dari 10, kemungkinan untuk melanjutkannya juga agak lama. jadi mohon comentnya yaa chingu…

Iklan
Komentar
  1. nur aini berkata:

    Sebenarnya apa yg terjadi dgn kim bum dan sso dan hubungan mereka apa….?
    Makin membuat penasaran

  2. shefty rhieya kyuna bumsso berkata:

    apakah sso eon anak angkat keluarga bumppa??? apa kah ada hubungan lain yg buat bumppa gk bisa nwra sso eon??

  3. Kim Lia berkata:

    Waduuhh kim bum mah akhh cueknya keterlaluan.. Kasian so eunnya.. Pasti sakit dicuekin mulu.. Teka-tekinya bikin mikir nh.. Janji apa?? Sandiwara apa?? Makin yakin deh ada sesuatu nh dibalik semuanya

  4. Dini berkata:

    Masih belum ngerti sama masalah yang dihadapi oppa, kok sampek bersikap dingin sama eonni. Makin penasaran aja 😀

  5. selvy berkata:

    sbner’a janji apa sih yg mreka mksud, trus pnya mslh apa dulu’a ampe bumppa skap’a gitu bgt kya yg trsiksa dan trbebani bgt
    next

  6. Janji apa? Wah q bnar2 penasaran janji apa yg membuat kim bum jd frustasi dn membuat so harus besabar menghadpi kim bum. Next part

  7. mia berkata:

    sebenar nya janji apa

  8. Thor, benar2 ceritanya bikin penasaran … penuh tanda tanya… rasanya Kim Bum dan So Eun sdh menikah krn dijodohkan … dan malahan nikah muda…
    Next chap..

  9. diankrisdiana berkata:

    kan bener oasti ada status lain selain kakak-beradik, tapi apa itu? apa mereka nikah? jinjja daebakkk 😀 bagus deh kalo udah nikah, tapi bumppa berubah dong jangan.cuek terus sama sso eonni, kan sso eonninya kasian harus sakit hati karena sikap bumppa yang dinginnya ga ketulungan 😥 aku suka ffnya hihi ^^

  10. elsyahadu berkata:

    mereka kakak adik kandung atau apa?? Knp sikap kimbum dingin trhdp sso…

  11. Hilda Lolita berkata:

    sebenarnya mereka itu apa sih?
    penasaran seru ceritanya …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s