Arsip untuk Maret, 2013

Cover



Part 3

***

so eun masih tetap memandangi foto yang sedari tadi dipeganginya. Ini benar – benar mengharukan, bagaimana semua ini bisa terjadi. Bagaimana kejadian ini bisa dialami oleh so eun. apa tidak ada pilihan untuk so eun keluar dari semua masalah ini. tanya so eun dalam hatinya.

So eun teringat akan kejadian tadi, dimana ayahnya memukul kim bum. pasti saat ini kim bum semakin membenci dirinya. Pasti kim bum akan semakin menjauh dari so eun.

So eun meletakkan kembali foto yang sedari tadi di pegangnya, rasa bersalahnya pada kim bum kembali muncul. So eun harus melihat keadaan kakaknya sekarang. So eun yakin kim bum sudah tidur, jadi so eun tidak perlu takut kalau kim bum akan marah padanya.

So eun sudah sampai didepan kamar kakaknya, seperti biasa jantung so eun selalu berpacu lebih kencang jika selalu berurusan dengan kim bum.



Malam sudah larut namun mata kim bum masih saja tidak bisa terpejam, dia pandangi pecahan kaca yang berserakan di lantai kamarnya. Selembar foto yang masih menempel di bingkai figura itu juga masih tetap tergeletak di lantai, tidak ada sedikit pun niat kim bum untuk membereskan benda – benda tersebut.

Kim bum memegangi, ujung bibirnya yang terasa berdenyut. Tentu saja sakit. Tamparan yang dia dapatkan dari sang ayah tadi lumayan keras, pasti sekarang bekasnya membiru. Ayahnya memang benar – benar keterlaluan, sebegitu marahnya kah ayahnya itu pada kim bum sehingga menampar anaknya sendiri.

Kim bum mencoba untuk memejamkan matanya, walaupun susah tapi tentu saja kim bum harus tidur. Untuk apa kim bum memikirkan hal – hal yang tidak dia ketahui pasti jawabannya.



So eun memutar kenop pintu kamar kakaknya itu, tidak dikunci. Kenapa selalu kebetulan sekali, setiap so eun berniat masuk ke kamar kim bum pasti pintunya selalu tidak dikunci.

Pelan – pelan so eun memasuki kamar kakaknya, so eun tidak mau sampai kakaknya itu marah gara – gara so eun masuk ke kamarnya secara diam – diam. So eun melihat kim bum tengah tertidur di tempat tidurnya. perlahan – lahan so eun menghampiri tempat tidur kim bum dan duduk di sebelah sang kakak.

“maafkan aku kak, aku tau kau membenciku. Tapi ijinkan aku tetap berada disampingmu.” Gumam so eun

“sekalipun kau membenciku, tapi itu semua tidak merubah keadaan kalau aku adalah bagian dari hidupmu, kecuali kau ….” so eun menghentikan gumamannya, dia tidak bisa meneruskan kata – katanya lebih tepatnya tidak mau.

So eun memandangi setiap inci wajah kim bum, dilihatnya ujung bibir kim bum yang membiru. So eun yakin kalau itu bekas luka dari tamparan ayahnya tadi.

“pasti sakit.” Ucap so eun sambil menyentuh luka kim bum.

Kini pandangan so eun beralih ke pecahan kaca yang berserakan di lantai kamar kim bum. diambilnya selembar kertas foto yang juga tergeletak dilantai dan diletakkannya foto tersebut di atas meja. So eun pun dengan telaten membersihkan pecahan – pecahan kaca tersebut, namun aktifitasnya tehenti ketika tanpa diduga sebuah pecahan kaca mengenai salah satu jarinya.

“aaauuuwwww…” ringis so eun, sambil memegangi jarinya yang mulai mengeluarkan darah.

“apa yang kau lakukan?” tanya sebuah suara berat dari belakang so eun.

So eun kaget mendengar suara itu, bahkan sekarang untuk menoleh saja dia tidak berani. Apa benar. Apa so eun tidak salah dengar. Jangan bilang suara berat ini milik kim bum. ya tuhan… bagaimana so eun ini, kenapa tidak mengenali suara kakaknya sendiri, memangnya siapa lagi yang ada dikamar kim bum kalau bukan kim bum dan dirinya sekarang.



Kim bum mendengar suara decitan pintu terbuka, walaupun suaranya pelan tapi tetap saja kim bum mendengarnya. Kim bum sedikit membuka matanya dan melihat siapa yang begitu berani masuk ke kamarnya malam – malam begini, ibunya kah. Pikir kim bum

Kim bum sedikit terkejut ketika melihat so eun mengendap – endap memasuki kamarnya. Kim bum masih pura – pura tertidur untuk mengetahui sebenarnya apa yang mau dilakukan gadis itu dikamarnya.

Kim bum mendengarkan setiap kata – kata yang keluar dari mulut so eun, kim bum juga masih tak bergeming ketika so eun memegang ujung bibirnya.

“seharusnya bukan kau yang minta maaf so eun, tapi aku.” Batin kim bum.

Kim bum membuka matanya ketika mendengar teriakan kecil dari so eun. dan tanpa sadar kim bum pun bertanya pada gadis itu.

“apa yang kau lakukan?” kim bum sempat menyesali pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Untuk pertama kalinya kim bum bertanya pada so eun setelah sekian lama kim bum berusaha menghindari adiknya itu.

Kim bum melihat so eun tengah membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai, namun penglihatan kim bum menangkap setetes darah yang mengalir di jari so eun.

Gadis itu terluka, astaga kenapa so eun tidak cepat – cepat menhentikan darah yang keluar dari jarinya. Bagaimana kalau so eun kehabisan darah. Pikir kim bum

Kim bum segera turun dari tempat tidurnya dan menghampiri so eun yang masih diam di posisinya, kim bum tidak menghiraukan kekagetan adiknya itu, akan tingkahnya. Yang dilakukan kim bum sekarang ialah meraih jari so eun dan dihisapnya darah gadis itu agar berhenti keluar.

“kenapa bisa sampai terluka? Kenapa harus membersihkannya? Apa kau tidak takut kalau kau kehabisan darah hanya gara – gara membersihkan pecahan kaca – kaca ini?” pertanyaan bertubi – tubi dari kim bum tidak mendapatkan respon apapun dari so eun.

So eun benar – benar kaget dengan apa yang dilakukan kim bum barusan. apa so eun sedang bermimpi. Jadi benar kim bum berbicara pada so eun, dan apa ini, kim bum khawatir terhadap so eun.

“kakak….” gumam so eun pelan

“apa….. kau berniat mau melukai dirimu. apa kau bodoh hah” bentak kim bum, dengan nada khawatir.

“kakak… apa yang kau lakukan?” tanya so eun bingung

Ingatan kim bum seakan kembali, dia lepaskan tangan so eun yang sedari tadi dipegangnya. Kim bum memandang so eun sejenak dan memundurkan tubuhnya agar menjauh dari so eun. ini gila pikir kim bum, mana mungkin kim bum bisa melakukan hal seperti tadi, apa sekarang kim bum sudah mulai menerima so eun.

“jadi harus seperti ini. jadi harus terluka dulu baru kau bisa melihatku. Apa aku harus melukai diriku supaya kakak bisa menerimaku. Atau kakak mau aku mati dihadapan kakak, agar kakak tau kalau selama ini aku begitu tersiksa mendapat perlakuan dingin darimu.” Bentak so eun pada kim bum yang masih tampak bingung dengan apa yang dilakukannya barusan.

“bu… bukan begitu maksudku?” jawab kim bum terbata – bata. Kim bum benar – benar tidak bisa menjawab pertanyaan so eun dengan jelas.

Selama ini kim bum tidak membenci so eun,hanya saja kim bum membenci keadaan yang menimpa dirinya dan juga so eun. walaupun kim bum bersikap dingin terhadap so eun, tapi kim bum tetap peduli pada adiknya itu dan ketika kim bum melihat adiknya terluka tentu saja dia tidak bisa tinggal diam.

“kau benar – benar keterlaluan.” Bentak so eun, kemudia menampar pipi kim bum.

So eun benar – benar marah, gadis itu benar – benar marah. Dan anehnya lagi kim bum bahkan tidak bisa membela dirinya sendiri kali ini. bukankah biasanya kim bum bisa bersikap tegas jika sudah menyangkut gadis yang ada didepannya ini. tapi kenapa sekarang kim bum diam saja.

“pergi dari kamarku.” Gumam kim bum lirih. Hanya tiga kata itu yang keluar dari mulut kim bum. mungkin kejadian hari ini adalah peringatan untuk kim bum supaya dia bisa berfikir lebih jernih lagi tentang hubungannya dengan so eun.

20100810051723



So eun pun berlari meninggalkan kamar kim bum. air matanya kembali menerobos keluar. Hari ini untuk pertama kalinya setelah pernikahan itu kim bum mengeluarkan suaranya untuk so eun.

Harusnya so eun senang, karena kakaknya itu ternyata peduli padanya. Lalu kenapa tadi so eun harus menampar kim bum, apa so eun tidak senang ketika tau kalau ternyata kim bum peduli padanya.



Pagi ini cuaca kota Soeul sangat cerah, hari ini keluarga Kim nam gil berkumpul di ruang makan. Tidak ada suara apapun yang terdengar di ruangan itu. Semua manusia yang ada di ruangan itu diam seribu bahasa, semuanya bergelut dengan pikiran masing – masing.

Kejadian tempo hari benar – benar sedikit merubah keadaan. Walaupun kim bum masih tetap dingin pada so eun tapi setidaknya sikap kim bum sudah jauh lebih baik dari biasanya.

“aku sudah selesai. Aku tunggu di depan.” Ucap kim bum, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan orang tua dan juga adiknya.

Nam gil dan tae hee saling pandang, mereka saling lirik melihat tingkah kim bum. walaupun kim bum tidak menyebut nama so eun tapi mereka tau kalau perkataan kim bum barusan ditujukan pada so eun.

kim-tae-hee_422_59029

“sso, cepat kau susul kakakmu sebelum dia berubah pikiran” perintah tae hee pada anak perempuannya itu.

So eun mengangguk dan mengikuti perintah ibunya. Selain itu tentu saja so eun tidak mau membuat kim bum marah karena terlalu lama menunggunya.



“sepertinya kim bum sudah membuka hatinya untuk so eun.” ucap tae hee pada suaminya.

“aku juga merasa seperti itu, anak itu kenapa harus butuh waktu yang lama untuk menyadarkannya.” Jawab nam gil

“kenapa bicara seperti itu, seharusnya kau senang menlihat perubahan kim bum. setidaknya dia sudah mulai mau bicara dengan so eun.” protes tae hee, dengan jawaban suaminya.

“sepertinya kita harus memberikan mereka waktu untuk berdua, biar kim bum bisa menyesuaikan dirinya.” Usul tae hee.

Nam gil, mulai memikirkan sesuatu dan menganggukkan kepalanya tanda dia setuju dengan usul istrinya.

Kim_Nam_Gil



Kini so eun dan kim bum sudah berada dimobil dan bersiap menuju tempat kuliah mereka. Seperti biasa so eun tidak berani mengeluarkan kata – katapun jika sudah berada di dalam mobil bersama kim bum.

“kau membenciku?” tanya kim bum tiba – tiba.

So eun langsung mengarahkan pandangannya pada kim bum, apa yang kakaknya tanyakan barusan. untuk apa so eun membenci kim bum.

“aku tau kau pasti kecewa dengan sikapku selama ini.” ucap kim bum lagi.

So eun semakin heran dengan perkataan – perkataan kim bum yang barusan dilontarkannya. Sebenarnya ada apa dengan kim bum ini.

“kau tidak perlu menjawab apapun, karena aku sudah tau jawabannya. Hari ini aku ingin pergi kesuatu tempat, dan aku ingin kau ikut denganku.”

“bagaimana dengan kuliah kita?” tanya so eun pelan

“aku tidak peduli, dengan itu.” Jawab kim bum dingin.

Sekarang so eun hanya bisa menurut apa keinginan kim bum, tidak masalah jika dia harus bolos kuliah yang terpenting saat ini adalah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh kakaknya itu. Dan mau kemana kim bum mengajak so eun pergi.



“kita sudah sampai.” Ucap kim bum sambil keluar dari mobilnya

So eun pun turun dari mobil kakaknya, so eun terpukau melihat sebuah gedung yang berada tepat dihadapannya sekarang. So eun terpukau bukan karena keindahan gedung itu tapi so eun heran kenapa kim bum membawa so eun ketempat ini.

“kenapa… kenapa kakak membawaku ketempat ini?” tanya so eun

“bukannya kau sudah lelah dengan sandiwara ini. bukannya kau memintaku untuk menepati janjiku. Apa kau lupa dengan semua keinginanmu itu?”

“apa maksud kakak?” So eun semakin heran dengan kim bum, apa yang sebenarnya ada didalam pikiran kim bum sekarang.

Kim bum berjalan memasuki gedung itu dengan santai, dan so eun pun mengikuti langkah sang kakak dari belakang.

Sepertinya kim bum sudah siap untuk menerima semua kenyataan ini. karena bagaimanapun juga so eun adalah bagian dari hidupnya dan kim bum tidak bisa menghindar dari kenyataan itu.

“kau masih mengingat tempat ini?” tanya kim bum

“tentu saja, bagaimana aku bisa lupa.” Jawab so eun.

“jadi bagaimana perasaanmu saat itu.” Tanya kim bum

So eun menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan dari kakannya. Jadi ini alasan kim bum membawanya ketempat ini. apa kim bum benar – benar ingin kembali ke masa itu.

So eun mendudukan dirinya di salah satu bangku panjang yang ada didalam gedung itu, so eun pandangi setiap sudut ruangan itu, tidak ada yang berubah masih sama seperti dulu. Masih sama seperti beberapa tahun yang lalu ketika seorang pria muda berusia 19 tahun mengucapkan janji suci pernikahan dihadapan seorang pendeta, orang tuanya dan para tamu undangan.

“kau mengingat kejadian itu?” tanya kim bum dan mendudukan dirinya disebelah so eun. kim bum bisa melihat wajah sedih so eun sekarang. Pasti gadis ini kembali mengingat kejadian itu.

“aku tidak mau mengingatnya” ucap so eun tiba – tiba.

Kim bum tersenyum mendengarnya, tentu saja semua wanita akan senang mengingat kejadian dimana mereka melakukan acara pernikahan untuk dirinya. Tidak seorang wanitapun yang akan bisa melupakan masa – masa pernikahan seperti itu. Tapi tentu saja berbeda dengan so eun.



FLASHBACK

Seorang gadis kecil berusia 10 tahun tengah meringkuk di pangkuan seorang wanita paruh baya. Badannya menggigil. Sepertinya gadis itu ketakutan badannya gemetaran dan keringat membasahi tubuhnya.

“tenanglah sayang, tidak akan terjadi apa – apa dengan ayah dan ibumu.” Ucap tae hee mencoba menenangkan keponakannya itu.

“apa ayah dan ibu akan baik – baik saja bi?” tanya gadis kecil itu gemetaran.

“tentu saja, ayah dan ibumu akan baik – baik saja”

Dokter keluar dari ruang pemeriksaan dengan menampakkan muka datar. Sepertinya pertanda buruk. Nam gil segera menghampiri dokter tersebut dan menanyakan keadaan adik perempuannya beserta suaminya.

“bagaimana dok, mereka baik – baik saja kan?” tanya nam gil cemas.

Dokter menggelengkan kepalanya, dan itu berarti memang hal buruk lah yang terjadi.

“mereka meninggal, maafkan kami.” Ucap dokter.

Nam gil benar – benar shock dengan jawaban dokter tersebut. Adik perempuan yang dia sayangi telah meninggal. Dan itu semua gara – gara salahnya. Andai saja nam gil tidak menyuruh adik dan keluarganya untuk datang ke pesta ulang tahun anaknya dengan buru – buru pasti kecelakaan itu tidak akan terjadi.

Untung keponakannya selamat, tapi ini lebih menyedihkan untuk anak itu. Dia telah menjadi yatim piatu sekarang. Diusia yang sangat muda dia harus kehilangan orang tuanya.

Nam gil menghela nafasnya dan melihat istrinya yang tengah duduk di kursi tunggu rumah sakit. Nam gil melihat keponakannya itu tengah tertidur dipangkuan sang istri. Rasanya benar – benar menyedihkan.

“kita bawa so eun pulang.” Ucap nam gil pada istrinya.

END OF FLASHBACK



kkot23106

“ayah… ibu, aku merindukan kalian.” Gumam so eun sambil menangis.

Kim bum mengetahui apa yang saat ini dipikirkan oleh adiknya itu, pasti memori masa lalunya kembali lagi. kim bum yakin, kalau so eun pasti merindukan orang tuanya. Orang tua kandung adik sepupunya.

Kim bum membimbing so eun kedalam pelukannya, ini semua salah kim bum. kenapa kim bum begitu bodoh selama ini, kenapa kim bum menyia –nyiakan adiknya ini. bukankah ketika so eun datang waktu itu, kim bum begitu menyambutnya dengan bahagia.

“kau mau memaafkanku?” tanya kim bum sambil membelai rambut so eun, untuk mencoba menenangkan adiknya yang sedang dilanda kesedihan.

“jangan membenciku kak.” jawab so eun didalam isak tangisnya.

“tidak lagi.” ucap kim bum lembut

So eun masih terisak didalam pelukan kim bum, rasanya ini suatu keajaiban. So eun bisa merasakan pelukan kim bum lagi setelah pernikahan itu. So eun membayangkan bagaimana kim bum merentangkan tangannya untuk menyambut kedatangan so eun. saat itu kim bum benar – benar sangat baik pada so eun.



FLASHBACK

so eun kecil mengikuti langkah paman dan bibinya memasuki rumah mereka. Untuk pertama kalinya so eun menginjak rumah itu tanpa kedua orang tuanya. biasanya so eun akan sangat senang jika orang tuanya mengajaknya berkunjung ke tempat ini. tapi tidak untuk hari ini.

Nam gil dan tae hee menggandeng tangan so eun beriringan dan diajaknya keponakannya itu untuk masuk kedalam rumah mereka.

“kau sudah datang so eun” teriak seorang pria kecil berusia dua tahun lebih tua dari so eun dan langsung memeluk so eun untuk menyambut kedatangan gadis itu.

“mulai sekarang kau akan tinggal disini. Kau tau aku akan selalu menjagamu.”ucap kim bum.

So eun merekahkan senyumannya walaupun sedikit berat, banyak orang – orang yang akan menyayanginya termasuk kakak sepupunya ini. walaupun so eun merasa berat akan kejadian yang menimpa keluarganya tapi masih ada paman dan bibinya yang akan selalu menjaganya dan juga kim bum.

“terima kasih kakak.” Jawab so eun sambil membalas pelukan dari kim bum kecil.

Tae hee dan nam gil melebarkan senyumnya. Mereka yakin bahwa anaknya itu akan menerima kehadiran so eun. karena memang mereka sudah akrab sebelumnya.



Tujuh tahun telah berlalu semenjak kejadian dimana orang tua so eun meninggal. Kim bum begitu menyayangi so eun seperti adik kandungnya sendiri, walaupun kenyataannya so eun hanyalah adik sepupunya.

Hari itu semua keluarga kim bum berkumpul di ruang tamu. Hari ini nam gil begitu bahagia karena anak laki – lakinya telah dinyatakan lulus dari bangku sekolah menengah atas. Dan hari ini juga bertepatan dengah hari kelahiran kim bum.

“ayah bangga padamu kim bum, kau lulus dengan nilai terbaik.” Ucap Nam gil pada anak laki – lakinya itu.

“Ibu juga bangga padamu sayang.”

“aku juga bangga pada kakak.”

Kim bum tersenyum mendengar semua anggota keluarganya memuji hasil kerja kerasnya selama ini. kim bum memang anak yang rajin, tentu saja dia akan mendapat nilai yang baik.

“ini semua karena dukungan dari ayah, ibu dan juga adik kecilku.” Jawab kim bum gembira.

“ayah aku ingin menyampaikan sebuah permintaan padamu.” Lanjut kim bum hati – hati.

“katakan saja sayang, karena ayah juga akan menyampaikan sebuah berita penting untukmu dan juga so eun.” jawab nam gil

“aku ingin melanjutkan kuliahku ke jepang ayah. Aku ingin ayah dan ibu menyetujui keinginanku ini.” ucap kim bum penuh semangat.

Nam gil sedikit tersentak, dia seperti ingat sesuatu. Kim bum memang selalu meminta padanya jika sudah besar nanti kim bum ingin pergi ke jepang.

“kenapa harus kuliah disana. Memangnya kau tidak suka jika kuliah disini saja?” tanya tae hee.

“bukankah ayah dan ibu sudah tau kalau dari dulu aku ingin kuliah disana. Bukankah dulu ayah dan ibu menyetujuinya.”

“tidak, kau tidak boleh pergi kesana.” Tegas nam gil.

“ayah, kenapa kau berubah pikiran. Kuliah di jepang adalah salah satu mimpiku, apa ayah tidak senang jika nanti aku bisa sukses di sana.”

“kau harus tetap di korea, lusa kau dan so eun akan menikah.” Tegas nam gil lagi dan pergi meninggalkan istri dan juga anak – anaknya.

Shock… tentu saja kim bum sangat shock. Ayahnya melarangnya untuk mengejar cita – citanya. Dan sekarang ayahnya bilang kalau lusa kim bum dan so eun akan menikah. Apa maksudnya, siapa yang akan menikah dengan so eun dan siapa yang akan menikah dengan kim bum.

“ayah apa maksudmu?” teriak kim bum menuntut kepastian dari ayahnya.

“kakak…” gumam so eun, sambil memegang tangan kim bum.

“maafkan kami karena tidak pernah membicarakan dengan kalian sebelumnya. Ayah dan ibu sudah memutuskan bahwa lusa kalian berdua akan menikah. Maka dari itu ayahmu tidak menyetujui keinginanmu untuk pergi ke jepang kim bum.” jelas tae hee.

Kenapa… kenapa orang tua kim bum keterlaluan sekali. Harusnya mereka membicarakan rencana ini pada kim bum dan so eun terlebih dahulu. bukankah mereka juga harus mendapatkan persetujuan dari kedua orang yang bersangkutan, kenapa mereka memutuskan hal ini sendirian. Bukankah ini menyangkut masa depan kim bum dan juga so eun.

END OF FLASHBACK



“apa kakak masih membenciku karena pernikahan ini.” tanya so eun takut – takut.

Kim bum melepaskan pelukannya dari tubuh so eun. kim bum pandangi mata so eun yang berair. Kim bum mengusap air mata yang membasahi pipi adiknya itu.

“menurutmu?” tanya kim bum pada sang adik. Kim bum ingin tau bagaimana reaksi so eun setelah ini.

“aku tidak tau.” Jawab so eun dengan muka datar. Tentu saja so eun tidak tau dengan isi hati kim bum.

“apa kau tidak mau menagih janjiku ketika aku berdiri disini, saat aku mengucapkan janji suci pernikahan kita di depan pendeta. Saat aku mengatakan YA.. AKU BERSEDIA MENERIMA KIM SO EUN DALAM KEADAAN SUKA MAUPUN DUKA. DALAM KEADAAN SEHAT MAUPUN SAKIT MENJADI ISTRIKU. Walaupun kau tau saat itu aku terpaksa mengucapkannya.” Tegas kim bum. sambil berdiri ditengah – tengah gedung gereja tempat dimana dirinya mengucapkan janji suci pernikahannya dengan so eun lima tahun yang lalu.

Menurut kim bum ini memang sudah saatnya untuk dirinya memperbaiki kesalahannya pada so eun. toh, selama ini so eun memang sudah banyak berkorban untuknya. berkorban waktu, pikiran dan juga hatinya.

“kakak…” so eun terharu dengan apa yang baru saja diucapkan kim bum. jadi kim bum benar – benar sudah menerima dirinya kembali sebagai adik dari kim bum. oh… bukan adik, melainkan istri.

“jadi Kim so eun maukah kau menerima kembali Kim sang bum menjadi suamimu, dalam keadaan sehat maupun sakit dan dalam keadaan suka maupun duka?” tanya kim bum pada so eun dengan menirukan gaya seorang pendeta.

So eun benar – benar terharu dengan dengan perlakuan kim bum yang seperti ini. kim bum benar – benar membuat hati so eun bahagia kembali setelah beberapa tahun dia kehilangan senyum cerianya bahkan kehilangan semangat hidupnya.

So eun berlari menghampiri kim bum yang berdiri di tengah – tengah gedung. Dan menghambur kedalam pelukan kim bum. air matanya pun tumpah lagi. kini air mata kebahagiaan lah yang keluar dari mata so eun.

“tentu saja aku menerimanya.” Jawab so eun.

“kau mau memulainya kembali dari awal?” tanya kim bum lagi memastikan.

“menurut kakak?” tanya so eun menirukan gaya kim bum seperti sebelumnya.

“baiklah kalau kau tidak mau, aku juga tidak memaksa.” Jawab kim bum sambil melepaskan tangan so eun yang sedari tadi memeluknya dan pergi meninggalkan gadis itu untuk menggodanya.

“kakak… mau kemana?” panggil so eun.

Dan kim bum pun tetap saja melangkahkan kakinya menjauh dari so eun dan menuju pintu keluar gereja itu. So eun semakin kebingungan melihat kakaknya yang tidak menghiraukan panggilannya.

“yaa… kakak berhenti…” teriak so eun.

Masih sama seperti tadi, kim bum tetap saja melenggang menjauhi so eun. sebenarnya kim bum mendengar panggilan so eun, tapi kim bum sengaja ingin menggoda so eun. dan kim bum berharap so eun mau mengejarnya dan memeluknya dari belakang.

Dan ternyata harapan kim bum benar – benar terwujud, so eun berlari mengejarnya dan memeluk kim bum dari belakang sebelum kaki kim bum benar – benar melangkah keluar dari gereja tersebut.

“aku mencintai kakak. Bukan cinta sebagai adik dan kakak. Melainkan cinta dari seorang wanita pada pria. Kau adalah suamiku, bukan kakakku.” Tegas so eun sambil mengeratkan pelukannya pada kim bum. dan itu membuat kim bum tersenyum senang.

“siapa kau berani memelukku?” goda kim bum sambil membalikkan badannya agar bisa melihat wajah so eun.

“tentu saja aku Kim so eun, adik dari kim sang bum sekaligus istri yang telah ditelantarkannya.” Jawab so eun sambil menggembungkan pipinya.

Kim bum tersenyum geli melihat wajah so eun. gadis ini sangat lucu, dia masih sama seperti beberapa tahun lalu, ketika so eun datang ke rumah kim bum bersama dengan orang tua kim bum. walaupun saat itu, dia sudah kehilangan orang tuanya tapi so eun masih tetap tegar.

mungkin kim bum memang harus membuka hatinya sekarang, gadis ini sudah terlalu banyak mengeluarkan air matanya dan kim bum tidak ingin melihat so eun menderita, sudah cukup perlakuan dingin kim bum selama ini. so eun mencintai kim bum, dan itu lebih dari cukup sebagai alasan untuk kim bum melindungi adik sekaligus istrinya ini.

=======THE END=======

bagaimana reader apakah kalian puas dengan ending part ini??? mungkin para reader berfikir bahwa endingnya terlalu biasa tapi memang seperti inilah endingnya.

mungkin jika ada waktu saya akan buat part specialnya untuk fanfic ini, namun saya juga tidak bisa pastikan kapan akan mempostnya. karena memang rutinitas saya sehari – hari benar memporsir waktu dan fikiran saya. biasa derita anak kuliah sambil kerja.
baiklah, untuk koment benar – benar saya harapkan disini. dan terimakasih chingu.

will the dream come true (part 4)






Part 8

***

“maafkan aku, karena telah menghianatimu. Aku tidak mencintaimu joo won.” Gumam so eun, dan hampir tak terdengar oleh siapapun.



162923_1749538862509_1359961980_1926680_6274470_n

Joo won memandang wajah so eun. joo won heran dengan apa yang ada difikiran so eun saat ini. apa so eun serius dengan ucapannya barusan.

“baiklah, kau tidak mencintaikku itu terserah padamu. Lalu apa yang kau lihat dari kim bum sehingga kau mencintainya?” tanya joo won, sambil menunjuk kim bum yang masih terkulai lemas di lantai.

“apa harus ada alasan khusus untuk seorang wanita, menyukai seorang pria?” tanya balik so eun pada joo won

“aarrrrgggghhhhh…. kau benar – benar menghancurkan hatiku so eun.” teriak joo won.

“bagaimana bisa kau mencintai seseorang yang telah berkali – kali membuatmu menangis hah… bagaimana bisa kau mencintai laki – laki brengsek seperti kim bum, yang jelas – jelas telah meninggalkanmu sendirian, ditempat yang kau tidak tau arah, dan dalam cuaca hujan… apa yang kau lihat dari lelaki brengsek sepertinya so eun.” teriak joo won lagi.

Kali ini semua amarah joo won keluar , sudah cukup joo won bersabar. So eun dan kim bum pasti bingung kenapa joo won tau akan semua hal itu. Tentu saja joo won tau, joo won tidak buta. Selama ini joo won melihat kalung milik kim bum yang dipakai so eun. dan joo won juga tidak pikun, kalau kim bum pernah mengaku pada joo won kalau so eun itu adalah kekasihnya walaupun saat itu joo won tidak terlalu mempedulikannya. Joo won sudah lama kenal dengan kim bum dan joo won sudah hafal betul bagaimana karakter kim bum.

eunnie-6

“maafkan aku joo won. Maafkan aku.” Gumam so eun sambil memeluk joo won, mencoba untuk menenangkan pria yang selama ini telah baik padanya.

Kim bum berusaha bangkit dan mencoba untuk bangun, dia merasa bersalah. Bukan hanya pada so eun tapi juga joo won. Ini semua memang salahnya. Tapi ini semua juga diluar kendali kim bum. kim bum juga tidak menyangka jika semua ini akan terjadi.

“kau menghancurkan hatiku so eun.” gumam joo won pelan.

So eun makin mengeratkan pelukannya pada joo won. Matanya sembab, pipinya basah karena air mata yang tak henti – hentinya keluar. so eun mencoba menenangkan joo won. Bagaimanapun ini semua juga salah so eun. jika so eun tidak hadir dalam kehidupan kim bum dan joo won lagi mungkin dua pria yang saling bersahabat ini tidak akan bertengkar seperti sekarang.

“aku mengerti… kau pasti marah padaku.” Jawab so eun.

“tidak bisakah kau merubah perasaanmu so eun, tidak bisakah kau mencintaiku?” tanya joo won sambil melepaskan pelukan so eun.

So eun tidak bisa menjawab pertanyaan joo won, tentu saja so eun tidak bisa hatinya sudah dipenuhi oleh rasa cintanya pada kim bum. mana mungkin so eun bisa merubah perasaannya itu.

“kau tidak bisa memaksanya.” Ucap kim bum pelan.

“diam kau brengsek.” Kesal joo won, dan kembali memukul kim bum.

Namun kali ini kim bum bisa menangkis pukulan joo won. Dan kim bum pun juga berhasil memukul joo won tepat diwajahnya.

“kau tidak bisa memaksakan perasaan orang lain, untuk mencintaimu.” Teriak kim bum dan memukul joo won lagi, hingga sekarang joo won yang jatuh tersungkur di lantai.

joo won terkulai lemas di lantai karena pukulan dari kim bum, dia tidak membalas pukulan kim barusan sama seperti sikap kim bum sebelumnya yang tidak membalas pukulannya.

Kim bum menjatuhkan dirinya tepat disamping joo won, dia merasa menyesal telah memukul joo won. Seharusnya dia tidak memukul sahabatnya itu. Kalau joo won yang memukul kim bum memang sudah seharusnya karena kim bum telah merebut kekasih sahabatnya itu. Tapi kalau kim bum yang memukul joo won,… atas dasar apa kim bum melakukannya.

So eun hanya bisa diam memandangi kim bum dan joo won, dia tidak bisa berbuat apa – apa lagi sekarang. Menghentikan mereka pun percuma. Menyuruh mereka pergi dari apartementnya pun juga tidak mungkin. So eun pun hanya bisa mendudukan dirinya disudut ruangan apartementnya. Berusaha sedikit menjauh dari tubuh kim bum dan joo won.

“kau sungguh beruntung sekali kim bum.” ucap joo won tiba – tiba.

Kim bum memandang sahabatnya yang tergeletak dilantai. Kim bum ingin tau apa lagi yang akan dikatakan joo won sekarang. Kim bum ingin tau apa yang akan dilakukan joo won setelah ini.

“apalagi yang akan kau katakan?” tanya kim bum

“bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi padaku. Bagaimana mungkin tuhan selalu bersikap tidak adil padaku.” Gumam joo won.

Kim bum semakin bingung dengan joo won, sebenarnya apa maksud dari ucapan bocah ini. kenapa berbicara berbelit – belit seperti ini.

“sebenarnya apa yang akan kau katakan. Apa kau akan bilang kalau tuhan tidak adil karena membiarkan kekasihmu telah direbut oleh sahabatmu seperti itu? Atau kau akan bilang kalau seharusnya so eun lebih baik memilihmu dari pada memilihku, begitu?” teriak kim bum.

Kim bum benar – benar tidak bisa menahan kata – katanya, harusnya kim bum bisa lebih sabar lagi kalau berbicara. Kenapa harus memancing emosi lagi.

“aku muak denganmu kim bum… aku sudah tidak bisa mengalah lagi sekarang.” Ucap joo won. Sambil mendudukan dirinya.

Kim bum yang semula juga berbaring disamping joo won pun mencoba untuk bangun. Walaupun dia lelah dia juga harus sigap jika nanti joo won kembali memukulnya. Tentu saja kim bum tidak ingin wajahnya dibuat babak belur oleh joo won.

“terserah siapa yang dicintai so eun sekarang, yang pasti saat ini so eun masih tetap menjadi kekasihku. Dan sebentar lagi dia akan menjadi istriku.” Ucap joo won sambil tersenyum memandang kim bum yang ada disebelahnya.

“apa kau masih belum mengerti kalau so eun lebih memilihku. Kenapa kau masih tidak bisa melepasnya?” tanya kim bum kesal dengan senyuman joo won. Tentu saja kim bum kesal, bukan hanya kesal kim bum juga takut kalau joo won masih tidak bisa melepas so eun untuknya.

Karena kenyataannya, sebentar lagi joo won dan so eun akan segera menikah kan. Orang tua mereka pasti juga akan menyetujui hubungan mereka. Itu berarti kim bum bakalan kehilangan so eun.

“apa kau kira, aku akan dengan begitu mudahnya menyerahkan so eun padamu. Kau kira aku ini malaikat yang akan selalu mengalah padamu. Kau kira hanya karena so eun mencintaimu jadi kau bisa memilikinya?” ucap joo won dengan santainya.

“ Lalu bagaimana denganku, apa aku harus merelakan orang yang aku cintai kembali menjadi milikmu? Kemarin yeon hee sekarang so eun lalu besok siapa lagi?” sambung joo won lagi.

“joo won…. ap..apa maksudmu? Jadi selama ini…” kim bum menggantungkan kalimatnya.

“yaa… dulu aku mencintai yeon hee. bukankah dari dulu aku pernah mengatakan padamu kalau aku mengaggumi yeon hee. tapi karena kau juga tertarik padanya aku memutuskan untuk mundur, karena aku tau kalau yeon hee juga lebih tertarik padamu dari pada aku.” Jelas joo won.

“jadi untuk yang sekarang, aku tidak akan mundur lagi darimu. Kau tidak pantas untuk so eun. kau terlalu sering menyakitinya, kau terlalu sering membuatnya menangis.” Ucap joo won menegaskan perkataannya pada kim bum

jwlooks1_zpsef0d5acc

Joo won berjalan menghampiri so eun, yang juga tampak bingung dengan apa yang barusan gadis itu dengar. Jadi selama ini joo won menyukai yeon hee.

“maafkan aku so eun, tapi aku tidak akan melepasmu. Aku akan selalu melindungimu.” Ucap joo won sambil mengusap rambut so eun dan pergi meninggalkan kim bum dan so eun.



Joo won berjalan keluar dari apartement so eun, hatinya benar – benar hancur. Kenapa harus seperti ini, kenapa joo won berubah jadi egois seperti ini. kenapa joo won harus menyakiti hati gadis yang dicintainya. Kenapa joo won harus membuat sahabatnya susah akan sikapnya barusan. joo won benar – benar frustasi sekarang. Harusnya dia juga tidak membuka luka lamanya.

“apa benar yang kau ucapkan tadi?” tanya sebuah suara dibelakang joo won.

Joo won kenal suara itu, kenapa gadis itu bisa ada disini. Apa gadis itu mengetahui semuanya. Apa sedari tadi gadis itu berada di tempat ini. lalu kenapa gadis itu tidak ikutan protes dengan sikap kim bum yang joo won rasa sudah sangat keterlaluan.

Lee_Yeon_Hee__497

“apa benar kalau dulu kau menyukaiku?” tanya yeon hee memastikan bahwa yang didengarnya tadi bukan hanya imajinasinya saja.

“itu hanya masa lalu, jadi jangan kau fikirkan.” Jawab joo won tanpa sedikit pun menoleh kebelakang.

“kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” tanya yeon hee lagi.

“itu hanya masa lalu, sudah tidak penting lagi. yang terpenting sekarang kau akan segera mendapatkan kim bum lagi, karena aku akan mempercepat pernikahanku dengan so eun.” tegas joo won, sambil melangkahkan kakinya meninggalkan yeon hee tanpa sedikitpun memandang gadis yang pernah dia cintai itu.



Waktu terus berputar, masa lalu tidak akan bisa diulang kembali. Dan penyesalan pun pada akhirnya akan datang terlambat. Semuanya sudah terjadi untuk apa disesali. Yang terpenting saat ini adalah menyelesaikan semua masalah yang telah diperbuat bukan malah menyesalinya.

178

Saat ini kim bum berada di dalam kamar apartementnya. Dia pandangi setiap sudut kamarnya. Sepi itulah yang saat ini dirasakan oleh kim bum. sudah tidak ada lagi celotehan – celotehan joo won. Sudah tidak ada lagi pertengkaran – pertengkaran kecil antara joo won dan dirinya.

Bahkan sudah tidak ada satu barang joo won pun yang tertinggal di dalam apartement itu. Yang ada hanya kenangan, yang ada hanya kesedihan dan penyesalan.

“maafkan aku joo won, seharusnya dari dulu aku mengerti kalau kau juga menyukai yeon hee.” batin kim bum.

Semenjak kejadian diapartement so eun waktu itu, joo won memutuskan untuk menempati apartementnya sendiri. Karena memang sebenarnya joo won tinggal bersama kim bum atas keinginan dari kim bum.

Kim bum menghampiri meja belajarnya, dibuka laci mejanya itu dikeluarkannya kalung miliknya yang pernah diberikan kim bum pada so eun. Kim bum pandangi lagi, kalung itu.

“apa sudah tidak ada kesempatan lagi untukku memperbaiki semuanya.” Batin kim bum



“kau pasti marah padaku?” tanya yeon hee pada so eun.

Saat ini so eun dan yeon hee sedang berada disalah satu restoran yang ada di soeul. Keduanya tampak tidak tertarik menyantap hidangan yang dari tadi telah terhidang dihadapan mereka.

“hahaha.. kau ini lucu yeon hee.” jawab so eun sambil tersenyum renyah.

unduhan-21

Yeon hee tau kalau saat ini tawa yang diberikan so eun itu adalah sebuah tawa paksaan. Yeon hee tau kalau saat ini so eun pasti dilanda kebingungan.

“kau tidak akan benar – benar meninggalkan kim bum kan?”

“pertanyaan bodoh apa itu, kau lupa kalau aku akan segera menikah dengan joo won. Lagi pula aku juga tidak mau merusak hubunganmu dengan kim bum.” jawab so eun

“kau tidak mencintai joo won jadi untuk apa kau melanjutkan hubungan ini. apa kau berniat menyakiti hati semua orang. Kau akan menyakiti dirimu sendiri, kau juga akan menyakiti kim bum dan juga joo won.” Jelas yeon hee, mencoba memberi peringatan pada so eun.

“akan lebih banyak hati orang – orang lagi yang akan tersakiti jika aku tidak menikah dengan joo won. Kau tidak pikirkan keluargaku, kau tidak pikirkan keluarga joo won yang sudah mempersiapkan semuanya.”

“setidaknya pikirkan lagi semuanya so eun.” paksa yeon hee

“maaf yeon hee aku harus pergi.” So eun pun meninggalkan yeon hee.

Yeon hee tau kalau sebenarnya so eun masih tetap mencintai kim bum, apapun dan bagaimanapun yang terjadi, dihati so eun hanya ada kim bum dan bukannya joo won. Lalu bagaimana ini, joo won sudah tidak bisa memaafkan kim bum dan so eun pun lebih mengikuti kata – kata orang tuanya.

Apa yang harus dilakukan yeon hee sekarang. Dirinya juga ikut andil dalam masalah ini. dirinya juga bisa merasakan bagaimana perasaan so eun sekarang. Dia juga merasa bersalah atas semua yang menimpa kim bum, so eun dan terutama joo won.



So eun yakin apa yang sudah menjadi keputusannya itu adalah jalan yang terbaik untuk dirinya dan semuanya. Ini semua sudah takdir tuhan untuk apa disesali.

So eun terus berjalan dia tidak tau harus pergi kemana, pulang ke apartementnya malas. Pergi menemui joo won enggan. Mengikuti hatinya untuk mengunjugi kim bum takut. So eun pun hanya bisa mengikuti kakinya mellangkah.

So eun melihat sekitar, dia pandangi setiap orang – orang yang sedang berlalu lalang di depannya. Kenapa semua orang yang dilihatnya tampak bahagia tidak seperti so eun.
Tanpa di sadari so eun, ternyata so eun telah sampai di taman. Taman tempat dimana dulu kim bum mengajaknya untuk berkencan. Tempat dimana kim bum mengajak so eun menjalin sebuah hubungan. Tempat dimana kim bum mengungkapkan perasaannya pada so eun.

“andai saat itu, aku tidak menemuimu. Andai saat itu aku tidak menghampirimu pasti hidupku tidak akan kacau seperti ini. dan mungkin jika kau tidak hadir kembali dalam hidupku pasti semuanya tidak berantakan seperti saat ini.” ucap so eun sambil mendudukan dirinya dibangku panjang, tempat dimana dulu kim bum menyatakan perasaanya pada so eun.

“jadi kau menyesali semuanya?”

So eun menoleh kebelakang dan ternyata kim bum sudah ada dibelakangnya. Sejak kapan pria itu ada disana. Kenapa so eun tidak tau, kenapa so eun tidak menyadari itu.

“kenapa lama sekali, aku sudah menunggumu satu jam disini.” Ucap kim bum sambil mendudukan dirinya disamping so eun.

Kenapa seperti ini, kenapa kejadian itu terulang lagi. kenapa harus seperti ini lagi. pikir so eun.
Apa kim bum sengaja melakukan ini. lalu apa maksud kim bum sudah menunggunya selama satu jam disini, jadi kim bum sudah berada di tempat ini sebelum so eun sampai.

Ini tidak boleh terjadi lagi, so eun harus pergi. So eun tidak boleh membuat keyakinannya runtuh lagi setelah melihat kim bum. so eun beranjak dari temppat duduknya dan niatnya itu harus terhenti karena tangan kim bum menahannya.

“biarkan aku berbicara dulu, lalu kau boleh pergi.” Mohon kim bum. dan mau tidak mau so eun pun harus menuruti kata – kata kim bum.

“kau tau betapa bingungnya hatiku saat aku memintamu menjadi kekasihku. Kau tau betapa senangnya aku saat kau bilang kau menyukaiku. Kau tau bagaimana bahagianya aku malam itu ketika kau benar – benar menjadi milikku. Tapi kenapa semua itu begitu cepat berubah hanya dalam sekejap mata.” Terang kim bum

“lalu sekarang apa yang harus aku lakukan? Merelakanmu, sama seperti joo won yang merelakan yeon hee untukku?” tanya kim bum lagi mencoba meminta saran pada gadis yang saat ini ada disebelahnya.

“kau sudah tau jawabannya, kenapa harus bertanya lagi padaku.” Jawab so eun dingin

Kim bum tau akan seperti ini, so eun kembali dingin seperti dulu. Harusnya kim bum memang tidak perlu bertanya lagi, karena kim bum pun pasti sudah tau kalau so eun pasti akan tetap pada pendiriannya.

“dan dari awal aku sudah memperingatkanmu bahwa seharusnya kau tidak usah menemuiku waktu itu. Aku lelah, biarkan aku kembali ke kehidupanku yang dulu tanpa dirimu.” lanjut so eun.

Setelah itu so eun pun beranjak pergi meninggalkan kim bum yang masih duduk di tempatnya. Sama seperti dulu saat so eun meminta ijin pada kim bum untuk pulang duluan. Jika saat itu, so eun pergi tanpa membawa luka, tapi hari ini so eun pergi membawa luka yang benar – benar membuatnya tidak kuat lagi untuk hidup.

So eun membiarkan air matanya yang terus mengalir, gadis itu ingin menoleh kebelakang memastikan apakah kim bum akan baik – baik saja setelah kepergiannya ini, atau kim bum juga akan rapuh sama seperti batin so eun sekarang. tapi so eun tidak boleh rapuh, so eun harus kuat begitu pula dengan kim bum. so eun berharap pria itu baik – baik saja.
Baru beberapa langkah so eun berjalan, tibaa – tiba sebuah tangan melingkar dilehernya. Deru nafas yang memburu dibelakang so eun.

“biarkan aku memelukmu sekali lagi.”

Ya tuhan.. kenapa kim bum seperti ini, ini benar – benar membuat so eun semakin berat untuk melepaskan pria itu.

“kau milikku dan selamanya akan menjadi milikku. Aku yakin kita akan bersama karena takdir akan mempersatukan kita, seperti saat ini, yang membawamu ketempat ini lagi dan tanpa sengaja mempertemukan kita.” Tegas kim bum masih tetap yakin pada perasaannya.

So eun benar – benar tidak habis pikir dengan kim bum, kenapa pria ini bisa begitu kuat. Kenapa so eun tidak bisa sekuat kim bum. apa yang diucapkan kim bum iitu benar – benar serius, apa masih mungkin so eun dan kim bum bersama lagi.

“jangan berbual kim bum, kau telah mempersulit keadaan jika seperti ini. biarkan aku bersama dengan joo won dan kau tetap bersama yeon hee, itu akan jauh lebih baik.”

So eun pun melepas pelukan kim bum, sudah cukup untuk semuanya. Kim bum adalah pembuat masalah dan kim bum harus menyelesaikannya sekarang juga. Dan mungkin perpisahan ini memang jalan yang terbaik. So eun pun pergi meninggalkan kim bum.

“aarrrrggggghhhhhhh…..” teriak kim bum selepas kepergian so eun, ini gila kehidupan ini benar – benar gila, pikir kim bum.

Apa benar ini semua salah kim bum, memangnya kim bum sengaja melakukan ini semua. Apa kim bum salah jika jatuh cinta pada so eun waktu itu, memangnya cinta bisa diduga. Orang yang sudah menikah saja, masih bisa menemukan sebuah cinta baru. Lalu apa salahnya dengan kim bum waktu itu, lagi pula dulu kim bum dan yeon hee masih pacaran dan belum menikah.

514562224

Lalu kalau masalah joo won, itu bukan salah kim bum sepenuhnya kan.. itu salah joo won kenapa dia tidak berterus terang pada yeon hee, dan kenapa juga joo won harus mengalah dari kim bum. memangnya kim bum menyuruh joo won melakukannya. Tidak kan.

Biarlah orang menganggapnya salah, tapi kenapa so eun juga harus ikut – ikutan memojokannya. Apa so eun belum puas membuat kim bum merasa tersiksa dengan keputusannya yang lebih memilih joo won dari pada dirinya. Yaa.. tuhan berikan kim bum kekuatan untuk mempertahankan cintanya.

“kau milikku… dan selamanya akan menjadi milikku.” Teriak kim bum lagi, dia tidak menghiraukan pandangan orang – orang yang terlihat heran akan tingkahnya. Persetan dengan orang – orang itu.



Saat ini joo won duduk termenung di taman tempat biasa dia dan kim bum biasa menghilangkan penat. Tempat yang sangat indah menurut joo won, dia melihat air terjun yang sangat indah didepannya. Tempat ini benar – benar nyaman untuk joo won, bukan hanya joo won saja yang berpikir seperti itu karena biasanya kim bum juga akan berada disana jika sedang penat.

488638

Joo won mencoba menjernihkan pikirannya, rasa bersalahnya pada kim bum kembali muncul. Kenapa hanya karena masalah wanita persahabatannya dengan kim bum bisa hancur seperti ini, pikir joo won.

“apa yang sedang kau pikirkan?” tanya yeon hee yang tiba – tiba sudah mendekati joo won.

“kenapa kau ada disini?” tanya joo won, yang sedikit heran dengan kedatangan yeon hee secara tiba – tiba.

“entahlah… yang aku tau, hatiku yang menyuruhku untuk datang kesini.” jawab yeon hee sekenanya.

Yeon hee tau kalau joo won pasti ada di tempat ini. setidaknya keinginan yeon hee untuk ketempat ini tadi tidak salah. Biasanya jika bukan kim bum pasti joo won lah yang sering berkunjung ke tempat ini jika salah satu diantara mereka sedang mengalami masalah.

“kau tidak mau menjelaskan apapun padaku?” tanya yeon hee, mencoba mengetahui bagaimana perasaan joo won terhadapnya sekarang. Walaupun sudah terlambat untuk yeon hee menyadari perasaan joo won padanya dulu.

“penjelasan apa..? tidak ada yang perlu dijelaskan lagi.” jawab joo won santai.

“kenapa kau berubah menjadi egois seperti ini, kau bukan seperti joo won yang aku kenal biasanya. Kau terlihat menyedihkan sekarang.” Jelas yeon hee, mendiskripsikan perubahan pada diri joo won.

“joo won yang dulu sudah tidak ada lagi, joo won yang dulu terlalu sering mengalah. Dia terlalu bodoh.” Perasaan joo won saat ini sedang tidak menentu tapi setidaknya perasaan joo won hari ini lebih baik dari pada kemarin.

“kau sudah menemui kim bum?” tanya yeon hati – hati, setidaknya agar joo won tidak terpancing emosinya.

Joo won diam sejenak, dirinya memang belum bertemu lagi dengan kim bum setelah kejadian di apartement so eun waktu itu. Egonya masih belum bisa menerima sikap kim bum yang telah berani merebut so eun darinya, walaupun kenyataannya memang kim bum lah yang ada dihati so eun.

“untuk apa, aku tidak mau bertemu dengan penghianat seperti dia.” Jawab joo won ketus.

“apa kau benar – benar mencintai so eun? apa perasaanmu itu benar – benar cinta dan bukannya kasihan?” sepertinya pertanyaan yeon hee ini terlalu buru – buru, apa dia harus menanyakan hal seperti itu sekarang.

“apa maksudmu? Tentu saja aku mencintai so eun, aku tidak mau so eun menderita hanya gara – gara dia mencintai pria brengsek seperti kim bum.”

“lalu bagaimana denganku? Bagaimana rasa kagummu padaku dulu?” gumam yeon hee

Kali ini yeon hee benar – benar memberanikan dirinya untuk mempertanyakan hal ini pada joo won. Mungkin ini juga salah yeon hee juga karena dulu dia terlalu mengabaikan perasaan joo won padanya. Dan ternyata joo won lebih cocok untuknya dari pada kim bum.

“tentang perasaanmu padaku yang kau maksud dulu, itu bukan kesalahanku sepenuhnya. Itu semua karena salahmu.” Sambung yeon hee lagi kali ini lebih pelan, yeon hee mengucapkannya.

“maksudmu?” heran joo won dengan perkataan yeon hee, yang terdengar memojokkan joo won.

“jika saat itu kau langsung mengutarakan perasaanmu padaku, mungkin akan ada pertimbangan khusus. Dan mungkin sekarang kita sudah pacaran dan bukannya seperti sekarang, bahkan kau dan kim bum juga tidak akan saling membenci seperti ini.

“aku bilang itu hanya masa lalu, kenapa harus mengungkitnya, perasaanku padamu itu sudah lama hilang dan sekarang perasaan itu sudah tidak ada lagi untukmu.” Geram joo won, untuk apa yeon hee mengorek luka lama joo won lagi, bahkan joo won sudah lupa akan hal itu.

Lee_Yeon_Hee__513

“biarkan aku menebus kesalahanku padamu, biarkan aku yang memiliki hatimu. Ijinkan aku berada disisimu joo won. Aku tau perasaanmu pada so eun itu hanya sebatas obsesi belaka, aku tau bahwa perasaanmu padaku itu masih ada.” Yeon hee benar – benar berharap kalau joo won masih menyukainya.

“Kau gila yeon hee. apa kim bum yang menyuruhmu untuk mengatakan hal ini padaku. Sampai kapanpun perasaanku ini hanya untuk so eun. dan perasaanku padamu itu hanya masa lalu.” Kesal joo won.

Joo won benar – benar kesal dengan yeon hee, gadis ini membuat joo won semakin bingung. Untuk apa yeon hee bicara seperti tadi, lalu apa maksudnya yeon hee bilang kalau joo won tidak benar – benar mencintai so eun.

Joo won lebih memilih pergi dari pada harus terus – terusan mendengar celothan – celotehan yeon hee yang menurutnya tidak masuk akal. Joo won mencintai so eun, dan sekali lagi joo won tegaskan pada hatinya bahwa perasaanya pada yeon hee sudah lama hilang setelah yeon hee menjalin kasih dengan kim bum. dan sekarang hanya ada satu gadis yang ada di pikiran joo won yaitu so eun.

======TBC======

maaf jika part ini kurang memuaskan untuk semua reader, sepertinya pikiran saya sedang buntu dikarenakan banyak pekerjaan yang menuntut untuk cepat diselesaikan jadi pembuatan fanfic jadi terbengkalai.

di part ini sengaja saya berikan gambar agar para reader bisa lebih memahami semua karakter yang ada. dan untuk eonni atty, saranmu sudah saya jalankan. hehehe, untuk komentnya saya tunggu dengan senang hati…