Arsip untuk Juli, 2013

will the dream come true (part 4)

Part 10



So eun memandangi punggung kim bum yang mulai menjauh darinya. Kenapa kim bum seperti ini, kenapa kim bum tidak mempertahankan so eun untuk menjadi miliknya, lalu apa maksudnya semua ini. apa maksud dari sikap kim bum selama ini pada so eun.

“kim bum, berbaliklah… aku mohon berbaliklah.” Gumam so eun lirih, so eun berharap jika kim bum menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya hanya sekedar untuk melihat keadaan so eun.

Namun kenyataannya berbeda dengan apa yang diharapkan so eun, jangankan untuk melihat kebelakang. Menghentikan langkahnya saja tidak. Kim bum bahkan seakan – akan tidak berusaha melihat atau mengetahui bagaimana keadaan so eun saat ini.

“terimakasih untuk semuanya kim bum.” batin so eun, sambil meneteskan air matanya. Yaa, mungkin inilah takdir so eun, kembali ke kehidupannya semula seperti dahulu lagi sebelum kedatangan orang – orang dari masa lalunya.

~~~

Kim bum terus berjalan, menjauhi so eun. pertahanannya runtuh seketika. Akhirnya setelah sekian lama dia tidak menangis kini kim bum kembali meneteskan air matanya. Kim bum teringat terakhir kali dia meneteskan air matanya yaitu ketika ayahnya pergi meninggalkannya dan keluarga untuk selamanya. Dan kini hal ini terjadi lagi, kim bum menangis dan ini semua karena dia harus merelakan orang yang dia cintai menikah dengan sahabatnya.

“maafkan aku so eun, maafkan aku. Mungkin inilah yang terbaik untuk kita, aku berharap kau bahagia bersama dengan joo won.” Batin kim bum. saat ini dirinya benar – benar rapuh.

Rasanya dia ingin menghentikan langkah kakinya dan berbalik menuju tempat so eun berdiri tadi, tapi kim bum tidak sanggup. Kim bum tidak bisa melakukannya karena jika kim bum menoleh ke belakang akan sangat sulit untuk kim bum melepaskan so eun.

“biarkan aku saja yang menderita. Biarkan aku yang menanggung semua kesedihan ini, aku ingin wanita yang aku cintai bahagia walaupun tidak denganku.” Gumam kim bum lagi.

Akhirnya kim bum pun pergi, meniggalkan so eun yang masih tetap berdiri di tempatnya tadi. Kim bum harus pergi, jika tidak, dia akan semakin tersiksa dengan keadaan ini.



Aku kehilangannya, aku benar – benar kehilangannya. Aku tidak menyangka jika aku benar – benar kehilangannya. Ini sangat menyakitkan, terlalu menyakitkan jika ini terjadi sekarang ataupun nanti. Benarkah ini terjadi padaku. Benarkah ini nyata. Benarkah aku kehilangannya. Kehilangan wanita yang aku cintai. (kim bum)

Hari ini terasa begitu cepat dan seperti nyata atau benar – benar nyata, semuanya terjadi, semuanya begitu kelihatan sangat mengagumkan. dari tempat dan orang – orang yang berada didalamnya.

Saat ini disebuah gedung yang nampak indah. Terlihat beberapa orang tengah berkumpul didalamnya. Semuanya menggunakan pakaian resmi, terlihat seperti sedang ada acara didalam gedung itu. Dan salah satu diantara orang – orang itu terdapat sosok kim bum yang juga sedang duduk di salah satu bangku sama seperti yang lainnya.

“kau yakin, tidak akan menyampaikan sesuatu padanya. ini masih belum terlambat, jika kau melakukannya sekarang, sebelum kau menyesal.” Ucap wanita yang duduk tepat disamping kim bum saat ini.

Kim bum tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun untuk merespon kalimat yang baru saja di lontarkan oleh yeon hee, wanita yang saat ini tengah duduk disampingnya. Yang biasa dia lakukan hanyalah menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sendu.

“kim bum kau yakin?” tanya yeon hee lagi memastikan kembali dan berharap kim bum mau merubah pendirianya. Namun usaha yeon hee sia – sia saja, karena kim bum masih kekeh dengan pendiriannya.

Sebenarnya kim bum sendiri juga terpaksa melakukan ini tapi mau bagaimana lagi, kim bum tidak mungkin menggagalkan pernikahan sahabatnya sendiri walaupun jauh dari dalam lubuk hatinya dia tidak rela melihat gadis yang dicintainya menikah dengan orang lain dan bukannya dirinya.

“kau benar – benar membuatku kehilangan kesabaran, kim bum. bagaimana bisa kau dengan mudahnya duduk santai disini dan tidak melakukan apa – apa ketika kau tau bahwa sebentar lagi orang yang kau cintai akan menikah dengan orang lain.” Kesal yeon hee.

“lalu apa yang harus aku lakukan sekarang. Apa aku harus menghampiri so eun, dan membawa so eun pergi dari tempat ini, seperti itu maksudmu. Apa kau gila, apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan joo won nantinya.” Balas kim bum.

Memang benar apa yang dikatakan kim bum barusan, sebagi sahabat yang baik dan manusia yang tau sopan santun, kim bum memang tidak boleh melakukan hal – hal yang diluar kendali sepeti itu. Tapi apa kim bum benar – benar yakin jika dia tidak ingin menemui so eun untuk sekali lagi.

“cepat.. ikut aku.” Ucap yeon hee sambil menarik lengan kim bum dan mengajak kim bum beranjak dari tempatnya.

“kau mau membawaku kemana yeon hee?” bingun kim bum, ketika tiba – tiba saja yeon hee menarikanya dan membawanya pergi dari tempat duduk mereka.

Yeon hee terus menarik tangan kim bum dan mengajaknya mengikuti langkahnya. Yeon hee sendiri tidak tau bagaimana caranya membantu kim bum agar bisa menyatukannya dengan so eun. tapi walaupun dicoba hasilnya pun mungkin akan sia – sia karena semuanya sudah berjalan jauh. Dan tinggal hitungan menit saja so eun dan joo won akan resmi menikah.

Yeon hee dan kim bum sudah berada disalah satu ruangan yang pintunya tertutup. Yeon hee menarik nafasnya kemudian memandang kearah kim bum, seakan – akan bertanya apa kau sudah siap.

Dan bersamaan dengan tangan yeon hee yang hendak membuka pintu ruangan itu, ternyata sudah terlebih dahulu seorang wanita membuka pintunya dari dalam. Seorang wanita dengan pakaian serba putih dengan riasan yang membuat wajahnya semakin cantik dan nampak elegan.

“kalian…?” heran wanita yang baru saja membuka pintu yang juga akan di buka oleh yeon hee.

Wanita tadi nampak sedikit terkejut ketika melihat siapa dua orang yang saat ini ada dihadapannya. Dan yang lebih terkejutnya lagi sosok pria yang sampai saat ini menundukkan wajahnya tanpa sedikitpun melihat kearah wanita tadi.

“yeon hee.. terimakasih sudah mau datang.” Ucap wanita tadi yang tak lain adalah so eun, sambil tersenyum pada yeon hee dan memeluk mantan rivalnya yang kini sudah dianggapnya sebagai teman.

“semoga kau bahagia so eun.” sambil membalas pelukan yang diberikan oleh so eun tadi.
Yeon hee melepaskan pelukannya dari tubuh so eun dan memperhatikan so eun dari atas sampai bawah. So eun benar – benar cantik wanita itu nampak mengaggumkan dengan balutan gaun pengantin seperti ini. pikir yeon hee.

“maaf jika aku mengganggumu so eun, tapi aku hanya ingin mengantarkannya menemuimu. Sepertinya pria bodoh ini ingin mengatakan sesuatu padamu.” Ucap yeon hee sambil menarik lengan kim bum dan mendekatkan tubuh kim bum yang sedari tadi berdiri disamping yeon hee pada so eun.

So eun sedikit kikuk dengan apa yang baru saja dilakukan oleh yeon hee. dan yang lebih membuat so eun salah tingkah ketika kini kim bum telah berada tepat didepannya.

“apa yang mau katakan?” tanya so eun pada kim bum yang masih tidak berani menatap wajah so eun secara langsung dan lebih memilih menundukkan kepalanya.

Kim bum takut, dia benar – benar tidak berani mengeluarkan sepatah katapun walaupun itu hanya sekedar ucapan selamat pada so eun. lidahnya benar – benar terasa kelu, dia juga tidak sanggup jika harus mengatakan apa yang sebenarnya tengah bergejolak dihatinya. Ini benar – benar teramat menyedihkan untuk kim bum.

Sudah cukup lama keheningan melanda ketiga orang yang saat ini tengah tercekam disituasi yang benar – benar terasa menjenuhkan tidak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulut ketiganya. Apalagi sang tokoh utama yang benar –benar diharapkan untuk membuka suaranya masih saja membungkam mulutnya.

“terimakasih sudah mau datang.. dan terimakasih sudah mau kembali datang ke kehidupanku.” Gumam so eun sambil melangkahkan kakinya mendekati kim bum dan memeluk pria yang saat ini benar –benar tidak bisa berbuat apa – apa.

So eun mengerti jika semua ini sudah menjadi pilihan kim bum, mungkin memang sampai sinilah takdir kim bum dan so eun. dan so eun juga tidak ingin berlama – lama menghadapi situasi yang menyedihkan seperti ini, ini sudah menjadi pilihan so eun dan so eun tidak mau apa yang menjadi pilihanya ini kembali goyah dengan adanya sosok kim bum yang ada didepannya.

“kakak, sebentar lagi acaranya akan dimulai.” Teriak suara seorang pria dari arah berlawanan. Dan suara itu sukses membuat so eun melepaskan pelukannya dari tubuh kim bum.

So eun melepaskan pelukannya dari tubuh kim bum dan kembali menatap wajah pria yang saat ini masih dicintainya itu, mungkin ini terakhir kali so eun akan memandang wajah kim bum karena so eun berjanji tidak akan menemui kim bum lagi setelah pernikahannya nanti.

“terima kasih kim bum. aku mencintaimu.” Bisik so eun tepat ditelinga kim bum dan berlalu meninggalkan kim bum yang benar – benar syok dengan apa yang baru saja dia dengar.

So eun mencintainya.. so eun masih mencintai kim bum. seberapa keras so eun mampu menjalani ini semua. Seberapa keras so eun mencoba mengendalikan perasaannya dan apa yang bisa kim bum lakukan untuk wanita itu kini. Apa kim bum benar – benar .sudah tidak bisa bergerak lagi setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh so eun.

“aku benar – benar kecewa padamu, bagaimana bisa kau membiarkan kakakku hidup bersama dengan laki – laki yang tidak dia cintai. Dan aku lebih kecewa lagi ketika aku melihatmu tidak bisa melakukan apapun setelah apa yang kau lakukan pada kakakku selama ini.” bentak seung hoo yang nampak kesal dengan sikap pengecut kim bum.

Kim bum memandang kearah seung hoo, kim bum bisa melihat raut wajah seung hoo yang nampak kesal padanya.

“maafkan aku.” Gumam kim bum

Seung hoo tersenyum sinis memandang kim bum. seung hoo berjalan mendekati kim bum dan nampak tidak senang dengan sifat kim bum yang benar – benar tampak lemah seperti saat ini. ini benar – benar menyedihkan menurut seung hoo.

“aku tidak menyangka kakakku menyukai pria pengecut seperti dirimu. jika sebelumnya aku tau jika pria yang dicintai kakakku itu adalah dirimu mungkin aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi. Tapi sayang aku bukanlah tuhan yang bisa merubah takdir.” Ucap seung hoo sedikit mrendahkan kim bum.

“lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya kim bum yang benar – benar putus asa dengan apa yang terjadi padanya saat ini.

“hanya kau yang tau, apa yang akan kau lakukan. Bangunlah sekarang juga dan bawalah kakakku kembali ke sisimu jika kau memang mencintainya. Sebentar lagi acaranya akan dimulai dan semoga saja kau tidak terlambat. Kakak.” Tutur seung hoo sambil menepuk pundak kim bum dan pergi meninggalkan kim bum yang sepertinya sedang mencerna arti dari ucapan seung hoo tadi.

~~~

Kim bum menatap punggung seung hoo yang sudah berlalu menjauh dari pandangannya. Dia benar – benar tidak mengerti maksud dari ucapan seung hoo barusan. apa yang bisa dilakukan oleh kim bum saat ini.

Kim bum juga menoleh ke belakang dan dia bisa melihat yeon hee disana, dia melihat yeon hee tersenyum padanya kemudian wanita itu pun juga mulai pergi menjauh darinya. Kenapa semua orang meninggalkannya. Kenapa semua orang seolah – olah mengabaikannya. Apa tidak ada yang bisa membantunya. Apa tidak ada yang bisa membuatnya menggagalkan pernikahan so eun yang akan dilangsungkan saat ini.

“yaa… apa yang harus aku lakukan. Kenapa semuanya pergi.” Teriak kim bum sekeras mungkin.

Dan seakan – akan tersadar dari imajinasinya, kim bum pun berlari secepat kilat menuju tempat upacara pernikahan so eun dan joo won yang akan dilaksanakan beberapa menit lagi atau mungkin malah sudah dimulai.

Kim bum berlari, benar – benar berlari. Kenapa rasanya jarak antara ruang rias so eun tadi dan ruang utama gedung terasa jauh, bukankah sebelumnya begitu dekat kenapa sekarang benar – benar terasa jauh sekali.

“so eun… tunggu aku, aku akan membawamu pergi bersamaku.” Teriak kim bum lagi.

setelah kim bum merasa lelah dengan aksi larinya, akhirnya pria itu pun sampai di tempat tujuan. Di ruang utama gedung, tempat dimana so eun dan joo won akan memulai acara pernikahannya. Salah, bukan memulai melainkan sudah berlangsung dan hampir selesai.

Kim bum melihat so eun dan joo won sudah selesai acara pemberkatan dan kedua pengantin itupun nampak sedang bertukar cincin pernikahan itu artinya pernikahan sudah berlangsung dan kim bum benar – benar sudah terlabat untuk mengejar cintanya.

“apa ini.. apa – apaan ini, apa sudah terlambat.” Gumam kim bum. ketika melihat pemandangan yang ada didepannya.

“so eun apa yang kau lakukan.. kenapa kau berdiri disitu.” Teriak kim bum dan membuat semua orang yang berada di gedung itu pun mengalihkan pandangannya dan menatap kim bum. termasuk so eun dan joo won.

“kau tidak mau kembali padaku? Kau tidak mau hidup bersamaku? Apa kau mau mengorbankan perasaanmu. Ayo kemarilah, ikutlah bersamaku dan aku berjanji akan membuatmu bahagia.” Teriak kim bum lagi.

Bukannya menjawab pertanyaan – pertanyaan yang diajukan oleh kim bum, so eun malah hanya melemparkan senyumnya pada kim bum dan tidak sedikitpun beranjak dari tempatnya berdiri.

Terimakasih.. ini sedikit membuatku lega. Karena kau mau memperjuangkan cintamu padaku. Tapi yang aku mau adalah keseriusan perasaanmu terhadapku. jadi aku harap apa yang akan kau lakukan segera kau lakukan sebelum semuanya terlambat. Dan jika sudah terlambat tentu saja aku tidak akan mempertimbangkannya lagi. (so eun)



“yaa…. so eun, cepat kembali padaku sekarang.” Teriak kim bum sambil bangun dari tidurnya.
Kim bum segera melebarkan matanya, otaknya belum sepenuhnya bisa berpikir jernih. Ada apa ini, apa yang baru saja dialaminya. Lalu ada dimana kim bum sekarang? Pikirnya.

Peluh membasahi sekujur tubuhnya, pusing mendera kepalanya. Ini benar – benar membingungkan menurut kim bum. kim bum kembali mengedarkan pandangannya, ini nyata kan. Saat ini kim bum berada di dalam kamarnya kan dan bukannya di sebuah gedung tempat pernikahan so eun dan joo won. Kim bum menghela nafasnya, benar – benar sangat melelahkan. Apa yang dialami kim bum barusan ternyata hanya sebuah mimpi dan mimpi itu benar – benar terlihat seperti nyata.

“ini semua melelahkan.” Gumam kim bum sambil mengusap peluh yang ada didahinya.

Kim bum meraih gelas yang berisikan minuman yang terletak di meja disamping tempat tidurnya. diteguknya sampai habis air yang berada di dalam gelas tersebut.
Kim bum mengambil ponselnya dan melihat angka yang ada didalam ponselnya. Angka itu, hari ini, bukankah pernikahan so eun dan joo won akan dilangsungkan pada hari ini. astaga akankah mimpi menjadi nyata?

“tidak… tentu saja aku tidak ingin membiarkan hal itu terjadi. Dia milikku dan so eun adalah takdirku mana mungkin aku membiarkannya menikah dengan orang lain.” Gumam kim bum

Dengan gerakan yang benar – benar super cepat, kim bum segera beranjak dari tempat tidurnya dan segera menyambar jaket dan kunci motornya.

Dengan langkah yang sedikit tergesa – gesa kim bum melangkahkan kakinya keluar dari apartementnya. Hanya satu tujuan kim bum saat ini. hanya ada satu yang ada di otak kim bum saat ini yaitu so eun, kim so eun wanita yang dia cintai dan tidak ada yang lain.

~~~

“semua ini sudah aku pikirkan matang – matang jadi kau jangan menunjukkan muka sedih seperti itu.” Ucap seorang pria yang saat ini tengah berdiri berdampingan dengan seorang wanita di dalam sebuah gereja yang tampak sunyi.

“harusnya hari ini kita sudah menikah, kenapa kau harus membatalkannya.” Ucap sang wanita sambil mengarahkan pandangannya pada pria yang berada disampingnya.

“bukankah kau senang jika aku membatalkannya. Bukankah ini yang kau mau. Atau jangan – jangan kau sudah mulai jatuh cinta padaku.” Goda pria itu sambil melingkarkan salah satu tangannya pada sang wanita.

“yaa.. tidak bisakah kau berhenti menggodaku joo won. Kenapa selalu saja menggodaku.” Ucap wanita tadi dengan lembutnya.

“baiklah.. baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi.”

Saat ini joo won dan so eun sedang berada di gereja, tempat dimana seharusnya mereka berdua melangsungkan pernikahan. Keduanya saat ini sedang duduk di salah satu bangku yang terletak di dalam gereja tersebut.

“aku harap kau masih mau menganggapku sebagai temanku, walaupun aku membatalkan pernikahan kita.” Pinta joo won.

“hemz.. tentu saja.” ucap so eun pelan sambil menganggukkan kepalanya.

“kau tidak mau memberitaukan kejelasannya pada kim bum, apa kau yakin kau akan melupakannya. Bukankah sampai saat ini kau masih mencintainya?” tanya joo won pada so eun.

“sepertinya tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Mungkin memang seperti inilah akhir dari kisahku dengan kim bum . menjalani hidup kita masing – masing seperti dulu lagi sebelum kita bertemu.”

“sepertinya ini tidak adil untuk kim bum, dia bahkan belum tau yang sebenarnya. Dia salah paham karena aku yang membuatnya, dan bahkan dia belum mendengarkan penjelasan darimu so eun.”

“sudahlah joo won, ini bukan salahmu ataupun kim bum tidak ada yang salah dari kalian berdua. Ini semua sudah takdir dan aku juga tidak berharap apa yang ada didalam mimpiku beberapa waktu yang lalu menjadi nyata.” Ucap so eun sambil menatap lurus kedepan.

Joo won terlihat bingung dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh so eun. mimpi apa?
Joo won hanya bisa memperhatikan wajah so eun yang terlihat begitu tenang, dan tidak seperti dulu saat joo won bertemu dengan so eun untuk yang pertama kalinya. Jika dulu so eun terkesan dingin sekarang so eun sudah menjadi wanita yang hangat.

~~~

“aku juga tidak ingin mimpi itu menjadi nyata, karena yang aku inginkan sekarang adalah bagaimana membuat rasa cintaku ini menjadi nyata.”

Sebuah suara mengusik kebersamaan so eun dan joo won. Dan tentu saja keduanya mencari sosok suara tersebut. Karena bagi keduanya suara itu tidak asing ditelinga keduanya.

“kim bum.” ucap so eun dan joo won bersamaan. Ketika mengetahui bahwa memang kim bum lah yang tengah mengeluarkan suara tersebut.

“jadi kau tidak mau menjelaskan apa –apa padaku? Jadi kau benar – benar tidak ingin kembali lagi padaku, begitu?” tanya kim bum pada so eun, ketika kim bum sudah berada di dekat so eun dan joo won.

“kenapa aku harus menjelaskannya padamu, seharusnya jika kau memang mencintaiku kau berusaha mempertahankanku dan bukannya malah merelakanku bersama dengan orang lain.” Jawab so eun dengan tatapan dinginya pada kim bum

“yaa.. apa – apaan sikapmu ini, jadi kau benar – benar tidak mau menjelaskannya padaku.” Tanya kim bum lagi.

“tidak, aku tidak mau. Sebelum kau mengucapkan sebuah janji pernikahan disini didepan kedua orang tuaku dan semua tamu undangan” Jawab so eun dengan entengnya. Dan jawaban itu sukses membuat kim bum melebarkan senyumannya.

“yaa… kenapa kalian berdua malah bertengkar. Sudah – sudah lebih baik aku pergi saja.” ucap joo won kemudia berlalu meninggalkan so eun dan kim bum. joo won pun hanya bisa tersenyum ketika meninggalkan so eun dan kim bum. keduanya adalah orang – orang spesial di hati joo won.

“semoga apa yang aku lakukan membuat kalian berdua bahagia.” Gumam joo won sambil melangkahkan kakinya keluar dari gereja tersebut.

“apa yang kau lakukan sudah benar, aku bangga padamu joo won.” Sahut yeon hee sambil menggandeng tangan joo won dan keduanya pun tersenyum.



Seminggu kemudian

“kakak, acaranya sudah segera dimulai sampai kapan kau selesai berias?” tanya seung hoo, pada kakaknya.

“aku yang akan menikah, kenapa kau yang begitu terburu – buru seung hoo.” Goda so eun pada adiknya.

“aku senang akhirnya kakak bisa menemukan apa yang selama ini kakak cari. Aku kagum pada kakak, karena akhirnya kakak bisa memutuskan mana yang terbaik untukmu.” Ucap seung hoo pada so eun sambil memeluk tubuh mungil kakaknya.

~~~

Akhirnya acara pernikahan pun segera dimulai. Di depan altar sudah terlihat seorang pria tengah berdiri dengan tegapnya sambil mengenakan tuxedo warna putih yang membuatnya terlihat sangat tampan. Pria itu terus saja menyunggingkan senyum menawannya. Masih terbesit ketidak percayaan dipikirannya, apakah ini semua benar – benar terjadi padanya.

Hingga kemunculan seorang wanita yang sangat di cintainya muncul dengan balutan gaun pengantin berwarna putih yang benar – benar membuatnya semakin terlihat cantik. Wanita itu benar – benar sangat anggun ketika sedang berjalan apalagi saat ini dengan didampingi oleh sang ayah wanita itu pun berjalan menuju ke arah kim bum.

“kuserahkan dia padamu kim bum.” ucap ayah so eun sambil memberikan tangan so eun pada kim bum dan segera disambut oleh kim bum.

Kini keduanya pun sudah berada dihadapan sang pendeta dan mengucapkan ikhrar janji pernikahan antara keduanya.

Kim bum mengikuti semua perkataan yang diucapkan oleh sang pendeta. Hingga akhirnya so eun dan kim bum pun telah resmi menjadi sepasang suami istri. Keduanya terlihat begitu bahagia.

“aku mencintaimu dan tak akan membiarkanmu menangis lagi.” janji kim bum pada so eun.

“aku juga akan selalu mencintaimu selama sisa hidupku.” Jawa so eun.

Kim bum pun mulai mendekatkan wajahnya pada so eun dan menempelkan bibirnya pada so eun. dikecupnya bibir so eun dengan lembut dan perlahan. Sorak sorai tamu undangan membuat mereka berdua semakin hanyut dalam ciuman mereka. Dan akhirnya mimpi mereka pun menjadi nyata.

Berawal dari mimpi akhirnya teruji juga melalui mimpi dan hasilnya bukanlah mimpi melainkan nyata. Semuanya akan indah pada waktunya hanya perlu kesabaran dan perjuangan.

–The end–

Iklan

Secret Love (part 3)

Posted: 19 Juli 2013 in FF BUMSSO
Tag:

cats

Part 3



Kim bum berbaring di tempat tidurnya, di letakkannya tangannya itu di atas kepalanya. Sepertinya pikirannya saat ini tengah terpenuhi dengan hal – hal yang menurut kita tidak masuk akal.

Perasaan apa yang menimpa kim bum saat ini. kenapa kim bum tidak bisa menghilangkan bayangan itu. Kenapa kim bum tidak bisa melupakan wanita itu, sebenarnya apa yang di inginkan oleh hati kecil kim bum saat ini. kenapa rasanya ini semua menyiksa raganya. Akankah dia menuruti keinginan hatinya, yang dia anggap tidak benar ini.

~~~

-seorang wanita nampak kelelahan dan bersandar di sebuah tali di ujung jembatan gantung. Nafasnya tersengal – sengal sekan – akan paru – parunya terasa mengecil dan susah sekali untuk menghirup maupun mengeluarkan udara. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Tubuhnya benar – benar lemas, dia bahkan sudah tidak sanggup lagi untuk membangunkan badannya.

Dia takut akan ketinggian, seharusnya memang dari awal dia tidak usah ikut mendaki dengan teman – temannya kalau pada akhirnya dia tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Bahkan bagaimana bisa dia tertinggal oleh rombongan teman – temannya, dan malah tersesat di ujung jembatan gantung yang di bawahnya adalah jurang yang sangat dalam, hingga dia sendiri pun tidak tau seberapa dalam jurang itu.

“ya tuhan.. selamatkan aku.” Gumam wanita itu, sambil menutup matanya. pertanda bahwa dia benar – benar lelah dan pasrah.

“agashi.. agashi, apa yang anda lakukan disini?” tanya seorang pria yang menghampiri wanita tersebut sambil menepuk – nepuk pelan pipi wanita tersebut.

Wanita itu membuka matanya, walau pusing di kepalanya benar – benar melandanya saat ini. di lihatnya bayangan pria yang saat ini tengah ada di depannya. Apakah mungkin dia adalah penolongnya. Harap wanita itu. Sambil kembali memejamkan matanya.

“agashi.. cepat buka matamu, apa kau baik – baik saja.” tanya pria itu lagi, dia benar – benar terlihat khawair dengan kondisi wanita yang saat ini ada di depannya.

Pria itu sedikit memberanikan dirinya, menyentuh dahi wanita tersebut dan dia tambah terkejut ketika menyadaari kalau badan wanita itu benar – benar dingin.
Tanpa banyak pikir lagi, pria itu segera membimbing wanita itu untuk naik ke punggungnya. Dan dengan langkah cepat pria itu membawa wanita tersebut ke pemukiman terdekat.

Wanita tadi membuka matanya, ketika menyadari bahwa saat ini tubuhnya berada di punggung seorang pria. Wanita tadi benar – benar tidak tau siapa pria tersebut, yang dia rasakan adalah perasaan takutnya perlahan – lahan menghilang padahal saat ini dia sedang melintasi jembatan gantung yang menurut dia sebelumnya, dia tidak akan berani melintasinya.

“bertahanlah.. sebentar lagi kita akan sampai. Bertahanlah nona.” Gumam pria itu, dan wanita tersebut pun mampu mendengarkan gumaman pria yang kini tengah menyelamatkan dirinya.

“terimakasih, siapapun dirimu aku telah berhutang budi padamu.” Batin wanita tersebut sambil memejamkan matanya kembali dan menempelkan kepalanya pada bahu sang pria sambil menghirup aroma yang menyegarkan dari tubuh pria yang menolongnya kini.

^^^

Wanita tadi membuka matanya, dan mulai menyadari bahwa dirinya saat ini mungkin sudah berada di sebuah penginapan. Dia mencoba untuk bangun dari pembaringannya.
Mencoba mencari sosok pria yang tengah menyelamatkan dirinya tadi. Tapi sayang ketika dia mencoba mencari – cari keluar kamar tersebut sosok pria yang menolongnya tidak dapat ditemuinya.

“bagaimana caranya, aku mengucapkan terimakasih.” Gumam wanita tadi, seolah – olah menyesal akan kebodohannya.

Wanita tersebut mengedarkan pandangannya, mencari – cari sesuatu yang ditinggalkan oleh pria tadi agar bisa menjadi petunjuk untuknya menemukan penolongnya. Tapi sayang sepertinya wanita tersebut tidak akan bisa bertemu dengan pria tadi lagi, untuk mengucapkan terimakasih atas bantuannya.

*Dan sebuah keberuntungan sepertinya akan berpihak padanya, walaupun pada akhirnya dia sendiri malah akan kebingungan untuk menentukan apakah itu keberuntungan atau malah sesuatu yang benar – benar membingungkan. *

Wanita tersebut mengambil selembar foto yang nampak kusam yang saat ini tergeletak di lantai, foto seorang pria kecil yang memiringkan kepalnya kekanan.-

( dan di masa ini foto itu berada di di dalam liontin sebuah kalung yang tergantung di dalam mobil so eun. yang pernah di tanyakan oleh kim bum ketika kim bum baru saja sampai di korea. )



So eun membuka matanya kepalanya terasa berat sekali. Dia mengingat kembali kejadian semalam. Dicarinya sosok kim bum tapi ternyata tidak ada sosok adik iparnya itu di kamarnya.
So eun melihat jam kecil yang terletak disamping ranjangnya. Sudah hampir siang dan so eun harus bersiap menuju rumah sakit.

So eun sudah membersihkan dan merapikan dirinya, kini so eun keluar dari kamarnya dan melihat kim bum tengah duduk di ruang tengah sambil menundukkan kepalanya. Sepertinya pria itu sedang memikirkan sesuatu. Pikir so eun.

“hari ini aku akan kerumah sakit, apa kau juga mau kesana?’ tanya so eun pada kim bum.

Kim bum menolehkan kepalanya, dan melihat saat ini so eun sudah berdiri di belakangnya. Kim bum melihat wajah so eun yang nampak sangat pucat. Kim bum beranjak mendekati tubuh so eun.

“bukankah lebih baik kau beristirahat, biarkan aku yang menjaga ki bum hyung.” Saran kim bum. ada perasaan khawatir yang sangat besar di dalam hati kim bum pada kakak iparnya ini.

“tidak, aku harus menjaga ki bum hari ini. karena kemarin aku bahkan tidak menemuinya sama sekali. Aku tidak mau dia kesepian, aku harus menemaninya. Jika kau tidak mau kesana aku bisa kesana sendiri.” Jawab so eun sambil berlalu meninggalkan kim bum.
Dan mau tidak mau kim bum pun harus mengikuti so eun, karena dia tidak mau hal – hal yang buruk sampai menimpa so eun seperti semalam.

~~~

Kini so eun dan kim bum sudah sampai di rumah sakit, dan berjalan menuju kamar ki bum. sedari tadi kim bum hanya berjalan di belakang so eun sambil mengamati kondisi so eun.

Ketika kim bum dan so eun sudah sampai di ruang rawat ki bum keduanya nampak heran ketika melihat dokter dan para perawat nampak mengelilingi tubuh ki bum.

“apa yang terjadi padanya dokter?” tanya so eun penuh kekhawatiran.
Dokter yang melihat kedatangan so eun dan kim bum pun langsung menghampiri keduanya, dan memberitahukan bahwa kondisi ki bum semakin memburuk dan tidak ada tanda – tanda perkembangan yang baik.

So eun segera menghampiri tubuh suaminya, yang benar – benar nampak pucat dan seperti mayat. So eun benar – benar sakit melihat kondisi ki bum yang benar – benar tidak ada perkembangan seperti ini.

“apa kita bisa bicara sebentar dokter?” tanya kim bum sambil mengajak dokter yang merawat ki bum keluar dari ruangan perawatan ki bum.

“kebetulan sekali, aku juga ingin menyampaikan sesuatu padamu tentang kondisi ki bum.” jelas sang dokter. Dan langsug mengajak kim bum ke ruangan dokter tersebut.

“apa benar – benar tidak ada harapan lagi untuk ki bum hyung, kembali sadar seperti dulu dokter?” tanya kim bum ketika sudah sampai di ruangan dokter.

“sebenarnya ini memang susah untuk di jelaskan. Tapi sepertinya harapan untuk ki bum kembali sadar sangat kecil. Kecelakaan yang menimpanya benar – benar melumpuhkan semua saraf – saraf yang ada di dalam tubuhnya. Jadi kemungkinan untuk sembuh kembali hanya beberapa persen saja.” jelas dokter.

Penjelasan dari dokter tersebut benar – benar membuat kim bum semakin sedih. Apa yang harus dia lakukan, agar kakak yang dia sayangi itu bisa kembali lagi seperti dulu. Pikir kim bum. kim bum benar – benar marah pada dirinya sendiri yang benar – benar tidak bisa melakukan apapun untuk kesembuhan sang kakak. dia benar – benar merasa bahwa dirinya benar – benar tidak ada gunanya lahir di dunia ini.

Sekeluarnya kim bum dari ruangan dokter, di tendangnya sebuah kursi roda yang tergeletak di depan matanya. itu hanya sedikit ungkapan kekesalan yang dilakukan ki bum.

“arrgghhh.” Geram kim bum.

Diarahkannya langkahnya, menuju keruangan ki bum lagi. bagaimana cara kim bum menyampaikan ini semua pada so eun. apa kim bum bisa , apa dirinya mampu membuat so eun kembali bersedih dengan berita yang didapatakannya tadi.

~~~

“kau berbohong oppa, kau bahkan tidak pernah menepati janjimu. Apa ini yang kau katakan bahwa kau mencintaiku. Kau bahkan selalu membuatku menangis oppa. Kumohon bangunlah oppa.” Ricau so eun di sela – sela isak tangisnya.
Melihat kondisi sang suami yang semakin lama, semakin memburuk membuat so eun benar – benar semakin terpuruk. Apa salah so eun hingga tuhan menghukumnya sampai seperti ini.

Kim bum masih berdiri di depan pintu kamar ki bum dan memandangi so eun yang nampak terpukul, dia ingin sekali menghampiri so eun dan merengkuh wanita itu kedalam pelukannya agar membuat so eun lebih tenang. Tapi rasanya berat sekali untuk kim bum melakukan hal itu.

“aku menunggumu oppa. Aku bahkan selalu menunggumu menepati semua janji –janji manis yang pernah kau katakan dulu.” Tangis so eun semakin pecah, dipeluknya tubuh ki bum dengan penuh cinta. Apa masih kurang rasa cinta yang ditunjukkan untuk ki bum sehingga suaminya itu masih enggan terbangun dari tidur panjangnya.

“berhentilah menangis, aku yakin ki bum hyung akan semakin sedih melihatmu seperti ini.” ucap kim bum sambil melangkahkan kakinya mendekati so eun.
Kim bum benar – benar ingin menghibur dan berada disisi so eun saat ini.

“kau tau.. ki bum pernah berjanji mengajakku berlbur ke desa suatu saat nanti. Dia bahkan ingin menunjukkanku pantai yang sangat indah. Dan juga berkunjung ke makam orang tuanya. aku benar – benar menanti saat – saat dia menepati janjinya.” Tutur so eun pada kim bum sambil masih terus terisak.

Kim bum tak menjawab, dia hanya bisa mengamati tingkah laku so eun yang seperti orang kehilangan kesadaran dan akal sehatnya.

“apa suatu saat nanti aku dan ki bum bisa pergi bersama kesana?” tanya so eun lagi.
Kim bum nampak berfikir, mungkin ada bagusnya jika kim bum mengajak so eun pergi berlibur ke desa. Untuk dua hari saja, mungkin itu akan lebih membuat so eun sedikit tenang. Lagipula disini banyak dokter yang akan menjaga ki bum. dan juga masih ada ibu so eun, jadi tidak ada salahnya jika kim bum menyenangkan hati so eun walau hanya sebentar saja kan.

“bagaimana jika aku yang akan menggantikan ki bum hyung, untuk membawamu pergi ketempat yang dijanjikannya padamu.” Tawar kim bum hati – hati, agar tidak menyinggung perasaan so eun akan tawaranya.

So eun mengalihkan pandangannya dari ki bum dan menatap tajam kim bum yang berdiri tak jauh darinya. apa yang baru saja dikatakan oleh adik iparnya ini. apa yang baru saja dia katakan tadi adalah sebuah gurauan saja.

“aku hanya ingin sedikit menghiburmu, atas kondisi yang menimpa ki bum hyung. Apa kau tidak lihat badanmu, kau juga butuh istirahat dan penyegaran. Jika kau mau aku akan mengantarmu ke pantai. Apa kau kira aku tidak tau tempat itu.” Jelas kim bum yang nampak sedikit kesal dengan tatapan tajam yan diberikan oleh so eun padanya.



Hembusan angin yang sejuk menerpa wajah so eun yang saat ini tengah mengadahkan wajahnya di samping jendela mobilnya. Di pejamkannya mata indah milik gadis itu dan mengulurkan tangannya ke jalan. Jalanan pedesan memang nampak sepi dan lenggang. Masih jarang pengemudi mobil yang melintasinya. Paling – paling yang ada hanya pejalan kaki.

“aku tau kau menyukainya. So eun-si” gumam kim bum sambil tersenyum melihat apa yang saat ini dilakukan oleh so eun.

Dengan susah payah kim bum membujuk so eun, akhirnya wanita itu mau juga pergi bersamanya. Kim bum tau bahwa saat ini so eun memang membutuhkan waktu untuk berlibur dan sedikit terlepas dari ki bum. semoga dengan perjalanannya hari ini, so eun akan semakin tegar. Harap kim bum.

“sebentar lagi kita akan sampai di pemakaman orang tuaku. Kau harus bersiap – siap.” Ucap kim bum dan hanya dibalas anggukan oleh so eun.

~~~

“ayah… ibu. Maafkan aku karena jarang sekali mengunjungi kalian. Hari ini aku datang kesini tidak sendirian, melainkan bersama dengan kakak iparku.” kata kim bum di depan makam kedua orang tuanya. dan so eun pun hanya bisa mendengarkan apa yang saat ini kim bum ucapkan, tanpa menyela sedikitpun.

“mungkin ki bum hyung masih belum sempat memperkenalkannya pada kalian, jadi hari ini aku membawanya kesini untuk bertemu kalian. Hari ini aku ingin minta sesuatu pada kalian, dan aku ingin kalian mengabulkan permintaanku.” Kim bum menghentikan kalimatnya, kemudia mengalihkan pandangannya kearah so eun. beberapa detik kemudian kim bum menghembuskan nafas panjangnya.

“aku ingin ki bum hyung segera sadar, agar istri yang dicintai dan mencintainya ini tidak sedih lagi.” sambung kim bum, dan langsung merangkul so eun dari samping, dan itu sontak membuat so eun sedikit terkejut.

“apa kau mau meminta sesuatu juga padanya?” tanya kim bum pada so eun yang tengah memperhatikannya. Dan lagi – lagi hanya dibalas anggukan oleh so eun.

“kalau begitu, ayo ikut aku. Aku ingin menunjukanmu tempat yang sangat aku suka didaerah sini.” Ajak kim bum sambil mengulurkan tangannya, dan tentu saja so eun menyambutnya.
Kim bum tersenyum melihat so eun menerima uluran tangannya, hatinya benar – benar bahagia saat ini melihat wanita yang ada dihadapanya ini sepertinya sudah bisa menganggapnya sebagai manusia.

~~~

Kim bum dan so eun sudah berada disuatu tempat yang di maksud kim bum tadi. Awalnya so eun ingin pergi ketika mengetahui tempat apa yang ditunjukkan oleh kim bum. so eun bahkan tidak menyangka jika dirinya akan kembali ketempat ini. so eun bahkan membenci tempat ini.

“ayo kemarilah.. aku yakin kau bisa melewatinya.” Bujuk kim bum memberi semangat pada so eun.

So eun memejamkan matanya, mencoba melawan ketakutannya. Tempat ini tempat dimana dulu so eun pernah pingsan dan tempat dimana untuk pertama kalinya so eun bertemu dengan pria itu. Pria yang dianggap so eun sebagai dewa penolongnya. Pria yang menurut so eun adalah jodoh yang dikirimkan tuhan untuk menghabiskan sisa hidupnya.

“cepat.. ini bahkan sangat mudah untukmu.” Teriak kim bum lagi.

So eun memperhatikan kebawah, melihat betapa curamnya jurang yang ada dibawah jembatan gantung yang saat ini dipijaknya. Kemudian dialihkannya pandangan matanya kepada kim bum, bahkan pria itu bisa memberikan semangat untuknya. kenapa so eun begitu lemah, harusnya saat ini so eun melangkahkan kakinya dan berjalan menuju pria itu.

“cepatlah bangun oppa.. aku bahkan akan berusaha melawan rasa takutku untukmu. Bukankah kau pernah menolongku waktu itu, jadi aku berharap dengan melawan rasa takutku ini aku juga bisa menolongmu untuk bangun kembali oppa.” Batin so eun sambil memejamkan matanya, dan setapak demi setapak dilangkahkannya kaki itu menuju kearah kim bum.

“aku yakin kau bisa.” Gumam kim bum, ketika melihat so eun berjalan kearahnya. Dan akhirnya so eun pun sampai dihadapan kim bum. dia berhasil.

So eun langsung menghambur ke pelukan kim bum, dan memeluk tubuh pria itu dengan erat seakan – akan tidak ingin melepaskannya. Ini seperti membuang beban yang sangat berat yang selama ini di pendam oleh so eun. dan berkat kim bum, akhirnya so eun bisa melewati jembatan ini dengan kakinya sendiri bahkan tanpa punggung KI BUM seperti waktu lalu.

Kim bum benar – benar merasakan jantungnya berdebar sangat kencang saat ini. rasanya ini seperti mimpi bagi kim bum, bisa memeluk so eun dengan sangat erat seperti sekarang.

“aku bahkan tidak mampu melewatinya, tanpa ki bum. dan sekarang aku bahkan tidak bisa melakukan apapun untuk membuatnya sadar kembali. Aku bahkan tidak bisa membalas apa yang telah dilakukannya padaku. Harusnya aku saja yang menggantikan posisinya saat ini.” teriak so eun didalam pelukan kim bum.

“apa yang kau katakan, kau bahkan sudah dengan baik merawatnya. Kita hanya harus menunggu kembali, kenapa kau selalu menyalahkan dirimu sendiri.” Bentak kim bum yang mulai tak suka dengan perkataan so eun yang selalu menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa kakaknya.

“harusnya kau tidak mengajakku kesini, aku bahkan tidak mampu menolongnya. Dia bahkan sudah menyelamatkan nyawaku tapi apa yang bisa ku lakukan sekarang.” Teriak so eun lagi, sambil berlari meninggalkan kim bum dan menuruni lereng gunung yang lumyan terjal.

“yaa.. so eun-si, kau mau kemana? Berhentilah, kau bisa terjatuh jika terus berlari seperti itu.” Teriak kim bum sambil berlari mengejar so eun.

Tanpa mengindahkan apa yang baru saja dikatakan kim bum, so eun terus saja berlari untuk meninggalkan tempat ini. bagi so eun tempat ini menyimpan banyak kenangan untuknya bersama dengan ki bum. rasanya so eun benar – benar tidak bisa berlama – lama di tempat ini tanpa adanya ki bum. so eun benar – benar sangat sedih sekarang, harusnya dia menolak ajakan kim bum yang berniat membawanya kesini tadi.

“so eun-si kumhon berhentilah berlari.” Teriak kim bum.
Dan baru saja kim bum menghentikan kalimatnya, dia melihat so eun terjatuh didepannya karena terpleset tumpukan bebatuan. Dan segera mungkin kim bum berlari untuk menghampiri kakak iparnya tersebut. Kim bum melihat so eun kesakitan dan mencoba untuk bangkit, tapi wanita itu bahkan tidak bisa untuk menggerakkan kakinya.

“sepertinya kakimu terkilir.” Ucap kim bum sambil berjongkok dihadapan so eun dan memegang kaki so eun yang terluka.

“lepaskan tanganmu.” Bentak so eun sambil menepis tangan kim bum secara kasar.

“aku hanya ingin membantumu, kau bahkan tidak bisa berdiri bagaimana bisa kau berjalan dengan kondisi kaki yang terluka seperti itu.” Tutur kim bum, dan kembali memegang kaki so eun untuk melihat seberapa besar luka dikaki so eun. namun sayang lagi – lagi so eun menepis tangannya dan itu membuat kim bum geram.

“baiklah.. terserah apa yang mau kau lakukan. Aku tidak akan membantumu.” Teriak kim bum yang kesal dengan sikap so eun yang sangat keras kepala.

So eun tidak menghiraukan perkataan kim bum, dan dia mencoba untuk bangun tapi sayang kakinya benar – benar sakit untuk dipijakkan. Bagaimana kaki yang terkilir itu bisa digunakan so eun untuk menopang badanya. Kenapa so eun sial sekali hari ini. pikir so eun

Kim bum yang melihat so eun kesulitan seperti itu, semakin tidak tega saja jika mendiami kakak iparnya. Dan tanpa pikir panjang lagi kim bum pun langsung berjongkok di hadapan so eun.

“naiklah.. biar kita mencari penginapan terdekat, esok hari jika lukamu sudah sembuh baru kita kembali ke seoul.” Tawar kim bum, dengan lembut supaya so eun menerima tawarannya.

“aku tidak mau naik ke punggungmu, aku bahkan tidak ingin digendong pria lain selain ki bum oppa.” Teriak so eun.

“aku juga tidak menyangka akan menggendongmu lagi, jika kau memang tidak mau naik aku akan tetap disini sampai kau mau naik.” Balas kim bum, kesabarannya sudah habis untuk menghadapi so eun yang dinilainya benar – benar sangat keras kepala ini.

So eun kaget mendengar jawaban kim bum barusan, apa telinga so eun tadi sedang bermasalah. Kim bum bilang dia pernah menggendong so eun. kapan? kenapa so eun tidak mengingatnya. Seingat so eun hanya ki bum yang pernah menggendongnya dan itu pun hanya sekali waktu ki bum menolongnya. Apa kim bum barusan tengah mengiggau.

“yaa.. apa maksudmu?” tanya so eun penasaran.

“naiklah, kita harus mencari penginapan dan sesegera mungkin mengobati kakimu. Ayo cepat naik.” Perintah kim bum dengan lembut, agar so eun mau menurutinya.
Dan tanpa banyak tanya lagi, so eun pun menuruti perkataan kim bum.

Kim bum menggendong so eun di punggungnya, dan berjalan menuruni gunung. Walaupun sedikit kesulitan tapi kim bum bahkan merasa senang karena so eun tidak bertanya macam – macam padanya. betapa bodohnya kim bum tadi, kenapa dia sampai kelepasan mengatakan kalau dia pernah menggendong so eun.

“kenapa berada di punggung kim bum membuatku nyaman seperti saat dimana ki bum menolongku dulu.” Gumam so eun

“aroma ini, bahkan aroma ini benar – benar sama dengan aroma tubuh ki bum saat itu.” Gumam so eun lagi.

So eun menyenderkan kepalanya di pundak kim bum. akhirnya setelah sekian lama so eun bisa merasakan kedamaian ini. so eun bisa merasakan lagi kehangatan seperti waktu itu. So eun bahkan berharap semoga kim bum bisa lebih lama menggendongnya, agar so eun bisa merasakan kedamaian ini.

Jangan biarkan rasa ini masuk lagi, buanglah perasaan ini sejauh – jauhnya. Dia bukan milikku, dan sudah tidak ada kesempatan lagi untukku bisa memiliki hatinya. Aku hanya ingin tuhan mengembalikkan senyumannya, seperti dulu ketika pertama kali aku melihatnya.

~~~TBC~~~