Hate Or Love

Posted: 7 Oktober 2013 in FF BUMSSO
Tag:

cats

HATE OR LOVE

Cast: Kim so eun, Kim sang bum, Kim woo bin

Support cast: Kim jae wook, So yi hyun, Kim tae hee, Kim so hyun, etc

Genre: Drama, Family, Romance, Sad.

Type: Three shoot



Kebencian dari diri seseorang untuk orang lain selalu tumbuh dalam hati. dan kebencian itu akan membara jika sang pemilik hati selalu membuatnya menganga seperti api. Tidak bisakah api itu padam dengan seiring berjalannya waktu, atau paling tidak sedikit mereda…?

“kau bolos sekolah lagi hari ini?”

Sebuah suara yang terlonntar dari seorang wanita berusia kurang lebih 40 tahun itu terdengar sangat nyaring. Di dalam sebuah rumah yang terbilang cukup besar untuk ukuran seorang wanita yang hidup sendiri layaknya sebatang kara. Dan hanya di temani oleh beberapa orang pembantu yang melayaninya.

“yaa… apa kau lupa bahwa aku sudah tidak bersekolah lagi. anakmu ini sudah terlalu pintar untuk terus bersekolah.” Jawaban dari seorang anak laki – laki itu, mampu membuat sang wanita tadi terkekeh pelan.

“kau benar – benar sangat menggemaskan kim bum, apakah tidak ada yang tau kau datang kemari. Bagaimana jika ada seseorang yang melihatmu kemari dan memberitahukan pada….”

“cukup.. tidak bisakah kau tidak membahasnya, aku lelah dan hanya ingin bertemu denganmu. Kau bahkan tidak menanyakan kabarku, bagaimana keadaanku dan apakah aku baik – baik saja.” nada kesal yang terdengar dari mulut seorang pria yang di panggil kim bum tadi.

Sang wanita berusia 40 tahun yang tak lain adalah So yi hyun itu malah tertawa mendengar celotehan dari pria bernama kim bum tadi, dan itu membuat kim bum semakin bertambah kesal.

Kim bum yang sedari tadi duduk di sebelah yi hyun kini membaringkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di pangkuan yi hyun sambil menutup matanya. hanya dengan seperti ini saja bisa membuat hati dan fikiran yang selalu membuat kesal kim bum akan lenyap. Kim bum bahkan mampu melupakan apapun yang mengganjal di dalam hatinya. Hatinya benar – benar terasa damai jika sudah berada di dekapan wanita yang bernama so yi hyun ini.
Rasanya kim bum ingin selalu berlama – lama seperti ini. tidak ingin pisah dari wanita ini. saat ini atau kapanpun.

~~~

Hampir satu setengah jam kim bum terlelap di pangkuan yi hyun, dengan penuh kasih sayang yi hyun senantiasa menemani kim bum. di belainya rambut kim bum dengan pelan agar tidak membangunkan anak itu. Air matanya menetes mengaliri wajah cantiknya. Ini benar – benar menyakiti hatinya. Bukan hanya menyakiti hatinya tapi sudah menghancurkannya.

“aku sudah menduga jika bocah ini datang kemari.” Ucap seorang pria yang berusia lima tahun lebih tua dari kim bum. sambil mencium kedua pipi yi hyun dan ikut duduk di sebelah wanita tersebut.

“kau berniat menjemputnya, apa kalian baik – baik saja disana. Dia tidak menyakiti kalian kan? Apa kalian makan dengan teratur? Atau kalian….”

“yaa.. berhenti mencemaskan kami. Kami sudah besar jadi tidak perlu mencemaskan kami.” Jawab kim woo bin yang tak lain adalah kakak dari kim bum.
Woo bin menyandarkan kepalanya pada pundak yi hyun, dia juga ingin merasakan sentuhan lembut dari yee jin seperti yang di rasakan oleh kim bum saat ini.

“ya… jauh – jauh dari ibuku. Kenapa pengganggu sepertimu bisa masuk ke sini. Sana pergi.” Teriak kim bum sambil bangun dan langsung melemparkan bantal yang ada di bawah tubuhnya pada woo bin.

“sudah – sudah berhenti berkelahi, aku tidak mau melihat dua jagoanku ini saling bertengkar. Lebih baik kalian berdua makan biar bibi yang menyiapkan makanan untuk kalian berdua.” Tutur so yi hyun sambil mengelus kepala kedua anak laki – lakinya itu. Dan mereka bertigapun tertawa bersama – sama.

~~~

Woo bin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tidak ingin pulang terlambat dan membuat ayahnya marah padanya. harusnya mereka sudah sampai rumah dari tadi sore tapi karena kim bum yang tidak mau lepas dari yi hyun jadinya terpaksa woo bin menuruti adiknya itu.

“kita berdua bisa mati, jika ayah tau kita ke tempat ibu tanpa seijinnya lebih dulu. Kau selalu menyusahkan.” Kesal woo bin pada adiknya itu.

“di usiamu yang mencapai 25 tahun ini, kau masih memiliki sifat pengecut seperti sekarang. kau benar – benar membuatku muak. Sungguh menggelikan.” Balas kim bum dengan nada suara yang meremehkan.

“berhenti bersikap kasar seperti itu kim bum, apa sikapku yang selama ini masih kurang. Aku selalu membantumu menyembunyikan semua ini dari ayah. Kau kira hanya kau yang menderita. Kau bahkan tidak sedikitpun mempedulikanku. Kau tidak tau bahwa aku juga menderita sama sepertimu.” Kesal woo bin dengan sikap adiknya, harusnya kim bum bisa lebih sopan padanya.

“yaa.. berhenti mengomeliku, aku sudah terlalu pusing dengan semua keadaan yang menimpa kita. Ini semua gara – gara wanita brengsek itu, sampai kapanpun aku bersumpah akan membuat hidupnya dan anak – anaknya menderita.” Jelas kim bum dengan geramnya, dan woo bin hanya bisa menganggukan kepalanya tanda dia setuju dengan apa yang akan di lakukan oleh kim bum.



Kim jae wook tengah duduk santai sambil membaca korannya di ruang keluarga. Di temani dengan istrinya Kim tae hee. jae wook nampak tertawa ketika sedang asyik bicara dengan istri mudanya itu.

“kemana anak – anak? Kenapa sepertinya rumah ini terlihat sepi, apa mereka sedang pergi?” tanya jae wook yang nampak heran dengan keadaan rumah yang sepi. Mengingat rumah yang di huninya ini terbilang sangat besar dan mewah tentu saja aneh jika memang hanya ada dia dan istrinya.

“so eun dan so hyun pergi ke toko buku, sedangkan ….”
Jawaban dari tae hee terpaksa terhenti ketika kim bum dan woo bin sudah lebih dulu memasuki rumah itu.

“kalian berdua dari mana saja, kenapa beberapa hari ini sering pulang malam. Woo bin apa pekerjaan di kantor benar – benar sangat menyita waktumu?” tanya jae wook antusias ketika melihat kedua anak laki – lakinya itu baru saja tiba di rumah.

“semuanya berjalan lancar, kantor cabang semuanya berjalan baik. Ayah tidak perlu khawatir.” Jawab woo bin seadanya sambil berlalu meninggalkan jae wook dan tae hee. sementara kim bum sudah terlebih dahulu pergi menuju kamarnya.

~~~

Kim bum masuk kedalam kamarnya, dilihatnya foto masa kecilnya bersama ibu, ayah dan kakaknya. Kim bum berharap kebahagiaannya yang dulu segera kembali lagi. kim bum berharap wanita yang saat ini berada disisi ayahnya itu bisa merasakan bagaimana rasa sakit hati yang dialami oleh kim bum dan kakaknya terutama ibunya.

Kim bum mengepalkan tangannya tanda dia benar – benar marah dengan keadaan yang menimpanya. Bagaimana dia bisa tidur tenang di rumah ini sementara ibunya hanya tinggal sendirian.

Kim bum beranjak dari tempat duduknya, dan menyambar jaket kulit yang diambilnya dalam lemari. Di arahkanya kakinya untuk berjalan keluar kamar. Tak peduli mau kemana dia malam ini yang penting dia bisa bersenang – senang. Itu saja yang saat ini ada didalam benak kim bum.

“kak woo bin… kau sudah tidur.” Panggil kim bum seraya mengetuk pintu kamar woo bin. Kim bum tidak mempedulikan suaranya yang cukup lantang karena menurutnya tidak mungkin ayahnya bisa mendengar suaranya, mengingat kamar mereka yang terlalu jauh.

“yaa, kak woo bin tidak bisakah kau tidak mengunci pintumu. Kau ada di dalam tidak, ayo kita pergi bersenang – senang. Bukankah kita sudah lama tidak pergi ke tempat biasa.” Teriak kim bum sambil menggedor pintu kamar kakaknya itu, dan sama sekali tidak ada sahutan dari dalam.

“dasar brengsek” teriak kim bum lagi sambil menendang pintu kamar woo bin. Dengan kerasnya.
Dan ternyata apa yang di lakukan oleh kim bum barusan dilihat oleh kedua saudara tirinya.

“ayo so hyun, kita ke kamar kakak saja. sepertinya disini ada seorang pria yang tidak punya tata krama. Bagaimana bisa seorang pria dewasa bertingkah kekanak – kanakan seperti itu.” Sindir so eun yang tak lain saudara tiri dari kim bum. dan sudah jelas bahwa sindiran tersebut di tujukan untuk kim bum.
So eun dan so hyun berjalan melewati kim bum yang terlihat marah dengan sindiran yang baru saja di lontarkan oleh so eun untuk dirinya.

“yaa.. siapa kau, hingga begitu berani berbicara seperti itu padaku. Kau kira kau sudah lebih baik dari padaku sehingga kau begitu berani berbicara seperti itu.” Teriak kim bum pada saudara tirinya. Kim bum merasa tidak terima dengan apa yang baru saja dikatakan oleh so eun barusan.

Sayangnya so eun sama sekali tidak peduli dengan teriakan kim bum barusan, gadis itu lebih memilih pergi menuju kamarnya bersama so hyun adiknya. Dan sama sekali tidak peduli dengan tatapan tajam yang diarahkan padanya.

“kau bahkan tidak lebih baik dariku.” Ucap kim bum sambil menahan tangan so eun yang berhasil di raihnya. So eun yang kaget langsung menatap tajam kim bum dengan pandangan tidak suka. Dan benci mungkin itulah tatapan yang lebih pantas diartikan untuk tatapan mata dari so eun dan juga kim bum.

“hei anak kecil.. cepat pergi ke kamarmu.” Bentak kim bum pada so hyun, yang tak lain adalah adik tirinya.
Dan bentakan kim bum tadi berhasil membuat so hyun adik tiri kim bum ketakutan dan mencengkram erat tangan so eun yang satunya. Yang bebas dari cengkraman tangan kim bum tentunya.

“kak so eun.. ayo kita ke kamarmu.” Panggil so hyun pada so eun, so hyun benar – benar takut. Terlebih lagi jika kim bum sampai menyakiti so eun. atau melakukan hal yang buruk pada kakak perempuannya itu.

“apa kau tuli.. aku bilang masuk ke kamarmu.” Bentak kim bum lagi, dan bentakan terakhir kim bum mampu membuat so hyun lari menuju kamarnya saking takutnya.

So eun memandang kim bum dengan tatapan marah dan penuh kebencian. Menurut so eun sikap kim bum ini benar – benar tidak bisa di terima. Bagaimana bisa kim bum membentak adik kandungnya sendiri. Walaupun so hyun dan kim bum satu ayah beda ibu tetap saja mereka sedarah dan tidak sewajarnya kim bum memperlakukan so hyun seperti itu. Apalagi mengingat usia so hyun yang masih kecil.

“lepaskan tanganku.” Gertak so eun sambil mencoba melepaskan cengkraman tangan kim bum dari tangannya.
Bukannya melepaskan cengkraman tangannya dari tangan so eun, kim bum malah terkekeh pelan. Yang terkesan mengejek so eun.

“aku bilang lepaskan tanganku. Kau menyakiti tanganku.” Bentak so eun lagi yang mulai geram dengan sikap kim bum yang terbilang aneh ini.

“apa kau bilang tadi, menyakitimu…. haah,, aku memang sengaja melakukannya, aku bahkan sangat senang ketika kau merasakan kesakitan seperti ini.” gumam kim bum sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang di nilai so eun seperti senyuman merendahkan. Ditambah lagi kini kim bum semakin mencengkram tangan so eun dengan tambah kuat.

“kau benar – benar tidak punya sopan santun, apa seperti ini caramu memperlakukan seorang gadis?”

Kim bum tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh so eun. untuk kim bum pertanyaan yang dilontarkannya tadi bukanlah sebuah pertanyaan biasa, melainkan sebuah pertanyaan besar yang seolah – olah menggambarkan bahwa kim bum ini adalah orang yang benar – benar jahat dan tak berperikemanusiaan. Jika memang benar adanya, lalu bagaimana sebutan yang pantas untuk menggambarkan kebencian kim bum pada so eun, bukan so eun lebih tepatnya ibu so eun yang saat ini menjadi ibu tiri kim bum – Kim tae hee.

“aku tidak punya sopan santun, aku tidak punya tata krama. Pertanyaan macam apa itu. Bukankah pertanyaan itu lebih tepat kau ajukan pada ibumu dan bukannya aku. Kau kira gadis sepertimu benar – benar gadis baik – baik. Benar – benar sangat menggelikan.” Cibir kim bum dengan tatapan penuh benci pada so eun.

So eun kaget dengan apa yang baru saja dia dengar, apa – apaan maksudnya. Kalau memang kim bum membenci so eun ya sudah benci saja dia. Kenapa harus berkata panjang lebar dan ngelantur kesana kemari. So eun hanya tidak ingin melihat kim bum bersikap kasar pada so hyun. Anak itu masih terlalu kecil untuk mengetahui suatu kebenaran yang sangat menyakitkan. Kim bum pikir so eun berniat meminta etika baik dari kim bum. ini benar – benar membuat so eun semakin yakin bahwa sikap kim bum memang benar – benar kekanak – kanakan.

“kau berpikir kau gadis yang paling benar, atau kau sempat berfikir bahwa kau adalah seorang anak yang sangat beruntung karena ibumu bisa menjadi nyonya rumah di rumah yang sangat besar ini. atau kau benar – benar sangat terharu dengan kegigihan ibumu yang mampu menggeser posisi nyonya besar yang sesungguhnya.” Jelas kim bum panjang lebar dengan nada yang cukup keras. Dan itu berhasil membuat so eun kesal.

“cukup… kau pikir aku senang dengan apa yang terjadi pada kita sekarang. Kau pikir hanya kau yang merasa menderita dengan keadaan ini. kau bahkan tidak tau apapun tentangku dan ibuku. Kau tidak bisa menghina ibuku seperti ini.” bentak so eun tidak kalah kerasnya. Kim bum benar – benar keterlaluan dan menurut so eun, kim bum memang tidak bisa diberitahu dengan kata – kata. Mana bisa so eun menahan emosinya, jika sudah menyangkut harga dirinya apalagi ibunya. Tidak seorangpun bisa menyakiti hati ibunya termasuk kim bum sekalipun.

“gadis murahan.. kau bahkan mirip dengan ibumu. Kalian berdua benar – benar dua wanita murahan yang sangat menjijikan.” Kata kim bum lagi sambil melepaskan cengkraman tangannya dari tangan so eun. dan tanpa di duga, sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipi mulus kim bum. bertepatan dengan kim bum melepas tangan so eun.

Sudah bisa di tebak bahwa tamparan itu di dapat kim bum dari so eun. kim bum memegang pipinya yang terasa sakit. Dilihatnya gadis yang sudah dengan beraninya menamparnya itu. Sorot mata tajam kim bum kini tepat menatap bola mata so eun. tatapan tajam dan menakutkan dari kim bum benar – benar membuat so eun sedikit menyesal karena telah melakukan hal yang tidak seharusnya dia lakukan.

Sorot mata kebencian, sorot mata penuh amarah dan dendam benar – benar kim bum berikan pada so eun atas apa yang telah so eun lakukan pada kim bum baru saja.

“kau benar – benar membuatku semakin membencimu.. terutama ibumu.” Teriak kim bum, sambil mendorong tubuh so eun dengan kasar hingga membuat tubuh so eun membentur tembok yang ada di belakangnya.

“yaa.. app…… hemmpp… lepp…. heemmmpptt. Ku bil… leppp heemmmpptt.” So eun bahkan tidak bisa berkata dengan lancar, ketika dengan tiba – tiba dan tanpa so eun sadari kim bum telah mendorongnya dan kemudian mencium bibirnya dengan paksa.

Apa yang dilakukan kim bum ini, kenapa bisa kim bum mencium so eun. apa seperti ini cara yang akan dilakukan kim bum untuk menghancurkan so eun dan ibunya.
So eun berusaha melepaskann dirinya dari ciuman brutal yang di lakukan kim bum dengan cara mendorong tubuh pria itu, bahkan so eun memukul dada kim bum sekuat tenaga so eun agar pelukan kim bum bisa terlepas dari tubuhnya. Tapi sayang tenaga kim bum bahkan lebih besar untuk ukuran wanita seperti so eun bisa lepas.

“heeemmmmmptt…. lepp.. paskan.” Gumam so eun, masih terus berusaha untuk melepaskan ciuman dari kim bum yang benar – benar menyakitinya.

Kim bum bahkan tidak ada niat sedikitpun untuk melepaskan ciumannya dari bibir so eun. kini yang di lakukan kim bum malah menggigit bibir bawah so eun, agar so eun membuka bibirnya. Dengan sangat kasar dan brutal kim bum menggigit bibir so eun dan itu menyebabkan sudut bibir so eun mengeluarkan darah.

“aarrrgggghhhh,,” erang so eun, yang merasa kesakitan dengan ulah kim bum yang menggigit bibirnya.

Mendengar erangan dari so eun, kim bum pun tersadar dengan apa yang dilakukannya. Dilepaskannya tautan bibirnya dari bibir so eun dengan kasar. Dan itu sukses membuat luka dari sudut bibir so eun semakin melebar akibat dari ulah kim bum.

“kau bahkan lebih munafik dari pada ibumu, kau bertingkah seolah – olah itu adalah hal yang baru pertama kali kau lakukan. Bahkan kau seperti menolaknya, padahal kau dan ibumu sangat mahir melakukannya kan?” sindir kim bum, sambil menghempaskan tubuh so eun dengan kasar.

So eun tidak menjawab apapun yang di ucapkan oleh kim bum, gadis itu hanya ingin menghirup udara sebanyak – banyaknya dan menjaga keseimbangan tubuhnya yang hampir saja jatuh ke lantai akibat dorongan kasar yang di lakukan oleh kim bum.

“tidak perlu menasehatiku ataupun bersikap seolah – olah kaulah yang paling benar. Karena bagiku kau bahkan jauh lebih rendah dari pada wanita – wanita murahan yang ada di luaran sana.” bentak kim bum lagi, dan kini melangkahkan kakinya pergi meninggalkan so eun yang masih diam mematung di tempatnya.

So eun hanya bisa diam ditempat, tubuhnya masih terasa kaku hanya untuk sekedar bergerak. Bagaimana tidak, apa yang baru saja dialaminya benar – benar tidak bisa di terima oleh akal sehat so eun. bagaimana bisa saudara tirinya itu melakukan hal, yang tidak pernah so eun pikirkan sebelumnya.

“apa ini, kenapa dia melakukan ini padaku.” Gumam so eun sambil menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya akibat perbuatan kim bum tadi. So eun bahkan tidak bisa merasakan perih dari lukanya itu. Yang membuat so eun terluka adalah bagaimana sikap kim bum yang memperlakukan so eun layaknya wanita pemuas nafsu. Terlebih lagi kata – kata kim bum yang benar – benar membuat so eun bahkan tidak mampu bergerak – wanita murahan, benarkah kim bum berfikir seperti itu pada so eun.



Sebuah dentuman musik menggema di seluruh penjuru tempat kim bum dan woo bin saat ini berada. Keduanya benar – benar menghabiskan waktu mereka untuk bersenang – senang malam ini. kedua pria ini sama – sama ingin melepaskan kepenatan atas apa yang dialaminya. Dan kesibukan yang dilakukan mereka seharian tadi.

Seharian tadi woo bin tengah disibukkan dengan urusan pekerjaan di kantor cabang, dari perusahaan ayahnya. banyak sekali berkas – berkas yang harus ditanda tanganinya, belum lagi rapat yang diadakannya dengan beberapa investor.

Sedangkan kim bum, pria itu juga tidak kalah menderitanya. karena harus mempelajari beberapa dokumen – dokumen penting perusahaan agar kim bum juga bisa memimpin kantor cabang yang lainya.
Ayah mereka adalah pemeilik sebuah perusahaan hotel terbesar di korea jadi tidak salah jika mereka memiliki anak perusahaan dan cabang dimana – mana. Dan tentu saja selain Kim jae wook, kim bum dan woo bin lah yang mengurus salah satu anak perusahaan itu.

“aku bahkan tidak bisa memiliki waktu untuk bersenang – senang, ayah benar – benar memasukkan kita ke dalam neraka.” Dengus woo bin, sambil meneguk minuman keras yang ada di hadapannya.

“kepalaku rasanya benar – benar ingin meledak saat ini juga.” Timpal kim bum.

Menurut orang lain mungkin kehidupan kim bum dan woo bin benar – benar sangat makmur dan layak. Walaupun pada dasarnya memang benar, tapi tetap saja mereka berdua juga bersusah payah menuruti keinginan ayah mereka.

Di tambah lagi, bagaimana keadaan keluarga mereka, kim bum dan woo bin sudah dipaksa belajar mengatur perusahaan dari mereka berdua duduk di bangku menengah pertama. Ditambah lagi, perceraian orang tua mereka yang mengakibatkan kedua kakak beradik itu harus tinggal terpisah dengan ibu kandungnya. Karena ayah mereka yang melarang keduanya untuk menemui ibunya. Yang lebih parahnya lagi ayahnya berselingkuh dengan sahabat ibu mereka. Benar – benar tidak bisa diterima oleh keduanya.

“sepertinya malam ini, aku ingin meninap di rumah ibu saja. rumah itu bahkan tidak bisa membuat aku tidur dengan nyaman.” Jelas kim bum pada kakaknya, yang tengah asyik dengan alkoholnya.

“kau pikir hanya kau yang merasakan hal seperti itu, apa kau gila. Sudah hampir satu minggu kau tidak pulang kerumah, ayah selalu menanyakanmu. Kau mau aku di pukuli ayah sampai mati karena terus – terusan berbohong padanya.” elak woo bin yang tidak setuju dengan perkataan adiknya tadi.

“yaa.. kak woo bin, kau mau aku mati karena tertekan di rumah itu. Aku bahkan tidak bisa makan dengan lahap jika melihat wanita sialan itu.” Rengek kim bum.

“kau kira aku tidak merasakan hal itu juga. Kau pikir aku baik – baik saja ketika melihat wanita itu hidup dengan enak di rumah kita. Ayolah kim bum… tidak bisakah kau membiarkan aku merasakan nyamannya tidur di tempat ibu seperti yang kau lakukan beberapa hari ini. setidaknya satu hari saja.” rengek woo bin pada kim bum.

Sebenarnya kim bum tidak ingin meninggalkan rumah ibunya, tapi apapun yang terjadi kim bum juga tidak boleh egois, woo bin juga pasti menginginkan bermalam di tempat ibunya. Lagi pula selama ini kim bum sudah terlalu banyak merepotkan kakaknya itu.

“baiklah… baiklah, aku akan pulang. Sampaikan salamku pada ibu, dan yang terpenting kau harus menjaganya malam ini.”

“kau memang adikku yang paling pintar.” Sanjung woo bin sambil merangkul adiknya itu.

“yakk.. lepaskan aku. Aku bahkan tidak suka mendengar rengekan bahkan sanjunganmu sedikitpun.. itu benar – benar terdengar menggelikan untuk pria sepertimu” goda kim bum sambil membalas pelukan dari kakaknya. Dan keduanya pun kembali meneguk alkohol yang ada dihadapannya masing – masing, hingga mabuk.

~~~

Woo bin mengendarai mobilnya, walaupun kepalanya terasa berat dan pusing tapi tidak disangka jika tubuhnya masih kuat melajukan mobilnya sampai di rumah ibunya. Dilihatnya jam tangan yang melingkar di tangannya, sudah hampir jam 11 malam dan sudah pasti ibunya itu sudah tidur.

Woo bin berkali – kali mengetuk pintu rumah So yi hyun dan tak berapa lama seorang perempuan tua yang tak lain pembantu di rumah yi hyun membukakan pintu untuk woo bin dan mempersilahkan pria muda itu untuk masuk.

“bibi.. apa ibuku sudah tidur” tanya woo bin pada wanita tua tadi.

“nyonya, belum tidur tuan muda. Dia masih ada di ruang kerjanya.” Jawabnya.

“ohh.. terimakasih, kau bisa kembali” jelas woo bin sambil beranjak menaiki tangga yang menghubungkan antara lantai satu dan dua yang ada di rumah ibunya itu. Tentu saja woo bin ingin menemui ibunya, bagaimana seorang wanita seperti ibunya bisa bekerja sampai larut malam seperti ini. tentu saja ini akan mengganggu kesehatan ibunya.

Woo bin sudah berada di depan pintu ruangan kerja ibunya, hatinya sedikit ragu untuk memasuki ruangan itu. Bukan takut, dia hanya tidak ingin mengganggu ibunya. Tapi dia juga tidak ingin jika melihat ibunya bekerja sampai selarut ini. tapi sebagai seorang anak bukankah ini suatu kewajiban untuk menegur orang tua yang bertindak berlebihan.
Diberanikannya tangannya menyentuh gagang pintu ruang kerja itu, dan di bukannya pintu itu. Dan bisa woo bin lihat bahwa saat ini ibunya tengah duduk bersandar di meja kerjanya.

“apa yang ibu lakukan sampai selarut ini? tidak bisakah kau tidur dengan nyaman saat ini.” nada khawatir tampak jelas terdengar dari nada bicara yang baru saja woo bin lontarkan pada ibunya itu.

“malam ini kau datang kesini sayang… dimana kim bum, apa malam ini dia tidak menginap disini lagi?” tanya ye jin sambil menyunggingkan senyum tipisnya pada anak sulungnya itu.
Woo bin menghampiri ye jin dan merangkul tubuh ibunya dari belakang. Rasa sedih ini menyelimuti hatinya. Harusnya saat – saat seperti ini ibunya bisa merasakan kehidupan yang sangat bahagia. Bisa melihat dan berkumpul dengan anak dan keluarganya. Tapi tidak dengan ibu woo bin. Yi hyun harus tinggal di rumah yang besar ini sendirian, tanpa anak dan suaminya.

“maafkan aku… aku bahkan tidak bisa selalu berada disisimu. Aku bahkan tidak punya keberanian sedikitpun untuk menentang kekerasan hati ayah. Maafkan aku ibu,,,” jelas woo bin sambil menangis di pundak ibunya.

Yi hyun mengerti apa yang saat ini dirasakan oleh putranya itu, woo bin pasti sedih bahkan sangat sedih. Anak pertamanya ini memang selalu terlihat tegar dari kecil, tidak pernah manja walaupun terkadang hatinya begitu dingin jika berhadapan dengan orang lain selain ibu dan adiknya. Sangat berbeda dengan kim bum yang mempunyai sifat yang keras kepala dan arogan. Kim bum memang mewarisi sifat Jae wook sedangkan Woo bin mewarisi sifat ibunya.

“aku bahkan tidak bisa membiarkan kim bum selalu berada disini menemanimu… aku hanya takut jika ayah tau kim bum sering menginap disini, dia akan memukuli kim bum. dan aku tidak ingin jika ayah menemuimu dan memarahimu lagi seperti dulu. Aku takut… sangat takut.” Tutur woo bin, dengan nada suara bergetar. Karena memang woo bin yakin bahwa ibunya itu sangat menyanyangi adiknya.

Dan dapat dirasakan oleh yi hyun bahwa putranya itu saat ini tengah menangis. Yi hyun pun tak kuasa menahan air matanya. tentu saja anaknya ini sedang melakukan yang terbaik untuk adiknya dan ibunya.

“kau benar sayang… apa yang kau lakukan ini adalah benar. Ibu bangga denganmu. Kau harus selalu kuat seperti saat ini. karena saat ini kekuatan ibu hanya ada pada kim bum dan dirimu.”

“biarkan malam ini.. aku menemanimu dan menjagamu sampai kau terlelap. Biarkan aku merasakan satu malam saja bersamamu seperti apa yang dirasakan kim bum beberapa hari ini.” mohon woo bin pada ibunya. Sambil mengeratkan pelukannya pada sang ibu. Pria dewasa seperti woo bin memang tidak seharusnya bersikap manja seperti ini, tapi mau bagaimana lagi dia terlalu sering mengalah dengan adiknya. Selama ini kim bum lah yang selalu dekat dengan ibunya. Dan woo bin hanya bisa menutupi perbuatan kim bum dari ayahnya.

“bukankah kau yang bilang sendiri bahwa kau tidak ingin melihat kim bum di pukul ayahmu karena ketahuan berada di tempat ini. lalu bagaimana bisa ibu membiarkan kau yang di pukul oleh ayahmu.” Jelas Yi hyun yang tak setuju dengan usul woo bin tadi.

“ibu baik – baik saja, jangan cemaskan ibu. Disini masih ada bibi Lee. Kau tidak perlu khawatir. Tugasmu sekarang jaga kim bum dan dirimu.” lanjut Yi hyun.

~~~

Dengan tubuh sempoyongan dan langkah yang gontai kim bum memasuki rumahnya. Tentu saja dia dengan mudah bisa masuk ke dalam rumah walaupun keadaan rumah terkunci rapat dan malam sudah larut. Karena selama ini kakaknya sudah memberikan kunci cadangan untuknya agar bisa membuka pintu sendiri ketika pulang terlambat. dan tentu saja itu tanpa sepengetahuan ayah mereka – Kim jae wook.

“cih.. rumah ini bahkan terlihat sangat menyeramkan bagiku.. rumah ini benar – benar seperti neraka.” Gumam kim bum sambil mengedarkan pandangannya kesekeliling rumahnya.

Kim bum menaiki tangga rumahnya dan hampir sampai di depan kamarnya. Dilihatnya pintu kamar sang kakak. dan dengan perasaan sedih kim bum menghampirinya, pasti saat ini kakaknya sedang tidur dengan lelapnya di tempat ibunya. Tidak seperti kim bum sekarang.

Suara langkah kaki seseorang yang terdengar dekat dari tubuh kim bum, membuat kim bum mau tidak mau melihat ke sumber suara untuk memastikan kalau langkah kaki itu bukan milik ayahnya. karena jika itu sampai benar, maka kim bum pasti akan mendapatkan rentetan pertanyaan yang menyebalkan.

Dan ketika pandangan mata kim bum beradu dengan si pemilik langkah kaki tadi, kim bum pun semakin menajamkan sorot matanya. tatapan marah dan benci itu muncul lagi ketika melihat siapa yang saat ini ada dihadapannya. Gadis itu lagi pikir kim bum.

Kim so eun gadis itu baru saja dari dapur untuk mengambil segelas air putih untuknya, gadis itu terasa haus hingga membuatnya terbangun dari tidurnya. tapi sayang dia harus bertemu dengan kim bum setelah beberapa hari ini tidak melihat saudara tirinya itu. Tentu semenjak kejadian itu.

Ada sedikit perasaan takut pada diri so eun ketika melihat sorot mata tajam kim bum saat ini. sama seperti saat itu, saat beberapa hari yang lalu kim bum melakukan suatu hal yang tidak pernah so eun bayangkan sebelumnya.
Walaupun takut tentu saja so eun harus bisa berjalan melewati kim bum agar bisa masuk ke dalam kamarnya dan terlepas dari tatapan mematikan kim bum.
Baru beberapa langkah so eun berjalan melewati kim bum, pria itu malah menahan bahunya dan tentu saja itu membuat langkah so eun terhenti.

“kau tidak mengeluarkan sindiranmu lagi padaku haahh…..” racau kim bum sambil mendekatkan tubuhnya pada so eun, dan tentu saja itu semakin membuat so eun takut. Apalagi dengan bau alkohol yang tercium dari mulut kim bum, tentu saja menurut so eun saat ini, pria yang ada di belakangnya itu tengah mabuk.
Jika dalam keadaan normal saja kim bum bisa melakukan perbuatan yang menakutkan apalagi dalam keadaan mabuk seperti sekarang. Apalagi saat ini ryu jin dan tae hee sedang tidak ada di rumah.

So eun menghempaskan tubuhnya dari pegangan tangan kim bum dan dengan cepat berjalan meninggalkan pria itu. Untuk menghindarinya, tentu saja. tapi tentu saja itu semua tidak semudah dengan apa yang ada dipikiran so eun.

“apa kau takut… kau merasa takut padaku, gadis murahan.” Ejek kim bum sambil menarik lengan so eun dan membawa gadis itu menuju ke kamarnya.

“yaa.. lepaskan aku, apalagi yang mau kau lakukan?” teriak so eun berusaha menolak tarikan tangan kim bum yang membawanya ke kamar pria itu.
Tapi tetap saja so eun kalah dengan tenaga yang dimiliki oleh kim bum. tidak mungkin so eun bisa menghindar dari kim bum sekarang karena saat ini mereka sudah berada di kamar kim bum.

“aku tebak… pasti saat ini kau sangat takut karena aku membawamu ke kamarku.” Goda kim bum sambil mendekatkan dirinya ke tubuh so eun. dan itu membuat so eun semakin gemetar dan berjalan mundur mencoba untuk menghindari kim bum. paling tidak jangan sampai kejadian tempo hari terulang lagi, atau bahkan lebih buruk dari sebelumnya.

“bukan… bukan, yang benar saat ini kau benar – benar senang kan karena aku membawamu kekamarku. Karena dengan begitu kau bisa puas menjalankan kebiasaanmu untuk menggoda para pria – pria kaya. Yaa… sama seperti ibumu…haahhhh, menarik.” Ralat kim bum dengan nada yang dibuat – buat dan penuh hinaan, seolah – olah bahwa so eun ini benar – benar gadis yang tidak benar, seperti wanita perayu. Yaa.. itulah anggapan kim bum selama ini tentang diri so eun.

“tidak bisakah kau berhenti menghinaku… apa dengan menghinaku kau benar – benar merasa puas.” Teriak so eun yang sangat marah dengan anggapan kim bum tadi tentang dirinya.

“berhenti… puas… aku tidak akan pernah berhenti ataupun merasa puas untuk menghinamu sebelum kau dan ibumu itu hancur. Kau tau itu.” Jawab kim bum yang kini benar – benar semakin mendekati tubuh so eun bahkan membuat gadis itu tersudut ke tembok dan tidak bisa kabur lagi.

“lalu apa yang mau kau lakukan? Apalagi yang mau kau lakukan padaku… ap…”
Seperti kejadian tak terduga malam itu, akhirnya apa yang ditakutkan so eun menjadi kenyataan. Kim bum melakukannya lagi, seperti saat pertama kali, kim bum melakukannya kali ini kim bum bahkan lebih kasar mencium bibir so eun dan membuat gadis itu hampir menangis karena menahan sakit akibat aksi brutal yang dilakukan kim bum.

“ber… henti. Ini… sa… hemmppptttt.” Racau so eun yang tidak bisa mengeluarkan kata – katanya dengan jelas. Jika orang tuanya itu ada di rumah pasti so eun akan berteriak sekencang – kencangnya. Tapi mau teriakpun percuma sekarang karena ibu dan ayah tirinya saat ini tidak ada di rumah. Pembantunya pasti sudah terlelap karana malam sudah larut. Apalagi so hyun, terbangun pun bocah itu tentu saja tidak akan berani melawan kim bum.

“yaakkkkk. Lepaskan kim bum.” teriak so eun sambil berusaha mendorong tubuh pria itu agar menjauh dari tubuhnya.
Tapi masih sama seperti sebelumnya, gadis itu bahkan tidak bisa bergerak sama sekali sekarang karena kim bum semakin mengeratkan pelukannya dan kini kim bum malah mendorongnya ke ranjang.

“malam ini aku akan menghancurkan hidupmu dan membuat ibumu itu malu.” Ancam kim bum sambil melepaskan jaket dan kaosnya. Yang semakin membuat so eun semakin ketakutan.

“berhenti bersikap gila kim bum… kau tidak bisa melakukannya padaku.” Teriak so eun yang benar – benar sudah ketakutan. Tapi percuma saja karena kini kim bum sudah naik keranjang dan naik ketubuh so eun. dikuncinya tubuh gadis itu dengan tubuh kim bum.

“nikmati saja permainan kasarku ini so eun.” ucap kim bum dan hendak mencium bibir so eun. tapi selalu gagal kareana so eun selalu menggerakkan kepalanya.

“jangan… kumohon jangan kim bum.” mohon so eun yang masih mencoba untuk menghindari ciuman dari saudara tirinya itu.

“yahh.. berhenti bergerak dan turuti saja keinginanku gadis murahan.” Teriak kim bum sambil mencengkram rahang so eun dan akhirnya kim bum pun berhasil mencium bibir so eun, walaupun saat ini so eun terus memberontak tapi tetap saja kim bum sedikit puas karena berhasil menyiksa so eun.

“yaa… apa yang kau lakukan bodoh…” teriak sebuah suara yang sukses menghentikan perbuatan kim bum sekarang.
Dan yang membuat kaget ketika orang itu langsung memberikan pukulan yang sangat keras pada kim bum, dan sukses membuat tubuh kim bum sedikit limbung dan bibirnya pun mengeluarkan darah akibat pukulan tiba – tiba itu.

Kim bum benar – benar kesal dengan apa yang diterimanya barusan, ditatapnya dengan tajam orang yang memukulnya tadi. Kim bum sangat kesal saat mengetahui siapa yang memukulnya, tangannya mengepal rahangnya mengeras. Kim bum benar – benar ingin membalas pukulan itu, tapi tentu saja dia tidak bisa melakukannya karena kim bum sangat menghargai orang yang telah memukulnya.

“apa yang mau kau lakukan padanya? cepat katakan.” Bentak pria yang tadi memukul kim bum, seakan – akan ingin menelan kim bum hidup – hidup saat ini.
Sepertinya pria itu sangat marah sekali dengan apa yang dia lihat. Di tatapnya tajam kim bum seakan – akan meminta penjelasan dengan apa yang akan dilakukan kim bum terhadap so eun.

“kau tuli yaa… cepat jawab aku.” Bentak pria itu lagi, yang kini melayangkan tangannya dan hendak memukul kim bum lagi. namun terhenti ketika mendengar teriakan so eun.

“cukup….” teriak so eun sambil menangis, gadis itu masih sangat terkejut dengan apa yang akan menimpa dirinya. Walaupun pada akhirnya kim bum tidak jadi melakukan perbuatan yang membahayakannya tapi tetap saja tubuhnya masih gemetar dan ketakutan.

“jika kau berusaha melakukannya lagi.. aku tidak akan segan – segan membunuhmu saat ini juga.” Ancam pria itu. Sambil menghampiri so eun yang masih tak bergeming di ranjang kim bum saking kaget dan takutnya akan sikap kim bum yang menakutkan.

~~~TBC~~~

Iklan
Komentar
  1. yuee berkata:

    siapa yg mukul kim bum appanya atau kim woo bin???

    moga2 bukan appanya

  2. shefy rhieya kyuna bumsso berkata:

    wahhh segitu bencinya bumppa sma sso eon n ibu nya…

    siapa yg mukul bumppa? ayahnya kah????
    author aku bingung sma nama ibu n ayahnya bumppa kok beda2ya so yi hyun apa yee jin. kim jae wook apa ryu jin???

  3. nur bummies berkata:

    Bagus unnie bkin tegang pnasaran gmna bisa ibu sso bisa nikah ma appa bum. apa itu murni kesalahan omma sso?

  4. santiazz berkata:

    Sebenernya gak suka kalo kimbum sifatnya kaya gita. Tapi ceritanya seru. Bikin penasaran 😱

  5. Yah,, ampunn bumppa bner2 udah stresss,, gra2 probleme kluargax,,,,
    ksian the am eonni,,,,

  6. sakura berkata:

    Nunggu bgt klanjutannya ff ini
    ide critanya keren;

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s