Secret Love (Part 4)

Posted: 7 Oktober 2013 in FF BUMSSO
Tag:

cats

Part 4



Kembali ke masa lalu, benar – benar menyenangkan jika kita mengulang ke masa – masa yang indah. Tapi bagaimana rasanya jika kita mengulang kembali kejadian yang kita sendiri bingung, apakah benar dulu kita pernah melalui masa – masa ini. dengannya.

So eun mengerjapkan matanya, dan menyadari bahwa saat ini dirinya tengah terbaring di sebuah tempat tidur di sebuah penginapan. Terasa asing ketika so eun mengedarkan pandangannya mengelilingi ruangan itu. Nampak seperti bangunan tua dan benar – benar terlihat usang. Walaupun masih tampak bersih.

“ada dimana dia?” gumam so eun, yang menyadari bahwa saat ini dirinya tengah sendiri tanpa ada adik iparnya yang menemani.

So eun beranjak dari tempat tidurnya dan mencoba keluar dari kamar itu, dan ketika dia menapakan kakinya keluar dari ruangan tempat dia tertidur tadi seperti ada sebuah perasaan yang menahannya. So eun kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar tadi. Ada perasaan aneh yang menyelimuti hati dan pikiran so eun sekarang.

“kenapa ini bisa terjadi… ini tidak mungkin, benar – benar tidak mungkin.” Batin so eun sedikit shock dengan apa yang ada di pikirannya saat ini.
So eun pun segera berlari keluar kamar itu, mencari sosok kim bum adik iparnya yang telah membawanya ke tempat ini. bagaimana bisa kim bum membawanya kemari, tidak mungkin ini hanya kebetulan pasti ada sebuah rahasia yang so eun tidak tau sehingga kim bum membawanya kemari.

~~~

Saat ini sinar rembulan nampak bersinar dengan sempurna, walaupun sinarnya masih kalah dengan sinar dari pancaran matahari tetap saja dia mempunya keindahan tersendiri, bagi sang penikmat malam.
Pemandangan malam di sebuah pedesaan memang masih terlihat alami dibandingkan dengan keramaian kota. Pantas saja orang – orang lebih banyak memilih untuk menghabiskan masa tuanya di desa daripada di kota yang penuh dengan kebisingan.

“setidaknya aku bisa lebih tenang, karena bisa membawanya ke masa lalu yang mungkin sempat dia lupakan.” Batin kim bum sambil menghisap rokok yang sedari tadi menemaninya bersama dengan gelapnya malam, indahnya hamparan danau yang saat ini didepannya dan juga dinginnya angin malam yang menusuk semua tulang – tulangnya.

“aku tidak berdosakan Tuhan? Setidaknya aku tidak pernah melakukan kesalahan selama aku mencintainya. Aku masih tetap menahan diriku dari emosi dan nafsu yang mungkin akan membuatnya celaka karena kebesaran rasa cintaku padanya.” batin kim bum lagi.
Seakan – akan saat ini pria itu mencari keadilan pada tuhan atas semua yang menimpa dirinya. Mungkin dengan apa yang dilakukan sekarang bisa membuat hatinya sedikit lebih tenang dan tidak memikirkan gadis itu lagi, karena memang tugasnya saat ini sudah selesai. Setidaknya itulah yang ada dipikiran kim bum sekarang.
Dan lagi – lagi, sebuah helaan nafas yang panjang dikeluarkan oleh kim bum di ikuti dengan hisapan rokok yang entah sudah kesekian kalinya.

~~~

So eun yang sudah menemukan kim bum tidak langsung menghampiri pria itu. Dilihatnya pria itu tengah duduk di sebuah jembatan kecil yang ada diatas danau yang terletak tak jauh dari penginapan mereka.

Ada sedikit keraguan untuk so eun menghampiri pria itu, rasa penasarannya seakan – akan hilang entah kemana ketika melihat kim bum yang tengah duduk sendiri di seberang sana. apakah pria itu juga sedang memikirkan hal yang begitu berat, sama seperti apa yang saat ini so eun rasakan dan pikirkan.

“apa disini begitu menyenangkan?” tanya so eun ketika dia sudah berdiri tepat dibelakang punggung kim bum.

“tidak terlalu menyenangkan, aku hanya ingin merasakan dinginnya angin malam saja.” jawab kim bum tanpa sedikitpun menoleh ke belakang. Karena pria itu tau bahwa so eun lah yang saat ini tengah menyapanya dan berdiri tepat dibelakangnya.
Bukan malas atau enggan untuk menatap wanita itu, hanya saja rasa takut terlalu menghantui kim bum untuk sekedar menatap wanita itu.

“kau tidak memintaku untuk menemanimu, dan malah membiarkanku tertidur sendirian di penginapan? Apa kau tidak ingin memperlihatkan tempat yang indah ini padaku?” ada perasaan kesal pada diri so eun ketika adik iparnya itu seakan – akan mengacuhkannya. Dan terlihat tidak peduli pada kedatangannya sekarang.

“duduklah.” Perintah kim bum, sambil membersihkan tempat disebelah dirinya duduk. Tanpa sedikitpun pria itu menoleh pada so eun.

“apa sebelumnya kau pernah ke tempat ini?” tanya so eun, memang terdengar seperti seorang polisi yang mengintrogasi pelaku penjahat tapi so eun sudah teramat penasaran dengan pria yang ada disampingnya ini.

Kim bum tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh so eun tadi. Pria itu bingung harus menjawab apa. tidak mungkin kim bum jujur pada so eun kalau tempat ini memang tempat yang sangat kim bum ingin datangi jika sedang mberkunjung ke desa ini. tentu saja setelah kejadian beberapa tahun yang lalu.

“yaa..kenapa tidak menjawab. Katakan apa kau pernah datang ketempat ini sebelum bersamaku sekarang?” tanya so eun lagi, semakin penasaran karena kim bum tidak juga menjawab pertanyaan sebelumnya.
Pria yang berada disampingnya itu kembali menghisap rokoknya, dan mengembangkan senyumnya. Tawa pelan dari kim bum terdengar sampai ketelinga so eun di ikuti dengan jawaban dari pria tersebut.

“tempat ini memiliki banyak kenangan dengan cinta pertamaku. Aku pernah datang kesini beberapa kali sebelum hari ini.” jawab kim bum datar. Tak sedikitpun pria itu menoleh pada wanita yang ada disampingnya sekarang. Padahal kakak iparnya itu, tengah memperhatikan dirinya dan terlihat kebingungan dengan jawaban yang kim bum berikan tadi.

Dengan sekuat hati kim bum mencoba untuk menatap kakak iparnya itu, diberikannya senyuman terbaiknya untuk wanita yang sekarang berada di sampingnya. Sedikit menghilangkan kegugupan yang melanda dirinya. Jadi hanya tersenyumlah yang bisa kim bum lakukan sekarang.

“tidurlah, aku pikir kau butuh istirahat cukup sekarang. Bukankah besok kita harus kembali ke seoul.” Perintah kim bum lagi, sambil beranjak dari tempat dia duduk dan hendak melangkahkan kakinya pergi meninggalkan so eun. tapi sebelum dia berhasil melangkah, tangan so eun lebih dulu menahannya.

“katakan apa yang ingin kau katakan? Jangan menutupinya dariku.” Mohon so eun sambil menatap tajam mata kim bum, mencoba mencari sesuatu di kedua mata kim bum yang tidak bisa ditemukan so eun pada kata – kata yang dikeluarkan oleh pria itu.

Kim bum membalas tatapan mata so eun dan membimbing so eun untuk berdiri sejajar dengannya, dan tanpa sengaja kim bum menyentuh jemari so eun yang mengenakan cincin pernikahan gadis itu dengan kakaknya. Ditatapnya lama cincin itu oleh kim bum, dan dengan berat hati kim bum melepaskan pegangannya dari jemari so eun. dan hendak kembali melangkahkan kakinya meninggalkan so eun. tapi lagi – lagi so eun menahan tangannya.
Wanita itu seakan – akan tidak membiarkan kim bum pergi meninggalkannya. Dan itu semakin membuat pertahanan hati kim bum goyah.

“apa yang ingin kau tau tentangku?” pertanyaan kim bum itu sontak membuat so eun kaget dan terkejut. Sepertinya pria ini benar – benar tau apa yang sedang dipikirkan oleh so eun.
Sekarang giliran so eun yang tidak bisa menjawab pertanyaan dari kim bum.

“apa kau benar – benar penasaran denganku sekarang? Apa kau benar – benar ingin mengetahui semuanya tentangku. Lalu apa yang kau inginkan dariku sekarang?” pertanyaan bertubi – tubi dari kim bum benar – benar membuat so eun membeku dan tidak mampu untuk sekedar menggerakan lidahnya.
Walaupun pelan tapi pertanyaan itu bagaikan hantaman besar untuk so eun. tidak penuh dengan makna, tapi memang ada benarnya. Memangnya apa yang ingin so eun ketahui tentang kim bum, bukankah so eun sudah tau kalau kim bum adalah adik iparnya. Mau tau apa lagi?
Lalu jika memang nanti kim bum menjawab semua pertanyaan yang ada dipikiran so eun sekarang. Apalagi yang di inginkan so eun pada kim bum. tentu saja itu semua juga membuat so eun semakin bingung.

“maafkan aku.” Ucap kim bum. dan di ikuti dengan sebuah gerakan yang tidak diduga oleh so eun dan juga kim bum sendiri.

Pria itu memegang dagu kakak iparnya, dan dikecupnya pelan bibir kecil sang kakak iparnya. Ada setiap penekanan ketika kim bum menempelkan bibirnya pada bibir so eun. tidak ada penolakan dari wanita yang ada di depannya sekarang. Seperti terhipnotis dengan perlakuan kim bum itu, so eun pun membuka mulutnya agar kim bum bisa lebih leluasa melakukan apa yang di inginkan pria itu pada tubuhnya.

Kim bum semakin tenggelam dengan ciumannya pada so eun, begitu pula dengan kakak iparnya itu. Walaupun so eun tidak membalas ciuman dari kim bum tapi setidaknya wanita itu juga tidak menolaknya itu berarti so eun memberikan kesempatan pada kim bum sekarang kan? Setidaknya itulah yang dipikirkan kim bum.

“terimakasih.” Ucap so eun setelah sebelumnya, wanita itu melepas ciuman yang diberikan kim bum padanya. dan pergi meninggalkan kim bum yang terlihat kecewa dengan apa yang dia dengar dari mulut so eun baru saja.

“kau masih tidak mengingatnya dan terlebih kau masih tidak melihat aku sebagai pria, melainkan hanya sebagai adik iparmu. Adik dari suamimu.” Gumam kim bum. sambil tersenyum masam. Mungkin tidak ada jalan yang terbaik untuk kim bum selain melupakan so eun.



“yaa.. kapan kau datang kemari putraku?” teriak sebuah suara laki – laki paruh baya pada sosok kim bum. yang terlihat baru keluar dari dalam penginapannya dan tentu saja di ikuti oleh so eun dibelakangnya.

“paman Lee.. kau masih mengenaliku?” sahut kim bum ketika mengetaui siapa pria yang menyapanya tadi.

“tentu saja aku mengenalimu. aku sudah berteman dengan ayahmu sejak kau masih bayi. Walaupun kalian kembar, tapi aku tetap tidak akan salah mengenali kalian.” Jawab pria yang dipanggil pak Lee oleh kim bum tadi dengan bangganya.

“kau sudah tumbuh menjadi pria dewasa kim bum, bukankah kau pergi ke jepang. Bagaimana bisa sekarang kau berada disini? Dan tunggu dulu, bagaimana dengan keadaan ki bum. dan siapa wanita yang ada disampingmu ini? …. aahhhh, jangan bilang kalau dia adalah istrimu. Kalian kesini untuk berbulan madu.. benarkan?” setiap lontaran yang diucapkan oleh pria tua itu membuat kim bum bingung. Dan tentu saja pertanyaan terakhir lah yang membuat kim bum semakin tidak enak hati dengan wanita yang ada disampingnya sekarang. Siapa lagi kalau bukan so eun – kakak ipar kim bum.

“iya, dia istriku. Aku kesini untuk mengunjungi makam ayah dan ibu paman. Maaf tidak bisa berlama – lama berbicara denganmu karena hari ini aku akan kembali ke Seoul. Lain kali aku akan berkunjung lagi kesini dan bicara banyak denganmu.” Jawaban kim bum tentu saja membuat so eun kaget.

Bukan hanya membuat so eun kaget, tapi tentu saja gadis itu sangat shock. Bagaimana bisa adik iparnya itu mengakui dirinya sebagai suami so eun sedangkan suami aslinya adalah kakak kandung dari pria itu. Bukankah ini aneh, tapi yang membuat so eun semakin aneh bukan karena ucapan kim bum, melainkan keanehan pada dirinya sendiri. Kenapa so eun tidak menyanggah jawaban yang terlontar dari mulut kim bum tadi.

“baiklah – baiklah. Aku mengerti, dan aku akan selalu menunggumu. Bukankah kau lihat bahwa penginapan ini masih tetap terawat seperti yang kau minta.” Kata pak lee.
Seberapa dekat hubungan kim bum dengan pak lee, dan seberapa berartinya penginapan ini bagi kim bum sehingga kim bum meminta orang tua ini untuk merawatnya. Pikir so eun.

“berdirilah disana. Aku akan memfoto kalian di depan penginapan ini.” perintah pak lee, dan tentu saja kim bum mengikutinya.

“kenapa saling berjauhan.. kim bum, peluk istrimu.” Perintah pak lee. Dan tentu saja kim bum mengikutinya. Walaupun berkali – kali so eun menjauh darinya tapi akhirnya kim bum berhasil meraih tubuh gadis itu dan memeluknya dari samping.
Ada kecanggungan di antara kim bum dan so eun setelah mereka berfoto bersama, sehingga membuat kim bum refleks melepaskan pelukan tangannya yang sedari tadi masih bertanggar di bahu so eun.

“aku tidak menyangka jika akhirnya kau berhasil mendapatkannya. Jagalah dia kim bum, bahagiakan nona ini dan jangan buat dia menangis atau ketakutan seperti waktu itu. Penantian panjangmu akhirnya tidak sia – sia.” Ucap pak lee, sambil menepuk pundak kim bum dan meninggalkan kim bum dan so eun yang masih berdiri ditempatnya.

“apa maksud dari perkataan bapak tua tadi? Apa maksudnya?” tanya so eun pada hatinya. Pikiran so eun kembali berkecamuk. So eun benar – benar tidak mengerti dengan bapak tua itu. Terlebih pada adik iparnya ini, terlalu banyak rahasia yang disembunyikan oleh pria itu dan anehnya so eun tidak punya keberanian untuk menanyakan langsung pada sang terdakwa.

“jangan terlalu memikirkan perkataan pak Lee, dia hanya sedang menghiburku. Jangan menyangkut pautkan perkataan pak lee hari ini dengan pertanyaanmu semalam karena ini tidak ada hubungannya. Dan maafkan aku karena telah menyebutmu sebagai istriku pada pak Lee.” Perkataan kim bum membuat so eun sedikit tenang walaupun masih banyak pertanyaan yang mengganggu pikiran wanita itu.

“aku sengaja berkata seperti itu. Karena aku berharap bahwa kau bisa menjadi istriku.” Batin kim bum sambil berjalan menuju mobilnya.

~~~

Hari ini, hari terakhir so eun dan kim bum berada di desa tempat dimana dulu kim bum dan kakaknya dilahirkan. Masih terlalu pagi untuk kembali ke Seoul dan sayang jika mereka tidak menghabiskan waktu untuk mengunjungi tempat – tempat yang menarik seperti pantai misalnya.

“aku jamin kau pasti akan menyukai tempat itu.” Ucap kim bum, menghilangkan kesunyian yang melanda pada dirinya dan kakak iparnya ketika saat ini mereka berada di dalam mobil.

“sepertinya, tempat yang akan kita tuju ini benar – benar sangat bagus.” jawab so eun sambil menatap pemandangan pedesaan dari balik kaca mobilnya. Terasa begitu indah menurut so eun dan mungkin akan jauh lebih indah jika so eun pergi ketempat ini bersama dengan suami yang dicintainya –Ki bum.

Dengan kecepatan yang stabil dan jalanan pedesaan yang memang tidak terlalu ramai membuat kim bum tidak terlalu lama untuk membawa kakak iparnya itu ke tempat yang dimaksudnya tadi.
Dan ketika kim bum menghentikan motornya, matanya sudah disambut dengan hamparan laut yang luas dan juga indah. Ditambah lagi beberapa para nelayan yang mempersiapkan perahunya untuk berlayar menangkap ikan. Benar – benar suatu pemandangan daerah pedesaan yang sangat alami.

“kau mengajakku ke tempat seperti ini?” tanya so eun heran, ketika kim bum menghentikan mobilnya dan mulai turun dari mobil.
Karena kim bum tidak menjawab pertanyaan so eun barusan tentu saja wanita itu langsung mengikuti adik iparnya itu turun dari mobil dan mengikuti kemana kaki kim bum melangkah.

“paman.. bisakah kau membawaku berlayar?” tanya kim bum pada seorang pria paruh baya yang tengah membetulkan letak perahunya yang tidak terlalu besar.

Pria itu hanya mengangguk sambil tersenyum pada kim bum, yang menandakan bahwa pria tadi tidak keberatan dengan permintaan kim bum. kim bum pun membalas senyuman yang diberikan oleh paman tadi dan memberikan beberapa lembar uangnya pada paman itu.

“kemarilah” perintah kim bum pada kakak iparnya yang kini berdiri tak jauh dari dirinya. So eun pun mematuhinya dan berjalan mendekati kim bum.

“kau mau naik kapal kecil itu?” Tanya so eun heran. Sambil memandang ke arah kim bum yang tengah tersenyum kecil padanya. dan itu terlihat seperti anak kecil yang sangat menggemaskan menurut so eun. hingga so eun pun ikut tersenyum.

“paman… apa sudah siap?” teriak kim bum, benar – benar seperti anak kecil yang tidak sabaran.
So eun pun semakin tertawa lebar melihat aksi kim bum yang seperti ini, adik iparnya ini benar – benar mempunyai pribadi yang sangat menyenangkan menurut so eun.
Hingga so eun tidak sadari bahwa saat ini kim bum tengah menggendongnya dan menaikan tubuhnya ke atas perahu kecil milik si paman nelayan yang memang sudah di sewa kim bum untuk membawa mereka berlayar.

“yaa… kim bum – si.” teriak so eun, ketika kim bum mengangkat tubuhnya.

“ini akan sangat menyenangkan so eun – si. Ayo paman jalankan perahunya.” Teriak kim bum, sambil tertawa lepas. Ketika dia sudah meletakkan tubuh so eun di perahu.

Keduanya pun kini berlayar menggunakan perahu yang lumayan nyaman untuk mereka tumpangi, tidak menyusuri semua lautan. Tidak juga setengahnya, tapi hanya sebagian sempit laut itu yang mereka sebrangi tapi itu membuat keduanya benar – benar merasa puas karena bisa menikmati indahnya ciptaan yang pencipta.

Hembusan angin laut dan juga percikan – percikan kecil dari air laut membuat kim bum terhanyut pada perasaannya ke so eun. apalagi ketika kim bum melihat kakak iparnya itu tengah berdiri tepat di depannya sambil memejamkan matanya. benar – benar menambah kecantikan alami yang dimiliki oleh wanita itu.

Kim bum pun melajukan kakinya beberapa langkah, untuk mendekati tubuh so eun dan kemudian memeluk wanita itu dari belakang. Tidak peduli apa yang akan dilakukan wanita itu nantinya, tapi kim bum hanya berniat memeluk wanita yang selama ini dicintainya itu. Tidak lebih.

“selama ini aku hanya terpuruk pada kesedihanku tanpa bisa melihat bahwa tuhan telah menciptakan hal – hal yang menakjuban seperti laut ini. bagaimana bisa aku bertahan hidup sampai selama ini tuhan… bagaimana kau bisa membiarkan aku jatuh sampai sedalam ini. sembuhkanlah suamiku agar dia juga bisa melihat keindahan alam yang kau ciptakan ini.” batin so eun. hatinya sedikit tenang ketika dia merasakan terpaan angin yang menembus kulitnya, walaupun dingin tapi menyejukan di dalam hati membuat so eun semakin terlelap dalam angannya.

Ditutupnya mata indah milik so eun, agar so eun bisa menikmati keindahan alam ini dengan hatinya. So eun merasa bahwa bebannya sedikit meringan sekarang.
Dan sekarang bukan hanya sejuknya terpaan angin laut saja yang dapat dirasakan oleh so eun melainkan kehangatan pelukan dari seseorang pun bisa dirasakan oleh so eun. ketika sebuah tangan kekar melingar di pinggangnya. So eun membuka matanya untuk memastikan bahwa saat ini benar – benar ada yang memluknya dan bukan halusinasi saja.

“jangan bergerak ataupun mencoba melepaskan pelukan ini. biarkan saja seperti ini sampai kita selesai berlayar. Hanya beberapa menit saja.” mohon kim bum sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh kecil so eun. ketika menyadari sedikit kekagetan dari kakak iparnya.

Pria itu memeluk tubuh kakak iparnya dari belakang dengan sangat erat. Rasanya kim bum tidak bisa melepaskan pelukan itu walau hanya sepersekian detik. Tidak bisa, benar – benar tidak bisa.

“aku benar – benar menginginkan waktu berhenti berputar saat ini. seperti ini hanya sekedar memelukmu saja itu lebih dari cukup untukku.” Batin kim bum. sambil merasakan terpaan angin laut yang menembus permukaan kulitnya ditemani dengan hangatnya tubuh so eun dan segarnya aroma tubuh so eun yang saat ini berada dalam dekapan tubuhnya.

Kim bum dan so eun masih tetap dalam posisi yang sama, so eun sedikit gemetar ketika kim bum memeluknya dengan erat seperti ini. jantung so eun berdebar lebih cepat dari biasanya. Entah perasaan apa ini, tapi yang pasti so eun pun menikmati pelukan yang diberikan oleh adik iparnya itu tanpa sedikitpun rasa untuk menolak atau mencoba melepas pelukan hangat itu. Bukan karena permintaan dari kim bum tadi, tapi memang hatinya juga menikmati pelukan ini.

“apa ini… kenapa aku nyaman dengan pelukan yang diberikan oleh pria ini. kenapa aku tidak menolaknya. Perasaan apa ini?” tanya so eun pada dirinya sendiri. Perasaan takut dan nyaman menyelimuti hati dan pikiran so eun sekarang.

Perahu yang ditumpangi oleh kim bum dan so eun pun sudah berhenti ke tepi. Dan kim bum pun melepaskan pelukannya dari tubuh kakak iparnya. Dan membantu so eun untuk turun dari perahu itu. Keduanya pun berjalan – jalan sebentar di sekitar pantai.

“menyenangkan bukan?” tanya kim bum pada so eun yang terlihat asyik bermain air pantai.

“yaa… ini benar – benar menyenagkan. Kemarilah” teriak so eun, sambil berlari menuju laut.

“yaa.. tunggu aku.” Teriak kim bum sambil menghampiri so eun dan malah mendapat siraman air dari so eun.
Keduanya pun asyik bermain air dan saling menyiramkan air ke badan satu sama lain. Tawa mereka berdua pun bersahutan. Mereka berdua benar – benar bisa melupakan sedikit permasalahan yang mendera keduanya. Walaupun tidak sepenuhnya hilang dari ingatan paling tidak bisa sedikit mengurangi.

Mungkin tuhan sedang menguji kesabaran kim bum saat ini atau malah ingin membuka mata hati so eun, akan sesuatu yang yang telah salah di mengerti oleh so eun selam ini.
Entahlah, ini semua memang terlihat aneh jika dibayangkan. Kim bum dan so eun benar – benar menikmati saat – saat ini dan sepertinya mereka berdua telah melupakan sesuatu yang jauh disana.

~~~

Kim bum dan so eun pun kini sudah berada di dalam mobil. Kim bum melajukan mobilnya dengan kecepatan normal. Kini keduanya akan kembali ke seoul. Sudah cukup waktu 2 hari yang mereka habiskan untuk menenangkan diri mereka. Kini mereka harus kembali ke seoul untuk melanjutkan aktifitasnya. Walaupun baik kim bum maupun so eun merasa kurang puas tapi tetap saja mereka harus kembali lagi.

Keduanya nampak kelelahan, terlebih kim bum. pria itu harus mengemudikan mobilnya menuju ke seoul di tengah – tengah hujan yang terbilang cukup deras.
Dilihatnya wanita yang ada disampingnya saat ini, sepertinya so eun pun juga kelelahan melihat wanita itu tengah tertidur pulas dibangku yang ada disamping kim bum. kim bum tersenyum melihat betapa cantiknya so eun ketika wanita itu tengah tertidur.

Karena tidak konsentrasi dalam mmengemudikan mobilnya, kim bum pun tidak melihat kalau dari arah berlawanan ada mobil yang melaju dengan sangat kencang dan hampir menabrak mobilnya. Untung saja pria itu cukup pintar dan sigap sehingga dia bisa memberhentikan mobilnya dengan cepat dan tiba – tiba. Dan tentu saja aksinya tadi membuat so eun kaget dan terbangu dari tidur lelapnya.

“ada apa kim bum – si?” tanya so eun panik dan kaget.

“maafkan aku. Kau tidak apa – apa kan so eun – si?” tanya kim bum yang terlihat khawatir dengan keadaan so eun. sepertinya pria itu memang lebih memikirkan kondisi so eun dari pada dirinya sendiri.

“aku tidak apa – apa. sepertinya kau lelah. Lebih baik istirahat saja sambil menunggu hujan reda. Lagipula tidak bagus juga menyetir di tengah hujan yang lebat seperti ini.” Saran so eun. dan di balas anggukan oleh kim bum.
Kim bum pun melajukan mobilnya ke tepi, agar tidak mengganggu pengendara lain, pedesaan ini masih terbilang sepi rumah – rumah penduduk pun juga masih jarang. Dan langit pun sepertinya juga masih ingin menumpahkan airnya.

“mungkin aku butuh istirahat sebentar, biarkan aku tidur beberapa menit sambil menunggu hujan benar – benar reda.” Pinta kim bum sambil menurunkan pengait yang ada di bawah bangkunya agar dia bisa membaringkan tubuhnya.
Pria itu membaringkan tubuhnya dan meletakkan tangannya dia atas kepala. Terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu memang. Diilihatnya wanita yang sekarang ada di sampingnya, mungkin kakak iparnya itu sudah tidak bisa terlelap lagi atau malah wanita itu merasa tidak nyaman karena berdua saja bersama kim bum.

“kau tidak lelah, tidak mau istirahat?” tanya kim bum pada so eun.
Wanita itu juga terlihat sedang memikirkan sesuatu, entahlah apa yang ada dipikrannya sekarang. Yang pasti kim bum bisa menebak kalau sekarang pikiran so eun pasti kembali pada kakaknya. Karena terlihat jelas raut sedih itu kembali lagi menyelimuti wajah cantik so eun.

“kau mau mendengarkan musik?” tawar so eun, agar sedikit menghilangkan rasa jenuh dirinya dan juga sedikit menghibur so eun dengan musik yang sekarang tengah mengalun menemani keduanya menunggu hujan reda.

So eun tengah melamun, pikirannya kembali melayang pada sosok suaminya yang kini tentu masih terbaring lemah di rumah sakit. Apakah ini benar – benar ide yang bagus, tidakkah dengan berjalan – jalan seperti ini malah membuat ki bum menjadi kesepeian karena so eun meninggalkan suaminya itu sendiri.

“kau menyesal pergi bersama denganku?” tanya kim bum sambil tetap memejamkan matanya dan dengan tubuh terbaring di bangkunya. Pria itu sedikit merasa sedih ketika melihat kemurungan kakak iparnya. Dan tentu saja itu ada kaitannya dengan dirinya.

So eun tidak menjawab pertanyaan kim bum, wanita ini juga tidak enak jika harus menyalahkan kim bum. lagi pula kim bum tidak salah, maksud dari pria itu membawa dirinya kesini juga benar tidak seharusnya so eun bersikap seperti ini pada kim bum.

So eun menghapus air mata yang tiba – tiba jatuh mengalir dari pelupuk matanya. pertanyaan kim bum yang barusan dilontarkan itu sedikit membuat so eun sedih. Sedih karena so eun terlalu menyusahkan kim bum atas semua yang menimpa dirinya sendiri.
So eun memegang handle mobil kim bum dan mencoba untuk membuka pintu mobil tersebut. Dirinya tidak sanggup jika harus menumpahkan air matanya dihadapan kim bum. so eun tidak mau melihat kim bum semakin merasa tidak enak hati dengan tingkah so eun yang seperti ini.

“yaa.. apa yang mau kau lakukan. Tidak lihat kah kau jika di luar hujan sangat deras.” Bentak kim bum sambil menahan tangan so eun yang hendak keluar dari mobilnya.

“lepaskan aku, aku hanya ingin keluar sebentar.” Jawab so eun pelan, hampir seperti gumaman namun masih bisa di dengar oleh kim bum.

Kim bum semakin memegang erat pergelangan tangan so eun, pria itu sedikit jengkel dengan sifat keras kepala yang dimiliki oleh so eun saat ini. apa so eun berniat menguji kesabaran kim bum padanya. sebenarnya apa yang di inginkan oleh so eun saat ini. pikir kim bum.

So eun tak sanggup menatap mata kim bum, wanita itu masih berusaha melepas tangannya dari genggaman kim bum tapi pria itu seakan tidak mau melepasnya.

“kenapa selalu membuatku merasa bersalah, tidak bisakah kau melihatku walau hanya sebentar saja. hanya mendengarkan kata – kataku itu saja.” pinta kim bum dengan lembutnya sambil memegang dagu so eun.
Kim bum menatap mata so eun dengan dalam, berkali – kali so eun mencoba mengalihkan pandangan matanya tapi tetap saja kim bum menahan wajah so eun dengan tangannya. Dan dalam beberapa detik kim bum pun mencium bibir so eun kembali.

“yaa… apa yang kau lakukan ini?” berontak so eun, sambil mendorong tubuh kim bum dan sukses membuat ciuman mereka terlepas.

Kim bum kembali mencoba mencium so eun dan entah dari mana datangnya keberanian itu kini kim bum pun membuat tubuh so eun terbaring di bangkunya setelah sebelumnya kim bum melepas pengait bangku so eun agar bisa memudahkan kim bum menguasai tubuh kakak iparnya itu.

“berhenti… aku bilang berhenti.” Teriak so eun lagi, dan bisa dilihat oleh so eun sekarang bahwa adik iparnya itu kini tengah menghentikan aksinya dan memandang dirinya.

Kim bum sudah tidak bisa menahannya lagi, rasa ini sudah terlampau besar untuk dipendam dalam hati saja. sampai kapan lagi untuk kim bum harus menunggu, lagi pula kakaknya itu juga tidak pernah bangun lagi lalu apa salahnya jika kim bum kembali merebut cintanya.
Kim bum tidak peduli jika orang – orang menganggapnya gila atau egois, hatinya sudah terlanjur memberontak dan dia juga tidak kuasa menahan pesona dari kakak iparnya itu.

“srrreeeetttt…”

Terdengar bunyi sobekan dari baju so eun akan aksi kim bum. kim bum merobek baju so eun dan bersiap untuk melancarkan aksinya.

“maafkan aku, tapi biarkan aku melakukannya.” Pinta kim bum sambil kembali mencium bibir so eun. dan so eun pun hanya bisa membelalakan matanya mendengar apa yang baru saja dipinta oleh adik iparnya itu.

Sebenarnya apa yang di inginkan kim bum, kenapa kim bum melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan olehnya. Merebut cintanya, cinta siapa yang akan dia rebut. Apa benar sebelumnya kim bum sudah menyukai so eun, jika memang iya. Sejak kapan hal itu terjadi. Lalu apa kim bum akan benar – benar menghianati kakaknya yang sudah sah menjadi suami so eun.

~~~TBC~~~

NB: maaf buat para readers yang sudah nunggu lama untuk kelanjutan dari ff ini. karena memang banyak pekerjaan yang menyita waktu jadi benar – benar gak ada waktu post ff ditambah lagi dengan tugas kuliah yang benar – benar numpuk.
untuk part selanjutnya akan saya protect dan bagi yang berkenan membacanya nanti bisa minta pass melalui fb atau twitterku yaa.

FB: Lila Tyas
twitter: lila_ayu99
e-mail: lila.ayu34@yahoo.com

🙂 terimakasih 🙂

Iklan
Komentar
  1. Omo apa yg akan di lakukan oleh kim bum pada so eun? :-O
    Apakah kim bum benar2 akan melakukan hal itu pada so he

  2. nitaadjah berkata:

    gimana sih kisah masa lalu bumsso…kok bikin penasaran….tpi kok yg tau cuma Bum… Lha Ssonya…??
    oo..oo..Bum lepas kendali…haduuh..sso berontak….kira2 apa yaa selnjutnya….hehehehhh penasaran….harus minta pw dulu….

  3. fania putri berkata:

    tambah seru jadi gk sabar baca part selanjot x
    waah bumoa nekad juga ya gmn nich reaksix sso

  4. shefty rhieya berkata:

    sso eon blm ngerti jg ya… knpa bumppa langsung jujur aja…

  5. lisye berkata:

    seru ceritanya gimana klo kibum tau sso dan bum punya hubungan lebih dri kakak dan adik ipar,
    part 5 nya pake pw bleh minta pw nya ga ?……
    lanjut .

  6. citra berkata:

    Hemmmmm kisah yg penuh tekateki buat ssoeun..
    Omooo kimbum beraniii yaaa kiss kiss kakak iparnyaaa .. Lanjuttkknn and gomawoo thor 🙂

  7. elsyahadu berkata:

    kasian bngt kimbum,, perasaan’a trhdp sso bnr2 dalem,..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s