Arsip untuk November, 2013

Library

Posted: 17 November 2013 in Uncategorized

library (lebih…)

Real Love

Posted: 13 November 2013 in FF BUMSSO
Tag:

real love

Cast: Kim sang bum, Kim so eun
Support cast: Moon geun young, Go ahra

Genre: Sad, Romantic

Type: OS

Ini benar – benar cinta, bukan hanya sekedar kekaguman atau perasaan sesaat atau apalah itu namanya. Sampai kapan kau akan menutup matamu. Apa masih belum cukup semua yang aku lakukan ini, apa kau masih tidak percaya bahwa aku ini benar – benar menyukaimu. Harus bagaimana lagi aku membuktikannya padamu, agar kau tau bahwa perasaanku ini benar adanya.



Air mata itu seakan – akan tidak mau berhenti mengalir dari kedua mata indah milik seorang gadis cantik yang saat ini tengah terbaring di tempat tidur nyamanya. Hatinya sakit, sangat sakit. Pasti memang sakit sekali. Bagaimana tidak akan sakit jika pria yang selama ini dia sukai ternyata telah mendeklarasikan status hubungannya pada semua orang.

“ini hanya mimpi kan? Ini semua tidak nyata kan?” gumaman yang diselingi dengan isak tangis itu terdengar sangat menyedihkan untuk setiap orang yang mendengarnya.
Untung saja hari ini ayah, ibu dan adiknya tidak berada di rumah, jadi gadis itu bisa dengan puas menumpahkan semua kesedihannya, tanpa ada satu orangpun yang akan bertanya tentang penyebab gadis itu menangis hingga terlihat menyedihkan seperti sekarang.

~~~

“ini sudah larut malam dan kau masih belum istirahat, apa ada sesuatu yang kau pikirkan sekarang?”

Seorang pria yang saat ini tengah berdiri termenung di dalam sebuah kamar hotel sambil menikmati indahnya malam dari balik jendela kaca kamar hotelnya itu menolehkan kepalanya ketika seseorang tengah menegurnya. Pria itu tau siapa pemilik suara yang mengganggu lamunannya.
Dialihkannya pandangannya yang tadi setia memandangi langit malam yang nampak suram walaupun sebenarnya terlihat cerah karena di tambahi dengan sorotan lampu – lampu gedung yang sangat terang. Pria itu tersenyum ketika menatap seseorang yang saat ini sudah berada di sampingnya.

“kau sedang memikirkan sesuatu?” tanya suara itu lagi, suara itu adalah suara gadis yang saat ini sudah menemani pria itu hampir satu bulan. Menemaninya untuk berlibur ke eropa.
Belum mendapatkan jawaban dari sang pria, gadis tersebut pun memasang wajah kecewa. Melihat sang gadis terlihat kecewa, sang pria pun menarik tangan sang gadis itu dan memeluk tubuh sang gadis dengan menghadapkan gadis itu ke depan agar sang gadis juga bisa melihat apa yang sebelumnya pria tadi lihat.

“pemandangan disini indah kan noona.” Ucap pria tersebut sambil mengeratkan pelukannya pada sang wanita yang saat ini ada didepannya. Senyum pria itu masih terpasang jelas di wajahnya.

“iya.. indah. sangat indah. aku senang bisa pergi kesini bersamamu.” Jawab sang wanita, di ikuti senyum bahagia dari bibir manisnya.

“kenapa kau memilihku noona? Bukankah masih banyak pria lain yang lebih baik dari pada aku. Kenapa noona memilihkku?”

Sang gadis terdiam sejenak, senyuman yang tadi terpancar dari wajahnya kini sedikit memudar. Kenapa pria yang ada di belakangnya ini menanyakan hal yang tidak masuk akal seperti itu. Tidak ingin melepaskan pelukan dari sang pria, tapi sang wanita ingin melihat bagaimana raut wajah pria itu ketika mengatakan pertanyaan yang baru saja di keluarkannya.

“aku hanya ingin tau saja, tidak masalah jika noona tidak mau menjawabnya. Lagipula ini semua tidak penting kan, yang terpenting sekarang, saat ini kita sedang bersama.”

tidak tahan dengan sikap pria yang selama sebulan ini tengah menjadi kekasihnya ini, akhirnya gadis itu pun melepas pelukan kekasihnya dan menatap mata kekasihnya tersebut. Mencoba mencari tau apa maksud dari semua kalimat – kalimat yang baru saja keluar dari mulut sang kekasih.

“jagiya, sebenarnya ada apa? apa ada masalah, kenapa nada bicaramu terdengar aneh?” terdengar penasaran dari nada bicaranya, gadis itu sangat penasaran dengan sikap kekasihnya.

“hubungan kita yang bermasalah.” Batin pria itu, tapi anehnya pria tersebut tidak bisa mengatakannya secara langsung. Entahlah, apa alasan pria itu hingga tidak bisa mengeluarkan kalimat tersebut. Tentu saja salah satunya untuk menjaga perasaan kekasihnya. Tapi tidak taukah bahwa ada lagi seseorang yang jauh lebih sakit hati sekarang. Dan apakah pria itu tau bahwa keadaan orang itu sangat memprihatinkan bahkan sangat menyedihkan.



Hujan mengalir dengan derasnya, tidak biasanya hujan turun sangat lebat seperti ini tapi hari ini seoul benar – benar diguyur hujan dengan lebat.
Beruntung saat ini ahra sudah berada di rumah so eun, jika terlambat sedikit saja gadis itu sampai di rumah sahabatnya ini, mungkin saja saat ini ahra sudah terjebak hujan.

“kau benar – benar sangat menyusahkan, apa kau tidak tau bahwa aku ini sangat sibuk. Sebenarnya ada apa, kenapa pagi – pagi sekali kau menghubungiku dan menyuruhku datang ke rumahmu. Dan kemana orang tua dan adikmu. Dan lihatlah betapa menyedihkan dirimu saat ini. sebenarnya ada masalah apa?” rentetatan kalimat panjang dari mulut ahra, benar – benar semakin membuat so eun semakin terlihat menyedihkan.

Bagaimana tidak, selama ini so eun tidak pernah menyulitkan siapapun, apalagi pada sahabatnya ini. tapi hari ini so eun benar – benar sangat keterlaluan pagi – pagi sekali, so eun sudah menghubungi ahra yang pasti masih tertidur lelap hanya untuk datang ke rumahnya dengan alasan yang tidak masuk akal.

“yaa… kim so eun, tidak mungkin kau takut berada di rumah sendirian kan. Memangnya kau ini anak kecil yang harus membutuhkan teman jika keluargamu sedang pergi dan kau berada di rumah sendirian. Kau ini ben….” kalimat panjang ahra langsung terhenti ketika melihat sahabatnya itu kini tengah terisak.

“hiks… hiks… hiks… ahra-ya. Hiks…” isakan tangis itu benar – benar keluar dari mulut so eun, sahabat ahra yang selalu terbiasa tersenyum ceria itu sekarang menangis. Itu berarti saat ini so eun benar – benar mempunyai masalah yang sangat besar.

Selama ini so eun terlihat sebagai seorang sahabat dan juga aktris yang terkenal memiliki sikap periang, tapi kenapa sekarang so eun nampak murung dan apa ini bahkan gadis itu menangis.

“so eun-ah, sebenarnya ada apa? astaga… bahkan matamu sembab dan merah. Apa semalaman kau menangis dan tidak tidur?” ahra benar – benar kaget ketika melihat kondisi so eun dengan jelas, sahabatnya ini sangat rapuh sekarang.

Bukannya, ahra tidak perhatian dengan sahabatnya ini. tapi ahra memang benar – benar tidak tau apa penyebab sahabatnya menjadi seperti sekarang. Saat ini ahra memang tengah di sibukkan dengan drama barunya jadi sudah lama ahra dan so eun tidak pernah bertemu dan hari ini akhirnya ahra bisa menyempatkan dirinya menemui so eun setelah sebelumnya so eun memohon minta di temani ahra.

“ayo ceritakan apa yang terjadi padamu, hingga kau seperti ini?” pinta ahra pada so eun, sambil memeluk tubuh so eun untuk sedikit menenangkan perasaan sahabatnya itu.

“hikss..hiksss. ini menyakitkan, ini benar sangat melukaiku. Apa aku bisa bertahan setelah ini, apa aku masih bisa tersenyum setelah semua ini terjadi. Apa yang harus aku lakukan ahra-ya?”

Ahra tidak mengerti dengan perkataan so eun barusan, sebenarnya apa yang sedang dikatakan oleh sahabatnya itu. Ini benar – benar membingungkan untuk ahra. Demi apapun ahra tidak suka dengan teka – teki jadi kenapa so eun tidak langsung saja pada pokok permasalahan.

“ayolah so eun, jangan membuatku penasaran hingga hampir gila seperti ini. aku sudah cukup takut dengan kondisimu sekarang, jangan membuatku terlihat seperti orang bodoh seperti ini.” Kesal ahra

“dia, tidak menyukaiku. Dia benar – benar tidak menyukaiku, lalu apa maksudnya perlakuan dia selama ini padaku. Apa dia benar – benar tidak tau bahwa aku menyukainya.” Jawaban so eun ini sudah lebih dari cukup untuk menggerakan otak ahra sekarang. Tentu saja ahra tau siapa dia yang dimaksud oleh so eun. tapi ini masih belum sepenuhnya jelas.

Sebelum ahra melemparkan pertanyaan selanjutnya, kim so eun sudah terlebih dahulu memberikan ponselnya pada sahabatnya itu.

“kenapa kau memberikan ponselmu, aku butuh penjelasan bukan pon…” kalimat ahra terhenti matanya melebar, kepalanya menggeleng. Itu menandakan bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres dengan ponsel so eun. lebih tepatnya apa yang telah ditampilkan ponsel so eun sekarang.

“mereka menjalin hubungan, dia tidak mencintaiku ahra-ya.” Gumaman lirih itu benar – benar terdengar menyedihkan untuk didengar oleh ahra, apalagi jika yang mengatakan adalah sahabatnya, so eun. benar – benar terdengar memilukan.



“gedung itu sangat bagus kan, tempat ini benar – benar sangat indah. Aku bahkan tidak ingin meninggalkan tempat ini.”

“aku juga menyukainya.” Kim bum berjalan beriringan dengan wanita yang saat ini telah menjadi kekasihnya itu. di genggamnya tangan kekasihnya itu. Terlihat sangat menyenangkan sepertinya, hingga kim bum dan kekasihnya tidak tau bahwa ternyata banyak sekali paparazi yang mengambil gambarnya secara diam – diam.

Mungkin kim bum masih tidak menyadari bahwa dirinya dan juga kekasihnya itu adalah seorang aktor dan aktris yang namanya cukup melambung tinggi di negaranya bahkan di luar negri sekalipun. Jadi walaupun saat ini kim bum dan kekasihnya tengah berlibur di eropa tetap saja banyak sekali paparazi yang mengikutinya dan selalu memantau apapun yang dilakukan olehnya.

Tentu saja perkembangan hubungan kim bum dan kekasihnya sangat menarik untuk dijadikan konsumsi publik mengingat beberapa saat lalu hubungan kim bum dan kekasihnya ini telah beredar di dunia maya. Jadi tentu saja ini sangat menguntungkan bagi para pencari berita.

“aku sangat menyukai senyumanmu itu jagiya… selalu tersenyumlah untukku, jagiyaa.”

Kim bum menganggukan kepalanya sambil mengusap pelan rambut kekasihnya itu, kim bum bahkan tidak menyadari bahwa kemesraannya dengan kekasihnya tersebut terus di intai oleh para pencari berita. Entah kim bum yang tidak menyadarinya, atau memang kim bum yang masa bodoh dengan hal itu. Tapi ini tidak seperti sikap kim bum yang seperti biasanya yang selalu tertutup dengan masalah pribadinya. Benar – benar sangat aneh, ada apa dengan kim bum.

“aku harap lain waktu kita bisa kembali kesini bersama lagi jagiya..”

“nde… aku senang jika noona senang.” Jawab kim bum, hanya respon seperti itu yang selalu dilontarkan kim bum setiap pernyataan dari mulut kekasihnya keluar. Benar – benar terkesan di paksakan.
Kim bum memang berbeda, sangat berbeda. Berbeda dari beberapa tahun yang lalu dengan kim bum yang sekarang.

“maafkan aku, aku benar – benar tidak tau kenapa ini semua bisa terjadi. Ternyata perasaan ini hanya sesaat. Berbeda dengan perasaanku padanya.” Batin kim bum, dan kembali mengeratkan genggamannya pada tangan kekasihnya yang sebelumnya telah terlepas. Untuk sedikit meyakinkan hatinya bahwa saat ini dirinya telah menjadi kekasih seseorang.



Hari ini ahra terpaksa meminta cuti pada manager dan juga agensinya, tentu saja tidak mudah untuk ahra meminta cuti mengingat jadwal syuting ahra yang padat. Tapi tetap saja ahra bisa memaksa mangernya untuk memberikan cuti padanya.
Ahra ingin menemani so eun saat ini, karena mungkin memang hanya ahra yang bisa menemani so eun saat ini. karena memang selama ini hanya ahra lah sahabat terdekat so eun. tidak. bukan hanya ahra, tapi masih ada satu orang lagi yaitu DIA. Tapi tentu saja ahra tidak mungkin menghubungi orang itu untuk mengatakan keadaan so eun sekarang, karena penyebab so eun menjadi seperti ini adalah DIA.

“kau tidak seharusnya mempercayai berita itu kan. Kau bahkan masih belum mendengar sendiri dari mulutnya jadi untuk apa kau memikirkan hal ini. bisa saja ini semua rekayasa.”
Perkataan ahra tadi mungkin bisa memberi sedikit kekuatan untuk so eun, agar tidak terlalu percaya dengan berita yang saat ini telah menjadi berita heboh di dunia maya.

“memangnya siapa aku, yang harus mendapatkan penjelasan darinya. Aku bukanlah siapa – siapa untuknya. baginya aku hanyalah teman dan bukan orang yang perlu di beri penjelasan.” Jawab so eun, meyakinkan hatinya bahwa so eun benar – benar harus melupakan orang yang selama ini telah disukainya itu.

“ayolah so eun, kim bum masih belum memberikan komentar apapun untuk hubungannya itu. Lagi pula bisa saja mereka hanya berteman karena mereka sering menghabiskan waktu bersama di lokasi syuting.”

“jangan membelanya, hanya untuk maksud menghiburku ahra-ya. Aku bukanlah anak kecil, tidak mungkin agensi eonni geun young membenarkan hubungan mereka jika mereka memang tidak ada hubungan. Dan jika mereka tidak ada hubungan apapun harusnya agensi kim bum membantahnya atau bahkan kim bum sendiri yang melakukannya, seperti dia dan aku ketika terlibat dalam….” so eun membungkam bibirnya, dirinya tidak bisa kembali ke masa itu. Masa itu dan sekarang berbeda, dan hasilnya pun sudah jelas berbeda. Kim bum mengakuinya dan tidak membantahnya itu berarti kim bum memang menyukai wanita itu.

“tidak bisakah kau menguatkan dirimu so eun… kemana so eun yang ceria. Lebih baik kau tanyakan saja pada kim bum bukankah kalian masih sering berkomunikasi dan bertemu.” Ucap ahra sambil mengambil ponsel so eun dan menyerahkan ponsel tersebut pada so eun.

“untuk apa aku menghubunginya ahra-ya, aku tidak mau mengganggu acara liburannya dengan kekasihnya. Aku tidak ingin menghubunginya lagi, aku membencinya ahra-ya.” So eun benar – benar tidak bisa menahannya lagi, semua kekesalannya benar – benar dia tumpahkan pada ahra, karena memang hanya pada ahra so eun bisa berbicara semuanya.

“so eun apa lagi maksud dari ucapanmu ini.. ya tuhan,, kenapa aku bisa ketinggalan banyak berita seperti ini.” gerutu ahra sambil mengambil ponselnya dan membuka situs resmi untuk melihat perkembangan berita para artis korea dan melihat salah satu dari berita tersebut yang mengatakan bahwa saat ini kim bum sahabatnya tengah menjalin hubungan dengan lawan mainnya di drama terbarunya bahkan saat ini keduanya tengah berlibur di eropa selama beberapa bulan.

“kim bum bahkan tidak pernah menghubungiku semenjak drama itu, dia bahkan tidak pernah hanya sekedar menanyakan bagaimana kabarku saat ini seperti biasanya. Hingga muncul kabar itu, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang ahra-ya.”

Ahra bingung harus memberikan jawaban apa pada sahabatnya itu, tidak mungkin menyuruh so eun melupakan perasaannya pada kim bum yang selama ini telah ada selama hampir dua tahun itu. Tapi lebih tidak mungkin lagi memakasa kim bum untuk membalas perasaan so eun, apalagi jika kenyataanya kim bum tidak menyukai so eun. kisah cinta sahabatnya ini benar – benar rumit. Bahkan jauh lebih rumit dibandingkan dengan soal hitung – hitungan matematika ataupun semacamnya.

“tenangkan dirimu, tunggu saja berita selanjutnya dan siapa tau saat ini kim bum masih belum sempat menjelaskannya padamu. Tidak mungkin kim bum seperti ini, ini bukan sikap kim bum.”

So eun kembali meringkuk di tempat tidurnya, air matanya kembali mengalir ketika ingatanya kembali ke masa – masa dimana dirinya dan kim bum tengah bermain dalam drama yang sama dan menjadi sebuah pasangan. Itu benar – benar sangat menyenangkan, walaupun saat itu mereka masih terlihat malu – malu.

“hiks…hiks,,,, aku harus melupakannya kah ahra-ya?” pertanyaan bimbang dari mulut so eun yang diajukannya pada ahra seperti menjadi bomerang untuk dirinya sendiri. Apakah benar jika ahra menjawab IYA dan so eun akan dengan mudah melupakannya.

“aku akan menghubunginya dan meminta penjelasan darinya.”



Kim bum sudah berada di kamar hotelnya, liburannya sudah selesai dan dia harus kembali lagi ke negara asalnya. Sudah banyak yang menunggu kedatangannya, ya tentu saja keluarga dan juga fansnya. Kim bum ini aktor terkenal kan. Aktingnya juga sangat bagus. dan kali ini harusnya dia mendapatkan daesang untuk akting yang dia perankan sekarang. Kim bum telah menipu semua orang termasuk fansnya.

“kau sudah bersiap – siap kim bum-ah?” tanya sebuah suara dari balik pintu kamar hotel tempat kim bum menginap. Pria itu menatap malas ke arah pintu. Sepertinya kim bum benar – benar enggan untuk hanya sekedar menjawab. Hingga matanya dialihkannya pada sosok managernya yang saat ini juga tengah membantu kim bum membereskan pakaiannya.

“kau tidak ingin menemuinya?” tanya manager kim bum, ketika melihat wajah kim bum yang terlihat lelah.

“sebenarnya ada apa, bukankah kau sendiri yang bilang ingin pergi berlibur. Harusnya kau senang tapi kenapa kau malah terlihat sebaliknya.” Pertanyaan dari manager kim bum itu, memang benar. Ini semua pilihan kim bum kan, kenapa kim bum terlihat menyesal.

“bum-ah, apa kau sudah tertidur. Tidak bisakah kau membuka pintunya sebentar.” Suara dari luar itu benar – benar mengganggu kim bum. tidak bisakah kekasihnya itu membiarkannya istirahat. Bukankah hari ini mereka berdua sudah seharian pergi jalan – jalan, saat ini kim bum benar – benar lelah. Kim bum ingin hanya sekedar menenangkan otaknya yang terlalu melampaui batas hanya untuk memikirkan satu orang sangat jauh disana.

“geun young… kim bum sudah terlelap dari tadi, apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan dengannya? Apa kau mau aku membangunkannya?” manager kim bum membukakan pintu untuk kekasih kim bum itu. Tentu saja itu atas permintaan dari kim bum yang menyuruh managernya untuk berbohong agara kekasihnya bisa meninggalkan kamarnya.

“maafkan aku, ini memang sudah malam seharusnya aku membiarkannya istirahat. Sebenarnya aku hanya khawatir saja padanya karena aku lihat seharian ini dia bersikap aneh. Baiklah selamat malam.” Ujar geun young sambil meninggalkan kamar kim bum dan juga manager kim bum itu untuk kembali ke kamarnya.

Gadis itu sedikit penasaran dengan sikap kim bum, kenapa kim bum bersikap aneh beberapa hari ini. kim bum terlihat tidak seperti sebelumnya, biasanya kekasihnya itu terlihat ceria dan penuh semangat. apa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh kim bum yang geun young tidak ketahui. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan…….?



“yaa.. aku sudah baik – baik saja, hari ini aku sedang berjalan – jelan ke pusat perbelanjaan. Jika kau sudah selesai syuting bisakah kau menyusulku?” pinta so eun pada sahabatnya itu, ada sedikit permohonan pada permintaannya itu.

“nde… aku akan mengusahakannya, berhati – hatilah so eun-ah.” Kalimat itu mengakhiri obrolan singkat keduanya melalui ponsel.

So eun berjalan – jelan di tengah keramaian pusat perbelanjaan itu, kaca mata hitam yang dia kenakan saat ini setidaknya bisa menutupi matanya yang masih sedikit membengkak akibat kegiatan menangisnya semalaman. Tapi hari ini mungkin dia bisa sedikit lupa dengan masalahnya.

So eun melihat – lihat, ke sekeliling tempat itu. dirinya rindu ketika biasanya dirinya megunjungi tempat ini dengan kim bum, tapi mungkin tidak dengan sekarang. So eun dan kim bum sudah tidak mungkin pergi bersama lagi mengingat status hubungan kim bum yang saat ini tengah menjadi kekasih orang.

“ingat so eun, kau kesini untuk menghilangkan semuanya tentang dia dan bukannya malah mengingatnya lagi.” ucap so eun meyakinkan dirinya sendiri.

So eun melangkahkan kakinya menuju tempat perhiasan, diliriknya cincin yang saat ini tengah dijadikan liontin kalungnya. So eun teringat kembali dengan kenanangannya di masa lalu kala kim bum memberikannya sebagai hadiah ulang tahunnya. Dan kim bum juga memiliki satu lagi, apakah kim bum juga masih memakainya pikir so eun.

Ketika sedang asyik pada lamunannya, so eun mendengar suara pria yang sudah sangat dikenalnya. Suara itu, benarkah itu miliknya. Tunggu dulu bukankah saat ini dia dan kekasihnya sedang berlibur ke eropa, mungkinkah itu hanya halusinasi so eun saja.

~~~

“jagiyaa, coba lihat tempat itu. sepertinya disana lebih banyak yang bagus.” ucap geun young sambil menggandeng tangan kim bum dan membawa kekasihnya itu ke tempat penjual perhiasan.

“bisakah aku melihat cincin itu?” pinta geun young pada pelayan toko sambil menunjuk cincin couple yang terpasang di dalam lemari kaca toko tersebut.
Si pelayan toko pun mengambilkan cincin yang di pinta oleh geun young dan menyodorkannya pada geun young dan kim bum.

“cincin itu cocok untuk kalian, bukankah kalian ini pasangan selebriti yang menjadi tren topik di internet. Selamat atas hubungan kalian. Aku salah satu penganggumu kim bum-ssi.” Ucap pelayan wanita toko tersebut yang mengetahui kim bum.
Kim bum pun hanya tersenyum mendengar pujian dari pelayan tersebut.

“cincin ini indah bukan, apakah terlihat indah ketika aku memakainya bum-ah?” tanya geun young pada kekasihnya itu, mencoba mencari tau penilaian kim bum akan pilihannya.

“kau terlihat cantik saat mengenakannya noona.” Jawab kim bum, sambil mengusap pelan rambut geun young. Dan tanpa di duga mata kim bum menatap pada seorang wanita yang saat ini tengah berdiri menatap kearahnya.

Astaga… kenapa ini bisa terjadi, kenapa kim bum harus melihat wanita itu disini. Setidaknya kenapa harus dalam kondisi dirinya bersama geun young. Hari ini adalah hari kedua kim bum sampai di seoul setelah perjalanannya dari eropa. Dan satu orang yang untuk saat ini tidak ingin di temuinya adalah wanita yang saat ini tengah berdiri tak jauh darinya dan tengah menatapnya.

~~~

“kau terlihat cantik saat mengenakannya noona.”

So eun memutar tubuhnya mencoba mencari suara yang sangat di kenalnya, tentu saja memastikan pada dirinya bahwa itu bukanlah halusinasi saja, melainkan kenyataan. Dan ternyata benar bahwa suara itu milik kim bum, dan ternyata pria itu sedang berada tidak jauh dari so eun.

“apa kau bahagia sekarang?” tanya so eun dalam hati, pada kim bum ketika tanpa disadari kim bum pun juga tengah menatap kearahnya. So eun tau saat ini kim bum tidak bisa mendengarnya tapi memang hanya ini yang bisa dilakukan so eun sekarang.

“bagaimana kabarmu, apa kau baik – baik saja sekarang?” tanya kim bum dalam hati, ketika dia sudah meyakinkan matanya bahwa yang dilihatnya itu benar – benar kim so eun. wanita yang benar – benar ingin dihindarinya, untuk beberapa saat ini.

Kim bum ingin sekali bertanya langsung pada wanita itu bagaimana keadaanya dan apakah wanita itu sakit ketika melihat apa yang saat ini terjadi pada kim bum. tapi tentu saja kim bum tidak mempunyai keberanian, kim bum tidak mungkin secara terang – terangan menghampiri so eun karena saat ini dirinya sedang bersama dengan kekasihnya.

“kau terlihat sangat bahagia, mungkin dengan melihat sendiri seperti ini aku bisa dengan cepat melupakanmu kim bum-ah” batin so eun, sambil membungkukkan badannya pada kim bum dan langsung pergi meninggalkan kim bum yang terlihat bahagia di mata so eun.

Untung saja saat ini so eun tengah mengenakan kaca mata hitam, jadi kim bum tidak bisa melahat bahwa saat ini matanya tengah memerah karena menahan hantaman air mata yang siap membanjiri wajahnya. Dan pilihannya sangat tepat untuk meninggalkan tempat itu sebelum air matanya benar – benar mengalir keluar.

“maafkan aku kim so eun, untuk kesekian kalinya aku membuatmu terluka kembali dengan sikapku.” Batin kim bum ketika melihat kepergian so eun, kim bum tau bahwa saat ini so eun pasti sangat terluka sekali. Ingin rasanya kim bum mengejar wanita itu menariknya dalam pelukannya hanya sekedar untuk mengucapkan kata maaf dan juga terimakasih atas semua yang pernah terjadi pada dirinya dan juga so eun.

“bum-ah ayo kita pulang, aku sudah lelah.” Ajak geun young, yang sedari tadi tidak menyadari apa yang telah di rasakan oleh kim bum. tapi itu sedikit anugerah untuk kim bum karena kim bum tidak perlu menjelaskan apapun pada geun young jika wanita itu bertanya – tanya tentang so eun. kim bum terlalu lelah untuk memberikan penjelasan untuk geun young jika wanita itu bertanya. Tujuannya saat ini hanya satu yaitu penjelasannya pada so eun, wanita itu pasti sudah menunggu terlalu lama. Mungkin ini adalah waktunya untuk kim bum bertemu dengan so eun.



Ahra memakirkan mobilnya di depan rumah so eun, matanya melihat sebuah mobil yang juga terparkir di depannya. Sebelum ahra keluar dari mobilnya, ahra nampak berfikir bukankah saat ini kim bum tengah liburan di eropa kenapa mobilnya bisa terpakir di depan rumah so eun. tidak… atau jangan – jangan saat ini sahabatnya itu sudah kembali ke seoul, lalu kenapa kim bum tidak pernah membalas pesan darinya dan juga menjawab panggilannya. Mungkinkah kim bum juga berniat menghindari ahra.

“kalian berdua benar – benar membuatku terlihat bodoh sekarang.. haaahhhh.” Teriak ahra sambil keluar dari mobilnya dan mengacak rambutnya dengan frustasi, melihat keadaan kedua sahabatnya itu.

Ahra melangkahkan kakinya menuju halaman rumah so eun, dan melihat kim bum tengah berdiri mematung di depan pintu rumah so eun. kenapa kim bum hanya berdiri di luar dan tidak masuk saja pikir ahra, bukankah selama ini kim bum dan ahra sudah biasa keluar masuk rumah so eun mengingat kedekatan mereka dengan keluarga so eun.

“yaa.. bodoh, kemana saja kau. Beberapa hari ini aku terus menghubungimu kenapa kau selalu mengabaikan panggilanku.” Teriak ahra ketika melihat kim bum berdiri seperti orang linglung di depan pintu rumah so eun.

“bagaimana kabarmu ahra-ya? Sepertinya kau semakin sibuk saja sekarang, lama tidak bertemu.” Ucap kim bum sambil melambaikan tangannya untuk menyapa sahabatnya yang sudah lama tidak dijumpainya.

“berhenti berbasa – basi bum-ah, kau masih harus menjelaskan semua kekacauan ini padaku. Ahhh… tidak lupakan saja pejelasanmu padaku, karena so eun lebih membutuhkan penjelasanmu sekarang dari pada aku.”

“itu sebabnya aku datang kemari ahra-ya… aku ingin memberikan pengertian pada so eun sekarang. Tapi aku benar – benar tidak punya keberanian untuk bertemu dengannya, jangankan untuk bertemu menatap wajahnya saja aku tidak berani.” Ucap kim bum, dan terhenti dengan helaan nafas yang sangat panjang dan terlihat berat.

“aku tidak bisa melihatnya setelah apa yang aku lakukan hari ini.” sambung kim bum melanjutkan kalimatnya.

“apa maksudmu, memangnya apa yang kau lakukan hari ini?” tanya ahra penasaran dengan maksud ucapan kim bum baru saja.

“so eun melihatku berdua dengan geun young noona, dia melihatku ahra-ya.” Sesal kim bum pada kejadian siang tadi. Pria itu menundukkan kepalanya, kim bum juga tidak sanggup menatap ahra.

“astaga… kim bum, kau bisa melukai hatinya lagi sekarang. Kenapa ini bisa sampai terjadi pada kalian berdua.” Ahra benar – benar sangat frustasi sekarang, tidak… ini bukan saatnya ahra mengeluh. Ahra harus memastikan bahwa saat ini kondisi so eun benar – benar baik.

Bodohnya ahra, kenapa tadi dirinya tidak menemani so eun pergi ke pusat perbelanjaan itu dan membiarkan sahabatnya itu pergi sendiri.

“yaa.. aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk menimpa pada so eun, dia sudah terlihat menyedihkan ketika membaca berita tentangmu di internet dan sekarang dia melihatnya secara langsung.” Ucap ahra panik sambil setengah berteriak pada kim bum.
Ahra benar – benar takut sekarang.

“yaa… tidak bisakah kau tidak berpikiran yang macam – macam, lebih baik bunyikan bel’nya dan kita lihat bahwa so eun tidak apa – apa.” ucap kim bum mencoba menenangkan ahra, sebenarnya kim bum berusaha menenangkan dirinya juga.

Ahra membunyikan bel rumah so eun, berharap so eun cepat – cepa membukanya. Tapi ahra dan kim bum harus menunggu lama untuk mendapatkan sambutan dari so eun, karena sedari tadi so eun tidak juga membuka pintunya.

“kemana anak itu, yaa… tuhan jangan biarkan anak itu berpikiran melakukan hal – hal yang bodoh atau sampai hal buruk terjadi padanya.” mohon ahra, sambil menunggu so eun membukakan pintu untuknya.

“kenapa sedari tadi kau berpikir yang aneh – aneh tentang so eun. tidak mungkin so eun melakukan hal bodoh seperti yang kau pikirkan. Bukankah ada orang tuanya mana mungkin mereka membiarkan hal itu terjadi pada so eun.” kesal kim bum dengan pemikiran ahra yang dinilainya terlalu kekanak –kanakan.

“semua keluarganya sedang pergi ke luar kota, jadi so eun saat ini hanya dirumah sendirian. Jika terjadi pada so eun, aku benar – benar akan marah padamu kim bum. aku benar – benar tidak akan menganggapmu sebagai sahabat lagi.” teriak ahra di depan kim bum, wanita itu benar – benar kesal dengan ulah kim bum yang menyebabkan so eun menjadi sangat menyedihkan.

Kim bum lebih tidak percaya lagi dengan apa yang diucapkan ahra barusan, jika memang benar sebelumnya so eun terlihat tidak baik, bagaimana sekarang gadis itu akan baik – baik saja setelah melihat langsung apa yang dilakukan kim bum tadi. Ditambah lagi saat ini so eun benar – benar sendirian. Yaa,,, tuhan kim bum benar – benar patut disalahkan jika memang terjadi sesuatu pada so eun.

“kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi ahra-ya.” Teriak kim bum, dengan kesalnya.

Kim bum menggedor pintu rumah so eun tapi tetap saja tidak ada sahutan dari dalam, ini sudah malam mungkinkah so eun sudah tidur tapi kenapa sepertinya sangat aneh, tidak ini benar – benar tidak bisa di diamkan. Kim bum tidak mungkin tinggal diam.

Di dobraknya pintu rumah so eun, persetan jika orang – orang di sekitar meneriakinya pencuri atau apalah yang terpenting saat ini adalah keadaan so eun. kim bum harus memastikan keadaan wanita itu.

“so eun-ah… kim so eun, dimana kau?” teriak ahra begitu panik kala mendapati rumah so eun nampak gelap tanpa penerangan. Cepat – cepat ahra menyalakan lampu rumah so eun dan melihat kesekeliling. Sepi dan lengang dimana so eun pikir ahra.

“apa yang terjadi, kenapa tidak ada so eun disini. Jangan – jangan…” kalimat kim bum terhenti dan langkahnya diarahkannya ke kamar so eun yang ada dilantai dua rumah itu. Kim bum yakin sekarang so eun ada dikamarnya.

Kim bum mempercepat langkahnya ketika sudah berada dilantai dua, begitu juga ahra yang mengikuti langkah kaki kim bum. ketika keduanya sudah berada tepat didepan kamar so eun. kim bum, pria itu menghela nafasnya sebelum membuka pintu kamar tersebut.
Tidak dikunci, kim bum hendak melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Tapi diurungkannya niatnya itu. Dan menyuruh ahra masuk lebih dulu.

“masuklah, pastikan dulu bahwa tidak terjadi apa – apa padanya.” perintah kim bum dan di balas anggukan oleh ahra.

Baru beberapa langkah ahra memasuki kamar so eun, ahra sudah berteriak memanggil kim bum yang masih ada diluar kamar.

“bum-ah, cepat masuklah. So eun pingsan.” Teriak ahra dari dalam kamar so eun.

Dan tanpa pikir panjang kim bum yang mendengar teriakan sahabatnya itu langsung bergegas memasuki kamar so eun dan mendapati tubuh so eun tergeletak di lantai dengan kondisi yang bisa dibilang tidak baik.
Dengan cepat kim bum menghampiri tubuh so eun, mengangkatnya dan membaringkan tubuh wanita tersebut diatas tempat tidurnya. kim bum menyentuh dahi so eun dan dapat dirasakan oleh kim bum bahwa saat ini tubuh so eun benar – benar panas. Sepertinya sedang demam.

“ahra cepat ambilkan air hangat untuk mengompresnya dan untuk membasuh badannya.” Perintah kim bum dan ahra pun segera melakukan apa yang telah diperintahkan sahabatnya itu.



Matahari pagi sudah menampakkan sinarnya, pantulan sinarnya pun mampu menembus kaca kamar so eun yang masih tertutup rapat oleh tirai yang sedikit tebal.
So eun mengerjapkan matanya, kepalanya terasa pusing dan berat. Matanya terkesan susah untuk di bukanya. Tunggu dulu kenapa so eun merasa ada yang sedang memegangi tangannya dan juga kenapa sepertinya tempat tidurnya terasa sedikit sempit seperti ada seseorang yang sedang tidur di sebelahnya.

“kau sudah bangun?” ucap sebuah suara yang sangat so eun kenal, dan sebenarnya so eun sangat enggan untuk mendengar suara itu.

“kenapa kau bisa ada disini, dan apa yang kau lakukan di tempat tidurku?” tanya so eun penasaran dengan adanya kim bum dirumahnya, seingatnya kemarin sepulang dari dia berjalan – jalan dia langsung pulang kerumah tanpa di ikuti kim bum. lalu kenapa pria ini sekarang ada dirumahnya, bahkan berada di tempat tidurnya.

“apa kau sudah baikkan? Kau mau sesuatu yang bisa aku ambilkan?” tanya kim bum masih dengan posisi tidurnya menghadap ke so eun, dan tanpa sedikitpun membuka matanya hanya untuk sekedar melihat bagaimana wajah terkejut so eun saat ini. menurut kim bum ini akan terasa lebih baik, sebelum nanti akhirnya so eun akan mengusirnya.

“pergilah… aku sudah tidak apa – apa. lagipula kau tidak seharusnya datang kesini. aku bisa memanggil ahra, untuk menemaniku, aku tidak membutuhkanmu. Jadi pergilah.” Ucapan ketus yang ditujukan so eun pada kim bum benar – benar sudah ditebak kim bum sebelumnya. Pasti jadinya akan seperti ini memang.
Akan terlalu mudah untuk kim bum jika so eun masih mengijinkan dirinya menemani wanita itu.

“untuk beberapa hari ini ahra tidak bisa menemanimu, apa kau lupa bahwa saat ini ahra sedang ada drama baru dan bukankah kau sudah menyita waktunya beberapa hari ini. jadi kenapa kau tidak membiarkan dia untuk menyelesaikan pekerjaanya terlebih dahulu.” ucap kim bum dengan nada bicara sesantai mungkin, ini adalah salah satu cara agar kim bum bisa berbicara dengan wanita yang ada disampingnya ini.

“pergilah.. aku mohon pergilah dari rumahku. Akan lebih baik jika kau juga pergi dari kehidupanku.” Mohon so eun sambil mencoba melepas genggaman tangan kim bum dari tangannya, dan berusaha untuk bangun dari tempat tidurnya.

“benarkah kau menginginku pergi, dan tidak ingin mendengar penjelasanku. Benarkah apa yang kau katakan barusan tadi ?.” Tanya kim bum lagi, mencoba meyakinkan so eun akan perasaan yang ada dihatinya untuk kim bum.

So eun diam sejenak, sebenarnya dalam hatinya so eun benar- benar ingin memeluk kim bum dan menangis di dada kim bum. so eun tidak peduli kim bum memberikan penjelasan padanya atau tidak asalkan saat ini kim bum sudah berada disampingnya itu adalah penjelasan yang cukup untuk so eun. tapi tetap saja so eun tidak boleh egois, kim bum bukan lagi seperti dulu yang masih bebas bisa dimiliki siapapun. Saat ini kim bum sudah memiliki kekasih dan itu adalah pilihan kim bum, jadi tidak ada harapan lagi untuk so eun.

“maafkan aku sudah membuatmu menangis lagi, aku tidak tau kenapa aku mengambil keputusan untuk memilihnya. Aku benar – benar menyesal telah membuatmu menjadi seperti ini. maafkan aku.” Ucap kim bum sambil bangun dari tidurnya dan memeluk tubuh so eun dari belakang. Ini benar – benar yang di inginkan so eun kan.

“hiks… hiks..hiks, apa ini semua benar – benar yang kau inginkan. Apa ini semua membuatmu bahagia?” tanya so eun pada kim bum dengan nada suara bergetar.

“setiap aku mengambil peran dalam drama terbaruku, disaat itu juga aku pasti selalu membuatmu menangis. Dan aku berharap ini adalah terakhir kalinya aku membuatmu menangis so eun-ah.” Ucap kim bum masih dalam posisi memeluk so eun.

“aku ingin menjalani wajib militer secepatnya, dan aku tidak ingin terus – terusan menyakitimu. Untuk saat ini jangan tanyakan apapun tentang hubunganku dengan geun young noona, yang aku inginkan sekarang hanyalah kau masih selalu ada disampingku dan tetaplah ada untukku.” Pinta kim bum. terkesan memaksa memang tapi itulah yang saat ini di inginkan oleh hati kecil kim bum.

So eun tidak kuasa mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut kim bum ini, apa maksud dari ucapan kim bum sekarang. So eun benar – benar tidak tau harus berbuat apa.

“mungkin aku yang tidak pernah peka dengan perasaanmu selama ini, aku masih menganggapmu tidak menyukaiku dan selalu berfikir bahwa kau hanya menganggapku sebagai sahabat. Tapi ternyata aku salah…” kim bum menghentikan kalimatnya dan makin mengeratkan pelukannya pada so eun. kim bum benar – benar merasakan getaran tubuh so eun. kim bum tau bahwa saat ini so eun sedang menahan tangisnya agar tidak pecah.

“masih kurangkah apa yang aku lakukan selama ini, aku bahkan bilang pada media bahwa aku masih sering berkomunikasi denganmu, selalu menghadiri undangan pada semua premier filmmu. Lalu apa yang kau lakukan, kau bahkan memberikan hadiah menyakitkan untukku dengan mengumumkan hubunganmu dengan kekasihmu.”

“terimakasih untuk semua ini so eun, aku senang karena kau masih setia dengan perasaanmu padaku selama kurang lebih 3 tahun ini. aku juga memiliki perasaan yang sama terhadapmu. jangan menganggapku sebagai orang jahat so eun-ah.”

So eun memutar tubuhnya dan langsung memeluk tubuh kim bum dengan erat, air matanya tumpah seketika. Dia tidak peduli jika baju kim bum akan basah dengan air matanya, yang terpenting hanyalah merasakan kehangatan dari pelukan orang yang dicintainya itu.

“bisakah kita selalu bersama, bisakah suatu saat nanti kita menjadi sepasang kekasih bum-ah. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku tidak peduli dengan pemberitaan itu dan aku juga tidak peduli apa penjelasanmu tentang hubunganmu dengan kekasihmu. Aku hanya ingin mendengar sendiri dari mulutmu bagaimana perasaanmu padaku saat ini kim bum.”

Kim bum membalas pelukan so eun, air matanya juga mengalir sama derasnya dengan milik so eun. tentu saja so eun tau apa jawaban yang akan diberikan kim bum atas pertanyaannya. Karena memang selama ini perasaan kim bum memang tidak akan berubah untuk so eun.

“tetaplah seperti ini so eun, jangan membenciku apapun yang terjadi. Perasaanku padamu masih tetap seperti dulu. Apapun yang terjadi dan bagaimanapun kondisinya.” Jelas kim bum sambil mengecup lembut bibir so eun.

So eun pun hanya bisa menikmati ciuman dari kim bum tanpa membalasnya, air matanya masih ingin terus membanjiri pipinya. Ya, itulah keputusan yang kim bum ambil dan so eun pasti bisa menerimanya sekarang. Karena so eun dan kim bum sendiri yakin bahwa suatu saat hubungan mereka ini akan menjadi lebih besar. So eun milik kim bum kan, begitu juga sebaliknya kan. Tentu saja dari dulu sampai sekarang seperti itu. Tidak ada yang bisa merubahnya kan.
Hubungan mereka nyata dan bukan hanya khayalan atau impian sematakan. Tentu saja.

~~~~~~~~~~~~~ THE END ~~~~~~~~~~~~~~~~

Hate Or Love (part 2)

Posted: 13 November 2013 in FF BUMSSO
Tag:

cats

Part 2

“apa maksudmu?, apa ini berarti kau melarangku untuk menemanimu malam ini. ibu tidak mengijinkanku untuk menginap disini?” rasa heran pada diri woo bin atas apa yang dikatakan oleh ibunya tadi, tentu saja membuat dirinya mengucapkan pertanyaan seperti saat ini.

So yi hyun membelai wajah putranya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tentu saja jawaban dari pertanyaan yang di ajukan oleh woo bin adalah “iya” karena yi hyun benar – benar sayang pada putranya itu dan tentu saja wanita ini tidak ingin terjadi sesuatu pada putranya.

“jangan bilang kalau kau benar – benar melarangku ibu..” rengek woo bin, yang seakan – akan sudah tau apa yang akan dijawab oleh ibunya.

“ibu tidak menerima pria yang dalam keadaan mabuk seperti ini untuk menginap dirumah ibu sekarang. Ibu bahkan sudah pernah berulang kali mengatakannya padamu ataupun kim bum bahwa ibu tidak suka jika kalian sampai menyentuh minuman keras itu.” Celoteh yi hyun untuk woo bin. Dan bukannya merasa bersalah tentu saja woo bin menampilkan wajah polos tanpa dosanya. Dan tingkah woo bin itu sukses membuat yi hyun tertawa geli.

“pulanglah ke tempat ayahmu sayang, patuhi ayahmu dan jangan buat dia marah. Jaga kim bum nasehati dia, jika dia melakukan kesalahan. dan bukannya membantunya. Maafkan ibu yang tidak bisa merawat kalian sayang.” Kata – kata ini memang terdengar sangat menyedihkan untuk so yi hyun selaku orang yang telah mengatakannya. Tapi inilah yang harus dia jalani tidak bisa berkumpul dengan anak – anaknya dan itu benar – benar tidak bisa dia rubah.

“aku menyayangimu. Aku berjanji bahwa aku akan membuat ibu, kim bum dan aku berkumpul bersama lagi walaupun ada atau tanpa ayah. Aku janji ibu…” jawab woo bin penuh keyakinan dan benar – benar mantap dengan apa yang dia janjikan barusan pada ibunya.

~~~

Woo bin melajukan mobilnya dengan sangat kencang, dia benar – benar lelah. Bukan hanya lelah saja tapi dia juga sangat sedih dengan apa yang menimpanya. Dia benar – benar sudah tidak kuat lagi untuk menyangga beban berat yang ditumpuhkan padanya. apalagi tentang perasaan yang selama ini terpendam di dalam hatinya untuk seseorang yang jelas – jelas tidak mungkin untuk woo bin mengungkapkannya pada orang itu.

“aku benar – benar frustasi.” Gumam woo bin, sambil tetap fokus dibelakang layar kemudi mobilnya.

Tak butuh waktu lama, akhirnya woo bin sudah sampai di rumah ayahnya. di bukannya pintu rumah itu dengan mudahnya. Tentu saja dia juga mempunyai kunci cadangan untuk rumah ini sama seperti kim bum.

Dan ketika baru beberapa langkah woo bin melangkahkan kakinya, telinganya menangkap sebuah suara teriakan yang berasal dari kamar adiknya. Ya.. kamar kim bum.
Perasaan cemas menghantui woo bin dan membuat woo bin berlari menuju kamar adiknya itu, namun ada perasaan takut dalam hati woo bin ketika dia menghampiri kamar adiknya. Kenapa suara teriakan itu terdengar seperti suara wanita, siapa yang saat ini berada di kamar kim bum dan apa yang sedang dilakukan kim bum pada wanita itu. Jangan – jangan wanita itu adalah – kim so eun.

“yaa.. kim bum apa yang kau lakukan sekarang” cemas woo bin yang saat ini dengan cepat melangkahkan kakinya menaiki tangga untuk menuju ke kamar kim bum.
Pikiran woo bin benar – benar tidak menentu sekarang, pria ini berharap agar adiknya itu tidak melakukan sesuatu yang buruk pada siapapun terutama jika benar dugaan woo bin kalau wanita itu adalah Kim so eun – adik tirinya.

~~~

“yaa… apa yang kau lakukan bodoh…” teriak woo bin ketika berhasil membuka kamar kim bum yang tidak di kunci dan melihat apa yang saat ini akan dilakukan oleh kim bum pada so eun.

Ternyata apa yang tadi sempat dipikirkan oleh woo bin menjadi nyata bahwa kim bum akan melakukan hal yang buruk pada so eun.
Woo bin melangkahkan kakinya untuk mendekati kim bum, dan satu pukulan yang cukup keras diberikannya pada adik kesayangannya itu. Entahlah kenapa woo bin bisa setega itu pada adiknya, tapi yang jelas saat ini woo bin benar – benar marah pada kim bum.

Kim bum benar – benar kesal dengan apa yang diterimanya barusan, ditatapnya dengan tajam orang yang memukulnya tadi. Kim bum sangat kesal saat mengetahui siapa yang memukulnya, tangannya mengepal rahangnya mengeras. Kim bum benar – benar ingin membalas pukulan itu, tapi tentu saja dia tidak bisa melakukannya karena kim bum sangat menghargai orang yang telah memukulnya.

“apa yang mau kau lakukan padanya? cepat katakan.” Bentak woo bin yang tadi memukul kim bum, seakan – akan ingin menelan kim bum hidup – hidup saat ini juga. karena kesalnya.
Woo bin sangat marah sekali dengan apa yang dia lihat. Di tatapnya tajam kim bum seakan – akan meminta penjelasan dengan apa yang akan dilakukan kim bum terhadap so eun.

“kau tuli yaa… cepat jawab aku.” Bentak woo bin lagi, yang kini melayangkan tangannya dan hendak memukul kim bum lagi. namun terhenti ketika mendengar teriakan so eun.

“cukup….” teriak so eun sambil menangis, gadis itu masih sangat terkejut dengan apa yang akan menimpa dirinya. Walaupun pada akhirnya kim bum tidak jadi melakukan perbuatan yang membahayakannya tapi tetap saja tubuhnya masih gemetar dan ketakutan.

“jika kau berusaha melakukannya lagi.. aku tidak akan segan – segan membunuhmu saat ini juga.” Ancam woo bin pada kim bum. Sambil menghampiri so eun yang masih tak bergeming di ranjang kim bum saking kaget dan takutnya akan sikap kim bum yang menakutkan.

Kim bum menatap tajam pada kakaknya yang dengan tiba – tiba datang, masuk kekamarnya dan sekarang memukulnya. Apa kakaknya ini gila, apa kakaknya ini sekarang tidak berada di pihaknya kenapa kakaknya bisa membela gadis murahan itu pikirnya.
Mata tajam kim bum masih mengawasi setiap gerakan woo bin yang membantu so eun untuk bangun dari ranjangnya dan juga membimbing keluar gadis itu tanpa menoleh atau mempedulikan sakit yang dirasakan kim bum saat ini atas pukulannya.

“dia bahkan tidak peduli padaku dan malah membawa pergi gadis itu. Ini benar – benar tidak bisa diterima.” Gumam kim bum lagi dengan kesalnya. Dan berusahan bangkit dari lantai. Berusaha mencari tau apa yang sebenarnya dipikiran kakaknya itu sekarang.

~~~

Woo bin membimbing tubuh so eun menuju kamarnya, gadis itu bahkan tidak menolak ketika woo bin merangkulnya dan masuk kedalam kamarnya. Dan bisa woo bin rasakan bahwa saat ini tubuh so eun sangat bergetar hebat. Tentu saja so eun sangat shock dengan apa yang akan dilakukan oleh kim bum tadi. Pasti gadis itu benar – benar tidak menyangka bahwa kim bum bisa melakukan hal sekeji itu padanya. pasti sekarang so eun berfikir bahwa kim bum sangatlah jahat. Pikir woo bin.

“kuharap kau mau memaafkan kim bum. hari ini dia benar – benar sedang mabuk, aku pikir dia tidak sengaja melakukan sesuatu yang buruk seperti tadi. Ku harap kau tidak membencinya. Jika kau mau marah, marah saja padaku.” Mohon woo bin pada so eun, seakan – akan woo bin benar – benar tidak mau jika so eun membenci kim bum.

So eun tidak menjawabnya, dia hanya memandang mata woo bin. Ada ketulusan di bola mata itu. Apakah yang dikatakan kakak tirinya ini benar adanya. Woo bin meminta maaf pada so eun atas kesalahan kim bum, ini benar – benar tidak masuk akal. Bukankah selama ini woo bin juga sama seperti kim bum. pria ini juga membencinya kan, bahkan selama ini woo bin selalu mengacuhkan so eun atau malah tidak menganggapnya ada. Walaupun tidak begitu terlihat jelas seperti yang dilakukan oleh kim bum. Lalu apa ini.

“aku tau kau tidak akan dengan mudahnya memaafkan kim bum. tapi aku mohon jangan membencinya. Kau tidak tau bahwa sebenarnya dia itu…” ucapan woo bin terhenti, ketika dia menyadari bahwa tidak seharusnya woo bin mengatakan itu. Bagaimana kalau kim bum sampai tau atau so eun yang tau. Tidakkah nanti kim bum bisa marah padanya, atau bahkan woo bin sendirilah yang kehilangan kesempatan.

“terima kasih.” Jawab so eun sambil memeluk erat tubuh woo bin secara tiba – tiba. Tentu saja itu membuat woo bin sedikit tersentak. Wanita ini tidak marah padanya, bahkan kini so eun memeluk woo bin. Ada apa? apa ada yang salah sekarang?

“untuk apa?” pertanyaan ini memang seharusnya tidak diajukan oleh woo bin, karena sudah pasti bahwa so eun berterimakasih karena woo bin telah menyelamatkan gadis itu dari perbuatan membahayakan yang telah di lakukan kim bum pada dirinya. Pikir woo bin.

“terimakasih.. karena akhirnya kau peduli padaku.” Ucap so eun sambil menangis dan semakin mengeratkan pelukannya pada woo bin.
Woo bin membelalakan matanya, tanda dia tidak mengerti dengan ucapan so eun barusan. apa maksud dari ucapan so eun ini. tapi mungkin ini tidak terlalu penting sekarang, menurut woo bin yang terpenting sekarang so eun sudah jauh lebih tenang dan tentu saja woo bin harus melihat keadaan kim bum. sudah bisa woo bin bayangkan bahwa saat ini adiknya itu pasti benar – benar terpukul dengan apa yang dilakukan woo bin padanya tadi.

“istirahatlah… jangan takut lagi.” ucap woo bin sambil melepaskan pelukan so eun padanya dan melangkahkan kakinya pergi keluar kamar so eun dan membiarkan gadis itu masih berdiri di tempatnya.
Sebenarnya ada sedikit perasaan yang menahan woo bin untuk tetap tinggal di kamar itu dan menenangkan hati so eun. tapi tentu saja rasa bersalahnya pada kim bum jauh lebih besar dari pada itu. Woo bin sudah menghianati kim bum bahkan memukulnya tentu saja kim bum akan marah padanya.

~~~

“kau benar – benar penghianat, aku tidak menyangka jika kau akan berubah secepat ini. bagaimana bisa kau memukulku hanya karena gadis murahan seperti dia.” Cerca kim bum pada woo bin yang baru saja keluar dari kamar so eun dan menutup pintunya.

Dilihatnya adiknya itu sudah berdiri tegap menghadapnya, dengan sorot mata tajam dan penuh kemarahan. Bisa dilihat juga oleh kedua mata woo bin bahwa saat ini kedua tangan kim bum mengepal dengan kerasnya, sepertinya kim bum bersiap memukul woo bin sekarang.

“kau marah padaku?… apa kau ingin memukulku sekarang?.. lakukan saja, jika memang itu yang ingin kau lakukan sekarang. Aku tidak akan melawanmu sedikitpun.” Woo bin semakin mendekatkan dirinya pada kim bum. woo bin tau bahwa saat ini tubuh kim bum dikendalikan oleh emosinya. Dan woo bin pun terima jika kim bum memukulnya sampai mati. Mungkin inilah yang pantas didapatkan oleh woo bin karena telah menghianati adik dan ibunya. Lagi pula woo bin sendiri pun sudah teramat lelah jika harus selalu mengalah pada adiknya ini.

“kau bajingan.. kau benar – benar pantas mati. Dasar brengsek..” teriak kim bum sambil mencengkram erat kerah baju kakaknya. Satu tangannya melayang ke udara dan bersiap memukul kakaknya. Tapi pukulan itu tertahan di udara.

Walaupun saat ini tubuh kim bum di penuhi dengan emosi dan kemarahan atas apa yang dilakukan kakanya tadi padanya. tapi tetap saja rasa hormat dan sayang yang dimiliki oleh kim bum pada woo bin sekarang jauh lebih besar dibandingkan dengan rasa marahnya.

“kau selau membuatku seperti anjing yang selalu patuh pada majikannya. Bahkan kemarahanku tidak cukup kuat untuk menandingi rasa sayang dan hormatku padamu. Bagaimana bisa kau menghianatiku dan malah membelanya.” Teriak kim bum pada kakaknya. Hatinya benar – benar sakit sekarang.

“maafkan aku.. maafkan aku kim bum.” jawab woo bin sambil menangis, pria itu bahkan tidak mampu menatap mata kim bum. hatinya sedih, selama ini dia dan kim bum selalu bersama – sama. Jangankan bertengkar seperti sekarang, saling mencubit saja tidak pernah. Mereka selalu melindungi satu sama lain, lalu kenapa bisa woo bin sampai hati memukul kim bum tadi.

“mulai sekarang aku membencimu.. ku anggap kau tidak berdiri sebagai pembelaku lagi sekarang. Kau tidak perlu melindungiku lagi, karena tanpamu aku bisa melindungi ibu dan diriku sendiri.” Tegas kim bum sambil melepaskan cengkraman tangannya pada woo bin dan melangkahkan kakinya menjauhi tubuh sang kakak, menuju kamarnya dan membanting pintu kamarnya dengan cukup keras.

“yaahhh.. apa yang kau katakan barusan. seharusnya kau memukulku sampai mati. Bagaimana bisa kau mengatakan itu padaku… kim bum,, ku mohon jangan membenciku seperti kau membenci ayah. Kumohon buka pintunya.” Teriak woo bin sambil menggedor pintu kamar kim bum dengan keras, berusaha meyakinkan kim bum agar kim bum mau membuka pintu kamarnya dan memaafkannya. Tapi percuma saja, saat ini kim bum benar – benar marah pada woo bin.
Woo bin hanya bisa menangis dan meninggalkan pintu kamar kim bum, untuk menuju kamarnya sendiri. Mungkin saat ini kim bum masih ingin menenangkan dirinya. Pikir woo bin.

~~~

Ternyata di dalam kamarnya so eun juga mendengar semua pertengkaran antara woo bin dan kim bum, ternyata mereka berdua sangatlah dekat. Kim bum benar – benar menghormati kakaknya dan woo bin benar – benar menyayangi adiknya.

Selama ini mereka berdua pasti benar – benar menderita, dan tentu saja penderitaan mereka disebabkan oleh ibu so eun. pantas saja selama ini kim bum membencinya karena begaimanapun memang benar adanya bahwa karena ibu so eun menghancurkan keluarga kim bum. rasa bersalah pada kim bum dan woo bin benar – benar menyerang so eun, gadis itu tak henti – hentinya menangis. Apa yang bisa dilakukannya untuk memperbaiki kesalahan ibunya. Haruskah so eun membawa ibunya pergi dari rumah ini bahkan dari keluarga ini. tapi bagaimana caranya, melawan ibunya saja so eun tidak punya keberanian apalagi membawa ibunya pergi.

“maafkan aku kim bum, maafkan aku kak woo bin, maafkan aku bibi yi hyun. Aku bahkan tidak bisa menasehati ibuku dan membawanya pergi. Maafkan aku karena membuat keluarga ini jadi berantakan seperti sekarang. Maafkan aku.” Gumam so eun sambil menangis tersedu di dalam kamarnya.
Hatinya juga ikut hancur ketika melihat dua kakak beradik itu saling bertengkar, apalagi jika mereka berdua sampai saling bermusuhan ini akan membuat keduanya semakin menderita. Mereka berdua saling bergantung, dan bagaimana keduanya bisa hidup sendiri – sendiri sekarang. Pikir so eun.



Beberapa hari setelah kejadian dimana woo bin memukul kim bum, keduanya benar – benar tidak saling bertegur sapa. Jangankan untuk menyapa atau mengucapkan selamat pagi untuk saling menatap saja tidak. Aura kebencian masih menyelimuti kim bum, sedangkan woo bin, pria itu masih terlihat menyesali perbuatannya karena melakukan perbuatan bodoh yang tidak semestinya dia lakukan.

Pagi ini semuanya berkumpul diruang makan, tidak ada percakapan yang hangat ataupun gelak tawa dari sebuah kumpulan keluarga seperti semestinya. Yang ada hanya keheningan dan kekakuan. Dan itu sangat di rasakan oleh semuanya. Termasuk so eun yang ada didalamnya.

Suara geseran kursi terdengar di ruangan itu, menghidupkan suasana. Dan ketika semua menoleh ke sumber suara, sedikit kaget ketika melihat kim bum hendak beranjak pergi meninggalkan ruang makan itu sebelum Kim jae wook.

“kau mana kemana kim bum?” pertanyaan lembut jae wook langsung tertuju pada putra keduanya itu. Walaupun nada bicara yang keluar dari mulut jae wook terkesan lembut. Tapi jangan lupakan sorot mata tajam yang saat ini ditujukannya pada kim bum.

Seharusnya kim bum masih mengetahui sifat ayahnya selama ini. pria itu bahkan tidak ingin siapapun pergi meninggalkan ruang makan ketika jae wook sendiri belum menyelesaikannya. Tidak peduli itu siapa.

“aku hanya ingin keluar, hari ini kantor libur kan. Tidak bisakah aku bersenang – senang.” Jawab kim bum sedikit menantang. Seharusnya kim bum tidak berbicara seperti itu sekarang tapi kondisi hatinya sedang tidak menentu saat ini, jadi jika ayahnya marahpun dia tidak peduli.

“hehh.. bocah ini. jawabanmu membuat telingaku sedikit sakit mendengarnya.” Timpal jae wook lagi. dan perkataanya bahkan tidak dihiraukan sedikitpun oleh kim bum.
Anak itu masih dengan santainya melangkahkan kakinya untuk pergi keluar rumah, padahal kim bum tau bahwa ayahnya itu pasti sedang marah dengannya.

“jangan berniat melangkahkan kakimu lagi sekarang, satu kali saja kau melangkahn kakimu maka saat itu juga aku akan mematahkan kakimu.” Ancam jae wook pada putranya itu dan sekarang uucapan pria itu sukses membuat putranya diam berdiri di tempat, walaupun dengan perasaan enggan.

“ayah, sudahlah… biarkan saja dia pergi. Jika memang ada pekerjaannya yang belum diselesaikan biar aku saja yang mengurusnya.” Bela woo bin, mencoba mengambil hati ayahnya. melihat suasana yang saat ini sudah terlalu menyeramkan untuknya.

“bicaramu seperti seolah – olah lebih baik kau saja yang harus dibunuh ayah sekarang daripada aku. Kau benar – benar selalu bersikap baik – kim woo bin.” Sindir kim bum sambil membalikan tubuhnya menghadap semua orang yang masih duduk ditempatnya masing –masing.

“sudah – sudah, kenapa kalian jadi bertengkar seperti ini. kim bum cepat kembali ke tempat dudukmu dan jangan berbuat ulah seperti sekarang. Apa kau mau melihat ayahmu marah – marah.” Timpal tae hee, yang mulai tertarik ikut dalam pembicaraan panas ini.

“dasar aneh, siapa yang butuh suaramu disini. Tidak ada yang menginginkan wanita sepertimu ini untuk bicara sekarang. Apa kau tidak malu, bicara seperti itu.” Cela kim bum pada ibu tirinya, dengan senyum meremehkan yang dia lemparkan pada ibu tirinya itu. Dan tentu saja senyuman kim bum itu berhasil menyulut emosi tae hee.

“kau ini. aku bahkan mencoba menasehatimu. Tidak bisakah kau bersikap sopan padaku, aku ini istri dari ayahmu yang tidak lain juga ibumu. Bagaimana bisa kau bersikap tidak sopan seperti itu.” Bentak tae hee dengan kesalnya pada kim bum ketika mendengar celaan yang dilontarkan oleh kim bum barusan untuknya.

Kim bum tidak membela dirinya, dia hanya tersenyum melihat ibu tirinya itu memarahinya. Kim bum puas bisa membuat kim tae hee marah seperti sekarang. Pemandangan inilah yang ingin kim bum lihat, walaupun resikonya, ayah kim bum pasti akan marah padanya.

“kim bum.. berhenti bicara dan cepatlah pergi.” Teriak woo bin yang sedikit kesal dengan ulah kim bum saat ini. kim bum bisa mati jika ayahnya benar – benar marah, seharusnya sedari tadi kim bum sudah meninggalkan tempat ini dan bukannya malah membuat keributan.

“berhenti membelanya lagi. kalaian berdua ikut aku ke ruang kerjaku sekarang. Jangan membuatku menunggu atau aku sendiri yang akan menyeret kalian berdua.” Bentak jae wook kepada kedua putranya itu. Sambil beranjak dari tempat duduknya sekarang dan berjalan melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya. Tentu saja di ikuti oleh woo bin dan kim bum di belakangnya.

Ada gurat kecemasan di wajah kim bum dan woo bin sekarang terutama kim bum. sekeras apapun kim bum tetap saja dia takut pada ayahnya. karena kim bum sudah hafal betul bagaimana sifat dan karakter si ayah jika sedang marah.

Di meja makan so eun memandang kepergian kedua saudara tiri dan juga ayah tirinya yang tengah berjalan menjauhi dirinya dan menuju ruangan kerja jae wook. Tentu saja pikiran so eun juga sama seperti yang lain, takut jika jae wook benar – benar akan memukuli kedua anak kandungnya itu.

~~~

Ayah dan anak itu sekarang sudah berkumpul. Jae wook duduk di sofa yang ada diruangan kerjanya itu sedangkan kim bum dan woo bin berdiri di depannya. Keduanya menundukkan kepalanya tanda dia tidak menginginkan tatapan tajam ayahnya yang ditujukan kepada keduanya.

“aku membawa kalian kesini bukan untuk membahas masalah hari ini. tapi aku ingin kalian berdua mengatakan kebohongan yang kalian sembunyikan padaku selama ini.” perintah jae wook tegas.
Tidak terdengar marah, tapi ketegasan jae wook itu mampu membuat kedua nyali putranya itu menciut seketika. Hanya dengan sekali perintah.
Sedikit menguji kesabaran jae wook memang, karena kedua putranya itu bahkan tidak ada satupun yang berniat menjawab. Entah itu takut atau enggan sekalipun. Tapi saat ini jae wook butuh kejujuran dari keduanya.

“kalian tidak akan mengatakannya padaku?” tanya jae wook lagi, masih dengan nada bicara yang lembut.

“kalian mau mengatakannya atau kalian mau aku menmbeberkannya satu persatu sekarang?” bentak jae wook pada kedua putranya itu.
Kesabaran jae wook benar – benar tengah di uji sekarang. Kedua putranya itu bahkan tidak ada satupun yang menjawab atau mengeluarkan suaranya. Jae wook mendekati kim bum dan menatap tajam putra keduanya itu, tapi yang ditatap malah menundukkan kepalanya.

“yaa… kau mau mengatakannya tidak, selama ini aku bahkan tidak pernah mendidik kalian untuk berbohong. Bagaimana bisa sekarang kalian melakukan ini padaku.” Teriak jae wook sambil melayangkan pukulannya siap untuk memukul kim bum yang ada didepannya. Dan itu sukses membuat kim bum menutup kedua matanya dia tidak ingin melihat ayahnya memukulnya.
Tapi kim bum begitu kaget ketika mendengar suara pukulan dan bersamaan dengan suara tubuh terjatuh ke lantai. Dan yang lebih membuatnya heran, dia tidak merasakan sakit di badannya. Lalu siapa yang telah mendapatkan pukulan dari ayahnya barusan, woo bin kah?

“ayah apa yang kau lakukan?” tanya kim bum kaget, ketika melihat apa yang dilakukan oleh ayahnya itu. Jae wook memukuli woo bin dengan membabi buta. Ayahnya itu bahkan tidak memberikan kesempatan untuk woo bin membalas ataupun menghindar sekalipun.

“kau bahkan yang paling ayah percaya. Bagaimana bisa kau membiarkan kim bum melakukanya. Bagaimana bisa kau selalu melindunginya dan tidak memberitahukan yang dia lakukan selama ini padaku.” Bentak jae wook sambil terus memukuli woo bin tanpa henti, jae wook benar – benar marah ketika mengetahui bahwa selama ini woo bin selau membantu adiknya untuk bertemu ibunya tanpa sepengetahuannya.

“ayah.. apa yang kau lakukan. Aku yang berbuat kesalahan, tapi kenapa kau memukul kakak. berhenti memukulnya ayah.” Teriak kim bum yang tidak terima melihat kakaknya dipukuli oleh sang ayah karena kesalahan yang tidak dilakukan oleh sang kakak.

“ayo.. cepat katakan bagaimana bisa kau menutupinya dariku. Apa sekarang kau mau menjadi pemberontak dan berniat membuat kim bum menjadi sepertimu juga. Bukankah berkali – kali kukatakan jangan pernah menemui ibumu lagi. kenapa kalian berdua tidak pernah mematuhiku.” teriak jae wook lagi, dan masih tetap memukuli woo bin. Jae wook bahkan tidak mempedulikan woo bin yang bahkan tidak bisa bergerak karena pukulannya.

“ayah aku bilang hentikan, jangan pukul kakak lagi. aku yang salah kenapa kau memukulnya, kalau kau mau memukul pukul saja aku jangan kak woo bin.” Bentak kim bum pada ayahnya, dan dengan keras kim bum mendorong tubuh jae wook hingga terpental dari tubuh woo bin.

“kau juga harus dihajar, karena telah melakukan perbuatan yang memalukan pada so eun.” ucap jae wook, dan sudah melayangkan satu pukulan pada kim bum. dan membuat bibir kim bum mengeluarkan darahnya.

“bagaimana ayah bisa tau?” heran kim bum sambil menyentuh bibirnya yang terasa perih.

“selama ini aku tidak pernah sekalipun menegur atau memarahimu walaupun kau mengacau dikantor dan sering tidak hadir dalam rapat pemegang saham. Itu karena aku sangat menyayangimu dan memaklumi kekerasan hatimu yang sama persis denganku. Tapi untuk yang satu ini aku bahkan tidak bisa memaafkanmu.” Ucap jae wook sambil memukul kim bum lagi. dan pukulan tadi sukses membuat tubuh kim bum jatuh tersungkur.

“aku bahkan tidak menyangka jika kau melakukannya kim bum. kau telah membuat kakakmu menanggung semua kesalahanmu. Kau juga telah melibatkan orang yang tidak bersalah ke dalam dendammu padaku. Aku pikir yi hyun pun tidak akan menyukai apa yang telah kau lakukan selama ini.” tutur jae wook sambil kembali duduk di sofanya.
Ada sedikit penyesalan dihati jae wok karena memukul woo bin, tapi dengan begini mungkin woo bin tidak akan membela kim bum lagi dan kim bum pun akan jauh lebih baik dan tidak pernah membohonginya lagi. atau memanfaatkan kakaknya lagi.

~~~

Woo bin keluar dari ruang kerja ayahnya lebih dulu, kemudian di ikuti dengan kim bum di belakangnya. Dengan langkah sempoyongan dan tubuh yang penuh luka bekas pukulan dari ayahnya woo bin pun menaiki tangga menuju kamarnya walaupun berkali – kali dia hampir terjatuh tetap saja dia berusaha untuk bangkit kembali.

Kim bum yang sedari tadi berjalan di belakang kakaknya pun tidak kuasa melihat kakaknya seperti itu. Dengan cepat kim bum membimbing tubuh kakaknya untuk menaiki tangga agar tidak terjatuh. Tapi diluar dugaan kim bum, woo bin menolaknya.

“jangan membantuku, biarkan aku berjalan sendiri. Aku bukan orang lumpuh yang harus meminta bantuan orang lain untuk menaiki tangga ini.” ucap woo bin sambil melepaskan tangan kim bum dari tubuhnya.

“maafkan aku, selama ini aku selalu menyusahkanmu.” Jawab kim bum

“kau tidak perlu minta maaf padaku. Mungkin selama ini aku sudah terlalu sering berdiri di belakangmu dan selalu menjadi sasaran kemarahan ayah. Selama ini ayah selalu memperlakukanmu dengan baik begitu pula dengan ibu.” Ucap woo bin sambil memperhatikan kim bum yang terlihat menyesal.

“aku tidak peduli dulu kau menyukainya dan sekarang kau membencinya, tapi mulai sekarang aku akan mendekatinya. aku sudah lelah mengalah darimu kim bum. aku menyukainya dan mulai sekarang aku akan mendekatinya. aku membenci ibunya dan bukan anaknya. Maafkan aku karena telah menghianatimu.” Jelas woo bin dan pergi meninggalkan kim bum yang terlihat bingung dengan ucapan sang kakak tadi.

Kim bum mulai berfikir sejenak, memang selama ini ayahnya tidak pernah sekalipun memarahinya. Dan memang diakuinya bahwa itu karena usaha kakaknya. Bahkan selama ini memang kim bum selalu mudah jika menemui atau datang kerumah ibunya, dan itu semua berkat bantuan dari woo bin. Kim bum memang sudah terlalu banyak menyusahkan pria itu.

“tidak.. aku membencinya. Baik dulu maupun sekarang. Aku tidak peduli kak woo bin mau mengambilnya atau tidak. aku membencinya dan juga ibunya. Kak woo bin memang bodoh dan pengecut.” Gumam kim bum meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilakukannya selama ini benar dan tidak menyakiti siapa pun termasuk kakaknya itu.

~~~

“bukan aku yang salah, tapi wanita brengsek itu.” Ucap kim bum sambil melangkahkan kakinya keluar rumahnya. Dan siapa sangka jika di luar pintu itu ternyata gadis itu sudah berada disana.

“minggir atau aku akan melakukan sesuatu yang lebih buruk dari pada kemarin.” Bentak kim bum pada gadis yang berdiri dihadapannya itu yang tak lain adalah so eun.

So eun melihat kedua mata kim bum mencoba mencari kebenaran dari semua yang telah terjadi selama ini dan apa yang dia dengar barusan. so eun mendengar semuanya, mendengar apa yang telah dikatakan oleh woo bin pada kim bum.

So eun tidak mau menduga ataupun berharap kalau gadis itu adalah dirinya. Karena bagi so eun itu tidak lah penting. Yang terpenting adalah apa benar kim bum dulu menyukai gadis itu. Karena sebenarnya permasalahan sebenarnya bukan karena dendam tapi karena gadis itu.
“sebenarnya masalahmu ada pada gadis itu kan, kau membenci ayahmu hanya sebagai pelengkap kebencianmu pada gadis itu kan. Sebenarnya apa yang kau harapkan pada gadis itu hingga kau mengorbankan kakak dan juga ayahmu. Aku tau kau membenci ibuku karena telah menggantikan posisi ibumu. Tapi masalah yang sebenarnya ada pada gadis itu kan?”

“plaaakkk…” sebuah tamparan keras di layangkan so eun pada wajah mulus kim bum dan tentu saja kali ini kim bum tidak bisa melawan karena so eun sudah lebih dulu menahan perlawanannya dengan kalimat yang dia lontarkan barusan.
Dan bersamaan dengan tamparan itu, kim bum pun memeluk so eun dengan sangat erat. Bahkan terlihat seperti kim bum tidak akan pernah melepaskan so eun dari pelukannya.

“aku selalu berusaha membencinya apapun yang terjadi. Karena gadis itu memang penyebab semua kemarahanku. Aku bahkan selalu berharap bahwa gadis itu tidak terlahir dari rahim seorang wanita yang telah menghancurkan keluargaku. Aku sangat membencinya dan tidak akan membiarkan kakakku mendapatkannya.” Terang kim bum masih tetap mengeratkan pelukannya pada so eun. benar – benar erat.

So eun menangis, gadis itu benar – benar tidak bisa menahan rasa sedihnya. Kim bum benar – benar membencinya da sepertinya rasa benci itu sangat besar terhadapnya.

Kim bum masih memeluk so eun, pria itu masih enggan melepaskan pelukannya pada so eun. “jangan berfikir untuk mengambil hati kakakku atau aku akan semakin membencimu.” Kalimat kim bum pun terhenti bersamaan dengan gerakan tangannya yang melepas pelukannya dari tubuh so eun.



Hari ini rumah terasa sepi, sebenarnya memang seperti in.i biasanya rumah ini selalu terkesan sepi. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh so eun saat pertama kali datang ke rumah ini sampai dengan saat ini. rumah ini masih tetap sama, pantas saja kim bum selalu kesepian. Jika memikirkan kim bum, so eun jadi ingat kepergian kim bum pagi tadi, kemana anak itu apa dia ke tempat ibunya dan tidak berniat pulang.

So eun keluar dari kamarnya, dengan membawa kotak p3k dan menuju kamar woo bin. Setidaknya dia harus memastikan bahwa kondisi woo bin saat ini baik – baik saja. walaupun kemungkinan hal itu terjadi sangat kecil.

“bolehkah aku masuk kak?” tanya so eun sambil mengetuk pintu kamar woo bin, dan tidak butuh waktu lama so eun menunggu woo bin pun sudah membukakan pintu untuk so eun.
So eun bisa melihat jelas betapa banyaknya luka di wajah woo bin, sangat berbeda dengan kim bum yang terlihat baik – baik saja tadi pagi. Ketika so eun menemuinya.

“masuklah.”

So eun memasuki kamar woo bin, ketika kakak tirinya itu menyuruhnya masuk. So eun segera mengahampiri woo bin dan mencoba menyentuh wajah woo bin. Namun pria itu menghindarinya.

“ada perlu apa?” tanya woo bin dengan nada dingin seperti biasanya, ini sudah biasa menurut so eun.

“aku hanya ingin menebus kesalahan ibuku, bolehkah aku mengobatimu kak?” pinta so eun hati – hati, gadis itu takut dengan rasa percaya dirinya yang tinggi ini akan mendapatkan penolakan dari woo bin. Tentu saja so eun harus siap jika hal itu terjadi.

Woo bin terdiam sejenak mendengar permintaan so eun saat ini, gadis ini sudah mulai berani rupanya. Ini memang bukan salahnya, jadi tidak seharusnya kim bum ataupun woo bin menghakiminya. Semuanya salah ibunya kan, jadi kenapa harus mengikut sertakan so eun dalam masalah yang tidak dilakukannya. Pikir woo bin.

“bukan aku yang harus kau sembuhkan, tapi kim bum. sepertinya dia sangat terluka dengan kejadian hari ini.”

“kim bum…. kakak yang lebih terluka.”

“untuk pertama kalinya, ayah membentak kim bum aku yakin saat ini anak itu pasti terluka.”

“biarkan aku mengobati lukamu dulu, jangan memikirkan kim bum. aku yakin dia akan baik – baik saja.” mohon so eun, seperti yang dikatakan oleh woo bin. Sebenarnya so eun juga sangat khawatir dengan apa yang akan terjadi pada perasaan kim bum. tapi so eun tau bahwa kim bum akan bisa mengendalikan emosi jauh dari yang orang – orang pikirkan so eun tau itu.



Pagi itu sebelum berangkat ke kantor, woo bin dipanggil ayahnya untuk datang ke ruang kerja ayahnya. woo bin masih bingung apa yang akan dikatakan oleh ayahnya. jika masih mengenai masalah kebohongan yang dilakukannya dan juga kim bum bisa mati hari ini karena woo bin benar – benar tidak tau harus bagaimana lagi membela diri di depan ayahnya.

“apa lukamu sudah membaik?” pertanyaan itu keluar dari mulut jae wook ketika dia melihat bahwa woo bin sudah membuka pintu ruang kerjanya dan memasuki ruangan itu.

“ini sudah lebih baik, dari sebelumnya.” jawab woo bin.

“hari ini bawa so eun kekantor, karena mulai hari ini so eun akan bergabung denganmu dan juga kim bum untuk menjalankan kantor cabang, bantu dia.” Perintah jae wook pada putra pertamanya itu.

“ayah,,, tidakkah terlalu cepat untuk membawa so eun ke kantor, so eun masih terlalu muda lagi pula dia wanita tidakkah itu…” kalimat woo bin terpotong

“aku tidak membutuhkan komentarmu, tapi aku memerintahkanmu. Dan satu hal lagi bawa kim bum pulang ke rumah kalau perlu seret dia untuk kembali. Jangan pernah kecewakan aku lagi atau tidak kau akan tau hukuman apa yang akan kuberikan padamu woo bin.”

Ketegasan dan kekuatan jae wook membuat woo bin benar – benar tidak mempunyai keberanian hanya untuk sekedar mengatakan tidak. Jadi lebih baik woo bin membungkukkan badannya dan meninggalkan ruangan ayahnya sebelum kepalanya serasa ingin pecah jika memikirkan masalah keluarganya.

“harusnya kau berada disini kim bum, dan bukannya meninggalkanku dalam situasi seperti ini.” gumam woo bin.

~~~

“ibu… tidak bisakkah kau memberitau paman jae wook agar membatalkan niatnya. Apa ibu tidak lihat bagaimana kemarahan kim bum kemarin, bagaiamana jika kim bum atupun kak woo bin marah jika tau aku akan ikut andil dalam perusahaan.” Gerutu so eun, gadis itu benar – benar kesal dengan pemaksaan ibunya yang menuntutnya untuk menuruti perintah ayah tirinya.

Ini bukan keinginan so eun, gadis itu benar – benar tidak ingin jika sampai kim bum semakin membencinya. Akan jadi apanya jika kim bum tau akan hal ini. apa yang harus gadis itu jelaskan pada kim bum jika pria itu marah lagi padanya. walaupun saat inipun kim bum juga masih marah padanya tapi dengan keadaan seperti ini tentu saja kim bum semakin marah padanya kan.

“berhenti mengeluh… ini semua untuk kepentinganmu juga. Kau pikir kenapa ibu bisa sejauh ini melangkah. Itu semua karena dirimu so eun, tidak bisakah kau mengerti kondisi ibu. Apa kau ingin kembali pada kehidupan kita seperti dulu.” Bentak tae hee pada anak perempuannya itu.

“setidaknya kondisi seperti itu lebih baik dari pada sekarang… setidaknya ibu tidak terlihat seperti wanita perusak rumah tangga orang.” Ucap so eun, dan langsung mendapat tamparan keras dari ibunya.

“kau benar – benar tidak tau caranya berterima kasih, kau kira ibu suka melakukan hal seperti ini. cukup ikuti aturan ibu dan jangan bicara lagi.” perintah tae hee dan langsung pergi meninggalkan so eun yang terlihat terluka.
Tentu saja gadis itu sangat terluka, selama ini ibunya tidak menampar so eun dan hari ini tangan tae hee mendarat tepat di pipi mulus so eun. sebenarnya so eun juga tidak ingin menentang ibunya, tapi memang apa yang dilakukan ibunya ini benar – benar salah kan.

“aku tau ibu juga tidak ingin melakukannya, tapi tidakkah ibu lelah dengan semua ini. aku bahkan sudah benar – benar sangat lelah…. ibu.” Gumam so eun, sambil meneteskan air matanya.

So eun benar – benar ingin seperti dulu, mendapatkan perhatian lebih dari ibunya. Tidak seperti sekarang, ibunya terlalu sibuk memikirkan hal – hal yang dinilai so eun sangat berlebihan. Apalagi sekarang sudah ada so hyun yang juga membutuhkan perhatian ibunya, mengingat ayah tiri so eun yang terkesan keras dalam mendidik anak – anaknya.

“bisakah kehidupanku kembali seperti dulu, dan bisakah aku bersama dengannya lagi. aku lelah dengan semua ini. benar – benar lelah dan teramat lelah.” Batin so eun

~~~

Woo bin yang berniat menghampiri so eun yang ada dikamarnya pun melihat bagaimana so eun masih terduduk lemas di lantai kamarnya, ketika woo bin hendak menuju kamar so eun. pria itu tau bahwa pasti sakit rasanya mendapat pukulan dari orang tua kandungnya sendiri. Karena woo bin pun pernah merasakannya.

“andai saja ibumu tidak melukai hati ibuku mungkin aku akan segera beranjak dari tempatku sekarang dan membantumu berdiri.” Batin woo bin, hati kecil pria itu juga merasakan sakit yang dirasa so eun saat ini. karena dirinya juga pernah mendapatkan pukulan dari ayahnya walaupun berbeda kondisi.

Woo bin berfikir, mungkinkah adiknya itu akan tersenyum puas kala melihat kondisi so eun seperti ini. ataukah kim bum akan sedikit tersentuh dengan penderitaan yang juga dialami so eun sekarang.

“beruntung kim bum tidak melihatmu so eun.. karena mungkin jika kim bum ada disini kau akan semakin terpojokkan.” Ucap woo bin dan pergi berlalu meninggalkan so eun yang masih tetap diam ditempatnya.

~~~~~~~~~~TBC~~~~~~~~~~

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini: