Hate Or Love (part 2)

Posted: 13 November 2013 in FF BUMSSO
Tag:

cats

Part 2

“apa maksudmu?, apa ini berarti kau melarangku untuk menemanimu malam ini. ibu tidak mengijinkanku untuk menginap disini?” rasa heran pada diri woo bin atas apa yang dikatakan oleh ibunya tadi, tentu saja membuat dirinya mengucapkan pertanyaan seperti saat ini.

So yi hyun membelai wajah putranya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tentu saja jawaban dari pertanyaan yang di ajukan oleh woo bin adalah “iya” karena yi hyun benar – benar sayang pada putranya itu dan tentu saja wanita ini tidak ingin terjadi sesuatu pada putranya.

“jangan bilang kalau kau benar – benar melarangku ibu..” rengek woo bin, yang seakan – akan sudah tau apa yang akan dijawab oleh ibunya.

“ibu tidak menerima pria yang dalam keadaan mabuk seperti ini untuk menginap dirumah ibu sekarang. Ibu bahkan sudah pernah berulang kali mengatakannya padamu ataupun kim bum bahwa ibu tidak suka jika kalian sampai menyentuh minuman keras itu.” Celoteh yi hyun untuk woo bin. Dan bukannya merasa bersalah tentu saja woo bin menampilkan wajah polos tanpa dosanya. Dan tingkah woo bin itu sukses membuat yi hyun tertawa geli.

“pulanglah ke tempat ayahmu sayang, patuhi ayahmu dan jangan buat dia marah. Jaga kim bum nasehati dia, jika dia melakukan kesalahan. dan bukannya membantunya. Maafkan ibu yang tidak bisa merawat kalian sayang.” Kata – kata ini memang terdengar sangat menyedihkan untuk so yi hyun selaku orang yang telah mengatakannya. Tapi inilah yang harus dia jalani tidak bisa berkumpul dengan anak – anaknya dan itu benar – benar tidak bisa dia rubah.

“aku menyayangimu. Aku berjanji bahwa aku akan membuat ibu, kim bum dan aku berkumpul bersama lagi walaupun ada atau tanpa ayah. Aku janji ibu…” jawab woo bin penuh keyakinan dan benar – benar mantap dengan apa yang dia janjikan barusan pada ibunya.

~~~

Woo bin melajukan mobilnya dengan sangat kencang, dia benar – benar lelah. Bukan hanya lelah saja tapi dia juga sangat sedih dengan apa yang menimpanya. Dia benar – benar sudah tidak kuat lagi untuk menyangga beban berat yang ditumpuhkan padanya. apalagi tentang perasaan yang selama ini terpendam di dalam hatinya untuk seseorang yang jelas – jelas tidak mungkin untuk woo bin mengungkapkannya pada orang itu.

“aku benar – benar frustasi.” Gumam woo bin, sambil tetap fokus dibelakang layar kemudi mobilnya.

Tak butuh waktu lama, akhirnya woo bin sudah sampai di rumah ayahnya. di bukannya pintu rumah itu dengan mudahnya. Tentu saja dia juga mempunyai kunci cadangan untuk rumah ini sama seperti kim bum.

Dan ketika baru beberapa langkah woo bin melangkahkan kakinya, telinganya menangkap sebuah suara teriakan yang berasal dari kamar adiknya. Ya.. kamar kim bum.
Perasaan cemas menghantui woo bin dan membuat woo bin berlari menuju kamar adiknya itu, namun ada perasaan takut dalam hati woo bin ketika dia menghampiri kamar adiknya. Kenapa suara teriakan itu terdengar seperti suara wanita, siapa yang saat ini berada di kamar kim bum dan apa yang sedang dilakukan kim bum pada wanita itu. Jangan – jangan wanita itu adalah – kim so eun.

“yaa.. kim bum apa yang kau lakukan sekarang” cemas woo bin yang saat ini dengan cepat melangkahkan kakinya menaiki tangga untuk menuju ke kamar kim bum.
Pikiran woo bin benar – benar tidak menentu sekarang, pria ini berharap agar adiknya itu tidak melakukan sesuatu yang buruk pada siapapun terutama jika benar dugaan woo bin kalau wanita itu adalah Kim so eun – adik tirinya.

~~~

“yaa… apa yang kau lakukan bodoh…” teriak woo bin ketika berhasil membuka kamar kim bum yang tidak di kunci dan melihat apa yang saat ini akan dilakukan oleh kim bum pada so eun.

Ternyata apa yang tadi sempat dipikirkan oleh woo bin menjadi nyata bahwa kim bum akan melakukan hal yang buruk pada so eun.
Woo bin melangkahkan kakinya untuk mendekati kim bum, dan satu pukulan yang cukup keras diberikannya pada adik kesayangannya itu. Entahlah kenapa woo bin bisa setega itu pada adiknya, tapi yang jelas saat ini woo bin benar – benar marah pada kim bum.

Kim bum benar – benar kesal dengan apa yang diterimanya barusan, ditatapnya dengan tajam orang yang memukulnya tadi. Kim bum sangat kesal saat mengetahui siapa yang memukulnya, tangannya mengepal rahangnya mengeras. Kim bum benar – benar ingin membalas pukulan itu, tapi tentu saja dia tidak bisa melakukannya karena kim bum sangat menghargai orang yang telah memukulnya.

“apa yang mau kau lakukan padanya? cepat katakan.” Bentak woo bin yang tadi memukul kim bum, seakan – akan ingin menelan kim bum hidup – hidup saat ini juga. karena kesalnya.
Woo bin sangat marah sekali dengan apa yang dia lihat. Di tatapnya tajam kim bum seakan – akan meminta penjelasan dengan apa yang akan dilakukan kim bum terhadap so eun.

“kau tuli yaa… cepat jawab aku.” Bentak woo bin lagi, yang kini melayangkan tangannya dan hendak memukul kim bum lagi. namun terhenti ketika mendengar teriakan so eun.

“cukup….” teriak so eun sambil menangis, gadis itu masih sangat terkejut dengan apa yang akan menimpa dirinya. Walaupun pada akhirnya kim bum tidak jadi melakukan perbuatan yang membahayakannya tapi tetap saja tubuhnya masih gemetar dan ketakutan.

“jika kau berusaha melakukannya lagi.. aku tidak akan segan – segan membunuhmu saat ini juga.” Ancam woo bin pada kim bum. Sambil menghampiri so eun yang masih tak bergeming di ranjang kim bum saking kaget dan takutnya akan sikap kim bum yang menakutkan.

Kim bum menatap tajam pada kakaknya yang dengan tiba – tiba datang, masuk kekamarnya dan sekarang memukulnya. Apa kakaknya ini gila, apa kakaknya ini sekarang tidak berada di pihaknya kenapa kakaknya bisa membela gadis murahan itu pikirnya.
Mata tajam kim bum masih mengawasi setiap gerakan woo bin yang membantu so eun untuk bangun dari ranjangnya dan juga membimbing keluar gadis itu tanpa menoleh atau mempedulikan sakit yang dirasakan kim bum saat ini atas pukulannya.

“dia bahkan tidak peduli padaku dan malah membawa pergi gadis itu. Ini benar – benar tidak bisa diterima.” Gumam kim bum lagi dengan kesalnya. Dan berusahan bangkit dari lantai. Berusaha mencari tau apa yang sebenarnya dipikiran kakaknya itu sekarang.

~~~

Woo bin membimbing tubuh so eun menuju kamarnya, gadis itu bahkan tidak menolak ketika woo bin merangkulnya dan masuk kedalam kamarnya. Dan bisa woo bin rasakan bahwa saat ini tubuh so eun sangat bergetar hebat. Tentu saja so eun sangat shock dengan apa yang akan dilakukan oleh kim bum tadi. Pasti gadis itu benar – benar tidak menyangka bahwa kim bum bisa melakukan hal sekeji itu padanya. pasti sekarang so eun berfikir bahwa kim bum sangatlah jahat. Pikir woo bin.

“kuharap kau mau memaafkan kim bum. hari ini dia benar – benar sedang mabuk, aku pikir dia tidak sengaja melakukan sesuatu yang buruk seperti tadi. Ku harap kau tidak membencinya. Jika kau mau marah, marah saja padaku.” Mohon woo bin pada so eun, seakan – akan woo bin benar – benar tidak mau jika so eun membenci kim bum.

So eun tidak menjawabnya, dia hanya memandang mata woo bin. Ada ketulusan di bola mata itu. Apakah yang dikatakan kakak tirinya ini benar adanya. Woo bin meminta maaf pada so eun atas kesalahan kim bum, ini benar – benar tidak masuk akal. Bukankah selama ini woo bin juga sama seperti kim bum. pria ini juga membencinya kan, bahkan selama ini woo bin selalu mengacuhkan so eun atau malah tidak menganggapnya ada. Walaupun tidak begitu terlihat jelas seperti yang dilakukan oleh kim bum. Lalu apa ini.

“aku tau kau tidak akan dengan mudahnya memaafkan kim bum. tapi aku mohon jangan membencinya. Kau tidak tau bahwa sebenarnya dia itu…” ucapan woo bin terhenti, ketika dia menyadari bahwa tidak seharusnya woo bin mengatakan itu. Bagaimana kalau kim bum sampai tau atau so eun yang tau. Tidakkah nanti kim bum bisa marah padanya, atau bahkan woo bin sendirilah yang kehilangan kesempatan.

“terima kasih.” Jawab so eun sambil memeluk erat tubuh woo bin secara tiba – tiba. Tentu saja itu membuat woo bin sedikit tersentak. Wanita ini tidak marah padanya, bahkan kini so eun memeluk woo bin. Ada apa? apa ada yang salah sekarang?

“untuk apa?” pertanyaan ini memang seharusnya tidak diajukan oleh woo bin, karena sudah pasti bahwa so eun berterimakasih karena woo bin telah menyelamatkan gadis itu dari perbuatan membahayakan yang telah di lakukan kim bum pada dirinya. Pikir woo bin.

“terimakasih.. karena akhirnya kau peduli padaku.” Ucap so eun sambil menangis dan semakin mengeratkan pelukannya pada woo bin.
Woo bin membelalakan matanya, tanda dia tidak mengerti dengan ucapan so eun barusan. apa maksud dari ucapan so eun ini. tapi mungkin ini tidak terlalu penting sekarang, menurut woo bin yang terpenting sekarang so eun sudah jauh lebih tenang dan tentu saja woo bin harus melihat keadaan kim bum. sudah bisa woo bin bayangkan bahwa saat ini adiknya itu pasti benar – benar terpukul dengan apa yang dilakukan woo bin padanya tadi.

“istirahatlah… jangan takut lagi.” ucap woo bin sambil melepaskan pelukan so eun padanya dan melangkahkan kakinya pergi keluar kamar so eun dan membiarkan gadis itu masih berdiri di tempatnya.
Sebenarnya ada sedikit perasaan yang menahan woo bin untuk tetap tinggal di kamar itu dan menenangkan hati so eun. tapi tentu saja rasa bersalahnya pada kim bum jauh lebih besar dari pada itu. Woo bin sudah menghianati kim bum bahkan memukulnya tentu saja kim bum akan marah padanya.

~~~

“kau benar – benar penghianat, aku tidak menyangka jika kau akan berubah secepat ini. bagaimana bisa kau memukulku hanya karena gadis murahan seperti dia.” Cerca kim bum pada woo bin yang baru saja keluar dari kamar so eun dan menutup pintunya.

Dilihatnya adiknya itu sudah berdiri tegap menghadapnya, dengan sorot mata tajam dan penuh kemarahan. Bisa dilihat juga oleh kedua mata woo bin bahwa saat ini kedua tangan kim bum mengepal dengan kerasnya, sepertinya kim bum bersiap memukul woo bin sekarang.

“kau marah padaku?… apa kau ingin memukulku sekarang?.. lakukan saja, jika memang itu yang ingin kau lakukan sekarang. Aku tidak akan melawanmu sedikitpun.” Woo bin semakin mendekatkan dirinya pada kim bum. woo bin tau bahwa saat ini tubuh kim bum dikendalikan oleh emosinya. Dan woo bin pun terima jika kim bum memukulnya sampai mati. Mungkin inilah yang pantas didapatkan oleh woo bin karena telah menghianati adik dan ibunya. Lagi pula woo bin sendiri pun sudah teramat lelah jika harus selalu mengalah pada adiknya ini.

“kau bajingan.. kau benar – benar pantas mati. Dasar brengsek..” teriak kim bum sambil mencengkram erat kerah baju kakaknya. Satu tangannya melayang ke udara dan bersiap memukul kakaknya. Tapi pukulan itu tertahan di udara.

Walaupun saat ini tubuh kim bum di penuhi dengan emosi dan kemarahan atas apa yang dilakukan kakanya tadi padanya. tapi tetap saja rasa hormat dan sayang yang dimiliki oleh kim bum pada woo bin sekarang jauh lebih besar dibandingkan dengan rasa marahnya.

“kau selau membuatku seperti anjing yang selalu patuh pada majikannya. Bahkan kemarahanku tidak cukup kuat untuk menandingi rasa sayang dan hormatku padamu. Bagaimana bisa kau menghianatiku dan malah membelanya.” Teriak kim bum pada kakaknya. Hatinya benar – benar sakit sekarang.

“maafkan aku.. maafkan aku kim bum.” jawab woo bin sambil menangis, pria itu bahkan tidak mampu menatap mata kim bum. hatinya sedih, selama ini dia dan kim bum selalu bersama – sama. Jangankan bertengkar seperti sekarang, saling mencubit saja tidak pernah. Mereka selalu melindungi satu sama lain, lalu kenapa bisa woo bin sampai hati memukul kim bum tadi.

“mulai sekarang aku membencimu.. ku anggap kau tidak berdiri sebagai pembelaku lagi sekarang. Kau tidak perlu melindungiku lagi, karena tanpamu aku bisa melindungi ibu dan diriku sendiri.” Tegas kim bum sambil melepaskan cengkraman tangannya pada woo bin dan melangkahkan kakinya menjauhi tubuh sang kakak, menuju kamarnya dan membanting pintu kamarnya dengan cukup keras.

“yaahhh.. apa yang kau katakan barusan. seharusnya kau memukulku sampai mati. Bagaimana bisa kau mengatakan itu padaku… kim bum,, ku mohon jangan membenciku seperti kau membenci ayah. Kumohon buka pintunya.” Teriak woo bin sambil menggedor pintu kamar kim bum dengan keras, berusaha meyakinkan kim bum agar kim bum mau membuka pintu kamarnya dan memaafkannya. Tapi percuma saja, saat ini kim bum benar – benar marah pada woo bin.
Woo bin hanya bisa menangis dan meninggalkan pintu kamar kim bum, untuk menuju kamarnya sendiri. Mungkin saat ini kim bum masih ingin menenangkan dirinya. Pikir woo bin.

~~~

Ternyata di dalam kamarnya so eun juga mendengar semua pertengkaran antara woo bin dan kim bum, ternyata mereka berdua sangatlah dekat. Kim bum benar – benar menghormati kakaknya dan woo bin benar – benar menyayangi adiknya.

Selama ini mereka berdua pasti benar – benar menderita, dan tentu saja penderitaan mereka disebabkan oleh ibu so eun. pantas saja selama ini kim bum membencinya karena begaimanapun memang benar adanya bahwa karena ibu so eun menghancurkan keluarga kim bum. rasa bersalah pada kim bum dan woo bin benar – benar menyerang so eun, gadis itu tak henti – hentinya menangis. Apa yang bisa dilakukannya untuk memperbaiki kesalahan ibunya. Haruskah so eun membawa ibunya pergi dari rumah ini bahkan dari keluarga ini. tapi bagaimana caranya, melawan ibunya saja so eun tidak punya keberanian apalagi membawa ibunya pergi.

“maafkan aku kim bum, maafkan aku kak woo bin, maafkan aku bibi yi hyun. Aku bahkan tidak bisa menasehati ibuku dan membawanya pergi. Maafkan aku karena membuat keluarga ini jadi berantakan seperti sekarang. Maafkan aku.” Gumam so eun sambil menangis tersedu di dalam kamarnya.
Hatinya juga ikut hancur ketika melihat dua kakak beradik itu saling bertengkar, apalagi jika mereka berdua sampai saling bermusuhan ini akan membuat keduanya semakin menderita. Mereka berdua saling bergantung, dan bagaimana keduanya bisa hidup sendiri – sendiri sekarang. Pikir so eun.



Beberapa hari setelah kejadian dimana woo bin memukul kim bum, keduanya benar – benar tidak saling bertegur sapa. Jangankan untuk menyapa atau mengucapkan selamat pagi untuk saling menatap saja tidak. Aura kebencian masih menyelimuti kim bum, sedangkan woo bin, pria itu masih terlihat menyesali perbuatannya karena melakukan perbuatan bodoh yang tidak semestinya dia lakukan.

Pagi ini semuanya berkumpul diruang makan, tidak ada percakapan yang hangat ataupun gelak tawa dari sebuah kumpulan keluarga seperti semestinya. Yang ada hanya keheningan dan kekakuan. Dan itu sangat di rasakan oleh semuanya. Termasuk so eun yang ada didalamnya.

Suara geseran kursi terdengar di ruangan itu, menghidupkan suasana. Dan ketika semua menoleh ke sumber suara, sedikit kaget ketika melihat kim bum hendak beranjak pergi meninggalkan ruang makan itu sebelum Kim jae wook.

“kau mana kemana kim bum?” pertanyaan lembut jae wook langsung tertuju pada putra keduanya itu. Walaupun nada bicara yang keluar dari mulut jae wook terkesan lembut. Tapi jangan lupakan sorot mata tajam yang saat ini ditujukannya pada kim bum.

Seharusnya kim bum masih mengetahui sifat ayahnya selama ini. pria itu bahkan tidak ingin siapapun pergi meninggalkan ruang makan ketika jae wook sendiri belum menyelesaikannya. Tidak peduli itu siapa.

“aku hanya ingin keluar, hari ini kantor libur kan. Tidak bisakah aku bersenang – senang.” Jawab kim bum sedikit menantang. Seharusnya kim bum tidak berbicara seperti itu sekarang tapi kondisi hatinya sedang tidak menentu saat ini, jadi jika ayahnya marahpun dia tidak peduli.

“hehh.. bocah ini. jawabanmu membuat telingaku sedikit sakit mendengarnya.” Timpal jae wook lagi. dan perkataanya bahkan tidak dihiraukan sedikitpun oleh kim bum.
Anak itu masih dengan santainya melangkahkan kakinya untuk pergi keluar rumah, padahal kim bum tau bahwa ayahnya itu pasti sedang marah dengannya.

“jangan berniat melangkahkan kakimu lagi sekarang, satu kali saja kau melangkahn kakimu maka saat itu juga aku akan mematahkan kakimu.” Ancam jae wook pada putranya itu dan sekarang uucapan pria itu sukses membuat putranya diam berdiri di tempat, walaupun dengan perasaan enggan.

“ayah, sudahlah… biarkan saja dia pergi. Jika memang ada pekerjaannya yang belum diselesaikan biar aku saja yang mengurusnya.” Bela woo bin, mencoba mengambil hati ayahnya. melihat suasana yang saat ini sudah terlalu menyeramkan untuknya.

“bicaramu seperti seolah – olah lebih baik kau saja yang harus dibunuh ayah sekarang daripada aku. Kau benar – benar selalu bersikap baik – kim woo bin.” Sindir kim bum sambil membalikan tubuhnya menghadap semua orang yang masih duduk ditempatnya masing –masing.

“sudah – sudah, kenapa kalian jadi bertengkar seperti ini. kim bum cepat kembali ke tempat dudukmu dan jangan berbuat ulah seperti sekarang. Apa kau mau melihat ayahmu marah – marah.” Timpal tae hee, yang mulai tertarik ikut dalam pembicaraan panas ini.

“dasar aneh, siapa yang butuh suaramu disini. Tidak ada yang menginginkan wanita sepertimu ini untuk bicara sekarang. Apa kau tidak malu, bicara seperti itu.” Cela kim bum pada ibu tirinya, dengan senyum meremehkan yang dia lemparkan pada ibu tirinya itu. Dan tentu saja senyuman kim bum itu berhasil menyulut emosi tae hee.

“kau ini. aku bahkan mencoba menasehatimu. Tidak bisakah kau bersikap sopan padaku, aku ini istri dari ayahmu yang tidak lain juga ibumu. Bagaimana bisa kau bersikap tidak sopan seperti itu.” Bentak tae hee dengan kesalnya pada kim bum ketika mendengar celaan yang dilontarkan oleh kim bum barusan untuknya.

Kim bum tidak membela dirinya, dia hanya tersenyum melihat ibu tirinya itu memarahinya. Kim bum puas bisa membuat kim tae hee marah seperti sekarang. Pemandangan inilah yang ingin kim bum lihat, walaupun resikonya, ayah kim bum pasti akan marah padanya.

“kim bum.. berhenti bicara dan cepatlah pergi.” Teriak woo bin yang sedikit kesal dengan ulah kim bum saat ini. kim bum bisa mati jika ayahnya benar – benar marah, seharusnya sedari tadi kim bum sudah meninggalkan tempat ini dan bukannya malah membuat keributan.

“berhenti membelanya lagi. kalaian berdua ikut aku ke ruang kerjaku sekarang. Jangan membuatku menunggu atau aku sendiri yang akan menyeret kalian berdua.” Bentak jae wook kepada kedua putranya itu. Sambil beranjak dari tempat duduknya sekarang dan berjalan melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya. Tentu saja di ikuti oleh woo bin dan kim bum di belakangnya.

Ada gurat kecemasan di wajah kim bum dan woo bin sekarang terutama kim bum. sekeras apapun kim bum tetap saja dia takut pada ayahnya. karena kim bum sudah hafal betul bagaimana sifat dan karakter si ayah jika sedang marah.

Di meja makan so eun memandang kepergian kedua saudara tiri dan juga ayah tirinya yang tengah berjalan menjauhi dirinya dan menuju ruangan kerja jae wook. Tentu saja pikiran so eun juga sama seperti yang lain, takut jika jae wook benar – benar akan memukuli kedua anak kandungnya itu.

~~~

Ayah dan anak itu sekarang sudah berkumpul. Jae wook duduk di sofa yang ada diruangan kerjanya itu sedangkan kim bum dan woo bin berdiri di depannya. Keduanya menundukkan kepalanya tanda dia tidak menginginkan tatapan tajam ayahnya yang ditujukan kepada keduanya.

“aku membawa kalian kesini bukan untuk membahas masalah hari ini. tapi aku ingin kalian berdua mengatakan kebohongan yang kalian sembunyikan padaku selama ini.” perintah jae wook tegas.
Tidak terdengar marah, tapi ketegasan jae wook itu mampu membuat kedua nyali putranya itu menciut seketika. Hanya dengan sekali perintah.
Sedikit menguji kesabaran jae wook memang, karena kedua putranya itu bahkan tidak ada satupun yang berniat menjawab. Entah itu takut atau enggan sekalipun. Tapi saat ini jae wook butuh kejujuran dari keduanya.

“kalian tidak akan mengatakannya padaku?” tanya jae wook lagi, masih dengan nada bicara yang lembut.

“kalian mau mengatakannya atau kalian mau aku menmbeberkannya satu persatu sekarang?” bentak jae wook pada kedua putranya itu.
Kesabaran jae wook benar – benar tengah di uji sekarang. Kedua putranya itu bahkan tidak ada satupun yang menjawab atau mengeluarkan suaranya. Jae wook mendekati kim bum dan menatap tajam putra keduanya itu, tapi yang ditatap malah menundukkan kepalanya.

“yaa… kau mau mengatakannya tidak, selama ini aku bahkan tidak pernah mendidik kalian untuk berbohong. Bagaimana bisa sekarang kalian melakukan ini padaku.” Teriak jae wook sambil melayangkan pukulannya siap untuk memukul kim bum yang ada didepannya. Dan itu sukses membuat kim bum menutup kedua matanya dia tidak ingin melihat ayahnya memukulnya.
Tapi kim bum begitu kaget ketika mendengar suara pukulan dan bersamaan dengan suara tubuh terjatuh ke lantai. Dan yang lebih membuatnya heran, dia tidak merasakan sakit di badannya. Lalu siapa yang telah mendapatkan pukulan dari ayahnya barusan, woo bin kah?

“ayah apa yang kau lakukan?” tanya kim bum kaget, ketika melihat apa yang dilakukan oleh ayahnya itu. Jae wook memukuli woo bin dengan membabi buta. Ayahnya itu bahkan tidak memberikan kesempatan untuk woo bin membalas ataupun menghindar sekalipun.

“kau bahkan yang paling ayah percaya. Bagaimana bisa kau membiarkan kim bum melakukanya. Bagaimana bisa kau selalu melindunginya dan tidak memberitahukan yang dia lakukan selama ini padaku.” Bentak jae wook sambil terus memukuli woo bin tanpa henti, jae wook benar – benar marah ketika mengetahui bahwa selama ini woo bin selau membantu adiknya untuk bertemu ibunya tanpa sepengetahuannya.

“ayah.. apa yang kau lakukan. Aku yang berbuat kesalahan, tapi kenapa kau memukul kakak. berhenti memukulnya ayah.” Teriak kim bum yang tidak terima melihat kakaknya dipukuli oleh sang ayah karena kesalahan yang tidak dilakukan oleh sang kakak.

“ayo.. cepat katakan bagaimana bisa kau menutupinya dariku. Apa sekarang kau mau menjadi pemberontak dan berniat membuat kim bum menjadi sepertimu juga. Bukankah berkali – kali kukatakan jangan pernah menemui ibumu lagi. kenapa kalian berdua tidak pernah mematuhiku.” teriak jae wook lagi, dan masih tetap memukuli woo bin. Jae wook bahkan tidak mempedulikan woo bin yang bahkan tidak bisa bergerak karena pukulannya.

“ayah aku bilang hentikan, jangan pukul kakak lagi. aku yang salah kenapa kau memukulnya, kalau kau mau memukul pukul saja aku jangan kak woo bin.” Bentak kim bum pada ayahnya, dan dengan keras kim bum mendorong tubuh jae wook hingga terpental dari tubuh woo bin.

“kau juga harus dihajar, karena telah melakukan perbuatan yang memalukan pada so eun.” ucap jae wook, dan sudah melayangkan satu pukulan pada kim bum. dan membuat bibir kim bum mengeluarkan darahnya.

“bagaimana ayah bisa tau?” heran kim bum sambil menyentuh bibirnya yang terasa perih.

“selama ini aku tidak pernah sekalipun menegur atau memarahimu walaupun kau mengacau dikantor dan sering tidak hadir dalam rapat pemegang saham. Itu karena aku sangat menyayangimu dan memaklumi kekerasan hatimu yang sama persis denganku. Tapi untuk yang satu ini aku bahkan tidak bisa memaafkanmu.” Ucap jae wook sambil memukul kim bum lagi. dan pukulan tadi sukses membuat tubuh kim bum jatuh tersungkur.

“aku bahkan tidak menyangka jika kau melakukannya kim bum. kau telah membuat kakakmu menanggung semua kesalahanmu. Kau juga telah melibatkan orang yang tidak bersalah ke dalam dendammu padaku. Aku pikir yi hyun pun tidak akan menyukai apa yang telah kau lakukan selama ini.” tutur jae wook sambil kembali duduk di sofanya.
Ada sedikit penyesalan dihati jae wok karena memukul woo bin, tapi dengan begini mungkin woo bin tidak akan membela kim bum lagi dan kim bum pun akan jauh lebih baik dan tidak pernah membohonginya lagi. atau memanfaatkan kakaknya lagi.

~~~

Woo bin keluar dari ruang kerja ayahnya lebih dulu, kemudian di ikuti dengan kim bum di belakangnya. Dengan langkah sempoyongan dan tubuh yang penuh luka bekas pukulan dari ayahnya woo bin pun menaiki tangga menuju kamarnya walaupun berkali – kali dia hampir terjatuh tetap saja dia berusaha untuk bangkit kembali.

Kim bum yang sedari tadi berjalan di belakang kakaknya pun tidak kuasa melihat kakaknya seperti itu. Dengan cepat kim bum membimbing tubuh kakaknya untuk menaiki tangga agar tidak terjatuh. Tapi diluar dugaan kim bum, woo bin menolaknya.

“jangan membantuku, biarkan aku berjalan sendiri. Aku bukan orang lumpuh yang harus meminta bantuan orang lain untuk menaiki tangga ini.” ucap woo bin sambil melepaskan tangan kim bum dari tubuhnya.

“maafkan aku, selama ini aku selalu menyusahkanmu.” Jawab kim bum

“kau tidak perlu minta maaf padaku. Mungkin selama ini aku sudah terlalu sering berdiri di belakangmu dan selalu menjadi sasaran kemarahan ayah. Selama ini ayah selalu memperlakukanmu dengan baik begitu pula dengan ibu.” Ucap woo bin sambil memperhatikan kim bum yang terlihat menyesal.

“aku tidak peduli dulu kau menyukainya dan sekarang kau membencinya, tapi mulai sekarang aku akan mendekatinya. aku sudah lelah mengalah darimu kim bum. aku menyukainya dan mulai sekarang aku akan mendekatinya. aku membenci ibunya dan bukan anaknya. Maafkan aku karena telah menghianatimu.” Jelas woo bin dan pergi meninggalkan kim bum yang terlihat bingung dengan ucapan sang kakak tadi.

Kim bum mulai berfikir sejenak, memang selama ini ayahnya tidak pernah sekalipun memarahinya. Dan memang diakuinya bahwa itu karena usaha kakaknya. Bahkan selama ini memang kim bum selalu mudah jika menemui atau datang kerumah ibunya, dan itu semua berkat bantuan dari woo bin. Kim bum memang sudah terlalu banyak menyusahkan pria itu.

“tidak.. aku membencinya. Baik dulu maupun sekarang. Aku tidak peduli kak woo bin mau mengambilnya atau tidak. aku membencinya dan juga ibunya. Kak woo bin memang bodoh dan pengecut.” Gumam kim bum meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilakukannya selama ini benar dan tidak menyakiti siapa pun termasuk kakaknya itu.

~~~

“bukan aku yang salah, tapi wanita brengsek itu.” Ucap kim bum sambil melangkahkan kakinya keluar rumahnya. Dan siapa sangka jika di luar pintu itu ternyata gadis itu sudah berada disana.

“minggir atau aku akan melakukan sesuatu yang lebih buruk dari pada kemarin.” Bentak kim bum pada gadis yang berdiri dihadapannya itu yang tak lain adalah so eun.

So eun melihat kedua mata kim bum mencoba mencari kebenaran dari semua yang telah terjadi selama ini dan apa yang dia dengar barusan. so eun mendengar semuanya, mendengar apa yang telah dikatakan oleh woo bin pada kim bum.

So eun tidak mau menduga ataupun berharap kalau gadis itu adalah dirinya. Karena bagi so eun itu tidak lah penting. Yang terpenting adalah apa benar kim bum dulu menyukai gadis itu. Karena sebenarnya permasalahan sebenarnya bukan karena dendam tapi karena gadis itu.
“sebenarnya masalahmu ada pada gadis itu kan, kau membenci ayahmu hanya sebagai pelengkap kebencianmu pada gadis itu kan. Sebenarnya apa yang kau harapkan pada gadis itu hingga kau mengorbankan kakak dan juga ayahmu. Aku tau kau membenci ibuku karena telah menggantikan posisi ibumu. Tapi masalah yang sebenarnya ada pada gadis itu kan?”

“plaaakkk…” sebuah tamparan keras di layangkan so eun pada wajah mulus kim bum dan tentu saja kali ini kim bum tidak bisa melawan karena so eun sudah lebih dulu menahan perlawanannya dengan kalimat yang dia lontarkan barusan.
Dan bersamaan dengan tamparan itu, kim bum pun memeluk so eun dengan sangat erat. Bahkan terlihat seperti kim bum tidak akan pernah melepaskan so eun dari pelukannya.

“aku selalu berusaha membencinya apapun yang terjadi. Karena gadis itu memang penyebab semua kemarahanku. Aku bahkan selalu berharap bahwa gadis itu tidak terlahir dari rahim seorang wanita yang telah menghancurkan keluargaku. Aku sangat membencinya dan tidak akan membiarkan kakakku mendapatkannya.” Terang kim bum masih tetap mengeratkan pelukannya pada so eun. benar – benar erat.

So eun menangis, gadis itu benar – benar tidak bisa menahan rasa sedihnya. Kim bum benar – benar membencinya da sepertinya rasa benci itu sangat besar terhadapnya.

Kim bum masih memeluk so eun, pria itu masih enggan melepaskan pelukannya pada so eun. “jangan berfikir untuk mengambil hati kakakku atau aku akan semakin membencimu.” Kalimat kim bum pun terhenti bersamaan dengan gerakan tangannya yang melepas pelukannya dari tubuh so eun.



Hari ini rumah terasa sepi, sebenarnya memang seperti in.i biasanya rumah ini selalu terkesan sepi. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh so eun saat pertama kali datang ke rumah ini sampai dengan saat ini. rumah ini masih tetap sama, pantas saja kim bum selalu kesepian. Jika memikirkan kim bum, so eun jadi ingat kepergian kim bum pagi tadi, kemana anak itu apa dia ke tempat ibunya dan tidak berniat pulang.

So eun keluar dari kamarnya, dengan membawa kotak p3k dan menuju kamar woo bin. Setidaknya dia harus memastikan bahwa kondisi woo bin saat ini baik – baik saja. walaupun kemungkinan hal itu terjadi sangat kecil.

“bolehkah aku masuk kak?” tanya so eun sambil mengetuk pintu kamar woo bin, dan tidak butuh waktu lama so eun menunggu woo bin pun sudah membukakan pintu untuk so eun.
So eun bisa melihat jelas betapa banyaknya luka di wajah woo bin, sangat berbeda dengan kim bum yang terlihat baik – baik saja tadi pagi. Ketika so eun menemuinya.

“masuklah.”

So eun memasuki kamar woo bin, ketika kakak tirinya itu menyuruhnya masuk. So eun segera mengahampiri woo bin dan mencoba menyentuh wajah woo bin. Namun pria itu menghindarinya.

“ada perlu apa?” tanya woo bin dengan nada dingin seperti biasanya, ini sudah biasa menurut so eun.

“aku hanya ingin menebus kesalahan ibuku, bolehkah aku mengobatimu kak?” pinta so eun hati – hati, gadis itu takut dengan rasa percaya dirinya yang tinggi ini akan mendapatkan penolakan dari woo bin. Tentu saja so eun harus siap jika hal itu terjadi.

Woo bin terdiam sejenak mendengar permintaan so eun saat ini, gadis ini sudah mulai berani rupanya. Ini memang bukan salahnya, jadi tidak seharusnya kim bum ataupun woo bin menghakiminya. Semuanya salah ibunya kan, jadi kenapa harus mengikut sertakan so eun dalam masalah yang tidak dilakukannya. Pikir woo bin.

“bukan aku yang harus kau sembuhkan, tapi kim bum. sepertinya dia sangat terluka dengan kejadian hari ini.”

“kim bum…. kakak yang lebih terluka.”

“untuk pertama kalinya, ayah membentak kim bum aku yakin saat ini anak itu pasti terluka.”

“biarkan aku mengobati lukamu dulu, jangan memikirkan kim bum. aku yakin dia akan baik – baik saja.” mohon so eun, seperti yang dikatakan oleh woo bin. Sebenarnya so eun juga sangat khawatir dengan apa yang akan terjadi pada perasaan kim bum. tapi so eun tau bahwa kim bum akan bisa mengendalikan emosi jauh dari yang orang – orang pikirkan so eun tau itu.



Pagi itu sebelum berangkat ke kantor, woo bin dipanggil ayahnya untuk datang ke ruang kerja ayahnya. woo bin masih bingung apa yang akan dikatakan oleh ayahnya. jika masih mengenai masalah kebohongan yang dilakukannya dan juga kim bum bisa mati hari ini karena woo bin benar – benar tidak tau harus bagaimana lagi membela diri di depan ayahnya.

“apa lukamu sudah membaik?” pertanyaan itu keluar dari mulut jae wook ketika dia melihat bahwa woo bin sudah membuka pintu ruang kerjanya dan memasuki ruangan itu.

“ini sudah lebih baik, dari sebelumnya.” jawab woo bin.

“hari ini bawa so eun kekantor, karena mulai hari ini so eun akan bergabung denganmu dan juga kim bum untuk menjalankan kantor cabang, bantu dia.” Perintah jae wook pada putra pertamanya itu.

“ayah,,, tidakkah terlalu cepat untuk membawa so eun ke kantor, so eun masih terlalu muda lagi pula dia wanita tidakkah itu…” kalimat woo bin terpotong

“aku tidak membutuhkan komentarmu, tapi aku memerintahkanmu. Dan satu hal lagi bawa kim bum pulang ke rumah kalau perlu seret dia untuk kembali. Jangan pernah kecewakan aku lagi atau tidak kau akan tau hukuman apa yang akan kuberikan padamu woo bin.”

Ketegasan dan kekuatan jae wook membuat woo bin benar – benar tidak mempunyai keberanian hanya untuk sekedar mengatakan tidak. Jadi lebih baik woo bin membungkukkan badannya dan meninggalkan ruangan ayahnya sebelum kepalanya serasa ingin pecah jika memikirkan masalah keluarganya.

“harusnya kau berada disini kim bum, dan bukannya meninggalkanku dalam situasi seperti ini.” gumam woo bin.

~~~

“ibu… tidak bisakkah kau memberitau paman jae wook agar membatalkan niatnya. Apa ibu tidak lihat bagaimana kemarahan kim bum kemarin, bagaiamana jika kim bum atupun kak woo bin marah jika tau aku akan ikut andil dalam perusahaan.” Gerutu so eun, gadis itu benar – benar kesal dengan pemaksaan ibunya yang menuntutnya untuk menuruti perintah ayah tirinya.

Ini bukan keinginan so eun, gadis itu benar – benar tidak ingin jika sampai kim bum semakin membencinya. Akan jadi apanya jika kim bum tau akan hal ini. apa yang harus gadis itu jelaskan pada kim bum jika pria itu marah lagi padanya. walaupun saat inipun kim bum juga masih marah padanya tapi dengan keadaan seperti ini tentu saja kim bum semakin marah padanya kan.

“berhenti mengeluh… ini semua untuk kepentinganmu juga. Kau pikir kenapa ibu bisa sejauh ini melangkah. Itu semua karena dirimu so eun, tidak bisakah kau mengerti kondisi ibu. Apa kau ingin kembali pada kehidupan kita seperti dulu.” Bentak tae hee pada anak perempuannya itu.

“setidaknya kondisi seperti itu lebih baik dari pada sekarang… setidaknya ibu tidak terlihat seperti wanita perusak rumah tangga orang.” Ucap so eun, dan langsung mendapat tamparan keras dari ibunya.

“kau benar – benar tidak tau caranya berterima kasih, kau kira ibu suka melakukan hal seperti ini. cukup ikuti aturan ibu dan jangan bicara lagi.” perintah tae hee dan langsung pergi meninggalkan so eun yang terlihat terluka.
Tentu saja gadis itu sangat terluka, selama ini ibunya tidak menampar so eun dan hari ini tangan tae hee mendarat tepat di pipi mulus so eun. sebenarnya so eun juga tidak ingin menentang ibunya, tapi memang apa yang dilakukan ibunya ini benar – benar salah kan.

“aku tau ibu juga tidak ingin melakukannya, tapi tidakkah ibu lelah dengan semua ini. aku bahkan sudah benar – benar sangat lelah…. ibu.” Gumam so eun, sambil meneteskan air matanya.

So eun benar – benar ingin seperti dulu, mendapatkan perhatian lebih dari ibunya. Tidak seperti sekarang, ibunya terlalu sibuk memikirkan hal – hal yang dinilai so eun sangat berlebihan. Apalagi sekarang sudah ada so hyun yang juga membutuhkan perhatian ibunya, mengingat ayah tiri so eun yang terkesan keras dalam mendidik anak – anaknya.

“bisakah kehidupanku kembali seperti dulu, dan bisakah aku bersama dengannya lagi. aku lelah dengan semua ini. benar – benar lelah dan teramat lelah.” Batin so eun

~~~

Woo bin yang berniat menghampiri so eun yang ada dikamarnya pun melihat bagaimana so eun masih terduduk lemas di lantai kamarnya, ketika woo bin hendak menuju kamar so eun. pria itu tau bahwa pasti sakit rasanya mendapat pukulan dari orang tua kandungnya sendiri. Karena woo bin pun pernah merasakannya.

“andai saja ibumu tidak melukai hati ibuku mungkin aku akan segera beranjak dari tempatku sekarang dan membantumu berdiri.” Batin woo bin, hati kecil pria itu juga merasakan sakit yang dirasa so eun saat ini. karena dirinya juga pernah mendapatkan pukulan dari ayahnya walaupun berbeda kondisi.

Woo bin berfikir, mungkinkah adiknya itu akan tersenyum puas kala melihat kondisi so eun seperti ini. ataukah kim bum akan sedikit tersentuh dengan penderitaan yang juga dialami so eun sekarang.

“beruntung kim bum tidak melihatmu so eun.. karena mungkin jika kim bum ada disini kau akan semakin terpojokkan.” Ucap woo bin dan pergi berlalu meninggalkan so eun yang masih tetap diam ditempatnya.

~~~~~~~~~~TBC~~~~~~~~~~

Iklan
Komentar
  1. shefty rhieya kyuna bumsso berkata:

    ternyata woo bin oppa…

    wowww apa bumppa suka sma eon? ataukah dulu pernah ada hubungan antara bumsso?? n apakah woo bin suka jg sma eon??? wahhh jdi cinta segitiga nihhhh seru2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s