Secret Love (Part 6)

Posted: 16 Februari 2014 in FF BUMSSO
Tag:

cats

 

Preview part 5

 

So eun dan kim bum masih melakukan hal itu, tapi keduanya seperti merasakan suara. Suara yang aneh, tidak… keduanya saling pandang. Ada orang di depan pintu, kim bum dan so eun merasakan itu, sebentar lagi ada yang akan membuka pintu kamar tersebut.

 

“apa yang harus kita lakukan jika ki bum oppa megetahuinya.” Takut so eun, bagaimana so eun tidak takut jika suaminya akan mengetahui kelakuannya selama ini, selingkuh dengan adik iparnya sendiri.

 

“tenanglah, ki bum hyung tidak akan tau.” Ucap ki bum sambil berusaha secepat mungkin melepaskan tubuhnya dari tubuh so eun dan merapikan bajunya dan juga baju so eun.

Tapi tentu saja apa yang dilakukan kim bum barusan itu bertepatan dengan suara decit pintu yang terbuka. Pintu kamar itu terbuka dan so eun pun sedikit gugup dengan siapa yang sedang berdiri di depan pintu saat ini, begitu pula dengan kim bum tentunya.

 

 

Part 6

 

~~~

 

Dengan langkah yang tertatih – tatih ki bum mencoba untuk berjalan dengan menggunakan kakinya sendiri, walaupun rasa nyeri masih sangat terasa pada persendiannya tapi ki bum masih gigih untuk berusaha. Tangannya sudah hampir sampai pada gagang pintu dan tentu saja hendak memutarnya, jika saja sebuah panggilan dari seorang perawat tidak menggagalkan niatnya sudah pasti pintu yang ada didepannya itu akan terbuka saat ini juga.

 

“ki bum-ssi…”

 

Ki bum menolehkan kepalanya, dan mendapati seorang perawat tengah memperhatikan dirinya. Sepertinya perawat itu sedikit terkejut melihat perkembangan kondisi ki bum.

 

“ki bum-ssi, kau hendak menuju kekamarmu? Dimana so eun-ssi? Rasa heran perawat itu benar – benar tidak terkontrol dan terlalu berani dengan kalimat yang sudah dia lontarkan pada ki bum barusan. Mungkin perawat ini hanya khawatir saja pada ki bum mengingat kondisi pria ini belum sembuh benar dan tanpa pengawasan siapapun pria ini nekad berjalan sendiri untuk menuju kamarnya.

 

“aku hanya ingin memberi kejutan pada istriku, kau tidak perlu khawatir.”

 

Perawat itu menghela nafas lega ketika ki bum menjawab pertanyaannya. Yaa.. semua pria yang bernasip seperti ki bum pun pasti akan mencoba membuat wanitanya bahagia, ketika menyadari bagaimana pengorbanan istrinya selama ini ketika suaminya sedang terbaring di rumah sakit.

 

“anda salah kamar, kamar anda di sebelah sini. Sepertinya so eun-ssi sedang tidak ada didalam…..” ucap sang perawat sambil membuka pintu kamar ki bum yang tepat berada di dirinya saat ini.

 

Derit suara pintu kamar rawat ki bum pun berbunyi kala sang perawat itu membuka pintu tersebut. Dan ada sedikit kekagetan di raut wajah sang perawat ketika mendapati dua orang yang berada di dalamnya. Kim bum dan so eun sedang berada di kamar rawat milik ki bum berdua, sedang berdiri saling berhadapan – apa yang sedang mereka lakukan, kenapa mereka ada di ruangan ini berdua. sedangkan ki bum sedang susah payah berjalan meunuju kesini dengan langkah tertatih – tatih sendirian. Mencurigakan memang. Tapi tentu saja perawat itu tidak akan ambil pusing, toh itu semua bukan urusannya.

 

“ah.. maafkan saya. Saya pikir tidak ada orang di kamar ini.”

 

“tak apa… aku sedang merapikan tempat tidur suamiku, sebentar lagi aku akan membawanya kesini. mungkin terapi yang dilakukannya sudah selesai?” dengan sopan so eun berkata pada sang perawat yang sepertinya merasa tidak enak pada so eun, dengan kelancangannya yang dengan seenaknya dan tanpa permisi membuka pintu ruangan milik ki bum.

 

“sebenarnya.. ki bum-ssi…” perawat itu menghentikan kalimatnya ketika ki bum sudah terlebih dulu masuk kedalam kamar tersebut dan membuat so eun dan juga kim bum kaget.

Tentu saja kedua orang ini ketakutan walaupun tidak terlihat jelas, tapi dalam hati mereka berdua benar – benar merasakan ketakutan yang luar biasa. Apakah mungkin ki bum mengetahui apa yang telah dilakukan keduanyan bagaimana jika memang benar bisa mati mereka. Alasan apa yang akan mereka berdua buat untuk meyakinkan ki bum bahwa semua ini tidak seperti yang dia bayangkan. Walaupun kim bum dan so eun sendiri juga tidak tau, apakah mereka melakukan semua ini dengan hati atau karena kesempatan yang ada.

 

“aku ingin memberimu kejutan… aku tidak ingin selalu menyusahkanmu, jadi aku berusaha untuk berjalan sendiri kesini.”

 

So eun masih terdiam, wanita ini masih terlalu kaget untuk merespon apapun yang telah dilakukan oleh suaminya. Mungkinkah ini saatnya, saatnya untuk melupakan perasaan yang beberapa hari ini muncul didalam hati so eun. Perasaan yang tidak seharusnya so eun rasakan.

 

Yaa.. so eun harus segera sadar. Dia adalah seorang istri dan mana mungkin so eun bisa melakukan affair dengan seorang pria lain. yang terlebih pria itu adalah adik iparnya yang tak lain saudara kandung suaminya. Ini semua harus di hentikan tentu saja.

 

“bagaimana bisa kau melakukan ini oppa? Kau membuatku khawatir.” Gerutu so eun pelan, dan langsung menghambur ke pelukan suaminya. Tentu saja ini semua dilakukan so eun agar ki bum tidak merasa curiga dengan kehadiran kim bum dikamar rawatnya.

 

“kupikir aku akan membuatmu senang, ternyata kau malah khawatir. Maafkan aku sayang, tentu saja aku tidak akan membuatmu khawatir lagi.” Tegas ki bum, sambil membalas pelukan so eun dengan erat. Seakan – akan pria ini menyadari jika sedikit saja ki bum merenggangkan pelukannya maka so eun akan terlepas dan tidak akan kembali lagi padanya.

 

Perawat yang tadi mengantar ki bum menuju ke kamarnya segera pergi meninggalkan sang pasien, sepertinya tugasnya sudah selesai. Ki bum sudah aman sekarang dan perawat itu tentu saja harus melakukan tugasnya yang lain. Lagi pula tentu saja perawat itu tidak ingin mengganggu kenyamanan ki bum dan so eun saat ini.

Tapi jika perawat itu saja mengetahui situasinya saat ini, kenapa kim bum tidak berpikir seperti perawat tadi. Bukankah kim bum harus menyadari keberadaannya sekarang. Apa pria ini harus terus termanggu ditempatnya dan melihat pemandangan yang akan menusuk – nusuk hatinya hingga hancur. Pria ini tidak sadar posisinya atau apa sih, harusnya kim bum segera pergi meninggalkan ruangan ini sekarang.

 

“kau melupakanku hyung..” gumam kim  bum, terdengar memilukan bagi setiap orang yang mendengarnya terlebih bagi kim bum sendiri.

 

“ahhh… adikku, kau ada disini juga rupanya.” Jawab ki bum sedetik kemudian ki bum pun melepaskan pelukannya dari tubuh so eun. Ki bum menatap adiknya sebentar dan kembali menatap ke arah so eun sambil tersenyum dengan lembutnya.

 

“maaf sudah terlalu banyak merepotkanmu kim bum, terlebih aku sedikit mengabaikanmu. Rasanya aku tidak pernah bisa merasakan keadaan sekitar jika disampingku sudah ada istriku tercinta.” Sambung ki bum lagi, tentu saja tanpa mengalihkan pandanganya dari tubuh sang istri yang ada disampingnya.

 

Bagaikan menusuk relung hatinya, kim bum benar – benar tidak kuasa untuk kalimat – kalimat yang akan keluar dari mulut ki bum lagi, sudah cukup. Apa maksud dari ucapan kakaknya ini, bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti ini kepada adiknya sendiri. Apa ki bum tidak tau jika kim bum juga merasakan hal yang sama seperti ki bum.

Tidak… tentu saja tidak tau, jika ki bum tau tentu saja pria itu tidak akan membiarkan kim bum masih berdiri ditempat ini dengan keadaan baik – baik saja. harusnya kim bum sadar akan hal itu.

 

“yaa, aku tau apa yang kau rasakan sekarang hyung. Baiklah kali ini aku tidak akan mengganggumu.” Ucap kim bum, sambil melenggangkan kakinya berjalan menuju pintu kamar rawat kakaknya tersebut.

 

“kim bum-ah…” panggil ki bum, dan sukses menghentikan langkah kaki sang adik yang hampir saja menjangkau pintu kamar yang ada dibelakang tubuh ki bum dan so eun saat ini.

 

Kim bum menghentikan langkahnya, dan membalikkan tubuhnya. Ada sedikit rasa heran di hati kim bum  pada panggilan yang di lontarkan oleh sang kakak. Apa lagi yang akan di lakukan ki bum sekarang, tanya kim bum dalam hatinya.

 

“bisakah kau membawa istriku pulang.” Pinta ki bum sambil tersenyum pada adiknya tersebut.

 

“oppa… apa maksudmu, hari ini aku ingin menemanimu disini. Kenapa kau menyuruhku pulang?” heran so eun, tentu saja wanita itu tidak ingin meninggalkan suaminya. Terlebih jika hari ini so eun pulang ke rumah dengan kim bum, tentu saja itu akan membuat so eun kembali mengingat kebersamaannya dengan pria itu.

 

“biarkan aku menemanimu disini oppa, apa kau..” so eun menghentikan kalimatnya yang bernada rengekkan kala ki bum sudah memberikan sebuah isyarat padanya untuk berhenti berkata, hanya dengan tatapan matanya.

 

“kau lelah sayang, kau butuh istirahat sekarang. Bukankah besok kita bisa bertemu lagi. Kau lupa kalau besok aku sudah bisa keluar dari rumah sakit.”

 

So eun membungkam mulutnya, sepertinya so eun memang benar – benar tidak bisa melawan keinginan ki bum sekarang. Bukankah keinginan ki bum memang tidak pernah bisa so eun tolak selama ini. Dan sekarang tentu saja so eun hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda dia paham dengan perintah suaminya ini.

 

“istirahatlah, jangn menyibukkan diri lagi. Bukankah selama ini kau sudah sangat lelah menungguku.”

 

So eun menatap lembut mata ki bum, memang benar apa yang dikatakan ki bum saat ini. So eun memang sudah teramat lelah dengan penantiannya terhadap kesembuhan ki bum hingga akhirnya suaminya itu bisa kembali bangun dari tidur panjangnya.

 

“baiklah aku pulang.. oppa juga harus istirahat.” Pamit so eun sebelum menyambar tasnya dan melambaikan tangannya pada suaminya. Dan langsung pergi meninggalkan kim bum dan ki bum yang masih berada di kamar rawat. Ki bum memang menyuruh so eun untuk meninggalkan suaminya itu berbicara sebentar dengan adiknya tanpa ada so eun diantaranya, dan tentu saja so eun pun menghargai permintaan suaminya tersebut.

 

~~~

 

So eun menghempaskan tubuhnya di sofa panjang yang sangat nyaman, wanita itu sudah berada dirumahnya dengan selamat, tentu saja wanita itu pulang bersama kim bum. Hari masih siang dan so eun benar – benar merasa bosan sekarang, suaminya sudah sadar dan besok ki bum sudah bisa pulang. So eun sedikit berfikir, kenapa ki bum menyuruhnya pulang dan menolak untuk ditemaninya. Terlebih apa yang tadi dibicarakan oleh ki bum dan juga ki bum, sehingga so eun tidak boleh mendengarnya.

 

“kenapa kau tidak istirahat so eun-ssi?”

 

So eun mendongakkan kepalanya dan mendapati kim bum berdiri dibelakangnya dengan sebuah senyuman yang menghiasi wajah tampannya. Rasa gugup menyelimuti hati so eun saat ini, kala dirinya mengingat kembali kejadian beberapa waktu yang lalu. Terlebih saat ini pria itu terlihat akan menghampiri so eun.

 

“pasti sangat senang sekali.” Ucap kim bum ketika pria itu sudah berhasil mendudukkan dirinya disamping so eun saat ini. Entahlah kenapa sekarang kim bum semakin berani saja, bukankah sebelum ini kim bum tidak seberani sekarang. Lalu apa penyebab kim bum bisa seberani ini mendekati so eun. Sepertinya kim bum masih belum sadar juga akan posisinya sekarang.

 

“aku harus istirahat.” Ucap so eun, sambil beranjak dari tempat duduknya sebelum kim bum menghalangi niatnya. Tapi tentu saja, usaha so eun untuk melarikan diri dari kim bum tidak akan berhasil mengingat betapa gigihnya usaha kim bum sampai sejauh ini. Buktinya saat ini pria itu bisa menahan gerak tubuh so eun hanya dengan genggaman ringan dari kim bum sekarang.

 

“kau mau menghindariku?… atau kau ingin aku yang pergi dari kehidupanmu?” dua pertanyaan yang dilontarkan kim bum tanpa sedikitpun menghadapkan wajahnya pada so eun benar – benar mampu membekukan langkah so eun saat ini.

Astaga.. apa yang harus dijawab oleh so eun sekarang. Selama ini so eun bahkan tidak pernah membayangkan pertanyaan seperti itu dibenaknya, apalagi jika harus memilih ataupun menjawab salah satu dari pertanyaan tersebut, tentu saja so eun tidak bisa. Bukan tidak bisa melainkan so eun masih bingung harus memilih jawaban apa sekarang.

 

“yaa.. so eun-ssi, apa yang sedang kau pikirkan sekarang? Bukankah akan lebih baik jika kita mendekorasi ulang tempat ini supaya saat ki bum hyung besok datang, dia akan merasakan suasana yang baru.” Kim bum pun melangkahkan kakinya menuju tempat penyimpanan sapu lantai ataupun alat – alat kebersihan yang lain. Kim bum merasa dengan dia merubah situasi, itu akan membuat so eun  terlihat bersemangat lagi. Karena kim bum yakin so eun tidak akan baik – baik saja setelah mendengar pertanyaan yang sebelumnya kim bum ajukan beberapa saat yang lalu. Sebenarnya kim bum lebih takut lagi ketika pria itu harus mendengar jawaban dari so eun tentang pertanyaan yang diajukannya tadi. Karena menurut kim bum dua pertanyaan yang diajukannya tadi tidak akan menguntungkan untuk kim bum jika so eun menjawab salah satu atau bahkan keduanya, jadi sudah tentu lebih baik jika kim bum pun tidak mendengar jawabannya.

 

“kau benar – benar ingin membiarkanku melakukannya sendirian, tidakkah kau merasa kasihan padaku jika berpikir seperti itu..” goda kim bum sambil tersenyum manis pada so eun yang masih membatu di tempatnya semula sebelum kim bum meninggalkannya hingga pria itu sudah kembali lagi menghampirinya dengan dua buah sapu lantai yang ada di kedua genggaman tangannya.

 

Entahlah apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh so eun, kim bum juga tidak tau. Tapi sudah tentu pasti, apa yang dipikirkan oleh so eun saat ini menyangkut pertanyaan yang diajukan oleh kim bum tadi.

 

“so eun-ssi… so eun-ssi.” Kim bum berusaha memanggil so eun yang masih terdiam sambil menatap kim bum dengan pandangan yang sulit diartikan. Astaga kenapa wanita ini bisa terlihat mengagumkan seperti ini, bahkan ketika wanita itu hanya sedang berdiri dan menatap kim bum. Setidaknya itulah yang saat ini ada di pikiran kim bum, ketika melihat so eun yang masih membatu di tempatnya.

 

 

“tentu saja aku akan membantumu kim bum-ssi.” Jawab so eun sambil membalas senyuman kim bum, dan mengambil satu sapu lantai yang ada di salah satu genggaman tangan kim bum. Kim bum pun tersenyum memandang setiap gerakan tubuh so eun yang mulai menyapu lantai.

 

“yaa… kenpa sekarang kau tidak melakukan apapun. Cepat selesaikan semuanya agar kita bisa cepat istirahat.” Sentak so eun, dan berhasil membuat kim bum semakin merekahkan senyumannya di iringi dengan pergerakan tubuhnya yang mulai membantu so eun membersihkan dan merapikan rumah tersebut.

 

Keduanya pun semakin terhanyut dalam kesibukan yang diciptakan oleh kim bum dan dikerjakan oleh keduanya. Dari menyapu lantai, mengepel lantai sampai memindahkan lemari, guci – guci dan sofa – sofa. Tidak semua di pindahkan hanya mengganti tata letaknya agar terlihat lebih segar.

Seperti dua sofa panjang yang saling berhadapan saat ini, sofa yang sebelumnya jarang diduduki oleh si pemilik rumah itu akhirnya seperti kembali berfungsi kala kim bum dan so eun sedang memakainya untuk berbaring. Mungkin karena terlalu lelah, jadinya mereka berdua memutuskan untuk beristirahat sejenak di sofa panjang yang menurut keduanya cukup nyaman untuk digunakan berbaring atau sekedar merebahkan tubuh sejenak.

 

Mata ini  terasa sangat lelah hanya untuk sekedar terjaga, bukan hanya mata melainkan hati dan ragaku. Rasanya terlelap memang hal yang sangat indah ketika raga memang sudah teramat lelah, ditemani dengan cahaya senja yang menyilaukan hingga menembus pintu kaca, semilir angin yang masuk melalui jendela yang terbuka lebar ditambah lagi keindahan dan kesempurnaan wajahmu yang ada di hadapanku. Kuharap keindahan wajahmu akan selalu bisa aku nikmati, walau hanya dengan memandangmu seperti ini, tapi aku selalu berharap keajaiban akan segera datang menghampiri kita dan memberitaukan yang sebenarnya. Memaparkan setiap RAHASIA yang telah lama tersembunyi.

 

 

So eun segera merapikan tempat tidur yang selama beberapa tahun ini sudah menemani ki bum terlelap dalam tidur panjangnya. Hari ini suaminya itu sudah di ijinkan meninggalkan rumah sakit oleh dokter. Walaupun segurat kelelahan masih terpasang jelas di raut wajah cantiknya, tapi tetap saja melakukan semuanya sendiri tanpa mau ada yang membantunya termasuk perawat yang seharusnya melakukan kegiatan yang saat ini dikerjakan oleh so eun. Dan ketika semuanya dirasa sudah selesai, so eun pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sakit dan segera menuju ke mobil yang didalamnya sudah ada kim bum dan juga ki bum yang sepertinya sudah lama menunggu kedatangannya.

 

“kenapa kau lama sekali sayang… kau benar – benar membuatku lama menunggu.” Sapa ki bum ketika so eun sudah masuk kedalam mobil dan duduk disamping ki bum.

 

“bukankah sekarang aku sudah berada disini, aku sudah berada disampingmu sekarang.” Jawab so eun sambil tersenyum pada sang suami yang juga tengah tersenyum memandang ke arahnya.

 

Di balik kesenangan yang dirasakan ki bum sekarang yang sudah bisa meninggalkan rumah sakit dan akan menikmati indahnya kebersamaan dengan sang istri, tentu saja akan ada hati yang tersakiti dan sudah bisa kita tau siapa pemilik hati yang tersakiti itu jika bukan adik kandung ki bum sendiri. Tentu saja itu adalah kim bum. Dari balik sorot matanya yang sedari tadi tidak pernah lepas dari sebuah kaca yang ada didepannya itu benar – benar terlihat jelas sorot mata kesedihan, walaupun tidak terlihat jelas tapi sang pemilik mata benar – benar merasakan kesedihan yang benar – benar membuat hatinya terasa tersayat – sayat.

 

Bagaimana tidak akan sedih, jika sedari tadi fokus perhatian pria itu adalah dua  bayangan manusia yang terpantul dari kaca berukuran standar yang ada didepannya. Tentu saja dua bayangan tersebut adalah kakak laki – laki dan juga istrinya yang saat ini sedang duduk dengan santai sambil berpegangan tangan dengan erat di bangku belakang mobil yang tengah dikemudikannya. Jika saat ini kim bum tidak bisa mengendalikan pikirannya dan tidak benar – benar berkonsentrasi dengan menyetirnya sudah tentu kecelakaan akan menimpanya. Jangan salahkan kim bum jika semua itu tiba – tiba saja terjadi, salahkan saja hatinya yang terlalu setia menjaga perasaan terlarang yang dimilikinya ini untuk seorang wanita yang sudah jelas – jelas tidak akan pernah memilihnya.

 

“jika aku bisa membalik keadaan, rasanya aku ingin berganti posisi dengan ki bum hyung sekarang, seperti yang pernah kita lakukan sebelumnya. Setidaknya aku juga ingin merasakan betapa hangatnya sentuhan lembut tangan wanita yang aku cintai.” Batin kim bum dengan perasaan kelu ketika dia harus menghadapi kenyataan yang ada didepannya saat ini.

 

Selain kim bum, ternyata dilema pun dirasakan juga oleh so eun. Gadis itu tidak henti – hentinya menghembuskan nafas berat. Entah sadar atau tidak, sedari tadi so eun selalu mengacuhkan tatapan mata ki bum yang seperti mengawasinya.

Bukannya bermaksud mengacuhkan sang suami, so eun hanya merasa bersalah pada kim bum jika sekarang so eun membalas kemesraan yang diberikan oleh sang suami dengan sentuhan tangannya. Tanpa sengaja so eun mengetahui kegiatan kim bum yang sedari tadi mengawasi setiap pergerakan apapun yang akan dilakukan ki bum dan so eun termasuk ketika saat ini saat ki bum menggenggam erat tangan so eun seakan tidak ingin melepaskannya. So eun tau, kim bum tidak menyukai hal ini. Maka dari itu so eun memilih tidak merespon sang suami, setidaknya untuk sedikit menghargai keadaan kim bum saat ini.

 

“kuharap aku tidak melukai siapapun.. aku tida bisa mengartikan perasaanku akan kehadiranmu dalam hidupku. Dan terlebih aku tidak bisa menghapuskan kehadirannya dalam hidupku, karena kenyataannya dia lah yang saat ini berada disampingku dan bukannya dirimu.” Gumam so eun, sambil menatap deretan bangunan tinggi yang menjulang ke langit dari balik kaca pintu mobilnya.

 

Ki bum masih memperhatikan istrinya yang sedari tadi tidak mengeluarkan suara dan bahkan tidak menatapnya sama sekali. Sepertinya so eun sedang memikirkan sesuatu sehingga sedari tadi wanita itu tidak memperhatikan ki bum. Setidaknya beberapa pertanyaan berputar – putar di pikiran ki bum saat ini mengingat bukan hanya so eun saja yang mengalami keanehan. Ki bum pun segera memperhatikan kim bum yang sedari tadi bahkan tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada adik dan juga istrinya saat ini, kenapa kedua orang ini seakan – akan mengacuhkan ki bum. Tidakkah ki bum sangat berarti untuk sekedar diacuhkan, hei…pria ini baru sadar dari tidur panjangnya kenapa tidak ada yang memberikan penjelasan apapun padanya.

 

“kuharap tidak ada masalah besar sekarang, aku tidak ingin sesuatu terjadi. Adakah sesuatu yang benar – benar tidak aku ketahui saat aku terlelap dalam tidur panjangku? Aku harus segera mencari tau semuanya, aku tidak ingin terlihat seperti orang bodoh sekarang.” Gumam ki bum.

 

~~~

 

Ki bum melangkahkan kakinya menuju pekarangan rumahnya, dan sampailah pria itu di dalam rumahnya yang sudah beberapa tahun dia tinggalkan. Di bantu so eun dan kim bum yang memapah tubuhnya disisi kiri dan kanan akhirnya ki bum pun berhasil berdiri di dalam rumah ini sekarang.

Ki bum mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, semuanya berubah. Ada banyak perubahan yang terjadi pada rumahnya sekarang. Rumah yang pernah ditinggalinya dengan so eun sebelum dia koma. Rumah yang pernah ditinggalinya dengan kim bum dan juga kedua orang tuanya sebelum orang tua ki bum meninggal dan kim bum memilih pergi ke luar negri.

 

Ki bum berjalan menuju dua sofa yang terpasang saling berhadapan, kenapa rasanya aneh ketika melihat benda mati tersebut. Seperti ada sesuatu yang pernah terjadi dengan sofa itu.

 

“aku yang meletakkannya disana. Kau tidak menyukainya?” tanya kim bum, ketika menyadari ki bum menatap kedua sofa yang terletak saling berhadapan tersebut.

 

Ki bum segera mengalihkan pandangannya dan menatap tajam pada si pembuat suara, ada rasa kesal ketika ki bum melemparkan pandangannya pada si obyek pembuat suara. Ada rasa tidak senang ketika ki bum mengetahui bahwa perubahan ini dilakukan oleh kim bum sang adik kandungnya.

 

“aku ingin istirahat… kurasa kau tidak perlu melakukan ini semua, seharunya kau tau bahwa aku tidak pernah menyukai perubahan.” Ki bum segera berjalan meninggalkan kim bum dan so eun yang masih mematung ditempatnya. Nada dingin yang terlontar dari mulut ki bum seperti sebuah pertanda bahwa kehadiran kim bum sekarang sudah benar – benar terancam. Kim bum melupakan sesuatu, bukankah memang sedari dulu ki bum tidak menyukai perubahan. Kim bum ingat akan kata kakaknya kala sebuah perubahan itu akan membuat kenangan indah terkubur selamanya. Apa mungkin kim bum malah sengaja melakukan perubahan ini agar ki bum tidak bisa mengingat kenangan indahnya dengan so eun.

 

So eun mengalihkan pandanganya yang sedari tadi tertuju pada ki bum, menjadi mengarah pada kim bum yang ada disampingnya. So eun sedikit khawatir dengan perasaan kim bum saat ini, pasti rasanya sakit sekali ketika kita mencoba memberi hadiah pada orang terdekat kita dan orang itu malah menolaknya secara mentah – mentah.

 

“aku tidak apa – apa, tidak perlu mencemaskanku. Kenapa kau tidak segera menyusul ki bum hyung, mungkin sekarang dia sedang menunggumu.” Kim bum segera meninggalkan so eun yang terlihat memandanginya dari belakang. Kim bum tau pasti saat ini so eun mengkhawatirkannya, bukanya bermaksud untuk terlalu percaya diri tapi kim bum memang bisa merasakan kekhawatiran wanita itu dari sorot matanya yang memandang kim bum.

 

Mau berbohong seperti apapun kim bum sudah pasti terluka dengan sikap yang ditunjukkan sang kakak barusan, tentu saja kakaknya tidak akan suka dengan ide kim bum yang merubah dekorasi rumah. Kenapa kim bum tidak mengingatnya dari awal bahwa sang kakak memang tidak pernah suka dengan perubahan sejak dari dulu. Betapa bodohnya kim bum ini.

 

Kim bum memasuki kamarnya, rasa hatinya benar – benar sakit selain sakit karena perilaku sang kakak tentu saja rasa sakit ini semakin bertambah ketika kim bum memikirkan apa yang saat ini tengah dilakukan oleh sang kakak dan juga istrinya didalam kamarnya. Gambaran – gambarang hal – hal yang pernah dilakukannya pada so eun seperti kembali menyeruak ke dalam ingatanya. Tentu saja kim bum tidak akan pernah melupakan setiap sentuhannya pada tubuh so eun.

 

“bagaimana bisa aku melupakannya, jika dengan mengingat betapa indah dan cantiknya bayangannya selalu membuatku buta akan keadaan disekitar” gumam kim bum. Pria itu meneteskan air mata, rasanya sakit sekali ketika membayangkan orang yang dicintainya akan bercinta dengan orang lain selain dirinya walaupun itu adalah kakak kandung kim bum sendiri yang ternyata adalah suami sah so eun. Rasanya kim bum benar – benar bisa gila saat ini juga.

 

~~~

 

Malam sudah larut sebuah lampu temaram menghiasi sebuah kamar yang lumayan besar. Kamar yang beberapa tahun ini hanya dihuni oleh satu orang kini nampak ada dua kehidupan yang menempati kamar tersebut. Tempat tidur yang biasanya terasa sangat luas untuk so eun mendadak menjadi sempit menurut so eun.

 

Malam sudah hampir larut tidak membuat mata so eun begitu mudahnya terpejam padahal tubuhnya sudah berbaring di tempat tidurnya yang bisa dibilang sangat nyaman. Jika biasanya so eun tidak bisa tidur karena tidak ada sosok ki bum disampingnya kali ini rasanya so eun tidak akan bisa tidur karena ada sang suami disampingnya. Terdengar aneh memang ketika dibayangkan, tapi itulah kenyataannya sekarang. Tentu saja sulit untuk dipercaya.

 

Entah kenapa hal ini bisa terjadi, sejak kedatangan ki bum kembali ke rumah itu membuat so eun merasakan ketidaknyamanan. Padahal kesembuhan ki bum adalah hal yang sangat dinantinya, sebelum munculnya kim bum dalam kehidupannya. Akan tetapi kenapa sekarang so eun tidak lagi merindukan dekapan hangat dari suaminya seperti yang sebelumnya dia inginkan.

 

Bahkan sekarang posisi tidur so eun membelakangi sang suami seperti tidak ingin melihat wajah sang suami. Dan saat ini ketika so eun bisa merasakan sentuhan lembut dari tangan besar milik ki bum so eun seperti ingin menghindarinya. “kumohon jangan sekarang.” Batin so eun, sambil memejamkan kedua matanya dengan sangat rapat. Seperti menahan setiap penolakan yang mungkin bisa secara tiba – tiba dilakukannya.

 

Ki bum semakin merapatkan tubuh besarnya pada tubuh ramping milik so eun, pria itu masih setia membelai lengan mulus milik so eun yang telanjang karena sang pemilik hanya mengenakan gaun tidur tanpa lengan. Ki bum bisa merasakan betapa wangi dan segarnya aroma tubuh so eun yang benar – benar sangat dirindukannya. Ki bum menghembuskan nafasnya pada perpotongan leher so eun, dan tangan pria itu semakin merambat ke area – area sensitif so eun. Ki bum mencium daun telinga so eun sedikit menjilatnya sekedar ingin mencoba merangsang so eun, dan ingin mengetahui bagaimana respon sang istri. Tapi masih tidak ada respon positif dari sang istri sehingga membuat ki bum sedikit merasa kesal.

 

Hingga telapak tengan ki bum segera menyusup kedalam selimut yang digunakan so eun sekarang, dan mencoba meraba dua bukit kembar yang menempel didada sang istri. Ukuran yang lumayan besar dan kenyal membuat ki bum semakin tidak sabar untuk meremasnya. Namun harapan ki bum itu mejadi sia – sia kala sang istri segera bangun dari tidurnya dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya. “ak-aku… a-aku ti-tidur di-dikamar lain saja.” ucap so eun sambil terbata – bata, dan segera beranjak dari tempat tidurnya yang meninggalkan ki bum dengan wajah bingung. Ada apa dengan so eun, kenapa wanita itu menolak sentuhan ki bum. Apa so eun tidak merindukan sentuhan ki bum, yang selama ini tidak pernah sekalipun wanita itu dapat dari ki bum maupun pria lain.. atau mungkinkah so eun pernah melakukan hal itu dengan pria lain – pikir ki bum.

 

~~~

 

So eun menyandarkan kepalanya di senderan tempat tidur yang berbeda kamar dengan kamar ki bum, sebelumnya kamar ini memang tidak pernah di tempati. Dan hari ini so eun memakai kamar itu untuk menghindari ki bum. Bagaimana bisa so eun menghindari suaminya dan menolak setiap sentuhan yang di berikan oleh sang suami, bukankah ini aneh. Tidak seharusnya so eun menolak sentuhan ki bum.

 

“maafkan aku..hiks.. maafkan aku.. hiks…hiks…” suara sesegukan yang diciptakan so eun saat ini benar – benar membuat hatinya sendiri terluka. Berkali – kali so eun membungkam mulutnya agar suara tangisnya tidak pecah dan tidak mengundang siapapun untuk menghampirinya.

 

Kebimbangan melanda hati so eun saat ini, wanita itu benar – benar tidak bisa mengontrol emosinya. Sebenarnya apa yang di inginkan oleh hatinya sendiri, so eun pun tidak tau. Kesembuhan ki bum yang selama ini di tunggu – tunggunya ternyata tidak membawa keceriaan seperti yang wanita itu idam – idamkan selama ini. Kim bum, pria itu yang menyebabkan so eun seperti ini sekarang. Jika saat itu kim bum tidak kembali kesini dan mengganggu kehidupan so eun dan ki bum sudah pasti semuanya tidak akan serumit ini.

 

Astaga… bagaimana bisa so eun menyalahkan kim bum sekarang. “tidak… ini semua salahku.. salahku.” Gumam so eun sambil memukul – mukul kepalanya. Yaa.. memang tidak seharusnya so eun menyalahkan kim bum atau ki bum sekalipun. Karena semua kesalahan ini semua ada pada diri so eun sendiri, jika saja so eun bisa menjaga dan mengendalikan dirinya dengan kehadiran kim bum tentu semuanya tidak akan serumit ini.

 

 

Hari ini kim bum diminta menemani sang kakak untuk pergi jalan – jalan, entah kenapa rasanya enggan sekali bagi kim bum untuk mengikuti perintah sang kakak. Tapi mau bagaimanapun juga tetap saja kim bum tidak pernah bisa menolak perintah sang kakak, kim bum terlalu menghormati ki bum. Jadi setiap perintah sang kakak tentu saja akan dia lakukan. Misalnya seperti saat ini, pria itu tengah menunggu sang kakak yang sedang berada di salon, untuk merapikan rambutnya. Kim bum memang tidak berniat menemani ki bum masuk ke dalam, jadi pria itu hanya bisa menunggu kakaknya didalam mobil saja sambil mendengarkan musik yang sejak tadi menemaninya dalam kebosanan

 

“bagaimana penampilan baruku? Apa ini cocok dengan gayaku?” tanya ki bum yang kini sudah masuk kedalam mobil.

 

Kim bum memperhatikan penampilan baru kakaknya dan ada sedikit rasa heran yang terselip di balik senyum manisnya. Ada yang aneh, pikir kim bum. Kim bum masih setia menatap penampilan baru sang kakak. Ingin rasanya kim bum bertanya pada ki bum kenapa pria ini mengikuti model rambut dan juga style kim bum. Bukankah selama ini ki bum tidak ingin jika mereka menggunakan style yang sama, baik itu dari segi penampilan rambut maupun pakaian. Tapi kenapa sekarang kakaknya, mengikuti gayanya?

 

“gaya yang seperti ini, yang sedang populer sekarang kan kim bum-ah?” tanya ki bum sambil memasangkan sabuk pengaman pada tubuhnya.

 

“sudah terlalu lama aku tertidur sampai tidak mempedulikan penampilanku lagi, kupikir dengan gaya seperti ini so eun akan semakin mencintaiku.” Ki bum seperti meyakinkan dirinya dalam setiap perkataan yang baru saja dilontarkan. Dan tentu saja pernyataan ki bum tersebut mampu membuat kim bum sedikit merespon perkataan ki bum.

 

“tanpa merubah penampilanmu, so eun-ssi akan tetap mencintaimu hyung.. jadi kau tidak perlu repot – repot untuk merubah penampilanmu, sehingga itu akan membuatmu menjadi seperti orang lain.” Dengan tatapan mata masih lurus kedepan, bisa ditebak bahwa saat ini pasti hati kim bum sangat sakit sekali dengan setiap pernyataan sang kakak. Haruskah kim bum melanjutkan keinginannya untuk mempertahankan cintanya, atau kim bum memang harus mengalah lagi demi kebahagiaan sang kakak. Tidakkah itu menyakitkan untuk kim bum.

 

“seharusnya aku memang tidak perlu repot – repot merubah penampilanku. Tapi kurasa ada sesuatu yang membuatku terpaksa melakukannya, ada sesuatu yang ingin kubuktikan. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh kim so eun dan aku ingin mengetahuinya.” Jelas ki bum sambil melemparkan senyum penuh artinya pada sang adik yang masih konsentrasi pada kemudinya.

Walau tidak merespon dengan suara, ki bum tetap yakin bahwa sang adik selalu merespon setiap detail kata demi kata yang baru saja ki bum lontarkan. Terbukti dari raut muka kim bum yang bisa di lihat oleh ki bum saat ini. Kim bum terlihat begitu khawatir, walau tidak terlalu terlihat tapi ki bum tetap saja menyadarinya. Tidak ingatkah bahwa mereka itu kembar, jadi setiap perubahan pada yang lain. Tentu saja akan terlihat oleh yang satunya.

 

“hari ini aku ingin menunjukkan suatu tempat untukmu, kuharap kau menyukainya.”

 

Kali ini kim bum memalingkan wajahnya pada sang kakak, sesaat kemudian kim bum fokus pada kemudi mobilnya. “kita mau kemana?” rasa penasaran merasuki hati kim bum saat ini. Ada perasaan khawatir menyelinap kedalam hatinya. Rasanya setiap pernyataan yang ki bum lontarkan mampu membuat kim bum ingin segera menutup mata dan telinganya. Tidak ingin mendengar setiap pernyataan yang keluar dari mulut sang kakak, ataupun melihat senyum ki bum sekalian. Kim bum terlalu takut melakukan itu semua.

 

“sebentar lagi kau juga akan tau.” Jawab ki bum santai, sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobil yang terasa nyaman untuk pria itu.

 

~~~

 

Tidak butuh waktu lama untuk kim bum dan ki bum sampai ketempat tujuan mereka. dan saat ini kedua pria tampan yang terlihat serupa itu sedang berdiri disebuah pintu bercat putih. Ki bum sedikit kesusahan ketika pria itu harus sedikit berjongkok ketika dirinya hendak membuka pintu tersebut.

 

“aku menggunakan tanggal lahir kita, kuharap kau menyukainya.” Kata ki bum pada kim bum yang masih setia berdiri ditempatnya. Kim bum masih bingung dengan apa yang dilakukan oleh ki bum saat ini, untuk apa kakaknya itu membawanya kesini – pikir kim bum.

 

“yaa.. kau tidak ingin masuk dan melihat – lihat keadaan didalam?” tanya ki bum, sambil melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang terlihat seperti apartement itu. Kim bum pun segera mengikuti langkah kaki sang kakak dari belakang, tidak berniat bertanya apapun cukup dengan menunggu penjelasan dari sang kakak saja.

 

Ki bum mengedarkan pandangannya ke sekitar, begitu juga kim bum rasanya tempat ini sudah lama tidak dihuni dilihat dari barang – barangnya yang tertutup oleh kain putih, memang sudah lama sekali apartemant ini tidak di kunjungi oleh sang pemilik.

 

“ini adalah apartemant so eun.. keadaannya masih sangat baik dari terakhir kali aku melihatnya. Sepertinya istriku benar – benar tidak pernah mengunjunginya lagi. Mungkin dia terlalu sibuk mengurusiku dirumah sakit, sehingga apartemant ini sedikit terabaikan.” Tutur ki bum sambil menghentikan aktifitasnya untuk membuka setiap kain yang menutupi semua perabotan yang ada diapartemant itu.

 

Kim bum masih setia menyimak setiap penjelasan dari sang kakak, masih belum tertarik dengan topik pembicaraan yang diberikan sang kakak. Yaa.. mungkin saat ini ki bum ingin mengenang kembali masa lalunya dengan so eun, atau mungkin pria itu ingin pamer pada kim bum tentang kesetiaan sang istri. Ahh.. kim bum tidak ingin memikirkan hal seperti itu sekarang.

 

“yaa.. kim bum-ah. Tidakkah kau ingat pada wanita itu?” tanya ki bum tiba – tiba, ada rasa penasarang dihati kim bum. Wanita? Wanita yang mana, yang saat ini dimaksud oleh ki bum. Seingat kim bum selama ini baik dirinya ataupun sang kakak tidak pernah ada yang dekat dengan wanita lain selain so eun. Apa mungkin maksud ki bum sekarang adalah so eun?

 

Melihat ekspresi bingung kim bum saat ini, ki bum pun sedikit melebarkan senyumannya. “sepertinya kau benar – benar tidak mengingatnya. Wanita yang kau tolong ketika di gunung itu, bukankah kau pernah menceritakannya padaku.” Jelas ki bum sambil merangkul bahu kim bum.

 

Deggg… jantung kim bum seperti tertusuk – tusuk oleh ribuan jarum. Wanita yang ditolong kim bum, apa – apaan maksud ki bum saat ini. Wanita yang diceritakan kim bum pada sang kakak itu adalah wanita yang tidak seharusnya disinggung oleh ki bum saat ini. Apa yang sebenarnya dikatakan oleh ki bum sekarang. Apa ki bum sudah mengetahui bahwa wanita itu adalah istri ki bum – so eun.

 

“ada apa dengan wajahmu, kenapa kau terlihat panik seperti itu… yaa, tenang saja. aku tidak akan pernah mengambil wanita yang kau sukai itu.”

 

Apa lagi ini, bahkan kim bum benar – benar dibuat membisu akan semua kalimat yang keluar dari mulut sang kakak. Apa maksudnya dengan tidak merebut sedangkan saat ini wanita itu sudah menjadi istri sah dari ki bum. Ki bum ini gila atau apa – pikir kim bum.

 

“namanya Im yoona, wanita itu menjadi sekertaris dikantorku. Wanita itu bilang dia menyukaiku karena terkesan dengan kebaikanku yang menolongnya ketika dia tergelincir di gunung. Dia juga terkesan ketika aku membantu mengikatkan tali sepatunya.” Jelas ki bum memulai ceritanya dengan semangat.

 

Ada sedikit kerutan di dahi kim bum kala saat ini dirinya tengah menerka – nerka apa yang dimaksud dari kalimat sang kakak. Tergelincir di gunung, mengikat tali sepatu. Ki bum ke gunung menolong wanita. Sebenarnya siapa yang ditolong ki bum – im yoona, siapa lagi wanita itu. Kenapa ki bum begitu antusias sekali menceritakan ini semua pada kim bum. Apa sebegitu pentingnya bagi ki bum menceritakan ini semua pada kim bum.

 

“ahhh… aku melupakan sesuatu. Seharusnya aku meralatnya, bukankah yang menolong wanita itu kau kim bum dan bukan aku. Kau benar – benar tidak ingat? seharusnya memang dari ceritamu kisah ini terdengar berbeda. Tapi dari penuturan yang diberikan oleh wanita itu padaku memang begitulah yang aku dengar, hingga wanita itu menyatakan perasaannya padaku. Sepertinya wanita itu benar – benar terpikat padamu sejak pertama kali melihatmu.”

 

Astaga… kim bum semakin tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh ki bum sekarang. “yaa.. berhentilah berbicara yang bukan – bukan.” Kesal kim bum

 

“dari cerita yang pernah kau beritaukan padaku, bukankah kau menolong cinta pertamamu ketika wanita itu pingsan di jembatan yang ada digunung. Dan bukankah wanita itu tidak sempat melihat wajahmu. Lalu bagaimana bisa dia mengenalmu dan mendatangiku?” heran ki bum, sambil menatap tajam kim bum mencoba mencari kepastian akan cerita kim bum yang pernah diceritakan kim bum pada ki bum dulu, mengenai cinta pertama kim bum.

 

Kini, kim bum menyadari satu hal. Kim bum ingat siapa wanita yang diceritakan oleh ki bum saat ini. Yaa, im yoona adalah wanita yang ditanyakan oleh so eun tempo hari di rumah sakit. Wanita yang dicurigai so eun sebagai mantan kekasih suaminya. Pantas saja saat itu kim bum merasa tidak asing dengan wanita tersebut, jadi wanita itu adalah wanita yang ditolong kim bum ketika kim bum menggantikan ki bum yang harus pergi ke gunung.

 

Jadi wanita yang dimaksud ki bum sedari tadi adalah wanita yang ditolong kim bum ketika wanita itu tergelincir di gunung beberapa tahun lalu, ketika kim bum harus menggantikan ki bum untuk mendaki ke gunung bersama rombongan teman – teman kampusnya. Rasa takut yang menjalar di hati kim bum sedari tadi luntur seketika. Kim bum benar – benar takut jika sang kakak tau bahwa wanita yang diceritakan oleh kim bum dulu adalah so eun dan bukannya si wanita yang menyatakan perasaannya pada sang kakak. Memang kejadiannya terjadi dihari dan tempat yang sama, tapi wanita yang dimaksud ki bum sekarang berbeda dengan ceritakan kim bum pada ki bum.

 

“aku bahkan sudah melupakan hal itu.” Jawab kim bum, dengan malas. Dari kalimat tersebut juga terdengar ada nada kelegaan yang menyelimuti kim bum saat ini.

 

“seharusnya kita tidak melakukan permainan itu dulu… bukankah permainan itu adalah permainan kita semasa kita masih kecil. Seharusnya aku tidak menyuruhmu menggantikan posisiku kala itu. Dengan begitu kau pun tidak akan pernah melupakan cinta pertamamu.” Ada rasa penyesalan di hati ki bum kala mengatakan kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya tersebut.

 

“kau melepaskan tali sepatumu.” Ucap kim bum, sambil berjongkok dan membenarkan tali sepatu sang kakak. Rasa sedih kembali melanda hatinya kala mendengar kalimat yang diberikan sang kakak. Kim bum tidak pernah menyesal telah menggantikan sang kakak dulu, karena dengan seperti itu kim bum bisa bertemu dengan cinta pertamanya. Tapi ada sesuatu yang benar – benar membuat kim bum kesal, kenapa kim bum begitu bodohnya tidak mengakui perasaanya pada wanita itu dulu. Dan tetap membiarkan sang wanita yang dicintainya menjadi milik sang kakak.

 

Dengan kejadian seperti yang dialami im yoona, bukankah berarti bisa saja so eun juga melakukan kesalahan dalam mengenali orang yang menolongnya. Bukankah seharusnya kenyataan ini kim bum juga sudah mengetahuinya. Lalu kenapa waktu itu kim bum diam saja, dan tidak memberitaukannya pada so eun siapa dirinya dan bagaimana kondisinya.

 

“berhenti membahasnya hyung-ah.. bukankah kejadian itu lama sekali. Sebaiknya kita pulang saja, bukankah kau harus banyak istirahat agar kondisimu kembali pulih.”  Bentak kim bum sambil berdiri dari posisinya karena mulai kesal dengan arah pembicaraan sang kakak. Selain itu kim bum juga sudah tidak kuasa jika harus mengenang kenangannya dengan so eun. Itu terlalu menyakitkan untuk kim bum.

 

“aku tidak ingin kau kembali kerumah itu…” tegas ki bum, sambil menatap tajam kim bum

 

“apa maksudmu?” heran kim bum

 

“aku tidak ingin kehadiranmu dirumah itu menggangguku dengan so eun. Maafkan aku adikku, kuharap kau bisa memahami keadaanku sekarang. Untuk saat ini aku benar – benar hanya ingin berdua saja dengan istriku. Dengan kehadiranmu di rumah itu kau akan membuat so eun tidak merasa nyaman.” Jelas ki bum dengan ketegasan.

 

Bagaikan dihantam ribuan batu, kim bum pun rasanya tak kuasa lagi untuk berpijak di bumi. Jadi  niat sang kakak membawanya ketempat ini untuk mengusirnya. Untuk memisahkan diri dengannya. Terlebih ingin membuat kim bum tidak lagi berada disekitar sang kakak atau so eun. Hanya karena alasan ketidaknyamanan ki bum tega mengusir sang adik dan menyuruh kim bum tinggal di apartemant milik so eun. Benar – benar menyedihkan sekali kim bum ini.

 

“kuharap kau bisa mengerti.” Putus ki bum, dan pria itu dengan segera melangkahkan kakinya meninggalkan apertemant tersebut dan juga kim bum yang masih diam membeku.

 

“kau benar – benar melakukan semuanya semaumu… bukankah rumah itu juga rumahku, bagaimana bisa kau mengusirku?” nada dingin keluar dari mulut kim bum, kala sebentar lagi pijakan kaki ki bum akan sampai di ambang pintu apartemant ini.

 

Ki bum membalikkan badannya, tersungging sebuah senyuman tipis yang tidak bisa diartikan apa maksudnya. “aku tidak akan lagi mempercayaimu…” kata ki bum, sambil melangkahkan kakinya mantap keluar apartemant. Tidak mempedulikan bagaimana keadaan sang adik yang ditinggalkannya. Hanya dengan cara seperti ini ki bum bisa bahagia, rasa egois kembali menguasai hatinya. Walaupun ini menyakitkan bagi hatinya karena sudah dengan teganya menyakiti hati sang adik tapi tetap saja, ki bum tidak akan membiarkan siapapun mengambil sesuatu yang berharga darinya. Walaupun itu adalah kandungnya sendiri.

 

~~~

 

Sepeninggalnya ki bum, tubuh kim bum pun seakan – akan tidak bertulang hingga pria dengan tubuh tinggi tegap itu seketika ambruk terduduk kelantai. Perasaan takut dan khawatir menggelayuti hati dan pikirannya. Apa sebenarnya rencana yang ingin dilakukan sang kakak. Lalu apa benar jika ki bum mengetahui apa yang selama ini disembunyikan oleh kim bum.

 

“aarrrrgggghhhhh…….” sekuat tenaga kim bum berteriak. Rasanya, dadanya sudah hampir ingin meledak hanya karena memikirkan semua ini. Kenapa terasa rumit sekali untuk kim bum menggapai cintanya. Apa dengan seperti ini, harapan untuk kim bum menggapai so eun sudah benar – benar tidak ada lagi.

 

“tidak bisakah aku mendapatkan kebahagiaanku…. hanya satu yang aku inginkan, tidak bisakah kau mengabulkannya tuhan….” teriak kim bum lagi, suaranya terdengar parau di selingi isak tangisnya. Kim bum menangis… kembali.

 

Kim bum hanya ingin mempertahankan cintanya.. rahasia cintanya yang selama ini terpendam. Walaupun cinta tulus yang dimilikinya ini adalah cinta terlarang. Tapi kim bum benar – benar ingin mempertahankannya sampai pria itu tidak sanggup lagi, untuk mempertahankannya lagi.

Kim bum juga ingin merasakan indahnya memiliki rasa cinta, bukankah selama ini kim bum tidak pernah merasakannya. Baik itu dari kedua orang tuanya dulu maupun wanita yang dicintainya sekarang. Dan semua itu terjadi karena adanya saudara kembar kim bum yang selalu menyita perhatian orang – orang hanya untuk dirinya sendiri, dan membuat kim bum terabaikan.

 

“kau brengsek ki bum… kau brengsseekkkkk…” teriak kim bum, rasanya hatinya benar – benar ingin membenci ki bum untuk saat ini. Bagaimanapun juga, penderitaan kim bum ini tidak akan pernah terjadi  jika ki bum dan kim bum tidak kembar. Kim bum akan mendapatkan kasih sayang semua orang jika ki bum tidak menjadi saudara kembar kim bum. Tapi bagaimanapun usahanya, kim bum memang akan selalu kalah dari ki bum. Itu sudah menjadi hukum alam sejak mereka masih kecil, tentu saja semuanya masih berlaku sampai sekarang. Buktinya hari ini, kim bum di usir dari rumah orang tuanya dan kim bum tidak bisa melawannya.

 

Mungkin ini semua akan menjadi takdir hidup kim bum, selalu menjadi yang nomor dua. Menjadi yang terabaikan dan tidak terlihat, tidak pernah ada sedikitpun kebahagiaan yang bisa menghampirinya. Tidak pernah… mungkin tidak akan pernah terjadi walau hanya dalam mimpipun mungkin kim bum tidak akan merasakannya.

 

~~~TBC~~~

 

Untuk para reader yang masih setia menunggu kelanjutanya cerita fanfic ini aku ucapkan terimakasih. Kuharap para reader tidak akan pernah bosan dengan semua tulisanku walaupun aku selalu terlambat untuk memposting setiap kelanjutan cerita dari semua fanfic yang ada disini. Biasa kesibukan yang memaksaku mengabaikan semua fanfic ini. Sebenarnya tidak bermaksud untuk mengabaikan, hanya saja tidak ada waktu untuk mempostingnya.

 

Sekali lagi aku jelaskan pada semua reader yang sudah setia membaca fanfic ini. Fanfic ini memang aku buat karena terinspirasi dari film korea yang judul dan juga sebagian isi ceritanya sama dengan fanfic ini. Tapi akan ada perubahan di pertengahan dan ending cerita. Bukannya ingin menjiplak hanya saja aku memang menyukai cerita dari film tersebut. Jadi buat yang tidak suka dengan fanficku ini lebih baik jangan membacanya karena mungkin itu akan lebih baik dari pada harus memberikan komentar – komentar yang tidak menyenangkan, mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dengan kalimat – kalimat saya. Tidak bermaksud menyinggung hanya ingin mengeluarkan keluhan saja.

 

Dan untuk reader yang minta password untuk fanfic yang diprotect, kalian bisa minta langsung saja melalui akun facebook atau twitter dan e-mailku bukankah di WP ini sudah dicantuman dengan jelas. Dan setiap judul fanfic yang diprotect pasti aku sertakan nama akun FB aku. Saya selalu mengusahakan memberikan password itu pada semua reader. Baik itu GOOD reader ataupun BAD reader. Sekian untuk curahan hatiku mohon jangan tersinggung dengan setiap kalimat yang aku tulis, karena aku hanya ingin dihargai saja dari setiap tulisan yang aku posting disini. TERIMAKASIH.

Iklan
Komentar
  1. sepertinya so eun sudah mulai ada rasa dgn kim bum 😉
    aigoo kok ki bum gitu bnget sich sama kim bum 😦
    dia tega mengusir kim bum dari rumah milik mereka sendiri 😦
    kasihan uri bumppa 😦

  2. nur aini berkata:

    Makin keren dan makin menarik

  3. fania putri berkata:

    makin kesini ini crita makin menarik hati qw
    kasian bngt sich ma bumpa slma ini dia bnyak mengalah pada ki bum
    tp mang bumpa salah memanfaatkan situasi yg ada saat ki bum koma dia malah selingkuh dngan sso
    tp gk tega juga bumpa sengaja d usir dngn terang2n gt ma kakak x

  4. shefty rhieya berkata:

    ehhhhh part ini bikin keselllll…. ternyata kibum egois bgttttt, bumppa sabar ya..

  5. lisye berkata:

    mangki seru ceritanya kasian bum d usir kakaknya sabar bum sso juga mencitai bum .
    klo sso tau gimanaya ?…….
    kibum ko kejam yg sama adiknya sendiri .

  6. ana berkata:

    Ki bum kayaknya udh curigaaa… dua2 nya egois.. jd kasian ma so eun eunnie ..so eun jg jujur sama perasaannya k siapa.. k ki bum jg perhatian tp mau diajak sama kim bum oppa.. penasaran bagaimana akhir kisah mereka… kpn kim bum kembali bertemu so eun

  7. citra berkata:

    Ki bum jadi kaka ko egois banget dan bumppa selalu mengalah dr mereka kecill. Kasiann semua kasih sayang ortu dan wania yg d cintainya semuaa tercurah ke kibum.. Udh kembar mencintai wanita yg sama lagi.. Ki bum tuhh yoonna setia menunggu balasan cintamuu sana sma yoona aja hihihihi biar bumsso bisa bersatu dan bahagiaaaa 🙂

  8. riznha berkata:

    wah aq bru bca part 6,soalny bru tw..ah ap kibum udah tw ya lw bumsso ad ap2ny.
    ksian ya kimbum,dy kan cma mw mmperthnkan cintanya..sabar bumpa wk

  9. elsyahadu berkata:

    percintaan yg rumit…
    Berarti kibum ga bakal ngelepasin sso ..

  10. syahira az-zahra berkata:

    sedih bnget liat kimbum oppa 😥

  11. ainami berkata:

    aduh tambah nyesek, ki bum curigation sepertinya nih..

    sbnrnya ki bum koma berapa lama sih, dia ma sso udh sempet melakukan itu blom sblmnya hehe kepo abisan dr kata2 ki bum kok kayaknya blom pernah..
    *masih bnyk yg blank krn part 5 nya aku blom baca* haha

    walo kembar, sampe saat ini aku ga bisa bayangin ki bum berwajah kim bum wkwkwk

    dan sbg pecinta bumsso, perasaanku kacau…
    disatu sisi tentu seneng ama scene bumsso tp disisi lain kok kyknya jahat secara sso udh merit…

  12. vanqueen berkata:

    aihh kasihan kimbum.. kibum ko tega ya.. saying sekali sso blum tahu hal ini
    gmna ya reaksinya klo tw???
    chingu mnta PW part 5 nya donkk
    gomawo

  13. Jd kim bum prnh nlong 2 gdis tp ke.2nya jg nyngka klau yg nlongin mreka itu ki bum. Kim bum ksihan bngt slalu d nmor 2 kan stlah hyungnya

  14. […] Secret Love (Part 6) […]

  15. yulie_bumsso berkata:

    eoonie..eoonieeeee skaa bggettt dahh crtaa..miriss g mnaa gtuu..tpii skaa crtaa ksah bum bnar2 mnydihkan sllu jdi no 2 dan sllu mnglah dngan ki bum hyung n..ksiann oppaaa..so eun jgaa psrtii skaa bgge sma kimbum bkan ki bum tega bgett psahin kimbum n sihh ki bum omooo oppaa itu dia adikmu tak sdarkah kamuu itu saudramuu..omooo krna rsa cmburu yg bsar kimbum d usirr..dan smgaa kbhgiaan akan mliputii kimbum kmbliii..prsatukan bumsso gak tga liat oppa yg gak bhgiaaa dan sllu mndritaaa..hemm..lnjutt..eooie ya fightingg..yuly sllu mnunggu ff drimuu..

  16. SaRy ajow berkata:

    waaa mreka lakuin itu yow??wkwkwkk assiiikk..
    minta pewe yg part 5 dong..loncat2 AQ dritd bacanya haahaha..
    kereeennn sso gak mau di pegang ki bum,,
    kasian si kim bum..next yaa

  17. Soeun berkata:

    Kasihan kim bum … Dia slalu jdi no 2 T_T smoga jalan kim bum dlm mempertahankan cinta nya pd Sso berakhir bahagia… Ditunggu part selanjutnya eon …keep writing !

  18. rere303 berkata:

    omo yg kok kibum sama kimbum malah bertengkar ??
    yahh , bumsso harus bersatu 😀

    ditunggu next chap

  19. Aqhuccilemod berkata:

    Next mian bru coment…. Lanjutt saya suka crta nya

  20. RANI berkata:

    kenapa ki bum kejam banget sih ke kim bum dia itu nggak pernah ngalah ke kim bum, padahal ya so eun itu udah nggak mencintai dia lagi tapi mencintai kim bum
    Semoga aja ada keadilan diantara semua itu

    Next part jangan lama-lama ya…….

  21. Makin penasaran ternyata ki bum egois sekali
    Kasihan kimbum, apa soeun sudah mulai cinta 🙂
    Jangan pisahkan bumsso ya thor
    Jgn lama2 part selanjutnya ya thor 🙂
    Jangan lama2 bikin penasaran nya

  22. nita berkata:

    part nie bkn nyesek, kshn sm bumppa sllu hrs mnglh, agk ksl jg sm kibum oppa d sni dia egois gk mkrn prsaan bumppa.
    sso jg jd srba slh. d tnggu next part ny y chingu. 🙂

  23. nhaeyorieE berkata:

    arggghh..untung mreka nggak ktauan..hampir aja??knapa kibum hrus sdar sih..aduch thor critanya bkin aqu gemess bcanya tpi jga bkin pnasaran sma klanjutannya,,aplagi kibum kyaknya udah mulai criga nih sma kimbum dan so eun..achhh palli..palli next partnya.

  24. lina muchlisiana berkata:

    Bagus bgt penasaran ma kisah selanjutnya.lanjutkat eon

  25. arcel wulan berkata:

    mdhan2 happy ending bumsso…

    Gomawo dn d tggu.

  26. umi_ali berkata:

    Huehehehe
    Bagaimana ini, harusnya sso jujur pada hatinya
    Kasian mbum, kira2 sso setelah ngak da mbum makin hampa atau perlahan balik lagi ke ki bum
    Penasarn deh ama kelanjutannya

  27. pratiwidita90 berkata:

    kim bum oppa mulai skrng kau hrus blajar untuk mnerima smuanya, apapun yg trjadi, aku tetap mndukngmu bersama dengan sso eonni. sbnarnya msih gk ngerti maksudnya ki bum oppa wktu ngajak kim bum oppa ke apartemennya sso eonni itu…
    eonni aku tunggu loh next partnya, kajja Fighting!!!!! 🙂

  28. nenkfa berkata:

    Reblogged this on nenkfa.

  29. senrumi berkata:

    Knp jadi seperti ini
    ki bum malah menambah masalah

  30. sungyong berkata:

    kasian kim bum oppa,,,pokok dy hrus sma sso meskipun dy menghianati kakak’y

  31. ria berkata:

    aku suka bgt ma ff ini. .
    ciah bumpa dh ngelakuin itu k so eonni 🙂 good job oppa . .
    lumayan kesel sm karakter kibum oppa yg egois . jd kasian jg ma bumpa yg selalu jd byang2 kibum.
    next part y thor smoga kejelasan hub bumsso terungkap 🙂
    aku tngu bgt post ff mu yg lain y jg

  32. pipip berkata:

    Waaa akirnya ff yg dtnggu2 kluar jg
    Bkin tegang awalnya dikiraiin kibum bneran bkalan mergokin bumsso trnyta enggk
    Kibum sbnernya udh tsu smuanya apa blm?
    Sbnernya masi bngung dgn cerita ttg yoona itu
    Kibum bner2 egois ya ksian kimbum gk kbyang perasaan kimbum gmna
    Mkin seru ceritanya dtnggu deh eon next partnya akn sllu setia menunggu kke

  33. iin.beomsso berkata:

    Cerita’a makin seru dan bikin geregetan…..
    kayak’a so eun dilema nih, dia bingung harus memilih siapa? suami nya atau adik ipar nya..
    Huwaa kim bum kasian banget, dia harus mengalah terus sama kibum….
    Dan kibum jg seenak nya aja ngusir kim bum.. bener” keterlaluan banget kibum.. egois gak ngertiin perasaan adik’a sendiri…
    Ditunggu next part’a.. fighting ^_^

  34. Nitha Chan berkata:

    akhirnya di post juga makain keren.. sso mulai bingung dengan perasaannya… tapi sepertinya ki bum oppa sudah tau dch hubungan sso ma bumppa… trz tega mengusir bumpa dari rumah huaaa.. penasaran

  35. nuribumsso berkata:

    huaaaaa makin ke sini ceritanya bkin gregetan..
    si sso dilema nih.. antara suami ataukah bumppa… aigoo seandainya si bumppa nyatain perasaanx ke sso.. pasti beda crita 🙂
    bru tw loq ternyata slama ini loq bumppa terabaikan krna adanya kibum.. 😦
    sumpah si kibum tega bener ya… seenggakx pake basa basi kek buat nyuruh bum tinggal di apartement.. tp ni lngsung ngusir gitu aja. .. ckckck kasian bumppa.. ;(
    next partx ditnggu ya.. fighting ^^

  36. sintiabumsso berkata:

    omoooooo eon apakah yg ditolong bum itu 2 wanita? yg satu di gunung yg satu di jmbatan? saat nolong 2 gadis itu bum sedang mnggantikan ki bum naik gunung? kyaaaaaa gmb ini knp kim bum ga prnh dptin kbhagiaannya, knp hrs selalu ki bum knp dia egois kim bum bisakah kamu jg egois dgn keinginanmu? hoaaa sso pst rasain yg kimbum rasain jgkan huhuhu lanjutkan eonnbb^^

  37. newranattybumsso berkata:

    Makin rumit..ribet..
    Ki Bum sinis ma Kim Bum..
    Dan masa’ iyah sih,, Yoona gadis itu…
    Dan Sso akan kan kembali ke Ki Bum atau membelok ke pelukkan Bum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s