Hate Or love (Part 4)

Posted: 27 April 2014 in FF BUMSSO
Tag:

cats

Part 4

 

 

So eun bergegas keluar dari kamarnya, tidak menghiraukan kalimat – kalimat yang telah dilontarkan oleh mulut sang ibu. So eun benar – benar tidak ingin terlibat dalam urusan ataupun rencana yang telah disusun oleh ibunya, itu mungkin akan semakin memperburuk keadaan – fikir So eun.

 

So eun segera masuk kedalam mobil yang akan mengantarkannya ke kantor, hari ini So eun tidak berangkat bersama Woo bin, entahlah apa penyebab kakak tirinya itu harus berangkat terlebih dahulu dan tidak menunggu So eun seperti biasa, karena yang So eun tau, saat ini dirinya akan di antarkan oleh sopir pribadi keluarga untuk sampai ke kantor.

 

Sedari tadi senyum cantik So eun benar – benar tidak bisa lepas dari wajahnya, pipinya benar – benar merona. Tidak tau apa alasannya sehingga saat ini So eun benar – benar merasa bahagia. Tapi tentu saja, ini semua ada hubungannya dengan kakak tirinya. So eun merasa hubungannya dengan Woo bin sudah sedikit membaik, walaupun terkadang pria itu masih sedikit bersikap dingin padanya, tapi setidaknya Woo bin sudah mulai memperhatikan dirinya. Dan yang terpenting beberapa kali Woo bin selalu membela dirinya dari ancaman Kim bum. Akan kah hubungan mereka akan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

 

Hanya butuh beberapa menit untuk So eun sampai di kantornya, setelah turun dari mobil dan mengucapkan terimakasih pada sang sopir So eun pun segera memasuki gedung bertingkat itu dengan senyum yang masih terukir jelas di ujung bibirnya.

 

~~~

 

So eun melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya, bukan hanya ruang kerjanya saja sebenarnya, melainkan ruang kerja Kim bum juga. Tidak seperti hari – hari sebelumnya, sekarang So eun sedikit memiliki keberanian untuk menghadapi Kim bum. Walaupun hanya sedikit, tapi setidaknya tubuh So eun tidak akan gemetaran lagi jika Kim bum secara tiba – tiba muncul dihadapannya. Dan ketika So eun sudah membuka ruangan kerjanya, wanita itu bisa sedikit bernafas lebih lega karena Kim bum belum datang.

 

“Kak Woo bin..” pikir So eun, entah dapat kekuatan dari mana wanita itu sehingga sampai terlintas di dalam pikirannya sebuah nama. Nama kakak tirinya, sepertinya So eun sudah gila, untuk apa So eun memikirkan pria itu. Mau cari masalah lagi wanita ini.

 

So eun segera bergegas menuju ruangan Woo bin, masih belum terpikirkan oleh So eun jawaban apa yang akan dikeluarkannya jika nanti Woo bin akan bertanya perihal maksud dari kedatangannya ke ruangan Woo bin. Yang pasti saat ini So eun benar – benar ingin menemui Woo bin, sekedar untuk mengucapkan selamat pagi mungkin atau apalah itu.

 

“Terbuka… kenapa tidak tertutup, apa tidak ada….” kalimat pelan So eun menggantung, ketika tangannya menyentuh gagang pintu ruangan milik Woo bin, pintu yang sedari tadi sedikit terbuka itu bisa memberikan kesempatan untuk So eun melihat dengan jelas apa yang saat ini tengah dilakukan oleh kedua orang yang ada didalamnya.

 

“Ada apa ini… kenapa aku harus melihatnya.” Gumam So eun sambil menutup pintu yang sedari tadi sedikit terbuka. Tangan wanita itu seperti tidak bisa lepas dari gagang pintu tersebut, bibirnya bergetar hebat, dan tanpa disadarinya air matanya terjun bebas dari mata indahnya. Apa – apaan ini kenapa harus keluar sekarang.

 

“Dasar.. wanita murahan.”

 

Wanita itu segera melepaskan tangannya dari gagang pintu yang sedari tadi dipegangnya, kakinya reflek mundur kebelakang. Badannya kelu, seperti tidak bisa bergerak. Ditambah lagi suara yang baru saja didengarnya menambah kelumpuhan saraf – sarafnya secacara tiba – tiba. Wanita itu tau betul siapa pemilik suara tersebut.

 

“Kau benar – benar tampak seperti wanita murahan dan menyedihkan.”

 

Kim bum.. saat ini tengah berdiri di belakang So eun, pria itu menyandarkan tubuhnya pada tembok dan melipat kedua tangannya di depan dada. Untung saat ini tidak ada para karyawannya yang mondar – mandir. Kalau saja ada, benar – benar keterlaluan sekali Kim bum sampai mengeluarkan kata – kata kasar seperti itu pada wanita yang sekarang telah sah menjadi saudari tirinya.

 

“Bagaimana bisa seorang wanita terhormat sepertimu tengah tertangkap basah mengintip kesenangan orang lain, benar – benar keahlian yang luar biasa. Ini sangat menarik.”

 

So eun masih tidak bergeming, jangankan untuk menyahuti kalimat – kalimat tersebut. Memandang ke arah orang yang mengucapkannya saja rasanya tidak punya keberanian. Kenapa So eun harus dalam posisi seperti ini, ini benar – benar memalukan. Pasti Kim bum akan semakin mencerca dan memojokannya jika seperti ini.

 

“Sepertinya kau tidak menyukai pertunjukan di dalam… bukankah seharusnya kau senang, karena ternyata saudara tirimu bisa memiliki kekasih yang baik. Setidaknya kak Se young jauh lebih terhormat dari pada kau.”

 

Kim bum benar – benar semakin memojokan So eun dengan kalimat – kalimatnya barusan. Sebenarnya apa yang di inginkan oleh pria ini. Apa Kim bum benar – benar sangat senang jika melihat So eun terluka seperti ini. Seharusnya Kim bum memberikan belas kasihan pada So eun walau hanya sedikit, bukankah dari awal kim bum mengetahui bagaimana perasaan So eun pada Woo bin. Kim bum ini benar – benar mengerikan menurut So eun.

 

So eun bahkan sudah tidak kuasa lagi mendengar semua cercaan dari Kim bum, sepertinya jalan satu – satunya untuk menghentikan ocehan Kim bum sekarang hanya satu yaitu meninggalkan pria itu dan menenangkan dirinya. Jika memang So eun pintar seharusnya So eun harus cepat – cepat melakukannya.

 

“Kenapa terburu – buru… bukankah kau belum selesai melihatnya. Apa kau tidak ingin melihat apa yang akan mereka lakukan selanjutnya… sepertinya ini akan menjadi tontonan yang menarik, aku juga penasaran dengan permainan kakakku. Apakah dia bisa lebih lembut jika bermain dengan kak Se young..” goda Kim bum sambi menarik lengan So eun, sebelum wanita itu ingin pergi meninggalkannya.

 

“Lepaskan tanganku…” pinta So eun, wanita itu masih bersikap santai menghadapi Kim bum mengingat saat ini keduanya sedang berada di area kantor. Jika terlihat oleh karyawan yang lain, saat ini mereka sedang adu mulut bisa jadi bahan gosip seluruh kantor kejadian ini. Tentu saja So eun tidak mau itu terjadi.

 

“Bukankah kau mau melihatnya, ayo aku temani kau masuk ke dalam. Atau mungkin kau juga ingin bergabung dengan mereka.. sepertinya kakakku benar – benar akan kewalahan menghadapi dua wanita sekaligus,,”

 

“Cukupp… tidak bisakah kau berhenti menghinaku. Sampai kapan kau akan membenciku, selama ini aku selalu mencoba bersikap baik padamu. Kenapa kau seperti ini.”

 

Kim bum menyeringai mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh saudara tirinya ini. Bagaimanapun usaha So eun untuk bersikap baik pada Kim bum, tentu saja semua itu masih kalah dengan perasaan benci di diri Kim bum akan diri So eun dan juga ibunya.

 

“Biarkan aku pergi… lepaskan aku, aku ingin pergi dari sini.”

 

Kim bum masih tersenyum penuh arti ketika mendengar So eun memohon pada dirinya. Rasanya Kim bum merasa sedikit terhibur dengan keadaan seperti ini. Sepertinya Kim bum mulai memikirkan sesuatu. Terlintas sedikit permainan kotor yang ingin dilakukan Kim bum dengan saudari tirinya ini. Kira – kira apa ya yang menarik – fikir Kim bum.

 

Kim bum segera menarik lengan So eun dengan paksa dan membawa wanita itu keluar dari kantornya. Kim bum bahkan tidak peduli dengan pandangan karyawan – karyawannya yang menatap keduanya dengan sorot mata keheranan. Itu tidak akan membuat Kim bum menghentikan niatnya untuk membawa so eun pergi, lagi pula saat ini dirinya tidak ada kesibukan apapun. jadi dia bisa bebas pergi kemanapun yang dia inginkan. Dan lagi masalah So eun, bukankah sekarang wanita ini adalah sekertarisnya jadi tentu saja Kim bum bisa bebas membawanya kemana saja ketika masih jam kerja.

 

“Yaa… apa yang akan kau lakukan, aku tidak mau ikut denganmu.” Teriak So eun ketika Kim bum dengan paksa memasukan So eun kedalam mobil pria itu dan juga memasangkan sabuk pengaman untuk So eun.

Kim bum tidak mempedulikan teriakan So eun, yang dia lakukan sekarang adalah memutari mobilnya dan langsung masuk kedalam mobil tersebut untuk melajukannya ketempat yang dia inginkan. Bersama So eun tentunya.

 

~~~

 

So eun dan Kim bum sudah sampai di depan pintu sebuah apartemant, sedari tadi So eun terus berontak ketika Kim bum masih setia memegangi lengannya. Sepertinya Kim bum benar – benar tidak ingin melepaskan saudara tirinya ini barang sedetik pun. Apa yang sebenarnya diinginkan Kim bum dari So eun sekarang.

 

“Masuklah.” Perintah Kim bum dengan nada membentak, ketika pintu aparteman tersebut sudah sukses terbuka. Bersamaan dengan lepasnya pegangan tangannya yang sedari tadi mencengkram lengan So eun.

Tidak ada respon dari orang yang disuruhnya, sepertinya So eun ingin menguji kesabarannya sekarang. Apa So eun masih belum hafal juga dengan karakter Kim bum. Bukankah So eun tau bahwa Kim bum tidak suka penolakan.

 

“Aku bilang masuk sekarang.. kau tuli yaa..” teriak Kim bum, dan sukses membuat So eun masuk ke dalam apartemant yang So eun rasa itu pasti milik Kim bum.

Dengan langkah kaki gemetaran so eun pun melangkahkan kakinya memasuki apartemant tersebut diikuti dengan derap langkah kaki Kim bum yang mengikutinya dari belakang dan langsung mengunci pintu apartemantnya itu ketika keduanya sudah masuk kedalamnya.

 

“Gadis murahan sepertimu, pastinya tidak asing kan dengan kondisi seperti ini.” Ucap Kim bum sambil berjalan mendahului So eun untuk lebih masuk ke dalam apartemannya. Dan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa yang sepertinya sangat nyaman ketika melihat Kim bum duduk disana.

 

“Kau benar – benar gila.” Ucap so eun, sambil memutar tubuhnya menuju kearah pintu dan mencoba memutar handle pintu tersebut. Tapi usaha So eun ini benar – benar sia – sia, karena pintu apartement Kim bum ini dilengkapi dengan passkey, jadi jika So eun ingin keluar pastinya So eun harus tau kata sandi yang sudah dipasang Kim bum untuk bisa membuka pintu tersebut.

 

“Kau mau kemana?…. apa kau tidak mau mencoba apa yang tadi kakakku lakukan bersama dengan wanitanya. Kau tidak ingin mencobanya bersamaku… hari ini aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya bermain dengan gadis murahan yang mengaku menjadi wanita baik – baik seperti dirimu.”

 

“Sebenarnya apa yang kau inginkan sekarang, aku ingin pergi. Cepat buka pintunya atau aku akan teriak sekarang juga…” ancam So eun, sepertinya usahanya ini benar – benar dianggap lelucon oleh Kim bum mengingat pria di depannya ini tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya duduk, dan malah menampakkan senyuman mengerikan.

 

“Bagaimana kalau kita mulai sekarang saja, atau kau ingin bermain – main dulu sebelum melakukan permainan inti kita.” Goda Kim bum sambil tersenyum penuh arti pada So eun.

Astaga apa pikiran Kim bum selalu seperti ini jika menyangkut dengan So eun, apa Kim bum benar – benar menganggap So eun seperti wanita – wanita yang sering diajaknya bermain. Jika memang iya, keterlaluan sekali Kim bum ini.

 

So eun semakin memundurkan tubuhnya kala melihat Kim bum beranjak dari tempat duduknya dan melepaskan kemeja yang sedari tadi membalut badannya. Dan tidak lupa pria itu juga menanggalkan kaos dalam yang melapisi tubuhnya. Dan saat ini So eun pun bisa melihat tubuh atas Kim bum yang polos tanpa ditutupi oleh pakaian lagi.

 

So eun memalingkan pandangannya dari tubuh kim bum dan semakin memundurkan tubuhnya hingga membentur dinding aparteman kim bum. Tentu saja ini tidak akan menjadi hal yang baik mengingat kondisinya sudah sampai sejauh ini. Kim bum pasti akan melakukan hal – hal yang tidak akan menyenangkan. Jika saja saat ini So eun bisa keluar, itu pasti akan membantunya untuk lepas dan menghindari Kim bum. Tapi bagaimana caranya untuk So eun keluar sedangkan So eun sendiri tidak mengetahui kata sandi yang terpasang pada pintu apartement ini. Habislah So eun sekarang, setidaknya itulah yang ada dipikiran So eun saat ini.

 

So eun menutup kedua matanya ketika menyadari tubuh Kim bum sudah berada di depannya dan memenjerakan dirinya dengan kedua tangan pria tersebut yang bertumpu di dinding. Hembusan nafas berat dengan aroma tubuh maskulin yang menyeruak membuat So eun begitu gugup dan gemetaran, jangankan untuk bergerak, bernafas saja rasanya susah. Hingga sampai saat ini pun gadis itu bahkan masih belum berani membuka matanya.

 

“Kau menyedihkan… Kim so eun.” Gumam Kim bum, sambil membelai wajah So eun dengan jemari – jemarinya yang nampak berisi. Kim bum bahkan tidak mengalihkan pandangannya pada sesosok gadis yang saat ini mungkin sangat membenci dirinya. Atau mungkin lebih tepatnya gadis itu takut pada Kim bum.

 

Degup jantung So eun benar – benar bergemuruh kala mendapati sebuah sentuhan lembut di wajahnya. Tentu saja So eun masih belum berani bergerak, gadis itu masih ingin menunggu apa lagi yang akan dialaminya setelah ini. So eun masih harus bertahan dalam kediamannya jika memang Kim bum masih bersikap normal, kecuali jika Kim bum melakukan hal – hal yang membuat So eun terancam baru gadis itu akan melawan sebisanya.

 

Sebuah sapuan lembut dan basah terasa menggetarkan dibibir lembut milik So eun saat ini, sehingga mau tidak mau gadis itu harus membuka matanya. Astaga… kim bum melakukan hal ini lagi, walaupun kali ini lebih lembut tetap saja ciuman yang diberikan oleh Kim bum ini terkesan memaksa dan menuntut. Bahkan kim bum tidak membiarkan So eun bernafas atau hanya sekedar menggeser posisinya. Kim bum begitu kuat mencengkram tubuh So eun sehingga membuat gadis itu benar – benar dilanda ketakutan yang luar biasa.

 

Kim bum sedikit mengendurkan pegangannya dari tubuh so eun, dan tanpa pria itu sangka sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulusnya. Akibat dari tamparan keras dari tangan kecil yang saat ini gemetaran itu membuat wajah Kim bum sedikit berpaling. Rasa panas menjalar diseluruh wajahnya terlebih pada titik pusat sasaran tamparan, dan tanpa Kim bum duga sebuah darah kental mengalir di sudut bibirnya.

 

“Kau, beraninya menamparku…” desis Kim bum sambil menatap tajam kearah wanita yang saat ini berada didepannya. Tatapan tajam penuh amarah itu benar – benar sangat menakutkan. Kim bum masih tidak habis pikir bagaimana bisa So eun dengan beraninya menampar pria tersebut.

 

“A-aku.. ti-tidak b-ber-maksud me-melakukan-nya.” Jawab So eun dengan suara bergetar. Rasa takut menyelimuti hatinya, karena sudah pasti apa yang terjadi selanjutnya benar – benar akan membuatnya terancam. Tentu saja Kim bum tidak akan memaafkan So eun begitu saja.

 

“Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Sampai kapan kau akan menyakiti perasaanku? Bukankah kau sendiri sudah tau apa alasan aku melakukan ini semua kepadamu. Lalu kenapa kau selalu menghantui pikiranku… katakan apa yang harus kulakukan padamu sekarang…” sebuah ungkapan kekesalan dari Kim bum dan juga pertanyaan yang selama ini dipendamnya keluar begitu saja dari mulut Kim bum, tanpa bergeming sedikitpun.

 

So eun tak kuasa menahan isak tangisnya, walaupun selama ini dirinya sudah tau apa penyebab sikap dingin dan angkuh Kim bum terhadapanya tetap saja So eun tidak pernah begitu yakin hingga akhirnya dia bisa mendengar pengakuan dari mulut Kim bum sendiri.

 

“Aku… tidak bisa, benar – benar tidak bisa.” Jawab So eun dengan masih terisak

 

Mendengar jawaban yang keluar dari mulut So eun tentu saja membuat Kim bum semakin kesal. Bagaimanapun Kim bum memang harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa saat ini kim bum memang membenci So eun terlebih ibu dari wanita tersebut, jadi bagaimanapun caranya Kim bum memang harus menghancurkan So eun. Itulah tujuan utama Kim bum selama ini.

 

“Sampai kapan kau akan menguji kesabaranku? Baiklah, aku benar – benar akan menunjukkan betapa bencinya aku padamu.” Teriak Kim bum, dan kali ini pria itu benar – benar seperti ingin menelan So eun hidup – hidup dan saat itu juga.

 

Dengan sangat kasar Kim bum segera menarik tangan So eun agar wanita itu bisa mendekat pada Kim bum. Dan dengan sekali tarikan dari kedua tangannya, pria itu bisa melepaskan blazer yang saat ini dikenakan So eun dan melemparnya entah kemana. “Apa yang mau kau lakukan?” teriak So eun yang semakin ketakutan dengan apa yang akan dilakukan Kim bum. Jika kemarin Woo bin bisa menyelamatkannya sudah pasti saat ini tidak akan ada satu orang pun yang akan bisa menyelamatkan So eun. Mengingat tempat ini adalah daerah kekuasaan Kim bum, jika sudah seperti ini apa yang akan terjadi pada diri wanita malang itu.

 

Kim bum kembali menarik tubuh So eun, dan melemparkan wanita tersebut ke atas tempat tidur yang ada dikamarnya setelah sebelumnya pria tersebut menyeret tubuh So eun dengan kasar ke kamarnya.

 

“Kau terlalu berisik.. aku muak mendengar suaramu.” Cerca kim bum sambil mendekati tubuh So eun yang masih terbaring di tempat tidur milik Kim bum. Sebuah seringaian terpampang jelas diwajah Kim bum kala mendapati raut muka ketakutan wanita itu ketika melihat Kim bum.

 

“Berhenti.. aku bilang berhenti.” Jerit So eun ketika, melihat pergerakan Kim bum yang tentu saja akan membahaykan dirinya.

 

Bukannya berhenti, Kim bum bahkan semakin mendekatkan dirinya pada wanita yang benar – benar dibencinya itu. Kim bum menaikkan tubuhnya di atas tempat tidurnya tempat dimana saat ini tubuh So eun benar – benar sangat gemetar karena menahan rasa takut dan juga tangisnya. So eun berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya, jika saat ini So eun menangis sudah pasti mulut Kim bum akan terus menerus mencercanya dengan makian dan juga hinaan.

 

“Kyaaaa,,,” Jerit histeris dari mulut So eun kembali terdengar ketika dengan paksa Kim bum menarik baju sebelah kirinya hingga terkoyak besar dan tentu saja itu membuat bahu putih So eun terbuka. Secepat mungkin So eun menutupi bahunya dan secepat mungkin wanita itu menghindari perlakukan Kim bum yang juga hendak melakukan hal yang sama pada baju sebelah kanannya.

Wanita itu dengan sigap, menuruni ranjang itu ketika Kim bum hendak melakukan hal yang lebih mengerikan selanjutnya. Sedangkan Kim bum terlihat kesal ketika lagi – lagi So eun menghindarinya.

 

“Berhenti di tempatmu.. Aku bilang berhenti.” So eun berusaha sekuat apa yang dia bisa, wanita itu benar – benar tidak ingin Kim bum memonopoli tubuhnya. Apapun akan So eun lakukan agar bisa terhindar dari Kim bum saat ini.

 

“Berhenti katamu, kau kira siapa yang membuatku harus melakukan ini semua? Kau kira aku menyukai hal ini, kau terlalu berlebihan.” Kim bum kembali berusaha untuk mendekatkan tubuhnya pada So eun. Seperti tidak peduli akan keberontakan So eun seperti yang sebelum – sebelumnya. Pria ini seperti belum puas jika belum melepaskan kekekesalannya pada So eun.

 

“Seharusnya kau saja yang menyerah, kenapa selalu menghindar bukankah selama ini kau sudah terbiasa melakukannya. Jangan munafik Kim so eun, kau bahkan tidak lebih baik dari pada aku.” Sekali tangkap pria itu bahkan bisa langsung menggenggam erat lengan kiri So eun. Seberapa keraspun usaha wanita itu untuk menghindari Kim bum tentu saja itu tidak akan dengan mudahnya terjadi mengingat saat ini Kim bum lah yang sedang memegang kendali.

 

“Lepaskan tanganmu, atau aku akan menusukmu.” Ancam So eun, sambil mengacungkan sebuah pisau yang entah sejak kapan gadis itu bawa. Dan dari mana pula So eun mendapatkannya. Ah, salahkan saja Kim bum yang selalu lupa meletakkan barang – barang yang sudah selesai digunakan pada tempatnya semula.

Kim bum melebarkan matanya, sorot matanya yang tadinya penuh amarah yang benar – benar meluap kini terlihat nanar ketika melihat So eun tengah mengacungkan sebuah pisau kearahnya. Sebegitu menakutkannnya Kim bum sampai – sampai So eun benar – benar tidak ingin tersentuh oleh Kim bum.

 

Bukannya melepaskan cengkramannya dari lengan So eun, Kim bum malah semakin menarik tubuh wanita itu agar segera mendekat padanya. Kim bum benar – benar ingin merengkuh tubuh So eun dan membawa wanita itu kedalam pelukannya.

 

“Aku tidak main – main dengan ucapanku breenggseekkkk… cepat lepaskan tangamu, kau benar – benar bajingan Kim bum. Bukan hanya kau saja yang membenciku, aku juga membencimu bahkan lebih dari pada rasa bencimu padaku.” Teriak So eun, gadis itu benar – benar sudah muak dengan perlakukan Kim bum selama ini. Sudah cukup untuk So eun bersabar menghadapi kelakuan Kim bum. Dan jika ada ungkapan bahwa sabar itu ada batasnya, nah saat inilah batas kesabaran So eun akan perlakuan – perlakuan yang tidak menyenangkan dari Kim bum selama ini.

 

“Kau mau menusukkan pisau itu padaku. Lakukan, lakukan sesukamu. Aku bahkan tidak peduli jika pisau itu benar – benar mampu menembus jantungku. Ayo.. lakukan, aku tidak akan menghindar.” Tantang Kim bum, semakin memojokkan So eun dengan kalimatnya. Kini Kim bum juga mencengkram tangan So eun yang tengah mengarahkan pisau itu pada dirinya.

 

“Ayo cepat hujamkan pisau itu pada dadaku.. bukankah itu yang kau mau, mungkin kau akan senang jika aku mati. Jika itu yang kau mau, lakukanlah.” Kalimat itu terdengar memilukan ketika Kim bum mengeluarkannya. Pria itu seperti putus asa ketika melihat So eun benar – benar menganggapnya bajingan. Kalau sudah seperti ini bukankah sudah terbukti, Kim bum memang kalah.

“Sebelum kau berniat menembuskan pisau itu pada tubuhku, aku juga sudah mati. Tapi mungkin akan jauh lebih menyenangkan jika seorang Kim bum akan mati ditangan wanita yang sangat dibencinya.” Desis Kim bum pria itu benar – benar sudah kalah, bahkan sebelum Kim bum memulai semua rencananya. Benar apa yang kakaknya bilang, bahwa perasaan itu memang masih ada dalam hati Kim bum. Mungkin Kim bum memang berusaha menyangkalnya mati – matian, tapi sekarang juga, sudah terbukti bahwa pria itu benar – benar sudah tidak memiliki taring lagi dihadapan So eun.

 

Tubuh itu lemas, benar – benar seperti tidak bernyawa ketika mendengar setiap kalimat pengakuan secara tidak langsung dari Kim bum. Bagaimanapun juga So eun bukan orang yang bodoh dan tidak peka akan keadaan Kim bum. Jauh sebelum So eun masuk kedalam rumah megah itu, So eun sudah mengetahui bagaimana tabiat pria ini. Hanya saja selama ini So eun memang tidak pernah mau mempedulikan perasaan pria itu. Karena menurut So eun itu akan menyakiti hati Kim bum sendiri. Ditambah dengan kenyataan yang ternyata menyebabkan Kim bum semakin membenci So eun. Tangan lemas itu merenggang bersamaan dengan terjatuhnya pisau yang sedari tadi digenggamnya. Tentu saja So eun tidak akan benar – benar ingin mencelakai Kim bum seperti apa yang telah diucapkan. So eun hanya ingin melindungi dirinya dengan sedikit ancaman pada Kim bum. Dan ternyata hasilnya adalah sia – sia.

 

“hiks.. hiks.. a-pa la-lagi s-se-karang.” Bisik So eun, wanita itu seperti benar – benar tidak mempunyai tenaga lagi. Kim bum yang melihat So eun sudah mulai kelelahan segera memeluk tubuh wanita itu dengan tiba – tiba dan kembali memaksa So eun untuk menerima ciumannya. Dan tentu saja So eun kembali meronta. Ternyata Kim bum tidak benar – benar melepaskan So eun. Memangnya semudah itu Kim bum akan mengalah, tentu saja tidak akan mudah untuk mengalahkan kerasnya hati Kim bum.

 

“Hemppptttt…. lep… ppasss.” Ronta So eun, ketika Kim bum benar – benar mulai kasar menciumi bibirnya. Kim bum bahkan tidak segan – segan untuk menggigit bibir So eun agar wanita itu mau membuka bibirnya. Setetes darah segar mengalir keluar dari sudut bibir So eun ketika Kim bum menggigit bibir itu dan dengan paksa memaksa lidah pria itu memasuki bibir kecil milik So eun.

Kim bum seperti tidak mempedulikan rasa amis bercampur asin yang mulai memasuki indera perasanya. Rasa amis bercampur asin yang ditimbulkan dari darah dan juga air mata So eun.

 

Mata itu mengkilat tajam, sorot mata yang tidak bisa ditafsir oleh sipenglihat. Sorot mata yang hanya Kim bum sendiri yang mengetahui maknanya. Tangan kokoh itu langsung menarik pakaian yang saat ini melekat ditubuh So eun. Saat ini iblis benar – benar tengah bersemayam di dalam hatinya sehingga Kim bum benar – benar mempunyai kekuatan untuk melakukan hal yang sudah lama dihindarinya. Sedangkan So eun, wanita itu hanya bisa menghela nafas pasrah ketika saat ini tubuhnya hanya terbalut pakaian yang benar – benar sudah koyak. Mungkin So eun memang sudah tidak bisa lagi keluar dari jerat kegilaan yang diberikan Kim bum padanya. Jika memang hari ini So eun bisa memohon pada tuhan, wanita itu benar – benar ingin jika tuhan bersedia mengambil nyawanya saat ini juga daripada harus menerima perlakuan keji seperti ini dari Kim bum orang yang dulu sekali pernah memberikan kehangatan padanya.

 

 

Kim bum menggerakkan tubuhnya, ketika seberkas cahanya menyilaukan indera penglihatnya. Digerakkannya secara perlahan tubuhnya. Sedetik kemudian pria itu memiringkan tubuhnya mendapati seorang wanita tengah memejamkan matanya dan tergolek di sampingnya.

Kim bum menyangga kepalanya dengan satu tangannya, dan menggunakan tangan lainnya untuk menyentuh sudut bibir wanita itu. Warna biru kehitaman nampak disudut bibir itu. Tentu saja luka itu juga sama sakitnya seperti sudut bibirnya. Satu sama fikir Kim bum. Diamatinya wajah itu dalam diam, Kim bum seperti tidak ingin mengedipkan matanya walau hanya satu detik saja. fokus matanya saat ini seperti ingin dia gunakan hanya untuk melihat wajah letih dihadapannya.

 

Segaris cairan bening dengan tiba – tiba merembes dari kedua mata terpejam itu. Benar – benar seperti tersayat – sayat sebuah belati dada Kim bum ketika pria itu melihat wanita yang ada di hadapannya ini tengah menangis dalam tidurnya. Sebegitu keterlaluannyakah Kim bum hingga benar – benar membuat seorang wanita menangis ketika matanya tengah terpejam. Pria itu merengkuh tubuh lemah itu kedalam pelukannya. Didekapnya erat wanita yang entah kenapa sangat dibencinya.

 

“Kau benar – benar membuatku kehilangan duniaku. Kim So eun.” Gumam Kim bum yang semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh So eun. Membenamkan wajah So eun kedalam dada bidangnya. Seperti tidak ingin siapapun melihat air mata yang saat ini tengah terjun bebas dari kedua mata terpejam milik wanita itu.

 

Dan sekarang Kim bum bahkan bisa merasakan getaran hebat dari tubuh So eun, wanita yang saat ini didekapnya itu kembali terisak tanpa suara. Kim bum tau bahwa sejak tadi So eun sudah bangun dari lelapnya. Dan Kim bum tidak mau So eun menghindarinya maka dari itu, sebelum wanita itu mengeluarkan serangan – serangan penolakan lagi seperti sebelumnya. Kim bum tidak mau mengambil resiko. Jika wanita ini berontak, wanita ini bisa saja melakukan sesuatu yang akan membahayakan nyawa Kim bum dan juga nyawa So eun sendiri.

 

“Aku membencimu, sangat membencimu.” Lirih Kim bum, lagi – lagi kata – kata benci yang keluar dari mulut Kim bum saat ini. Kim bum seperti meyakinkan dirinya sendiri bahwa saat ini pria itu memang benar – benar membenci wanita yang telah dipeluknya itu.

 

“Akupun juga sangat membencimu.” Kim bum menyunggingkan senyumnya, tapi pria itu tidak ingin wanita yang ada dipelukannya itu tau sehingga Kim bum masih dengan erat merengkuh tubuh So eun. Apa yang baru saja keluar dari mulut So eun tadi, benar – benar menandakan bahwa wanita ini memang sudah benar – benar terbangun dari lelapnya.

 

“Itu akan jauh lebih baik, dari pada hanya aku yang membencimu.” Ucap Kim bum lagi, kali ini pria itu mengecup pucuk kepala So eun.

 

~~~

 

Diwaktu yang sama namun di tempat lain, Woo bin benar – benar terlihat tidak tenang. Semua berkas yang seharusnya sudah diselesaikannya masih tak tersentuh oleh jemari tangannya. Pria itu benar – benar gelisah. Bagiamana tidak akan gelisah jika dua orang yang saat ini tengah mengganggu fikirannya sama – sama mematikan ponselnya dan tidak memberikan kabar apapun padanya.

 

“Apa yang sedang kalian lakuakan saat ini?” tanya Woo bin pada dirinya sendiri, pria itu menggenggam erat ponselnya sebagai pelampiasan atas kekesalan. Woo bin benar – benar sudah bisa menebak jika saat ini kedua orang yang sedang ada difikirannya itu berada di tempat yang sama. Sayangnya hari ini Woo bin tidak secerdik biasanya. Pria itu seperti tidak bisa melacak keberadaan adiknya, bagaimana bisa ini terjadi. Sedangkan biasanya dimanapun Kim bum berada, Woo bin akan sangat mudah untuk menemukannya.

 

“Sial, bocah itu pasti sudah melakukannya. Seharusnya sejak awal aku sudah bisa memperkirakan semua ini.” Woo bin menghempaskan tubuhnya dengan kasar pada sandaran kursi yang didudukinya saat ini. Pria itu mengusap dahinya menandakan bahwa ada benyak fikiran yang membebani otaknya saat ini.

 

“Jika saat ini kau sedang memikirkan So eun, pasti dia akan baik – baik saja. tidak seharusnya kau mencurigai Kim bum.”

 

Woo bin menghembuskan nafasnya, terdengar kasar. Memangnya sekertarisnya ini tau apa tentang masalahnya. Apa karena selama ini Kim bum selalu dekat dengannya sehingga wanita ini berfikir bahwa saat ini Kim bum dalam kondisi yang baik. Se young bahkan tidak tau jika saat ini Kim bum bahkan berada dititik terlemahnya sehingga bocah itu bisa melakukan apapun yang tentu saja bisa membahayakan seseorang dan tentu saja itu adalah saudari tirinya.

 

“Kau tidak tau apa – apa tentang masalahku.”

 

“Karena memang kau tidak pernah menceritakannya padaku, hanya Kim bum yang menceritakannya padaku. Dan tentu saja menurutku versi Kim bum lah yang paling benar sehingga aku akan selalu mendukungnya. Hanya ada satu versi yang aku dengar, dan tidak ada pemberitahuan apapun darimu.”

 

“Pergilah. Aku tidak membutuhkanmu hari ini.”

 

“Tanpa kau suruhpun aku juga akan pergi.” Decak Se young penuh dengan kekesalan. Gadis itu meletakkan beberapa berkas penting yang sudah terselesaikan di atas meja Woo bin dengan kasar. Bagaimana bisa Woo bin mengusir Se young sedangkan pria itulah yang sebelumnya menyuruh Se young untuk satu ruangan dengannya. wanita itu segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Woo bin, dengan menghentakkan pintu ruangan itu dengan keras sebelum benar – benar pergi. Woo bin hanya tersenyum getir melihat tingkah laku sekertaris sekaligus sahabatnya itu.

 

Sepeninggalnya Se young, Woo bin memeriksa laporan – laporan yang tadi telah dibawa oleh sekertarisnya itu. Diperiksanya semua berkas itu dan ternyata semuanya sudah terselesaikan Woo bin hanya tinggal menandatanganinya dan memberikannya pada sang ayah. Lagi – lagi Se young membantu pekerjaannya dan juga Kim bum.

 

“Dasar bodoh.”

 

~~~

 

Yi hyun berjalan menyusuri salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Seoul, hari ini wanita dewasa itu baru saja bertemu dengan kliennya disalah satu restoran yang terletak di pusat perbelanjaan yang saat ini didatanginya. Karena merasa masih ada waktu sedikit sebelum kembali ke butiknya wanita itu memutuskan untuk berkeliling di pusat perbelanjaan itu. Seharusnya Yi hyun menghubungi Kim bum atau Woo bin saja untuk menemaninya berkeliling, sudah lama sekali wanita itu merindukan kedua anaknya yang sudah lama tidak mengunjunginya.

 

“Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?”

 

Yi hyun mengalihkan pandangannya pada ponselnya. Dan segera mencari pemilik suara yang sangat dikenalnya. Yi hyun sedikit terkejut ketika mendapati mantan suaminya itu tengah berdiri di hadapannya. Rasa canggung menyelimuti wajah wanita yang berusia hampir setengah abad itu.

 

“Bisa kita bicara sebentar!” lagi – lagi seperti ini ternyata sifat pemaksa mantan suaminya itu masih belum hilang. Bagaimana bisa sebuah kalimat permintaan menjadi pernyataan yang menyerupai pemerintah.

Jae wook melangkahkan kakinya mendahului langkah kecil Yi hyun. Wanita itu masih bingung dengan pertemuan yang tidak disengaja ini dan membuat Yi hyun harus terjebak dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman. Duduk berhadapan dengan mantan suaminya, mantan orang yang sudah memberikan dua orang putra dan jangan lupa orang yang selama ini masih dicintainya itu.

 

“Sepertinya kau baik – baik saja.” Ucap Jae wook memecah keheningan diantara mantan pasangan suami istri itu.

 

“Tidak seperti kelihatannya. Bagaimana bisa aku bahagia, sedangkan aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang saat ini telah dilakukan oleh kedua putraku.”

 

“Bahkan aku yang selau bersamanyapun juga tidak bisa melihat apa yang saat ini telah dilakukan oleh keduanya.” Jawab Jae wook dengan sedikit sunggingan senyum yang bahkan tidak bisa dilihat oleh siapapun.

 

“Itu karena kau tidak pernah peduli pada mereka, kau hanya peduli pada keluarga barumu.” Sindir Yi hyun, bagaimanapun sudah pasti wanita ini akan kembali naik pitam jika mengingat akan apa yang menimpa rumah tangganya beberapa tahun silam.

 

“Sedikitpun aku juga tidak mempedulikannya. Hanya ada satu hal yang aku pedulikan dan seharusnya kau tau apa maksudku.”

 

Yi hyun, menatap tajam pria yang ada dihadapannya ini. Seperti biasa pria itu benar – benar bisa menutupi semua masalah yang ada didalam benaknya dengan menunjukkan wajah angkuh dan terkesan dingin. Itu yang sangat tidak disukai ole Yi hyun pada diri mantan suaminya itu. Dan yang lebih parah kebiasaan yang paling tidak disukai Yi hyun pada mantan suaminya itu menurun pada kedua putranya. Terlebih Kim bum, putra bungsunya itu benar – benar bisa menyembunyikan perasaannya terlebih pada orang – orang yang dirasanya dekat, tidak terkecuali Yi hyun yang adalah ibu kandungnya sendiri.

 

“Jadi apa kau sudah memberitahukan semua ini padanya?”

 

Jae wook belum menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh yi hyun. Tapi sesaat kemudian pria itu menggelengkan kepalanya yang menandakan bahwa memang belum ada yang tau akan penyebab semua konflik keluarga ini. Kecuali 3 orang yang sudah berkorban terlebih dahulu.

 

“Maaf sudah membuatmu berpisah dengan putra – putramu.”

 

“Mereka masih sering mengunjungiku, walaupun harus merasa ketakutan setelahnya karena takut kau akan marah padanya.”

 

“Itu karena mereka membohongiku, tempo hari aku bahkan memukul mereka berdua.”

 

“Kenapa harus sampai memukul mereka, tidak bisakah kau mengurangi sifat tempramentalmu. Bagaimana jika mereka jadi membencimu karena kelakukanmu ini. Hanya karena ingin menemui ibu mereka, membuat mereka harus mendapatkan pukulan.” Ada perasaan tidak terima ketika telinga Yi hyun mendengar penuturan Jae wook.

 

“Itu karena Kim bum hendak memperkosa So eun.” Jelas Jae wook, dan membuat Yi hyun seketika terlonjak dari tempat duduknya.

 

Bagaimana bisa putra bungsunya itu melakukan hal sekeji itu. Astaga, nampaknya Yi hyun menyadari sesuatu. Sekarang bukan hanya orang tua saja yang menjadi korban melainkan juga putra putri mereka. Yi hyun mendudukkan tubuhnya. Bagaimanapun semua ini harus diselesaikan. Yi hyun harus memberi pengertian sekaligus meminta penjelasan pada putra bungsunya itu, karena jika tidak maka Kim bum sendirilah yang akan terluka. Dan terlebih tentu saja So eun akan paling menderita. Yi hyun juga tidak bisa mengabaikan putra sulungnya – Woo bin.

 

“Harusnya dari awal kita memberitahukan semua ini pada anak – anak.” Lirih Yi hyun.

 

~~~TBC~~~

 

 

Iklan
Komentar
  1. shefty rhieya kyuna bumsso berkata:

    msh pensran sm masalah sebenarnya???

  2. nur bummies berkata:

    sumpah bingung apa bner sso cinta ma woo bin. dan alasan bum bnci sso karna cintanya bertepuk seblah tangan.
    hadeuhh sbenarnya masalah sbenarnya apa sih. . aq otw ke part selanjutnya aja. .

  3. ana berkata:

    Keren keren bgt dan selalu bikin penasaran.. sebenarnya apa yg membuat kim bum membenci so eun.. namun di sisi lain kim bum pun seperti mencintai so eun.. trsontak apa jg perasaan so eun pd wo bin dan begitu jg sebaliknya

  4. Yahh,,, smpai dtikk in aq msih blum tau ap problemx,,,,,

  5. sunbae berkata:

    Oeni kpn oeni nulis lg ff kita kangen ni

  6. elsyahadu berkata:

    stres saya baca ff ini, sbnr’a rahasia yg disembunyiin… Knp kimbum akn trluka, sso pn akn trluka… Ada apa sbnr’a… Gregetan.. Next part..

  7. Zee berkata:

    Smakin ngebuat penasaran….
    Apa sbenerny hub Sso n Bum terdahulu sbelum ortu mereka nikah??

    Rahasia apa yg disembunyikn oleh para ortu sebenarnya???
    Keren…
    Next part cpt donk…:)Sorry agak maksa… Heheee

  8. kimarytheangel berkata:

    Waoo…. Smakin misterius sja jd tmbah pnasaran!!! Ok ak mo lnjut

  9. shaneyida berkata:

    Wuaaa benarkah kb dah berhub intim soeun horeeeeee hehhee .aku berharao si iya ya hhhe biar kb lebih erat lg mengikat soeun hhhe. Kb berusaha menanamkan rs kebenciannya ma soeun .. pdhall jauh dr lubuk hatinya dia sangat mencintai soeun amiiin aku berharap begitu. Aku suka dg perlakuqn kasar kb k soeun tp berharap ada rs cinta dlm d situ sebaliknya perasaan soeun k kb jg begitu ;*. .

    Lanjuuut ~
    Aku suka ma moment bumsso d sini. Apalgi ketika kb mendekap tubuh soeun hhhe ..
    Lanjjut ~
    Thumb up (y)

  10. ainami berkata:

    wah sbnrnya ada apa sih, apa sebab musabab konflik nya…

    trus itu bum jd ya ngapa2in sso sblm akhirnya mereka tertidur
    terlihat benci sekaligus sayang huft….

  11. Natalia berkata:

    Apakah bum sudah melakukan hal yg itu dgn sso?mudah2an belummm…

  12. Mia berkata:

    Mexakitkan sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s