Hate Or Love (part end)

Posted: 26 Desember 2015 in FF BUMSSO

cats

Part 6

Dengan langkah tergesa So eun memasuki rumahnya. Hari ini dia ingin sekali menunjukkan pada ayahnya bahwa So eun memanglah anak yang patut dibanggakan oleh sang ayah. Hari ini untuk kesekian kalinya So eun mendapatkan nilai terbaik di sekolahnya dan sudah pasti dia akan menagih janji ayahnya yang akan mengajaknya berlibur bersama dengan ayah dan juga ibunya.

“Ayah.. seperti biasanya aku mendapatkan nilai terbaik lagi!” Seruan So eun terdengar nyaring ketika gadis itu sudah memasuki rumahnya.

Seruan itu mendadak menguar di udara, mata indah itu meredup seketika ketika melihat tubuh ayahnya yang saat ini terbujur kaku tidak berdaya dengan kain putih yang menyelimuti tubuhnya. ibunya menangis tersedu di samping tubuh ayahnya yang tergolek tak bernyawa.

“Apa yang terjadi?” Masih belum mempercayai apa yang dilihatnya, So eun pun segera menghampiri tubuh ayahnya.

So eun mengguncang tubuh ayahnya, memastikan bahwa pikiran buruk yang ada dikepalanya saat ini tidaklah sesuai dengan kenyataan. Ayahnya tidak mungkin meninggalkannya dan sang ibu. So eun bahkan masih belum menagih janji pada sang ayah yang akan mengajaknya berlibur bersama. Selama ini ayahnya terlalu sibuk bekerja, sehingga tidak pernah bisa meluangkan waktunya untuk So eun.

“Bangun ayah.. kumohon bangunlah.. ayah sudah berjanji akan mengajakku berlibur bersama ibu, jika aku bisa mendapatkan nilai lebih tinggi dari Kim bum.. hari ini aku bisa mengalahkannya lagi.. aku selalu mengalahkannya ayah. Ayah harus menepati janji!”

So eun terisak. Air matanya mengalir deras. Semua orang tidak ada yang tega menjauhkan tubuhnya dari ayahnya. Semuanya kalut dengan pikiran masing – masing, termasuk ibunya.

“Jangan membohongiku.. ayah tidak pandai menyembunyikan sesuatu dariku. Bangun ayah, aku janji tidak akan meminta apapun lagi padamu jika ayah bangun sekarang juga!” So eun semakin meracau. Dia masih belum terima jika tubuh yang terlihat pucat dan tidak bernyawa yang saat ini berbaring di depannya itu adalah ayahnya. Tidak mungkin ayahnya tega meninggalkannya secepat ini sedangkan So eun bahkan belum bisa membuat ayahnya itu bangga karena memiliki anak seperti dirinya.

“Ayah!” Teriak So eun lagi.

“Berhentilah menangis So eun-ah. Ayahmu akan sedih, jika melihatmu seperti ini.”

“Ayah membohongiku.. dia sudah berjanji akan mengajakku berlibur, jika nilaiku lebih bagus dari pada nilai Kim bum. Hari ini aku bisa menang dari Kim bum dan aku ingin ayah menepati janjinya.”

“Ayahmu akan selalu bangga padamu, karena kau memang yang terbaik. Kau tidak bisa seperti ini, kau harus bisa melepasnya.”

“Dia ayahku.. tentu saja aku sedih ketika melihatnya telah tiada. Yang terbaring disini adalah ayahku bukan ayahmu.”

“Bagaimana jika yang terbaring di sini adalah ayahmu, Kak! Teriak So eun keras.

Kerasnya teriakan So eun membuat semua orang yang berada di ruangan itu terpaku. Gadis kecil itu bahkan tidak mengacuhkan kekagetan pria yang saat ini telah di bentaknya. Tidak peduli pria itu yang selalu disampingnya dan dekat dengannya.

 

***

 

Tae hee.. menangis tersedu di depan nisan yang bertulisakan nama “KIM NAM GIL”. Ingatanya akan kejadian beberapa tahun silam kembali membuatnya tidak bisa membendung air matanya.

“Kenapa harus kau yang melakukannya.. kenapa harus kau yang terbaring disini. Kenapa bukan Jae wook yang mati.” Desis Tae hee disela isak tangisnya.

Jika bukan karena So eun, Tae hee memang tidak akan mungkin mempunyai kekuatan sampai sejauh ini. Jika bukan karena putrinya itu sudah pasti Tae hee akan memilih pergi bersama dengan Nam gil.

“Harusnya kau tidak menolongnya. Tidak seharusnya kau memberikan semua saham perusahaan kita kepadanya hanya karena kau sahabatnya. Kenapa kau terlalu baik pada semua orang sehingga merugikan dirimua sendiri.” Racau Tae hee.

Tentu saja dia sudah tidak kuat dengan semua penderitaan yang dialaminya saat ini. Semua yang telah dilakukannya ini tidak semata – mata karena keinginan pribadinya. Apa yang saat ini dimiliki Jae wook adalah milik Nam gil. Kenapa Tae hee sampai mati – matian melakukan semua ini, hanya semata untuk membuat hidupnya tidak susah. Tentu saja Tae hee tidak ingin putri yang disayanginya menderita karena kebangkrutan yang dialami orang tuanya.

Jae wook harus menanggung semua akibatnya. Tae hee bahkan sudah mematikan rasa kasihannya pada sang sahabat yang telah dikhianatinya. Jika selama ini Tae hee tidak mengambil jalan ini, sudah pasti hidupnya dan putrinya akan terkatung – katung tanpa arah. Tapi Tae hee sudah lelah, dirinya menyadari bahwa selama ini apa yang dilakukannya ternyata tidak membuat putrinya senang melainkan banyak hal sulit yang dilalui putrinya selama ini akibat perbuatannya.

“Haruskah aku ikut pergi denganmu sayang… aku bahkan tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk anak kita.” Gumam Tae hee lirih.

 

 

Woo bin mempercepat langkah kakinya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan dilakukan Kim bum pada So eun. Woo bin tidak peduli jika memang Kim bum akan melukai hati So eun. Itu pilihan adiknya dan Woo bin tidak ingin lagi mencampuri urusan keduanya. Woo bin ingin lepas dari bayang – bayang Kim bum. Untuk So eun tentu saja, Woo bin akan melupakan gadis itu. Dari dulu, Woo bin memang tidak akan pernah memenangkan hati So eun.

“Jangan mengikutiku lagi!” Woo bin memutar tubuhnya, di iringi teriakan keras yang menggema di seluruh penjuru.

Kim bum yang ternyata berhasil mengikuti langkah kaki kakaknya seketika terhenti ketika suara keras sang kakak menginterupsinya untuk tidak mengikutinya lagi.

“Lakukan sesuka hatimu.. aku bahkan tidak peduli lagi dengan kalian berdua.” Teriakan itu lantang dan penuh amarah.

Mata tajam itu mengkilat marah. Tubuh Woo bin menegang, tangannya mengepal erat dan siap untuk menerjang siapapun yang berani mendekatinya. Terlalu lelah untuk Woo bin jika selalu mengalah. Sudah cukup waktu Woo bin untuk mendampingi Kim bum. Dan tentu saja Woo bin juga sudah tidak berniat lagi untuk melindungi So eun.

“Kau marah… kau marah karena ternyata, akulah yang dipilihnya.” Kim bum berjalan mendekakati tubuh Woo bin.

“Dari dulu, memang hanya aku kan yang selalu disukainya. Aku sudah tau semuanya, jauh sebelum kekacauan ini terjadi.” Teriak Kim bum yang tak kalah emosinya.

“Kau kira kenapa aku selalu menyiksanya dan membuatnya terluka… aku melakukannya agar dia membenciku dan berpaling padamu. Aku menghormatimu sebagai kakakku, tapi aku juga tidak bisa melepaskan orang yang aku sayangi. Aku melakukanya karena aku terlalu menghormatimu, sebagai kakaku. Terlepas dari semua dendamku pada ibunya”

Semua karyawan berkerumun dan saling berbisik heran dengan tingkah dua atasannya tersebut. Tidak biasanya dua kakak beradik pemimpin perusahaan ini saling berdebat seperti ini. Biasanya keduanya akan saling membantu dan meringankan beban yang lain, jika yang satu mengalami kesulitan. Tapi hari ini dua bersaudara ini nampaknya memiliki masalah yang sangat pelik sehingga saling melemparkan teriakan hingga membuat kedunya menjadi bahan tontonan banyak orang.

Woo bin membatu mendengar pengakuan Kim bum. Selama ini, Woo bin selalu merasa bahwa Kim bum sengaja melakukan semua ini karena memang sang adik tidak mengetahui kebenarannya. Tapi ternyata Kim bum sudah tau masalah awalnya. Bukan hanya dendam yang membuat Kim bum kehilangan jiwanya melainkan juga cinta. Kim bum menyadari bahwa selama ini cintanya terbalaskan, tapi pria itu tau bahwa cintanya itu tidak bisa disatukan.

“Kim bum tau, bahwa selama ini So eun mencintainya. Kim bum memang sempat salah paham akan perasaan So eun. Tapi sudah sejak lama dia menyadari bahwa dia lah yang selama ini dicintai So eun.” Jelas Se young yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Woo bin.

“Kau mengetahuinya?” Bingung Woo bin, ketika Se young pun tau bahwa selama ini Kim bum membohonginya.

Se young mengangguk takut.. tentu saja wanita ini takut Woo bin marah padanya dan tidak akan mau lagi percaya padanya. Bukan maksud Se young untuk membohongi Woo bin selama ini, tapi memang harus seperti inilah perjalanan hidup Woo bin dan juga Kim bum.

“Kau mengetahuinya dan tidak pernah memberitauku… Aku benar – benar merasa menjadi orang yang paling bodoh di dunia ini. Kalian berdua membuatku seperti orang gila.. terlebih kau!” Woo bin mengarahkan tatapan tajamnya kembali pada Kim bum. Tentu saja Woo bin tidak menyangka jika selama ini, adik yang selalu didamping dan dibelanya ini membohonginya mentah – mentah.

“Aku melakukannya karena dirimu.” Jawab Kim bum tegas.

“Aku tidak butuh dikasihani.. kau pikir dengan kau memanipulasi ibu dan ayah, kau juga bisa memanipulasi diriku. Sejak dulu, kau bahkan tidak bisa berdiri sendiri tanpa ada aku di belakangmu.”

“Karena itu aku melepaskannya untukmu..” Teriak Kim bum putus asa.

“Kau anggap apa dia, sehingga bisa kau lempar kemanapun yang kau suka. Perasaan itu tidak pernah bisa dipaksa.. kau pikir untuk apa selama ini aku menahan diriku agar tidak menyentuhnya.. tentu saja karena aku menghargai perasaan orang yang kucintai.”

Seketika tubuh Kim bum merosot ke lantai. Pengorbanannya selama ini memang tidak lebih baik dari pengorbanan kakaknya kepada dia. Woo bin memang selau menjadi yang terbaik. Kim bum tau sejak dulu kakaknya inilah yang selalu menopangnya dan sekarang Kim bum telah melukai hati sang kakak.

“Maafkan aku.. maafkan aku!” Gumam Kim bum pilu..

Woo bin menatap nanar keadaan Kim bum yang terduduk di lantai dan tidak berani menatapnya. Inilah Kebiasan KIm bum, jika adiknya ini mengakui kesalahannya. Kim bum tidak akan pernah berani menatap siapapun jika dirinya telah terbukti bersalah.

“Kau lihat So eun-ah.. Kim bum tidak pernah sekuat yang kau pikirkan. Pria yang kau cintai ini bahkan rela membohongiku, karena rasa cintanya padamu. Lalu apa lagi yang bisa kuambil darimu?” Teriakan Woo bin itu ditujukanya untuk gadis yang baru saja hadir dihadapannya.

“Aku melepasmu, sejak dari dulu.. aku memang tidak akan pernah mendapatkan hatimu walau kita bersahabat sejak dulu.” Woo bin membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya dengan langkah gontai. Memang sudah saatnya untuk dia pergi dari lingkaran yang penuh dengan jeratan ini. Woo bin rela jika dengan seperti ini dia terluka, lagi pula dia juga sudah tau kalau hanya nama Kim bum lah yang selalu ada di kepala So eun. Woo bin tidak ingin membuat adiknya semakin hancur dengan adanya perasaan cinta yang dimiliki Woo bin untuk wanita yang disukai sang adik.

 

 

Ruangan itu sunyi dan mencekam. Hanya cahaya temaram yang menyinari ruangan itu. Kim bum membaringkan tubuhnya di sofa panjang yang terletak di ruangan kerjanya. Matanya kembali memanas, karena menahan air mata yang hendak menyeruak keluar dari matanya. Ingatannya seakan melayang tak kenal arah.

“Siapa yang kau cinta So eun-ah?” Gumam Kim bum.

“Tidak satupun diantara kalian.” So eun yang terduduk di kursi kerja Kim bum, menjawab pertanyaan Kim bum.

“Benarkah yang dikatakan kakakku, kalau kau ternyata mencintaiku?” Kim bum bertanya lagi.

“Aku membencimu.”

“Kenapa kau mencintaiku dan bukannya mencintai kakakku?”

“Karena kau membenciku.”

“Kenapa kau mencintai orang yang membencimu?”

“Karena itu adalah dirimu.”

Kim bum terdiam mendapat jawaban terakhir dari So eun. Dia bingung karena berada di posisinya sekarang. Kim bum sadar selama ini dirnya sudah sangat salah paham pada perasaan So eun. Kim bum tidak pernah menyangka jika So eun mencintainya. Lalu kenapa dulu So eun menyatakan perasaannya pada Woo bin. Kim bum memang mengetahui bahwa So eun juga menyukainya, tapi dia masih belum sepenuhnya yakin akan perasaan yang dimiliki gadis itu pada sang kakak.

Kim bum masih ingat dengan jelas ketika So eun mengatakan pada Woo bin kalau gadis itu mencintai kakak Kim bum. lalu kenapa Woo bin mengatakan kalau orang yang disukai So eun itu adalah dirinya. Kim bum heran, karena ternyata dia masih saja bodoh dan tidak bisa mengartikan semuanya, walau dia tau bahwa So eun mencintai dirinya.

“Aku pergi!” Pamit So eun, beranjak dari tempatnya.

“Kau akan menemui kakakku?” Tanya Kim bum, sebelum So eun benar – benar keluar dari ruangan kerjanya.

“Kau ingin aku menemuinya?” Tantang So eun. Ditatapnya mata sayu milik pria yang tengah terbaring dan juga menatapanya itu.

“Jika aku melarangmu, apa kau akan tetap melakukannya?”

“Memangnya sejak kapan aku menurutimu?” So eun lelah menjawab pertanyaan Kim bum yang mungkin tidak pernah ada habisnya.

“Sejak kau menjadi adikku!” Jawab Kim bum sendu.

“Sejak kapan kau menerimaku menjadi adikmu?” kejengkelan itu melanda So eun. Dia juga lelah dengan semua ini. Dan memangnya siapa yang selama ini selalu menolak kehadirannya. Bukankah memang dari dulu Kim bum yang tidak menyukai kehadiran So eun. Jadi jika sekarang Kim bum dengan tiba – tiba mengatakan bahwa So eun ini adalah adiknya walau hanya adik tiri, maka semua ini tentu saja membuat so eun sadar bahwa tidak mungkin ada hubungan lain diantara dirinya dan juga pria menyedihkan di depannya ini selain hubungan saudara.

“Sejak hari ini..” jawab Kim bum lirih.

Kim bum beranjak dari tempatnya dan menghampiri So eun, yang terpana dengan jawaban yang diberikan olehnya.

“Kau benar So eun-ah.. aku memang sudah lelah dan berniat untuk berhenti. Dan mulai detik ini aku akan berhenti.”

So eun menganggukkan kepalanya. Tidak tau harus memeberikan balasan apa pada pernyataan yang baru saja dikeluarkan oleh Kim bum. So eun sendiri bingung, haruskah dia senang dengan pernyataan yang diberikan oleh Kim bum atau malah sedih karena dengan seperti ini Kim bum akan melepas dirinya.

“Hm.” So eun bergumam, suaranya tercekat tidak bisa mengatakan apapun. Air matanya mengucur deras, selama ini dirinya lah yang menyuruh Kim bum untuk berhenti dan ketika Kim bum mengabulkan permintaan So eun itu, kenapa dia harus bersedih.

“Kau tidak akan lagi tersiksa karena sikapku..”

Kim bum membelai rambut panjang So eun dengan tulus. Tidak ada lagi kebencian di dalam dirinya pada gadis yang ada di depannya ini. Sudah cukup Kim bum membenci So eun, kali ini Kim bum ingin melepaskan kebenciannya pada So eun.

“Pergilah..!” Seru Kim bum

So eun menganggukkan kepalanya lagi, kali ini dia tidak berniat untuk berhenti walau nanti Kim bum menghentikan langkahnya. So eun sudah menekadkan niatnya dan memang harus seperti itulah jalannya.

“Jangan berhenti.. jangan pernah berhenti atau menoleh kebelakang.”

So eun mempercepat langkahnya dan segera membuka pintu ruangan Kim bum tanpa sedikitpun menoleh kebelakang ataupun menghentikan langkahnya. Walau dia sangat ingin melakukannya, tapi So eun tidak mungkin bisa melakukannya. Kim bum pasti sudah berusaha sekuat mungkin untuk berhenti dan So eun tidak mungkin menggagalkan rencana Kim bum.

Sudah terlalu sering So eun menyakiti hati Kim bum, kali ini jika memang Kim bum memutuskan berhenti maka So eun juga akan mulai melangkah maju dan membiarkan Kim bum tertinggal di belakang dan hanya menjadikan pria itu sebagai kenangan.

“Kau benar, jangan menoleh kebelakang. Terlalu sulit untukku jika kau berhenti atau sekedar menoleh kebelakang.” Tubuh Kim bum ambruk seketika saat So eun benar – benar keluar dari ruangannya. Kim bum tidak akan menahan gadis yang sudah terlalu sering disakitinya itu dan tentu saja So eun tidak akan pernah mampu untuk menahan So eun untuk bersamanya.

 

@@@

 

So eun menyandarkan tubuhnya ke dinding, untung saja malam ini semua karyawan kantor tidak ada yang lembur maka dari itu tidak akan ada satupun, yang akan melihat apapun yang dilakukan So eun saat ini, termasuk menangis.

So eun menggeram, tangisanya tumpah. Sebisa mungkin So eun meredam suaranya agar tidak terdengar oleh siapapun. So eun bahkan harus rela membiarkan bibirnya terluka hanya karena dia menggigitnya.

“Keluarkan saja… tidak perlu ditahan, ini semua memang menyakitkan.”

So eun tau siapa yang saat ini menghampirinya. So eun tau suara itu milik siapa. So eun tidak menatap orang yang menyapanya tapi tangis itu akhirnya memang tidak bisa ditahan lagi. So eun mengeluarkan semua kesedihannya. Tidak peduli dengan orang yang ada disampingnya, untuk kali ini saja So eun ingin mengabaikan semua orang yang ada disekitarnya.

“Maafkan aku.”

So eun tidak menghentikan tangisnya, tapi telinganya masih mampu mendengar suara itu. Entah kenapa So eun tidak peduli pada permintaan maaf itu. Seperti tidak ada gunanya, semuanya sudah terjadi dan tidak ada lagi yang perlu dimaafkan.

“Tentang kematian ayahmu…”

Kali ini So eun menghentikan tangisnya dan menatap orang yang berdiri disampingnya. Orang yang sedari tadi melihatnya menangis, orang yang sudah membuat hidupnya hancur setidaknya itu menurut ibunya. So eun masih ingin mendengarnya, mendengar kalimat yang belum terselesaikan itu.

“Kejadian ini sudah sangat lama. Memang sudah sangat terlambat jika aku menceritakan semuanya sekarang, tapi aku tidak ingin dihantui rasa bersalah selamanya.” Orang itu menghembuskan nafasnya dengan lesu. Tubuh itu menyender di dinding, sama seperti So eun yang saat ini tengah menatapnya dengan pandangan penuh tanya.

“Ayahmu menyerahkan semua sahamnya padaku, agar pemegang saham terbesar di perusahaannya adalah aku..” ada jeda sejenak sebelum orang itu melanjutkan kalimatnya. “Dia tidak ingin menelentarkan anak dan istrinya sehingga memintaku untuk membantunya. Dia tau bahwa perusahaannya akan mengalami kebangkrutan. Dengan menyerahkan sahamnya padaku, ayahmu berharap aku bisa menjaga kau dan ibumu.”

“Aku tidak bisa berbuat apa – apa, saat ayahmu memutuskan mengakhiri hidupnya didepan mataku. Dia menerjunkan tubuhnya dari lantai teratas di gedung ini saat itu. Ibumu melihatnya dan mengira aku membunuhnya. Aku berniat menolongnya tapi ayahmu melepaskan pegangan tanganku. Aku tidak bisa melakukan apa – apa lagi setelah itu.”

So eun terdiam mendengar penjelasan orang itu. Entah apa yang harus So eun lakukan setelah mengetahui kebenaran ini. Akankah So eun membenci orang ini seperti yang dilakukan ibunya, walaupun hati kecil So eun tidak pernah mempermasalahkan hal itu.

“Kenapa paman menikahi ibuku?” So eun memberanikan dirinya untuk bertanya, walaupun So eun tau, orang ini tidak akan mudah memberikan jawaban itu pada So eun.

“Apakah aku punya pilihan lain selain menikahi ibumu?” Orang itu kembali melemparkan pertanyaan pada So eun dan sepertinya tidak berniat menjawab pertanyaan yang diajukan So eun padanya.

“Kau memilih meninggalkan istrimu dan menikahi ibuku. Kau tidak pernah memikirkan perasaan anak dan istrimu pada saat itu.”

Orang itu tersenyum tipis, sebelum menjawab pertanyaan So eun. “Bagaimana dengan kau dan juga ibumu. Kau kehilangan ayahmu karena aku. Ibumu kehilangan suaminya karena aku. Bagaimana perasaanmu saat itu?”

“Jika aku punya pilihan lain, aku akan memilih tidak pernah mengenal ayahmu sehingga tidak akan pernah memikul tanggung jawabnya seperti saat ini. tidak perlu mempedulikan kau dan ibumu karena memang bukan akulah penyebab ayahmu meninggal.”

“Karena aku tidak bisa mengabaikanmu dan juga ibumu. Karena aku terlalu menyayangi keluargaku. Aku tidak mau mereka mengganggapku sebagai pembunuh yang tidak bertanggung jawab. Aku tidak ingin mengecewakan mereka.”

Kali ini tubuh So eun seperti tidak bertulang mendengar setiap penjelasan yang dilontarkan oleh pria disampingnya ini. Tubuh itu merosot ke lantai. So eun mencengkram kemejanya, tangisnya kembali pecah. Dadanya serasa tidak mampu menerima pasukan udara yang dihirupnya. Semua orang telah berkorban. Bukan hanya So eun ataupun Kim bum, tapi semuanya. Apa yang harus So eun lakukan sekarang. Dia bahkan tidak berani menatap orang yang saat ini telah resmi menjadi ayahnya.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang paman? Aku bahkan tidak punya keberanian lagi untuk menatapmu ataupun bibi Yi hyun. Apa yang harus aku lakukan untuk menebus semuanya?”

“Apa yang diinginkan oleh hati kecilmu, itulah yang harus kau lakukan sekarang. Aku yakin ibumu tidak akan pernah memaafkanku, tapi aku hanya ingin kau mempercayaiku walau hanya sedikit.”

“Ayahku yang membuatmu meninggalkan keluargamu, aku dan ibu yang telah membuatmu berpisah dengan istrimu, apa yang harus kulakukan sekarang paman?”

Jae wook menutup matanya sejenak, kemudian ditariknya tubuh ringkih So eun untuk didekapnya. So eun adalah putri mendiang sahabatnya, sejak dulu Jae wook sudah mengenalnya dan menganggap So eun seperti putri kandungnya sendiri. Ini juga menyakitkan hatinya, ketika melihat So eun menangis didepan matanya.

So eun merasakan tangan kokoh dan kuat itu mendekap tubuhnya, memberikan kekuatan padanya. Sudah sangat lama sekali So eun ingin merasakan kehangatan pelukan dari seorang ayah. So eun sangat merindukan ayahnya dan selama ini Jae wook tidak pernah memperlakukannya layaknya seorang anak. Bukan hanya terhadap So eun yang adalah anak tirinya, terhadap Kim bum dan Woo bin pun, Jae Wook tidak pernah menunjukkan perhatiaannya.

“Aku menyesal telah mengambil keputusan yang salah So eun-ah. Aku berharap bisa membayar semua hutangku padamu, ibumu dan juga keluargaku.”

So eun tidak mampu berkata, hanya kepalanya saja yang sesekali mengangguk tanda dia mengerti dan bisa menerima apapun keputusan yang akan ayah tirinya ambil. So eun sudah terlalu lelah untuk menyalahkan siapapun, karena menurut So eun memang tidak ada yang salah dalam kasus ini. Semuanya murni kehendak Tuhan. Siapaun tidak akan ada yang mau mengalami masalah serumit ini termasuk juga So eun.

“Ya.. Kim jae wook, kau kah itu?”

 

@@@

 

Yi hyun yang sampai saat ini berada di butiknya, langsung menghentikan pekerjaannya ketika mendapati layar ponselnya tengah berdering. Yi hyun bisa melihat siapa yang saat ini tengah menghubunginya. Ada perasaan enggan, ketika Yi hyun hendak menerima panggilan telepon tersebut.

“Untuk apa dia menghubungiku?” Tanyanya pada diri sendiri.

Walau ragu, akhirnya Yi hyun memutuskan untuk menerima panggilan dari Tae hee. Mungkin memang ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan Tae hee padanya sehingga wanita itu mau menghubunginya.

“Hm.. Tae hee-ya. Ada perlu apa kau menghubungiku?” Yi hyun tidak ingin mengulur waktu. Dia hanya ingin tau tujuan Tae hee menghubunginya.

“Maaf, Nyonya.. anda mengenal pemilik ponsel ini?”

Yi hyun mengerutkan keningnya ketika suara diseberang sana bukanlah milik Tae hee melainkan seorang pria yang tidak dia ketahui siapa.

“Ya. Aku mengenal pemilik ponsel ini. Siapa anda? Dan dimana teman saya? Apa yang terjadi padanya sehingga anda yang menggunakan ponselnya?” Yi hyun tidak bisa mengendalikan dirinya, perasaan takut menyelimuti hatinya. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa Tae hee.

“Pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan serius disekitar jalanan Gangnam Nyonya. Jika anda bersedia, bisakah anda kerumah sakit Gangnam sekarang juga. Saya tidak tau harus menghubungi siapa saat ini, karena panggilan terakhir yang ada diponsel ini adalah nomor anda, saya memutuskan menghubungi anda. Segeralah kemari karena keadaan teman anda sedang tidak dalam keadaan baik.” Terang pria diseberang sana.

Setelah mengucapkan terima kasih Yi hyun langsung menjatuhkan ponselnya. Dia tidak tau kenapa hal seburuk ini bisa terjadi. Yi hyun memang tidak menyukai Tae hee, tapi dia tidak pernah membenci mantan sahabatnya itu. Yi hyun bingung dengan apa yang harus dia lakukan, hingga muncul sebersit pemikiran bahwa Jae wook dan juga So eun harus mengetahui kejadian ini.

Yi hyun segera meninggalkan butiknya dan bergegas untuk mencari keberadaan Jae wook dan So eun. Berkali – kali Yi hyun mencoba menghubungi ponsel Jae Wook ataupun So eun untuk menanyakan keadaan mereka, namun hasilnya nihil. Kedua orang itu mematikan ponselnya.

Yi hyun bahkan dibuat kebingungan karena tidak bisa menemukan Jae wook dikantor pusatnya. Semua orang yang dihubunginya bahkan tidak mengetahui keberadaan Jae wook saat ini. Yi hyun bahkan hampir frustasi saat ini, siapa lagi yang harus dihubunginya saat ini. Haruskah Yi hyun langsung melihat keadaan Tae hee, dan memberi tau yang lainnya nanti.

Di sela – sela kebingungannya, sambil mengemudikan mobilnya seseorang kembali menghubunginya. Yi hyun bisa tersenyum lega ketika melihat Woo bin menghubunginya. Woo bin pasti bisa membantunya saat ini.

“Ibu, dimana kau sekarang? Aku menunggumu dirumah sejak tadi dan ibu tidak juga pulang. Dimana ibu sekarang, ibu mau aku menjemputmu?” Yi hyun bisa mendengar suara Woo bin yang terdengar mengkhawatirkannya di seberang sana.

“Kau tau dimana ayahmu sekarang Woo bin-ah?”

“Untuk apa ibu menanyakan ayah? Ibu dimana sekarang, biar aku menjemputmu!”

“Tidak.. kau tidak perlu menjemputku. Cukup beri tau ibu dimana ayahmu saat ini.”

“Aku tidak tau pasti, tapi sepertinya ayah ada dikantor cabang saat ini. Dia hendak menemui So eun saat terakhir kali aku bertemu dengannya.”

Yi hyun bisa sedikit lega, karena sekarang dia mengetahui keberadaan dua orang yang tengah dicarinya. “Kebetulan sekali mereka bersama.”

“Apa yang sebenarnya terjadi Bu? Katakan padaku kenapa ibu mencari ayah dan juga So eun?”

Yi hyun memang tau bahwa putra sulungnya ini terlalu pintar untuk dikelabuhi ataupun semacamnya. Woo bin terlalu cepat berpikir jika sudah menyangkut orang – orang terdekatnya dan tentu saja Yi hyun tidak bisa melewatkan Woo bin dalam masalah ini. Putranya itu mungkin bisa membantunya untuk melihat keadaaan Tae hee sekarang, sementara dirinya mencari keberadaan Jae wook dan So eun.

“Bisakah kau pergi ke rumah sakit Gangnam Sekarang sayang..! Ibu So eun mengalami kecelakaan dan kondisinya tidak dalam keadaan baik. Ibu tidak bisa menceritakan kronologis detailnya sekarang. Kau bisa mencari informasi pada orang – orang disana atau siapalah yang bisa kau mintai tolong untuk menyeledikinya.”

Yi hyun tidak bisa mendengar suara Woo bin dari seberang sana, tapi sambungan ponselnya masih terhubung dengan putranya. Yi hyun yakin, Woo bin juga kaget mendengar berita ini.

“Kau bisa mendengar ibu, Woo bin-ah?”

“Ya, aku akan melihatnya. Pastikan ibu memberi tau informasi ini pada Kim bum juga. dia juga ada di kantor sekarang.”

“Bergegaslah sayang, selagi ibu memeberi tau ayah dan adikmu.”

Yi hyun menutup sambungan ponselnya ketika Woo bin sudah menyetujui permintaanya. Benar sesuai pikirannya, sekeras apapun hati kedua putranya tetap saja Woo bin dan Kim bum selalu memiliki sisi lain dalam dirinya.

Yi hyun segera melajukan mobilnya untuk menuju kekantor cabang, Yi hyun berharap apa yang dikatakan oleh Woo bin tadi benar. Semua orang berkumpul di kantor cabang, karena jika sampai mereka tidak ada disana, Yi hyun tidak tau lagi harus mencari mereka kemana.

 

Sesampainya di depan kantor Jae wook segera menghentikan mobilnya dan memarkirnya sembarang, tidak mempedulikan jika para security akan memarahinya. Yi hyun segera memasuki gedung kantor yang tidak sebesar perusahaan pusat yang dimiliki mantan suaminya itu. Yi hyun memang tidak asing dengan tempat ini, karena dulu dirinya sering sekali datang ketempat ini.

Dicarinya keberadaan Jae wook diseleruh ruangan, tapi Yi hyun belum juga menemukannya. Yi hyun juga mencoba untuk menghubungi ponsel Jae wook dan So eun, tapi hasilnya masih sama seperti sebelumnya, tidak bisa tersambung.

“Ibu.. apa yang ibu lakukan disini?”

Pertanyaan itu memmbuat Yi hyun, sedikit bernafas lega. Setidaknya satu orang sudah dijumpainya. “Syukurlah.. kau disini sayang.”

“Ada apa.. wajahmu terlihat pucat Bu..!”

“Kau tidak perlu mengkhawatirkan keadaan ibu. Ibu baik – baik saja sekarang. Cepat beri tau dimana ayahmu dan juga So eun sekarang!”

Yi hyun bisa mengetahui bahwa putra bungsunya itu terlihat bingung saat tiba – tiba mendapati dirinya berada di kantor ayahnya. Terlebih malam – malam begini.

“Ibu So eun kecelakaan Kim bum-ah.. Ibu harus memberitau ayahmu dan juga So eun sekarang.”

“Apa….!”

Lagi – lagi Yi hyun, harus membuat putranya terkejut. Yi hyun tidak tau bagaimana caranya menjelaskan pada Kim bum saat ini. Karena tujuan utamanya saat ini bukanlah kekagetan putranya.

“Bukan saatnya kau terkejut sayang.. sekarang saatnya kita mencari keberadaan mereka.” Jelas Yi hyun memperingati Kim bum dan masih terus melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan Jae wook dan juga So eun.

“Aku tidak yakin ayah ada disini, Bu.” Ucap Kim bum dengan mengikuti langkah kaki ibunya.

“Kakakmu mengatakan bahwa tadi dia bertemu dengan ayahmu disini. Ayahmu berniat menemui So eun.” Jelas Yi hyun pada putra bungsunya itu.

“Benarkah? Kapan kakak bertemu dengan ayah?” Tanya Kim bum padanya.

“Tunggu Kim bum… Itu ayahmu. Syukurlah dia benar – benar bertemu dengan So eun.” Ucap Yi hyun menghentikan langkahnya dan juga Kim bum.

“Ya.. Kim jae wook, kau kah itu?” Seru Yi hyun, ketika mendapati tubuh Jae wook yang berdiri tidak jauh dari tempatnya saat ini.

 

@@@

 

Kim bum menghentikan langkah kakinya ketika mendengar suara ibunya memanggil nama sang ayah. Kim bum mengikuti arah pandang ibunya saat ini dan benar saja, pria yang saat ini berada di depan matanya adalah ayahnya.

Kim bum menghentikan langkahnya dan belum berniat mendekati sang ayah seperti yang dilakukan ibunya saat ini. Kim bum masih diam terpaku ditempatnya ketika menyadari bahwa baru saja Kim bum mlihat ayahnya memeluk So eun, hal yang hampir seumur hidupya ini belum pernah dilihatnya.

Berbagai pikiran didalam kepalanya menumpuk, menyeruak ingin keluar jika saja saat ini ada hal lain yang lebih besar yang harus diselesaikan dari pada menuruti pikiran – pikiran yang bersarang diotak Kim bum.

“Untunglah aku bisa menemukan kalian berdua disini.. kalian harus pergi ke rumah sakit Gangnam sekarang.” Tutur Tae hee.

Kim bum bisa melihat bagaimana perubahan raut wajah ayah dan juga adik tirinya saat ini ketika melihat kedatangan ibunya secara tiba – tiba.

“Apa yang terjadi?” Tanya Jae wook pada mantan istrinya itu.

Kim bum bisa melihat kegugupan ibunya saat ini, hingga wanita itu bahkan tidak mampu menjawab pertanyaan ayahnya. Tentu saja Kim bum tau, bahwa ibunya juga mengkhawatirkan keadaan ibu So eun dan juga So eun.

“Ibu So eun mengalami kecelakaan, sekarang dia ada di rumah sakit Gangnam.” Terang Kim bum, menggantikan sang ibu menjawab pertanyaan ayahnya.

“Ti-tidak mungkin.”

Kim bum tau So eun akan terkejut, bahkan sangat terkejut. Gadis itu melangkah memberikan tatapan tajam pada Kim bum, seolah menuntut kepastian dari jawaban yang telah diberikan Kim bum pada ayahnya tadi. Tentu saja Kim bum tau, bahwa So eun menginginkan Kim bum menjelaskan sedetail mungkin penyebab ibunya mengalami kecelakaan.

“Kita harus pergi sekarang.” Ujar Kim bum memecah keheningan yang tercipta beberapa saat yang lalu.

“Ya.. kita harus bergegas sekarang. Tae hee membutuhkan kita saat ini.” kali ini Yi hyun yang memecah keheningan.

Jae wook mengangguk dan segera melangkahkan kakinya mendahului yang lain. Kim bum bisa merasakan betapa ayahnya juga terkejut mendengar kabar ini.

Melihat ayah dan ibunya sudah berjalan menjauh darinya, Kim bum pun segera mengikuti langkkah kaki mereka dari belakang tanpa mempedulikan bahwa saat ini So eun masih diam ditempatnya tanpa sedikitpun berniat menggerakkan kakinya.

“Kau bisa benar – benar berhenti sekarang. Ini kan yang sudah lama kau inginkan!”

Senyum tipis mengembang dibibir Kim bum saat ini, hingga akhirnya dia menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya untuk menatap gadis itu.

“Aku tau kau menyukai berita ini.”

Kim bum melangkahkan kakinya, mendekati tubuh So eun yang tak bergeming dari tempatnya dengan sorot mata tajam yang mengarah pada Kim bum.

Bukan saatnya untuk Kim bum memulai perdebatan kembali dengan gadis ini. Kim bum berniat mengakhirinya dan satu – satunya cara untuk tidak memicu perdebatan itu, Kim bum harus mengabaikan setiap perkataan So eun.

Kim bum menarik pergelangan tangan So eun, tanpa berniat menjawab setiap perkataan So eun. Kim bum tau gadis ini sedang tidak dalam kondisi yang baik, setelah mendengar kabar yang menimpa ibunya. Kim bum paham akan hal itu, maka dari itu dia lebih memilih diam dan segera membawa So eun ketempat dimana ibu gadis itu sekarang berada.

So eun bahkan tidak meronta ataupun menolak, ketika Kim bum menarik So eun kedalam mobilnya.

 

“Bagaimana jika hal buruk terjadi pada ibuku?”

Kim bum masih tetap memfokuskan dirinya pada kemudi mobilnya. Masih belum berniat merespon apapun yang diucapkan oleh So eun saat ini.

“Bagaimana jika aku kehilangan ibuku, seperti aku kehilangan ayahku?”

So eun masih meracau, sedangkan Kim bum masih tidak menanggapi. Kim bum tau bahwa So eun tidak menuntut jawaban atas pertanyaannya. Gadis itu hanya ingin menghilangkan kekhawatirannya.

“Haruskah aku menangis, seperti saat aku kehilangan ayahku?”

So eun memejamkan matanya dan Kim bum bisa melihatnya dari ekor matanya. Segaris cairan bening mengalir dari mata gadis itu. Kim bum tau bahwa saat ini So eun takut kejadian itu kembali terulang.

Siapapun memang tidak akan pernah menginginkan kepergian orang tuanya. So eun sempat menjadi anak yatim karena kepergian ayahnya dan tentu saja gadis itu juga tidak akan senang jika ibunya pergi meninggalkannya.

“Hilangkan semua pikiran burukmu itu.” Akhirnya Kim bum mengeluarkan suaranya, disaat dia sudah berhasil memarkirkan mobilnya didepan rumah sakit Gangnam tempat ibu So eun dirawat saat ini.

“Apa yang harus aku lakukan?” Tanya So eun, masih belum membuka matanya.

“Kita sudah sampai.” Terang Kim bum, sambil membukakan sabuk pengaman milik So eun.

“Bagaimana jika ibuku benar – benar pergi, apakah kau akan tersenyum melihatnya?” Pertanyaan So eun itu, kembali menimbulkan senyum tipis di bibir KIm bum.

“Ya.” Gumam So eun.

“Kau tidak akan memelukku dan menenangkanku, saat aku menangis nanti?”

“Ada orang lain yang bisa melakukannya selain aku.”

So eun mengangguk. Sepertinya gadis itu tau jika Kim bum memang tidak berniat berada di sisinya sampai kapanpun.

“Kau memang tidak pernah melakukannya untukku.”

Kim bum mengangguk dan segera keluar dari mobilnya. Mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut So eun membuatnya merasa tidak yakin dengan keputusan yang beberapa saat lalu telah diambilnya. So eun selalu menggoyahkan setiap pertahanan yang diciptakan Kim bum.

 

@@@

 

So eun mengikuti Kim bum yang sudah terlebih dulu keluar dari mobil. Di perhatikannya tubuh pria itu yang masih mematung di depan mobilnya tanpa melakukan apapun.

So eun menghela nafas tegang. Dia takut, sangat takut akan sesuatu yang menimpa ibunya. Tentu saja So eun sangat peduli pada keadaan ibunya, terlepas dari apa yang telah dilakukan ibunya selama ini.

“Maafkan aku So eun-ah.”

So eun mendengar gumaman penuh luka itu, tapi dia tidak berniat menghiraukannya. So eun tidak berniat membalas perlakuan Kim bum sebelumnya, tapi So eun juga tidak ingin menghiraukan Kim bum untuk saat ini.

So eun melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit dan mencari keberadaan ibunya tanpa mempedulikan Kim bum yang sepertinya tidak berniat mengikutinya.

 

So eun sudah melangkahkan kakinya menuju meja informasi dan tentu saja menanyakan dimana letak ruang perawatan ibunya. Namun belum sempat So eun bertanya, seseorang datang menghampirinya.

So eun mendongakkan kepalanya, ketika orang itu merengkuhnya kedalam pelukannya.

“Maafkan aku..”

So eun menghela nafas kesal. Hari ini semua orang meminta maaf padanya. Tadi pagi orang yang saat ini merengkuhnya terlihat sangat marah padanya dan sekarang orang ini meminta maaf padanya.

“Dimana ibu sekarang Kak?” Tanya So eun, berusaha melepaskan rengkuhan tubuhnya dari Woo bin yang saat ini masih erat merengkuhnya.

“Kumohon jangan menangis lagi..”

So eun membelalakan matanya, dia takut dengan kalimat yang terakhir kali keluar dari mulut Woo bin saat ini. So eun menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir bayangan – bayangan menakutkan di dalam pikirannya.

“Ibumu….”

So eun menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut Woo bin, tapi sayang pria itu tidak melanjutkan kalimatnya dan memilih untuks semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh So eun. Hingga detik berikutnya, So eun bisa melihat para perawat yang tengah mendorong ranjang dorong yang diatasnya terdapat pasien, diikuti dengan jeritan tangis dari Yi hyun yang saat ini berada dipelukan Jae wook yang tengah mengikuti para perawat itu dari belakang.

“Ibu…” Gumam So eun lirih, kali ini So eun tidak akan bisa mengenyahkannya, pikiran buruk itu menyelimuti kepalanya saat mata itu melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi saat ini.

So eun melepaskan pelukan Woo bin secara paksa dan berlari menghampiri para perawat yang mendorong tubuh pasien, yang diyakini So eun adalah tubuh sang ibu.

“Ibu… jangan membuatku takut.” Mohon So eun.

 

Para perawat itu membawa tubuh ibu So eun ke dalam ruangan jenazah. So eun hendak masuk ke ruangan itu dan berniat mencurahkan semua kekesalannya didepan tubuh sang ibu, jika memang benar ibunya meninggalkannya. Sayangnya keinginannya itu harus terhenti saat tangan itu menariknya dan membalikkan tubuh itu padanya.

“Apa yang kau lakukan? Aku ingin melihat ibuku. Ini kan yang kau inginkan? Apa sekarang kau sudah puas? Orang yang sangat kau benci sudah tidak ada lagi, dendammu sudah terbalas. Kau pasti sangat senang sekarang. Ayo tertawalah.. aku ingin melihatmu tertawa sekarang.” Teriak So eun dengan lantangnya. Dia mengabaikan semua orang yang menatapnya. Dia tidak peduli tentang apapun, kenyataan yang ada didepan matanya saat ini benar – benar sudah menusuk hatinya.

“Tidak bisakah kau menenangkan dirimu sekarang.” Bentak Kim bum masih mencengkram erat lengan So eun sekarang.

“Bagaimana aku bisa tenang jika ibuku meninggalkanku. Yang terbaring disana adalah ibuku.. bukan ibumu.” Teriak So eun lagi, kali ini penuh dengan amarah.

So eun bisa merasakan cengkraman Kim bum yang tadi menguat kini menjadi melemah, bahkan tangan kekar itu sekarang sudah lepas dari lengan So eun.

Seperti menyadari sesuatu, So eun segera menatap pria yang saat ini didepannya. Mata itu tersakiti dan So eun tau bahwa perkataannya tadi telah menyakiti hati Kim bum.

“Kau pikir hanya karena ibuku masih berada di dunia ini, aku bisa dengan mudahnya bersama dia ? Kau pikir aku bisa dengan mudahnya memeluk tubuhnya ? Kau pikir selama ini aku bisa merasakan pelukan hangatnya? Bertahun – tahun aku harus menahannya, harus sembunyi – sembunyi jika ingin menemuinya. Coba pikirkan, karena siapa ini semua terjadi.. karena siapa?” Ujar Kim bum pelan, tapi masih bisa didengar.

So eun mendengar perkataan Kim bum, dia tau bahwa tidak perlu menyalahkan siapapun atas kematian ibunya. So eun mengalihkan pandangannya pada ibu Kim bum yang saat ini masih menangis didalam pelukan ayah Kim bum. Ini benar – benar menyedihkan sudah berapa lama pria dan wanita itu tidak melakukannya dan So eun kembali menyesali kalimatnya setelah pandangan matanya berpindah pada Woo bin yang berdiri tidak jauh disamping Kim bum. Mata Woo bin memerah dan So eun bisa memperkirakan bahwa beberapa saat lagi, akan ada air mata yang menerobos keluar dari mata kelam itu – lagi.

“Ini semua terjadi karena takdir.. Ibumu pergi, karena memang sudah saatnya dia pergi. Bukan Aku yang membunuhnya, bukan kakakku yang menyebabkan kecelakaannya dan juga bukan ibuku yang menyebabkan kematiannya. Kita memang sempat membencinya tapi aku dan kakakku selalu menghormatinya, bahkan ibuku masih menganggapnya sebagai teman setelah apa yang dilakukannya.”

So eun tidak mampu berkata apapun ketika rentetan kalimat Kim bum, meruntuhkan hatinya. So eun menyadari kesalahannya, tidak seharusnya dia melukai hati – hati orang yang selama ini ada disekelilingnya.

Kim bum meraih tangan So eun yang melemas dan membawanya kedalam pelukan Kim bum. So eun bisa merasakan hangatnya tubuh Kim bum yang mampu mengalir pada tubuhnya saat ini, hingga telinga So eun menangkap sebuah kalimat yang mampu membuat pikirannya melayang ke kejadian beberapa tahun silam. “Aku mencintaimu.”

 

Dengan senyum malu – malu So eun mendekatinya, seorang anak laki – laki yang saat ini sedang duduk dibangku taman tak jauh dari rumahnya “Aku menyukaimu…” ujarnya.

“Siapa? Kakakku?” Tanyanya pada So eun.

“Kakakmu juga.. aku menyukainya, tapi….” Jawab So eun menggantung.

“Kakakku juga menyukaimu…”

“Benarkah.. Aku yakin dia menyukaiku juga.” So eun mengembangkan senyum manisnya.

“Bagaimana denganmu? Apa kau juga menyukaiku?” Tanya So eun penasaran.

“Tentu saja dia juga menyukaimu.” Jawab anak laki – laki lain yang baru datang dengan seragam SMA yang melekat ditubuhnya dan ikut mendudukkan tubuhnya disamping adik laki – lakinya.

Lagi – lagi So eun mengembangkan senyumnya.. senyum yang benar – benar cantik. So eun ikut mendudukkan tubuhnya diantara dua laki – laki tersebut.

“Ya.. aku menyukai kalian berdua.” Ucap So eun lagi.

“Aku tidak menyukaimu.. “ Sanggah anak laki berseragam SMP yang sama seperti So eun.

So eun mendengus kesal, dan mengalihkan perhatiannya pada anak laki – laki berseragam SMA disebelah kirinya. “Adikmu itu tidak menyukaiku Kak… bagaimana jika dia semakin tidak menyukaiku?” Pertanyaan polos itu keluar dari mulut So eun.

“Dia tidak akan pernah bisa tidak menyukaimu.. Kita berdua menyukaimu..” Jawab pria berseragam SMA itu tanpa memperhatikan So eun.

So eun mengangguk mengerti, mereka bertiga sudah bersahabat sejak kecil. Orang tua So eun berteman baik dengan orang tua dua anak laki – laki disebelahnya ini. Tidak mungkin mereka berdua tidak menyukai So eun, tentu saja mereka berdua menyukai So eun. So eun senang bisa mengenal keduanya.

“Aku mencintaimu.”

So eun menghilangkan senyumannya.. dia mendengar kalimat itu.. kalimat pelan yang baru saja terucap itu membuat So eun menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Siapa yang mengucapkan kalimat tersebut. So eun mencoba mencarinya.

Saat So eun menolehkan kepalanya ke kiri dan hanya mendapati anak laki – laki disampingnya itu sedang serius membaca buku yang sedari tadi dipegangnya. Sedangkan anak laki – laki yang disebelah kanannya, masih asyik mendengarkan musik dari ponselnya dengan kedua alat yang menutupi telinganya. Tidak mungkin mereka berdua pikir So eun. Tapi suara itu terdengar jelas ditelinganya, suara itu sangat dekat jadi selain dua orang ini siapa lagi yang mengatakannya.

So eun menggelengkan kepalanya, mungkin saja memang tidak ada yang mengatakannya. So eun hanya berhalusinasi yakinnya. So eun menyandarkan kepalanya pada bahu anak laki – laki berseragam SMA dan mengapitkan lengannya pada lengan anak laki – laki berseragam SMP di samping kanannya. Kedua sahabatnya ini, selalu membuatnya nyaman. Berada diantara keduanya membuat So eun terlinungi.

 

“Bukan ibuku yang membenci ibumu.. tapi ibumu yang tidak menyukai takdir ibuku. Dan bukan aku yang tidak menyukaimu tapi kaulah yang membenciku..” Jelas Kim bum

Belum sempat So eun mencerna kalimat Kim bum yang mampu mengembalikan ingatan yang sudah lama dilupakannya, kini pria itu kembali membuat So eun bingung dengan kalimatnya. So eun yang membenci Kim bum. Apakah itu benar.. apakah memang So eun yang dari awal tidak menyukai Kim bum. Kenapa bisa Kim bum berpikiran seperti itu.

 

So eun memejamkan matanya, rasa hangat itu kembali muncul. Rasa hangat yang sudah lama tidak dirasakannya. Rasa dingin yang selama ini ditunjukkannya seolah – olah mencair dan berganti menjadi kehangatan. So eun menyukai kehangatan ini.

“Dulu aku tidak bisa melakukannya.. dan hari ini akhirnya aku bisa melakukannya. Aku tidak berharap memelukmu dalam keadaan seperti ini. Tapi satu hal yang ingin aku lakukan sebelum kau membenciku lagi. Aku selalu ingin berada disampingmu saat kau terpuruk. Aku selalu ingin mendekapmu dan membawamu kepelukanku saat kau bersedih.”

“Aku kehilangan ibuku.. aku tidak punya orang tua lagi sekarang.” Lirih So eun, masih dalam dekapan Kim bum.

“Kau masih memiliki kami So eun-ah.. tentu saja kami akan selalu berada disampingmu. Ijinkan aku untuk menebus semua kesalahanku.” So eun mengurai pelukan yang diberikan oleh Kim bum dan menatap wanita yang saat ini mendekatinya.

“Kau tidak pernah melakukan kesalahan apapun Bibi.. maafkan aku, karena selalu membuatmu menangis.” Ujar So eun dan menghambur ke pelukan Yi hyun.

So eun menangis dalam pelukan Yi hyun. Wanita ini sudah sangat lama menyimpan luka karena takdir keluarga So eun. Kali ini So eun berjanji akan mebuat Yi hyun tidak bersedih lagi.

 

@@@

 

Kim bum tersenyum, So eun bisa mengerti keadaan yang menimpanya. Kehilangan ibu yang sudah melahirkannya tentu saja akan membuat gadis itu sedih. Kim bum senang So eun bisa menerima takdir yang telah membuat gadis itu menderita. Mungkin dengan semua kejadian ini, semuanya akan berubah menjadi lebih baik. Takdir Tuhan tidak akan pernah ada yang tau.

Kim bum mengedarkan pandangannya, ayahnya masih setia berdiri disamping ibunya dengan pandangan penuh perhatiaan. Hal yang sudah lama tidak dilakukan pria tua itu setelah perceraian keduanya. Satu orang yang saat ini menghilang dari tempatnya semula, Kim bum tidak melihat keberadaan kakaknya saat ini.

Kim bum meninggalkan So eun bersama kedua orang tuanya. Kim bum tidak ingin mengganggu So eun saat ini, mungkin saja gadis itu ingin melihat jasad sang ibu untuk terakhir kalinya.

Kim bum melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit, dia harus berbicara pada kakaknya. Ada banyak hal yang diakuinya pada sang kakak. Semuanya sudah berakhir, Kim bum tidak ingin menyesali apapun lagi.

Kim bum melihat seorang pria tengah duduk di taman rumah sakit dengan penerangan samar dari lampu taman di sekelilingnya. Kim bum tau pria itu adalah kakaknya. “Apa yang kau lakukan disini sendiri?” Tanya Kim bum sebelum akhirnya dia memilih bergabung dengan sang kakak.

Woo bin tidak menjawab, pria itu hanya menghembuskan nafas pelan dan memilih menyandarkan badannya pada sandaran bangku taman yang saat ini didudukinya.

“Kali ini aku yang melakukannnya.” Ucap Kim bum lagi.

Woo bin mengangguk lemah, dia tau bahwa Kim bum memang harus melakukannya. Memang Kim bum lah, yang diinginkan So eun dan bukannya dirinya. Dari awal So eun memang hanya menyukainya sebagai kakak tidak lebih.

“Dia tidak akan membenciku lagi.”

“Dari awal kau juga tidak bisa membencinya.” Jawab Woo bin pada akhirnya.

Kali ini Kim bum yang mengangguk tanda membenarkan perkataan sang kakak. “Apa sekarang kau yang akan membenciku?”

“Bagaimana aku bisa membencimu, kalau selama ini kaulah yang aku lindungi.”

“Bukankah kau yang mengatakan padaku akan melindunginya dan tidak akan melepaskannya.” Kim bum melirik kakaknya yang berada disampingnya.

“Apa aku harus memaksanya..?” Tanya Woo bin pada Kim bum.

“Aku tidak menyangka jika kita akan berlari sejauh ini.”

“Bukan kita tapi kau..”

Kim bum hendak menjawab pernyataan kakaknya lagi, tapi seseorang mendahuluinya.

 

“Tapi kakak mengikutinya.”

Kedua pria itu terdiam. Tidak ingin menoleh untuk mencari tau siapa yang baru saja mengeluarkan kalimat yang bisa didengar mereka.

Baik Kim bum maupun Woo bin tau bahwa suara itu berasal dari mulut So eun. Keduanya terdiam ditempatnya, seakan tau bahwa sebentar lagi gadis itu akan mendekati mereka dan bergabung bersama mereka.

“Sudah sangat lama sekali.” Ucap So eun ketika saat ini sudah berada ditempat duduk yang sama dengan Woo bin dan juga Kim bum. So eun mendudukkan dirinya diantara kedua pria itu.

Kim bum dan Woo bin menganggukkan kepalanya bersamaan. Memang sudah sangat lama sekali mereka bertiga tidak duduk bertiga seperti ini.

 

@@@

 

So eun tau ini semua akan berakhir, walaupun sebenarnya So eun tidak menginginkan berakhirnya semua masalah ini harus dibayar dengan kematian ibunya. So eun tidak pernah ingin menyalahkan kedua orang tuanya ataupun kedua orang tua Kim bum. Berkali – kali So eun sudah meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa tidak ada yang salah dalam takdiri ini, semua murni karena kehendak Tuhan.

“Kita akan mengurus pemakaman ibumu besok.. Sebaiknya kau pulang sayang.”

So eun mendengar kalimat tulus itu dari mulut Jae wook. Lagi – lagi pria yang sudah menjadi ayah tirinya ini membuatnya merasa senang atas perhatian yang sudah sangat lama tidak So eun dapatkan dari sosok seorang ayahnya. So eun sangat merindukan ayahnya. Ayah kandungnya.

“Ya.. apa yang dikatakan ayahmu benar sayang. Pulang dan istirahatlah, persiapkan dirimu besok pagi.. kau harus menemani So hyun dirumah. Biar aku dan ayahmu yang berada disini.” Tutur Yi hyun lembut, sambil membelai sayang kepala So eun.

“Kau bisa pulang bersama Kim bum atau Woo bin.” Jae wook mengedarkan pandangannya ke sekitar dan tidak mendapati kedua putranya itu.

So eun yang melihat Jae wook mengeluarkan ponselnya, seperti mengetahui pikiran ayah tirinya itu. So eun tau bahwa saat ini Jae wook akan menghubungi salah satu putranya itu dan sebelum dia sempat melakukannya So eun sudah terlebih mencegahnya.

“Aku akan mencari mereka paman..” Ujar So eun cepat.

Jae wook mengangguk dan membiarkan So eun keluar dari rumah sakit..

So eun keluar dari rumah sakit dan mencari – cari keberadaan Kim bum dan Woo bin saat ini. So eun tau jika keduanya masih berada disekitar rumah sakit ini sekarang, karena mata So eun bisa melihat dua mobil yang terpakir berdekatan yang diyakininya milik Kim bum dan juga Woo bin. So eun ingin menemui mereka. Berbicara dengan mereka dan banyak hal yang ingin So eun lakukan dengan kedua saudara tirinya itu.

So eun melangkahkan kakinya menyusuri sekitar rumah sakit, berharap bisa menemukan keduanya. Hingga akhirnya So eun bisa mendengar sayup – sayup suara itu, suara orang yang dicarinya.

So eun mendekati tempat Kim bum dan Woo bin saat ini berada. Dia masih ingin mendengarkan percakapan singkat kakak beradik itu, hingga dia memutuskan untuk berdiri di belakang mereka.

Hingga sebuah kalimat yang keluar dari mulut Woo bin, membuat So eun tidak tahan lagi mendengar percakapan dingin yang dilakukan oleh kedua saudara tirinya itu.

“Tapi kakak mengikutinya.” Sela So eun, menggantikan Kim bum menjawab kalimat dari sang kakak.

So eun yakin dua pria di depannya sudah sadar akan kedatangannya, walaupun keduanya tidak melihatnya. So eun memberanikan dirinya mendekati mereka dan memilih mendudukkan tubuhnya diantara dua pria tersebut. Inilah yang sudah sejak lama diinginkan So eun. Duduk bersama dengan Woo bin dan juga Kim bum tanpa adanya kebencian diantara mereka.

“Sudah sangat lama sekali.”

So eun bisa melihat kedua kepala pria disamping itu tengah mengangguk bersamaan. Tanpa bertanyapun So eun bisa merasakan apa yang saat ini tengah dipikirkan oleh keduanya. Karena So eun tau apa yang saat ini dipikirkan mereka, sama dengan apa yang sekarang dipikirkan oleh So eun sendiri.

“Kita bisa berhenti sekarang.” Ucap So eun lirih.

Lagi – lagi dua pria itu mengangguk bersama, hingga membuat So eun menyunggingkan senyum tipisnya.

“Seperti ini membuatku nyaman.. seperti ini saja selalu, tanpa ada kebencian diantara kita.” Lanjut So eun.

“Kita tidak pernah membencimu.” Lagi – lagi Woo bin dan Kim bum melakukannya bersamaan.

So eun mengembangkan senyumnya, kali ini lebih lebar dari yang sebelumnya. “Aku yang membenci kalian.” Jawab So eun mengakui kesalahan terbesarnya.

“Jangan membenci kita lagi.” Woo bin dan Kim bum kembali mengucapkannya bersamaan. Seperti saling mengetahui dialog yang harus diucapkannya jika So eun mengucapkan kalimat.

Kali ini bukan hanya senyuman yang terukir diwajah cantik So eun, melainkan segaris air mata juga berhasil terjun bebas dari matanya. Hal seperti inilah yang So eun sesalkan selama ini. Dia menyesali waktu yang telah terbuang dengan membenci keduanya.

So eun menyandarkan kepalanya pada bahu Kim bum dan mengapitkan lengannya pada lengan Woo bin. Sama seperti dulu, namun So eun tidak ingin mengulangi kesalahannya seperti dulu. So eun tidak ingin salah menyampaikan perasaanya. Walaupun sebenarnya perasaan itu masih sama.

“Aku menyukai kalian berdua.” Ungkap So eun dengan mata merapat.

Dan So eun bisa memperkirakan bahwa kali ini Woo bin dan Kim bum akan menjawabnya secara bersamaan lagi.

“Kita juga menyukaimu.” Jawab keduanya. Sesuai perkiraan So eun.

Kali ini So eun akan menjawabnya, pengakuan yang dulu masih diragukannya. Pengakuan yang sempat tidak diketahuinya bahkan sempat diabaikannya.

So eun menggumamkan sesuatu dan berharap pria itu bisa mendengarnya. “Aku juga mencintaimu.” Bisik So eun dan meyakini bahwa pria itu pasti mendengarnya.

So eun membuka matanya dan mengubah posisinya menjauhkan kepalanya dari bahu Kim bum, bisa dilihatnya senyum Kim bum yang saat ini mengembang di wajahnya begitu pula dengan Woo bin. Kedua pria itu tersenyum – tampan.

So eun tau bahwa selama ini dia tidak salah, namun mencoba membuatnya menjadi salah. Ditatapnya wajah kedua pria itu lagi, So eun tidak ingin menyakiti keduanya – lagi.

“Terima kasih sudah menyukaiku Kak Woo bin.” Ucap So eun ketika So eun menatap pria disamping kanannya. So eun bisa melihat Woo bin menganggukkan kepalanya pelan.

“Dan Terima kasih sudah mencintaiku Kim bum-ah.” Lanjut So eun saat mengalihkan pandangannya Kim bum. Pria itu juga mengangguk.

“Aku tidak ingin melukai kalian berdua lagi.. terimalah aku sebagai saudara kalian sekarang. Hanya kalian lah keluargaku sekarang dan aku tidak ingin kehilangan kalian semua.” Pinta So eun.

“Maafkan aku karena sudah membuat hidup kalian menderita dan maafkan aku karena sudah masuk kedalam hidup kalian, dengan takdir hidupku sangat menyedihkan.”

“Terimakasih sudah membiarkan aku menyukaimu So eun-ah.. semoga kau bisa mendapatkan kebahagian yang kau nantikan. Aku menyukaimu sebagai saudaraku bukan sebagai wanita lagi..” Ucap Woo bin dan langsung menyandarkan kepalanya pada bahu So eun. Satu hal yang selama ini ingin dilakukannya. Menyandarkan kepalanya pada bahu So eun yang sangat nyaman.

“Aku juga berterima kasih karena kau sudah membalas cintaku walau dengan cara yang berbeda. Semoga kau mendapatkan pria yang akan selalu membuatmu bahagia. Kali ini aku akan berusaha menyukaimu sebagai saudaraku.” Ucap Kim bum dan segera melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan kakaknya. Menyandarkan kepalanya pada bahu So eun dan mencium aroma tubuh So eun.

So eun senang karena akhirnya kedua pria ini bisa menerimanya sekarang. Menerima So eun sebagai saudara tanpa ada penolakan lagi. So eun akan berusaha menghilangkan rasa sukanya pada Kim bum sebagai laki – laki, seperti Woo bin yang menghilangkan perasaan suka terhadap So eun sebagai wanita.

Kali ini So eun tidak akan pernah membenci keluarga Kim bum dan akan lebih mencintai mereka. Untuk menebus rasa bersalah orang tuanya.

 

THE END

 

Iklan
Komentar
  1. febriyanti184 berkata:

    Udah nunggu lama bangeeet, akhirnya hadi juga part akhir.. tapi sad ending bumsso nya ga bisa bersatu hiiks hiiks.. tapi gpp, jujur ceritanya bagus bangeett👍👍👍👍👍

  2. shefty rhieya kyuna bumsso berkata:

    hadeuhh kok bumsso gk berstau ya… minta sp nya donk plisss

  3. […] Hate Or Love (part end) […]

  4. Aliana Park berkata:

    happy ending… tp syangnya bumsso gk brsatu sbg spsang kksih.. tp keren ff nya eon.. 🙂

  5. russ95 berkata:

    Huahhh happy ending n sad ending
    Happy nya karena semua masalah sudah selesai dan tdk ada kebencian lagi ,v huwwaa sad ending nya itu loh bumppa sama sso eonni tdk bisa bersatu sbg kekasih …
    Di tunggu karya selanjut nya

  6. dela safitri berkata:

    Yaaah kan mereka ga bersaudara knp tidak bisa bersama dan bersatu ?
    Mereka bisa menikahkan ?
    Aku gak relaa klo mereka tidak bersama ?
    Toh mereka saliiing mencintai thor ?
    Ayooo loh thor sekuat apapun klo memang mereka digariskan bersama pasti akan tetap bersama
    Akuu sukaa 🙂 di tunggu ya thor yg lainnya 😉
    Srmangaaaat

  7. My Fishy berkata:

    d tunggu lama banget ternyata malah sad ending haduh,. kim bum dan so eun tidak bersatu malah memutuskan menjadi saudara huft, kasian so eun tidak punya orang tua tapi untunglah keluarga kim bum mau merawat so eun..

  8. ternyata selama ini kim bum dan juga so eun sudah saling mencintai ,tapi kenapa endingnya harus happy sad seperti ini sich 😦
    aku senang karna kim bum,so eun dan woo bin sudah baikan dan akur kembali tapi sedihnya kim bum dan so eun gk akan pernah bisa bersatu 😦

  9. Cloud berkata:

    Pada akhirnya kisah ini berakhir dengan adil *mewekkk
    walau tidak ada satupun dari mereka yg mendapatkan sso
    tetapi mereka tetap menjadi keluarga yg sempurna
    memang betul keluarga lebih penting dri pada cinta yg bisa merusak persaudaraan 😀
    hebat banget deh authornya bisa bikin ff gaya gini

  10. Margaretha berkata:

    Pada akhirnya tidak ada seorangpun yg mendapatkan cinta sbg sepasang kekasih melainkan rasa suka sebagai saudara. Semua kebenciaan telah musnah bersama dgn kepergian salah seorang wanita yg terluka dan membuat luka.

  11. Shaneyida berkata:

    wah kb tak bener2 membenci sso begitupun sso yg ada mereka sling mencintai ..terlbh kb ru th klo sso pun mencintai dia ..krna kakk nya jg suka sso jd dia menjga persaan kknya..ku pikir sso menyukai woobin rpnya kimbum lah yg d sukainya . Tp endingnya mantab td tak fikir bumsso bakalan menjalin kasih tp ternyata mereka memng menjalin kasih tp sebagai saudara 😉 .. Ada rs puas dan tak puas kkkke *plakk* overall aku suka dr konfliknya dr pergelutan cinta segitiga .. Dan hub dg ortu mereka .. Hingga terselesaikan dg damaii .. Kb ma woobin dah sama2 iso nerima sso begitupun sbaliknya sso dh melepaskan smuanya hingga rs yg dulu d rasa waktu kecil kebersamaan mereka dl tercipta kembali skg 😉 ..jd aye suka lah ma endingnya bumssobin ceria kembali dantak pikir tae Ħè akan pergi cos dah sdr ee rpnya dia mmng pergi perginya k dunia lain ee hhe ,rpnya krna tanggung jwab itu jewook merwat kel sso tak pikir ada perselingkuhan yg gimana gt hingga dia hrs menikahii tae heeee kkkkkke and finally jaewook kek ny kembali ma jihyun and akan merwat anak2 mereka 😉 , eee sohyun adeknya sso nya mana g kliatan hhhhe XD ! Thumbs up (y) keep writing n cmingith author :* (y) ({})

  12. nur bummies berkata:

    hadeuhhhh akhirnya kok gini sih gk nyangka banget. saat ibu sso meninggal knp fikiranku ke hyun woo ya gmna nasib hyun woo trs hyun woo gmna (asal-usul)? tpi tetep nguras perasaan unnie. sampek selarang perasaan nyeseknya aja gk ilang² pokoknya nih ff keren dah

  13. Mama nikita widiyati berkata:

    Astaga…endingnya sungguh jauh di luar dugaan.aku pikir so eun akan memilih kim bum tapi ternyata dia memilih memiliki keduanya sebagai saudara….sungguh mengharukan…..ckckckckck kereeennn…..kerennn bgtz?z?z?

  14. riqkarak berkata:

    Ijin baca thor, coment dulu thor mumpung sinyal bagus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s