Posts Tagged ‘Hate Or Love’

Hate Or Love (part 5)

Posted: 26 Juli 2014 in FF BUMSSO
Tag:

cats

Part 5


Kim bum mengguyur tubuh polosnya. Mata itu terpejam, teriakan serta rontaan So eun semalam menjadi tamparan keras untuknya. Penyesalan itu menyelimuti sisi redup dalam tubuhnya. Ini salah – fikirnya. Tapi Kim bum, berusaha mengabaikan perasaan bersalah itu. Tidak akan ada penyelasan, Kim bum tidak akan membiarkan dirinya menyesal dengan apa yang baru saja dilakukannya– tidak akan pernah.

Kim bum keluar dari kamar mandi. Menampilkan badan telanjangnya yang masih basah karena aktivitas yang baru saja dilakukannya, ditambah dengan celana santai dibawah lutut yang menutupi kaki jenjangnya. Kim bum mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang tadi tergantung dilehernya. Mata itu menatap tubuh ringkih yang masih tergolek di atas tempat tidurnya. Masih sama seperti beberapa saat yang lalu saat Kim bum meninggalkan gadis itu untuk melakukan aktifitasnya mengguyur diri.

Kim bum melemparkan handuk kecil yang digunakannya untuk mengeringkan rambut basahnya kesandaran kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Tatapan mata itu bertemu dengan mata milik gadis yang masih belum bergeming dari tempatnya semula. Tatapan terluka dari gadis itu membuat Kim bum harus rela menahan tubuhnya yang seperti ingin menembus benteng yang sudah bertahun – tahun dibuatnya untuk menghilangkan rasa yang sejak dulu dimilikinya untuk gadis itu.

Langkah kaki Kim bum mendekati tubuh So eun, tidak melepas pandangan matanya dari mata So eun. Sorot mata melukai diarahkan Kim bum pada So eun. Tentu saja Kim bum masih tetap mengikuti hasrat untuk membenci gadis itu, tidak ada hasrat lain selain membenci gadis itu.
Tangan ringkih itu menepis telapak tangan Kim bum yang hendak menyentuh tubuhnya tersebut. Sepertinya gadis itu tetap menekadkan niatnya dan membuktikan ucapannya untuk membenci Kim bum. Jika sebelumnya So eun tidak sepenuhnya membenci Kim bum, tentu saja kali ini gadis itu akan membenci Kim bum dengan sepenuh hatinya. Apalagi yang akan dipertahankan dari seorang Kim bum, pria itu bahkan sudah tidak punya perasaan sekarang. Hati Kim bum bahkan seperti hilang dari tempatnya dan hanya diisi dengan dendam.

Kim bum tersenyum ketika mendapati perlakuan dari So eun. Pria itu menurunkan tangannya sambil menegakkan badannya. Mengamati tubuh So eun yang bergerak, melihat So eun yang beranjak dari tempat tidur yang sedari tadi digunakan gadis itu untuk meletakkan tubuhnya. So eun menutupi tubuhnya yang hanya terbalut pakaian dalam dengan selimut. Tidak ada pakaian lain yang melekat ditubuhnya, selain pakaian dalamnya.

Keheningan mencekam keduanya. Kim bum diam dengan posisinya saat ini, hanya matanya saja yang sedari tadi mengawasi setiap pergerakan yang dilakukan oleh So eun. Gadis itu mengambil pakaiannya yang tergelatak dilantai. Hembusan nafas kesal dikeluarkan oleh So eun, tentu saja So eun tidak akan mungkin bisa mengenakan pakaian itu lagi, mengingat kondisi pakaian itu sudah benar – benar koyak dimana – mana. Benar – benar seperti hati So eun saat ini, yang sudah berlubang dimana – mana sehingga tidak benar – benar bisa difungsikan dengan baik.

Tentu saja Kim bum tau apa yang saat ini ada fikiran So eun. Maka dari itu sekarang Kim bum mengambil sebuah tas yang terletak di atas sebuah meja kaca, mengambil isinya yang ternyata adalah sebuah blous terusan yang tadi sudah dipesannya dari sebelum Kim bum membersihkan tubuhnya.
Didekatinya tubuh So eun yang berdiri disampingnya, gadis itu menundukkan kepalanya. Tidak ingin menatap pria yang saat ini berada dihadapannya. So eun mengeratkan selimut besar yang melilit tubuhnya, berusaha menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam dari penglihatan Kim bum.

“Apa lagi yang mau kau sembunyikan dari mataku?” Pertanyaan yang terlontar datar dari mulut Kim bum, tanpa melihat si lawan bicara tentu saja membuat So eun si lawan bicara semakin kesal dibuatnya.
Pasalnya dari pertanyaan yang terlontar dari mulut Kim bum barusan, membuat otak So eun bekerja dan tersadar bahwa memang apa yang dilakukan So eun saat ini, dengan menutupi tubuhnya dengan selimut tidak akan membuat kenyataan bahwa Kim bum sudah melihat tubuh polosnya itu lenyap.

“Jangan karena aku tak melakukannya semalam, kau jadi berani melawanku.” Bentakkan itu keluar dari mulut Kim bum, ketika lagi – lagi So eun menepis tangan Kim bum yang hendak menyentuhnya.

“Kau kira aku tidak bisa melakukannya? Kau kira aku selemah itu sehingga tidak berani melakukannya semalam? Jangan karena semalam aku tidak melakukannya maka kau bisa dengan bebas melawan apa yang akan aku lakukan padamu.” Nada bicara Kim bum terdengar lebih lembut dari pada sebelumnya ketika mengucapkan serangkaian kalimat panjang barusan.
Satu tangan kokoh itu menarik pergelangan tangan So eun agar tubuh gadis itu bisa lebih dekan dengan Kim bum. ditariknya selimut yang sedari tadi dicengkram kuat oleh So eun sehingga selimut itu jatuh terjuntai ke lantai.

“Kusuruh kau untuk mandipun, kau pasti akan menolakkan! Maka dari itu aku tidak ingin memaksamu untuk mandi, dan aku juga tidak punya keinginan untuk memandikanmu.” Kim bum menghela nafas sebentar untuk mengambil jeda untuk kalimat yang akan terlontar selanjutnya.

“Terserah kau mau membersihkan dirimu atau tidak. Aku tidak peduli. Aku akan mengantarmu ke rumah itu setelah kau merapikan dirimu.” Sambung Kim bum. Pria itu memindahkan pakaian yang sedari tadi ada digenggaman tanganya pada tangan So eun.

Kim bum tersenyum miris, bukan pada So eun yang masih setia menunduk tapi pada dirinya sendiri yang benar – benar terlihat lemah sekarang. Kemana kekuatan Kim bum yang selama ini sudah dipupuknya. Kemana Kim bum yang selalu berapi – api menyerukan kata dendam dalam hatinya untuk gadis di depannya. Dan kemana sumpah Kim bum yang akan membuat gadis di depannya ini selalu meneteskan air mata. Benarkah Kim bum sudah kalah – Mustahil.

So eun memutar tubuhnya. Gadis itu membelakangi tubuh Kim bum. gadis itu sudah tidak punya niatan untuk mengenakan pakaiannya dikamar mandi. Percuma, menutupi semuanya dari Kim bum juga percuma. Membersihkan sentuhan Kim bum dari tubuhnya juga percuma. Pria itu tidak menyentuhnya sama sekali. Kecuali sebuah lumatan kasar dan juga tamparan di pipinya. Kim bum tidak melakukan apapun padanya setelah pria itu melucuti tubuh So eun dan hanya meninggalkan pakaian dalam itu tetap melekat pada tubuh sang pemilik. Selain pelukan posessive yang dilakukan Kim bum setelahnya.

Flash back

Kilatan tajam dari sorot bola mata berwarna hitam pekat itu membuat So eun semakin ketakutan. Tubuh gadis itu menegang ketika Kim bum mencengkram kedua bahunya. Ya… kali ini So eun sudah tidak bisa lepas dari jeratan Kim bum. Seberapa besarpun rontaan yang akan dilakukan So eun, pria itu tetap saja tidak akan bisa melepaskan dirinya.

Air mata itu kembali jatuh dari pelupuk mata indah milik So eun, ketika Kim bum benar – benar sudah menanggalkan seluruh pakaiannya dan hanya menyisakan pakain dalamnya. Sedetik kemudian So eun berfikir bahwa inilah waktunya dia harus merelakan apa yang harus dijaganya sebagai seorang wanita. Kehormatannya akan terenggut paksa oleh pria yang dulu selalu bersikap hangat padanya. Kekalutan itu ternyata tidak terbukti dan hal buruk yang ada memenuhi otak So eun saat ini tidak sepenuhnya terjadi ketika tubuh kokoh yang tadi menguasainya jatuh kesamping tubuhnya.

“Aku akan selalu membuatmu menangis…”

So eun menolehkan wajahnya kesamping. Melihat tubuh pria yang saat ini terlentang disampingnya. Tidak mengerti sepenuhnya dengan apa yang sedang ada di kepala Kim bum selama ini. tapi rasa syukur itu tidak akan pernah So eun lupakan. Gadis itu tetap mengucap syukur berulang kali pada sang pencipta walau hanya dalam hati. Bukan hanya karena dirinya yang masih bisa menjaga kehormatannya tapi juga karena Tuhan masih mau membukakan celah terang didalam hati Kim bum sehingga pria itu tidak melakukan hal yang memang tidak boleh pria itu lakukan.

“Jika kau lelah bukankah sebaiknya kau beristirahat….sampai kapan kau akan terus berlari?” So eun memiringkan tubuhnya, menatap tubuh Kim bum yang masih berbaring disampingnya. Walau saat ini So eun hanya bisa melihat wajah Kim bum dari samping tapi gadis itu bisa melihat dengan jelas cairan bening yang keluar dari sudut mata Kim bum. Pria itu mengeluarkan air matanya – Menangis.

“Aku bukan pria lemah.” Suara itu bergetar. Kim bum menggerakkan tubuhnya mengubah posisinya yang semula terlentang menjadi memunggungi So eun yang sedari tadi memperhatikannya. Gadis itu melihatnya mengeluarkan air mata – lagi. kenapa selalu So eun yang melihat kelemahan Kim bum, padahal jelas – jelas Kim bum ingin membuktikan pada gadis itu bahwa Kim bum ini adalah pria yang kuat.

“Sampai kapan kau akan membenciku?”

Hening… tidak ada jawaban dari Kim bum. walau pria itu membelakangi So eun, tapi gadis itu tau bahwa saat ini Kim bum belum terlelap. Terbukti dari tubuh Kim bum yang bergetar saat ini, pria itu pasti sedang menangis walau tidak bersuara. Pria itu pasti mati – matian menahan tangisnya agar tidak pecah. So eun tau kebiasaan Kim bum. Dan ini bukan kali pertama So eun melihat Kim bum menangis. Lalu kenapa pria ini tidak ingin So eun melihatnya, apa karena kondisi sekarang berbeda dengan dulu.

“Aku bukan pria lemah..” lagi – lagi kalimat itu yang keluar dari mulut Kim bum.Walau pelan So eun masih bisa mendengarnya.
So eun memberanikan dirinya membelai lembut rambut hitam Kim bum. ini yang selalu membuat Kim bum nyaman. Belaian lembut dari So eun seperti inilah yang beberapa tahun yang lalu selalu membuat Kim bum melupakan semua masalahnya ataupun kekakangan dari sang ayah.

Greep..

So eun kaget, ketika Kim bum memutar badannya secara tiba – tiba dan detik berikutnya pria itu sudah merengkuh tubuh So eun kedalam pelukannya. Kali ini pelukan itu terasa hangat seperti beberapa tahun yang lalu ketika Kim bum dan So eun masih menjalin hubungan baik.
Pelukan yang pernah dirasakan So eun, ketika So eun harus mendengar berita kematian sang ayah. Dan pelukan ketika So eun berada dalam masa – masa sulit ketika kebangkrutan melanda perusahaan sang ayah setelah kepergian beliau. Pelukan hangat, bukan pelukan menyakitkan.

“Bencilah aku Kim so eun… Bencilah aku, yang tidak bisa menghilangkan perasaan ini. kumohon bencilah aku, yang selalu memaksamu….” gumam Kim bum. “kumohon bencilah aku yang masih mengharapmu.” Lanjut Kim bum dalam hati.
Tidak ada jawaban dari So eun, gadis itu tidak ingin menjawab kalimat yang dikeluarkan oleh Kim bum. tidak ingin sama sekali. Setidaknya bukan sekarang. So eun hanya ingin membiarkan Kim bum sedikit melepaskan belenggu gelap yang ada didalam tubuhnya. Walau hanya sedikit setidaknya belenggu hitam itu mulai berkurang dari dalam diri Kim bum.

End of Flash back

Kim bum memeluk tubuh So eun dari belakang. “Jangan pernah mengganggapku lemah, hanya karena kau melihatku menangis semalam.. niatku untuk mnghancurkan hidupmu dan juga ibumu masih selalu ada didalam benakku.” Seringaian tipis tersungging jelas disudut bibir Kim bum.

“Dan jangan pernah mengannggapku, akan takut padamu…” Balas So eun. Gadis itu tidak benar – benar serius dengan ucapannya. Sejujurnya perasaan bersalah So eun saat ini masih membuat gadis itu takut pada Kim bum. Tentu saja bukan hanya karena kesalahan yang dilakukan oleh ibunya yang membuat orang tua Kim bum berpisah, tapi juga karena perasaan yang dimiliki So eun sampai saat ini.
So eun masih bisa merasakan kengerian ketika gadis itu bisa merasakan hembusan nafas Kim bum yang mengenai tengkuknya. Mencoba menghindari Kim bum pun percuma, maka dari itu So eun hanya bisa diam ketika Kim bum dengan santainya membantu So eun untuk menaikkan resleting baju terusan yang tadi diberikan Kim bum untuk So eun.

“Kau benar – benar ingin melepaskan tawananmu, dengan mengantarku pulang?”

Kim bum tersenyum.. pertanyaan So eun benar, mana ada seorang tawanan diantar pulang oleh si penawan. Sejak jaman dulu, tidak ada istilah seperti itu. Kim bum menarik tubuh So eun yang masih membelakanginya hingga membentur dada bidang Kim bum yang tidak tertutup oleh pakaian. Kembali dipeluknya pinggang sang gadis, hingga lagi – lagi gadis itu tidak bisa bergerak.

“Kau pikir itu rumahmu… apa maksudnya dengan pulang?”

“Lalu apalagi yang mau kau lakukan padaku?” Tantang So eun. Tidak ada sirat ketakutan dari pertanyaan yang terlontar dari mulutnya.

“Kau tidak takut padaku?”

“Kau yang menyuruhku untuk membencimu… jika kau ingin aku membencimu, tentu saja aku tidak boleh takut padamu.”

“Padahal akan jauh lebih menarik jika kau masih takut padaku… tubuhmu akan bergetar hebat jika mendapatkan sentuhanku seperti ini.” Kim bum semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh So eun.

“Lalu apa yang kau inginkan dariku?” pertanyaan itu terdengar pelan, tapi terkesan menuntut jawaban. Mungkin karena So eun sudah sangat lelah mengikuti alur cerita yang dibuat oleh Kim bum sehingga gadis itu bahkan bingung dengan apa yang akan dilakukan setelah ini.

“Memangnya apa yang kau inginkan?”

So eun jengkel… gadis itu melepaskan pelukan Kim bum. ditatapnya lekat mata Kim bum, mencoba mencari suatu kebenaran yang tersembunyi dari bola mata hitam kelam itu. Berharap masih ada celah untuk So eun, untuk menjelajahi dunia Kim bum yang sudah sangat lama tidak terjamah oleh siapapun.

“Aku tidak lelah.. aku bahkan tidak butuh istirahat.. aku ingin menyelesaikan semuanya secepatnya.” Jawaban itu terkesan dingin. Kim bum berusaha mati – matian agar tidak terlihat lemah dihadapan So eun. Lengah sedikit saja, sudah pasti So eun akan tau bahwa sebenarnya Kim bum benar – benar sudah kalah. Bahkan kekalahan ini sangat telak untuk Kim bum. terlebih tidak ada penopang dibelakangnya. Sang kakak bahkan bersedia menjadi rivalnya hanya karena gadis yang ada dihadapannya ini. walaupun sama – sama satu tujuan tapi misi dan cara yang digunakan Kim bum dan Woo bin berbeda, bagaimana jika nanti sang kakaklah yang keluar menjadi pemenang. Walau sebenarnya Kim bum tau bahwa memang pada kenayataannya saat ini sang kakaklah yang sudah menang. Tapi Kim bum percaya ini semua masih belum berakhir dan masih ada jalan untuk dirinya memenangkan semua pertandingan yang telah dijalaninya saat ini.



Seperti biasa rumah yang terlihat besar dan mewah itu selalu nampak hening, tidak ada aura kehangatan dari sekelompok keluarga yang mendiami rumah tersebut. semua penghuninya sibuk dengan kegiatan masing – masing. Tidak pernah memperhatikan keadaan satu sama lain. Jikapun ada pasti hanya sebuah tegur sapa yang berakhir dengan keributan atau pernyataan yang tidak ada penjelasan.

So eun.. gadis itu membuka pintu rumah yang saat ini ditinggalinya bersama keluarga barunya. Rumah yang terlihat seperti istana, namun seperti kosong tak berpenghuni. So eun tidak akan pernah peduli, dan lebih baik bersikap masa bodoh saja dengan keadaan yang seperti ini. lagi pula So eun tidak membutuhkan siapapun disini, So eun juga tidak peduli pada semua orang yang ada di rumah ini kecuali So hyun.

Astaga, So eun sampai lupa jika beberapa hari ini dirinya tidak pernah menemani So hyun bermain ataupun membantu adiknya itu untuk belajar. Ya.. walaupun ayah So hyun dan So eun bukan pria yang sama, tapi mereka berdua tetap dilahirkan dari rahim wanita yang sama jadi sudah pasti So eun akan menyayangi So hyun.
So eun berjalan menuju kamar So hyun, hari ini hari libur sudah pasti adik perempuannya itu tidak pergi ke sekolah. Mungkin akan lebih baik jika So eun menyempatkan diri melihat keadaan sang adik sebelum dia menuju kamarnya untuk beristirahat.

“So hyun-ah.” Panggil So eun, ketika gadis itu sudah membuka pintu kamar sang adik.

“Kakak..”

“Ahh… maafkan kakak sudah mengganggumu So hyun-ah.” So eun membalikkan badannya. Gadis itu tidak menyangka Woo bin bisa berada di kamar So hyun dan membantu gadis kecil itu untuk belajar. Sejak kapan Woo bin menyukai So hyun, bukankah selama ini kakak tirinya itu juga tidak terlalu peduli pada sang adik sama seperti Kim bum.

“Kakak.. dari mana saja, kenapa semalaman tidak pulang? Kakak tidur dimana? Apa terjadi sesuatu padamu?” rentetan pertanyaan dari So hyun tidak mendapat jawaban dari So eun.
So eun tetap saja melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kamar So hyun. Satu – satunya tempat yang menjadi tujuannya saat ini yaitu adalah kamarnya. So eun ingin segera merebahkan tubuhnya, dan mengistirahatkan tubuhnya.

“Ada apa dengan kak So eun, tidak biasanya kak So eun bersikap seperti itu.” Gumam So hyun. Gadis kecil itu mengentikan aktifitasnya sambil terus memandangi tempat dimana tadi So eun berdiri.

“Apa kau sedih, karena kakakmu bersikap seperti itu?” Tanya Woo bin.

So hyun menganggukkan kepalanya. “Selama ini hanya kak So eun yang peduli padaku. Hanya dia yang selalu menemaniku bermain ataupun belajar. Tidak ada yang lain. Baik itu ibu, ayah, ataupun kak Woo bin dan juga kak Kim bum.” tutur So hyun dengan perasaan sedih.

Woo bin tersenyum mendengar penjelasan So hyun. Gadis kecil ini juga kesepian ternyata, sama seperti dirinya. Pria itu berfikir, ternyata bukan hanya dirinya, Kim bum dan So eun yang menjadi korban dari rusaknya keluarganya ini melainkan So hyun pun juga. “Bukankah sekarang aku sudah menemanimu belajar.” Ucap Woo bin sambil menepuk pelan kepala So hyun.

“Kenapa sekarang kakak mau berbicara padaku?” Tanya So hyun, dengan polosnya.

“Memangnya tidak boleh jika aku berbicara padamu.” Woo bin balik bertanya pada sang adik.

“Bukan seperti itu. Aku menyukaimu, menyukai kak Kim bum dan juga kak So eun. Tapi selama ini hanya kak So eun saja yang mau menganggapku sebagai adik, sedangkan kalian berdua tidak pernah memperhatikanku walau hanya sebentar.” Jelas So hyun.

“Kak Kim bum, malah selalu membentakku. Apa kalian tidak suka padaku dan juga kak So eun. Bukankah aku ini adik kandung kalian?” sambung So hyun.

Lagi – lagi Woo bin tersenyum mendengar kalimat – kalimat yang keluar dari mulut sang adik. Gadis kecil ini sudah pintar berbicara rupanya, hingga Woo bin saja susah untuk menjawab pertanyaan yang telah diajukan kepadanya. Rasa bersalah itu menyelimuti hatinya hingga membekukan lidahnya. Tidak bisa menjawab pertanyaan sang adik, yang memang tidak seharusnya mendapat perlakuan yang buruk dari kakak – kakaknya.

“Kami semua menyayangimu.. baik itu ibumu, ayahku, So eun, aku dan juga Kim bum. hanya saja ada beberapa hal yang kau masih belum bisa memahaminya.” Jelas Woo bin.

“Lanjutkan belajarmu. Aku ingin berbicara sebentar dengan So eun.” Ujar Woo bin, sambil beranjak dari tempatnya.

So hyun mencengkram baju Woo bin, menahan sang kakak untuk beranjak. “Jangan membuat Kak So eun menangis. Aku tidak mau dia bersedih.” Pinta So hyun.
Woo bin menganggukkan kepalanya. Pria itu tersenyum walau hanya senyuman tipis. Dan pergi meninggalkan So hyun.

Kini tubuh jangkung itu berdiri tepat dihadapan pintu kamar So eun. Woo bin memantapkan hatinya untuk sekedar mengetuk pintu itu dan menyambut sang pemilik kamar. Perasaan bersalah menyelimuti hatinya. Semuanya sudah berjalan, dan tidak mungkin untuk diputar ulang. Jika memang terjadi sesuatu pada So eun, itu pasti semua karena Kim bum. Woo bin tidak berhak mencampuri urusan sang adik, karena memang Woo bin tidak memiliki wewenang untuk itu.

“Bolehkah aku masuk kedalam?” Woo bin bertanya pada sang pemilik kamar. Pria itu masih tidak ingin mengetuk pintu atau masuk kedalam kamar tersebut. Masih menunggu sang pemilik kamar menyambutnya atau sekedar memberikan jawaban yang membolehkan dirinya memasuki kamar So eun.

Hening… tidak ada jawaban dari dalam, danWoo bin tau apa yang sedang dilakukan oleh adik tirinya itu. Bukan karena Woo bin mempunyai ikatan batin dengan So eun, tapi insting Woo bin sangat kuat jika itu menyangkut adik kandung dan juga adik tirinya ini.

“Aku akan masuk kedalam.” Woo bin, memutar handle pintu kamar tersebut sehingga pintu itu terbuka. Dan contohnya seperti ini, Woo bin bahkan tau jika saat ini So eun tidak mengunci pintunya.
Mata kelam itu langsung memfokuskan pandangannya pada tubuh gadis yang saat ini tengah duduk di samping tempat tidurnya dengan memeluk kedua lututnya.

“Apa Kim bum melakukannya?” pertanyaan itu langsung pada titik sasaran. Woo bin bukan tipe pria yang suka berbasa – basi. Jadi pria itu akan langsung pada pointnya jika menanyakan suatu masalah.

So eun tidak menjawab peertanyaan sang kakak. Gadis itu masih setia dengan posisinya. Fikirannya masih dipenuhi dengan kata kenapa dan kenapa… kenapa Kim bum begitu membencinya? Kenapa Woo bin mengacuhkannya? Kenapa ibunya tidak memperhatikannya? Dan kenapa ayahnya pergi meninggalkannya?

“Aku yakin Kim bum tidak setega itu melakukannya. Aku mengenalnya. Bisakah kau beritaukan padaku dimana Kim bum sekarang?”

“Apakah kau hanya mempedulikan keadaannya? Apakah kau tidak ingin tau bagaimana keadaanku?” Akhirnya So eun mengeluarkan kalimatnya. Gadis itu lelah, ketika Woo bin selalu mengacuhkannya. Walaupun So eun tau apa alasan Woo bin melakukannya.

“Aku tidak perlu menanyakan keadaanmu karena mataku sudah melihatmu sekarang. Kau lebih kuat darinya. Dan itu yang membuatku takut.” Woo bin tidak mendekati tubuh So eun, tubuh tinggi itu masih tetap berdiri tegap di ambang pintu. Terbesit sebuah keinginan untuk Woo bin memeluk So eun. Membawa tubuh kecil itu untuk masuk kedalam peluknya, tapi Woo bin tidak bisa melakukannya.

“Aku tidak sekuat yang kau fikirkan, dan dia tidak selemah yang kau tau. Tidak bisakah kau juga melihatku, memperhatikanku seperti kau memperhatikannya!” So eun berteriak.. sudah tidak bisa lagi menahan semuanya. Hanya pada pria ini So eun berani mengungkapkan semuanya, walaupun itu semua tidak ada gunanya.

“Dia adikku… dan kau musuhku.”

“Ya… DIA ADIKMU.” Teriak So eun…

“Kau terlihat menyedihkan So eun-ah”

“Ya.. dan itu semua karena kau dan juga adikmu itu. Pergilah dari sini karena aku tidak akan pernah mau memberitaukan dimana dia sekarang.”

Woo bin tersenyum mendengar ucapan So eun. Woo bin bukan pria bodoh, bahkan pria itu terlalu pintar untuk mengetaui keberadaan sang adik. Woo bin, hanya ingin memastikan bahwa So eun masih mau mempercayainya walaupun itu tidak mungkin. Woo bin tau bahwa perasaan itu masih ada walau hanya sedikit dan itu tentu tidak mungkin terealisasikan.

Woo bin melangkahkan kakinya untuk mendekati tubuh kecil So eun. Tentu saja Woo bin akan semakin lemah jika berhadapan dengan So eun. Sama seperti sang adik. “Bencilah aku So eun-ah. Sampai kapanpun aku akan berusaha untuk tidak melihatmu. Jangan penah menganggapku berada di sisimu hanya karena aku selalu menolongmu dari Kim bum. Aku tidak lebih baik dari adikku.”

Woo bin merendahkan tubuhnya, ditariknya So eun agar gadis itu berdiri. Dan ketika keduanya sudah berdiri sejajar Woo bin langsung menarik tubuh So eun ke dalam pelukannya. “Bencilah aku So eun-ah. dan hilangkan rasa takutmu pada Kim bum.”

So eun terdiam ketika Woo bin memeluknya, jika sekarang Kim bum yang melakukannya sudah pasti gadis itu akan meronta. Tapi ini adalah Woo bin, pria yang dulu pernah menjadi harapannya. Walaupun So eun tidak membalas pelukan pria itu, tapi tentu saja So eun menikmatinya. “Kalian berdua sama.” Gumam So eun.

“Karena kita saudara.” Jawab Woo bin. Masih dengan posisinya.

“Aku juga saudaramu.” Bela So eun.

“Kita berbeda..” Yakin Woo bin. Pria itu melepaskan pelukannya pada tubuh So eun. Tidak ada senyuman. Wajah itu datar tapi menenangkan.

“Kau tidak perlu memberitaukan padaku dimana keberadaan saudaraku. Karena hatiku akan selalu menuntuku untuk menemukan keberadaannya.” Woo bin memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar So eun.

“Aku membenci kalian berdua.. selamanya.. aku membenci kalian.” Lirih So eun. Dan tubuh itu langsung merosot ke lantai. So eun benar – benar tidak akan bisa menyentuh hati Woo bin sampai kapanpun. Dan So eun tidak akan pernah bisa membuat Kim bum kembali seperti dulu. Bisakah Tuhan membawa So eun pergi bersama dengan ayahnya saja, bukankah semua yang ada di dunia ini tidak ada gunanya untuk So eun sekarang.

***

“Lama tidak bertemu Tae hee-ya.”

Dua orang wanita berusia senja itu saling duduk berhadapan di sebuah restoran. Aura menegangkan itu menyelimuti keuduanya. Dua sahabat yang sekarang sudah saling menjauhkan diri dari masing – masing.

“Aku tidak menyangka kau masih mau menemuiku yi hyun-ah!” Tae hee tersenyum mengejek ketika mendapati mantan sahabatnya itu tengah duduk di hadapannya.

“Kau fikir aku sengaja ingin bertemu denganmu.. sampai matipun aku tetap tidak akan melupakan perbuatanmu padaku dan juga keluargaku.”

Tae hee terkekeh mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut yi hyun. Wanita ini masih membencinya. Tae hee tau bahwa Yi hyun memang tidak akan pernah bisa dengan mudah memaafkan kesalahannya. Mungkin selamanya mantan sahabatnya ini akan selalu membencinya tapi itu tidak akan membuat Tae hee melepaskan semuanya.

“Lalu apa maksudmu, mengajakku bertemu?”

“Sampai kapan kau akan membuat kekacauan ini? Apa kau tidak tau bagaimana perasaan anak – anak kita sekarang!”

Tae hee kembali terkekeh mendengar kalimat yang keluar dari mulut Yi hyun. Kenapa wanita ini bersikap sok baik dengan menunjukkan perhatiaannya pada anak – anak. Oh… Tae hee melupakan sesuatu, wanita ini hanya memikirkan putra – putranya sendiri dan bukannya kedua putrinya. “Kau lucu Yi hyun-ah”

“Hentikan semuanya… biarkan mereka bisa hidup layaknya anak – anak yang lain.”

“Aku tidak peduli pada putra – putramu.. aku hanya peduli pada kedua putriku, aku ingin mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milik mereka.”

“Sampai kapan kau akan menutup matamu.. jika yang kau inginkan hanyalah harta Jae wook ambilah semua. Bukankah dulu suamiku sudah memberikan semuanya padamu.. kau yang menolaknya.”

“Dia suamiku.. bukan suamimu lagi.”

“Kau yang menjebaknya sehingga dia harus menikahimu…”

“Mantan suamimu membunuh suamiku… Jae wook merebut semuanya dari Nam gil. Kenapa kau masih membela mantan suamimu yang jelas – jelas sudah menelantarkan hidupmu.”

“Kau benar – benar sudah gila, itu semua takdir.. Bukan Jae wook yang membunuh Nam gil, itu kecelakaan. Bukankah kau dan aku juga ada disana menyaksikan kejadiannya.”

“Persetan dengan semuanya.. Kau tidak berhak mengguruiku. Aku tidak peduli dengan siapapun. Aku hanya ingin semuanya kembali padaku. Anak – anakku harus hidup layak. Aku tidak mau membuat mereka menderita lagi.” Teriak Tae hee. Wanita itu segera menyambar tasnya dan segera beranjak dari tempatnya.
Tae hee tidak ingin terlibat dalam pembicaraan yang dianggapnya tidak masuk akal ini. Yi hyun terlalu lemah untuk semuanya, atau wanita itu memang sengaja ingin terlihat lemah di hadapan Tae hee. Yi hyun tidak pernah merasakan betapa hancurnya Tae hee ketika dirinya mendapatkan suaminya meninggal di depan kedua matanya. Tae hee harus mengurus So eun sendirian ketika perusahaan suaminya mengalami kebangkruatan. Tae hee sudah melangkah sejauh ini, tidak mungkin dirinya bisa berhenti. “Maafkan aku Yi hyun-ah.” gumam Tae hee pelan, ketika tubuh wanita itu sudah menjauh dari Yi hyun.

“Caramu ini salah Tae hee-ya” lirih Yi hyun.
Yi hyun menundukkan kepalanya. Percuma Yi hyun menurunkan harga dirinya untuk menemui Tae hee, akhirnya Yi hyun tetap saja gagal membuat Tae hee menghentikan semuanya. Yi hyun sudah merelakan suaminya untuk Sahabatnya sendiri walaupun hatinya terluka, tapi Tae hee tetap pada pendiriannya.

“Maafkkan ibu anakku.” Lirih Yi hyun.

***

Woo bin tampak gelisah. Berkali – kali pria itu melirik ke arah jam berwarna hitam yang melingkari pergelangan tangannya. Sudah hampir dua jam Woo bin berdiam diri menunggu sang ibu, tapi wanita yang telah melahirkannya itu tak kunjung juga datang. Kemana perginya sang ibu, kenapa hingga malam telah larut wanita itu belum juga pulang.

Woo bin hendak beranjak dari sofa panjang yang saat ini tenga didudukinya untuk kembali ke rumah ayahnya. Mungkin malam ini ibunya bermalam di butik sehingga wanita itu tidak pulang.

“Woo bin-ah sejak kapan kau ada di sini?” Yi hyun kaget ketika mendapati sang putra sulung sudah berada di rumahnya tepat di saat wanita itu menginjakkan kakinya ke dalam rumah.

“Kenapa ibu baru pulang? Apa yang ibu lakukan seharian?” Woo bin menghampiri sang ibu, dan membimbingnya untuk duduk di sofa yang tadi didudukinya sebelum sang ibu datang.

Yi hyun membelai rambut putranya. Yi hyun berharap semua kekacauan yang ada akan segera berakhir. Wanita itu sangat ingin berkumpul dengan kedua putranya. Yi hyun sudah tidak bisa mengharapkan kehadiran Jae wook lagi, karena mantan suaminya itu sudah memiliki wanita lain di sampingnya.

“Ibu ingin menyelesaikan semuanya sayang…”

“Aku juga ingin menyelesaikannya bu… menyelesaikan semua perasaan ini.” Jawab Woo bin.

“Ibu akan selalu mendukungmu dan juga mendoakanmu… Ibu percaya bahwa anak – anak ibu sudah besar. Kalian tau apa yang harus kalian berdua lakukan.”

“Aku tidak ingin menyakitinya bu… Aku menyayangi Kim bum.”

“Ibu tau sayang..”
Woo bin menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu.. Pria itu ingin merasakan kehangatan sang ibu. Hanya ini yang dibutuhkannya sekarang, selama ini Woo bin terlalu gengsi untuk bermanja – manja pada sang ibu. Woo bin terlalu sulit mengungkapkan perasaannya pada sang ibu atau sang ayah. Woo bin sangat berbeda dengan Kim bum yang dengan begitu mudahnya mengeluarkan semua perasaannya pada orang lain.

Kim bum menyandarkan tubuhnya di balik dinding… Kim bum mendengarkan percakapan antara kakak dan ibunya. Kim bum menyeka air mata yang entah sejak kapan keluarnya. Kim bum merutuki kebodohannya. Kim bum ini laki – laki dewasa, tapi kenapa dirinya masih bisa mengeluarkan air mata. Dimana kekuatannya. Kenapa semakin hari, Kim bum menjadi pria yang lemah. Kenapa Kim bum tidak bisa menjadi Woo bin yang selalu bisa tegar.

“Kemarilah sayang… ibu tau kau ada disana!” seruan sang ibu membuat langkah Kim bum yang tadinya ingin pergi meninggalkan rumah sang ibu menjadi urung dilakukannya. Kim bum membatu, pria itu masih belum siap untuk bertemu dengan sang kakak. Ada perasaan takut yang menyelimutinya. Kim bum akan lebih takut pada sang kakak dari pada sang ayah. Selama ini hanya kakaknya lah yang selalu membela dirinya dalam keadaan apapun terlepas dari pengawasan sang ibu.

“Kakakmu sudah tidur.. kemarilah sayang.” Yi hyun kembali menyuruh Kim bum untuk mendekatinya.

Kim bum melangkahkan kakinya mendekati tempat dimana ibu dan kakaknya berada. Benar apa yang dikatakan sang ibu. Woo bin sudah tertidur, pria itu tertidur di pangkuan sang ibu.

“Aku hanya ingin memastikan kondisi ibu..” Ucap Kim bum.

Yi hyun menganggukkan kepalanya.. “Ibu baik – baik saja sayang… kenapa belakangan ini kau tidak pernah mengunjungi ibu. Apa terjadi sesuatu padamu?”
Kim bum menggeleng. Dia tidak ingin menceritakan apapun pada sang ibu. Tidak ingin sama sekali. Kim bum bahkan malu pada dirinya sendiri karena melakukan perbuatan yang tidak seharusnya dia lakukan.

“Kau ingin bermalam di sini?” Tanya Yi hyun lembut..

Kim bum ingin mengiyakan jawaban sang ibu, jika saja matanya tidak melihat pergerakan sang kakak. Woo bin menggerakkan tubuhnya, dan beberapa detik berikutnya mata kelam sang kakak terbuka. Kim bum membalikkan tubuhnya. Tidak ingin bersapa dengan sang kakak. ini belum waktunya – fikir Kim bum.

“Tinggalah.. Aku akan pergi.” Ucap Woo bin. Menginterupsi Kim bum agar pria itu tidak meninggalkan rumah ibu mereka.
Kim bum tidak menjawab. Tapi pria itu tidak melangkahkan kakinya. Membelakangi kakak dan juga ibunya.

“Jangan pulang larut malam lagi.. Besok aku akan menemuimu lagi..” Woo bin mengecup dahi sang ibu dan beranjak dari tempatnya. Woo bin tau bahwa adanya dirinya di rumah sang ibu akan membuat Kim bum tidak nyaman. Woo bin akan lebih memilih pergi, dari pada membiarkan sang adik yang pergi.

Woo bin beranjak dari tempatnya ketika mendapat anggukan dari sang ibu. Pria itu melangkahkan kakinya melewati sang adik tanpa menghiraukan keberadaan sang adik yang saat ini di depannya. Keluar dari rumah sang ibu, dengan perasaan terluka.

“Aku ingin menyusulnya bu..” Pamit Kim bum. ketika dia menyadari bahwa Kim bum harus meminta maaf pada sang kakak.

Kim bum berlari keluar dari rumah sang ibu, mengedarkan pandangannya mencari – cari sosok sang kakak. mata itu menangkap mobil sang kakak masih belum beranjak, itu berarti Woo bin masih belum pergi.

Kim bum berlari menghampiri sang kakak yang pasti sudah berada di dalam mobilnya. “Aku ingin bicara denganmu.. keluarlah!” Pinta Kim bum sambil mengetuk kaca mobil sang kakak.

Woo bin menyunggingkan senyumnya. Akhirnya sang adik mau melihatnya kembali. Pria itu menuruti permintaan sang adik. Woo bin keluar dari mobilnya. Kini kedua kakak beradik itu berdiri saling berhadapan.
Woo bin tidak ingin buka suara, pria itu akan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Kim bum.

“Kau tidak ingin tau apa yang kulakukan padanya? Bukankah kau ingin melindunginya!”

Woo bin tersenyum, sesaat kemudiam pria itu melayangkan kepalan tangannya pada wajah sang adik. “Hanya itu yang ingin aku berikan padamu hari ini.” Jawab Woo bin. Pria itu kembali memasuki mobilnya, memacu mobilnya menjauhi tubuh Kim bum.

“Kau masih menginginkannya.. kakak” gumam Kim bum. masih menatap kepergian sang kakak.

***

Cahaya lampu di dalam kamar itu tampak temaram.. Sang pemilik kamar sedang terlelap menuju alam mimpi. Entah sudah berapa kali gadis yang saat ini sedang terbaring di tempat tidurnya itu menyeka air mata yang terus bergulir membasahi wajah cantiknya, hingga gadis itu akhirnya bisa terlelap ke alam mimpi hingga tidak menyadari seseorang tengah memasuki kamarnya.

Tae hee memasuki kamar putri sulungnya, di dekatinya tubuh yang kini tengah terbaring dengan lelapnya. Wanita itu membelai lembut rambut hitam panjang milik sang putri. Sudah sangat lama sekali Tae hee tidak melakukannya. Wanita itu sudah sangat lama mengabaikan putrinya bahkan terkesan tidak peduli pada keadaaan apapun yang menimpa sang putri.

“Kau pasti sangat lelah So eun-ah… jangan pernah memaafkan ibu sayang.. gara – gara ibu kau jadi menderita.” Tae hee mengecup kening sang putri.. di usapnya air mata yang merembes dari kelopak mata yang saat ini tengah terpejam itu. Bahkan di dalam lelapnya, So eun masih mengeluarkan air matanya. Putrinya sudah mengorbankan semuanya hanya karena ambisi Tae hee.

So eun harus kehilangan sahabatnya.. harus kehilangan sosok yang sangat di kaguminya dan itu semua karena sang ibu. “Jika semuanya sudah selesai, ibu berjanji akan memberikan perhatian padamu sayang..”

“Aku membencimu… Kim bum-ah.” Tae hee mengerjap.. putrinya mengigaukan nama anak tirinya. Sudah separah inikah dampak perbuatannya pada sang anak. Kenapa So eun harus membenci Kim bum? fikir Tae hee..

“Aku membencimu… Ibu..” Tae hee tak kuasa menahan sesak di dadanya ketika kalimat yang paling di takutinya keluar dari mulut sang putri. So eun membenci dirinya. Apakah sekarang waktunya untuk menyerah.. merelakan apa yang telah hilang, dan meninggalkan semuanya. Bagaimana dengan kehidupannya nanti. Haruskah Tae hee menjalani hidup susah hanya bersama dengan So eun. Apakah putrinya akan mau menerima dirinya walau kehidupan mereka tidak seperti dulu…. wanita itu tersedu, membayangkan bagaimana masa depan anak – anaknya nanti.

“Jangan menangis… bukankah ibu wanita yang kuat!”

Tae hee tertegun.. suara itu membuatnya merasa kuat. Tae hee menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Wanita itu makin terisak ketika mendengar suara putrinya.

So eun yang tiba – tiba terbangun dan mendapati sang ibu, berada di sampingnya segera merengkuh tubuh sang ibu ketika mendapati ibunya sedang menangis. “Kita pergi saja bu… bukankah kita memang tidak seharusnya berada di sini. Ini bukan tempat kita!”

“Apakah kau siap hidup susah sayang…?”

Pertanyaan sang ibu membuat So eun mendelik.. apa karena ini ibunya mampu membuak keluarga Kim bum berantakan. Apakah karena ibunya terlalu memikirkannya sehingga ibunya ini nekad merebut suami sahabatnya sendiri. Jika memang karena itu, tentu saja semua ini karena salah So eun.

“Aku tidak apa – apa.. yang terpenting aku bisa bersama dengan ibu.. kita pergi dari sini, aku bisa bekerja.. aku bisa melakukan apapun asalkan bersama dengan ibu.”

Tae hee tidak kuasa mendengar penuturan So eun. Putrinya ini bahkan jauh lebih kuat dari pada dirinya. So eun sudah mengorbankan semuanya untuk ambisi Tae hee. Sepertinya wanita itu harus menentukan pilihannya. Tae hee beranjak dari tempatnya, wanita itu berjalan keluar dari kamar So eun. Tidak ingin lebih lama lagi mendengar penuturan sang putri. Kalimat So eun membuat hatinya hancur, dan seakan – akan menggagalkan semua usahanya selama ini.




Hari ini So eun kembali bekerja ke kantor.. hari kemarin membuatnya lelah, bahkan sampai tadi pagi So eun tidak bisa menemui sang ibu. Ibunya sudah pergi pagi – pagi sekali. Ayah tirinya tidak tau kemana pergi sedangkan Woo bin, pria itu juga tidak di lihatnya sejak terakhir kali perbincangannya kemarin. Dan tadi pagi So eun pun hanya sarapan berdua saja dengan So hyun.

So eun mengumpulkan keberaniannya ketika dirinya hendak memasuki ruangannya. Lagi – lagi ada perasaan takut mendera dirinya. Kim bum.. satu nama itu mampu membuat nyalinya menyusut.

“So eun-ah..” panggilan itu menghentikan niat So eun yang tadi akan membuka pintu ruang kerjanya.

“Kak Se young…”

“Hm… Kau baru datang… apa kau ingin pergi bersamaku.. seseorang menyuruhku untuk membelikannya makanan untuknya sarapan!”

“Maaf… ada sesuatu yang harus kuselesaikan, jadi aku tidak bisa menemani kakak… maafkan aku.”

“Baiklah.. tidak apa – apa.. segeralah selesaikan pekerjaanmu.. aku pergi dulu So eun-ah.”

Dan saat Se young sudah pergi, So eun pun bergegas membuka pintu ruang kerjanya dan segera masuk kedalam ruangan tersebut. Ada perasaan iri pada diri So eun, ketika dia fikirannya meyakini sesuatu.. sudah pasti orang yang menyuruh Se young membelikan makanan itu adalah Woo bin.. karena tidak ada satu karyawan pun yang berani memberi perintah pada Se young kecuali Woo bin dan juga Kim bum. Dan untuk Kim bum, pria itu terlalu menghormati Se young hingga menyuruh wanita itu membelikannya makanan. Andaikan saja, Woo bin mau merepotkan dirinya sudah pasti So eun akan meluangkan waktunya.

So eun menghela nafasnya, lagi – lagi So eun mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin… So eun hendak menuju tempat duduknya jika saja dia tidak melihat sebuah tubuh yang saat ini tengah terbaring di sofa panjang yang berukuran cukup besar di sudut ruangan besar ini.

“Apa yang dilakukannya sepagi ini..” lirih So eun… dengan perasaan takut, So eun pun mendekati orang tersebut. Hanya untuk memastikan bahwa pria itu adalah Kim bum.

So eun berjalan mendekati tubuh pria itu, menatapnya dengan intens.. So eun merindukan Kim bum yang dulu.. bukan Kim bum yang pendendam.. bukan Kim bum yang sangat membencinya dan ingin sekali menghancurkan So eun seperti sekarang.
So eun hendak menyentuh wajah So eun, namun dengan sigap sebuah tangan kekar menahannya sehingga membuat So eun terlonjak.

“Apa kau masih mengharapkannya?”

So eun ternganga.. apa maksudnya pertanyaan yang tiba – tiba di ajukan oleh Kim bum ini. Kenapa pria in tiba – tiba menanyakan hal yang membuatnya bingung.

“Kau masih menginginkannya atau tidak?” Bentak Kim bum, tidak sabar.. pria itu kembali pada sikap palsunya.

“A-apa.. m-mak-sudmu?” So eun tergagap.. mendapat perlakuan dari Kim bum yang tiba – tiba membentaknya. Kenapa Kim bum sangat suka membuatnya takut.

Grepp….

Kim bum tidak menjawab pertanyaan dari So eun, pria itu menarik tubuh So eun sehingga wanita itu jatuh tepat di badan Kim bum yang masih terbaring. So eun meronta.. tidak ingin membuat Kim bum bersikap seenaknya pada dirinya. Terlebih akan sangat memalukan jika ada yang melihatnya dalam posisi seperti ini bersama dengan Kim bum.

“Jangan mengharapkannya lagi… jangan menunggunya, dia tidak akan pernah melihatmu!” Pinta Kim bum. Pria itu menikmati posisinya seperti ini. Kim bum menikmati aroma tubuh So eun pagi ini. Aroma yang selalu membuatnya tenang.

“Berhenti bicara tidak masuk akal seperti ini.. lepaskan aku!” Ronta So eun. Gadis itu mencoba melepaskan tubuhnya dari kurungan lengan kekar Kim bum.

Seseorang memasuki ruangan Kim bum dan So eun.. penampilannya hari ini sama berantakannya dengan Kim bum yang hanya mengenakan pakaian casual tanpa kemeja, jas dan dasi yang selalu membuatnya berwibawa setiap hari. “Aku ingin berbicara denganmu… dan ini….” kalimat itu menggantung ketika orang itu membuka ruangan orang yang akan ditemuinya.

“Sepertinya aku harus mengatakannya lain kali..” lanjut orang tersebut, dan segera kembali keluar dari ruangan sang adik.

“Kak Woo bin..” Panggil So eun, mencegah kakak tirinya untuk pergi. So eun tidak ingin Woo bin salah paham akan dirinya. So eun berhasil bangun dari posisinya semual, tapi Kim bum berhasil mencegahnya untuk mengejar Woo bin.

“Kau mau kemana?”

“Aku ingin menjelaskan padanya, bahwa apa yang dilihatnya hanyalah…”

“Hanya apa?” Potong Kim bum, dengan nada suara meninggi

“Bukan kau yang akan menjelaskan padanya, tapi aku.. dia tidak peduli padamu, jadi jangan berfikir jika dia akan peduli dengan apa yang dilihatnya tadi. Kau tidak ada artinya untuknya… harusnya sejak awal kau paham akan itu.”

So eun bungkam, tidak bisa menanggapi kalimat panjang yang diberikan oleh Kim bum. kalimat itu sedikit menyadarkannya. Yaa…So eun memang tidak ada artinya untuk Woo bin.. ya So eun sadar diri akan hal itu.

“Tetaplah disini.. tetaplah diam disini!” perintah Kim bum.. pria itu pun segera meninggalkan ruangannya dan juga So eun yang langsung duduk lemas di sofa panjang yang ada dibelakangnya.. Kim bum menyadarkan So eun, bahwa memang dirinya tidak bisa mengharapkan apapun dari orang yang selalu dikaguminya itu.

Ingatan itu kembali lagi.. berputar – putar di benak So eun. Kepala itu benar – benar sakit.. kenapa dirinya masih bisa menyimpan memori – memori itu. Jika di beri kesempatan So eun sudah pasti tidak akan mengatakannya dan membuat seseorang terluka hingga orang itu mampu melukai So eun sampai separah ini..

“Aku menyukaimu…” Ungkapnya..

~~~ TBC ~~~

 

Iklan

Hate Or love (Part 4)

Posted: 27 April 2014 in FF BUMSSO
Tag:

cats

Part 4

 

 

So eun bergegas keluar dari kamarnya, tidak menghiraukan kalimat – kalimat yang telah dilontarkan oleh mulut sang ibu. So eun benar – benar tidak ingin terlibat dalam urusan ataupun rencana yang telah disusun oleh ibunya, itu mungkin akan semakin memperburuk keadaan – fikir So eun.

 

So eun segera masuk kedalam mobil yang akan mengantarkannya ke kantor, hari ini So eun tidak berangkat bersama Woo bin, entahlah apa penyebab kakak tirinya itu harus berangkat terlebih dahulu dan tidak menunggu So eun seperti biasa, karena yang So eun tau, saat ini dirinya akan di antarkan oleh sopir pribadi keluarga untuk sampai ke kantor.

 

Sedari tadi senyum cantik So eun benar – benar tidak bisa lepas dari wajahnya, pipinya benar – benar merona. Tidak tau apa alasannya sehingga saat ini So eun benar – benar merasa bahagia. Tapi tentu saja, ini semua ada hubungannya dengan kakak tirinya. So eun merasa hubungannya dengan Woo bin sudah sedikit membaik, walaupun terkadang pria itu masih sedikit bersikap dingin padanya, tapi setidaknya Woo bin sudah mulai memperhatikan dirinya. Dan yang terpenting beberapa kali Woo bin selalu membela dirinya dari ancaman Kim bum. Akan kah hubungan mereka akan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

 

Hanya butuh beberapa menit untuk So eun sampai di kantornya, setelah turun dari mobil dan mengucapkan terimakasih pada sang sopir So eun pun segera memasuki gedung bertingkat itu dengan senyum yang masih terukir jelas di ujung bibirnya.

 

~~~

 

So eun melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya, bukan hanya ruang kerjanya saja sebenarnya, melainkan ruang kerja Kim bum juga. Tidak seperti hari – hari sebelumnya, sekarang So eun sedikit memiliki keberanian untuk menghadapi Kim bum. Walaupun hanya sedikit, tapi setidaknya tubuh So eun tidak akan gemetaran lagi jika Kim bum secara tiba – tiba muncul dihadapannya. Dan ketika So eun sudah membuka ruangan kerjanya, wanita itu bisa sedikit bernafas lebih lega karena Kim bum belum datang.

 

“Kak Woo bin..” pikir So eun, entah dapat kekuatan dari mana wanita itu sehingga sampai terlintas di dalam pikirannya sebuah nama. Nama kakak tirinya, sepertinya So eun sudah gila, untuk apa So eun memikirkan pria itu. Mau cari masalah lagi wanita ini.

 

So eun segera bergegas menuju ruangan Woo bin, masih belum terpikirkan oleh So eun jawaban apa yang akan dikeluarkannya jika nanti Woo bin akan bertanya perihal maksud dari kedatangannya ke ruangan Woo bin. Yang pasti saat ini So eun benar – benar ingin menemui Woo bin, sekedar untuk mengucapkan selamat pagi mungkin atau apalah itu.

 

“Terbuka… kenapa tidak tertutup, apa tidak ada….” kalimat pelan So eun menggantung, ketika tangannya menyentuh gagang pintu ruangan milik Woo bin, pintu yang sedari tadi sedikit terbuka itu bisa memberikan kesempatan untuk So eun melihat dengan jelas apa yang saat ini tengah dilakukan oleh kedua orang yang ada didalamnya.

 

“Ada apa ini… kenapa aku harus melihatnya.” Gumam So eun sambil menutup pintu yang sedari tadi sedikit terbuka. Tangan wanita itu seperti tidak bisa lepas dari gagang pintu tersebut, bibirnya bergetar hebat, dan tanpa disadarinya air matanya terjun bebas dari mata indahnya. Apa – apaan ini kenapa harus keluar sekarang.

 

“Dasar.. wanita murahan.”

 

Wanita itu segera melepaskan tangannya dari gagang pintu yang sedari tadi dipegangnya, kakinya reflek mundur kebelakang. Badannya kelu, seperti tidak bisa bergerak. Ditambah lagi suara yang baru saja didengarnya menambah kelumpuhan saraf – sarafnya secacara tiba – tiba. Wanita itu tau betul siapa pemilik suara tersebut.

 

“Kau benar – benar tampak seperti wanita murahan dan menyedihkan.”

 

Kim bum.. saat ini tengah berdiri di belakang So eun, pria itu menyandarkan tubuhnya pada tembok dan melipat kedua tangannya di depan dada. Untung saat ini tidak ada para karyawannya yang mondar – mandir. Kalau saja ada, benar – benar keterlaluan sekali Kim bum sampai mengeluarkan kata – kata kasar seperti itu pada wanita yang sekarang telah sah menjadi saudari tirinya.

 

“Bagaimana bisa seorang wanita terhormat sepertimu tengah tertangkap basah mengintip kesenangan orang lain, benar – benar keahlian yang luar biasa. Ini sangat menarik.”

 

So eun masih tidak bergeming, jangankan untuk menyahuti kalimat – kalimat tersebut. Memandang ke arah orang yang mengucapkannya saja rasanya tidak punya keberanian. Kenapa So eun harus dalam posisi seperti ini, ini benar – benar memalukan. Pasti Kim bum akan semakin mencerca dan memojokannya jika seperti ini.

 

“Sepertinya kau tidak menyukai pertunjukan di dalam… bukankah seharusnya kau senang, karena ternyata saudara tirimu bisa memiliki kekasih yang baik. Setidaknya kak Se young jauh lebih terhormat dari pada kau.”

 

Kim bum benar – benar semakin memojokan So eun dengan kalimat – kalimatnya barusan. Sebenarnya apa yang di inginkan oleh pria ini. Apa Kim bum benar – benar sangat senang jika melihat So eun terluka seperti ini. Seharusnya Kim bum memberikan belas kasihan pada So eun walau hanya sedikit, bukankah dari awal kim bum mengetahui bagaimana perasaan So eun pada Woo bin. Kim bum ini benar – benar mengerikan menurut So eun.

 

So eun bahkan sudah tidak kuasa lagi mendengar semua cercaan dari Kim bum, sepertinya jalan satu – satunya untuk menghentikan ocehan Kim bum sekarang hanya satu yaitu meninggalkan pria itu dan menenangkan dirinya. Jika memang So eun pintar seharusnya So eun harus cepat – cepat melakukannya.

 

“Kenapa terburu – buru… bukankah kau belum selesai melihatnya. Apa kau tidak ingin melihat apa yang akan mereka lakukan selanjutnya… sepertinya ini akan menjadi tontonan yang menarik, aku juga penasaran dengan permainan kakakku. Apakah dia bisa lebih lembut jika bermain dengan kak Se young..” goda Kim bum sambi menarik lengan So eun, sebelum wanita itu ingin pergi meninggalkannya.

 

“Lepaskan tanganku…” pinta So eun, wanita itu masih bersikap santai menghadapi Kim bum mengingat saat ini keduanya sedang berada di area kantor. Jika terlihat oleh karyawan yang lain, saat ini mereka sedang adu mulut bisa jadi bahan gosip seluruh kantor kejadian ini. Tentu saja So eun tidak mau itu terjadi.

 

“Bukankah kau mau melihatnya, ayo aku temani kau masuk ke dalam. Atau mungkin kau juga ingin bergabung dengan mereka.. sepertinya kakakku benar – benar akan kewalahan menghadapi dua wanita sekaligus,,”

 

“Cukupp… tidak bisakah kau berhenti menghinaku. Sampai kapan kau akan membenciku, selama ini aku selalu mencoba bersikap baik padamu. Kenapa kau seperti ini.”

 

Kim bum menyeringai mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh saudara tirinya ini. Bagaimanapun usaha So eun untuk bersikap baik pada Kim bum, tentu saja semua itu masih kalah dengan perasaan benci di diri Kim bum akan diri So eun dan juga ibunya.

 

“Biarkan aku pergi… lepaskan aku, aku ingin pergi dari sini.”

 

Kim bum masih tersenyum penuh arti ketika mendengar So eun memohon pada dirinya. Rasanya Kim bum merasa sedikit terhibur dengan keadaan seperti ini. Sepertinya Kim bum mulai memikirkan sesuatu. Terlintas sedikit permainan kotor yang ingin dilakukan Kim bum dengan saudari tirinya ini. Kira – kira apa ya yang menarik – fikir Kim bum.

 

Kim bum segera menarik lengan So eun dengan paksa dan membawa wanita itu keluar dari kantornya. Kim bum bahkan tidak peduli dengan pandangan karyawan – karyawannya yang menatap keduanya dengan sorot mata keheranan. Itu tidak akan membuat Kim bum menghentikan niatnya untuk membawa so eun pergi, lagi pula saat ini dirinya tidak ada kesibukan apapun. jadi dia bisa bebas pergi kemanapun yang dia inginkan. Dan lagi masalah So eun, bukankah sekarang wanita ini adalah sekertarisnya jadi tentu saja Kim bum bisa bebas membawanya kemana saja ketika masih jam kerja.

 

“Yaa… apa yang akan kau lakukan, aku tidak mau ikut denganmu.” Teriak So eun ketika Kim bum dengan paksa memasukan So eun kedalam mobil pria itu dan juga memasangkan sabuk pengaman untuk So eun.

Kim bum tidak mempedulikan teriakan So eun, yang dia lakukan sekarang adalah memutari mobilnya dan langsung masuk kedalam mobil tersebut untuk melajukannya ketempat yang dia inginkan. Bersama So eun tentunya.

 

~~~

 

So eun dan Kim bum sudah sampai di depan pintu sebuah apartemant, sedari tadi So eun terus berontak ketika Kim bum masih setia memegangi lengannya. Sepertinya Kim bum benar – benar tidak ingin melepaskan saudara tirinya ini barang sedetik pun. Apa yang sebenarnya diinginkan Kim bum dari So eun sekarang.

 

“Masuklah.” Perintah Kim bum dengan nada membentak, ketika pintu aparteman tersebut sudah sukses terbuka. Bersamaan dengan lepasnya pegangan tangannya yang sedari tadi mencengkram lengan So eun.

Tidak ada respon dari orang yang disuruhnya, sepertinya So eun ingin menguji kesabarannya sekarang. Apa So eun masih belum hafal juga dengan karakter Kim bum. Bukankah So eun tau bahwa Kim bum tidak suka penolakan.

 

“Aku bilang masuk sekarang.. kau tuli yaa..” teriak Kim bum, dan sukses membuat So eun masuk ke dalam apartemant yang So eun rasa itu pasti milik Kim bum.

Dengan langkah kaki gemetaran so eun pun melangkahkan kakinya memasuki apartemant tersebut diikuti dengan derap langkah kaki Kim bum yang mengikutinya dari belakang dan langsung mengunci pintu apartemantnya itu ketika keduanya sudah masuk kedalamnya.

 

“Gadis murahan sepertimu, pastinya tidak asing kan dengan kondisi seperti ini.” Ucap Kim bum sambil berjalan mendahului So eun untuk lebih masuk ke dalam apartemannya. Dan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa yang sepertinya sangat nyaman ketika melihat Kim bum duduk disana.

 

“Kau benar – benar gila.” Ucap so eun, sambil memutar tubuhnya menuju kearah pintu dan mencoba memutar handle pintu tersebut. Tapi usaha So eun ini benar – benar sia – sia, karena pintu apartement Kim bum ini dilengkapi dengan passkey, jadi jika So eun ingin keluar pastinya So eun harus tau kata sandi yang sudah dipasang Kim bum untuk bisa membuka pintu tersebut.

 

“Kau mau kemana?…. apa kau tidak mau mencoba apa yang tadi kakakku lakukan bersama dengan wanitanya. Kau tidak ingin mencobanya bersamaku… hari ini aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya bermain dengan gadis murahan yang mengaku menjadi wanita baik – baik seperti dirimu.”

 

“Sebenarnya apa yang kau inginkan sekarang, aku ingin pergi. Cepat buka pintunya atau aku akan teriak sekarang juga…” ancam So eun, sepertinya usahanya ini benar – benar dianggap lelucon oleh Kim bum mengingat pria di depannya ini tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya duduk, dan malah menampakkan senyuman mengerikan.

 

“Bagaimana kalau kita mulai sekarang saja, atau kau ingin bermain – main dulu sebelum melakukan permainan inti kita.” Goda Kim bum sambil tersenyum penuh arti pada So eun.

Astaga apa pikiran Kim bum selalu seperti ini jika menyangkut dengan So eun, apa Kim bum benar – benar menganggap So eun seperti wanita – wanita yang sering diajaknya bermain. Jika memang iya, keterlaluan sekali Kim bum ini.

 

So eun semakin memundurkan tubuhnya kala melihat Kim bum beranjak dari tempat duduknya dan melepaskan kemeja yang sedari tadi membalut badannya. Dan tidak lupa pria itu juga menanggalkan kaos dalam yang melapisi tubuhnya. Dan saat ini So eun pun bisa melihat tubuh atas Kim bum yang polos tanpa ditutupi oleh pakaian lagi.

 

So eun memalingkan pandangannya dari tubuh kim bum dan semakin memundurkan tubuhnya hingga membentur dinding aparteman kim bum. Tentu saja ini tidak akan menjadi hal yang baik mengingat kondisinya sudah sampai sejauh ini. Kim bum pasti akan melakukan hal – hal yang tidak akan menyenangkan. Jika saja saat ini So eun bisa keluar, itu pasti akan membantunya untuk lepas dan menghindari Kim bum. Tapi bagaimana caranya untuk So eun keluar sedangkan So eun sendiri tidak mengetahui kata sandi yang terpasang pada pintu apartement ini. Habislah So eun sekarang, setidaknya itulah yang ada dipikiran So eun saat ini.

 

So eun menutup kedua matanya ketika menyadari tubuh Kim bum sudah berada di depannya dan memenjerakan dirinya dengan kedua tangan pria tersebut yang bertumpu di dinding. Hembusan nafas berat dengan aroma tubuh maskulin yang menyeruak membuat So eun begitu gugup dan gemetaran, jangankan untuk bergerak, bernafas saja rasanya susah. Hingga sampai saat ini pun gadis itu bahkan masih belum berani membuka matanya.

 

“Kau menyedihkan… Kim so eun.” Gumam Kim bum, sambil membelai wajah So eun dengan jemari – jemarinya yang nampak berisi. Kim bum bahkan tidak mengalihkan pandangannya pada sesosok gadis yang saat ini mungkin sangat membenci dirinya. Atau mungkin lebih tepatnya gadis itu takut pada Kim bum.

 

Degup jantung So eun benar – benar bergemuruh kala mendapati sebuah sentuhan lembut di wajahnya. Tentu saja So eun masih belum berani bergerak, gadis itu masih ingin menunggu apa lagi yang akan dialaminya setelah ini. So eun masih harus bertahan dalam kediamannya jika memang Kim bum masih bersikap normal, kecuali jika Kim bum melakukan hal – hal yang membuat So eun terancam baru gadis itu akan melawan sebisanya.

 

Sebuah sapuan lembut dan basah terasa menggetarkan dibibir lembut milik So eun saat ini, sehingga mau tidak mau gadis itu harus membuka matanya. Astaga… kim bum melakukan hal ini lagi, walaupun kali ini lebih lembut tetap saja ciuman yang diberikan oleh Kim bum ini terkesan memaksa dan menuntut. Bahkan kim bum tidak membiarkan So eun bernafas atau hanya sekedar menggeser posisinya. Kim bum begitu kuat mencengkram tubuh So eun sehingga membuat gadis itu benar – benar dilanda ketakutan yang luar biasa.

 

Kim bum sedikit mengendurkan pegangannya dari tubuh so eun, dan tanpa pria itu sangka sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulusnya. Akibat dari tamparan keras dari tangan kecil yang saat ini gemetaran itu membuat wajah Kim bum sedikit berpaling. Rasa panas menjalar diseluruh wajahnya terlebih pada titik pusat sasaran tamparan, dan tanpa Kim bum duga sebuah darah kental mengalir di sudut bibirnya.

 

“Kau, beraninya menamparku…” desis Kim bum sambil menatap tajam kearah wanita yang saat ini berada didepannya. Tatapan tajam penuh amarah itu benar – benar sangat menakutkan. Kim bum masih tidak habis pikir bagaimana bisa So eun dengan beraninya menampar pria tersebut.

 

“A-aku.. ti-tidak b-ber-maksud me-melakukan-nya.” Jawab So eun dengan suara bergetar. Rasa takut menyelimuti hatinya, karena sudah pasti apa yang terjadi selanjutnya benar – benar akan membuatnya terancam. Tentu saja Kim bum tidak akan memaafkan So eun begitu saja.

 

“Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Sampai kapan kau akan menyakiti perasaanku? Bukankah kau sendiri sudah tau apa alasan aku melakukan ini semua kepadamu. Lalu kenapa kau selalu menghantui pikiranku… katakan apa yang harus kulakukan padamu sekarang…” sebuah ungkapan kekesalan dari Kim bum dan juga pertanyaan yang selama ini dipendamnya keluar begitu saja dari mulut Kim bum, tanpa bergeming sedikitpun.

 

So eun tak kuasa menahan isak tangisnya, walaupun selama ini dirinya sudah tau apa penyebab sikap dingin dan angkuh Kim bum terhadapanya tetap saja So eun tidak pernah begitu yakin hingga akhirnya dia bisa mendengar pengakuan dari mulut Kim bum sendiri.

 

“Aku… tidak bisa, benar – benar tidak bisa.” Jawab So eun dengan masih terisak

 

Mendengar jawaban yang keluar dari mulut So eun tentu saja membuat Kim bum semakin kesal. Bagaimanapun Kim bum memang harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa saat ini kim bum memang membenci So eun terlebih ibu dari wanita tersebut, jadi bagaimanapun caranya Kim bum memang harus menghancurkan So eun. Itulah tujuan utama Kim bum selama ini.

 

“Sampai kapan kau akan menguji kesabaranku? Baiklah, aku benar – benar akan menunjukkan betapa bencinya aku padamu.” Teriak Kim bum, dan kali ini pria itu benar – benar seperti ingin menelan So eun hidup – hidup dan saat itu juga.

 

Dengan sangat kasar Kim bum segera menarik tangan So eun agar wanita itu bisa mendekat pada Kim bum. Dan dengan sekali tarikan dari kedua tangannya, pria itu bisa melepaskan blazer yang saat ini dikenakan So eun dan melemparnya entah kemana. “Apa yang mau kau lakukan?” teriak So eun yang semakin ketakutan dengan apa yang akan dilakukan Kim bum. Jika kemarin Woo bin bisa menyelamatkannya sudah pasti saat ini tidak akan ada satu orang pun yang akan bisa menyelamatkan So eun. Mengingat tempat ini adalah daerah kekuasaan Kim bum, jika sudah seperti ini apa yang akan terjadi pada diri wanita malang itu.

 

Kim bum kembali menarik tubuh So eun, dan melemparkan wanita tersebut ke atas tempat tidur yang ada dikamarnya setelah sebelumnya pria tersebut menyeret tubuh So eun dengan kasar ke kamarnya.

 

“Kau terlalu berisik.. aku muak mendengar suaramu.” Cerca kim bum sambil mendekati tubuh So eun yang masih terbaring di tempat tidur milik Kim bum. Sebuah seringaian terpampang jelas diwajah Kim bum kala mendapati raut muka ketakutan wanita itu ketika melihat Kim bum.

 

“Berhenti.. aku bilang berhenti.” Jerit So eun ketika, melihat pergerakan Kim bum yang tentu saja akan membahaykan dirinya.

 

Bukannya berhenti, Kim bum bahkan semakin mendekatkan dirinya pada wanita yang benar – benar dibencinya itu. Kim bum menaikkan tubuhnya di atas tempat tidurnya tempat dimana saat ini tubuh So eun benar – benar sangat gemetar karena menahan rasa takut dan juga tangisnya. So eun berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya, jika saat ini So eun menangis sudah pasti mulut Kim bum akan terus menerus mencercanya dengan makian dan juga hinaan.

 

“Kyaaaa,,,” Jerit histeris dari mulut So eun kembali terdengar ketika dengan paksa Kim bum menarik baju sebelah kirinya hingga terkoyak besar dan tentu saja itu membuat bahu putih So eun terbuka. Secepat mungkin So eun menutupi bahunya dan secepat mungkin wanita itu menghindari perlakukan Kim bum yang juga hendak melakukan hal yang sama pada baju sebelah kanannya.

Wanita itu dengan sigap, menuruni ranjang itu ketika Kim bum hendak melakukan hal yang lebih mengerikan selanjutnya. Sedangkan Kim bum terlihat kesal ketika lagi – lagi So eun menghindarinya.

 

“Berhenti di tempatmu.. Aku bilang berhenti.” So eun berusaha sekuat apa yang dia bisa, wanita itu benar – benar tidak ingin Kim bum memonopoli tubuhnya. Apapun akan So eun lakukan agar bisa terhindar dari Kim bum saat ini.

 

“Berhenti katamu, kau kira siapa yang membuatku harus melakukan ini semua? Kau kira aku menyukai hal ini, kau terlalu berlebihan.” Kim bum kembali berusaha untuk mendekatkan tubuhnya pada So eun. Seperti tidak peduli akan keberontakan So eun seperti yang sebelum – sebelumnya. Pria ini seperti belum puas jika belum melepaskan kekekesalannya pada So eun.

 

“Seharusnya kau saja yang menyerah, kenapa selalu menghindar bukankah selama ini kau sudah terbiasa melakukannya. Jangan munafik Kim so eun, kau bahkan tidak lebih baik dari pada aku.” Sekali tangkap pria itu bahkan bisa langsung menggenggam erat lengan kiri So eun. Seberapa keraspun usaha wanita itu untuk menghindari Kim bum tentu saja itu tidak akan dengan mudahnya terjadi mengingat saat ini Kim bum lah yang sedang memegang kendali.

 

“Lepaskan tanganmu, atau aku akan menusukmu.” Ancam So eun, sambil mengacungkan sebuah pisau yang entah sejak kapan gadis itu bawa. Dan dari mana pula So eun mendapatkannya. Ah, salahkan saja Kim bum yang selalu lupa meletakkan barang – barang yang sudah selesai digunakan pada tempatnya semula.

Kim bum melebarkan matanya, sorot matanya yang tadinya penuh amarah yang benar – benar meluap kini terlihat nanar ketika melihat So eun tengah mengacungkan sebuah pisau kearahnya. Sebegitu menakutkannnya Kim bum sampai – sampai So eun benar – benar tidak ingin tersentuh oleh Kim bum.

 

Bukannya melepaskan cengkramannya dari lengan So eun, Kim bum malah semakin menarik tubuh wanita itu agar segera mendekat padanya. Kim bum benar – benar ingin merengkuh tubuh So eun dan membawa wanita itu kedalam pelukannya.

 

“Aku tidak main – main dengan ucapanku breenggseekkkk… cepat lepaskan tangamu, kau benar – benar bajingan Kim bum. Bukan hanya kau saja yang membenciku, aku juga membencimu bahkan lebih dari pada rasa bencimu padaku.” Teriak So eun, gadis itu benar – benar sudah muak dengan perlakukan Kim bum selama ini. Sudah cukup untuk So eun bersabar menghadapi kelakuan Kim bum. Dan jika ada ungkapan bahwa sabar itu ada batasnya, nah saat inilah batas kesabaran So eun akan perlakuan – perlakuan yang tidak menyenangkan dari Kim bum selama ini.

 

“Kau mau menusukkan pisau itu padaku. Lakukan, lakukan sesukamu. Aku bahkan tidak peduli jika pisau itu benar – benar mampu menembus jantungku. Ayo.. lakukan, aku tidak akan menghindar.” Tantang Kim bum, semakin memojokkan So eun dengan kalimatnya. Kini Kim bum juga mencengkram tangan So eun yang tengah mengarahkan pisau itu pada dirinya.

 

“Ayo cepat hujamkan pisau itu pada dadaku.. bukankah itu yang kau mau, mungkin kau akan senang jika aku mati. Jika itu yang kau mau, lakukanlah.” Kalimat itu terdengar memilukan ketika Kim bum mengeluarkannya. Pria itu seperti putus asa ketika melihat So eun benar – benar menganggapnya bajingan. Kalau sudah seperti ini bukankah sudah terbukti, Kim bum memang kalah.

“Sebelum kau berniat menembuskan pisau itu pada tubuhku, aku juga sudah mati. Tapi mungkin akan jauh lebih menyenangkan jika seorang Kim bum akan mati ditangan wanita yang sangat dibencinya.” Desis Kim bum pria itu benar – benar sudah kalah, bahkan sebelum Kim bum memulai semua rencananya. Benar apa yang kakaknya bilang, bahwa perasaan itu memang masih ada dalam hati Kim bum. Mungkin Kim bum memang berusaha menyangkalnya mati – matian, tapi sekarang juga, sudah terbukti bahwa pria itu benar – benar sudah tidak memiliki taring lagi dihadapan So eun.

 

Tubuh itu lemas, benar – benar seperti tidak bernyawa ketika mendengar setiap kalimat pengakuan secara tidak langsung dari Kim bum. Bagaimanapun juga So eun bukan orang yang bodoh dan tidak peka akan keadaan Kim bum. Jauh sebelum So eun masuk kedalam rumah megah itu, So eun sudah mengetahui bagaimana tabiat pria ini. Hanya saja selama ini So eun memang tidak pernah mau mempedulikan perasaan pria itu. Karena menurut So eun itu akan menyakiti hati Kim bum sendiri. Ditambah dengan kenyataan yang ternyata menyebabkan Kim bum semakin membenci So eun. Tangan lemas itu merenggang bersamaan dengan terjatuhnya pisau yang sedari tadi digenggamnya. Tentu saja So eun tidak akan benar – benar ingin mencelakai Kim bum seperti apa yang telah diucapkan. So eun hanya ingin melindungi dirinya dengan sedikit ancaman pada Kim bum. Dan ternyata hasilnya adalah sia – sia.

 

“hiks.. hiks.. a-pa la-lagi s-se-karang.” Bisik So eun, wanita itu seperti benar – benar tidak mempunyai tenaga lagi. Kim bum yang melihat So eun sudah mulai kelelahan segera memeluk tubuh wanita itu dengan tiba – tiba dan kembali memaksa So eun untuk menerima ciumannya. Dan tentu saja So eun kembali meronta. Ternyata Kim bum tidak benar – benar melepaskan So eun. Memangnya semudah itu Kim bum akan mengalah, tentu saja tidak akan mudah untuk mengalahkan kerasnya hati Kim bum.

 

“Hemppptttt…. lep… ppasss.” Ronta So eun, ketika Kim bum benar – benar mulai kasar menciumi bibirnya. Kim bum bahkan tidak segan – segan untuk menggigit bibir So eun agar wanita itu mau membuka bibirnya. Setetes darah segar mengalir keluar dari sudut bibir So eun ketika Kim bum menggigit bibir itu dan dengan paksa memaksa lidah pria itu memasuki bibir kecil milik So eun.

Kim bum seperti tidak mempedulikan rasa amis bercampur asin yang mulai memasuki indera perasanya. Rasa amis bercampur asin yang ditimbulkan dari darah dan juga air mata So eun.

 

Mata itu mengkilat tajam, sorot mata yang tidak bisa ditafsir oleh sipenglihat. Sorot mata yang hanya Kim bum sendiri yang mengetahui maknanya. Tangan kokoh itu langsung menarik pakaian yang saat ini melekat ditubuh So eun. Saat ini iblis benar – benar tengah bersemayam di dalam hatinya sehingga Kim bum benar – benar mempunyai kekuatan untuk melakukan hal yang sudah lama dihindarinya. Sedangkan So eun, wanita itu hanya bisa menghela nafas pasrah ketika saat ini tubuhnya hanya terbalut pakaian yang benar – benar sudah koyak. Mungkin So eun memang sudah tidak bisa lagi keluar dari jerat kegilaan yang diberikan Kim bum padanya. Jika memang hari ini So eun bisa memohon pada tuhan, wanita itu benar – benar ingin jika tuhan bersedia mengambil nyawanya saat ini juga daripada harus menerima perlakuan keji seperti ini dari Kim bum orang yang dulu sekali pernah memberikan kehangatan padanya.

 

 

Kim bum menggerakkan tubuhnya, ketika seberkas cahanya menyilaukan indera penglihatnya. Digerakkannya secara perlahan tubuhnya. Sedetik kemudian pria itu memiringkan tubuhnya mendapati seorang wanita tengah memejamkan matanya dan tergolek di sampingnya.

Kim bum menyangga kepalanya dengan satu tangannya, dan menggunakan tangan lainnya untuk menyentuh sudut bibir wanita itu. Warna biru kehitaman nampak disudut bibir itu. Tentu saja luka itu juga sama sakitnya seperti sudut bibirnya. Satu sama fikir Kim bum. Diamatinya wajah itu dalam diam, Kim bum seperti tidak ingin mengedipkan matanya walau hanya satu detik saja. fokus matanya saat ini seperti ingin dia gunakan hanya untuk melihat wajah letih dihadapannya.

 

Segaris cairan bening dengan tiba – tiba merembes dari kedua mata terpejam itu. Benar – benar seperti tersayat – sayat sebuah belati dada Kim bum ketika pria itu melihat wanita yang ada di hadapannya ini tengah menangis dalam tidurnya. Sebegitu keterlaluannyakah Kim bum hingga benar – benar membuat seorang wanita menangis ketika matanya tengah terpejam. Pria itu merengkuh tubuh lemah itu kedalam pelukannya. Didekapnya erat wanita yang entah kenapa sangat dibencinya.

 

“Kau benar – benar membuatku kehilangan duniaku. Kim So eun.” Gumam Kim bum yang semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh So eun. Membenamkan wajah So eun kedalam dada bidangnya. Seperti tidak ingin siapapun melihat air mata yang saat ini tengah terjun bebas dari kedua mata terpejam milik wanita itu.

 

Dan sekarang Kim bum bahkan bisa merasakan getaran hebat dari tubuh So eun, wanita yang saat ini didekapnya itu kembali terisak tanpa suara. Kim bum tau bahwa sejak tadi So eun sudah bangun dari lelapnya. Dan Kim bum tidak mau So eun menghindarinya maka dari itu, sebelum wanita itu mengeluarkan serangan – serangan penolakan lagi seperti sebelumnya. Kim bum tidak mau mengambil resiko. Jika wanita ini berontak, wanita ini bisa saja melakukan sesuatu yang akan membahayakan nyawa Kim bum dan juga nyawa So eun sendiri.

 

“Aku membencimu, sangat membencimu.” Lirih Kim bum, lagi – lagi kata – kata benci yang keluar dari mulut Kim bum saat ini. Kim bum seperti meyakinkan dirinya sendiri bahwa saat ini pria itu memang benar – benar membenci wanita yang telah dipeluknya itu.

 

“Akupun juga sangat membencimu.” Kim bum menyunggingkan senyumnya, tapi pria itu tidak ingin wanita yang ada dipelukannya itu tau sehingga Kim bum masih dengan erat merengkuh tubuh So eun. Apa yang baru saja keluar dari mulut So eun tadi, benar – benar menandakan bahwa wanita ini memang sudah benar – benar terbangun dari lelapnya.

 

“Itu akan jauh lebih baik, dari pada hanya aku yang membencimu.” Ucap Kim bum lagi, kali ini pria itu mengecup pucuk kepala So eun.

 

~~~

 

Diwaktu yang sama namun di tempat lain, Woo bin benar – benar terlihat tidak tenang. Semua berkas yang seharusnya sudah diselesaikannya masih tak tersentuh oleh jemari tangannya. Pria itu benar – benar gelisah. Bagiamana tidak akan gelisah jika dua orang yang saat ini tengah mengganggu fikirannya sama – sama mematikan ponselnya dan tidak memberikan kabar apapun padanya.

 

“Apa yang sedang kalian lakuakan saat ini?” tanya Woo bin pada dirinya sendiri, pria itu menggenggam erat ponselnya sebagai pelampiasan atas kekesalan. Woo bin benar – benar sudah bisa menebak jika saat ini kedua orang yang sedang ada difikirannya itu berada di tempat yang sama. Sayangnya hari ini Woo bin tidak secerdik biasanya. Pria itu seperti tidak bisa melacak keberadaan adiknya, bagaimana bisa ini terjadi. Sedangkan biasanya dimanapun Kim bum berada, Woo bin akan sangat mudah untuk menemukannya.

 

“Sial, bocah itu pasti sudah melakukannya. Seharusnya sejak awal aku sudah bisa memperkirakan semua ini.” Woo bin menghempaskan tubuhnya dengan kasar pada sandaran kursi yang didudukinya saat ini. Pria itu mengusap dahinya menandakan bahwa ada benyak fikiran yang membebani otaknya saat ini.

 

“Jika saat ini kau sedang memikirkan So eun, pasti dia akan baik – baik saja. tidak seharusnya kau mencurigai Kim bum.”

 

Woo bin menghembuskan nafasnya, terdengar kasar. Memangnya sekertarisnya ini tau apa tentang masalahnya. Apa karena selama ini Kim bum selalu dekat dengannya sehingga wanita ini berfikir bahwa saat ini Kim bum dalam kondisi yang baik. Se young bahkan tidak tau jika saat ini Kim bum bahkan berada dititik terlemahnya sehingga bocah itu bisa melakukan apapun yang tentu saja bisa membahayakan seseorang dan tentu saja itu adalah saudari tirinya.

 

“Kau tidak tau apa – apa tentang masalahku.”

 

“Karena memang kau tidak pernah menceritakannya padaku, hanya Kim bum yang menceritakannya padaku. Dan tentu saja menurutku versi Kim bum lah yang paling benar sehingga aku akan selalu mendukungnya. Hanya ada satu versi yang aku dengar, dan tidak ada pemberitahuan apapun darimu.”

 

“Pergilah. Aku tidak membutuhkanmu hari ini.”

 

“Tanpa kau suruhpun aku juga akan pergi.” Decak Se young penuh dengan kekesalan. Gadis itu meletakkan beberapa berkas penting yang sudah terselesaikan di atas meja Woo bin dengan kasar. Bagaimana bisa Woo bin mengusir Se young sedangkan pria itulah yang sebelumnya menyuruh Se young untuk satu ruangan dengannya. wanita itu segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Woo bin, dengan menghentakkan pintu ruangan itu dengan keras sebelum benar – benar pergi. Woo bin hanya tersenyum getir melihat tingkah laku sekertaris sekaligus sahabatnya itu.

 

Sepeninggalnya Se young, Woo bin memeriksa laporan – laporan yang tadi telah dibawa oleh sekertarisnya itu. Diperiksanya semua berkas itu dan ternyata semuanya sudah terselesaikan Woo bin hanya tinggal menandatanganinya dan memberikannya pada sang ayah. Lagi – lagi Se young membantu pekerjaannya dan juga Kim bum.

 

“Dasar bodoh.”

 

~~~

 

Yi hyun berjalan menyusuri salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Seoul, hari ini wanita dewasa itu baru saja bertemu dengan kliennya disalah satu restoran yang terletak di pusat perbelanjaan yang saat ini didatanginya. Karena merasa masih ada waktu sedikit sebelum kembali ke butiknya wanita itu memutuskan untuk berkeliling di pusat perbelanjaan itu. Seharusnya Yi hyun menghubungi Kim bum atau Woo bin saja untuk menemaninya berkeliling, sudah lama sekali wanita itu merindukan kedua anaknya yang sudah lama tidak mengunjunginya.

 

“Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?”

 

Yi hyun mengalihkan pandangannya pada ponselnya. Dan segera mencari pemilik suara yang sangat dikenalnya. Yi hyun sedikit terkejut ketika mendapati mantan suaminya itu tengah berdiri di hadapannya. Rasa canggung menyelimuti wajah wanita yang berusia hampir setengah abad itu.

 

“Bisa kita bicara sebentar!” lagi – lagi seperti ini ternyata sifat pemaksa mantan suaminya itu masih belum hilang. Bagaimana bisa sebuah kalimat permintaan menjadi pernyataan yang menyerupai pemerintah.

Jae wook melangkahkan kakinya mendahului langkah kecil Yi hyun. Wanita itu masih bingung dengan pertemuan yang tidak disengaja ini dan membuat Yi hyun harus terjebak dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman. Duduk berhadapan dengan mantan suaminya, mantan orang yang sudah memberikan dua orang putra dan jangan lupa orang yang selama ini masih dicintainya itu.

 

“Sepertinya kau baik – baik saja.” Ucap Jae wook memecah keheningan diantara mantan pasangan suami istri itu.

 

“Tidak seperti kelihatannya. Bagaimana bisa aku bahagia, sedangkan aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang saat ini telah dilakukan oleh kedua putraku.”

 

“Bahkan aku yang selau bersamanyapun juga tidak bisa melihat apa yang saat ini telah dilakukan oleh keduanya.” Jawab Jae wook dengan sedikit sunggingan senyum yang bahkan tidak bisa dilihat oleh siapapun.

 

“Itu karena kau tidak pernah peduli pada mereka, kau hanya peduli pada keluarga barumu.” Sindir Yi hyun, bagaimanapun sudah pasti wanita ini akan kembali naik pitam jika mengingat akan apa yang menimpa rumah tangganya beberapa tahun silam.

 

“Sedikitpun aku juga tidak mempedulikannya. Hanya ada satu hal yang aku pedulikan dan seharusnya kau tau apa maksudku.”

 

Yi hyun, menatap tajam pria yang ada dihadapannya ini. Seperti biasa pria itu benar – benar bisa menutupi semua masalah yang ada didalam benaknya dengan menunjukkan wajah angkuh dan terkesan dingin. Itu yang sangat tidak disukai ole Yi hyun pada diri mantan suaminya itu. Dan yang lebih parah kebiasaan yang paling tidak disukai Yi hyun pada mantan suaminya itu menurun pada kedua putranya. Terlebih Kim bum, putra bungsunya itu benar – benar bisa menyembunyikan perasaannya terlebih pada orang – orang yang dirasanya dekat, tidak terkecuali Yi hyun yang adalah ibu kandungnya sendiri.

 

“Jadi apa kau sudah memberitahukan semua ini padanya?”

 

Jae wook belum menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh yi hyun. Tapi sesaat kemudian pria itu menggelengkan kepalanya yang menandakan bahwa memang belum ada yang tau akan penyebab semua konflik keluarga ini. Kecuali 3 orang yang sudah berkorban terlebih dahulu.

 

“Maaf sudah membuatmu berpisah dengan putra – putramu.”

 

“Mereka masih sering mengunjungiku, walaupun harus merasa ketakutan setelahnya karena takut kau akan marah padanya.”

 

“Itu karena mereka membohongiku, tempo hari aku bahkan memukul mereka berdua.”

 

“Kenapa harus sampai memukul mereka, tidak bisakah kau mengurangi sifat tempramentalmu. Bagaimana jika mereka jadi membencimu karena kelakukanmu ini. Hanya karena ingin menemui ibu mereka, membuat mereka harus mendapatkan pukulan.” Ada perasaan tidak terima ketika telinga Yi hyun mendengar penuturan Jae wook.

 

“Itu karena Kim bum hendak memperkosa So eun.” Jelas Jae wook, dan membuat Yi hyun seketika terlonjak dari tempat duduknya.

 

Bagaimana bisa putra bungsunya itu melakukan hal sekeji itu. Astaga, nampaknya Yi hyun menyadari sesuatu. Sekarang bukan hanya orang tua saja yang menjadi korban melainkan juga putra putri mereka. Yi hyun mendudukkan tubuhnya. Bagaimanapun semua ini harus diselesaikan. Yi hyun harus memberi pengertian sekaligus meminta penjelasan pada putra bungsunya itu, karena jika tidak maka Kim bum sendirilah yang akan terluka. Dan terlebih tentu saja So eun akan paling menderita. Yi hyun juga tidak bisa mengabaikan putra sulungnya – Woo bin.

 

“Harusnya dari awal kita memberitahukan semua ini pada anak – anak.” Lirih Yi hyun.

 

~~~TBC~~~

 

 

Hate Or Love (part 2)

Posted: 13 November 2013 in FF BUMSSO
Tag:

cats

Part 2

“apa maksudmu?, apa ini berarti kau melarangku untuk menemanimu malam ini. ibu tidak mengijinkanku untuk menginap disini?” rasa heran pada diri woo bin atas apa yang dikatakan oleh ibunya tadi, tentu saja membuat dirinya mengucapkan pertanyaan seperti saat ini.

So yi hyun membelai wajah putranya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tentu saja jawaban dari pertanyaan yang di ajukan oleh woo bin adalah “iya” karena yi hyun benar – benar sayang pada putranya itu dan tentu saja wanita ini tidak ingin terjadi sesuatu pada putranya.

“jangan bilang kalau kau benar – benar melarangku ibu..” rengek woo bin, yang seakan – akan sudah tau apa yang akan dijawab oleh ibunya.

“ibu tidak menerima pria yang dalam keadaan mabuk seperti ini untuk menginap dirumah ibu sekarang. Ibu bahkan sudah pernah berulang kali mengatakannya padamu ataupun kim bum bahwa ibu tidak suka jika kalian sampai menyentuh minuman keras itu.” Celoteh yi hyun untuk woo bin. Dan bukannya merasa bersalah tentu saja woo bin menampilkan wajah polos tanpa dosanya. Dan tingkah woo bin itu sukses membuat yi hyun tertawa geli.

“pulanglah ke tempat ayahmu sayang, patuhi ayahmu dan jangan buat dia marah. Jaga kim bum nasehati dia, jika dia melakukan kesalahan. dan bukannya membantunya. Maafkan ibu yang tidak bisa merawat kalian sayang.” Kata – kata ini memang terdengar sangat menyedihkan untuk so yi hyun selaku orang yang telah mengatakannya. Tapi inilah yang harus dia jalani tidak bisa berkumpul dengan anak – anaknya dan itu benar – benar tidak bisa dia rubah.

“aku menyayangimu. Aku berjanji bahwa aku akan membuat ibu, kim bum dan aku berkumpul bersama lagi walaupun ada atau tanpa ayah. Aku janji ibu…” jawab woo bin penuh keyakinan dan benar – benar mantap dengan apa yang dia janjikan barusan pada ibunya.

~~~

Woo bin melajukan mobilnya dengan sangat kencang, dia benar – benar lelah. Bukan hanya lelah saja tapi dia juga sangat sedih dengan apa yang menimpanya. Dia benar – benar sudah tidak kuat lagi untuk menyangga beban berat yang ditumpuhkan padanya. apalagi tentang perasaan yang selama ini terpendam di dalam hatinya untuk seseorang yang jelas – jelas tidak mungkin untuk woo bin mengungkapkannya pada orang itu.

“aku benar – benar frustasi.” Gumam woo bin, sambil tetap fokus dibelakang layar kemudi mobilnya.

Tak butuh waktu lama, akhirnya woo bin sudah sampai di rumah ayahnya. di bukannya pintu rumah itu dengan mudahnya. Tentu saja dia juga mempunyai kunci cadangan untuk rumah ini sama seperti kim bum.

Dan ketika baru beberapa langkah woo bin melangkahkan kakinya, telinganya menangkap sebuah suara teriakan yang berasal dari kamar adiknya. Ya.. kamar kim bum.
Perasaan cemas menghantui woo bin dan membuat woo bin berlari menuju kamar adiknya itu, namun ada perasaan takut dalam hati woo bin ketika dia menghampiri kamar adiknya. Kenapa suara teriakan itu terdengar seperti suara wanita, siapa yang saat ini berada di kamar kim bum dan apa yang sedang dilakukan kim bum pada wanita itu. Jangan – jangan wanita itu adalah – kim so eun.

“yaa.. kim bum apa yang kau lakukan sekarang” cemas woo bin yang saat ini dengan cepat melangkahkan kakinya menaiki tangga untuk menuju ke kamar kim bum.
Pikiran woo bin benar – benar tidak menentu sekarang, pria ini berharap agar adiknya itu tidak melakukan sesuatu yang buruk pada siapapun terutama jika benar dugaan woo bin kalau wanita itu adalah Kim so eun – adik tirinya.

~~~

“yaa… apa yang kau lakukan bodoh…” teriak woo bin ketika berhasil membuka kamar kim bum yang tidak di kunci dan melihat apa yang saat ini akan dilakukan oleh kim bum pada so eun.

Ternyata apa yang tadi sempat dipikirkan oleh woo bin menjadi nyata bahwa kim bum akan melakukan hal yang buruk pada so eun.
Woo bin melangkahkan kakinya untuk mendekati kim bum, dan satu pukulan yang cukup keras diberikannya pada adik kesayangannya itu. Entahlah kenapa woo bin bisa setega itu pada adiknya, tapi yang jelas saat ini woo bin benar – benar marah pada kim bum.

Kim bum benar – benar kesal dengan apa yang diterimanya barusan, ditatapnya dengan tajam orang yang memukulnya tadi. Kim bum sangat kesal saat mengetahui siapa yang memukulnya, tangannya mengepal rahangnya mengeras. Kim bum benar – benar ingin membalas pukulan itu, tapi tentu saja dia tidak bisa melakukannya karena kim bum sangat menghargai orang yang telah memukulnya.

“apa yang mau kau lakukan padanya? cepat katakan.” Bentak woo bin yang tadi memukul kim bum, seakan – akan ingin menelan kim bum hidup – hidup saat ini juga. karena kesalnya.
Woo bin sangat marah sekali dengan apa yang dia lihat. Di tatapnya tajam kim bum seakan – akan meminta penjelasan dengan apa yang akan dilakukan kim bum terhadap so eun.

“kau tuli yaa… cepat jawab aku.” Bentak woo bin lagi, yang kini melayangkan tangannya dan hendak memukul kim bum lagi. namun terhenti ketika mendengar teriakan so eun.

“cukup….” teriak so eun sambil menangis, gadis itu masih sangat terkejut dengan apa yang akan menimpa dirinya. Walaupun pada akhirnya kim bum tidak jadi melakukan perbuatan yang membahayakannya tapi tetap saja tubuhnya masih gemetar dan ketakutan.

“jika kau berusaha melakukannya lagi.. aku tidak akan segan – segan membunuhmu saat ini juga.” Ancam woo bin pada kim bum. Sambil menghampiri so eun yang masih tak bergeming di ranjang kim bum saking kaget dan takutnya akan sikap kim bum yang menakutkan.

Kim bum menatap tajam pada kakaknya yang dengan tiba – tiba datang, masuk kekamarnya dan sekarang memukulnya. Apa kakaknya ini gila, apa kakaknya ini sekarang tidak berada di pihaknya kenapa kakaknya bisa membela gadis murahan itu pikirnya.
Mata tajam kim bum masih mengawasi setiap gerakan woo bin yang membantu so eun untuk bangun dari ranjangnya dan juga membimbing keluar gadis itu tanpa menoleh atau mempedulikan sakit yang dirasakan kim bum saat ini atas pukulannya.

“dia bahkan tidak peduli padaku dan malah membawa pergi gadis itu. Ini benar – benar tidak bisa diterima.” Gumam kim bum lagi dengan kesalnya. Dan berusahan bangkit dari lantai. Berusaha mencari tau apa yang sebenarnya dipikiran kakaknya itu sekarang.

~~~

Woo bin membimbing tubuh so eun menuju kamarnya, gadis itu bahkan tidak menolak ketika woo bin merangkulnya dan masuk kedalam kamarnya. Dan bisa woo bin rasakan bahwa saat ini tubuh so eun sangat bergetar hebat. Tentu saja so eun sangat shock dengan apa yang akan dilakukan oleh kim bum tadi. Pasti gadis itu benar – benar tidak menyangka bahwa kim bum bisa melakukan hal sekeji itu padanya. pasti sekarang so eun berfikir bahwa kim bum sangatlah jahat. Pikir woo bin.

“kuharap kau mau memaafkan kim bum. hari ini dia benar – benar sedang mabuk, aku pikir dia tidak sengaja melakukan sesuatu yang buruk seperti tadi. Ku harap kau tidak membencinya. Jika kau mau marah, marah saja padaku.” Mohon woo bin pada so eun, seakan – akan woo bin benar – benar tidak mau jika so eun membenci kim bum.

So eun tidak menjawabnya, dia hanya memandang mata woo bin. Ada ketulusan di bola mata itu. Apakah yang dikatakan kakak tirinya ini benar adanya. Woo bin meminta maaf pada so eun atas kesalahan kim bum, ini benar – benar tidak masuk akal. Bukankah selama ini woo bin juga sama seperti kim bum. pria ini juga membencinya kan, bahkan selama ini woo bin selalu mengacuhkan so eun atau malah tidak menganggapnya ada. Walaupun tidak begitu terlihat jelas seperti yang dilakukan oleh kim bum. Lalu apa ini.

“aku tau kau tidak akan dengan mudahnya memaafkan kim bum. tapi aku mohon jangan membencinya. Kau tidak tau bahwa sebenarnya dia itu…” ucapan woo bin terhenti, ketika dia menyadari bahwa tidak seharusnya woo bin mengatakan itu. Bagaimana kalau kim bum sampai tau atau so eun yang tau. Tidakkah nanti kim bum bisa marah padanya, atau bahkan woo bin sendirilah yang kehilangan kesempatan.

“terima kasih.” Jawab so eun sambil memeluk erat tubuh woo bin secara tiba – tiba. Tentu saja itu membuat woo bin sedikit tersentak. Wanita ini tidak marah padanya, bahkan kini so eun memeluk woo bin. Ada apa? apa ada yang salah sekarang?

“untuk apa?” pertanyaan ini memang seharusnya tidak diajukan oleh woo bin, karena sudah pasti bahwa so eun berterimakasih karena woo bin telah menyelamatkan gadis itu dari perbuatan membahayakan yang telah di lakukan kim bum pada dirinya. Pikir woo bin.

“terimakasih.. karena akhirnya kau peduli padaku.” Ucap so eun sambil menangis dan semakin mengeratkan pelukannya pada woo bin.
Woo bin membelalakan matanya, tanda dia tidak mengerti dengan ucapan so eun barusan. apa maksud dari ucapan so eun ini. tapi mungkin ini tidak terlalu penting sekarang, menurut woo bin yang terpenting sekarang so eun sudah jauh lebih tenang dan tentu saja woo bin harus melihat keadaan kim bum. sudah bisa woo bin bayangkan bahwa saat ini adiknya itu pasti benar – benar terpukul dengan apa yang dilakukan woo bin padanya tadi.

“istirahatlah… jangan takut lagi.” ucap woo bin sambil melepaskan pelukan so eun padanya dan melangkahkan kakinya pergi keluar kamar so eun dan membiarkan gadis itu masih berdiri di tempatnya.
Sebenarnya ada sedikit perasaan yang menahan woo bin untuk tetap tinggal di kamar itu dan menenangkan hati so eun. tapi tentu saja rasa bersalahnya pada kim bum jauh lebih besar dari pada itu. Woo bin sudah menghianati kim bum bahkan memukulnya tentu saja kim bum akan marah padanya.

~~~

“kau benar – benar penghianat, aku tidak menyangka jika kau akan berubah secepat ini. bagaimana bisa kau memukulku hanya karena gadis murahan seperti dia.” Cerca kim bum pada woo bin yang baru saja keluar dari kamar so eun dan menutup pintunya.

Dilihatnya adiknya itu sudah berdiri tegap menghadapnya, dengan sorot mata tajam dan penuh kemarahan. Bisa dilihat juga oleh kedua mata woo bin bahwa saat ini kedua tangan kim bum mengepal dengan kerasnya, sepertinya kim bum bersiap memukul woo bin sekarang.

“kau marah padaku?… apa kau ingin memukulku sekarang?.. lakukan saja, jika memang itu yang ingin kau lakukan sekarang. Aku tidak akan melawanmu sedikitpun.” Woo bin semakin mendekatkan dirinya pada kim bum. woo bin tau bahwa saat ini tubuh kim bum dikendalikan oleh emosinya. Dan woo bin pun terima jika kim bum memukulnya sampai mati. Mungkin inilah yang pantas didapatkan oleh woo bin karena telah menghianati adik dan ibunya. Lagi pula woo bin sendiri pun sudah teramat lelah jika harus selalu mengalah pada adiknya ini.

“kau bajingan.. kau benar – benar pantas mati. Dasar brengsek..” teriak kim bum sambil mencengkram erat kerah baju kakaknya. Satu tangannya melayang ke udara dan bersiap memukul kakaknya. Tapi pukulan itu tertahan di udara.

Walaupun saat ini tubuh kim bum di penuhi dengan emosi dan kemarahan atas apa yang dilakukan kakanya tadi padanya. tapi tetap saja rasa hormat dan sayang yang dimiliki oleh kim bum pada woo bin sekarang jauh lebih besar dibandingkan dengan rasa marahnya.

“kau selau membuatku seperti anjing yang selalu patuh pada majikannya. Bahkan kemarahanku tidak cukup kuat untuk menandingi rasa sayang dan hormatku padamu. Bagaimana bisa kau menghianatiku dan malah membelanya.” Teriak kim bum pada kakaknya. Hatinya benar – benar sakit sekarang.

“maafkan aku.. maafkan aku kim bum.” jawab woo bin sambil menangis, pria itu bahkan tidak mampu menatap mata kim bum. hatinya sedih, selama ini dia dan kim bum selalu bersama – sama. Jangankan bertengkar seperti sekarang, saling mencubit saja tidak pernah. Mereka selalu melindungi satu sama lain, lalu kenapa bisa woo bin sampai hati memukul kim bum tadi.

“mulai sekarang aku membencimu.. ku anggap kau tidak berdiri sebagai pembelaku lagi sekarang. Kau tidak perlu melindungiku lagi, karena tanpamu aku bisa melindungi ibu dan diriku sendiri.” Tegas kim bum sambil melepaskan cengkraman tangannya pada woo bin dan melangkahkan kakinya menjauhi tubuh sang kakak, menuju kamarnya dan membanting pintu kamarnya dengan cukup keras.

“yaahhh.. apa yang kau katakan barusan. seharusnya kau memukulku sampai mati. Bagaimana bisa kau mengatakan itu padaku… kim bum,, ku mohon jangan membenciku seperti kau membenci ayah. Kumohon buka pintunya.” Teriak woo bin sambil menggedor pintu kamar kim bum dengan keras, berusaha meyakinkan kim bum agar kim bum mau membuka pintu kamarnya dan memaafkannya. Tapi percuma saja, saat ini kim bum benar – benar marah pada woo bin.
Woo bin hanya bisa menangis dan meninggalkan pintu kamar kim bum, untuk menuju kamarnya sendiri. Mungkin saat ini kim bum masih ingin menenangkan dirinya. Pikir woo bin.

~~~

Ternyata di dalam kamarnya so eun juga mendengar semua pertengkaran antara woo bin dan kim bum, ternyata mereka berdua sangatlah dekat. Kim bum benar – benar menghormati kakaknya dan woo bin benar – benar menyayangi adiknya.

Selama ini mereka berdua pasti benar – benar menderita, dan tentu saja penderitaan mereka disebabkan oleh ibu so eun. pantas saja selama ini kim bum membencinya karena begaimanapun memang benar adanya bahwa karena ibu so eun menghancurkan keluarga kim bum. rasa bersalah pada kim bum dan woo bin benar – benar menyerang so eun, gadis itu tak henti – hentinya menangis. Apa yang bisa dilakukannya untuk memperbaiki kesalahan ibunya. Haruskah so eun membawa ibunya pergi dari rumah ini bahkan dari keluarga ini. tapi bagaimana caranya, melawan ibunya saja so eun tidak punya keberanian apalagi membawa ibunya pergi.

“maafkan aku kim bum, maafkan aku kak woo bin, maafkan aku bibi yi hyun. Aku bahkan tidak bisa menasehati ibuku dan membawanya pergi. Maafkan aku karena membuat keluarga ini jadi berantakan seperti sekarang. Maafkan aku.” Gumam so eun sambil menangis tersedu di dalam kamarnya.
Hatinya juga ikut hancur ketika melihat dua kakak beradik itu saling bertengkar, apalagi jika mereka berdua sampai saling bermusuhan ini akan membuat keduanya semakin menderita. Mereka berdua saling bergantung, dan bagaimana keduanya bisa hidup sendiri – sendiri sekarang. Pikir so eun.



Beberapa hari setelah kejadian dimana woo bin memukul kim bum, keduanya benar – benar tidak saling bertegur sapa. Jangankan untuk menyapa atau mengucapkan selamat pagi untuk saling menatap saja tidak. Aura kebencian masih menyelimuti kim bum, sedangkan woo bin, pria itu masih terlihat menyesali perbuatannya karena melakukan perbuatan bodoh yang tidak semestinya dia lakukan.

Pagi ini semuanya berkumpul diruang makan, tidak ada percakapan yang hangat ataupun gelak tawa dari sebuah kumpulan keluarga seperti semestinya. Yang ada hanya keheningan dan kekakuan. Dan itu sangat di rasakan oleh semuanya. Termasuk so eun yang ada didalamnya.

Suara geseran kursi terdengar di ruangan itu, menghidupkan suasana. Dan ketika semua menoleh ke sumber suara, sedikit kaget ketika melihat kim bum hendak beranjak pergi meninggalkan ruang makan itu sebelum Kim jae wook.

“kau mana kemana kim bum?” pertanyaan lembut jae wook langsung tertuju pada putra keduanya itu. Walaupun nada bicara yang keluar dari mulut jae wook terkesan lembut. Tapi jangan lupakan sorot mata tajam yang saat ini ditujukannya pada kim bum.

Seharusnya kim bum masih mengetahui sifat ayahnya selama ini. pria itu bahkan tidak ingin siapapun pergi meninggalkan ruang makan ketika jae wook sendiri belum menyelesaikannya. Tidak peduli itu siapa.

“aku hanya ingin keluar, hari ini kantor libur kan. Tidak bisakah aku bersenang – senang.” Jawab kim bum sedikit menantang. Seharusnya kim bum tidak berbicara seperti itu sekarang tapi kondisi hatinya sedang tidak menentu saat ini, jadi jika ayahnya marahpun dia tidak peduli.

“hehh.. bocah ini. jawabanmu membuat telingaku sedikit sakit mendengarnya.” Timpal jae wook lagi. dan perkataanya bahkan tidak dihiraukan sedikitpun oleh kim bum.
Anak itu masih dengan santainya melangkahkan kakinya untuk pergi keluar rumah, padahal kim bum tau bahwa ayahnya itu pasti sedang marah dengannya.

“jangan berniat melangkahkan kakimu lagi sekarang, satu kali saja kau melangkahn kakimu maka saat itu juga aku akan mematahkan kakimu.” Ancam jae wook pada putranya itu dan sekarang uucapan pria itu sukses membuat putranya diam berdiri di tempat, walaupun dengan perasaan enggan.

“ayah, sudahlah… biarkan saja dia pergi. Jika memang ada pekerjaannya yang belum diselesaikan biar aku saja yang mengurusnya.” Bela woo bin, mencoba mengambil hati ayahnya. melihat suasana yang saat ini sudah terlalu menyeramkan untuknya.

“bicaramu seperti seolah – olah lebih baik kau saja yang harus dibunuh ayah sekarang daripada aku. Kau benar – benar selalu bersikap baik – kim woo bin.” Sindir kim bum sambil membalikan tubuhnya menghadap semua orang yang masih duduk ditempatnya masing –masing.

“sudah – sudah, kenapa kalian jadi bertengkar seperti ini. kim bum cepat kembali ke tempat dudukmu dan jangan berbuat ulah seperti sekarang. Apa kau mau melihat ayahmu marah – marah.” Timpal tae hee, yang mulai tertarik ikut dalam pembicaraan panas ini.

“dasar aneh, siapa yang butuh suaramu disini. Tidak ada yang menginginkan wanita sepertimu ini untuk bicara sekarang. Apa kau tidak malu, bicara seperti itu.” Cela kim bum pada ibu tirinya, dengan senyum meremehkan yang dia lemparkan pada ibu tirinya itu. Dan tentu saja senyuman kim bum itu berhasil menyulut emosi tae hee.

“kau ini. aku bahkan mencoba menasehatimu. Tidak bisakah kau bersikap sopan padaku, aku ini istri dari ayahmu yang tidak lain juga ibumu. Bagaimana bisa kau bersikap tidak sopan seperti itu.” Bentak tae hee dengan kesalnya pada kim bum ketika mendengar celaan yang dilontarkan oleh kim bum barusan untuknya.

Kim bum tidak membela dirinya, dia hanya tersenyum melihat ibu tirinya itu memarahinya. Kim bum puas bisa membuat kim tae hee marah seperti sekarang. Pemandangan inilah yang ingin kim bum lihat, walaupun resikonya, ayah kim bum pasti akan marah padanya.

“kim bum.. berhenti bicara dan cepatlah pergi.” Teriak woo bin yang sedikit kesal dengan ulah kim bum saat ini. kim bum bisa mati jika ayahnya benar – benar marah, seharusnya sedari tadi kim bum sudah meninggalkan tempat ini dan bukannya malah membuat keributan.

“berhenti membelanya lagi. kalaian berdua ikut aku ke ruang kerjaku sekarang. Jangan membuatku menunggu atau aku sendiri yang akan menyeret kalian berdua.” Bentak jae wook kepada kedua putranya itu. Sambil beranjak dari tempat duduknya sekarang dan berjalan melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya. Tentu saja di ikuti oleh woo bin dan kim bum di belakangnya.

Ada gurat kecemasan di wajah kim bum dan woo bin sekarang terutama kim bum. sekeras apapun kim bum tetap saja dia takut pada ayahnya. karena kim bum sudah hafal betul bagaimana sifat dan karakter si ayah jika sedang marah.

Di meja makan so eun memandang kepergian kedua saudara tiri dan juga ayah tirinya yang tengah berjalan menjauhi dirinya dan menuju ruangan kerja jae wook. Tentu saja pikiran so eun juga sama seperti yang lain, takut jika jae wook benar – benar akan memukuli kedua anak kandungnya itu.

~~~

Ayah dan anak itu sekarang sudah berkumpul. Jae wook duduk di sofa yang ada diruangan kerjanya itu sedangkan kim bum dan woo bin berdiri di depannya. Keduanya menundukkan kepalanya tanda dia tidak menginginkan tatapan tajam ayahnya yang ditujukan kepada keduanya.

“aku membawa kalian kesini bukan untuk membahas masalah hari ini. tapi aku ingin kalian berdua mengatakan kebohongan yang kalian sembunyikan padaku selama ini.” perintah jae wook tegas.
Tidak terdengar marah, tapi ketegasan jae wook itu mampu membuat kedua nyali putranya itu menciut seketika. Hanya dengan sekali perintah.
Sedikit menguji kesabaran jae wook memang, karena kedua putranya itu bahkan tidak ada satupun yang berniat menjawab. Entah itu takut atau enggan sekalipun. Tapi saat ini jae wook butuh kejujuran dari keduanya.

“kalian tidak akan mengatakannya padaku?” tanya jae wook lagi, masih dengan nada bicara yang lembut.

“kalian mau mengatakannya atau kalian mau aku menmbeberkannya satu persatu sekarang?” bentak jae wook pada kedua putranya itu.
Kesabaran jae wook benar – benar tengah di uji sekarang. Kedua putranya itu bahkan tidak ada satupun yang menjawab atau mengeluarkan suaranya. Jae wook mendekati kim bum dan menatap tajam putra keduanya itu, tapi yang ditatap malah menundukkan kepalanya.

“yaa… kau mau mengatakannya tidak, selama ini aku bahkan tidak pernah mendidik kalian untuk berbohong. Bagaimana bisa sekarang kalian melakukan ini padaku.” Teriak jae wook sambil melayangkan pukulannya siap untuk memukul kim bum yang ada didepannya. Dan itu sukses membuat kim bum menutup kedua matanya dia tidak ingin melihat ayahnya memukulnya.
Tapi kim bum begitu kaget ketika mendengar suara pukulan dan bersamaan dengan suara tubuh terjatuh ke lantai. Dan yang lebih membuatnya heran, dia tidak merasakan sakit di badannya. Lalu siapa yang telah mendapatkan pukulan dari ayahnya barusan, woo bin kah?

“ayah apa yang kau lakukan?” tanya kim bum kaget, ketika melihat apa yang dilakukan oleh ayahnya itu. Jae wook memukuli woo bin dengan membabi buta. Ayahnya itu bahkan tidak memberikan kesempatan untuk woo bin membalas ataupun menghindar sekalipun.

“kau bahkan yang paling ayah percaya. Bagaimana bisa kau membiarkan kim bum melakukanya. Bagaimana bisa kau selalu melindunginya dan tidak memberitahukan yang dia lakukan selama ini padaku.” Bentak jae wook sambil terus memukuli woo bin tanpa henti, jae wook benar – benar marah ketika mengetahui bahwa selama ini woo bin selau membantu adiknya untuk bertemu ibunya tanpa sepengetahuannya.

“ayah.. apa yang kau lakukan. Aku yang berbuat kesalahan, tapi kenapa kau memukul kakak. berhenti memukulnya ayah.” Teriak kim bum yang tidak terima melihat kakaknya dipukuli oleh sang ayah karena kesalahan yang tidak dilakukan oleh sang kakak.

“ayo.. cepat katakan bagaimana bisa kau menutupinya dariku. Apa sekarang kau mau menjadi pemberontak dan berniat membuat kim bum menjadi sepertimu juga. Bukankah berkali – kali kukatakan jangan pernah menemui ibumu lagi. kenapa kalian berdua tidak pernah mematuhiku.” teriak jae wook lagi, dan masih tetap memukuli woo bin. Jae wook bahkan tidak mempedulikan woo bin yang bahkan tidak bisa bergerak karena pukulannya.

“ayah aku bilang hentikan, jangan pukul kakak lagi. aku yang salah kenapa kau memukulnya, kalau kau mau memukul pukul saja aku jangan kak woo bin.” Bentak kim bum pada ayahnya, dan dengan keras kim bum mendorong tubuh jae wook hingga terpental dari tubuh woo bin.

“kau juga harus dihajar, karena telah melakukan perbuatan yang memalukan pada so eun.” ucap jae wook, dan sudah melayangkan satu pukulan pada kim bum. dan membuat bibir kim bum mengeluarkan darahnya.

“bagaimana ayah bisa tau?” heran kim bum sambil menyentuh bibirnya yang terasa perih.

“selama ini aku tidak pernah sekalipun menegur atau memarahimu walaupun kau mengacau dikantor dan sering tidak hadir dalam rapat pemegang saham. Itu karena aku sangat menyayangimu dan memaklumi kekerasan hatimu yang sama persis denganku. Tapi untuk yang satu ini aku bahkan tidak bisa memaafkanmu.” Ucap jae wook sambil memukul kim bum lagi. dan pukulan tadi sukses membuat tubuh kim bum jatuh tersungkur.

“aku bahkan tidak menyangka jika kau melakukannya kim bum. kau telah membuat kakakmu menanggung semua kesalahanmu. Kau juga telah melibatkan orang yang tidak bersalah ke dalam dendammu padaku. Aku pikir yi hyun pun tidak akan menyukai apa yang telah kau lakukan selama ini.” tutur jae wook sambil kembali duduk di sofanya.
Ada sedikit penyesalan dihati jae wok karena memukul woo bin, tapi dengan begini mungkin woo bin tidak akan membela kim bum lagi dan kim bum pun akan jauh lebih baik dan tidak pernah membohonginya lagi. atau memanfaatkan kakaknya lagi.

~~~

Woo bin keluar dari ruang kerja ayahnya lebih dulu, kemudian di ikuti dengan kim bum di belakangnya. Dengan langkah sempoyongan dan tubuh yang penuh luka bekas pukulan dari ayahnya woo bin pun menaiki tangga menuju kamarnya walaupun berkali – kali dia hampir terjatuh tetap saja dia berusaha untuk bangkit kembali.

Kim bum yang sedari tadi berjalan di belakang kakaknya pun tidak kuasa melihat kakaknya seperti itu. Dengan cepat kim bum membimbing tubuh kakaknya untuk menaiki tangga agar tidak terjatuh. Tapi diluar dugaan kim bum, woo bin menolaknya.

“jangan membantuku, biarkan aku berjalan sendiri. Aku bukan orang lumpuh yang harus meminta bantuan orang lain untuk menaiki tangga ini.” ucap woo bin sambil melepaskan tangan kim bum dari tubuhnya.

“maafkan aku, selama ini aku selalu menyusahkanmu.” Jawab kim bum

“kau tidak perlu minta maaf padaku. Mungkin selama ini aku sudah terlalu sering berdiri di belakangmu dan selalu menjadi sasaran kemarahan ayah. Selama ini ayah selalu memperlakukanmu dengan baik begitu pula dengan ibu.” Ucap woo bin sambil memperhatikan kim bum yang terlihat menyesal.

“aku tidak peduli dulu kau menyukainya dan sekarang kau membencinya, tapi mulai sekarang aku akan mendekatinya. aku sudah lelah mengalah darimu kim bum. aku menyukainya dan mulai sekarang aku akan mendekatinya. aku membenci ibunya dan bukan anaknya. Maafkan aku karena telah menghianatimu.” Jelas woo bin dan pergi meninggalkan kim bum yang terlihat bingung dengan ucapan sang kakak tadi.

Kim bum mulai berfikir sejenak, memang selama ini ayahnya tidak pernah sekalipun memarahinya. Dan memang diakuinya bahwa itu karena usaha kakaknya. Bahkan selama ini memang kim bum selalu mudah jika menemui atau datang kerumah ibunya, dan itu semua berkat bantuan dari woo bin. Kim bum memang sudah terlalu banyak menyusahkan pria itu.

“tidak.. aku membencinya. Baik dulu maupun sekarang. Aku tidak peduli kak woo bin mau mengambilnya atau tidak. aku membencinya dan juga ibunya. Kak woo bin memang bodoh dan pengecut.” Gumam kim bum meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilakukannya selama ini benar dan tidak menyakiti siapa pun termasuk kakaknya itu.

~~~

“bukan aku yang salah, tapi wanita brengsek itu.” Ucap kim bum sambil melangkahkan kakinya keluar rumahnya. Dan siapa sangka jika di luar pintu itu ternyata gadis itu sudah berada disana.

“minggir atau aku akan melakukan sesuatu yang lebih buruk dari pada kemarin.” Bentak kim bum pada gadis yang berdiri dihadapannya itu yang tak lain adalah so eun.

So eun melihat kedua mata kim bum mencoba mencari kebenaran dari semua yang telah terjadi selama ini dan apa yang dia dengar barusan. so eun mendengar semuanya, mendengar apa yang telah dikatakan oleh woo bin pada kim bum.

So eun tidak mau menduga ataupun berharap kalau gadis itu adalah dirinya. Karena bagi so eun itu tidak lah penting. Yang terpenting adalah apa benar kim bum dulu menyukai gadis itu. Karena sebenarnya permasalahan sebenarnya bukan karena dendam tapi karena gadis itu.
“sebenarnya masalahmu ada pada gadis itu kan, kau membenci ayahmu hanya sebagai pelengkap kebencianmu pada gadis itu kan. Sebenarnya apa yang kau harapkan pada gadis itu hingga kau mengorbankan kakak dan juga ayahmu. Aku tau kau membenci ibuku karena telah menggantikan posisi ibumu. Tapi masalah yang sebenarnya ada pada gadis itu kan?”

“plaaakkk…” sebuah tamparan keras di layangkan so eun pada wajah mulus kim bum dan tentu saja kali ini kim bum tidak bisa melawan karena so eun sudah lebih dulu menahan perlawanannya dengan kalimat yang dia lontarkan barusan.
Dan bersamaan dengan tamparan itu, kim bum pun memeluk so eun dengan sangat erat. Bahkan terlihat seperti kim bum tidak akan pernah melepaskan so eun dari pelukannya.

“aku selalu berusaha membencinya apapun yang terjadi. Karena gadis itu memang penyebab semua kemarahanku. Aku bahkan selalu berharap bahwa gadis itu tidak terlahir dari rahim seorang wanita yang telah menghancurkan keluargaku. Aku sangat membencinya dan tidak akan membiarkan kakakku mendapatkannya.” Terang kim bum masih tetap mengeratkan pelukannya pada so eun. benar – benar erat.

So eun menangis, gadis itu benar – benar tidak bisa menahan rasa sedihnya. Kim bum benar – benar membencinya da sepertinya rasa benci itu sangat besar terhadapnya.

Kim bum masih memeluk so eun, pria itu masih enggan melepaskan pelukannya pada so eun. “jangan berfikir untuk mengambil hati kakakku atau aku akan semakin membencimu.” Kalimat kim bum pun terhenti bersamaan dengan gerakan tangannya yang melepas pelukannya dari tubuh so eun.



Hari ini rumah terasa sepi, sebenarnya memang seperti in.i biasanya rumah ini selalu terkesan sepi. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh so eun saat pertama kali datang ke rumah ini sampai dengan saat ini. rumah ini masih tetap sama, pantas saja kim bum selalu kesepian. Jika memikirkan kim bum, so eun jadi ingat kepergian kim bum pagi tadi, kemana anak itu apa dia ke tempat ibunya dan tidak berniat pulang.

So eun keluar dari kamarnya, dengan membawa kotak p3k dan menuju kamar woo bin. Setidaknya dia harus memastikan bahwa kondisi woo bin saat ini baik – baik saja. walaupun kemungkinan hal itu terjadi sangat kecil.

“bolehkah aku masuk kak?” tanya so eun sambil mengetuk pintu kamar woo bin, dan tidak butuh waktu lama so eun menunggu woo bin pun sudah membukakan pintu untuk so eun.
So eun bisa melihat jelas betapa banyaknya luka di wajah woo bin, sangat berbeda dengan kim bum yang terlihat baik – baik saja tadi pagi. Ketika so eun menemuinya.

“masuklah.”

So eun memasuki kamar woo bin, ketika kakak tirinya itu menyuruhnya masuk. So eun segera mengahampiri woo bin dan mencoba menyentuh wajah woo bin. Namun pria itu menghindarinya.

“ada perlu apa?” tanya woo bin dengan nada dingin seperti biasanya, ini sudah biasa menurut so eun.

“aku hanya ingin menebus kesalahan ibuku, bolehkah aku mengobatimu kak?” pinta so eun hati – hati, gadis itu takut dengan rasa percaya dirinya yang tinggi ini akan mendapatkan penolakan dari woo bin. Tentu saja so eun harus siap jika hal itu terjadi.

Woo bin terdiam sejenak mendengar permintaan so eun saat ini, gadis ini sudah mulai berani rupanya. Ini memang bukan salahnya, jadi tidak seharusnya kim bum ataupun woo bin menghakiminya. Semuanya salah ibunya kan, jadi kenapa harus mengikut sertakan so eun dalam masalah yang tidak dilakukannya. Pikir woo bin.

“bukan aku yang harus kau sembuhkan, tapi kim bum. sepertinya dia sangat terluka dengan kejadian hari ini.”

“kim bum…. kakak yang lebih terluka.”

“untuk pertama kalinya, ayah membentak kim bum aku yakin saat ini anak itu pasti terluka.”

“biarkan aku mengobati lukamu dulu, jangan memikirkan kim bum. aku yakin dia akan baik – baik saja.” mohon so eun, seperti yang dikatakan oleh woo bin. Sebenarnya so eun juga sangat khawatir dengan apa yang akan terjadi pada perasaan kim bum. tapi so eun tau bahwa kim bum akan bisa mengendalikan emosi jauh dari yang orang – orang pikirkan so eun tau itu.



Pagi itu sebelum berangkat ke kantor, woo bin dipanggil ayahnya untuk datang ke ruang kerja ayahnya. woo bin masih bingung apa yang akan dikatakan oleh ayahnya. jika masih mengenai masalah kebohongan yang dilakukannya dan juga kim bum bisa mati hari ini karena woo bin benar – benar tidak tau harus bagaimana lagi membela diri di depan ayahnya.

“apa lukamu sudah membaik?” pertanyaan itu keluar dari mulut jae wook ketika dia melihat bahwa woo bin sudah membuka pintu ruang kerjanya dan memasuki ruangan itu.

“ini sudah lebih baik, dari sebelumnya.” jawab woo bin.

“hari ini bawa so eun kekantor, karena mulai hari ini so eun akan bergabung denganmu dan juga kim bum untuk menjalankan kantor cabang, bantu dia.” Perintah jae wook pada putra pertamanya itu.

“ayah,,, tidakkah terlalu cepat untuk membawa so eun ke kantor, so eun masih terlalu muda lagi pula dia wanita tidakkah itu…” kalimat woo bin terpotong

“aku tidak membutuhkan komentarmu, tapi aku memerintahkanmu. Dan satu hal lagi bawa kim bum pulang ke rumah kalau perlu seret dia untuk kembali. Jangan pernah kecewakan aku lagi atau tidak kau akan tau hukuman apa yang akan kuberikan padamu woo bin.”

Ketegasan dan kekuatan jae wook membuat woo bin benar – benar tidak mempunyai keberanian hanya untuk sekedar mengatakan tidak. Jadi lebih baik woo bin membungkukkan badannya dan meninggalkan ruangan ayahnya sebelum kepalanya serasa ingin pecah jika memikirkan masalah keluarganya.

“harusnya kau berada disini kim bum, dan bukannya meninggalkanku dalam situasi seperti ini.” gumam woo bin.

~~~

“ibu… tidak bisakkah kau memberitau paman jae wook agar membatalkan niatnya. Apa ibu tidak lihat bagaimana kemarahan kim bum kemarin, bagaiamana jika kim bum atupun kak woo bin marah jika tau aku akan ikut andil dalam perusahaan.” Gerutu so eun, gadis itu benar – benar kesal dengan pemaksaan ibunya yang menuntutnya untuk menuruti perintah ayah tirinya.

Ini bukan keinginan so eun, gadis itu benar – benar tidak ingin jika sampai kim bum semakin membencinya. Akan jadi apanya jika kim bum tau akan hal ini. apa yang harus gadis itu jelaskan pada kim bum jika pria itu marah lagi padanya. walaupun saat inipun kim bum juga masih marah padanya tapi dengan keadaan seperti ini tentu saja kim bum semakin marah padanya kan.

“berhenti mengeluh… ini semua untuk kepentinganmu juga. Kau pikir kenapa ibu bisa sejauh ini melangkah. Itu semua karena dirimu so eun, tidak bisakah kau mengerti kondisi ibu. Apa kau ingin kembali pada kehidupan kita seperti dulu.” Bentak tae hee pada anak perempuannya itu.

“setidaknya kondisi seperti itu lebih baik dari pada sekarang… setidaknya ibu tidak terlihat seperti wanita perusak rumah tangga orang.” Ucap so eun, dan langsung mendapat tamparan keras dari ibunya.

“kau benar – benar tidak tau caranya berterima kasih, kau kira ibu suka melakukan hal seperti ini. cukup ikuti aturan ibu dan jangan bicara lagi.” perintah tae hee dan langsung pergi meninggalkan so eun yang terlihat terluka.
Tentu saja gadis itu sangat terluka, selama ini ibunya tidak menampar so eun dan hari ini tangan tae hee mendarat tepat di pipi mulus so eun. sebenarnya so eun juga tidak ingin menentang ibunya, tapi memang apa yang dilakukan ibunya ini benar – benar salah kan.

“aku tau ibu juga tidak ingin melakukannya, tapi tidakkah ibu lelah dengan semua ini. aku bahkan sudah benar – benar sangat lelah…. ibu.” Gumam so eun, sambil meneteskan air matanya.

So eun benar – benar ingin seperti dulu, mendapatkan perhatian lebih dari ibunya. Tidak seperti sekarang, ibunya terlalu sibuk memikirkan hal – hal yang dinilai so eun sangat berlebihan. Apalagi sekarang sudah ada so hyun yang juga membutuhkan perhatian ibunya, mengingat ayah tiri so eun yang terkesan keras dalam mendidik anak – anaknya.

“bisakah kehidupanku kembali seperti dulu, dan bisakah aku bersama dengannya lagi. aku lelah dengan semua ini. benar – benar lelah dan teramat lelah.” Batin so eun

~~~

Woo bin yang berniat menghampiri so eun yang ada dikamarnya pun melihat bagaimana so eun masih terduduk lemas di lantai kamarnya, ketika woo bin hendak menuju kamar so eun. pria itu tau bahwa pasti sakit rasanya mendapat pukulan dari orang tua kandungnya sendiri. Karena woo bin pun pernah merasakannya.

“andai saja ibumu tidak melukai hati ibuku mungkin aku akan segera beranjak dari tempatku sekarang dan membantumu berdiri.” Batin woo bin, hati kecil pria itu juga merasakan sakit yang dirasa so eun saat ini. karena dirinya juga pernah mendapatkan pukulan dari ayahnya walaupun berbeda kondisi.

Woo bin berfikir, mungkinkah adiknya itu akan tersenyum puas kala melihat kondisi so eun seperti ini. ataukah kim bum akan sedikit tersentuh dengan penderitaan yang juga dialami so eun sekarang.

“beruntung kim bum tidak melihatmu so eun.. karena mungkin jika kim bum ada disini kau akan semakin terpojokkan.” Ucap woo bin dan pergi berlalu meninggalkan so eun yang masih tetap diam ditempatnya.

~~~~~~~~~~TBC~~~~~~~~~~

Hate Or Love

Posted: 7 Oktober 2013 in FF BUMSSO
Tag:

cats

HATE OR LOVE

Cast: Kim so eun, Kim sang bum, Kim woo bin

Support cast: Kim jae wook, So yi hyun, Kim tae hee, Kim so hyun, etc

Genre: Drama, Family, Romance, Sad.

Type: Three shoot



Kebencian dari diri seseorang untuk orang lain selalu tumbuh dalam hati. dan kebencian itu akan membara jika sang pemilik hati selalu membuatnya menganga seperti api. Tidak bisakah api itu padam dengan seiring berjalannya waktu, atau paling tidak sedikit mereda…?

“kau bolos sekolah lagi hari ini?”

Sebuah suara yang terlonntar dari seorang wanita berusia kurang lebih 40 tahun itu terdengar sangat nyaring. Di dalam sebuah rumah yang terbilang cukup besar untuk ukuran seorang wanita yang hidup sendiri layaknya sebatang kara. Dan hanya di temani oleh beberapa orang pembantu yang melayaninya.

“yaa… apa kau lupa bahwa aku sudah tidak bersekolah lagi. anakmu ini sudah terlalu pintar untuk terus bersekolah.” Jawaban dari seorang anak laki – laki itu, mampu membuat sang wanita tadi terkekeh pelan.

“kau benar – benar sangat menggemaskan kim bum, apakah tidak ada yang tau kau datang kemari. Bagaimana jika ada seseorang yang melihatmu kemari dan memberitahukan pada….”

“cukup.. tidak bisakah kau tidak membahasnya, aku lelah dan hanya ingin bertemu denganmu. Kau bahkan tidak menanyakan kabarku, bagaimana keadaanku dan apakah aku baik – baik saja.” nada kesal yang terdengar dari mulut seorang pria yang di panggil kim bum tadi.

Sang wanita berusia 40 tahun yang tak lain adalah So yi hyun itu malah tertawa mendengar celotehan dari pria bernama kim bum tadi, dan itu membuat kim bum semakin bertambah kesal.

Kim bum yang sedari tadi duduk di sebelah yi hyun kini membaringkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di pangkuan yi hyun sambil menutup matanya. hanya dengan seperti ini saja bisa membuat hati dan fikiran yang selalu membuat kesal kim bum akan lenyap. Kim bum bahkan mampu melupakan apapun yang mengganjal di dalam hatinya. Hatinya benar – benar terasa damai jika sudah berada di dekapan wanita yang bernama so yi hyun ini.
Rasanya kim bum ingin selalu berlama – lama seperti ini. tidak ingin pisah dari wanita ini. saat ini atau kapanpun.

~~~

Hampir satu setengah jam kim bum terlelap di pangkuan yi hyun, dengan penuh kasih sayang yi hyun senantiasa menemani kim bum. di belainya rambut kim bum dengan pelan agar tidak membangunkan anak itu. Air matanya menetes mengaliri wajah cantiknya. Ini benar – benar menyakiti hatinya. Bukan hanya menyakiti hatinya tapi sudah menghancurkannya.

“aku sudah menduga jika bocah ini datang kemari.” Ucap seorang pria yang berusia lima tahun lebih tua dari kim bum. sambil mencium kedua pipi yi hyun dan ikut duduk di sebelah wanita tersebut.

“kau berniat menjemputnya, apa kalian baik – baik saja disana. Dia tidak menyakiti kalian kan? Apa kalian makan dengan teratur? Atau kalian….”

“yaa.. berhenti mencemaskan kami. Kami sudah besar jadi tidak perlu mencemaskan kami.” Jawab kim woo bin yang tak lain adalah kakak dari kim bum.
Woo bin menyandarkan kepalanya pada pundak yi hyun, dia juga ingin merasakan sentuhan lembut dari yee jin seperti yang di rasakan oleh kim bum saat ini.

“ya… jauh – jauh dari ibuku. Kenapa pengganggu sepertimu bisa masuk ke sini. Sana pergi.” Teriak kim bum sambil bangun dan langsung melemparkan bantal yang ada di bawah tubuhnya pada woo bin.

“sudah – sudah berhenti berkelahi, aku tidak mau melihat dua jagoanku ini saling bertengkar. Lebih baik kalian berdua makan biar bibi yang menyiapkan makanan untuk kalian berdua.” Tutur so yi hyun sambil mengelus kepala kedua anak laki – lakinya itu. Dan mereka bertigapun tertawa bersama – sama.

~~~

Woo bin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tidak ingin pulang terlambat dan membuat ayahnya marah padanya. harusnya mereka sudah sampai rumah dari tadi sore tapi karena kim bum yang tidak mau lepas dari yi hyun jadinya terpaksa woo bin menuruti adiknya itu.

“kita berdua bisa mati, jika ayah tau kita ke tempat ibu tanpa seijinnya lebih dulu. Kau selalu menyusahkan.” Kesal woo bin pada adiknya itu.

“di usiamu yang mencapai 25 tahun ini, kau masih memiliki sifat pengecut seperti sekarang. kau benar – benar membuatku muak. Sungguh menggelikan.” Balas kim bum dengan nada suara yang meremehkan.

“berhenti bersikap kasar seperti itu kim bum, apa sikapku yang selama ini masih kurang. Aku selalu membantumu menyembunyikan semua ini dari ayah. Kau kira hanya kau yang menderita. Kau bahkan tidak sedikitpun mempedulikanku. Kau tidak tau bahwa aku juga menderita sama sepertimu.” Kesal woo bin dengan sikap adiknya, harusnya kim bum bisa lebih sopan padanya.

“yaa.. berhenti mengomeliku, aku sudah terlalu pusing dengan semua keadaan yang menimpa kita. Ini semua gara – gara wanita brengsek itu, sampai kapanpun aku bersumpah akan membuat hidupnya dan anak – anaknya menderita.” Jelas kim bum dengan geramnya, dan woo bin hanya bisa menganggukan kepalanya tanda dia setuju dengan apa yang akan di lakukan oleh kim bum.



Kim jae wook tengah duduk santai sambil membaca korannya di ruang keluarga. Di temani dengan istrinya Kim tae hee. jae wook nampak tertawa ketika sedang asyik bicara dengan istri mudanya itu.

“kemana anak – anak? Kenapa sepertinya rumah ini terlihat sepi, apa mereka sedang pergi?” tanya jae wook yang nampak heran dengan keadaan rumah yang sepi. Mengingat rumah yang di huninya ini terbilang sangat besar dan mewah tentu saja aneh jika memang hanya ada dia dan istrinya.

“so eun dan so hyun pergi ke toko buku, sedangkan ….”
Jawaban dari tae hee terpaksa terhenti ketika kim bum dan woo bin sudah lebih dulu memasuki rumah itu.

“kalian berdua dari mana saja, kenapa beberapa hari ini sering pulang malam. Woo bin apa pekerjaan di kantor benar – benar sangat menyita waktumu?” tanya jae wook antusias ketika melihat kedua anak laki – lakinya itu baru saja tiba di rumah.

“semuanya berjalan lancar, kantor cabang semuanya berjalan baik. Ayah tidak perlu khawatir.” Jawab woo bin seadanya sambil berlalu meninggalkan jae wook dan tae hee. sementara kim bum sudah terlebih dahulu pergi menuju kamarnya.

~~~

Kim bum masuk kedalam kamarnya, dilihatnya foto masa kecilnya bersama ibu, ayah dan kakaknya. Kim bum berharap kebahagiaannya yang dulu segera kembali lagi. kim bum berharap wanita yang saat ini berada disisi ayahnya itu bisa merasakan bagaimana rasa sakit hati yang dialami oleh kim bum dan kakaknya terutama ibunya.

Kim bum mengepalkan tangannya tanda dia benar – benar marah dengan keadaan yang menimpanya. Bagaimana dia bisa tidur tenang di rumah ini sementara ibunya hanya tinggal sendirian.

Kim bum beranjak dari tempat duduknya, dan menyambar jaket kulit yang diambilnya dalam lemari. Di arahkanya kakinya untuk berjalan keluar kamar. Tak peduli mau kemana dia malam ini yang penting dia bisa bersenang – senang. Itu saja yang saat ini ada didalam benak kim bum.

“kak woo bin… kau sudah tidur.” Panggil kim bum seraya mengetuk pintu kamar woo bin. Kim bum tidak mempedulikan suaranya yang cukup lantang karena menurutnya tidak mungkin ayahnya bisa mendengar suaranya, mengingat kamar mereka yang terlalu jauh.

“yaa, kak woo bin tidak bisakah kau tidak mengunci pintumu. Kau ada di dalam tidak, ayo kita pergi bersenang – senang. Bukankah kita sudah lama tidak pergi ke tempat biasa.” Teriak kim bum sambil menggedor pintu kamar kakaknya itu, dan sama sekali tidak ada sahutan dari dalam.

“dasar brengsek” teriak kim bum lagi sambil menendang pintu kamar woo bin. Dengan kerasnya.
Dan ternyata apa yang di lakukan oleh kim bum barusan dilihat oleh kedua saudara tirinya.

“ayo so hyun, kita ke kamar kakak saja. sepertinya disini ada seorang pria yang tidak punya tata krama. Bagaimana bisa seorang pria dewasa bertingkah kekanak – kanakan seperti itu.” Sindir so eun yang tak lain saudara tiri dari kim bum. dan sudah jelas bahwa sindiran tersebut di tujukan untuk kim bum.
So eun dan so hyun berjalan melewati kim bum yang terlihat marah dengan sindiran yang baru saja di lontarkan oleh so eun untuk dirinya.

“yaa.. siapa kau, hingga begitu berani berbicara seperti itu padaku. Kau kira kau sudah lebih baik dari padaku sehingga kau begitu berani berbicara seperti itu.” Teriak kim bum pada saudara tirinya. Kim bum merasa tidak terima dengan apa yang baru saja dikatakan oleh so eun barusan.

Sayangnya so eun sama sekali tidak peduli dengan teriakan kim bum barusan, gadis itu lebih memilih pergi menuju kamarnya bersama so hyun adiknya. Dan sama sekali tidak peduli dengan tatapan tajam yang diarahkan padanya.

“kau bahkan tidak lebih baik dariku.” Ucap kim bum sambil menahan tangan so eun yang berhasil di raihnya. So eun yang kaget langsung menatap tajam kim bum dengan pandangan tidak suka. Dan benci mungkin itulah tatapan yang lebih pantas diartikan untuk tatapan mata dari so eun dan juga kim bum.

“hei anak kecil.. cepat pergi ke kamarmu.” Bentak kim bum pada so hyun, yang tak lain adalah adik tirinya.
Dan bentakan kim bum tadi berhasil membuat so hyun adik tiri kim bum ketakutan dan mencengkram erat tangan so eun yang satunya. Yang bebas dari cengkraman tangan kim bum tentunya.

“kak so eun.. ayo kita ke kamarmu.” Panggil so hyun pada so eun, so hyun benar – benar takut. Terlebih lagi jika kim bum sampai menyakiti so eun. atau melakukan hal yang buruk pada kakak perempuannya itu.

“apa kau tuli.. aku bilang masuk ke kamarmu.” Bentak kim bum lagi, dan bentakan terakhir kim bum mampu membuat so hyun lari menuju kamarnya saking takutnya.

So eun memandang kim bum dengan tatapan marah dan penuh kebencian. Menurut so eun sikap kim bum ini benar – benar tidak bisa di terima. Bagaimana bisa kim bum membentak adik kandungnya sendiri. Walaupun so hyun dan kim bum satu ayah beda ibu tetap saja mereka sedarah dan tidak sewajarnya kim bum memperlakukan so hyun seperti itu. Apalagi mengingat usia so hyun yang masih kecil.

“lepaskan tanganku.” Gertak so eun sambil mencoba melepaskan cengkraman tangan kim bum dari tangannya.
Bukannya melepaskan cengkraman tangannya dari tangan so eun, kim bum malah terkekeh pelan. Yang terkesan mengejek so eun.

“aku bilang lepaskan tanganku. Kau menyakiti tanganku.” Bentak so eun lagi yang mulai geram dengan sikap kim bum yang terbilang aneh ini.

“apa kau bilang tadi, menyakitimu…. haah,, aku memang sengaja melakukannya, aku bahkan sangat senang ketika kau merasakan kesakitan seperti ini.” gumam kim bum sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang di nilai so eun seperti senyuman merendahkan. Ditambah lagi kini kim bum semakin mencengkram tangan so eun dengan tambah kuat.

“kau benar – benar tidak punya sopan santun, apa seperti ini caramu memperlakukan seorang gadis?”

Kim bum tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh so eun. untuk kim bum pertanyaan yang dilontarkannya tadi bukanlah sebuah pertanyaan biasa, melainkan sebuah pertanyaan besar yang seolah – olah menggambarkan bahwa kim bum ini adalah orang yang benar – benar jahat dan tak berperikemanusiaan. Jika memang benar adanya, lalu bagaimana sebutan yang pantas untuk menggambarkan kebencian kim bum pada so eun, bukan so eun lebih tepatnya ibu so eun yang saat ini menjadi ibu tiri kim bum – Kim tae hee.

“aku tidak punya sopan santun, aku tidak punya tata krama. Pertanyaan macam apa itu. Bukankah pertanyaan itu lebih tepat kau ajukan pada ibumu dan bukannya aku. Kau kira gadis sepertimu benar – benar gadis baik – baik. Benar – benar sangat menggelikan.” Cibir kim bum dengan tatapan penuh benci pada so eun.

So eun kaget dengan apa yang baru saja dia dengar, apa – apaan maksudnya. Kalau memang kim bum membenci so eun ya sudah benci saja dia. Kenapa harus berkata panjang lebar dan ngelantur kesana kemari. So eun hanya tidak ingin melihat kim bum bersikap kasar pada so hyun. Anak itu masih terlalu kecil untuk mengetahui suatu kebenaran yang sangat menyakitkan. Kim bum pikir so eun berniat meminta etika baik dari kim bum. ini benar – benar membuat so eun semakin yakin bahwa sikap kim bum memang benar – benar kekanak – kanakan.

“kau berpikir kau gadis yang paling benar, atau kau sempat berfikir bahwa kau adalah seorang anak yang sangat beruntung karena ibumu bisa menjadi nyonya rumah di rumah yang sangat besar ini. atau kau benar – benar sangat terharu dengan kegigihan ibumu yang mampu menggeser posisi nyonya besar yang sesungguhnya.” Jelas kim bum panjang lebar dengan nada yang cukup keras. Dan itu berhasil membuat so eun kesal.

“cukup… kau pikir aku senang dengan apa yang terjadi pada kita sekarang. Kau pikir hanya kau yang merasa menderita dengan keadaan ini. kau bahkan tidak tau apapun tentangku dan ibuku. Kau tidak bisa menghina ibuku seperti ini.” bentak so eun tidak kalah kerasnya. Kim bum benar – benar keterlaluan dan menurut so eun, kim bum memang tidak bisa diberitahu dengan kata – kata. Mana bisa so eun menahan emosinya, jika sudah menyangkut harga dirinya apalagi ibunya. Tidak seorangpun bisa menyakiti hati ibunya termasuk kim bum sekalipun.

“gadis murahan.. kau bahkan mirip dengan ibumu. Kalian berdua benar – benar dua wanita murahan yang sangat menjijikan.” Kata kim bum lagi sambil melepaskan cengkraman tangannya dari tangan so eun. dan tanpa di duga, sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipi mulus kim bum. bertepatan dengan kim bum melepas tangan so eun.

Sudah bisa di tebak bahwa tamparan itu di dapat kim bum dari so eun. kim bum memegang pipinya yang terasa sakit. Dilihatnya gadis yang sudah dengan beraninya menamparnya itu. Sorot mata tajam kim bum kini tepat menatap bola mata so eun. tatapan tajam dan menakutkan dari kim bum benar – benar membuat so eun sedikit menyesal karena telah melakukan hal yang tidak seharusnya dia lakukan.

Sorot mata kebencian, sorot mata penuh amarah dan dendam benar – benar kim bum berikan pada so eun atas apa yang telah so eun lakukan pada kim bum baru saja.

“kau benar – benar membuatku semakin membencimu.. terutama ibumu.” Teriak kim bum, sambil mendorong tubuh so eun dengan kasar hingga membuat tubuh so eun membentur tembok yang ada di belakangnya.

“yaa.. app…… hemmpp… lepp…. heemmmpptt. Ku bil… leppp heemmmpptt.” So eun bahkan tidak bisa berkata dengan lancar, ketika dengan tiba – tiba dan tanpa so eun sadari kim bum telah mendorongnya dan kemudian mencium bibirnya dengan paksa.

Apa yang dilakukan kim bum ini, kenapa bisa kim bum mencium so eun. apa seperti ini cara yang akan dilakukan kim bum untuk menghancurkan so eun dan ibunya.
So eun berusaha melepaskann dirinya dari ciuman brutal yang di lakukan kim bum dengan cara mendorong tubuh pria itu, bahkan so eun memukul dada kim bum sekuat tenaga so eun agar pelukan kim bum bisa terlepas dari tubuhnya. Tapi sayang tenaga kim bum bahkan lebih besar untuk ukuran wanita seperti so eun bisa lepas.

“heeemmmmmptt…. lepp.. paskan.” Gumam so eun, masih terus berusaha untuk melepaskan ciuman dari kim bum yang benar – benar menyakitinya.

Kim bum bahkan tidak ada niat sedikitpun untuk melepaskan ciumannya dari bibir so eun. kini yang di lakukan kim bum malah menggigit bibir bawah so eun, agar so eun membuka bibirnya. Dengan sangat kasar dan brutal kim bum menggigit bibir so eun dan itu menyebabkan sudut bibir so eun mengeluarkan darah.

“aarrrgggghhhh,,” erang so eun, yang merasa kesakitan dengan ulah kim bum yang menggigit bibirnya.

Mendengar erangan dari so eun, kim bum pun tersadar dengan apa yang dilakukannya. Dilepaskannya tautan bibirnya dari bibir so eun dengan kasar. Dan itu sukses membuat luka dari sudut bibir so eun semakin melebar akibat dari ulah kim bum.

“kau bahkan lebih munafik dari pada ibumu, kau bertingkah seolah – olah itu adalah hal yang baru pertama kali kau lakukan. Bahkan kau seperti menolaknya, padahal kau dan ibumu sangat mahir melakukannya kan?” sindir kim bum, sambil menghempaskan tubuh so eun dengan kasar.

So eun tidak menjawab apapun yang di ucapkan oleh kim bum, gadis itu hanya ingin menghirup udara sebanyak – banyaknya dan menjaga keseimbangan tubuhnya yang hampir saja jatuh ke lantai akibat dorongan kasar yang di lakukan oleh kim bum.

“tidak perlu menasehatiku ataupun bersikap seolah – olah kaulah yang paling benar. Karena bagiku kau bahkan jauh lebih rendah dari pada wanita – wanita murahan yang ada di luaran sana.” bentak kim bum lagi, dan kini melangkahkan kakinya pergi meninggalkan so eun yang masih diam mematung di tempatnya.

So eun hanya bisa diam ditempat, tubuhnya masih terasa kaku hanya untuk sekedar bergerak. Bagaimana tidak, apa yang baru saja dialaminya benar – benar tidak bisa di terima oleh akal sehat so eun. bagaimana bisa saudara tirinya itu melakukan hal, yang tidak pernah so eun pikirkan sebelumnya.

“apa ini, kenapa dia melakukan ini padaku.” Gumam so eun sambil menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya akibat perbuatan kim bum tadi. So eun bahkan tidak bisa merasakan perih dari lukanya itu. Yang membuat so eun terluka adalah bagaimana sikap kim bum yang memperlakukan so eun layaknya wanita pemuas nafsu. Terlebih lagi kata – kata kim bum yang benar – benar membuat so eun bahkan tidak mampu bergerak – wanita murahan, benarkah kim bum berfikir seperti itu pada so eun.



Sebuah dentuman musik menggema di seluruh penjuru tempat kim bum dan woo bin saat ini berada. Keduanya benar – benar menghabiskan waktu mereka untuk bersenang – senang malam ini. kedua pria ini sama – sama ingin melepaskan kepenatan atas apa yang dialaminya. Dan kesibukan yang dilakukan mereka seharian tadi.

Seharian tadi woo bin tengah disibukkan dengan urusan pekerjaan di kantor cabang, dari perusahaan ayahnya. banyak sekali berkas – berkas yang harus ditanda tanganinya, belum lagi rapat yang diadakannya dengan beberapa investor.

Sedangkan kim bum, pria itu juga tidak kalah menderitanya. karena harus mempelajari beberapa dokumen – dokumen penting perusahaan agar kim bum juga bisa memimpin kantor cabang yang lainya.
Ayah mereka adalah pemeilik sebuah perusahaan hotel terbesar di korea jadi tidak salah jika mereka memiliki anak perusahaan dan cabang dimana – mana. Dan tentu saja selain Kim jae wook, kim bum dan woo bin lah yang mengurus salah satu anak perusahaan itu.

“aku bahkan tidak bisa memiliki waktu untuk bersenang – senang, ayah benar – benar memasukkan kita ke dalam neraka.” Dengus woo bin, sambil meneguk minuman keras yang ada di hadapannya.

“kepalaku rasanya benar – benar ingin meledak saat ini juga.” Timpal kim bum.

Menurut orang lain mungkin kehidupan kim bum dan woo bin benar – benar sangat makmur dan layak. Walaupun pada dasarnya memang benar, tapi tetap saja mereka berdua juga bersusah payah menuruti keinginan ayah mereka.

Di tambah lagi, bagaimana keadaan keluarga mereka, kim bum dan woo bin sudah dipaksa belajar mengatur perusahaan dari mereka berdua duduk di bangku menengah pertama. Ditambah lagi, perceraian orang tua mereka yang mengakibatkan kedua kakak beradik itu harus tinggal terpisah dengan ibu kandungnya. Karena ayah mereka yang melarang keduanya untuk menemui ibunya. Yang lebih parahnya lagi ayahnya berselingkuh dengan sahabat ibu mereka. Benar – benar tidak bisa diterima oleh keduanya.

“sepertinya malam ini, aku ingin meninap di rumah ibu saja. rumah itu bahkan tidak bisa membuat aku tidur dengan nyaman.” Jelas kim bum pada kakaknya, yang tengah asyik dengan alkoholnya.

“kau pikir hanya kau yang merasakan hal seperti itu, apa kau gila. Sudah hampir satu minggu kau tidak pulang kerumah, ayah selalu menanyakanmu. Kau mau aku di pukuli ayah sampai mati karena terus – terusan berbohong padanya.” elak woo bin yang tidak setuju dengan perkataan adiknya tadi.

“yaa.. kak woo bin, kau mau aku mati karena tertekan di rumah itu. Aku bahkan tidak bisa makan dengan lahap jika melihat wanita sialan itu.” Rengek kim bum.

“kau kira aku tidak merasakan hal itu juga. Kau pikir aku baik – baik saja ketika melihat wanita itu hidup dengan enak di rumah kita. Ayolah kim bum… tidak bisakah kau membiarkan aku merasakan nyamannya tidur di tempat ibu seperti yang kau lakukan beberapa hari ini. setidaknya satu hari saja.” rengek woo bin pada kim bum.

Sebenarnya kim bum tidak ingin meninggalkan rumah ibunya, tapi apapun yang terjadi kim bum juga tidak boleh egois, woo bin juga pasti menginginkan bermalam di tempat ibunya. Lagi pula selama ini kim bum sudah terlalu banyak merepotkan kakaknya itu.

“baiklah… baiklah, aku akan pulang. Sampaikan salamku pada ibu, dan yang terpenting kau harus menjaganya malam ini.”

“kau memang adikku yang paling pintar.” Sanjung woo bin sambil merangkul adiknya itu.

“yakk.. lepaskan aku. Aku bahkan tidak suka mendengar rengekan bahkan sanjunganmu sedikitpun.. itu benar – benar terdengar menggelikan untuk pria sepertimu” goda kim bum sambil membalas pelukan dari kakaknya. Dan keduanya pun kembali meneguk alkohol yang ada dihadapannya masing – masing, hingga mabuk.

~~~

Woo bin mengendarai mobilnya, walaupun kepalanya terasa berat dan pusing tapi tidak disangka jika tubuhnya masih kuat melajukan mobilnya sampai di rumah ibunya. Dilihatnya jam tangan yang melingkar di tangannya, sudah hampir jam 11 malam dan sudah pasti ibunya itu sudah tidur.

Woo bin berkali – kali mengetuk pintu rumah So yi hyun dan tak berapa lama seorang perempuan tua yang tak lain pembantu di rumah yi hyun membukakan pintu untuk woo bin dan mempersilahkan pria muda itu untuk masuk.

“bibi.. apa ibuku sudah tidur” tanya woo bin pada wanita tua tadi.

“nyonya, belum tidur tuan muda. Dia masih ada di ruang kerjanya.” Jawabnya.

“ohh.. terimakasih, kau bisa kembali” jelas woo bin sambil beranjak menaiki tangga yang menghubungkan antara lantai satu dan dua yang ada di rumah ibunya itu. Tentu saja woo bin ingin menemui ibunya, bagaimana seorang wanita seperti ibunya bisa bekerja sampai larut malam seperti ini. tentu saja ini akan mengganggu kesehatan ibunya.

Woo bin sudah berada di depan pintu ruangan kerja ibunya, hatinya sedikit ragu untuk memasuki ruangan itu. Bukan takut, dia hanya tidak ingin mengganggu ibunya. Tapi dia juga tidak ingin jika melihat ibunya bekerja sampai selarut ini. tapi sebagai seorang anak bukankah ini suatu kewajiban untuk menegur orang tua yang bertindak berlebihan.
Diberanikannya tangannya menyentuh gagang pintu ruang kerja itu, dan di bukannya pintu itu. Dan bisa woo bin lihat bahwa saat ini ibunya tengah duduk bersandar di meja kerjanya.

“apa yang ibu lakukan sampai selarut ini? tidak bisakah kau tidur dengan nyaman saat ini.” nada khawatir tampak jelas terdengar dari nada bicara yang baru saja woo bin lontarkan pada ibunya itu.

“malam ini kau datang kesini sayang… dimana kim bum, apa malam ini dia tidak menginap disini lagi?” tanya ye jin sambil menyunggingkan senyum tipisnya pada anak sulungnya itu.
Woo bin menghampiri ye jin dan merangkul tubuh ibunya dari belakang. Rasa sedih ini menyelimuti hatinya. Harusnya saat – saat seperti ini ibunya bisa merasakan kehidupan yang sangat bahagia. Bisa melihat dan berkumpul dengan anak dan keluarganya. Tapi tidak dengan ibu woo bin. Yi hyun harus tinggal di rumah yang besar ini sendirian, tanpa anak dan suaminya.

“maafkan aku… aku bahkan tidak bisa selalu berada disisimu. Aku bahkan tidak punya keberanian sedikitpun untuk menentang kekerasan hati ayah. Maafkan aku ibu,,,” jelas woo bin sambil menangis di pundak ibunya.

Yi hyun mengerti apa yang saat ini dirasakan oleh putranya itu, woo bin pasti sedih bahkan sangat sedih. Anak pertamanya ini memang selalu terlihat tegar dari kecil, tidak pernah manja walaupun terkadang hatinya begitu dingin jika berhadapan dengan orang lain selain ibu dan adiknya. Sangat berbeda dengan kim bum yang mempunyai sifat yang keras kepala dan arogan. Kim bum memang mewarisi sifat Jae wook sedangkan Woo bin mewarisi sifat ibunya.

“aku bahkan tidak bisa membiarkan kim bum selalu berada disini menemanimu… aku hanya takut jika ayah tau kim bum sering menginap disini, dia akan memukuli kim bum. dan aku tidak ingin jika ayah menemuimu dan memarahimu lagi seperti dulu. Aku takut… sangat takut.” Tutur woo bin, dengan nada suara bergetar. Karena memang woo bin yakin bahwa ibunya itu sangat menyanyangi adiknya.

Dan dapat dirasakan oleh yi hyun bahwa putranya itu saat ini tengah menangis. Yi hyun pun tak kuasa menahan air matanya. tentu saja anaknya ini sedang melakukan yang terbaik untuk adiknya dan ibunya.

“kau benar sayang… apa yang kau lakukan ini adalah benar. Ibu bangga denganmu. Kau harus selalu kuat seperti saat ini. karena saat ini kekuatan ibu hanya ada pada kim bum dan dirimu.”

“biarkan malam ini.. aku menemanimu dan menjagamu sampai kau terlelap. Biarkan aku merasakan satu malam saja bersamamu seperti apa yang dirasakan kim bum beberapa hari ini.” mohon woo bin pada ibunya. Sambil mengeratkan pelukannya pada sang ibu. Pria dewasa seperti woo bin memang tidak seharusnya bersikap manja seperti ini, tapi mau bagaimana lagi dia terlalu sering mengalah dengan adiknya. Selama ini kim bum lah yang selalu dekat dengan ibunya. Dan woo bin hanya bisa menutupi perbuatan kim bum dari ayahnya.

“bukankah kau yang bilang sendiri bahwa kau tidak ingin melihat kim bum di pukul ayahmu karena ketahuan berada di tempat ini. lalu bagaimana bisa ibu membiarkan kau yang di pukul oleh ayahmu.” Jelas Yi hyun yang tak setuju dengan usul woo bin tadi.

“ibu baik – baik saja, jangan cemaskan ibu. Disini masih ada bibi Lee. Kau tidak perlu khawatir. Tugasmu sekarang jaga kim bum dan dirimu.” lanjut Yi hyun.

~~~

Dengan tubuh sempoyongan dan langkah yang gontai kim bum memasuki rumahnya. Tentu saja dia dengan mudah bisa masuk ke dalam rumah walaupun keadaan rumah terkunci rapat dan malam sudah larut. Karena selama ini kakaknya sudah memberikan kunci cadangan untuknya agar bisa membuka pintu sendiri ketika pulang terlambat. dan tentu saja itu tanpa sepengetahuan ayah mereka – Kim jae wook.

“cih.. rumah ini bahkan terlihat sangat menyeramkan bagiku.. rumah ini benar – benar seperti neraka.” Gumam kim bum sambil mengedarkan pandangannya kesekeliling rumahnya.

Kim bum menaiki tangga rumahnya dan hampir sampai di depan kamarnya. Dilihatnya pintu kamar sang kakak. dan dengan perasaan sedih kim bum menghampirinya, pasti saat ini kakaknya sedang tidur dengan lelapnya di tempat ibunya. Tidak seperti kim bum sekarang.

Suara langkah kaki seseorang yang terdengar dekat dari tubuh kim bum, membuat kim bum mau tidak mau melihat ke sumber suara untuk memastikan kalau langkah kaki itu bukan milik ayahnya. karena jika itu sampai benar, maka kim bum pasti akan mendapatkan rentetan pertanyaan yang menyebalkan.

Dan ketika pandangan mata kim bum beradu dengan si pemilik langkah kaki tadi, kim bum pun semakin menajamkan sorot matanya. tatapan marah dan benci itu muncul lagi ketika melihat siapa yang saat ini ada dihadapannya. Gadis itu lagi pikir kim bum.

Kim so eun gadis itu baru saja dari dapur untuk mengambil segelas air putih untuknya, gadis itu terasa haus hingga membuatnya terbangun dari tidurnya. tapi sayang dia harus bertemu dengan kim bum setelah beberapa hari ini tidak melihat saudara tirinya itu. Tentu semenjak kejadian itu.

Ada sedikit perasaan takut pada diri so eun ketika melihat sorot mata tajam kim bum saat ini. sama seperti saat itu, saat beberapa hari yang lalu kim bum melakukan suatu hal yang tidak pernah so eun bayangkan sebelumnya.
Walaupun takut tentu saja so eun harus bisa berjalan melewati kim bum agar bisa masuk ke dalam kamarnya dan terlepas dari tatapan mematikan kim bum.
Baru beberapa langkah so eun berjalan melewati kim bum, pria itu malah menahan bahunya dan tentu saja itu membuat langkah so eun terhenti.

“kau tidak mengeluarkan sindiranmu lagi padaku haahh…..” racau kim bum sambil mendekatkan tubuhnya pada so eun, dan tentu saja itu semakin membuat so eun takut. Apalagi dengan bau alkohol yang tercium dari mulut kim bum, tentu saja menurut so eun saat ini, pria yang ada di belakangnya itu tengah mabuk.
Jika dalam keadaan normal saja kim bum bisa melakukan perbuatan yang menakutkan apalagi dalam keadaan mabuk seperti sekarang. Apalagi saat ini ryu jin dan tae hee sedang tidak ada di rumah.

So eun menghempaskan tubuhnya dari pegangan tangan kim bum dan dengan cepat berjalan meninggalkan pria itu. Untuk menghindarinya, tentu saja. tapi tentu saja itu semua tidak semudah dengan apa yang ada dipikiran so eun.

“apa kau takut… kau merasa takut padaku, gadis murahan.” Ejek kim bum sambil menarik lengan so eun dan membawa gadis itu menuju ke kamarnya.

“yaa.. lepaskan aku, apalagi yang mau kau lakukan?” teriak so eun berusaha menolak tarikan tangan kim bum yang membawanya ke kamar pria itu.
Tapi tetap saja so eun kalah dengan tenaga yang dimiliki oleh kim bum. tidak mungkin so eun bisa menghindar dari kim bum sekarang karena saat ini mereka sudah berada di kamar kim bum.

“aku tebak… pasti saat ini kau sangat takut karena aku membawamu ke kamarku.” Goda kim bum sambil mendekatkan dirinya ke tubuh so eun. dan itu membuat so eun semakin gemetar dan berjalan mundur mencoba untuk menghindari kim bum. paling tidak jangan sampai kejadian tempo hari terulang lagi, atau bahkan lebih buruk dari sebelumnya.

“bukan… bukan, yang benar saat ini kau benar – benar senang kan karena aku membawamu kekamarku. Karena dengan begitu kau bisa puas menjalankan kebiasaanmu untuk menggoda para pria – pria kaya. Yaa… sama seperti ibumu…haahhhh, menarik.” Ralat kim bum dengan nada yang dibuat – buat dan penuh hinaan, seolah – olah bahwa so eun ini benar – benar gadis yang tidak benar, seperti wanita perayu. Yaa.. itulah anggapan kim bum selama ini tentang diri so eun.

“tidak bisakah kau berhenti menghinaku… apa dengan menghinaku kau benar – benar merasa puas.” Teriak so eun yang sangat marah dengan anggapan kim bum tadi tentang dirinya.

“berhenti… puas… aku tidak akan pernah berhenti ataupun merasa puas untuk menghinamu sebelum kau dan ibumu itu hancur. Kau tau itu.” Jawab kim bum yang kini benar – benar semakin mendekati tubuh so eun bahkan membuat gadis itu tersudut ke tembok dan tidak bisa kabur lagi.

“lalu apa yang mau kau lakukan? Apalagi yang mau kau lakukan padaku… ap…”
Seperti kejadian tak terduga malam itu, akhirnya apa yang ditakutkan so eun menjadi kenyataan. Kim bum melakukannya lagi, seperti saat pertama kali, kim bum melakukannya kali ini kim bum bahkan lebih kasar mencium bibir so eun dan membuat gadis itu hampir menangis karena menahan sakit akibat aksi brutal yang dilakukan kim bum.

“ber… henti. Ini… sa… hemmppptttt.” Racau so eun yang tidak bisa mengeluarkan kata – katanya dengan jelas. Jika orang tuanya itu ada di rumah pasti so eun akan berteriak sekencang – kencangnya. Tapi mau teriakpun percuma sekarang karena ibu dan ayah tirinya saat ini tidak ada di rumah. Pembantunya pasti sudah terlelap karana malam sudah larut. Apalagi so hyun, terbangun pun bocah itu tentu saja tidak akan berani melawan kim bum.

“yaakkkkk. Lepaskan kim bum.” teriak so eun sambil berusaha mendorong tubuh pria itu agar menjauh dari tubuhnya.
Tapi masih sama seperti sebelumnya, gadis itu bahkan tidak bisa bergerak sama sekali sekarang karena kim bum semakin mengeratkan pelukannya dan kini kim bum malah mendorongnya ke ranjang.

“malam ini aku akan menghancurkan hidupmu dan membuat ibumu itu malu.” Ancam kim bum sambil melepaskan jaket dan kaosnya. Yang semakin membuat so eun semakin ketakutan.

“berhenti bersikap gila kim bum… kau tidak bisa melakukannya padaku.” Teriak so eun yang benar – benar sudah ketakutan. Tapi percuma saja karena kini kim bum sudah naik keranjang dan naik ketubuh so eun. dikuncinya tubuh gadis itu dengan tubuh kim bum.

“nikmati saja permainan kasarku ini so eun.” ucap kim bum dan hendak mencium bibir so eun. tapi selalu gagal kareana so eun selalu menggerakkan kepalanya.

“jangan… kumohon jangan kim bum.” mohon so eun yang masih mencoba untuk menghindari ciuman dari saudara tirinya itu.

“yahh.. berhenti bergerak dan turuti saja keinginanku gadis murahan.” Teriak kim bum sambil mencengkram rahang so eun dan akhirnya kim bum pun berhasil mencium bibir so eun, walaupun saat ini so eun terus memberontak tapi tetap saja kim bum sedikit puas karena berhasil menyiksa so eun.

“yaa… apa yang kau lakukan bodoh…” teriak sebuah suara yang sukses menghentikan perbuatan kim bum sekarang.
Dan yang membuat kaget ketika orang itu langsung memberikan pukulan yang sangat keras pada kim bum, dan sukses membuat tubuh kim bum sedikit limbung dan bibirnya pun mengeluarkan darah akibat pukulan tiba – tiba itu.

Kim bum benar – benar kesal dengan apa yang diterimanya barusan, ditatapnya dengan tajam orang yang memukulnya tadi. Kim bum sangat kesal saat mengetahui siapa yang memukulnya, tangannya mengepal rahangnya mengeras. Kim bum benar – benar ingin membalas pukulan itu, tapi tentu saja dia tidak bisa melakukannya karena kim bum sangat menghargai orang yang telah memukulnya.

“apa yang mau kau lakukan padanya? cepat katakan.” Bentak pria yang tadi memukul kim bum, seakan – akan ingin menelan kim bum hidup – hidup saat ini.
Sepertinya pria itu sangat marah sekali dengan apa yang dia lihat. Di tatapnya tajam kim bum seakan – akan meminta penjelasan dengan apa yang akan dilakukan kim bum terhadap so eun.

“kau tuli yaa… cepat jawab aku.” Bentak pria itu lagi, yang kini melayangkan tangannya dan hendak memukul kim bum lagi. namun terhenti ketika mendengar teriakan so eun.

“cukup….” teriak so eun sambil menangis, gadis itu masih sangat terkejut dengan apa yang akan menimpa dirinya. Walaupun pada akhirnya kim bum tidak jadi melakukan perbuatan yang membahayakannya tapi tetap saja tubuhnya masih gemetar dan ketakutan.

“jika kau berusaha melakukannya lagi.. aku tidak akan segan – segan membunuhmu saat ini juga.” Ancam pria itu. Sambil menghampiri so eun yang masih tak bergeming di ranjang kim bum saking kaget dan takutnya akan sikap kim bum yang menakutkan.

~~~TBC~~~