Posts Tagged ‘Shadow’

Shadow (part 3)

Posted: 7 Februari 2016 in FF BUMSSO
Tag:

SHADOW

Segala yang ditakdirkan bersama, maka apapun yang mencegahnya, dia akan menemukan jalan untuk menyatu. Begitu pula sebaliknya, sesuatu yang tidak ditakdirkan bersama, maka apapun yang kita lakukan, dia tidak akan pernah menyatu. ~Tere Liye~

~~~

Hiruk pikuk kota Seoul kembali tak terelakkan. Lalu lintas jalan kembali memadat. Liburan panjang akhir tahun sudah selesai, semua orang-orang dewasa kembali pada rutinitas biasanya. Para pegawai kantor memeuhi halte bus menunggu kendaraan besar itu membawa mereka pada tempat tujuannya termasuk So eun. Gadis itu sabar menunggu bus dengan duduk di halte bersama dengan beberapa orang lain yang tidak dikenalnya.

Sebenarnya So eun tidak harus repot-repot menunggu bus di halte yang penuh dengan manusia-manusia ini, jika dia tidak menolak niat baik sang kakak yang menawarkan untuk mengantarnya ke kantor tempatnya bekerja.

Biarlah. Lebih baik So eun memilih pergi ke kantor naik bus dan berdesak-desakkan dengan penumpang lain, dari pada dia harus duduk berdua di mobil sang kakak dengan perasaan yang tak nyaman. Sejak saat itu, di malam pergantian tahun dia berjanji untuk menenangkan diri dan perasaan anehnya. Untuk sementara, sampai dia yakin akan keputusan yang diambilnya nanti. Untuk membawa perasaan aneh ini ke tempat yang memang benar dan mengungkapkannya kepada malaikatnya.

~~~

Bau menyengat berbagai jenis obat-obatan tercium di sana-sini. Beberapa orang berpakaian serba putih berlalu lalang. Seorang pria berkemeja merah dengan bagian lengan tergulung sampai siku berjalan menyusuri lorong demi lorong. Tak pernah melepaskan senyum tampan yang terpatri di wajahnya. Para perawat-perawat wanita yang berpapasan dengannya pun tak sungkan untuk melemparkan senyuman kepadanya. Semua wanita mengagguminya tapi pria itu hanya menganggukkan kepalanya. Memberikan rasa hormatnya kepada setiap orang yang dijumpainya. Dia tidak pernah menyombongkan apapun yang ada dirinya, pria itu sadar bahwa kesempurnaan manusia semata-mata hanya titipan dari sang pencipta.

Langkah santainya akhirnya sampai di depan pintu salah satu ruang rawat rumah sakit yang didatanginya. Tangannya terulur menyentuh gagang pintu yang masih tertutup rapat. Kembali aroma alkohol dan obat-obatan menyeruak ke dalam indera penciumnya. Pria itu membawa kembali langkah kakinya yang sempat terhenti untuk memasuki ruangan tersebut.

“Kau datang lagi!”

Pria itu tersenyum saat mendengar sapaan wanita yang sedang terbaring di satu-satunya ranjang yang ada di ruangan tersebut. “Bibi terlihat sehat hari ini.” Pria itu meletakkan setangkai bunga mawar yang di bawanya ke dalam Vas yang terletak di samping ranjang, kemudian mendudukkan tubuhnya di samping ranjang.

“Apa semuanya baik-baik saja?”

Pria itu mengangguk seraya tersenyum, seperti kebiasaannya. “Apa Bibi masih takut?” Pria itu juga bertanya dan seperti jawabannya tadi, wanita yang sedang terbaring itu juga menganggukkan kepala seperti yang dilakukan pria itu sebelumnya.

“Tak ada yang perlu kau takutkan, tenanglah Bibi.. lagipula apalagi yang kau tunggu?”

“Sudahlah.. kenapa kau malah membicarakan masalahku. Kau sendiri bagaimana, kenapa kau tidak membahas masalahmu sendiri. Hari ini kau tidak membawanya kemari! Kenapa?”

“Siapa?” Tanya pria tersebut berpura tidak tau siapa orang yang dimaksud oleh wanita di sampingnya.

“Wanita yang selalu bersamamu.. siapa lagi.”

Pria itu terdiam tidak berkata-kata lagi. Tapi senyum indahnya tak pernah tertinggal.

“Kau sudah cukup matang, untuk membina sebuah keluarga. Sudah seharusnya kau menikah. Dan melihat dari sikapnya, wanita itu sepertinya sangat menyukaimu.” Wanita itu menjeda kalimatnya. Wajah pucatnya terlihat semakin pucat. “Maaf karena aku sudah membebanimu.. maafkan aku.” Wanita itu menitikkan air matanya, seolah menyesali semua perbuatannya pada pria itu.

“Jangan begini.. kau sama sekali tidak membebaniku.. berhentilah menangis atau meminta maaf, jika tidak aku akan marah.” Pria itu berkata tegas. Tidak ada nada kemarahan dari suaranya. Hanya berusaha menegaskan pada wanita yang masih terbaring itu, bahwa dirinya memang tulus membantu wanita yang berusia sebaya dengan ibunya tersebut.

Pria itu berusaha menenangkannya. Memeluknya dengan erat, menyalurkan seluruh kekuatannya untuk wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu kandungnya sendiri itu. Pria itu selalu mengingat pesan orang tuanya, bahwa berbuat baik itu tidak memerlukan imbalan. Dan jika kita sudah melakukan kebaikan, jangan menjadikan kebaikan itu sebagai beban. Jadi mana mungkin pria itu menganggap wanita ini sebagai bebannya, terlebih wanita ini adalah… entahlah, pria itu tidak bisa mendeskripsikannya.

~~~

Liburan panjang memang menyenangkan, tapi setelahnya… oh.. tidak, bagiamanpun hari ini So eun benar-benar kelelahan. Banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikannya. Perusahaan akan menerbitkan majalah baru edisi awal tahun dan So eun harus bisa menyelesaikannya dalam waktu cepat. Pantas saja, Manajernya tempo hari memberinya waktu untuk mengambil libur panjang dan inilah salah satu alasannya.

So eun masih berkutat dengan layar komputerya, dan tidak menyadari bahwa sekarang malam sudah menjelang dan sebagian besar karyawan sudah meninggalkan kantor. Tanpa sadar So eun menguap dan seseorang menegurnya.

“Sudah malam.. seharusnya kau pulang sejak tadi!”

So eun segera menegakkan tubuhnya dan membungkukkan badannya, orang yang telah menegurnya adalah direkturnya. Anak dari pemilik perusahaan tempat So eun bekerja. “Ah.. maafkan saya Direktur… saya tidak bermaksud..”

“Pulanglah.. kau bisa melanjutkan pekerjaanmu esok hari.”

“Tapi saya belum menyelesaikannya..”

“Apa aku harus mengulangi perkataanku… cepat bereskan barang-barangmu dan aku akan mengantarkanmu pulang!”

“Tapi Direktur… anda tidak perlu…”

Belum sempat So eun menyelesaikan kalimatnya, Direkturnya sudah lebih dulu mengambil alih komputernya. Menyimpan semua file yang sedang dikerjakan So eun kemudian mematikannya. “Ayo.. tak baik menolak niat baik seseorang!”

So eun tidak membantah lagi. Satu kalimat yang baru di dengarnya itu, membuatnya tak berani membantah tawaran direkturnya. Malaikatnya pernah mengatakan hal yang sama padanya dan sekalipun So eun tidak akan pernah membantah apapun yang pernah dikatakan oleh malaikatnya itu. Dan akhirnya So eun pun menurut saat direkturnya menarik tangannya dan membawanya keluar dari gedung tempatnya bekerja.

Kembali So eun mengingat malaikatnya itu. Dimanapun dia berada dan bersama siapapun dia sekarang, tetap saja So eun tidak pernah melupakan malaikatnya itu, bahkan untuk satu baris kalimat yang pernah dikatakannya. Mungkinkah ini saatnya, untuk So eun mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya. Mengatakan kepada malikatnya. Kakak angkatnya yang mengulurkan tangan hangatnya pada So eun.

“So eun-ah!” Satu kali tak terjawab.

“Kim So eun..” dua kali dan berhasil.

“Ya.. Direktur!” Jawab So eun cepat.

“Kita sudah berada diluar kantor.. tidak perlu memanggilku Direktur atau berbicara formal padaku. Kau bisa memanggil namaku saja.. atau terserah padamu, tanpa menggunakan kata “Direktur” aku tidak suka mendengarnya, terdengar tidak enak di telinga.”

Dahi So eun mengernyit. Yang benar saja, mana mungkin So eun berani bersikap seperti itu. Tidak menggunakan bahasa formal dengan atasannya, bisa mati So eun nanti. Bagaimana jika Presedir Song tau, So eun sudah bersikap tidak sopan kepada anaknya. So eun pasti akan kehilangan pekerjaannya esok hari.

“Tak perlu berpikir sampai sejauh itu… melihat wajahmu membuatku ingin tertawa.”

“Hanya untuk di luar saja dan bukannya di kantor, Song Jae rim-shi!” So eun akhirnya mengabulkan permintaan direkturnya tersebut.

“Terdengar lebih baik.” Jae rim tersenyum mendengar kalimat So eun dan kembali fokus pada kemudi mobilnya saat ini.

~~~

Sebenarnya So eun tidak menginginkan Direkturnya ini mengantarnya sampai ke depan pintu apartemenya. Dia tidak ingin membiarkan pria ini berpikir jauh tentang So eun. Sudah lama dia tau bahwa direkturnya ini memendam perasaan suka padanya dan sekalipun So eun tidak pernah menyambut perasaannya. Dan hari ini, untuk pertama kalinya So eun menerima tawaran Jae rim yang ingin mengantarkannya pulang dan itu karena dia teringat oleh ucapan sang kakak yang sama persisnya dengan kalimat yang dikatakan oleh Jae rim hari ini.

Kurang dari tiga langkah lagi untuk So eun mencapai pintu apartemennya, pintu itu sudah lebih dulu terbuka dari dalam dan menampilkan tubuh tegap Kim bum yang menjulang menghalangi pintu dan pandangannya terarah padanya.

“Kenapa tidak bilang jika kau akan pulang malam!” Ujar Kim bum terdengar sangat khawatir.

So eun tidak menjawab. Dia masih merasa kesal pada sang kakak. Kesal tanpa alasan yang jelas, yang pasti salah satunya karena kehadiran Geun young yang selalu memonopoli Kim bum kapanpun. Jadi saat Kim bum kembali menunjukkan perhatiannya pada So eun, gadis itu terlihat tidak peduli. Karena menurut So eun, perhatian Kim bum tidak akan pernah berubah. Hanya perhatian seorang kakak kepada adiknya, tidak lebih.

Jae rim yang masih ada di samping So eun, akhirnya mengulurkan tangannya pada Kim bum, kemudian mengambil alih tugas So eun untuk menjelaskan alasan gadis itu pulang sampai malam.

“Song Jae rim.. Maaf karena terlalu malam mengantarkan So eun pulang, ada banyak pekerjaan di kantor dan membuatnya terpaksa pulang terlambat.”

So eun memperhatikan sikap Kim bum yang memandang ke arah Jae rim. Dia ingin melihat bagaimana reaksi kakaknya saat melihat dirinya pulang bersama dengan seorang pria. Apakah ada sedikit saja perasaan kesal di diri Kim bum, sama seperti rasa kesal yang pernah So eun rasakan saat melihat kebersamaan Kim bum dan teman wanitanya itu.

“Ah… Kim Sang bum. Terimakasih sudah mengantarkan adikku pulang Jae rim-shi. Bukannya tidak sopan, tapi bolehkah aku tau siapa kau?” Kim bum segera membalas uluran tangan Jae rim, menunjukkan rasa sopannya kepada pria yang datang bersama adiknya itu.

So eun tak suka melihat reaksi Kim bum yang terlalu biasa. Kakaknya itu tidak menunjukkan tanda-tanda kekesalan atau kemarahan walau hanya sedikit, benar-benar tidak ada dan itu membuat So eun ingin melakukan hal gila yang lebih jauh lagi. Dia ingin mencobanya, mencoba membakar hati sang kakak. Sekedar ingin tau, apakah Kim bum … ah, So eun tak banyak berharap apapun pada pria tak peka itu.

“Dia Direktur di kantorku dan juga teman dekatku, Oppa….!” Akhirnya So eun mengeluarkan kegilaannya. Tangannya yang sedari tadi bebas segera meraih lengan Jae rim dan merapatkan tubuhnya pada pria jangkung itu. So eun bahkan tidak peduli saat merasakan respon Jae rim. Pria itu melihatnya, So eun tau sangat jelas, bahwa saat ini selain kaget Jae rim juga sangat senang dengan apa yang sedang dilakukan So eun padanya.

Sedikit tersentak dengan jawaban So eun, Kim bum pun segera memberikan senyum lebarnya. Senyum tulus dan bersahaja. “Astaga… maafkan aku Jae rim-shi, aku tidak mengetahuinya. Masuklah sebentar, untuk meminum secangkir kopi jika kau tidak keberatan.”

Jae rim membalas senyuman Kim bum dan menganggukkan kepalanya. “Bolehkah aku tau siapa kau ini Kim Sang bum-shi?”

“Kim bum.. panggil saja aku Kim bum. Aku Oppa So eun.”

Jae rim terlihat salah tingkah, dia menggaruk tengkuk belakangnya yang mendadak terasa gatal. “Maafkan aku karena tidak mengenalmu sebelumnya, So eun tidak pernah menceritakan apapun tentangmu padaku.” Jujur Jae rim.

“Benarkah…!” Kim bum sengaja melirik So eun yang masih menempel erat di samping Jae rim. “Kau keterlaluan So eun-ah” Goda Kim bum, seperti biasa tidak menampilkan kemarahan atau kekesalan sedikitpun. Dan hal itu tentu saja membuat So eun semakin kesal. Terbuat dari apa hati pria ini sehingga tidak pernah sedikitpun terlihat marah. Dan akhirnya So eun menyerah.

“Masuklah ke dalam Kim bum Oppa.. aku ingin berbicara sebentar dengan Jae rim-shi.” Usir So eun pada sang kakak.

“Ajak Jae rim-shi masuk ke dalam So eun-ah.. tidak sopan membiarkannya di luar.” Ujar Kim bum menasehati sang adik. “Aku ke dalam dulu Jae rim-shi.” Pamit Kim bum seraya membungkukkan tubuhnya dan berbalik ke dalam apartemennya. Meninggalkan So eun dan Jae rim yang masih berada di luar.

Secepat kilat So eun melepaskan pegangan tangannya dari lengan Jae rim dan juga menjauhkan tubuhnya dari Jae rim. “Maafkan aku Jae rim-shi. Aku tidak bermaksud berlaku tidak sopan padamu. Aku hanya tidak ingin membuat Oppaku bertanya panjang lebar. Maaf jika kau merasa tidak nyaman dengan sikapku hari ini.” So eun menyesal. Menyesali perbuatanya yang salah, yang telah menggunakan direkturnya ini sebagai alat untuk membakar Kim bum. Dia tidak ingin Jae rim berpikiran jauh hanya karena So eun, telah mengenalkannya pada sang kakak, pria itu pasti merasa So eun sudah memberikan kesempatan untuk perasaannya.

“Tak apa… bukankah kau tau, aku tidak pernah keberatan dengan apapun yang kau lakukan.”

“Terimakasih Jae rim-shi, aku berhutang padamu.”

“So eun-ah… aku yakin kau tau perasaanku terhadapmu… aku sudah sering menunjukkannya padamu. AKU MENYUKAIMU SO EUN-AH…. maukah kau menjadi kekasihku!”

So eun membatu, memang benar apa yang Jae rim baru saja katakan. Pria itu memang selalu menunjukkan perhatiannya pada So eun. Selalu memberi keringanan-keringanan pada pekerjaan yang dilakukannya di kantor. Selalu menunjukan kepeduliannya pada So eun di setiap kesempatan. So eun melihatnya dengan jelas bahkan bisa merasakannya. Tapi tetap saja, So eun tidak bisa menerima perasaan Jae rim. Pria itu tidak tau, jika selama ini So eun juga melakukan hal yang sama seperti yang selalu dilakukan Jae rim padanya. So eun menyukai pria lain, walau dia tidak tau apakah pria itu juga menyukainya.

So eun bingung, tidak tau harus memberikan jawaban apa atas pengakuan Jae rim barusan, dia ingin segera mengatakan “tidak” untuk pengakuan direkturnya ini, tapi dia merasa kasihan. Bagaimana jika nanti, hal seperti ini juga akan terjadi padanya. Bagaimana jika Kim bum akan menolaknya saat So eun mengungkapkan perasaanya pada pria itu. Membayangkannya saja rasanya sangat menyakitkan, bagaimana jika So eun mengalaminya nanti. Lalu sekarang mana tega, So eun menyakiti Jae rim setelah apa yang pria ini lakukan padanya selama ini.

“Kau terlihat pucat… apa pengakuanku memberatkanmu?” Jae rim membawa So eun pada kesadarannya kembali. Pria itu tau, bahwa saat ini So eun tidak bisa menjawab pengakuannya langsung. “Aku tidak akan memintamu menjawab sekarang…. aku hanya ingin mengatakannya padamu, agar kau tidak terganggu dengan perlakuanku-perlakuanku selama ini.” Jae rim mengatakannya dengan seluruh keberaniannya.

So eun memberanikan diri untuk menatap mata kelam yang terlihat sendu itu. Walau Jae rim sedang mengumbar senyumnya saat ini, tapi So eun bisa melihatnya dengan jelas jika sekarang pria itu sedang memaksa senyum itu agar terlihat tulus. Dari perlakukan So eun selama ini, bukankah pria itu sudah tau apa jawaban yang akan diberikan So eun atas pengakuannya tadi. So eun tidak bisa menerimanya untuk saat ini atau bahkan nanti..

“Kenapa kau menyukaiku Jae rim-shi?”

“Tidak ada penjelasan untuk perasaan ini. Karena kau yang berhasil membuat jantungku berdebar setiap saat. Karena kau adalah Kim So eun, maka dari itu aku menyukaimu. Tidak ada alasan lain.”

Jangan lagi… kalimat itu mengingatkannya kembali. membuat So eun merasa bersalah pada pria ini. Tapi perasaan ini tidak bisa dipaksa, bukan Jae rim yang diinginkannya. Dan kalaupun Tuhan mempertemukan So eun dengan Jae rim, sebelum pertemuannya dengan Kim bum bukankah belum tentu juga dia akan menyukai pria ini. Tuhan pasti mempunyai cerita tersendiri untuk So eun dan Jae rim. Perasaannya sama dengan So eun, hanya dimiliki oleh satu pihak.

“Apa kau menginginkan surat pengunduran diriku ada di meja kerjamu esok pagi Jae rim-shi?” Tanya So eun dengan berani, dia hanya ingin berkata jujur pada Jae rim. So eun tidak ingin membuat pria ini terluka terlalu dalam. Dan dia juga akan menjadi orang yang kuat setelah ini. Dia tidak akan pernah takut dengan konsekuensi atas perbuatan yang pernah dilakukannya.

Jae rim tersenyum datar. Dia mengerti semuanya. Dia tau, walau So eun tidak mengatakannya. “Apa artinya aku ditolak… menyedihkan.” Ucapnya. Jae rim menghela nafas lega. Lega karena dia bisa mengungkapkan perasaannya walau akhirnya perasaanya tak tersambut. “Kau akan semakin menyakitiku, jika tidak mengijinkan mataku ini melihatmu duduk ditempatmu besok pagi. Tetaplah berada di sana dan jangan menjauhiku. Ijinkan aku untuk berusaha menghilangkan sedikit demi sedikit perasaan ini. Jangan menjauhiku hanya karena perasaanku padamu.”

“Kau akan lebih tersakiti dengan melihat keberadaanku setiap hari.” So eun mempertegas suaranya. Bukannya dia tidak punya hati. Tapi memang benar apa yang baru saja dikatakannya, karena So eun sendiri sedang mengalami. Sakit melihat orang yang kau suka selalu berada di sampingmu tanpa bisa melakukan apapun. Dekatpun rasanya terlalu jauh untuk dijangkau.

Jae rim menggeleng. “Kuharap kau masih mau bekerja di kantor besok.. maafkan aku So eun-ah, karena aku masih ingin melihatmu disana esok pagi.” Jae rim sudah memutuskannya dan dia masih sangat berharap agar So eun mau melihat perasaannya. Langkah kakinya berjalan menjauh. Pergi meninggalkan So eun dengan segala perasaannya. Tidak apa. Bukan salah So eun jika tidak membalas perasaan Jae rim. Dan bukan salah Jae rim jika mempunyai perasaan suka pada So eun. Perasaan itu datang dengan sendirinya. Tuhan yang memberikannya. Manusia tidak akan pernah bisa menolaknya.

Walau canggung dan tidak enak pada akhirnya So eun tetap bekerja di tempatnya. Jae rim tetap tidak mengijinkannya untuk mengundurkan diri. Lagi pula, perbuatan seperti itu terlalu tidak profesional.

Kantor akan mengalami kesulitan untuk merekrut seorang karyawan baru. Belum tentu editor yang baru akan bekerja lebih baik dari So eun, itulah yang dikatakan Jae rim saat dia menyerahkan surat pengunduran dirinya. Akhirnya So eun tidak bisa membantah.

So eun kembali berkutat dengan pekerjaannya. sudah saatnya jam makan siang dan So eun sudah meminta ijin pada atasannya untuk keluar sebentar. Ara mengiriminya pesan, untuk bertemu di Cafe seberang kantor. Dan disinilah sekarang So eun berada, di sebuah cafe, duduk berhadapan dengan sahabatnya.

“Kau tidak ingin bercerita padaku tentang sesuatu?” Ara bertanya dengan serius.

So eun mengerutkan dahinya. Seberapa besar kekuatan yang sahabatnya ini miliki sehingga dia tau, jika sekarang So eun sedang dalam keadaan tak baik. Oh.. Ara terlalu menakutkan pikirnya. Apa sahabatnya ini tau, jika bosnya baru saja menyatakan perasaanya pada So eun. Dia bahkan belum sempat menceritakan hal ini pada Ara, tidak mungkin sahabatnya ini akan membahas masalahnya ini.

“Apa kau punya saudara di Seoul yang sedang sakit?” Ara kembali bertanya saat So eun tidak langsung menjawab pertanyaan pertamanya.

So eun menggeleng. “Kau tau aku seorang yatim piatu. Saudara yang kupunya hanya Paman dan Bibi Kim di Busan.” Jawab So eun tenang. Jauh dari perkiraannya.

Ara menganggukkan kepalanya. “Oppamu bagiamana? Apa kau mengenal semua saudara mereka. Maksudku, apa keluarga angkatmu punya saudara di Seoul dan dia sedang sakit?” Tanya Ara lagi, kali ini lebih detail dan terkesan menuntut jawaban.

Lagi-lagi So eun menggeleng. “Setauku.. semua saudara ada di Busan. Hanya aku dan Kim bum Oppa yang ada di Seoul.” Jelasnya.

“Benarkah? Coba ingat-ingat lagi So eun-ah, siapa tau kau melupakan sesuatu.”

“Ya.. Go Ara.. sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Kau membuatku penasaran saja.” Teriak So eun.

“Tidak ada.. hanya ingin tau saja.” Ujar Ara pelan. Menyerah.

So eun mencoba memperhatikan sahabatnya. Dia tidak tau, kenapa Ara tiba-tiba menjadi seserius ini. Padahal hari-hari biasanya, sahabatnya ini selalu bersikap tenang, bahkan saat So eun menceritakan semua keluh kesahnya. Hari ini Ara terlihat sangat berbeda. Tapi biarlah, mungkin ada sesuatu dengannya. “Kau mengajakku bertemu hanya karena ingin menanyakan hal ini? itu saja?” So eun mencoba bertanya kembali.

Ara mengangguk. “Apa tidak boleh aku bertemu denganmu… jangan sok sibuk, pekerjaanmu tidak seberat pekerjaanku bukan.”

“Kau bertengkar dengan kekasihmu? Kau terlihat sensitif hari ini.”

“Tidak.. kami berdua baik-baik saja. Hanya saja ada beberapa pertanyaan yang sedang memenuhi kepalaku.”

“Kau mau berbagi denganku?” So eun menawarkan diri untuk membantu sahabatnya yang terlihat bingung.

“Tidak… kau bahkan tidak membantu sama sekali. Hubungi aku saja, jika kau mengingat sesuatu. Baiklah, aku harus menemui kekasihku sekarang.. sampai jumpa So eun-ah. Kau pasti senang karena aku mengganggu kerjamu bukan… Baiklah aku pergi..!” Ara langsung bergegas pergi meninggalkan So eun, yang terlihat bertanya-tanya. Ara bersikap aneh. Dan sahabatnya itu memang aneh. Dan seperti Ara, So eun pun meninggalkan cafe untuk kembali ke kantornya.

~~~

“Kalian berdua terlalu sering berkunjung.. aku semakin tidak enak saja.”

Sepasang manusia yang sedang berdiri bersisihan itu tersenyum lembut saat mendengar kalimat yang dilontarkan oleh wanita yang terbaring di ranjang rawat tersebut.

“Lagi-lagi kau berkata seperti itu.. aku mulai bosan mendengarnya Bi…”

Lee Na young, wanita yang sedang terbaring di ranjang rawat itu menggerakkan tangannya. Dan menggenggam tangan pria yang baru saja berbicara dengannya. Na young menarik tangan pria itu pelan, memintanya untuk menundukkan kepalanya, dengan gerakan tangannya yang terangkat ke udara. “Aku ingin berbicara dengannya.” bisik Na young tepat di depan telinga pria yang ditariknya.

Pria itu mengangguk tegas. Tak bisa menahan luapan kebahagian di dadanya yang sudah hampir meledak. Ini yang sudah lama di tunggu-tunggunya. Pria itu menggengam erat tangan lemah yang sedang mencengkram lengannya. Dia tidak tau harus berkata apa lagi, hanya rasa syukur yang bisa dia ucapkan di dalam hati untuk saat ini.

“Kim bum-ah.. bisakah aku berbicara sebentar padamu!” Panggil seorang dokter berjas putih yang baru saja memasuki ruangan Lee Na young. “Ah.. kau ada di sini juga Geun young-ah?”

Geun young segera menghampiri dokter yang baru saja datang tersebut. “Kau seperti baru pertama kali melihatku berada di sini saja, Il woo-ya.”

Jung Il woo mengangguk, dia memang sudah sering melihat Geun young berada di rumah sakit ini bersama dengan Kim bum, teman lamanya.

“Apa yang ingin kau katakan padaku Hyung?” Tanya Kim bum, tangannya masih memegang erat jemari ringkih Na young.

“Kita bicara diruanganku… ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.” Il woo berjalan mendekati ranjang Na young, mengecek tabung infus yang tergantung di tiang ranjang. “Tidak lama hanya beberapa menit saja.” Lanjut Il woo.

“Apa aku bisa ikut bersama kalian Il woo-ya?” Tanya Geun young menyela. Il woo mengangguk sebelum melangkahkan kakinya.

Kim bum menatap Na young dan meminta ijin pada wanita itu untuk mengikuti permintaan Il woo. “Kami pamit Bi… esok aku akan kembali. Dan kau harus mempersiapkan diri..”

“Terima kasih Kim bum-ah!”

Kim bum berjalan perlahan meninggalkan ranjang Na young, mengikuti langkah Il woo dan Geun young yang hampir keluar dari ruangan rawat tersebut. Dia masih tidak bisa menghilangkan rasa senang yang meluap-luap di dadanya, bahkan dia tidak peduli dengan berita apa yang akan disampaikan oleh Jung Il woo. Dia hanya ingin pulang, merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mempersiapkan hal besar yang sudah sangat lama dinanti-nantikannya.

“Oh… Kim bum-shi!”

Kim bum tersentak. Seseorang memanggilnya saat dia baru saja menutup pintu ruangan Lee Na young. Matanya sedikit melebar saat melihat jelas siapa orang yang baru saja memanggilnya.

“Kau juga ada di sini.. bersama dengan Geun Young-shi?”

Kim bum menganggukkan kepalanya dan melirik ke arah samping tempat dimana Jung Il woo berada. Pria itu juga memandangnya dengan tatapan bertanya.

“Kenapa aku tidak tau, jika kalian sudah saling mengenal!” Il woo menyerukan kebingunganya.

“Ara-shi adalah teman adikku Hyung…” Jelas Kim bum.

“Begitu rupanya… baiklah, segera saja kita ke ruanganku. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu dan juga Geun young. Bum-ah.”

Kim bum sadar Ara masih memperhatikannya. Dan dia juga mendengar apa yang baru saja diperintahkan oleh Il woo. Kim bum tidak tau ada hubungan apa antara Il woo dan juga Ara, tapi tidak ada hal buruk apapun mengenai hal itu. Hanya saja, Kim bum tidak ingin jika Ara mengatakan pada So eun tentang pertemuannya hari ini. Kim bum tidak menginginkannya. Walau dia yakin, Ara bukanlah orang yang akan dengan gampangnya mencampuri urusan orang lain, walau orang lain itu adalah sahabatnya.

“Bisakah, kau mengatakan hal penting itu lain waktu Hyung.. aku ingin berbicara dengan Ara-shi sebentar.. bolehkah aku berbicara dengannya?” Kim bum menghadap Il woo. Pria itu mengernyitkan dahinya. Melihat sikap Kim bum yang tidak biasa, baik Il woo dan Ara saling berpandangan, sedangkan Geun young hanya diam tak bicara, wanita itu tau apa yang akan Kim bum bicarakan dengan Ara, jadi dia memilih untuk tidak berkomentar apapun.

“Tapi apa yang akan kusampaikan padamu ini lebih penting, Bum-ah!”

“Hanya sebentar.. aku janji, setelah ini aku akan menemuimu. Atau kau bisa membicarakannya bersama dengan Geung young nuna terlebih dahulu.. Maafkan aku Hyung…” Kim bum berjalan pelan menghampiri Ara. “Bolehkah aku meminta waktumu Ara-shi?”

Ara memandang Il woo. Ara yakin apa yang akan dibicarakan Kim bum dengannya berhubungan dengan Kim So eun. Mana mungkin, Ara tidak memberikan waktu untuk kakak sahabatnya ini. So eun selalu menceritakan keluh kesah perasaannya, kepada Ara. Hampir setiap hari, sahabatnya itu bercerita. Tawa riang selalu menghiasi wajah cantik So eun, tak jarang tetes air mata juga membanjiri pelupuk matanya. Itu semua karena satu nama Kim Sang bum. Dan hari ini, Ara tidak akan melewatkannya. Rasa penasarannya membuncah. Dia ingin tau apa yang akan Kim bum bicarakan bersama dengannya. Dan untuk apa Kim bum berada di rumah sakit, bahkan mengenal kekasihnya dengan baik. Jung Il woo tidak pernah mengatakan apapun pada Ara, jika dia berteman baik dengan orang-orang yang berhubungan dengan So eun. Dan sekalipun Ara juga tidak pernah bertanya, karena dia memang tidak tau. Hanya satu yang diketahuinya, bahwa akhir-akhir ini Il woo memang sangat sibuk dan jarang meluangkan waktu untuknya.

“Aku juga ingin berbicara dengan Kim bum-shi Oppa.. bolehkan Oppa?” Pinta Ara pada kekasihnya, penuh harap.

“Tapi…” Bukannya Il woo keberatan kekasihnya pergi dengan Kim bum. Dia tidak memiliki perasaan cemburu sedikitpun pada sang kekasih ataupun temannya itu. Dia hanya tidak ingin membuang-buang waktu, untuk menyampaikan informasi yang didapatnya pada Kim bum. sesuatu ini sangat penting dan Kim bum harus mendengarnya secepat mngkin.

Geun young menarik tangan Il woo perlahan. “Ada aku.. kau bisa mengatakannya padaku. Biarkan mereka berdua bicara. Kim bum ingin menjelaskan sesuatu pada Ara-shi.” Geun young menengahi.

“Baiklah… pergilah. Dan setelah kau mendengarnya dari Geun young nanti, kau harus segera menemuiku secepatnya Bum-ah..” Ujar Il woo. “Aku akan ke apartemenmu nanti malam, Ara-ya.” Sambungnya pada Ara. Ara mengangguk mengerti. Il woo juga ingin tau pembicaraan apa yang akan dibicarakan Kim bum pada kekasihnya, makanya pria itu akan menemuhi sang kekasih setelahnya.

“Aku akan menemuinya terlebih dulu Kim bum-ah.” Ujar Geun young, sebelum Kim bum melangkahkan kakinya pergi.

“Ya Nuna.. terimakasih.”

~~~

Musim dingin berlalu. Tapi angin yang berhembus tetap menyejukkan, terlebih di kala sore menjelang malam. So eun duduk di salah satu kursi di dalam Bus yang akan membawanya pulang. Seharian bekerja. Selalu membuatnya mampu melupakan bayangan malaikatnya yang selalu memenui kepalanya. So eun mengukir senyum tipis. Untuk sesaat dia memejamkan matanya. Membawa imajinasinya untuk melayang-layang.

Gadis remaja itu berdiri di tengah-tengah taman kecil yang ada di halaman depan rumahnya. Musim dingin tahun ini adalah tahun ketiga setelah kepergian malaikatnya. Gadis kecil itu berdiri dikelilingi tanaman mawar yang ditanam di pot dan berjejer dengan rapi. Di buat melingkar dan tumbuh dengan tinggi-tinggi, hampir menutupi sebagian tubuh bawah gadis remaja tersebut saat dia berdiri.

Gadis remaja itu merentangkan tangannya. Menikmati setiap hembusan angin musim dingin yang menerpa tubuhnya. Syal merah itu membuatnya hangat dan tidak merasakan hawa dingin yang menusuk sampai ketulang.

Sayup-sayup dia bisa mendengar suara seseorang memanggil namanya, tidak ada yang mendengar selain dirinya. Karena suara itu berasal dari pikirannya. Dia sendiri yang menciptakan suara itu, hanya berbekal ingatan sederhananya akan suara merdu milik malaikatnya. “So eun-ah… kau terlihat cantik saat mengenakan syal merah itu.” Gadis remaja itu mengulum senyumnya. Rambutnya yang panjang dan terurai sedikit berkibar karena terpaan angin musim dingin. Gadis remaja itu merindukan malaikatnya. Tapi dia tidak bisa berbuat apapun. Selain menunggunya menjadi nyata, atau merelakan malaikat itu tetap menjadi bayangan di jiwanya.

“So eun-ah… masuklah.. jangan berlama-lama di luar. Kau bisa sakit.” Dan suara ini nyata bukan khayalan ataupun imajinya. Suara itu milik bibinya. Wanita yang sudah merawat dan memberikan kehangatan untuknya.

Gadis remaja itu memutar tubuhnya dan mendapati sang bibi sudah menunggunya di depan pintu. Dia segera berlari. Tidak ingin membiarkan sang bibi menunggunya atau membuatnya marah. Dia tidak akan pernah menyakiti hati orang-orang yang sudah berbuat baik padanya. itulah JANJINYA pada diri sendiri.

Suara derit pintu bus yang terbuka menyadarkan So eun dari imajinasinya. Membuka matanya yang entah berapa lama telah terpejam. Tanpa terasa sedikit cairan bening meleleh dari kelopak matanya. So eun segera menyekanya dan beranjak dari tempat duduknya.

Berkali-kali dia menguatkan dirinya. Menyemangati hatinya yang mulai layu. Dia harus kuat tidak boleh menyerah ataupun mengeluh. Dia sendiri yang sudah menyerukan ketekatannya.

So eun menuruni bus yang ditumpanginya. Dia harus cepat-cepat sampai di apartemennya. Dan melihat wajah malaikatnya, itu akan membuatnya sedikit lebih tenang walau juga terasa menyakitkan.

Tak butuh waktu lama untuk So eun sampai di depan pintu apartemennya. Setelah membuka kunci pintu tersebut, So eun segera melepas sepatunya dan melihat lampu sudah menyala terang. Dia masuk ke apartemennya lebih dalam.

“Kau sudah pulang So eun-ah… ayo kemarilah, aku menyiapkan makanan untukmu.”

So eun melongokkan kepalanya ke dapur kecilnya dan dia melihat Geun young tengah sibuk menyiapkan makanan di atas meja kayu panjang, yang selalu dia gunakan untuk makan. Dalam hati So eun bertanya, apa yang dilakukan wanita itu sekarang. Mengambil hati Oppanya. “Kenapa kau ada di sini Eonni?” So eun menyerukan keingintahuannya, sambil melangkahkan kakinya mendekati area dapur kemudian mendudukkan tubuh lelahnya pada kursi tinggi. Hidungnya mengirup aroma sedap yang menguar dari masakan-masakan yang dihidangkan oleh Geun young.

So eun memandang Geun young yang sedang melepas celemeknya dan ikut duduk di kursi, berhadapan dengan So eun. “Aku merindukanmu dan meminta Kim bum untuk memberitahukan sandi apartemenmu. Kau tidak keberatan kan aku ada di sini?” Ujar Geun young penuh kelembutan.

Bolehkah So eun menjawabnya dengan jujur. Bolehkan.. So eun tidak ingin berbohong, sungguh. “Aku tidak keberatan Eonni.” Dan akhirnya So eun berbohong. Dia tidak tega menyerukan apa yang dirasakannya saat ini. Dia tidak mungkin menyakiti hati orang lagi. “Dimana Kim bum Oppa?” Tanya So eun, saat melihat keadaan apartemennya yang sepi.

“Sebentar lagi dia sampai.” Geun young mengambilkan satu mangkuk sup rumput laut untuk So eun. “Makanlah..!” Pintanya.

Walau di dalam hatinya, So eun sangat membenci wanita yang sedang ada di depannya ini. Tapi So eun masih memiliki sedikit rasa kagum padanya. Berkali-kali So eun menunjukkan ketidaksukaannya pada Geun young dan berkali-kali juga So eun melihat ketulusan akan sikap baik teman wanita kakaknya itu.

“So eun-ah…. bolehkah aku menjadi kakakmu juga, seperti Kim bum?” Wanita itu berbicara dengan sangat hati-hati, seakan tidak ingin melukai So eun dengan kalimat yang dikatakannya. So eun meletakkan sendoknya dan menghentikan kegiatannya yang tengah menikmati sup rumput laut yang ada di hadapannya. Dia ingin mencerana kalimat yang baru saja dikatakan oleh wanita di depannya ini.

“Aku ingin menjadi bagian hidupmu juga.. ingin membantumu juga. Ingin berada di sisimu, menemanimu dan melakukan sesuatu bersama.” Mata bulat itu berkaca-kaca. Entah karena apa. So eun tidak tau, tapi jelas dia melihat bahwa setelah mengatakan kalimat tersebut Geun young menangis. Ada apa..? Apa wanita ini sedang bertengkar dengan kakaknya. Itu sesuatu yang bagus bukan, seharusnya sekarang So eun bisa tersenyum dengan sembunyi-sembunyi. Tapi dia tidak bisa melakukannya. Karena dia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.

“So eun-ah… Aku senang bisa bertemu denganmu. Selama ini, aku hanya bisa mengenalmu dari cerita-cerita Kim bum. Dia tidak ada henti-hentinya membanggakanmu. Dia selalu memujimu di setiap pembicaraan kita, sampai suatu ketika aku memintanya untuk mempertemukanku denganmu dan dia mengabulkannya. Dia mengijinkanku bertemu denganmu… mengijinkanku untuk membantunya, aku senang karena akhirnya apa yang dilakukannya membuahkan hasil.”

So eun tidak tau harus berkata apa. Wanita ini mengoceh panjang lebar dan So eun tidak tau kemana arah pembicaraan ini berlangsung. Bahkan saat wanita ini berdiri dari tempatnya, menghampirinya dan memeluk So eun dengan erat, dia masih tetap tidak mengerti dengan semua perlakukan baik Geun young kepadanya. “Aku tau kau adalah gadis pemberani yang sangat kuat.. Kim bum pernah mengatakannya padaku dan aku sangat mempercayainya.” Ucap Geun young, masih dengan merangkul So eun.

Suara pintu terbuka diikuti dengan suara sepatu yang berbenturan dengan lantai. So eun yakin, sekarang kakakknya baru saja memasuki apartemen kemudian menutup pintunya, melepaskan sepatunya dan mengganti dengan sandal lantai yang selalu So eun siapkan dan berjalan menghampirinya. Kembali So eun yakin, bahwa kakaknya pasti tau bahwa saat ini ada Geun young yang sedang ada bersamanya.

“Geun young Nuna..!” Telinga So eun mendengarnya. Panggilan pertama Kim bum bertepatan dengan lepasnya kedua tangan Geun young yang tadi memeluk erat So eun.

“Ya, Bum-ah.. aku ada di sini, bersama dengan So eun.” Jawab Geun young. Gadis itu tersenyum pada So eun, bersiap menyambut kedatangan Kim bum. Matanya memerah seakan baru menangis dan memang benar, Geun young baru saja menangis.

“Kau sudah pulang rupanya… bagaimana pekerjaanmu hari ini, apa sangat sulit?” Kim bum meletakkan telapak tangannya pada kepala So eun dan mengusapnya dengan lembut, layaknya seorang kakak normal yang menanyakan pekerjaan adiknya.

“Ya.. semuanya berjalan dengan baik.” Jawab So eun. Dia membalikkan badannya dan segera menghadap sang kakak. So eun ingin melihat wajah kakaknya, dan saat So eun membalikkan badannya matanya langsung menyipit ketika melihat tampilan kakaknya. Wajah itu tampak lesu, walau dipaksa untuk tersenyum. Dua kancing teratas kemeja hitamnya dibiarkan terbuka dan juga beberapa bagian kemeja bagian bawahnya tidak masuk sempurna ke dalam celana. Kim bum tampak berantakan. So eun mengalihkan perhatiannya pada Geun young yang juga terlihat aneh.. dua orang dewasa yang hari ini sama-sama bersikap aneh.

“Kau sudah bertemu dengannya?” Tanya Geun young pada Kim bum. Pria itu mengangguk lemah. “Istirahatlah… aku akan pulang sekarang.” Sambungnya.

“Biar kuantar kau pulang Nuna..” Tawar Kim bum.

“Tidak.. kau harus istirahat.. wajahmu pucat.. besok kita bertemu lagi.” Geun young mengambil tas dan mantelnya yang terletak di kursi. “Kau juga harus istirahat So eun-ah.. besok kita akan bertemu lagi.” Geun young juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Kim bum pada So eun. Wanita itu membelai lembut rambut So eun dan berjalan menjauh.

“Biar kuantar sampai depan Nuna..”

“Ya…”

So eun menatap Oppa dan teman wanitanya itu. Kim bum bahkan mengambil alih tas yang sekarang di pegang oleh Geun young. So eun terdiam. Dia ingin tau apa yang sedang terjadi pada kakaknya. Kenapa Kim bum terlihat kelelahan, So eun ingin memperhatikan sang kakak. Dia ingin melakukan apapun untuk Kim bum.. apapun. Tapi, yang terlihat oleh mata So eun sekarang, kakaknya itu tidak membutuhkannya.

So eun segera menapakkan kakinya, mempercepat langkahnya untuk menyusul sepasang manusia yang beberapa saat lalu meninggalkannya. Dia buka pintu apartemennya dan bersiap untuk keluar dan berlari, tapi kakinya membeku dan pandangannya memudar. Segaris cairan bening lolos dari mata indahnya. Mendadak kakinya lemah dan tubuhnya merosot ke lantai, sebelum dia sempat untuk berlari kencang.

So eun bisa melihatnya. Saat Geun young memeluk erat tubuh Kim bum, seakan wanita itu menjadi penyangga tubuh lemah kakaknya. Dan Kim bum juga membalasnya. Pria itu terlihat lemah. Tidak seperti biasanya. Kim bum yang selalu bersahaja mendadak musnah. Kim bum yang selalu terlihat kuat seakan berubah. Pria itu tampak kelelahan dan Geun young dengan segala kebaikan dan kelembutan hatinya dengan sigap memposisikan diri sebagai penopang Kim bum. Oh… Tuhan. Kenapa bukan So eun. Kenapa bukan So eun yang memeluk Kim bum sekarang. Kenapa bukan dirinya yang menjadi kekuatan Kim bum dan kenapa pula dia tidak mengetahui apapun tentang masalah sang kakak.

“Percayalah semuanya akan baik-baik saja.” So eun mendengarnya. Seruan kata semangat dari Geun young untuk Kim bum. So eun bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Dia berusaha untuk berdiri dan menghilangkan tubuhnya sekarang juga sebelum dua orang manusia itu menyadari keberadaannya.

So eun kembali masuk ke dalam apartemennya, saat menyadari Kim bum hendak berbalik dan kembali. Dia harus segera masuk ke dalam kamarnya, menyembunyikan dirinya di dalam kamar untuk menghilangkan rasa malunya pada sang kakak. So eun tidak berguna, sangat tidak berguna bahkan untuk malaikat penolongnya. Pantas saja orang tuanya membuangnya.

Ponsel So eun berdering dan gadis itu segera berlari ke dalam kamarnya. Mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, melihat siapa yang menghubunginya.

“Ya, Bi…!” So eun tidak perlu menunggu lama untuk berpikir. Dia tidak bisa menolak panggilan yang masuk. Setidaknya dia harus menjadi seseorang yang berguna untuk orang yang sudah berbaik hati merawatnya. “Bagiaman kabarmu Bi?” So eun menormalkan suaranya yang sedikit serak karena menahan tangis.

“Kami baik sayang.. aku dan pamanmu baik-baik saja.” Jawaban dari sang bibi membuat So eun kembali merasa bersalah. Bagaimana bisa So eun salah menggunakan kosakata dalam percakapannya bersama sang bibi. Dia melakukan kesalahan lagi. So eun melupakan pamannya.

“So eun-ah… dengarkan Bibi sayang..” Suara itu mengalun dengan sangat tenang, tidak ada nada kemarahan atas kesalahan yang telah So eun perbuat.

“Kami menyayangimu So eun-ah.. Bibi dan Paman tak akan pernah membiarkanmu sendiri. Berjanjilah untuk tetap menjadi putri kami. Berjanjilah sayang…”

So eun tak kuasa menahan air matanya. Dia tidak tau, kenapa semua orang mendadak bersikap aneh padanya. Sisi sensitifnya menerobos keluar, mengolok-oloknya bahkan mentertawakannya. “Maafkan aku.. maafkan aku Bibi..” ujar So eun lirih.

“Esok hari.. jika Oppamu membuatmu marah, Bibi mohon jangan pernah membencinya..”

So eun tidak tau harus berkata apa. Dia tidak tau dan memang tidak pernah diberitahu. Semua orang bersikap aneh dan berbicara bertele-tele, seakan menyudutkannya. Apa yang baru saja dikatakan oleh bibinya benar-benar tidak masuk akal. So eun tau bahkan dengan sangat jelas jika kedua orang tua angkatnya itu pasti sangat menyayanginya. Sudah terbukti sejak pertama kali Kim bum membawanya masuk ke dalam rumah besar itu, keluarga Kim menyambutnya dengan tangan terbuka. Merawat dan mendidik So eun sampai sebesar ini. Tentu saja So eun yakin bahwa mereka menyayanginya.

Lagi, mana mungkin So eun bisa membenci malaikatnya itu. Seberapa besarpun kesalahan yang akan dilakukan Kim bum nantinya, tentu saja hal itu tidak akan pernah sebanding dengan segala kebaikan yang pernah dilakukan Kim bum untuk dirinya. Sekalipun So eun tidak akan pernah membenci malaikatnya itu, bahkan hingga sampai saat ini. Walau So eun melihat Kim bum berpelukan dengan wanita manapun, dia tidak akan marah. Karena dia memang tidak berhak marah.

“Tidurlah yang nyenyak So eun-ah.. Kami menyayangimu.” Dan panggilan pun terputus setelahnya, tanpa sempat So eun menjawab kalimat tersebut.

Apa sekarang semua orang berusaha menyudutkannya. Apa sekarang semua orang ingin menunjukkan ketidaktahu dirian So eun. So eun segrera membanting tubuhnya ke kasur. Kepalanya pening. Dan rasa bersalah sekaligus takut bercampur menjadi satu. Akhirnya dia menangis. Menumpahkan segala emosi yang tidak diketahuinya dalam lelehan-lelehan bening yang mengucur deras.

“So eun-ah..!”

Dengan cepat So eun menghapus cairang-cairan bening yang membasahi pipinya saat mendengar panggilan kakaknya dari luar.

“Kau sudah tidur? Bolehkah aku masuk ke dalam!”

“Ya.. masuklah Oppa.”

Beberapa detik setelahnya Kim bum masuk ke dalam kamar gelap So eun. Seperti kebiasaannya, So eun memang jarang menyalakan lampu kamarnya. Tidak ada penerangan lain dalam kamar itu selain penerangan dari luar yang masuk ke dalam jendela yang terbuka.

Kim bum berjalan perlahan, tinggal sedikit dia sampai di ranjang So eun. Hembusan nafas lelahnya bisa di dengar oleh So eun. Hingga gadis itu mendudukkan tubuhnya, menunggu apalagi yang akan dilakukan Kim bum setelahnya. “Kau ingin aku menyalakan lampunya Oppa?” Tanya So eun.

“Tidak.” Jawab Kim bum cepat.

Baguslah.. So eun juga berharap Kim bum menjawab “tidak”. Karena saat ini dia sendiripun tidak ingin sang kakak melihat matanya yang memerah karena baru saja menangis. So eun masih menunggu, apa yang akan dilakukan sang kakak sampai mau mendatangi kamarnya.

“Apa Ibu baru saja menghubungimu?” Tanya Kim bum. Kakinya maju beberapa langkah ke depan dan sampai menyentuh pinggiran ranjang yang sekarang di tempati So eun.

“Ya.”

Kembali Kim bum menghela nafas. “Hari ini kau bertemu dengan Ara-shi?” Tanya Kim bum lagi.

“Ya.” Jawab So eun lagi dan setelahnya hening. Tidak ada suara. Kim bum tidak lagi bertanya, pria itu hanya naik ke ranjang dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur So eun yang nyaman dengan meletakkan satu lengannya di atas kepala sampai menutupi matanya.

“Ada apa Oppa? Kau terlihat sangat lelah?” So eun mengeluarkan keberaniannya untuk bertanya. Dia ingin tau. Sangat.

Kim bum tidak menjawab. Cukup lama suasana hening tercipta diantara Kim bum dan So eun saat ini. Kim bum belum menjawab pertanyaan So eun dan gadis itu juga tidak berniat untuk mengajukan pertanyaan lagi. Dia tau, Kim bum tidak akan menjawab pertanyaannya sebelum kakaknya itu ingin menjawabnya. Jadi So eun menunggu. Menunggu sampai Kim bum kembali membuka suaranya. So eun masih berharap bahwa sang kakak mau membagi masalah yang dihadapi, dengannya. Walau mungkin So eun tak bisa sebaik Geun young, tapi dia akan tetap membantu sang kakak.

Masih tidak ada jawaban, sampai akhirnya So eun jengah. Dia juga sama lelahnya dengan sang kakak. Lelah karena berusaha mengerti, tapi sayangnya sampai saat ini pun dia tidak mengerti apa yang sebenarnya ada di dalam hati kecil sang kakak. So eun ingin beranjak dari tempat tidurnya dan pergi keluar, tapi Kim bum tidak mengijinkannya. Pria itu menahan lengan So eun.

“Bisakah kau pergi denganku besok pagi So eun-ah? Aku akan meminta ijin pada Jae rim-shi jika memang kau mau pergi..!”

So eun melihat wajah kakaknya dengan serius. “Kemana?” Tanyanya semakin penasaran.

“Bertemu dengan seseorang!”

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Shadow (part 2)

Posted: 16 Januari 2016 in FF BUMSSO, Uncategorized
Tag:

SHADOW

Segala yang ditakdirkan bersama, maka apapun yang mencegahnya, dia akan menemukan jalan untuk menyatu. Begitu pula sebaliknya, sesuatu yang tidak ditakdirkan bersama, maka apapun yang kita lakukan, dia tidak akan pernah menyatu. ~Tere Liye~

~~~

Hujan deras mengguyur tubuh kecil So eun. Bibir mungilnya menggigil. Dia kedinginan, dan tak ada satu orangpun yang bisa dia temui di jalanan yang sepi ini. Dia tidak tau lagi harus pergi kemana, tidak mungkin dia kembali ke panti asuhan yang mengerikan itu. So eun tidak akan pernah mau terus-terusan mendapatkan siksaan dari orang-orang disana. Semua orang di tempat itu memperlakukan So eun dengan tidak baik, mereka semua monster penindas yang memperlakukan anak-anak seperti So eun sebagai robot, yang harus bisa melakukan semua pekerjaan berat.

Demi Tuhan.. So eun masih kecil dan tentu saja dia tidak akan sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan berat orang dewasa. Sungguh dia tidak pernah minta dilahirkan ke dunia ini jika akan jadi seperti ini kehidupannya. Bagaimana mungkin hingga di usianya yang ke enam tahun So eun, dia tidak mengetahui siapa wanita yang telah melahirkannya ke dunia yang kejam ini dan yang begitu tega meletakannya di pantai asuhan layaknya neraka tersebut.

So eun menangis. Kakinya pun sudah lelah karena berlari. Dia tidak tau harus kemana lagi akan pergi. Dia tidak mengenal siapapun di dunia ini, selain orang-orang di panti asuhan mengerikan itu. So eun kelelahan sampai akhirnya tubuhnya limbung dan duduk bersimpuh di atas aspal jalanan. Dia sudah tidak kuat berjalan.

Hujan deras sudah mereda dan So eun masih betah duduk di tempatnya. Dia memeluk tubuhnya yang kedinginan. Mata sayunya menangkap cahaya lampu dari sepeda yang dikendarai seseorang. Dia tidak bisa melihat wajah si pengendara tersebut, tapi So eun tau seseorang itu turun dari sepedanya, meletakkan sepedanya begitu saja ke aspal dan berlari menyongsong tubuh menggigil So eun.

“Kau tidak apa? Apa yang kau lakukan malam-malam begini? Tubuhmu basah, kau pasti kedinginan? Dimana rumahmu?”

So eun menyipitkan matanya, dia memandang wajah si pengendara tersebut. Pengendara ini seorang pria dan dari postur tubuhnya yang lebih besar dan tinggi dari So eun, pasti pria ini berusia lebih tua dari So eun. Sekitar sepuluh tahun atau kurang dari itu, entahlah yang pasti dia lebih tua dari So eun.

“Siapa namamu? Dimana rumahmu? Biar kuantarkan kau pulang!” Pria itu terlihat panik. Walau gelap tapi So eun bisa melihat pancaran matanya yang menyiratkan ketulusan saat menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang.

So eun menggeleng. “Aku tak punya rumah.” Jawab So eun, semakin erat memeluk tubuhnya sendiri, karena menahan dingin.

“Siapa namamu?”

“So eun.”

“So eun… sekarang katakan padaku, dimana kau tinggal? Biar aku bisa mengantarkan kau pulang. Orang tuamu pasti sedang mencarimu sekarang.”

“Aku tidak punya orang tua ataupun tempat tinggal. Aku dibuang, mereka tidak menginginkanku. Mereka menyiksaku. Aku tidak mau kembali ke panti asuhan itu. Aku takut mereka memukulku lagi.” So eun menangis. Dia takut pria ini akan membawanya kembali ke panti asuhan itu, sedangkan dia sudah susah payah melarikan diri dari tempat mengerikan tersebut.

Pria itu merangkum wajah So eun, menghapus air mata yang mengalir deras di wajah mungil gadis kecil tersebut. “Diamlah.. kau tak perlu menangis.” Ucapnya menenangkan.

“Jangan bawa aku kembali ke tempat menyeramkan itu… kumohon!”

Pria itu menggeleng. Melepaskan tangannya dari pipi gembul So eun dan melepaskan lilitan syal di lehernya. “Pakailah ini, agar kau tidak kedinginan.” Dengan hati-hati, pria itu memakaikan syal miliknya pada leher kecil So eun. “Jangan menangis lagi.. kau tidak perlu takut, aku tidak akan membawamu ke tempat menyeramkan itu.”

So eun memandang syal yang sekarang sudah melilit lehernya. “Merah.” Gumamnya lirih.

“Ya… merah adalah lambang keberanian. Seperti warna merah, kau juga harus menjadi seorang anak yang pemberani!” Pria itu tersenyum pada So eun. Senyum yang lembut dan menyenangkan. Dia mengulurkan tangannya pada So eun. “Ayo… ikutlah denganku!” Pintanya.

Tanpa banyak berkata ataupun sedikit penolakan dan rasa takut kepada pria yang baru saja ditemuinya ini, So eun pun langsung menyambut uluran tangan pria tersebut. Hanya mengandalkan keyakinan kanak-kanaknya dia memutuskan untuk mempercayai pria ini. Tidak peduli apakah pria ini akan menolongnya atau malah berbuat jahat padanya, tapi satu hal yang ada di pikiran So eun kecil saat ini. Pria berpakaian hitam ini bukanlah orang jahat ataupun iblis, dia yakin betul bahwa pria ini adalah malaikat yang sengaja dikirmkan Tuhan untuk menolongnya.

Pelukan itu menghangatkan, sampai kapanpun. Bagi So eun tidak ada kehangatan lainpun yang mampu menandingi hangatnya pelukan Kim bum.

Dering ponsel Kim bum membuatnya melepskan pelukannya dari tubuh sang adik. Diambilnya ponsel yang berada di dalam kantong mantelnya dan segera di terimanya panggilan yang masuk.

“Ya… dimana kau sekarang?” Tanya Kim bum pada orang di seberang sana.

So eun memandang Kim bum yang sedang menerima panggilan. Dia masih tersenyum tidak terlalu peduli dengan pembicaraan yang dilakukan kakaknya melalui ponsel. Dia lebih memilih meninggalkan kakaknya dan menuju meja kasir untuk membayar dua syal yang sudah dipilihnya.

“Berapa semuanya?” Tanya So eun pada pegawai toko. Kasir toko itu menotal belanjaan So eun dan menyebutkan nominal yang harus dibayarkannya untuk dua syal yang sudah diambilnya.

“Terimakasih atas kunjungannya!” Kasir itu membungkuk pada So eun, setelah mengucapkannya. So eun tersenyum dan membalas ucapan kasir tersebut dengan riang.

So eun membalik tubuhnya dan dia sedikit terkejut saat mendapati sahabatnya Go Ara berdiri di belakangnya. “Apa yang kau lakukan di sini? Mengagetkanku saja!” Gerutu So eun.

Ara terkikik melihat wajah So eun yang cemberut saat melihatnya. Dia tidak tau jika So eun akan berada di tempat ini, padahal yang dia pikir saat ini, So eun masih ada di tempat paman dan bibinya. “Bukankah kau di Busan?” Ara tidak menjawab pertanyaan So eun sebelumnya tapi dia melemparkan pertanyaan lagi untuk sahabatnya.

“Aku sudah kembali sejak kemarin.”

“Lalu apa yang kau lakukan di tempat ini? Sendirian? Tanpa aku? Astaga, kau menyebalkan!” (lebih…)

Shadow

Posted: 26 Desember 2015 in FF BUMSSO
Tag:

SHADOW

 

 

Segala yang ditakdirkan bersama, maka apapun yang mencegahnya, dia akan menemukan jalan untuk menyatu. Begitu pula sebaliknya, sesuatu yang tidak ditakdirkan bersama, maka apapun yang kita lakukan, dia tidak akan pernah menyatu. ~Tere Liye~

~~~

Semilir angin menembus kulitnya, kain yang melekat di tubuhnya saat ini bahkan tidak bisa melindungi tubuhnya dari dinginnya malam. Musim dingin sudah datang dan dia cukup berani tetap berdiri di posisinya, seolah menantang angin yang membawa dingin menusuk ke dalam sumsum tulang-tulangnya.

Kim So eun. Gadis itu masih betah berdiri di samping jendela kamarnya yang sengaja dibiarkan terbuka lebar. Menatap lurus pada kepekatan langit kota Seoul yang tidak di temani sang bintang. Hari masih malam, seharusnya So eun bisa kembali mengistirahatkan tubuh dan matanya, tapi sayangnya gadis itu memilih tidak melanjutkan tidurnya yang sudah terganggu.

So eun memegang dadanya. Debaran jantungnya masih terasa kencang. Dia tidak tau apa yang saat ini sedang terjadi padanya. Dia tidak tau, kenapa tiba-tiba saja pikirannya merasa kacau. Mimpi itu mengacaukan perasaannya.

“Kau baik-baik saja, Oppa?” Tanyanya lirih. So eun tau tidak ada siapapun di dalam kamarnya saat ini, selain dirinya sendiri, tapi dia ingin menyerukan pertanyaan itu kepada angin malam. Desiran angin berhembus lembut mengenai permukaan wajahnya, seolah ingin berbaik hati menyampaikan pertanyaan So eun pada seseorang yang ingin dituju gadis tersebut.

So eun mengatupkan kedua kelopak matanya. Dia ingin kembali mengingat setiap adegan yang muncul di dalam mimipinya tadi. Yang membuat dirinya masih terjaga sampai saat ini. kedua tangannya memeluk erat tubuhnya sendiri, saat So eun kembali mengingat wajah tampan yang mengunjunginya di alam mimpi. Pelukan hangat itu seakan menjadi obat penawar rindu untuk So eun. Dan ciuman itu membuat So eun ketakutan.

So eun membuka matanya. Dia harus melupakan mimpi yang dengan tiba-tiba mendatanginya sekaligus membawa pria itu ke dalamnya. So eun memang merindukannya, tapi dia tidak menyangka jika pria itu akan datang ke dalam mimpinya.

Salju memang belum turun, tapi hawa dingin di bulan Desember ini membuat semua orang yang ingin pergi ke luar rumah harus rela menggunkan mantel yang lebih tebal dari biasanya. So eun menapakan kakinya menyusuri jalanan di ramainya kota Seoul. Sambil merapatkan mantelnya dan segera mempercepat langkah kakinya. Sudah pukul lima sore dan So eun yakin sahabatnya pasti sudah menunggunya dari tadi.

Tidak butuh waktu lama untuk So eun menemukan sebuah cafe yang sudah sangat sering dikunjunginya. Dia segera mengulurkan telapak tangannya untuk membuka pintu kaca cafe tersebut. kedua pendarnya mengedar ke segala penjuru dan akhirnya senyum simpul terulas di wajah cantiknya saat mendapati sahabatnya yang tengah duduk di pojok cafe. So eun segera membawa langkahnya mendekati sahabatnya tersebut.

“Kau sudah lama menunggu?” Tanya So eun pada sahabatnya. Satu tangannya menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya di sana.

Gadis yang ditanya mengalihkan perhatiannya dari novel yang di bacanya saat ini kepada So eun yang sudah duduk manis di depannya. “Hanya tiga puluh menit, bukan masalah selama ada sebuah buku bacaan yang menemaniku.” Jawabnya santai.

So eun tersenyum lega. “Kupikir aku bisa menyelesaikannya tepat waktu…” dia menjeda kalimatnya dengan helaan nafas panjang. “Nyatanya tidak Ara-ya.” Lanjutnya dengan muka lesu.

Go Ara meletakkan bacaannya di meja, kemudian memandang lekat wajah sahabatnya. “Ada kantung mata di bawah matamu.” Ara mengarahkan telunjuknya pada mata So eun. “Cepat ceritakan padaku, apa yang terjadi padamu?” Perintah Ara.

So eun menghela nafas kembali, diiringi dengan gerakan tubuhnya yang menyandar pada sandaran kursi. “Bibi memintaku datang!” Ujar So eun tak semangat.

“Bukan hal yang buruk.” Komentar Ara, masih santai. “Lagi pula, kau juga sudah lama tidak mengunjungi mereka.

So eun terdiam. Dia memang sudah sangat lama tidak mengunjungi bibi dan pamannya, karena kesibukan pekerjaannya. So eun sendiri bahkan sudah tidak ingat kapan terakhir kali dia mengunjugi kedua orang tua itu. Ah.. So eun menyesali kesibukannya sampai tidak bisa meluangkan waktu untuk mengunjugi mereka. Dan sekarang mau tidak mau, So eun memang harus mengunjungi mereka.

“Ada sesutu yang membuatmu tidak ingin pergi So eun-ah?” Ara bertanya saat So eun terdiam cukup lama.

“Dia sudah kembali…” Gumam So eun pelan.

Kali ini Ara mengerti, kenapa sahabatnya itu memintanya bertemu di sela-sela kesibukan padatnya. So eun dilanda kebimbangan yang cukup besar. “Oppamu?” Tanya Ara memastikan dan So eun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan Ara.

“Ini bukan masalah besar So eun-ah.. kau hanya perlu mengunjugi Bibi dan Pamanmu dan bersikap biasa saja di hadapannya. Kau sudah melakukannya dengan baik selama ini. Dan tidak ada salahnya jika kau kau melakukannya lagi. Kau hanya perlu bersikap santai di hadapannya.”

Seharusnya So eun bisa melakukannya dengan baik seperti sebelum-sebelumnya. Bukankah selama sepuluh tahun ini dia bisa menyembunyikan perasaannya dengan baik. Kenapa hanya karena mimpi itu dia menjadi takut. So eun hanya perlu bersikap biasa saja, seperti sebelumnya. Dia juga harus bisa mengontrol dirinya saat bertemu dengan pria itu nanti. So eun harus bisa menekan perasaannya. Hanya itu yang perlu dilakukan oleh So eun. Tidak perlu memikirkan mimpinya. Lagi pula, sejak kapan So eun berubah menjadi penakut seperti ini.

“Apa tidak apa-apa jika aku bertemu dengannya nanti Ara-ya?” So eun masih tidak mempercayai dirinya. Dia takut tidak bisa mengendalikan dirinya saat bertemu dengan pria itu. Dia tidak ingin merusak semuanya.

“Kau tidak boleh menghindarinya Kim So eun. Dia tidak salah, perasaanmu juga tidak salah. Biarkan semuanya berjalan sewajarnya.”

“Bagaimana jika aku tidak bisa menyembunyikannya lagi?”

“Itu hal yang bagus… jika memang kau sudah tidak sanggup menyembunyikan lagi, maka keluarkan saja. kau sudah terlalu lama menyimpannya seorang diri. Dia juga berhak tau.”

“Aku takut dia membenciku.” So eun menundukkan kepalanya. Dia semakin tidak punya keberanian walau Ara sudah memberikan nasihat untuknya.

“Tenanglah.. ikuti saja kata hatimu. Hanya kau sendiri yang mampu mengendalikan dirimu.” Ujar Ara, kembali menenangkan sahabatnya.

So eun tersenyum dan mengangguk mantap. Dia beruntung mempunyai Go Ara sebagai sahabatnya. Ara selalu bisa membuat kepercayaan diri So eun bertambah dengan kalimat-kalimatnya. Pekerjaan Ara sebagai seorang psikolog membuatnya terlihat cerdas saat berbicara. Mungkin So eun memang harus menuruti saran Ara. Dia harus terlihat biasa saja. Lagi pula tidak ada siapapun yang mengetahui perasaannya selain dirinya dan Ara. Terlebih hanya So eun lah yang bisa mengendalikan dirinya, jadi semuanya bergantung pada dirinya.

Sabtu pagi So eun sudah mempersiapkan diri untuk berangkat ke Busan. Beruntung kantornya memberikannya libur panjang untuk menikmati musim liburan. Sekarang dia sudah duduk di dalam kereta, yang akan membawanya ke tempat sang Bibi. Di dalam kereta So eun hanya bisa menenangkan pikirannya. Perasaannya masih tidak karuan, dia masih belum bisa menyembunyikan kegugupan pada dirinya, terlebih jika nanti dia benar-benar bisa bertemu dengan pria itu. Pria yang beberapa hari lalu telah menghampirinya di alam mimipi.

So eun membawa ingatanya melayang, menyusuri masa lalunya. Kilas balik saat dirinya selalu bersama-sama dengan pria itu. Saat dirinya bisa dengan mudahya menumpahkan keluh kesahnya pada pria tersebut. Saat dia tidak pernah merasakan ketakutan seperti sekarang. Saat dia benar-benar bisa memiliki pria itu untuk dirinya sendiri. Tidak seperti sekarang.

“Terimakasih Oppa..” Gumam So eun dengan senyum mengembang di wajahnya. Walau sekarang So eun tidak bisa kembali pada masa-masa kecilnya bersama pria itu, tapi dia tetap bersyukur karena bayangan pria itu selama ini masih bersamanya. Masih setia di dalam hatinya. Masih menjadi miliknya, walau tak bisa tersentuh.

So eun tidak bisa membayangkan, bagaimana wajah pria itu sekarang. Apakah dia masih tetap tampan seperti terakhir kali So eun melihatnya. Apakah dia masih menyebalkan seperti saat menggodanya dulu. So eun tidak bisa menghilangkan lengkungan di bibir tipisnya saat membayangkan bagaimana wajah pria itu saat ini. Sudah delapan tahun So eun tidak bertemu dengannya, sudah pasti banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi pada pria itu. So eun semakin tidak sabar bertemu dengannya.

~~~

Menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya sampailah So eun ditempat tujuannya. Melewati gapura depan rumah paman dan bibinya, kemudian menuju halaman yang lumayan luas dengan berbagai tanaman bunga di sana-sini. So eun bisa merasakan kerinduan teramat besar pada tempat yang sudah lama tidak dikunjunginya ini.

“Akhirnya kau datang juga!”

So eun mengangkat wajahnya dan memandang lurus ke depan, di sana berdirilah sang paman yang telah menyambut kedatangannya. So eun segera berlari menghampri pamannya, melepaskan alas kakinya dengan asal dan menjatuhkan tas besarnya ke lantai papan dan langsung menghambur ke pelukan pamannya.

“Maaf, karena sudah lama tidak mengunjungimu Paman.” Ujar So eun diringi isakan kecil. Wajahnya terbenam seluruhnya pada dada pamannya. Pria berusia hampir enam puluh tahun, yang masih terlihat gagah dan sehat. Yang sudah merawatnya sejak kecil, layaknya seorang ayah.

Jae wook mengelus lembut punggung So eun. Dia sangat merindukan putri asuhnya ini. Dan akhirnya So eun mengunjunginya. “Tak perlu meminta maaf. Paman tau, kau sibuk So eun-ah.” Ujar Jae wook penuh pengertian.

“Apa hanya Pamanmu saja yang akan kau peluk sayangku?” Suara merdu itu terdengar lembut di telinga So eun. Dia tau benar siapa pemilik suara itu. Milik bibinya. So Yi hyun

Saat pamannya melepaskan pelukannya dan mempersilahkan So eun untuk berganti memeluk bibinya, dia benar-benar tidak membuang-buang kesempatannya lagi. So eun juga segera memeluk bibinya yang sudah berdiri di sampingnya saat ini. So eun rindu paman dan bibinya. Kembali lagi dia menyesal karena sudah mementingkan pekerjaannya dan tidak menyempatkan waktu luangnya untuk mengunjugi keduanya. Betapa kejamnya So eun sekarang.

“Udara di luar sangat dingin.. sebaiknya kita masuk ke dalam!” Jae wook memerintah. Baik So eun dan bibinya mengangguk membenarkan. “Biar pelayan saja yang membawa barang-barangmu ke kamar.” Lanjutnya.

So eun masuk ke dalam rumah yang pernah ditingalinya ini. Masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Semua barang-barang tersusun rapi di rumah yang cukup besar ini. beberapa figura foto tertempel di dinding. Foto paling besar di ruangan keluarga seperti mengingatkan So eun, atas perasaannya. Foto dirinya bersama dengan paman dan bibinya dan lengkap dengan pria itu, semuanya tengah tersenyum. So eun masih ingat betul kapan foto itu diambil. Ya… delapan tahun yang lalu, saat pria itu akan berangkat ke Sydney untuk melanjutkan sekolahnya. Saat terakhir kali So eun bertemu dengannya.

“Kau pasti juga merindukannya!”

So eun mengalihkan perhatiannya pada foto besar yang tertempel di dinding. Bibinya berdiri di sampingnya dengan mengumbar senyum cantiknya. So eun tidak tau harus berkata apa, tapi dia memang sangat merindukannya.

“Dia ada di kamarnya, jika kau ingin menemuinya. Masih tertidur, sepertinya.” Jelas sang Bibi. So eun menatap mata berbinar milik bibinya. Ada kelembutan yang damai, setiap kali So eun meliahatnya. “Tapi… kau terlihat lelah So eun-ah. Apa kau sakit sayang?”

So eun bisa merasakan kekhawatiran yang besar pada nada suara bibinya. Sungguh, So eun pasti akan sangat merasa bersalah jika masih menyimpan perasaannya pada pria itu. Dia tidak ingin menyakiti perasaan paman dan bibinya hanya karena perasaan yang dimilikinya. Sudah cukup kebaikan yang diberikan oleh keluarga ini untuknya, haruskah So eun mengharapkan yang lebih dari ini. Tidak… So eun tidak akan sampai hati untuk melakukannya.

“Bolehkah aku istirahat di kamar sebentar Bibi! Perjalanan tadi membuatku sedikit kelelahan.”

“Ya… Istirahatlah.. masih ada banyak waktu sampai makan malam nanti tiba.”

So eun meninggalkan bibinya dan berjalan menuju ke kamarnya di lantai dua. Dengan perlahan-lahan dia menaiki tangga. Kepalanya menunduk, pikirannya gamang. Entah kenapa ingatan akan mimpi yang mendatanginya beberapa hari yang lalu kembali muncul di benaknya. Kenapa pria itu datang ke mimpinya secara tiba-tiba. Dan kedatangan pria ini yang juga tidak pernah So eun perkirakan sebelumnya. Kenapa delapan tahun yang sebelumnya terasa lama, menjadi sangat singkat. So eun tidak ingin bertemu dengan pria itu, tapi hatinya sangat merindukannya.

“Aku tidak melihat sesuatu yang menarik di lantai yang kau injak sekarang!”

Deg.. jantung So eun serasa berhenti mendadak. Bukan hanya jantungnya tapi juga nafasnya. So eun mengenali suara berat yang sama persis dengan milik pamannya itu. Tangannya mengepal kuat, dia gugup tapi dia harus bersikap wajar dan biasa saja. Dengan takut-takut, So eun mengangkat wajahnya. Matanya bisa langsung melihat pria itu berdiri tepat di depan kamarnya yang sudah terbuka lebar.

Senyum itu.. wajah itu dan ekspresi itu sama persis dengan yang ada di dalam mimpinya. Bayangan itu terlihat nyata dan berada tepat di depannya. So eun tidak percaya jika sekarang pria itu benar-benar ada di hadapannya dengan senyum yang mengembang di wajah tampannya. Pria itu masih tampan, bahkan jauh lebih tampan dari terakhir kali So eun melihatnya. Walaupun hanya dengan pakaian rumahan biasa yang melekat di tubuhnya, pria itu masih terlihat sangat tampan dan semakin dewasa.

Pria itu mengangkat tangannya dan melambai pada So eun. “Hai.” Sapanya, dengan senyuman yang terpasang apik di wajah tampannya.

So eun tidak bisa berkata-kata. Dia tidak bisa bersikap biasa saja. Dia gugup, sangat gugup dan juga takut. Sekuat tenaga dia menahan dirinya untuk tidak menghambur pada pria yang sudah membuatnya kacau beberapa hari ini. Ingin So eun, merengkuh tubuh kokoh itu dan membenamkan wajahnya pada dada bidang di sana, tapi sekali lagi So eun mengingatkan dirinya. Pria itu hanya akan menjadi bayangan untuknya.

“Kau tidak merindukanku, So eun-ah?” Pria itu mengernyit heran, saat tidak mendapati respon antusias dari So eun ketika melihatnya.

“Aku merindukanmu Oppa.” Ya…. So eun sangat merindukan pria tersebut. Rasa rindunya sangat besar, sampai So eun ingin segera mengeluarkannya sekarang juga.

“Kau tidak ingin memelukku, seperti kau memeluk Ayah dan Ibuku?”

So eun terperanjat dengan pertanyaan pria itu. Apa mungkin pria ini memang sudah melihatnya sejak pertama kali kedatangannya. Lalu kenapa dia tidak langsung menemui So eun di bawah, menyambutnya bersama dengan kedua orang tuanya.

Pria itu mengangkat kedua tangannya dan merentangkannya lebar-lebar, siap menyambut kedatangan So eun kapan saja. tidak butuh waktu lama, untuk So eun berpikir karena setelahnya, gadis itu langsung menerjang pria tersebut.

“Aku merindukanmu Kim bum Oppa..” Ujarnya.. “Aku bahkan tidak bisa menahan kerinduanku padamu Oppa…” Imbuhnya dalam hati. So eun mendekap erat tubuh kokoh Kim bum. membenamkan wajahnya pada dada Kim bum. Menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh tegap Kim bum. So eun tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Dia sangat senang bisa melihat wajah Oppanya lagi.

Kim bum membalas pelukan kencang So eun. Pria itu senang bisa melihat lagi adik angkatnya. Perpisahan yang cukup lama. Dan akhirnya mereka bisa saling bertatap muka.

“Pelukanmu masih hangat seperti dulu Oppa.. dan perasaanku padamu juga masih sama seperti dulu. Kuharap kau tidak keberatan dengan perasaanku ini Kim bum Oppa.” Batin So eun. Dia senang. Teramat sangat senang karena bisa memeluk tubuh hangat Kim bum. So eun sudah berusaha untuk mengendalikan dirinya. Walau dia ingin mengabaikan perasaannya, tapi nyatanya dia tidak pernah bisa menghindari kakak angkatnya ini.

“Aku merindukanmu So eun-ah!” Kim bum memeluk erat tubuh So eun. Pria itu sangat merindukan adik tersayangnya. Sudah lama mereka tidak bersama dan sekarang Kim bum ingin bersama-sama lagi dengan sang adik tercinta. “Kupikir kau masih ada di sini, saat aku kembali.” Kim bum menguraikan pelukannya pada tubuh So eun.

So eun tersenyum lembut, kemudian menyadari sesuatu. Sudah cukup waktunya untuk mendapatkan pelukan dari sang kakak. So eun tidak boleh membiarkan perasaannya berjalan lebih jauh lagi. “Kupikir Oppa sudah tau, aku tidak tinggal di sini lagi.”

“Tidak ada satu orangpun yang memberitauku… termasuk kau sendiri.”

So eun tau kakaknya pasti kecewa. Selama ini dia tidak pernah bertukar pesan dengan sang kakak. Dia juga meminta pada paman dan bibinya untuk tidak memberitaukan kepindahannya ke Seoul pada Kim bum. Bukan karena So eun tidak menyayangi kakaknya, tapi dia tidak ingin Kim bum menolak keinginanannya untuk hidup mandiri. Sudah cukup lama dia bergantung pada keluarga Kim bum. Dia tau diri dan batasannya. Dia tidak ingin menyusahkan orang lain lagi. So eun sudah tumbuh menjadi manusia yang bisa berjalan dengan kakinya sendiri. Dia ingin berusaha. Menghidupi dirinya dari hasil kerja kerasnya, tidak ingin semakin membebani orang tua Kim bum, walau kedua orang tua itu sudah pasti tidak akan pernah merasa terbebani dengan keadaan selama ini.

Kim bum menjentikkan jarinya tepat di depan wajah So eun. “Ada sesuatu yang menggangguu pikiranmu?” Tanya Kim bum, seakan tau ada sesuatu yang saat ini sedang memenuhi kepala gadis di depannya.

Ya.. ada beribu banyak gangguan di dalam pikiranku… dan salah satunya adalah KAU. So eun tersenyum lembut pada sang kakak. Dia menggelengkan kepalanya. “Aku lelah…ingin istirahat.” So eun memaksakan kakinya untuk melangkah melewati Kim bum yang terlihat bingung. Sudah pasti pria itu mempunyai banyak pertanyaan akan sikap So eun yang seperti ini dan So eun tidak peduli. Dia hanya harus bersikap biasa saja pada kakaknya. Tapi sikapnya ini membuatnya tampak tidak biasa saja. So eun terlalu kuat menekan perasaannya.

So eun membuka matanya lebih lebar.. dia menutup mulutnya yang sempat menganga, ada banyak kelopak bunga mawar merah yang bertabur di atas tempat tidurnya, bukan hanya itu saja. Dia bahkan baru menyadari jika saat ini cahaya yang menerangi kamarnya bukanlah dari cahaya lampu, melainkan cahaya lilin yang tersusun rapi di meja samping tempat tidurnya dan juga meja belajarnya. Siapa yang menyiapkan ini semua dan bagaimana bisa orang itu sangat mengerti apa yang sangat dia sukai.. Tidak mungkin paman dan bibinya, mereka tidak tau bunga apa yang So eun suka dan juga mereka tidak pernah tau jika So eun sangat menyukai cahaya lilin menerangi kamarnya.

So eun tersadar dari keterpesonaan dekorasi kamarnya. Ada satu orang yang sangat tau betul apa saja kesukaannya. Dan orang itu adalah kakaknya. Jika benar, semua ini adalah hasil kerja Kim bum, bagaimana mungkin So eun bisa begitu saja melenyapkan bayangan pria itu dari hati dan juga pikirannya.

“Kupikir kau akan menyukainya….tapi sepertinya tidak…”

So eun masih terdiam di tempatnya, dia tidak bisa berkata apapun. Dia sangat menyukai dekorasi kamarnya saat ini. Sejak dulu, So eun sangat menginginkan dekorasi kamarnya seperti ini. Taburan kelopak bunga mawar merah yang memenuhi tempat tidurnya, kelambu berwarna merah muda yang menggantung di tiang penyangga ranjang dan juga nyala api kecil dari lilin di setiap sudut-sudut kamar, alunan musik klasik yang indah dan juga seorang pria yang akan selalu mendampinginya. So eun menginginkan dekorasi kamar seperti ini di saat malam pengantinnya. Dia sangat memimpikan hari itu tiba, tapi sekarang semuaya membuat So eun merasa lebih takut. Ketakutan yang tak mendasar.

So eun memutar tubuhnya, menghadap kakaknya yang sedang bersandar pada pintu kamar yang sudah tertutup rapat. “Kau yang melakukannya?” Mata So eun menyipit. Dia tidak tau apa alasan Kim bum melakukan semua ini.

Kim bum melipat tangannya di depan dada. “Kupikir kau akan senang jika aku melakukan ini!” Jawab Kim bum santai, tanpa tau bahwa perasaan So eun sedang tak karuan.

“Kenapa, kau selalu melakukan apapun yang ada di pikiranmu Oppa?… tidak semua yang kau pikirkan akan di senangi orang lain. Kau tidak tau apa yang sedang dipikirkan mereka. Apa yang kau pikirkan dan orang lain pikirkan, tidak semuanya sama. Jadi berhentilah melakukan hal-hal bodoh seperti ini.” Kim bum terdiam. So eun juga tidak tau kenapa dia bisa seberani ini menasehati sang kakak.

“Kau sudah pandai berbicara sekarang, maafkan aku! Sepertinya aku memang salah karena tidak membicarakan hal ini padamu sebelumnya.” Kim bum tersenyum tipis pada So eun. Dia tidak menyangka apa yang sudah dilakukannya mendapatkan penolakan dari sang adik, walaupun So eun tidak melakukannya secara langsung. “Aku akan meminta pelayan membereskan semuanya, agar kau bisa istirahat…” Kim bum membuka pintu kamar So eun dan membawa langkahnya pergi keluar, meninggalkan So eun yang terlihat menyesal dengan perbuatannya.

So eun tidak bermaksud menyakiti perasaan kakaknya. Dia hanya tidak ingin perasaannya semakin tumbuh. Dengan sikap Kim bum yang seperti ini, bagaimana mungkin So eun bisa menghilangkan perasaannya pada sang kakak. “Maaf Oppa…. maafkan aku!” gumamnya penuh penyesealan.

So eun menapakkan kakinya… menuju pada pembaringan yang di atasnya penuh kelopak bunga. Dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan hati-hati dan membuat beberapa kelopak bunga terjatuh ke lantai. Debaran jantungnya kembali mengencang. Kenapa harus seperti ini. Kenapa So eun tidak bisa bersikap sewajarnya pada sang kakak. Kim bum sudah berbaik hati memberikan kejutan untuknya, sedangkan dia tidak sedikitpun dia melakukan hal yang istimewa sebagai penyambutan kedatangan sang kakak. Dan sekarang So eun sudah menyakiti hati oppanya, membuat Kim bum kecewa.

So eun tidak menyukai dirinya sendiri. Dia terlalu kejam pada Kim bum. Bukan salah Kim bum, hingga So eun bisa mempunyai perasaan pada pria itu. Bukankah Kim bum juga tidak tau, apa yang saat ini sedang ada di delam benaknya. Kim bum hanya ingin menyenangkan hatinya, tidakkah So eun terlalu jahat karena telah menyakiti hati sang kakak. So eun harus meminta maaf pada kakaknya dan bagaimanapun juga pria itu tidak bersalah. Semua kekacauan hatinya adalah salahnya, tidak ada siapapun yang bersalah selain dirinya sendiri.

~~~

“Sudah lama kita tidak berkumpul seperti ini bukan?”

Jae wook membuka kesunyian di meja makan. Ini adalah pertama kalinya mereka semua makan bersama, setelah kepergian Kim bum ke Sydney. Senyum bersahaja terukir jelas di wajah Jae wook saat ini. Pria itu pasti juga sangat merindukan kehangatan yang sudah lama hilang. Hanya berdua dengan istrinya, tanpa kehadiran Kim bum dan juga So eun. Bukan hanya senyum bersahaja dari Jae wook, tapi So eun juga bisa melihat senyum kebahagian yang saat ini terpancar jelas di wajah cantik bibinya.

“Tinggalah di sini lebih lama lagi So eun-ah… bukankah kau sudah lama tidak berkumpul bersama kami.” So Yi hyun meminta dengan lembut. So eun mengangguk, sudah pasti dia tidak akan tega menolak permintaan bibinya itu.

“Tentu saja dia akan tinggal lebih lama di sini, Ibu… Jika dia keberatan, aku akan memaksanya untuk tetap tinggal.” Tegas Kim bum, dengan nada bergurau.

So eun menolehkan kepalanya ke samping kiri, ke tempat di mana Kim bum berada. Pria itu terlihat biasa saja, tidak ada gurat kemarahan di wajahnya, malahan pria itu memberikan senyuman tulusnya untuk So eun. Dia merasa lega, Kim bum tidak marah dengan sikap So eun beberapa waktu yang lalu.

“Apa kau sudah mendapatkan tempat yang cocok untukmu di Seoul nanti?” Tanya Jae wook mengarah pada putra semata wayangnya.

“Dia baru sampai… kenapa kau tega bertanya seperti itu di hadapanku.” Yi hyun merajuk.. dan di sambut dengan tawa renyah dari kedua pria yang di sayanginya itu. Sedangkan So eun, gadis itu hanya bisa kebingungan mendengar pertanyaan pamannya pada sang kakak.

“Seoul?” Gumam So eun lirih, sambil mengedarkan pandangannya pada ketiga orang di dekatnya.

“Kenapa harus susah-susah mencari tempat tinggal… bukankah ada So eun. Aku akan lebih tenang jika Kim bum tinggal di apartemen So eun. Dia bisa lebih menjaga adiknya.”

 

“Itu usul yang bagus… bagaiamana menurutmu Bum-ah?” Jae wook menatap ke arah Kim bum, menunggu jawaban dari sang putra. So eun semakin tidak mengerti kenapa pembicaraan ini semakin terdengar menakutkan untuknya.

“Bukankah lebih baik kita mendengar pendapat So eun..” Kim bum memberikan jawabannya, sepertinya dia tidak ingin mengambil keputusan yang salah dan membuat adiknya itu memarahinya seperti tadi.

“Apa yang Paman dan Bibi bicarakan? Apa Oppa akan pindah ke Seoul? Untuk apa?”

Kebingungan So eun terjawab.. Yi hyun mengangguk mantap. Kim bum memang akan pergi ke Seoul. “Ada pekerjaan yang akan dia lakukan di sana!” Yi hyun menjelaskan.

So eun terpana. Dia jelas tidak bisa menolak kehadiran Kim bum. Orang tua Kim bum sudah berbaik hati memberinya tempat tinggal dan pendidikan yang layak untuknya, bagaimana bisa So eun akan menolak putranya.

~~~~

So eun menekuk lututnya. Musim dingin di bulan Desember semakin menggila. Beberapa hari lagi hujan salju pasti akan datang. So eun menatap kobaran api di dalam tungku pembakaran yang ada di dalam rumah. Kobaran api itu menghangatkannya. Seseorang berjalan mendekatinya, So eun tidak menggerakkan tubuhnya hanya untuk melihat siapa orang yang sedang menghampirinya dan telah menyampirkan selimut tebal pada bahunya. Dia sudah tau siapa yang saat ini ikut bergabung bersamanya.

“Kau tak perlu khawatir dengan usulan Ibu… aku sudah meminta bantuan teman untuk mencarikan tempat tinggal di Seoul nanti.”

Sungguh. So eun merasa dirinya sekarang amat sangat jahat saat mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh kakaknya. Dia tidak keberatan jika Kim bum akan tinggal bersamanya. Di apartemennya yang cukup besar untuk ditinggali dua orang. So eun tidak keberatan akan hal itu, tapi perasaannya saat inilah yang memberatkan semuanya.

Kim bum menggeser tubuhnya dan lebih mendekat pada So eun. Dia merapatkan selimut tebal yang sekarang menyelimutinya. “Kau tumbuh sangat cepat So eun-ah… delapan tahun tidak bertemu, aku tidak pernah menyangka kau akan tumbuh menjadi seorang gadis yang luar biasa.”

So eun merasa tersanjung dengan kalimat pujian yang diucapkan oleh kakaknya tersebut. Sebenarnya So eun sendiripun juga ingin memuji sang kakak. Delapan tahun tidak bertemu, Kim bum juga berubah menjadi pria yang lebih bijaksana. Ketegasannya selalu terlihat di setiap perkataannya. Pesonannya pun tidak pernah berkurang, justru kian bertambah. Sudah tidak ada lagi Kim bum yang suka menggodanya, kakaknya ini sekarang berubah menjadi pria dewasa yang bersahaja dan menyenangkan.

“Aku merindukanmu… delapan tahun tak bertemu, aku selalu memikirkanmu. Ibu tidak pernah mengatakan tentang kepergianmu di setiap panggilanku. Setiap aku menanyakan keberadaanmu, Ibu dan Ayah selalu mempunyai alasan-alasan yang pintar untuk mengelabuhiku…. dan aku yakin itu semua mereka lakukan karena permintaanmu.” Kim bum tersenyum saat mengatakannya. Tidak ada gurat kekecewaan di wajahnya, yang ada hanya senyum simpul yang tulus dan penuh pengertian. Dia seolah tau, jika So eun punya alasan yang mendasar kenapa sampai tega membohonginya. “Kau pasti sangat sibuk dengan kuliah dan pekerjaanmu…” Lanjutnya, tanpa menghilangkan senyum tulus di wajah tampannya.

“Kau tidak marah padaku Oppa?” Tanya So eun penasaran. Bagaimana mungkin Kim bum tidak menunjukkan kemarahan apapun pada ketidaktaudirian So eun, terlebih saat dia menunjukkan ketidak sukaannya akan usul bibinya di meja makan tadi. Kim bum pasti marah. Pria itu pasti menyembunyikan kemarahannya. Sayangnya semua pikiran So eun sekarang tidak terbukti. Tidak ada tanda-tanda kemarahan pada sikap Kim bum saat ini.

Kim bum terkekeh pelan. “Berapa usiamu sekarang So eun-ah?” Akhirnya pria itu menatap So eun saat bertanya. Mengalihkan ketertarikannya pada kobaran api kecil di tungku pembakaran pada sang adik yang menatap kearahnya.

“23 Oppa…” Jawab So eun. Ada perasaan kecewa saat Kim bum menanyakan usianya saat ini. Dia merasa terlupakan. Kim bum bahkan tidak menghitung berapa usianya saat ini dan semua ini salahnya. Siapa suruh So eun tidak pernah lagi membalas email yang dikirimkan Kim bum padanya. Dan siapa suruh dia tidak pernah menghubungi Kim bum setiap kali kesempatan. So eun memang manusia tidak tau diri. Dan itu semua karena rasa bersalahnya pada perasaan aneh yang menggelayuti hatinya.

“Aku tidak bermaksud melupakan usiamu So eun-ah.. Aku bertanya karena ingin memastikannya saja. Kau memang sudah dewasa sekarang. Dan mungkin semua hal-hal yang kau sukai di masa kanak-kanak dulupun sudah berubah. Aku tidak bermaksud membuatmu marah atas kejutan yang kuberikan tadi…” Kim bum membahas kemarahan So eun tadi, walau sebenarnya dia sangat mengerti jika adiknya itu tidak benar-benar marah atas perbuatannya. “Aku sedih kau tidak pernah menghubungiku lagi. Tidak pernah membalas pesan-pesanku lagi. Aku takut kau melupakanku dan sangat takut saat aku tak melihatmu di rumah ini.”

So eun meneguk ludah. Kenapa dadanya terasa tertusuk dan sakit luar biasa saat mendengar kalimat-kalimat yang dikelurkan oleh Kim bum kepadanya. Kim bum merindukannya. Kakaknya takut dia melupakannya, padahal satu detikpun So eun tidak pernah bisa melupakan bayangan Kim bum di dalam benaknya. So eun tidak akan pernah mungkin bisa melupakan Kim bum. Walau sekarang So eun terlalu jahat karena selalu mengabaiakan pesan-pesan dari sang kakak. Karena bagi So eun itu adalah sebuah jalan keluar yang terbaik untuk menghilangkan perasaan aneh yang membelunggu jiwanya.

So eun merangsek maju, tangannya menghempaskan selimut yang tadi dipasangkan Kim bum padanya. Melingkarkan kedua tangannya untuk memeluk pinggang Kim bum. So eun tidak mau mengabaikan Kim bum lagi. Dia sudah cukup bersalah karena mengabaikan Kim bum selama delapan tahun ini. Dia ingin kembali menjadi adik yang baik untuk Kim bum dan berharap bisa mendapatkan satu kesempatan yang lebih dari itu. “Maafkan aku Oppa..! Aku tidak bermaksud melupakanmu. Aku juga merindukanmu. Aku menyukai kejutan yang kau berikan. Apapun itu…” So eun mengatakannya.. menumpahkan segala kerinduannya. Ingin rasanya dia menebus perasaan bersalahnya dan tentu saja, semuanya akan So eun lakukan dangan setulus hati tanpa meminta imbalan atau balasan atas perasaan anehnya.

Kim bum membalas pelukan So eun. Satu telapak tangannya mengelus rambut terurai milik So eun. Kim bum menghela nafas lega, karena So eun memang tidak benar-benar marah padanya. Adiknya ini memang sudah tumbuh menjadi seorang gadis dan bukannya kanak-kanak lagi. Seharusnya Kim bum tau itu, termasuk alasan kenapa So eun tidak pernah membalas pesan-pesannya selama ini. So eun sibuk dengan pendidikan dan pekerjaannya. Kim bum akan memahaminya. Bagaimanapun kondisi adik kesayangannya itu.

“Aku tidak keberatan tinggal bersamamu Oppa… Apartemen itu juga milikmu.. tentu kau bebas tinggal di sana semaumu.” So eun mengucapkannya dengan mantap, dia bahkan tidak sempat membayangkan apa yang akan terjadi pada hari-hari selanjutnya.

Dia tentu sangat menyadari bahwa paman dan bibinya ikut andil dalam pembelian apartemennya di Seoul. Walau sebagian besar adalah uangnya sendiri. Tapi apalah arti uang So eun jika dibandingkan dengan kebaikan keluarga Kim bum yang sudah berbaik hati mau merawat dan membesarkannya sejauh ini.

Kim bum mengangguk. “Terimakasih sudah mengijinkanku tinggal bersamamu So eun-ah!” Tangan besarnya merengkuh So eun, membimbingnya ke dalam pelukannya. Membagi kehangatan yang dimilikinya pada So eun.

So eun mengumbar senyum cerianya pada Kim bum, masih mendekap erat tubuh kokoh sang kakak. Akhirnya dia bisa merasakan kembali kehangatan yang sudah sangat lama dirindukannya, membirkan perasaan anehnya tetap bersamayam di hatinya. Biarkan saja, So eun ingin tetap memiliki perasaan aneh tersebut. Bukankah hanya So eun yang mengetahui isi hatinya. Dan selama apa yang dilakukannya masih dalam batas wajar, kenapa So eun harus menahannya. Dia hanya ingin merengkuh kakaknya. Merengkuh bayangan yang sudah sangat lama dirindunya.

Malam ini So eun merasa dirinya merasa seperti hidup kembali. Di balik bayang-bayang ketakutan akan perasaan aneh yang menghantuinya, dia tetap merasa senang karena bisa memeluk Kim bum untuk dirinya. Berbagi kehangatan dalam selimut tebal bersama dan memandang kobaran api di dalam tungku pembakaran. Malam ini So eun tidak ingin melepaskan pelukannya dari tubuh Kim bum walau hanya sedetik. Dia ingin menceritakan semua yang dilakukannya selama delapan tahun yang berlalu tanpa Kim bum. Semuanya. Bagaimana dia merasa sedih dan bersalah karena mengacuhkan pesan-pesan dari kakaknya itu. So eun akan menceritakan apapun yang ditanyakan oleh Kim bum. Tentu saja tidak termasuk perasaan aneh yang menggelayutinya, dan mimpi beberapa hari yang lalu yang sudah menakutinya.

Setelah delapan tahun berlalu berpisah dan dua tahun tanpa komunikasi apapun akhirnya So eun bisa bersama dengannya kembali. Berada di satu atap yang sama. Mendengar suara teduhnya, melihat senyuman tulusnya dan merasakan hembusan nafasnya – lagi. Setelah delapan tahun berlalu dalam pelarian, akhirnya So eun tidak bisa menghindar lagi. Dia kembali dan memang sudah seharusnya kembali, bukan hanya untuk keluarganya ataupun So eun seorang, tapi juga untuk hal lain yang So eun tidak pernah ketahui.

“Kau tinggal di tempat sebesar ini seorang diri?” Itu kalimat pertama yang keluar dari mulut Kim bum saat langkah kakinya menjejak masuk ke apartemen So eun untuk pertama kalinya.

So eun meletakkan tas jinjing miliknya ke sofa ruang tamu dan segera beranjak ke kamar kosong yang memang sengaja disiapkan untuk paman atau bibinya yang sesekali mengunjunginya dan menginap. “Bibi yang memilih tempatnya dan aku tidak bisa membantah.” Tangan So eun mendorong pelan pintu kamar bercat putih tersebut. “Kau bisa menggunakan kamar ini Oppa!”

Kim bum melangkahkan kakinya, menuju kamar yang ditunjukkan So eun padanya. “Kau benar-benar tidak apa, jika aku tinggal di sini?” Kim bum bertanya. Dia masih belum yakin So eun benar-benar mengijinkannya untuk tinggal, sedangkan dia sempat melihat gurat ketidak sukaan di wajah So eun, saat ibunya mengusulkan hal ini. Kim bum tidak ingin mengganggu sang adik, apalagi So eun sudah menjadi seorang gadis. Dia pasti tidak akan nyaman jika hanya tinggal berdua dengannya. Kim bum mengerti dan jika So eun keberatan dia pasti akan segera pergi setelah mendapatkan tempat tinggal yang cocok untuknya.

“Tak apa… Tempat ini milik Oppa juga, tak perlu sungkan. Paman dan Bibi sudah banyak membantu, termasuk Oppa. Biarkan aku membalasnya sekarang walau hanya dengan membuatkanmu secangkir kopi di pagi hari.”

Kim bum tertawa ringan, telapak tangan mengusap lembut puncak kepala So eun. Dia tidak menyangka So eun sudah berubah menjadi gadis yang dewasa, tidak lagi cengeng seperti saat dia meninggalkannya. “Kau sudah berubah.. semakin dewasa. Terimakasih, karena sudah tumbuh secepat ini So eun-ah.. Oppa bangga padamu!”

So eun tersentuh.. entah sudah keberapa kalinya Kim bum memujinya. So eun menyukainya. Dia menyukai setiap pujian Kim bum yang terlontar untuknya. Rasa kagum So eun menggila. Dia tidak bisa menghentikan debaran jantungnya. Pujian Kim bum selalu membuatnya melayang. Kim bum sudah pandai memuji seiring bertambahnya usia, So eun sendiri tidak menyangka jika kakaknya ini akan menjadi pribadi yang lebih hangat. Tak lagi suka mengolok, tak lagi suka mentertawakan ataupun menggoda. Kim bum lebih sering tersenyum dan memujinya. Sydney membuatnya berubah. Membuat pria ini juga menjadi lebih ramah dan penyabar. Dan lihatlah betapa dewasa Kim bum sekarang. So eun semakin mendambanya.

“Tak perlu khawatir apapun tentangku.. lakukan semua pekerjaanmu seperti biasa, tak perlu mengurusiku, aku bisa melakukannya sendiri…. dan kau tak perlu sungkan bicara, jika memang tidak merasa nyaman dengan keberadaanku.”

“Aku tidak keberatan.. sungguh.. berhenti, mengatakan hal-hal yang akan membuatku marah lagi Oppa! Aku tidak suka kau mengatakannya.”

Kim bum mengangguk.. dia menyetujui perintah So eun. Jika memang adiknya ini tidak keberatan akan kehadiranya, dia akan jauh lebih baik. Kim bum ingin menemani So eun dan menjaganya. Seperti dulu lagi. Dia sudah lama merindukan kebersamaannya bersama sang adik. Walau sekarang Kim bum merasa yakin, kalau dirinya tak perlu melakukannya lagi. So eun pasti sudah mempunya pelindungnya sendiri. Tidak akan membutuhkan penjagaan Kim bum seperti dulu. Kim bum sudah bisa memastikannya. Selama ini So eun baik-baik saja tanpa dirinya dan hal itu membuatnya bisa bernafas lega. Sekarang dia hanya perlu memastikan bahwa adiknya memang benar-benar bisa membawa dirinya sendiri, tanpa bantuannya lagi.

“Ya… kalimatmu, membuatku merasa lebih baik.. aku tidak ingin kau mengabaikanku So eun-ah.” Kim bum berjalan memasuki kamarnya. Mengangkat kopernya ke atas tempat tidur dan membukanya. Mengeluarkan pakaiannya untuk dirapikan.

So eun terdiam. Apa dia memang sudah sangat keterlaluan karena telah mengabaikan Kim bum selama ini. Apa jalan yang dipilihnya ini memang salah. Dia tidak tau, So eun benar-benar tidak tau, atas apa yang harus dilakukannya saat ini. Bagaimana caranya dia membawa perasaan anehnya dan kemana So eun harus membawanya saat ini. So eun tidak tau.

“Kemarilah…” Kim bum melambaikan tangannya pada So eun, agar gadis itu mendekat padanya.

So eun berjalan mendekat. “Oppa ingin aku membantu?”

Kim bum tersenyum manis, seperti biasanya. “Jika kau tidak keberatan.” Ucapnya.

Semua pakaian yang dibawa Kim bum sudah tersusun di lemari. So eun menghela nafas lega. Tidak butuh waktu lama membereskannya. Kim bum tidak membawa banyak pakaian dan hal itu menguntungkannya. Keduanya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Memandang langit-langit kamar bercat putih. Berdua. Bersama kembali.

“Pekerjaan apa yang kau kerjakan sekarang?” Kim bum membuka obrolan.

“Hanya menjadi seorang editor di sebuah perusahaan majalah.. tapi cukup menyita waktu.”

“Jadi itu yang membuatmu tidak pernah membalas semua pesanku dan juga tidak menghubungiku dua tahun terakhir?”

Bukan.. itulah yang ingin diucapkan So eun saat ini. “Ya.. Karena pekerjaan itulah yang membuatku mengabaikanmu Oppa.. maafkan aku.” So eun berbohong. Tapi dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.

“Seharusnya kau tak perlu bekerja.. tak perlu pergi ke sini. Bukankah hidup bersama dengan ayah dan ibu akan lebih baik untukmu. Bukankah aku sudah pernah berkata padamu, jika aku akan selalu menuruti apapun yang kau mau… Aku mempunyai pekerjaan yang bagus untuk membiaya hidupmu sampai kau menikah nanti… dan pabrik ayah juga masih berjalan sampai sekarang.. apa lagi yang kau inginkan?”

So eun menatap mata kelam Kim bum yang memandangnya. Dia tau apa yang dikatakan Kim bum padanya adalah sebuah kebenaran. Dulu pamannya juga melarangnya pergi ke Seoul, terlebih saat So eun memutuskan untuk bekerja di sini dan bukannya membantu sang paman di pabrik. Tapi So eun sudah terlanjur malu. Malu karena sudah menghianati kebaikan mereka. “Aku ingin mandiri. Tidak ingin menyusahkan kalian lagi.”

“Tidak ada kata menyusahkan, diantara keluarga. Kenapa kau berpikir seperti itu. Aku kakakmu. Orang tuaku adalah orang tuamu juga.” Kim bum mengatakannya dengan tegas. Memaksa So eun untuk kembali menjadi adiknya yang dulu dan So eun sudah terlanjur berjalan jauh dengan perasaan anehnya. Mana mungkin dia bisa kembali lagi.

“Saudara…” So eun menggumam. Dia takut meyakini arti kalimat itu, terlebih saat Kim bum yang mengatakannya.

“Ya.. kau saudaraku. Aku kakakmu dan kau adikku.” Kim bum mempertegasnya. Tanpa mengetahui bagaimana kekacauan pikiran So eun saat ini.

So eun beranjak bangun, dia tidak ingin meneruskan perbincangan menakutkan ini. Dia ingin pergi ke kamarnya dan meledakkan semua ketakutannya. Sayangnya Kim bum tidak membiarkannya pergi begitu saja. “Apa yang terjadi? Kau berubah, tak seperti Kim So eun yang dulu. Yang selalu manja padaku. Yang selalu merajuk minta ini dan itu. Apa aku melakukan kesalahan padamu?” Pertanyaan Kim bum menuntut.

So eun melihat gurat kesedihan di wajah Kim bum dan dia tidak tau kenapa kakaknya bersedih. Walau seharusnya dia tau, penyebabnya adalah dirinya. Sayangnya So eun tidak akan mau mengakuinya. Dia tidak mau terlalu percaya diri. “Aku sudah besar.. tidak harus merajuk lagi pada Oppa. Mengertilah Oppa!” So eun mengatakannya dengan lembut namun tegas. Dia ingin memberikan penjelasan atas kalimat tuntutan dari kakaknya. So eun tidak ingin Kim bum mengetahui kebenaran perasaannya. Dia menyayangi Kim bum, tapi bukan seperti rasa sayang dimiliki kakaknya itu. Rasa sayang So eun berbeda.

“Kau membenciku?” Mata Kim bum berbinar saat dia bertanya. Dia tidak menyangka adik kecilnya sudah tidak ingin bermanja-manja dengannya.

“Aku sudah dewasa… bukankah Oppa juga mengatakannya.”

“Tapi kau tetap adikku kecilku…” Kim bum memaksa dan So eun terluka karenanya.

“Ya… kau benar.. aku adikmu.” Akhirnya So eun mengalah. Dia tidak ingin berdebat. Kim bum akan selalu memenangkan perdebatan diantara mereka, karena selama ini So eun memang tidak akan pernah membantah apapun yang dikatakan sang kakak.

Pagi selanjutnya.. So eun menepati janjinya. Dia sudah lebih dulu membersihkan diri. Tubuhnya masih berkutat di dapur, sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk kakak tersayangnya. Dua cangkir kopi hangat sudah siap terhidang di meja, begitu pula dengan beberapa potong sandwich yang bisa mengganjal perut di pagi hari.

“Kita berdamai?”

So eun terkikik mendengar pertanyaan sang kakak, yang saat ini sudah duduk manis di depan meja kayu panjang yang menjadi pembatas antar dapur dan ruang tamunya. Kim bum menopang dagunya. Mengamati pergerakan So eun yang melepaskan celemeknya. Dan meletakkan dua mangkuk bubur di meja depan Kim bum, kemudian menyodorkan salah satu mangkuk tersebut agar lebih dekat dari jangkauan kakaknya.

“Aku tak pernah merasa bertengkar denganmu Oppa.” So eun menarik satu kursi yang besembunyi di bawah meja dan mendudukinya. “Cepat makan buburmu Oppa, selagi masih hangat.” Suruhnya. Kemudian tangannya dengan mantap menyendokkan bubur ke dalam mulutnya sendiri. “Kau tidak menyukai buburnya? Jika benar, kau bisa memakan sandwich ini.” So eun menyodorkan piring berisi beberapa potong sandwich ke hadapan Kim bum.

Kim bum menggeleng. “Sejak kapan kau bisa memasak?” Tanya Kim bum sambil menyendokkan bubur ke dalam mulutnya. Lidahnya menggelitik, bubur buatan So eun tidak kalah lezatnya dengan buatan ibunya. “Tidak buruk.. persis seperti buatan Ibu.” Komentar Kim bum.

So eun tersenyum. Kim bum memujinya lagi. Kenapa kakaknya ini sangat senang menenggalamkannya ke dalam lautan pujian. Pipinya memerah, tersanjung atas pujian kakaknya. “Kau menyukainya Oppa?” Tanya So eun penasaran. Kim bum mengangguk dan menyantap bubur buatan So eun dengan lahap dan dengan anggukan itu, So eun berjanji akan selalu memasakkan makanan apapun untuk kakaknya.

“Kau akan pergi bekerja hari ini?”

“Tidak.. aku mengambil liburan sampai akhir tahun. Oppa ingin pergi jalan-jalan?”

“Jika kau tidak keberatan menemaniku.”

“Tapi bukankah kau kesini karena ada suatu pekerjaan Oppa?”

“Memang.. siang ini sebenarnya aku ingin menemui seseorang. Jika kau tidak sibuk kita pergi bersama untuk menemuinya. Aku juga ingin mengenalkannya padamu.”

So eun mengerutkan dahinya. “Memangnya kau ingin bertemu dengan siapa Oppa?” Tanyanya penasaran.

“Seorang teman selama di Sydney.. dan aku akan melakukan pekerjaan bersama dengannya untuk ke depannya nanti. Kau harus mengenalnya So eun-ah, dia orang yang cukup menyenangkan.”

So eun mengangguk, hari ini hatinya sedang merasa baik karena kedatangan sang kakak. Rasa kesal atas pembicaraan bersama kakaknya kemarin sudah tidak diingat bahkan dilupakannya. Hari ini Kim bum akan mengenalkannya pada seseorang, teman kakaknya. So eun tidak peduli. Hatinya sedang senang karena Kim bum akan mengajaknya jalan-jalan.

~~~

Kemarin saat So eun melewati jalan setapak yang dilaluinya saat ini, dia pasti akan merapatkan mantel tebal yang dikenakannya dan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong mantel tersebut, tapi hari ini tidak. So eun tidak mengeratkan jaketnya, dia juga tidak memasukkan tangannya karena hari ini dia sama sekali tidak merasakan dinginnya hawa dingin bulan Desember. Seseorang mengalirkan hawa hangat untuk So eun, walau hanya dengan sebuah genggaman pada satu telapak tangannya.

“Seoul sudah banyak berubah.. dan aku lupa sudah berapa lama aku meninggalkan kota ini.”

“Delapan tahun… sudah delapan tahun kau tidak mengunjungi Seoul..” So eun menjawabnya dengan antusias. Tangannya membalas genggaman erat tangan Kim bum.

“Cepat tunjukkan beberapa tempat yang sering kau kunjungi So eun-ah!” Pinta Kim bum setengah memaksa.

“Aku tak pernah pergi kemanapun… hari-hariku sudah tersita dengan pekerjaan di kantor dan aku terlalu cepat lelah setelahnya.”

Kim bum tersenyum mendengar jawaban So eun. “Bagaimana mungkin kau menghabiskan waktumu hanya untuk berkerja. Apa tidak ada seseorang pun yang mau menemanimu pergi?”

So eun menggeleng. “Bukankah orang yang selalu berbaik hati menemaniku jalan-jalan adalah kau Oppa…” So eun berdusta. Cengiran muncul di wajahnya cantiknya karena dia melupakan Ara sahabatnya. Padahal temannya itu selalu mengajaknya untuk menghabiskan waktu mencari hiburan, hanya saja memang So eun lah yang selama ini memang tidak pernah mau menghabiskan waktu ke luar apartemennya.

Kim bum terkekeh tangannya yang bebas menyentil hidung mancung sang adik. “Sejak kapan kau pandai merayu seperti ini.”

Langkah kakinya tidak akan pernah lelah, walau mereka sudah berjalan cukup lama untuk berjalan-jalan. Sudah tidak terhitung berapa jumlah toko yang mereka masuki hanya untuk melihat-melihat apa saja yang terjual di dalam toko tersebut, baik Kim bum dan So eun tak pernah melepaskan senyum bahagia di wajah masing-masing. Keduaya menikmati kebersamaan ini.

So eun melepaskan tautan tangannya dari Kim bum. Sesuatu menarik perhatiannya. Dua buah syal berwarna merah dan hitam yang sedang tergantung rapi di sebuah rak, seperti meminta So eun untuk mengambil keduanya. Bibirnya menyungging, saat menyentuh kedua benda tersebut. Dia memutar kepalanya ke samping dan mengangkat dua syal berbeda warna tersebut. Menunjukkannya pada Kim bum yang sedang melihat ke arahnya.

So eun melihat kepala Kim bum mengangguk. Segera dia menghampiri sang kakak. So eun membentangkan dua syal tersebut di hadapan Kim bum. “Merah dan hitam.” Serunya senang.

“Kau tidak berubah..” Ucap Kim bum seraya mengacak puncak kepala So eun dengan sayang.

So eun tertawa pelan. Dia menyampirkan syal berwarna hitam di pundaknya, kemudian menarik kerah mantel Kim bum, agar kakaknya itu sedikit membungkuk. “Kenapa Oppa tinggi sekali.. aku bahkan tidak bisa menyentuh kepalamu.” Seru So eun, sedikit menggerutu.

Mendengar gerutuan So eun, Kim bum segera menundukkan kepalanya. Dia tau apa yang sebenarnya akan adiknya itu lakukan. So eun segera melilitkan syal berwarna merah yang masih di pegangnya pada leher Kim bum, saat dia sudah menundukkan kepalanya.

“Kau tidak akan kedinginan jika memakainya.” Ucap So eun, setelah selesai memasangkan syal berwarna merah tersebut pada leher sang kakak.

Kim bum mengernyit. Tangannya menyentuh syal berwarna merah yang terlilit rapi di lehernya. Matanya menatap syal tersebut dan So eun secara bergantian. Dia bingung. Kim bum pikir So eun akan memberikan syal berwarna hitam untuknya, tapi ternyata warna merahlah yang menjadi pilihan sang adik untuk dirinya. “Merah…” Gumam Kim bum, sambil menatap So eun penuh tanya. “Kau tidak salah memberikan warna ini untukku?”

So eun menggeleng. “Tidak… aku memang sengaja memilihkan warna merah untukmu.” Jawab So eun yakin. Kim bum hanya diam tidak mengerti. So eun menyodorkan syal berwarna hitam yang tadi tersampir dipundaknya kepada Kim bum dan kakaknya itu menatapnya masih dengan raut wajah bingungnya. “Pasangkan syal ini dileherku Oppa!” Pinta So eun.

Kim bum mengambil syal berwarna hitam dari tangan So eun kemudian menuruti permintaan sang adik. Dia melilitkan syal hitam itu di leher So eun dengan rapi. “Kenapa kau memberikan syal warna merah padaku dan bukannya untukmu sendiri. Apa kau sudah tidak menyukai warna merah lagi?”

Saat kecil dulu, So eun selalu menyukai warna apapun. Tidak ada warna yang tidak indah untuk So eun. Warna apapun, So eun menyukainya. Tapi setelah hari itu, saat malaikatnya memberikan benda itu padanya dengan warna merah hati layaknya kelopak bunga mawar, So eun memutuskan untuk menyukai warna itu. Warna merah. Merah yang berani. Seperti yang pernah dikatakan malaikatnya pada So eun.

“Tentu saja aku masih menyukai warna merah.. sama seperti aku masih menyukai bunga mawar merah sampai saat ini.” Jawab So eun.

Mana mungkin So eun tidak menyukai warna merah lagi, sedangkan dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menjadi seorang pemberani. Dan merah adalah warna yang melambangkan keberanian itu.

Keberanian akan perasaan aneh ini tidak akan pernah tersampaikan, walau sebenarnya ingin terucap. Biarkan syal berwarna merah itu tetap menggantung di lehermu, sampai keberanianku muncul dan mengatakan semua perasaan aneh ini padamu.

“Lalu kenapa kau….” Kalimat Kim bum menggantung tak terselesaikan, karena So eun sudah memotongnya.

“Karena aku ingin memiliki syal berwarna hitam ini untukku… biarkan aku memliki warna hitam yang menjadi kesukaanmu, untukku Oppa… dan selalu ingatlah aku, saat kau menatap syal warna merah yang kau kenakan sekarang.”

Kim bum terdiam. Dia tidak bisa berkata. Ternyata So eun juga masih mengetahui satu warna yang menjadi kesukaannya. Oh.. padahal Kim bum sendiri tidak pernah mengharapkan adiknya itu untuk mengingat hal sepele seperti ini. Walau warna hitam memang tidak pernah lepas dari tubuh Kim bum, tapi ada sesuatu yang sebenarnya So eun tidak tau tentang warna yang sebenarnya menjadi pilihan hatinya. Tapi itu tidak masalah. Hitam adalah warna yang selalu melekat ditubuhnya. Karena selama ini dia memang lebih menyukai pakaian-pakaian berwarna hitam.

Kim bum memandang syal yang meliliti lehernya saat ini, tangannya menyentuh syal tersebut dan menggenggamnya erat. “Sepertinya aku akan menyukai syal pemberianmu ini So eun-ah!” Ucapnya.

“Begitupun denganku Oppa!” Ujar So eun…. Bahkan sampai sekarangpun aku masih menyimpannya. Maafkan aku.

Kim bum menarik lengan So eun dan membawa adiknya itu ke dalam pelukannya. So eun pun membalas pelukan erat sang kakak. Sekali lagi So eun menumbuhkan satu tunas perasaan aneh itu untuk sang kakak. So eun sudah tidak tau lagi, berapa banyak tunas-tunas perasaan itu di dalam hatinya. So eun bahkan sudah kewalahan untuk menginjak tunas-tunas perasaan tersebut. Karena semakin So eun menginjaknya, akan ada satu tunas lagi yang tumbuh dan itu semakin membuat So eun semakin ketakutan akan bayangan malaikatnya.

~~~~

 

^^^ Sudah lama tidak memposting fanfic di blog ini dan rasanya kangen banget. Kangen banget sama Reader-reader tercintaku yang masih mau mengunjungi blog ini walaupun yang punya blog sudah cukup lama hiatus. Entahlah masih ada pengunjung atau tidak untuk blog ini, tapi karena kecintaanku pada menulis akhirya kuputuskan untuk menulis lagi. Walaupun sebenarnya menulis masih tetap kulakukan, hanya saja terkadang aku selalu tidak percaya diri untuk memposting tulisan-tulisanku.

Dan sudah cukup untuk cuap-cuapku diatas, karena aku hanya ingin melihat masih ada atau tidakkah readers yang menungguku dan akhirnya kuputuskan untuk memposting fanfic ini. Kuharap masih ada yang mau membaca tulisanku agar aku bisa lebih rajin memposting tulisan-tulisanku lagi. Satu komentar dari kalian, akan menambah semangatku untuk menyambung fanfic ini. Terimakasih untuk para readers tercintaku, semoga banyak komentar yang masuk dan membuatku secepat mungkin memposting kelanjutannya.^^^