Posts Tagged ‘Theatrical Love’

Cover



Part 3

***

so eun masih tetap memandangi foto yang sedari tadi dipeganginya. Ini benar – benar mengharukan, bagaimana semua ini bisa terjadi. Bagaimana kejadian ini bisa dialami oleh so eun. apa tidak ada pilihan untuk so eun keluar dari semua masalah ini. tanya so eun dalam hatinya.

So eun teringat akan kejadian tadi, dimana ayahnya memukul kim bum. pasti saat ini kim bum semakin membenci dirinya. Pasti kim bum akan semakin menjauh dari so eun.

So eun meletakkan kembali foto yang sedari tadi di pegangnya, rasa bersalahnya pada kim bum kembali muncul. So eun harus melihat keadaan kakaknya sekarang. So eun yakin kim bum sudah tidur, jadi so eun tidak perlu takut kalau kim bum akan marah padanya.

So eun sudah sampai didepan kamar kakaknya, seperti biasa jantung so eun selalu berpacu lebih kencang jika selalu berurusan dengan kim bum.



Malam sudah larut namun mata kim bum masih saja tidak bisa terpejam, dia pandangi pecahan kaca yang berserakan di lantai kamarnya. Selembar foto yang masih menempel di bingkai figura itu juga masih tetap tergeletak di lantai, tidak ada sedikit pun niat kim bum untuk membereskan benda – benda tersebut.

Kim bum memegangi, ujung bibirnya yang terasa berdenyut. Tentu saja sakit. Tamparan yang dia dapatkan dari sang ayah tadi lumayan keras, pasti sekarang bekasnya membiru. Ayahnya memang benar – benar keterlaluan, sebegitu marahnya kah ayahnya itu pada kim bum sehingga menampar anaknya sendiri.

Kim bum mencoba untuk memejamkan matanya, walaupun susah tapi tentu saja kim bum harus tidur. Untuk apa kim bum memikirkan hal – hal yang tidak dia ketahui pasti jawabannya.



So eun memutar kenop pintu kamar kakaknya itu, tidak dikunci. Kenapa selalu kebetulan sekali, setiap so eun berniat masuk ke kamar kim bum pasti pintunya selalu tidak dikunci.

Pelan – pelan so eun memasuki kamar kakaknya, so eun tidak mau sampai kakaknya itu marah gara – gara so eun masuk ke kamarnya secara diam – diam. So eun melihat kim bum tengah tertidur di tempat tidurnya. perlahan – lahan so eun menghampiri tempat tidur kim bum dan duduk di sebelah sang kakak.

“maafkan aku kak, aku tau kau membenciku. Tapi ijinkan aku tetap berada disampingmu.” Gumam so eun

“sekalipun kau membenciku, tapi itu semua tidak merubah keadaan kalau aku adalah bagian dari hidupmu, kecuali kau ….” so eun menghentikan gumamannya, dia tidak bisa meneruskan kata – katanya lebih tepatnya tidak mau.

So eun memandangi setiap inci wajah kim bum, dilihatnya ujung bibir kim bum yang membiru. So eun yakin kalau itu bekas luka dari tamparan ayahnya tadi.

“pasti sakit.” Ucap so eun sambil menyentuh luka kim bum.

Kini pandangan so eun beralih ke pecahan kaca yang berserakan di lantai kamar kim bum. diambilnya selembar kertas foto yang juga tergeletak dilantai dan diletakkannya foto tersebut di atas meja. So eun pun dengan telaten membersihkan pecahan – pecahan kaca tersebut, namun aktifitasnya tehenti ketika tanpa diduga sebuah pecahan kaca mengenai salah satu jarinya.

“aaauuuwwww…” ringis so eun, sambil memegangi jarinya yang mulai mengeluarkan darah.

“apa yang kau lakukan?” tanya sebuah suara berat dari belakang so eun.

So eun kaget mendengar suara itu, bahkan sekarang untuk menoleh saja dia tidak berani. Apa benar. Apa so eun tidak salah dengar. Jangan bilang suara berat ini milik kim bum. ya tuhan… bagaimana so eun ini, kenapa tidak mengenali suara kakaknya sendiri, memangnya siapa lagi yang ada dikamar kim bum kalau bukan kim bum dan dirinya sekarang.



Kim bum mendengar suara decitan pintu terbuka, walaupun suaranya pelan tapi tetap saja kim bum mendengarnya. Kim bum sedikit membuka matanya dan melihat siapa yang begitu berani masuk ke kamarnya malam – malam begini, ibunya kah. Pikir kim bum

Kim bum sedikit terkejut ketika melihat so eun mengendap – endap memasuki kamarnya. Kim bum masih pura – pura tertidur untuk mengetahui sebenarnya apa yang mau dilakukan gadis itu dikamarnya.

Kim bum mendengarkan setiap kata – kata yang keluar dari mulut so eun, kim bum juga masih tak bergeming ketika so eun memegang ujung bibirnya.

“seharusnya bukan kau yang minta maaf so eun, tapi aku.” Batin kim bum.

Kim bum membuka matanya ketika mendengar teriakan kecil dari so eun. dan tanpa sadar kim bum pun bertanya pada gadis itu.

“apa yang kau lakukan?” kim bum sempat menyesali pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Untuk pertama kalinya kim bum bertanya pada so eun setelah sekian lama kim bum berusaha menghindari adiknya itu.

Kim bum melihat so eun tengah membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai, namun penglihatan kim bum menangkap setetes darah yang mengalir di jari so eun.

Gadis itu terluka, astaga kenapa so eun tidak cepat – cepat menhentikan darah yang keluar dari jarinya. Bagaimana kalau so eun kehabisan darah. Pikir kim bum

Kim bum segera turun dari tempat tidurnya dan menghampiri so eun yang masih diam di posisinya, kim bum tidak menghiraukan kekagetan adiknya itu, akan tingkahnya. Yang dilakukan kim bum sekarang ialah meraih jari so eun dan dihisapnya darah gadis itu agar berhenti keluar.

“kenapa bisa sampai terluka? Kenapa harus membersihkannya? Apa kau tidak takut kalau kau kehabisan darah hanya gara – gara membersihkan pecahan kaca – kaca ini?” pertanyaan bertubi – tubi dari kim bum tidak mendapatkan respon apapun dari so eun.

So eun benar – benar kaget dengan apa yang dilakukan kim bum barusan. apa so eun sedang bermimpi. Jadi benar kim bum berbicara pada so eun, dan apa ini, kim bum khawatir terhadap so eun.

“kakak….” gumam so eun pelan

“apa….. kau berniat mau melukai dirimu. apa kau bodoh hah” bentak kim bum, dengan nada khawatir.

“kakak… apa yang kau lakukan?” tanya so eun bingung

Ingatan kim bum seakan kembali, dia lepaskan tangan so eun yang sedari tadi dipegangnya. Kim bum memandang so eun sejenak dan memundurkan tubuhnya agar menjauh dari so eun. ini gila pikir kim bum, mana mungkin kim bum bisa melakukan hal seperti tadi, apa sekarang kim bum sudah mulai menerima so eun.

“jadi harus seperti ini. jadi harus terluka dulu baru kau bisa melihatku. Apa aku harus melukai diriku supaya kakak bisa menerimaku. Atau kakak mau aku mati dihadapan kakak, agar kakak tau kalau selama ini aku begitu tersiksa mendapat perlakuan dingin darimu.” Bentak so eun pada kim bum yang masih tampak bingung dengan apa yang dilakukannya barusan.

“bu… bukan begitu maksudku?” jawab kim bum terbata – bata. Kim bum benar – benar tidak bisa menjawab pertanyaan so eun dengan jelas.

Selama ini kim bum tidak membenci so eun,hanya saja kim bum membenci keadaan yang menimpa dirinya dan juga so eun. walaupun kim bum bersikap dingin terhadap so eun, tapi kim bum tetap peduli pada adiknya itu dan ketika kim bum melihat adiknya terluka tentu saja dia tidak bisa tinggal diam.

“kau benar – benar keterlaluan.” Bentak so eun, kemudia menampar pipi kim bum.

So eun benar – benar marah, gadis itu benar – benar marah. Dan anehnya lagi kim bum bahkan tidak bisa membela dirinya sendiri kali ini. bukankah biasanya kim bum bisa bersikap tegas jika sudah menyangkut gadis yang ada didepannya ini. tapi kenapa sekarang kim bum diam saja.

“pergi dari kamarku.” Gumam kim bum lirih. Hanya tiga kata itu yang keluar dari mulut kim bum. mungkin kejadian hari ini adalah peringatan untuk kim bum supaya dia bisa berfikir lebih jernih lagi tentang hubungannya dengan so eun.

20100810051723



So eun pun berlari meninggalkan kamar kim bum. air matanya kembali menerobos keluar. Hari ini untuk pertama kalinya setelah pernikahan itu kim bum mengeluarkan suaranya untuk so eun.

Harusnya so eun senang, karena kakaknya itu ternyata peduli padanya. Lalu kenapa tadi so eun harus menampar kim bum, apa so eun tidak senang ketika tau kalau ternyata kim bum peduli padanya.



Pagi ini cuaca kota Soeul sangat cerah, hari ini keluarga Kim nam gil berkumpul di ruang makan. Tidak ada suara apapun yang terdengar di ruangan itu. Semua manusia yang ada di ruangan itu diam seribu bahasa, semuanya bergelut dengan pikiran masing – masing.

Kejadian tempo hari benar – benar sedikit merubah keadaan. Walaupun kim bum masih tetap dingin pada so eun tapi setidaknya sikap kim bum sudah jauh lebih baik dari biasanya.

“aku sudah selesai. Aku tunggu di depan.” Ucap kim bum, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan orang tua dan juga adiknya.

Nam gil dan tae hee saling pandang, mereka saling lirik melihat tingkah kim bum. walaupun kim bum tidak menyebut nama so eun tapi mereka tau kalau perkataan kim bum barusan ditujukan pada so eun.

kim-tae-hee_422_59029

“sso, cepat kau susul kakakmu sebelum dia berubah pikiran” perintah tae hee pada anak perempuannya itu.

So eun mengangguk dan mengikuti perintah ibunya. Selain itu tentu saja so eun tidak mau membuat kim bum marah karena terlalu lama menunggunya.



“sepertinya kim bum sudah membuka hatinya untuk so eun.” ucap tae hee pada suaminya.

“aku juga merasa seperti itu, anak itu kenapa harus butuh waktu yang lama untuk menyadarkannya.” Jawab nam gil

“kenapa bicara seperti itu, seharusnya kau senang menlihat perubahan kim bum. setidaknya dia sudah mulai mau bicara dengan so eun.” protes tae hee, dengan jawaban suaminya.

“sepertinya kita harus memberikan mereka waktu untuk berdua, biar kim bum bisa menyesuaikan dirinya.” Usul tae hee.

Nam gil, mulai memikirkan sesuatu dan menganggukkan kepalanya tanda dia setuju dengan usul istrinya.

Kim_Nam_Gil



Kini so eun dan kim bum sudah berada dimobil dan bersiap menuju tempat kuliah mereka. Seperti biasa so eun tidak berani mengeluarkan kata – katapun jika sudah berada di dalam mobil bersama kim bum.

“kau membenciku?” tanya kim bum tiba – tiba.

So eun langsung mengarahkan pandangannya pada kim bum, apa yang kakaknya tanyakan barusan. untuk apa so eun membenci kim bum.

“aku tau kau pasti kecewa dengan sikapku selama ini.” ucap kim bum lagi.

So eun semakin heran dengan perkataan – perkataan kim bum yang barusan dilontarkannya. Sebenarnya ada apa dengan kim bum ini.

“kau tidak perlu menjawab apapun, karena aku sudah tau jawabannya. Hari ini aku ingin pergi kesuatu tempat, dan aku ingin kau ikut denganku.”

“bagaimana dengan kuliah kita?” tanya so eun pelan

“aku tidak peduli, dengan itu.” Jawab kim bum dingin.

Sekarang so eun hanya bisa menurut apa keinginan kim bum, tidak masalah jika dia harus bolos kuliah yang terpenting saat ini adalah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh kakaknya itu. Dan mau kemana kim bum mengajak so eun pergi.



“kita sudah sampai.” Ucap kim bum sambil keluar dari mobilnya

So eun pun turun dari mobil kakaknya, so eun terpukau melihat sebuah gedung yang berada tepat dihadapannya sekarang. So eun terpukau bukan karena keindahan gedung itu tapi so eun heran kenapa kim bum membawa so eun ketempat ini.

“kenapa… kenapa kakak membawaku ketempat ini?” tanya so eun

“bukannya kau sudah lelah dengan sandiwara ini. bukannya kau memintaku untuk menepati janjiku. Apa kau lupa dengan semua keinginanmu itu?”

“apa maksud kakak?” So eun semakin heran dengan kim bum, apa yang sebenarnya ada didalam pikiran kim bum sekarang.

Kim bum berjalan memasuki gedung itu dengan santai, dan so eun pun mengikuti langkah sang kakak dari belakang.

Sepertinya kim bum sudah siap untuk menerima semua kenyataan ini. karena bagaimanapun juga so eun adalah bagian dari hidupnya dan kim bum tidak bisa menghindar dari kenyataan itu.

“kau masih mengingat tempat ini?” tanya kim bum

“tentu saja, bagaimana aku bisa lupa.” Jawab so eun.

“jadi bagaimana perasaanmu saat itu.” Tanya kim bum

So eun menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan dari kakannya. Jadi ini alasan kim bum membawanya ketempat ini. apa kim bum benar – benar ingin kembali ke masa itu.

So eun mendudukan dirinya di salah satu bangku panjang yang ada didalam gedung itu, so eun pandangi setiap sudut ruangan itu, tidak ada yang berubah masih sama seperti dulu. Masih sama seperti beberapa tahun yang lalu ketika seorang pria muda berusia 19 tahun mengucapkan janji suci pernikahan dihadapan seorang pendeta, orang tuanya dan para tamu undangan.

“kau mengingat kejadian itu?” tanya kim bum dan mendudukan dirinya disebelah so eun. kim bum bisa melihat wajah sedih so eun sekarang. Pasti gadis ini kembali mengingat kejadian itu.

“aku tidak mau mengingatnya” ucap so eun tiba – tiba.

Kim bum tersenyum mendengarnya, tentu saja semua wanita akan senang mengingat kejadian dimana mereka melakukan acara pernikahan untuk dirinya. Tidak seorang wanitapun yang akan bisa melupakan masa – masa pernikahan seperti itu. Tapi tentu saja berbeda dengan so eun.



FLASHBACK

Seorang gadis kecil berusia 10 tahun tengah meringkuk di pangkuan seorang wanita paruh baya. Badannya menggigil. Sepertinya gadis itu ketakutan badannya gemetaran dan keringat membasahi tubuhnya.

“tenanglah sayang, tidak akan terjadi apa – apa dengan ayah dan ibumu.” Ucap tae hee mencoba menenangkan keponakannya itu.

“apa ayah dan ibu akan baik – baik saja bi?” tanya gadis kecil itu gemetaran.

“tentu saja, ayah dan ibumu akan baik – baik saja”

Dokter keluar dari ruang pemeriksaan dengan menampakkan muka datar. Sepertinya pertanda buruk. Nam gil segera menghampiri dokter tersebut dan menanyakan keadaan adik perempuannya beserta suaminya.

“bagaimana dok, mereka baik – baik saja kan?” tanya nam gil cemas.

Dokter menggelengkan kepalanya, dan itu berarti memang hal buruk lah yang terjadi.

“mereka meninggal, maafkan kami.” Ucap dokter.

Nam gil benar – benar shock dengan jawaban dokter tersebut. Adik perempuan yang dia sayangi telah meninggal. Dan itu semua gara – gara salahnya. Andai saja nam gil tidak menyuruh adik dan keluarganya untuk datang ke pesta ulang tahun anaknya dengan buru – buru pasti kecelakaan itu tidak akan terjadi.

Untung keponakannya selamat, tapi ini lebih menyedihkan untuk anak itu. Dia telah menjadi yatim piatu sekarang. Diusia yang sangat muda dia harus kehilangan orang tuanya.

Nam gil menghela nafasnya dan melihat istrinya yang tengah duduk di kursi tunggu rumah sakit. Nam gil melihat keponakannya itu tengah tertidur dipangkuan sang istri. Rasanya benar – benar menyedihkan.

“kita bawa so eun pulang.” Ucap nam gil pada istrinya.

END OF FLASHBACK



kkot23106

“ayah… ibu, aku merindukan kalian.” Gumam so eun sambil menangis.

Kim bum mengetahui apa yang saat ini dipikirkan oleh adiknya itu, pasti memori masa lalunya kembali lagi. kim bum yakin, kalau so eun pasti merindukan orang tuanya. Orang tua kandung adik sepupunya.

Kim bum membimbing so eun kedalam pelukannya, ini semua salah kim bum. kenapa kim bum begitu bodoh selama ini, kenapa kim bum menyia –nyiakan adiknya ini. bukankah ketika so eun datang waktu itu, kim bum begitu menyambutnya dengan bahagia.

“kau mau memaafkanku?” tanya kim bum sambil membelai rambut so eun, untuk mencoba menenangkan adiknya yang sedang dilanda kesedihan.

“jangan membenciku kak.” jawab so eun didalam isak tangisnya.

“tidak lagi.” ucap kim bum lembut

So eun masih terisak didalam pelukan kim bum, rasanya ini suatu keajaiban. So eun bisa merasakan pelukan kim bum lagi setelah pernikahan itu. So eun membayangkan bagaimana kim bum merentangkan tangannya untuk menyambut kedatangan so eun. saat itu kim bum benar – benar sangat baik pada so eun.



FLASHBACK

so eun kecil mengikuti langkah paman dan bibinya memasuki rumah mereka. Untuk pertama kalinya so eun menginjak rumah itu tanpa kedua orang tuanya. biasanya so eun akan sangat senang jika orang tuanya mengajaknya berkunjung ke tempat ini. tapi tidak untuk hari ini.

Nam gil dan tae hee menggandeng tangan so eun beriringan dan diajaknya keponakannya itu untuk masuk kedalam rumah mereka.

“kau sudah datang so eun” teriak seorang pria kecil berusia dua tahun lebih tua dari so eun dan langsung memeluk so eun untuk menyambut kedatangan gadis itu.

“mulai sekarang kau akan tinggal disini. Kau tau aku akan selalu menjagamu.”ucap kim bum.

So eun merekahkan senyumannya walaupun sedikit berat, banyak orang – orang yang akan menyayanginya termasuk kakak sepupunya ini. walaupun so eun merasa berat akan kejadian yang menimpa keluarganya tapi masih ada paman dan bibinya yang akan selalu menjaganya dan juga kim bum.

“terima kasih kakak.” Jawab so eun sambil membalas pelukan dari kim bum kecil.

Tae hee dan nam gil melebarkan senyumnya. Mereka yakin bahwa anaknya itu akan menerima kehadiran so eun. karena memang mereka sudah akrab sebelumnya.



Tujuh tahun telah berlalu semenjak kejadian dimana orang tua so eun meninggal. Kim bum begitu menyayangi so eun seperti adik kandungnya sendiri, walaupun kenyataannya so eun hanyalah adik sepupunya.

Hari itu semua keluarga kim bum berkumpul di ruang tamu. Hari ini nam gil begitu bahagia karena anak laki – lakinya telah dinyatakan lulus dari bangku sekolah menengah atas. Dan hari ini juga bertepatan dengah hari kelahiran kim bum.

“ayah bangga padamu kim bum, kau lulus dengan nilai terbaik.” Ucap Nam gil pada anak laki – lakinya itu.

“Ibu juga bangga padamu sayang.”

“aku juga bangga pada kakak.”

Kim bum tersenyum mendengar semua anggota keluarganya memuji hasil kerja kerasnya selama ini. kim bum memang anak yang rajin, tentu saja dia akan mendapat nilai yang baik.

“ini semua karena dukungan dari ayah, ibu dan juga adik kecilku.” Jawab kim bum gembira.

“ayah aku ingin menyampaikan sebuah permintaan padamu.” Lanjut kim bum hati – hati.

“katakan saja sayang, karena ayah juga akan menyampaikan sebuah berita penting untukmu dan juga so eun.” jawab nam gil

“aku ingin melanjutkan kuliahku ke jepang ayah. Aku ingin ayah dan ibu menyetujui keinginanku ini.” ucap kim bum penuh semangat.

Nam gil sedikit tersentak, dia seperti ingat sesuatu. Kim bum memang selalu meminta padanya jika sudah besar nanti kim bum ingin pergi ke jepang.

“kenapa harus kuliah disana. Memangnya kau tidak suka jika kuliah disini saja?” tanya tae hee.

“bukankah ayah dan ibu sudah tau kalau dari dulu aku ingin kuliah disana. Bukankah dulu ayah dan ibu menyetujuinya.”

“tidak, kau tidak boleh pergi kesana.” Tegas nam gil.

“ayah, kenapa kau berubah pikiran. Kuliah di jepang adalah salah satu mimpiku, apa ayah tidak senang jika nanti aku bisa sukses di sana.”

“kau harus tetap di korea, lusa kau dan so eun akan menikah.” Tegas nam gil lagi dan pergi meninggalkan istri dan juga anak – anaknya.

Shock… tentu saja kim bum sangat shock. Ayahnya melarangnya untuk mengejar cita – citanya. Dan sekarang ayahnya bilang kalau lusa kim bum dan so eun akan menikah. Apa maksudnya, siapa yang akan menikah dengan so eun dan siapa yang akan menikah dengan kim bum.

“ayah apa maksudmu?” teriak kim bum menuntut kepastian dari ayahnya.

“kakak…” gumam so eun, sambil memegang tangan kim bum.

“maafkan kami karena tidak pernah membicarakan dengan kalian sebelumnya. Ayah dan ibu sudah memutuskan bahwa lusa kalian berdua akan menikah. Maka dari itu ayahmu tidak menyetujui keinginanmu untuk pergi ke jepang kim bum.” jelas tae hee.

Kenapa… kenapa orang tua kim bum keterlaluan sekali. Harusnya mereka membicarakan rencana ini pada kim bum dan so eun terlebih dahulu. bukankah mereka juga harus mendapatkan persetujuan dari kedua orang yang bersangkutan, kenapa mereka memutuskan hal ini sendirian. Bukankah ini menyangkut masa depan kim bum dan juga so eun.

END OF FLASHBACK



“apa kakak masih membenciku karena pernikahan ini.” tanya so eun takut – takut.

Kim bum melepaskan pelukannya dari tubuh so eun. kim bum pandangi mata so eun yang berair. Kim bum mengusap air mata yang membasahi pipi adiknya itu.

“menurutmu?” tanya kim bum pada sang adik. Kim bum ingin tau bagaimana reaksi so eun setelah ini.

“aku tidak tau.” Jawab so eun dengan muka datar. Tentu saja so eun tidak tau dengan isi hati kim bum.

“apa kau tidak mau menagih janjiku ketika aku berdiri disini, saat aku mengucapkan janji suci pernikahan kita di depan pendeta. Saat aku mengatakan YA.. AKU BERSEDIA MENERIMA KIM SO EUN DALAM KEADAAN SUKA MAUPUN DUKA. DALAM KEADAAN SEHAT MAUPUN SAKIT MENJADI ISTRIKU. Walaupun kau tau saat itu aku terpaksa mengucapkannya.” Tegas kim bum. sambil berdiri ditengah – tengah gedung gereja tempat dimana dirinya mengucapkan janji suci pernikahannya dengan so eun lima tahun yang lalu.

Menurut kim bum ini memang sudah saatnya untuk dirinya memperbaiki kesalahannya pada so eun. toh, selama ini so eun memang sudah banyak berkorban untuknya. berkorban waktu, pikiran dan juga hatinya.

“kakak…” so eun terharu dengan apa yang baru saja diucapkan kim bum. jadi kim bum benar – benar sudah menerima dirinya kembali sebagai adik dari kim bum. oh… bukan adik, melainkan istri.

“jadi Kim so eun maukah kau menerima kembali Kim sang bum menjadi suamimu, dalam keadaan sehat maupun sakit dan dalam keadaan suka maupun duka?” tanya kim bum pada so eun dengan menirukan gaya seorang pendeta.

So eun benar – benar terharu dengan dengan perlakuan kim bum yang seperti ini. kim bum benar – benar membuat hati so eun bahagia kembali setelah beberapa tahun dia kehilangan senyum cerianya bahkan kehilangan semangat hidupnya.

So eun berlari menghampiri kim bum yang berdiri di tengah – tengah gedung. Dan menghambur kedalam pelukan kim bum. air matanya pun tumpah lagi. kini air mata kebahagiaan lah yang keluar dari mata so eun.

“tentu saja aku menerimanya.” Jawab so eun.

“kau mau memulainya kembali dari awal?” tanya kim bum lagi memastikan.

“menurut kakak?” tanya so eun menirukan gaya kim bum seperti sebelumnya.

“baiklah kalau kau tidak mau, aku juga tidak memaksa.” Jawab kim bum sambil melepaskan tangan so eun yang sedari tadi memeluknya dan pergi meninggalkan gadis itu untuk menggodanya.

“kakak… mau kemana?” panggil so eun.

Dan kim bum pun tetap saja melangkahkan kakinya menjauh dari so eun dan menuju pintu keluar gereja itu. So eun semakin kebingungan melihat kakaknya yang tidak menghiraukan panggilannya.

“yaa… kakak berhenti…” teriak so eun.

Masih sama seperti tadi, kim bum tetap saja melenggang menjauhi so eun. sebenarnya kim bum mendengar panggilan so eun, tapi kim bum sengaja ingin menggoda so eun. dan kim bum berharap so eun mau mengejarnya dan memeluknya dari belakang.

Dan ternyata harapan kim bum benar – benar terwujud, so eun berlari mengejarnya dan memeluk kim bum dari belakang sebelum kaki kim bum benar – benar melangkah keluar dari gereja tersebut.

“aku mencintai kakak. Bukan cinta sebagai adik dan kakak. Melainkan cinta dari seorang wanita pada pria. Kau adalah suamiku, bukan kakakku.” Tegas so eun sambil mengeratkan pelukannya pada kim bum. dan itu membuat kim bum tersenyum senang.

“siapa kau berani memelukku?” goda kim bum sambil membalikkan badannya agar bisa melihat wajah so eun.

“tentu saja aku Kim so eun, adik dari kim sang bum sekaligus istri yang telah ditelantarkannya.” Jawab so eun sambil menggembungkan pipinya.

Kim bum tersenyum geli melihat wajah so eun. gadis ini sangat lucu, dia masih sama seperti beberapa tahun lalu, ketika so eun datang ke rumah kim bum bersama dengan orang tua kim bum. walaupun saat itu, dia sudah kehilangan orang tuanya tapi so eun masih tetap tegar.

mungkin kim bum memang harus membuka hatinya sekarang, gadis ini sudah terlalu banyak mengeluarkan air matanya dan kim bum tidak ingin melihat so eun menderita, sudah cukup perlakuan dingin kim bum selama ini. so eun mencintai kim bum, dan itu lebih dari cukup sebagai alasan untuk kim bum melindungi adik sekaligus istrinya ini.

=======THE END=======

bagaimana reader apakah kalian puas dengan ending part ini??? mungkin para reader berfikir bahwa endingnya terlalu biasa tapi memang seperti inilah endingnya.

mungkin jika ada waktu saya akan buat part specialnya untuk fanfic ini, namun saya juga tidak bisa pastikan kapan akan mempostnya. karena memang rutinitas saya sehari – hari benar memporsir waktu dan fikiran saya. biasa derita anak kuliah sambil kerja.
baiklah, untuk koment benar – benar saya harapkan disini. dan terimakasih chingu.

Iklan

Theatrical Love ( Part 2 )

Posted: 18 Februari 2013 in FF BUMSSO
Tag:

Cover

Terimakasih buat para reader yang sudah mau berkunjung di WP ini dan memberikan coment disetiap postinganku. kali ini aku bawa kelanjutan dari fanfic THEATRICAL LOVE. karena lebih banyak coment yang masuk di postingan fanfic ini sebelumnya, jadi aku putuskan buat memposting kelanjutannya…. sooo happy reading.

Cast : Kim sang bum, Kim so eun
Suppoart cast : Kim nam gil, Kim tae hee, Lee min hoo, Park jiyeon, Jung eunji.

Part 2

Kim bum pergi meninggalkan min hoo dan eun ji, dia benar – benar kesal, kenapa semua orang membuatnya kesal hari ini. pertama ayahnya, kemudian min hoo dan sekarang eun ji belum lagi gadis itu.

Kata – kata min hoo masih terngiang – ngiang di ingatan kim bum, rasanya kim bum memang teralalu berlebihan dengan so eun. kenapa kim bum membenci so eun, bukankah so eun adik kim bum. tidak seharusnya kim bum berbuat ini pada so eun.

***

“apa kau juga akan pulang bersama dengannya lagi so eun?” tanya jiyeon, pada so eun yang membereskan buku – bukunya setelah pelajaran yang mereka ikuti telah berakhir.

So eun menaikkan bahunya tanda dia tidak tahu pasti dengan jawaban atas pertanyaan dari jiyeon barusan.

“kau ini, bagaimana kalau kau pulang denganku saja.” Tawar jiyeon. So eun tampak berfikir, ada baiknya juga kalau dia pulang dengan jiyeon, dari pada harus menunggu kim bum yang belum pasti mau mengajaknya pulang bersama. Tapi bagaimana kalau nanti kim bum menunggunya.

“tidak usah jiyeon, kau pulang duluan saja.” Tolak so eun.

“kakakmu masih ada kelas, apa kau mau menunggunya. lagi pula belum tentu dia mengajakmu pulang bersama.”

“tidak apa – apa kau pulang duluan saja, kalau memang terpaksa pulang sendiri aku bisa naik angkutan umum kan.. sudah cepat pulang.”

“baiklah, aku pulang duluan so eun. hati – hati yaa.”

So eun melemparkan senyumnya pada jiyeon sambil melambaikan tangannya kearah jiyeon ketika jiyeon sudah keluar dari pintu kelasnya. sekarang apa yang akan dilakukan so eun, menunggu kim bum atau pulang duluan.

Oh jangan lagi, haruskah so eun menghampiri kim bum di kelasnya, dan bertanya apakah so eun harus menunggu kakaknya pulang untuk pulang bersama atau apa? so eun terlalu takut untuk melakukan hal semudah itu. Dia masih betah duduk di tempatnya dan berfikir apa yang harus dilakukannya sekarang. Hingga dia tak menyadari bahwa keadaan di dalam kelasnya sudah sepi.

“apa yang dilakukannya, apa dia tidak tau kalau sedari tadi aku menunggunya.” Gumam kim bum, dari luar ruang kelas so eun dan mengamati apa yang dilakukan gadis itu.

Astaga, jadi dari tadi kim bum sudah menunggu so eun, kenapa bisa. Ini bukan sikap asli kim bum, kemana kim bum yang biasanya dingin dan terkesan cuek pada sang adik. Biasanya kim bum tidak peduli pada so eun.

So eun melangkahkan kakinya keluar kelas, ketika menyadari bahwa teman – temannya sudah pulang semua sedari tadi.

“kakak, kau ada disini. Baru saja aku mau menghampirimu.” Sapa so eun pada kim bum yang sudah berada di depan kelasnya.

Kim bum sedikit kaget ketika so eun sudah berada di dekatnya apalagi menyapanya. Kapan bocah ini berjalan, bukankah tadi dia masih di dalam kelas. Kim bum, sebenarnya apa yang kau pikirkan, hingga kau tidak sadar seperti ini.

Seperti biasa kim bum tidak menjawab pertanyaan so eun, yang dia lakukan sekarang adalah berjalan ke tempat parkir mobilnya dan ingin segera pulang untuk menenangkan pikirannya.
So eun pun hanya memandang heran akan sikap sang kakak, yang sedikit berbeda ini. tapi so eun tidak begitu menghiraukannya dan memilih mengikuti langkah sang kakak dari belakang.

***

Ketika keduanya sudah sampai rumah, kim bum segera menuju kamarnya. Dia tidak menghiraukan teriakan sang ibu yang memintanya untuk makan bersama. Yang dia pikirkan sekarang ialah ingin cepat – cepat tidur dan melupakan apa yang dikatakan oleh min hoo tadi pagi.

“ada apa dengan kakakmu so eun? apa kalian bertengkar?” tanya tae hee pada anak perempuanya yang baru saja duduk di sebelahnya.

“aku tidak tau bu?”

“kenapa kau bertanya pada so eun, bukankah kim bum sudah biasa berperilaku seperti itu. Seperti baru pertama melihatnya saja.” Jawab nam gil, menanggapi pertanyaan istrinya.

Tae hee tidak yakin kalau kim bum sedang baik – baik saja, memang sikap kim bum yang seperti ini sudah sering di lihatnya, tapi tidak ada salahnya dia menanyakan pada kim bum, apa yang membuatnya selalu bersikap seperti ini. kalau tentang so eun lagi, tae hee tidak ingin masalah ini berlarut – larut. Kim bum dan so eun tidak boleh seperti ini. tidak boleh.

“kenapa tidak makan anakku, apa kau sedang sakit?” tanya tae hee setelah memasuki kamar putra pertamanya itu.

“ibu…” kim bum segera bangun dari tempat tidurnya ketika melhat sang ibu, masuk kedalam kamarnya.

“apa kau benar – benar marah pada kami, apa kau benar – benar tidak bisa menerimanya. Hingga kau membuat dirimu sendiri terluka seperti ini.”

Apa maksud tae hee, kenapa bicara seolah – olah kim bum terluka. Siapa yang terluka, jika yang ibunya maksud terbebani itu benar. Tapi kalau terluka…

“kim bum, ibu tau, kau benci dengan ayah dan ibu. Tapi ibu mohon jangan kau benci so eun, adikmu itu tidak bersalah. Coba kau pikir bagaimana dia bersikap baik padamu selama ini. apa kau masih tega bersikap, seolah – olah dia tidak ada. Dia sudah melakukan banyak hal terhadapmu.” Tutur tae hee pada anak laki – lakinya.

“ibu, apa aku benar – benar keterlaluan padanya. Sampai – sampai harus ibu sendiri yang menegurku?”

“keterlaluan atau tidak, hanya dirimu sendiri yang bisa merasakannya. Atau kalau kau mau tau lebih jelasnya lagi, coba saja tanyakan pada orang yang bersangkutan.”

“ibu boleh menyuruhku melakukan apapun sekarang. Tapi jangan suruh aku bicara padanya. Sudah cukup ibu dan ayah melakukan ini terhadapku. Sekarang ibu mau menyuruhku menanyakan hal – hal seperti ini padanya. Aku tidak mau.” Kesal kim bum. kenapa ibunya bisa menyuruh kim bum bertanya pada so eun, apa ibunya tidak tau kalau selama ini kim bum berusaha mati – matian untuk menjauhi gadis itu.

“sampai kapan kau mau begini nak. Kau tidak lihat bagaimana pengorbanan so eun selama ini. dia sudah berusaha menerima sikap dinginmu terhadapnya. Bahkan dia rela menyembunyikan status hubungannya denganmu. Dia selalu melakukan apapun yang menurutnya membuatmu senang. Jika kau berada di posisinya apa kau bisa melakukan ini semua.” Jelas tae hee.

sudah cukup sampai sini saja kim bum memperlakukan so eun seperti ini. ini semua harus di akhiri. Mau sampai kapan dua anak ini akan menjaga jarak. Kim bum harus merubah sikapnya. Kim bum harus mulai menerima so eun sekarang. Mau sampai kapan lagi, kim bum menganggap so eun tidak ada.

“cukup bu, aku tidak mau dengar apapun tentang dirinya. Aku tidak mau. Gara – gara dia masa mudaku jadi kacau dan berantakan.” teriak kim bum, yang mulai kesal dengan penjelasan sang ibu.

“kau sendiri yang membuat masa mudamu berantakan kim bum, bukan so eun.”

Tae hee, masih tetap tidak bisa melawan sikap keras dan sikap dingin kim bum. tae hee, masih tidak bisa menyuruh kim bum untuk menerima so eun. mungkin ini butuh waktu. Tapi mau sampai kapan. tae hee harus melakukan sesuatu agar kim bum menyadari kalau so eun adalah gadis yang baik dan tidak pantas untuk diperlakukan seperti ini oleh kim bum. kakaknya sendiri, bukan hanya kakak tapi lebih dari itu.

***

aku tidak mau melihatmu terluka, apa lagi sampai membuatmu merasa terbebani akan diriku. Jika memang dirimu tidak menginginkan kehadiranku kenapa dari dulu tidak bicara dan menolaknya. Kenapa hanya diam saja. ( so eun )

“kakak….” panggi so eun, ketika melihat kim bum tengah duduk termenung di teras rumahnya.

Pagi ini hari libur jadi kim bum dan so eun tidak pergi kuliah. Kim bum tengah duduk santai di teras rumahnya, entah kenapa hari ini kim bum tidak pergi. Biasanya dia tidak betah berdiam diri di rumah, mengingat ada so eun di rumah ini.

Kim bum, mendengar seruan gadis itu. Tapi seperti biasanya rasa malas menyerangnya untuk menanggapi apapun yang dilakukan oleh so eun.

“apa aku boleh duduk disini bersama denganmu?” tanya so eun, dan langsung duduk di sebelah kim bum tanpa mendapat persetujuan dari kim bum.

kim bum, tidak merespon apapun yang dilakukan oleh so eun, yang dilakukannya saat ini hanyalah berdiam diri seperti semula dan menatap lurus ke depan. Entahlah apa yang saat ini sedang ada dipikirannya.

“maafkan aku… maafkan aku…” gumam so eun.

“maafkan aku, gara – gara aku kakak jadi seperti ini. gara – gara aku, kau tidak bisa merasakan kesenangan seperti yang dialami oleh anak – anak remaja yang lainnya. Aku sungguh minta maaf, atas semua ini. kumohon jangan mendiamiku terus seperti ini.” so eun sudah tidak bisa menahannya lagi, so eun sudah tidak tahan mendapat perlakuan seperti ini dari kim bum. maka dari itu so eun memberanikan diri menyampaikan keluhannya pada kim bum.

So eun, sudah cukup sabar selama ini. apapun yang tidak diinginkan oleh kim bum, apalagi yang bersangkutan dengan so eun, sudah so eun coba untuk hindari. termasuk menyembunyikan status hubungan mereka kepada teman – temannya dan memilih melakukan sandiwara ini. walaupun tidak semua orang tau akan sandiwara mereka.

“kenapa kakak, tidak mengatakannya dari dulu. Jika kakak mengatakannya pasti aku akan menolaknya dan menyuruh mereka tidak melakukan semua ini. bagaimanapun aku tidak mau menjalani sandiwara ini lagi. aku sudah tidak sanggup menerima sikap dinginmu terhadapku. Lebih baik kita akhiri saja semua ini.” lanjut so eun, dengan air mata yang sudah membanjiri matanya.

Entah saat ini kim bum mendengar keluhan so eun ini apa tidak, yang pasti so eun sudah mengungkapkan semua yang mengganjal dalam hatinya. Jika kim bum masih punya hati pasti kim bum akan memberikan respon terhadap apa yang diucapkan so eun barusan.

Pandangan kim bum tetap lurus kedepan, tidak sekalipun dia menoleh kearah so eun. apa yang bisa dilakukan kim bum sekarang dengan keluhan yang telah diucapkan so eun. jangankan untuk memberikan jawaban pada so eun, memberikan jawaban untuk dirinya sendiri saja dia masih bingung.

Pendengaran kim bum menangkap suara tangis so eun, yang saat ini sedang duduk disebelahnya. Oh, tidak.. jangan lagi. Jangan seperti ini, jangan membuat kim bum menjadi orang yang jahat lagi. Sebenarnya kim bum tidak tega mendengar so eun menangis seperti sekarang tapi hati kim bum masih berat untuk menerima so eun.

“jangan begini… kumohon” ucap so eun disela – sela tangisnya sambil menahan tangan kim bum yang hendak beranjak dari tempat duduknya sekarang.

Kim bum melihat tangan so eun yang menggenggam pergelangan tangannya. Kemudian pandangannya beralih kearah mata so eun yang saat ini merah dan berair. Kim bum semakin tidak tega saja dengan keadaan yang seperti ini. kenapa bisa begini, bukankah biasanya so eun tidak seperti ini. kemana so eun yang ceria ketika dihadapan orang lain. Walaupun kim bum sendiri tau bahwa apa yang dilihatkan oleh so eun selama ini adalah sandiwara belaka.

“kakak, bicaralah… kumohon, bicara padaku” mohon so eun, sambil mencengkram erat tangan kim bum lebih kuat lagi, seakan – akan so eun tidak mau kim bum meninggalkannya.

Kim bum menghela nafasnya panjang, dia pandangi lagi wajah sedih so eun. hatinya belum bisa diajak untuk berkompromi. Mau berapa kali so eun memohon pun rasanya tetap sulit untuk kim bum melakukan apa yang diminta so eun. walaupun hanya sekedar mengeluarkan suaranya. Kim bum melepaskan cengkraman so eun dari tangannya dengan pelan. Sambil menggeleng. Dan pergi meninggalkan so eun.

“kakak… kenapa?” gumam so eun.

So eun tidak menyangka sikap kim bum tetap sedingin ini terhadapnya, padahal so eun sudah memohon padanya. Harus bagaimana lagi so eun berbicara dengan kim bum agar kim bum mau menerima so eun. apa kim bum benar – benar tidak akan bisa menerima so eun selamanya. Lalu bagaimana dengan janji itu. Bagaimana dengan janji yang diucapkan kim bum pada so eun. walaupun so eun tau, bahwa kim bum terpaksa mengucapkan janji itu. Tapi tidak seharusnya kim bum mengingkari janji tersebut kan.

“aaarrrrrgggghhhhhhhh…..” teriak kim bum di dalam kamarnya.

Kenapa bisa seperti ini, kenapa semuanya jadi rumit seperti ini. ini semua gara – gara so eun. andai saja so eun tidak masuk dalam kehidudan kim bum, mungkin kim bum tidak akan seperti ini. dan menjadi orang yang jahat.

Kim bum membuka laci meja, yang ada disamping tempat tidurnya dan mengambil sebuah bingkai foto yang ada di laci tersebut dan langsung membantingnya kelantai hingga membuat kacanya pecah dan berserakan dimana –mana.

“aku benci semua ini. aku benci…” teriak kim bum.

“kim bum apa yang kau lakukan?” tanya sang ayah yang saat ini sudah berada di dalam kamar kim bum dan kaget ketika melihat pecahan kaca berserakan dimana – mana. Tae hee pun juga kaget sama seperti suaminya ketika melihat keadaan kamar kim bum.

“kim bum, ada apa lagi ini?” tanya tae hee, yang benar – benar bingung dengan apa yang dilakukan oleh kim bum.

“aku benci kalian semua, aku membenci semua orang yang ada dirumah ini.” teriak kim bum. kali ini kim bum benar – benar marah. Amarah yang selama ini ditahannya akhirnya keluar juga.

“apa yang kau bicarakan. Apa maksudmu membenci kami hah?” tanya nam gil, yang mulai geram dengan sikap kim bum yang dirasanya sudah sangat keterlaluan seperti ini.

“ini semua gara – gara ayah. jika ayah tidak melakukannya, aku tidak akan tersiksa seperti ini.” jawab kim bum, dengan kerasnya.

“bocah gila, apa aku pernah mengajarimu bicara tidak sopan seperti ini. apa yang kau bicarakan hah…” bentak nam gil.

“ini semua gara – gara kalian” teriak kim bum lagi.

“berhenti berteriak pada orang tuamu kim bum.” teriak nam gil dan langsung menampar wajah kim bum. nam gil sudah tidak bisa mengendalikan emosinya. Kim bum sudah keterlaluan. Tidak seharusnya kim bum berbicara keras pada orang tuanya seperti ini.

Tae hee yang kaget melihat suaminya menampar kim bum, langsung mendekati suaminya dan mengajak nam gil pergi dari kamar kim bum agar bisa menenangkan suaminya itu. Tidak seharusnya ayah dan anak bertengkar seperti ini.

So eun yang melihat kejadian tadi dari balik pintu, hanya bisa menangis. Ini semua gara – gara so eun, tidak seharusnya so eun memaksa kim bum untuk menerimanya. Pasti kim bum tidak suka, hingga kim bum marah seperti tadi.

So eun melihat kim bum yang masih menunduk sambil memegangi pipinya, pasti sakit. Karena menurut so eun tamparan yang diterima kim bum tadi lumayan keras. So eun ingin melangkahkan kakinya mendekati kim bum. tapi so eun takut kim bum tidak menyukai hal itu. Jadi so eun putuskan untuk pergi kekamarnya.

“tidak seharusnya kau bersikap kasar seperti itu pada kim bum.” ucap tae hee, berusaha menenangkan suaminya.

“anak itu pantas untuk dipukul, dia sudah keterlaluan.”

“kim bum memang keterlaluan, tapi kau juga tidak boleh memukulnya seperti tadi.”

“lalu aku harus bagaimana? Kim bum sudah tidak bisa dinasehati dengan cara baik – baik. Anak itu sudah benar – benar keterlaluan.”

“aku yakin kim bum tidak membenci kita. Aku rasa kim bum juga tidak membenci so eun. hanya saja dia butuh waktu untuk menerima semua ini.”

“sampai kapan dia bisa menerimanya. So eun saja, bisa sabar menerima sikap dingin dari kim bum. kenapa kim bum tidak bisa.”

Yaa, seharusnya kim bum bisa menerima so eun. bukankah selama ini so eun juga bisa menerima kim bum. memangnya hanya kim bum saja yang tesiksa dengan semua ini, so eun pun juga.

Sekarang so eun berada dikamarnya. Duduk di tempat tidurnya dan memandangi dua bingkai foto yang berada disamping tempat tidurnya. Dan salah satu foto yang dipandangi so eun saat ini sama dengan foto yang dihancurkan kim bum tadi.

“aku juga tidak menginginkannya, sama sepertimu. Tapi keadaan yang memaksaku untuk menerimanya.” Gumam so eun. sambil memegangi kedua foto yang dipandanginya itu.

“jika sebelumnya kau tidak menerimanya pasti aku juga akan menolak. Aku tidak tau jika kau sangat membenciku.” Gumam so eun lagi.

Saat ini kim bum tengah berbaring ditempat tidurnya. otaknya benar – benar berpikir keras. jika saja dia tidak datang, dan jika saja janji itu tidak diucapkan pasti semua ini tidak akan jadi seperti ini. dan kim bum pun pasti tidak akan membenci so eun. so eun juga tidak perlu susah – susah untuk bersandiwara seperti sekarang. Hubungan macam apa itu adik kakak, bagaimana seorang kakak bisa selau menghindari adiknya. Benar – benar sandiwara yang sangat bodoh.

“maafkan aku so eun, harusnya aku memang tidak melakukan ini terhadapmu.” Gumam kim bum

perkataan dari min hoo kembali lagi muncul ke dalam otaknya. Rasanya memang benar, kim bum belum tentu bisa menerima sikapnya yang dingin seperti ini jika kim bum berada di posisi so eun.

Harusnya kim bum memang, harus lebih mengerti, kalau semua ini bukan salah so eun. bukan so eun yang membuat hidup kim bum berantakan tapi kim bum sendiri. Bukankah ibunya sudah mengatakan kalau so eun itu gadis yang baik. Bahkan kim bum sendiri juga sudah melihatnya kan. Lalu sekarang kim bum harus bagaimana.

Mungkin pergi dari kehidupanmu adalah jalan yang terbaik untuk kita berdua. Tapi bagaimana dengan janji itu. Apa kita harus memutuskan ikatan janji itu. ( so eun )

….. tbc…..

maaf jika part ini ceritanya tidak terlalu panjang, karena aku memang sengaja ingin membuat inti cerita di part 3. jadi aku berharap banyak coment di part ini agar aku tambah semangat melanjutkan part 3’nya. jika coment yang muncul di part ini kurang dari 10, kemungkinan untuk melanjutkannya juga agak lama. jadi mohon comentnya yaa chingu…

Theatrical Love

Posted: 1 Februari 2013 in FF BUMSSO
Tag:

Cover

aku bawa fanfic dengan judul baru chingu, karena fanfic pertamaku sudah mau berakhir jadi aku buat fanfic baru lagi. fanfic ini terilhami dari kisah nyata chingu. jadi kalau misalnya ceritanya tidak sesuai dengan keinginan para reader aku mohon maaf. jika banyak yang suka dengan fanfic baruku ini aku bakalan lanjutkan ceritanya, tapi jika tidak ya terpaksa aku hentikan. happy reading.. 🙂

Cast : Kim Sang Bum, Kim So Eun
Support Cast : Kim Nam Gil, Kim Tae Hee, Lee Min Hoo, Park Jiyeon, Jung Eun Ji

Sebenarnya aku tak ingin membencinya. tapi karena dia aku tidak bisa mendapatkan kebebasan seperti halnya anak – anak yang lain. Apa aku harus selalu menjaganya? Itu janji mereka bukan janjiku, kenapa harus aku yang menanggung semuanya. ( Kim Bum )

***

Sepasang suami istri sedang duduk berdua di teras rumahnya sambil melihat tanaman – tanaman hias yang di tanam di samping rumahnya. Matahari sudah hampir tenggelam, mengisyaratkan bahwa sebentar lagi langit akan berubah gelap. Sang suami meraih cangkir kopi yang ada di atas meja disebelahnya kemudian meneguk kopi itu. Sesekali sang istri menghela nafas panjang.

“dia sudah beranjak menjadi gadis dewasa sekarang” gumam sang istri, melepas kesunyian yang sedari tadi mencekam keduanya. Sang suami pun hanya bisa menghela nafas panjang seperti yang dilakukan sang istri sebelumnya.

Seorang gadis membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalam. Dia sudah hafal betul bila orang tuanya itu pasti tidak akan pernah mengunci pintu jika dia dan kakaknya belum pulang.

“ibu dan ayah disini” ucap gadis itu, ketika melihat ayah dan ibunya sedang bersantai di teras rumahnya. Kedua orang tua itu pun menoleh ketika mendengar suara sang putri.

“kau sudah pulang sayang, kau mau makan apa biar ibu buatkan?”

“apapun yang ibu buatkan untukku, aku akan memakanya dengan senang hati” ucap gadis itu sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang menambah kecantikan di wajahnya. Sang ibu hanya bisa membelai lembut rambut putrinya sambil berjalan meninggalkan suami dan anaknya.

“apa kau pulang sendiri lagi?” tanya kim nam gil pada anak perempuannya itu. Yang di tanya bukannya menjawab malah menundukkan kepalanya.

“anak itu benar – benar keterlaluan, kenapa selalu membiarkanmu pulang sendiri.”

***

Di sebuah club seorang pria tengah meneguk segelas minuman beralkohol, sambil menikmati alunan musik yang berdentum keras di penjuru ruangan. Hari ini dia ingin menyenangkan hatinya terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah yang dianggapnya lebih mirip seperti penjara.

“kau tidak pulang kim bum?” tanya seorang pria pada sahabatnya bernama kim bum itu.

Kim bum kembali menegak minumannya lagi, entah sudah gelas keberapa dia meminumnya tapi tetap saja minuman itu tidak membuatnya senang. Pertanyaan min hoo sahabatnya pun rasanya enggan untuk dijawabnya.

“hei, aku bertanya padamu. Kenapa tidak menjawabnya” kesal min hoo karena tidak dihiraukan oleh sahabatnya itu.

“apa kau lupa kalau aku sangat malas untuk pulang ke rumah itu” ucap kim bum dan lagi – lagi meneguk minumannya, tapi kali ini langsung dari botolnya.

Min hoo merebut botol minuman dari tangan kim bum, sehingga sebagian minuman itu tumpah ke baju kim bum.

“berhenti meminum minuman ini” bentak min hoo, yang mulai kesal pada tingkah kim bum.

“kenapa kau melarangku meminumnya, aku tidak akan mabuk. Tenang saja aku pasti membayar semuanya” ucap kim bum dengan santainya.

Min hoo menggelengkan kepalanya, tanda bahwa dia tidak bisa melarang kim bum melakukan kesenangannya. Min hoo memang tau kalau kim bum tidak akan mabuk, mengingat kim bum adalah peminum berat. Yang min hoo tidak tau masalah apa yang membuat kim bum sampai seperti ini.

Saat ini suasana hati kim bum benar – benar kacau, sebenarnya tidak hari ini saja kim bum seperti ini. Kemarin – kemarin pun pikiran kim bum selalu kacau, haruskah kim bum selalu berbuat seperti ini. Walaupun rasanya enggan beranjak dari tempat itu tapi kim bum harus tetap pulang kan.

“anak itu, benar – benar membingungkan” gumam min hoo ketika melihat sahabatnya meninggalkan dirinya tanpa berpamitan padanya.

***

Kim bum menghentikan mobilnya ketika sudah sampai rumahnya, dia turun dari mobilnya dan perlahan menuju pintu rumahnya. Dia mencoba membuka pintu rumahnya, tapi ternyata pintunya terkunci. Kim bum heran, tidak biasanya ibunya mengunci pintu kalau dirinya belum pulang.

Kim bum menekan bel rumahnya, dan tidak butuh waktu lama pintu pun terbuka. Kim bum melihat seorang gadis yang saat ini membukakan pintu untuknya dan berdiri tepat dihadapanya sekarang.
Gadis ini lagi, rasanya kim bum enggan untuk melihat wajahnya. Jangankan melihat wajahnya, memikirkannya saja rasanya membuat kim bum pusing.

“kakak dari mana? Ayah dan ibu sudah menunggumu dari tadi.” Gadis itu benar – benar memberanikan dirinya untuk bertanya pada kim bum.

Kim bum tidak menjawab pertanyaan gadis itu, dia melangkahkan kakinya untuk menuju kamarnya. Kim bum tidak ingin menemui orang tuanya, karena dia yakin pasti orang tuanya itu akan menceramahinya panjang lebar. karena kim bum sudah membiarkan anak emas orang tuanya pulang kuliah sendiri.

“selalu saja seperti ini, kenapa dia selalu dingin padaku” gumam gadis itu, sambil kembali menutup pintu.

Ketika kim bum hendak menuju kamarnya, ayahnya sudah terlebih dahulu mencegahnya.

“dari mana saja kau ini?, kenapa membiarkan adikmu pulang sendirian. Bagaimana kalau terjadi apa – apa padanya”

Sebenarnya kim bum malas untuk menjawab ataupun menanggapi perkataan sang ayah, tapi kim bum hafal betul dengan karakter sang ayah. Ayah kim bum tidak akan membiarkannya pergi sebelum kim bum menjawab pertanyaan yang diajukan oleh ayahnya tadi.

“dia sudah dewasa ayah, jadi untuk apa aku selalu menjaganya” jawab kim bum, seharusnya kim bum tau kalau jawabanya itu tidak akan membuat ayahnya senang.

“kau ini, walaupun dia sudah dewasa tapi so eun adalah tanggung jawabmu” bentak nam gil, kali ini lebih keras.

“dia bukan tanggung jawabku, tapi tanggung jawab ayah dan ibu” ucap kim bum dengan santainya, dan berjalan kembali menuju kamarnya.
Kim bum tidak ingin membalas amarah ayahnya dengan amarah juga, lebih baik dia bersikap santai saja dan segera menjauh dari ayahnya. itu akan jauh lebih baik untuk kim bum, dari pada harus berdebat terus dengan ayahnya. kim bum bahkan sudah capek jika harus bertengkar setiap hari dengan sang ayah hanya gara – gara masalah itu lagi.

“kau selalu saja membuatku marah dengan kelakuanmu itu kim bum.” nam gil benar – benar tidak habis pikir dengan kim bum, kenapa kim bum selalu bersikap dingin dan terkesan tidak peduli pada so eun.

“suamiku, tenangkan dirimu. Jangan terlalu keras pada kim bum, apa kau lupa dengan sifat kim bum. anak itu tidak akan pernah mendengar perkataanmu kalau kau terlalu kasar padanya” ucap tae hee mencoba meredam kemarahan suaminya pada kim bum.

“tapi anak itu benar – benar sudah keterlaluan, tidak seharusnya dia bersikap dingin terus menerus pada so eun.”

So eun yang sedari tadi melihat dan mendengar perdebatan antara ayah dan kakaknya pun hanya bisa diam. Harus bagaimana lagi, harus berbuat apa dirinya kalau sudah begini. Kenapa dirinya selalu membuat masalah. Kenapa so eun harus selalu membuat kim bum dan ayahnya bertengkar.

So eun memasuki kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur miliknya. Rasanya sedih sekali jika selalu melihat pertengkaran seperti tadi. Apalagi jika harus melihat sikap dingin kim bum pada dirinya. Selalu.

***

Aku tidak pernah membencimu, hanya saja aku belum siap dengan semua ini. Semua ini terlalu berat untukku. Kau terlalu membebani hidupku, andai saja kau tidak pernah hadir dalam hidupku mungkin hidupku tidak akan sekacau ini. ( kim bum )

Kim bum keluar dari kamarnya, tenggorakannya terasa kering sekali saat ini jadi dia memutuskan untuk mengambil air di dapur. baru saja kim bum melangkahkan kakinya keluar dari kamar, telinganya sudah menangkap suara yang aneh. Suara itu berasal dari ruangan yang berada di sebelah kamarnya.

Suara tangis. Tangisan gadis itu, tangisan gadis yang membuat hidup kim bum berantakan. Kim bum mencoba untuk tidak mempedulikannya, tapi hati kecilnya menyuruhnya untuk mengetahui apa yang membuat gadis itu menangis.

“kenapa…. kenapa harus aku yang mengalami semua ini. kenapa kau membuat hidupku seperti benalu, yang selalu menyusahkan orang lain. Mereka sudah baik padaku, tapi kenapa aku membuat keluarga ini hancur.” Suara ini berasal dari kamar so eun. kim bum yakin suara itu milik so eun, siapa lagi yang menangis malam – malam begini kalau bukan gadis itu.

Kim bum yang sengaja berdiri di depan pintu so eun, dengan jelas mendengar ucapan so eun barusan. Gadis itu pasti sedih, pikir kim bum.

***

Pagi – pagi sekali tae hee sudah menyiapkan makanan untuk sarapan suami dan anak – anaknya.

“ibu, kenapa melakukan semua ini sendirian. Kenapa tidak menyuruhku untuk membantu.” Kesal so eun ketika melihat ibunya menyiapkan makanan sendiri.

“ibu tidak mau kau kecapekan gara – gara membantu ibu sayang, tugasmu itu hanya untuk belajar, bukan untuk melakukan hal – hal seperti ini.”

“ibu, aku kan juga ingin membantu ibu.”

Tae hee tersenyum melihat muka masam so eun, gadis ini benar – benar sangat baik. Tidak pernah mengeluh, dan tidak pernah marah. Tae hee merasa kasihan pada so eun, walaupun dari luar so eun terlihat ceria tapi pasti hatinya sangat sedih. Tae hee yakin itu.

“sayang, bantu ibu bangunkan kakakmu ya.” Pinta tae hee.

“baik ibu.” So eun langsung menuruti perintah ibunya.

So eun tidak pernah menolak apapun yang diperintahkan oleh orang tuanya, walaupun perintah itu rasanya berat untuk dilakukan. Harusnya so eun menolak jika memang dia tidak mau melakukan hal – hal yang menurut dia berat untuk dilakukan, tapi sudah pasti so eun tidak bisa menolak.

“aku tau kau pasti sedih dengan sikap kim bum selama ini. aku tau kau pasti takut dengannya, tapi aku ingin kau sendiri yang membuat kim bum mengerti bahwa dirimu itu ada sehingga kim bum tidak mengacuhkanmu terus seperti ini.” batin tae hee ketika melihat so eun melangkah menjauh darinya.

So eun sudah sampai di depan pintu kamar kim bum, jantungnya berdegup kencang sekali. Keringat dingin mulai mengucur dari dahinya. Astaga. Hanya masuk ke kamar kakaknya, kenapa harus setakut ini. so eun memegang gagang pintu kamar kim bum dan mencoba membukanya, tidak terkunci.

So eun sudah berhasil membuka pintu kamar kim bum, so eun bisa melihat jelas tubuh kim bum yang saat ini berbaring di tempat tidurnya. So eun melangkahkan kakinya untuk mendekati tempat tidur kim bum. so eun menghela nafas panjang, dia bisa dan pasti bisa. Hanya membangunkan kim bum saja memangnya apa susahnya, kenapa harus setegang ini.

“kakak… bangun.” Bagaimana kim bum bisa bangun kalau cara membangunkannya seperti orang berbisik.

“kakak ayo bangun.” Kali ini so eun mengeraskan suaranya sambil mengguncang tubuh kim bum pelan.

Kim bum menggerakkan tubuhnya, dan mulai membuka matanya. Kim bum kaget ketika melihat so eun berada di kamarnya. Gadis ini membangunkannya, dapat keberanian dari mana dia sehingga bisa memasuki kamarnya.

“ayah dan ibu sudah menunggu kakak di ruang makan.” Ucap so eun hati – hati.

Kim bum beranjak dari tempat tidurnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurnya. Sekali lagi dia mengacuhkan so eun. kim bum benar – benar menganggap so eun tidak ada, apapun yang dilakukan dan bagaimanapun bentuknya kim bum tidak pernah melihat so eun.

So eun hanya bisa tersenyum melihat sikap kim bum yang seperti itu, sudah biasa untuknya diacuhkan oleh kakaknya.

“dia tidak membencimu so eun. kalau dia membencimu pasti dia sudah membentakmu.” gumam so eun.

Bagaimana bisa membentak, kalau untuk mengeluarkan suara saja rasanya enggan. Kim bum bahkan tidak pernah mengeluarkan suaranya untuk so eun. sekalipun tidak pernah.

So eun membereskan tempat tidur kim bum yang berantakan, sudah sewajarnya kan seorang adik membantu kakaknya.

Kim bum keluar dari kamar mandi, dan melihat so eun masih berada di kamarnya bahkan membereskan tempat tidurnya yang berantakan. gadis ini benar – benar tangguh, dia bahkan masih bertahan walaupun kim bum sudah mengacuhkannya.

“kakak sudah selesai mandinya. Maaf, tempat tidurnya berantakan jadi aku bereskan.” Ucap so eun ketika melihat kim bum sudah keluar dari kamar mandi.

Kim bum melihat so eun sebentar kemudian menunjuk pintu kamarnya dengan dagunya. So eun pasti tau maksud dari gerakan tubuh kim bum itu.

“baiklah.” So eun tau kalau kim bum tidak suka kalau dirinya terlalu lama di kamar kim bum. maka dari itu so eun cepat – cepat keluar dari kamar kim bum. walaupun di dalam sudah tidak kuat, tapi jangan sampai terlihat jelas dari luar.

***

Kim bum dan so eun kuliah di tempat yang sama. sebenarnya so eun menolak ketika ayahnya menyuruh dia kuliah di tempat yang sama dengan kim bum tapi ayahnya tetap memaksa. Bermacam alasan yang dituturkan so eun pada sang ayah agar dia bisa beda fakultas dengan kim bum tapi hasilnya tetap saja nihil.

Seperti halnya saat ini, ayahnya memaksa so eun untuk berangkat bersama dengan kim bum. walaupun so eun menolak tapi tetap saja ayahnya terlalu kuat untuk di lawan.

Harusnya so eun lebih pandai lagi merayu sang ayah untuk mengijinkannya naik kendaraan umum. Dari pada seperti ini diam – diaman di dalam mobil bersama kim bum. anehnya hari ini kim bum tidak membantah perkataan sang ayah seperti biasanya.

Kim bum dan so eun sudah sampai di kampus, sesegera mungkin so eun keluar dari mobil kim bum. dan tidak lupa dia mengucapkan terimakasih pada kakaknya itu. Walaupun so eun tau kalau kim bum tidak akan pernah merespon apapun yang akan dilakukan oleh so eun tapi tetap saja dirinya harus mengucapkan terimakasih pada kim bum.

***

Kim bum melangkahkan kakinya menuju kelas, di dalam kelasnya sudah ada min hoo yang dari tadi menunggunya.

“tumben sekali kau berangkat dengan adikmu, biasanya kalian berangkat sendiri – sendiri. Apa ayahmu memaksamu lagi?” ucap min hoo yang merasa heran ketika melihat kim bum berangkat ke kampus bersama dengan so eun.

“aku tidak mau membahas apapun tentangnya, jadi lebih baik kau diam saja.” Jawab kim bum ketus.

“tidak seharusnya kau bersikap seperti ini padanya, apa kau tidak kasihan padanya. Jika kau berada di posisinya apa kau bisa kuat sepertinya. Lebih baik terimalah dia, toh selama ini dia juga tidak menyusahkanmu.”

Kim bum terdiam mendengar nasehat dari min hoo, mungkin memang keterlaluan sekali. Tapi inilah cara kim bum melampiaskan kekesalan pada orang tuanya. Yaitu melalui so eun. menurut pandangan orang, so eun memang tidak menyusahkan kim bum. karena pada dasarnya memang tidak. Tapi lain halnya untuk kim bum.

“lalu aku harus bagaimana, menanggung semuanya. Menanggung semua janji yang tidak pernah aku ucapkan. Aku belum siap.. belum siap min hoo.” Ucap kim bum lemas.

“apa maksudmu, menanggung apa janji siapa? Kau ini aneh sekali aku hanya menyuruhmu bersikap baik pada adikmu, adik kandungmu. Kenapa rasanya susah sekali. Mana ada seorang kakak yang bersikap dingin pada adiknya.” Min hoo heran dengan kim bum, benar – benar heran.

“kau tidak mengerti dan tidak akan pernah mengerti dengan kehidupanku. Jadi lebih baik kau diam saja.”

“baiklah… baiklah, aku tidak akan mencampuri urusanmu.” Kesal min hoo.

Kalau dipikir – pikir aneh memang jika melihat kim bum dan so eun. sebenarnya hubungan mereka itu bagaimana. Mana ada seorang kakak yang bersikap dingin pada adiknya. Mana ada seorang kakak yang berusaha mati – matian menjauh dari adiknya. Mana ada seorang kakak yang selalu menganggap adiknya tidak ada.

***

“kau berangkat dengan kakakmu?” tanya park jiyeon sahabat so eun. so eun menganggukan kepalanya untuk jawaban dari pertanyaan jiyeon barusan.

“berarti kau dan kakakmu sudah akrab?” tanya jiyeon lagi. Dan kali ini so eun menggelangkan kepalanya, tanda dia tidak menyetujui dengan anggapan jiyeon.

“kalau begitu kenapa dia mau berangkat bersamamu?” sambung jiyeon lagi penasaran.

“ayah yang memaksanya.” Jawab so eun lemas.

Tidak semua orang mengetahuinya, tidak semuanya. Hanya jiyeon dan min hoo yang mengetahui kalau kim bum dan so eun adalah saudara. Tidak ada yang lain selain mereka berdua.

“ada hubungan apa kau dengan kim bum?” tanya seorang gadis yang saat ini sudah berdiri di samping so eun dan jiyeon duduk.

So eun melihat kearah gadis yang dirasa so eun pasti bertanya padanya. Kesan pertama yang dilihat so eun pada gadis itu adalah cantik dan angkuh. Jung eun ji senior so eun. so eun tau apa yang membuat gadis ini menghampirinya.

“aku bertanya padamu, kenapa kau diam saja?” gadis ini nampaknya benar – benar kesal, karena so eun tidak menjawab pertanyaanya.

“kenapa datang – datang membuat keributan. Ini bukan kelasmu, jika kau mau bertanya. Bertanyalah yang sopan jangan berteriak – teriak seperti ini.” jawab jiyeon yang kesal dengan eun ji.

“diam kau, aku tidak punya urusan denganmu. Urusanku dengan dia.” Ucap eun ji sambil menunjuk kearah so eun.

“kalau kau ingin tau, lebih baik kau tanya saja pada kim bum. kenapa kau bertanya padanya. Sudah pergi sana.” Bentak jiyeon sambil mendorong tubuh eun ji keluar dari ruang kelasnya.

Jiyeon berhasil mengusir eun ji dari ruang kelasnya. jiyeon berbalik dan mendapati so eun tetap tenang duduk di tempatnya. Jiyeon kagum pada so eun, sahabatnya itu selalu bersikap tenang jika berhadapan dengan orang.

So eun memang tampak tenang jika di hadapan orang lain, tapi tidak jika dia sedang sendirian. So eun hanya pura – pura, semua yang dilakukannya ini adalah ke pura – puraan yang so eun sendiri tidak tau kapan dia bisa jujur pada dirinya sendiri dan orang lain.

“kau tidak apa – apa? gadis itu sudah pergi.”

“jiyeon, haruskah aku berkata yang sebenarnya. Aku sudah tidak kuat dengan ini semua. Sampai kapan aku harus memendam ini semua.” Batin so eun. sambil memeluk jiyeon yang sudah berdiri di hadapannya.

***

Eun ji benar – benar kesal dengan gadis itu, gadis yang tadi pagi telah dilihatnya satu mobil dengan kim bum. siapa gadis itu dan ada hubungan apa gadis itu dengan kim bum. kenapa gadis itu bisa satu mobil dengan kim bum.

Setau eun ji, kim bum tidak akan semudah itu dekat dengan orang yang tidak memiliki hubungan apa – apa dengan dirinya. Di kampus saja hanya min hoo lah orang yang paling dekat kim bum, lalu siapa gadis itu?

“kalian berdua sepertinya serius sekali?” tanya eun ji pada min hoo dan kim bum. ketika dirinya telah sampai di kelasnya.

Kim bum menatap enggan kearah eun ji, gadis ini lagi. Tidak bisakah eun ji tidak membuatnya bertambah kesal. Kim bum sudah terlalu pusing, dengan masalahnya di rumah. Kenapa harus ditambah lagi.

“lebih baik kau pergi saja, kim bum tidak mau bicara dengan siapapun?” jawab min hoo.

“memangnya kau kenapa kim bum, apa kau sakit?” ucap eun ji, sambil menempelkan tangannya ke dahi kim bum. tapi dengan cepat kim bum menepisnya. Dan pergi meninggalkan eun ji dan min hoo.

“aish, ada apa dengannya?” gerutu eun ji.

“bukannya aku sudah bilang, dia tidak mau bicara dengan siapa pun.”

“min hoo, apa kau tau siapa gadis yang tadi pagi berangkat bersama kim bum?” tanya eun ji penasaran. Seharusnya eun ji bertanya pada orang yang tepat, karena bertanya pada min ho yang statusnya adalah sahabat baik kim bum. pasti kim bum selalu menceritakan apa pun pada min hoo.

“kenapa kau tidak tanya sendiri pada kim bum. kenapa bertanya padaku.” Jawab min hoo sekenanya.

“Kenapa semuanya jadi menyebalkan. Tadi teman gadis itu dan sekarang min hoo.” Batin eun ji. Apa semua orang harus bersikap seperti ini pada eun ji. Eun ji benar – benar penasaran sekarang. Lalu apa hubungan kim bum dengan gadis itu apa tidak ada satupun orang yang akan memberitahunya.

*** TBC ***