Arsip untuk April, 2014

Secret Love (part 7)

Posted: 27 April 2014 in FF BUMSSO
Tag:

cats

Part 7

 

 

Bahu kokoh itu semakin berguncang hebat, kekesalan melanda dirinya. Bukan hanya kekesalan tapi juga kekecewaan dan keputus asaan dan juga jangan lupakan kesedihan. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu seolah mampu memecahkan kepalanya saat ini juga. Rasa sakit di dalam hatinya semakin menjadi – jadi. Perasaan tidak terima dan marah masih menghantui dirinya sejak kepergian sang kakak beberapa waktu yang lalu, tubuh itu bahkan terasa enggan hanya untuk sekedar beranjak dari tempat duduknya. Benarkah ini takdirnya.

 

“Aku mencintainya, benar – benar mencintainya.” Teriak Kim bum di dalam hatinya. Cairan bening kembali menerobos kelopak matanya. Jika ada orang yang melihat kondisi Kim bum saat ini, pasti orang itu akan mengira bahwa Kim bum hanyalah seorang manusia yang sangat rapuh dan terlalu mendramatisir keadaan. Bagaimana bisa seorang pria sejati seperti dirinya menangis hanya karena seorang wanita yang sudah jelas tidak bisa diraihnya.

 

~~~

 

So eun baru saja kembali dari berbelanja, bahan – bahan belanjaan yang sedari tadi memberatkan kedua tangan kecil itu segera diturunkannya di meja dapur. Rumah tampak sepi, seperti tidak ada hawa kehidupan di dalamnya, kemana perginya dua orang pria yang menghuni rumah ini ketika So eun pergi berbelanja.

 

So eun melangkahkan kakinya mencari dua sosok pria yang memiliki ciri – ciri fisik yang serupa itu, ya..Tentu saja dua orang pria itu adalah suami dan juga adik iparnya. Entah setan dari mana yang membawa langkah kaki So eun untuk menuju kesebuah kamar yang seharusnya tidak dia datangi. Tidak ada larangan sebenarnya untuk mengunjungi kamar tersebut, mengingat rumah ini juga sudah menjadi rumah So eun. Tapi tidak baik saja jika So eun lebih memilih melihat adik iparnya terlebih dahulu dibandingkan suaminya, bukankah ini aneh.

 

So eun menyentuh gagang pintu dan memutarnya, tidak ada perasaan canggung sama sekali ketika So eun mendapati pintu kamar itu tidak terkunci. Didorongnya pintu kamar tersebut setelah sebelumnya So eun berhasil memutar gagang pintunya.

 

“Kupikir kau sedang tidak ada dirumah Kim bum-ssi.” Ucap So eun ketika berhasil membuka pintu kamar yang ternyata milik adik iparnya itu, dan mendapati sesosok pria yang tengah berdiri membelakangi tubuhnya.

 

“Dia memang tidak ada di sini.” Jawab pria tersebut, dan membalikkan badannya untuk menghadap So eun.

Gadis itu reflek memundurkan tubuhnya, ketika menyadari kesalahan yang dia lakukan.

 

“Oppa… a-apa yang kau lakukan?” Suara So eun tidak keluar dengan lancar, tapi tentu saja masih bisa didengar oleh sang suami.

So eun mengira pria yang saat ini ada di depannya itu adalah adik iparnya, tapi ternyata dugaannya itu salah besar ketika mendapati bahwa suaminya lah yang saat ini sedang berdiri menghadap dirinya sambil tersenyum kearahnya. So eun masih belum bisa membedakan antara Kim bum dan juga Ki bum. Seharusnya So eun sudah bisa lebih peka dengan perasaannya sekarang, walaupun mereka kembar bukankah mereka tetap memiliki perbedaan.

 

“Aku tidak suka melihat oppa memakai baju dan minyak wangi itu.” Kesal So eun, dan membalikkan tubuhnya berniat meninggalkan suaminya yang masih setia berdiri ditempatnya semula dengan senyuman yang membuat So eun sedikit takut.

 

“Apa karena ini milik adikku?” pertanyaan dari Kim bum mampu membuat So eun menghentikan langkahnya. Gadis itu berbalik menatap suaminya kembali. Dan senyuman itu masih ada di wajah tampan milik suaminya. So eun benar – benar tidak suka melihat senyum itu.

 

“Aku tidak suka oppa, tidak peduli itu milik siapa. Aku tidak suka melihat oppa menggunakan apapun yang bukan milikmu.”

 

Ki bum tersenyum mendapati reaksi berlebihan dari istrinya. Ki bum mendekati So eun dengan perlahan. Dilepaskannya kemeja milik sang adik yang sedari tadi melekat di tubuhnya, dan hanya menyisakan sebuah kaos dalaman berwarna hitam tanpa lengan.

 

“Aku merindukanmu sayang..” Ucap Ki bum, sambil melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping milik So eun, sangat erat hingga So eun tidak bisa bergerak. Pelukan posesive.

 

“Kau semakin cantik jika sedang marah…” Sambung Ki bum sambil mengecup pucuk kepala So eun.

 

“Kita makan bersama oppa, aku akan memasakan makanan yang enak hari ini. Tunggu di ruang makan, aku akan segera menyusulmu nanti.” Perintah So eun, sambil berusaha melepas pelukan Ki bum. Dan Ki bum pun hanya bisa mengangguk sambil melangkahkan kakinya menuju ruang makan.

 

“Oppa..” Panggil So eun, ada jeda ketika gadis itu ingin bertanya pada sang suami. “Kemana…” dan ketika So eun akan melanjutkan kembali kalimatnya, suara sang suaminya sudah menginterupsinya untuk berhenti, dengan kalimat yang keluar dari mulut Ki bum.

 

“Kim bum sudah tidak tinggal di sini lagi.” seketika saat itu juga tubuh So eun seperti kaku. Kenapa Kim bum pergi, terlebih tidak memberitahukan hal ini pada So eun. Ah, kenapa ada perasaan kehilangan dihati So eun ketika suaminya itu memberitahukan bahwa adik iparnya sudah tidak tinggal serumah dengannya lagi.

 

 

“Ada apa? Kau sedih Kim bum pergi?” Degup jantung So eun seperti berhenti berdetak saat ini juga. Kakinya pun rasanya sudah sangat lemah untuk hanya sekedar berpijak di tempatnya. Pertanyaan Ki bum mampu menghentikan nafasnya dalam beberapa detik.

 

“Apa maksudmu oppa? Kau aneh!” Bukan jawaban yang diberikan So eun atas pertanyaan suaminya. Wanita itu tidak tau apa yang harus dijawabnya sehingga lebih memilih untuk bertanya balik pada sang suami.

 

Ki bum tersenyum tipis, ada perasaan terluka dibalik sorot mata kelamnya yang tentu saja tidak diketahui oleh sang istri. “Cepatlah siapkan makanan untukku sayang. Aku sudah sangat lapar.” Perintah Ki bum, dan berlalu meninggalkan sang istri yang tampak lega ketika ditinggal sang suami. So eun seperti terbebas dari suatu jerat kesalahan ketika berada di dekat Ki bum.

 

~~~

 

Hari ini sudah hampir satu minggu sejak kepergian Kim bum dari rumah. Rasa kehilangan benar – benar menyelimuti hati So eun. Tapi perasaan sedikit lega juga menyelimuti hatinya. Dengan kepergian Kim bum dari rumah dan tanpa memberitahukannya pada So eun tentu saja itu akan membuat So eun lebih mudah melupakan semua kejadian yang sudah dilaluinya bersama dengan adik iparnya tersebut

 

So eun menghela nafas panjang, disekanya keringat yang membasahi keningnya. hari sudah siang dan sang suami masih betah berada di dalam kamarnya. Apa yang sedang dilakukan Ki bum sekarang, fikir So eun. Sejak sepulangnya So eun dari berbelanja wanita itu masih belum mendapati sosok sang suami menyapa dirinya.

Kim bum melangkahkan kakinya menuju tempat penyimpanan alat – alat yang akan digunakannya untuk membersihkan rumah. Entah kenapa wanita itu lebih memilih membersihkan rumah terlebih daulu dibandingkan dengan memastikan keadaan sang suami.

 

Tidak butuh waktu lama untuk So eun membersihkan rumah, dihempaskannya tubuh lelah itu diatas sofa panjang yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Semilir angin yang masuk melalui jendela mampu membuat So eun merasakan kesejukan yang luar biasa nyamannya. Perasaan yang seharusnya dihindari oleh So eun kembali lagi ketika bayangan Kim bum menghantui fikirannya.

So eun merindukan Kim bum, entah kenapa rasa rindu itu terlalu besar sehingga So eun tidak mampu mengenyahkannya. Bahkan perasaan rindu ini mampu membuat So eun mengabaikan sang suami yang sejak tadi masih belum dilihatnya.

 

“Tidak bisakah kau pergi dari fikiranku.” Batin So eun, sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak. So eun harus segera mengenyahkan semua fikiran yang berisi tentang Kim bum. So eun tidak boleh memikirkan pria itu lagi.

So eun bangkit dari tempat duduknya, perasaan bersalah menghantui sisi lainnya. Bukankah seharusnya So eun menghampiri suaminya, jangan – jangan saat ini suaminya itu sedang membutuhkan bantuannya. Sudah seharusnya So eun ada disisi Ki bum untuk saat ini dan bukannya malah memikirkan pria lain, terlebih pria itu adalah adik iparnya.

 

So eun segera beranjak dari tempatnya, wanita itu segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Tentu saja memastikan apa yang saat ini tengah dilakukan oleh sang suami. Sejak bangun dari tidurnya pagi ini So eun sudah mengabaikan suaminya, bagaimana jika nanti Ki bum mulai curiga padanya. Tentu saja So eun tidak mau itu terjadi.

 

“Oppa… Kau sudah bangun?” So eun membuka pintu kamarnya dan melihat kearah tempat tidur yang saat ini sudah rapi. Tidak ada sang suami, yang ada hanya susunan bantal, guling dan juga selimut yang benar – benar sudah tidak tersentuh. Suaminya sudah bangun, sejak kapan? Lalu kemana Ki bum sekarang?

 

“Oppa…!” Seru So eun lagi, berharap suaminya itu masih berada di kamar ini.

Suara gemericik air dari dalam kamar mandi membuat So eun menghembuskan senyum lega dan jangan lupakan juga sebuah senyuman tipis yang mengembang dikedua sudut bibirnya. Sudah pasti saat ini suaminya itu sedang berada di dalam kamar mandi.

 

“Oppa… Kau di dalam kan?” Panggil So eun, ketika saat ini dirinya sudah berdiri di depan pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar tidurnya. Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi, So eun jadi cemas akan apa yang saat ini Ki bum lakukan di dalam kamar mandi. Jika suaminya itu memang hanya mandi kenapa tidak menjawab seruan So eun.

 

“Oppa.. Apa yang sedang kau lakukan?” Ulang wanita itu lagi, semakin penasaran dengan apa yang dilakukan oleh sang suami saat ini. Rasa penasaran yang sangat luar biasa tengah menggelayuti fikiran So eun. Apa terjadi sesuatu dengan Ki bum di dalam sana, kenapa tidak ada jawaban. Jangan – jangan Ki bum jatuh kelantai dan pingsan.

 

“Oppa kau tidak apa – apa kan?” Teriak So eun, sambil mendorong pintu kamar mandi yang kebetulan tidak terkunci. Dan ketika pintu itu terbuka, So eun bisa melihat dengan jelas apa yang saat ini suaminya lakukan. Tidak terjadi apa – apa dengan Ki bum. Pria itu hanya berendam di bak mandi.

 

“Ada apa?” Tanya Ki bum, terdengar santai di telinga So eun. Wanita itu menghela nafas, ada perasaan kesal di hatinya ketika mendengar respon sang suami yang terlihat biasa saja. Apa saat ini Ki bum tidak bisa melihat raut muka So eun yang benar – benar terlihat cemas. Keterlaluan sekali suaminya ini.

 

“Bisakah aku minta tolong padamu Kim so eun?”

 

“Oppa ingin aku melakukan apa?”

 

“Bisa aku memintamu menggosokkan punggungku, aku kesulitan melakukannya.” Pinta Ki bum. Entah kenapa So eun merasa ada yang aneh dengan suaminya saat ini. Tapi So eun segera menepis perasaan itu, tentu saja wanita ini tidak ingin membuat sang suami menunggunya terlalu lama atau mengira So eun tidak mau memenuhi permintaan sang suami.

 

“Biasanya kau tidak pernah mau merepotkanku, oppa? Hari ini kau terlihat manja sekali.” Ucap So eun, sambil mendudukkan tubuhnya di atas bak mandi dan mulai menggosok punggung Ki bum dengan penggosok badan.

 

“Aku merindukanmu, benar – benar sangat merindukanmu.” Balas Ki bum, pria itu benar – benar menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh sang istri.

 

“Aku juga sangat merindukanmu oppa.”

 

“Siapa yang kau rindukan? Apa kau benar – benar merindukanku? Jadi kau benar – benar merindukanku!”

 

So eun menghentikan aktifitasnya, suaminya ini benar – benar sangat lucu. Tentu saja So eun merindukan suaminya, mengingat betapa lamanya So eun menunggu Ki bum dari tidur panjangnya. Tidak ada lagi rasa rindu di hati So eun saat ini kecuali Ki bum suaminya. Tapi tunggu dulu, bukankah beberapa saat yang lalu isi di kepala So eun itu hanya ada nama Kim bum, bahkan So eun sempat mengabaikan suaminya itu hanya gara – gara memikirkan adik iparnya. Astaga tentu saja rasa bersalah yang teramat besar kembali menyelimuti hati So eun. Kenapa suaminya ini seolah – olah tidak sengaja mengorek kesalahannya. Apa suaminya ini tau apa yang pernah So eun lakukan dengan Kim bum. Bagaimana jika memang Ki bum mengetahuinya, apa yang harus So eun lakukan saat ini. Tentu saja tidak akan mungkin untuk So eun mengatakan semuanya pada Ki bum.

 

“Apa yang sedang kau pikirkan, kau tidak benar – benar merindukanku?” Pertanyaan dari Ki bum ini kembali menusuk jantung So eun. Benar – benar seperti ditikam pisau dari belakang. Rasanya benar – benar sakit, bahkan So eun benar – benar tidak bisa mengeluarkan satu katapun untuk menjawab pertanyaan Ki bum saat ini.

 

Gadis itu hendak beranjak dari tempatnya, tentu saja ingin menghindari pertanyaan suaminya yang terasa mematikan saraf So eun saat ini. Mungkin menghindar adalah satu – satunya hal yang tepat untuk menghindari sang suami. So eun masih belum punya kekuatan untuk mengakui semua kesalahan yang telah diperbuatnya pada Ki bum.

 

“Jangan pergi.. Kumohon.” Lirih Ki bum, ketika menyadari sang istri hendak meninggalkannya. Secepat mungkin Ki bum menghentikan pergerakan sang istri dengan memeluk pinggang ramping wanita itu.

 

“Aku mencintaimu… Benar – benar mencintaimu.” Suara serak dari Ki bum membuat So eun semakin merasa bersalah. Tapi perasaan ini berbeda. So eun benar – benar merindukan pelukan ini. Bukan seperti pelukan suaminya, ini terasa lebih hangat dan bisa langsung menyentuh hatinya.

 

“Maafkan aku oppa… Maafkan aku.” Ucap So eun, mencoba menenangkan gejolak jiwanya yang entah sejak kapan mulai membuatnya merasakan sakit yang benar – benar luar biasa.

“Maafkan aku oppa, karena aku merindukan pria lain.” Imbuh So eun dalam batinnya.

 

Ki bum membalikkan tubuh sang istri, ditelitinya wajah cantik So eun saat ini. Benar – benar cantik, dulu hingga sekarang So eun memang wanita yang benar – benar cantik di mata Ki bum. Tentu saja akan sangat menyesal bagi semua pria yang menjadi pendampingnya dan tidak bisa mempertahankan gadis ini untuk selalu berada disisinya.

 

Ki bum menarik tubuh sang istri untuk memasuki bak mandi yang sama dengannya. Bak mandi itu cukup besar untuk menampung hingga 4 orang di dalamnya, jadi Ki bum tidak akan khawatir akan membuat istrinya merasa tidak nyaman di dalam bak mandi itu bersama dengannya.

 

Dielusnya pipi putih sang istri, Ki bum benar – benar sangat berterima kasih pada sang pencipta karena sudah menciptakan sosok yang cantik seperti So eun. Terlebih wanita ini benar – benar nyata dan saat ini tengah berada di depannya dalam rengkuhannya. Dipandanginya setiap inci dan detail wajah So eun, benar – benar terlihat menggoda di mata Ki bum.

 

Jari jemari Ki bum masih sibuk meneiti setiap inci wajah So eun, sedangkan wanita itu hanya bisa menerima setiap perlakuan dari sang suami. So eun bahkan tidak menolak ketika jemari kokoh itu mulai meraba bibir ranumnya. Begitu pula ketika dengan tiba – tiba sebuah benda basah menyentuh permukaan kulit bibirnya. So eun benar – benar tidak bisa menghindar dari ciuman hangat yang diberikan oleh suaminya saat ini. Lagi – lagi So eun merasakan keanehan, bukan pada sang suami melainkan pada dirinya sendiri. Jika sebelumnya So eun menolak sentuhan dari sang suami kali ini So eun benar – benar menikmatinya. Bahkan sentuhan yang diberikan oleh Ki bum mengingatkan So eun akan sentuhan yang pernah diberikan oleh Kim bum. Oh.. tidak lagi, kenapa disaat seperti ini nama Kim bum kembali muncul di dalam kepala So eun. Lagi.

 

“Op-pa..” panggil So eun, ketika tanpa diduga oleh akal sehatnya Kim bum menyentuh daerah sensitifnya. Suaminya itu meletakkan telapak tangan kanannya pada payudara sebelah kiri milik So eun, sedangkan tangan kiri Ki bum merengkuh tubuh sang istri.

 

“Jangan menolakku Kim so eun, aku benar – benar sangat merindukan sentuhanmu.” Pinta Ki bum, pria itu bahkan semakin lincah memainkan telapak tangannya di payudara yang berukuran besar itu. Ki bum benar – benar menikmati aktifitasnya, sedangkan So eun sudah pasti wanita itu tidak bisa menolaknya. Tidak ada yang salah dengan sikap Ki bum, bukankah mereka ini sepasang suami istri jadi sudah pasti tidak ada yang salah akan hal ini.

 

Ki bum semakin menikmati aktifitasnya, tangan pria itu semakin lincah memainkan kedua payudara sang istri. Dengan kedua tangan yang masih asyik dengan aksinya di kedua payudara milik So eun, Ki bum pun juga tidak ingin melewatkan bibir merona milik sang istri. Dikecupnya bibir itu berkali – kali, tentu saja dengan tempo yang cepat. Pria itu bahkan tidak mempedulikan setiap erangan yang berkali – kali telah keluar dari mulut sang istri atas perlakuannya.

“Maafkan aku… Kumohon jangan membenciku.” Batin Ki bum, disela – sela aktifitas yang membuat tubuhnya membara. Entah kenapa Ki bum bisa menggumamkan kata maaf ketika menyentuh tubuh sang istri, sedangkan hal itu sudah seharusnya dilakukan oleh pasangan yang sudah terikat dalam pernikahan.

 

Pergulatan panjang antara Ki bum dan So eun pun sudah selesai, ketika sebuah interupsi dari Ki bum yang menyuruh So eun untuk segera mengganti segera pakaian wanita itu yang benar – benar sudah basah akibat ulah Ki bum. So eun segera menuruti permintaan sang suami. Wanita itu segera beranjak dari dalam bak mandi dan segera melepaskan semua pakaiannya untuk menggantinya dengan baju handuk yang akan membalut tubuhnya.

 

“Cepatlah keluar dari tempat itu, jika kau tidak ingin masuk angin Kim bum-ssi!” Perintah So eun, pada pria yang sekarang masih betah berendam didalam bak mandi itu.

 

“Kupikir kau tidak akan menyadarinya So eun-ssi!”

 

Deg.. So eun menyadari kesalahannya. Lagi. gadis itu merutuki dirinya yang dengan gampangnya menyebutkan nama Kim bum dan bukannya Ki bum. Dan terlebih sambutan dari pria yang sedari tadi tengah membuai dirinya. Panggilan itu, suara itu. Jangan lupakan juga sentuhan yang baru saja didapatkan So eun dari laki – laki yang entah sejak kapan sudah berada dibelakangnya dan saat ini sedang melingkarkan kedua tangannya pada pinggang So eun.

 

“Kau…”

 

“Hm.. Kupikir kau tidak akan menyadarinya.”

 

Seluruh sendi di dalam tubuh So eun seperti tidak berfungsi dengan baik ketika wanita itu menyadari siapa pria yang saat ini tengah memeluk tubuhnya dan memberikan sentuhan – sentuhan lembut padanya beberapa saat yang lalu. So eun bisa memastikan bahwa saat ini tubuhnya akan langsung merosot kelantai jika saja pria yang ada di belakangnya itu tidak sigap menahannya.

 

“Bagaimana bisa kau langsung mengenaliku So eun-ssi, apa karena ini kau mengenaliku?” pria yang saat ini masih setia memeluk tubuh So eun itu mengulurkan tangan kirinya dan mengacungkan telapak tangannya dihadapan mata So eun. Dan saat itu juga So eun benar – benar melebarkan pandangannya pada telapak tangan pria tersebut. Lebih tepatnya jari pria tersebut, di jari itu tersemat sebuah cincin berwarna silver yang entah bagaimana bisa melingkar manis di jemari kokoh itu.

 

“Dia tidak akan bisa memakainya, jadi aku yang menggantikannya memakai benda ini. Bagaimana menurutmu, bukankah benda ini sangat pas dijariku?”

 

So eun segera mendongakkan kepalanya, mencoba meneliti apakah benar pria yang saat ini berada di dekatnya ini adalah orang yang saat ini dirindukannya dan bukannya suaminya. Jika benar terkutuk sekali So eun karena lagi – lagi, gadis ini menghianati suaminya. Terlebih dengan santainya So eun menikmati setiap perlakuan yang sudah diberikan pria ini padanya. Jangan lupakan juga bagaimana dengan mudahnya So eun menggumamkan nama pria itu ketika dirinya masih menyangka bahwa pria yang saat ini didekatnya itu adalah suaminya. Keterlaluan sekali So eun. Apakah wanita ini benar – benar tidak bisa membedakannya sejak pertama kali, dan lagi siapa yang sebenarnya ada di hatinya saat ini.

 

Bahkan tanpa melihat cincin yang tersemat di jari pria itu pun, So eun sudah merasakan bahwa pria yang telah menyentuhnya itu adalah Kim bum dan bukannya Ki bum. Terlebih ketika cincin itu dengan asyiknya mendiami jari pria itu, bagaimana bisa dan sejak kapan cincin itu berada di jari yang tidak semestinya.

 

“Aku kemari hanya untuk mengembalikan benda ini, aku tidak bermaksud untuk mengambilnya. Adapun sesuatu yang ingin kuambil sekarang itu adalah kau, So eun-ssi.”

 

“Ba-bagaimana b-bisa kau a-ada disini?”

 

“Kau tidak merindukanku? Kupikir ketika tadi kau mengatakan merindukanku itu benar – benar untukku… oh, aku hampir lupa kau mengira aku ini suamimu. Seharusnya memang akulah yang berhak menjadi suamimu So eun-ssi.”

 

Saat ini juga, So eun benar – benar tidak mampu berucap. Kelancangan Kim bum yang dengan tiba – tiba memasuki rumahnya kembali setelah kepergiannya selama hampir satu minggu. Ditambah lagi kalimatnya yang terdengar seperti orang tak waras yang hendak menghancurkan rumah tangga kakak kandungnya sendiri. Apa pria ini sedang mabuk, jika memang benar bagaimana bisa. Sejenak So eun berfikir, sekarang bukan saatnya untuk So eun memikirkan hal – hal yang tidak terlalu penting. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya untuk membuat Kim bum pergi dari rumah ini, sebelum Ki bum datang dan mengetahui apa yang telah dilakukan oleh adik dan juga istrinya sekarang.

 

“Kau ingin aku pergi?” So eun mengangguk lemah ketika mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Kim bum saat ini. Pria itu seperti bisa membaca semua jalan fikiran So eun.

 

Kim bum yang masih setia memeluk So eun dari belakang, hanya bisa menyunggingkan senyum tipisnya. Kim bum makin mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping milik So eun. Tidak mempedulikan betapa gemetarnya tubuh So eun yang saat ini berada dalam rengkuhannya. Pria itu mengecup pucuk kepala So eun, seperti tidak rela melepas wanita yang benar – benar diraihnya ini.

 

“Kau tidak perlu khawatir akan kedatangan kakakku, akan kupastikan sebelum dia datang aku pasti akan meninggalkan tempat ini. Kau tidak perlu khawatir.” Kalimat itu berusaha menenangkan hati So eun, tapi tetap saja ketakutan gadis itu masih kentara jelas di wajahnya.

 

“Bagaimana bisa kau ada disini Kim bum-ssi?” Lirih So eun, benar – benar hampir tidak terdengar oleh indera pendengar Kim bum.

 

“Akhirnya kau menyebut namaku lagi, kupikir telingaku tidak akan bisa mendengar suaramu lagi untuk menyerukan namaku.”

 

“Kumohon Kim bum-ssi, jangan seperti ini!”

 

Kim bum menghembuskan nafasnya dengan berat, sangat berat dan terasa dipaksakan. Hingga So eun pun dibuat bergidik ketika hembusan nafas itu mampu menyentuh lehernya. Kim bum seperti sedang menahan sebuah batu yang sangat besar dipunggungnya. Dari deruman nafas lelah itu, bisa So eun pastikan bahwa kondisi Kim bum saat ini tidak dalam keadaan baik.

 

“Ini yang terakhir kalinya, setelah ini aku tidak akan pernah mengganggu hubungan kalian. Aku hanya ingin menyelesaikan sebuah potongan kisah kasihku yang masih terombang – ambing.” Jelas Kim bum.

 

“Maaf jika kau merasa terganggu dengan kehadiranku, mungkin semua ini tidak akan terjadi jika aku tidak kembali lagi kesini.” Sambung Kim bum. Pria itu menguarkan pagutan tangannya yang sedari tadi masih setia melingkari pinggang So eun.

 

“Aku akan kembali ke Jepang. Kuharap dengan menjauh dari dunia kalian aku akan bisa melupakan sesuatu yang selama ini benar – benar ingin sekali kugapai.” Sekarang Kim bum benar – benar melepaskan tubuh So eun dari rengkuhannya. Pria itu sibuk mengenakan kembali pakaiannya dan masih memandangi So eun yang tetap tak bergeming dari posisi yang membelakangi tubuh pria tersebut.

 

“Kau akan pergi.”

 

“Hm.” Kim bum berjalan melewati tubuh So eun, pria itu benar – benar akan mencapai pintu kamar mandi, bahkan tangan kanannya sudah menyentuh gagang pintu. Hanya butuh beberapa detik lagi untuk Kim bum keluar dari tempat itu. Tapi langkah itu harus tertahan oleh kalimat So eun.

 

“Kenapa kau melakukan semua ini? kenapa kau membuatku menjadi seperti ini?” Suara itu bergetar, benar – benar terdengar memilukan ketika ditangkap oleh telinga Kim bum. Ingin rasanya pria itu membalikkan badannya dan kembali membawa wanitanya kedalam rengkuhan hangatnya. Tapi tentu saja Kim bum tidak akan bisa melakukan hal itu lagi, akan terlalu lancang bagi Kim bum jika harus kembali memeluk So eun. Sudah cukup untuk semuanya, bukankah Kim bum sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa mulai detik ini dirinya tidak akan menyulitkan orang yang dikasihinya.

 

“Kenapa kau sangat kejam padaku, tidakkah selama ini kau mengerti bagaimana rasanya jadi aku Kim bum-ssi!” tangis itu pecah, karena sang pemilik air mata tidak bisa mengendalikan cairan bening yang saat ini benar – benar meleleh keluar dari kelopak matanya. Wanita itu butuh penjelasan, hanya sebuah alasan sehingga adik iparnya ini mampu memporak – porandakan seluruh jiwanya hingga benar – benar berantakan. So eun ingin tau, apa alasan Kim bum hingga pria itu bisa menyentuh titik sensitif dalam batinnya. Bahkan yang tidak pernah bisa dilakukan oleh suaminya sendiri.

 

“Aku akan menjelaskan semuanya padamu, jika suatu saat nanti Tuhan masih merestui kita untuk bertemu. Terimakasih sudah mengijinkanku menyelami dalamnya hatimu.” Beberapa tetes kristal bening terjun bebas dari mata kelam milik Kim bum, pria ini juga menangis sama seperti So eun. Akhirnya dia akan melepaskan semua cintanya pada So eun. Apapun yang terjadi pria ini, memang akan selalu menjadi yang kalah. Sampai kapanpun dan akhirnya dia harus bisa untuk merelakan semuanya. Termasuk kebahagiaan dan juga wanita yang dicintainya.

 

“Aku mencintaimu Kim So eun.” Batin Kim bum, dan pria itu dengan mantapnya melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut. Tentu saja meninggalkan So eun yang semakin menggila dengan tangisnya. Entahlah, kenapa So eun benar – benar histeris ketika melihat Kim bum meninggalkannya. Ada perasaan tidak rela pada hati wanita itu. Jadi sebenarnya bagaimana perasaan So eun saat ini. Ah, salah. Yang benar untuk siapa hatinya tertambat saat ini.

 

Raungan tangis dari So eun benar – benar terasa mencekam hati Kim bum yang ternyata masih berada diluar kamar kakaknya tersebut. Disini, ditempat ini Kim bum harus merelakan semuanya. Tubuh itu limbung, dan dengan sigap Kim bum menyandarkan tubuhnya pada dinding sebelum tubuhnya jatuh kelantai. Dipandanginya jari tangannya. Tidak ada sesuatu dijari itu karena cincin yang beberapa saat lalu tengah melingkar di jarinya sudah pria itu kembalikan ke tempat asalnya.

 

“Maafkan aku..” Gumam Kim bum, dengan langkah sempoyongan pria itu akhirnya meninggalkan So eun dan juga rumah yang sudah memberikan banyak kenangan untuknya. Terlebih pria itu juga harus pergi meninggalkan lagi Ki bum – sang kembaran.

 

~~~

 

“Kau masih mencintaiku?” Suara berat itu kembali mengudara, ada semburat ketidak pahaman dari raut wajah tampan itu. Bagaimana bisa wanita yang ada dihadapannya ini masih mengaku mencintainya, setelah apa yang sudah dijelaskan oleh pria yang saat ini tengah duduk disebuah cafetaria yang tidak terlalu ramai pengunjung. Tentu saja bersama wanita yang tadi mengatakan masih mencintai pria ini. Sepertinya wanita itu sudah gila, benar – benar tidak waras mungkin.

 

“Aku bukan pria yang menolongmu, dan kau masih mencintaiku?” pertanyaan itu kembali keluar dari mulut si pria. Ada perasaan kesal ketika pria itu mengatakannya.

 

“Saya bukan gadis belia yang masih belum paham apa makna cinta sesungguhnya. Saya ini wanita yang sudah matang, dan tau mana cinta yang benar dan mana cinta yang salah.” Jelas wanita itu dengan nada bicara yang sangat anggun.

 

“Saya tidak pernah berniat menghancurkan hubungan anda dengan istri anda. Anda fikir selama ini saya salah menujukan perasaan saya pada orang. Mungkin awalnya memang benar, tapi saya sudah mengetahui semuanya jauh sebelum anda mengatakan semuanya saat ini.”

 

“Jika kau sudah mengetahuinya, lalu kenapa kau masih bisa mengatakan bahwa kau mencintaiku. Bukankah sejak awal pria yang kau sukai itu adalah pria lain.”

 

Wanita itu tersenyum mendengar kalimat yang terlontar dari mulut pria yang ada dihadapannya saat ini. Aneh memang, tapi bagaimana bisa pria ini memaksa si wanita untuk menyukai pria lain sedangkan orang yang jelas – jelas disukainya itu adalah pria yang saat ini berada dihadapannya.

Walaupun terdengar gila dan aneh, tetap saja perasaan tidak bisa berubah. Tidak akan ada yang bisa merubah keinginan orang lain kecuali orang itu sendiri. Wanita itu sadar akan perasaan terlarang yang dimilikinya untuk pria itu. Mencintai suami orang tentu saja itu hal yang sangat – sangat tidak diperbolehkan. Tapi apa salahnya, toh selama ini dia tidak pernah merusak rumah tangga orang yang disukainya, wanita itu hanya mencintai pria yang ada dihadapinya dengan cara yang sehat. Memendam perasaannya sendiri dalam hatinya. Meskipun hal itu melukai wanita itu sendiri.

 

“Anda seperti orang yang sedang ketakutan, jika dia mencintai anda kenapa anda harus takut. Bukankah kasusnya juga sama seperti yang menimpa saya. Dan bukankah jawabannya masih sama. Saya mencintai anda karena saya merasa cinta saya tertuju pada orang yang benar.”

 

Pria itu mencerna kata – demi kata yang keluar dari mulut wanita yang mengaku masih mencintainya itu. Ya, kenapa pria ini harus takut bukankah kasusnya sama dan jawabannya sama. Wanita ini benar seharusnya pria ini tidak perlu takut jika dirinya merasa yakin bahwa sesuatu yang menjadi miliknya tentu saja akan selalu menjadi miliknya jika semua itu benar – benar tertuju pada orang yang tepat.

 

“Anda tidak bisa memaksakan kehendak dan juga keinginan anda pada orang lain. Tentu saja orang itu tidak akan melakukan semua keinginan anda jika itu bertentangan dengan hatinya. Dalam kasus istri anda, sepertinya anda benar – benar takut jika jawabannya berbeda.”

 

Pria itu semakin terlempar kuat kedalam ilusi yang diciptakannya sendiri. Semua kalimat yang terlontar dari mulut wanita itu masih belum bisa dibalasnya. Ada perasaan takut yang sangat besar tengah mendera hatinya. Bagaimana jika yang diucapkan wanita ini benar, bagaimana jika kasus serupa ini memiliki penyelesaian berbeda. Haruskah pria ini merelakan istrinya pergi dari sisinya. Sial, tentu saja itu tidak diinginkan oleh hatinya. Lalu apa harus mengorbankan orang – orang yang dikasihinya.

 

“Sepertinya anda juga harus mengungkapkan semua ini padanya, sebelum orang lain yang mendahului anda.”

 

Kalimat itu bagaikan pukulan telak yang mampu menghujam ulu hati pria itu. Ya, seharusnya sejak awal pria itu memberitahukan semuanya pada sang istri dan bukannya malah menyembunyikan kebenarannya. Terlebih membuang adiknya kandungnya. Betapa keterlaluannya pria itu. Bagaimana jika nanti sang adik mengatakan semua kebenaranya pada istrinya dan semua ketakutan yang melanda hatinya akan terbukti, apa pria ini masih bisa mengatur nafasnya kembali dengan normal. Tanpa istri dan juga adiknya, hanya sendiri dan kembali merasakan kehampaan.

 

“Anda tidak akan sendiri, karena saya masih akan tetap ada disamping anda jika sesuatu yang buruk itu terjadi.”

 

“Apa maksudmu Yoona-ssi?” Pertanyaan Retorik, haruskah pria ini mengajukan pertanyaan seperti itu pada wanita yang saat ini ada dihadapannya. Bukankah pria itu sudah tau apa jawaban dari pertanyaan yang saat ini tengah diajukannya.

 

“Anda tidak perlu khawatir, semuanya akan baik – baik saja. Semua jawaban ada di tangan anda. Ingin lari, mendapatkan hasil menyenangkan tapi tidak bertahan lama atau melangkah maju walaupun berat tapi melegakan. Semuanya tergantung pada diri anda.” Wanita bernama Yoona itu betul – betul menyudutkan pria yang ada di hadapannya.

 

“Jadi aku harus melakukan salah satunya!”

 

“Sepertinya saya harus meninggalkan anda, agar anda bisa berfikir dengan matang. Maaf jika saya sudah terlalu banyak bicara Ki bum-ssi.” Yoona bangkit dari tempat duduknya dan membungkukkan badannya pada pria yang tak lain adalah Ki bum. Dengan senyum tulus yang mengambang di wajah cantiknya wanita itu melenggangkan kakinya meninggalkan Ki bum yang masih dalam kekalutan.

 

Ya, bagaimanapun semua kekacauan ini harus diselesaikan jika tidak ingin ada yang terluka. Sudah ada satu korban dan tentu saja Ki bum tidak ingin ada korban lagi. jika sebelumnya dengan kejamnya Ki bum mengorbankan adiknya apakah sekarang Ki bum juga akan mengorbankan istrinya. Pria itu masih bimbang akan keputusan yang harus dipilihnya. Maju kehilangan, mundur juga kehilangan bukankah serba salah jika sudah seperti ini.

 

“Brengsek..” Rutuknya dalam hati, Ki bum menggenggam erat gelas yang terletak didepannya. Jika saja ini bukan di tempat umum sudah pasti Ki bum akan mengeluarkan semua kemarahannya ini.

 

Harus ada yang kalah, bukan mengalah. Seharusnya sejak awal dua kembar ini mengetahui aturan sebuah peperangan. Tidak ada istilah seri. Jika kalah ya mati, menang berarti hidup. Pertarungan ini masih belum selesai, masih ada waktu untuk mengetahui siapa pemenangnya. Terlepas dari kata mengalah.

 

NB: buat para readers yang sudah setia menunggu kelanjutan fanfic ini, aku benar – benar ucapkan terimakasih. Sekali lagi mau kasih tau buat para readers yang sudah baca fanfic ini, cerita ini memang terinspirasi dari sebuah film korea dengan judul yang sama. Tapi dalam cerita di fanfic ini aku sengaja merubah ceritanya sesuai dengan imajinasiku, tapi tidak bermaksud merusak cerita aslinya. Untuk para readers yang kurang berkenan dengan ceritanya aku mohon maaf.

Iklan

Hate Or love (Part 4)

Posted: 27 April 2014 in FF BUMSSO
Tag:

cats

Part 4

 

 

So eun bergegas keluar dari kamarnya, tidak menghiraukan kalimat – kalimat yang telah dilontarkan oleh mulut sang ibu. So eun benar – benar tidak ingin terlibat dalam urusan ataupun rencana yang telah disusun oleh ibunya, itu mungkin akan semakin memperburuk keadaan – fikir So eun.

 

So eun segera masuk kedalam mobil yang akan mengantarkannya ke kantor, hari ini So eun tidak berangkat bersama Woo bin, entahlah apa penyebab kakak tirinya itu harus berangkat terlebih dahulu dan tidak menunggu So eun seperti biasa, karena yang So eun tau, saat ini dirinya akan di antarkan oleh sopir pribadi keluarga untuk sampai ke kantor.

 

Sedari tadi senyum cantik So eun benar – benar tidak bisa lepas dari wajahnya, pipinya benar – benar merona. Tidak tau apa alasannya sehingga saat ini So eun benar – benar merasa bahagia. Tapi tentu saja, ini semua ada hubungannya dengan kakak tirinya. So eun merasa hubungannya dengan Woo bin sudah sedikit membaik, walaupun terkadang pria itu masih sedikit bersikap dingin padanya, tapi setidaknya Woo bin sudah mulai memperhatikan dirinya. Dan yang terpenting beberapa kali Woo bin selalu membela dirinya dari ancaman Kim bum. Akan kah hubungan mereka akan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

 

Hanya butuh beberapa menit untuk So eun sampai di kantornya, setelah turun dari mobil dan mengucapkan terimakasih pada sang sopir So eun pun segera memasuki gedung bertingkat itu dengan senyum yang masih terukir jelas di ujung bibirnya.

 

~~~

 

So eun melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya, bukan hanya ruang kerjanya saja sebenarnya, melainkan ruang kerja Kim bum juga. Tidak seperti hari – hari sebelumnya, sekarang So eun sedikit memiliki keberanian untuk menghadapi Kim bum. Walaupun hanya sedikit, tapi setidaknya tubuh So eun tidak akan gemetaran lagi jika Kim bum secara tiba – tiba muncul dihadapannya. Dan ketika So eun sudah membuka ruangan kerjanya, wanita itu bisa sedikit bernafas lebih lega karena Kim bum belum datang.

 

“Kak Woo bin..” pikir So eun, entah dapat kekuatan dari mana wanita itu sehingga sampai terlintas di dalam pikirannya sebuah nama. Nama kakak tirinya, sepertinya So eun sudah gila, untuk apa So eun memikirkan pria itu. Mau cari masalah lagi wanita ini.

 

So eun segera bergegas menuju ruangan Woo bin, masih belum terpikirkan oleh So eun jawaban apa yang akan dikeluarkannya jika nanti Woo bin akan bertanya perihal maksud dari kedatangannya ke ruangan Woo bin. Yang pasti saat ini So eun benar – benar ingin menemui Woo bin, sekedar untuk mengucapkan selamat pagi mungkin atau apalah itu.

 

“Terbuka… kenapa tidak tertutup, apa tidak ada….” kalimat pelan So eun menggantung, ketika tangannya menyentuh gagang pintu ruangan milik Woo bin, pintu yang sedari tadi sedikit terbuka itu bisa memberikan kesempatan untuk So eun melihat dengan jelas apa yang saat ini tengah dilakukan oleh kedua orang yang ada didalamnya.

 

“Ada apa ini… kenapa aku harus melihatnya.” Gumam So eun sambil menutup pintu yang sedari tadi sedikit terbuka. Tangan wanita itu seperti tidak bisa lepas dari gagang pintu tersebut, bibirnya bergetar hebat, dan tanpa disadarinya air matanya terjun bebas dari mata indahnya. Apa – apaan ini kenapa harus keluar sekarang.

 

“Dasar.. wanita murahan.”

 

Wanita itu segera melepaskan tangannya dari gagang pintu yang sedari tadi dipegangnya, kakinya reflek mundur kebelakang. Badannya kelu, seperti tidak bisa bergerak. Ditambah lagi suara yang baru saja didengarnya menambah kelumpuhan saraf – sarafnya secacara tiba – tiba. Wanita itu tau betul siapa pemilik suara tersebut.

 

“Kau benar – benar tampak seperti wanita murahan dan menyedihkan.”

 

Kim bum.. saat ini tengah berdiri di belakang So eun, pria itu menyandarkan tubuhnya pada tembok dan melipat kedua tangannya di depan dada. Untung saat ini tidak ada para karyawannya yang mondar – mandir. Kalau saja ada, benar – benar keterlaluan sekali Kim bum sampai mengeluarkan kata – kata kasar seperti itu pada wanita yang sekarang telah sah menjadi saudari tirinya.

 

“Bagaimana bisa seorang wanita terhormat sepertimu tengah tertangkap basah mengintip kesenangan orang lain, benar – benar keahlian yang luar biasa. Ini sangat menarik.”

 

So eun masih tidak bergeming, jangankan untuk menyahuti kalimat – kalimat tersebut. Memandang ke arah orang yang mengucapkannya saja rasanya tidak punya keberanian. Kenapa So eun harus dalam posisi seperti ini, ini benar – benar memalukan. Pasti Kim bum akan semakin mencerca dan memojokannya jika seperti ini.

 

“Sepertinya kau tidak menyukai pertunjukan di dalam… bukankah seharusnya kau senang, karena ternyata saudara tirimu bisa memiliki kekasih yang baik. Setidaknya kak Se young jauh lebih terhormat dari pada kau.”

 

Kim bum benar – benar semakin memojokan So eun dengan kalimat – kalimatnya barusan. Sebenarnya apa yang di inginkan oleh pria ini. Apa Kim bum benar – benar sangat senang jika melihat So eun terluka seperti ini. Seharusnya Kim bum memberikan belas kasihan pada So eun walau hanya sedikit, bukankah dari awal kim bum mengetahui bagaimana perasaan So eun pada Woo bin. Kim bum ini benar – benar mengerikan menurut So eun.

 

So eun bahkan sudah tidak kuasa lagi mendengar semua cercaan dari Kim bum, sepertinya jalan satu – satunya untuk menghentikan ocehan Kim bum sekarang hanya satu yaitu meninggalkan pria itu dan menenangkan dirinya. Jika memang So eun pintar seharusnya So eun harus cepat – cepat melakukannya.

 

“Kenapa terburu – buru… bukankah kau belum selesai melihatnya. Apa kau tidak ingin melihat apa yang akan mereka lakukan selanjutnya… sepertinya ini akan menjadi tontonan yang menarik, aku juga penasaran dengan permainan kakakku. Apakah dia bisa lebih lembut jika bermain dengan kak Se young..” goda Kim bum sambi menarik lengan So eun, sebelum wanita itu ingin pergi meninggalkannya.

 

“Lepaskan tanganku…” pinta So eun, wanita itu masih bersikap santai menghadapi Kim bum mengingat saat ini keduanya sedang berada di area kantor. Jika terlihat oleh karyawan yang lain, saat ini mereka sedang adu mulut bisa jadi bahan gosip seluruh kantor kejadian ini. Tentu saja So eun tidak mau itu terjadi.

 

“Bukankah kau mau melihatnya, ayo aku temani kau masuk ke dalam. Atau mungkin kau juga ingin bergabung dengan mereka.. sepertinya kakakku benar – benar akan kewalahan menghadapi dua wanita sekaligus,,”

 

“Cukupp… tidak bisakah kau berhenti menghinaku. Sampai kapan kau akan membenciku, selama ini aku selalu mencoba bersikap baik padamu. Kenapa kau seperti ini.”

 

Kim bum menyeringai mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh saudara tirinya ini. Bagaimanapun usaha So eun untuk bersikap baik pada Kim bum, tentu saja semua itu masih kalah dengan perasaan benci di diri Kim bum akan diri So eun dan juga ibunya.

 

“Biarkan aku pergi… lepaskan aku, aku ingin pergi dari sini.”

 

Kim bum masih tersenyum penuh arti ketika mendengar So eun memohon pada dirinya. Rasanya Kim bum merasa sedikit terhibur dengan keadaan seperti ini. Sepertinya Kim bum mulai memikirkan sesuatu. Terlintas sedikit permainan kotor yang ingin dilakukan Kim bum dengan saudari tirinya ini. Kira – kira apa ya yang menarik – fikir Kim bum.

 

Kim bum segera menarik lengan So eun dengan paksa dan membawa wanita itu keluar dari kantornya. Kim bum bahkan tidak peduli dengan pandangan karyawan – karyawannya yang menatap keduanya dengan sorot mata keheranan. Itu tidak akan membuat Kim bum menghentikan niatnya untuk membawa so eun pergi, lagi pula saat ini dirinya tidak ada kesibukan apapun. jadi dia bisa bebas pergi kemanapun yang dia inginkan. Dan lagi masalah So eun, bukankah sekarang wanita ini adalah sekertarisnya jadi tentu saja Kim bum bisa bebas membawanya kemana saja ketika masih jam kerja.

 

“Yaa… apa yang akan kau lakukan, aku tidak mau ikut denganmu.” Teriak So eun ketika Kim bum dengan paksa memasukan So eun kedalam mobil pria itu dan juga memasangkan sabuk pengaman untuk So eun.

Kim bum tidak mempedulikan teriakan So eun, yang dia lakukan sekarang adalah memutari mobilnya dan langsung masuk kedalam mobil tersebut untuk melajukannya ketempat yang dia inginkan. Bersama So eun tentunya.

 

~~~

 

So eun dan Kim bum sudah sampai di depan pintu sebuah apartemant, sedari tadi So eun terus berontak ketika Kim bum masih setia memegangi lengannya. Sepertinya Kim bum benar – benar tidak ingin melepaskan saudara tirinya ini barang sedetik pun. Apa yang sebenarnya diinginkan Kim bum dari So eun sekarang.

 

“Masuklah.” Perintah Kim bum dengan nada membentak, ketika pintu aparteman tersebut sudah sukses terbuka. Bersamaan dengan lepasnya pegangan tangannya yang sedari tadi mencengkram lengan So eun.

Tidak ada respon dari orang yang disuruhnya, sepertinya So eun ingin menguji kesabarannya sekarang. Apa So eun masih belum hafal juga dengan karakter Kim bum. Bukankah So eun tau bahwa Kim bum tidak suka penolakan.

 

“Aku bilang masuk sekarang.. kau tuli yaa..” teriak Kim bum, dan sukses membuat So eun masuk ke dalam apartemant yang So eun rasa itu pasti milik Kim bum.

Dengan langkah kaki gemetaran so eun pun melangkahkan kakinya memasuki apartemant tersebut diikuti dengan derap langkah kaki Kim bum yang mengikutinya dari belakang dan langsung mengunci pintu apartemantnya itu ketika keduanya sudah masuk kedalamnya.

 

“Gadis murahan sepertimu, pastinya tidak asing kan dengan kondisi seperti ini.” Ucap Kim bum sambil berjalan mendahului So eun untuk lebih masuk ke dalam apartemannya. Dan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa yang sepertinya sangat nyaman ketika melihat Kim bum duduk disana.

 

“Kau benar – benar gila.” Ucap so eun, sambil memutar tubuhnya menuju kearah pintu dan mencoba memutar handle pintu tersebut. Tapi usaha So eun ini benar – benar sia – sia, karena pintu apartement Kim bum ini dilengkapi dengan passkey, jadi jika So eun ingin keluar pastinya So eun harus tau kata sandi yang sudah dipasang Kim bum untuk bisa membuka pintu tersebut.

 

“Kau mau kemana?…. apa kau tidak mau mencoba apa yang tadi kakakku lakukan bersama dengan wanitanya. Kau tidak ingin mencobanya bersamaku… hari ini aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya bermain dengan gadis murahan yang mengaku menjadi wanita baik – baik seperti dirimu.”

 

“Sebenarnya apa yang kau inginkan sekarang, aku ingin pergi. Cepat buka pintunya atau aku akan teriak sekarang juga…” ancam So eun, sepertinya usahanya ini benar – benar dianggap lelucon oleh Kim bum mengingat pria di depannya ini tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya duduk, dan malah menampakkan senyuman mengerikan.

 

“Bagaimana kalau kita mulai sekarang saja, atau kau ingin bermain – main dulu sebelum melakukan permainan inti kita.” Goda Kim bum sambil tersenyum penuh arti pada So eun.

Astaga apa pikiran Kim bum selalu seperti ini jika menyangkut dengan So eun, apa Kim bum benar – benar menganggap So eun seperti wanita – wanita yang sering diajaknya bermain. Jika memang iya, keterlaluan sekali Kim bum ini.

 

So eun semakin memundurkan tubuhnya kala melihat Kim bum beranjak dari tempat duduknya dan melepaskan kemeja yang sedari tadi membalut badannya. Dan tidak lupa pria itu juga menanggalkan kaos dalam yang melapisi tubuhnya. Dan saat ini So eun pun bisa melihat tubuh atas Kim bum yang polos tanpa ditutupi oleh pakaian lagi.

 

So eun memalingkan pandangannya dari tubuh kim bum dan semakin memundurkan tubuhnya hingga membentur dinding aparteman kim bum. Tentu saja ini tidak akan menjadi hal yang baik mengingat kondisinya sudah sampai sejauh ini. Kim bum pasti akan melakukan hal – hal yang tidak akan menyenangkan. Jika saja saat ini So eun bisa keluar, itu pasti akan membantunya untuk lepas dan menghindari Kim bum. Tapi bagaimana caranya untuk So eun keluar sedangkan So eun sendiri tidak mengetahui kata sandi yang terpasang pada pintu apartement ini. Habislah So eun sekarang, setidaknya itulah yang ada dipikiran So eun saat ini.

 

So eun menutup kedua matanya ketika menyadari tubuh Kim bum sudah berada di depannya dan memenjerakan dirinya dengan kedua tangan pria tersebut yang bertumpu di dinding. Hembusan nafas berat dengan aroma tubuh maskulin yang menyeruak membuat So eun begitu gugup dan gemetaran, jangankan untuk bergerak, bernafas saja rasanya susah. Hingga sampai saat ini pun gadis itu bahkan masih belum berani membuka matanya.

 

“Kau menyedihkan… Kim so eun.” Gumam Kim bum, sambil membelai wajah So eun dengan jemari – jemarinya yang nampak berisi. Kim bum bahkan tidak mengalihkan pandangannya pada sesosok gadis yang saat ini mungkin sangat membenci dirinya. Atau mungkin lebih tepatnya gadis itu takut pada Kim bum.

 

Degup jantung So eun benar – benar bergemuruh kala mendapati sebuah sentuhan lembut di wajahnya. Tentu saja So eun masih belum berani bergerak, gadis itu masih ingin menunggu apa lagi yang akan dialaminya setelah ini. So eun masih harus bertahan dalam kediamannya jika memang Kim bum masih bersikap normal, kecuali jika Kim bum melakukan hal – hal yang membuat So eun terancam baru gadis itu akan melawan sebisanya.

 

Sebuah sapuan lembut dan basah terasa menggetarkan dibibir lembut milik So eun saat ini, sehingga mau tidak mau gadis itu harus membuka matanya. Astaga… kim bum melakukan hal ini lagi, walaupun kali ini lebih lembut tetap saja ciuman yang diberikan oleh Kim bum ini terkesan memaksa dan menuntut. Bahkan kim bum tidak membiarkan So eun bernafas atau hanya sekedar menggeser posisinya. Kim bum begitu kuat mencengkram tubuh So eun sehingga membuat gadis itu benar – benar dilanda ketakutan yang luar biasa.

 

Kim bum sedikit mengendurkan pegangannya dari tubuh so eun, dan tanpa pria itu sangka sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulusnya. Akibat dari tamparan keras dari tangan kecil yang saat ini gemetaran itu membuat wajah Kim bum sedikit berpaling. Rasa panas menjalar diseluruh wajahnya terlebih pada titik pusat sasaran tamparan, dan tanpa Kim bum duga sebuah darah kental mengalir di sudut bibirnya.

 

“Kau, beraninya menamparku…” desis Kim bum sambil menatap tajam kearah wanita yang saat ini berada didepannya. Tatapan tajam penuh amarah itu benar – benar sangat menakutkan. Kim bum masih tidak habis pikir bagaimana bisa So eun dengan beraninya menampar pria tersebut.

 

“A-aku.. ti-tidak b-ber-maksud me-melakukan-nya.” Jawab So eun dengan suara bergetar. Rasa takut menyelimuti hatinya, karena sudah pasti apa yang terjadi selanjutnya benar – benar akan membuatnya terancam. Tentu saja Kim bum tidak akan memaafkan So eun begitu saja.

 

“Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Sampai kapan kau akan menyakiti perasaanku? Bukankah kau sendiri sudah tau apa alasan aku melakukan ini semua kepadamu. Lalu kenapa kau selalu menghantui pikiranku… katakan apa yang harus kulakukan padamu sekarang…” sebuah ungkapan kekesalan dari Kim bum dan juga pertanyaan yang selama ini dipendamnya keluar begitu saja dari mulut Kim bum, tanpa bergeming sedikitpun.

 

So eun tak kuasa menahan isak tangisnya, walaupun selama ini dirinya sudah tau apa penyebab sikap dingin dan angkuh Kim bum terhadapanya tetap saja So eun tidak pernah begitu yakin hingga akhirnya dia bisa mendengar pengakuan dari mulut Kim bum sendiri.

 

“Aku… tidak bisa, benar – benar tidak bisa.” Jawab So eun dengan masih terisak

 

Mendengar jawaban yang keluar dari mulut So eun tentu saja membuat Kim bum semakin kesal. Bagaimanapun Kim bum memang harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa saat ini kim bum memang membenci So eun terlebih ibu dari wanita tersebut, jadi bagaimanapun caranya Kim bum memang harus menghancurkan So eun. Itulah tujuan utama Kim bum selama ini.

 

“Sampai kapan kau akan menguji kesabaranku? Baiklah, aku benar – benar akan menunjukkan betapa bencinya aku padamu.” Teriak Kim bum, dan kali ini pria itu benar – benar seperti ingin menelan So eun hidup – hidup dan saat itu juga.

 

Dengan sangat kasar Kim bum segera menarik tangan So eun agar wanita itu bisa mendekat pada Kim bum. Dan dengan sekali tarikan dari kedua tangannya, pria itu bisa melepaskan blazer yang saat ini dikenakan So eun dan melemparnya entah kemana. “Apa yang mau kau lakukan?” teriak So eun yang semakin ketakutan dengan apa yang akan dilakukan Kim bum. Jika kemarin Woo bin bisa menyelamatkannya sudah pasti saat ini tidak akan ada satu orang pun yang akan bisa menyelamatkan So eun. Mengingat tempat ini adalah daerah kekuasaan Kim bum, jika sudah seperti ini apa yang akan terjadi pada diri wanita malang itu.

 

Kim bum kembali menarik tubuh So eun, dan melemparkan wanita tersebut ke atas tempat tidur yang ada dikamarnya setelah sebelumnya pria tersebut menyeret tubuh So eun dengan kasar ke kamarnya.

 

“Kau terlalu berisik.. aku muak mendengar suaramu.” Cerca kim bum sambil mendekati tubuh So eun yang masih terbaring di tempat tidur milik Kim bum. Sebuah seringaian terpampang jelas diwajah Kim bum kala mendapati raut muka ketakutan wanita itu ketika melihat Kim bum.

 

“Berhenti.. aku bilang berhenti.” Jerit So eun ketika, melihat pergerakan Kim bum yang tentu saja akan membahaykan dirinya.

 

Bukannya berhenti, Kim bum bahkan semakin mendekatkan dirinya pada wanita yang benar – benar dibencinya itu. Kim bum menaikkan tubuhnya di atas tempat tidurnya tempat dimana saat ini tubuh So eun benar – benar sangat gemetar karena menahan rasa takut dan juga tangisnya. So eun berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya, jika saat ini So eun menangis sudah pasti mulut Kim bum akan terus menerus mencercanya dengan makian dan juga hinaan.

 

“Kyaaaa,,,” Jerit histeris dari mulut So eun kembali terdengar ketika dengan paksa Kim bum menarik baju sebelah kirinya hingga terkoyak besar dan tentu saja itu membuat bahu putih So eun terbuka. Secepat mungkin So eun menutupi bahunya dan secepat mungkin wanita itu menghindari perlakukan Kim bum yang juga hendak melakukan hal yang sama pada baju sebelah kanannya.

Wanita itu dengan sigap, menuruni ranjang itu ketika Kim bum hendak melakukan hal yang lebih mengerikan selanjutnya. Sedangkan Kim bum terlihat kesal ketika lagi – lagi So eun menghindarinya.

 

“Berhenti di tempatmu.. Aku bilang berhenti.” So eun berusaha sekuat apa yang dia bisa, wanita itu benar – benar tidak ingin Kim bum memonopoli tubuhnya. Apapun akan So eun lakukan agar bisa terhindar dari Kim bum saat ini.

 

“Berhenti katamu, kau kira siapa yang membuatku harus melakukan ini semua? Kau kira aku menyukai hal ini, kau terlalu berlebihan.” Kim bum kembali berusaha untuk mendekatkan tubuhnya pada So eun. Seperti tidak peduli akan keberontakan So eun seperti yang sebelum – sebelumnya. Pria ini seperti belum puas jika belum melepaskan kekekesalannya pada So eun.

 

“Seharusnya kau saja yang menyerah, kenapa selalu menghindar bukankah selama ini kau sudah terbiasa melakukannya. Jangan munafik Kim so eun, kau bahkan tidak lebih baik dari pada aku.” Sekali tangkap pria itu bahkan bisa langsung menggenggam erat lengan kiri So eun. Seberapa keraspun usaha wanita itu untuk menghindari Kim bum tentu saja itu tidak akan dengan mudahnya terjadi mengingat saat ini Kim bum lah yang sedang memegang kendali.

 

“Lepaskan tanganmu, atau aku akan menusukmu.” Ancam So eun, sambil mengacungkan sebuah pisau yang entah sejak kapan gadis itu bawa. Dan dari mana pula So eun mendapatkannya. Ah, salahkan saja Kim bum yang selalu lupa meletakkan barang – barang yang sudah selesai digunakan pada tempatnya semula.

Kim bum melebarkan matanya, sorot matanya yang tadinya penuh amarah yang benar – benar meluap kini terlihat nanar ketika melihat So eun tengah mengacungkan sebuah pisau kearahnya. Sebegitu menakutkannnya Kim bum sampai – sampai So eun benar – benar tidak ingin tersentuh oleh Kim bum.

 

Bukannya melepaskan cengkramannya dari lengan So eun, Kim bum malah semakin menarik tubuh wanita itu agar segera mendekat padanya. Kim bum benar – benar ingin merengkuh tubuh So eun dan membawa wanita itu kedalam pelukannya.

 

“Aku tidak main – main dengan ucapanku breenggseekkkk… cepat lepaskan tangamu, kau benar – benar bajingan Kim bum. Bukan hanya kau saja yang membenciku, aku juga membencimu bahkan lebih dari pada rasa bencimu padaku.” Teriak So eun, gadis itu benar – benar sudah muak dengan perlakukan Kim bum selama ini. Sudah cukup untuk So eun bersabar menghadapi kelakuan Kim bum. Dan jika ada ungkapan bahwa sabar itu ada batasnya, nah saat inilah batas kesabaran So eun akan perlakuan – perlakuan yang tidak menyenangkan dari Kim bum selama ini.

 

“Kau mau menusukkan pisau itu padaku. Lakukan, lakukan sesukamu. Aku bahkan tidak peduli jika pisau itu benar – benar mampu menembus jantungku. Ayo.. lakukan, aku tidak akan menghindar.” Tantang Kim bum, semakin memojokkan So eun dengan kalimatnya. Kini Kim bum juga mencengkram tangan So eun yang tengah mengarahkan pisau itu pada dirinya.

 

“Ayo cepat hujamkan pisau itu pada dadaku.. bukankah itu yang kau mau, mungkin kau akan senang jika aku mati. Jika itu yang kau mau, lakukanlah.” Kalimat itu terdengar memilukan ketika Kim bum mengeluarkannya. Pria itu seperti putus asa ketika melihat So eun benar – benar menganggapnya bajingan. Kalau sudah seperti ini bukankah sudah terbukti, Kim bum memang kalah.

“Sebelum kau berniat menembuskan pisau itu pada tubuhku, aku juga sudah mati. Tapi mungkin akan jauh lebih menyenangkan jika seorang Kim bum akan mati ditangan wanita yang sangat dibencinya.” Desis Kim bum pria itu benar – benar sudah kalah, bahkan sebelum Kim bum memulai semua rencananya. Benar apa yang kakaknya bilang, bahwa perasaan itu memang masih ada dalam hati Kim bum. Mungkin Kim bum memang berusaha menyangkalnya mati – matian, tapi sekarang juga, sudah terbukti bahwa pria itu benar – benar sudah tidak memiliki taring lagi dihadapan So eun.

 

Tubuh itu lemas, benar – benar seperti tidak bernyawa ketika mendengar setiap kalimat pengakuan secara tidak langsung dari Kim bum. Bagaimanapun juga So eun bukan orang yang bodoh dan tidak peka akan keadaan Kim bum. Jauh sebelum So eun masuk kedalam rumah megah itu, So eun sudah mengetahui bagaimana tabiat pria ini. Hanya saja selama ini So eun memang tidak pernah mau mempedulikan perasaan pria itu. Karena menurut So eun itu akan menyakiti hati Kim bum sendiri. Ditambah dengan kenyataan yang ternyata menyebabkan Kim bum semakin membenci So eun. Tangan lemas itu merenggang bersamaan dengan terjatuhnya pisau yang sedari tadi digenggamnya. Tentu saja So eun tidak akan benar – benar ingin mencelakai Kim bum seperti apa yang telah diucapkan. So eun hanya ingin melindungi dirinya dengan sedikit ancaman pada Kim bum. Dan ternyata hasilnya adalah sia – sia.

 

“hiks.. hiks.. a-pa la-lagi s-se-karang.” Bisik So eun, wanita itu seperti benar – benar tidak mempunyai tenaga lagi. Kim bum yang melihat So eun sudah mulai kelelahan segera memeluk tubuh wanita itu dengan tiba – tiba dan kembali memaksa So eun untuk menerima ciumannya. Dan tentu saja So eun kembali meronta. Ternyata Kim bum tidak benar – benar melepaskan So eun. Memangnya semudah itu Kim bum akan mengalah, tentu saja tidak akan mudah untuk mengalahkan kerasnya hati Kim bum.

 

“Hemppptttt…. lep… ppasss.” Ronta So eun, ketika Kim bum benar – benar mulai kasar menciumi bibirnya. Kim bum bahkan tidak segan – segan untuk menggigit bibir So eun agar wanita itu mau membuka bibirnya. Setetes darah segar mengalir keluar dari sudut bibir So eun ketika Kim bum menggigit bibir itu dan dengan paksa memaksa lidah pria itu memasuki bibir kecil milik So eun.

Kim bum seperti tidak mempedulikan rasa amis bercampur asin yang mulai memasuki indera perasanya. Rasa amis bercampur asin yang ditimbulkan dari darah dan juga air mata So eun.

 

Mata itu mengkilat tajam, sorot mata yang tidak bisa ditafsir oleh sipenglihat. Sorot mata yang hanya Kim bum sendiri yang mengetahui maknanya. Tangan kokoh itu langsung menarik pakaian yang saat ini melekat ditubuh So eun. Saat ini iblis benar – benar tengah bersemayam di dalam hatinya sehingga Kim bum benar – benar mempunyai kekuatan untuk melakukan hal yang sudah lama dihindarinya. Sedangkan So eun, wanita itu hanya bisa menghela nafas pasrah ketika saat ini tubuhnya hanya terbalut pakaian yang benar – benar sudah koyak. Mungkin So eun memang sudah tidak bisa lagi keluar dari jerat kegilaan yang diberikan Kim bum padanya. Jika memang hari ini So eun bisa memohon pada tuhan, wanita itu benar – benar ingin jika tuhan bersedia mengambil nyawanya saat ini juga daripada harus menerima perlakuan keji seperti ini dari Kim bum orang yang dulu sekali pernah memberikan kehangatan padanya.

 

 

Kim bum menggerakkan tubuhnya, ketika seberkas cahanya menyilaukan indera penglihatnya. Digerakkannya secara perlahan tubuhnya. Sedetik kemudian pria itu memiringkan tubuhnya mendapati seorang wanita tengah memejamkan matanya dan tergolek di sampingnya.

Kim bum menyangga kepalanya dengan satu tangannya, dan menggunakan tangan lainnya untuk menyentuh sudut bibir wanita itu. Warna biru kehitaman nampak disudut bibir itu. Tentu saja luka itu juga sama sakitnya seperti sudut bibirnya. Satu sama fikir Kim bum. Diamatinya wajah itu dalam diam, Kim bum seperti tidak ingin mengedipkan matanya walau hanya satu detik saja. fokus matanya saat ini seperti ingin dia gunakan hanya untuk melihat wajah letih dihadapannya.

 

Segaris cairan bening dengan tiba – tiba merembes dari kedua mata terpejam itu. Benar – benar seperti tersayat – sayat sebuah belati dada Kim bum ketika pria itu melihat wanita yang ada di hadapannya ini tengah menangis dalam tidurnya. Sebegitu keterlaluannyakah Kim bum hingga benar – benar membuat seorang wanita menangis ketika matanya tengah terpejam. Pria itu merengkuh tubuh lemah itu kedalam pelukannya. Didekapnya erat wanita yang entah kenapa sangat dibencinya.

 

“Kau benar – benar membuatku kehilangan duniaku. Kim So eun.” Gumam Kim bum yang semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh So eun. Membenamkan wajah So eun kedalam dada bidangnya. Seperti tidak ingin siapapun melihat air mata yang saat ini tengah terjun bebas dari kedua mata terpejam milik wanita itu.

 

Dan sekarang Kim bum bahkan bisa merasakan getaran hebat dari tubuh So eun, wanita yang saat ini didekapnya itu kembali terisak tanpa suara. Kim bum tau bahwa sejak tadi So eun sudah bangun dari lelapnya. Dan Kim bum tidak mau So eun menghindarinya maka dari itu, sebelum wanita itu mengeluarkan serangan – serangan penolakan lagi seperti sebelumnya. Kim bum tidak mau mengambil resiko. Jika wanita ini berontak, wanita ini bisa saja melakukan sesuatu yang akan membahayakan nyawa Kim bum dan juga nyawa So eun sendiri.

 

“Aku membencimu, sangat membencimu.” Lirih Kim bum, lagi – lagi kata – kata benci yang keluar dari mulut Kim bum saat ini. Kim bum seperti meyakinkan dirinya sendiri bahwa saat ini pria itu memang benar – benar membenci wanita yang telah dipeluknya itu.

 

“Akupun juga sangat membencimu.” Kim bum menyunggingkan senyumnya, tapi pria itu tidak ingin wanita yang ada dipelukannya itu tau sehingga Kim bum masih dengan erat merengkuh tubuh So eun. Apa yang baru saja keluar dari mulut So eun tadi, benar – benar menandakan bahwa wanita ini memang sudah benar – benar terbangun dari lelapnya.

 

“Itu akan jauh lebih baik, dari pada hanya aku yang membencimu.” Ucap Kim bum lagi, kali ini pria itu mengecup pucuk kepala So eun.

 

~~~

 

Diwaktu yang sama namun di tempat lain, Woo bin benar – benar terlihat tidak tenang. Semua berkas yang seharusnya sudah diselesaikannya masih tak tersentuh oleh jemari tangannya. Pria itu benar – benar gelisah. Bagiamana tidak akan gelisah jika dua orang yang saat ini tengah mengganggu fikirannya sama – sama mematikan ponselnya dan tidak memberikan kabar apapun padanya.

 

“Apa yang sedang kalian lakuakan saat ini?” tanya Woo bin pada dirinya sendiri, pria itu menggenggam erat ponselnya sebagai pelampiasan atas kekesalan. Woo bin benar – benar sudah bisa menebak jika saat ini kedua orang yang sedang ada difikirannya itu berada di tempat yang sama. Sayangnya hari ini Woo bin tidak secerdik biasanya. Pria itu seperti tidak bisa melacak keberadaan adiknya, bagaimana bisa ini terjadi. Sedangkan biasanya dimanapun Kim bum berada, Woo bin akan sangat mudah untuk menemukannya.

 

“Sial, bocah itu pasti sudah melakukannya. Seharusnya sejak awal aku sudah bisa memperkirakan semua ini.” Woo bin menghempaskan tubuhnya dengan kasar pada sandaran kursi yang didudukinya saat ini. Pria itu mengusap dahinya menandakan bahwa ada benyak fikiran yang membebani otaknya saat ini.

 

“Jika saat ini kau sedang memikirkan So eun, pasti dia akan baik – baik saja. tidak seharusnya kau mencurigai Kim bum.”

 

Woo bin menghembuskan nafasnya, terdengar kasar. Memangnya sekertarisnya ini tau apa tentang masalahnya. Apa karena selama ini Kim bum selalu dekat dengannya sehingga wanita ini berfikir bahwa saat ini Kim bum dalam kondisi yang baik. Se young bahkan tidak tau jika saat ini Kim bum bahkan berada dititik terlemahnya sehingga bocah itu bisa melakukan apapun yang tentu saja bisa membahayakan seseorang dan tentu saja itu adalah saudari tirinya.

 

“Kau tidak tau apa – apa tentang masalahku.”

 

“Karena memang kau tidak pernah menceritakannya padaku, hanya Kim bum yang menceritakannya padaku. Dan tentu saja menurutku versi Kim bum lah yang paling benar sehingga aku akan selalu mendukungnya. Hanya ada satu versi yang aku dengar, dan tidak ada pemberitahuan apapun darimu.”

 

“Pergilah. Aku tidak membutuhkanmu hari ini.”

 

“Tanpa kau suruhpun aku juga akan pergi.” Decak Se young penuh dengan kekesalan. Gadis itu meletakkan beberapa berkas penting yang sudah terselesaikan di atas meja Woo bin dengan kasar. Bagaimana bisa Woo bin mengusir Se young sedangkan pria itulah yang sebelumnya menyuruh Se young untuk satu ruangan dengannya. wanita itu segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Woo bin, dengan menghentakkan pintu ruangan itu dengan keras sebelum benar – benar pergi. Woo bin hanya tersenyum getir melihat tingkah laku sekertaris sekaligus sahabatnya itu.

 

Sepeninggalnya Se young, Woo bin memeriksa laporan – laporan yang tadi telah dibawa oleh sekertarisnya itu. Diperiksanya semua berkas itu dan ternyata semuanya sudah terselesaikan Woo bin hanya tinggal menandatanganinya dan memberikannya pada sang ayah. Lagi – lagi Se young membantu pekerjaannya dan juga Kim bum.

 

“Dasar bodoh.”

 

~~~

 

Yi hyun berjalan menyusuri salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Seoul, hari ini wanita dewasa itu baru saja bertemu dengan kliennya disalah satu restoran yang terletak di pusat perbelanjaan yang saat ini didatanginya. Karena merasa masih ada waktu sedikit sebelum kembali ke butiknya wanita itu memutuskan untuk berkeliling di pusat perbelanjaan itu. Seharusnya Yi hyun menghubungi Kim bum atau Woo bin saja untuk menemaninya berkeliling, sudah lama sekali wanita itu merindukan kedua anaknya yang sudah lama tidak mengunjunginya.

 

“Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?”

 

Yi hyun mengalihkan pandangannya pada ponselnya. Dan segera mencari pemilik suara yang sangat dikenalnya. Yi hyun sedikit terkejut ketika mendapati mantan suaminya itu tengah berdiri di hadapannya. Rasa canggung menyelimuti wajah wanita yang berusia hampir setengah abad itu.

 

“Bisa kita bicara sebentar!” lagi – lagi seperti ini ternyata sifat pemaksa mantan suaminya itu masih belum hilang. Bagaimana bisa sebuah kalimat permintaan menjadi pernyataan yang menyerupai pemerintah.

Jae wook melangkahkan kakinya mendahului langkah kecil Yi hyun. Wanita itu masih bingung dengan pertemuan yang tidak disengaja ini dan membuat Yi hyun harus terjebak dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman. Duduk berhadapan dengan mantan suaminya, mantan orang yang sudah memberikan dua orang putra dan jangan lupa orang yang selama ini masih dicintainya itu.

 

“Sepertinya kau baik – baik saja.” Ucap Jae wook memecah keheningan diantara mantan pasangan suami istri itu.

 

“Tidak seperti kelihatannya. Bagaimana bisa aku bahagia, sedangkan aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang saat ini telah dilakukan oleh kedua putraku.”

 

“Bahkan aku yang selau bersamanyapun juga tidak bisa melihat apa yang saat ini telah dilakukan oleh keduanya.” Jawab Jae wook dengan sedikit sunggingan senyum yang bahkan tidak bisa dilihat oleh siapapun.

 

“Itu karena kau tidak pernah peduli pada mereka, kau hanya peduli pada keluarga barumu.” Sindir Yi hyun, bagaimanapun sudah pasti wanita ini akan kembali naik pitam jika mengingat akan apa yang menimpa rumah tangganya beberapa tahun silam.

 

“Sedikitpun aku juga tidak mempedulikannya. Hanya ada satu hal yang aku pedulikan dan seharusnya kau tau apa maksudku.”

 

Yi hyun, menatap tajam pria yang ada dihadapannya ini. Seperti biasa pria itu benar – benar bisa menutupi semua masalah yang ada didalam benaknya dengan menunjukkan wajah angkuh dan terkesan dingin. Itu yang sangat tidak disukai ole Yi hyun pada diri mantan suaminya itu. Dan yang lebih parah kebiasaan yang paling tidak disukai Yi hyun pada mantan suaminya itu menurun pada kedua putranya. Terlebih Kim bum, putra bungsunya itu benar – benar bisa menyembunyikan perasaannya terlebih pada orang – orang yang dirasanya dekat, tidak terkecuali Yi hyun yang adalah ibu kandungnya sendiri.

 

“Jadi apa kau sudah memberitahukan semua ini padanya?”

 

Jae wook belum menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh yi hyun. Tapi sesaat kemudian pria itu menggelengkan kepalanya yang menandakan bahwa memang belum ada yang tau akan penyebab semua konflik keluarga ini. Kecuali 3 orang yang sudah berkorban terlebih dahulu.

 

“Maaf sudah membuatmu berpisah dengan putra – putramu.”

 

“Mereka masih sering mengunjungiku, walaupun harus merasa ketakutan setelahnya karena takut kau akan marah padanya.”

 

“Itu karena mereka membohongiku, tempo hari aku bahkan memukul mereka berdua.”

 

“Kenapa harus sampai memukul mereka, tidak bisakah kau mengurangi sifat tempramentalmu. Bagaimana jika mereka jadi membencimu karena kelakukanmu ini. Hanya karena ingin menemui ibu mereka, membuat mereka harus mendapatkan pukulan.” Ada perasaan tidak terima ketika telinga Yi hyun mendengar penuturan Jae wook.

 

“Itu karena Kim bum hendak memperkosa So eun.” Jelas Jae wook, dan membuat Yi hyun seketika terlonjak dari tempat duduknya.

 

Bagaimana bisa putra bungsunya itu melakukan hal sekeji itu. Astaga, nampaknya Yi hyun menyadari sesuatu. Sekarang bukan hanya orang tua saja yang menjadi korban melainkan juga putra putri mereka. Yi hyun mendudukkan tubuhnya. Bagaimanapun semua ini harus diselesaikan. Yi hyun harus memberi pengertian sekaligus meminta penjelasan pada putra bungsunya itu, karena jika tidak maka Kim bum sendirilah yang akan terluka. Dan terlebih tentu saja So eun akan paling menderita. Yi hyun juga tidak bisa mengabaikan putra sulungnya – Woo bin.

 

“Harusnya dari awal kita memberitahukan semua ini pada anak – anak.” Lirih Yi hyun.

 

~~~TBC~~~