Shadow

Posted: 26 Desember 2015 in FF BUMSSO
Tag:

SHADOW

 

 

Segala yang ditakdirkan bersama, maka apapun yang mencegahnya, dia akan menemukan jalan untuk menyatu. Begitu pula sebaliknya, sesuatu yang tidak ditakdirkan bersama, maka apapun yang kita lakukan, dia tidak akan pernah menyatu. ~Tere Liye~

~~~

Semilir angin menembus kulitnya, kain yang melekat di tubuhnya saat ini bahkan tidak bisa melindungi tubuhnya dari dinginnya malam. Musim dingin sudah datang dan dia cukup berani tetap berdiri di posisinya, seolah menantang angin yang membawa dingin menusuk ke dalam sumsum tulang-tulangnya.

Kim So eun. Gadis itu masih betah berdiri di samping jendela kamarnya yang sengaja dibiarkan terbuka lebar. Menatap lurus pada kepekatan langit kota Seoul yang tidak di temani sang bintang. Hari masih malam, seharusnya So eun bisa kembali mengistirahatkan tubuh dan matanya, tapi sayangnya gadis itu memilih tidak melanjutkan tidurnya yang sudah terganggu.

So eun memegang dadanya. Debaran jantungnya masih terasa kencang. Dia tidak tau apa yang saat ini sedang terjadi padanya. Dia tidak tau, kenapa tiba-tiba saja pikirannya merasa kacau. Mimpi itu mengacaukan perasaannya.

“Kau baik-baik saja, Oppa?” Tanyanya lirih. So eun tau tidak ada siapapun di dalam kamarnya saat ini, selain dirinya sendiri, tapi dia ingin menyerukan pertanyaan itu kepada angin malam. Desiran angin berhembus lembut mengenai permukaan wajahnya, seolah ingin berbaik hati menyampaikan pertanyaan So eun pada seseorang yang ingin dituju gadis tersebut.

So eun mengatupkan kedua kelopak matanya. Dia ingin kembali mengingat setiap adegan yang muncul di dalam mimipinya tadi. Yang membuat dirinya masih terjaga sampai saat ini. kedua tangannya memeluk erat tubuhnya sendiri, saat So eun kembali mengingat wajah tampan yang mengunjunginya di alam mimpi. Pelukan hangat itu seakan menjadi obat penawar rindu untuk So eun. Dan ciuman itu membuat So eun ketakutan.

So eun membuka matanya. Dia harus melupakan mimpi yang dengan tiba-tiba mendatanginya sekaligus membawa pria itu ke dalamnya. So eun memang merindukannya, tapi dia tidak menyangka jika pria itu akan datang ke dalam mimpinya.

Salju memang belum turun, tapi hawa dingin di bulan Desember ini membuat semua orang yang ingin pergi ke luar rumah harus rela menggunkan mantel yang lebih tebal dari biasanya. So eun menapakan kakinya menyusuri jalanan di ramainya kota Seoul. Sambil merapatkan mantelnya dan segera mempercepat langkah kakinya. Sudah pukul lima sore dan So eun yakin sahabatnya pasti sudah menunggunya dari tadi.

Tidak butuh waktu lama untuk So eun menemukan sebuah cafe yang sudah sangat sering dikunjunginya. Dia segera mengulurkan telapak tangannya untuk membuka pintu kaca cafe tersebut. kedua pendarnya mengedar ke segala penjuru dan akhirnya senyum simpul terulas di wajah cantiknya saat mendapati sahabatnya yang tengah duduk di pojok cafe. So eun segera membawa langkahnya mendekati sahabatnya tersebut.

“Kau sudah lama menunggu?” Tanya So eun pada sahabatnya. Satu tangannya menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya di sana.

Gadis yang ditanya mengalihkan perhatiannya dari novel yang di bacanya saat ini kepada So eun yang sudah duduk manis di depannya. “Hanya tiga puluh menit, bukan masalah selama ada sebuah buku bacaan yang menemaniku.” Jawabnya santai.

So eun tersenyum lega. “Kupikir aku bisa menyelesaikannya tepat waktu…” dia menjeda kalimatnya dengan helaan nafas panjang. “Nyatanya tidak Ara-ya.” Lanjutnya dengan muka lesu.

Go Ara meletakkan bacaannya di meja, kemudian memandang lekat wajah sahabatnya. “Ada kantung mata di bawah matamu.” Ara mengarahkan telunjuknya pada mata So eun. “Cepat ceritakan padaku, apa yang terjadi padamu?” Perintah Ara.

So eun menghela nafas kembali, diiringi dengan gerakan tubuhnya yang menyandar pada sandaran kursi. “Bibi memintaku datang!” Ujar So eun tak semangat.

“Bukan hal yang buruk.” Komentar Ara, masih santai. “Lagi pula, kau juga sudah lama tidak mengunjungi mereka.

So eun terdiam. Dia memang sudah sangat lama tidak mengunjungi bibi dan pamannya, karena kesibukan pekerjaannya. So eun sendiri bahkan sudah tidak ingat kapan terakhir kali dia mengunjugi kedua orang tua itu. Ah.. So eun menyesali kesibukannya sampai tidak bisa meluangkan waktu untuk mengunjugi mereka. Dan sekarang mau tidak mau, So eun memang harus mengunjungi mereka.

“Ada sesutu yang membuatmu tidak ingin pergi So eun-ah?” Ara bertanya saat So eun terdiam cukup lama.

“Dia sudah kembali…” Gumam So eun pelan.

Kali ini Ara mengerti, kenapa sahabatnya itu memintanya bertemu di sela-sela kesibukan padatnya. So eun dilanda kebimbangan yang cukup besar. “Oppamu?” Tanya Ara memastikan dan So eun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan Ara.

“Ini bukan masalah besar So eun-ah.. kau hanya perlu mengunjugi Bibi dan Pamanmu dan bersikap biasa saja di hadapannya. Kau sudah melakukannya dengan baik selama ini. Dan tidak ada salahnya jika kau kau melakukannya lagi. Kau hanya perlu bersikap santai di hadapannya.”

Seharusnya So eun bisa melakukannya dengan baik seperti sebelum-sebelumnya. Bukankah selama sepuluh tahun ini dia bisa menyembunyikan perasaannya dengan baik. Kenapa hanya karena mimpi itu dia menjadi takut. So eun hanya perlu bersikap biasa saja, seperti sebelumnya. Dia juga harus bisa mengontrol dirinya saat bertemu dengan pria itu nanti. So eun harus bisa menekan perasaannya. Hanya itu yang perlu dilakukan oleh So eun. Tidak perlu memikirkan mimpinya. Lagi pula, sejak kapan So eun berubah menjadi penakut seperti ini.

“Apa tidak apa-apa jika aku bertemu dengannya nanti Ara-ya?” So eun masih tidak mempercayai dirinya. Dia takut tidak bisa mengendalikan dirinya saat bertemu dengan pria itu. Dia tidak ingin merusak semuanya.

“Kau tidak boleh menghindarinya Kim So eun. Dia tidak salah, perasaanmu juga tidak salah. Biarkan semuanya berjalan sewajarnya.”

“Bagaimana jika aku tidak bisa menyembunyikannya lagi?”

“Itu hal yang bagus… jika memang kau sudah tidak sanggup menyembunyikan lagi, maka keluarkan saja. kau sudah terlalu lama menyimpannya seorang diri. Dia juga berhak tau.”

“Aku takut dia membenciku.” So eun menundukkan kepalanya. Dia semakin tidak punya keberanian walau Ara sudah memberikan nasihat untuknya.

“Tenanglah.. ikuti saja kata hatimu. Hanya kau sendiri yang mampu mengendalikan dirimu.” Ujar Ara, kembali menenangkan sahabatnya.

So eun tersenyum dan mengangguk mantap. Dia beruntung mempunyai Go Ara sebagai sahabatnya. Ara selalu bisa membuat kepercayaan diri So eun bertambah dengan kalimat-kalimatnya. Pekerjaan Ara sebagai seorang psikolog membuatnya terlihat cerdas saat berbicara. Mungkin So eun memang harus menuruti saran Ara. Dia harus terlihat biasa saja. Lagi pula tidak ada siapapun yang mengetahui perasaannya selain dirinya dan Ara. Terlebih hanya So eun lah yang bisa mengendalikan dirinya, jadi semuanya bergantung pada dirinya.

Sabtu pagi So eun sudah mempersiapkan diri untuk berangkat ke Busan. Beruntung kantornya memberikannya libur panjang untuk menikmati musim liburan. Sekarang dia sudah duduk di dalam kereta, yang akan membawanya ke tempat sang Bibi. Di dalam kereta So eun hanya bisa menenangkan pikirannya. Perasaannya masih tidak karuan, dia masih belum bisa menyembunyikan kegugupan pada dirinya, terlebih jika nanti dia benar-benar bisa bertemu dengan pria itu. Pria yang beberapa hari lalu telah menghampirinya di alam mimipi.

So eun membawa ingatanya melayang, menyusuri masa lalunya. Kilas balik saat dirinya selalu bersama-sama dengan pria itu. Saat dirinya bisa dengan mudahya menumpahkan keluh kesahnya pada pria tersebut. Saat dia tidak pernah merasakan ketakutan seperti sekarang. Saat dia benar-benar bisa memiliki pria itu untuk dirinya sendiri. Tidak seperti sekarang.

“Terimakasih Oppa..” Gumam So eun dengan senyum mengembang di wajahnya. Walau sekarang So eun tidak bisa kembali pada masa-masa kecilnya bersama pria itu, tapi dia tetap bersyukur karena bayangan pria itu selama ini masih bersamanya. Masih setia di dalam hatinya. Masih menjadi miliknya, walau tak bisa tersentuh.

So eun tidak bisa membayangkan, bagaimana wajah pria itu sekarang. Apakah dia masih tetap tampan seperti terakhir kali So eun melihatnya. Apakah dia masih menyebalkan seperti saat menggodanya dulu. So eun tidak bisa menghilangkan lengkungan di bibir tipisnya saat membayangkan bagaimana wajah pria itu saat ini. Sudah delapan tahun So eun tidak bertemu dengannya, sudah pasti banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi pada pria itu. So eun semakin tidak sabar bertemu dengannya.

~~~

Menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya sampailah So eun ditempat tujuannya. Melewati gapura depan rumah paman dan bibinya, kemudian menuju halaman yang lumayan luas dengan berbagai tanaman bunga di sana-sini. So eun bisa merasakan kerinduan teramat besar pada tempat yang sudah lama tidak dikunjunginya ini.

“Akhirnya kau datang juga!”

So eun mengangkat wajahnya dan memandang lurus ke depan, di sana berdirilah sang paman yang telah menyambut kedatangannya. So eun segera berlari menghampri pamannya, melepaskan alas kakinya dengan asal dan menjatuhkan tas besarnya ke lantai papan dan langsung menghambur ke pelukan pamannya.

“Maaf, karena sudah lama tidak mengunjungimu Paman.” Ujar So eun diringi isakan kecil. Wajahnya terbenam seluruhnya pada dada pamannya. Pria berusia hampir enam puluh tahun, yang masih terlihat gagah dan sehat. Yang sudah merawatnya sejak kecil, layaknya seorang ayah.

Jae wook mengelus lembut punggung So eun. Dia sangat merindukan putri asuhnya ini. Dan akhirnya So eun mengunjunginya. “Tak perlu meminta maaf. Paman tau, kau sibuk So eun-ah.” Ujar Jae wook penuh pengertian.

“Apa hanya Pamanmu saja yang akan kau peluk sayangku?” Suara merdu itu terdengar lembut di telinga So eun. Dia tau benar siapa pemilik suara itu. Milik bibinya. So Yi hyun

Saat pamannya melepaskan pelukannya dan mempersilahkan So eun untuk berganti memeluk bibinya, dia benar-benar tidak membuang-buang kesempatannya lagi. So eun juga segera memeluk bibinya yang sudah berdiri di sampingnya saat ini. So eun rindu paman dan bibinya. Kembali lagi dia menyesal karena sudah mementingkan pekerjaannya dan tidak menyempatkan waktu luangnya untuk mengunjugi keduanya. Betapa kejamnya So eun sekarang.

“Udara di luar sangat dingin.. sebaiknya kita masuk ke dalam!” Jae wook memerintah. Baik So eun dan bibinya mengangguk membenarkan. “Biar pelayan saja yang membawa barang-barangmu ke kamar.” Lanjutnya.

So eun masuk ke dalam rumah yang pernah ditingalinya ini. Masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Semua barang-barang tersusun rapi di rumah yang cukup besar ini. beberapa figura foto tertempel di dinding. Foto paling besar di ruangan keluarga seperti mengingatkan So eun, atas perasaannya. Foto dirinya bersama dengan paman dan bibinya dan lengkap dengan pria itu, semuanya tengah tersenyum. So eun masih ingat betul kapan foto itu diambil. Ya… delapan tahun yang lalu, saat pria itu akan berangkat ke Sydney untuk melanjutkan sekolahnya. Saat terakhir kali So eun bertemu dengannya.

“Kau pasti juga merindukannya!”

So eun mengalihkan perhatiannya pada foto besar yang tertempel di dinding. Bibinya berdiri di sampingnya dengan mengumbar senyum cantiknya. So eun tidak tau harus berkata apa, tapi dia memang sangat merindukannya.

“Dia ada di kamarnya, jika kau ingin menemuinya. Masih tertidur, sepertinya.” Jelas sang Bibi. So eun menatap mata berbinar milik bibinya. Ada kelembutan yang damai, setiap kali So eun meliahatnya. “Tapi… kau terlihat lelah So eun-ah. Apa kau sakit sayang?”

So eun bisa merasakan kekhawatiran yang besar pada nada suara bibinya. Sungguh, So eun pasti akan sangat merasa bersalah jika masih menyimpan perasaannya pada pria itu. Dia tidak ingin menyakiti perasaan paman dan bibinya hanya karena perasaan yang dimilikinya. Sudah cukup kebaikan yang diberikan oleh keluarga ini untuknya, haruskah So eun mengharapkan yang lebih dari ini. Tidak… So eun tidak akan sampai hati untuk melakukannya.

“Bolehkah aku istirahat di kamar sebentar Bibi! Perjalanan tadi membuatku sedikit kelelahan.”

“Ya… Istirahatlah.. masih ada banyak waktu sampai makan malam nanti tiba.”

So eun meninggalkan bibinya dan berjalan menuju ke kamarnya di lantai dua. Dengan perlahan-lahan dia menaiki tangga. Kepalanya menunduk, pikirannya gamang. Entah kenapa ingatan akan mimpi yang mendatanginya beberapa hari yang lalu kembali muncul di benaknya. Kenapa pria itu datang ke mimpinya secara tiba-tiba. Dan kedatangan pria ini yang juga tidak pernah So eun perkirakan sebelumnya. Kenapa delapan tahun yang sebelumnya terasa lama, menjadi sangat singkat. So eun tidak ingin bertemu dengan pria itu, tapi hatinya sangat merindukannya.

“Aku tidak melihat sesuatu yang menarik di lantai yang kau injak sekarang!”

Deg.. jantung So eun serasa berhenti mendadak. Bukan hanya jantungnya tapi juga nafasnya. So eun mengenali suara berat yang sama persis dengan milik pamannya itu. Tangannya mengepal kuat, dia gugup tapi dia harus bersikap wajar dan biasa saja. Dengan takut-takut, So eun mengangkat wajahnya. Matanya bisa langsung melihat pria itu berdiri tepat di depan kamarnya yang sudah terbuka lebar.

Senyum itu.. wajah itu dan ekspresi itu sama persis dengan yang ada di dalam mimpinya. Bayangan itu terlihat nyata dan berada tepat di depannya. So eun tidak percaya jika sekarang pria itu benar-benar ada di hadapannya dengan senyum yang mengembang di wajah tampannya. Pria itu masih tampan, bahkan jauh lebih tampan dari terakhir kali So eun melihatnya. Walaupun hanya dengan pakaian rumahan biasa yang melekat di tubuhnya, pria itu masih terlihat sangat tampan dan semakin dewasa.

Pria itu mengangkat tangannya dan melambai pada So eun. “Hai.” Sapanya, dengan senyuman yang terpasang apik di wajah tampannya.

So eun tidak bisa berkata-kata. Dia tidak bisa bersikap biasa saja. Dia gugup, sangat gugup dan juga takut. Sekuat tenaga dia menahan dirinya untuk tidak menghambur pada pria yang sudah membuatnya kacau beberapa hari ini. Ingin So eun, merengkuh tubuh kokoh itu dan membenamkan wajahnya pada dada bidang di sana, tapi sekali lagi So eun mengingatkan dirinya. Pria itu hanya akan menjadi bayangan untuknya.

“Kau tidak merindukanku, So eun-ah?” Pria itu mengernyit heran, saat tidak mendapati respon antusias dari So eun ketika melihatnya.

“Aku merindukanmu Oppa.” Ya…. So eun sangat merindukan pria tersebut. Rasa rindunya sangat besar, sampai So eun ingin segera mengeluarkannya sekarang juga.

“Kau tidak ingin memelukku, seperti kau memeluk Ayah dan Ibuku?”

So eun terperanjat dengan pertanyaan pria itu. Apa mungkin pria ini memang sudah melihatnya sejak pertama kali kedatangannya. Lalu kenapa dia tidak langsung menemui So eun di bawah, menyambutnya bersama dengan kedua orang tuanya.

Pria itu mengangkat kedua tangannya dan merentangkannya lebar-lebar, siap menyambut kedatangan So eun kapan saja. tidak butuh waktu lama, untuk So eun berpikir karena setelahnya, gadis itu langsung menerjang pria tersebut.

“Aku merindukanmu Kim bum Oppa..” Ujarnya.. “Aku bahkan tidak bisa menahan kerinduanku padamu Oppa…” Imbuhnya dalam hati. So eun mendekap erat tubuh kokoh Kim bum. membenamkan wajahnya pada dada Kim bum. Menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh tegap Kim bum. So eun tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Dia sangat senang bisa melihat wajah Oppanya lagi.

Kim bum membalas pelukan kencang So eun. Pria itu senang bisa melihat lagi adik angkatnya. Perpisahan yang cukup lama. Dan akhirnya mereka bisa saling bertatap muka.

“Pelukanmu masih hangat seperti dulu Oppa.. dan perasaanku padamu juga masih sama seperti dulu. Kuharap kau tidak keberatan dengan perasaanku ini Kim bum Oppa.” Batin So eun. Dia senang. Teramat sangat senang karena bisa memeluk tubuh hangat Kim bum. So eun sudah berusaha untuk mengendalikan dirinya. Walau dia ingin mengabaikan perasaannya, tapi nyatanya dia tidak pernah bisa menghindari kakak angkatnya ini.

“Aku merindukanmu So eun-ah!” Kim bum memeluk erat tubuh So eun. Pria itu sangat merindukan adik tersayangnya. Sudah lama mereka tidak bersama dan sekarang Kim bum ingin bersama-sama lagi dengan sang adik tercinta. “Kupikir kau masih ada di sini, saat aku kembali.” Kim bum menguraikan pelukannya pada tubuh So eun.

So eun tersenyum lembut, kemudian menyadari sesuatu. Sudah cukup waktunya untuk mendapatkan pelukan dari sang kakak. So eun tidak boleh membiarkan perasaannya berjalan lebih jauh lagi. “Kupikir Oppa sudah tau, aku tidak tinggal di sini lagi.”

“Tidak ada satu orangpun yang memberitauku… termasuk kau sendiri.”

So eun tau kakaknya pasti kecewa. Selama ini dia tidak pernah bertukar pesan dengan sang kakak. Dia juga meminta pada paman dan bibinya untuk tidak memberitaukan kepindahannya ke Seoul pada Kim bum. Bukan karena So eun tidak menyayangi kakaknya, tapi dia tidak ingin Kim bum menolak keinginanannya untuk hidup mandiri. Sudah cukup lama dia bergantung pada keluarga Kim bum. Dia tau diri dan batasannya. Dia tidak ingin menyusahkan orang lain lagi. So eun sudah tumbuh menjadi manusia yang bisa berjalan dengan kakinya sendiri. Dia ingin berusaha. Menghidupi dirinya dari hasil kerja kerasnya, tidak ingin semakin membebani orang tua Kim bum, walau kedua orang tua itu sudah pasti tidak akan pernah merasa terbebani dengan keadaan selama ini.

Kim bum menjentikkan jarinya tepat di depan wajah So eun. “Ada sesuatu yang menggangguu pikiranmu?” Tanya Kim bum, seakan tau ada sesuatu yang saat ini sedang memenuhi kepala gadis di depannya.

Ya.. ada beribu banyak gangguan di dalam pikiranku… dan salah satunya adalah KAU. So eun tersenyum lembut pada sang kakak. Dia menggelengkan kepalanya. “Aku lelah…ingin istirahat.” So eun memaksakan kakinya untuk melangkah melewati Kim bum yang terlihat bingung. Sudah pasti pria itu mempunyai banyak pertanyaan akan sikap So eun yang seperti ini dan So eun tidak peduli. Dia hanya harus bersikap biasa saja pada kakaknya. Tapi sikapnya ini membuatnya tampak tidak biasa saja. So eun terlalu kuat menekan perasaannya.

So eun membuka matanya lebih lebar.. dia menutup mulutnya yang sempat menganga, ada banyak kelopak bunga mawar merah yang bertabur di atas tempat tidurnya, bukan hanya itu saja. Dia bahkan baru menyadari jika saat ini cahaya yang menerangi kamarnya bukanlah dari cahaya lampu, melainkan cahaya lilin yang tersusun rapi di meja samping tempat tidurnya dan juga meja belajarnya. Siapa yang menyiapkan ini semua dan bagaimana bisa orang itu sangat mengerti apa yang sangat dia sukai.. Tidak mungkin paman dan bibinya, mereka tidak tau bunga apa yang So eun suka dan juga mereka tidak pernah tau jika So eun sangat menyukai cahaya lilin menerangi kamarnya.

So eun tersadar dari keterpesonaan dekorasi kamarnya. Ada satu orang yang sangat tau betul apa saja kesukaannya. Dan orang itu adalah kakaknya. Jika benar, semua ini adalah hasil kerja Kim bum, bagaimana mungkin So eun bisa begitu saja melenyapkan bayangan pria itu dari hati dan juga pikirannya.

“Kupikir kau akan menyukainya….tapi sepertinya tidak…”

So eun masih terdiam di tempatnya, dia tidak bisa berkata apapun. Dia sangat menyukai dekorasi kamarnya saat ini. Sejak dulu, So eun sangat menginginkan dekorasi kamarnya seperti ini. Taburan kelopak bunga mawar merah yang memenuhi tempat tidurnya, kelambu berwarna merah muda yang menggantung di tiang penyangga ranjang dan juga nyala api kecil dari lilin di setiap sudut-sudut kamar, alunan musik klasik yang indah dan juga seorang pria yang akan selalu mendampinginya. So eun menginginkan dekorasi kamar seperti ini di saat malam pengantinnya. Dia sangat memimpikan hari itu tiba, tapi sekarang semuaya membuat So eun merasa lebih takut. Ketakutan yang tak mendasar.

So eun memutar tubuhnya, menghadap kakaknya yang sedang bersandar pada pintu kamar yang sudah tertutup rapat. “Kau yang melakukannya?” Mata So eun menyipit. Dia tidak tau apa alasan Kim bum melakukan semua ini.

Kim bum melipat tangannya di depan dada. “Kupikir kau akan senang jika aku melakukan ini!” Jawab Kim bum santai, tanpa tau bahwa perasaan So eun sedang tak karuan.

“Kenapa, kau selalu melakukan apapun yang ada di pikiranmu Oppa?… tidak semua yang kau pikirkan akan di senangi orang lain. Kau tidak tau apa yang sedang dipikirkan mereka. Apa yang kau pikirkan dan orang lain pikirkan, tidak semuanya sama. Jadi berhentilah melakukan hal-hal bodoh seperti ini.” Kim bum terdiam. So eun juga tidak tau kenapa dia bisa seberani ini menasehati sang kakak.

“Kau sudah pandai berbicara sekarang, maafkan aku! Sepertinya aku memang salah karena tidak membicarakan hal ini padamu sebelumnya.” Kim bum tersenyum tipis pada So eun. Dia tidak menyangka apa yang sudah dilakukannya mendapatkan penolakan dari sang adik, walaupun So eun tidak melakukannya secara langsung. “Aku akan meminta pelayan membereskan semuanya, agar kau bisa istirahat…” Kim bum membuka pintu kamar So eun dan membawa langkahnya pergi keluar, meninggalkan So eun yang terlihat menyesal dengan perbuatannya.

So eun tidak bermaksud menyakiti perasaan kakaknya. Dia hanya tidak ingin perasaannya semakin tumbuh. Dengan sikap Kim bum yang seperti ini, bagaimana mungkin So eun bisa menghilangkan perasaannya pada sang kakak. “Maaf Oppa…. maafkan aku!” gumamnya penuh penyesealan.

So eun menapakkan kakinya… menuju pada pembaringan yang di atasnya penuh kelopak bunga. Dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan hati-hati dan membuat beberapa kelopak bunga terjatuh ke lantai. Debaran jantungnya kembali mengencang. Kenapa harus seperti ini. Kenapa So eun tidak bisa bersikap sewajarnya pada sang kakak. Kim bum sudah berbaik hati memberikan kejutan untuknya, sedangkan dia tidak sedikitpun dia melakukan hal yang istimewa sebagai penyambutan kedatangan sang kakak. Dan sekarang So eun sudah menyakiti hati oppanya, membuat Kim bum kecewa.

So eun tidak menyukai dirinya sendiri. Dia terlalu kejam pada Kim bum. Bukan salah Kim bum, hingga So eun bisa mempunyai perasaan pada pria itu. Bukankah Kim bum juga tidak tau, apa yang saat ini sedang ada di delam benaknya. Kim bum hanya ingin menyenangkan hatinya, tidakkah So eun terlalu jahat karena telah menyakiti hati sang kakak. So eun harus meminta maaf pada kakaknya dan bagaimanapun juga pria itu tidak bersalah. Semua kekacauan hatinya adalah salahnya, tidak ada siapapun yang bersalah selain dirinya sendiri.

~~~

“Sudah lama kita tidak berkumpul seperti ini bukan?”

Jae wook membuka kesunyian di meja makan. Ini adalah pertama kalinya mereka semua makan bersama, setelah kepergian Kim bum ke Sydney. Senyum bersahaja terukir jelas di wajah Jae wook saat ini. Pria itu pasti juga sangat merindukan kehangatan yang sudah lama hilang. Hanya berdua dengan istrinya, tanpa kehadiran Kim bum dan juga So eun. Bukan hanya senyum bersahaja dari Jae wook, tapi So eun juga bisa melihat senyum kebahagian yang saat ini terpancar jelas di wajah cantik bibinya.

“Tinggalah di sini lebih lama lagi So eun-ah… bukankah kau sudah lama tidak berkumpul bersama kami.” So Yi hyun meminta dengan lembut. So eun mengangguk, sudah pasti dia tidak akan tega menolak permintaan bibinya itu.

“Tentu saja dia akan tinggal lebih lama di sini, Ibu… Jika dia keberatan, aku akan memaksanya untuk tetap tinggal.” Tegas Kim bum, dengan nada bergurau.

So eun menolehkan kepalanya ke samping kiri, ke tempat di mana Kim bum berada. Pria itu terlihat biasa saja, tidak ada gurat kemarahan di wajahnya, malahan pria itu memberikan senyuman tulusnya untuk So eun. Dia merasa lega, Kim bum tidak marah dengan sikap So eun beberapa waktu yang lalu.

“Apa kau sudah mendapatkan tempat yang cocok untukmu di Seoul nanti?” Tanya Jae wook mengarah pada putra semata wayangnya.

“Dia baru sampai… kenapa kau tega bertanya seperti itu di hadapanku.” Yi hyun merajuk.. dan di sambut dengan tawa renyah dari kedua pria yang di sayanginya itu. Sedangkan So eun, gadis itu hanya bisa kebingungan mendengar pertanyaan pamannya pada sang kakak.

“Seoul?” Gumam So eun lirih, sambil mengedarkan pandangannya pada ketiga orang di dekatnya.

“Kenapa harus susah-susah mencari tempat tinggal… bukankah ada So eun. Aku akan lebih tenang jika Kim bum tinggal di apartemen So eun. Dia bisa lebih menjaga adiknya.”

 

“Itu usul yang bagus… bagaiamana menurutmu Bum-ah?” Jae wook menatap ke arah Kim bum, menunggu jawaban dari sang putra. So eun semakin tidak mengerti kenapa pembicaraan ini semakin terdengar menakutkan untuknya.

“Bukankah lebih baik kita mendengar pendapat So eun..” Kim bum memberikan jawabannya, sepertinya dia tidak ingin mengambil keputusan yang salah dan membuat adiknya itu memarahinya seperti tadi.

“Apa yang Paman dan Bibi bicarakan? Apa Oppa akan pindah ke Seoul? Untuk apa?”

Kebingungan So eun terjawab.. Yi hyun mengangguk mantap. Kim bum memang akan pergi ke Seoul. “Ada pekerjaan yang akan dia lakukan di sana!” Yi hyun menjelaskan.

So eun terpana. Dia jelas tidak bisa menolak kehadiran Kim bum. Orang tua Kim bum sudah berbaik hati memberinya tempat tinggal dan pendidikan yang layak untuknya, bagaimana bisa So eun akan menolak putranya.

~~~~

So eun menekuk lututnya. Musim dingin di bulan Desember semakin menggila. Beberapa hari lagi hujan salju pasti akan datang. So eun menatap kobaran api di dalam tungku pembakaran yang ada di dalam rumah. Kobaran api itu menghangatkannya. Seseorang berjalan mendekatinya, So eun tidak menggerakkan tubuhnya hanya untuk melihat siapa orang yang sedang menghampirinya dan telah menyampirkan selimut tebal pada bahunya. Dia sudah tau siapa yang saat ini ikut bergabung bersamanya.

“Kau tak perlu khawatir dengan usulan Ibu… aku sudah meminta bantuan teman untuk mencarikan tempat tinggal di Seoul nanti.”

Sungguh. So eun merasa dirinya sekarang amat sangat jahat saat mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh kakaknya. Dia tidak keberatan jika Kim bum akan tinggal bersamanya. Di apartemennya yang cukup besar untuk ditinggali dua orang. So eun tidak keberatan akan hal itu, tapi perasaannya saat inilah yang memberatkan semuanya.

Kim bum menggeser tubuhnya dan lebih mendekat pada So eun. Dia merapatkan selimut tebal yang sekarang menyelimutinya. “Kau tumbuh sangat cepat So eun-ah… delapan tahun tidak bertemu, aku tidak pernah menyangka kau akan tumbuh menjadi seorang gadis yang luar biasa.”

So eun merasa tersanjung dengan kalimat pujian yang diucapkan oleh kakaknya tersebut. Sebenarnya So eun sendiripun juga ingin memuji sang kakak. Delapan tahun tidak bertemu, Kim bum juga berubah menjadi pria yang lebih bijaksana. Ketegasannya selalu terlihat di setiap perkataannya. Pesonannya pun tidak pernah berkurang, justru kian bertambah. Sudah tidak ada lagi Kim bum yang suka menggodanya, kakaknya ini sekarang berubah menjadi pria dewasa yang bersahaja dan menyenangkan.

“Aku merindukanmu… delapan tahun tak bertemu, aku selalu memikirkanmu. Ibu tidak pernah mengatakan tentang kepergianmu di setiap panggilanku. Setiap aku menanyakan keberadaanmu, Ibu dan Ayah selalu mempunyai alasan-alasan yang pintar untuk mengelabuhiku…. dan aku yakin itu semua mereka lakukan karena permintaanmu.” Kim bum tersenyum saat mengatakannya. Tidak ada gurat kekecewaan di wajahnya, yang ada hanya senyum simpul yang tulus dan penuh pengertian. Dia seolah tau, jika So eun punya alasan yang mendasar kenapa sampai tega membohonginya. “Kau pasti sangat sibuk dengan kuliah dan pekerjaanmu…” Lanjutnya, tanpa menghilangkan senyum tulus di wajah tampannya.

“Kau tidak marah padaku Oppa?” Tanya So eun penasaran. Bagaimana mungkin Kim bum tidak menunjukkan kemarahan apapun pada ketidaktaudirian So eun, terlebih saat dia menunjukkan ketidak sukaannya akan usul bibinya di meja makan tadi. Kim bum pasti marah. Pria itu pasti menyembunyikan kemarahannya. Sayangnya semua pikiran So eun sekarang tidak terbukti. Tidak ada tanda-tanda kemarahan pada sikap Kim bum saat ini.

Kim bum terkekeh pelan. “Berapa usiamu sekarang So eun-ah?” Akhirnya pria itu menatap So eun saat bertanya. Mengalihkan ketertarikannya pada kobaran api kecil di tungku pembakaran pada sang adik yang menatap kearahnya.

“23 Oppa…” Jawab So eun. Ada perasaan kecewa saat Kim bum menanyakan usianya saat ini. Dia merasa terlupakan. Kim bum bahkan tidak menghitung berapa usianya saat ini dan semua ini salahnya. Siapa suruh So eun tidak pernah lagi membalas email yang dikirimkan Kim bum padanya. Dan siapa suruh dia tidak pernah menghubungi Kim bum setiap kali kesempatan. So eun memang manusia tidak tau diri. Dan itu semua karena rasa bersalahnya pada perasaan aneh yang menggelayuti hatinya.

“Aku tidak bermaksud melupakan usiamu So eun-ah.. Aku bertanya karena ingin memastikannya saja. Kau memang sudah dewasa sekarang. Dan mungkin semua hal-hal yang kau sukai di masa kanak-kanak dulupun sudah berubah. Aku tidak bermaksud membuatmu marah atas kejutan yang kuberikan tadi…” Kim bum membahas kemarahan So eun tadi, walau sebenarnya dia sangat mengerti jika adiknya itu tidak benar-benar marah atas perbuatannya. “Aku sedih kau tidak pernah menghubungiku lagi. Tidak pernah membalas pesan-pesanku lagi. Aku takut kau melupakanku dan sangat takut saat aku tak melihatmu di rumah ini.”

So eun meneguk ludah. Kenapa dadanya terasa tertusuk dan sakit luar biasa saat mendengar kalimat-kalimat yang dikelurkan oleh Kim bum kepadanya. Kim bum merindukannya. Kakaknya takut dia melupakannya, padahal satu detikpun So eun tidak pernah bisa melupakan bayangan Kim bum di dalam benaknya. So eun tidak akan pernah mungkin bisa melupakan Kim bum. Walau sekarang So eun terlalu jahat karena selalu mengabaiakan pesan-pesan dari sang kakak. Karena bagi So eun itu adalah sebuah jalan keluar yang terbaik untuk menghilangkan perasaan aneh yang membelunggu jiwanya.

So eun merangsek maju, tangannya menghempaskan selimut yang tadi dipasangkan Kim bum padanya. Melingkarkan kedua tangannya untuk memeluk pinggang Kim bum. So eun tidak mau mengabaikan Kim bum lagi. Dia sudah cukup bersalah karena mengabaikan Kim bum selama delapan tahun ini. Dia ingin kembali menjadi adik yang baik untuk Kim bum dan berharap bisa mendapatkan satu kesempatan yang lebih dari itu. “Maafkan aku Oppa..! Aku tidak bermaksud melupakanmu. Aku juga merindukanmu. Aku menyukai kejutan yang kau berikan. Apapun itu…” So eun mengatakannya.. menumpahkan segala kerinduannya. Ingin rasanya dia menebus perasaan bersalahnya dan tentu saja, semuanya akan So eun lakukan dangan setulus hati tanpa meminta imbalan atau balasan atas perasaan anehnya.

Kim bum membalas pelukan So eun. Satu telapak tangannya mengelus rambut terurai milik So eun. Kim bum menghela nafas lega, karena So eun memang tidak benar-benar marah padanya. Adiknya ini memang sudah tumbuh menjadi seorang gadis dan bukannya kanak-kanak lagi. Seharusnya Kim bum tau itu, termasuk alasan kenapa So eun tidak pernah membalas pesan-pesannya selama ini. So eun sibuk dengan pendidikan dan pekerjaannya. Kim bum akan memahaminya. Bagaimanapun kondisi adik kesayangannya itu.

“Aku tidak keberatan tinggal bersamamu Oppa… Apartemen itu juga milikmu.. tentu kau bebas tinggal di sana semaumu.” So eun mengucapkannya dengan mantap, dia bahkan tidak sempat membayangkan apa yang akan terjadi pada hari-hari selanjutnya.

Dia tentu sangat menyadari bahwa paman dan bibinya ikut andil dalam pembelian apartemennya di Seoul. Walau sebagian besar adalah uangnya sendiri. Tapi apalah arti uang So eun jika dibandingkan dengan kebaikan keluarga Kim bum yang sudah berbaik hati mau merawat dan membesarkannya sejauh ini.

Kim bum mengangguk. “Terimakasih sudah mengijinkanku tinggal bersamamu So eun-ah!” Tangan besarnya merengkuh So eun, membimbingnya ke dalam pelukannya. Membagi kehangatan yang dimilikinya pada So eun.

So eun mengumbar senyum cerianya pada Kim bum, masih mendekap erat tubuh kokoh sang kakak. Akhirnya dia bisa merasakan kembali kehangatan yang sudah sangat lama dirindukannya, membirkan perasaan anehnya tetap bersamayam di hatinya. Biarkan saja, So eun ingin tetap memiliki perasaan aneh tersebut. Bukankah hanya So eun yang mengetahui isi hatinya. Dan selama apa yang dilakukannya masih dalam batas wajar, kenapa So eun harus menahannya. Dia hanya ingin merengkuh kakaknya. Merengkuh bayangan yang sudah sangat lama dirindunya.

Malam ini So eun merasa dirinya merasa seperti hidup kembali. Di balik bayang-bayang ketakutan akan perasaan aneh yang menghantuinya, dia tetap merasa senang karena bisa memeluk Kim bum untuk dirinya. Berbagi kehangatan dalam selimut tebal bersama dan memandang kobaran api di dalam tungku pembakaran. Malam ini So eun tidak ingin melepaskan pelukannya dari tubuh Kim bum walau hanya sedetik. Dia ingin menceritakan semua yang dilakukannya selama delapan tahun yang berlalu tanpa Kim bum. Semuanya. Bagaimana dia merasa sedih dan bersalah karena mengacuhkan pesan-pesan dari kakaknya itu. So eun akan menceritakan apapun yang ditanyakan oleh Kim bum. Tentu saja tidak termasuk perasaan aneh yang menggelayutinya, dan mimpi beberapa hari yang lalu yang sudah menakutinya.

Setelah delapan tahun berlalu berpisah dan dua tahun tanpa komunikasi apapun akhirnya So eun bisa bersama dengannya kembali. Berada di satu atap yang sama. Mendengar suara teduhnya, melihat senyuman tulusnya dan merasakan hembusan nafasnya – lagi. Setelah delapan tahun berlalu dalam pelarian, akhirnya So eun tidak bisa menghindar lagi. Dia kembali dan memang sudah seharusnya kembali, bukan hanya untuk keluarganya ataupun So eun seorang, tapi juga untuk hal lain yang So eun tidak pernah ketahui.

“Kau tinggal di tempat sebesar ini seorang diri?” Itu kalimat pertama yang keluar dari mulut Kim bum saat langkah kakinya menjejak masuk ke apartemen So eun untuk pertama kalinya.

So eun meletakkan tas jinjing miliknya ke sofa ruang tamu dan segera beranjak ke kamar kosong yang memang sengaja disiapkan untuk paman atau bibinya yang sesekali mengunjunginya dan menginap. “Bibi yang memilih tempatnya dan aku tidak bisa membantah.” Tangan So eun mendorong pelan pintu kamar bercat putih tersebut. “Kau bisa menggunakan kamar ini Oppa!”

Kim bum melangkahkan kakinya, menuju kamar yang ditunjukkan So eun padanya. “Kau benar-benar tidak apa, jika aku tinggal di sini?” Kim bum bertanya. Dia masih belum yakin So eun benar-benar mengijinkannya untuk tinggal, sedangkan dia sempat melihat gurat ketidak sukaan di wajah So eun, saat ibunya mengusulkan hal ini. Kim bum tidak ingin mengganggu sang adik, apalagi So eun sudah menjadi seorang gadis. Dia pasti tidak akan nyaman jika hanya tinggal berdua dengannya. Kim bum mengerti dan jika So eun keberatan dia pasti akan segera pergi setelah mendapatkan tempat tinggal yang cocok untuknya.

“Tak apa… Tempat ini milik Oppa juga, tak perlu sungkan. Paman dan Bibi sudah banyak membantu, termasuk Oppa. Biarkan aku membalasnya sekarang walau hanya dengan membuatkanmu secangkir kopi di pagi hari.”

Kim bum tertawa ringan, telapak tangan mengusap lembut puncak kepala So eun. Dia tidak menyangka So eun sudah berubah menjadi gadis yang dewasa, tidak lagi cengeng seperti saat dia meninggalkannya. “Kau sudah berubah.. semakin dewasa. Terimakasih, karena sudah tumbuh secepat ini So eun-ah.. Oppa bangga padamu!”

So eun tersentuh.. entah sudah keberapa kalinya Kim bum memujinya. So eun menyukainya. Dia menyukai setiap pujian Kim bum yang terlontar untuknya. Rasa kagum So eun menggila. Dia tidak bisa menghentikan debaran jantungnya. Pujian Kim bum selalu membuatnya melayang. Kim bum sudah pandai memuji seiring bertambahnya usia, So eun sendiri tidak menyangka jika kakaknya ini akan menjadi pribadi yang lebih hangat. Tak lagi suka mengolok, tak lagi suka mentertawakan ataupun menggoda. Kim bum lebih sering tersenyum dan memujinya. Sydney membuatnya berubah. Membuat pria ini juga menjadi lebih ramah dan penyabar. Dan lihatlah betapa dewasa Kim bum sekarang. So eun semakin mendambanya.

“Tak perlu khawatir apapun tentangku.. lakukan semua pekerjaanmu seperti biasa, tak perlu mengurusiku, aku bisa melakukannya sendiri…. dan kau tak perlu sungkan bicara, jika memang tidak merasa nyaman dengan keberadaanku.”

“Aku tidak keberatan.. sungguh.. berhenti, mengatakan hal-hal yang akan membuatku marah lagi Oppa! Aku tidak suka kau mengatakannya.”

Kim bum mengangguk.. dia menyetujui perintah So eun. Jika memang adiknya ini tidak keberatan akan kehadiranya, dia akan jauh lebih baik. Kim bum ingin menemani So eun dan menjaganya. Seperti dulu lagi. Dia sudah lama merindukan kebersamaannya bersama sang adik. Walau sekarang Kim bum merasa yakin, kalau dirinya tak perlu melakukannya lagi. So eun pasti sudah mempunya pelindungnya sendiri. Tidak akan membutuhkan penjagaan Kim bum seperti dulu. Kim bum sudah bisa memastikannya. Selama ini So eun baik-baik saja tanpa dirinya dan hal itu membuatnya bisa bernafas lega. Sekarang dia hanya perlu memastikan bahwa adiknya memang benar-benar bisa membawa dirinya sendiri, tanpa bantuannya lagi.

“Ya… kalimatmu, membuatku merasa lebih baik.. aku tidak ingin kau mengabaikanku So eun-ah.” Kim bum berjalan memasuki kamarnya. Mengangkat kopernya ke atas tempat tidur dan membukanya. Mengeluarkan pakaiannya untuk dirapikan.

So eun terdiam. Apa dia memang sudah sangat keterlaluan karena telah mengabaikan Kim bum selama ini. Apa jalan yang dipilihnya ini memang salah. Dia tidak tau, So eun benar-benar tidak tau, atas apa yang harus dilakukannya saat ini. Bagaimana caranya dia membawa perasaan anehnya dan kemana So eun harus membawanya saat ini. So eun tidak tau.

“Kemarilah…” Kim bum melambaikan tangannya pada So eun, agar gadis itu mendekat padanya.

So eun berjalan mendekat. “Oppa ingin aku membantu?”

Kim bum tersenyum manis, seperti biasanya. “Jika kau tidak keberatan.” Ucapnya.

Semua pakaian yang dibawa Kim bum sudah tersusun di lemari. So eun menghela nafas lega. Tidak butuh waktu lama membereskannya. Kim bum tidak membawa banyak pakaian dan hal itu menguntungkannya. Keduanya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Memandang langit-langit kamar bercat putih. Berdua. Bersama kembali.

“Pekerjaan apa yang kau kerjakan sekarang?” Kim bum membuka obrolan.

“Hanya menjadi seorang editor di sebuah perusahaan majalah.. tapi cukup menyita waktu.”

“Jadi itu yang membuatmu tidak pernah membalas semua pesanku dan juga tidak menghubungiku dua tahun terakhir?”

Bukan.. itulah yang ingin diucapkan So eun saat ini. “Ya.. Karena pekerjaan itulah yang membuatku mengabaikanmu Oppa.. maafkan aku.” So eun berbohong. Tapi dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.

“Seharusnya kau tak perlu bekerja.. tak perlu pergi ke sini. Bukankah hidup bersama dengan ayah dan ibu akan lebih baik untukmu. Bukankah aku sudah pernah berkata padamu, jika aku akan selalu menuruti apapun yang kau mau… Aku mempunyai pekerjaan yang bagus untuk membiaya hidupmu sampai kau menikah nanti… dan pabrik ayah juga masih berjalan sampai sekarang.. apa lagi yang kau inginkan?”

So eun menatap mata kelam Kim bum yang memandangnya. Dia tau apa yang dikatakan Kim bum padanya adalah sebuah kebenaran. Dulu pamannya juga melarangnya pergi ke Seoul, terlebih saat So eun memutuskan untuk bekerja di sini dan bukannya membantu sang paman di pabrik. Tapi So eun sudah terlanjur malu. Malu karena sudah menghianati kebaikan mereka. “Aku ingin mandiri. Tidak ingin menyusahkan kalian lagi.”

“Tidak ada kata menyusahkan, diantara keluarga. Kenapa kau berpikir seperti itu. Aku kakakmu. Orang tuaku adalah orang tuamu juga.” Kim bum mengatakannya dengan tegas. Memaksa So eun untuk kembali menjadi adiknya yang dulu dan So eun sudah terlanjur berjalan jauh dengan perasaan anehnya. Mana mungkin dia bisa kembali lagi.

“Saudara…” So eun menggumam. Dia takut meyakini arti kalimat itu, terlebih saat Kim bum yang mengatakannya.

“Ya.. kau saudaraku. Aku kakakmu dan kau adikku.” Kim bum mempertegasnya. Tanpa mengetahui bagaimana kekacauan pikiran So eun saat ini.

So eun beranjak bangun, dia tidak ingin meneruskan perbincangan menakutkan ini. Dia ingin pergi ke kamarnya dan meledakkan semua ketakutannya. Sayangnya Kim bum tidak membiarkannya pergi begitu saja. “Apa yang terjadi? Kau berubah, tak seperti Kim So eun yang dulu. Yang selalu manja padaku. Yang selalu merajuk minta ini dan itu. Apa aku melakukan kesalahan padamu?” Pertanyaan Kim bum menuntut.

So eun melihat gurat kesedihan di wajah Kim bum dan dia tidak tau kenapa kakaknya bersedih. Walau seharusnya dia tau, penyebabnya adalah dirinya. Sayangnya So eun tidak akan mau mengakuinya. Dia tidak mau terlalu percaya diri. “Aku sudah besar.. tidak harus merajuk lagi pada Oppa. Mengertilah Oppa!” So eun mengatakannya dengan lembut namun tegas. Dia ingin memberikan penjelasan atas kalimat tuntutan dari kakaknya. So eun tidak ingin Kim bum mengetahui kebenaran perasaannya. Dia menyayangi Kim bum, tapi bukan seperti rasa sayang dimiliki kakaknya itu. Rasa sayang So eun berbeda.

“Kau membenciku?” Mata Kim bum berbinar saat dia bertanya. Dia tidak menyangka adik kecilnya sudah tidak ingin bermanja-manja dengannya.

“Aku sudah dewasa… bukankah Oppa juga mengatakannya.”

“Tapi kau tetap adikku kecilku…” Kim bum memaksa dan So eun terluka karenanya.

“Ya… kau benar.. aku adikmu.” Akhirnya So eun mengalah. Dia tidak ingin berdebat. Kim bum akan selalu memenangkan perdebatan diantara mereka, karena selama ini So eun memang tidak akan pernah membantah apapun yang dikatakan sang kakak.

Pagi selanjutnya.. So eun menepati janjinya. Dia sudah lebih dulu membersihkan diri. Tubuhnya masih berkutat di dapur, sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk kakak tersayangnya. Dua cangkir kopi hangat sudah siap terhidang di meja, begitu pula dengan beberapa potong sandwich yang bisa mengganjal perut di pagi hari.

“Kita berdamai?”

So eun terkikik mendengar pertanyaan sang kakak, yang saat ini sudah duduk manis di depan meja kayu panjang yang menjadi pembatas antar dapur dan ruang tamunya. Kim bum menopang dagunya. Mengamati pergerakan So eun yang melepaskan celemeknya. Dan meletakkan dua mangkuk bubur di meja depan Kim bum, kemudian menyodorkan salah satu mangkuk tersebut agar lebih dekat dari jangkauan kakaknya.

“Aku tak pernah merasa bertengkar denganmu Oppa.” So eun menarik satu kursi yang besembunyi di bawah meja dan mendudukinya. “Cepat makan buburmu Oppa, selagi masih hangat.” Suruhnya. Kemudian tangannya dengan mantap menyendokkan bubur ke dalam mulutnya sendiri. “Kau tidak menyukai buburnya? Jika benar, kau bisa memakan sandwich ini.” So eun menyodorkan piring berisi beberapa potong sandwich ke hadapan Kim bum.

Kim bum menggeleng. “Sejak kapan kau bisa memasak?” Tanya Kim bum sambil menyendokkan bubur ke dalam mulutnya. Lidahnya menggelitik, bubur buatan So eun tidak kalah lezatnya dengan buatan ibunya. “Tidak buruk.. persis seperti buatan Ibu.” Komentar Kim bum.

So eun tersenyum. Kim bum memujinya lagi. Kenapa kakaknya ini sangat senang menenggalamkannya ke dalam lautan pujian. Pipinya memerah, tersanjung atas pujian kakaknya. “Kau menyukainya Oppa?” Tanya So eun penasaran. Kim bum mengangguk dan menyantap bubur buatan So eun dengan lahap dan dengan anggukan itu, So eun berjanji akan selalu memasakkan makanan apapun untuk kakaknya.

“Kau akan pergi bekerja hari ini?”

“Tidak.. aku mengambil liburan sampai akhir tahun. Oppa ingin pergi jalan-jalan?”

“Jika kau tidak keberatan menemaniku.”

“Tapi bukankah kau kesini karena ada suatu pekerjaan Oppa?”

“Memang.. siang ini sebenarnya aku ingin menemui seseorang. Jika kau tidak sibuk kita pergi bersama untuk menemuinya. Aku juga ingin mengenalkannya padamu.”

So eun mengerutkan dahinya. “Memangnya kau ingin bertemu dengan siapa Oppa?” Tanyanya penasaran.

“Seorang teman selama di Sydney.. dan aku akan melakukan pekerjaan bersama dengannya untuk ke depannya nanti. Kau harus mengenalnya So eun-ah, dia orang yang cukup menyenangkan.”

So eun mengangguk, hari ini hatinya sedang merasa baik karena kedatangan sang kakak. Rasa kesal atas pembicaraan bersama kakaknya kemarin sudah tidak diingat bahkan dilupakannya. Hari ini Kim bum akan mengenalkannya pada seseorang, teman kakaknya. So eun tidak peduli. Hatinya sedang senang karena Kim bum akan mengajaknya jalan-jalan.

~~~

Kemarin saat So eun melewati jalan setapak yang dilaluinya saat ini, dia pasti akan merapatkan mantel tebal yang dikenakannya dan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong mantel tersebut, tapi hari ini tidak. So eun tidak mengeratkan jaketnya, dia juga tidak memasukkan tangannya karena hari ini dia sama sekali tidak merasakan dinginnya hawa dingin bulan Desember. Seseorang mengalirkan hawa hangat untuk So eun, walau hanya dengan sebuah genggaman pada satu telapak tangannya.

“Seoul sudah banyak berubah.. dan aku lupa sudah berapa lama aku meninggalkan kota ini.”

“Delapan tahun… sudah delapan tahun kau tidak mengunjungi Seoul..” So eun menjawabnya dengan antusias. Tangannya membalas genggaman erat tangan Kim bum.

“Cepat tunjukkan beberapa tempat yang sering kau kunjungi So eun-ah!” Pinta Kim bum setengah memaksa.

“Aku tak pernah pergi kemanapun… hari-hariku sudah tersita dengan pekerjaan di kantor dan aku terlalu cepat lelah setelahnya.”

Kim bum tersenyum mendengar jawaban So eun. “Bagaimana mungkin kau menghabiskan waktumu hanya untuk berkerja. Apa tidak ada seseorang pun yang mau menemanimu pergi?”

So eun menggeleng. “Bukankah orang yang selalu berbaik hati menemaniku jalan-jalan adalah kau Oppa…” So eun berdusta. Cengiran muncul di wajahnya cantiknya karena dia melupakan Ara sahabatnya. Padahal temannya itu selalu mengajaknya untuk menghabiskan waktu mencari hiburan, hanya saja memang So eun lah yang selama ini memang tidak pernah mau menghabiskan waktu ke luar apartemennya.

Kim bum terkekeh tangannya yang bebas menyentil hidung mancung sang adik. “Sejak kapan kau pandai merayu seperti ini.”

Langkah kakinya tidak akan pernah lelah, walau mereka sudah berjalan cukup lama untuk berjalan-jalan. Sudah tidak terhitung berapa jumlah toko yang mereka masuki hanya untuk melihat-melihat apa saja yang terjual di dalam toko tersebut, baik Kim bum dan So eun tak pernah melepaskan senyum bahagia di wajah masing-masing. Keduaya menikmati kebersamaan ini.

So eun melepaskan tautan tangannya dari Kim bum. Sesuatu menarik perhatiannya. Dua buah syal berwarna merah dan hitam yang sedang tergantung rapi di sebuah rak, seperti meminta So eun untuk mengambil keduanya. Bibirnya menyungging, saat menyentuh kedua benda tersebut. Dia memutar kepalanya ke samping dan mengangkat dua syal berbeda warna tersebut. Menunjukkannya pada Kim bum yang sedang melihat ke arahnya.

So eun melihat kepala Kim bum mengangguk. Segera dia menghampiri sang kakak. So eun membentangkan dua syal tersebut di hadapan Kim bum. “Merah dan hitam.” Serunya senang.

“Kau tidak berubah..” Ucap Kim bum seraya mengacak puncak kepala So eun dengan sayang.

So eun tertawa pelan. Dia menyampirkan syal berwarna hitam di pundaknya, kemudian menarik kerah mantel Kim bum, agar kakaknya itu sedikit membungkuk. “Kenapa Oppa tinggi sekali.. aku bahkan tidak bisa menyentuh kepalamu.” Seru So eun, sedikit menggerutu.

Mendengar gerutuan So eun, Kim bum segera menundukkan kepalanya. Dia tau apa yang sebenarnya akan adiknya itu lakukan. So eun segera melilitkan syal berwarna merah yang masih di pegangnya pada leher Kim bum, saat dia sudah menundukkan kepalanya.

“Kau tidak akan kedinginan jika memakainya.” Ucap So eun, setelah selesai memasangkan syal berwarna merah tersebut pada leher sang kakak.

Kim bum mengernyit. Tangannya menyentuh syal berwarna merah yang terlilit rapi di lehernya. Matanya menatap syal tersebut dan So eun secara bergantian. Dia bingung. Kim bum pikir So eun akan memberikan syal berwarna hitam untuknya, tapi ternyata warna merahlah yang menjadi pilihan sang adik untuk dirinya. “Merah…” Gumam Kim bum, sambil menatap So eun penuh tanya. “Kau tidak salah memberikan warna ini untukku?”

So eun menggeleng. “Tidak… aku memang sengaja memilihkan warna merah untukmu.” Jawab So eun yakin. Kim bum hanya diam tidak mengerti. So eun menyodorkan syal berwarna hitam yang tadi tersampir dipundaknya kepada Kim bum dan kakaknya itu menatapnya masih dengan raut wajah bingungnya. “Pasangkan syal ini dileherku Oppa!” Pinta So eun.

Kim bum mengambil syal berwarna hitam dari tangan So eun kemudian menuruti permintaan sang adik. Dia melilitkan syal hitam itu di leher So eun dengan rapi. “Kenapa kau memberikan syal warna merah padaku dan bukannya untukmu sendiri. Apa kau sudah tidak menyukai warna merah lagi?”

Saat kecil dulu, So eun selalu menyukai warna apapun. Tidak ada warna yang tidak indah untuk So eun. Warna apapun, So eun menyukainya. Tapi setelah hari itu, saat malaikatnya memberikan benda itu padanya dengan warna merah hati layaknya kelopak bunga mawar, So eun memutuskan untuk menyukai warna itu. Warna merah. Merah yang berani. Seperti yang pernah dikatakan malaikatnya pada So eun.

“Tentu saja aku masih menyukai warna merah.. sama seperti aku masih menyukai bunga mawar merah sampai saat ini.” Jawab So eun.

Mana mungkin So eun tidak menyukai warna merah lagi, sedangkan dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menjadi seorang pemberani. Dan merah adalah warna yang melambangkan keberanian itu.

Keberanian akan perasaan aneh ini tidak akan pernah tersampaikan, walau sebenarnya ingin terucap. Biarkan syal berwarna merah itu tetap menggantung di lehermu, sampai keberanianku muncul dan mengatakan semua perasaan aneh ini padamu.

“Lalu kenapa kau….” Kalimat Kim bum menggantung tak terselesaikan, karena So eun sudah memotongnya.

“Karena aku ingin memiliki syal berwarna hitam ini untukku… biarkan aku memliki warna hitam yang menjadi kesukaanmu, untukku Oppa… dan selalu ingatlah aku, saat kau menatap syal warna merah yang kau kenakan sekarang.”

Kim bum terdiam. Dia tidak bisa berkata. Ternyata So eun juga masih mengetahui satu warna yang menjadi kesukaannya. Oh.. padahal Kim bum sendiri tidak pernah mengharapkan adiknya itu untuk mengingat hal sepele seperti ini. Walau warna hitam memang tidak pernah lepas dari tubuh Kim bum, tapi ada sesuatu yang sebenarnya So eun tidak tau tentang warna yang sebenarnya menjadi pilihan hatinya. Tapi itu tidak masalah. Hitam adalah warna yang selalu melekat ditubuhnya. Karena selama ini dia memang lebih menyukai pakaian-pakaian berwarna hitam.

Kim bum memandang syal yang meliliti lehernya saat ini, tangannya menyentuh syal tersebut dan menggenggamnya erat. “Sepertinya aku akan menyukai syal pemberianmu ini So eun-ah!” Ucapnya.

“Begitupun denganku Oppa!” Ujar So eun…. Bahkan sampai sekarangpun aku masih menyimpannya. Maafkan aku.

Kim bum menarik lengan So eun dan membawa adiknya itu ke dalam pelukannya. So eun pun membalas pelukan erat sang kakak. Sekali lagi So eun menumbuhkan satu tunas perasaan aneh itu untuk sang kakak. So eun sudah tidak tau lagi, berapa banyak tunas-tunas perasaan itu di dalam hatinya. So eun bahkan sudah kewalahan untuk menginjak tunas-tunas perasaan tersebut. Karena semakin So eun menginjaknya, akan ada satu tunas lagi yang tumbuh dan itu semakin membuat So eun semakin ketakutan akan bayangan malaikatnya.

~~~~

 

^^^ Sudah lama tidak memposting fanfic di blog ini dan rasanya kangen banget. Kangen banget sama Reader-reader tercintaku yang masih mau mengunjungi blog ini walaupun yang punya blog sudah cukup lama hiatus. Entahlah masih ada pengunjung atau tidak untuk blog ini, tapi karena kecintaanku pada menulis akhirya kuputuskan untuk menulis lagi. Walaupun sebenarnya menulis masih tetap kulakukan, hanya saja terkadang aku selalu tidak percaya diri untuk memposting tulisan-tulisanku.

Dan sudah cukup untuk cuap-cuapku diatas, karena aku hanya ingin melihat masih ada atau tidakkah readers yang menungguku dan akhirnya kuputuskan untuk memposting fanfic ini. Kuharap masih ada yang mau membaca tulisanku agar aku bisa lebih rajin memposting tulisan-tulisanku lagi. Satu komentar dari kalian, akan menambah semangatku untuk menyambung fanfic ini. Terimakasih untuk para readers tercintaku, semoga banyak komentar yang masuk dan membuatku secepat mungkin memposting kelanjutannya.^^^

 

Iklan
Komentar
  1. febriyanti184 berkata:

    Daebaak ceritanya Bagus banget, sso jadi adik angkat bum, kira2 mereka berjodoh ngga yaah.??

  2. madi berkata:

    Keren bgt eoni crta a,, kangen sma ff bikinan author,, semangattt

  3. nur aini berkata:

    Ceritanya bagus kali

  4. novanpt berkata:

    Kn ngk apa2 wlopn sepupu atau jgn2 kimbum punya wanita di cintainya hingga sso trus saja mencoba menjauh dari kimbum serta menyimpan cintanya sendiri dalam hatinya

  5. intanfebriani14 berkata:

    Wah eonni lila ceritanya bagus baget👍👍
    Aku ngk nemu kekurang eonni pokoknya daebak bgt deh filenya dapet bgt
    Aku mau request ffnya b.i lee hi donk eonni sama leo luna

  6. selvarospiyanti berkata:

    Ijin baca ya author
    Aku suka sma cerita dan jln cerita nya jga, seruuuu . Sso memendam perasaannya trhadap bumppa selama 10 tahun, daebak bisa ngga hilang itu prsaannya cinta nya pdhal 10 tahun itu ga ketemu tpi ga luntur2 prsaan cinta nya sso buat bumppa.
    Aku suka tpi sedih jga sma hubungan bumsso, suka nya krn bumsso nya tumbuh bersama2 dri kecil smpe dewasa, skrng bumppa tingga ber2 sma sso d seoul. Aduh gmn entar hbngan. Mreka klnjutannya ya dan sdih nya itu krn sso hrus mmndam prasaan nya trhdap bumppa, ga bisa leluasa ngungkapin prsaan cinta nya ke bumppa. Next d tunggu 🙂

  7. nuribumsso berkata:

    aku baru baca ff yg ini,, dan haduh ceritanya ngena banget ke hati.. suka sma karakter sso disini, seorang perempuan yg tangguh dan sangat kuat menurutku.. banyangkan selama 10 tahun sso harus mendan perasaan tersembunyui itu ke kimbum, dan kedua orang tua angkatnya..
    sedih bnget bacanya.. ngerasa seperti aku ada di dilama ceritanya dan merasakan apa yg sso alamin..
    daebaaak.. next partnya ditnggu pake banget.. fighting ^_^

  8. Sary Ajow berkata:

    laaahh si lila netesin ep ep baru…
    hahaha ru mampir kesini..
    Gaya FF lila bgt nie mah,,sso adek angkat y?..dilematis bgt pasti ngeGalaaaw punya KK seCute itu..wkwkwk BUKAN ITU masalahnya
    Jgn brenti di jalan lil..

  9. nanda berkata:

    daeeebaaaakkk…crta’y bgus…
    duch…sso eonni pzt trlht slit u/ mnkan prsaan ska’y pda bummpa sang ka”k…bummpa ga tau ya prsaan sso eonni yg sbnr’y?

  10. Kim Lia berkata:

    Seru banget ffnya sumpah.. So eun cinta sama kakaknya sendiri walau bukan kakak kandung.. Pasti susah jadi So eun yg harus mendam perasaan selama ini apalagi sekarang malah tinggal 1 rumah sma kim bum.. Kim bumnya perhatian bnget sh nih tapi sebagai kakak..

  11. My Fishy berkata:

    kok endingnya gantung thor?? kim bum dan so eun d pasangkan menjadi adik kakak lagi huft, kasian so eun harus menyembunyikan perasaannya pada kim bum d karenakan kim bum menganggapnya sebagai seorang adik yg telah d rawat oleh kedua orang tuanya, wajib squel thor soalnya belum pasti nie sad ending apa happy ending?? hehehehe..

  12. ani bumsso berkata:

    OMG author aku suka banget sama ff.a
    ternyata pria yg dicintai sso eonni adalah bumppa dan ngenesnya adalah mereka saudara angkat…. Akkkhhh semoga bumppa juga punya perasaan yang sama dengan sso eonni supaya cinta sso eonni tidak bertepuk sebelah tangan. Please satukan cinta mereka author nim

    aku suka sama gaya bahasa dan cara penulisan author daebak
    author jjang

  13. dela safitri berkata:

    Ini judulnya apa ya thor ?
    Aku sukaa seruu bikin emosi nih, jd sso sengaja lakuin ini karna merasa berhutang budi dengan keluarga oppa ?
    Apa oppa tau perasaan sso yg sebenarnya ?
    Aku jg penasaran bagaimana perasaan oppa yg sebenarnya ke sso ?
    Sukkaaa thor lanjutin lagiii
    Thor yg di pw boleh minta pw nya ?

  14. ternyata diam2 selama ini so eun mencintai kim bum ,lalu apakah kim bum juga mempunyai perasaan yg sama terhadap so eun ??? ataukah kim bum hanya menganggap so eun sebagai seorang adik saja tidak lebih ???
    lalu apakah so eun akan terus memendam perasaannya pada kim bum tanpa bisa mengungkapkan perasaannya yg sebenarnya menyukai kim bum sebagai seorang lelaki dan bukan sebagai kakak ????
    next partnya jgn lama2 thor 😉

  15. Cloud berkata:

    Keren ff nya
    lagi lagi sso sama kim bum di sandingkan menjadi saudara
    penasaran apa cinta sso akan terbalaskan oleh kaka angkatnya itu
    lanjut thor 😀

  16. risdalisye berkata:

    bagus bgt ffnya kasian sso tertekan sama perasaannya sedangkan bum menyayangi sso hanya sebagai adik apakah bum akan tau perasaan sso?
    dan akan membalasnya?
    siapa teman bum pria atau wanita?
    penasaran next part nya . 🙂 🙂 🙂

  17. Irma ElementAndbumsso berkata:

    Uaaahhhhhhh………..
    Seruuuuuu kereeen thour ff nya ..
    Agiooo sso suka sama bumppa..
    apakah bumppa juga nantinya bisa suka sama sso????
    semoga saja ,,
    dan siapa y teman yang akan bumppa temui..
    yeoja or namja? tapi firasat ku itu yeoja
    gimana y nanti sso melalui hari2 nya..
    semoga happy ending..
    .
    .

    next partnya jangan lama2 y thour.. seru ceritanya kepo kelanjutan hubungn bumppa dan sso eonni..
    .
    Happy ending y thor .. jeballll

  18. Margaretha berkata:

    Hanya segini? Apakah ada lanjutannya? Hm~ apakah Kimbum mempunyai perasaan yg sama dgn Soeun atau.. Sebenarnya apa arti warna hitam yg sebenarnya bagi Kimbum. (Apakah arti hitam bagi Kimbum hanya sbg bayangan yg hanya bisa mencintai Soeun tanpa mengungkapkannya sama seperti Soeun)

  19. Shaneyida berkata:

    story author yg ni ttg keluarga juga yak ..apakah nasib bumsso akan sama kek hate or love yg ku bc hhe jd kakak adik saudaraan hmmmm let’s see hhhhe XD ,, soeun d cintai d kel jaewook ma yihyun dah d anggap anak jg begitupun kb dah ngenggep sso adek nya ..tp sso punya perasaan lain terhadp kakk nya inii tanpa d ketahui orng cm temannya aj yg thu isi hatinya …apakah kb akan mengetahui prubahan sikap sso yg dulu ma yg skg krna apa (?) Hmmm ngeliat dr gelagatnya kek nya kb ga ada rasa suka k soeun cm sebatas rs kasih syg ma adek kandungnya aje tp perhatian kb k sso agak memberi harapan k sso hhhhe XD btw tu teman kb yg dr sidney yg baklan jd patner kb bekerja kira2 siapa ya ? Laki2 or prempuan hmmm jangn2 temen mesra or pacrnya kimbum lg hhe maybe yes maybe no xixii ,perjuangan sso tuk melunturkan perasaannya ma kb jd tambah sulit cos kb tinggal se-apartemen ma dia ..apakah sso iso bertahan hmmm ,lanjuuuut ~ thumbs up (y) ,keep writing thor don’t stopp ,karya mu ok kok (y)

  20. russ95 berkata:

    Akhhh daebak eonn di tunggu kelanjutan nya ,penasaran apa bumppa bner2 hanyq menganggap sso eonni sbg adik nya tdk lebih ,ATAU …..

  21. riqkarak berkata:

    Thor ijin ngubek2 ffmu

  22. Anjani tika berkata:

    Eonii harus tetap smangat buat nulis FF lagi yaaaa.. Kita slalu nunggu cerita* terbaru dari eonni.. Smanggaaaatttt…!!!
    Prasaan kim bum ke so eun gimana yaaa ?? Smoga cintanya gak bertepuk sebelah tangann.. Dan jangan sad ending.. Entar hatiku bisa hancur kalo kim bum & so eun gak bisa bersatu..!!!! Pliisss.. Buat happy ending yaa eonnii..!!!

  23. Soeun ah berkata:

    Eunnie smangat nulis kelanjutannya ditunggu ne 😀

  24. fania putri berkata:

    awalx qw tadi sempat filing bumsso tu sepupuan.
    eh trxta sso anak angkat kluargax bumpa
    tu yg menyebab kn sso tidak bisa menyatakn prasaanx k bumpa
    rasa yg slma ini trpendam sulit untuk sso hentikn rasa cintax k bumpa
    sso bnyak hutang budi k kluargax bumpa yg baek bngt hingga sso trsiksa memendam prasaanx k bumpa dianjauh slma 8thn
    akan kah bumpa tau dan mo membalaz prasaan sso
    duuhhhh jadi penasaran thor next

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s