Posts Tagged ‘Secret Love’

Secret Love (part end)

Posted: 26 Juli 2014 in FF BUMSSO
Tag:

cats

Part 8

 

“Ini yang terakhir kalinya, setelah ini aku tidak akan pernah mengganggu hubungan kalian. Aku hanya ingin menyelesaikan sebuah potongan kisah kasihku yang masih terombang – ambing.”

 

Kalimat itu kembali memenuhi kepala So eun saat ini. Wanita itu bahkan tidan bisa fokus dengan pekerjaannya. Dipejamkannya kedua matanya dengan erat, berusaha untuk mengenyahkan semua yang berhubungan dengan Kim bum di kepalanya. Tidak akan ada lagi nama Kim bum dalam hatinya yang ada hanyalah Ki bum – suaminya. Tidak akan pernah ada lagi yang lain. Setidaknya itulah tekad So eun beberapa hari yang lalu, ketika Kim bum mengatakan pada So eun bahwa pria itu akan pergi meninggalkan Seoul.

 

So eun masih berusaha mengenyahkan bayang – bayang Kim bum dari otaknya, walaupun sulit dan enggan tapi So eun tetap berusaha mengenyahkan perasaan terlarangnya pada sang ipar. Jika beberapa hari yang lalu So eun sudah memantapkan hatinya dan berjanji untuk melupakan semua kejadian yang berhubungan dengan pria itu, untuk hari ini So eun seperti mengingkari janjinya sendiri. Wanita itu bahkan tidak bisa menghapus nama Kim bum dari memori ingatannya. Bahkan nama Kim bum seperti tercetak jelas di dalam kepala So eun saat ini.

 

“Bahkan setiap kali mata ini berkedip, hanya ada senyummu di dalam benakku. Kau membuatku gila untuk.” Batin So eun. Wanita itu menyandarkan tubuh lunglainya pada sandaran kursi.

Kepala itu bisa pecah dalam sekejap jika isi di dalamnya hanya dipenuhi dengan satu nama manusia yang benar – benar membuatnya tidak bisa terlelap dengan nyaman. Diraihnya ponsel berwarna hitam yang tergeletak di meja yang ada di depannya saat ini. di cari daftar kontak yang akan dihubunginya. Sayangnya So eun tidak seberani kelihatannya, wanita itu bahkan hanya bisa memandangi daftar kontak itu tanpa berani menghubungi daftar kontak tersebut.

 

“Apa yang sedang kau lakukan?” Suara itu menyadarkan So eun dari kekalutan hatinya. Lagi – lagi So eun mengabaikan pria yang jelas – jelas ada di dekatnya dan lebih memikirkan pria yang bahkan membuatnya hampir gila. Dengan cepat So eun meletakkan ponselnya dan mengadahkan wajahnya kepada sang suami yang saat ini berdiri disamping tempatnya duduk.

 

“Kau terlihat tidak sehat. Istirahatlah!” Sambung Ki bum. Sambil mematikan laptop So eun yang sedari tadi masih menyala tapi tidak dihiraukan oleh sang istri.

 

“Apa hari ini kau membutuhkan bantuanku oppa?”

 

“Hm?” Ki bum bingung dengan pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut So eun. Aneh rasanya jika mendengar sang istri bertanya hal yang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab wanita tersebut setiap hari. bukankah memang sudah sewajarnya So eun membantunya setiap hari jika sang suami memerlukannya.

 

“Maaf oppa! Hari ini aku ingin pergi sebentar. Ada sesuatu yang ingin aku selesaikan.”

 

Kening Ki bum berkerut, lagi – lagi istrinya ini bersikap aneh. “Kau mau kutemani?” ada perasaan takut dalam hati Ki bum setiap kata – kata yang keluar dari mulut So eun. Ki bum tidak bodoh, pria itu sadar apa yang saat ini sedang difikirkan oleh istrinya.

 

“Aku bisa pergi sendiri oppa. Jangan menungguku jika aku pulang terlambat oppa!” So eun segera beranjak dari tempatnya dan melangkahkan kakinya perlahan menjauh dari sang suami. Niat ini memang salah, karena So eun sudah berani membohongi suaminya. Tapi bagaimanapun semua ini harus diselesaikannya tanpa meninggalkan luka. Tentu saja So eun tidak ingin membohongi Ki bum lebih lama lagi. Jika memang Kim bum akan pergi meninggalkannya setidaknya So eun harus mengucapkan selamat tinggal pada pria itu karena selama ini tanpa Kim bum mungkin So eun tidak akan mampu bertahan.

 

“Aku pergi oppa!” Ujar So eun, tepat saat gadis itu menutup pintu rumahnya dan meninggalkan Ki bum yang hanya bisa mematung. Pria itu seperti kehilangan kesadarannya untuk beberapa saat.

 

“Inikah saatnya untukku melepaskanmu Kim so eun.” Gumam Ki bum. Diusapnya wajah bersih tersebut dengan kedua tangannya untuk menghilangkan keresahannya.

Dengan tubuh lunglai Ki bum mendudukkan tubuhnya dikursi tempat tadi So eun berada. Wajahnya mengamati setiap benda yang ada di atas meja yang saat ini berada di hadapannya. Ki bum mendapati sebuah ponsel berwarna hitam yang tergeletak diatas meja. Ki bum sudah tau jika itu ponsel milik sang istri, jadi pria itu segera mengambil benda berwarna hitam tersebut dan dinyalakannya benda itu. Ketika lampu layar ponsel itu menyala, mata Ki bum langsung menajam. Walaupun pria itu tidak terlalu kaget dengan apa yang dilihatnya tetap saja, rasa kecewa itu menyelimuti hatinya.

 

“Aku tidak yakin dengan semua ini.” Batin Ki bum.

 

***

 

Kim bum sudah selesai memesan tiket pesawat untuk kepergiannya kembali ke Jepang lusa. Mungkin memang sekarang lah waktu yang tepat untuk melepaskan semuanya. Kim bum bukan lagi pria muda yang berusia belasan tahun, yang masih akan menggebu dalam urusan percintaan. Usianya sudah 28 tahun, sudah tidak pantas lagi Kim bum menangisi hal – hal yang dianggapnya hanya pantas dilakukan oleh anak – anak SMA. Jika memang takdir tidak membiarkan dirinya mendapat cinta dari kakak iparnya, Kim bum rela asalkan So eun tetap bahagia bersama dengan sang kakak. Mungkin memang hanya kakaknya lah yang pantas untuk So eun.

 

“Aku merindukanmu.” Batin Kim bum.

Pria itu mengeluarkan ponselnya yang sejak tadi berada disaku celananya. Niatan untuk kembali menghubungi So eun kembali mengganggu fikirannya. Akal sehatnya benar – benar sudah tidak bisa diajak bekerja sama. Kim bum bahkan masih berharap takdir akan membuatnya bersatu dengan So eun, padahal sudah jelas bahwa itu akan sangat sulit terjadi.

 

Kim bum mengurungkan niatnya. Tidak lagi. Sudah cukup untuk Kim bum mengganggu hubungan rumah tangga sang kakak, masih kurang puaskah Kim bum menghancurkan kebahagiaan sang kakak hanya untuk kepentingannya sendiri. Bukankah terdengar egois jika Kim bum masih berniat menghubungi kakak iparnya.

Seulas senyum mengembang di wajah tampan Kim bum. Pria itu memasukkan kembali ponsel miliknya kedalam saku. Di enyahkannya niatan untuk menghubungi So eun. Akan lebih menyakitkan jika nanti Kim bum mendengar suara So eun. Pasti Kim bum akan semakin sulit melupakan bayang – bayang So eun. Kim bum memandang lekat tiket pesawat yang saat ini sudah berada dalam genggamannya. Senyum getir itu mengembang di sudut bibirnya. Akan lebih baik jika Kim bum menyiapkan semuanya hari ini. Pria itu segera melangkahkan kakinya untuk kembali ke apartemennya. Setidaknya hari ini Kim bum akan benar – benar menyiapkan badannya untuk jadwal penerbangannya ke Jepang dua hari lagi.

 

***

Kegugupan melanda So eun. Wanita itu masih berdiri di depan pintu apartemen lamanya. Sudah sangat lama sekali So eun tidak mengunjungi tempat ini, dan hari ini karena adik iparnya itu, So eun harus kembali menginjakkan tempat yang dulu pernah ditinggalinya. Tangan itu mengambang di udara, berusaha untuk membunyikan bel apartemen tersebut. Tapi niatnya itu masih belum bisa dilakukannya mengingat dirinya masih belum bisa meyakinkan hatinya akan apa yang akan dikatakannya pada Kim bum, jika nantinya pria itu membukakan pintu untuknya.

 

“Apa yang kau lakukan di sini So eun-ssi?” Pertanyaan itu menghentikan tangan So eun yang sudah bersiap untuk menekan tombol yang tertempel di dinding, segera menghentikan niatnya dan mengarahkan pandangannya pada orang yang sedang menyapanya. So eun yakin jika suara itu adalah suara pria yang saat ini ingin ditemuinya.

 

“Kau membuatku terkejut So eun-ssi.” Kim bum melangkahkan kakinya mendekati So eun yang saat ini berdiri di depan pintu apartemennya. Kim bum mengeluarkan kunci apartemennya dan hendak membuka pintunya, ketika sebuah pelukan menggagalkan niatnya.

 

“Maafkan aku… Maafku aku Kim bum-ssi!” So eun mengeratkan pelukannya pada pinggang Kim bum. So eun bahkan tidak peduli dengan degup jantung Kim bum yang saat ini berdetak tidak karuan akan aksinya. So eun hanya ingin melepas semua kegundahan yang dia rasakan beberapa hari ini.

 

“Bisakah aku melepasmu mulai saat ini! So eun mengendurkan pelukannya pada pinggang Kim bum. Tapi detik berikutnya pria itu menahan tautan jemari So eun, agar tetap berada pada posisinya saat ini.

 

“Bisakah aku meminta agar kau tidak melepaskanku So eun-ssi?” Suara itu lirih, bahkan hampir tidak terdengar. Tapi tentu saja telinga So eun masih bisa mendengarnya. Dan So eun menyukai pertanyaan itu.

 

“Bisakah kau memberikanku alasan agar aku tidak melepasmu Kim bum-ssi. Aku hanya ingin tau apa alasanmu melarangku untuk melepaskanmu!.”

Kim bum membalikkan tubuhnya dan merengkuh So eun kedalam dekapan erat lengannya. Pria itu mengeratkan pelukannya pada tubuh So eun. Kim bum menitikkan air matanya ketika dirinya menyadari bahwa inilah saat terakhirnya bersama dengan So eun. Mungkin dengan seperti ini Kim bum benar – benar bisa melepas So eun.

 

“Aku mencintaimu So eun-ssi.” Gumam Kim bum, pria itu tidak berharap So eun mendengarnya. Tapi tetap saja Kim bum mengatakannya. “Aku menyukaimu sebelum kakakku bertemu denganmu.” batin Kim bum.

 

“Terimakasih untuk perasaanmu itu Kim bum-ssi.” Jawab So eun. So eun benar – benar merasa nyaman berada didalam pelukan Kim bum saat ini. Rasa hangat benar – benar menyelimuti tubuhnya. Bagaimanapun So eun tidak akan pernah lupa akan setiap sentuhan yang sudah diberikan Kim bum padanya. Sampai kapanpun So eun tidak akan pernah bisa melupakan hal tersebut.

 

Kim bum melepaskan pelukannya pada So eun. Senyum tidak lepas dari bibirnya, walaupun air matanya sudah tidak bisa lagi dibendungnya.So eun pun juga tersenyum ketika melihat senyum tulus Kim bum. Harus bagaimana lagi, hari ini So eun sudah berjanji pada diriya sendiri untuk menyelesaikan masalahnya dengan Kim bum. So eun tidak ingin egois, wanita ini tidak bisa memiliki keduanya walaupun sebenarnya ingin. So eun tidak ingin menyakiti salah satunya walaupun pada akhirnya memang akan ada hati yang tersakiti nantinya.

 

“Kita masuk kedalam!”

 

So eun menganggukkan kepalanya, dan mengikuti langkah kaki Kim bum yang sudah membukakan pintu untuknya. Apartemen ini masih sama, tidak ada yang berubah. Sepertinya Kim bum tidak merubah susunan benda yang ada di dalamnya. So eun bahkah tidak mempedulikan hal itu lagi.

 

Kim bum mendekati meja yang digunakannya untuk menyimpan buku – bukunya. Diambilnya salah satu foto berbingkai yang terletak di atas meja tersebut. tentu saja itu foto dirinya dan juga So eun ketika keduanya sedang berlibur ke desa bersama. Betapa saat – saat itu adalah, moment yang sangat membahagiakan dan tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Kim bum.

 

“Kau masih menyimpannya?”

 

“Hm.” Kim bum meletakkan kembali bingkai foto tersebut. Ingin rasanya Kim bum mengulang masa – masa itu. Dimana hanya ada dirinya dan juga So eun. Hanya melihat senyum So eun dan tidak ada lagi yang dibutuhkannya selain wanita ini. Jadi bagaimana bisa Kim bum akan bertahan hidup jika So eun tidak ada bersamanya.

 

“Aku ingin menyelesaikan semuanya. Semoga kau bisa menjalani hari – harimu dengan baik disana. Tidak perlu mengkhawatirkanku lagi, karena disini aku akan senantiasa menjaga Ki bum oppa. Jangan khawatir aku akan menangis lagi, karena kupastikan kau tidak akan pernah melihat satu tetes air matapun jatuh dari mataku, walaupun sebenarnya aku ingin mengeluarkannya.”

 

Kim bum memutar tubuhnya, dibimbingnya So eun kedalam pelukannya. Seberapa besarpun keinginan Kim bum untuk menahannya tetap saja semua itu tidak akan berhasil. Bahkan jika diijinkan saat ini juga Kim bum pasti akan membawa pergi So eun bersamanya. Tidak peduli dimanapun asalkan hanya ada mereka berdua itu sudah lebih dari cukup.

 

“Bisakah aku membawamu pergi bersamaku? Tidakkah kau juga menginginkan hal ini, kau tidak bisa membohongi perasaanmu. Aku tau kau memiliki perasaan yang sama padaku!” lagi dan lagi Kim bum berubah menjadi pria yang cengeng, pria itu menitikkan air mata, entah sudah keberapa kalinya pria itu menangis, tapi tentu saja Kim bum tidak akan mempedulikanya.

 

“Apa aku bisa melakukannya? Aku bahkan terlalu takut hanya untuk sekedar memikirkannya. Jadi bagaimana bisa aku melakukannya? Apa yang harus kulakukan sekarang?”

 

“Aku akan menjelaskan semuanya pada Ki bum hyung, aku akan mengatakannya. Aku akan meminta ijinnya agar bisa membawamu pergi bersamaku.” Kim bum menghentikan kalimatnya, pria itu memejamkan matanya tentu saja tidak yakin dengan apa yang baru saja dikatakannya. Apa benar Kim bum bisa bersikap egois seperti itu. Apakah Kim bum bisa menyakiti hati sang kakak, dengan cara mengambil istrinya. Apa ini yang diharapkan Kim bum selama ini, mencoba mengalahkan kakaknya dengan mengambil orang yang dicintai sang kakak.

 

“Aku tidak mau lagi, kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku. Tidak ingin lagi. Aku tidak bisa melepaskanmu. Pergilah bersamaku So eun-ssi. Aku mohon!”

 

“Aku datang kesini bukan untuk pergi bersamamu Kim bum-ssi. Aku datang menemuimu karena aku ingin menyelesaikan semua perasaanku padamu. Perasaan ini tidak seharusanya ada.” So eun mengeluarkan tubuhnya dari dekapan Kim bum. Wanita itu memundurkan tubuhnya, sedikit menjauhi Kim bum.

 

“Terimakasih sudah menemaniku selama ini. aku tidak akan pernah melupakanmu Kim bum-ssi.” So eun tersenyum, seraya membungkukkan badanya. Ini yang terakhir kalinya. So eun bisa melihat Kim bum.

So eun melangkahkan kakinya menjauhi Kim bum. Sudah cukup untuk hari ini, wanita itu tidak boleh lama – lama tinggal ditempat ini. bisa saja pilihan yang sudah difikirkan matang – matang ini akan berubah lagi jika wanita itu tidak sesegera mungkin meninggalkan apartemen tersebut.

 

“Tidak bisakah kau tetap tinggal bahkan aku sanggup berulang kali memintanya padamu? Apa kau benar – benar tidak ingin mempertahankan ini semua?” Teriak Kim bum, tepat disaat So eun ingin meninggalkan apartemennya.

 

“Kau benar – benar akan membunuhku jika kau melangkahkan kakimu lagi. Kau tidak boleh pergi dari tempat ini So eun-ssi. TIDAK BOLEH!” Teriak Kim bum.

 

So eun tidak mempedulikan Kim bum, wanita itu tetap pada pendiriannya untuk melepaskan Kim bum dari hidupnya. ini sudah menjadi keputusannya.

 

“Kau membuatku marah. Kenapa kau tidak pernah melihat keberadaanku So eun-ssi? Aku yang ada dihatimu saat ini, aku yang kau cintai saat ini dan akulah yang seharusnya menjadi suamimu saat ini. Tidakkah selama ini kau menyadarinya? Apakah hatimu benar – benar tidak bisa melihatnya, atau kau memang sengaja menghindarinya?”

Kim bum menarik kembali lengan So eun, agar wanita itu bisa direngkuhnya. So eun berontak, wanita itu tidak ingin menerima pelukan dari Kim bum dan tentu saja itu membuat Kim bum marah. Bagaimanapun juga Kim bum sudah terlalu lama bersabar, jadi jika hari ini kesabarannya itu sudah tidak bisa dikendalikan lagi, jangan pernah salahkan Kim bum. So eun yang membuatnya buta, dan wanita itu juga seolah – olah membutakan hatinya dari perasaan yang sesungguhnya.

 

“Aku harus pergi Kim bum-ssi.” Teriak So eun, mencoba melepaskan tubuhnya dari cengkraman Kim bum.

 

“Untuk apa kau datang kemari jika sekarang kau ingin pergi So eun-ssi? Apa kau pikir, kau bisa datang dan pergi sesuka hatimu!” Kim bum masih mencengkram kuat tubuh So eun agar wanita itu tidak bisa pergi.

 

“Aku kemari karena ingin menyelesaikan semuanya. Tidak bisakah kau melepaskanku? Aku sudah lelah dengan semuanya.”

 

“Tidakkah kau mengerti aku, apa kau kira aku tidak lelah dengan semua ini. aku bahkan jauh lebih lelah dari pada dirimu. Ini semua memang salahku, aku juga tidak menginginkan hal ini terjadi. Bukan aku yang memulainya… bukan aku.”

 

“Biarkan aku pergi.. kumohon lepaskan aku.” Teriak So eun histeris, gadis itu menghempaskan lengan Kim bum yang sejak tadi mencengkram bahunya. Tangan itu terlepas, Kim bum bahkan hanya bisa terkesima ketika mendengar permohonan dari So eun.

 

“Apa kau benar – benar ingin pergi jika aku mengatakan semuanya. Siapa aku dan apa yang telah kulakukan padamu dimasa lalu, benarkah kau masih tetap memohon padaku untuk melepaskanmu.” Batin Kim bum. Lidah itu kelu tidak mampu digerakkan. Kalimat itu akan tetap tersimpan, sampai kapanpun Kim bum tidak akan punya keberanian untuk mengungkapkannya.

Pria itu menarik tubuh So eun lagi, dikecupnya bibir wanita tersebut. Jika So eun akan berontak, Kim bum tetap akan melakukannya. Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Kim bum untuk menikmati setiap momentnya bersama dengan So eun.

 

So eun tidak menolak ciuman dari Kim bum, tapi wanita itu juga tidak membalasnya. So eun hanya ingin membiarkan Kim bum melakukan apapun pada dirinya. Sesungguhnya hal ini juga membuat hati So eun sakit.

 

“Aku akan selalu mencintaimu, apapun yang terjadi.” Kalimat itu terucap ketika Kim bum melepaskan pagutan bibirnya pada bibir So eun. Kim bum memandang lurus mata So eun, masih berharap wanita yang ada didepannya ini menghentikan niatnya untuk pergi walau itu tidak mungkin.

 

Direngkuhnya tubuh So eun yang saat ini bergetar hebat. So eun memang tidak mengeluarkan air mata karena wanita itu sekuat tenaga menahan air matanya.

So eun membenturkan kepalanya pada dada bidang milik Kim bum. Kim bum memeluk tubuh So eun dengan erat. Kedua hati itu sudah sama – sama memantapkan hatinya, memilih jalannya masing – masing.

 

Pintu apartemen terbuka, menampilkan sosok pria tinggi dengan bentuk fisik yang sama seperti Kim bum. Pria itu Ki bum, pria itu berdiri mematung ditempatnya menyaksikan apa yang saat ini tengah dilakukan oleh Kim bum dan juga So eun.

 

“Oppa..” Seruan itu keluar dari So eun yang ditujukan untuk suaminya yang akan memutar tubuh dan melangkahkan kakinya menjauh dari apartemen tersebut.

So eun melepaskan pelukan Kim bum dan segera berlari menyusul langkah panjang suaminya. Inilah saatnya, So eun harus memutuskan siapa yang akan dipilihnya. So eun harus menyelesaikan semua masalah hatinya dengan dua kembar yang sudah mengacaukan hidupnya..

Kim bum tidak menghalangi niat So eun untuk pergi, wanita itu memang harus menentukan pilihannya. Kim bum akan berusaha siap jika memang kenyataannya nanti dirinya bukanlah pria yang dipilih oleh So eun. Asalkan pria itu adalah kakaknya, mungkin Kim bum akan rela walau terpaksa.

 

“Oppa… “ akhirnya So eun bisa menyusul langkah Ki bum. Wanita itu bahkan sudah menggenggam lengan kekar suaminya.

 

“Kau menipuku..” desisi Ki bum. Pria itu menghentikan langkahnya dan menatap tajam sang istri.

 

“Maafkan aku oppa.. kurasa ini memang jalan yang terbaik untuk kita. Kumohon biarkan aku pergi.” Pinta So eun. Gadis itu menitikkan air matanya ketika memohon pada Ki bum. Air mata yang tidak bisa dikeluarkannya jika berada dihadapan Kim bum, kini tumpah ruah ketika wanita itu bersitatap dengan suaminya. So eun berusaha tegar di hadapan Kim bum, sedangkan wanita ini terlihat tidak berdaya di hadapan Ki bum.

 

“Kau ingin pergi bersama si brengsek itu? Kau meninggalkanku karena pria itu?” Ki bum marah. Pria itu tidak menyangka jika ketakutannya selama beberapa bulan ini memang akan benar – benar terbukti. Dan hari inilah bukti itu terwujud. So eun meminta Ki bum untuk melepaskannya.

 

So eun menggelengkan kepalanya. “Aku tidak akan pergi dengan siapapun. Tidak denganmu ataupun Kim bum-ssi..” So eun menundukkan kepalanya, tidak ingin menatap mata tajam Ki bum terlalu lama, karena sorot mata itu menyakitkan untuk So eun.

 

“Biarkan aku menjalani hidupku sendiri. Aku ingin lepas dari bayang – bayang kalian berdua. Aku tidak ingin menyakiti siapapun.” So eun melepaskan genggaman tangannya pada lengan Ki bum. Diberikannya pelukan singkat untuk Ki bum sebelum akhirnya So eun melangkahkan kakinya meninggalkan Ki bum yang masih diam mematung.

 

***

 

So eun berdiam diri di dalam kamarnya. Sudah lama So eun meninggalkan tempat nyaman ini. Dulu sebelum So eun bertemu dengan Ki bum dan menjalin kasih dengan pria itu, kamar inilah yang selalu membuatnya nyaman. So eun memeluk kedua lututnya, wanita itu menangis dalam diam. Berkali – kali ibunya mengetuk pintu kamarnya, So eun tetap tidak bergeming dari posisinya.

 

“Apa yang harus kulakukan sekarang Tuhan…?” Tanya So eun dalam hati. Nafasnya tercekat, paru – parunya seperti mengecil, rasanya detik ini jiwa So eun seperti tidak berada dalam raganya.

 

“Tidak bisakah kau membuka pintunya sebentar sayang.. jangan membuat ibu khawatir So eun-ah.” So yeon tidak henti – hentinya membujuk sang putri yang sudah dua hari mengurung dirinya di dalam kamar. So yeon tau apa yang saat ini difikirkan oleh So eun. So eun sudah menceritakan semua masalahnya pada sang ibu.

 

“Mau sampai kapan kau akan menyiksa dirimu sendiri So eun-ah? Bukankah ini keputusan yang sudah kau pilih, tidakkah kau mempertanggung jawabkan pilihanmu?”

Tetap tidak ada suara dari dalam kamar, selain isak pilu yang terdengar menyakitkan.

 

“Bukalah pintunya sayang. Bukankah masih ada ibu yang selalu disampingmu. Kau tidak sendiri.” Lagi – lagi So yeon membujuk sang putri, walaupun sudah jelas – jelas usahanya itu tidak akan pernah berhasil.

 

***

 

Kim bum duduk di lantai, pria itu tidak kalah kacau dengan kondisi So eun. Hari ini adalah hari terakhirnya berada di Korea sebelum dirinya berangkat ke Jepang besok pagi. Kim bum tau So eun tidak memilihnya tapi pria itu masih berharap akan ada suatu keajaiban yang menghampiri dirinya.

 

Ponsel yang tergeletak disampingnya bergetar, walaupun enggan Kim bum tetap harus menjawab panggilan yang saat ini masuk ke dalam ponselnya. Mungkin jika orang lain yang saat ini menghubungi Kim bum, pria itu tidak akan pernah mau menerimanya mengingat saat ini dirinya tidak dalam kondisi yang baik. Tapi tentu saja Kim bum tidak bisa mengabaikan panggilan tersebut ketika mengetahui bahwa orang yang sedang menghubunginya saat ini adalah kakaknya.

 

“Tidakkah kau ingin mengunjungi mereka?” pertanyaan itu langsung bisa didengar oleh Kim bum ketika pria itu mendekatkan ponselnya ke telinga.

 

“Bisakah kau pergi bersamaku hari ini. Sudah lama sekali aku tidak mengunjungi mereka.” Ki bum memang tidak suka berbasa – basi, dan Kim bum paham akan hal itu.

 

“Hm.” Hanya itu yang bisa diberikan Kim bum sebagai jawaban dari pertanyaan sang kakak. Kim bum mematikan ponselnya, ketika pria itu merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan lagi dengan Ki bum.

 

Kim bum dan Ki bum sudah berada didalam mobil, keduanya akan melakukan perjalanan ke Busan. Dua kembar ini akan mengunjungi makam kedua orang tuanya atas usul Ki bum. Hening, tidak ada seorangpun yang berniat memecah kesunyian yang melanda. Kim bum tetap fokus pada kemudinya, sedangkan Ki bum lebih memilih untuk memejamkan matanya walaupun pria itu tidak tertidur.

 

Rasa bersalah menghantui keduanya. Bukan hanya Kim bum ataupun Ki bum saja yang merasa bersalah pada satu sama lain, melainkan keduanya. Baik Kim bum dan Ki bum sama – sama ingin mengucapkan kata maaf, tapi seperti tidak punya keberanian.

Masih belum ada yang ingin mengeluarkan suara terlebih dahulu, hingga mobil berhenti disebuah pemakaman umum yang terletak didaerah tak padat penduduk.

 

Dua pria itu keluar dari dalam mobilnya. Keduanya menghampiri makam kedua orang tuanya. Saling memanjatkan doa untuk orang tua mereka. sama – sama bersujud di depan makam kedua orang tua mereka. Bagi Kim bum ini akan menjadi kali terakhirnya untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya.

 

“Aku sangat merindukan tempat ini.” Ki bum melangkahkan kakinya dengan langkah penuh semangat layaknya anak kecil. Kota kelahirannya ini sudah banyak berubah, apalagi bukit yang saat ini tengah didakinya.

 

“Apa yang mau kau lakukan hyung?” Kim bum heran kenapa Kakaknya mengajak ketempat ini. Untuk apa Ki bum mengajaknya kebukit ini. Kim bum benar – benar malas jika harus pergi ketempat ini lagi, tempat ini akan membuat kenangan – kenangan menyakitkan yang selama ini sudah dipendam Kim bum menjadi muncul lagi.

 

“Kau takut datang ketempat ini?” Ki bum masih asyik melangkahkan kakinya, pandangannya lurus kedepan. Tidak sedikitpun Ki bum menoleh pada adiknya yang berjalan dibelakangnya.

 

“Kita pulang hyung.. kondisimu masih belum sepenuhnya pulih!” ucap Kim bum. Pria itu masih setia mengekori langkah kakai Ki bum.

 

Kini keduanya sampai di atas sebuah jembatan gantung yang cukup panjang. Ki bum menghentikan langkahnya, begitu juga Kim bum. Rintik – rintik air hujan mulai turun dari langit. Kabut tebal menyelimuti jurang yang membentang dibawah jembatan gantung tersebut,

 

“Ayo kita pergi Hyung.. sebentar lagi hujan akan turun.” Pinta Kim bum. Kim bum tidak ingin terjadi apa – apa pada kakaknya, Ki bum baru saja sadar dari komanya. Dan Kim bum tidak ingin melihat Ki bum sakit lagi.

 

Ki bum masih berdiri membelakangi sang adik. Tidak disahutinya permintaan Kim bum. Pria itu seperti bergelut dengan sisi lain dalam dirinya. “Siapa wanita yang kau selamatkan Kim bum?” Suara itu bernada dingin.

 

Kim bum mematung, tidak bisa menjawab pertanyaan yang telah diajukan oleh kakaknya. Bukan tidak bisa, pria itu terlalu takut untuk menjawabnya. Kim bum lebih memilih diam dan tidak berkata apapun, Kim bum yakin tanpa dirinya menjawabpun kakaknya sudah tau apa jawabannya. Mungkinkah Ki bum hanya memastikan kebenaran akan ceritanya dulu.

 

Ki bum membalikkan badannya, mata itu memandang sosok pria yang ada di depannya dengan tatapan membunuh. “Bagaimana bisa kau menghianatiku?” desis Ki bum.

 

Kim bum melangkahkan kakinya, berniat mendekati sang kakak. Kepala itu masih tertunduk, belum berani membalas tatapan sang kakak. “Hyung…” panggilnya. Lirih.

 

“Kau mengambilnya dariku.. kau membuat wanitaku berpaling. Kenapa harus dia yang kau sukai Kim bum-ah!” Ki bum berteriak. Pria itu mendorong tubuh Kim bum yang hendak mendekatinya. Tidak ingin Kim bum mendekatinya, Ki bum pun memundurkan tubuhnya kebelakang.

 

“Dia mencintaiku, kau tidak punya hak sama sekali untuk merebutnya. Dia tidak benar – benar menyukaimu, dia hanya mencintaiku. Apa kau tidak sadar jika dia itu hanya milikku.” Teriakan Ki bum semakin lantang. Suara itu benar – benar membuat Kim bum merah padam.

 

“Kau yang menciptakan semua kekacauan ini. Tidakkah kau sadar jika semua ini terjadi atas ulahmu?” Kini mata itu menatap lekat ke iris tajam milik sang kakak. Kim bum sudah tidak takut lagi pada Ki bum. Jika Ki bum sudah berani menyalahkan kesalahan yang pria itu ciptakan pada Kim bum, untuk apalagi Kim bum harus menghormati sang kakak, sedangkan sang kakak bahkan tidak sedikitpun menghargai dirinya.

 

“Jangan membentakku… Jangan pernah menyalahkanku, ini semua tidak akan pernah terjadi jika kau tidak pernah menyetujui usulku. Bukankah kau bisa menolak permintaanku waktu itu.”

 

“Jika aku menolak permintaanmu waktu itu, apakah aku tetap tidak akan bertemu dengannya. Tanpa aku menjadi dirimupun, kami akan tetap dipertumakan oleh takdir.”

 

“Berhenti bicara omong kosong. Takdirmu bersama dengan Im yoona, bukan Kim so eun. Wanita itu yang kau tolong, bukan So eun. Selamanya kau tidak akan pernah mendapatkannya.”

 

“Kau masih tidak bisa membuka matamu hyung… apa kau masih tidak sadar sudah berapa kali So eun menyerukan namaku walau aku tidak sedang bersamanya. So eun tetap memanggil namaku walaupun dia mengira aku adalah dirimu. Kau benar – benar tidak tau, atau sengaja tidak ingin tau?” Kim bum mengeluarkan semua yang selama ini ingin dia sampaikan pada sang kakak. Pria itu bahkan menyerang kakaknya dengan kalimat menyakitkan secara bertubi – tubi. Kim bum sudah hilang kendali.

 

“Aku tidak percaya dengan semua ini.” lirih Ki bum. Pria itu seperti kehilangan tenaganya.

 

Kim bum mengeluarkan sebuah kalung yang sedari tadi berada disaku jaketnya. Diulurkannya kalung itu kedepan, dan langsung menampilkan foto dirinya semasa kecil.

“Kau masih tidak sadar, bahwa So eun memang mencintaiku dan bukannya dirimu. Kau masih berpura – pura tidak melihatnya padahal jelas – jelas kau mengetahuinya. So eun bahkan menyimpan dan memandangi fotoku sampai saat ini. tidakkah kau menyadari hal itu.”

 

Ki bum berjalan mendekati tubuh Kim bum. dicengkramnya kerah baju sang adik. “Dasar brengsek.” Maki Ki bum. Tidak terima dengan kalimat – kalimat yang dilontarkan sang adik, Ki bum pun hendak memukul wajah sang adik jika saja Kim bum tidak lebih dulu menahan tangannya.

Kedua pria itu saling menahan pukulan yang akan mendarat ketubuh satu sama lain, bahkan keduanya tidak peduli jika saat ini hujan tengah mengguyur tubuh mereka. Dua kembar itu ingin melampiaskan kekesalan hati masing – masing. Walaupun hujan turun dan suara petir menggelegar tetap saja tidak menghalangi niat mereka untuk melampiaskan hasrat saling melukai tersebut.

 

Hujan yang turun semakin deras, bahkan kabut tebal seakan menutupi apapun disekitar jembatan. Jembatan yang kini dipijak oleh dua kembar bergoyang hebat karena aksi keduanya yang saat ini tengah saling dorong.

 

Ki bum mendorong tubuh Kim bum hingga tubuh sang adik limbung dan membentur rajutan tali pembatas jembatan, bahkaan kini kepala Kim bum sudah limbung kebelakang, lalai sedikit saja, Kim bum bisa langsung terjatuh dari jembatan gantung tersebut.

 

“Apa yang kau lakukan hyung.. kau mau membunuhku?” Teriak Kim bum, berusaha mendorong tubuh Ki bum yang saat ini mencengkram erat lehernya.

 

“Memangnya apa lagi yang harus kulakukan selain membunuhmu.” Ki bum pun membalas teriakan Kim bum dengan tidak kalah lantangnya.

 

Kim bum melihat wajah sang kakak yang saat ini benar – benar sedang marah. Wajah itu terlihat menyeramkan untuk Kim bum. Selama ini Kim bum selalu menghormati Ki bum, karena memang hanya Ki bum lah satu – satunya keluarga yang dimiliki oleh Kim bum saat ini. Mungkin, memang inilah balasan yang akan Kim bum dapatkan karena telah melukai hati sang kakak. mungkin dengan Ki bum membunuh Kim bum, perasaan kesal Ki bum akan hilang.

Mungkin inilah saatnya untuk Kim bum, menebus kesalahanya pada sang kakak. mati di tangan kakaknya mungkin akan lebih menyenangkan dari pada dia harus hidup, namun tidak pernah mendapatkan apapun yang dia inginkan.

 

“Lakukan apapun yang kau mau hyung..” Pasrah Kim bum. Kini Kim bum tidak lagi melawan apapun yang telah dilakukan Ki bum padanya. Bahkan kini, kedua tangan yang sedari tadi mencengkram kedua lengan Kakaknya itu terkulai lemas di kedua sisi badannya. Kim bum pasrah akan apapun yang dilakukan Ki bum pada dirinya.

 

Ki bum melepaskan cengkraman erat tangannya pada leher Kim bum. Tentu saja Ki bum tidak serius dengan ucapannya. Seberapa besarnya rasa benci dan marah Ki bum pada Kim bum, tetap saja Ki bum menyayangi adiknya. Selamanya.

Kim bum memundurkan tubuhnya kebelakang. Pria itu menangis. “Bahkan dari semenjak masih anak – anak. Kita selalu menyukai hal yang sama.” Gumam Ki bum.

 

“Maafkan aku hyung…” sesal Kim bum.

 

“Aku selalu menyusahkanmu Kim bum-ah…” lagi – lagi Ki bum menghindar ketika Kim bum mendekatinya. Setiap satu langkah Kim bum berjalan kedepan, disaat itu pula Ki bum melangkahkan kakinya kebelakang. Ki bum benar – benar tidak ingin Kim bum mendekatinya.

 

“Kita pulang hyung… aku janji, besok aku akan meninggalkan semuanya. Aku tidak akan mengambil apapun yang sudah menjadi milikmu.. aku akan pergi dari hidupmu.. Selamanya!”

 

“Cukup.. Aku tidak percaya dengan apapun yang kau katakan sekarang… aku tidak akan pernah percaya padamu lagi.”

 

“Maafkan aku hyung.. maafkan aku.”

 

Hujan masih setia turun dari langit, membasahi kedua anak manusia yang saat ini tengah bergelut dengan fikiran mereka. Sang kakak masih tidak ingin membuka sedikit hatinya untuk memaafkan kesalahan sang adik yang dinilainya sangat fatal. Sedangkan sang adik masih belum menyerah untuk mendapatkan maaf dari sang kakak.

Ki bum kembali memundurkan badannya, tubuhnya sudah basah kuyup akibat guyuran hujan yang sangat deras, ditatapnya tubuh sang adik yang tidak kalah berantakannya dengan dirinya. Ki bum sudah memaafkan Kim bum, jauh sebelum adik tercintanya itu memintanya saat ini. Hati dan mulut memang sering tidak sejalan, dan itulah yang saat ini telah dirasakan oleh Ki bum.

Waktu berikutnya, kaki Ki bum melangkah kembali kebelakang dan karena licinnya tempat yang saat ini menjadi pijakannya akibat guyuran hujan tubuh pria itupun limbung dan terperosok terjun dari jemabatan.

 

Kim bum yang melihat hal tersebut, segera meneriakkan nama sang kakak dan secepat mungkin untuk menggapai tangan Ki bum agar pria itu tidak terjatuh kebawah. “Ki bum Hyung…” tangan itu bisa diraih oleh Kim bum. Terlambat sedikit saja, sudah dipastikan bahwa saat ini tubuh Ki bum akan menghantam bebatuan yang ada di bawah jembatan tersebut.

 

“Bertahanlah.. Kumohon bertahanlah hyung..” sekuat tenaga Kim bum menarik tubuh sang kakak. Postur tubuh yang sama besarnya, ditambah guyuran hujan yang membasahi tubuhnya membuat Kim bum mengalami kesulitan untuk menarik tubuh sang kakak.

 

“Kau bisa melepaskanku Kim bum-ah.. biarkan aku menebus semua kesalahan yang telah kuperbuat padamu.. biarkan aku mati Kim bum-ah..”

 

“Apa yang kau katakan… aku tidak akan pernah melepaskanmu.. aku akan berusaha menarikmu hyung..”

 

“Kumohon kabulkan satu permintaanku Kim bum.. tolong jaga So eun untukku, aku tau dia juga mencintaimu.. selama ini memang akulah yang salah.. aku merelakannya untukmu.” Ki bum tersenyum. Maut sudah menjemputnya, dan Ki bum tidak ingin menyesal seumur hidupnya. Setidaknya dengan bersama Kim bum, So eun akan jauh lebih baik dibanding hidup bersama dengan kebohongan yang diciptakan oleh Ki bum selama ini.

 

“Terimakasih, sudah membuatnya tersenyum kembali.. adikku..” Ki bum sudah meneyerah, percuma saja Kim bum mencengkram erat tangannya, karena tidak mungkin Kim bum bisa menarik tubuhnya kembali keatas. Menit berikutnya tangan Ki bum terlepas dari cengkraman Kim bum, bersamaan dengan jatuhnya tubuh Ki bum kebawah..

 

“Hyung…” teriak Kim bum.. seakan tidak rela melihat sang kakak yang jatuh ke dasar jurang. Kim bum pun segera lompat dari atas jembatan. Pria itu tidak peduli jika nanti nyawanya hilang sekalipun. Mungkin dengan loncat bersama dan mati bersama sang kakak akan jauh lebih menyenangkan. Bukankah selama ini mereka selalu bersama, lahir bersama matipun juga bersama.

Tubuh dua pria itu melayang di udara, keduanya sudah siap menjemput ajalnya. Mungkin inilah jalan yang tepat untuk kedunya, mati bersama dan tidak mendapatkan cinta dari wanita yang mereka puja. Sama – sama tidak memiliki sang wanita, mungkin akan lebih adil bagi keduanya jika seperti ini.

 

***

“Maaf sudah mengganggu waktumu.. Yoona-ssi.”

 

Yoona, tersenyum simpul. Walaupun tidak mengalihkan pandangannya dari minuman yang sedari tadi dihadapannya, Yoona tetap mendengarkan kalimat yang dilontarkan oleh So eun, wanita yang sudah mengajaknya bertemu dan akhirnya keduanya memilih untuk duduk saling berhadapan di cafe ini.

 

“Aku sudah terlalu lama menunggumu So eun-ssi.”

 

So eun nampak terkejut dengan perkataan wanita yang saat ini tengah duduk berhadapan dengannya. apa maksud dari perkataan wanita ini. kenapa wanita ini menunggunya?

 

“Apa yang ingin kau tanyakan padaku?” Yonna bertanya pada So eun dengan nada suara yang sangat lembut. Wanita itu apa maksud dan tujuan So eun datang menemuinya. Tanpa Yoona bertanya pada So eun pun, wanita itu tau bahwa So eun akan membahas hubungannya dengan Ki bum.

 

“Aku membenci diriku sendiri Yoona-ssi. Bisakah kau jelaskan semua yang kau tau padaku! Aku yakin kau mengetahui semua yang tidak aku ketahui.”

Yoona tersenyum simpul, ditatapnya lekat wajah So eun yang saat ini juga menatapnya. Apa yang harus Yoona jelaskan. Bukankah semuanya sudah jelas, kenapa So eun masih belum memahaminya juga. Kenapa gadis ini meminta Yoona menceritakan semuanya padahal sudah jelas – jelas So eun sendiri mengetahui kisahnya.

 

“Aku masih belum yakin dengan perasaanku sendiri Yoona-ssi. Aku tidak percaya bahwa aku bisa menghianati suamiku sendiri.”

 

“Kau tidak menghianatinya… Apa yang kau lakukan ini memang salah, tapi ini semua adalah takdir. Apakah kau masih belum bisa menyadari siapa yang sebenarnya ada di hatimu So eun-ssi?”

 

“Apa kau masih mencintai Yoona-ssi?”

 

Yoona terkekeh. Pertanyaan So eun ini menyudutkan dirinya, tapi Yoona masih tetap bisa menyikapinya. Sama seperti pertanyaan Ki bum tempo hari dan sudah pasti jawaban yang akan diberikan Yoona pun akan sama dengan saat itu. “Ya… Aku masih mencintainya, dan kuharap kau tidak keberatan.” Jawab Yoona santai.

 

So eun menghela nafasnya. Tubuh itu lemas. Bukan sedih karena suaminya dicintai oleh wanita lain tapi So eun sedih pada dirinya sendiri karena tidak bisa sekuat Yoona yang tetap bisa mempertahankan perasaannya pada orang yang dicintainya, sedangkan So eun sendiri lebih memilih menyerah.

 

“Apa kau masih tidak menyadarinya? Selama ini dia sudah memberitaumu walaupun tidak secara langsung!”

 

“Aku mencoba mengabaikannya.” So eun menyesali perbuatannya.

 

“Kau bodoh So eun-ssi. Bagaimana bisa kau mengabaikannya, padahal selama ini dia selalu mencoba meyakinkanmu. Kau harus bersikap tegas pada dirimu sendiri.”

 

“Bagaimana bisa aku mengembangkan perasaan terlarangku ini Yoona-ssi. Aku ini wanita yang sudah bersuami. Haruskah aku berselingku dengan adik dari suamiku dan menghianati suamiku!”

 

Kali ini Yoona lah yang menghela nafasnya. Keadaannya memang tidak semudah yang dia bayangkan. So eun memang berada dalam posisi yang sangat menyudutkan. Wanita di hadannya ini sudah pasti tidak bisa memilih salah satu di antara keduanya. Kedua pria itu sudah memberi peran penting pada hidup So eun. Mana bisa Yoona menyalahkan semuanya pada So eun.

 

“Sampai saat ini aku masih mencintai suamimu So eun-ssi. Aku memang tidak pantas mengatakan semua ini padamu. Aku bahkan siap jika nantinya kau akan membunuhku karena telah lancang menyukai suamimu. Tapi ijinkan aku untuk mempertahankan suamimu.” Lanjut Yoona. Yoona sudah mengeluarkan semua keberaniannya untuk mengatakan hal ini. ini bukan hanya untuk So eun, tapi juga untuk diri Yoona sendiri. Yoona sudah lama menyukai Ki bum walaupun pria itu sudah beristri. Yoona tau perasaannya ini salah, tapi keadaan saat ini juga menguntungkan untuk dirinya.

Yoona bukan wanita jahat yang hobi merusak rumah tangga orang, ini masalah hati dan semuanya memang harus kembali ke jalannya.

 

“Apa kau akan terus berdiam diri disini..?” Lagi – lagi Yoona menginterupsi So eun, agar wanita itu segera mengambil keputusan.

 

“Ya.. kau bisa mempertahankan perasaanmu, dan aku akan memperjuangkan perasaanku. Terimakasih Yoona-ssi”

So eun segera berlari meninggalkan Yoona yang hanya bisa tersenyum di tempatnya. So eun memang harus memperjuangkan perasaannya sebelum semuanya terlambat.

 

So eun mengemudikan mobilnya. Tujuannya saat ini adalah tempat itu, tempat dimana pertama kalinya So eun bertemu dengan pria yang menyelamatkan hidupnya. Entah kenapa hati So eun mengatakan bahwa ujung dari permasalahannya ada disana.

 

Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk So eun bisa sampai ditempat yang menjadi tujuannya ini. Dengan langkah – langkah panjang So eun menaiki bukit itu, walaupun keadaan tanah yang dipijaknya itu lumayan licin So eun tetap melangkah maju. Melihat dari keadaan pohon – pohon yang basah sudah bisa dipastikan bahwa beberapa saat yang lalu hujan telah mengguyur tempat ini.

 

Walaupun dengan susah payah dan waktu yang cukup lama untuk sampai di tempat ini akhirnya So eun pun bisa sampai di jembatan tempat dulu dirinya tengah pingsan dan seseorang menyelamatkan hidupnya.

So eun melangkahkan kakinya untuk menyusuri jembatan gantung itu. Kali ini tidak ada lagi perasaan takut yang mendera dirinya, tapi ada yang aneh. Kali ini rasa takut itu berubah menjadi rasa kehilangan. Ada sesuatu yang janggal dengan tempat ini, dan So eun bisa merasakannya. Perasaan apa ini, kenapa hati So eun tiba – tiba menjadi sakit.

 

“Kim bum-ssi.” Teriak So eun.

 

“Kim bum-ssi!” lagi – lagi So eun menyerukan nama pria itu. Entah kenapa So eun merasa bahwa saat ini Kim bum sedang berada tidak jauh darinya. Apa benar saat ini Kim bum berada di dekatnya, kenapa So eun tidak bisa menemukannya. Apakah ini hanya halusinasi So eun semata.

 

So eun melangkahkan kakinya, mengedarkan pandangannya keseluru penjuru, tapi tentu saja yang bisa dilihatnya hanyalah pohong – pohon yang menjulang. Tidak ada Kim bum atau siapapun ditempat ini. So eum melangkahkan kakinya kembali hingga ujung sepatunya menginjak sebuah benda yang membuat So eun ingin melihat benda tersebut. So eun menajamkan matanya ketika menyadari bahwa benda yang tadi diinjaknya adalah kalungnya. Kalung yang berisikan foto Kim bum. Diambilnya kalung tersebut, dan So eun pun segera melongokkan kepalanya ke bawah.

 

“Kim bum-ssi… Kim sang bum..” Teriak So eun. Air matapun meleleh dari mata indahnya. Ada perasaan takut pada diri So eun saat ini. Apa terjadi sesuatu pada pria yang dicintainya itu.

 

“Ki bum oppa… Ki bum oppa… Kim bum-ssi… Kim bum-ssi.. Oppa.” Teriakan So eun semakin lantang dan menggema diseleruh penjuru, tapi tidak ada sahutan dari sang pemilik nama. Hanya ada hembusan angin yang menjadi jawaban akan panggilan So eun.

Tubuh itu merosot kebawah hingga terduduk, So eun hanya bisa menangis. Mungkinkah terjadi sesuatu yang buruk pada suami dan pria yang dicintainya. Jika memang benar tentu saja So eun tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.

Satu tahun kemudian

“Apa pekerjaanmu hari ini sudah selesai?”

 

So eun menolehkan kepalanya, ketika dia mendengar suara sahabatnya. “Aku sudah lama menunggumu Yoona-ya.”

 

“Aku mendapatkan benda ini dari seorang pria ketika aku hendak masuk ke dalam tokomu.” Yoona menyodorkan amplop coklat berukuran sedang pada So eun.

 

So eun pun segera mengambil amplop itu dari tangan Yoona. Membuka amplop itu dengan perlahan dan mengeluarkan isinya. So eun terkejut ketika mendapati isi yang ada didalam amplop tersebut. Satu lembar foto. Dan foto itu berisikan pria yang sangat dirindukannya.

 

“Dimana pria yang memberimu amplop ini Yoona-ya?” Teriak So eun. So eun segera berlari keluar dari toko kuenya meninggalkan Yoona yang terlihat bingung dengan apa yang dilakukan So eun.

Yoona segera mengambil kertas yang dijatuhkan So eun tadi. Yoona sangat kaget ketika membalik kertas tersebut. kertas itu adalah foto Kim bum dan Ki bum yang tengah berpelukan dan sedang tersenyum.

 

Yoona segera menyusul So eun. Dan kini dua wanita itu tengah berhadapan langsung dengan dua pria yang sudah amat sangat dirindukannya. Kim bum dan Ki bum tengah berdiri tegap dihadapan keduanya. Kedua pria itu tengah melemparkan senyuman cerah mereka pada kedua wanita yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

 

“Kita kembali untuk kalian.” Ucap Kim bum dan Ki bum bersamaan dengan kedua tangan yang merentang bersiap menyambut wanita – wanita yang dirindukannya.

So eun segera menghambur ke pelukan Kim bum, sedangkan Yoona dengan ragu mendekati Ki bum dan secepat mungkin Ki bum pun meraih wanita yang mencintainya itu kedalam pelukannya.

 

“Kita merindukan kalian.” Ucap So eun dan Yoona bersamaan.

 

***

Januari 2008

 

Seorang pria tampan berusia sekitar 20 tahunan tengah berada di dalam sebuah cafe yang terletak tak jauh dari rumahnya. Saat ini dia sedang berada di depan kasir sambil memperhatikan daftar menu yang terpampang jelas di atas kepala seorang kasir.

 

“sepertinya anda sering sekali kesini?” tanya sang kasir pada pemuda yang saat ini ada dihadapannya.

 

“rumahku tidak jauh dari sini, jadi aku senang datang kesini.” jawab pemuda itu sambil tersenyum ramah.

 

Setelah pemuda itu memesan apa yang dia inginkan, pemuda itu pun mencari tempat duduk yang nyaman untuknya sambil menunggu pesanannya datang.

Pemuda itu memilih tempat duduk yang dekat dengan kaca agar dia bisa melihat keadaan luar. Ketika tengah asyik memperhatikan pemandangan di luar, pemuda itu kaget kala ada seorang gadis tengah berdiri memandangnya.dan sepertinya gadis itu sedang bicara pada si pemuda.

 

“yaa.. oppa, kenapa kau ada disitu?” tanya sang gadis pada si pemuda yang ada di dalam cafe. Sembil menampilkan wajahnya yang lucu

 

“oppa.. aku mencintaimu.. aku menyukaimu..” ucap gadis itu lagi pada si pemuda. Gadis itu mengatakannya. Mengatakan isi hatinya, walaupun saat ini pasti dia sangat malu karena seorang pelayan yang mengantarkan pesanan pemuda yang dipanggilnya oppa tadi tengah memperhatikannya.

 

Harusnya gadis itu tau, kalau si pemuda tidak akan bisa mendengar suaranya. Mengingat keadaan mereka yang saat ini tengah terhalang oleh sebuah tembok kaca.

 

“oppa tunggu aku, aku akan menghampirimu.” Ucap gadis itu lagi.

 

Si pemuda itu hanya bisa tersenyum melihat tingkah gadis yang ada di depannya tadi. Dia benar – benar tidak tau apa yang telah diucapkan oleh gadis itu. Tapi pemuda itu tampaknya sangat senang bisa melihat gadis tadi.

Dia benar – benar cantik. Aku sangat mengaguminya. Betapa cantiknya dia saat itu, andai saja aku tidak pergi. mungkin dia bisa menjadi milikku. Aku tidak menyangka, setelah aku kembali mereka sudah menikah. (si pemuda)

 

gadis itu sudah memasuki cafe dan berniat menghampiri pemuda tadi. Namun ketika dia sudah sampai tempat duduk pemuda tadi, dia tidak menemukannya, tidak ada pemuda itu. Kemana dia? pikir gadis itu.

Gadis itu mengedarkan pandangannya ke semua penjuru dan tidak menemukan pemuda tadi. Kemana dia pergi.

 

Gadis tadi mendengar Sebuah suara ketukan dari balik kaca. Dan gadis itu pun menoleh ke sumber suara. Dia sedikit terkejut ketika melihat pemuda tadi sudah berada di luar. Kapan pemuda itu keluar, kenapa gadis itu tidak melihatnya.

 

“yaa.. apa yang kau lakukan disitu. Aku mencintaimu..” ucap pemuda itu sambil berlutut dari balik kaca. Sambil membawa seikat bunga. Dan tersenyum kepadanya.

 

Si gadis benar – benar tampak terkejut. Kenapa terasa aneh, kenapa seperti berbeda. Kapan pemuda itu mengganti bajunya kenapa cepat sekali. Beribu pertanyaan yang ada didalam kepala gadis itu namun akhirnya dia tersenyum senang.

Si pria memeluk tubuh wanitanya. Dan sang wanita pun membalas pelukan pria tersebut.

 

“Maukah kau menikah denganku So eun-ah?” So eun menganggukkan kepalanya, ketika pria yang dulu telah menyelamatkan nyawanya itu melamarnya.

 

Tidak jauh dari tempat So eun, Kim bum hanya bisa memperhatikan apa yang dilakukan kakaknya itu. Jika saja pelayan wanita tadi tidak menumpahkan kopi ke bajunya sudah pasti Kim bum akan mengatakan pada So eun bahwa dirinya lah yang telah menyelamatkan So eun tempo hari.

 

“Apa kau tidak ingin mengatakan padanya? Ini masih belum terlambat!” Pelayan wanita yang menumpahkan kopi pada baju Kim bum itu mencoba memperingatkan Kim bum, bahwa pria itu masih memiliki kesempatan untuk mengejar cintanya. Tapi Kim bum tidak ingin merusak kebahagiaan kakaknya, jadi Kim bum memutuskan untuk mengubur perasaannya dan memilih pergi dari cafe itu.

 

“Kau adalah pria bodoh.” Gumam pelayan tersebut, ketika melihat tubuh Kim bum yang keluar dari pintu samping cafe. Dan mata pelayan itu kini tertuju pada So eun yang masih berpelukan dengan pria yang berwajah mirip dengan Kim bum. pria itu adalah saudara kembar Kim bum. Ki bum.

 

“Yoona-ssi, cepat antarkan pesanan ini!” sebuah suara menginterupsi pelayan tersebut untuk segera kembali pada pekerjaanya.

 

Akhirnya rahasia cinta itu terungkap. Cinta itu kembali pada tempatnya masing – masing. Tidak ada lagi hati yang melukai dan dilukai.

 

~~~THE END~~~

Iklan

Secret Love (part 7)

Posted: 27 April 2014 in FF BUMSSO
Tag:

cats

Part 7

 

 

Bahu kokoh itu semakin berguncang hebat, kekesalan melanda dirinya. Bukan hanya kekesalan tapi juga kekecewaan dan keputus asaan dan juga jangan lupakan kesedihan. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu seolah mampu memecahkan kepalanya saat ini juga. Rasa sakit di dalam hatinya semakin menjadi – jadi. Perasaan tidak terima dan marah masih menghantui dirinya sejak kepergian sang kakak beberapa waktu yang lalu, tubuh itu bahkan terasa enggan hanya untuk sekedar beranjak dari tempat duduknya. Benarkah ini takdirnya.

 

“Aku mencintainya, benar – benar mencintainya.” Teriak Kim bum di dalam hatinya. Cairan bening kembali menerobos kelopak matanya. Jika ada orang yang melihat kondisi Kim bum saat ini, pasti orang itu akan mengira bahwa Kim bum hanyalah seorang manusia yang sangat rapuh dan terlalu mendramatisir keadaan. Bagaimana bisa seorang pria sejati seperti dirinya menangis hanya karena seorang wanita yang sudah jelas tidak bisa diraihnya.

 

~~~

 

So eun baru saja kembali dari berbelanja, bahan – bahan belanjaan yang sedari tadi memberatkan kedua tangan kecil itu segera diturunkannya di meja dapur. Rumah tampak sepi, seperti tidak ada hawa kehidupan di dalamnya, kemana perginya dua orang pria yang menghuni rumah ini ketika So eun pergi berbelanja.

 

So eun melangkahkan kakinya mencari dua sosok pria yang memiliki ciri – ciri fisik yang serupa itu, ya..Tentu saja dua orang pria itu adalah suami dan juga adik iparnya. Entah setan dari mana yang membawa langkah kaki So eun untuk menuju kesebuah kamar yang seharusnya tidak dia datangi. Tidak ada larangan sebenarnya untuk mengunjungi kamar tersebut, mengingat rumah ini juga sudah menjadi rumah So eun. Tapi tidak baik saja jika So eun lebih memilih melihat adik iparnya terlebih dahulu dibandingkan suaminya, bukankah ini aneh.

 

So eun menyentuh gagang pintu dan memutarnya, tidak ada perasaan canggung sama sekali ketika So eun mendapati pintu kamar itu tidak terkunci. Didorongnya pintu kamar tersebut setelah sebelumnya So eun berhasil memutar gagang pintunya.

 

“Kupikir kau sedang tidak ada dirumah Kim bum-ssi.” Ucap So eun ketika berhasil membuka pintu kamar yang ternyata milik adik iparnya itu, dan mendapati sesosok pria yang tengah berdiri membelakangi tubuhnya.

 

“Dia memang tidak ada di sini.” Jawab pria tersebut, dan membalikkan badannya untuk menghadap So eun.

Gadis itu reflek memundurkan tubuhnya, ketika menyadari kesalahan yang dia lakukan.

 

“Oppa… a-apa yang kau lakukan?” Suara So eun tidak keluar dengan lancar, tapi tentu saja masih bisa didengar oleh sang suami.

So eun mengira pria yang saat ini ada di depannya itu adalah adik iparnya, tapi ternyata dugaannya itu salah besar ketika mendapati bahwa suaminya lah yang saat ini sedang berdiri menghadap dirinya sambil tersenyum kearahnya. So eun masih belum bisa membedakan antara Kim bum dan juga Ki bum. Seharusnya So eun sudah bisa lebih peka dengan perasaannya sekarang, walaupun mereka kembar bukankah mereka tetap memiliki perbedaan.

 

“Aku tidak suka melihat oppa memakai baju dan minyak wangi itu.” Kesal So eun, dan membalikkan tubuhnya berniat meninggalkan suaminya yang masih setia berdiri ditempatnya semula dengan senyuman yang membuat So eun sedikit takut.

 

“Apa karena ini milik adikku?” pertanyaan dari Kim bum mampu membuat So eun menghentikan langkahnya. Gadis itu berbalik menatap suaminya kembali. Dan senyuman itu masih ada di wajah tampan milik suaminya. So eun benar – benar tidak suka melihat senyum itu.

 

“Aku tidak suka oppa, tidak peduli itu milik siapa. Aku tidak suka melihat oppa menggunakan apapun yang bukan milikmu.”

 

Ki bum tersenyum mendapati reaksi berlebihan dari istrinya. Ki bum mendekati So eun dengan perlahan. Dilepaskannya kemeja milik sang adik yang sedari tadi melekat di tubuhnya, dan hanya menyisakan sebuah kaos dalaman berwarna hitam tanpa lengan.

 

“Aku merindukanmu sayang..” Ucap Ki bum, sambil melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping milik So eun, sangat erat hingga So eun tidak bisa bergerak. Pelukan posesive.

 

“Kau semakin cantik jika sedang marah…” Sambung Ki bum sambil mengecup pucuk kepala So eun.

 

“Kita makan bersama oppa, aku akan memasakan makanan yang enak hari ini. Tunggu di ruang makan, aku akan segera menyusulmu nanti.” Perintah So eun, sambil berusaha melepas pelukan Ki bum. Dan Ki bum pun hanya bisa mengangguk sambil melangkahkan kakinya menuju ruang makan.

 

“Oppa..” Panggil So eun, ada jeda ketika gadis itu ingin bertanya pada sang suami. “Kemana…” dan ketika So eun akan melanjutkan kembali kalimatnya, suara sang suaminya sudah menginterupsinya untuk berhenti, dengan kalimat yang keluar dari mulut Ki bum.

 

“Kim bum sudah tidak tinggal di sini lagi.” seketika saat itu juga tubuh So eun seperti kaku. Kenapa Kim bum pergi, terlebih tidak memberitahukan hal ini pada So eun. Ah, kenapa ada perasaan kehilangan dihati So eun ketika suaminya itu memberitahukan bahwa adik iparnya sudah tidak tinggal serumah dengannya lagi.

 

 

“Ada apa? Kau sedih Kim bum pergi?” Degup jantung So eun seperti berhenti berdetak saat ini juga. Kakinya pun rasanya sudah sangat lemah untuk hanya sekedar berpijak di tempatnya. Pertanyaan Ki bum mampu menghentikan nafasnya dalam beberapa detik.

 

“Apa maksudmu oppa? Kau aneh!” Bukan jawaban yang diberikan So eun atas pertanyaan suaminya. Wanita itu tidak tau apa yang harus dijawabnya sehingga lebih memilih untuk bertanya balik pada sang suami.

 

Ki bum tersenyum tipis, ada perasaan terluka dibalik sorot mata kelamnya yang tentu saja tidak diketahui oleh sang istri. “Cepatlah siapkan makanan untukku sayang. Aku sudah sangat lapar.” Perintah Ki bum, dan berlalu meninggalkan sang istri yang tampak lega ketika ditinggal sang suami. So eun seperti terbebas dari suatu jerat kesalahan ketika berada di dekat Ki bum.

 

~~~

 

Hari ini sudah hampir satu minggu sejak kepergian Kim bum dari rumah. Rasa kehilangan benar – benar menyelimuti hati So eun. Tapi perasaan sedikit lega juga menyelimuti hatinya. Dengan kepergian Kim bum dari rumah dan tanpa memberitahukannya pada So eun tentu saja itu akan membuat So eun lebih mudah melupakan semua kejadian yang sudah dilaluinya bersama dengan adik iparnya tersebut

 

So eun menghela nafas panjang, disekanya keringat yang membasahi keningnya. hari sudah siang dan sang suami masih betah berada di dalam kamarnya. Apa yang sedang dilakukan Ki bum sekarang, fikir So eun. Sejak sepulangnya So eun dari berbelanja wanita itu masih belum mendapati sosok sang suami menyapa dirinya.

Kim bum melangkahkan kakinya menuju tempat penyimpanan alat – alat yang akan digunakannya untuk membersihkan rumah. Entah kenapa wanita itu lebih memilih membersihkan rumah terlebih daulu dibandingkan dengan memastikan keadaan sang suami.

 

Tidak butuh waktu lama untuk So eun membersihkan rumah, dihempaskannya tubuh lelah itu diatas sofa panjang yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Semilir angin yang masuk melalui jendela mampu membuat So eun merasakan kesejukan yang luar biasa nyamannya. Perasaan yang seharusnya dihindari oleh So eun kembali lagi ketika bayangan Kim bum menghantui fikirannya.

So eun merindukan Kim bum, entah kenapa rasa rindu itu terlalu besar sehingga So eun tidak mampu mengenyahkannya. Bahkan perasaan rindu ini mampu membuat So eun mengabaikan sang suami yang sejak tadi masih belum dilihatnya.

 

“Tidak bisakah kau pergi dari fikiranku.” Batin So eun, sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak. So eun harus segera mengenyahkan semua fikiran yang berisi tentang Kim bum. So eun tidak boleh memikirkan pria itu lagi.

So eun bangkit dari tempat duduknya, perasaan bersalah menghantui sisi lainnya. Bukankah seharusnya So eun menghampiri suaminya, jangan – jangan saat ini suaminya itu sedang membutuhkan bantuannya. Sudah seharusnya So eun ada disisi Ki bum untuk saat ini dan bukannya malah memikirkan pria lain, terlebih pria itu adalah adik iparnya.

 

So eun segera beranjak dari tempatnya, wanita itu segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Tentu saja memastikan apa yang saat ini tengah dilakukan oleh sang suami. Sejak bangun dari tidurnya pagi ini So eun sudah mengabaikan suaminya, bagaimana jika nanti Ki bum mulai curiga padanya. Tentu saja So eun tidak mau itu terjadi.

 

“Oppa… Kau sudah bangun?” So eun membuka pintu kamarnya dan melihat kearah tempat tidur yang saat ini sudah rapi. Tidak ada sang suami, yang ada hanya susunan bantal, guling dan juga selimut yang benar – benar sudah tidak tersentuh. Suaminya sudah bangun, sejak kapan? Lalu kemana Ki bum sekarang?

 

“Oppa…!” Seru So eun lagi, berharap suaminya itu masih berada di kamar ini.

Suara gemericik air dari dalam kamar mandi membuat So eun menghembuskan senyum lega dan jangan lupakan juga sebuah senyuman tipis yang mengembang dikedua sudut bibirnya. Sudah pasti saat ini suaminya itu sedang berada di dalam kamar mandi.

 

“Oppa… Kau di dalam kan?” Panggil So eun, ketika saat ini dirinya sudah berdiri di depan pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar tidurnya. Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi, So eun jadi cemas akan apa yang saat ini Ki bum lakukan di dalam kamar mandi. Jika suaminya itu memang hanya mandi kenapa tidak menjawab seruan So eun.

 

“Oppa.. Apa yang sedang kau lakukan?” Ulang wanita itu lagi, semakin penasaran dengan apa yang dilakukan oleh sang suami saat ini. Rasa penasaran yang sangat luar biasa tengah menggelayuti fikiran So eun. Apa terjadi sesuatu dengan Ki bum di dalam sana, kenapa tidak ada jawaban. Jangan – jangan Ki bum jatuh kelantai dan pingsan.

 

“Oppa kau tidak apa – apa kan?” Teriak So eun, sambil mendorong pintu kamar mandi yang kebetulan tidak terkunci. Dan ketika pintu itu terbuka, So eun bisa melihat dengan jelas apa yang saat ini suaminya lakukan. Tidak terjadi apa – apa dengan Ki bum. Pria itu hanya berendam di bak mandi.

 

“Ada apa?” Tanya Ki bum, terdengar santai di telinga So eun. Wanita itu menghela nafas, ada perasaan kesal di hatinya ketika mendengar respon sang suami yang terlihat biasa saja. Apa saat ini Ki bum tidak bisa melihat raut muka So eun yang benar – benar terlihat cemas. Keterlaluan sekali suaminya ini.

 

“Bisakah aku minta tolong padamu Kim so eun?”

 

“Oppa ingin aku melakukan apa?”

 

“Bisa aku memintamu menggosokkan punggungku, aku kesulitan melakukannya.” Pinta Ki bum. Entah kenapa So eun merasa ada yang aneh dengan suaminya saat ini. Tapi So eun segera menepis perasaan itu, tentu saja wanita ini tidak ingin membuat sang suami menunggunya terlalu lama atau mengira So eun tidak mau memenuhi permintaan sang suami.

 

“Biasanya kau tidak pernah mau merepotkanku, oppa? Hari ini kau terlihat manja sekali.” Ucap So eun, sambil mendudukkan tubuhnya di atas bak mandi dan mulai menggosok punggung Ki bum dengan penggosok badan.

 

“Aku merindukanmu, benar – benar sangat merindukanmu.” Balas Ki bum, pria itu benar – benar menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh sang istri.

 

“Aku juga sangat merindukanmu oppa.”

 

“Siapa yang kau rindukan? Apa kau benar – benar merindukanku? Jadi kau benar – benar merindukanku!”

 

So eun menghentikan aktifitasnya, suaminya ini benar – benar sangat lucu. Tentu saja So eun merindukan suaminya, mengingat betapa lamanya So eun menunggu Ki bum dari tidur panjangnya. Tidak ada lagi rasa rindu di hati So eun saat ini kecuali Ki bum suaminya. Tapi tunggu dulu, bukankah beberapa saat yang lalu isi di kepala So eun itu hanya ada nama Kim bum, bahkan So eun sempat mengabaikan suaminya itu hanya gara – gara memikirkan adik iparnya. Astaga tentu saja rasa bersalah yang teramat besar kembali menyelimuti hati So eun. Kenapa suaminya ini seolah – olah tidak sengaja mengorek kesalahannya. Apa suaminya ini tau apa yang pernah So eun lakukan dengan Kim bum. Bagaimana jika memang Ki bum mengetahuinya, apa yang harus So eun lakukan saat ini. Tentu saja tidak akan mungkin untuk So eun mengatakan semuanya pada Ki bum.

 

“Apa yang sedang kau pikirkan, kau tidak benar – benar merindukanku?” Pertanyaan dari Ki bum ini kembali menusuk jantung So eun. Benar – benar seperti ditikam pisau dari belakang. Rasanya benar – benar sakit, bahkan So eun benar – benar tidak bisa mengeluarkan satu katapun untuk menjawab pertanyaan Ki bum saat ini.

 

Gadis itu hendak beranjak dari tempatnya, tentu saja ingin menghindari pertanyaan suaminya yang terasa mematikan saraf So eun saat ini. Mungkin menghindar adalah satu – satunya hal yang tepat untuk menghindari sang suami. So eun masih belum punya kekuatan untuk mengakui semua kesalahan yang telah diperbuatnya pada Ki bum.

 

“Jangan pergi.. Kumohon.” Lirih Ki bum, ketika menyadari sang istri hendak meninggalkannya. Secepat mungkin Ki bum menghentikan pergerakan sang istri dengan memeluk pinggang ramping wanita itu.

 

“Aku mencintaimu… Benar – benar mencintaimu.” Suara serak dari Ki bum membuat So eun semakin merasa bersalah. Tapi perasaan ini berbeda. So eun benar – benar merindukan pelukan ini. Bukan seperti pelukan suaminya, ini terasa lebih hangat dan bisa langsung menyentuh hatinya.

 

“Maafkan aku oppa… Maafkan aku.” Ucap So eun, mencoba menenangkan gejolak jiwanya yang entah sejak kapan mulai membuatnya merasakan sakit yang benar – benar luar biasa.

“Maafkan aku oppa, karena aku merindukan pria lain.” Imbuh So eun dalam batinnya.

 

Ki bum membalikkan tubuh sang istri, ditelitinya wajah cantik So eun saat ini. Benar – benar cantik, dulu hingga sekarang So eun memang wanita yang benar – benar cantik di mata Ki bum. Tentu saja akan sangat menyesal bagi semua pria yang menjadi pendampingnya dan tidak bisa mempertahankan gadis ini untuk selalu berada disisinya.

 

Ki bum menarik tubuh sang istri untuk memasuki bak mandi yang sama dengannya. Bak mandi itu cukup besar untuk menampung hingga 4 orang di dalamnya, jadi Ki bum tidak akan khawatir akan membuat istrinya merasa tidak nyaman di dalam bak mandi itu bersama dengannya.

 

Dielusnya pipi putih sang istri, Ki bum benar – benar sangat berterima kasih pada sang pencipta karena sudah menciptakan sosok yang cantik seperti So eun. Terlebih wanita ini benar – benar nyata dan saat ini tengah berada di depannya dalam rengkuhannya. Dipandanginya setiap inci dan detail wajah So eun, benar – benar terlihat menggoda di mata Ki bum.

 

Jari jemari Ki bum masih sibuk meneiti setiap inci wajah So eun, sedangkan wanita itu hanya bisa menerima setiap perlakuan dari sang suami. So eun bahkan tidak menolak ketika jemari kokoh itu mulai meraba bibir ranumnya. Begitu pula ketika dengan tiba – tiba sebuah benda basah menyentuh permukaan kulit bibirnya. So eun benar – benar tidak bisa menghindar dari ciuman hangat yang diberikan oleh suaminya saat ini. Lagi – lagi So eun merasakan keanehan, bukan pada sang suami melainkan pada dirinya sendiri. Jika sebelumnya So eun menolak sentuhan dari sang suami kali ini So eun benar – benar menikmatinya. Bahkan sentuhan yang diberikan oleh Ki bum mengingatkan So eun akan sentuhan yang pernah diberikan oleh Kim bum. Oh.. tidak lagi, kenapa disaat seperti ini nama Kim bum kembali muncul di dalam kepala So eun. Lagi.

 

“Op-pa..” panggil So eun, ketika tanpa diduga oleh akal sehatnya Kim bum menyentuh daerah sensitifnya. Suaminya itu meletakkan telapak tangan kanannya pada payudara sebelah kiri milik So eun, sedangkan tangan kiri Ki bum merengkuh tubuh sang istri.

 

“Jangan menolakku Kim so eun, aku benar – benar sangat merindukan sentuhanmu.” Pinta Ki bum, pria itu bahkan semakin lincah memainkan telapak tangannya di payudara yang berukuran besar itu. Ki bum benar – benar menikmati aktifitasnya, sedangkan So eun sudah pasti wanita itu tidak bisa menolaknya. Tidak ada yang salah dengan sikap Ki bum, bukankah mereka ini sepasang suami istri jadi sudah pasti tidak ada yang salah akan hal ini.

 

Ki bum semakin menikmati aktifitasnya, tangan pria itu semakin lincah memainkan kedua payudara sang istri. Dengan kedua tangan yang masih asyik dengan aksinya di kedua payudara milik So eun, Ki bum pun juga tidak ingin melewatkan bibir merona milik sang istri. Dikecupnya bibir itu berkali – kali, tentu saja dengan tempo yang cepat. Pria itu bahkan tidak mempedulikan setiap erangan yang berkali – kali telah keluar dari mulut sang istri atas perlakuannya.

“Maafkan aku… Kumohon jangan membenciku.” Batin Ki bum, disela – sela aktifitas yang membuat tubuhnya membara. Entah kenapa Ki bum bisa menggumamkan kata maaf ketika menyentuh tubuh sang istri, sedangkan hal itu sudah seharusnya dilakukan oleh pasangan yang sudah terikat dalam pernikahan.

 

Pergulatan panjang antara Ki bum dan So eun pun sudah selesai, ketika sebuah interupsi dari Ki bum yang menyuruh So eun untuk segera mengganti segera pakaian wanita itu yang benar – benar sudah basah akibat ulah Ki bum. So eun segera menuruti permintaan sang suami. Wanita itu segera beranjak dari dalam bak mandi dan segera melepaskan semua pakaiannya untuk menggantinya dengan baju handuk yang akan membalut tubuhnya.

 

“Cepatlah keluar dari tempat itu, jika kau tidak ingin masuk angin Kim bum-ssi!” Perintah So eun, pada pria yang sekarang masih betah berendam didalam bak mandi itu.

 

“Kupikir kau tidak akan menyadarinya So eun-ssi!”

 

Deg.. So eun menyadari kesalahannya. Lagi. gadis itu merutuki dirinya yang dengan gampangnya menyebutkan nama Kim bum dan bukannya Ki bum. Dan terlebih sambutan dari pria yang sedari tadi tengah membuai dirinya. Panggilan itu, suara itu. Jangan lupakan juga sentuhan yang baru saja didapatkan So eun dari laki – laki yang entah sejak kapan sudah berada dibelakangnya dan saat ini sedang melingkarkan kedua tangannya pada pinggang So eun.

 

“Kau…”

 

“Hm.. Kupikir kau tidak akan menyadarinya.”

 

Seluruh sendi di dalam tubuh So eun seperti tidak berfungsi dengan baik ketika wanita itu menyadari siapa pria yang saat ini tengah memeluk tubuhnya dan memberikan sentuhan – sentuhan lembut padanya beberapa saat yang lalu. So eun bisa memastikan bahwa saat ini tubuhnya akan langsung merosot kelantai jika saja pria yang ada di belakangnya itu tidak sigap menahannya.

 

“Bagaimana bisa kau langsung mengenaliku So eun-ssi, apa karena ini kau mengenaliku?” pria yang saat ini masih setia memeluk tubuh So eun itu mengulurkan tangan kirinya dan mengacungkan telapak tangannya dihadapan mata So eun. Dan saat itu juga So eun benar – benar melebarkan pandangannya pada telapak tangan pria tersebut. Lebih tepatnya jari pria tersebut, di jari itu tersemat sebuah cincin berwarna silver yang entah bagaimana bisa melingkar manis di jemari kokoh itu.

 

“Dia tidak akan bisa memakainya, jadi aku yang menggantikannya memakai benda ini. Bagaimana menurutmu, bukankah benda ini sangat pas dijariku?”

 

So eun segera mendongakkan kepalanya, mencoba meneliti apakah benar pria yang saat ini berada di dekatnya ini adalah orang yang saat ini dirindukannya dan bukannya suaminya. Jika benar terkutuk sekali So eun karena lagi – lagi, gadis ini menghianati suaminya. Terlebih dengan santainya So eun menikmati setiap perlakuan yang sudah diberikan pria ini padanya. Jangan lupakan juga bagaimana dengan mudahnya So eun menggumamkan nama pria itu ketika dirinya masih menyangka bahwa pria yang saat ini didekatnya itu adalah suaminya. Keterlaluan sekali So eun. Apakah wanita ini benar – benar tidak bisa membedakannya sejak pertama kali, dan lagi siapa yang sebenarnya ada di hatinya saat ini.

 

Bahkan tanpa melihat cincin yang tersemat di jari pria itu pun, So eun sudah merasakan bahwa pria yang telah menyentuhnya itu adalah Kim bum dan bukannya Ki bum. Terlebih ketika cincin itu dengan asyiknya mendiami jari pria itu, bagaimana bisa dan sejak kapan cincin itu berada di jari yang tidak semestinya.

 

“Aku kemari hanya untuk mengembalikan benda ini, aku tidak bermaksud untuk mengambilnya. Adapun sesuatu yang ingin kuambil sekarang itu adalah kau, So eun-ssi.”

 

“Ba-bagaimana b-bisa kau a-ada disini?”

 

“Kau tidak merindukanku? Kupikir ketika tadi kau mengatakan merindukanku itu benar – benar untukku… oh, aku hampir lupa kau mengira aku ini suamimu. Seharusnya memang akulah yang berhak menjadi suamimu So eun-ssi.”

 

Saat ini juga, So eun benar – benar tidak mampu berucap. Kelancangan Kim bum yang dengan tiba – tiba memasuki rumahnya kembali setelah kepergiannya selama hampir satu minggu. Ditambah lagi kalimatnya yang terdengar seperti orang tak waras yang hendak menghancurkan rumah tangga kakak kandungnya sendiri. Apa pria ini sedang mabuk, jika memang benar bagaimana bisa. Sejenak So eun berfikir, sekarang bukan saatnya untuk So eun memikirkan hal – hal yang tidak terlalu penting. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya untuk membuat Kim bum pergi dari rumah ini, sebelum Ki bum datang dan mengetahui apa yang telah dilakukan oleh adik dan juga istrinya sekarang.

 

“Kau ingin aku pergi?” So eun mengangguk lemah ketika mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Kim bum saat ini. Pria itu seperti bisa membaca semua jalan fikiran So eun.

 

Kim bum yang masih setia memeluk So eun dari belakang, hanya bisa menyunggingkan senyum tipisnya. Kim bum makin mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping milik So eun. Tidak mempedulikan betapa gemetarnya tubuh So eun yang saat ini berada dalam rengkuhannya. Pria itu mengecup pucuk kepala So eun, seperti tidak rela melepas wanita yang benar – benar diraihnya ini.

 

“Kau tidak perlu khawatir akan kedatangan kakakku, akan kupastikan sebelum dia datang aku pasti akan meninggalkan tempat ini. Kau tidak perlu khawatir.” Kalimat itu berusaha menenangkan hati So eun, tapi tetap saja ketakutan gadis itu masih kentara jelas di wajahnya.

 

“Bagaimana bisa kau ada disini Kim bum-ssi?” Lirih So eun, benar – benar hampir tidak terdengar oleh indera pendengar Kim bum.

 

“Akhirnya kau menyebut namaku lagi, kupikir telingaku tidak akan bisa mendengar suaramu lagi untuk menyerukan namaku.”

 

“Kumohon Kim bum-ssi, jangan seperti ini!”

 

Kim bum menghembuskan nafasnya dengan berat, sangat berat dan terasa dipaksakan. Hingga So eun pun dibuat bergidik ketika hembusan nafas itu mampu menyentuh lehernya. Kim bum seperti sedang menahan sebuah batu yang sangat besar dipunggungnya. Dari deruman nafas lelah itu, bisa So eun pastikan bahwa kondisi Kim bum saat ini tidak dalam keadaan baik.

 

“Ini yang terakhir kalinya, setelah ini aku tidak akan pernah mengganggu hubungan kalian. Aku hanya ingin menyelesaikan sebuah potongan kisah kasihku yang masih terombang – ambing.” Jelas Kim bum.

 

“Maaf jika kau merasa terganggu dengan kehadiranku, mungkin semua ini tidak akan terjadi jika aku tidak kembali lagi kesini.” Sambung Kim bum. Pria itu menguarkan pagutan tangannya yang sedari tadi masih setia melingkari pinggang So eun.

 

“Aku akan kembali ke Jepang. Kuharap dengan menjauh dari dunia kalian aku akan bisa melupakan sesuatu yang selama ini benar – benar ingin sekali kugapai.” Sekarang Kim bum benar – benar melepaskan tubuh So eun dari rengkuhannya. Pria itu sibuk mengenakan kembali pakaiannya dan masih memandangi So eun yang tetap tak bergeming dari posisi yang membelakangi tubuh pria tersebut.

 

“Kau akan pergi.”

 

“Hm.” Kim bum berjalan melewati tubuh So eun, pria itu benar – benar akan mencapai pintu kamar mandi, bahkan tangan kanannya sudah menyentuh gagang pintu. Hanya butuh beberapa detik lagi untuk Kim bum keluar dari tempat itu. Tapi langkah itu harus tertahan oleh kalimat So eun.

 

“Kenapa kau melakukan semua ini? kenapa kau membuatku menjadi seperti ini?” Suara itu bergetar, benar – benar terdengar memilukan ketika ditangkap oleh telinga Kim bum. Ingin rasanya pria itu membalikkan badannya dan kembali membawa wanitanya kedalam rengkuhan hangatnya. Tapi tentu saja Kim bum tidak akan bisa melakukan hal itu lagi, akan terlalu lancang bagi Kim bum jika harus kembali memeluk So eun. Sudah cukup untuk semuanya, bukankah Kim bum sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa mulai detik ini dirinya tidak akan menyulitkan orang yang dikasihinya.

 

“Kenapa kau sangat kejam padaku, tidakkah selama ini kau mengerti bagaimana rasanya jadi aku Kim bum-ssi!” tangis itu pecah, karena sang pemilik air mata tidak bisa mengendalikan cairan bening yang saat ini benar – benar meleleh keluar dari kelopak matanya. Wanita itu butuh penjelasan, hanya sebuah alasan sehingga adik iparnya ini mampu memporak – porandakan seluruh jiwanya hingga benar – benar berantakan. So eun ingin tau, apa alasan Kim bum hingga pria itu bisa menyentuh titik sensitif dalam batinnya. Bahkan yang tidak pernah bisa dilakukan oleh suaminya sendiri.

 

“Aku akan menjelaskan semuanya padamu, jika suatu saat nanti Tuhan masih merestui kita untuk bertemu. Terimakasih sudah mengijinkanku menyelami dalamnya hatimu.” Beberapa tetes kristal bening terjun bebas dari mata kelam milik Kim bum, pria ini juga menangis sama seperti So eun. Akhirnya dia akan melepaskan semua cintanya pada So eun. Apapun yang terjadi pria ini, memang akan selalu menjadi yang kalah. Sampai kapanpun dan akhirnya dia harus bisa untuk merelakan semuanya. Termasuk kebahagiaan dan juga wanita yang dicintainya.

 

“Aku mencintaimu Kim So eun.” Batin Kim bum, dan pria itu dengan mantapnya melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut. Tentu saja meninggalkan So eun yang semakin menggila dengan tangisnya. Entahlah, kenapa So eun benar – benar histeris ketika melihat Kim bum meninggalkannya. Ada perasaan tidak rela pada hati wanita itu. Jadi sebenarnya bagaimana perasaan So eun saat ini. Ah, salah. Yang benar untuk siapa hatinya tertambat saat ini.

 

Raungan tangis dari So eun benar – benar terasa mencekam hati Kim bum yang ternyata masih berada diluar kamar kakaknya tersebut. Disini, ditempat ini Kim bum harus merelakan semuanya. Tubuh itu limbung, dan dengan sigap Kim bum menyandarkan tubuhnya pada dinding sebelum tubuhnya jatuh kelantai. Dipandanginya jari tangannya. Tidak ada sesuatu dijari itu karena cincin yang beberapa saat lalu tengah melingkar di jarinya sudah pria itu kembalikan ke tempat asalnya.

 

“Maafkan aku..” Gumam Kim bum, dengan langkah sempoyongan pria itu akhirnya meninggalkan So eun dan juga rumah yang sudah memberikan banyak kenangan untuknya. Terlebih pria itu juga harus pergi meninggalkan lagi Ki bum – sang kembaran.

 

~~~

 

“Kau masih mencintaiku?” Suara berat itu kembali mengudara, ada semburat ketidak pahaman dari raut wajah tampan itu. Bagaimana bisa wanita yang ada dihadapannya ini masih mengaku mencintainya, setelah apa yang sudah dijelaskan oleh pria yang saat ini tengah duduk disebuah cafetaria yang tidak terlalu ramai pengunjung. Tentu saja bersama wanita yang tadi mengatakan masih mencintai pria ini. Sepertinya wanita itu sudah gila, benar – benar tidak waras mungkin.

 

“Aku bukan pria yang menolongmu, dan kau masih mencintaiku?” pertanyaan itu kembali keluar dari mulut si pria. Ada perasaan kesal ketika pria itu mengatakannya.

 

“Saya bukan gadis belia yang masih belum paham apa makna cinta sesungguhnya. Saya ini wanita yang sudah matang, dan tau mana cinta yang benar dan mana cinta yang salah.” Jelas wanita itu dengan nada bicara yang sangat anggun.

 

“Saya tidak pernah berniat menghancurkan hubungan anda dengan istri anda. Anda fikir selama ini saya salah menujukan perasaan saya pada orang. Mungkin awalnya memang benar, tapi saya sudah mengetahui semuanya jauh sebelum anda mengatakan semuanya saat ini.”

 

“Jika kau sudah mengetahuinya, lalu kenapa kau masih bisa mengatakan bahwa kau mencintaiku. Bukankah sejak awal pria yang kau sukai itu adalah pria lain.”

 

Wanita itu tersenyum mendengar kalimat yang terlontar dari mulut pria yang ada dihadapannya saat ini. Aneh memang, tapi bagaimana bisa pria ini memaksa si wanita untuk menyukai pria lain sedangkan orang yang jelas – jelas disukainya itu adalah pria yang saat ini berada dihadapannya.

Walaupun terdengar gila dan aneh, tetap saja perasaan tidak bisa berubah. Tidak akan ada yang bisa merubah keinginan orang lain kecuali orang itu sendiri. Wanita itu sadar akan perasaan terlarang yang dimilikinya untuk pria itu. Mencintai suami orang tentu saja itu hal yang sangat – sangat tidak diperbolehkan. Tapi apa salahnya, toh selama ini dia tidak pernah merusak rumah tangga orang yang disukainya, wanita itu hanya mencintai pria yang ada dihadapinya dengan cara yang sehat. Memendam perasaannya sendiri dalam hatinya. Meskipun hal itu melukai wanita itu sendiri.

 

“Anda seperti orang yang sedang ketakutan, jika dia mencintai anda kenapa anda harus takut. Bukankah kasusnya juga sama seperti yang menimpa saya. Dan bukankah jawabannya masih sama. Saya mencintai anda karena saya merasa cinta saya tertuju pada orang yang benar.”

 

Pria itu mencerna kata – demi kata yang keluar dari mulut wanita yang mengaku masih mencintainya itu. Ya, kenapa pria ini harus takut bukankah kasusnya sama dan jawabannya sama. Wanita ini benar seharusnya pria ini tidak perlu takut jika dirinya merasa yakin bahwa sesuatu yang menjadi miliknya tentu saja akan selalu menjadi miliknya jika semua itu benar – benar tertuju pada orang yang tepat.

 

“Anda tidak bisa memaksakan kehendak dan juga keinginan anda pada orang lain. Tentu saja orang itu tidak akan melakukan semua keinginan anda jika itu bertentangan dengan hatinya. Dalam kasus istri anda, sepertinya anda benar – benar takut jika jawabannya berbeda.”

 

Pria itu semakin terlempar kuat kedalam ilusi yang diciptakannya sendiri. Semua kalimat yang terlontar dari mulut wanita itu masih belum bisa dibalasnya. Ada perasaan takut yang sangat besar tengah mendera hatinya. Bagaimana jika yang diucapkan wanita ini benar, bagaimana jika kasus serupa ini memiliki penyelesaian berbeda. Haruskah pria ini merelakan istrinya pergi dari sisinya. Sial, tentu saja itu tidak diinginkan oleh hatinya. Lalu apa harus mengorbankan orang – orang yang dikasihinya.

 

“Sepertinya anda juga harus mengungkapkan semua ini padanya, sebelum orang lain yang mendahului anda.”

 

Kalimat itu bagaikan pukulan telak yang mampu menghujam ulu hati pria itu. Ya, seharusnya sejak awal pria itu memberitahukan semuanya pada sang istri dan bukannya malah menyembunyikan kebenarannya. Terlebih membuang adiknya kandungnya. Betapa keterlaluannya pria itu. Bagaimana jika nanti sang adik mengatakan semua kebenaranya pada istrinya dan semua ketakutan yang melanda hatinya akan terbukti, apa pria ini masih bisa mengatur nafasnya kembali dengan normal. Tanpa istri dan juga adiknya, hanya sendiri dan kembali merasakan kehampaan.

 

“Anda tidak akan sendiri, karena saya masih akan tetap ada disamping anda jika sesuatu yang buruk itu terjadi.”

 

“Apa maksudmu Yoona-ssi?” Pertanyaan Retorik, haruskah pria ini mengajukan pertanyaan seperti itu pada wanita yang saat ini ada dihadapannya. Bukankah pria itu sudah tau apa jawaban dari pertanyaan yang saat ini tengah diajukannya.

 

“Anda tidak perlu khawatir, semuanya akan baik – baik saja. Semua jawaban ada di tangan anda. Ingin lari, mendapatkan hasil menyenangkan tapi tidak bertahan lama atau melangkah maju walaupun berat tapi melegakan. Semuanya tergantung pada diri anda.” Wanita bernama Yoona itu betul – betul menyudutkan pria yang ada di hadapannya.

 

“Jadi aku harus melakukan salah satunya!”

 

“Sepertinya saya harus meninggalkan anda, agar anda bisa berfikir dengan matang. Maaf jika saya sudah terlalu banyak bicara Ki bum-ssi.” Yoona bangkit dari tempat duduknya dan membungkukkan badannya pada pria yang tak lain adalah Ki bum. Dengan senyum tulus yang mengambang di wajah cantiknya wanita itu melenggangkan kakinya meninggalkan Ki bum yang masih dalam kekalutan.

 

Ya, bagaimanapun semua kekacauan ini harus diselesaikan jika tidak ingin ada yang terluka. Sudah ada satu korban dan tentu saja Ki bum tidak ingin ada korban lagi. jika sebelumnya dengan kejamnya Ki bum mengorbankan adiknya apakah sekarang Ki bum juga akan mengorbankan istrinya. Pria itu masih bimbang akan keputusan yang harus dipilihnya. Maju kehilangan, mundur juga kehilangan bukankah serba salah jika sudah seperti ini.

 

“Brengsek..” Rutuknya dalam hati, Ki bum menggenggam erat gelas yang terletak didepannya. Jika saja ini bukan di tempat umum sudah pasti Ki bum akan mengeluarkan semua kemarahannya ini.

 

Harus ada yang kalah, bukan mengalah. Seharusnya sejak awal dua kembar ini mengetahui aturan sebuah peperangan. Tidak ada istilah seri. Jika kalah ya mati, menang berarti hidup. Pertarungan ini masih belum selesai, masih ada waktu untuk mengetahui siapa pemenangnya. Terlepas dari kata mengalah.

 

NB: buat para readers yang sudah setia menunggu kelanjutan fanfic ini, aku benar – benar ucapkan terimakasih. Sekali lagi mau kasih tau buat para readers yang sudah baca fanfic ini, cerita ini memang terinspirasi dari sebuah film korea dengan judul yang sama. Tapi dalam cerita di fanfic ini aku sengaja merubah ceritanya sesuai dengan imajinasiku, tapi tidak bermaksud merusak cerita aslinya. Untuk para readers yang kurang berkenan dengan ceritanya aku mohon maaf.

Secret Love (Part 6)

Posted: 16 Februari 2014 in FF BUMSSO
Tag:

cats

 

Preview part 5

 

So eun dan kim bum masih melakukan hal itu, tapi keduanya seperti merasakan suara. Suara yang aneh, tidak… keduanya saling pandang. Ada orang di depan pintu, kim bum dan so eun merasakan itu, sebentar lagi ada yang akan membuka pintu kamar tersebut.

 

“apa yang harus kita lakukan jika ki bum oppa megetahuinya.” Takut so eun, bagaimana so eun tidak takut jika suaminya akan mengetahui kelakuannya selama ini, selingkuh dengan adik iparnya sendiri.

 

“tenanglah, ki bum hyung tidak akan tau.” Ucap ki bum sambil berusaha secepat mungkin melepaskan tubuhnya dari tubuh so eun dan merapikan bajunya dan juga baju so eun.

Tapi tentu saja apa yang dilakukan kim bum barusan itu bertepatan dengan suara decit pintu yang terbuka. Pintu kamar itu terbuka dan so eun pun sedikit gugup dengan siapa yang sedang berdiri di depan pintu saat ini, begitu pula dengan kim bum tentunya.

 

 

Part 6

 

~~~

 

Dengan langkah yang tertatih – tatih ki bum mencoba untuk berjalan dengan menggunakan kakinya sendiri, walaupun rasa nyeri masih sangat terasa pada persendiannya tapi ki bum masih gigih untuk berusaha. Tangannya sudah hampir sampai pada gagang pintu dan tentu saja hendak memutarnya, jika saja sebuah panggilan dari seorang perawat tidak menggagalkan niatnya sudah pasti pintu yang ada didepannya itu akan terbuka saat ini juga.

 

“ki bum-ssi…”

 

Ki bum menolehkan kepalanya, dan mendapati seorang perawat tengah memperhatikan dirinya. Sepertinya perawat itu sedikit terkejut melihat perkembangan kondisi ki bum.

 

“ki bum-ssi, kau hendak menuju kekamarmu? Dimana so eun-ssi? Rasa heran perawat itu benar – benar tidak terkontrol dan terlalu berani dengan kalimat yang sudah dia lontarkan pada ki bum barusan. Mungkin perawat ini hanya khawatir saja pada ki bum mengingat kondisi pria ini belum sembuh benar dan tanpa pengawasan siapapun pria ini nekad berjalan sendiri untuk menuju kamarnya.

 

“aku hanya ingin memberi kejutan pada istriku, kau tidak perlu khawatir.”

 

Perawat itu menghela nafas lega ketika ki bum menjawab pertanyaannya. Yaa.. semua pria yang bernasip seperti ki bum pun pasti akan mencoba membuat wanitanya bahagia, ketika menyadari bagaimana pengorbanan istrinya selama ini ketika suaminya sedang terbaring di rumah sakit.

 

“anda salah kamar, kamar anda di sebelah sini. Sepertinya so eun-ssi sedang tidak ada didalam…..” ucap sang perawat sambil membuka pintu kamar ki bum yang tepat berada di dirinya saat ini.

 

Derit suara pintu kamar rawat ki bum pun berbunyi kala sang perawat itu membuka pintu tersebut. Dan ada sedikit kekagetan di raut wajah sang perawat ketika mendapati dua orang yang berada di dalamnya. Kim bum dan so eun sedang berada di kamar rawat milik ki bum berdua, sedang berdiri saling berhadapan – apa yang sedang mereka lakukan, kenapa mereka ada di ruangan ini berdua. sedangkan ki bum sedang susah payah berjalan meunuju kesini dengan langkah tertatih – tatih sendirian. Mencurigakan memang. Tapi tentu saja perawat itu tidak akan ambil pusing, toh itu semua bukan urusannya.

 

“ah.. maafkan saya. Saya pikir tidak ada orang di kamar ini.”

 

“tak apa… aku sedang merapikan tempat tidur suamiku, sebentar lagi aku akan membawanya kesini. mungkin terapi yang dilakukannya sudah selesai?” dengan sopan so eun berkata pada sang perawat yang sepertinya merasa tidak enak pada so eun, dengan kelancangannya yang dengan seenaknya dan tanpa permisi membuka pintu ruangan milik ki bum.

 

“sebenarnya.. ki bum-ssi…” perawat itu menghentikan kalimatnya ketika ki bum sudah terlebih dulu masuk kedalam kamar tersebut dan membuat so eun dan juga kim bum kaget.

Tentu saja kedua orang ini ketakutan walaupun tidak terlihat jelas, tapi dalam hati mereka berdua benar – benar merasakan ketakutan yang luar biasa. Apakah mungkin ki bum mengetahui apa yang telah dilakukan keduanyan bagaimana jika memang benar bisa mati mereka. Alasan apa yang akan mereka berdua buat untuk meyakinkan ki bum bahwa semua ini tidak seperti yang dia bayangkan. Walaupun kim bum dan so eun sendiri juga tidak tau, apakah mereka melakukan semua ini dengan hati atau karena kesempatan yang ada.

 

“aku ingin memberimu kejutan… aku tidak ingin selalu menyusahkanmu, jadi aku berusaha untuk berjalan sendiri kesini.”

 

So eun masih terdiam, wanita ini masih terlalu kaget untuk merespon apapun yang telah dilakukan oleh suaminya. Mungkinkah ini saatnya, saatnya untuk melupakan perasaan yang beberapa hari ini muncul didalam hati so eun. Perasaan yang tidak seharusnya so eun rasakan.

 

Yaa.. so eun harus segera sadar. Dia adalah seorang istri dan mana mungkin so eun bisa melakukan affair dengan seorang pria lain. yang terlebih pria itu adalah adik iparnya yang tak lain saudara kandung suaminya. Ini semua harus di hentikan tentu saja.

 

“bagaimana bisa kau melakukan ini oppa? Kau membuatku khawatir.” Gerutu so eun pelan, dan langsung menghambur ke pelukan suaminya. Tentu saja ini semua dilakukan so eun agar ki bum tidak merasa curiga dengan kehadiran kim bum dikamar rawatnya.

 

“kupikir aku akan membuatmu senang, ternyata kau malah khawatir. Maafkan aku sayang, tentu saja aku tidak akan membuatmu khawatir lagi.” Tegas ki bum, sambil membalas pelukan so eun dengan erat. Seakan – akan pria ini menyadari jika sedikit saja ki bum merenggangkan pelukannya maka so eun akan terlepas dan tidak akan kembali lagi padanya.

 

Perawat yang tadi mengantar ki bum menuju ke kamarnya segera pergi meninggalkan sang pasien, sepertinya tugasnya sudah selesai. Ki bum sudah aman sekarang dan perawat itu tentu saja harus melakukan tugasnya yang lain. Lagi pula tentu saja perawat itu tidak ingin mengganggu kenyamanan ki bum dan so eun saat ini.

Tapi jika perawat itu saja mengetahui situasinya saat ini, kenapa kim bum tidak berpikir seperti perawat tadi. Bukankah kim bum harus menyadari keberadaannya sekarang. Apa pria ini harus terus termanggu ditempatnya dan melihat pemandangan yang akan menusuk – nusuk hatinya hingga hancur. Pria ini tidak sadar posisinya atau apa sih, harusnya kim bum segera pergi meninggalkan ruangan ini sekarang.

 

“kau melupakanku hyung..” gumam kim  bum, terdengar memilukan bagi setiap orang yang mendengarnya terlebih bagi kim bum sendiri.

 

“ahhh… adikku, kau ada disini juga rupanya.” Jawab ki bum sedetik kemudian ki bum pun melepaskan pelukannya dari tubuh so eun. Ki bum menatap adiknya sebentar dan kembali menatap ke arah so eun sambil tersenyum dengan lembutnya.

 

“maaf sudah terlalu banyak merepotkanmu kim bum, terlebih aku sedikit mengabaikanmu. Rasanya aku tidak pernah bisa merasakan keadaan sekitar jika disampingku sudah ada istriku tercinta.” Sambung ki bum lagi, tentu saja tanpa mengalihkan pandanganya dari tubuh sang istri yang ada disampingnya.

 

Bagaikan menusuk relung hatinya, kim bum benar – benar tidak kuasa untuk kalimat – kalimat yang akan keluar dari mulut ki bum lagi, sudah cukup. Apa maksud dari ucapan kakaknya ini, bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti ini kepada adiknya sendiri. Apa ki bum tidak tau jika kim bum juga merasakan hal yang sama seperti ki bum.

Tidak… tentu saja tidak tau, jika ki bum tau tentu saja pria itu tidak akan membiarkan kim bum masih berdiri ditempat ini dengan keadaan baik – baik saja. harusnya kim bum sadar akan hal itu.

 

“yaa, aku tau apa yang kau rasakan sekarang hyung. Baiklah kali ini aku tidak akan mengganggumu.” Ucap kim bum, sambil melenggangkan kakinya berjalan menuju pintu kamar rawat kakaknya tersebut.

 

“kim bum-ah…” panggil ki bum, dan sukses menghentikan langkah kaki sang adik yang hampir saja menjangkau pintu kamar yang ada dibelakang tubuh ki bum dan so eun saat ini.

 

Kim bum menghentikan langkahnya, dan membalikkan tubuhnya. Ada sedikit rasa heran di hati kim bum  pada panggilan yang di lontarkan oleh sang kakak. Apa lagi yang akan di lakukan ki bum sekarang, tanya kim bum dalam hatinya.

 

“bisakah kau membawa istriku pulang.” Pinta ki bum sambil tersenyum pada adiknya tersebut.

 

“oppa… apa maksudmu, hari ini aku ingin menemanimu disini. Kenapa kau menyuruhku pulang?” heran so eun, tentu saja wanita itu tidak ingin meninggalkan suaminya. Terlebih jika hari ini so eun pulang ke rumah dengan kim bum, tentu saja itu akan membuat so eun kembali mengingat kebersamaannya dengan pria itu.

 

“biarkan aku menemanimu disini oppa, apa kau..” so eun menghentikan kalimatnya yang bernada rengekkan kala ki bum sudah memberikan sebuah isyarat padanya untuk berhenti berkata, hanya dengan tatapan matanya.

 

“kau lelah sayang, kau butuh istirahat sekarang. Bukankah besok kita bisa bertemu lagi. Kau lupa kalau besok aku sudah bisa keluar dari rumah sakit.”

 

So eun membungkam mulutnya, sepertinya so eun memang benar – benar tidak bisa melawan keinginan ki bum sekarang. Bukankah keinginan ki bum memang tidak pernah bisa so eun tolak selama ini. Dan sekarang tentu saja so eun hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda dia paham dengan perintah suaminya ini.

 

“istirahatlah, jangn menyibukkan diri lagi. Bukankah selama ini kau sudah sangat lelah menungguku.”

 

So eun menatap lembut mata ki bum, memang benar apa yang dikatakan ki bum saat ini. So eun memang sudah teramat lelah dengan penantiannya terhadap kesembuhan ki bum hingga akhirnya suaminya itu bisa kembali bangun dari tidur panjangnya.

 

“baiklah aku pulang.. oppa juga harus istirahat.” Pamit so eun sebelum menyambar tasnya dan melambaikan tangannya pada suaminya. Dan langsung pergi meninggalkan kim bum dan ki bum yang masih berada di kamar rawat. Ki bum memang menyuruh so eun untuk meninggalkan suaminya itu berbicara sebentar dengan adiknya tanpa ada so eun diantaranya, dan tentu saja so eun pun menghargai permintaan suaminya tersebut.

 

~~~

 

So eun menghempaskan tubuhnya di sofa panjang yang sangat nyaman, wanita itu sudah berada dirumahnya dengan selamat, tentu saja wanita itu pulang bersama kim bum. Hari masih siang dan so eun benar – benar merasa bosan sekarang, suaminya sudah sadar dan besok ki bum sudah bisa pulang. So eun sedikit berfikir, kenapa ki bum menyuruhnya pulang dan menolak untuk ditemaninya. Terlebih apa yang tadi dibicarakan oleh ki bum dan juga ki bum, sehingga so eun tidak boleh mendengarnya.

 

“kenapa kau tidak istirahat so eun-ssi?”

 

So eun mendongakkan kepalanya dan mendapati kim bum berdiri dibelakangnya dengan sebuah senyuman yang menghiasi wajah tampannya. Rasa gugup menyelimuti hati so eun saat ini, kala dirinya mengingat kembali kejadian beberapa waktu yang lalu. Terlebih saat ini pria itu terlihat akan menghampiri so eun.

 

“pasti sangat senang sekali.” Ucap kim bum ketika pria itu sudah berhasil mendudukkan dirinya disamping so eun saat ini. Entahlah kenapa sekarang kim bum semakin berani saja, bukankah sebelum ini kim bum tidak seberani sekarang. Lalu apa penyebab kim bum bisa seberani ini mendekati so eun. Sepertinya kim bum masih belum sadar juga akan posisinya sekarang.

 

“aku harus istirahat.” Ucap so eun, sambil beranjak dari tempat duduknya sebelum kim bum menghalangi niatnya. Tapi tentu saja, usaha so eun untuk melarikan diri dari kim bum tidak akan berhasil mengingat betapa gigihnya usaha kim bum sampai sejauh ini. Buktinya saat ini pria itu bisa menahan gerak tubuh so eun hanya dengan genggaman ringan dari kim bum sekarang.

 

“kau mau menghindariku?… atau kau ingin aku yang pergi dari kehidupanmu?” dua pertanyaan yang dilontarkan kim bum tanpa sedikitpun menghadapkan wajahnya pada so eun benar – benar mampu membekukan langkah so eun saat ini.

Astaga.. apa yang harus dijawab oleh so eun sekarang. Selama ini so eun bahkan tidak pernah membayangkan pertanyaan seperti itu dibenaknya, apalagi jika harus memilih ataupun menjawab salah satu dari pertanyaan tersebut, tentu saja so eun tidak bisa. Bukan tidak bisa melainkan so eun masih bingung harus memilih jawaban apa sekarang.

 

“yaa.. so eun-ssi, apa yang sedang kau pikirkan sekarang? Bukankah akan lebih baik jika kita mendekorasi ulang tempat ini supaya saat ki bum hyung besok datang, dia akan merasakan suasana yang baru.” Kim bum pun melangkahkan kakinya menuju tempat penyimpanan sapu lantai ataupun alat – alat kebersihan yang lain. Kim bum merasa dengan dia merubah situasi, itu akan membuat so eun  terlihat bersemangat lagi. Karena kim bum yakin so eun tidak akan baik – baik saja setelah mendengar pertanyaan yang sebelumnya kim bum ajukan beberapa saat yang lalu. Sebenarnya kim bum lebih takut lagi ketika pria itu harus mendengar jawaban dari so eun tentang pertanyaan yang diajukannya tadi. Karena menurut kim bum dua pertanyaan yang diajukannya tadi tidak akan menguntungkan untuk kim bum jika so eun menjawab salah satu atau bahkan keduanya, jadi sudah tentu lebih baik jika kim bum pun tidak mendengar jawabannya.

 

“kau benar – benar ingin membiarkanku melakukannya sendirian, tidakkah kau merasa kasihan padaku jika berpikir seperti itu..” goda kim bum sambil tersenyum manis pada so eun yang masih membatu di tempatnya semula sebelum kim bum meninggalkannya hingga pria itu sudah kembali lagi menghampirinya dengan dua buah sapu lantai yang ada di kedua genggaman tangannya.

 

Entahlah apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh so eun, kim bum juga tidak tau. Tapi sudah tentu pasti, apa yang dipikirkan oleh so eun saat ini menyangkut pertanyaan yang diajukan oleh kim bum tadi.

 

“so eun-ssi… so eun-ssi.” Kim bum berusaha memanggil so eun yang masih terdiam sambil menatap kim bum dengan pandangan yang sulit diartikan. Astaga kenapa wanita ini bisa terlihat mengagumkan seperti ini, bahkan ketika wanita itu hanya sedang berdiri dan menatap kim bum. Setidaknya itulah yang saat ini ada di pikiran kim bum, ketika melihat so eun yang masih membatu di tempatnya.

 

 

“tentu saja aku akan membantumu kim bum-ssi.” Jawab so eun sambil membalas senyuman kim bum, dan mengambil satu sapu lantai yang ada di salah satu genggaman tangan kim bum. Kim bum pun tersenyum memandang setiap gerakan tubuh so eun yang mulai menyapu lantai.

 

“yaa… kenpa sekarang kau tidak melakukan apapun. Cepat selesaikan semuanya agar kita bisa cepat istirahat.” Sentak so eun, dan berhasil membuat kim bum semakin merekahkan senyumannya di iringi dengan pergerakan tubuhnya yang mulai membantu so eun membersihkan dan merapikan rumah tersebut.

 

Keduanya pun semakin terhanyut dalam kesibukan yang diciptakan oleh kim bum dan dikerjakan oleh keduanya. Dari menyapu lantai, mengepel lantai sampai memindahkan lemari, guci – guci dan sofa – sofa. Tidak semua di pindahkan hanya mengganti tata letaknya agar terlihat lebih segar.

Seperti dua sofa panjang yang saling berhadapan saat ini, sofa yang sebelumnya jarang diduduki oleh si pemilik rumah itu akhirnya seperti kembali berfungsi kala kim bum dan so eun sedang memakainya untuk berbaring. Mungkin karena terlalu lelah, jadinya mereka berdua memutuskan untuk beristirahat sejenak di sofa panjang yang menurut keduanya cukup nyaman untuk digunakan berbaring atau sekedar merebahkan tubuh sejenak.

 

Mata ini  terasa sangat lelah hanya untuk sekedar terjaga, bukan hanya mata melainkan hati dan ragaku. Rasanya terlelap memang hal yang sangat indah ketika raga memang sudah teramat lelah, ditemani dengan cahaya senja yang menyilaukan hingga menembus pintu kaca, semilir angin yang masuk melalui jendela yang terbuka lebar ditambah lagi keindahan dan kesempurnaan wajahmu yang ada di hadapanku. Kuharap keindahan wajahmu akan selalu bisa aku nikmati, walau hanya dengan memandangmu seperti ini, tapi aku selalu berharap keajaiban akan segera datang menghampiri kita dan memberitaukan yang sebenarnya. Memaparkan setiap RAHASIA yang telah lama tersembunyi.

 

 

So eun segera merapikan tempat tidur yang selama beberapa tahun ini sudah menemani ki bum terlelap dalam tidur panjangnya. Hari ini suaminya itu sudah di ijinkan meninggalkan rumah sakit oleh dokter. Walaupun segurat kelelahan masih terpasang jelas di raut wajah cantiknya, tapi tetap saja melakukan semuanya sendiri tanpa mau ada yang membantunya termasuk perawat yang seharusnya melakukan kegiatan yang saat ini dikerjakan oleh so eun. Dan ketika semuanya dirasa sudah selesai, so eun pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sakit dan segera menuju ke mobil yang didalamnya sudah ada kim bum dan juga ki bum yang sepertinya sudah lama menunggu kedatangannya.

 

“kenapa kau lama sekali sayang… kau benar – benar membuatku lama menunggu.” Sapa ki bum ketika so eun sudah masuk kedalam mobil dan duduk disamping ki bum.

 

“bukankah sekarang aku sudah berada disini, aku sudah berada disampingmu sekarang.” Jawab so eun sambil tersenyum pada sang suami yang juga tengah tersenyum memandang ke arahnya.

 

Di balik kesenangan yang dirasakan ki bum sekarang yang sudah bisa meninggalkan rumah sakit dan akan menikmati indahnya kebersamaan dengan sang istri, tentu saja akan ada hati yang tersakiti dan sudah bisa kita tau siapa pemilik hati yang tersakiti itu jika bukan adik kandung ki bum sendiri. Tentu saja itu adalah kim bum. Dari balik sorot matanya yang sedari tadi tidak pernah lepas dari sebuah kaca yang ada didepannya itu benar – benar terlihat jelas sorot mata kesedihan, walaupun tidak terlihat jelas tapi sang pemilik mata benar – benar merasakan kesedihan yang benar – benar membuat hatinya terasa tersayat – sayat.

 

Bagaimana tidak akan sedih, jika sedari tadi fokus perhatian pria itu adalah dua  bayangan manusia yang terpantul dari kaca berukuran standar yang ada didepannya. Tentu saja dua bayangan tersebut adalah kakak laki – laki dan juga istrinya yang saat ini sedang duduk dengan santai sambil berpegangan tangan dengan erat di bangku belakang mobil yang tengah dikemudikannya. Jika saat ini kim bum tidak bisa mengendalikan pikirannya dan tidak benar – benar berkonsentrasi dengan menyetirnya sudah tentu kecelakaan akan menimpanya. Jangan salahkan kim bum jika semua itu tiba – tiba saja terjadi, salahkan saja hatinya yang terlalu setia menjaga perasaan terlarang yang dimilikinya ini untuk seorang wanita yang sudah jelas – jelas tidak akan pernah memilihnya.

 

“jika aku bisa membalik keadaan, rasanya aku ingin berganti posisi dengan ki bum hyung sekarang, seperti yang pernah kita lakukan sebelumnya. Setidaknya aku juga ingin merasakan betapa hangatnya sentuhan lembut tangan wanita yang aku cintai.” Batin kim bum dengan perasaan kelu ketika dia harus menghadapi kenyataan yang ada didepannya saat ini.

 

Selain kim bum, ternyata dilema pun dirasakan juga oleh so eun. Gadis itu tidak henti – hentinya menghembuskan nafas berat. Entah sadar atau tidak, sedari tadi so eun selalu mengacuhkan tatapan mata ki bum yang seperti mengawasinya.

Bukannya bermaksud mengacuhkan sang suami, so eun hanya merasa bersalah pada kim bum jika sekarang so eun membalas kemesraan yang diberikan oleh sang suami dengan sentuhan tangannya. Tanpa sengaja so eun mengetahui kegiatan kim bum yang sedari tadi mengawasi setiap pergerakan apapun yang akan dilakukan ki bum dan so eun termasuk ketika saat ini saat ki bum menggenggam erat tangan so eun seakan tidak ingin melepaskannya. So eun tau, kim bum tidak menyukai hal ini. Maka dari itu so eun memilih tidak merespon sang suami, setidaknya untuk sedikit menghargai keadaan kim bum saat ini.

 

“kuharap aku tidak melukai siapapun.. aku tida bisa mengartikan perasaanku akan kehadiranmu dalam hidupku. Dan terlebih aku tidak bisa menghapuskan kehadirannya dalam hidupku, karena kenyataannya dia lah yang saat ini berada disampingku dan bukannya dirimu.” Gumam so eun, sambil menatap deretan bangunan tinggi yang menjulang ke langit dari balik kaca pintu mobilnya.

 

Ki bum masih memperhatikan istrinya yang sedari tadi tidak mengeluarkan suara dan bahkan tidak menatapnya sama sekali. Sepertinya so eun sedang memikirkan sesuatu sehingga sedari tadi wanita itu tidak memperhatikan ki bum. Setidaknya beberapa pertanyaan berputar – putar di pikiran ki bum saat ini mengingat bukan hanya so eun saja yang mengalami keanehan. Ki bum pun segera memperhatikan kim bum yang sedari tadi bahkan tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada adik dan juga istrinya saat ini, kenapa kedua orang ini seakan – akan mengacuhkan ki bum. Tidakkah ki bum sangat berarti untuk sekedar diacuhkan, hei…pria ini baru sadar dari tidur panjangnya kenapa tidak ada yang memberikan penjelasan apapun padanya.

 

“kuharap tidak ada masalah besar sekarang, aku tidak ingin sesuatu terjadi. Adakah sesuatu yang benar – benar tidak aku ketahui saat aku terlelap dalam tidur panjangku? Aku harus segera mencari tau semuanya, aku tidak ingin terlihat seperti orang bodoh sekarang.” Gumam ki bum.

 

~~~

 

Ki bum melangkahkan kakinya menuju pekarangan rumahnya, dan sampailah pria itu di dalam rumahnya yang sudah beberapa tahun dia tinggalkan. Di bantu so eun dan kim bum yang memapah tubuhnya disisi kiri dan kanan akhirnya ki bum pun berhasil berdiri di dalam rumah ini sekarang.

Ki bum mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, semuanya berubah. Ada banyak perubahan yang terjadi pada rumahnya sekarang. Rumah yang pernah ditinggalinya dengan so eun sebelum dia koma. Rumah yang pernah ditinggalinya dengan kim bum dan juga kedua orang tuanya sebelum orang tua ki bum meninggal dan kim bum memilih pergi ke luar negri.

 

Ki bum berjalan menuju dua sofa yang terpasang saling berhadapan, kenapa rasanya aneh ketika melihat benda mati tersebut. Seperti ada sesuatu yang pernah terjadi dengan sofa itu.

 

“aku yang meletakkannya disana. Kau tidak menyukainya?” tanya kim bum, ketika menyadari ki bum menatap kedua sofa yang terletak saling berhadapan tersebut.

 

Ki bum segera mengalihkan pandangannya dan menatap tajam pada si pembuat suara, ada rasa kesal ketika ki bum melemparkan pandangannya pada si obyek pembuat suara. Ada rasa tidak senang ketika ki bum mengetahui bahwa perubahan ini dilakukan oleh kim bum sang adik kandungnya.

 

“aku ingin istirahat… kurasa kau tidak perlu melakukan ini semua, seharunya kau tau bahwa aku tidak pernah menyukai perubahan.” Ki bum segera berjalan meninggalkan kim bum dan so eun yang masih mematung ditempatnya. Nada dingin yang terlontar dari mulut ki bum seperti sebuah pertanda bahwa kehadiran kim bum sekarang sudah benar – benar terancam. Kim bum melupakan sesuatu, bukankah memang sedari dulu ki bum tidak menyukai perubahan. Kim bum ingat akan kata kakaknya kala sebuah perubahan itu akan membuat kenangan indah terkubur selamanya. Apa mungkin kim bum malah sengaja melakukan perubahan ini agar ki bum tidak bisa mengingat kenangan indahnya dengan so eun.

 

So eun mengalihkan pandanganya yang sedari tadi tertuju pada ki bum, menjadi mengarah pada kim bum yang ada disampingnya. So eun sedikit khawatir dengan perasaan kim bum saat ini, pasti rasanya sakit sekali ketika kita mencoba memberi hadiah pada orang terdekat kita dan orang itu malah menolaknya secara mentah – mentah.

 

“aku tidak apa – apa, tidak perlu mencemaskanku. Kenapa kau tidak segera menyusul ki bum hyung, mungkin sekarang dia sedang menunggumu.” Kim bum segera meninggalkan so eun yang terlihat memandanginya dari belakang. Kim bum tau pasti saat ini so eun mengkhawatirkannya, bukanya bermaksud untuk terlalu percaya diri tapi kim bum memang bisa merasakan kekhawatiran wanita itu dari sorot matanya yang memandang kim bum.

 

Mau berbohong seperti apapun kim bum sudah pasti terluka dengan sikap yang ditunjukkan sang kakak barusan, tentu saja kakaknya tidak akan suka dengan ide kim bum yang merubah dekorasi rumah. Kenapa kim bum tidak mengingatnya dari awal bahwa sang kakak memang tidak pernah suka dengan perubahan sejak dari dulu. Betapa bodohnya kim bum ini.

 

Kim bum memasuki kamarnya, rasa hatinya benar – benar sakit selain sakit karena perilaku sang kakak tentu saja rasa sakit ini semakin bertambah ketika kim bum memikirkan apa yang saat ini tengah dilakukan oleh sang kakak dan juga istrinya didalam kamarnya. Gambaran – gambarang hal – hal yang pernah dilakukannya pada so eun seperti kembali menyeruak ke dalam ingatanya. Tentu saja kim bum tidak akan pernah melupakan setiap sentuhannya pada tubuh so eun.

 

“bagaimana bisa aku melupakannya, jika dengan mengingat betapa indah dan cantiknya bayangannya selalu membuatku buta akan keadaan disekitar” gumam kim bum. Pria itu meneteskan air mata, rasanya sakit sekali ketika membayangkan orang yang dicintainya akan bercinta dengan orang lain selain dirinya walaupun itu adalah kakak kandung kim bum sendiri yang ternyata adalah suami sah so eun. Rasanya kim bum benar – benar bisa gila saat ini juga.

 

~~~

 

Malam sudah larut sebuah lampu temaram menghiasi sebuah kamar yang lumayan besar. Kamar yang beberapa tahun ini hanya dihuni oleh satu orang kini nampak ada dua kehidupan yang menempati kamar tersebut. Tempat tidur yang biasanya terasa sangat luas untuk so eun mendadak menjadi sempit menurut so eun.

 

Malam sudah hampir larut tidak membuat mata so eun begitu mudahnya terpejam padahal tubuhnya sudah berbaring di tempat tidurnya yang bisa dibilang sangat nyaman. Jika biasanya so eun tidak bisa tidur karena tidak ada sosok ki bum disampingnya kali ini rasanya so eun tidak akan bisa tidur karena ada sang suami disampingnya. Terdengar aneh memang ketika dibayangkan, tapi itulah kenyataannya sekarang. Tentu saja sulit untuk dipercaya.

 

Entah kenapa hal ini bisa terjadi, sejak kedatangan ki bum kembali ke rumah itu membuat so eun merasakan ketidaknyamanan. Padahal kesembuhan ki bum adalah hal yang sangat dinantinya, sebelum munculnya kim bum dalam kehidupannya. Akan tetapi kenapa sekarang so eun tidak lagi merindukan dekapan hangat dari suaminya seperti yang sebelumnya dia inginkan.

 

Bahkan sekarang posisi tidur so eun membelakangi sang suami seperti tidak ingin melihat wajah sang suami. Dan saat ini ketika so eun bisa merasakan sentuhan lembut dari tangan besar milik ki bum so eun seperti ingin menghindarinya. “kumohon jangan sekarang.” Batin so eun, sambil memejamkan kedua matanya dengan sangat rapat. Seperti menahan setiap penolakan yang mungkin bisa secara tiba – tiba dilakukannya.

 

Ki bum semakin merapatkan tubuh besarnya pada tubuh ramping milik so eun, pria itu masih setia membelai lengan mulus milik so eun yang telanjang karena sang pemilik hanya mengenakan gaun tidur tanpa lengan. Ki bum bisa merasakan betapa wangi dan segarnya aroma tubuh so eun yang benar – benar sangat dirindukannya. Ki bum menghembuskan nafasnya pada perpotongan leher so eun, dan tangan pria itu semakin merambat ke area – area sensitif so eun. Ki bum mencium daun telinga so eun sedikit menjilatnya sekedar ingin mencoba merangsang so eun, dan ingin mengetahui bagaimana respon sang istri. Tapi masih tidak ada respon positif dari sang istri sehingga membuat ki bum sedikit merasa kesal.

 

Hingga telapak tengan ki bum segera menyusup kedalam selimut yang digunakan so eun sekarang, dan mencoba meraba dua bukit kembar yang menempel didada sang istri. Ukuran yang lumayan besar dan kenyal membuat ki bum semakin tidak sabar untuk meremasnya. Namun harapan ki bum itu mejadi sia – sia kala sang istri segera bangun dari tidurnya dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya. “ak-aku… a-aku ti-tidur di-dikamar lain saja.” ucap so eun sambil terbata – bata, dan segera beranjak dari tempat tidurnya yang meninggalkan ki bum dengan wajah bingung. Ada apa dengan so eun, kenapa wanita itu menolak sentuhan ki bum. Apa so eun tidak merindukan sentuhan ki bum, yang selama ini tidak pernah sekalipun wanita itu dapat dari ki bum maupun pria lain.. atau mungkinkah so eun pernah melakukan hal itu dengan pria lain – pikir ki bum.

 

~~~

 

So eun menyandarkan kepalanya di senderan tempat tidur yang berbeda kamar dengan kamar ki bum, sebelumnya kamar ini memang tidak pernah di tempati. Dan hari ini so eun memakai kamar itu untuk menghindari ki bum. Bagaimana bisa so eun menghindari suaminya dan menolak setiap sentuhan yang di berikan oleh sang suami, bukankah ini aneh. Tidak seharusnya so eun menolak sentuhan ki bum.

 

“maafkan aku..hiks.. maafkan aku.. hiks…hiks…” suara sesegukan yang diciptakan so eun saat ini benar – benar membuat hatinya sendiri terluka. Berkali – kali so eun membungkam mulutnya agar suara tangisnya tidak pecah dan tidak mengundang siapapun untuk menghampirinya.

 

Kebimbangan melanda hati so eun saat ini, wanita itu benar – benar tidak bisa mengontrol emosinya. Sebenarnya apa yang di inginkan oleh hatinya sendiri, so eun pun tidak tau. Kesembuhan ki bum yang selama ini di tunggu – tunggunya ternyata tidak membawa keceriaan seperti yang wanita itu idam – idamkan selama ini. Kim bum, pria itu yang menyebabkan so eun seperti ini sekarang. Jika saat itu kim bum tidak kembali kesini dan mengganggu kehidupan so eun dan ki bum sudah pasti semuanya tidak akan serumit ini.

 

Astaga… bagaimana bisa so eun menyalahkan kim bum sekarang. “tidak… ini semua salahku.. salahku.” Gumam so eun sambil memukul – mukul kepalanya. Yaa.. memang tidak seharusnya so eun menyalahkan kim bum atau ki bum sekalipun. Karena semua kesalahan ini semua ada pada diri so eun sendiri, jika saja so eun bisa menjaga dan mengendalikan dirinya dengan kehadiran kim bum tentu semuanya tidak akan serumit ini.

 

 

Hari ini kim bum diminta menemani sang kakak untuk pergi jalan – jalan, entah kenapa rasanya enggan sekali bagi kim bum untuk mengikuti perintah sang kakak. Tapi mau bagaimanapun juga tetap saja kim bum tidak pernah bisa menolak perintah sang kakak, kim bum terlalu menghormati ki bum. Jadi setiap perintah sang kakak tentu saja akan dia lakukan. Misalnya seperti saat ini, pria itu tengah menunggu sang kakak yang sedang berada di salon, untuk merapikan rambutnya. Kim bum memang tidak berniat menemani ki bum masuk ke dalam, jadi pria itu hanya bisa menunggu kakaknya didalam mobil saja sambil mendengarkan musik yang sejak tadi menemaninya dalam kebosanan

 

“bagaimana penampilan baruku? Apa ini cocok dengan gayaku?” tanya ki bum yang kini sudah masuk kedalam mobil.

 

Kim bum memperhatikan penampilan baru kakaknya dan ada sedikit rasa heran yang terselip di balik senyum manisnya. Ada yang aneh, pikir kim bum. Kim bum masih setia menatap penampilan baru sang kakak. Ingin rasanya kim bum bertanya pada ki bum kenapa pria ini mengikuti model rambut dan juga style kim bum. Bukankah selama ini ki bum tidak ingin jika mereka menggunakan style yang sama, baik itu dari segi penampilan rambut maupun pakaian. Tapi kenapa sekarang kakaknya, mengikuti gayanya?

 

“gaya yang seperti ini, yang sedang populer sekarang kan kim bum-ah?” tanya ki bum sambil memasangkan sabuk pengaman pada tubuhnya.

 

“sudah terlalu lama aku tertidur sampai tidak mempedulikan penampilanku lagi, kupikir dengan gaya seperti ini so eun akan semakin mencintaiku.” Ki bum seperti meyakinkan dirinya dalam setiap perkataan yang baru saja dilontarkan. Dan tentu saja pernyataan ki bum tersebut mampu membuat kim bum sedikit merespon perkataan ki bum.

 

“tanpa merubah penampilanmu, so eun-ssi akan tetap mencintaimu hyung.. jadi kau tidak perlu repot – repot untuk merubah penampilanmu, sehingga itu akan membuatmu menjadi seperti orang lain.” Dengan tatapan mata masih lurus kedepan, bisa ditebak bahwa saat ini pasti hati kim bum sangat sakit sekali dengan setiap pernyataan sang kakak. Haruskah kim bum melanjutkan keinginannya untuk mempertahankan cintanya, atau kim bum memang harus mengalah lagi demi kebahagiaan sang kakak. Tidakkah itu menyakitkan untuk kim bum.

 

“seharusnya aku memang tidak perlu repot – repot merubah penampilanku. Tapi kurasa ada sesuatu yang membuatku terpaksa melakukannya, ada sesuatu yang ingin kubuktikan. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh kim so eun dan aku ingin mengetahuinya.” Jelas ki bum sambil melemparkan senyum penuh artinya pada sang adik yang masih konsentrasi pada kemudinya.

Walau tidak merespon dengan suara, ki bum tetap yakin bahwa sang adik selalu merespon setiap detail kata demi kata yang baru saja ki bum lontarkan. Terbukti dari raut muka kim bum yang bisa di lihat oleh ki bum saat ini. Kim bum terlihat begitu khawatir, walau tidak terlalu terlihat tapi ki bum tetap saja menyadarinya. Tidak ingatkah bahwa mereka itu kembar, jadi setiap perubahan pada yang lain. Tentu saja akan terlihat oleh yang satunya.

 

“hari ini aku ingin menunjukkan suatu tempat untukmu, kuharap kau menyukainya.”

 

Kali ini kim bum memalingkan wajahnya pada sang kakak, sesaat kemudian kim bum fokus pada kemudi mobilnya. “kita mau kemana?” rasa penasaran merasuki hati kim bum saat ini. Ada perasaan khawatir menyelinap kedalam hatinya. Rasanya setiap pernyataan yang ki bum lontarkan mampu membuat kim bum ingin segera menutup mata dan telinganya. Tidak ingin mendengar setiap pernyataan yang keluar dari mulut sang kakak, ataupun melihat senyum ki bum sekalian. Kim bum terlalu takut melakukan itu semua.

 

“sebentar lagi kau juga akan tau.” Jawab ki bum santai, sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobil yang terasa nyaman untuk pria itu.

 

~~~

 

Tidak butuh waktu lama untuk kim bum dan ki bum sampai ketempat tujuan mereka. dan saat ini kedua pria tampan yang terlihat serupa itu sedang berdiri disebuah pintu bercat putih. Ki bum sedikit kesusahan ketika pria itu harus sedikit berjongkok ketika dirinya hendak membuka pintu tersebut.

 

“aku menggunakan tanggal lahir kita, kuharap kau menyukainya.” Kata ki bum pada kim bum yang masih setia berdiri ditempatnya. Kim bum masih bingung dengan apa yang dilakukan oleh ki bum saat ini, untuk apa kakaknya itu membawanya kesini – pikir kim bum.

 

“yaa.. kau tidak ingin masuk dan melihat – lihat keadaan didalam?” tanya ki bum, sambil melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang terlihat seperti apartement itu. Kim bum pun segera mengikuti langkah kaki sang kakak dari belakang, tidak berniat bertanya apapun cukup dengan menunggu penjelasan dari sang kakak saja.

 

Ki bum mengedarkan pandangannya ke sekitar, begitu juga kim bum rasanya tempat ini sudah lama tidak dihuni dilihat dari barang – barangnya yang tertutup oleh kain putih, memang sudah lama sekali apartemant ini tidak di kunjungi oleh sang pemilik.

 

“ini adalah apartemant so eun.. keadaannya masih sangat baik dari terakhir kali aku melihatnya. Sepertinya istriku benar – benar tidak pernah mengunjunginya lagi. Mungkin dia terlalu sibuk mengurusiku dirumah sakit, sehingga apartemant ini sedikit terabaikan.” Tutur ki bum sambil menghentikan aktifitasnya untuk membuka setiap kain yang menutupi semua perabotan yang ada diapartemant itu.

 

Kim bum masih setia menyimak setiap penjelasan dari sang kakak, masih belum tertarik dengan topik pembicaraan yang diberikan sang kakak. Yaa.. mungkin saat ini ki bum ingin mengenang kembali masa lalunya dengan so eun, atau mungkin pria itu ingin pamer pada kim bum tentang kesetiaan sang istri. Ahh.. kim bum tidak ingin memikirkan hal seperti itu sekarang.

 

“yaa.. kim bum-ah. Tidakkah kau ingat pada wanita itu?” tanya ki bum tiba – tiba, ada rasa penasarang dihati kim bum. Wanita? Wanita yang mana, yang saat ini dimaksud oleh ki bum. Seingat kim bum selama ini baik dirinya ataupun sang kakak tidak pernah ada yang dekat dengan wanita lain selain so eun. Apa mungkin maksud ki bum sekarang adalah so eun?

 

Melihat ekspresi bingung kim bum saat ini, ki bum pun sedikit melebarkan senyumannya. “sepertinya kau benar – benar tidak mengingatnya. Wanita yang kau tolong ketika di gunung itu, bukankah kau pernah menceritakannya padaku.” Jelas ki bum sambil merangkul bahu kim bum.

 

Deggg… jantung kim bum seperti tertusuk – tusuk oleh ribuan jarum. Wanita yang ditolong kim bum, apa – apaan maksud ki bum saat ini. Wanita yang diceritakan kim bum pada sang kakak itu adalah wanita yang tidak seharusnya disinggung oleh ki bum saat ini. Apa yang sebenarnya dikatakan oleh ki bum sekarang. Apa ki bum sudah mengetahui bahwa wanita itu adalah istri ki bum – so eun.

 

“ada apa dengan wajahmu, kenapa kau terlihat panik seperti itu… yaa, tenang saja. aku tidak akan pernah mengambil wanita yang kau sukai itu.”

 

Apa lagi ini, bahkan kim bum benar – benar dibuat membisu akan semua kalimat yang keluar dari mulut sang kakak. Apa maksudnya dengan tidak merebut sedangkan saat ini wanita itu sudah menjadi istri sah dari ki bum. Ki bum ini gila atau apa – pikir kim bum.

 

“namanya Im yoona, wanita itu menjadi sekertaris dikantorku. Wanita itu bilang dia menyukaiku karena terkesan dengan kebaikanku yang menolongnya ketika dia tergelincir di gunung. Dia juga terkesan ketika aku membantu mengikatkan tali sepatunya.” Jelas ki bum memulai ceritanya dengan semangat.

 

Ada sedikit kerutan di dahi kim bum kala saat ini dirinya tengah menerka – nerka apa yang dimaksud dari kalimat sang kakak. Tergelincir di gunung, mengikat tali sepatu. Ki bum ke gunung menolong wanita. Sebenarnya siapa yang ditolong ki bum – im yoona, siapa lagi wanita itu. Kenapa ki bum begitu antusias sekali menceritakan ini semua pada kim bum. Apa sebegitu pentingnya bagi ki bum menceritakan ini semua pada kim bum.

 

“ahhh… aku melupakan sesuatu. Seharusnya aku meralatnya, bukankah yang menolong wanita itu kau kim bum dan bukan aku. Kau benar – benar tidak ingat? seharusnya memang dari ceritamu kisah ini terdengar berbeda. Tapi dari penuturan yang diberikan oleh wanita itu padaku memang begitulah yang aku dengar, hingga wanita itu menyatakan perasaannya padaku. Sepertinya wanita itu benar – benar terpikat padamu sejak pertama kali melihatmu.”

 

Astaga… kim bum semakin tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh ki bum sekarang. “yaa.. berhentilah berbicara yang bukan – bukan.” Kesal kim bum

 

“dari cerita yang pernah kau beritaukan padaku, bukankah kau menolong cinta pertamamu ketika wanita itu pingsan di jembatan yang ada digunung. Dan bukankah wanita itu tidak sempat melihat wajahmu. Lalu bagaimana bisa dia mengenalmu dan mendatangiku?” heran ki bum, sambil menatap tajam kim bum mencoba mencari kepastian akan cerita kim bum yang pernah diceritakan kim bum pada ki bum dulu, mengenai cinta pertama kim bum.

 

Kini, kim bum menyadari satu hal. Kim bum ingat siapa wanita yang diceritakan oleh ki bum saat ini. Yaa, im yoona adalah wanita yang ditanyakan oleh so eun tempo hari di rumah sakit. Wanita yang dicurigai so eun sebagai mantan kekasih suaminya. Pantas saja saat itu kim bum merasa tidak asing dengan wanita tersebut, jadi wanita itu adalah wanita yang ditolong kim bum ketika kim bum menggantikan ki bum yang harus pergi ke gunung.

 

Jadi wanita yang dimaksud ki bum sedari tadi adalah wanita yang ditolong kim bum ketika wanita itu tergelincir di gunung beberapa tahun lalu, ketika kim bum harus menggantikan ki bum untuk mendaki ke gunung bersama rombongan teman – teman kampusnya. Rasa takut yang menjalar di hati kim bum sedari tadi luntur seketika. Kim bum benar – benar takut jika sang kakak tau bahwa wanita yang diceritakan oleh kim bum dulu adalah so eun dan bukannya si wanita yang menyatakan perasaannya pada sang kakak. Memang kejadiannya terjadi dihari dan tempat yang sama, tapi wanita yang dimaksud ki bum sekarang berbeda dengan ceritakan kim bum pada ki bum.

 

“aku bahkan sudah melupakan hal itu.” Jawab kim bum, dengan malas. Dari kalimat tersebut juga terdengar ada nada kelegaan yang menyelimuti kim bum saat ini.

 

“seharusnya kita tidak melakukan permainan itu dulu… bukankah permainan itu adalah permainan kita semasa kita masih kecil. Seharusnya aku tidak menyuruhmu menggantikan posisiku kala itu. Dengan begitu kau pun tidak akan pernah melupakan cinta pertamamu.” Ada rasa penyesalan di hati ki bum kala mengatakan kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya tersebut.

 

“kau melepaskan tali sepatumu.” Ucap kim bum, sambil berjongkok dan membenarkan tali sepatu sang kakak. Rasa sedih kembali melanda hatinya kala mendengar kalimat yang diberikan sang kakak. Kim bum tidak pernah menyesal telah menggantikan sang kakak dulu, karena dengan seperti itu kim bum bisa bertemu dengan cinta pertamanya. Tapi ada sesuatu yang benar – benar membuat kim bum kesal, kenapa kim bum begitu bodohnya tidak mengakui perasaanya pada wanita itu dulu. Dan tetap membiarkan sang wanita yang dicintainya menjadi milik sang kakak.

 

Dengan kejadian seperti yang dialami im yoona, bukankah berarti bisa saja so eun juga melakukan kesalahan dalam mengenali orang yang menolongnya. Bukankah seharusnya kenyataan ini kim bum juga sudah mengetahuinya. Lalu kenapa waktu itu kim bum diam saja, dan tidak memberitaukannya pada so eun siapa dirinya dan bagaimana kondisinya.

 

“berhenti membahasnya hyung-ah.. bukankah kejadian itu lama sekali. Sebaiknya kita pulang saja, bukankah kau harus banyak istirahat agar kondisimu kembali pulih.”  Bentak kim bum sambil berdiri dari posisinya karena mulai kesal dengan arah pembicaraan sang kakak. Selain itu kim bum juga sudah tidak kuasa jika harus mengenang kenangannya dengan so eun. Itu terlalu menyakitkan untuk kim bum.

 

“aku tidak ingin kau kembali kerumah itu…” tegas ki bum, sambil menatap tajam kim bum

 

“apa maksudmu?” heran kim bum

 

“aku tidak ingin kehadiranmu dirumah itu menggangguku dengan so eun. Maafkan aku adikku, kuharap kau bisa memahami keadaanku sekarang. Untuk saat ini aku benar – benar hanya ingin berdua saja dengan istriku. Dengan kehadiranmu di rumah itu kau akan membuat so eun tidak merasa nyaman.” Jelas ki bum dengan ketegasan.

 

Bagaikan dihantam ribuan batu, kim bum pun rasanya tak kuasa lagi untuk berpijak di bumi. Jadi  niat sang kakak membawanya ketempat ini untuk mengusirnya. Untuk memisahkan diri dengannya. Terlebih ingin membuat kim bum tidak lagi berada disekitar sang kakak atau so eun. Hanya karena alasan ketidaknyamanan ki bum tega mengusir sang adik dan menyuruh kim bum tinggal di apartemant milik so eun. Benar – benar menyedihkan sekali kim bum ini.

 

“kuharap kau bisa mengerti.” Putus ki bum, dan pria itu dengan segera melangkahkan kakinya meninggalkan apertemant tersebut dan juga kim bum yang masih diam membeku.

 

“kau benar – benar melakukan semuanya semaumu… bukankah rumah itu juga rumahku, bagaimana bisa kau mengusirku?” nada dingin keluar dari mulut kim bum, kala sebentar lagi pijakan kaki ki bum akan sampai di ambang pintu apartemant ini.

 

Ki bum membalikkan badannya, tersungging sebuah senyuman tipis yang tidak bisa diartikan apa maksudnya. “aku tidak akan lagi mempercayaimu…” kata ki bum, sambil melangkahkan kakinya mantap keluar apartemant. Tidak mempedulikan bagaimana keadaan sang adik yang ditinggalkannya. Hanya dengan cara seperti ini ki bum bisa bahagia, rasa egois kembali menguasai hatinya. Walaupun ini menyakitkan bagi hatinya karena sudah dengan teganya menyakiti hati sang adik tapi tetap saja, ki bum tidak akan membiarkan siapapun mengambil sesuatu yang berharga darinya. Walaupun itu adalah kandungnya sendiri.

 

~~~

 

Sepeninggalnya ki bum, tubuh kim bum pun seakan – akan tidak bertulang hingga pria dengan tubuh tinggi tegap itu seketika ambruk terduduk kelantai. Perasaan takut dan khawatir menggelayuti hati dan pikirannya. Apa sebenarnya rencana yang ingin dilakukan sang kakak. Lalu apa benar jika ki bum mengetahui apa yang selama ini disembunyikan oleh kim bum.

 

“aarrrrgggghhhhh…….” sekuat tenaga kim bum berteriak. Rasanya, dadanya sudah hampir ingin meledak hanya karena memikirkan semua ini. Kenapa terasa rumit sekali untuk kim bum menggapai cintanya. Apa dengan seperti ini, harapan untuk kim bum menggapai so eun sudah benar – benar tidak ada lagi.

 

“tidak bisakah aku mendapatkan kebahagiaanku…. hanya satu yang aku inginkan, tidak bisakah kau mengabulkannya tuhan….” teriak kim bum lagi, suaranya terdengar parau di selingi isak tangisnya. Kim bum menangis… kembali.

 

Kim bum hanya ingin mempertahankan cintanya.. rahasia cintanya yang selama ini terpendam. Walaupun cinta tulus yang dimilikinya ini adalah cinta terlarang. Tapi kim bum benar – benar ingin mempertahankannya sampai pria itu tidak sanggup lagi, untuk mempertahankannya lagi.

Kim bum juga ingin merasakan indahnya memiliki rasa cinta, bukankah selama ini kim bum tidak pernah merasakannya. Baik itu dari kedua orang tuanya dulu maupun wanita yang dicintainya sekarang. Dan semua itu terjadi karena adanya saudara kembar kim bum yang selalu menyita perhatian orang – orang hanya untuk dirinya sendiri, dan membuat kim bum terabaikan.

 

“kau brengsek ki bum… kau brengsseekkkkk…” teriak kim bum, rasanya hatinya benar – benar ingin membenci ki bum untuk saat ini. Bagaimanapun juga, penderitaan kim bum ini tidak akan pernah terjadi  jika ki bum dan kim bum tidak kembar. Kim bum akan mendapatkan kasih sayang semua orang jika ki bum tidak menjadi saudara kembar kim bum. Tapi bagaimanapun usahanya, kim bum memang akan selalu kalah dari ki bum. Itu sudah menjadi hukum alam sejak mereka masih kecil, tentu saja semuanya masih berlaku sampai sekarang. Buktinya hari ini, kim bum di usir dari rumah orang tuanya dan kim bum tidak bisa melawannya.

 

Mungkin ini semua akan menjadi takdir hidup kim bum, selalu menjadi yang nomor dua. Menjadi yang terabaikan dan tidak terlihat, tidak pernah ada sedikitpun kebahagiaan yang bisa menghampirinya. Tidak pernah… mungkin tidak akan pernah terjadi walau hanya dalam mimpipun mungkin kim bum tidak akan merasakannya.

 

~~~TBC~~~

 

Untuk para reader yang masih setia menunggu kelanjutanya cerita fanfic ini aku ucapkan terimakasih. Kuharap para reader tidak akan pernah bosan dengan semua tulisanku walaupun aku selalu terlambat untuk memposting setiap kelanjutan cerita dari semua fanfic yang ada disini. Biasa kesibukan yang memaksaku mengabaikan semua fanfic ini. Sebenarnya tidak bermaksud untuk mengabaikan, hanya saja tidak ada waktu untuk mempostingnya.

 

Sekali lagi aku jelaskan pada semua reader yang sudah setia membaca fanfic ini. Fanfic ini memang aku buat karena terinspirasi dari film korea yang judul dan juga sebagian isi ceritanya sama dengan fanfic ini. Tapi akan ada perubahan di pertengahan dan ending cerita. Bukannya ingin menjiplak hanya saja aku memang menyukai cerita dari film tersebut. Jadi buat yang tidak suka dengan fanficku ini lebih baik jangan membacanya karena mungkin itu akan lebih baik dari pada harus memberikan komentar – komentar yang tidak menyenangkan, mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dengan kalimat – kalimat saya. Tidak bermaksud menyinggung hanya ingin mengeluarkan keluhan saja.

 

Dan untuk reader yang minta password untuk fanfic yang diprotect, kalian bisa minta langsung saja melalui akun facebook atau twitter dan e-mailku bukankah di WP ini sudah dicantuman dengan jelas. Dan setiap judul fanfic yang diprotect pasti aku sertakan nama akun FB aku. Saya selalu mengusahakan memberikan password itu pada semua reader. Baik itu GOOD reader ataupun BAD reader. Sekian untuk curahan hatiku mohon jangan tersinggung dengan setiap kalimat yang aku tulis, karena aku hanya ingin dihargai saja dari setiap tulisan yang aku posting disini. TERIMAKASIH.

Hate Or Love (Part 3)

Posted: 16 Februari 2014 in FF BUMSSO
Tag:

cats

Part 3

Derap langkah seorang pria muda yang terlihat tergesa – gesa memasuki sebuah gedung yang sangat besar. Kaca mata hitam yang bertengger di matanya benar – benar menambah kharismanya apalagi dengan setelan celana hitam dan kemeja putih yang menempel pada tubuhnya. Ditambah lagi dengan jas yang di pegangnya di tangan.

Pria ini benar – benar mampu membius semua mata yang saat ini melihatnya, bagaimana bisa tidak terpana jika kita melihat seorang pria tampan sedang berjalan di hadapan kita dan orang itu adalah anak dari seorang pemilik beberapa perusahaan besar di Seoul ini.

Yah… kim bum benar – benar mampu menghipnotis semua karyawannya yang ada di dalam gedung itu. Sejak pria itu masih berada di arena luar gedung ini sampai sekarang masuk kedalamnya. Semua karyawan menyapanya, hingga bibirnya benar  – benar kering gara – gara terus tersenyum.

“kemana saja kau? Kenapa baru sekarang datang ke kantor?”

Kim bum mengurungkan niatnya untuk membuka pintu ruangan kerjanya, ditatapnya seseorang yang dengan beraninya menyapa seorang kim bum dengan tidak sopan seperti saat ini. mau cari mati dia. Tapi tentu saja kim bum tidak akan berani melakukan apapun pada orang itu. Walau kim bum sedikit kesal dengan ketidak sopanan yang ditunjukkan oleh sekertarisnya ini.

“hotel ini tidak akan jatuh bangkrut gara – gara aku tidak ada kan! apa kau lupa masih ada orang yang jauh lebih baik selain aku.” Jawab kim bum sambil mengedipkan sebelah matanya pada orang yang tadi menghentikan apa yang akan dilakukannya.

“yah.. kau benar. Dan orang itu sudah datang, tapi tunggu dulu bukankah itu….” kalimat menggantung yang dilontarkan oleh orang yang sedang berbicara dengan kim bum tadi juga membuat kim bum heran. Apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang orang itu lihat. Yang saat ini datang kim woo bin kan, kakak kim bum. lalu kenapa sekertarisnya ini terkejut.

Kim bum membalikkan tubuhnya, dan pria itu kini tau apa yang membuat sekertarisnya ini sampai seterkejut itu. Ternyata perempuan itu yang datang. Tunggu dulu untuk apa dia datang kesini, untuk menunjukkan pada semua orang bahwa perempuan itu adalah bagian dari keluarga kim… tidak mungkin, sampai sejauh itu kah keberaniannya sekarang – pikir kim bum.

“sekertaris park, bisa kau ikut ke ruanganku. Ada sesuatu yang ingin aku beritahukan padamu.”

Woo bin sudah siap di dalam mobilnya, pria itu sedang menunggu so eun untuk berangkat ke hotel bersama. Yaa… hari ini woo bin akan membawa so eun ke kantor. Ada sedikit kebimbangan di hati woo bin saat ini kala dirinya memandang ponsel yang tengah di genggamannya. Terlihat jelas oleh matanya daftar kontak siapa yang saat ini tengah dipandanginya. Tentu saja itu kontak kim bum, woo bin tidak yakin akan memberitahu kim bum akan hal ini. dan sebelum woo bin sempat menekan tombol panggil, sudah terlebih dulu so eun mengetuk kaca mobilnya.

“masuklah.” Perintah woo bin, dan so eun pun langsung menurutinya. Gadis itu langsung duduk di kursi sebelah woo bin.

“kita berangkat sekarang.” Ucap woo bin lagi, dan langsung di balas anggukan oleh so eun. woo bin memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. Sepertinya memang lebih baik woo bin tidak memberitahukannya pada kim bum. sampai adiknya itu tau sendiri, dari mulut ayahnya atau mata kim bum sendiri yang akan melihatnya.

Lagi pula sudah beberapa hari ini juga kim bum tidak datang ke kantor, mungkin saja adiknya itu tidak akan datang lagi hari ini.

Woo bin menoleh kesamping, melihat adik tirinya yang terlihat tengah gugup. Pasti so eun benar – benar takut. Bukan takut karena suasana  dikantor nanti, tapi pasti pikirannya tertuju pada kim bum. woo bin yakin itu. Dan kembali fokus pada jalanan.

“kurasa hari ini dia tidak datang.”

So eun menolehkan kepalanya, melihat woo bin yang masih berkonsentrasi dengan menyetirnya. Apa benar yang barusan dikatakan woo bin, bahwa kim bum tidak akan datang. Akan jauh lebih mudah jika itu memang benar.

So eun menghela nafasnya dalam, melihat keluar. Jalanan yang sangat ramai. Rasanya so eun benar – benar ingin lompat dari dalam mobil ini dan lari sejauh – jauhnya, entah kemana saja yang penting pergi dari kehidupan yang saat ini dijalaninya. So eun benar – benar tertekan dengan keadaan seperti ini. so eun ingin bebas seperti dulu, ingin melanjutkan kuliahnya seperti semestinya. Hanya ingin belajar saja, tidak ingin bergabung dengan perusahaan yang memang tidak sepantasnya so eun bergabung di dalamnya.

“jangan berpikir macam – macam. aku dan kim bum juga pernah berada dalam posisi seperti dirimu.”

So eun tidak menghiraukan kalimat yang keluar dari mulut woo bin barusan, entah dari mana kekuatan yang woo bin dapat hingga pria itu seakan – akan mengetahui semua pikiran so eun saat ini. tapi pantas saja, kim bum dan woo bin menjadi pria berhati dingin seperti sekarang. Tentu saja semua itu karena tekanan dari ayahnya. lebih menyedihkan memang di banding dengan nasip so eun.

~~~

“sudah sampai..” ucap woo bin, kala pria itu sudah memberhentikan mobilnya di depan sebuah hotel yang sangat besar. Woo bin membuka mobilnya begitu juga dengan so eun. seorang petugas hotel langsung membungkuk hormat pada woo bin, dan pria itu langsung mengambil kunci mobil  woo bin yang sebelumnya sudah di sodorkan oleh kakak tirinya itu. Pria itu langsung membawa pergi mobil woo bin, mungkin untuk diparkirkan di tempat semestinya dan, Sepertinya pria itu memang sudah biasa melakukan hal itu.

“ayo kita masuk.” Ajak woo bin, dan berjalan mendahului so eun untuk memasuki gedung hotel tersebut.

So eun hanya bisa mengekori langkah woo bin dari belakang, tidak mau berjalan sejajar dengan woo bin karena so eun takut jika orang beranggapan yang tidak – tidak tentang so eun. bukankah semua pegawai di tempat ini belum tau siapa so eun sebenarnya.

Semua orang membungkuk hormat pada woo bin, pasti semua karyawan takut pada woo bin pikir so eun. memang sudah wajar jika para karyawan bersikap hormat pada atasannya. So eun semakin kagum dengan kebesaran perusahaan ayah tirinya ini. kantor cabangnya saja sebesar ini apalagi kantor pusatnya.

So eun benar – benar canggung, takut juga sebenarnya. Takut jika tiba – tiba ada kim bum. so eun masih belum siap jika harus bertemu dengan pria itu, setidaknya tunggu sampai jae wook sendiri yang mengatakannya. Tapi doa dan harapan  so eun ternyata tidak di kabulkan oleh tuhan, pria yang sedang sangat dihindarinya itu tengah berdiri didepannya, walaupun memunggunginya tapi so eun tau jika pria itu adalah kim bum – tidak salah lagi.

Kini woo bin dan so eun pun sudah berhadapan dengan kim bum dan juga sekertaris Park. Woo bin sempat melihat ke arah adiknya, yang terlihat sedikit terkejut dengan kehadirannya yang membawa serta so eun bersamanya. Tapi woo bin tidak ingin ambil pusing dengan hal itu. Jika kim bum penasaran, nanti juga adiknya itu akan bertanya padanya, jadi woo bin tidak akan mengatakan apapun sekarang.

“sekertaris park, bisa kau ikut ke ruanganku. Ada sesuatu yang ingin aku beritahukan padamu.” Perintah woo bin, dan langsung pergi meninggalkan kim bum yang masih terheran – heran dengan apa yang sedang terjadi sekarang. so eun juga mengikuti woo bin dari belakang.

Kim bum heran dengan sikap kakaknya saat ini, kenapa kakaknya itu tidak mengatakan apa – apa padanya dan malah mengacuhkan kim bum begitu saja, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa kakaknya itu harus membawa so eun kesini, siapa yang menyuruh kakaknya itu melakukannya. Akankah ayahnya yang menyuruh ini semua, tapi jika dilihat – lihat dari situasi memang hanya jae wook lah yang punya keberanian untuk menyuruh woo bin membawa so eun ke kantor.

“kak se young…” panggil kim bum ketika melihat sekertarisnya itu hendak pergi meninggalkanya, untuk mengikuti kakaknya ke ruang kerja woo bin tentunya.

“aku tau.. kendalikan emosimu, aku akan segera menemuimu nanti.” Sekertaris park tau jika kim bum ingin mendapatkan informasi selengkap – lengkapnya tentang pertanyaan – pertanyaan yang tentu  sedang memenuhi pikiran direkturnya itu.

Park se young adalah sekertaris kim bum dan juga woo bin, wanita itu sangat dekat dengan keduanya, mereka bertiga juga sudah berteman sejak dulu karena kedekatan orang tua mereka juga tentunya. Park se young seumuran dengan woo bin, maka dari itu kim bum memanggilnya kakak. Dan sepertinya kim bum pun sangat menghormati sekertarisnya itu.

“aku menunggumu di ruanganku.” Ucap kim bum dan dibalas lambaian tangan oleh se young. Wanita muda itu melenggang menuju kantor wakil presedir. Tentu saja se young harus cepat – cepat menemui woo bin, karena se young tidak mau jika pria itu menunggu terlalu lama dan membuatnya marah.

~~~

Woo bin duduk di tempat duduknya, pria itu langsung menyusun berkas – berkas laporan yang harus ditanda tanganinya hari ini. sedangkan so eun masih setia menunggu perintah selanjutnya dari woo bin. Tentu saja wanita itu tidak ingin melakukan apapun sebelum ada perintah dari kakak tirinya ini.

“duduklah dulu, biarkan aku memikirkan cara untuk memberikan pengertian pada bocah itu.” Suruh woo bin, dan sepertinya wanita itu sedari tadi hanya bisa menganggukan kepala jika woo bin memberikan perintah padanya.

Ketukan pintu ruangan woo bin terdengar jelas, dan woo bin tau bahwa itu pasti adalah park se young yang tak lain adalah sekertarisnya. Sedikit lama memang menunggu wanita itu untuk mengikuti woo bin menuju ruangannya. Padahal jarak ruangan woo bin dan kim bum tidak terlalu jauh. Dan tentu saja woo bin mengetahui kenapa wanita itu sampai begitu lama untuk mendatangi ruangannya.

“masuklah.” Perintah woo bin mempersilahkan se young untuk masuk.

Park se young memasuki ruangan kerja woo bin, dan melihat bahwa pria itu sedang asyik menandatangani berkas – berkas yang sedari tadi telah di siapkan oleh se young sebelum wakil presedirnya ini datang. Sedangkan wanita yang dikenal se young sebagai adik tiri woo bin itu duduk berseberangan dengan woo bin.

“tidak ada meeting untuk anda hari ini. hanya saja wakil presedir harus bertemu dengan klien jam 3 sore nanti.” Ucap se young sambil menyodorkan agenda kerja yang harus dilakukan oleh woo bin.

“aku sudah tau.” Jawab woo bin dingin, pria ini masih kaku saja seperti biasanya. Pikir se young.

“jika anda sudah tau, untuk apa lagi anda memanggil saya. Bukankah biasanya anda selalu tidak ingin diganggu jika sedang bekerja.” Ketus se young, wanita ini sebenarnya sudah teramat lelah dengan kelakuan woo bin dan juga kim bum. mereka selalu saja bersikap dingin dan ketus jika memerintahkan sesuatu. Hanya saja kim bum lebih bisa sedikit bersikap hangat pada se young berbeda dengan woo bin.

“mulai saat ini, kau hanya berfokus padaku. Kau tidak perlu lagi membantu kim bum mengerjakan tugasnya.”

“apa maksud anda wakil presedir, bagaimana kau bisa membiarkan direktur melakukan pekerjaannya sendirian. Bukankah biasanya saya ataupun anda yang akan membantunya.”

“mulai hari ini, kim so eun yang akan menggantikanmu menjadi sekertaris kim bum. dan kau hanya akan menjadi sekertarisku.”

“jadi…”

Sebelum se young melanjutkan kalimatnya, woo bin segera mendahuluinya. “antarkan so eun ke ruangan kim bum dan beri tahu dia bahwa mulai saat ini kau pindah ke ruanganku.”

“baiklah saya akan melakukannya, mari so eun ikut aku.” Ucap se young dengan lembut. Dan wanita itu membungkukkan badannya pada woo bin dan langsung keluar dari ruangan woo bin begitu pula dengan so eun. Tidak mungkin lagi se young membantah perintah woo bin, karena se young paham betul dengan karakter woo bin yang tidak ingin perintahnya itu di bantah oleh siapapun. Termasuk se young yang tak lain adalah temannya sendiri.

~~~

“aku park se young, sekertaris woo bin dan juga mantan sekertaris kim bum.” ucap se young ramah, sambil mengulurkan tangannya pada so eun. dan dibalas jabatan oleh so eun.

“aku kim so eun, senang bertemu dengan anda.” Jawab so eun

“tidak perlu seformal itu padaku, panggil saja namaku. Atau kau bisa memanggilku kakak. ku harap kau bisa sabar dengan apa yang akan terjadi nanti. Sepertinya kim bum tidak akan semudah itu menerimamu.”

“terimakasih… sepertinya ucapan kakak benar. Jadi apa yang harus kulakukan nanti?”

“aku tau kau bisa menghadapinya, kulihat kau wanita yang kuat. Tenang saja, kim bum tidak akan berbuat hal buruk padamu. Sebenarnya dia pria yang baik, hanya saja memang keadaan yang membuatnya seperti itu.”

So eun menghela nafas berat sambil menganggukan kepalanya, tanpa diberi taupun so eun juga sudah tau akan hal itu. Tapi tidak mungkin kim bum tidak melakukan hal buruk padanya, waktu itu saja kim bum hampir memperkosanya hanya karena so eun menegurnya. lalu bagaimana dengan sekarang.

Se young memasuki ruangan kerja kim bum tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, wanita itu sudah terbiasa melakukan hal itu jika memasuki ruangan kim bum karena memang mereka berdua memiliki satu ruangan yang hanya dibatasi oleh tembok kaca sebagai pembatas.

Kim bum pun juga tidak pernah keberatan jika se young yang melakukannya, karena memang kim bum paham bahwa wanita itu akan lebih repot jika harus mengetuk pintu dan meminta ijin pada kim bum dulu jika ingin memasuki ruangan mengingat betapa sulitnya dia mengurusi kegiatan woo bin dan juga kim bum sendiri. Belum lagi jika kim bum sedang tidak pergi ke kantor maka secara otomatis tugas kim bum, se young lah yang mengerjakannya.

“kak se young, jadi apa yang seb….” kim bum begitu antusias meluncurkan pertanyaannya kala dia mendengar sebuah pintu ruangannya terbuka, karena kim bum tau bahwa se young lah yang masuk ke dalam ruangannya. Tapi kim bum segera menghentikan niatnya kala matanya menatap sosok so eun yang juga masuk ke dalam ruangan ini.

“jangan berteriak atau marah terlebih dahulu, sebelum aku selesai mengatakannya.” Ucap se young yang kini berjalan mendekati meja kerja kim bum. Sedangkan kim bum hanya bisa diam sambil menatap tajam pada wanita yang benar – benar di bencinya itu – so eun.

“mulai hari ini, aku bukan lagi sekertarismu. Dan mulai saat ini juga kim so eun lah yang akan menjadi sekertarismu. Jadi kau harus benar – benar menyelesaikan semua pekerjaanmu sendiri tanpa melimpahkannya padaku.” Terang se young, dan berjalan meninggalkan kim bum untuk menuju ke meja kerjanya. Membereskan semua barang – barangnya tentunya. Se young melihat tatapan tajam yang diarahkan kim bum pada so eun saat ini. se young yakin kim bum benar – benar semakin membenci so eun sekarang.

Tentu saja se young tidak ingin membuat so eun semakin ketakutan dengan apa yang dilakukan kim bum ini.

“kim so eun, kemarilah. Sekarang meja ini milikmu dan bekerja lah dengat baik. Jika ada yang tidak kau ketahui kau bisa tanyakan padaku. Kau sudah tau kan tempatku dimana.”

“terimakasih kakak.” ucap so eun dan langsung berjalan menuju meja yang sebelumnya di tempati oleh se young itu. So eun tidak mempedulikan tatapan tajam kim bum yang benar – benar tidak lepas darinya. So eun benar – benar enggan untuk berdebat ataupun bertengkar dengan kim bum. lagi pula ini bukan kemauan so eun, jika kim bum ingin marah, silahkan saja marah pada ayahnya kenapa harus pada so eun.

“biar aku yang bicara pada woo bin, ku harap kau bisa sedikit bersabar.” Ucap se young yang sudah berada di samping kim bum. wanita ini benar – benar sudah sangat baik terhadap kim bum. selain sebagai sekertaris, se young juga sudah seperti kakak bagi kim bum.

Kim bum tidak mendengarkan apapun yang dikatakan se young saat ini. Dirinya hanya butuh sebuah penjelasan bukan pernyataan yang berbelit – belit. Bagaimana bisa kim so eun masuk kedalam perusahaan. Apa ayahnya sudah gila, bukankah dengan adanya woo bin dan kim bum saja sudah cukup. Kenapa harus ada wanita itu. Pikir kim bum.

Kim bum memperhatikan se young yang sedang berjalan keluar dari ruangannya. Haruskah kim bum menunggu informasi dari sekertarisnya itu, atau dia harus bertanya langsung pada kakaknya. Karena memang tidak mungkin jika kim bum bertanya langsung pada ayahnya, mengingat bahwa beberapa hari ini kim bum tidak pernah pulang ke rumah. Bisa di kubur hidup – hidup oleh sang ayah, kim bum nantinya.

~~~

“apa yang terjadi sebenarnya?”

Tidak terlihat tegar seperti biasanya, ternyata hari ini woo bin pun juga tampak resah. Sepeninggalnya so eun dan juga se young, woo bin.. pria yang biasanya terlalu acuh dengan masalah keluarganya, kini pria itu pun benar – benar di buat seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Sampai pria itu tidak menyadari bahwa se young sudah kembali ke ruangannya dan juga tengah menyapanya.

“tidak seharusnya kau menyimpan masalahmu sendiri seperti ini, kau anggap apa aku selama ini?” bentak sekertaris woo bin, yang merasa diacuhkan oleh atasannya itu.

“yaa… kim woo bin, apa kau tidak bisa mendengar kalau saat ini aku tengah berbicara padamu.” Teriak se young lagi, wanita itu benar – benar sudah hilang kesabaran dengan sikap dingin dan keacuhan dari kim woo bin.

Helaan nafas panjang dan teramat berat keluar dari mulut woo bin. Sepertinya pria itu memang benar – benar tidak tau harus berbuat apa sekarang. “apa yang harus aku lakukan sekarang?” setelah lama terdiam, akhirnya pria muda itu pun mengeluarkan suaranya juga.

“apa aku harus menjelaskan padanya, atau aku harus menyuruhnya mencari tau sendiri?”

Se young mendekati wakil presedirnya itu, se young tau bahwa saat ini woo bin pun juga sama kesalnya seperti kim bum. Pasti pria ini juga tidak mau jika ayahnya memberikan kekayaannya pada ibu dan juga adiknya tirinya. Karena selain ayahnya, woo bin dan kim bum pun juga sudah banyak membantu perkembangan bisnis perusahaan ayahnya ini.

“apa yang harus kulakukan sekarang se young-ah?” tanya woo bin dengan suara lirihnya.

Se young pun segera memeluk tubuh woo bin dari samping untuk sedikit menenangkan hati sahabat, bos sekaligus orang yang dicintainya itu.

“kau bisa bersandar padaku woo bin-ah, kau tidak sendirian. Masih ada aku dan bibi yi hyun dan juga kim bum.”

Se young benar – benar berharap, jika woo bin bisa menatapnya walau hanya sebentar saja. Setidaknya pria itu harus tau ketulusan hatinya yang sudah terlalu lama dipendamnya untuk sang sahabat. Apa woo bin tidak mengetahuinya. Apa woo bin benar – benar tidak menyadari persaan se young selama ini.

~~~

Di dalam ruangan kantornya, kim bum pun tidak bisa tenang. Pikiranya masih terus bertanya – tanya tentang kenapa bisa so eun masuk kedalam perusahaan. Apa ayahnya benar – benar ingin menguji kesabaran anak – anaknya.

Kim bum menatap wanita yang duduk tak jauh dari tempatnya. Walaupun terhalang oleh tembok kaca, tapi kim bum masih tetap bisa dengan jelas melihat apa yang sedang dilakukan oleh wanita tersebut.

“kau terlalu jauh bertindak kim so eun.” Batin kim bum, sambil terus menatap tajam ke arah so eun, yang terlihat serius melakukan pekerjaannya.

So eun memang gadis yang cerdas. Kim bum sendiri sudah tau jika so eun pasti akan benar – benar bertanggung jawab dalam melakukan pekerjaanya. Itu sebabnya kim bum benar – benar kesal dengan keadaan seperti ini.

“sepertinya kau benar – benar menyukainya, ternyata apa yang kupikirkan selama ini tentangmu benar adanya.”

So eun menatap seseorang yang saat ini tengah berbicara padanya. Sudah bisa so eun ketahui jika orang itu adalah kim bum. Untuk saat ini, so eun masih enggan untuk menanggapi apapun yang akan keluar dari mulut saudara tirinya itu. Terlalu menyakitkan jika harus menanggapinya.

“kau dan ibumu benar – benar melakukannya dengan baik, kalian tidak tanggung – tanggung untuk menjalankan rencana busuk kalian ini. Aku benar – benar mengaggumi kelicikanmu ini nona kim..” cerca kim bum lagi, yang saat ini tengah berdiri didepan meja kerja so eun.

“tidak bisakah anda menjaga setiap ucapan yang keluar dari mulutmu itu direktur. Apa seperti ini cara kerja anda selama ini. Tidak seharusnya kau memperlakukan bawahan anda dengan kasar seperti sekarang.”

Kim bum tersenyum mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh so eun saat ini. “kau terlalu lancang untuk berbicara seperti ini sekarang. Apa kau tidak tau sekarang kau sedang berbicara dengan siapa?” kim bum mengeraskan suaranya, setidaknya pria ini ingin melihat sampai sejauh mana so eun bisa berani menghadapinya. Apa so eun lupa dengan kekuatan yang dimiliki kim bum untuk menghancurkannya.

“saya terlalu sibuk untuk mendengarkan perkataan anda yang tidak jelas ini tuan direktur. Jika anda tidak keberatan bisakah anda meninggalkan saya sekarang. Masih banyak pekerjaan yang harus saya pelajari saat ini.” Jawab so eun dengan suara yang tidak kalah lantangnya, walaupun sampai dengan saat ini so eun masih tetap tidak memandang mata kim bum.

“yaa… kim so eun…” teriak kim bum, sambil menarik lengan wanita yang ada didepannya itu dan membuat so eun beranjak dari tempat duduknya. So eun pun benar – benar dibuat tegang dengan sikap kasar kim bum yang keluar lagi. Seharusnya so eun mengingat betapa kim bum terlalu mudah terpancing emosinya seperti sekarang.

“jangan kau kira dengan kau berada disini kau bisa melawanku dengan kata – katamu yang kau nilai cukup bijak itu. Kau kira aku akan dengan mudahnya menerimamu disini, seharusnya kau masih ingat bahwa aku masih menyimpan dendam padamu. Aku benar – benar akan membuatmu hancur kim so eun…..” ancam kim bum, sambil menekan cengkramannya pada tangan so eun.

“lakukan saja… apapun yang kau inginkan lakukan saja, aku tidak akan pernah takut dengan ancamanmu itu. Aku tau kau hanya bisa berbicara saja.”

“kau benar – benar tidak takut… baiklah, aku semakin semangat melakukannya. Kau harus benar – benar mempersiapkan diri dan juga mentalmu untuk menghadapiku mulai sekarang.”

“kim so eun…”

Kim bum dan juga so eun pun segera mengalihkan pandangannya ke sumber suara yang berhasil membuat ketegangan diantara keduanya sedikit terganggu. Kim bum yang menyadari jika kakaknya lah yang saat ini tengah berdiri di depan pintu ruangan kerjannya dan yang pastinya telah memanggil so eun barusan, segera melepaskan cengkraman tangannya dari tangan so eun.

Woo bin segera menghampiri dua orang yang masih terlihat kaget akan kedatangannya itu. Woo bin segera memegang tangan so eun yang nampak memerah akibat ulah kim bum barusan. “sepertinya ini terasa sakit, segera berkemaslah kau ikut aku menemui klien sekarang.” Perintah woo bin, tanpa mempedulikan tatapan kesal dari kim bum yang ditujukan untuknya.

So eun pun menganggukan kepalanya, dan segera mengambil tasnya. Sesaat so eun pun memberanikan diri untuk menatap kim bum dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya.

“kau harus menjelaskan semuanya padaku.” Teriak kim bum, ketika woo bin hendak berjalan melewatinya.

“jika kau ingin tau, pulanglah kerumah dan hadapi ayah.  Tidak seharusnya kau melarikan diri seperti ini. Apa kau lupa bahwa sekarang aku bukan tamengmu lagi, kita berjalan dengan kaki kita masing – masing.” Jawab woo bin, sambil melangkahkan kakinya dengan santai melewati kim bum.

“dan ada sesuatu yang ingin kuberitahukan padamu adikku. Jika kau benar – benar ingin menghancurkan hidup so eun bukan seperti ini caranya. Karena caramu ini akan membuatmu terluka nantinya. Kau harus ingat, bahwa sekarang aku akan melangkah maju untuknya. Apa kau tidak takut jika nantinya dia akan datang padaku.”

“bagaimana bisa kau menghianati adikmu sendiri seperti ini. Bukankah kau juga bertekad untuk menghancurkan hidup orang yang telah merampas kebahagiaan kita. Apa kau benar – benar sudah melupakan semua itu dengan mudahnya.”

“aku bahkan tidak pernah melupakan tekadku yang sudah kubangun selama ini. Hanya saja aku ingin merubah tekadku itu agar bisa berjalan dengan baik tanpa perlu adanya kekerasan sepertimu. Aku ingin bermain dengan tenang kim bum, seharusnya kau melakukan hal yang sama sepertiku.”

“argggghhhhh….”

so eun terduduk didalam rungan yang cukup besar, sambil menundukkan kepalanya. Telinganya masih bisa mendengar dengan jelas apa yang saat ini tengah dikatakan oleh ayah tirinya itu. Di sini didalam ruangan kerja ayah tirinya itu, so eun berada. Untung saat ini woo bin maupun kim bum tidak ada dirumah, jadi so eun tidak perlu takut akan kecurigaan mereka yang tentunya akan semakin menyudutkan so eun dan juga ibunya.

Ayah tirinya itu benar – benar memberikan tantangan untuknya, sebenarnya apa yang direncanakan oleh orang ini pikirnya.

“kuharap, kau tidak salah paham dengan maksud dan tujuanku yang memasukkan dirimu kedalam perusahaan.” Ada jedah di dalam kalimat pria itu, di susul dengan helaan nafas yang berat, “aku hanya ingin bersikap adil pada semuanya, dan juga aku berharap bahwa kim bum dan juga woo bin bisa menerima kau dan juga ibumu didalam keluarga ini.”

So eun terdiam, masih setia mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh ayahnya tirinya itu.

“aku melakukan ini semua, karena aku ingin membayar hutang – hutangku pada seseorang. Aku benar – benar merasa bersalah padanya.”

So eun masih tidak mengerti dengan kalimat yang keluar dari mulut pria paruh baya yang ada didepannya ini. Sebenarnya apa yang ingin orang ini sampaikan pada so eun.

“tidak bisakah paman, tidak melibatkanku dalam urusan yang tidak ada sangkut pautnya denganku. Seperti perusahaan contohnya. Kenapa paman harus memasukkanku kedalam perusahaan.”

“kau terlalu berani saat mengeluarkan kalimat tadi, kenapa sikap ini sama sepertinya. Kau benar  – benar membuatku semakin merasa bersalah dengan kalimatmu barusan.”

Apa lagi ini, dialog apa yang sebenarnya dilontarkan oleh orang ini. Terlalu bertele – tele, kenapa tidak langsung pada topik pembicaraan, kenapa harus berputar – putar. So eun tidak suka situasi seperti ini, bukannya so eun tidak menghormati orang yang lebih tua, tapi so eun memang tidak suka hal – hal seperti ini. Terlalu rumit menurut so eun.

“baiklah.. kurasa, saat ini masih belum tepat untukku mengatakan semuanya. Kuharap kau bisa membantu woo bin dan juga kim bum di perusahaan nanti.”

“paman… apa anda benar – benar tidak peduli lagi pada keadaan bibi yi hyun?” pertanyaan so eun ini benar – benar diluar batas, harusnya so eun tau jika pertanyaannya tidak seharusnya dikeluarkan, mau cari mati gadis ini.

“hemzz… pergilah” hanya kata itu yang bisa so eun dengar dari mulut jae wook, sepertinya pria ini tidak ingin memberi penjelasan pada so eun. Terbukti bukan jawaban yang keluar dari mulut jae wook melainkan perintah, yang menyuruh so eun untuk pergi dari ruangannya.

So eun harus menurutinya, sebelum jae wook berubah pikiran dan melakukan hal – hal yang tidak di inginkan. So eun pun juga tidak ingin bertindak lebih jauh lagi kan, tentu saja itu akan menimbulkan resiko.

Sebelum berangkat ke kantor So eun mematutkan dirinya di depan cermin, sudah hampir seminggu so eun bekerja di kantor. Dan seperti pagi ini sepertinya so eun pun sudah mulai terbiasa dengan rutinitas yang akan dia jalani selama seharian.

Saat ini so eun mengenakan baju terusan selutut tanpa lengan dengan warna putih tulang, polos tanpa motif. Dan tidak ketinggalan juga blazer warna coklat muda berlengan panjang yang menambah kesan cantik pada dirinya. So eun juga memakai riasan wajah yang tidak terlalu tebal, yang penting mukanya tetap terlihat cerah saja.

“kuharap kau bisa bertahan sayang..”

So eun enggan memalingkan wajahnya dari pandangannya terhadap pantulan bayangan dirinya dari kaca yang saat ini berada didepannya. Suara merdu seseorang yang memasuki kamarnya, tidak membuat so eun merespon suara tersebut.

“apapun yang terjadi kau harus mengambil apa yang menjadi milikmu sayang, ibu yakin kau bisa bertahan dan bisa mempertahankan apa yang telah pergi dari kita… sayang….” belaian lembut dari sang ibu, benar – benar membuat so eun semakin tidak habis pikir dengan jalan pikiran ibunya. Dengan seperti ini so eun benar – benar akan makin membenci ibunya.

So eun tidak menjawab kalimat yang baru saja tae hee lontarkan padanya, gadis ini terlalu enggan dengan apa yang menjadi ambisi ibunya. Sampai kapan ibunya akan seperti ini, apa ibunya ini salah paham dengan apa yang dilakukan oleh so eun. Tentu saja so eun tidak ingin mengikuti ambisi ibunya. Itu bukan keahlian so eun.

“aku harus berangkat bu… tidak bisakah ibu, tidak berkata seperti itu. Aku melakukan ini semua karena….”

“jangan melakukan hal – hal bodoh sayang… kesempatan tidak datang dua kali, apa kau tidak bisa memanfaatkan keadaan yang sangat menguntungkan seperti ini. Lebih baik kau cepat berangkat karena pak jung sudah menunggumu dari tadi.”

Tentu saja so eun tidak membantah apa yang dikatakan oleh ibunya barusan, memang lebih baik so eun segera berangkat dari pada mendengarkan perkataan ibunya yang benar – benar dianggapnya tidak penting.

~~~

Woo bin benar – benar disibukkan dengan beberapa proposal yang telah ditolak oleh beberapa kliennya, otaknya benar – benar dipaksa berputar lebih cepat dari pada sebelumnya, pria ini selalu melaksanakan tugasnya, dan menyusun semua proposalnya dengan baik, walaupun dia adalah seorang wakil direktur tapi tidak mengharuskan dirinya berpangku tangan.

Berkali – kali pria itu membolak – balikan lembar demi lembar file – file yang ada di depan mejanya. Hembusan nafas panjang berkali – kali keluar dari hidungnya, hingga sedari tadi pikirannya di buat kacau dengan file – file tersebut, dimana letak kesalahannya?

“harusnya kau meminta kim bum untuk membantumu, sampai kapan kau akan seperti ini. Tidak seharusnya kalian melangkah sendiri – sendiri seperti ini. Bukankah tujuan kalian sama, kenapa harus seperti ini.”

Woo bin menghempaskan tubuhnya disenderan kursinya, pria itu sedikit melonggarkan dasinya dan melepaskan kancing atas bajunya. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, hanya helaan nafas saja yang keluar dari mulut pria itu sebagai respon dari kalimat yang telah di lontarkan oleh sekertarisnya.

“maafkan aku… bukan maksudku untuk bersikap lancang padamu. Tapi aku benar – benar tidak ingin melihatmu seperti ini. Tidak bisakah kau mengikuti saranku, sampai kapan kau akan bermusuhan dengan adikmu sendiri, bukankah kalian saling menyayangi…”

Se young benar – benar tidak tau harus bersikap bagaimana lagi untuk membuat kedua teman kecilnya ini bersatu lagi, bagaimana seorang kakak beradik bisa bertengkar dan jelas – jelas penyebab itu semua hanyalah seorang wanita, wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah saudari tirinya, sangat menyedihkan.

“apa yang harus kulakukan, aku benar – benar tidak bisa melepaskannya?” woo bin pun membuka suaranya, akhirnya pria ini angkat suara juga.

“tidak bisakah kau memandangku walau hanya sedikit saja, apa artinya kehadiranku selama ini woo bin-ah?” pertanyaan se young ini, mampu membuat hati woo bin sedikit tergerak. Setidaknya woo bin harus mengasihani se young kan, bukankah wanita ini selalu ada disisi woo bin dan juga kim bum selama ini.

Woo bin menarik lengan se young untuk mendekat padanya, pria itu menatap mata wanita yang saat ini berdiri disampingnya. Haruskah woo bin melepaskan semuanya dan mengalah lagi pada kim bum. Apakah takdir woo bin memang selalu seperti ini, hidup dalam bayang – bayang adiknya – kim bum.

Woo bin bangkit dari tempat duduknya, dan mendekatkan dirinya pada tubuh se young. Ditatapnya mata indah milik wanita yang ada didepannya ini. Se young adalah wanita cantik, kecantikannya pun tidak kalah dari so eun. Tapi tetap saja menurut woo bin so eun lah yang paling cantik.

Se young melebarkan matanya kala bibir tebal woo bin menyentuh bibirnya dengan lembut, apa maksudnya ini. Bagaimana bisa woo bin melakukan ini padanya, apa ini berarti woo bin mulai menerimanya. Apa secepat itukah, tidakah woo bin hanya menjadikan se young sebagai pelampiasan saja – pikir se young.

~~~

Dan tanpa di duga sepasanga mata cantik milik seorang wanita tanpa sengaja melihat apa yang baru saja dilakukan oleh woo bin dan juga se young.

Ini benar – benar diluar kendali wanita itu, bagaimana bisa wanita ini melihat apa yang seharusnya tidak boleh dia lihat. Pria yang disukainya mencium wanita lain, didepan kedua matanya. Walaupun sebenarnya itu semua memang tidak ditujukan untuk diperlihatkan pada dirinya. Ya… tuhan, harusnya wanita itu sadar bahwa tidak seharusnya dia berharap pria itu bisa menyukainya juga. itu benar – benar mustahil.

“dasar.. wanita murahan.”

Wanita itu segera melepaskan tangannya dari gagang pintu yang sedari tadi dipegangnya, kakinya reflek mundur kebelakang. Badannya kelu, seperti tidak bisa bergerak. Ditambah lagi suara yang baru saja di dengarnya. Wanita itu tau betul siapa pemilik suara tersebut.

“kau benar – benar tampak seperti wanita murahan dan menyedihkan.”

~~~TBC~~~