Arsip untuk Februari, 2016

Shadow (part 3)

Posted: 7 Februari 2016 in FF BUMSSO
Tag:

SHADOW

Segala yang ditakdirkan bersama, maka apapun yang mencegahnya, dia akan menemukan jalan untuk menyatu. Begitu pula sebaliknya, sesuatu yang tidak ditakdirkan bersama, maka apapun yang kita lakukan, dia tidak akan pernah menyatu. ~Tere Liye~

~~~

Hiruk pikuk kota Seoul kembali tak terelakkan. Lalu lintas jalan kembali memadat. Liburan panjang akhir tahun sudah selesai, semua orang-orang dewasa kembali pada rutinitas biasanya. Para pegawai kantor memeuhi halte bus menunggu kendaraan besar itu membawa mereka pada tempat tujuannya termasuk So eun. Gadis itu sabar menunggu bus dengan duduk di halte bersama dengan beberapa orang lain yang tidak dikenalnya.

Sebenarnya So eun tidak harus repot-repot menunggu bus di halte yang penuh dengan manusia-manusia ini, jika dia tidak menolak niat baik sang kakak yang menawarkan untuk mengantarnya ke kantor tempatnya bekerja.

Biarlah. Lebih baik So eun memilih pergi ke kantor naik bus dan berdesak-desakkan dengan penumpang lain, dari pada dia harus duduk berdua di mobil sang kakak dengan perasaan yang tak nyaman. Sejak saat itu, di malam pergantian tahun dia berjanji untuk menenangkan diri dan perasaan anehnya. Untuk sementara, sampai dia yakin akan keputusan yang diambilnya nanti. Untuk membawa perasaan aneh ini ke tempat yang memang benar dan mengungkapkannya kepada malaikatnya.

~~~

Bau menyengat berbagai jenis obat-obatan tercium di sana-sini. Beberapa orang berpakaian serba putih berlalu lalang. Seorang pria berkemeja merah dengan bagian lengan tergulung sampai siku berjalan menyusuri lorong demi lorong. Tak pernah melepaskan senyum tampan yang terpatri di wajahnya. Para perawat-perawat wanita yang berpapasan dengannya pun tak sungkan untuk melemparkan senyuman kepadanya. Semua wanita mengagguminya tapi pria itu hanya menganggukkan kepalanya. Memberikan rasa hormatnya kepada setiap orang yang dijumpainya. Dia tidak pernah menyombongkan apapun yang ada dirinya, pria itu sadar bahwa kesempurnaan manusia semata-mata hanya titipan dari sang pencipta.

Langkah santainya akhirnya sampai di depan pintu salah satu ruang rawat rumah sakit yang didatanginya. Tangannya terulur menyentuh gagang pintu yang masih tertutup rapat. Kembali aroma alkohol dan obat-obatan menyeruak ke dalam indera penciumnya. Pria itu membawa kembali langkah kakinya yang sempat terhenti untuk memasuki ruangan tersebut.

“Kau datang lagi!”

Pria itu tersenyum saat mendengar sapaan wanita yang sedang terbaring di satu-satunya ranjang yang ada di ruangan tersebut. “Bibi terlihat sehat hari ini.” Pria itu meletakkan setangkai bunga mawar yang di bawanya ke dalam Vas yang terletak di samping ranjang, kemudian mendudukkan tubuhnya di samping ranjang.

“Apa semuanya baik-baik saja?”

Pria itu mengangguk seraya tersenyum, seperti kebiasaannya. “Apa Bibi masih takut?” Pria itu juga bertanya dan seperti jawabannya tadi, wanita yang sedang terbaring itu juga menganggukkan kepala seperti yang dilakukan pria itu sebelumnya.

“Tak ada yang perlu kau takutkan, tenanglah Bibi.. lagipula apalagi yang kau tunggu?”

“Sudahlah.. kenapa kau malah membicarakan masalahku. Kau sendiri bagaimana, kenapa kau tidak membahas masalahmu sendiri. Hari ini kau tidak membawanya kemari! Kenapa?”

“Siapa?” Tanya pria tersebut berpura tidak tau siapa orang yang dimaksud oleh wanita di sampingnya.

“Wanita yang selalu bersamamu.. siapa lagi.”

Pria itu terdiam tidak berkata-kata lagi. Tapi senyum indahnya tak pernah tertinggal.

“Kau sudah cukup matang, untuk membina sebuah keluarga. Sudah seharusnya kau menikah. Dan melihat dari sikapnya, wanita itu sepertinya sangat menyukaimu.” Wanita itu menjeda kalimatnya. Wajah pucatnya terlihat semakin pucat. “Maaf karena aku sudah membebanimu.. maafkan aku.” Wanita itu menitikkan air matanya, seolah menyesali semua perbuatannya pada pria itu.

“Jangan begini.. kau sama sekali tidak membebaniku.. berhentilah menangis atau meminta maaf, jika tidak aku akan marah.” Pria itu berkata tegas. Tidak ada nada kemarahan dari suaranya. Hanya berusaha menegaskan pada wanita yang masih terbaring itu, bahwa dirinya memang tulus membantu wanita yang berusia sebaya dengan ibunya tersebut.

Pria itu berusaha menenangkannya. Memeluknya dengan erat, menyalurkan seluruh kekuatannya untuk wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu kandungnya sendiri itu. Pria itu selalu mengingat pesan orang tuanya, bahwa berbuat baik itu tidak memerlukan imbalan. Dan jika kita sudah melakukan kebaikan, jangan menjadikan kebaikan itu sebagai beban. Jadi mana mungkin pria itu menganggap wanita ini sebagai bebannya, terlebih wanita ini adalah… entahlah, pria itu tidak bisa mendeskripsikannya.

~~~

Liburan panjang memang menyenangkan, tapi setelahnya… oh.. tidak, bagiamanpun hari ini So eun benar-benar kelelahan. Banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikannya. Perusahaan akan menerbitkan majalah baru edisi awal tahun dan So eun harus bisa menyelesaikannya dalam waktu cepat. Pantas saja, Manajernya tempo hari memberinya waktu untuk mengambil libur panjang dan inilah salah satu alasannya.

So eun masih berkutat dengan layar komputerya, dan tidak menyadari bahwa sekarang malam sudah menjelang dan sebagian besar karyawan sudah meninggalkan kantor. Tanpa sadar So eun menguap dan seseorang menegurnya.

“Sudah malam.. seharusnya kau pulang sejak tadi!”

So eun segera menegakkan tubuhnya dan membungkukkan badannya, orang yang telah menegurnya adalah direkturnya. Anak dari pemilik perusahaan tempat So eun bekerja. “Ah.. maafkan saya Direktur… saya tidak bermaksud..”

“Pulanglah.. kau bisa melanjutkan pekerjaanmu esok hari.”

“Tapi saya belum menyelesaikannya..”

“Apa aku harus mengulangi perkataanku… cepat bereskan barang-barangmu dan aku akan mengantarkanmu pulang!”

“Tapi Direktur… anda tidak perlu…”

Belum sempat So eun menyelesaikan kalimatnya, Direkturnya sudah lebih dulu mengambil alih komputernya. Menyimpan semua file yang sedang dikerjakan So eun kemudian mematikannya. “Ayo.. tak baik menolak niat baik seseorang!”

So eun tidak membantah lagi. Satu kalimat yang baru di dengarnya itu, membuatnya tak berani membantah tawaran direkturnya. Malaikatnya pernah mengatakan hal yang sama padanya dan sekalipun So eun tidak akan pernah membantah apapun yang pernah dikatakan oleh malaikatnya itu. Dan akhirnya So eun pun menurut saat direkturnya menarik tangannya dan membawanya keluar dari gedung tempatnya bekerja.

Kembali So eun mengingat malaikatnya itu. Dimanapun dia berada dan bersama siapapun dia sekarang, tetap saja So eun tidak pernah melupakan malaikatnya itu, bahkan untuk satu baris kalimat yang pernah dikatakannya. Mungkinkah ini saatnya, untuk So eun mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya. Mengatakan kepada malikatnya. Kakak angkatnya yang mengulurkan tangan hangatnya pada So eun.

“So eun-ah!” Satu kali tak terjawab.

“Kim So eun..” dua kali dan berhasil.

“Ya.. Direktur!” Jawab So eun cepat.

“Kita sudah berada diluar kantor.. tidak perlu memanggilku Direktur atau berbicara formal padaku. Kau bisa memanggil namaku saja.. atau terserah padamu, tanpa menggunakan kata “Direktur” aku tidak suka mendengarnya, terdengar tidak enak di telinga.”

Dahi So eun mengernyit. Yang benar saja, mana mungkin So eun berani bersikap seperti itu. Tidak menggunakan bahasa formal dengan atasannya, bisa mati So eun nanti. Bagaimana jika Presedir Song tau, So eun sudah bersikap tidak sopan kepada anaknya. So eun pasti akan kehilangan pekerjaannya esok hari.

“Tak perlu berpikir sampai sejauh itu… melihat wajahmu membuatku ingin tertawa.”

“Hanya untuk di luar saja dan bukannya di kantor, Song Jae rim-shi!” So eun akhirnya mengabulkan permintaan direkturnya tersebut.

“Terdengar lebih baik.” Jae rim tersenyum mendengar kalimat So eun dan kembali fokus pada kemudi mobilnya saat ini.

~~~

Sebenarnya So eun tidak menginginkan Direkturnya ini mengantarnya sampai ke depan pintu apartemenya. Dia tidak ingin membiarkan pria ini berpikir jauh tentang So eun. Sudah lama dia tau bahwa direkturnya ini memendam perasaan suka padanya dan sekalipun So eun tidak pernah menyambut perasaannya. Dan hari ini, untuk pertama kalinya So eun menerima tawaran Jae rim yang ingin mengantarkannya pulang dan itu karena dia teringat oleh ucapan sang kakak yang sama persisnya dengan kalimat yang dikatakan oleh Jae rim hari ini.

Kurang dari tiga langkah lagi untuk So eun mencapai pintu apartemennya, pintu itu sudah lebih dulu terbuka dari dalam dan menampilkan tubuh tegap Kim bum yang menjulang menghalangi pintu dan pandangannya terarah padanya.

“Kenapa tidak bilang jika kau akan pulang malam!” Ujar Kim bum terdengar sangat khawatir.

So eun tidak menjawab. Dia masih merasa kesal pada sang kakak. Kesal tanpa alasan yang jelas, yang pasti salah satunya karena kehadiran Geun young yang selalu memonopoli Kim bum kapanpun. Jadi saat Kim bum kembali menunjukkan perhatiannya pada So eun, gadis itu terlihat tidak peduli. Karena menurut So eun, perhatian Kim bum tidak akan pernah berubah. Hanya perhatian seorang kakak kepada adiknya, tidak lebih.

Jae rim yang masih ada di samping So eun, akhirnya mengulurkan tangannya pada Kim bum, kemudian mengambil alih tugas So eun untuk menjelaskan alasan gadis itu pulang sampai malam.

“Song Jae rim.. Maaf karena terlalu malam mengantarkan So eun pulang, ada banyak pekerjaan di kantor dan membuatnya terpaksa pulang terlambat.”

So eun memperhatikan sikap Kim bum yang memandang ke arah Jae rim. Dia ingin melihat bagaimana reaksi kakaknya saat melihat dirinya pulang bersama dengan seorang pria. Apakah ada sedikit saja perasaan kesal di diri Kim bum, sama seperti rasa kesal yang pernah So eun rasakan saat melihat kebersamaan Kim bum dan teman wanitanya itu.

“Ah… Kim Sang bum. Terimakasih sudah mengantarkan adikku pulang Jae rim-shi. Bukannya tidak sopan, tapi bolehkah aku tau siapa kau?” Kim bum segera membalas uluran tangan Jae rim, menunjukkan rasa sopannya kepada pria yang datang bersama adiknya itu.

So eun tak suka melihat reaksi Kim bum yang terlalu biasa. Kakaknya itu tidak menunjukkan tanda-tanda kekesalan atau kemarahan walau hanya sedikit, benar-benar tidak ada dan itu membuat So eun ingin melakukan hal gila yang lebih jauh lagi. Dia ingin mencobanya, mencoba membakar hati sang kakak. Sekedar ingin tau, apakah Kim bum … ah, So eun tak banyak berharap apapun pada pria tak peka itu.

“Dia Direktur di kantorku dan juga teman dekatku, Oppa….!” Akhirnya So eun mengeluarkan kegilaannya. Tangannya yang sedari tadi bebas segera meraih lengan Jae rim dan merapatkan tubuhnya pada pria jangkung itu. So eun bahkan tidak peduli saat merasakan respon Jae rim. Pria itu melihatnya, So eun tau sangat jelas, bahwa saat ini selain kaget Jae rim juga sangat senang dengan apa yang sedang dilakukan So eun padanya.

Sedikit tersentak dengan jawaban So eun, Kim bum pun segera memberikan senyum lebarnya. Senyum tulus dan bersahaja. “Astaga… maafkan aku Jae rim-shi, aku tidak mengetahuinya. Masuklah sebentar, untuk meminum secangkir kopi jika kau tidak keberatan.”

Jae rim membalas senyuman Kim bum dan menganggukkan kepalanya. “Bolehkah aku tau siapa kau ini Kim Sang bum-shi?”

“Kim bum.. panggil saja aku Kim bum. Aku Oppa So eun.”

Jae rim terlihat salah tingkah, dia menggaruk tengkuk belakangnya yang mendadak terasa gatal. “Maafkan aku karena tidak mengenalmu sebelumnya, So eun tidak pernah menceritakan apapun tentangmu padaku.” Jujur Jae rim.

“Benarkah…!” Kim bum sengaja melirik So eun yang masih menempel erat di samping Jae rim. “Kau keterlaluan So eun-ah” Goda Kim bum, seperti biasa tidak menampilkan kemarahan atau kekesalan sedikitpun. Dan hal itu tentu saja membuat So eun semakin kesal. Terbuat dari apa hati pria ini sehingga tidak pernah sedikitpun terlihat marah. Dan akhirnya So eun menyerah.

“Masuklah ke dalam Kim bum Oppa.. aku ingin berbicara sebentar dengan Jae rim-shi.” Usir So eun pada sang kakak.

“Ajak Jae rim-shi masuk ke dalam So eun-ah.. tidak sopan membiarkannya di luar.” Ujar Kim bum menasehati sang adik. “Aku ke dalam dulu Jae rim-shi.” Pamit Kim bum seraya membungkukkan tubuhnya dan berbalik ke dalam apartemennya. Meninggalkan So eun dan Jae rim yang masih berada di luar.

Secepat kilat So eun melepaskan pegangan tangannya dari lengan Jae rim dan juga menjauhkan tubuhnya dari Jae rim. “Maafkan aku Jae rim-shi. Aku tidak bermaksud berlaku tidak sopan padamu. Aku hanya tidak ingin membuat Oppaku bertanya panjang lebar. Maaf jika kau merasa tidak nyaman dengan sikapku hari ini.” So eun menyesal. Menyesali perbuatanya yang salah, yang telah menggunakan direkturnya ini sebagai alat untuk membakar Kim bum. Dia tidak ingin Jae rim berpikiran jauh hanya karena So eun, telah mengenalkannya pada sang kakak, pria itu pasti merasa So eun sudah memberikan kesempatan untuk perasaannya.

“Tak apa… bukankah kau tau, aku tidak pernah keberatan dengan apapun yang kau lakukan.”

“Terimakasih Jae rim-shi, aku berhutang padamu.”

“So eun-ah… aku yakin kau tau perasaanku terhadapmu… aku sudah sering menunjukkannya padamu. AKU MENYUKAIMU SO EUN-AH…. maukah kau menjadi kekasihku!”

So eun membatu, memang benar apa yang Jae rim baru saja katakan. Pria itu memang selalu menunjukkan perhatiannya pada So eun. Selalu memberi keringanan-keringanan pada pekerjaan yang dilakukannya di kantor. Selalu menunjukan kepeduliannya pada So eun di setiap kesempatan. So eun melihatnya dengan jelas bahkan bisa merasakannya. Tapi tetap saja, So eun tidak bisa menerima perasaan Jae rim. Pria itu tidak tau, jika selama ini So eun juga melakukan hal yang sama seperti yang selalu dilakukan Jae rim padanya. So eun menyukai pria lain, walau dia tidak tau apakah pria itu juga menyukainya.

So eun bingung, tidak tau harus memberikan jawaban apa atas pengakuan Jae rim barusan, dia ingin segera mengatakan “tidak” untuk pengakuan direkturnya ini, tapi dia merasa kasihan. Bagaimana jika nanti, hal seperti ini juga akan terjadi padanya. Bagaimana jika Kim bum akan menolaknya saat So eun mengungkapkan perasaanya pada pria itu. Membayangkannya saja rasanya sangat menyakitkan, bagaimana jika So eun mengalaminya nanti. Lalu sekarang mana tega, So eun menyakiti Jae rim setelah apa yang pria ini lakukan padanya selama ini.

“Kau terlihat pucat… apa pengakuanku memberatkanmu?” Jae rim membawa So eun pada kesadarannya kembali. Pria itu tau, bahwa saat ini So eun tidak bisa menjawab pengakuannya langsung. “Aku tidak akan memintamu menjawab sekarang…. aku hanya ingin mengatakannya padamu, agar kau tidak terganggu dengan perlakuanku-perlakuanku selama ini.” Jae rim mengatakannya dengan seluruh keberaniannya.

So eun memberanikan diri untuk menatap mata kelam yang terlihat sendu itu. Walau Jae rim sedang mengumbar senyumnya saat ini, tapi So eun bisa melihatnya dengan jelas jika sekarang pria itu sedang memaksa senyum itu agar terlihat tulus. Dari perlakukan So eun selama ini, bukankah pria itu sudah tau apa jawaban yang akan diberikan So eun atas pengakuannya tadi. So eun tidak bisa menerimanya untuk saat ini atau bahkan nanti..

“Kenapa kau menyukaiku Jae rim-shi?”

“Tidak ada penjelasan untuk perasaan ini. Karena kau yang berhasil membuat jantungku berdebar setiap saat. Karena kau adalah Kim So eun, maka dari itu aku menyukaimu. Tidak ada alasan lain.”

Jangan lagi… kalimat itu mengingatkannya kembali. membuat So eun merasa bersalah pada pria ini. Tapi perasaan ini tidak bisa dipaksa, bukan Jae rim yang diinginkannya. Dan kalaupun Tuhan mempertemukan So eun dengan Jae rim, sebelum pertemuannya dengan Kim bum bukankah belum tentu juga dia akan menyukai pria ini. Tuhan pasti mempunyai cerita tersendiri untuk So eun dan Jae rim. Perasaannya sama dengan So eun, hanya dimiliki oleh satu pihak.

“Apa kau menginginkan surat pengunduran diriku ada di meja kerjamu esok pagi Jae rim-shi?” Tanya So eun dengan berani, dia hanya ingin berkata jujur pada Jae rim. So eun tidak ingin membuat pria ini terluka terlalu dalam. Dan dia juga akan menjadi orang yang kuat setelah ini. Dia tidak akan pernah takut dengan konsekuensi atas perbuatan yang pernah dilakukannya.

Jae rim tersenyum datar. Dia mengerti semuanya. Dia tau, walau So eun tidak mengatakannya. “Apa artinya aku ditolak… menyedihkan.” Ucapnya. Jae rim menghela nafas lega. Lega karena dia bisa mengungkapkan perasaannya walau akhirnya perasaanya tak tersambut. “Kau akan semakin menyakitiku, jika tidak mengijinkan mataku ini melihatmu duduk ditempatmu besok pagi. Tetaplah berada di sana dan jangan menjauhiku. Ijinkan aku untuk berusaha menghilangkan sedikit demi sedikit perasaan ini. Jangan menjauhiku hanya karena perasaanku padamu.”

“Kau akan lebih tersakiti dengan melihat keberadaanku setiap hari.” So eun mempertegas suaranya. Bukannya dia tidak punya hati. Tapi memang benar apa yang baru saja dikatakannya, karena So eun sendiri sedang mengalami. Sakit melihat orang yang kau suka selalu berada di sampingmu tanpa bisa melakukan apapun. Dekatpun rasanya terlalu jauh untuk dijangkau.

Jae rim menggeleng. “Kuharap kau masih mau bekerja di kantor besok.. maafkan aku So eun-ah, karena aku masih ingin melihatmu disana esok pagi.” Jae rim sudah memutuskannya dan dia masih sangat berharap agar So eun mau melihat perasaannya. Langkah kakinya berjalan menjauh. Pergi meninggalkan So eun dengan segala perasaannya. Tidak apa. Bukan salah So eun jika tidak membalas perasaan Jae rim. Dan bukan salah Jae rim jika mempunyai perasaan suka pada So eun. Perasaan itu datang dengan sendirinya. Tuhan yang memberikannya. Manusia tidak akan pernah bisa menolaknya.

Walau canggung dan tidak enak pada akhirnya So eun tetap bekerja di tempatnya. Jae rim tetap tidak mengijinkannya untuk mengundurkan diri. Lagi pula, perbuatan seperti itu terlalu tidak profesional.

Kantor akan mengalami kesulitan untuk merekrut seorang karyawan baru. Belum tentu editor yang baru akan bekerja lebih baik dari So eun, itulah yang dikatakan Jae rim saat dia menyerahkan surat pengunduran dirinya. Akhirnya So eun tidak bisa membantah.

So eun kembali berkutat dengan pekerjaannya. sudah saatnya jam makan siang dan So eun sudah meminta ijin pada atasannya untuk keluar sebentar. Ara mengiriminya pesan, untuk bertemu di Cafe seberang kantor. Dan disinilah sekarang So eun berada, di sebuah cafe, duduk berhadapan dengan sahabatnya.

“Kau tidak ingin bercerita padaku tentang sesuatu?” Ara bertanya dengan serius.

So eun mengerutkan dahinya. Seberapa besar kekuatan yang sahabatnya ini miliki sehingga dia tau, jika sekarang So eun sedang dalam keadaan tak baik. Oh.. Ara terlalu menakutkan pikirnya. Apa sahabatnya ini tau, jika bosnya baru saja menyatakan perasaanya pada So eun. Dia bahkan belum sempat menceritakan hal ini pada Ara, tidak mungkin sahabatnya ini akan membahas masalahnya ini.

“Apa kau punya saudara di Seoul yang sedang sakit?” Ara kembali bertanya saat So eun tidak langsung menjawab pertanyaan pertamanya.

So eun menggeleng. “Kau tau aku seorang yatim piatu. Saudara yang kupunya hanya Paman dan Bibi Kim di Busan.” Jawab So eun tenang. Jauh dari perkiraannya.

Ara menganggukkan kepalanya. “Oppamu bagiamana? Apa kau mengenal semua saudara mereka. Maksudku, apa keluarga angkatmu punya saudara di Seoul dan dia sedang sakit?” Tanya Ara lagi, kali ini lebih detail dan terkesan menuntut jawaban.

Lagi-lagi So eun menggeleng. “Setauku.. semua saudara ada di Busan. Hanya aku dan Kim bum Oppa yang ada di Seoul.” Jelasnya.

“Benarkah? Coba ingat-ingat lagi So eun-ah, siapa tau kau melupakan sesuatu.”

“Ya.. Go Ara.. sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Kau membuatku penasaran saja.” Teriak So eun.

“Tidak ada.. hanya ingin tau saja.” Ujar Ara pelan. Menyerah.

So eun mencoba memperhatikan sahabatnya. Dia tidak tau, kenapa Ara tiba-tiba menjadi seserius ini. Padahal hari-hari biasanya, sahabatnya ini selalu bersikap tenang, bahkan saat So eun menceritakan semua keluh kesahnya. Hari ini Ara terlihat sangat berbeda. Tapi biarlah, mungkin ada sesuatu dengannya. “Kau mengajakku bertemu hanya karena ingin menanyakan hal ini? itu saja?” So eun mencoba bertanya kembali.

Ara mengangguk. “Apa tidak boleh aku bertemu denganmu… jangan sok sibuk, pekerjaanmu tidak seberat pekerjaanku bukan.”

“Kau bertengkar dengan kekasihmu? Kau terlihat sensitif hari ini.”

“Tidak.. kami berdua baik-baik saja. Hanya saja ada beberapa pertanyaan yang sedang memenuhi kepalaku.”

“Kau mau berbagi denganku?” So eun menawarkan diri untuk membantu sahabatnya yang terlihat bingung.

“Tidak… kau bahkan tidak membantu sama sekali. Hubungi aku saja, jika kau mengingat sesuatu. Baiklah, aku harus menemui kekasihku sekarang.. sampai jumpa So eun-ah. Kau pasti senang karena aku mengganggu kerjamu bukan… Baiklah aku pergi..!” Ara langsung bergegas pergi meninggalkan So eun, yang terlihat bertanya-tanya. Ara bersikap aneh. Dan sahabatnya itu memang aneh. Dan seperti Ara, So eun pun meninggalkan cafe untuk kembali ke kantornya.

~~~

“Kalian berdua terlalu sering berkunjung.. aku semakin tidak enak saja.”

Sepasang manusia yang sedang berdiri bersisihan itu tersenyum lembut saat mendengar kalimat yang dilontarkan oleh wanita yang terbaring di ranjang rawat tersebut.

“Lagi-lagi kau berkata seperti itu.. aku mulai bosan mendengarnya Bi…”

Lee Na young, wanita yang sedang terbaring di ranjang rawat itu menggerakkan tangannya. Dan menggenggam tangan pria yang baru saja berbicara dengannya. Na young menarik tangan pria itu pelan, memintanya untuk menundukkan kepalanya, dengan gerakan tangannya yang terangkat ke udara. “Aku ingin berbicara dengannya.” bisik Na young tepat di depan telinga pria yang ditariknya.

Pria itu mengangguk tegas. Tak bisa menahan luapan kebahagian di dadanya yang sudah hampir meledak. Ini yang sudah lama di tunggu-tunggunya. Pria itu menggengam erat tangan lemah yang sedang mencengkram lengannya. Dia tidak tau harus berkata apa lagi, hanya rasa syukur yang bisa dia ucapkan di dalam hati untuk saat ini.

“Kim bum-ah.. bisakah aku berbicara sebentar padamu!” Panggil seorang dokter berjas putih yang baru saja memasuki ruangan Lee Na young. “Ah.. kau ada di sini juga Geun young-ah?”

Geun young segera menghampiri dokter yang baru saja datang tersebut. “Kau seperti baru pertama kali melihatku berada di sini saja, Il woo-ya.”

Jung Il woo mengangguk, dia memang sudah sering melihat Geun young berada di rumah sakit ini bersama dengan Kim bum, teman lamanya.

“Apa yang ingin kau katakan padaku Hyung?” Tanya Kim bum, tangannya masih memegang erat jemari ringkih Na young.

“Kita bicara diruanganku… ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.” Il woo berjalan mendekati ranjang Na young, mengecek tabung infus yang tergantung di tiang ranjang. “Tidak lama hanya beberapa menit saja.” Lanjut Il woo.

“Apa aku bisa ikut bersama kalian Il woo-ya?” Tanya Geun young menyela. Il woo mengangguk sebelum melangkahkan kakinya.

Kim bum menatap Na young dan meminta ijin pada wanita itu untuk mengikuti permintaan Il woo. “Kami pamit Bi… esok aku akan kembali. Dan kau harus mempersiapkan diri..”

“Terima kasih Kim bum-ah!”

Kim bum berjalan perlahan meninggalkan ranjang Na young, mengikuti langkah Il woo dan Geun young yang hampir keluar dari ruangan rawat tersebut. Dia masih tidak bisa menghilangkan rasa senang yang meluap-luap di dadanya, bahkan dia tidak peduli dengan berita apa yang akan disampaikan oleh Jung Il woo. Dia hanya ingin pulang, merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mempersiapkan hal besar yang sudah sangat lama dinanti-nantikannya.

“Oh… Kim bum-shi!”

Kim bum tersentak. Seseorang memanggilnya saat dia baru saja menutup pintu ruangan Lee Na young. Matanya sedikit melebar saat melihat jelas siapa orang yang baru saja memanggilnya.

“Kau juga ada di sini.. bersama dengan Geun Young-shi?”

Kim bum menganggukkan kepalanya dan melirik ke arah samping tempat dimana Jung Il woo berada. Pria itu juga memandangnya dengan tatapan bertanya.

“Kenapa aku tidak tau, jika kalian sudah saling mengenal!” Il woo menyerukan kebingunganya.

“Ara-shi adalah teman adikku Hyung…” Jelas Kim bum.

“Begitu rupanya… baiklah, segera saja kita ke ruanganku. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu dan juga Geun young. Bum-ah.”

Kim bum sadar Ara masih memperhatikannya. Dan dia juga mendengar apa yang baru saja diperintahkan oleh Il woo. Kim bum tidak tau ada hubungan apa antara Il woo dan juga Ara, tapi tidak ada hal buruk apapun mengenai hal itu. Hanya saja, Kim bum tidak ingin jika Ara mengatakan pada So eun tentang pertemuannya hari ini. Kim bum tidak menginginkannya. Walau dia yakin, Ara bukanlah orang yang akan dengan gampangnya mencampuri urusan orang lain, walau orang lain itu adalah sahabatnya.

“Bisakah, kau mengatakan hal penting itu lain waktu Hyung.. aku ingin berbicara dengan Ara-shi sebentar.. bolehkah aku berbicara dengannya?” Kim bum menghadap Il woo. Pria itu mengernyitkan dahinya. Melihat sikap Kim bum yang tidak biasa, baik Il woo dan Ara saling berpandangan, sedangkan Geun young hanya diam tak bicara, wanita itu tau apa yang akan Kim bum bicarakan dengan Ara, jadi dia memilih untuk tidak berkomentar apapun.

“Tapi apa yang akan kusampaikan padamu ini lebih penting, Bum-ah!”

“Hanya sebentar.. aku janji, setelah ini aku akan menemuimu. Atau kau bisa membicarakannya bersama dengan Geung young nuna terlebih dahulu.. Maafkan aku Hyung…” Kim bum berjalan pelan menghampiri Ara. “Bolehkah aku meminta waktumu Ara-shi?”

Ara memandang Il woo. Ara yakin apa yang akan dibicarakan Kim bum dengannya berhubungan dengan Kim So eun. Mana mungkin, Ara tidak memberikan waktu untuk kakak sahabatnya ini. So eun selalu menceritakan keluh kesah perasaannya, kepada Ara. Hampir setiap hari, sahabatnya itu bercerita. Tawa riang selalu menghiasi wajah cantik So eun, tak jarang tetes air mata juga membanjiri pelupuk matanya. Itu semua karena satu nama Kim Sang bum. Dan hari ini, Ara tidak akan melewatkannya. Rasa penasarannya membuncah. Dia ingin tau apa yang akan Kim bum bicarakan bersama dengannya. Dan untuk apa Kim bum berada di rumah sakit, bahkan mengenal kekasihnya dengan baik. Jung Il woo tidak pernah mengatakan apapun pada Ara, jika dia berteman baik dengan orang-orang yang berhubungan dengan So eun. Dan sekalipun Ara juga tidak pernah bertanya, karena dia memang tidak tau. Hanya satu yang diketahuinya, bahwa akhir-akhir ini Il woo memang sangat sibuk dan jarang meluangkan waktu untuknya.

“Aku juga ingin berbicara dengan Kim bum-shi Oppa.. bolehkan Oppa?” Pinta Ara pada kekasihnya, penuh harap.

“Tapi…” Bukannya Il woo keberatan kekasihnya pergi dengan Kim bum. Dia tidak memiliki perasaan cemburu sedikitpun pada sang kekasih ataupun temannya itu. Dia hanya tidak ingin membuang-buang waktu, untuk menyampaikan informasi yang didapatnya pada Kim bum. sesuatu ini sangat penting dan Kim bum harus mendengarnya secepat mngkin.

Geun young menarik tangan Il woo perlahan. “Ada aku.. kau bisa mengatakannya padaku. Biarkan mereka berdua bicara. Kim bum ingin menjelaskan sesuatu pada Ara-shi.” Geun young menengahi.

“Baiklah… pergilah. Dan setelah kau mendengarnya dari Geun young nanti, kau harus segera menemuiku secepatnya Bum-ah..” Ujar Il woo. “Aku akan ke apartemenmu nanti malam, Ara-ya.” Sambungnya pada Ara. Ara mengangguk mengerti. Il woo juga ingin tau pembicaraan apa yang akan dibicarakan Kim bum pada kekasihnya, makanya pria itu akan menemuhi sang kekasih setelahnya.

“Aku akan menemuinya terlebih dulu Kim bum-ah.” Ujar Geun young, sebelum Kim bum melangkahkan kakinya pergi.

“Ya Nuna.. terimakasih.”

~~~

Musim dingin berlalu. Tapi angin yang berhembus tetap menyejukkan, terlebih di kala sore menjelang malam. So eun duduk di salah satu kursi di dalam Bus yang akan membawanya pulang. Seharian bekerja. Selalu membuatnya mampu melupakan bayangan malaikatnya yang selalu memenui kepalanya. So eun mengukir senyum tipis. Untuk sesaat dia memejamkan matanya. Membawa imajinasinya untuk melayang-layang.

Gadis remaja itu berdiri di tengah-tengah taman kecil yang ada di halaman depan rumahnya. Musim dingin tahun ini adalah tahun ketiga setelah kepergian malaikatnya. Gadis kecil itu berdiri dikelilingi tanaman mawar yang ditanam di pot dan berjejer dengan rapi. Di buat melingkar dan tumbuh dengan tinggi-tinggi, hampir menutupi sebagian tubuh bawah gadis remaja tersebut saat dia berdiri.

Gadis remaja itu merentangkan tangannya. Menikmati setiap hembusan angin musim dingin yang menerpa tubuhnya. Syal merah itu membuatnya hangat dan tidak merasakan hawa dingin yang menusuk sampai ketulang.

Sayup-sayup dia bisa mendengar suara seseorang memanggil namanya, tidak ada yang mendengar selain dirinya. Karena suara itu berasal dari pikirannya. Dia sendiri yang menciptakan suara itu, hanya berbekal ingatan sederhananya akan suara merdu milik malaikatnya. “So eun-ah… kau terlihat cantik saat mengenakan syal merah itu.” Gadis remaja itu mengulum senyumnya. Rambutnya yang panjang dan terurai sedikit berkibar karena terpaan angin musim dingin. Gadis remaja itu merindukan malaikatnya. Tapi dia tidak bisa berbuat apapun. Selain menunggunya menjadi nyata, atau merelakan malaikat itu tetap menjadi bayangan di jiwanya.

“So eun-ah… masuklah.. jangan berlama-lama di luar. Kau bisa sakit.” Dan suara ini nyata bukan khayalan ataupun imajinya. Suara itu milik bibinya. Wanita yang sudah merawat dan memberikan kehangatan untuknya.

Gadis remaja itu memutar tubuhnya dan mendapati sang bibi sudah menunggunya di depan pintu. Dia segera berlari. Tidak ingin membiarkan sang bibi menunggunya atau membuatnya marah. Dia tidak akan pernah menyakiti hati orang-orang yang sudah berbuat baik padanya. itulah JANJINYA pada diri sendiri.

Suara derit pintu bus yang terbuka menyadarkan So eun dari imajinasinya. Membuka matanya yang entah berapa lama telah terpejam. Tanpa terasa sedikit cairan bening meleleh dari kelopak matanya. So eun segera menyekanya dan beranjak dari tempat duduknya.

Berkali-kali dia menguatkan dirinya. Menyemangati hatinya yang mulai layu. Dia harus kuat tidak boleh menyerah ataupun mengeluh. Dia sendiri yang sudah menyerukan ketekatannya.

So eun menuruni bus yang ditumpanginya. Dia harus cepat-cepat sampai di apartemennya. Dan melihat wajah malaikatnya, itu akan membuatnya sedikit lebih tenang walau juga terasa menyakitkan.

Tak butuh waktu lama untuk So eun sampai di depan pintu apartemennya. Setelah membuka kunci pintu tersebut, So eun segera melepas sepatunya dan melihat lampu sudah menyala terang. Dia masuk ke apartemennya lebih dalam.

“Kau sudah pulang So eun-ah… ayo kemarilah, aku menyiapkan makanan untukmu.”

So eun melongokkan kepalanya ke dapur kecilnya dan dia melihat Geun young tengah sibuk menyiapkan makanan di atas meja kayu panjang, yang selalu dia gunakan untuk makan. Dalam hati So eun bertanya, apa yang dilakukan wanita itu sekarang. Mengambil hati Oppanya. “Kenapa kau ada di sini Eonni?” So eun menyerukan keingintahuannya, sambil melangkahkan kakinya mendekati area dapur kemudian mendudukkan tubuh lelahnya pada kursi tinggi. Hidungnya mengirup aroma sedap yang menguar dari masakan-masakan yang dihidangkan oleh Geun young.

So eun memandang Geun young yang sedang melepas celemeknya dan ikut duduk di kursi, berhadapan dengan So eun. “Aku merindukanmu dan meminta Kim bum untuk memberitahukan sandi apartemenmu. Kau tidak keberatan kan aku ada di sini?” Ujar Geun young penuh kelembutan.

Bolehkah So eun menjawabnya dengan jujur. Bolehkan.. So eun tidak ingin berbohong, sungguh. “Aku tidak keberatan Eonni.” Dan akhirnya So eun berbohong. Dia tidak tega menyerukan apa yang dirasakannya saat ini. Dia tidak mungkin menyakiti hati orang lagi. “Dimana Kim bum Oppa?” Tanya So eun, saat melihat keadaan apartemennya yang sepi.

“Sebentar lagi dia sampai.” Geun young mengambilkan satu mangkuk sup rumput laut untuk So eun. “Makanlah..!” Pintanya.

Walau di dalam hatinya, So eun sangat membenci wanita yang sedang ada di depannya ini. Tapi So eun masih memiliki sedikit rasa kagum padanya. Berkali-kali So eun menunjukkan ketidaksukaannya pada Geun young dan berkali-kali juga So eun melihat ketulusan akan sikap baik teman wanita kakaknya itu.

“So eun-ah…. bolehkah aku menjadi kakakmu juga, seperti Kim bum?” Wanita itu berbicara dengan sangat hati-hati, seakan tidak ingin melukai So eun dengan kalimat yang dikatakannya. So eun meletakkan sendoknya dan menghentikan kegiatannya yang tengah menikmati sup rumput laut yang ada di hadapannya. Dia ingin mencerana kalimat yang baru saja dikatakan oleh wanita di depannya ini.

“Aku ingin menjadi bagian hidupmu juga.. ingin membantumu juga. Ingin berada di sisimu, menemanimu dan melakukan sesuatu bersama.” Mata bulat itu berkaca-kaca. Entah karena apa. So eun tidak tau, tapi jelas dia melihat bahwa setelah mengatakan kalimat tersebut Geun young menangis. Ada apa..? Apa wanita ini sedang bertengkar dengan kakaknya. Itu sesuatu yang bagus bukan, seharusnya sekarang So eun bisa tersenyum dengan sembunyi-sembunyi. Tapi dia tidak bisa melakukannya. Karena dia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.

“So eun-ah… Aku senang bisa bertemu denganmu. Selama ini, aku hanya bisa mengenalmu dari cerita-cerita Kim bum. Dia tidak ada henti-hentinya membanggakanmu. Dia selalu memujimu di setiap pembicaraan kita, sampai suatu ketika aku memintanya untuk mempertemukanku denganmu dan dia mengabulkannya. Dia mengijinkanku bertemu denganmu… mengijinkanku untuk membantunya, aku senang karena akhirnya apa yang dilakukannya membuahkan hasil.”

So eun tidak tau harus berkata apa. Wanita ini mengoceh panjang lebar dan So eun tidak tau kemana arah pembicaraan ini berlangsung. Bahkan saat wanita ini berdiri dari tempatnya, menghampirinya dan memeluk So eun dengan erat, dia masih tetap tidak mengerti dengan semua perlakukan baik Geun young kepadanya. “Aku tau kau adalah gadis pemberani yang sangat kuat.. Kim bum pernah mengatakannya padaku dan aku sangat mempercayainya.” Ucap Geun young, masih dengan merangkul So eun.

Suara pintu terbuka diikuti dengan suara sepatu yang berbenturan dengan lantai. So eun yakin, sekarang kakakknya baru saja memasuki apartemen kemudian menutup pintunya, melepaskan sepatunya dan mengganti dengan sandal lantai yang selalu So eun siapkan dan berjalan menghampirinya. Kembali So eun yakin, bahwa kakaknya pasti tau bahwa saat ini ada Geun young yang sedang ada bersamanya.

“Geun young Nuna..!” Telinga So eun mendengarnya. Panggilan pertama Kim bum bertepatan dengan lepasnya kedua tangan Geun young yang tadi memeluk erat So eun.

“Ya, Bum-ah.. aku ada di sini, bersama dengan So eun.” Jawab Geun young. Gadis itu tersenyum pada So eun, bersiap menyambut kedatangan Kim bum. Matanya memerah seakan baru menangis dan memang benar, Geun young baru saja menangis.

“Kau sudah pulang rupanya… bagaimana pekerjaanmu hari ini, apa sangat sulit?” Kim bum meletakkan telapak tangannya pada kepala So eun dan mengusapnya dengan lembut, layaknya seorang kakak normal yang menanyakan pekerjaan adiknya.

“Ya.. semuanya berjalan dengan baik.” Jawab So eun. Dia membalikkan badannya dan segera menghadap sang kakak. So eun ingin melihat wajah kakaknya, dan saat So eun membalikkan badannya matanya langsung menyipit ketika melihat tampilan kakaknya. Wajah itu tampak lesu, walau dipaksa untuk tersenyum. Dua kancing teratas kemeja hitamnya dibiarkan terbuka dan juga beberapa bagian kemeja bagian bawahnya tidak masuk sempurna ke dalam celana. Kim bum tampak berantakan. So eun mengalihkan perhatiannya pada Geun young yang juga terlihat aneh.. dua orang dewasa yang hari ini sama-sama bersikap aneh.

“Kau sudah bertemu dengannya?” Tanya Geun young pada Kim bum. Pria itu mengangguk lemah. “Istirahatlah… aku akan pulang sekarang.” Sambungnya.

“Biar kuantar kau pulang Nuna..” Tawar Kim bum.

“Tidak.. kau harus istirahat.. wajahmu pucat.. besok kita bertemu lagi.” Geun young mengambil tas dan mantelnya yang terletak di kursi. “Kau juga harus istirahat So eun-ah.. besok kita akan bertemu lagi.” Geun young juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Kim bum pada So eun. Wanita itu membelai lembut rambut So eun dan berjalan menjauh.

“Biar kuantar sampai depan Nuna..”

“Ya…”

So eun menatap Oppa dan teman wanitanya itu. Kim bum bahkan mengambil alih tas yang sekarang di pegang oleh Geun young. So eun terdiam. Dia ingin tau apa yang sedang terjadi pada kakaknya. Kenapa Kim bum terlihat kelelahan, So eun ingin memperhatikan sang kakak. Dia ingin melakukan apapun untuk Kim bum.. apapun. Tapi, yang terlihat oleh mata So eun sekarang, kakaknya itu tidak membutuhkannya.

So eun segera menapakkan kakinya, mempercepat langkahnya untuk menyusul sepasang manusia yang beberapa saat lalu meninggalkannya. Dia buka pintu apartemennya dan bersiap untuk keluar dan berlari, tapi kakinya membeku dan pandangannya memudar. Segaris cairan bening lolos dari mata indahnya. Mendadak kakinya lemah dan tubuhnya merosot ke lantai, sebelum dia sempat untuk berlari kencang.

So eun bisa melihatnya. Saat Geun young memeluk erat tubuh Kim bum, seakan wanita itu menjadi penyangga tubuh lemah kakaknya. Dan Kim bum juga membalasnya. Pria itu terlihat lemah. Tidak seperti biasanya. Kim bum yang selalu bersahaja mendadak musnah. Kim bum yang selalu terlihat kuat seakan berubah. Pria itu tampak kelelahan dan Geun young dengan segala kebaikan dan kelembutan hatinya dengan sigap memposisikan diri sebagai penopang Kim bum. Oh… Tuhan. Kenapa bukan So eun. Kenapa bukan So eun yang memeluk Kim bum sekarang. Kenapa bukan dirinya yang menjadi kekuatan Kim bum dan kenapa pula dia tidak mengetahui apapun tentang masalah sang kakak.

“Percayalah semuanya akan baik-baik saja.” So eun mendengarnya. Seruan kata semangat dari Geun young untuk Kim bum. So eun bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Dia berusaha untuk berdiri dan menghilangkan tubuhnya sekarang juga sebelum dua orang manusia itu menyadari keberadaannya.

So eun kembali masuk ke dalam apartemennya, saat menyadari Kim bum hendak berbalik dan kembali. Dia harus segera masuk ke dalam kamarnya, menyembunyikan dirinya di dalam kamar untuk menghilangkan rasa malunya pada sang kakak. So eun tidak berguna, sangat tidak berguna bahkan untuk malaikat penolongnya. Pantas saja orang tuanya membuangnya.

Ponsel So eun berdering dan gadis itu segera berlari ke dalam kamarnya. Mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, melihat siapa yang menghubunginya.

“Ya, Bi…!” So eun tidak perlu menunggu lama untuk berpikir. Dia tidak bisa menolak panggilan yang masuk. Setidaknya dia harus menjadi seseorang yang berguna untuk orang yang sudah berbaik hati merawatnya. “Bagiaman kabarmu Bi?” So eun menormalkan suaranya yang sedikit serak karena menahan tangis.

“Kami baik sayang.. aku dan pamanmu baik-baik saja.” Jawaban dari sang bibi membuat So eun kembali merasa bersalah. Bagaimana bisa So eun salah menggunakan kosakata dalam percakapannya bersama sang bibi. Dia melakukan kesalahan lagi. So eun melupakan pamannya.

“So eun-ah… dengarkan Bibi sayang..” Suara itu mengalun dengan sangat tenang, tidak ada nada kemarahan atas kesalahan yang telah So eun perbuat.

“Kami menyayangimu So eun-ah.. Bibi dan Paman tak akan pernah membiarkanmu sendiri. Berjanjilah untuk tetap menjadi putri kami. Berjanjilah sayang…”

So eun tak kuasa menahan air matanya. Dia tidak tau, kenapa semua orang mendadak bersikap aneh padanya. Sisi sensitifnya menerobos keluar, mengolok-oloknya bahkan mentertawakannya. “Maafkan aku.. maafkan aku Bibi..” ujar So eun lirih.

“Esok hari.. jika Oppamu membuatmu marah, Bibi mohon jangan pernah membencinya..”

So eun tidak tau harus berkata apa. Dia tidak tau dan memang tidak pernah diberitahu. Semua orang bersikap aneh dan berbicara bertele-tele, seakan menyudutkannya. Apa yang baru saja dikatakan oleh bibinya benar-benar tidak masuk akal. So eun tau bahkan dengan sangat jelas jika kedua orang tua angkatnya itu pasti sangat menyayanginya. Sudah terbukti sejak pertama kali Kim bum membawanya masuk ke dalam rumah besar itu, keluarga Kim menyambutnya dengan tangan terbuka. Merawat dan mendidik So eun sampai sebesar ini. Tentu saja So eun yakin bahwa mereka menyayanginya.

Lagi, mana mungkin So eun bisa membenci malaikatnya itu. Seberapa besarpun kesalahan yang akan dilakukan Kim bum nantinya, tentu saja hal itu tidak akan pernah sebanding dengan segala kebaikan yang pernah dilakukan Kim bum untuk dirinya. Sekalipun So eun tidak akan pernah membenci malaikatnya itu, bahkan hingga sampai saat ini. Walau So eun melihat Kim bum berpelukan dengan wanita manapun, dia tidak akan marah. Karena dia memang tidak berhak marah.

“Tidurlah yang nyenyak So eun-ah.. Kami menyayangimu.” Dan panggilan pun terputus setelahnya, tanpa sempat So eun menjawab kalimat tersebut.

Apa sekarang semua orang berusaha menyudutkannya. Apa sekarang semua orang ingin menunjukkan ketidaktahu dirian So eun. So eun segrera membanting tubuhnya ke kasur. Kepalanya pening. Dan rasa bersalah sekaligus takut bercampur menjadi satu. Akhirnya dia menangis. Menumpahkan segala emosi yang tidak diketahuinya dalam lelehan-lelehan bening yang mengucur deras.

“So eun-ah..!”

Dengan cepat So eun menghapus cairang-cairan bening yang membasahi pipinya saat mendengar panggilan kakaknya dari luar.

“Kau sudah tidur? Bolehkah aku masuk ke dalam!”

“Ya.. masuklah Oppa.”

Beberapa detik setelahnya Kim bum masuk ke dalam kamar gelap So eun. Seperti kebiasaannya, So eun memang jarang menyalakan lampu kamarnya. Tidak ada penerangan lain dalam kamar itu selain penerangan dari luar yang masuk ke dalam jendela yang terbuka.

Kim bum berjalan perlahan, tinggal sedikit dia sampai di ranjang So eun. Hembusan nafas lelahnya bisa di dengar oleh So eun. Hingga gadis itu mendudukkan tubuhnya, menunggu apalagi yang akan dilakukan Kim bum setelahnya. “Kau ingin aku menyalakan lampunya Oppa?” Tanya So eun.

“Tidak.” Jawab Kim bum cepat.

Baguslah.. So eun juga berharap Kim bum menjawab “tidak”. Karena saat ini dia sendiripun tidak ingin sang kakak melihat matanya yang memerah karena baru saja menangis. So eun masih menunggu, apa yang akan dilakukan sang kakak sampai mau mendatangi kamarnya.

“Apa Ibu baru saja menghubungimu?” Tanya Kim bum. Kakinya maju beberapa langkah ke depan dan sampai menyentuh pinggiran ranjang yang sekarang di tempati So eun.

“Ya.”

Kembali Kim bum menghela nafas. “Hari ini kau bertemu dengan Ara-shi?” Tanya Kim bum lagi.

“Ya.” Jawab So eun lagi dan setelahnya hening. Tidak ada suara. Kim bum tidak lagi bertanya, pria itu hanya naik ke ranjang dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur So eun yang nyaman dengan meletakkan satu lengannya di atas kepala sampai menutupi matanya.

“Ada apa Oppa? Kau terlihat sangat lelah?” So eun mengeluarkan keberaniannya untuk bertanya. Dia ingin tau. Sangat.

Kim bum tidak menjawab. Cukup lama suasana hening tercipta diantara Kim bum dan So eun saat ini. Kim bum belum menjawab pertanyaan So eun dan gadis itu juga tidak berniat untuk mengajukan pertanyaan lagi. Dia tau, Kim bum tidak akan menjawab pertanyaannya sebelum kakaknya itu ingin menjawabnya. Jadi So eun menunggu. Menunggu sampai Kim bum kembali membuka suaranya. So eun masih berharap bahwa sang kakak mau membagi masalah yang dihadapi, dengannya. Walau mungkin So eun tak bisa sebaik Geun young, tapi dia akan tetap membantu sang kakak.

Masih tidak ada jawaban, sampai akhirnya So eun jengah. Dia juga sama lelahnya dengan sang kakak. Lelah karena berusaha mengerti, tapi sayangnya sampai saat ini pun dia tidak mengerti apa yang sebenarnya ada di dalam hati kecil sang kakak. So eun ingin beranjak dari tempat tidurnya dan pergi keluar, tapi Kim bum tidak mengijinkannya. Pria itu menahan lengan So eun.

“Bisakah kau pergi denganku besok pagi So eun-ah? Aku akan meminta ijin pada Jae rim-shi jika memang kau mau pergi..!”

So eun melihat wajah kakaknya dengan serius. “Kemana?” Tanyanya semakin penasaran.

“Bertemu dengan seseorang!”

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan